Anda di halaman 1dari 26

Peter Kasenda

Sartono Kartodirdjo: Sejarawan Multi Dimensional

Tanggal 1 November 1987 di kampus Universitas Gajah Mada, Yogyakarta ada seminar
sehari bertema - The Development of Interdisiplinary Approaches in The Study History in
Indonesia and Southesst, yang dihadari oleh sejumlah ilmuwan yang mendalami mengenai
Indonesia dari manca negara. Bernhard Dahm, A. Teeuw, M.C. Ricklefs, Joseph Fischer
dan sejarawan tenar lainnya. Kegiatan seminar ini diselenggarakan untuk dosen untuk
menhormati Prof. Dr. Sartono Kartodirjo yang telah memasuki masa pensiun sebagai dosen
selama tiga puluh tahun pada Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada. Sebenarnya Sartono
Kartodirdjo telah memasuki masa pensiunnya pada tanggal 1 Maret 1986, tetapi acara
seminar diadakan pada tanggal itu, semata-mata untuk mengormati Prof. Dr. Sartono
Kartodirdjo yang menempuh ujian disertasinya, The Peasants’ Revolt of Banten 1888 : Its
Conditions, Course dan Sequel ; A Case Study of Social Movement in Indonesia, dengan
mendapat nilai Cum Laude pada tanggal yang sama duapuluh satu tahun yang lalu.1

Sejumlah puja-puji terhadap diri Sartono Kartodirdjo mewarnai acara tersebut. M.C.
Ricklefs, guru besar Monash University menyatakan bahwa Sartono Kartodirdjo dalam
melakukan pendekatan maupun metode tidak berhenti pada pendekatan konvensional saja,
tetapi telah bergerak pada pendekatan sosiologi, sastra dan filsafat. Karena itulah Sartono
Kartodirjo lebih terbuka terhadap pendekatan-pendekatan baru dibandingkan dengan
kebanyakan sejarawan diluar negeri, maka ia selangkah lebih maju dibandingkan rekan-
rekannya. Kalau dulu Sartono Kartodirdjo banyak dipengaruhi oleh bekas guru besarnya
seperti Harry J. Benda dan W.F. Weterheim. Tetapi sekarang dia lebih maju dibandingkan
keduanya terutama di dalam masalah metedologi.2

Mendengar puji-puji serta pembacaan riwayat hidup, rupanya Sartono Kartodirjo di luar
sekenario upacara langsung minta waktu untuk berbicara. Dengan sigap Rektor UGM Prof.
Dr. Koesnadi Hardirdjo mempersilahkan Sartono yang penglihatannya berapa tahun
terakhir semakin berkurang itu kemimbar. Dari mimbar Sartono Kartodirdjo berkata,
“meski menderita karena menjadi objek, saya juga merasa berbahagia sekali. Karena …..
saya bisa mendengar riwayat hidup tadi ketika saya masih hidup dan sehat”. Segera
terdengar gemuruh tepuk tangan. Merujuk pada puja-puji yang didengar siang hari itu,
Sartono Kartodirdjo kemudian menyitir salah satu nasihet dalam kitab Ajurna Wihaha, saya
akan tetap berusaha . . . . tak menjadi takabur dalam saat mendapatkan anugerah.”

Seminar sehari itu bukan berisi puja-puji tetapi juga penghargaan. Sebagai tanda
kekaguman serta terima kasihnya Joseph Fischer, mahaguru Universitas California,
Amerika Serikat yang sekarang menjadi pengusaha penerbitan dan bekas kolega Sartono
Kartodirdjo ketika mengajar di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM dengan sukarela

1
Kompas, 2 November 1987.
2
Editor, 7 November 1987.

1
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

menyediakan dua tanda penghargaan yang dinamakan : The Profesor Sartono Kartodirjo
Prezes in History and Social Thought. Satu diperuntukan setiap mahasiswa UGM yang
berhasil menulis skripsi atau tesis terbaik mengenai sejarah Indonesia. Sisanya untuk setiap
dosen atau mahasiswa yang menulis Manuskrip terbaik mengenai sejarah Indonesia dan
diterbitkan oleh Gajah Mada University Press.

Sebagai puncak acara penghargaan kepeda Sartono Kartodirdjo. Gajah Mada University
Press menyerahkan kepada Sartono Kartodirdjo sebuah festschrift – Dari Babad dan
Hikayat Sampai Sejerah Kritis, yang merupakan karangan yang ditulis sejumlah kolega dan
bekas murid-muridnya. Sebaliknya Sartono Kartodirdjo tidak mau kalah, ia sendiri
menyerahkan karya terbarunya – Kebudayaan Pembangunan Dalam Perspekif Sejarah yang
merupakan kumpulan artikel, baik yang berasal dari seminar maupun yang tersebar dalam
media massa. Sebagai seorang sejarawan tak dapat disangsikan reputasinya. Ia telah
menghasilkan puluhan buku dari buah tangannya serta kualitas tulisannya benar-benar
bermutu. Tetapi sebagaimana dengan Sartono Kartodirjo sebagai pendidik. Untuk
mengetahui itu ada baiknya mendengar apa yang diutarakan oleh Ibrahim Alfian, yang
merupakan doktor pertama yang dibimbing oleh Sartono Kartodirdjo.

“Persoalan, apakah parameter yang harus dipakai untuk menilai guru yang baik ? kalau
parameternya bisa melahirkan sekian banyak penerus dan penyebar ide-idenya, beliau
memang seorang guru yang baik dan berhasil … tapi kalau parameternya seorang guru
yang baik harus sanggup melahirkan murid yang berkemampuan melebihi gurunya, guru
mengajarkan 10 jurus baru, dan sang murid harus bisa menciptakan 60 jurus baru, saya
kuatir, beliau belum bisa menghasilkan murid setarap atau melebihi sang guru … beliau
ingin menghasilkan harimau namun yang tercipta hanya kambing-kambing. Seperti saya
sediri, hanya kambing. Tapi, ini bukan salahnya sang guru mungkin karena kami-kami ini,
muridnya, kenyataannya belum bisa menyamai ketekunan, keteladanan, semangat kerja
beliu. Saya suadah diajarkan 10 jurus, tetapi jangankan mengembangkan jadi 60 jurus,
mungkin hanya sekedar 2 jurus yang saya kuasasi.3

Kesadaran Sejarah

Sartono Kartodirdjo dilahirkan pada tanggal 15 Februari 1921, di Wonogiri Salatiga, Jawa
Tengah, merupakan buah hasil perkawinan dari Tjiro Sarojo yang berkerja sebagai seorang
Posterij Amtenar (PPT) dengan Soetimah, setelah memperoleh dua anak peremuan, Sarsini
dan Sarsijem. Ketika Sartono Kartodirjo masih kecil ibunya meninggal dunia dan kemudian
ayahnya menikah kembali Sartono memperoleh dua adik perempuan, Sri Soebekti dan Sri
Soekesi. Atas terkabulnya keinginan keluarga Tjipto Sarojo memperoleh anak laki-laki,
keluarga Sarojo memenuhi nazarnya untuk membawa sang bayi yang belum berusia satu
tahun itu menuju Candi Prambanan yang terletak di perbatsan Yogyakarta – Klaten.
Sebenarnya ongkos perjalanan berpergian Yogyakarta – Klaten. Sebenarnya ongkos
perjalanan berpergian ke Candi Prambanan ketika itu termasuk mahal. Ketika itu kereta api
3
Kompas, 2 November 1987.

2
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

dari Wonogiri, dimana Sartono Katodirdjo dilahirkan menuju Solo saya saja menghabiskan
ongkos sebesar tiga puluh sen. Kepergian keluarga Sarojotersebut dengan harapan agar
anak laki-lakinya itu menjadi pandai. Harapan orang tua terhadap Sartono Kartodirdjo
dianggap telah memberikan kengan khusus. Kenangan seperti itu telah memberi bimbingan
supranatural terhadap diri Sartono Kartodirdjo mengenai bangai mana seharusnya hidup itu
dijalankan. Sartono Kartodirdjo menganggap bahwa dibawanya dia ketempat bersejarah itu
rupanya telah mempengaruhi bawah sadar sehingga menyebabkan Sartono mencintai
lapangan yang sampai kini dilakoninya. Ayahnya sebenarnya menginginkan agar putranya
menjadi seorang dokter. Hal itu tidak mungkin terlaksana karena Sartono Kartodirdjo takut
melihat darah dan beberapa kali semaput kalau melihat darah, karena itu dia menyadiri
bahwa masa depan menjadi dokter telah tertutup. Walaupun demikian, Sartono Kortodirdjo
menyatakan dirinya tidak merasa mengecewakan hati orangtuanya setelah menjadi sejarah
dengan alasan.4

“Sebab fungsinyakan sama. Saya juga memberikan terapi pada orang lain. Sebab dengan
berpegang pada sejarah yang benar. Kemajuan sebuah bangsa dapat terjaga, Keperibadian
bangsa juga berakar dari sejarahnya.”

Sebenarnya minat Sartono Kartodirdjo terhadap sejarah tidak bisa dilepaskan dari
lingkungan yang mengelilingi Sartono Kartodirdjo. Orang tua Sartono suka membeli buku
terbitan Balai Pustaka mengenai sastra Indonesia dan sering membaca surat-surat, serta
paman dan sebagainya sangat menyukai wayang. Ketika Sartono masih kecil dia sudah
mendengar cerita mengenai perjuangan Pangeran Sambernyowo (Mangkunegara I).
Dilingkungan keluarga Sartono terdapat kenangan khusus mengenai Pangeran
Sambernyowo berupa tombak, Kyai Bruwang. Alkisah salah seorang nenek moyang
Sartono pernah menyelamatkan Pangeran Sambernyowo diseberangkan nenek moyang
Sartono di Bengawan Solo dengan selamat. Sebagai rasa terima kasih Pangeran
Sambernyowo menghadiahkan pusakan tombak Kyai Bruwang pada penolongnya itu.
Sartono juga mendapat cerita dari ibunya yang mengatakan bahwa kakek Sartono adalah
seorang ronggo. Suatu hari kakek bertengkar mulut dengan seorang pengawas perkebunan
Belanda tersebut yang berwarga negara Belanda. Kemudian entah bagaimana terjadinya
orang Belanda tersebut diketemukan mati terbunuh. Polisi Belanda langsung mencari kakek
Sartono dan untuk menghindari perkara ia melarikan diri ke Jawa Timur. Diceritakan juga
bahwa dari garis nenek secara turunan temurun adalah putra pejabat di Wonogiri. Namanya
Mangunprajoko, keluarga dari ibunya Sartono adalah cikal bakal yang merupakan orang
pertama yang membuka daerah dan menetap serta memimpin di Wonogiri.5

Wonogiri sebenarnya adalah kota historis, banyak penelitian Pangeran Sambernyowo


diketemukan di sana. Di sebelah selatan Wonogiri sering menemukan mikrolit, ujung-ujung
panah yang biasanya orang Wonogiri menyebutnya sebagai gigi halilintar. Ketika itu guru
4
Wawancara dengan Sartono Kartodirdjo, Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, Sarinah, 5 September 1989 dan
Editor, 7 November 1987.
5
Mochamad Faried Cahyono, Memoar Sartono Kartodirdjo : Tak Ada Sejarah Yang Final, Tempo, 24
Oktober 1992. hal. 43 – 68.

