Anda di halaman 1dari 4

Memahami Ghazwul Fikri

Mereka menghendaki untuk memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, tetap
i Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir benci . (At-Ta
ubah: 32; ash-Shaf: 8)
Mereka tidk henti-hentinya memerangi kalian hingga kalian murtad dari agama kalia
n jika mereka mampu. (Al-Baqarah: 217)
Satu hal penting yang kurang mendapat perhatian secara proporsional dari kaum mu
slimin adalah adanya perang pemikiran atau ghazwul fikri. Bahkan tidak sedikit m
uballigh atau da i yang belum mengetahuinya. Kalaupun mengetahui, kurang menyadari
akan bahayanya bagi Islam dan umatnya. Mudah-mudahan uraian singkat ini, dapat
menjadi wasilah (sarana) untuk menambah wawasan dan menggugaj kesadaran kita, se
hingga dapat beramal dan berdakwah dengan bijak.
Secara sederhana, ghazwul fikri dapat diartikan sebagai perang pemikiran atau pe
rang intelektual. Namun karena luasnya pembahasan, maka ada pula yang mengartika
n (menerjemahkannya) sebagai invasi pemikiran, perang ideologi, perang budaya, p
erang urat syaraf, dan perang peradaban.
Dalam arti luas ghazwul fikri adalah cara atau bentuk penyerangan yang senjatany
a berupa pemikiran, tulisan, ide-ide, teori, argumentasi, propaganda,dialog dan
perdebatanyang menegangkan serta upaya lain pengganti pedang, bom dan persenjata
an lainnya. Ia merupakan perang non konvensional, baik cara, sarana, alat, tenta
ra, target maupun sasarannya.
Namun demikian ghazwul fikri tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian integral
(yang tak terpisahkan) dari metode perang (uslub qital) yang bertujuan untuk me
murtadkan kaum muslimin dari agamanya, atau jika tidak tercapai, setidaknya mend
angkalkan keagamaan seseorang atau masyarakat. Ia bukan merupakan tahapan pepera
ngan, akan tetapi sebagai pelengkap dan peyempurna, alternatif dan pelipatgandaa
n cara peperangan dan penyerbuan orang-orang kafir terhadap Islam dan umatnya.
Dalam sejarah kontemporer, penerapan ghazwul fikri dilakukan oleh orang-orang ka
fir (Yahudi, Nasrani, musyrikin, dll.). Cara tersebut dilakukan setelah mereka g
agal menaklukan dunia Islam melalui perang konvensional pada Perang Salib. Kekal
ahan telak yang mereka alami menimbulkan kesadaran barubagi mereka, bahwa menakl
ukan Islam diperlukan penyerbuan yang sifatnya non militer (non konvensional).
Orang pertama yang menyadari perlunya metode baru untuk menghancurkan atau menak
lukan dunia Islam adalah Louis XIV, raja Perancis yang tertawan di Al-Manshuriya
h pada Perang Salib VII. Ia menyerukan untuk melipatgandakan serbuan terhadap ka
um muslimin. Dalam memoarnya ia menulis,
Setelah melalui perjalanan panjang, segalanya telah menjadi jelas bagi kita. Keha
ncuran kaum muslimin dengan jalan konvensional adalah mustahil. Karena mereka me
miliki manhaj yang jelas dan, yang tegas diatas konsep jihad fii sabilillah. Den
gan manhaj ini, mereka tidak akan pernah mengalami kekalahan militer.
Karena itu, lanjutnya, Barat harus menempuh jalan lain (bukan militer). Yaitu jal
an ideologi dengan mencabut akar manhaj dan mengosongkannya dari kekuatan, kenek
atan dan keberanian. Caranya tidak lain adalah dengan menghancurkan konsep-konse
p dasar Islam dengan berbagai ta'wil dan tasykik.
Melihat kecilnya kemungkinan untuk dapat menghancurkan Islam, maka Samuel Martin
us Zwemer, seorang Yahudi yang telah masuk Kristen dan menjadi tokoh, menurunkan
targetnya. Ia mengatakan, Tujuan kita bukan mengkristenkan umat Islam, target ki
ta adalah menjauhkan kaum muslimin dari Islam. Ini yang harus kita capai walaupu
n mereka tidak bergabung dengan kita.
Strategi atau uslub ghazwul fikri seperti itu sebenarnya sudah dipraktekan oleh
orang-orang munafik dan orang-orang zindik pada awal Islam, yang kita kenal seba
gai gembong munafik dan pembuat fitnah besar pada masa Nabi SAW., salah satunya
Abdullah bin Ubay bin Salul. Menurut Anwar Al-Jundi, yang pertama melancarkan gh
azwul fikri setelah Abdullah bin Ubay bin Salul adalah Abdullah bin Saba dan Abdu
llah bin Muqoffa beserta kaum zindik.
