Anda di halaman 1dari 22

Christina Dwi C

Christina Raida A.R


Clarissa Tiara B
Fransisca Monica A
Grace Nadia M
Halogen berasal dari bahasa Yunani yang berarti
pembentuk garam. Disebut demikian karena unsur-
unsur tersebut dapat bereaksi dengan logam
pembentuk garam.
Unsur halogen memiliki 7 elektron di kulit terluar
pada atomnya, dan menempati golongan VII A dalam
sistem periodik unsur. Golongan halogen meliputi
fluorin (F), klorin (Cl), bromin (Br), iodin (I), dan astatin
(At).
Sifat Fisis Halogen

Unsur-unsur halogen merupakan molekul


diatomik bersifat non-polar. Antar molekul
halogen terdapat gaya London.
Pada suhu kamar, florin berupa gas kuning
muda, klorin berupa gas hijau muda, iodin
berupa zat padat hitam yang mudah
menyublim, bromin berupa zat cair berwarna
merah tua, sedangkan uap iodin berwarna
ungu.
Sifat Fisis Halogen

unsur-unsur golongan halogen berbau


merangsang dan menusuk. Kelarutannya
dalam air berkurang dari florin ke iodin. Iodin
sukar larut dalam air, tetapi mudah larut
dalam larutan iodida (I- ) karena membentuk
poliiodida. (I3- ).
Sifat Kimia Halogen

Unsur-unsur halogen merupakan


oksidator kuat. Dengan bertambahnya jari-
jari atom kereaktifan dan afinitas elektron
berkurang. Halogen juga mudah bereaksi
dengan logam membentuk hodrogen halida.
Halogen mengalami reaksi substitusi dengan
hidrogen dan mengalami reaksi
disproporsionasi denga basa kuat tergantung
pada suhu.
Sifat Kimia Halogen

X2 + LOH  LK + LXO + H2O


X2 + LOH  LX + LXO 3 + H2O ( dalam
suhu 80 o )
Daya Oksidasi Halogen

Halogen adalah pengoksidasi kuat. Daya


pengoksidasi halogen terkuat dimiliki oleh
fluorin (F2) sedang terlemah adalah iodin (I2 ).
Daya oksidasi halogen meningkat dengan
berkurangnya nomor atom. Sebaliknya daya
reduksi ion halida (X- ) bertambah dengan
bertambahnya nomor atom. Reduktor
terkuat adalah I – sedangkan terlemah adalah
F- .
Struktur Halogen
Dalam bentuk unsure, halogen (X) terdapat sebagai
molekul diatomic (X2). Molekul X2 dapat mengalami
disosiasi menjadi atom-atomnya.
X2 (g)  2X (g)
Kestabilan molekul halogen (X2) berkurang dari Cl2 ke I2.
Hal itu sesuai dengan pertambahan jari-jari atomnya,
sehingga energy ikatan dari Cl-Cl ke I-I berkurang.
Energi ikatan F-F ternyata lebih kecil daripada ikatan
Cl-Cl. Hal itu terjadi karena kecilnya jari-jari atom
fluorin, sehingga tolak-menolak antar inti atom
maupun antar pasangan electron bebas molekul F 2­
menjadi cukup besar. Kecilnya energy ikatan F-F
tersebut merupakan salah satu factor yang
menyebabkan unsure fluorin sangat reaktif.
Wujud Halogen

Pada suhu kamar, fluorin dan klorin berupa


gas, bromine berupa zat cair yang mudah
menguap, sedangkan iodine berupa zat padat
yang mudah menyublim. Pemanasan iodine
padat pada tekanan atmosfir tidak membuat
unsure itu meleleh, tetapi langsung menguap
(menyublim). Sama hal nya dengan gas mulia,
gaya antar molekul dalam halogen adalah gaya-
gaya disperse. Hal tersebut menjelaskan
mengapa titik leleh dan titik didih gas mulia
meningkat dari fluorin ke iodine.
Warna dan aroma Halogen