3
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Sartono di HIS menerangkan bahwa benda-benda yang diketemukan Sartono merupakan


barang peninggalan nenek moyang. Menyaksikan benda dan mendengar sejumlah informasi
mengenai benda-benda tersebut, secara tidak sadar telah menyebabkan ia menaruh minat.
Disitulah mulai muncul persfektif historis, memandang kemasa lampau. Situasi dikota
Wonogiri yang sepi dari keramaian menyebabkan anak-anak sebaya Sartono menaruh
perhatian terhadap yang terjadi pada masa lampau.6

Sartono kecil suka mendengarkan orang tuanya mendendangkan Macapat serta


membawakan Wedatama yang dianggap Sartono sebagai pendidikan etika melalui sastra,
dari penghayatan kebudayaan Jawa yang benar-benar hidup ketika itu. Sartono
merasakannya sebagai suatu pengembangan intelektual meskipun hal itu berada
dilingkungan Timur. Kalau lingkungan Barat adalah pendidikan formal, ketika Sartono
kecil berada dikelas tiga HIS, pada bulan puasa dia berlibur selama sebulan kerumah
kakaknya yang menjabat sebagai Kepala Desa di Borobudur. Setiap pagi selama sebulan,
Sartono sendirian menjelajahi Borobudur menyaksikan candi-candi, sungai-sungai, bukit
maupun sawah-sawah disekitarnya. Kadang-kadang Sartono kecil duduk menikmati
pemandangan dari tingkat atas candi. Dari sana Sartono menyaksikan sekeliling bangunan
candi yang indah dengan Sungai Progo dan Elo-nya.7

Kesenangan Sartono membeli buku-buku mengenai sejarah ketika di HIS. Buku pertama
yang dibeli dari uangnya sendiri ketika itu disebut Vaderlandse Geschiedenis (sejarah
“tanah air”), yang sesungguhnya sejarah Belanda, yang merupakan buah tulisan dari J.B.
Wolters. Sebenarnya buku sejarah itu bisa dikatakan sangat mahal sekali. Sekitar 2,5
gulden, yang mana ketika itu uang sejumlah lima sen diberikan beras setengah kuintal.
Jelas bisa dikatakan kalau Sartono kecil sangat menyukai sejarah karena itulah ia harus
merelakan uang tabungannya terkuras. Perhatian Sartono pada sejarah yang serius
menyebabkan ia senantiasa mendapat nilai sepulah untuk mata pelajaran sejarah malahan
kalau ada ujian lisan ia tidak tak pernah meleset dalam mencari jawaban.8

Ketika menjadi siswa HIS sebenarnya Sartono hanya tinggal bertiga saja bersama ayah dan
ibunya di rumah keluarga Sarojo yang besar. Kedua kakak perempuan Sartono, Sarsini dan
Sarijem sudah tidak tinggal lagi di Wonogiri, karena melanjutkan sekolah guru
(Kweekschool) di Mendut. Namun Sartono masih ingat ketika itu banyak saudaranya yang
sebayanya sekitar enam belas orang yang ikut tinggal bersama orang tuanya. Saudara-
saudara Sartono itu juga bersekolah di HIS yang Cuma satu-satunya di Wonogiri. Di HIS
Wonogiri, Sartono menjadi kakak kelas dari Suhartinah Saoeharto yang kini menjadi ibu
negara dan Omar Seno Adji, merupakan kakak kelas Sartono yang kemudian pernah
menjadi ketua Mahkakamah Agung RI. Di rumah Sartono mempunyai pekerjaan tetap
mengisi bak mandi, mengepel lantai, memberi makan burung dan mencuci pakaian. Sedikit
waktu untuk menikmati kesenangan. Kebiasaan itulah yang menjadi salah satu Sartono
mencapai kemajuan dalam kariernya sebagai sejarawan.
6
Wawancara dengan Sartono Kartodirdjo, Sebagaian KehidupanSartono Kartodirdjo, Ahli Sejarah Bekas
Tetangga Ibu Tien, Inti Sari, Februari 1986, hal 13.
7
Mohammad Faried Cahyono. loc. cit.
8
Jakarta – Jakarta, loc. cit.

4
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Rupanya Sartono tidak menyelesaikan HIS-nya di Wonogiri, karena kakak perempuannya


Sarsini alias Sr. Stanilas yang menjadi biarawati itu memindahkannya dari Hollands
Inslansche School milik gubernemen ke HIS milik misi Katolik di Solo, hanya semata-mata
karena menginginkan adiknya yang mempunyai nama permandian Aloysius itu
memperoleh porsi pendidikan agama yang lebih baik dan banyak. Menjadi siswa HIS milik
misi katolik itu dianggap Sartono mempengaruhi hidup beserta pikirannya, terutama
masalah kerohaniaan di kemudian hari. Di sanalah Sartono mulai aktif dalam kepanduan
organisasi sekolah Paloepi Darma.9

Sartono mulai terangsang menulis ketika dia memperoleh pelajaran karang-mengarang


sejak kelas lima dan enam di HIS. Ketika itu siapa yang tulisannya dinilai paling bagus
lantas dimuat kembali dalam buku kelas. Sartono merasa terdorong menulis dan menulis
karena karangannya yang paling sering dimuat dalam buku kelas itu. Soekatjo, ayah Prof.
Dr. Umar Kayam yang membimbingnya untuk menulis dan mendorong untuk menulis
dengan lebih baik lagi.10 Setelah menyelesaikan HIS nya pada tahun 1935 dan melanjutkan
pada Mear Uitgebreid Lager Onderwijs pada kota yang sama. Di sanalah wawasan
intelektual Sartono semakin berkembang saja dengan tersedianya koleksi buku-buku pada
perpustakaan sekolah. Selanjutnya Sartono mulai mengembangkan kemampuan berbahasa
selain bahasa Belanda. Sejak kuartal dua di MULO, Sartono mulai memperdalam bahasa
Inggris, Jerman dan Prancis. Di MULO Solo Sartono bersekolah selama satu tahun saja,
karena tahun berikutnya Sartono mulai mempublikasikan tulisannya. Karangan Sartono
diantaranya dimuat dalam majalah Pristo, Nederland. Judul tulisannya antara lain – Solo
Tahun 200 dan berbagai tulisan mengenai Candi Borobudur yang kesemuanya ditulis dalam
bahasa Belanda.11

Setelah lulus dari sekolah Xaverius di Muntilan, Jawa Tengah, setelah belajar lima tahun.
Sartono kemudian menjadi guru selama tiga bulan di sekolah Schakel di Muntilan juga.
Tiga bulan kemudian Sartono dipindahkan ke Salatiga ke sekolah HIS swasta yang sudah
disamakan. Sartono memperoleh gaji 49 gulden. Ongkos dia mengeluarkan 10 gulden.
Ketika Sartono berada di Salatiga pada bulan Desember 1941, suasana sudah mulai terasa
tidak normal. Anak-anak sudah harus dibawa ketempat bersembunyi kalau ada tanda
bahaya. Pada tanggal 15 Februari 1942. Suasana perang semakin terasa dan lampu-lampu di
jalan kerundi agak tak begitu terang. Teman-teman Sartono menerjunkan diri menjadi
sukarelawan menjaga kota dan Sartono sendiri tak biasa ikut karena matanya kurang awas
dan fisiknya tak memungkinkan. Akhirnya Jepangpun memasuki Salatiga dan Balatentara
dengan pasukan KNIL. Ketika itu barang-barang kebutuhan sudah mulai sukar diperoleh,
nasi sudah mulai dicampur dengan jagung. Kalau dahulu orang sudah bisa makan baik
dengan mengeluarkan uang sebesar 10 gulden untuk sebulan, tetapi ketika Jepang datang
dengan uang 10 rupiah hidup sudah agak sulit.12

9
Wawancara dengan Sartono Kartodirdjo, Sejarawan yang ingi Bertualang Terus, Tempo, 16 Juli 1983.
10
Jakarta-Jakarta, loc.cit.
11
Wawancara dengan Sartono Kartodirdjo, Sejarawan yang ingin Bertualang Terus, Tempo, 16 Juli 1983.
12
Machammad Faried Cahyono, loc. cit.

