Anda di halaman 1dari 6

sejarah tradisi islam nusantara

A.Seni Rupa
Tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan.
Seni ukir relief berupa suluran tumbuh-tumbuhan namun terjadi pula Sinkretisme.
Sinkretisme adalah perpaduan 2 jenis seni logam.

B.Aksara dan Seni Sastra


Bahasa dan huruf Arab.
Seni-seni sastra berikut =
Hikayat : Dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh sejarah
Babad : Adalah kisah rekaan pujangga keraton
Suluk : Adalah kitab yang membentangkan soal-soal tasawwuf
Primbon adalah hasil sastra yang berisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari baik/buruk.

C.Sistem Pemerintahan
Kerajaan-kerajaan Hindu Budha digantikan kerajaan-kerajaan Islam.
Rajanya : bergelar Sultan atau Sunan seperti halnya para wali
Jika rajanya meninggal tidak lagi dicandikan tetapi dimakamkan secara Islam.
Sistem Kalender
- Munculnya kalender Jawa yang dibuat Sultan Agung menggantikan kalender Saka.

D.Seni Bangunan/Arsitektur
Terutama mempengaruhi bangunan masjid, makam, istana.
Masjid-masjid memiliki ciri-ciri khusus, antara lain:
Atapnya berbentuk tumpang
Tidak dilengkapi dengan menara
Bedug dan kentongan yang merupakan budaya asli Indonesia.
Letak masjid biasanya dekat dengan istana
Beberapa jenis masjid di Indonesia :
- Masjid jami
- Masjid madrasah
- Masjid makam
- Masjid tentara dan madrasah.
Bangunan-bangunan lain yang muncul : istana- istana/kraton, bangunan benteng penahanan,
dan makam-makam.

1.Rumah Gadang
Gaya seni bina, pembinaan, hiasan bahagian dalam dan luar, dan fungsi rumah mencerminkan
kebudayaan dan nilai Minangkabau.

2.Rumah Banjar
Mulai sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Bangunan Rumah Adat Banjar diperkirakan telah ada
sejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera yang kemudian
memeluk agama Islam
Sebagai Contoh salah satu bentuk akulturasi yang bisa kita temui dalam saluran Kesenian, Sistem
Pemerintahan, Sistem Penanggalan, dan Teknologi.
Menjelajah Seni dan Tradisi Islam
Tema ini diilhami oleh apa yang kulakukan dalam riset dokumentasi. Riset ini berusaha
mendokumentasikan beberapa kesenian tradisi Islam yang ada di Indonesia. Yang rencananya untuk
tahun ini akan dilakukan di lima Kabupaten/kota yaitu Bantul, Purwokerto, Rembang, Jombang dan
Lamongan.
Namanya riset dokumentasi, ya riset ini berusaha mendokumentasikan hal-hal yang terkait dengan seni
tradisi Islam. Seni tradisi Islam merupakan tema sentral dan merupakan prasyarat bagi kesenian yang
mau di dokumentasikan. Artinya suatu kesenian yang memiliki unsur seni atau keindahan. Unsur tradisi
yang artinya keseniaan tersebut merupakan tradisi lama yang masih bersifat asli, belum tercampur
dengan aspek komersialisme dan modernisasi alat musik kontemporer. Kesenian tersebut merupakan
ekspresi kesenian masyarakat yang merupakan bagian dari upacara adat atau keagamaan. Selain itu
kesenian tersebut harus bernafaskan Islam, baik secara tersirat maupun tersurat.
Rencananya setiap daerah di atas akan diambil 5 macam kesenian yang berbeda. Dan sampai tulisan ini
kutulis, riset tersebut sedang berjalan. Di Bantul, sudah selesai dengan dokumentasi kesenian: Sholawat
Montro, Rodat, Sholawat Jawi, Sholawat Maulud, Singiran. Di Purwokerto sudah separuh jalan, dimana
sudah berhasil mendokumentasikan kesenian Genjring dan Pujian Banyumasan, dan rencana dalam
waktu dekat ini akan mendokumentasikan Peksimuda, Begalan Islami, Angguk.
Untuk daerah yang lain, kami masih berusaha mencari kontak person dan jenis kesenian yang sesuai.
Ada masukan? atau ada yang mau jadi kontak person?