Ghazwul Fikri sebagai sebuah strategi atau metode baru dalam menyerbu dunia Isla
m, baru dikenal kira-kira pada paro awal abad ini. Para aktivis gerakan Islam, b
aru menyadari adanya ghazwul fikri setelah banyak korban yang berjatuhan. Mereka
telah melakukan penyelidikan, antara lain adalah Dr. Abdussatar Fathullah Said,
Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, Dr. Anwar Jundi, Dr. Abdul Marzuq Shabur. Di Indone
sia, seseorang yang banyak mengkaji ghazwul fikri yaitu Ustadz Abu Ridho, Lc.
Target Ghazwul Fikri
Menurut Ali Abdul Halim Mahmud, ghazwul fikri merupakan suatu upaya untuk menjad
ikan:
1. Bangsa yang lemah atau sedang berkembang, tunduk kepada Negara penyerbu.
2. Semua Negara, Negara Islam khususnya, agar selalu menjadi pengekor setia n
egara-negara maju, sehingga terjadi ketergantungan di segala bidang.
3. Semua bangsa, bangsa Islam khususnya, mengadopsi ideology dan pemikiran ka
fir secara membabi buta dan serampangan, berpaling dari manhaj Islam, Alqur an dan
Sunnah.
4. Bangsa-bangsa mengambil system pendidikan dan pengajaran negara-negara pen
yerbu.
5. Umat Islam terputus hubungannya dengan sejarah masa lalu, sirah Nabinya da
n salafussaleh.
6. Bangsa-bangsa atau Negara-negara yang diserbu menggunakan bahasa penyerbu.
7. Ghazwul fikri sebagai upaya melembagakan moral, tradisi, dan adat-istiadat
bangsa penyerbu di negara yang diserbunya.
Tampaknya ghazwul fikri itu telah mempengaruhi jalan pikiran dan moralitas bangs
a yang diserbunya. Tidak sedikit kaum muslimin yang mengalami kekalahan mental.
Misalnya gejala islamophobi, rasa rendah diri, dan meragukan ajaran Islam dengan
berbagai dalih.
Apa yang dikatakan oleh Zwemer, sebagaimana dikemukakan diatas, betul-betul mere
ka wujudkan. Orang-orang kafir menyerang seluruh konsep Islam dan kehidupan kaum
muslimin (termasuk sejarahnya). Hampir seluruh ajaran Islam dan aplikasinya dij
adikan sasaran tembak ghazwul fikri.
Untuk mencapai target atau sasaran, sebagaimana digambarkan diatas, setidaknya a
da tujuh komponen yang mereka jadikan objek serangan untuk dirusak atau dihancur
kan, yaitu:
1. Alqur an dan Sunnah yang merupakan sumber atau dasar berfikir, bersikap dan
beramal umat Islam;
2. Bahasa Arab sebagai bahasa agama (Alqur an, diin) dan ilmu pengetahuan;
3. Sirah (sejarah) Rasulullah SAW sebagai suri tauladan utuh dan abadi bagi u
mat Islam;
4. Kebudayaan Islam sebagai produk pemikiran (ijtihad) para ulama dan mujtahi
d;
5. Sastra Arab;
6. Warisan (turats) Islam; dan
7. Sejarah Islam.
Cara dan Sarana
Ambisi besar orang-orang kafir (Yahudi, Nasrani, musyrik, dll.) yang didukung de
ngan semangatdendan membara untuk menaklukkan dunia Islam, mengantarkan mereka m
elakukan apa saja (menghalalkan segala cara). Diantaranya terlihat dengan sangat
jelas dalam Protokolat Zionis Internasional yang dihasilkan di Bazel, Swiss, 18
97.
Menurut para pakar yang mengkaji ghazwul fikri, ada beberapa cara atau taktik ya
ng sering dilakukan oleh para penyerbu (orang kafir), antara lain:
1. Tasykik, yaitu menimbulkan keragu-raguan dan penangkalan dalam jiwa kaum m
uslimin terhadap agamanya.
2. Tasywih, yaitu pengaburan. Caranya dengan penggambaran buruk tentang Islam
untuk menghilangkan kebanggaan kaum muslimin terhadap Islam.
3. Tadzwiib, yaitu pelarutan, pencampuradukan atau talbis antara pemikiran da
n budaya Islam dengan pemikiran dan budaya Jahiliyah (kufur).
4. Taghrib, atau pembaratan (westernisasi), yaitu mendorong kaum muslimin unt
uk menyenangi dan menerima pemikiran, kebudayaan, gaya hidup dan apa saja yang d
ating dari Barat.
Cara lain yang lebih praktis dalam melakukan ghazwul fikri adalah penyebaran sek
ularisme ( ilmaniyah), nasionalisme (wathoniyah), penyebaran pornografi, memperban
yak tempat-tempat maksiat dan hiburan, penyebaran miras dan narkoba, dan lain-la
in.