5
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Di kota Salatiga Sartono mulai menghadapi rasa disillusioned dan merasa agak terhalang.
Ketika zaman seorang yang berhasil menyelesaikan sekolah menengah bergengsi tinggi dan
sebagainya. Ketika zaman Jepang keadaannya tiba-tiba jatuh dan Sartono merasa kacau.
Kekacauan itu bisa juga dirasakan oleh mereka yang tidak pernah belajar bahasa Belanda.
Tetapi sebaliknya mereka merasakan dorongan yang kuat. Mereka memandang rendah
kepada yang berpendidikan Belanda dan berkata “Sekarang giliran kami. Kamu terlalu
bersandar kepada yang berpendidikan Belanda. Itu sekarang tak ada gunanya lagi. Mereka
yang berpendidikan Belanda bisa lebih cepat belajar melalui kursus.13

Ketika zaman Jepang Sartono tidak lagi menjadi guru di HIS, karena sekolah milik Belanda
semuanya telah dibubarkan oleh balantentara Jepang, termasuk Partai Katolik, di mana
Sartono aktif sebagai Sekertaris ditiadakan. Sebenarnya ketika itu Sartono agak pasif dalam
arti bahwa bila seorang mau aktif selama masa Jepang, fisiknya harus kuat karena dalam
suasana perang harus banyak mengadakan latihan militer. Karena mata Sartono yang
kurang awas, Sartono jadi tidak begitu tertarik terhadap cara hidup Sparta. Sartono mulai
dari tingkat gokyu sampai ke nikyu. Sartono menganggap bahwa bahasa adalah sesuatu
yang berguna untuk memahami kebudayaan lain karena itulah dia mau mendalami bahasa
Jepang dengan belajar sendiri. Ketika itu dia merasa beruntung memperoleh teman, seorang
jebolan THS yang memberi nasehat kalau ingin lulus ujian bahasa Jepang sebaiknya ia
menghafal sebanyak mungkin huruf kanji dan sartono menuruti nasehat teman yang
mengajar di SD Cina. Ketika ujian Sartono dan temannya lulus ujian dan kemudian Sartono
yang tak pernah mengikuti kursus bahasa Jepang malahan dianugrahi untuk mengelola
kursus resmi bahasa Jepang di Salatiga. Salah seorang yang pernah menjadi muridnya
adalah Nyonya Tjokropranolo (istri bekas gubernur DKI Jakarta).14

Zaman Jepang telah membawa Sartono memperoleh kesadaran sebagai orang Indonesia
tetapi latihannya terletak dalam suatu bidang yang ketika itu masih dianggap diluar
perangkat nasional. Satu-satunya surat kabar yang terbit ketika itu adalah Asia Raya.
Dengan membaca media masa itu, sesuatu tergerak didalam hati Sartono – suatu dunia –
baru telah muncul. Sebelumnya dikalangan sekitar Sartono tak banyak yang mengenai Asia
Timur. Sebenarnya mereka lebih banyak mengetaui mengenai kebudayaan Eropa
ketimbang Asia Tenggara maupun Timur jauh. Ini pertama ada perubahan. Sekarang
mereka harus membaca buku berbahasa Belanda yang beredar. Kenyatannya adalah bahwa
baru pada zaman pendudukan Jepang mereka yang berpendidikan Belanda mulai belajar
berbahasa Indonesia. Kalau pada zaman Belanda Sartono berfikir dalam bahasa Belanda
dan Bahasa Jawa tetapi sekarang harus belajar bahasa Indonesia dari buku.15

Ketika Jepang menyerah kalah dan NICA datang dengan membonceng Sekutu hendak
menguasai kembali Indonesia. Sartono terlibat dalam kegiatan pemuda meskipun tidak
pernah pergi ke front. Bulan Agustus sampai bulan November atau Desember 1945
merupakan bulan kacau dan semua sekolah tutup. Selama Sartono menganggur, Sartono
banyak bergerak diorganisasi pemuda. Ketika itu terdapat 17 organisasi di organisasi
13
Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, Sebuah Wawancara dengan Leonard Blusse, Sejarah 1, 1991, hal. 62 – 78.
14
Mohammad Faried Cahyono, loc. cit.
15
Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, loc. cit.

6
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

pemuda. Ketika itu terdapat 17 organisasi di Salatiga. Ada GPII, Hisbullah, Pemuda Putri
Indonesia, Ikatan Pelajar Indonesia, Pesindo dan Angkatan Muda Khatolik Republik
Indonesia. Sartono Kartodirdjo menjadi Ketua AMKRI di Salatiga dan sekitarnya, yang
ketika itu menjadi anggota krisidenan semarang. Organisasi – organisasi pemuda itu
kemudian membentuk badan organisasi pemuda seluruh Kresidenan Semarang dan Sartono
di pilih menjadi koordinator dari 17 organisasi pemuda tersebut karena ia dianggap sebagai
penghuni lama di Salatiga. Ketika masa kacau itu Sartono suka mengumpulkan buku-buku
yang disita dari rumah-rumah Indo dan kemudian dikumpulkan dikantor-kator Komite
Nasional Indonesia. Sekertaris KNI, Soewondo, suami pertama nyonya Hartini mengajak
Sartono untuk mengatur buku-buku yang disita itu kedalam perpustakaan KNI. Banyak
buku filsafat, tetapi kebanyakan bacaan populer. Ada yang dari rumah dokter yang buku-
buku tiga dinding rumah. Tadinya buku-buku sitaan itu ditumpuk di kantor laskar rakyat.
Setelah aksi militer Belanda I. Buku-buku sitaan itu menghilang tanpa jejak.16

Pada masa perang kemerdekaan Sartono mempunyai kenangan yang teramat manis. Ketika
Sartono mengadakan kegiatan perayaan hari Kartini atas nama organisasinya yang
dipimpinnya pada tahun 1946, Sartono bertemu seorang gadis yang kemudian menjadi
teman hidupnya. Sri Kadaryanti yang menjadi seorang guru Sekolah Dasar dan rekan
Sartono di AMKRI. Sri Kadaryati yang lulus Huishoudschool, Sekolah Kepandaian Putri,
lahir di Purwodadi dan kemudian tinggal di Semarang menyebabkan ia bersama dengan
keluarga mengungsi ke salatiga.17 Setelah persetujuan Linggarjati ditandatangani pada
tahun 1947, Sartono sebagai kordinator organisasi pemuda di Salatiga, diminta memberi
sambutan dihadapan massa di Alun-alun Ambarawa. Sekitar seribu orang yang menyesaki
alun-alun Ambarawa itu. Tugas badan organisasi pemuda Keresidenan Semarang itu adalah
memberi penjelasan mengenai persetujuan Linggarjati, PNI dan Masyumi. Ketika terjadi
agresi militer Belanda I, Salatiga diserbu Belanda. Kota Salatiga di malam hari gelap gulita
dan banyak toko dirampok. Pada saat itu Sartono berada di Hotel Kalimantan dan
memutuskan mengenai perlunya menguasai atau tidak. Karena Sartono adalah Kordinator
organisasi pemuda, dia menjadi was-was. Nevis, dinas rahasia Belanda menjadi hantu
ketika itu. Kalau seandainya Sartono terpegang oleh Nevis bisa dipastika dia akan dibunuh.
Oleh karena itu demi amannya, Sartono mengungsi kemudian Sartono bergabung dengan
warga kampung menjauh dari Salatiga dengan jalan kaki selama 4 – 5 hari. Bersama
dengan sejumlah muridnya yang ditemui dalam pengunsian menuju Yogyakarta setelah
beberapa hari menginap di rumah saudara di Solo.18

Di Yogyakarta, mulai akhir bulan Juli 1947 sampai tahun 1950 Sartono tinggal di
Yogyakarta yang merupakan ibukota RI. Disinilah Sartono melangsungkan pernikahan
dengan Sri Kadaryanti yang juga mengungsi ke Yogyakarta. Perkawinan tersebut
memberikan kesan yang mendalam meskipun dirayakan dengan penuh kesederhanaan.
Kedua sejoli itu berbulan madu pada masa peperangan sehingga seringkali kalau malam
hari harus bersembunyi di lobang perlindungan karena datang serangan cocor merah
pasukan Belanda. Sartono yang berusia 27 tahun pada tanggal 6 Mei 1948. ketika
16
Mohammad Faried Cahyono, loc. cit.
17
Intisari. Loc. cit.
18
Mohammad Faried, loc. cit.

7
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

mempersunting Sri Kadaryanti sebagai isteri, Sartono sudah kembali sebagai guru. Kalau di
Salatiga ia mengajar di HIS, di Yogyakarta Sartono mengajar di SMP. Sartono juga
memberi les privat pada Nyonya Urip Sumohardjo sebanyak dua kali dalam dua minggu.
Nyonya Urip Sumohardjo berada dalam lingkungan Eropa dengan berbahasa Belanda.
Ketika memberi les, ketika itu Sartono juga aktif sebagai sekertaris Partai Katholik RI
cabang Yogyakarta merangkap Sekertaris Komisariat DIY.19

Menjadi yang pertama

Setelah perang kemerdekaan studi sejarah Indonesia sedang memasuki fase yang baru.
Sebagai studi spesialisasi pada tingkat pendidikan Universitas Ilmu Sejarah sudah mulai
diajarkan pada Faculteit der Leterteren en Wijsbegeerte yang didirikan oleh pemerintah
kolonial Belanda. Tetapi pergolakan yang terjadi senak pecah Perang Pasifik pada akhir
tahun 1941 telah menyebabkan fakultas sastra tidak dapat menyelenggarakan kegiatan-
kegiatan pendidikan dan penelitian karena kebanyakan pengajarnya yang berkebangsaan
Belanda ditangkap oleh alat-alat kekuasaan pemerintah pendudukan Jepang dan ditahan
dalam kamp-kamp konsentrasi sampai Perang Dunia ke II di kawasan Asia Tenggara
berakhir. Sesudah itu sejumlah bekas pengajar Faculteit der Leteren en Wijsbegeerte serta
sejumlah bekas pengajar lain berkebangsaan Belanda yang sesudah Perang Dunia ke II
berakhir dikeluarkan dari kamp-kamp konsentrasi Jepang, berusaha mengadakan kegiatan-
kegiatan pendidikan tinggi dan kegiatan ilmiah mereka kembali, sehingga bisa dikatakan
bahwa studi sejarah di Indonesia pada tingkat Universitas praktis baru mulai pada tahun
1950. Ini bukan berarti bahwa sebelumnya studi sejarah diabaikan sama sekali. Dari masa
itu pun kelihatan bahwa daftar kepustakaan Indonesia mengandung karya-karya sejarah,
baik sebagai tulisan populer maupun sebagai hasil penelitian yang serius, meskipun
sebenarnya bidang sepesialisasi para penulisnya berada dalam disiplin-disiplin yang lain
seperti filologi, ilmu hukum, indologi dan sebagainya. Selain itu jumlah peneliti ketika itu
secara proporsional jumlahnya masih ketinggalan dengan jumlah peneliti asing yang
terutama terdiri dari bangsa Belanda. Tetapi dengan terbukanya kesempatan untuk
menempuh studi dalam jurusan sejarah ini mulai bertambah meskipun hanya sedikit
bertahan sampai tingkat terakhir dan menyelesaikan studinya.20

Dalam kondisi semacam diatas itulah Sartono Kartodirdjo yang ketika itu berusia 29 tahun
melanjutkan pendidiakn pada fakultas sastra Universitas Indonesia pada tahun 1950. Ketika
beliau diterima menjadi mahasiswa Fakultas Sastra Indonesia, Sartono memutuskan
memilih jurusan Sejarah karena jurusan ini kurang peminatnya sehingga dianggap
kekosongan yang perlu diisi. Teman-teman seangkatannya, seperti R.P. Soejono, yang
pernah menjadi Ketua Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Harsojo, guru besar
Artropologi yang telah almarhum dan Boechari, epigrapi Indonesia yang terkenal yang
sekarang telah almarhum. Di kampusnya itu Sartono menimba ilmu pengetahuannya dari
19
Ibid dan Intisari, loc. cit.
20
Kata Pengantar dari AB Lapain, dalam G.J. Resink, Raja dan Kerajaan yang merdeka di Indonesia 1850 –
1910, Jakarta : Djambatan, 1987, hal. VIII – XXVIII dan Meutia F. Swasono, Fakultas Sastra Universitas
Indonesia 1940 – 1980, Jakarta : FUSUI, 1980, hal. 11 – 16.

