Anda di halaman 1dari 9

PEMANFAATAN CENDAWAN UNTUK MENINGKATKAN

PRODUKTIVITAS DAN KESEHATAN TERNAK


Riza Zainuddin Ahmad

Balai Besar Penelitian Veteriner, Jalan R.E. Martadinata No. 30, Bogor 16114

ABSTRAK
Cendawan merupakan mikroorganisme eukariotik, memproduksi spora, tidak berklorofil, memperoleh nutrisi
dengan cara absorbsi, bereproduksi secara seksual dan aseksual, mempunyai struktur somatik dalam bentuk hifa, dan
berdinding sel yang terdiri atas kitin dan selulosa. Cendawan-cendawan tertentu dapat dimanfaatkan untuk ternak,
seperti kapang Beauveria bassiana, Duddingtonia flagrans, dan Metarhizium anisopliae yang dapat digunakan
untuk meningkatkan kesehatan ternak dan pengendali hayati. Khamir Saccharomyces cerevisiae dapat berperan
sebagai probiotik dan imunostimulan untuk meningkatkan produktivitas dan kesehatan ternak. Mikroba isolat
lokal Indonesia ini merupakan hasil penelitian dalam kurun waktu 20 tahun, dimulai pada tahun 1980-an sampai
dengan 2000-an. Sebelum terpilih sebagai cendawan yang bermanfaat bagi ternak, cendawan melalui tahapan
seleksi yang panjang. Dari isolat-isolat yang berhasil diisolasi dan diidentifikasi, hanya sedikit yang terpilih sebagai
pengendali hayati, probiotik atau imunostimulan.
Kata kunci: Cendawan, pengendali hayati, probiotik, imunostimulan, ternak

ABSTRACT
The use of fungi for increasing productivity and healthy of livestock

Fungi are eukaryotic microorganisms, produce spores, have no chlorophyll, obtain nutrition by absorbing, reproduce
sexually and asexually, have somatic structure in hifa shape, and have cell wall made of chitin and cellulose. Certain
fungi can be used for livestock. These mould and yeast are Beauveria bassiana, Duddingtonia flagrans, and
Metarhizium anisopliae that can be used for increasing healthy as biological control. Saccharomyces cerevisiae
yeasts are used for increasing productivity and healthy as probiotic and immunostimulant. These original isolates
from Indonesia were the results for the last 20 years beginning in 1980s to 2000s. Before being chosen as fungi used
for the livestock, the fungi went through some stages of a long selection. However, from the isolates successfully
isolated and identified only a few were chosen as biological control, probiotic or immunostimulant.
Keywords: Fungi, biological control, probiotic, immunostimulant, livestock

C endawan dapat digolongkan menjadi


jamur, kapang, dan khamir (Alexopou-
lus et al.1996; Dube 1996). Cendawan
bakteri atau parasit (cacing, cendawan,
protozoa, serangga, dan akarid).
Gejala klinis yang muncul pada ternak
menimbulkan kematian. Infestasi tungau
dan caplak sering diikuti oleh infestasi
virus, bakteri, dan mikroorganisme lain se-
dapat dimanfaatkan dalam budi daya yang terserang cacing adalah kurus, hingga akan meningkatkan morbiditas dan
ternak antara lain sebagai pengendali konversi pakan buruk, mencret, anemia, mortalitas ternak.
hayati, probiotik, dan imunostimulan. edema, dan bila infestasi cacing terlalu ba- Pengamatan di beberapa daerah di
Pemanfaatan beberapa cendawan golong- nyak dapat menyebabkan kematian. Pada Jawa Barat menunjukkan, umumnya seekor
an kapang dan khamir seperti Dudding- domba, bila infestasi cacing Haemonchus ternak dapat terinfeksi 3−4 spesies yang
tonia flagrans, Beauveria bassiana, contortus mencapai 5.000 larva maka didominasi oleh cacing H. contortus dan
Metarhizium anisopliae, dan Saccharo- ternak dapat menderita haemonchosis. Trichostrongylus spp. dengan rata-rata
myces cerevisiae sebagai agen hayati Pada kasus akut, infestasi cacing mencapai prevalensi 67% (Kusumamihardja dan
pengendalian penyakit dapat meningkat- 2.000−20.000 larva, dan pada kasus hiper- Zalizar 1992; Ridwan et al. 1996). Kerugian
kan produktivitas ternak. akut, infestasi cacing sekitar 30.000 larva akibat infeksi nematoda, termasuk H.
Selama pemeliharaan, ternak dapat (Soulsby 1986; Urqurhart et al. 1987). Pada contortus pada kambing, diperkirakan
terserang berbagai penyakit sehingga ternak yang terserang caplak, gejala klinis mencapai Rp7 miliar/tahun (Rachmat et al.
tidak mampu mencapai produktivitas yang yang muncul adalah ternak menjadi kurus, 1998). Kerugian akan bertambah besar bila
optimal, bahkan dapat menyebabkan caplak pada kulit dapat terlihat dengan masalah haemonchosis tidak ditanggu-
kematian. Penyakit yang menyerang kasat mata, gelisah, kulit dan bulu rusak, langi dengan sungguh-sungguh. Hal ini
ternak dapat disebabkan oleh virus, kulit menebal, kegatalan, serta dapat pula berkaitan dengan kendala yang harus