Kemunculan seni tradisi Islam baik di Jawa maupun di Luar Jawa (dengan berbagai nama dan
istilahnya) tentu merupakan ekspresi keberagamaan (religion) masyarakat yang bersifat local. Sehingga
jenis dan macamnya sangat beragam. Namun yang pasti sentuhan budaya local dengan agama Islam
yang berlangsung telah melahirkan sebuah bentuk seni baru yang berfungsi baik sebagai ekspresi
keagamaan maupun ekspresi budaya. Apapun nama dan tujuannya kesenian tradisi Islam merupakan
bagian penting dalam penyebaran Islam di Indonesia, dan mungkin bahkan di dunia. Berkat kearifan
tokoh-tokoh penyebar Islam dalam mengelola percampuran antara syareat Islam dengan budaya local,
maka banyak dihasilkan sebuah karya seni yang indah dan merupakan alat sosialisasi yang hebat serta
metode dakwah yang paling efektif.
Khusus di Jawa ada istilah “syi’iran” yaitu sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu
seni tradisi islam dengan campuran bahasa jawa. Istilah ini kalau dilacak akar sejarahnya tentu masih
sangat erat dengan keberadaan Wali Songo di Jawa. Di daerah lain, tradisi semacam ini sangat mungkin
muncul dengan istilah lain. Syi’iran merupakan bagian penting dari keseluruhan tradisi Islam di Jawa,
meskipun istilah inipun masih berkembang di pedalaman jawa atau di daerah tertentu (misal sunda).

Latar Belakang Kitab Kuning: Tradisi Intelektual


Islam Nusantara
Sejauh bukti-bukti historis yang tersedia, sangatlah mungkin untuk mengatakan bahwa Kitab Kuning
menjadi text books, references, dan kurikulum dalam sistem pendidikan pesantren, seperti yang kita
kenal sekarang, baru dimulai pada abad ke-18 M: Bahkan, cukup realistik juga memperkirakan bahwa
pengajaran Kitab Kuning secara massal dan permanen itu mulai terjadi pada pertengahan abad ke-l9 M
ketika sejumlah ulama Nusantara, khususnya Jawa, kembali dari program belajarnya di Makkah.
Perkiraan di atas tidak berarti bahwa Kitab Kuning, sebagai produk intelektual, belum ada dalam masa-
masa awal perkembangan keilmuan di Nusantara. Sejarah mencatat bahwa, sekurang-kurangnya sejak
abad ke-16 M, sejumlah Kitab Kuning, baik dengan menggunakan bahasa Arab” bahasa Melayu,
maupun bahasa Jawi, sudah beredar dan menjadi bahan informasi dan kajian mengenai Islam.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa karakter dan corak keilmuan yang dicerminkan Kitab Kuning,
betapapun juga, tidak bisa dilepaskan dari tradisi intelektual Islam Nusantara yang panjang, kira-kira
sejak lima abad sebelum pembakuan Kitab Kuning di pesantren-pesantren.
Acapkali dipertanyakan mengapa, misalnya, hanya fiqih, ushuluddin, tasawuf, tafsir, hadis, dan bahasa
Arab yang menjadi disiplin ilmu utama di pesantren-pesantren? Tentu saja,jawaban atas pertanyaan ini
hanya bisa dirumuskan secara memuaskan bila mempertimbangkan perkembangan intelektual Islam
Nusantara sejak periode awal pembentukannya. Bagaimanapun juga, pembakuan Kitab Kuning di
pesantren sangat berkaitan dengan tradisi intelektual Islam Nusantara kurun awal.
Asal-usul dan perkembangan tradisi intelektual dan keilmuan Islam Nusantara sejauh ini telah
mengundang perhatian sejumlah sarjana dan pengamat yang menekuninya. Di antara mereka -untuk
menyebut beberapa nama adalah Taufik Abdullah, Kuntowijoyo, Martin van Bruinessen,
AbdurrahmanWahid, dan Azyumardi Azra. Dalam berbagai karyanya, masing-masing intelektual itu
memberikan analisis dan penilaian atas masalah ini.
Walaupun berbeda rumusan karena perbedaan pendekatan yang digunakan, hasil kajian mereka agaknya
memperlihatkan kecenderungan yang sama dalam mempertimbangkan dua faktor penting, yakni 1)
kontak ulama Nusantara dengan ulama Timur Tengah seba- gai bagiandari proses internasionalisasi
Islam, dan 2) interaksi (ketegangan) budaya Islam dengan budaya lokal sebagai konsekuensi logis dari
proses Islamisasi Nusantara. Kedua faktor ini berperan dalam membentuk dan inewarnaitorak keilmuan
Islam Nusantara seperti, antara lain, tercermin dalam tradisi pendidikan pesantren, khususnya di Jawa.