8
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

sarjana asing maupun Indonesia. Dosen-dosennya adalah Prof. Dr. Burger (Ekonom
Indonesia), Prof. Beerling (Sosiolog dan Filsafat), Prof. Dr. Bernat Kempers (Sejarah
Kono), Prof. Purbojokro (Jawa Kuno), Prof. Urie (Sejarah Barat), Prof. Djoko Soetono
(Ilmu Negara), Prof. Soekanto (Sejarah Indonesia), Prof. Von Arx (Sejarah Indonesia) dan
Prof. Held (Antropologi). Karena banyak dosen yang berkebangsaan Belanda sehingga
pengajaran diberikan dalam bahasa Belanda. Ketika tahun 1951, Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan memutuskan untuk mengganti bahasa pengantara Belanda diganti dengan
bahasa Indonesia. Bukan menjadi masalahah bagi Sartono.21

Dosen yang dikaguminya ketika itu adalah Prof. Burger, Sartono menduga bahwa
perhatiaanya terhadap aspek sosial ekonomi dalam sejarah dimulai dengan kuliah dari
Burger. Burger menjadi model Sartono bagaimana melaksanakan perkuliahan di
perguruaan tinggi. Beliau betul-betul rapih mempersiapkan materi dalam catatan tersendiri
serta menyampaikan dengan sistematis. Bahan-bahan kuliahnya ketika itu kemudian
dijadikan buku sampai dua jilid, bukan yang ditulis Prof. Dr. Mr. Prajudi Atmosudirdjo.
Sebenarnya ketika itu jurusan sejarah sangat lemah Sartono peraktis sendirian disana.
Teman-teman Sartono pindah ke arkeologi. Pada suatu hari, Prof, Resink yang mengajar
sejarah Indonesia pernah menganjurkan agar Sartono pindah ke fakultas ekonomi. Sartono
tidak mengikuti nasehat Prof. Resink tersebut dan memutuskan untuk tetap mendalami
studi sejarah dan dia tidak menyesal mengambil keputusan itu. Sartono mempunyai bahwa
suatu ketika, di antara 80 atau 90 juta orang Indonesia yang ada ketika itu, setidak-tidaknya
harus ada satu sarjana yang mengambil spesialisasi dalam sejarah Indonesia.22

Kalau dahulu di Jawa Tengah, selama 10 tahun hanya mondar-mandir dalam kegiatan
politik yang menyaksikan setelah Sartono Kartodirdjo ke Jakarta, Sartono melepaskan diri
dari kegiatan politk. Sekarang Sartono memusatkan perhatian pada studi sejarah sekaligus
mengajar di SMA Santa Ursula dan SMP Van Lith sedangkan isterinya mengajar SD.
Mengajar bagi Sartono bukan saja karena profesi itu sangat disenangi tetapi juga karena
dapat membiayai sekolahnya dan dapur senantiasa bisa berasap selalu. Meskipun Sartono
telah menjadi sibuk karena kedua hal diatas, tetapi kiranya tidak dapat mengurangi minat
lama Sartono dalam berorganisasi. Hampir setiap waktu luang dipergunakan Sartono
bergiat sebagai Sekertaris Persatuan Guru Khatolik dan redaktur dari majalah Persatuan
Guru Khatolik, yang mana Sartono banyak menuangkan buah pikirannya ke dalam majalah
itu. Berbagai macam persoalan yang ditulisnya mulai dari dunia pendidikan sampai
masyarakat umum. Kesibukan belajar mengajar dan berorganisasi telah menyebabkan
Sartono hampir tak mempunyai waktu untuk menonton film yang kebetulan gedung
bioskop terletak di depan tempat tinggalnya, yang berada disebelah Kantor Pos Pasar Baru.
Setiap hari dari pukul 10.00 – 23.00 W.I.B. digunakan Sartono untuk persiapan mengajar,
kuliah sampai organisasi.23

21
Intisari, loc. cit dan Jawaban tertulis Sartono Kartodirdjo atas pertanyan tertulis Peter Kasenda, tertanggal
25 November 1990.
22
Mochamad Faried Cahyono, loc. cit.
23
Intisari. loc. cit.

9
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Sartono Kartodirdjo lulus dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1956, ia
merupakan lulusan pertama dari jurusan sejarah FSUI. Sartono menulis skripsi yang
berjudul – Een Vergelijking van de Middeleeuwse en Moderne Westere Cultuur in het
Bijzonder Geillistreerd – aan het Hisrorisch Bewustzijn (Perbandingan Antara Alam
Pikiran Abad Pertengan dan Zaman Modern, khususnya dari wawasan filsafat sejarahnya)
dengan pembimbingnya Prof. Dr. Beerling yang mengajar Sartono mata kuliah Sosiologi
dan Filsafat. Karya awal Sartono ini mencoba mencari bentuk-bentuk kesadaran sejarah
yang ada di barat maupun Timur dan diketemukan betapa kontras antara cita-cita kemajuan
Barat modern dengan cita-cita Mesiasnisme Jawa. Kalau dahulu orang Indonesia yang bisa
disebut sebagai sejarawan hanyalah Djajadiningrat dan Perbatjaraka. Yang disebut pertama
mendapat gelar doctor mengenai sejarah Banten pada tahun 1913 dan Poerbatjaraka adalah
seorang filologotodidak, yang banyak menulis mengenai Sejarah Jawa Kuno. Walaupun
tulisan Sejarahnya bersifat filologi dan memfokuskan perhatiannya terhadap sejarah-sejarah
kuno daerah-daerah tertentu, sebenarnya kedua orang tersebut bisa disebut sebagai peletak
studi sejarah Indonesia. Sekarang telah lahir benar-benar seorang Sejarawan, Sartono
Kartodirdjo.24

Sesudah lulus Sartono Kartodirdjo meninggalkan pekerjaannya sebagai guru dan memilih
propesi sebagai peneliti Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia yang sekarang disebut
Lembanga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Di sinilah kegemaran Sartono membaca dan
meneliti mendapak pupuk sehingga menjadi subur. Meskipun demikian Sartono juga
menyumbangkan tenaga maupun pikiranya pada dunia perguruan tinggi daerah, karena
tenaganya diperlukan untuk mengembangkan dunia studi sejarah disana. Ketika itu Sartono
menganggap ada baiknya segala sesuatu tidak terpusatkan di Jakarta saja dan merasa perlu
mengembangkan daerah. Sartono menjadi dosen terbang dan datang sekali sebulan selama
sekitar seminggu. Karena jumlah dosen kurang memadai terpaksa Sartono mengajar
beberapa mata kuliah. Sartono mengajar Sejarah Barat dan Didaktik Sejarah di IKIP
Bandung dan FSK UGM Sartono berhasil mengubah kurrikulum, bergeser dari orientasi
fisiologi ke ilmu-ilmu Bantu. Yang menjadi pengajar di FSK UGM ketika itu adalah Dr. J.
Fischer, Prof. Zoetmulder, Prof. Poerbatjaraka, Prof. Soemadi dan Prof. Barorod, teman
seangkatan Sartono ketika kuliah di FSUI, Prof. Moh. Yamin dan Drs. Liem.25

Ketika ada usaha mengadakan pembaharuan historiografi tradisional dan colonial di tengah
mitos kolonial yang sedang runtuh dan mitos nasional yang sedang mencari bentuk.
Kontruksi Sejarah Indonesia ketika itu berada ditengah kebutuhan untuk kepentingan
praktis pendekatan dan pemerintah. Kebutuhan untuk menempuh persfektif dan pandangan
baru terhadap sejarah dan keinginan untuk menyesuaikan dengan dasar studi kritik.

Diadakan seminar sejarah pertama di Yogyakarta (1957) dengan membahas masalah-


masalah – Konsepsi Filsafat Sejarah Nasional, Perodesisasi Sejarah Indonesia, Syarat-
24
Kuntowijoyo, Sartono Kartodirdjo – Biografi Intelektual Seorang Sejarawan, Kompas, 31 Oktober 1987dan
Taufik Abdullah dan Abdurrachman Surjomihardjo, Arah Gejala dan Perspektif Studi Sejarah Indonesia,
dalam Taufik Abdullah dan Abdurrachman Suryomihardjo (red), Ilmu Sejarah dan Historigrafi, Jakarta :
Gramedia, 1985, hal. 21 – 55.
25
Intisari, loc. cit. dan jawaban tertulis dari Sartono Kartodirdjo, loc. cit.

10
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

syarat Mengarang Kitab Sejarah Indonesia yang bercorak Nasional, Pelajaran Sejarah
Kebagsaan di Sekolah-sekolah, Pendekatan Ahli Sejarah dan Penggunaan Bahan-bahan
Sejarah.

