Anda di halaman 1dari 27

TUGAS MAKALAH MATERNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN


KORIOKARSINOMA ( PENYAKIT TROFOBLAS
GESTASIONAL )

Disusun oleh :
Selia Arbiter A 010710200B
Andan Peristika 010710201B
Nourca Anggun 010710203B
Febiy Wulandari 010710205B
Innaka Selmy 010710206B
Anik Solikhah 010 710208B

Pembimbing :
Tiyas Kusumaningrum, S.kep.Ns

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA 2009
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Koriokarsinoma merupakan salah satu penyakit trofoblas gestasional ( PTG )
dimana sejumlah 15-28% wanita dengan molahidatidosa mengalami degenerasi
keganasan menjadi PTG.
Salah satu penyebab perdarahan saat kehamilan adalah mola hidatidosa. Mola
hidatidosa merupakan penyakit wanita pada masa reproduksi (usia 15-45 tahun)
dan pada multipara. Mola hidatidosa adalah bentuk jinak dari penyakit trofoblas
gestasional dan dapat mengalami transformasi menjadi bentuk ganasnya yaitu
koriokarsinoma. Koriokarsinoma tidak selalu berasal dari molahidatidosa namun
tidak jarang berasal dari kehamilan normal, prematur, abortus maupun kehamilan
ektopik yang jaringan trofoblasnya mengalami konversi menjadi tumor trofoblas
ganas.
Koriokarsinoma ini sering terjadi pada usia 14-49 tahun dengan rata-rata 31,2
tahun. Resiko terjadinya PTG yang non metastase 75% didahului oleh mola
hidatidosa dan sisanya oleh abortus, kehamilan ektopik atau kehamilan aterm.
Resiko terjadinya PTG yang metastase 50% didahului oleh mola hidatidosa, 25%
oleh abortus, 22% oleh kehamilan aterm dan 3% oleh kehamilan ektopik.
Angka kejadian tertinggi koriokarsinoma di dunia ditemukan terbanyak pada
daerah Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Juga disebutkan bahwa angka kejadian
rata-rata terendah secara signifikan terlihat di daerah Amerika Utara, Eropa dan
Australia.
Di Amerika angka kejadian koriokarsinoma berkisar 1 dari 20-40 ribu
kehamilan, dimana diperkirakan angka kejadiannya 1 dari 40 kehamilan mola
hidatidosa, 1 dari 5.000 kehamilan ektopik, 1 dari 15.000 kasus abortus, dan 1 dari
150.000 kehamilan normal. Sedangkan di Indonesia sendiri disebutkan bahwa
angka kejadian penyakit trofoblas secara umum bervariasi, di antara 1/120 hingga
1/200 kehamilan.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimanakah asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien dengan
korikarsinoma?

1.3 Tujuan
Tujuan Umum
Untuk mengetahui asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien dengan
koriokarsinoma.
Tujuan Khusus
1. Mengetahui definisi dari koriokarsinoma
2. Mengetahui etiologi koriokarsinoma
3. Mengetahui manifestasi klinis koriokarsinoma
4. Mengetahui WOC koriokarsinoma
5. Mengetahui asuhan keperawatan pada koriokarsinoma

1.4 Manfaat
1. Mahasiswa mengetahui konsep dan teori dari korikarsinoma.
2. Mahasiswa mengetahui dan mempraktekkan asuhan keperawatan
untuk korikarsinoma.
BAB II
TINJAUAN TEORI KORIOKARSINOMA

2.1 Definisi Koriokarsinoma


Koriokarsinoma adalah salah satu jenis dari Penyakit Trofoblastik Gestasional
(PTG) dimana merupakan suatu tumor ganas yang berasal dari sel-sel sito-
trofoblas serta sinsitiotrofloblas ( pembentuk plasenta ) yang menginvasi
miometrium, merusak jaringan di sekitarnya termasuk pembuluh darah sehingga
menyebabkan perdarahan ( Berek, 1996 ).
Koriokarsinoma ialah suatu keganasan, berasal dari jaringan trofoblas dan
kanker yang bersifat agresif, biasanya dari plasenta. Hal ini ditandai dengan
metastase perdarahan yang cepat ke paru-paru (Wikipedia, 2009).

Gambar 2. Letak koriokarsinoma dalam uterus.