Dalam penelusurannya yang bersifat sosio-historis, TaufikAbdullah menangkap lima gelombang
pemikiran keislaman Nusantara. Gelombang-gelombang itu dimaksudkan sebagai pola hidup
keberagamaan (Islam) yang mencerminkan pandangan keislaman secara kolektif dan permanen di masa
tertentu, tidak individual dan tidak fragmentaris. Karenanya, terhadap kelima gelombang itu, ia tidak
memberikan label yang ketatberkenaan dengan disiplin-disiplin keilmuan, kecuali sekadar menyebutkan
tekanan-tekanannya saja. Sebaliknya, ia menerangkan perkembangan sikap umat (community)dalam
memperlakukan Islam sebagai jalan hidup, termasuk dalam kaitan- nya dengan kekuasaan.
Gelombang pembentukan pemikiran Islam, yang disebut gelombang pertama oleh Taufik Abdullah,
baru berlangsung di Nusantara sepanjang abad ke-13 M sampai dengan abad ke-16 M. Dari bukti- bukti
yang dapat dipercaya, baik dalam bentuk batu nisan di Samudeta Pasai, buku-buku sejarah tradisional
semisal Hikayat Raja-raja Pasai dan Sejarah Melayu, maupun laporan-laporan pengelana asing, seperti
Marco Polo dan Ibnu Batutah, dapat dipastikan bahwa kekuatan Islam sudah hadir pada abad ke-13 M
di ujung Pulau Sumatera (Samudera Pasai). Meskipun demikian, sampai abad ke-14 M, kekuasaan itu
belum tampil sebagai hegemoni politik paling berpengaruh dan masih kalah jauh dari kekuasaan Hindu-
Budha, Majapahit, yang pada waktu itu telah berdiri di ujung timur pulau Jawa. Barulah pada
pertengahan abad ke-15 M dan awal abad ke-16 M, kekuasaan Islam memegang hegemoni politik
terbesar di Nusantara melalui kerajaan Malaka yang telah memeluk Islam-di wilayah-wilayah perairan
(maritim).
Yang terpenting dari gelombang ini adalah bahwa Islam sudah tampil tidak hanya sebagai agama dan
komunitas, tetapi sudah menjadi kekuatan yang berpengaruh di hadapan tradisi lokal Hindu-Budha.
Internalisasi ajaran Islam telah sampai pada tahap yang cukup ekspresif dan demonstratif. Islam dan
komunitasnya sudah merasa beda dari non-Islam, kafir, yang telah hadir sebelumnya. Dalam gelombang
ini pula, pandangan dan pemikiran keislaman yang berkembang sudah sangat mendasar, seperti
menyangkut batas-batas antara dunia dan akhirat dan antara dunia kini yang haqq, dan dunia lama yang
kafir: Prinsip-prinsip kosmopolitanisme Islam berarti bahwa semenjak gelombang ini sudah mulai
diletakkan dengan cara merujukkan kultur kehidupan umat Islam Nusantara dengan kultur Islam yang
universal. Penerjemahan syair-syair pemujaan atas Nabi Muhammad saw. (barzanji) dan mitos-mitos
Islam, baik dari Arab maupun dari Parsi ke dalam buku-buku sejarah Melayu -yang kemudian
diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Jawa -merupakan salah satu capaian intelektual Islam penting
dalam gelombang ini.
Gelombang kedua dimulai sebagai kelanjutan atau konsekuensi dari capaian gelombang pertama.
Ajaran-ajaran Islam, sebagaimana diajarkan teks-teks resmi, terus merambat dalam kehidupan
masyarakat luas dan kemudian menggantikan agama-agama masyarakat (folk-religions). Kontemplasi
atau renungan yang mempersoalkan manusia dalam kaitannya dengan Yang Mahatinggi dan Mahaabadi
dimulai dalam gelombang ini. Puncaknya adalah kontemplasi Hamzah Fansuri dan Syamsuddin
Sumantrani di Sumatera, dan Syaikh Siti Jenar di Jawa, sebelum akhirnya masing-masing dibantai oleh
Nuruddin ar-Raniri dan Walisongo.