Makalah yang dibahas dalam seminar itu merupakan refleksi kebutuhan cultural serta
kesadaran perlunya dicari kemantapan pendekatan dan metode ilmiah baru. Di samping itu
ditunjukkan pula masalah-masalah yang menyangkut bidang teori dan kemampuan menulis
sejarah Indonesia, terutama untuk kepentingan pendidikan.26

Dalam seminar sejarah yang diadakan di Yogyakarta itu, Sartono Kartodirdjo menyatakan
buah pikirannya mengenai subtansi sejarah. Dalam makalahnya yang berjudul –
Periodesisasi Sejarah Indonesia. Sartono Kartodirdjo menyatakan mengenai penolakan
periodesisasi demikian berarti pengurangan terhadap cita-cita integrasi nasional. Sartono
menganggap bahwa pendekatan politik itu mempunyai kekurangan dan mengusulkan
pendekatan sosio kultural dan ekonomi dalam periodesisasi melalui penyebaran artefak-
artefak, bahasa, agama, pelayaran, perdagangan Indonesia sesudah merupakan kesatuan,
meskipun secara politik masih belum terwujud.

Menggantikan penulis sejarah yang Eropasentris dengan Indonesiasentris merupakan usaha


untuk mencari siapa sebenarnya aktor dari sejarah Indonesia. Sartono menawarkan
pendekatan baru sehingga pelaku-pelaku sejarah bukan lagi orang-orang besar, sebagimana
dalam sejarah politik yang konvensional tetapi adalah orang-orang kebanyakan. Ia
menggantikan sejarah yang menekankan politik menjadi sejarah yang menekankan
masyarakat – Sejarah Sosial. Dengan demikian, sekaligus sejarah sosial sesudah menjawab
pertanyan Indonesia senteris dan memasuki jalan baru dalam penulisan Sejarah Indonesia.
Sartono kemudia melihat pada petani, pesantren, tarekat, kyai dan guru ngelmu.27

Rupanya pengabdian Sartono Kartodirdjo pada studi sejarah menarik perhatian dari Harry
J. Benda yang menulis disertasinya mengenai peranan Islam di Indonesia pada masa
pendudukan Jepang sehingga Harry J. Benda menawarkan dan memberi rekomendasi
Sartono Kartodirdjo untuk belajar di Universitas Yale pada Departement Asian Studies.
Ketika itu Sartono belum mengetahui secara pasti mengenai berapa lama dia diperbolehkan
tinggal di luar negeri sehingga menyebabkan ia memilih disiplin lain seperti ilmu politik,
antropologi dan sosiologi. Di sana Sartono menimba ilmu pada ilmuawan-ilmuwan yang
terkemuka seperti Harry J. Benda (South Asian History), H. Lasswell (Political Science),
K.W Deutsch (political Science), Hollingshead (Sociology), Lewis (History of
Colinialism), Hickey (Antropology South East Asia) dan Yamamoto (Sautheast Asia
History). Di negeri Paman Sam itu Sartono memperoleh kesempatan mengikuti summer
course selama 11 minggu di Universitas Chicago dan Sartono mengambil mata kuliah
diantaranya Sociology of Elites (Shill), Culture and Development (Hoselizt) dan Sociology
of Organisations (Zald). Pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh Sartono Kartodirdjo

26
Abdurhman Suryomihardjo, Kearah Pembatasan Kembali Arti Sejarah, Kompas, 14 Desember 1984.
27
Kontowijoyo dan Makalah Seminar Sejarah I di Yogyakarta 14 – 18 Desember 1957.

11
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

tersebut, telah memberikan kepada Sartono sejumlah konsep kerja anata cabang ilmu
pengetahuan dalam ilmu-ilmu sosial.28

Di Universitas Yale Sartono mendapat bimbingan langsung dari Harry J. Benda yang
menurut Sartono Kartodirdjo bahwa pertemuan-pertemuan seminar yang dipimpinnya telah
menimbulkan minat untuk membahas masalah pemberontakan petani. Selama dia berada di
Universitas Yale secara agak diaklektis diikuti seminar-seminar dalam bidang ilmu-ilmu
sosial di samping sejarah. Ramuan semacam itu ternyata produktif juga dalam membentuk
kerangka konseptual bagi penulisan disertasi, meskipun program setiap tahun disusun
secara fragmentaris tanpa ada pengarahan kepada orientasi tujuan yang kongkrit. Di tengah
kesibukan Sartono membuat paper-paper yang tebal dan studi, dia hanya menonton televisi
sebagai hiburan satu-satunya.29

Ketika itu rupanya Harry J. Benda telah dikuasi oleh streotipe Indonesia mungkin
prasangka belaka pergi belajar keluar negeri (Amerika Serikat) barang setahun dan
kemudian kembali pulang dengan membawa mobil. Penilaian semacam ini bagi Sartono
Kartodirdjo justru diterimanya sebagai tantangan atau cambuk untuk membuktikan bahwa
dugaan tersebut tidak benar. Seperti halnya Sartono Kartodirdjo tidak akan sampai di
Universitas Yale apabila mengikuti nasehat kepala sekolahnya saat masuk FSUI. Baginya
cukup menempuh khursus BI saja. Disadarinya bahwa pernyataan seperti dalam bahasa
Jawa – di-pal, justru merupakan dorongan kuatnya untuk dapat meminjam peristilahan
wayang – mantak aji (menunjukkan kekuatannya). Nampaknya Harry J. Benda akhirnya
dapat diyakinkan dan kemudian berhasil menyakinkan Wertheim sehingga untuk promosi
di Universitas van Amsterdam terbuka lebar baginya.30

Selah memperoleh berbagai disiplin ilmu di Universitas Yale Sartono mulia menaruh minat
untuk menulis maklah mengenai pemberontakan petani di bawah bimbingan Harry J. Benda
yang mengajar satu course penuh mengenai pergerakan pentani di Asia Tenggara. Tema
pemberontakan dianggap sangat cocok bagi Sartono Kartodirdjo untuk belajar pendekatan
antar disiplin semacam itu. Sartono mengirim proposal (usulan peneliatian) ke Amsterdam
dengan untung-untungan. Ketika itu Sartono menganggap bahwa tulisan mengenai
pemberontakan petani Banten 1888 yang telah dimuat dalam sebuah majalah mestinya
mendapat perhatian dari pemerintahan Belanda dan berarti dokumennya cukup memadai.

Kerena itulah dia memberanikan diri menulis mengenai masalah tersebut. Ketika Sartono
ke Amerika Serikat dia tidak menyadari kalau ada dokumentasi di Leiden. Sartono benar,
topik yang bagus tanpa sumber yang kurang memadai percuma saja. Setelah memperoleh
gelar Master of Art dari Universitas Yale pada tahun 1964. Ketika Sartono Kartodirdjo tiba
di negeri Belanda pada bulan September 1964, Sartono pergi ketempat penyimpanan arsip

28
Jawaban tertulis dari Sartono Kartodirdjo, loc. cit.
29
Sartno Kartodirdjo, Sebuah Biografi Dari Historiografi Indonesia, Makalah Seminar Sejarah Nasional IV di
Yogyakarta pada tanggal 16 – 19 Desember 1985. dan Intisari, loc. cit.
30
Sartono Kartodirdjo, Ibid.

12
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

dalam sebuah bunker di Schaarabergen di tengah-tengah hutan. Pada hari pertama itu
Sartono menemukan dokumen mengenai pemberontakan Banten 1888 itu.31

Ketika Sartono mneinggalkan tanah air pada tahun 1962 menuju negeri Paman Sam untuk
melanjutkan studi hanya ditemani isterinya, Sri Kadaryati. Nimpuna dan Roeswita buha
perkawinan Sartono dengan Sri Kadaryati tidak bisa dibawa serta kerena Sartono tidak
mengetahui jumlah grand yang seharusnya diterima sebab sehabis tahun baru di tambah
lagi. Ketika mereka berada di Amerika Serikat sepasang suami istri itu sadar benar grand
yang diterima Sartono tidak akan menjamin asap dapur berkebul, karena itu Sri Kadaryati
terpaksa berkerja sebagai baby sister dan hal itupun dilakukan ketika Sartono harus
memperdalam ilmu di Amsterdam, yang mana Sri Kadaryati berkerja sebagai pelayan toko
Indisch. Kejadian itu dikenang Sartono sebagai sesuatu kejadian yang menyedihkan karena
harus meninggalkan anaknya ikut bersama dengan mertua Sartono, Rm. F. Kadarisman
Pusposudibdjo selama empat tahun. Pengorbanan Sri Kadaryati yang mau berkerja demi
berlangsung asap dapur dianggapnya untuk kebaikan mereka berdua. Pengorbanan serta
pengertian dianggap oleh pendamping hidup Sartono sebagai tanggung jawab bersama dan
merupakan modal untuk memperkukuh kelestarian perkawinan.32

Dengan pengalaman studi yang diperoleh di Amerika Serikat rasanya penyusunan disertasi
menjadi kelanjutan atau perpanjangan saja dari prosedur kerja yang telah dibiasakan oleh
Sartono selama dua tahun mengikuti Souteast Asian Program di Universitas Yale itu. Kalau
perpindahan menyeberang Atlantik dari Dunia Baru kenegeri senja membawa perubahan-
perubahan gaya hidup serta berbagai frustasi, namun bagi Sartono Kartodirdjo beserta istri
banyak hal yang dirasakan tidak terlalu asing. Setelah Sartono merasa mantap dengan
disertasinya, kesibukan penulisan disertasi membuat waktu berlalu dengan cepatnya. Iklim
negeri Belanda disertai dengan non-status Sartono Kartodirdjo telah memberi keleluasaan
berhari-hari kerja ditepai ketika di Valerius Straat 22. selama dua tahun tiga bulan
(September 1964 Desember 1966) di Netherland betul-betul membuat dirinya produktif
secara maksimal dengan secara khusus dipakai untuk menulis disertasi. Kadangkala
Sartono seminar di Seminarium. Dalam melakukan penulisan disertasi Sartono Sartono
mendapat bimbingan untama dari Prof. Dr. Wertheim, yang menulis suatu karya cemerlang
mengenai perubahan sosial di Indonesia (Indonesia Society in Transition : A Study of
Social Change) dan berkonsultasi dengan Prof. L.o. Schuman, Prof. A.J.F. Kooben, Prof.
G. F. Pijer, Prof. G. W. J. Drewes dan Prof. CC Berg yang telah memberikan rangsangan
dan kecerahan pikiran pada Sartono Kartodirdjo.33

Dalam menyusul kerangka konseptual sampai kearah pembuatan indeks Sartono


Kartodirdjo menghayati benar-benar, dengan penuh ketekunan, ketelitian, ketuntasan serta
kesempurnaan teknis sehingga ia memperaktekkan apa yang disebut dalam Wedatama
sebagai – mesu budi. Bau kertas arsip maupun buku-buku kuno akan merangsang semangat
itu. Pengalama penyusunan disertasi itu telah menggembleng Sartono Kartodirdjo seperti
31
Sejarah, loc. cit dan Jakarta-Jakarta, loc. cit.
32
Sarinah, loc. cit.
33
Sartono Kartodirdjo dan Sartono Kartodirdjo, Pemberontakan Petani Banten 1888, Jakarta : Pustaka Jaya :
1984, hal. V – IX.