Korio karsinoma adalah tumor ganas yang berasal dari jaringan yang
mengandung trofoblas, seperti: lapisan trofoblas ovum yang sedang tumbuh, vili
dari plasenta, gelembung mola, dan emboli sel-sel trofoblas dimanapun di dalam
tubuh (Dito,2008).
“Korio” adalah istilah yang diambil dari vili korionik yaitu salah satu jenis
selaput pada rahim manusia. Istilah “Karsinoma” merupakan kanker yang berasal
dari sel-sel epithelial. Karena kanker ini merupakan kanker yang berasal dari salah
satu plasenta yaitu korion maka salah satu ciri khusus dari kanker ini adalah
menghasilkan hormon hCG (Human Chorionic Gonadothropin) yang sangat tinggi
bahkan melebihi kadar hCG pada wanita hamil. Koriokarsinoma bisa menyerang
semua wanita yang pernah hamil termasuk wanita yang pernah mengalami mola
hidatidosa. Tidak seperti mola hidatidosa, korikarsinoma bisa menyerang banyak
organ dalam tubuh, seperti hati, limpa, paru-paru, tulang belakang, otak juga
dinding rahim.

2.2 Etiologi Koriokarsinoma


Etiologi terjadinya koriokarsinoma belum jelas diketahui. Trofoblas normal
cenderung menjadi invasive dan erosi pembuluh darah berlebih-lebihan.
Metastase sering terjadi lebih dini dan biasanya sering melalui pembuluh darah
jarang melalui getah bening. Tempat metastase yang paling sering adalah paru-
paru ﴾75%﴿ dan kemudian vagina ﴾50%﴿. Pada beberapa kasus metastase dapat
terjadi pada vulva, ovarium, hepar, ginjal, dan otak ﴾Cunningham, 1990﴿.
Wikipedia, 2009 menyebutkan bahwa koriokarsinoma selama kehamilan bisa
didahului oleh:
• Mola hidatidosa ( 50% kasus )
• Aborsi spontan ( 20% kasus )
• Kehamilan ektopik ( 2% kasus )
• Kehamilan normal ( 20-30% kasus )

Faktor-faktor yang menyebabkan antara lain:


1. Faktor ovum

Ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi terlambat dikeluarkan.

2. Immunoselektif dari trofoblast

Yaitu dengan kematian fetus, pembuluh darah pada stroma villi menjadi
jarang dan stroma villi menjadi sembab dan akhirnya terjadi hyperplasia sel-
sel trofoblast.

3. Keadaan sosial ekonomi yang rendah

Keadaan sosial ekonomi akan berpengaruh terhadap pemenuhan gizi ibu yang
pada akhirnya akan mempengaruhi pembentukan ovum abnormal yang
mengarah pada terbentuknya mola hidatidosa.

4. Paritas tinggi

Ibu dengan paritas tinggi, memiliki kemungkinan terjadinya abnormalitas pada


kehamilan berikutnya, sehingga ada kemungkinan kehamilan berkembang
menjadi mola hidatidosa dan berikutnya menjadi koriokarsinoma.

5. Kekurangan protein
Sesuai dengan fungsi protein untuk pembentukan jaringan atau fetus sehingga
apabila terjadi kekurangan protein saat hamil menyebabkan gangguan
pembentukan fetus secara sempurna yang menimbulkan jonjot-jonjot korion

6. Infeksi virus dan faktor kromosom

2.3 Klasifikasi Koriokarsinoma

Klasifikasi klinik penyakit trofoblas ganas ( PTG )

1. PTG non metastasis

2. PTG bermetastasis

a. Prognosis baik

• hCG < 100.000 IU/urin 24 jam atau < 40.000 IU/ml


serum

• Siptom <4 bulan

• Tidak ada metastasis di otak, liver

• Belum pernah dapat kemoterapi

• Bukan berasal dari kehamilna aterm

b. Prognosis buruk

• hCG > 100.000 IU/ urin 24 jam atau > 40.000

• simptom > 4 bulan

• metastasis di otak, liver

• gagal dengan khemoterapi sebelumnya

• didahului kehamilan aterm


Koriokarsinoma dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam bentuk, yaitu:

a. Koriokarsinoma Villosum

Penyakit ini termasuk ganas tetapi derajat keganasannya lebih rendah.