84 Jurnal Litbang Pertanian, 27(3), 2008


diatasi, seperti sistem beternak dengan dari sembilan isolat yang diuji, hanya satu Penambahan 20 larva nematoda/cm2 media
cara digembalakan serta pemberian antel- yang dapat digunakan sebagai probiotik, agar akan menginduksi cendawan untuk
mintik secara terus-menerus dengan dosis dan dari sejumlah isolat D. flagrans yang membentuk perangkap, optimal pada suhu
rendah dan cara pemberian yang kurang ditemukan hanya sedikit yang dapat digu- 30oC yang akan menghasilkan 700−800/
tepat. nakan sebagai nematofagus (Agarwal et cm2 media agar/hari. Kapang menghasil-
Kerugian akibat gangguan caplak di al. 2000; Ahmad 2005a). Tulisan ini kan dua macam spora, yaitu yang memiliki
Indonesia, meski belum dilaporkan secara mengulas beberapa cendawan isolat lokal dinding tipis, akan menghasilkan konidia
pasti, diperkirakan cukup besar, karena yang bermanfaat bagi ternak, baik sebagai dengan jumlah terbatas pada saat cenda-
pada peternakan sapi di Amerika Serikat pengendali hayati, probiotik maupun wan berumur muda, dan yang memiliki
kerugian diperkirakan mencapai US$60 imunostimulan. dinding tebal, berupa klamidospora yang
juta/tahun (Steelman 1976). Di Indonesia, dihasilkan dari hifa yang matang. Selama
gangguan caplak menjadi masalah di proses penuaan, jumlah klamidospora
beberapa daerah di Sumatera, Jawa, meningkat sampai batas tertentu
Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan CENDAWAN SEBAGAI (Gronvold et al. 1996).
Sumbawa (Sigit et al. 1983). Demikian pula PENGENDALI HAYATI Isolat lokal D. flagrans dari tanah asal
dengan tungau penyebab skabies meru- Bogor dapat tumbuh pada berbagai media,
pakan masalah penting di Amerika Utara, Cendawan yang termasuk golongan ini, yaitu Corn Meal Agar (CMA), Potato
Asia, Afrika Selatan, dan Eropa. Di Inggris berdasarkan target utamanya, dapat dibagi Dextrose Agar (PDA), dan Saboroud
tercatat lebih dari 3.500 kasus pada abad menjadi dua, yaitu sebagai pengendali Dextrose Agar (SDA). Tumbuh baik pada
ke-19 (Kirkwood 1986). Di Indonesia, cacing nematoda (nematofagus) dan suhu 22−30oC, dapat membuat jerat untuk
tungau dilaporkan menyerang ternak sebagai pengendali serangga, tungau, larva infektif, mampu menurunkan larva
kambing dan menimbulkan kematian caplak, dan kutu (entomofagus). Meski- instar 3 H. contortus, memerlukan cahaya,
dengan prevalensi 4−11% (Balai Penelitian pun beberapa khamir dapat mematikan dan tahan disimpan selama 4 bulan pada
Veteriner 1992; Budiantoro 2004). nematoda dan serangga, efektivitasnya kulkas (suhu 4−10 oC) (Ahmad 2003)
Penanggulangan penyakit cacingan rendah sehingga tidak digunakan lagi. Dari (Gambar 1). Kapang ini dapat digunakan
serta serangan tungau dan serangga lain hasil penelitian, kapang nematofagus yang dalam pengendalian parasit nematoda
pada ternak umumnya dilakukan dengan terpilih yaitu D. flagrans (Mendoza-De Osepohagostomum dentatus dan Hyostro-
menggunakan antelmintik, pestisida atau gives et al. 1999; Ahmad 2008), dan ngylus rabidus pada babi, Cysthostome,
akarisida secara berkala. Namun, pemakai- sebagai entomofagus adalah B. bassiana Strongylus vulgaris dan Strongylus eden-
an obat-obatan dari bahan kimiawi secara dan M. anisopliae (Holder dan Keyhani tatum pada kuda, serta H. contortus dan
terus-menerus akan menimbulkan resis- 2005; Maranga et al. 2005). Trichostrongylus colubriformis pada
tensi dan residu pada ternak dan lingkung- domba dan sapi (Larsen et al. 1995; 1996;
an (Waller 1997; Larsen 2000). Selain Nansen et al. 1996; Faedo et al. 1998;
dengan bahan kimiawi, penanggulangan Kapang Nematofagus Larsen et al. 1998; Larsen 2000). Hasil
penyakit cacingan serta serangan tungau, D. flagrans penelitian tersebut menunjukkan bahwa
caplak, dan serangga dapat memanfaatkan kapang dapat mengendalikan larva nema-
cendawan sebagai agens pengendali Kapang D. flagrans mempunyai ciri khas, toda infektif secara optimal. Pemanfaatan
hayati, terutama cendawan dari golongan yang juga merupakan keunggulannya D. flagrans dapat dikombinasikan dengan
kapang. Kapang pengendali parasit cacing dibandingkan dengan cendawan nemato- cendawan nematofagus lain seperti A.
nematoda disebut kapang nematofagus, fagus lain, yaitu mampu membentuk oligospora (Larsen 2000).
dan kapang pengendali parasit serangga, klamidospora oleh hifanya sendiri. Kapang Di Indonesia, pemanfaatan cenda-
tungau, caplak, dan kutu disebut kapang dapat tumbuh pada suhu 20−30 o C. wan nematofagus mempunyai prospek
entomofagus. Perbaikan dan peningkatan
produktivitas ternak dapat memanfaatkan
khamir sebagai probiotik dan imunosti-
mulan.
Hasil eksplorasi plasma nutfah
cendawan Indonesia cukup banyak dan
perlu diteliti untuk mengetahui mikroba,
khususnya cendawan isolat lokal, yang
dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan
produktivitas ternak. Umumnya cendawan
melalui beberapa tahapan seleksi setelah
diisolasi dan diidentifikasi, seperti uji in
vitro dan in vivo, serta aplikasi pada skala
laboratorium dan skala besar. Dari ber-
bagai tahap pengujian tersebut, hanya
sedikit cendawan yang terpilih sebagai
Gambar 1. Duddingtonia flagrans pada media potato dextrose agar (A); pengamatan
pengendali hayati, probiotik atau imuno-
mikroskopik perbesaran 400 x dan pewarnaan laktofenol biru (B);
stimulan. Hasil penelitian menunjukkan,
konidia (B1); dan klamidospora (B2).