Semenjak gelombang ini, perumusan menyangkut otoritas dan landasan kekuasaan Islam sudah
dimasukkan dalam agenda kerja intelektual. Di Aceh, misalnya, pada tahun 1603 M, Bukhari al-J auhari
sudah menulis Taj as-Sazathin (Mahkota Raja-raja), yang merupakan teks teori kenegaraan paling awal
dan penting di Nusantara. Pandangan yang ditawarkannya selaras dengan teori-teori kenegaraan Sunni
tradisional. Dalam bahasa Taufik Abdullah, “peranan Taj as-Salathin [adalah] sebagai pemula ke arah
terumuskannya ‘ortodoksi kraton’ di Nusantara.”
Penting untuk dicatat bahwa, karena observasinya bersifat sosiohistoris dan umum, Taufik Abdullah
seringkali gagal menangkap denyut intelektual murni, khususnya yang berlangsung dalam gelombang
ini. Misalnya saja, ia tidak menyebut jaringan intelektual (intellectual networks) antara ulama Indonesia
dengan ulama Timur Tengah. Dalam hal ini, temuan Azyumardi Azra sangat signifikan, yakni bahwa
hubungan guru-murid telah dibangun pada abad. ke-17 M di Hijaz antara ulama Timur Tengah, Ahmad
al-Qushashi dan Ibrahim al- Kurani, dengan ulama (murid) Jawi, ‘Abdur Ra ‘uf as-Sinkili. Bahkan, jauh
sebelum itu, masyarakat Makkah dan Madinah telah mengenal masyarakat “Jawi di Tanah Suci.” Tentu
saja, kontak internasional seperti ini menjadi pintu masuk bagi Kitab Kuning asal Timur Tengah yang
pada akhirnya memberikan arti tersendiri bagi perkem- bangan intelektual Islam di Nusantara.
Pada paruh kedua abad ke-18 M, gelombang intelektual ketiga kemudian muncul dalam bentuk
intensifikasi penyelarasan keyakinan agama dengan tata kehidupan sosial. Fiqih, hukum-hukum Islam,
yang menggantikan kontemplasi sufistik, menjadi perhatian utama untuk “memaksa” lebih jauh
penyesuaian kecenderungan folk-religions ke dalam keharusan Islam, official religions. Benih
penyesuaian ini ditanam oleh ar-Raniri dengan menyebutkan asma Allah dalam setiap permulaan teks-
teks hikayatnya. Hal ini, antara lain, bisa dilihat dalam buku Sirath al-Mustaqim, yang kemudian diolah-
ulang oleh Syaikh Arsyad al-Banjari. Gelombang ini diwarnai, antara lain, oleh Wahabisme gerakan
Paderi dan karya-karya ortodoksi Kemas Fachruddin di Palembang. Pada tahap ini, intelektualisme
Islam memasuki masa purifikasi, pemurnian, yang berarti meninjau kembali pola penganutan Islam
yang berkembang di masa-masa sebelumnya. Selain itu, gelombang ketiga ini juga diwarnai oleh
kecenderungan kuat institusionalisasi pemikiran sufistik dalam bentuk tarekat -tarekat sebagai
kelanjutan dari upaya pengikisan pemikiran sufi yang menyimpang (heterodoks). Dengan kata lain,
gelombang intelektual Islam Nusantara sepanjang abad ke-18 M dan ke-19 M menampakkan dua wajah
pertentangan (konflik): pertama, antara penekanan dan keharusan berlakunya pertimbangan syari’ah dan
fiqh dalam bidang kehidupan sosial dan pribadi, dengan institusionalisasi sufisme. Konflik semacam
inilah, umpamanya, yang terjadi dalam perdebatan antara Syaikh Ahmad dengan para guru tarekat;
kedua, antara kecenderungan guru sufistik dan tarekat yang “heterodoks” dengan yang “ortodoks.”
Salah satu konflik yang paling intens adalah antara tarekat Syattariyah dengan Naqsyabandiyah.