Adapun sarana (wasa il) yang digunakan untuk memadamkan cahaya (agama) Allah atau
merusak citra Islam maupun menaklukan dunia Islam melalui apa saja yang dapat me
reka pergunakan. Yang cukup menonjol antara lain:
* Penguasaan dan pemanfaatan lembaga atau instansi pemerintah;
* Pembuatan, penguasaan dan pemanfaatan media elektronika, fil, lagu, dll.);
* Pendidikan yang hampir semua perangkatnya berkenaan dengan pendidikan yang
mereka kuasai. Misalnya kurikulum, system manajemen dan kepemimpinan, lembaga p
endidikan, filsafat pendidikan, dll.;
* Organisasi social kemasyarakatan atau LSM dengan berbagai program dan kegi
atannya; dan
* Forum-forum, seperti seminar, diskusi, dialog antar iman, dan semacamnya.
Sekedar Contoh
Barat dengan berbagai lembaga dan wadah kegiatannya, banyak memberikan fasilitas
beasiswa studi gratis ke luar negeri. Pemuda dan pemudi yang cerdas darai neger
i muslim ditawari untuk kuliah di universitas-universitas mereka yang favorit di
luar negeri.
Di bidang ilmu-ilmu social, mereka dipilihkan ke program studi yang rentang terh
adap ghazwul fikri, misalnya filsafat, antropologi, sosiologi, dll. Mereka dikade
r untuk menjadi ahli dibidang tersebut, kemudian dipulangkan ke negeri masing-mas
ing. Harapannya, dapat menjadi pelaku utama dalam ghazwul fikri atau merusak Isl
am dari dalam (pada umumnya berkedok pembaharuan atau modernisasi).
Untuk pemuda-pemudi yang betul-betul brilian, diarahkan ke jurusan yang mereka b
utuhkan. Mereka dikader untuk dipekerjakan di negeri mereka sendiri. Artinya tidak
untuk dipulangkan ke negeri asalnya. Mereka inilah yang kemudian sering termasu
k dalam brain drain (pelarian intelektual).
Semua yang mereka kader akan dikondisikan sedemikian rupa dengan segala cara sehing
ga rusak dan luntur rasa keagamaan (Islam)nya, luntur akidah, akhlak dan rusak p
emikirannya. Mereka didekatkan dengan lawan jenisnya yang cantik atau tampan, di
ajaknya minum-minum, jalan-jalan, kumpul kebo, dll., diajak diskusi secara konti
nyu dengan tema-tema ynag dapat menggiring kepada pelecehan dan perendahan Islam
oleh orang-orang tertentu yang lihai, dan dipaksa membuat karya tulis dengan li
teratur yang telah ditentukan.
Akhirnya setelah studinya selesai dan pulang ke negerinya, si pelajar atau mahas
iswa tersebut menjadi orang yang telah tercerabut dari akar budaya dan keislaman
nya; menjadi orang yang semakin permisif terhadap batas-batas syar i. Bahkan yang
lebih mengerikan adalah keberanian mereka untuk merombak hukum-hukum Islam. Misa
lnya mengatakan tidak sreg dengan hokum waris 2:1, mengatakan bahwa tidak semua or
ang non-muslim itu kafir, mengatakan semua agama itu sama, dan lain-lain yang be
rtentangan dengan Alqur an dan Sunnah.
Bahaya Ghazwul Fikri
Korban ghazwul fikri memang tidak ada yang luka atau terbunuh (mati secara fisik
). Namun ghazwul fikri sesungguhnya jauh lebih berbahaya daripada perang konvens
ional. Dalam perang fisik, konsekuensi seseorang yang paling berat adalah akan m
ati, yang berarti kehilangan tokoh atau pasukan, kerusakan pada umumnya berupa k
erugian materi. Akan tetapi dalam ghazwul fikri yang terserang adalah jiwa, ment
alitas dan pemikirannya. Secara fisik, korban ghazwul fikri masih segar bugar.
Jika yang menjadi korban ghazwul fikri adalah seorang tokoh terkemuka dan berpen
garuh, maka racun ghazwul fikri itu segera menjalar secara cepat, karena tokoh t
ersebut akan diikuti dan ditiru oleh pengikut dan penggemarnya. Akhirnya, secara
tidak sadar masyarakat terjerumus kedalam jurang kehidupan yang semakin jauh da
ri nilai-nilai dan ajaran Islam. Mereka menjadi manusia yang sekuler, sinkretis,
materialis, pragmatis dan hedonis. Dengan kata lain mereka telah tercerabut jat
i dirinya dari akidah Islam, semangat keislaman, dan kemauan untuk memperjuangka
n Islam maupun umatnya. Na udzubillahi min dzalik.
Mengingat begitu besarnya bahaya dan akibat ghazwul fikri bagi kehidupan umat Is
lam, maka perlu bagi kaum muslimin, khususnya para da i, muballigh dan cendekiawan
muslim untuk memahami ghazwul fikri dan aplikasinya dalam realitas kehidupan se
hari-hari. Sebab tanpa mengerti hakikat dan keberadaannya, tidak akan dapat meng
hindari serangan ghazwul fikri, dan otomatis tidak bias melawannya. Mudah-mudaha
n dengan demikian itu, janji Allah untuk liyundzirahu aladdiini kullih atau izzul
Islam wal muslimin segera menjadi kenyataan.
Hasbunallahu wa ni mal wakiil.