Sifatnya seperti mola, tetapi dengan daya penetrasi yang lebih besar. Sel-
sel trofoblas dengan villi korialis akan menyusup ke dalam miometrium
kemudian tidak jarang mengadakan perforasi pada dinding uterus dan
menyebabkan perdarahan intra abdominal. Walaupun secara lokal
mempunyai daya invasi yang berlebihan, tetapi penyakit ini jarang disertai
metastasis. Invasive mola berasal dari mola hidatidosa.

b. Koriokarsinoma Non Villosum

Penyakit ini merupakan yang terganas dari penyakit trofoblas. Sebagian


besar didahului oleh mola hidatidosa (83,3%) tetapi dapat pula didahului
abortus atau persalinan biasa masing-masing 7,6%. Tumbuhnya sangat
cepat dan sering menyebabkan metastasis ke organ-organ lain, seperti
paru-paru, vulva, vagina, hepar dan otak. Apabila tidak diobati biasanya
pasien meninggal dalam 1 tahun.

Apabila dibandingkan dengan jenis kanker ginekologik lainnya,


koriokarsinoma mempunyai sifat yang berbeda, misalnya:

• Koriokarsinoma mempunyai periode laten yang dapat diukur, yaitu


jarak waktu antara akhir kehamilan dan terjadinya keganasan.

• Sering menyerang wanita muda

• Dapat sembuh secara tuntas tanpa kehilangan fungsi reproduksi,


dengan pengobatan sitostatika

• Dapat sembuh tanpa pengobatan melalui proses regresi spontan.

c. Koriokarsinoma Klinis

Apabila setelah pengeluaran jaringan mola hidatidosa kadar hCG turun


lambat apalagi menetap atau meningkat, maka kasus ini dianggap sebagai
penyakit trofoblas ganas. Artinya ada sel-sel trofoblas yang aktif tumbuh
lagi di uterus atau di tempat lain (metastasis) dan mengahasilkan hCG.
Diagnosis keganasan tidak ditentukan oleh pemeriksaan histopatologik
tetapi oleh tingginya kadar hCG dan adanya metastasis.

2.3.1 Stadium Koriokarsinoma

Berdasarkan jauhnya penyebaran koriokarsinoma dibagi menjadi 4, yaitu:

• Stadium I yang terbatas pada uterus

• Stadium II, sudah mengalami metastasis ke parametrium, serviks dan


vagina

• Satadium III, mengalami metastasis ke paru-paru

• Stadium IV, metastasis ke oragan lain, seperti usus, hepar atau otak.

Ada beberapa sistem yang digunakan untuk mengkategorikan penyakit


trofoblas ganas. Semua sistem mengkorelasikan antar gejala klinik pasien
dan risiko kegagalan pada kemoterapi. Sistem Skoring FIGO tahun 2000
merupakan modifikasi sistem skoring WHO. Tabel II : Skoring faktor
risiko menurut FIGO (WHO) dengan staging FIGO

Skor faktor risiko 0 1 2 4


menurut FIGO (WHO)
dengan staging FIGO

Usia < 40 ≥ 40 - -

Kehamilan sebelumnya mola Abortus aterm -

Interval dengan <4 4-6 7-12 >12


kehamilan tersebut
(bulan)

Kadar hCG sebelum < 10³ 1000-10000 > 10000 – >


terapi (mIU/mL) 100000 10000
0

Ukuran tumor terbesar, - 3-4 ≥ 5 cm -


termasuk uterus

Lokasi metastasis, Paru-paru Limpa, Traktus Otak,


termasuk uterus ginjal gastrointesti hepar
nal

Jumlah metastasis yang - 1-4 5-8 >8


diidentifikasi

Kegagalan kemoterapi - - Agen Agen


sebelumnya tunggal multip
el

2.5 Tanda dan Gejala Koriokarsinoma


Karena koriokarsinoma merupakan penyakit yang bisa menyerang banyak bagian
tubuh manusia, maka klienpun akan merasakan banyak tanda dan gejala, antara
lain:
a. Peningkatan jumlah kadar ß-hCG
• Kadar ß-hCG normal pada tiap umur kehamilan berbeda, dari 5-25
IU/ml.
• Kadar ß-hCG yang dianggap mola < 100.000 IU/urine 24jam
• Kadar ß-hCG yang dianggap kanker adalah > 100.000 IU/urine
24jam >40.000 u/ml dalam interval lebih dari 4 bulan.
b. Perdarahan per vaginam
c. Batuk berdarah dan sesak nafas
d. X-ray dada menunjukkan adanya perembesan cairan di ujung kedua paru-
paru
e. Sakit kepala dan hemiplegi
f. Sakit tulang belakang
g. Perut bengkak dan sklera menjadi kuning
h. Hilang selera makan dan berat badan turun
gambar 3. X-ray dada menunjukkan adanya perembesan
cairan di ujung kedua paru-paru.
2.6 Manifestasi klinis
• Gejala Klinis :
1. Rahim membesar