Jurnal Litbang Pertanian, 27(3), 2008 85


yang cerah karena didukung ketersediaan (sel penghasil konidia). Bentuk konidia menginfeksi serangga pada berbagai umur
plasma nutfah dan kondisi ternak rumi- bervariasi, yaitu globos, elips, silindris, dan stadium (telur, larva, dewasa), serang-
nansia kecil. Penggunaan D. flagrans dan koma. Konidia berbentuk elips ber- an dapat menimbulkan epizotik alam.
dengan dosis 500.000 konidia mampu ukuran 2,90−4,20 µm x 1,80−2,50 µm, Konidia dan miselia dalam jumlah banyak,
menurunkan larva H. contortus secara bentuk silindris 3,30−4,80 µm x 2,10−2,50 bermassa padat dapat menyebar pada
signifikan. Bila dikombinasikan dengan S. µm, dan bentuk koma 1,90−2,50 µm, hidup seluruh tubuh serangga yang terinfeksi
cerevisiae secara signifikan mampu menu- kosmopolitan, haploid. Konidia dengan (Feron 1981; Nankingan et al. 1994; Barron
runkan jumlah larva H. contortus ( Ahmad jumlah yang banyak dihasilkan oleh hifa. 2005). Caplak dan tungau dapat pula
2003; 2008). Hifa berukuran lebar 1−2 µm dan diserang (Brooks dan Wall 2002; Holder
Mekanisme D. flagrans dalam me- berkelompok dalam sekelompok sel-sel dan Keyhani 2005). Umumnya kadaver
mangsa nematoda adalah dengan cara konidiogen berukuran 3−6 µm x 3 µm. serangga secara optimum dapat meng-
membuat perangkap bagi larva infektif. Selanjutnya, hifa bercabang-cabang dan hasilkan konidia dan bersporulasi pada
Pada saat larva instar 3 bergerak mengenai menghasilkan sel-sel konidiogen kembali kelembapan lebih dari 95% (basah) dengan
hifa, kapang akan mengeluarkan zat kemo- dengan bentuk seperti botol, leher kecil, suhu 26−30oC (hangat). Bila kelembapan
atraktan yang mengandung sekresi. Larva dan panjang ranting dapat mencapai lebih rendah maka proses sporulasi akan
yang mendekat kemudian akan melekat dari 20 µm dan lebar 1 µm. Cendawan ini menurun (Fernandez 1994).
pada hifa dan dijerat oleh hifa vegetatif. tidak membentuk klamidospora, namun Umumnya kapang patogen mengin-
Selanjutnya, kapang mensekresikan dan dapat membentuk blastospora. feksi serangga melalui integumen. Hifa
memproduksi enzim hidrolisis (kitinase dan Konidia dihasilkan dalam bentuk masuk ke dalam jaringan kemudian terus
protease) yang akan menguraikan kutikula simpodial dari sel-sel induk yang terhenti masuk ke hemosel (Barson 1977). B.
untuk memudahkan hifa melakukan pada ujungnya. Pertumbuhan konidia bassiana dapat menginfeksi serangga
penetrasi (Gronvold et al. 1993; Ahman diinisiasi oleh sekumpulan konidia. Setelah melalui integumen, saluran pencernaan,
2000; Meyer dan Wiebe 2003). Hifa itu, spora tumbuh dengan ukuran yang trakhea, dan luka. Kapang ini dapat di-
vegetatif yang masuk ke dalam tubuh lebih tinggi karena akan berfungsi sebagai tularkan dari satu inang ke inang lain
larva akan tumbuh dan berkembang hingga titik tumbuh. Pertumbuhan selanjutnya melalui konidia. Setelah masuk ke hemosel,
akhirnya larva mati. Dalam proses mem- dimulai di bawah konidia berikutnya, cendawan terus tumbuh hingga seluruh
bunuh larva, kapang dibantu oleh nemato- setiap saat konidia dihasilkan pada ujung bagian tubuh serangga tertutupi oleh
toksin yang diduga sebagai lektin (Rosen hifa dan dipakai terus, selanjutnya ujung- miselim cendawan dan akhirnya serangga
1996). nya akan terus tumbuh. Dengan cara mati. Pada kondisi yang sesuai, cendawan
D. flagrans merupakan kapang seperti ini, rangkaian konidia dihasilkan dapat tumbuh dan menembus kutikula di
nematofagus pilihan untuk mengendalikan oleh konidia-konidia muda (rangkaian antara ruas tubuh serangga kemudian
larva instar 3 cacing nematoda pada ternak. akropetal), dengan kepala konidia menjadi membentuk konidia yang baru (Broome et
Hal tersebut didasarkan pada penelitian lebih panjang. Ketika seluruh konidia al. 1976; Maddox 1982).
yang telah dilakukan sebelumnya (Gron- dihasilkan, ujung konidia penghubung Serangga yang terinfeksi ditandai
vold et al.1993; Larsen 2000; Patra 2007). dari sel-sel konidiogenus mempunyai dengan gejala lemah, kurang aktif, dan
Kapang D. flagrans lebih efektif dan pertumbuhan zig-zag dan mengikuti pada kutikula ditemui bercak hitam yang
efisien mengendalikan larva nematoda di- pertumbuhan asal seperti kepala (Brady menunjukkan tempat penetrasi cendawan,
banding Arthrobotrys spp., meski Arthro- 1979; Barron 2005). selanjutnya miselia tumbuh pada seluruh
botrys oligospora dapat memproduksi B. bassiana merupakan parasit tubuh serangga dan berwarna putih.
lebih banyak konidia dengan perlakuan agresif dan memiliki berbagai spesies Sporulasi pada larva mati terjadi setelah
yang sama. Hal ini karena D. flagrans inang serangga, meski tidak menyerang 10 hari inkubasi (Barson 1977). Mekanisme
mampu membentuk klamidospora (Men- semua jenis serangga. Namun karena infeksi didukung oleh enzim seperti
doza-De Gives et al.1999).

Kapang Entomofagus
Beauveria bassiana

Koloni B. bassiana pada medium PDA


yang diinkubasi pada suhu 25 oC dan
berumur 14 hari, membentuk lapisan
seperti tepung (Gambar 2). Koloni pada
bagian tepi mula-mula berwarna putih
kemudian menjadi kuning pucat atau
kemerahan.
B. bassiana mempunyai perangkat
penghasil spora (konidia) berukuran kecil
dan lembut. Konidia yang berupa spora Gambar 2. Kapang Beauveria bassiana pada media potato dextrose agar (A);
aseksual menghasilkan rangkaian akripetal pengamatan mikroskopik perbesaran 400 x dan pewarnaan laktofenol
pada sel-sel konidiogenus yang panjang biru (B); konidia (B1); dan hifa (B2).

86 Jurnal Litbang Pertanian, 27(3), 2008


protease, lipolitik, amilase, dan kitinase. diri dan menghasilkan tunas yang ber- berukuran lebih dari 30 µ dan berpseudo-
Enzim-enzim tersebut mampu menghidro- kecambah multipolar. Spora berdiameter 5− miselium. Morfologi makroskopik me-
lisis kompleks protein di dalam integumen 10 µ. S. cerevisiae merupakan khamir bersel nunjukkan koloni berbentuk bulat,
(Brady 1979). Hal yang sama dapat terjadi tunggal, yang berkembang biak dengan berwarna putih, krem, abu-abu hingga
pada tungau dan caplak. cepat secara seksual dan aseksual. Per- kecoklatan, permukaan koloni berkilau
kembangbiakan melalui tunas kecambah sampai kusam, licin, dengan tekstur lunak
multipolar dan tunas dapat terjadi pada (Lodder 1970; Barnet et al. 2000).
Kapang Entomofagus seluruh permukaan dinding sel (Gambar
Metarhizium anisopliae 4).
Reproduksi seksual membentuk Peran S. cerevisiae sebagai
Kapang ini banyak ditemukan di dalam askospora di dalam askus. Dalam satu Probiotik
tanah, bersifat saprofit, dan umumnya askus umumnya terdapat empat asko-
dijumpai pada berbagai stadia serangga spora dalam berbagai bentuk. Khamir ini Probiotik adalah makanan pelengkap
yang terinfeksi, tumbuh pada suhu 65− mempunyai ciri morfologi mikroskopis, berupa mikroba hidup yang memberikan
85oF dan kelembapan 30−90%. Kapang ini membentuk blastospora (spora) bulat keuntungan pada saluran pencernaan
mempunyai koloni berwarna hijau zaitun, lonjong, silindris, oval atau bulat telur inang. Probiotik adalah bahan makanan
konidiofor dapat mencapai panjang 75 µm, pendek dan panjangnya dipengaruhi oleh yang tidak tercerna dan memberikan
bertumpuk-tumpuk diselubungi oleh strain (Elliot 1994; Dube 1996). keuntungan pada inang melalui stimulasi
konidia yang berbentuk apikal berukuran Menurut besarnya sel, khamir dike- selektif terhadap aktivitas satu atau
6−9,50 µm x 1,50−3,90 µm, bercabang- lompokkan menjadi tiga, yaitu yang sejumlah bakteri yang terdapat di dalam
cabang, berkelompok membentuk massa selnya berukuran 3,50−10 µ x 5−19 µ,yang kolon (Roberfoid 2000). Lebih lanjut Fuller
yang padat dan longgar (Gambar 3). selnya berukuran 3−8 µ x 4−18 µ, dan yang (1992) dan Karpinska et al. (2001)
Kapang ini dapat membunuh serangga, berukuran 2,50−7 µ x 4,50−18 µ. Selain itu, menjelaskan bahwa probiotik adalah
tungau, dan caplak seperti halnya B. terdapat sel berfilamen pada spora yang imbuhan pakan berbentuk mikroba hidup
bassiana (Barnet 1969; Wikardi 2000;
Cloyd 2003; Genther et al. 2004; Holder
dan Keyhani 2005; Maranga et al. 2005).
Dalam menginfeksi serangga dan
akarida, konidia berkecambah pada
kutikula inang dan melakukan penetrasi
dengan enzim hidrolisis (peptidase dan
kitinase), lalu dengan bantuan tekanan
mekanis enzim tersebut menghancurkan
kulit dengan cara lisis. Setelah kapang
masuk, konidianya dengan cepat memper-
banyak diri sehingga blastospora segera
menyelaputi tubuh inang. Kematian inang
disebabkan oleh kolonisasi miselia yang
ekstensif sehingga menyebabkan starvasi,
atau melalui racun yang dilepaskan pada Gambar 3. Kapang Metarhizium anisopliae pada media potato dextrose agar (A);
saat penyerangan. Desikasi kadaver digu- pengamatan mikroskopik perbesaran 400 x dan pewarnaan laktofenol
nakan sebagai nutrisi dan air oleh hifa. Hifa biri (B); konidia (B1); dan hifa (B2).
memecah kutikula setelah serangga mati.
Konidia bebas berkembang secara pasif
atau aktif untuk meneruskan siklus infeksi
(Wikardi 2000; Onofre et al. 2001). Meka-
nisme serupa juga ditemui pada caplak dan
tungau yang terserang kapang ini.

