Anda di halaman 1dari 34

5 Pasar Tenaga Kerja

KONSEP PENTING TENTANG KETENAGAKERJAAN

Beberapa Defenisi Penting tentang Ketenagakerjaan:

 Penduduk usia kerja adalah penduduk yang berpotensi untuk bekerja


(berumur 15 tahun-65 tahun)

 Angkatan kerja adalah penjumlahan dari penduduk usia kerja yang


bekerja dan sedang mencari pekerjaan

 Bukan angkatan kerja adalah penduduk usia kerja yang tidak bekerja dan
tidak sedang mencari pekerjaan

 Tingkat partisipasi angkatan kerja adalah rasio antara angkatan kerja


terhadap penduduk usia kerja

 Tingkat pengangguran merupakan rasio antara pengangguran terhadap


angkatan kerja
KONSEP PENTING TENTANG KETENAGAKERJAAN
Aliran Tenaga Kerja
Tingkat pengangguran sebenarnya dapat
menggambarkan dua realita yang sangat berbeda:
Pasar tenaga kerja yang aktif

tingginya tingkat separation (pekerja


yang berhenti bekerja) dan hire
(rekruitmen pekerja baru )

Sclerotic
ditunjukkan oleh sedikitnya pekerja yang
berhenti bekerja, sedikit pula rekruitmen
pekerja, dan stagnannya pengangguran.
Aliran Tenaga Kerja
Gambar 2
Aliran Bekerja, Menganggur, dan Bukan Angkatan
Kerja dalam Rata-Rata Bulanan di Amerika Serikat,
1994-1999

Tiga jenis aliran ketenagakerjaan


yang terjadi:
(1) Aliran individu masuk ke / keluar
dari status bekerja
(2) Aliran individu masuk ke / keluar
dari status pengangguran
(3) Aliran masuk ke/keluar dari
angkatan kerja
1. Aliran pekerja masuk dan keluar dari status bekerja

Aliran dari bekerja menjadi menganggur dapat berupa dua hal:

1. Quits  pekerja meninggalkan pekerjaannya karena


adanya pekerjaan yang lebih baik.
2. Layoff  pekerja yang meninggalkan pekerjaannya
karena adanya perubahan tingkat bekerja di perusahaan,
atau dengan kata lain, pekerja ini keluar dari kegiatan
bekerja karena dipecat.
2. Besarnya Aliran Masuk dan keluar dari status pengangguran
(relatif terhadap jumlah pengangguran)

Di Amerika Serikat, rata-rata durasi pengangguran adalah sekitar tiga bulan.


3. Aliran masuk dan keluar dari angkatan kerja

Aliran masuk dan keluar dari angkatan kerja juga besar, dan banyak dari
mereka secara lansung berasal dari dan menuju ke status bekerja.

◦ Discourage worker diklasifikasikan sebagai “bukan angkatan kerja”, tapi


pekerja ini mungkin akan bekerja jika mereka mendapatkan pekerjaan
◦ Nonemployment rate merupakan rasio antara jumlah total penduduk
dikurangi dengan penduduk yang bekerja, dibagi dengan total penduduk.
ALIRAN PENGANGGURAN
 Lebih tingginya pengangguran pada dasarnya
berhubungan dengan dua hal:

◦ Menurunnya kesempatan pekerja yang


menganggur untuk mendapatkan pekerjaan

◦ Besarnya resiko pekerja yang bekerja untuk


kehilangan pekerjaannya
Aliran Pengangguran
Gambar 3
Pergerakan Tingkat
Pengangguran AS,
Tahun 1948

Sejak tahun1948, rata-


rata tahunan tingkat
pengangguran
berfluktuasi antara 3%-
10%.
Aliran Pengangguran
Gambar 4
Tingkat Pengangguran
dan Proporsi
Pengangguran yang
mendapatkan pekerjaan,
1968-1999

Ketika pengangguran
tinggi, proporsi individu
yang menganggur yang
menemukan pekerjaan
akan rendah.

Ingat: Skala sumbu


vertikal di sisi kanan
diskala secara terbalik.
Aliran Pengangguran
Gambar 5
Tingkat Pengangguran
dan Tingkat Berhenti
Bekerja Bulanan, 1968-
1999

Ketika pengangguran
tinggi, makin tinggi
pula proporsi pekerja
yang kehilangan
pekerjaannya.
3. Penentuan Upah
 Collective Bargaining
 perundingan/tawar-menawar bersama antara perusahaan dan serikat
pekerja

 Kekuatan yang biasanya menjadi penentu


tingkat upah adalah:
◦ Kecendrungan upah untuk melebihi reservation
wage, yaitu tingkat upah yang membuat pekerja
merasa tidak ada bedanya antara bekerja dan
menganggur.
◦ Ketergantungan upah terhadap kondisi pasar
tenaga kerja
Tawar-Menawar
 Faktor yang mempengaruhi kekuatan
tawar-menawar pekerja:

◦ Seberapa besar biaya yang akan ditanggung


perusahaan untuk mengganti pekerja yang
dimiliki (sifat alami dari pekerjaan)

◦ Seberapa sulit bagi perusahaan untuk


menemukan pengganti pekerja yang dimiliki
(kondisi pasar tenaga kerja)
Efisiensi Upah
Teori efisiensi upah
merupakan teori yang menghubungkan antara produktivitas atau efisiensi
pekerja dengan upah yang mereka terima.