2. Perdarahan dan syok

3. Ekspulsi gelembung mola

4. Anemis dan gejala sekunder.

• Anamnesa/ keluhan
1. Terdapat gejala-gejala hamil muda yang kadang-kadang lebih parah dari
kehamilan biasa, seperti:

2. Kadang ada tanda toksemia gravidarum

3. Terdapat perdarahan yang sedikit atau banyak, tidak teratur, bewarna


tengguli tua atau kecoklatan

4. Pembesaran uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan seharusnya


(lebih besar)

5. Keluarnya jaringan mola seperti buah anggur atau mata ikan (tidak selalu
ada) yang merupakan diagnosa pasti

• Pemeriksaan dalam
Terdapat pembesaran rahim, rahim terasa lembek, tidak ada bagian-bagian
janin, terdapat perdarahan dan jaringan dalam kanalis servikalis dan cavum
vagina, serta evaluasi keadaan serviks

a. Inspeksi
1. Muka dan kadang-kadang badan terlihat pucat kekuning-
kuningan yang disebut muka mola (mola face)
2. Kalau gelembung mola keluar dapat dilihat dengan jelas

b. Palpasi

1. Uterus lebih besar/membesar tidak sesuai dengan tuanya


kehamilan, teraba lembek

2. Tidak teraba bagian-bagian janin dan ballottement juga gerakan


janin.

3. Adanya fenomena harmonica: darah dan gelembung mola


keluar dan fundus uteri turun, lalu naik lagi karena terkumpulnya darah
baru

c. Auskultasi
1. Tidak terdengar bunyi DJJ

2. Terdengan bising dan bunyi khas

• Reaksi kehamilan
Karena kadar HCG yang tinggi maka uji biologic dan uji imunologik ( galli
mainini dan planotest) akan positif setelah pengenceran (titrasi)
a. galli mainini 1/3000 (+) maka suspect mola hidatidosa atau koriokarsinoma
b. galli mainini 1/2000 (+) maka kemungkinan mola atau hamil kembar

2.7 Patofisiologis
Bentuk tumor trofoblas yang sangat ganas ini dapat dianggap sebagai suatu
karsinoma dari epitel korion, walaupun perilaku pertumbuhan dan metastasisnya
mirip dengan sarkoma. Faktor-faktor yang berperan dalam transformasi keganasan
korion tidak diketahui. Pada koriokarsinoma, kecenderungan trofoblas normal
untuk tumbuh secara invasif dan menyebabkan erosi pembuluh darah sangatlah
besar. Apabila mengenai endometrium, akan terjadi perdarahan, kerontokan dan
infeksi permukaan. Masa jaringan yang terbenam di miometrium dapat meluas
keluar , muncul di uterus sebagai nodul-nodul gelap irreguler yang akhirnya
menembus peritoneum.
Gambaran diagnostik yang penting pada koriokarsinoma, berbeda dengan
mola hidatidosa atau mola invasif adalah tidak adanya pola vilus. Baik unsur
sitotrofoblas maupun sinsitium terlibat, walaupun salah satunya mungkin
predominan. Dijumpai anplasia sel, sering mencolok, tetapi kurang bermanfaat
sebagai kriteria diagnostik pada keganasan trofoblas dibandingkan dengan pada
tumor lain. Pada pemeriksaan hasil kuretase uterus, kesulitan evaluasi sitologis
adalah salah satu faktor penyebab kesalahan diagnosis koriokarsinoma. Sel-sel
trofoblas normal di tempat plasenta secara salah di diagnosis sebagai
koriokarsinoma. Metastasis sering berlangsung dini dan umumnya hematogen
karena afinitas trofoblas terhadap pembuluh darah.
Koriokarsinoma dapat terjadi setelah mola hidatidosa, abortus, kehamilan
ektopik atau kehamilan normal . tanda tersering, walaupun tidak selalu ada, adalah
perdarahan irreguler setelah masa nifas dini disertai subinvolusi uterus.
Perdarahan dapat kontinyu atau intermitten, dengan perdarahan mendadak dan
kadang-kadang masif. Perforasi uterus akibat pertumbuhan tumor dapat
menyebabkan perdarahan intraperitonium.
Pada banyak kasus, tanda pertama mungkin adalah lesi metatatik. Mungkin
ditemukan tumor vagina atau vulva. Wanita yang bersangkutan mungkin
mengeluh batuk dan sputum berdarah akibat metastasis di paru. Pada beberapa
kasus, di uterus atau pelvis tidak mungkin dijumpai koriokarsinoma karena lesi
aslinya telah lenyap, dan yang tersisa hanya metastasis jauh yang tumbuh aktif.
Apabila tidak di terapi, koriokarsinoma akan berkembang cepat dan pada
mayoritas kasus pasien biasanya akan meninggal dalam beberapa bulan. Kausa
kematian tersering adalah perdarahan di berbagai lokasi.
Pasien di golongkan beresiko tinggi jiika penyakit lebih dari 4 bulan, kadar
gonadotropin serum lebih dari 40.000 mIU/ml, metastasis ke otak atau hati, tumor
timbul setelah kehamilan aterm, atau riwayat kegagalan kemoterapi, namun
menghasilkan anagka kesembuhan tertinggi dengan kemoterapi kombinasi yanitu
menggunakan etoposid, metotreksat, aktinomisin, siklofosfamid, dan vinkristin
(Schorage et al, 2000).