13
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

telah keluar dari – kawah Condrodimuko – menjadi – manusia baru. Sartono menganggap
bahwa identitas seseorang professional memuat secara inheren suatu keahlian, keterampilan
dan pengetahuan teknis tinggi, otonom dan memiliki integritas tinggi. Sartono Kartodirdjo
menyadari bahwa perbekalan sejarawan sebagai bagain mendasar dari profesinya dengan
dengan menggunakan pendekatan archivistik bisa membawa beberapa – bahaya, antara lain
perfeksionisme akan menyita banyak waktu dalam menelaah dokumen-dokumen karena
harus dibaca berkali-kali sebelum menafsirkan. Antikwarianisme bisa menjerumuskan
seorang peneliti kearah suatu hasrat mengumpulkan bahan tanpa ada batasan yang jelas,
antara lain tidak mempertimbangkan sejauh mana bahan-bahan yang dikumpulkan relevan
dengan persoalan yang digarap. Sartono juga menyadari bahwa melakukan konseptualisasi
terlebih dahulu akan menyesatkan dan pengumpulan bahan yang kehilangan arah akhirnya
menjadi tujuan tersendiri. Teori dan metodelogi merupakan alat-alat anlitis untuk
memecahkan persoalan dalam penulisan yang digarap Sartono. Adapun pengetrapan teori
dan metodelogi menyerupai perjalanan yang penuh rintangan dan kesulitan.34

Pada tanggal 1 November 1966, di Lutherse Kerk di Spui, Amsterdam, Sartono Kartodirdjo
mempromosikan disertasinya yang berjudul – The Peasants Revolt of Banten 1888 : Its
Conditions, Course and Seguel : A Study of Social Movement in Indonesia dengan
promotor utama Prof. Dr. A. F. Wertheim yang ketika itu sebagai kepala Departemen
Sosiologi dan Sejarah Modern Asia Tenggara Universitas Amsterdam. Sartono Kartodirdjo
yang hampir terlambat untuk ujian doctor karena kemacetan lalulintas akhirnya
memperoleh nilai Cum Laude untuk disertasinya setelah berhasil mempertahankan dalam
bahasa Belanda dan pada tahun yang sama disertasi tersebut diterbitkan dan delapan belas
tahun kemudian baru diterbitkan dalam bahasa Indonesia.

Disertasi yang ditulis Sartono mencoba mengungkapkan kembali apa yang terjadi di distrik
Anyer di ujung baratlaut pada tanggal 9 sampai dengan tanggal 30 Juli 1888 dengan
membahas aspek-aspek tertentu dari gerakan sosial yang telah melibatkan lapisan-lapisan
luas rakyat. Sartono menyadari bahwa pembahasan yang dilakukan memang jarang terjadi
dan satu-satunya yang menonjol adalah Schrieke mengenai komunisme di pantai barat
Sumatra. Alasan sartono mengambil gerakan pemberobtakan yang terjadi di daerah Banten
karena daerah yang sejak dahulu merupakan daerah yang paling rusuh di Pulau Jawa adalah
Banten.35 Sasaran study Sartono bukan – peristiwa besar – dan – orang besar. Kalau Karl
Marx mengejek kalau sejarah Asia hanyalah rentetan kisah naik turunnya raja, sebaliknya
Sartono mencoba mencurahkan perhatiannya pada para petani yang sedang diancam oleh
kekuatan luar. Dalam tulisan itu Sartono tidak sekedar memperlihatkan corak struktur sosial
ekonomis dan politik suatu lokalitas tertentu pula, tetapi ia juga memperlihatkan bagaimana
kesadaran kultur memantulkan dirinya dalam pola tindakan. Dengan disertasi ini Sartono
bisa dianggap sebagai pelekat landasan historiografi modern Indonesia dan pelopor
pendekatan multidimensional dalam membicarakan peristiwa yang alami oleh – orang-
orang kecil.36
34
Sartono Kartodirdjo, Biografi . . . . . . op. cit.
35
Sartono Kartodirdjo, Pemberontakan . . . . . op. cit., hal. 13 -16.
36
Taufik Abdullah, Jangan Menjadi Pohon Pisang, Editor, 7 November 1987 dan Taufik Abdullah, Sartono
Menjawab Marx, Tempo, 7 November 1987.

14
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Kalau Seminar Sejarah Pertama disimpulkan bahwa sejarah harus ditulis dengan titik
pangkal Indonesia sentries, bukan kolonisentris. Tetapi sampai saat itu belum diketahui
bagaimana pandangan itu harus dilaksanakan. Masalah metodelogi sejarah menjadi
persoalan. Suatu usaha untuk menjawab pertanyaan itu dilakukan Sartono Kartodirdjo
dengan penulisan disertasinya. Penulisan Sejarah yang dilakukan sartono menggunakan
pendekatan yang disebut pendekatan multidimensional.

Melalui karya ini Sartono menunjukkan bahwa sejarah itu tidak harus selalu makro sifatnya
yang menulis kejadian-kejadian besar dengan waktu yang panjang, tetapi dapat mengenai
kejadian-kejadian kecil dengan pelaku orang pedesaan dan berlangsung pendek.
Sebagaimana halnya protes-protes petani dan pemberontakannya.

Kembali Sartono Kartodirdjo ke Indonesia mulai menandai bahwa Sartono Kartodirdjo


mulai banyak membicarakan masalah pendekatan multidimensional, ketimbang masalah
subtansi sejarah. Tulisan-tulisan Sartono mulai diwarnai dengan tema pergerakan sosial dan
agama.37

Setelah Sartono Kartodirdjo kembali ke Jakarta pada tahun 1967, Sartono tidak kembali
berkerja sebagai peneliti di MIPI atau mengajar di FSUI, tetapi Sartono memilih tinggal
dan bekerja di Yogyakarta, kota yang dianggap Sartono ketika itu bisa disebut belum
mempunyai pusat kegiatan ilmiah. Ketika itu Sartono Kartodirdjo berpikir, mengapa
kegiatan ilmiah hanya berada di ibukota saja padahal daerah juga membutuhkan
pengembangan ilmu. Karena itulah ia lalu menerima penawaran dari Universitas Gajah
Mada untuk menjadi pengajar tetap disana.38

Dikampusnya yang baru itu Sartono Kartodirdjo melakukan pembaharuan-pembaharuan


metodelogi sejarah dalam rangka memperbaiki perkuliahan-perkuliahan dalam
mempersiapkan calon-calon sejarawan. Pembaharuan yang diperkenalkan oleh Sartono
Kartodirdjo tentu saja dipengaruhi oleh perkembangan historiografi di Amerika Serikat
maupun Eropa. Sartono Kartodirdjo mulai memperkenalkan sejarah struktural maupun
sejarah multidimensional disana.39

Ketika itu di AS – Robinson dengan New History menyatakan betapa pentingnya


pengungkapan berbagai aspek masa lalu masyarakat, sehingga sifat multidimensional
menonjol. Implikasi metodeloginya ialah bahwa ilmu bantu dari bidang ilmu-ilmu sosial
terasa sangat diperlukan dan munculnya rapproachment yang kuat antara sejarah dan ilmu-
ilmu sosial dengan dampak metodelogi yang kuat pada sejarah yaitu semakin banyak
pemakaian pendekatan sosial scientific.

Pelbagai perkembangan diatas itu menimbulkan situasi metodelogi serta pola-pola baru
dalam studi sejarah.
37
Kuntowijoyo
38
Intisari, loc. cit.
39
Kuntowijoyo, loc. cit.

15
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

1. Ada perbedaan antara sejarah konvensional, yang bersifat diskriftif, yang


mengungkapkan apa, siapa, dimana, dan kapan serta bagaimana. Sejarah baru yang
bersifat analitis.
2. Adanya pengaruh kuat dari perkembangan ilmu-ilmu sosial, maka ilmu sejarah
menyusun metodelogi yang mencakup sosial-scentific dengan memakai alat-alat
konseptual, teoritis dan analitis dari ilmu-ilmu sosial.
3. Munculnya metodelogi baru, menimbulkan jenis sejarah baru.

Ketika itu Sejarawan dituntut agar mampu menyusun hukum-hukum seperti apa yang
dilakukan oleh ilmu-ilmu alam. Ilmu sejarah ditantang untuk menunjukkan relevansinya
untuk turut memecahkan persoalan masa kini, khususnya dalam kaitannya dengan proses
perubahan sosial. Suatu sejarah struktural dengan analisanya akan mampu menyukupkan
gejala-gejala umum serta ada kemungkinan melangkah ke gerakan tertentu.40

Mazhab annalles – March Bloch merinci sejarah agraris dengan metodelogi yang lebih
analitis dan struktural sifatnya. Dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar, Sartono
Kartodirdjo menyatakan bahwa gerakan sosial sebagai fenomena histories kurang mendapat
perhatian dalam studi sejarah Indonesia. Sartono Kartodirdjo menyadari kalau sejarah
Indonesia merupakan warisan historiografi colonial yang bercorak Netherlandosentris.
Dalam alam kemerdekaan diperlukan rekontruksi sejarah Indonesia sebagai dramatis
personac dengan perannya dalam kerangka Indonesia.

Untuk memperlihatkan Indonesiasentris lebih jelas dari sejarah Indonesia Sartono


menawarkan menggunakan pendekatan baru sehingga dinamika intern dapat diperlihatkan.
Pendekatan struktural dapat mengungkapkan struktur sosial, struktur birokrasi, struktur
kekuasaan dalam masyarakat tradisional bagaimana peran pelbagai elit didalamnya :
bagaimana pola kepemimpinan serta ideologinya.