CENDAWAN SEBAGAI
PROBIOTIK DAN
IMUNOSTIMULAN

Salah satu cendawan yang berpotensi


sebagai probiotik dan imunostimulan
adalah S. cerevisiae. Cendawan ini ter- Gambar 4. Kapang Saccharomyces cerevisiae pada media CMA (A); pengamatan
masuk dalam kelompok khamir. Pada saat mikroskopik perbesaran 400 x dan pewarnaan laktofenol biru (B); dan
berkembang biak, khamir akan membelah spora (B1).

Jurnal Litbang Pertanian, 27(3), 2008 87


yang menguntungkan dan mempengaruhi dengan cara memakannya) dengan cara RES dalam proses peningkatan jumlah
induk semang melalui perbaikan keseim- meningkatkan sensitivitas Reticulo Endo- makrofag, dan mengaktivasi sel-sel darah
bangan mikroorganisme dalam saluran thelial System (RES), yaitu sistem endo- putih selain makrofag. Sel-sel tersebut
pencernaan. Di bidang peternakan, telial berupa organ tubuh seperti ginjal, ialah granulosit dan monosit. Beta-D
probiotik bermanfaat bagi kesehatan, hati, limpa, dan timus. glukan dapat berperan sebagai imuno-
produksi, dan pencegahan penyakit pada Limfosit dapat digolongkan menjadi modulator (pengatur sistem kekebalan
ternak. Salah satu probiotik adalah khamir sel B dan sel T. Sel T ditemukan dalam tubuh) untuk meningkatkan kemampuan
S. cerevisiae. peredaran darah hewan tingkat tinggi dan sel T, sel B, dan makrofag dalam melawan
Pemberian S. cerevisiae sebagai memegang peranan penting dalam imu- infeksi penyakit, juga membantu mem-
imbuhan mikroba hidup ke dalam tubuh nitas seluler. Sel B pada mamalia dihasilkan perbaiki jaringan yang rusak melalui
akan mempengaruhi induk semang oleh sumsum tulang dan pada unggas oleh proses regenerasi dan penyembuhan (Beta
(unggas, ruminansia) melalui perbaikan bursa fabricius dan sel T oleh timus. Selan- Glucan Research 2004 ).
keseimbangan mikroorganisme dalam jutnya sel B menghasilkan antibodi, yang
saluran pencernaan. Pada ternak rumi- merupakan salah satu elemen humoral
nansia, pemberian probiotik akan mening- untuk beradaptasi secara imunitas, PEMANFAATAN
katkan bakteri selulolitik dan asam laktat sedangkan sel T membantu sel B dengan CENDAWAN UNTUK
pada saluran pencernaan. Pada unggas, mengaktivasi makrofag untuk memper-
KESEHATAN TERNAK
probiotik akan menambah jumlah mikroba tahankan tubuh terhadap infeksi mikroba.
yang menguntungkan dan menekan Sel makrofag merupakan salah satu Penelitian pengendalian biologis dengan
mikroba yang merugikan dengan cara sel yang termasuk dalam kekebalan alami cendawan nematofagus dan entomofagus,
berkompetisi untuk hidup di dalam saluran dengan cara menghasilkan substansi serta peningkatan kesehatan dengan
pencernaan. kimia. Selanjutnya substansi ini menjadi probiotik dan imunostimulan sudah lama
pertahanan sel imun yang penting. Sel- dirintis (Larsen 2000; Brooks dan Wall
sel tersebut akan membentuk kekebalan 2002; Fox 2002; Ahmad 2005a; 2005b).
Peran S. cerevisiae sebagai tubuh dengan cara menyerang sel-sel Penelitian dimulai dari isolasi, identifikasi,
Imunostimulan asing. Makrofag mempunyai reseptor dilanjutkan dengan pengujian secara in
pada sel membran untuk tujuh macam re- vitro dan in vivo dan diakhiri dengan
Secara sederhana imunostimulan adalah sidu gula. Saat reseptor berikatan dengan aplikasi atau komersialisasi (Tabel 1).
suatu bahan (material) yang bila diberikan residu, makrofag diaktifkan dan kemudian Di Indonesia, penelitian cendawan
pada hewan dan manusia dapat mening- menghasilkan sitokin. Sitokin inilah yang nematofagus baru dimulai pada tahun
katkan sistem pertahanan tubuh untuk berfungsi sebagai pengatur respons imun 1990-an dan memasuki tahap aplikasi pada
menghadapi serangan penyakit. Imunosti- tubuh (Tizard 1987). Sistem tersebut se- tahun 2000-an, sedangkan di dunia sudah
mulan meningkatkan “limfosit T” sebagai cara bersama-sama membentuk sistem dimulai pada awal abad ke-19 (Larsen
imunitas seluler yang penting untuk pertahanan dalam tubuh melawan infeksi 2000). Penelitian dimulai dengan meng-
memproteksi tubuh dari bakteri dan virus penyakit. Dengan demikian, imunostimu- isolasi dan mengidentifikasi isolat (Ahmad
intraseluler. “Limfosit B” juga meningkat lan sangat bermanfaat dalam meningkat- 1999). Setelah isolat diperoleh, dilakukan
untuk menambah imunitas humoral dan kan sistem kesehatan tubuh. Salah satu pengujian ketahanan hidup pada suasana
serum antibodi. Serum ini berfungsi untuk imunostimulan adalah beta-D glukan. asam, basa, enzim, dan suhu tertentu se-
menetralkan endotoksin, sehingga pada Beta-D glukan merupakan salah satu cara in vitro (Beriajaya dan Ahmad 1999).
akhirnya imunostimulan digunakan pada komponen dinding khamir yang esensial Selanjutnya dilakukan pengujian kemam-
ternak untuk meningkatkan kemampuan sebagai imunostimulan. Komponen ter- puan isolat dalam mereduksi H. contortus
melawan bakteri dan menurunkan waktu sebut mempunyai campuran yang unik secara in vitro. Isolat yang lolos lalu diuji
yang diperlukan untuk memperbanyak yang efektivitas dan intensitasnya dalam secara in vivo pada ternak (Ahmad 2001;
antibodi (Beta Glucan Research 2004). sistem pertahanan tubuh melalui aktivasi Beriajaya et al. 2001). Proses pengujian
Imunostimulan dapat digolongkan sel darah putih yang spesifik seperti terakhir dilakukan dengan aplikasi secara
menjadi dua, yaitu yang bekerja secara makrofag dan sel Natural Killer (NK). peroral atau langsung di lapangan. Hasil
spesifik dan nonspesifik. Beberapa materi Beta-D glukan akan berikatan dengan penelitian menunjukkan bahwa pemberian
atau substansi yang terlibat dalam proses permukaan sel makrofag dan sel NK, dan peroral memberikan hasil yang lebih baik.
yang spesifik adalah imunisasi aktif dan berfungsi sebagai pemicu proses aktivasi Bila dikombinasikan dengan S. cerevisiae
pasif, baik oleh virus, bakteri maupun makrofag. Proses ini akan meningkatkan dapat mereduksi larva H. contortus secara
cendawan, sedangkan yang nonspesifik sirkulasi makrofag dalam tubuh untuk signifikan (Beriajaya et al. 2001; Ahmad
berupa stimulasi limfosit dan makrofag mencari benda-benda asing yang masuk 2008).
(Tizard 1987). ke dalam tubuh, selain menambah jumlah Penelitian pengendalian hayati
Sistem pertahanan tubuh dapat di- sel-sel makrofag (Life Source Basics 2002). dengan cendawan entomofagus berjalan
bagi menjadi dua, yaitu kekebalan humoral Beta-D glukan meningkatkan fungsi lebih lambat dibandingkan dengan pe-
dan seluler. Humoral terdapat pada darah, imun, termasuk fagositosis (kemampuan nelitian cendawan nematofagus pada
yang dikenal dengan antibodi, juga di- menangkap benda asing, partikel yang di- bidang peternakan. Umumnya kapang
temukan sebagai molekul protein serum. lepaskan sitokin; hormon interseluler IL-1, entomofagus digunakan untuk keperluan
Respons seluler berupa mekanisme IL-6, GM-CSF, interferon) dan pembuatan pertanian, untuk mengatasi hama serang-
fagositosis (membunuh kuman penyakit antigen. Beta-D glukan juga menstimulasi ga dan sejenisnya, hanya sedikit yang