2.9 Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang


a. Pemeriksaan Laboratorium
Menurut The International Federation of Gynecology and Oncology (FIGO)
menetapkan beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk mendiagnosis PTG
termasuk koriokarsinoma adalah:
1. Menetapnya kadar ß hCG pada empat kali penilaian dalam 3 minggu atau
lebih (misalnya hari 1,7, 14 dan 21)
2. Kadar ß hGC meningkat pada selama tiga minggu berturut-turut atau lebih
(misalnya hari 1,7 dan 14)
3. Tetap terdeteksinya ß hCG sampai 6 bulan pasca evakuasi mola.
4. Gambaran patologi anatomi adalah koriokarsinoma

b. Pemeriksaan Penunjang
1. Uji Sonde

Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam


kanalis servikalis dan kavum uteri. Bila tidak ada tahanan sonde diputar
setelah ditarik sedikit, bila tetap tidak ada tahanan, kemungkinan mola atau
koriokarsinoma.
2. Foto rontgen abdomen

Tidak terlihat tulang-tulang janin (pada kehamilan 3-4 bulan)


3. Ultrasonografi

Khusus pada mola akan kelihatan bayangan badai salju dan tidak terlihat
janin (merupakan diagnosa pasti), waspadai juga koriokarsinoma.

• Data Klinik Pemeriksaan Diagnostik


1. Perdarahan dalam separo pertama kehamilan

2. Nyeri perut bagian bawah

3. Toksemia sebelum 24 minggu kehamilan

4. Hiperemesis gravidarum

5. Rahim terlalu besar untuk tanggalnya

6. Tanda tonus jantung janin dan bagian janin


7. Keluarnya vesikel - ultrasonografi

8. Foto rontgen

(Hacker/Moore, essensial obstetric dan ginekologi, 2001: 683)


WOC

Faktor ovum Sosial ekonomi Defisiensi protein


patologik rendah
Infeksi virus dan
Imunoselektif Paritas tinggi faktor kromosom
dari trofoblas

Kelainan Villus

Stroma villus
Edematus Villus membesar
tanpa janin

Proliferasi jaringan
trofoblas tak menentu

Pengeluaran Produksi Uterus Perdarahan MK: ketidakefektifan pola


gelembung hCG>normal membesar per vaginam seksualitas
mola hidatidosa
Pendesakan ke
MK: nyeri akut
Trofoblas berproliferasi organ-organ
tanpa stroma pencernaan