Yang menarik untuk dicatat berkaitan dengan kajian ini adalah bahwa, di balik dua pergolakan itu,
pesantren tengah memasuki proses penyebaran yang cukup cepat. Tanpa menyebut contoh-contoh
kongkret, diakui oleh Taufik Abdullah bahwa tradisi pesantren di masa itu makin kuat dan jaringan
guru-murid yang menjadi landasan kelembagaan semakin berakar. Pada tahap ini pulalah pembakuan
Kitab Kuning mulai terjadi di hampir seluruh pesantren Nusantara. Dengan pengakuan ini, Taufik
Abdullah tampaknya ingin mengatakan bahwa perkembangan pesantren berkaitan erat dengan proses
pelembagaan tarekat-tarekat dengan warna syari’ah yang kuat ( ortodoks) sebagai bias dari “penetrasi ”
gerakan syari’ah-minded yang dilancarkan kelompok puritan. Dalam posisi seperti itu, tampak bahwa
pesantren sangat unik dan tidak bisa disederhanakan hanya dengan menganggapnya sebagai benteng
tarekat, atau sebagai pendukung fiqih, atau sebagai penentang gerakan puritan-pambaharuan. Agaknya,
ada peranan sintesis yang dilakukan pesantren di tengah-tengah pergumulan tarekat heterodoks versus
tarekat ortodoks di satu sisi, dan gerakan fiqih versus gerakan tasawuf di sisi lain. Dalam situasi seperti
ini, yang lebih penting lagi adalah bahwa kontroversi keagamaan yang terjadi telah melahirkan
khazanah pemikiran dan renungan keagamaan (terutama dalam bidang fiqih, hadis, dan tafsir) -suatu
khazanah yang menyebabkan Nusantara, seperti dikatakan Johns, harus diperhitungkan dalam “peta
pemikiran Islam.”
Kemudian, muncul gelombang keempat yang menerima pengaruh kuat dari gelombang ketiga.
Kristalisasi norma-norma dalam bentuk fiqih, ditambah dengan institusionalisasi sufistik yang berhasil
diberlakukan dalam wilayah (umat) yang sangat luas, harus berha- dapan dengan “keraton” yang
cenderung berada dalam kungkungan dominasi asing, kafir. “Ketegangan” tidak bisa terelakkan antara
ulama dengan penguasa, dan antara pesantren dengan keraton. Disintegrasi ini pada dasarnya
mencerminkan “kebangkitan” politik (kekuasaan) Islam, dan situasi inilah yang memacu. upaya
penerjmahan pengalaman observasi politik ke dalam pemikiran dan kegiatan keagamaan. Termasuk
bagian dari pengalaman dan observasi itu adalah gerakan Pan-Islamisme yang berupaya mewujudkan
komunitas politik Islam dalam skala global. Percobaan untuk menjadikan Islam sebagai ideologi
perjuangan politik versus Barat dan “keraton,” dengan demikian, telah menjadi perhatian utama
gelombang ini.
Ujung dari perjuangan untuk mengentaskan kembali Islam dari keterjajahan adalah, antara lain, lahirnya
gerakan “reformis modern” yang menandai munculnya gelombang kelima, yakni gelombang ter-akhir
dalam sketsa Taufik Abdullah. Berkembang dalam kompleksitas masyarakat dan dalam ketersediaan
media cetak, gelombang ini di- gerakkan oleh dua hal: pertama, lahimya organisasi-organisasi sukarela
yang. berdiri di atas kesamaan kecenderungan kultural-agama dan aspirasi sosial; dan, kedua,
tersedianya media cetak, selain media oral, yang berfungsi menyebarkan pandangan dan pemikiran
keagamaan.
Sistematisasi gerakan Islam tidak saja teljadi dalam lingkup instrumental, lembaga, tetapi juga dalam
lingkup konsep, gagasan. Misalnya saja, ketersediaan media cetak sebagai salah satu instrumen
komunikasi sekaligus bisa niendorong lebih luas penyebaran karya-karya terjemahan, yang ikut
menyulut semangat keagamaan, terutama di masa pascakemerdekaan:Perkembangan massif Kitab
Kuning di pesantren juga didukung oleh situasi seperti ini.
Beberapa catatan mungkin bisa dibuat dari sketsa TaufikAbdullah di atas. Pertama, akar terdalam dalam
tradisi intelektual Islam di Indonesia tampaknya adalah pemikiran sufisme yang, sayang sekali, tidak
mencapai perkembangan terjauhnya dalam wujud wacana-wacana intelektual (intellectual discourses ),
melainkan lebih dalamwujud perilaku-perilaku moral, tarekat (thariqah ), dan tasawuf praktis (tashaw-
wuf ‘amalf) .Dengan demikian, tasawuf yang berkembang di Indonesia, termasuk di pesantren hingga
dewasa ini, adalah tasawuf yang sudah kehilangan dimensi filosofisnya, tasawuf yang sudah “mati.”