88 Jurnal Litbang Pertanian, 27(3), 2008


(2002) berhasil menemukan substansi
Tabel 1. Cendawan dan kegunaannya untuk kesehatan ternak. tersebut dan komponen aktifnya adalah
beta-D glukan. Salah satu bahan ini ter-
Spesies cendawan Kegunaan Jenis ternak Pustaka dapat pada barley (Schizophyllum spp.)
Saccharomyces Probiotik, Ayam, domba, kelinci Rukyani et al. (1987); dan dinding khamir S. cerevisiae. Hasil
cerevisiae imunostimulan sapi, ikan, dan udang Shins et al. (1989); penelitian laboratorium dan komersial
Tedesco et al. (1994); secara umum membuktikan manfaat S.
Sitthipun et al. (2000); cerevisiae pada ayam broiler dan petelur,
Wina 2000; Fox (2002);
Ratnaningsih (2000);
babi, ikan lele, sapi, dan udang sehingga
Ahmad (2005b). dapat mengurangi biaya obat-obatan dan
Duddingtonia Nematofagus Babi, kambing, domba, Larsen (2000);
vaksinasi.
flagrans kambing, kuda, dan sapi Ahmad (2005a); (2008) Beberapa contoh penggunaan S.
Metarhizium Entomofagus Kambing dan sapi Frazzon et al. (2000);
cerevisiae sebagai imunostimulan pada
anisopliae Smith et al. (2000); hewan adalah sebagai berikut. Transfer
Onofre et al. (2001); gen beta-glukan pada udang dan mikro-
Brooks dan Wall (2002); organisme laut seperti mikroalga dan
Cloyd (2003). bakteri nonpatogenik lain dapat mening-
Beauveria Entomofagus Kambing dan sapi Holder dan Keyhani katkan kekebalan tubuh. Pada lele dumbo,
bassiana (2005); beta-glukan dengan dosis 750 mg/kg
Campos et al. (2005).
pakan dapat berperan sebagai imuno-
stimulan yang positif terhadap respons
kebal nonspesifik melalui uji tantang
terhadap infeksi bakteri Aeromonas
hydrophila (Rukyani et al. 1987). Pada
diteliti untuk hewan dan itu pun terbatas mendapatkan hasil yang positif, yaitu udang hitam (Penaeus monodon), pem-
pada caplak dan tungau (Brooks dan Wall bobot badan meningkat setelah pem- berian beta-glukan 1 g/kg pakan mem-
2002; Holder dan Keyhani 2005). Penelitian berian S. cerevisiae. Selanjutnya Kum- perlihatkan peran imun yang positif
lanjutan yang berkembang adalah meng- prechtova et al. (2000) memberikan S. terhadap kenaikan hematosit (Sitthipun et
ambil bagian gen yang menghasilkan cerevisiae 47 dengan dosis 200 g/100 kg al. 2000). Pada udang dan ikan, peng-
toksin untuk caplak, tungau, dan serangga pakan untuk meningkatkan penampilan gunaan S. cerevisiae sebagai imuno-
lain. Gen tersebut lalu dimanipulasi dan daging dan mengurangi bau amonia stimulan dengan dosis 50 mg/kg bobot
diperbanyak melalui rekayasa genetik nitrogen pada feses ayam. Pemberian S. badan dapat mengatasi serangan bakteri
sehingga dihasilkan produk antiserangga cerevisiae juga meningkatkan penampilan dan kuman lain seperti Aeromonas
tanpa bentuk utuh dari kapangnya sendiri. bobot ayam dan secara in vitro mampu salmonicida dan vibriosis (Fox 2002).
Penelitian S. cerevisiae sebagai menekan pertumbuhan S. typhimurium
probiotik dan imunostimulan berkembang meski secara in vivo tidak memberikan
lebih cepat dibanding untuk pengendali hasil yang signifikan (Istiana et al. 2002).
hayati. Shins et al. (1989) menyimpulkan Meski tidak semuanya memberikan PERMASALAHAN DALAM
bahwa S. cerevisiae termasuk salah satu respons positif terhadap pemberian pakan APLIKASI DI LAPANGAN
mikroba yang banyak dipakai pada ternak imbuhan, pada sapi dapat meningkatkan
sebagai probiotik, bersama-sama dengan produksi susu rata-rata 4,30% dan per- Penggunaan kapang entomofagus (B.
bakteri dan cendawan lain seperti Asper- tambahan bobot badan rata-rata 8,70%. bassiana dan M. anisopliae) untuk me-
gillus niger, A. oryzae, Bacillus punilus, Pada domba, pemberian campuran S. ngendalikan serangga hama pada tanaman
B. centuss, Lactobacillus acidophilus, cerevisiae dan Bioplas pada ransum, perkebunan sudah banyak dilakukan,
Saccharomyces crimers, Streptococcus masing-masing dengan dosis 4 g Bioplas/ namun untuk pengendalian caplak dan
lactis, dan S. termophilus. kg bobot badan dan 1 g S. cerevisiae yang tungau pada ternak baru pada tahap awal
Tedesco et al. (1994) menunjukkan mengandung 14 x 1010 koloni menghasilkan penelitian (Ahmad 2004). Identifikasi
adanya korelasi antara pemberian S. konversi pakan sebesar 6 kg/kg pertam- cendawan sangat penting dalam men-
cerevisiae dan populasi bakteri pada bahan bobot badan (Ratnaningsih 2000). dapatkan cendawan entomofagus, karena
kelinci, yaitu jumlah bakteri patogen Penelitian imunostimulan berkem- bila salah memilih akan merusak tatanan
menurun dan jumlah bakteri aerob dan bang pesat. Penemuan substansi beta-D fauna dalam lingkungan seperti kematian
anaerob yang menguntungkan dalam usus glukan berawal dari hasil Pillemer (1940) serangga yang menguntungkan atau
meningkat. Kumprecht et al. (1994) dalam Life Source Basics (2002), yang berguna (Wikardi 2000). Karena itu, perlu
melaporkan pemberian campuran S. meneliti substansi yang memiliki kemam- dilakukan penelitian lanjutan. Untuk apli-
cerevisiae dan Streptococcus faecum pada puan menghasilkan aktivator mekanisme kasi kapang nematofagus (D. flagrans)
ayam broiler menurunkan jumlah bakteri pertahanan tubuh yang disebut zymosan. hanya perlu memasyarakatkannya sehing-
Escheria coli dalam sekum hingga 50%. Meski substansi tersebut mampu mensti- ga penggunaan cendawan nematofagus
Selanjutnya Kompiang (2002) meneliti mulasi secara nonspesifik respons imun, dalam pengendalian penyakit pada ternak
penggunaan “khamir (ragi) laut” dengan zat aktifnya belum diketahui. Selanjutnya lebih luas dibandingkan dengan antel-
S. cerevisiae dalam pakan ayam dan Diluzio (1970) dalam Life Source Basics mintik.