KORIOKARSINOMA hCG>40.000mIU/ Pengosongan


ml Gerak peristaltik lambung

usus
Volume lambung
berkurang
lambung

MK: Ansietas
Mual Regurgitasi
berlebihan

Tx: Kemoterapi Mual,


Hysterektomi kombinasi muntah MK:
Kelemahan

MK: gangguan
konsep diri MK:
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
Penatalaksanaan
Untuk penatalaksanaan terapi korikarsinoma bisa dilakukan dengan:
a. Kemoterapi
Koriokarsinoma merupakan tumor yang sensitif terhadap obat-obatan
kemoterapi, dari hasil survey menunjukkan bahwa dengan kemoterapi
pasien dengan koriokarsinoma mengalami kesembuhan 90-95%.
• Terapi dengan agen single methotrexate or actinomycin D
Terapi ini digunakan untuk koriokarsinoma yang belum bermetastase
meluas ke seluruh tubuh atau dengan skala ringan.
• Terapi kombinasi EMACO (etoposide, methotrexate, actinomycin D,
cyclosphosphamide and oncovin)
Terapi komplek ini digunakan untuk koriokarsinoma dengan skala
sedang atau berat.
b. Hysterektomi
Biasa dilakukan pada wanita dengan usia ≥ 40 tahun atau pada wanita
yang memang menginginkan untuk dilakukan hysterektomi.
Hysterektomi juga disarankan pada infeksi berat dan perdarahan yang
tidak terkendali.
BAB III
PEMBAHASAN

KASUS
Ny.K seorang ibu rumah tangga berusia 36 tahun mempunyai 3 orang anak yang
termuda berusia 2 bulan. Dalam 4 bulan terakhir klien merasa mual-mual berlebihan,
hilang selera makan, sedikit nyeri di daerah perianal dan sering terjadi perdarahan
berlebihan di vagina. Klien tampak pucat, setelah dilakukan pemeriksaan uterus
mengalami pembesaran, lembek, dan terdapat massa sebesar 5 cm di dinding posterior
dari vagina dekat pintu keluar. Klien pernah terdiagnosa mola hidatidosa pada tahun
pertama setelah kelahiran anak kedua.hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan
ada peningkatan kadar ß-hCG dalam darah. Setelah dilakukan 4 kali pemeriksaan
dalam 3 minggu kadar ß-hCG menunjukkan angka > 100.000 IU/urin dalam 24jam.
Dokter mendiagnosa Ny.K menderita koriokarsinoma. Sekarang merupakan hari ke 8
pasien dirawat dan telah mengalami 2 kali kemoterapi.

3.1 Asuhan Keperawatan


I. Pengkajian
1. Identitas
Nama : Ny K
Umur : 36 tahun
Alamat : Surabaya
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
2. Keadaan Umum : Lemah
3. Keluhan Utama : Pasien mengalami perdarahan berlebihan di vagina
dan sering mual berlebihan.
4. Riwayat penyakit sekarang :
Dalam 4 bulan terakhir klien merasa mual-mual berlebihan, hilang selera
makan dan sering terjadi perdarahn berlebihan di vagina.
5. Riwayat obstetri dan menstruasi:
Selama 4 bulan terakhir mengalami menorraghi dan perdarahan yang
berlebihan pada vagina.
6. Riwayat Penyakit Dulu:
Klien pernah mengalami mola hidatidosa pada tahun pertama setelah
kelahiran anak kedua.
7. Riwayat Alergi :
Klien menyatakan tidak mempunyai alergi.
8. Riwayat Penyakit Keluarga:
Tidak ada keluarga yang pernah sakit seperti ini.
9. Keadaan Umum :
TD : 100/70 mmHg N : 105x/menit RR : 20x/menit T : 36,5 º C

B1 ( Breathing )
Sesak : tidak ada Batuk : tidak ada
Suara nafas : vesikuler Suara nafas tambahan : tidak ada
Retraksi dada : tidak ada Klien bernafas spontan
MK : tidak terdapat masalah keperawatan

B2 ( Blood )
S1,S2 : tunggal Nyeri dada : tidak ada
Gallop : tidak ada Mumur : tidak ada Suara jantung : normal
CRT : < 3 detik
MK : tidak terdapat masalah keperawatan

B3 ( Brain )
GCS : Eye : 4, Verbal : 5, Motorik : 6
Reflek Patologis : tidak ada
Mual : + Pupil : Isokor
MK : tidak terdapat masalah keperawatan

B4 ( Blader )
BAK : normal, tidak terdapt oliguri, poliguria
Warna Urine : Kuning Jernih Bau : khas
MK : tidak terdapat masalah keperawtan

B5 ( Bowel )
Frekuensi Makan : 2x/hari porsi 1/2 piring
Minum : air putih Intake Cairan : 1 liter/hari
Lain-lain : Pasien mengaku nyeri di daerah perianal
MK : - Nyeri akut
- Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

B6 ( Bone )
Tidak terdapat patah tulang
MK : tidak terdapat masalah keperawatan

Psikososial : Pasien mengaku takut dengan apa yang dialami sekarang


membahayakan jiwanya dan malu apabila bertemu dengan orang lain karena
dianggap penyakit yang aneh.