Kemudian, salah satu fase terpenting dalam perkembangan intelektual Islam di Indonesia adalah
intensifikasi pemikiran dan gerakan ortodoksi yang mungkin mencapai mementumnya -seperti terekam
dalam catatan sejarah selama ini -pada akhir abad ke-19 M. Dalam sejarah Islam, ortodoksi sendiri,
mentirut beberapa pengamat, sebetulnya sudah dirumuskan pada abad ke-11 M ketika al-Ghazali
mensintesiskan pemikiran Islam “ultra-tradisionalis” yang berkembang di bawah pengaruh Ahmad bih
Hanbal, dengan pemikiran “ultra-rasionalis” Mu’tazilah yang menerima pengaruh pemikiran
Hellenisme. Sementara itu, ortodoksi yang berkembang di Indonesia agaknya lebih cenderung kepada
ortodoksi yang berasal dari gerakan Wahabi, suatu gerakan neo-”ultra-tradisionalis,” yang kurang (atau
tidak) memberi tempat bagi filsafat.dan peran akal (‘ aql) dalam pemikiran keagamaan. Artinya,
ortodoksi yang berkembang di Indonesia adalah ortodoksi pasca-al-Ghazali yang sudah dijinakkan sisi
filosofis-nya, ortodoksi yang “mati.” Dengan demikian, pergulatan yang terjadi antara tasawuf dan
ajaran ortodoksi dalam sejarah pemikiran Islam di Indonesia pada dasarnya adalah pertarungan dua
gerakan yang sama-sama sudah kehilangan dimensi rasionalitasnya.

NU dan Tradisi Islam Nusantara


Sebentar lagi, Nahdlatul Ulama (NU) akan memasuki usia yang ke-82. Usia yang tidak muda lagi
sebagai organisasi Islam. NU yang lahir 31 Januari 1926 di Suarabaya silam telah melahirkan banyak
generasi. Generasi pertama yang telah dilalui oleh pendiri NU, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, telah
berhasil meneruskan generasi Islam Nusantara yang cemerlang. Yakni, tradisi Islam yang telah
diwariskan oleh para ulama Nusantara dengan karakternya yang berdialog dan berakomodasi dengan
kebudayaan masyarakat. Sehingga tradisi Islam yang didakwahkan NU banyak dipraktikkan oleh
masyarakat Islam Indonesia di berbagai pelosok.
Fachry Ali di tahun 1980-an pernah menyatakan, betapa besarnya potensi NU untuk memberikan corak
umat Islam Indonesia sebagai kelompok alternatif dari ragam keislaman Indonesia yang belum
menemukan bentuknya yang tetap. Pernyataan ini sebenarnya hanya menegaskan kenyataan yang ada
betapa tradisi NU telah dipraktikkan oleh masyarakat Islam Indonesia. Hal ini bisa kita lihat bagaimana
masyarakat Islam Indonesia, terutama di desa-desa yang mempraktikkan ritual-ritual keagamaan khas
NU, seperti tahlilan, yasinan, ziarah kubur, slametan, dan lain sebagainya. Inilah yang sejatinya disebut
sebagai tradisi Islam Nusantara yang telah diwariskan oleh para ulama pendahulu.
Tantangan NU
Namun, dalam periode sekarang, Islam Nusantara yang menjadi tradisi masyarakat telah mendapat
tantangan baru dari gerakan-gerakan Islam trans-nasional yang berasal dari Timur Tengah. Paling tidak
ada tiga tantangan yang sedang dihadapi NU dalam upayanya meneguhkan tradisi Islam Nusantara.
Pertama, gerakan Islam trans-nasional melakukan upaya-upaya untuk mengubah Islam Nusantara
menjadi Islam Arab. Kekuatan tradisi yang mampu bertahan ratusan tahun sejak sebelum lahirnya NU,
kini menghadapi gugatan dari gerakan Islam trans-nasional, yang dibungkus dalam gerakan antitahlil,
antibid’ah, dan kembali ke purifikasi Islam. Meski secara umum, masyarakat Muslim Indonesia masih
menggunakan tradisi Islam Nusantara, tetapi mereka tidak memiliki ikatan yang kuat dengan NU.
Mereka hanya menjadi tradisi NU, bukan orang NU. Kecenderungan yang ada sekarang adalah banyak
yang mempraktikkan tradisi NU tetapi mereka tidak mau mengaku menjadi orang NU.