Jurnal Litbang Pertanian, 27(3), 2008 89


Memperhatikan hasil-hasil pene- sangat bervariasi, bergantung pada ada dan tingkah laku hewan dengan baik agar
litian terdahulu maka S. cerevisiae dapat atau tidaknya reseptor yang dikenal oleh diperoleh hasil yang optimal.
digunakan sebagai probiotik, namun be- komponen gula dari beta-D glukan. Hal
berapa faktor harus dipertimbangkan ini berhubungan erat dengan struktur
seperti biaya produksi dalam skala besar, darah, di mana darah terdiri atas hemo- KESIMPULAN
pengaruh buruk terhadap ternak, dan zat siania (molekul yang membawa oksigen)
khasiat yang terkandung di dalamnya. dan lektin (molekul yang beraksi terhadap Hasil uji produktivitas dan aplikasi isolat
Penggunaan S. cerevisiae sebagai imu- imun) (Life Source Basics 2002). Selain itu lokal Indonesia kapang B. bassiana, D.
nostimulan hendaknya tidak melalui penggunaan imunostimulan beta-D glukan flagrans, M. anisopliae, dan khamir S.
suntikan, tetapi secara oral bersama-sama relatif lebih aman daripada antibiotik yang cerevisiae sebagai pengendali hayati,
pakan. mempunyai efek resistensi. Perlakuan probiotik dan imunostimulan memberikan
Peningkatan atau penurunan meka- pada ruminansia berbeda dengan pada hasil yang baik sehingga dapat diman-
nisme pertahanan tubuh bergantung pada unggas atau ikan, sehingga dalam meng- faatkan untuk meningkatkan produktivitas
jumlah glukan yang dikonsumsi ternak. aplikasikannya perlu mengetahui fisiologi dan kesehatan ternak.
Oleh karena itu, responsnya pada ternak

DAFTAR PUSTAKA
Agarwal, N., D.N. Kamra, L.C. Chaudhary, A. oligospora. Dissertation, Lund University. Brooks, A.J. and R. Wall. 2002. Infection of
Sahoo, and Pathak. 2000. Selection of Swedia. (http/www.lub.lu.se/cgi-bin/show- Psoroptes mites the fungus Metarhizium
Saccharomyces cerevisiae strains for use as diss.pl?db= global & fname =sci -476 html.1- anisopliae. Exp. Appl. Acarol. 25: 869−880.
a microbial feed additive. (http://www. 3). [30 April 2006].
Blackwell.synergy. com/links/doi/ 10.1046/ Broome, J.R., P.P. Sikorowski, and B.R. Nore-
Alexopoulus. C.J., C.W. Mims, and M. Blackwell. mant. 1976. A mechanism of pathogenecity
J.1472-765X.2000.00826.X/Full/). [15 Oc-
1996. Introductory to Mycology. 4th ed. John of Beauveria bassiana on larva of the
tober 2003].
Wiley and Sons. Inc., Newyork-Chichester- imported fire and Solenopsis richteri. J.
Ahmad, R.Z. 1999. Pemakaian dua metode isolasi Brisbane-Toronto Singapore. p. 869. Vertebrata Pathol. 28: 87−91.
cendawan nematofagus dari tanah di daerah
Balai Penelitian Veteriner. 1992. Kudis. Infor- Budiantoro. 2004. Kerugian ekonomi akibat
Bogor. hlm. 1.027−1.029. Prosiding Seminar
masi Teknis Penyakit Hewan: 22−24. skabies dan kesulitan dalam pemberantasan-
Nasional Peternakan dan Veteriner, Jilid II.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Peter- Barnet, H.L. 1969. Illustrated Genera of Im- nya. hlm. 51−63. Prosiding Seminar Parasi-
nakan, Bogor. perfect Fungi. 2 nd Ed. Burgess Publishing tologi dan Toksikologi Veteriner, 20−21
Company, Mineapolis. April 2004. Pusat Penelitian dan Pengem-
Ahmad, R.Z. 2001. Isolasi dan Seleksi Cendawan bangan Peternakan, Bogor dan DFID-UK.
Nematofagus untuk Pengendalian Haemon- Barnet, J.A., R.W. Payne, and D. Yarrow. 2000.
chosis pada Domba. Tesis. Program Pasca- Yeasts. Characteristics and Identification. 3rd Campos, R.A., W. Arruda, J.T. Boldo, and Siva.
sarjana Institut Pertanian Bogor. Ed. Cambridge Univ Press. 2005. Boophilus microplus infection by
Beauveria amorpha and Beauveria
Ahmad, R.Z. 2003. Potensi Duddingtonia Barron. 2005. Beauveria bassiana. (http://www. bassiana: SEM analysis and regulation of
flagrans sebagai cendawan nematofagus. Uoguelph.ca/-g barron/Miscelineous) [20 subtilisin-like proteases and chitinases.
Jurnal Mikologi Kedokteran Indonesia 2003; April 2005]. Current Microbiol. 5: 257−261.
(4): 14−20, 2004; 5(1−2): 14−20.
Barson, G. 1977. Laboratory evaluation of Cloyd, R.A. 2003. The Entomophatogenic
Ahmad, R.Z. 2004. Cendawan Metarhizium Beauveria bassiana as pathogen of the Fungus Metarhizium anisopliae. University
anisopliae sebagai pengendali hayati ekto- larvae stage of the large elm beetle, Soco- of Illinois. (http://www. Entomology.Wisc.
parasit caplak dan tungau pada ternak. lytus. J. Vertebrata Pathol. 29(3): 361−366. Edu/mben/kyf607.html: 1−2). [10 December
Wartazoa 14(2): 73−78. 2003].
Beriajaya dan R.Z. Ahmad. 1999. Cendawan
Ahmad, R.Z. 2005a. Pemanfaatan cendawan Arthrobotrys oligospora untuk pengendalian Dube, H.C. 1996. An Introduction to Fungi. 2nd
Arthrobotrys oligospora dan Duddingtonia nematoda Haemonchus contortus pada Ed. Vikas House PVT, Delhi.
flagrans untuk pengendalian Haemonchosis domba. hlm. 980−985. Prosiding Seminar
pada ruminansia kecil di Indonesia. Jurnal Nasional Peternakan dan Veteriner Jilid II. Elliot, G.C. 1994. Reproduction in Fungi Genetical
Penelitian dan Pengembangan Pertanian Pusat Penelitian dan Pengembangan Pe- and Physiological Aspects. Botany Depar-
24(4): 143−148. ternakan, Bogor. tment Univ of Glasgow Chapman & Hall.
London.
Ahmad, R.Z. 2005b. Pemanfaatan khamir Beriajaya, R.Z. Ahmad, dan E. Kusumaningtyas.
Saccharomyces cerevisiae untuk ternak. 2001. Efikasi nematofagus pada ternak Faedo, M., E.H. Barnes, R.J. Dobson, and P.J.
Wartazoa 15(1): 49−55. domba dan kambing. hlm. 364−370. Prosi- Waller. 1998. The potential of nemato-
ding Hasil Penelitian bagian Proyek. Reka- phagous fungi to control the free-living
Ahmad, R.Z. 2008. Efektivitas cendawan stages of nematode parasites of sheep:
yasa Teknologi Peternakan. Pusat Penelitian
Duddingtonia flagrans dan Saccharomyces Pasture plot study with Duddingtonia
dan Pengembangan Peternakan, Bogor.
cerevisiae dalam pengendalian cacing flagrans. Vet. Parasitol. 76: 129−135.
Haemonchus contortus pada domba. Diser- Beta Glucan Research. 2004. Saccharomyces
tasi. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian cerevisiae. (http://www.betaglucan.org/). [20 Fernandez, S. 1994. Study of Conidia Production
Bogor. December 2004]. and Transmission of B. bassiana (balsamo)
Vuill, in Colorado Potato Bettle (Leptintarsa
Ahman, J. 2000. Extracellular serine proteases Brady, B.L.K. 1979. Pathogenic Fungi and decemlineata) PhD thesis, University of
as virulence factors in nematophagous fungi: Bacteria. Commonwealth Agricultural Maine.
Molecular characterization and functional Bureaux, England.
analysis of the PII protease in Arthrobotrys