Psikoseksual : pasien mengalami ketakutan apabila dia tidak bisa lagi melayani
suaminya dengan semaksimal mungkin karena takut terjadi hal-hal yang lebih
parah, misalnya perdarahan per vaginam yang meningkat apabila melakukan
hubungan suami istri.

Analisis Data
No. Data Etiologi Masalah
1. DS: Defisiensi protein Nyeri akut
- Merasakan nyeri
daerah perianal Stroma villus dan edematus
- Sering terjadi
perdarahan di vagina Villus membesar dengan isi
DO: air bukan janin
- terdapat massa di
dinding vagina Sel-sel trofoblas berprolifersi
- terdapat pembesaran tidak tentu
uterus
- terdapat perdarahan Kadar hCG > normal
berlebihan pada
vagina Pembesaran uterus dan
- wajah tampak perdarahan vagina
merasakan nyeri
Nyeri di daerah perianal
2. DS: peningkatan kadar ß-hCG Nutrisi
- Klien menyatakan kurang dari
nafsu makan Mual berlebihan kebutuhan
menurun tubuh
- Klien merasa lemas Nafsu makan menurun
DO:
- Porsi makan klien Asupan nutrisi menurun
habis setengah porsi
- Klien tampak lemah
- Kadar Hb, leukosit,
trombosit menurun
3. DS: Proses penyakit Ansietas
- Klien merasa gelisah
- Klien terus bertanya Terapi yang terus menerus
tentang penyakitnya
DO: Ketidaktahuan klien tentang
- Klien tampak pucat proses terapi
- Klien tampak gelisah
Kecemasan terhadap
penyakitnya
4. DS: Perdarahan per vaginam Ketidakefek
- Pasien menanyakan tifan pola
kapan saja dia bisa Ketidaktahuan tentang seksualitas
melakukan penyakit
hubungan seksual
- Pasien merasakan Cemas dalam hal
nyeri daerah perianal berhubungan seksual
saat melakukan
hubungan seksual Gangguan pola seksualitas
- Pasien menyatakan
ketakutan
keharmonisan rumah
tangganya terganggu
DO:
- pasien terus
menanyakan kapan
saja bisa melakukan
hubungan seksualitas
- suami pasien terus
menanyakan tentang
penyakit istrinya

II. Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul, antara lain :
1. Gangguan rasa nyaman: nyeri akut b.d perdarahan, proses penjalaran
penyakit.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan
asupan oral, ketidaknyamanan mulut, mual sekunder akibat peningkatan
kadar ß-hCG.
3. Ansietas b.d ancaman intregritas biologis aktual atau yang dirasa
sekunder akibat penyakit.
4. Ketidakefektifan pola seksualitas b.d ketakutan terkaitan perdarahan
per vaginam penyakitnya.

III. Intervensi Keperawatan


1. Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d perdarahan, proses penjalaran penyakit
Tujuan : Nyeri berkurang dalam waktu 1 x 24 jam
Kriteria Hasil :
• Klien mengekspresikan penurunan nyeri/ ketidaknyamanan
• Klien tampak rileks, dapat tidur dan istirahat dengan tepat.
Intervensi:
1 Beri informasi yang akurat untuk mengurangi rasa takut
2 Bicarakan alasan individu mengalami peningkatan atau penurunan
nyeri (misalnya: keletihan/meningkat atau adanya distraksi/menurun)
3 Beri individu kesempatan untuk istirahat siang dan dengan waktu tidur
yang tidak terganggu pada malam hari (Harus istirahat bila nyeri
mereda)
4 Bicarakan dengan individu dan keluarga penggunaan terapi distraksi
serta metode pereda nyeri lain.
5 Ajarkan tindakan pereda nyeri non invasif
a. Relaksasi
• Beri tahu teknik untuk menurunkan ketegangan otot
rangka yang dapat menurunkan intensitas nyeri.
• Tingkatkan relaksasi pijat punggung, masase, atau
mandi air hangat.
• Ajarkan strategi relaksasi khusus (misal : bernapas
perlahan, teratur, atau nafas dalam, kepalkan tinju, menguap)
b. Stimulasi kutan
Jelaskan manfaat terapeutik dari preparat mentol/pijat punggung
6 Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik.
7 Pantau tanda-tanda vital klien
8 Pantau intensitas nyeri klien