Halogen mempunyai warna dan aroma


tertentu. Fluorin bewarna kuning muda, klorin
bewarna hijau muda (“kloros” berarti hijau),
bromine berwarna merah tua, iodine padat
berwarna hitam, sedangkan uap iodine berwarna
ungu. Semua halogen berbau rangsang serta
menusuk, serta bersifat racun. Kata klorin,
iodine, san bromine berasal dari bahasa Yunani
yang artinya berturut-turut adalah hijau, violet
(ungu), dan bau pesing (amis).
Kelarutan halogen

Kelarutan dalam air berkurang dari fluorin ke iodine.


Fluorin tidak sekedar larut dalam air, tetapi sekedar
bereaksi membentuk HF dan O2. Jadi dalam larutan
tidak terdapat lagi molekul F2 melainkan HF.
2F2 (g) + H2O  4HF + O2 (g)
Melarutnya klorin dan bromine juga diikuti sedikit
reaksi yang akan dibahas kemudian. Iodine praktis
tidak relative dengan air. Oleh karena molekulnya
bersifat nonpolar, iodine sukar larut dalam air.
Meskipun iodine sukar larut dalam air, ia mudah larut
dalam larutan yang mengandung ion (I-) karena
membentuk poliiodida (I3-).
Kelarutan Halogen

I2 (s) + I- (aq) <== I3- (aq)


Ion poliiodida (I3‑) mudah terurai kembali
membentuk I2 sehingga larutan itu bersifat sebagai
larutan I2 biasa.
Larutan halogen juga berwarna. Larutan klorin
berwarna hijau muda, larutan bromine berwarna
coklat merah, sedangkan larutan iodine berwarna
coklat.
Oleh karena bersifat non polar, halogen lebih
mudah larut dalam pelarut non polar seperti karbon
tetraklorida (CCl4) atau kloroform (CHCl3). Dalam
pelarut tak beroksigen, sperti karbon tetraklorida
atau kloroform, iodine berwarna ungu.
Reaksi Halogen

a. Reaksi halogen dengan unsur logam


Unsur halogen dengan unsur logam,
baik logam golongan A maupun golongan B,
dapat langsung membentuk garam.
Contoh :
Na (s) + ½Cl2 (g)  NaCl (s)
Fe (s) + Cl2  FeCl2(s)
Reaksi Halogen

b. Reaksi halogen dengan unsur golongan


IV A
Semua unsur golongan IVA, kecuali
karbon dapat bereaksi langsung dengan
halogen membentuk senyawa halida.
Contoh :
Si(s) + 2Cl2 (g)  SiCl4(s)
Reaksi Halogen

c. Reaksi halogen dengan unsur golongan VA


Semua unsur golongan VA, kecuali N2
dapat bereaksi langsung pada suhu kamar.
Contoh :
P4(s) + 6Cl2 (g)  4PCl3(g)
Reaksi Halogen
d. Reaksi antar halogen
Antarhalogen dapat bereaksi memebntuk senyawa
antarhalogen
X2 + nY2  2XY2
Reaksinya secara umum dapat dinyatakan sebagai
berikut :
 
Dengan Y adalah halogen yang lebih elektronegatif dan n
adalah bilangan ganjil. Senyawa antarhalogen paling
mudah terbentuk dengan fluorin.
Contoh :
I2(g) + 3F2 (g)  2IF3(g)
I2(g) + 5F2 (g)  2IF5(g)
Reaksi Halogen

e. Reaksi halogen dengan gas hidrogen


H2 + X2  2HX
Semua halogen bereaksi dengan hidrogen
membentuk hidrogen halida.  
 