90 Jurnal Litbang Pertanian, 27(3), 2008


Feron. 1981. Biological control of insect pest broiler yield. Zivocisma-yroba 39(6): 491− potential of Beauveria bassiana for the
by entomogenous fungi. Annu. Rev. Entomol.: 503. control the banana weevil cosmopolites
409−442. sordidus Geermarin Uganda. J. African Crop
Kumprechtova, D., P. Zobac, and I. Kumprecht.
Sci. (1): 300−302.
Fox, J.M. 2002. Immunology of fish and shrimp. 2000. The effect of Saccharomyces cerevi-
(http://www.Sci.tamucc.edu/pals/maric/index siae Sc 47 on chiken broiler performance an Nansen, P., M. Larsen, A. Roepstorff, J.
/webpage/dlec2.html). [15 October 2003]. nitrogen output. Czech. J. Anim. Sci. 45: 169− Gronvold, J. Wostrup, and S.A.A. Henriksen.
177. (http://www. Buypro-biotics.Com/index 1996. Control of Oesophagostomum
Frazzon, A.P.M., I.D.S. Vas Junior, A. Masuda,
3.cfm? Book chapter id= 33). [20 December dentatum and Hystongylus rubidus in
A. Scrank, and M.H. Vainstein. 2000. In vitro
2000]. outdoor-reard pigs by daily feeding with the
assessment of Metarhizium anisopliae
microfungus Duddingtonia flagrans.
isolates to control the cattle tick Boophilus Kusumamihardja, S. dan L. Zalizar. 1992. Pe-
Parasitol. Res. 82: 580−584.
microplus. Abstract. Vet. Parasitol. 94(1− ngaruh musim pada hipobiose Haemonchus
2): 117−125. contortus dan fluktuasi populasi nematoda Onofre, S.B., M.M. Cindia, M. Neiveia, and L.A.
saluran pencernaan domba di Indramayu, Joao. 2001. Pathogenicity of four strains
Fuller, R. 1992. Probiotics the Scientific Basis.
Jawa Barat. hlm. 171−192. Prosiding Seminar entomopathogenic fungi against the bovine
Chapman & Hall. The University Press
Nasional Hasil Penelitian Perguruan Tinggi. tick Boophilus microplus. Am. J. Vet. Res.
Cambridge.
62: 1.478−1.480.
Larsen, M., P. Nansen, J. Wolstrup, J. Gronvold,
Genther, F.J., S.F. Steven, and S.G. Patricia. 2004.
S.A. Henrikesn, and A. Zorn. 1995. Bio- Patra, A.K. 2007. Nutritional management in
Virulence of Metarhizium anisopliae to
logical control of trichostrongyles in calves organic livestock farming for improved
embryos of the grass shrimp Palaemo-
by fungus Duddingtonia flagrans fed to ruminant health and production, an overview.
netespugio. (http://www. Isb.vt.edu/brarg/
animals under natural grazing conditions. Livestock Res. Rural Dev. 19: 1−21.
brasym95/genthner95.htm:1−8) [15 March
Vet. Parasitol. 60: 321−330.
2004]. Rachmat, R., A. Rauf, dan M.Z. Kanro. 1998.
Larsen, M., P. Nansen, C. Grondhal, S.M. Kontribusi getah pepaya dalam pengendalian
Gronvold, J., J. Wolstrup, P. Nansen, S.A.
Thamsborg, J. Gronvold, J. Wolstrup, S.A. penyakit cacing pada kambing. hlm. 432−
Henriksen, M. Larsen, and J. Bresciani. 1993.
Henriksen, and J. Monrad. 1996. The 434. Prosiding Seminar Hortikultura. Kerja
Biological control of nematode parasites in
capacity of fungus Duddingtonia flagrans Sama Fakultas Pertanian dan Kehutanan
cattle with nematode-trapping fungi: a
to prevent strongyle infections in foals on Universitas Hasanudin dengan Instalasi Pe-
survey of Danish studies. Vet. Parasitol. 48:
pasture. Parasitology 113: 1−6. nelitian dan Pengkajian Pertanian Jeneponto.
311−325.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
Larsen. M., M. Faedo, P.J. Waller, and D.R.
Gronvold, J., P. Nansen, S.A. Henriksen, M. Kendari.
Hannessy. 1998. The potential of nemato-
Larsen, J. Wolstrup, J. Bresciani, H. Rawat,
phagous fungi to control the free-living Ratnaningsih, A. 2000. Pengaruh Pemberian
and L. Fribert. 1996. Induction of traps by
stages of nematodes parasites of sheep: Probiotik S. cerevisiae dan Bioplus pada
Ostertagia ostertagi larvae, chlamydospore
Studies with Duddingtonia flagrans. Vet. Ransum Ternak Domba terhadap Konsumsi
production and growth rate in the nematode-
Parasitol. 76: 121−128. Bahan Kering, Kecernaan dan Konversi
trapping fungus Duddingtonia flagrans. J.
Ransum (in vivo). Skripsi Fakultas Peternak-
Helminthol. 70: 291−297. Larsen, M. 2000. Prospects for controlling
an Universitas Padjajaran, Bandung.
animal parasitic nematodes by predacious
Holder, D.J. and N.O. Keyhani. 2005. Adhesion
microfungi. Parasitology 120: S121-S131. Ridwan, Y., S. Kusumamihardja, P. Dorny, and J.
of the Entomopathogenic fungus Beauveria
Vercruysse. 1996. The epidemiology of
(cordyceps) bassiana to substrata. Appl. Life Source Basics. 2002. WGP. Beta glucan.
gastro-intestinal nematodes of sheep in West
Environ. Microbiol. 71(9): 5.260−5.266. (http: www. Life Source basics. Com/
Java, Indonesia. Hemerazoa 78: 8−18.
beta_glucan.htm) [10 December 2002].
Istiana, E. Kusumaningtyas, D. Gholib, dan S.
Roberfoid, M.B. 2000. Prebiotics and probiotics:
Hastiono. 2002. Isolasi dan identifikasi Lodder, J. 1970. The Yeast, A taxonomic study.