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan


asupan oral, ketidaknyamanan mulut, mual akibat peningkatan kadar ß-
hCG
Tujuan : Nutrisi klien terpenuhi dalam waktu 2x24 jam
Kriteria Hasil :
- Klien menyatakan nafsu makannya meningkat
- Klien terlihat tidak lemah
- Porsi makan klien habis
Intervensi :
1. Jelaskan alasan mengapa nafsu makan klien menurun akkibat
kemoterapi
2. Jelaskan pentingnya nutrisi adekuat bagi proses penyembuhan
penyakit
3. Beri dorongan klien agar meningkatkan selera makannya
4. Beri suasana makan yang rileks
5. Tawarkan makanan porsi kecil tapi sering untuk mengurangi
perasaan tegang pada lambung
6. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk penetapan asupan nutrisi klien
7. Pantau kadar ß-hCG pasien secara berkala
8. Pantau porsi makan yang dihabiskan klien

3. Ansietas b.d ancaman intregritas biologis aktual atau yang dirasa sekunder
akibat penyakit
Tujuan : Klien menyatakan dapat menerima penyakitnya dengan baik
Kriteria Hasil:
• Klien terlihat tidak cemas akibat penyakitnya
• Klien mampu menggunakan mekanisme koping yang efektif.
Intervensi:
1. Beri kenyamanan dan ketentraman hati.
2. Singkirkan stimulasi yang berlebihan.
3. Bila ansietas telah berkurang dan cukup untuk terjadi
pemahaman, bantu klien mengenali ansietas untuk mulai
memahami atau memecahkan masalah.
4. Gali intervensi yang menurunkan ansietas
5. Beri aktivitas yang dapat menurunkan tegangan.
6. Pantau keadaan umum klien

4. Ketidakefektifan pola seksualitas b.d ketakutan terkaitan perdarahan per


vaginam penyakitnya.
Tujuan : Klien mengetahui kapan saja dia bisa melakukan hubungan
seksual
Kriteria Hasil:
• Pola seksualitas klien normal
• Klien terlihat tidak cemas terhadap aktifitas seksualnya
• Klien mampu menggunakan mekanisme koping yang efektif.
Intervensi:
1. Identifikasi penyebab ketidakefektifan pola seksualitas
2. Kaji tingkat kecemasan klien
3. Jelaskan pada klien waktu untuk melakukan hubungan seksual sesuai
kondisinya
4. Beri edukasi tentang keadaan klien apabila berhubungan seksual
5. Tekankan bahwa penyakitnya tidak mempunyai dampak yang serius
pada fungsi seksualitasnya
6. Pantau keadaan umum klien

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Koriokarsinoma adalah salah satu jenis dari Penyakit Trofoblastik Gestasional
(PTG) dimana merupakan suatu tumor ganas yang berasal dari sel-sel sito-
trofoblas serta sinsitiotrofloblas ( pembentuk plasenta ) yang menginvasi
miometrium, merusak jaringan di sekitarnya termasuk pembuluh darah
sehingga menyebabkan perdarahan.
2. Pasien dengan koriokarsinoma mengalami kesembuhan 90-95%. Terapi dapat
dilakukan dengan agen single methotrexate or actinomycin D maupun dengan
terapi kombinasi EMACO (etoposide, methotrexate, actinomycin D,
cyclosphosphamide and oncovin), jika sudah menginvasi miometrium maka
dilakukan hysterektomi.
3. Perawat dapat memberikan terapi relaksasi, stimulasi kutan uintuk memberikan
kenyamanan dan ketentraman hati agar dapat mengurangi ansietas pada pasien
koriokarsinoma, serta selalu memantau tanda-tanda vital klien dan kadar ß-
hCG pasien secara berkala.

4.2 Saran
Sebagai perawat dapat memberikan asuhan keperawatan secara humanistik,
altruistik, dan holistik. Dan hendaknya selalu meningkatkan keilmiahan di bidang
asuhan keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

Broocker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan edisi 31.Jakarta: EGC.


Cunningham, MacDonald,Gant. Gestationnal Trofoblastic Tumors, Willm Obstetric
9th. 1990:746-50.
Coadjane, et al. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Bidan. Jakarta: EGC.
Manjoer , Arif, et al .2002. Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga jilid 1. Jakarta:
Media Aesculapius.
Soekimin. 2005. Penyakit Trofoblas Ganas. Sumatera: Fakultas Kedokteran USU.
Wiknjosastro, Hanifa, et al,. 2005.Ilmu Kandungan edisi kedua. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.