Teori ini mengungkapkan bahwa upah tergantung


pada sifat alami dari pekerjaan dan kondisi pasar
tenaga kerja:

1. Perusahaan yang memandang bahwa aspek moril dan komitmen merupakan


aspek penting dalam menentukan kualitas pekerjaan pekerja akan cendrung
untuk membayarkan upah yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan
yang bergerak di sektor dimana pekerjanya cendrung melakukan kegiatan
rutin.

2. Kondisi pasar tenaga kerja akan mempengaruhi upah


FOKUS: Hendry Ford dan Efisiensi
Upah
 Di tahun 1914, Hendry Ford memutuskan untuk membayarkan
upah sebesar $5 per hari untuk 8 jam kerja per hari untuk pekerja-
pekerjanya yang berkualitas.
 Efek dari kebijakan ini mendukung teori efisiensi upah.
 Ketika efek ini mendukung teori efisiensi upah, Ford sebenarnya
mungkin memiliki tujuan lain dalam meningkatkan upah pekerjanya.
Table 1 Annual Turnover and Layoff Rates (%) at
Ford, 1913-1915
1913 1914 1915

Turnover 370 54 16
Rate
Layoff 62 7 0.1
Rate
Upah, Harga, dan Pengangguran
Upah nominal aggregat (W) tergantung pada tiga
faktor:
W  P e F ( u, z )
(  , )

a. Tingkat ekspektasi harga (Pe)

b. Tingkat pengangguran (u)

c. Variabel Z, yaitu variabel yang menangkap variabel-variabel lain yang dapat


mempengaruhi output dari penetapan upah
a. Tingkat Ekspektasi Harga
 Baik pekerja maupun perusahaan sangat
memperhatikan tingkat upah riil (W/P), bukan
upah nominal (W):
◦ Pekerja tidak peduli pada seberapa banyak rupiah yang
mereka terima, tapi lebih peduli terhadap seberapa
banyak barang yang dapat mereka beli dari rupiah
yang mereka terima. Hal ini berarti bahwa mereka
sangat memperhatikan W/P
◦ Perusahaan tidak peduli terhadap upah nominal yang
mereka bayarkan, tapi lebih peduli pada upah nominal
yang dibayarkan secara relatif terhadap harga
barang/jasa yang mereka jual (P). Hal ini berarti
bahwa mereka sangat memperhatikan W/P
b. Tingkat Pengangguran
 Hal lain yang mempengaruhi upah aggregat adalah
tingkat pengangguran (u)
 Jika kita berfikir bahwa upah ditentukan oleh
tawar-menawar, maka semakin tinggi tingkat
pengangguran akan melemahkan kekuatan tawar-
menawar pekerja, sehingga menyebabkan pekerja
harus menerima tingkat upah yang lebih rendah.
 Semakin tingginya pengangguran akan
memungkinkan perusahaan untuk membayarkan
upah yang lebih rendah dan tetap menjaga
keinginan pekerja untuk bekerja
c. Faktor-Faktor Lain
 Variabel ketiga, Z, merupakan seluruh faktor yang
mempengaruhi tingkat upah pada tingkat ekspektasi
harga dan tingkat pengangguran tertentu

 Asuransi Pengangguran merupakan pembayaran


unemployment benefit yang diberikan kepada pekerja yang
kehilangan pekerjaannya
PENENTUAN HARGA
 Fungsi produksi menggambarkan hubungan antara input yang
digunakan dalam proses produksi dan kuantitas output yang dihasilkan.
 Dengan mengasumsikan bahwa barang yang dihasilkan perusahaan
hanya menggunakan input tenaga kerja, fungsi produksi dapat ditulis
sebagai:

Y  AN
Y = output
N = angkatan kerja yang bekerja
A = produktivitas tenaga kerja, atau output per pekerja

Lebih jauh lagi, dengan mengasumsikan bahwa satu pekerja menghasilkan


satu unit output—sehingga nilai A=1, maka fungsi produksi akan menjadi:

Y N
Penentuan Harga
 Perusahaan akan menetapkan harga
produknya dengan berdasarkan pada:
P  (1  )W

 merupakan mark up harga diatas biaya


produksi. Jika seluruh pasar merupakan
pasar persaingan sempurna, maka  = 0,
dan P = W.
TINGKAT PENGANGGURAN
ALAMI
 Pada bagian ini kita akan mengamati dampak upah dan
penetapan harga terhadap pengangguran

 Kita mengasumsikan bahwa Pe = P, dan upah nominal


lebih tergantung pada tingkat harga sebenarnya (P)
daripada tingkat harga ekspektasi (Pe).