X adalah halogen.
Fluorin dan klorin bereaksi dengan hebat disertai
ledakan, tetapi bromin dan iodin bereaksi
lambat.
Contoh :
H2(g) + F2 (g)  2HF (g)
Reaksi Halogen

f. Reaksi halogen dengan air


F2(g) + H2O (l)  2HF (aq) + ½O2 (g)
  Fluorin dapat mengoksidasi air dan menghasilkan
gas oksigen.
Cl2(g) + H2O  HCl (aq) + HClO (g)
  Bila gas klorin dialirkan ke dalam air, maka klorin
mengalami reaksi disproporsional.
Reaksi tersebut berada dalam kesetimbangan,
sehingga di dalam air masih tetap ada gas klorin
yang sebagai Cl2. Larutan ini disebut air klorin. Br2
dan I2 dalam air tidak bereaksi dan larutannya
disebut sebagai air bromin dan air iodin.
Reaksi halogen
g. Reaksi halogen dengan basa kuat
Semua halogen kecuali F2, di dalam basa kuat akan
mengalami reaksi disproporsional (ortoredoks), di mana reaksi
yang terjadi dipengaruhi suhu.
Pada suhu rendah : X2(g) + 2OH- (aq)  X- (aq) + XO- (aq) + H2O (l)
Pada suhu tinggi : 3X2(g) + 6OH- (aq)  5X- (aq) + XO3- (aq) + 3H2O (l)
Contoh :
Jika klorin dialirkan ke dalam larutan NaOH pada suhu kamar,
maka akan bereaksi membentuk NaCl dan NaClO.
Cl2(g) + 2NaOH (aq)  NaCl (aq) + NaClO (aq) + H2O (l)
Jika larutan NaOH itu dipanaskan, maka yang terbentuk adalah
NaCl dan NaClO3.
Cl2(g) + 6NaOH (aq)  5NaCl (aq) + NaClO3 (aq) + 3H2O (l)
Reaksi halogen
h.Reaksi halogen dengan halida
Dengan memperhatikan harga potensial elektrode dari masing-
masing halogen, maka halida akan dapat dioksidasi oleh halogen
yang mempunyai daya oksidasi lebih tinggi. Harga potensial
elektrode halogen sebagai berikut.
F2 (s) + 2e  2F-(aq) Eo = +2,87 V
Cl2 (s) + 2e  2Cl-(aq) Eo = +1,36 V
Br2 (l) + 2e  2Br-(aq) Eo = +1,06 V
I2 (s) + 2e  2I-(aq) Eo = +0,54 V
Perhatikan reaksi berikut.
2Cl-(g) + F2 (g)  2F-(aq) + Cl2 Eo = +1,51 V (reaksi spontan)
2Cl-(g) + Br2 (g)  Cl2(g) + 2Br-(aq) Eo = -0,03 V (reaksi spontan)
Reaksi halogen
Jadi, bila halida direaksikan dengan halogen yang terletak di
atasnya dalam sistem periodik unsur, maka halida tersebut
akan mengalami oksidasi menghasilkan halogen.
Sebaliknya, halogen akan mengalami reduksi menjadi
halida.
Akan tetapi hal yang sebaliknya tidak dapat terjadi, sebab
reaksi akan mempunyai potensial reaksi negatif.
Contoh :
Penerapan reaksi tersebut dalam reaksi molekuler, sebagai
berikut.
Klorin dapat mendesak bromin, tetapi sebaliknya bromin tidak
dapat mendesak klorin.
Reaksi Halogen

Cl2 (g) + 2NaBr(aq)  2NaCl(aq) + Br2 (l)


2NaCl (aq) + Br2 (l) (tidak ada reaksi)
Dengan demikian, dalam sistem periodik unsur,
halogen dapat mendesak halida di bawahnya
dari suatu senyawa.
F2 dapat mendesak Cl-, Br-, dan I- dari senyawanya.
Cl2 dapat mendesak Br- dan I- dari senyawanya,
tetapi tidak dapat mendesak F-.
Br2 dapat mendesak I- dari senyawanya, tetapi tidak
dapat mendesak F- dan Cl- dari senyawanya