Kedua, merekrut kader-kader dan jamaah NU. Gerakan ini telah berhasil memikat kader dan jamaah NU
di beberapa daerah. Lompatnya kader dan jamaah NU ke gerakan Islam trans-nasional tidak dapat
dilepaskan dari tidak terawatnya mereka dalam struktur dan sistem sosial NU. Merasa tidak dirawat dan
cenderung dibiarkan, sehingga mereka berkiprah di tempat lain. Inilah problem serius organisasi Islam
besar seperti NU, karena jumlah jamaahnya yang begitu banyak, sehingga cenderung tidak
mempedulikan jamaahnya agar tetap terjaga dan militan.
Ketiga, banyaknya amal usaha NU yang mendapat pesaing baru. Kalau dulu masyarakat menyerahkan
pendidikan agamanya ke pesantren, sekarang mereka menyekolahkan ke Sekolah Islam Terpadu, yang
banyak dikelola oleh orang-orang non-NU. Dulu masyarakat mengikuti pengajian kiai, sekarang mereka
pergi ke kursus-kursus agama. Dulu kiai menjadi panutan masyarakat, sekarang banyak pilihan baru.
Ketiga tantangan NU di hari ulang tahun yang ke-82, mestinya dapat direspons secara kreatif oleh elite-
elite NU agar bergerak cepat membenahi problematika dan tantangan ke depan sesuai perkembangan
sosial masyarakat. Tidak lagi terjebak pada soal politik kekuasaan yang pada gilirannya berisiko pada
menurunnya tingkat apresiasi masyarakat. Keterlibatan para ulama NU dalam politik kekuasaan
setidaknya ikut mempengaruhi apresiasi masyarakat yang masih memegang tradisi.
Tradisi Nusantara
Dalam Pidato Iftitah pada Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar NU, 27 Juli 2006 di Surabaya
2006, Rais Aam, KH MA Sahal Mahfudh menegaskan, sebagai organisasi kemasyarakatan, NU
menampilkan sikap yang toleran terhadap nilai-nilai lokal. Terbukti dalam sejarah, NU tidak
memberangus seluruh nilai-nilai lokal masyarakat, melainkan merangkul dan mengisi kebudayaan
masyarakat. Karakter Islam Nusantara inilah yang menjadi tradisi masyarakat Islam Indonesia sejak
penyebaran Islam yang pertama hingga sekarang.
Sejak lahirnya, NU memang memiliki keteguhan untuk menjaga tradisi Islam Nusantara atas pengaruh
gerakan anti bid’ah di Indonesia yang dipengaruhi oleh Wahabi. Titik tolak ini telah membangkitkan
ulama untuk menjaga tradisi Islam Nusantara agar tidak kehilangan orientasi Islam keindonesiaan yang
menjadi corak tradisi Islam masyarakat. Para ulama yang telah meletakkan dasar-dasar Islam Nusantara
kemudian diterjemahkan oleh NU dalam fikrah nahdliyyah (Garis Pemikiran NU). Yakni, garis
pemikiran dan paradigma yang moderat (fikrah tawashutiyyah), toleran (fikrah tasamuhiyyah),
seimbang (fikrah tawazuniyyah), reformatif (fikrah islahiyyah), dan metodik (fikrah manhajiyyah).
Dalam kerangka ini, NU ingin memperteguh tradisi Islam Nusantara sebagai kerangka dasar Islam
Indonesia.
Tradisi Islam Nusantara ini akan tetap terjaga ketika terjadi gerakan sosial dalam diri NU yang
berorientasi pada jam’iyyah (organisasi) dan jamaah (umat/warga). Jika jam’iyyah tidak dikelola dan
jamaah tidak dirawat dengan baik, maka potensi melompatnya jama’ah tak terhindari dan sistem
keorganisasi akan semakin rapuh. Karena itulah, tradisi Islam Nusantara dalam kerangka fikrah
nahdliyyah akan memberi sumbangan paling berharga bagi corak Islam Indonesia. Sebab, Islam
keindonesiaan tidak akan berdiri kokoh selama tradisi Islam Nusantara rapuh, bahkan punah digantikan
oleh tradisi Islam Arab yang dibawa oleh kelompok-kelompok Islam trans-nasional. Inilah pentingnya
NU membangun dan meneguhkan tradisi Islam Nusantara yang telah diwariskan para ulama terdahulu.