 Penetapan upah (wage-setting) dan penetapan harga


(price-setting) akan menentukan tingkat pengangguran
pada saat keseimbangan
Persamaan Penetapan-Upah
 Sebelumnya, kita telah mengetahui bahwa tingkat upah nominal
ditentukan sebagai berikut:
W  P e F ( u, z )
(  , )
 Karena Pe = P, maka
W  PF (u, z)
 Dengan membagi kedua sisi dengan P, maka diperoleh

W The wage-setting
 F ( u, z )
P relation
(  , )
 Hubungan antara upah riil dan tingkat pengangguran ini disebut juga
sebagai persamaan penetapan upah (wage-setting relation).
Persamaan Penetapan Harga
 Harga ditentukan sebagai berikut:
P  (1  )W
 Jika kedua sisi persamaan dibagi dengan W, kita
akan memperoleh:
P
 (1  )
W
Untuk menyatakan persamaan ini dalam bentuk tingkat upah, kita
membalik kedua sisi persamaan menjadi:
W 1 Persamaan

P (1   ) Penetapan Harga
Price-Setting Relation
Gambar 6
Upah, Harga, dan Tingkat
Pengangguran Alamiah

Tingkat pengangguran
alamiah adalah tingkat
pengangguran yang terjadi
ketika tingkat upah riil yang
ditetapkan oleh wage-setting
sama dengan tingkat upah
riil yang ditetapkan oleh
price-setting.
Persamaan Penetapan Harga
 Persamaan penetapan harga digambarkan
sebagai garis horizontal PS pada gambar 6.
 Upah riil yang ditetapkan oleh price
setting merupakan 1/(1 = µ) ; tidak
tergantung pada tingkat pengangguran.
Keseimbangan Upah Riil dan
Pengangguran
 Dengan mengeliminasi W/P dari
persamaan penetapan upah dan
persamaan penetapan harga, kita akan
mendapatkan tingkat pengangguran
1
keseimbangan
F (un ,(u
z) n) sebagai:
1 

Tingkat pengangguran keseimbangan (un) disebut sebagai tingkat


pengangguran alami.
Keseimbangan Upah Riil dan
Pengangguran
 Posisi kurva penetapan harga dan penetapan upah
dan keseimbangan tingkat pengangguran,
tergantung pada z dan u.
◦ Pada tingkat pengangguran tertentu, lebih tingginya
unemployment benefit akan mendorong terciptanya
tingkat upah riil yang lebih tinggi. Tingkat
pengangguran yang lebih tinggi dibutuhkan untuk
mendorong upah riil kembali ke tingkat upah yang
ingin dibayarkan oleh perusahaan
◦ Dengan membiarkan perusahaan meningkatkan harga
pada tingkat upah tertentu, penegakan peraturan
perundang-undangan antitrust yang kurang keras akan
mendorong terjadinya penurunan upah riil
Keseimbangan Upah Riil dan
Pengangguran
Gambar 7
Unemployment Benefits
dan Tingkat Pengangguran
Alami

Peningkatan
unemployment benefits
akan mendorong
peningkatan tingkat
pengangguran alami
Keseimbangan Upah Riil dan
Pengangguran
Gambar 8
Markups dan Tingkat
Pengangguran Alami

Peningkatan markups
akan menurunkan upah
riil dan mendorong
peningkatan
pengangguran alamiah.
Keseimbangan Upah Riil dan
Pengangguran
 Karena keseimbangan tingkat
pengangguran dapat menggambarkan
struktur perekonomian, penamaan yang
lebih tepat bagi tingkat pengangguran
alami adalah tingkat pengangguran
struktural.
Dari Pengangguran menjadi Bekerja
 Yang dihubungkan dengan tingkat pengangguran
alami adalah tingkat bekerja alami:
U L N N
u   1
L L L
Tingkat bekerja, N, adalah:
N  L(1  u)

Sehingga tingkat bekerja alami, Nn, adalah:

N n  L(1  un )
Dari Bekerja menjadi Output
 Yang dihubungkan dengan tingkat bekerja alami
adalah tingkat output alami. Karena Y=N, maka
Yn  N n  L(1  un )
Tingkat output alami akan memenuhi persamaan berikut:

 Yn  1
F 1  , z 
 L  1 
Persamaan di atas berarti bahwa tingkat output alami akan berhubungan
Yn ,
dengan tingkat pengangguran, un  1 
L
upah riil pilihan dalam wage-setting sama dengan upah riil yang didapat dari
price-seeting.