are they functional foods 1−3 Am. J. Clinical
Saccharomyces cerevisiae beserta in vitro 2nd Ed. The Netherland, North Holland Co.
New. 71(Suppl): 16.828−16.878.
terhadap (Salmonella typhimurium). hlm. Amsterdam.
459−462. Prosiding Seminar Nasional Tek- Rosen, S. 1996. Fungal Lectins. Molecular
Maddox, J.V. 1982. Use of Insects Pathogens in
nologi Peternakan dan Veteriner, Ciawi Bogor, structure and function of a member of a
Pest Management. John Willey and Sons,
30 September−1 Oktober 2002. Pusat Pene- novel lectin family. PhD Dissertation Lund
New York, Chestes, Brisbane, Toronto,
litian dan Pengembangan Peternakan, Bogor. University. (http://www. Lub.lu.se/cgi-
Singapore.
bin.show-diss.pl?db= global& fname =sci-
Karpinska, E., B. Blaszcak, G. Kosowska, A.
Maranga, R.O., G.R. Kaaya, J.M. Mucke, and A. 467.html). [4 Juni 2006].
Degrski, M. Binek, and W.B. Borzemska.
Haimnall. 2005. Effects of combining the
2001. Growth of the intestinal anaerobes in Rukyani, A., E. Silvia, A. Sunarto, dan Taukhid.
fungi Beauveria bassiana and Metarhizium
the newly hatched chicks according to the 1987. Peningkatan respons kebal non-
anisopliae on the mortality of the tick
feeding and providing with normal gut flora. spesifik pada ikan lele dumbo (Clarias spp.)
Amblyomma variegatum (ixodidae) in
Bull. Vet. Pulawary. 45: 105−109. dengan pemberian imunostimulan (beta-
relation to seasonal changes. Mycopathologia
glucan). Jurnal Penelitian Perikanan Indone-
Kirkwood, A.C. 1986. History, biology and 154(4): 527−532.
sia III(1): (Abstrak).
control of sheep scab. Parasitol. Today 11:
Mendoza-De Gives, P., K.G. Davies, S.J. Clark,
302−307. Shins, T., S. Hyung, K. Kyun, and A. Choong.
and J.M. Behnke. 1999. Predatory beha-
1989. Effects of CYC on the performance
Kompiang, I.P. 2002. Pengaruh ragi Saccharo- viour of trapping fungi againts srf mutants
of dairy, beef cattle and swine. Seoul. Korea.
myces cerevisiae dan ragi laut sebagai pakan of Caenorhabditis elegans and different
imbuhan probiotik terhadap kinerja unggas. plant and animal parasite nematodes. Para- Sigit, H.S., S. Parosoedjono, dan M.S. Akib. 1983.
Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 7(1): 18− sitology 119: 95− 164. Inventarisasi dan pemetaan parasit Indonesia
21. tahap pertama. Ektoparasit. Laporan Pe-
Meyer, W.J. and M.G. Wiebe. 2003. Enzyme
nelitian Proyek Peningkatan dan Pengem-
Kumprecht, I., P. Zobac, Z. Gasnarek, and E. production by nematode-trapping fungus,
bangan Perguruan Tinggi Institut Pertanian
Robosova. 1994. The effect of continuous Duddingtonia flagrans. Abstract. J. Bio-
Bogor.
applications of probiotics preparations based technol. Letters 25: 791−795.
on S. cerevisiae var. elipsoideus and Strepto- Sitthipun, M., A.H. Kittikun, and K. Supa-
Nankingan, C.M., W.M. Ongenga-Latigo, G.B.
coccus faecium C-68 (SF-68) on chicken mattayta. 2000. Immunostimulant and
Allard, and J. Ogwang. 1994. Studies on the

Jurnal Litbang Pertanian, 27(3), 2008 91


vaccination in black tiger shrimp, Penaeus livestock production. Ann. Rev. Entomol. The Univ of Glasgow, Scotland, Longman
monodon Fabricius: Extraction of beta- 21: 55−178. Scientific & Technical. Churchill Livingstone
glucan from yeast and its application in black Inc, New York.
Tedesco, D., C. Castrovilli, G. Coni, D. Bartoli,
tiger shrimp (Penaeus monodon Fabricius).
V. Volltro, and F. Polidori. 1994. Use of Waller, P.J. 1997. Sustainable helminth control
(http://www.clib.psu.ac.th/acad_43/smol
probiotics in the feeding of neat rabbits: of ruminants in developing countries. Vet.
1.htm). [27 December 2000].
Effects on performance and intestinal Parasitol. 71: 195−207.
Smith, K.E., R. Wall, and N.P. French. 2000. microorganism. Rivista dj. Coniglicoltura
Wikardi, E.A. 2000. Cendawan patogen serangga
The control of sheep scabmite Psoroptes 31(10): 41−46.
sebagai bahan baku insektisida. Pemanfaatan
ovis with entomopathogenic fungi. Vet.
Tizard, I. 1987. Veterinary Immunology, an mikroba dan parasitoid dalam agroindustri
Parasitol. 92: 97−105.
Introduction. W.B. Saunders Company, tanaman rempah dan obat. Perkembangan
Soulsby, E.J.L. 1986. Helmiths, Protozoa and Philadelphia, USA. Teknologi Tanaman Rempah dan Obat (XII):
Arthropods of Domesticated Animal. 7th ed. 21−28.
Urqurhart, G.M., J. Armour, J.L. Duncan, A.M.
Bailliere Tindall, London.
Dunn, and F.W. Jennings. 1987. Veterinary Wina, E. 2000. Pemanfaatan ragi (yeast) sebagai
Steelman, C.P. 1976. Effects of external and Parasitology, Department of Veterinary pakan imbuhan untuk meningkatkan produk-
internal arthropod parasites on domestic Parasitology. Faculty of Veterinary Medicine, tivitas ternak ruminansia. Wartazoa 9(2):
50−56.

92 Jurnal Litbang Pertanian, 27(3), 2008