Paparan yang analitis akan lebih memuaskan, karena secara eksplisit menggunakan
pelbagai segi dari permasalahan sekitar peristiwa-peristiwa sejarah. Keperluan
menggunakan analitis lebih terasa apabila dihadapkan pada fenomena yang kompleks
sifatnya.

Penelitian dan penulisan sejarah yang bercorak struktural analitis menuntut agar supaya
sejarawan dilengkapi dengan teori dan metodelogi sejarah beserta alat-alat analitisnya
untuk menyeleksi dan menyusun fakta-fakta. Penggunaan pendekatan multidimensional
memaksa sejarawan meminjam teori-teori serta konsep-konsep dari bidang ilmu sosial
lainnya, serta Sosiologi, Antropologi, dan Politikologi.

Pendekatan multidimensional memberi kemungkinan untuk menunjukkan persamaan pola-


pola yang berulang sehingga dapat membuat perbandingan dan dapat diketemukan unsur-

40
Sartono Kartodirdjo. Kebudayaan Pembangunan dalam Perspektif Sejarah : Yogyakarta : Gajah Mada
University Press, 1987, hal. 252 -256.

16
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

unsur serta faktor-faktor yang karakteristik bagi pergerakan sosial dalam abad ke 19 dan
awal abad 20 yaitu :
1). Perbandingan (istilah dari Hohsbawn)
2). Gerakan protes atas ketidak adilan
3). Gerakan revivalitas untuk mengajak rakyat lebih taat pada agamanya (Islam)
4). Gerakan nativisme untuk menghidupkan kembali kebudayaan lama yang dianggap baik
5). Gerakan mesianistis seperti ratu Adil dan Imam Mahdi
6). Gerakan perang Sabil.
Diakuinya bahwa klasifikasinya ini bersifat sementara dan perlu dipelajari lebih lanjut,
termasuk gejala-gejala yang ada diluar Jawa.41

Dalam tahun yang sama, Senat Gubernur Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM
mengukuhkan dirinya sebagai guru besar FSK Gajah Mada dan Sartono Kartodirdjo
mengucapkan pidato pengukuhan sekaligus diakui sebagai pidato Dies Natalis dengan
judulnya – Pergerakan Sosial di Jawa dalam abad ke – 19 dan 20.

Setahun sesudah tiba di Yogyakarta Sartono di undang dan di ikut sertakan seminar IANA
(Internasional Association of Historiografi of Asia) di kuala Lumpur pada tahun 1968.
disitu Sartono bertemu dengan Harry J. Benda, yang kebetulan diangkat sebagai direktur
ISEAS (Institute of Southeast Asian Studies) di Singapura, yang meminta Sartono menjadi
fellow pertama di ISEAS. Karena masih ingin terus meneliti dan menulis permintaannya
Sartono turuti. Awalnya memang ada kesulitan keberangkatan Sartono ke Singapura,
Sartono baru pergi empat tahun ke Amerika Serikat dan Belanda kenapa sekarang sudah
mau pergi lagi. Harry J. Benda berunding dengan Dekan Fakultas Sastra UGM, Prof. R.
Soegondo, dan akhirnya Sartono diperbolehkan berangkat, meskipun harus bolak-balik
untuk mengajar dan meneliti. Hasil penelitian Sartono kemudian diterbitkan oleh Oxford
University Press pada tahun 1973 dengan judul Protest Movement of Cultur Java.

Ketika itu penulis sejarah yang memusatkan perhatian kepada peran bangsanya
menggantikan pandangan neerldndo-sentrisme menjadi tuntutan kalangan sejarawan
Indonesia yang menginginkan adanya pandangan Indonesia-sentrisme belum bisa
diwujudkan. Meskipun upaya kearah itu telah dilakan., tahun 1951 telah dibentuk suatu
Panitia Sejarah Nasional yang bertugas menyusun buku sejarah nasional Indonesia yang
pertama pada tahun 1957, di mana Sartono Kartodirdjo turut serta mempresentasikan
makalah mengenai Preodesisasi Sejarah Indonesia. Sekitar tahun 1963 ditunjuk panitia
untuk menjalankan penulisan kembali sejarah nasional Indonesia akan tetapi tahun
berikutnya penuh dengan ketegangan sosial dan krisis politik tidak memberi kesempatan
kepada Panitia untuk menghasilkan karya.42

Rupanya titik terang mulai kelihatan dengan diselenggarakan Seminar Sejarah Nasional
kedua yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tahun 1970 dengan diketuai langsung oleh
Sartono Kartodirdjo. Kertas kerja yang ditampilkan lebih bermutu ketimbang seminar yang
41
Sartono Kartodirdjo. Pemikiran dan Perkembangan Hisoriografi Indonesia. Suatu Alternatif. Jakarta :
Gramedia, 1982, hal. 204 – 224.
42
Kontowijoto

17
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

terdahulu dengan mencakup periode prasejarah sampai periode yang paling modern.
Kenyataan ini memberi pertanda bahwa kemungkinan untuk meneruskan usaha penulisan
sejarah nasional dibarengi dengan kebutuhan penulisan sejarah untuk sekolah semakin
mendesak. Karena kedua hal diatas mendorong sejarawan untuk mengusulkan kepada
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan agar diangkat satu team yang ditugaskan untuk
menulis kembali Sejarah Indonesia. Pada bulan April 1970, pemerintah mengangkat Panitia
Penyusunan Buku Standard Sejarah Nasional Indonesia yang diketuai Sartono Kartodirdjo,
Marwati Djoned Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto.43

Atas tugas Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan biaya Ford
Foundition, Panitia Penulisan Buku Sejarah Indonesia menuju Berkely USA selama empat
bulan penuh November 1971 – Februari 1972, di bawah pimpinan Prof. Dr. Sartono
Kartodirdjo. Disana Sartono mengadakan riset kepustakaan dan rupanya Berkey telah
menggairahkan Sartono untuk menaruh perhatian mempelajari sejarah sosial lebih
mendalam karena banyak memperoleh kesempatan untukberkonsultasi dengan sejarawan
lain-lain. Dampak pengkajian di Berkely itu mungkin tidak kelihatan dalam strutur buku
Sejarah Nasional Indonesia yang terbit, akan tetapi tidak sedikit pengaruhnya dalam
tulisan-tulisan Sartono Kartodirdjo pada tahun tujuh puluhan.44

Universitas Gajah Mada adalah sebuah lembaga penelitian pendidikan tinggi yang jauh di
pedalaman, terselip di tengah bekas ibukota revolusi Yogyakarta dan jaun dari pengambilan
keputusan. Rector UGM Drs. Soeroso Prawirohardjo yang berusia ketika itu menganggap
pembangunan dengan dinamika tidak seharusnya dinikmati oleh orang kota tapi
seyogyanya mengikutsertakan mereka yang tinggal di pedesaan. Mereka yang senantiasa
membisu, jarang protes namun jumlahnya berlipat ganda. Bertolak dari obsesinya Rektor
UGM ini kemudian menunjuk Sartono Kartodirdjo yang menjabat sebagai presiden
Internasional Association of Historia of Asia (1971 – 1974) untuk membentuk dan
memimpin lembaga penelitian pedesaan yang kemudian dikenal dengan nama Pusat
Penelitian Pembangunan Pedesaan dan Kawasan UGM. Sartono menerima penugasan
tersebut karena ada unsur petualangan dan tantangannya. Tapa mempunyai pengalaman
mengenai manajemen, tanpa disediakan bantuan tenaga staf secara memadai, Sartono
dipercaya memimpin lembaga baru itu. Rektor UGM Soeroso menganggap bahwa Sartono
adalan pilihan yang tepat karena Sartono menulis disertasinya mengenai masalah
pedesaan.45

Sartono Kartodirdjo dengan lembaga yang dipimpinnya mulai mengembangkan studi


secara multidimensional dan interdisipliner di sana. Sartono menyadari benar-benar bahaya
besar yang dihadapi ketika semua diseiplin mendirikan tembok-tembok yang tinggi
sebagaimana yang dirasakan pada Fakultas Sastra dan Kebudayaan Gajah Mada sehingga
tidka terjadi komunikasi antara berbagai disiplin. Di tempat mengajar, Sartono sadar betul
bahwa terlalu banyak jurusan menyusun program mereka sendiri sehingga akibatnya tak
43
Kata Pengantar Sartono Kartodirdjo, dalam Sartono Kartodirdjo, Marwati Djoned Poesponegoro dan
Nugroho Notosusanto (ed), Sejarah Nasional Indonesia I, Jakarta : Balai Pustaka, 1975.
44
Sartono Kartodirdjo, Biografi . . . . . op. cit.
45
Kompas, 1 April 1993.

18
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

ada kesmepatan bagi mahasiswa untuk mengikuti kuliah dijurusan lain. Ketatnya system
tersebut dianggap Sartono akan berakhir dalam suatu nothing dan dianggap menghambat
ilmu pengetahuan.46

Maslaah-masalah yang dihadapi Indonesia, seperti soal transmigrasi, pedesaan maupun


kemiskinan dianggap Sartono tidak mungkin bisa diselesaikan oleh suatu disiplin ilmu saja.
Karena itulah pusat penelitian dengan mengikut sertakan berbagai macam keilmuan.47
Ketika itu setiap tahun Sartono membentuk tim baru menggantikan yang lama. Maksudnya
setidak-tidaknya ada trickle down effect sehingga akan menciptakan suatu kondisi di mana
para pesertanya melakukan suatu latihan dalam berkomunikasi. Mereka duduk dan berfikir
bersama-sama dengan disiplin lain, mulai dari ilmu pertanian, ilmu-ilmu sosial, sejarah,
psikologi dan sebagainya. Dengan membentuk teawork yang dirancang merupakan latihan
yang baik untuk mengenal konsep-konsep dari disiplin lain.48

Sebagai Diriektur Pusat Penelitian Pembangunan Pedesaan dan Kawasan UGM (1971 –
1981) Sartono Kartodirdjo harus mengadakan apa yang disebut institution building dan
untuk menyelenggarakannya diperlukan sejumlah dana. Pada tahun-tahun pertama lembaga
tersebut sangat expedient, memilih jalan yang paling bermanfaat. Bisa dikatakan setiap
sumber pendanaan diterima tanpa ada keberatan apapun. Sejak awal pendirian lembaga
mendapat cukup banyak tawaran baik dari yayasan asing maupun terlebih-lebih instansi
pemerintah, seperti Departemen Penerangan, Departemen Dalam Negeri dan Departemen
Kesehatan. Lembaga penelitian tersebut terus meningkat mutu akademis, mutu penelitian
dan terus berusaha mencapai excellence di sati pihak tetapi dialin pihak karena keadaan di
Indonesia dengan sekelompok kecil dalam bidang ilmu pengetahuan maka mereka tidak
mungkin menjauhkan diri dari apa yang dituntut dari mereka mengenai penelitian untuk
pembangunan. Studi-studi sejarah menjadi relevan karena sekarang makin disadari bahwa
tidak bisa membuat rencana yang baik tanpa memperhatikan masa lampau.49

Dalam periode ini juga Sartono banyak mengemukakan dalam tulisannya berupa masalah
sosial dan budaya terutama yang berhubungan dengan pembangunan. Tema-tema yang
muncul seperti soal kemiskinan, tukang beca, modernisasi, migrasi, sistem gotong royong,
keresahan dan masalah-masalah pembangunan lainnya. Konsep-konsep baru dalam tulisan-
tulisannya sekitar pembangunan ini sulit disederhanakan, namun ada tema-tema yang selalu
ditekankan, serta arah tujuan mengenai sejarah beserta maknanya.

Kemudian muncul pula tema seperti soal kelembagaan, kepemimpina, partisipasi,


membangun dari bawah, pembangunan manusia, teknologi manusia.melihat karyanya yang
ia utarakan sepertinya dipengaruhi oleh konsep perubahan dan trasformasinya dari Max
Weber dan Emile Durkheim.

46
Sejarah 1, loc. cit.
47
Kompas, loc. cit.
48
Sejarah 1, loc. cit.
49
Ibid.

19
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Pandangan yang demikratis dalam pembangunan akan menghasilkan motivasi yang kuat
terhadap perkembangan intelektual. Adanya pergeseran perhatian dari sejarah sosial kepada
sejarah intelektual pada diri sartono, hal ini merupakan suatu kelainan yang semestinya
oleh karena keduanya saling melengkapi. Menurut Kuntowijoyo pemikiran Sartono ini
menjadi lebih berkembang, oleh karena dalam lembaga yang dipimpinnya, ia merekrut
tenaga-tenaga ahli penelitian yang ada dari berbagai cabang ilmu sosial dan mengingat
penelitian pedesaan sendiri merupakan kegiatan antar disiplin, maka pendekatan
interdisipliner inilah yang membuat sekali lagi perlasan pemikiran historiografi dan ilmu-
ilmu sosial Sartono mengalami suatu langkah kemajuan serta perkembangan baru.

Seperti diketahui dalam penulisan sejarah, apa yang sebelumnya adlah structural dan
multidimensional, sekarang menjadi interdisipliner. Dari perkembangan inilah tema-tema
baru darinya muncul. Diantaranya tulisan-tulisannya yang menggunakan tema-tema baru
ialah pendekatan Symbolic Interaction dalam telaahnya tentang para Bupati, sosiologi
pengetahuan tentang Serat Barot Sakender, Sosiologi Sastra, dalam Sosiologi Agama
tentang aliran kebathinan, studi tentang Personality dari elit politik. Adapun seluruh
rangkainnya dari periode ini bisa dibaca dalam Modern Indonesia : Tradition and
Trasformation 91984) yang memuat karya-karya sebelumnya dna periode mutahir50

Tahun berikutnya sejumlah jabatan menati Sartono Kartodirdjo. Dia dikukuhkan sebagai
guru besar luar biasa FSUI (1974-1981), Wakil Ketua Oral History Project, Soueteast
Asian Studies Program (1974-1985) dan Ketua Dewan Penerbitan Sumber-sumber Bahan
Sejarah Arsip Nasional. Di tengah-tengah setumpuk jabatan yang dilakoni akhirnya buku
Sejarah Nasional Indonesia yang terdiri dari enam jilid selesai dan sejumlah sejarawan
dengan Sartono Kartodirdjo didampingi Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Sjarif Thajeb
menyerahkan buku babon tersebut kepada Presiden Soeharto pada tanggal 18 Maret 1986.
Sartono Kartodirdjo dalam kata pengantarnya menyatakan bahwa penyusunan kembali
sejarah Indonesia harus memenuhi prasyarat yang dituntut oleh proses dekolonisasi.51
1. Sejarah Indoensia yang wajar adalah sejarah yang mengungkapkan “sejarah dari
dalam” dimana bangsa Indonesia sendiri memegang peran pokok.
2. Proses perekembangan masyarakat Indonesia hanya dapat diterangkan sejelas-
jelasnya hanya dengan menguraikan factor atau kekuatan yang mempengaruhinya,
baik ekonomis, sosial maupun politik atau kulturil.
3. Erat hubungan dengan kedua pokok diatas perlu ada pengungkapan aktivitasdari
pelbagai golongan masyarakat, tidak hanya para bangsawan atau ksatria, tetapi dari
kaum ulama dan petani serta golongan-golongan lainnya.
4. Untuk menyusun sejarah Indonesia sebagi suatu sitesa, dimana digambarkan proses
yang menunjukkan perkembangan kearah kesatuan geo-politik seperti yang kita
hadapi dewasa ini dengan prinsip integrasi perlu diperhunakan untuk mengukur
seberapa jauh integrasi itu dalam masa-masa tentu telah tercapai.

50
Kuntowijoyo
51
Kata Pengantar Sartono Kartodirdjo

20
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Ketika buku Sejarah Nasional Indonesia beredar di tengah masyarakat, mulai bermunculan
kritik-kritik yang diarahkan kepada buku babon tersebut. Ada yang buku itu kualitasnya
kurang memadai sebagai buku standar sebagai mana yang dinyatakan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan drr. Sjafrif Thayeb (sedangkang Sartono Kartodirdjo dalam kata pengantar
menyatakan bahwa buku tersebut jauh dari standar), terlalu menonjolkan peran militer.52

Sebenarnya dalam melakukan penulisan Sejarah Nasional Indonesia bersama-sama,


Sartono Kartodirdjo yang mengetahui, merasakan berbagai hambatan, antara lain gaya
penulisan berbeda-beda, sukar diharuskan menulis dalam suatu kerangka konseptual,
kurang disiplin dan kurang serasi wawasan sejarahnya dan sebagainya.53 Kenayataan-
kenyataan lain adalah ketika penulis yang bertanggung jawab atas jilid 5 mengenai Jaman
Kebangkitan Nasional dan Masa Akhir Hindia Belanda ( + 1900 – 1942) ada yang
dikeluarkan karena keterlibatan dalam politik praktis yang mengeritik kebijaksanaan
pemerintah Soeharto dan ada yang mnegundurkan diri sebelum buku tersebut dicetak
karena menganggap buku tersebut belum layak ditampilkan kepada sidang pembaca.
Bahkan sartono Kartodirdjo dan rekan-rekannya yang bertanggung jawab atas buku jilid 4
mengenai abad ke – 18 dan abad ke – 19 yang kemudian dikenal dengan kelompok Yogya
mengundurkan diri setelah buku tersebut dicetak (1975) karean kecewa melihat kualitas
yang kurang mencerminkan kerangka ilmiah yang disusunnya.54

Berbagai tulisan-tulisan yang dikerjakan Sartono Kartodirdjo yang bermutu tinggi rupanya
menarik perhatian-perhatian dari sebuah lembaga penelitian yang berada dinegeri Paman
Sam. Pada tahun 1977, Sartono Kartodirdjo telah terpilih sebagai penerima pertama – Harry
J. Benda (Hadiah J. Benda) dari Association for Asian Studies (Perhimpunan Studi Asia)
yang berpusat di Universitas Michigan, Amerika Serikat. Harry J. Benda Award ini
diadakan untuk mengenang almarhum Prof. Dr. Harry J. Benda, ilmuawan terkemuka yang
mneinggal pada tanggal 26 Oktober 1971 dalam usia 52 tahun. Ilmuwan terkemuka
kelahiran Cekoslavia ini terkenal sebagai ahli Yale menjadi terkenal di seluruh dunia
dengan kualitas sarjana yang telah dihasilkan.55

Sartono Kartodirdjo terpilih sebagai penerima pertama Harry J.Benda Award karena karya-
karya ilmiahnya mengenai gerakan protes di daerah pedesaan di Jawa di Zaman Kolonial.
Salah satu bukunya yang mendapat perhatian dari ilmuwan sosial adalah – Protest
Movement in Rural Java yang dipersembahkan – To the memory of Harry J. Benda, Whose
interest and friendship guide this enterprise serta disertasinya yang berjudul – The Peasants’
Revolt of Banten 1888 : Its Conditions, Course and Seguel : A Case Study of Social
Movement in Indoensia karya yang disebut tadinya yang menyebabkan Sartono Kartodirdjo
menjadi penerima hadiah dari Harry J. Benda Award dan dengan pengukuhan itu telah

52
Atmakusumah dkk, Tinjauan buku-buku babon Sejarah Nasional IndonesiaObjektivitas yang ideal, Prisma,
Agustus, no. 7, 1976. dan Soeroto, sejarah harus ditulis jujur, Dalam Dialog Mempelajari dan Belajar dari
Sejarah, Prisma, No. 8. Agustus 1980, hal. 60 – 63 dan NM Diah, Meluruskan Sejarah, Jakarta : Pustaka
Merdeka, 1987, 1987, hal. 1 – 20.
53
Jawaban tertulis dari Sartono Kartodirdjo. op. cit.
54
Wawancara Historia dengan R. Z. Leiressa pada tanggal 31 Mei 1988.
55
Kompas, 14 April 1977.

21
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

mengukuhkan kedudukan Sartono Kartodirdjo sebaai seorang ilmuwan caliber


internasional.

Buku tersebut menceritakan tentang gerakan sosial yang menggunkan masyarakat dan
pemerintah selama abad ke-19 dan 20 di Indonesia, menarik perhatian Sartono Kartodirdjo
untuk meneliti. Peristiwa tersebut kebanyakan terjadi di daerah pedesaan dan hamper setiap
tahun sehingga menjadi epedemis sifatnya.

Pergolakan sosial ini bisa dianggap merupakan suatu ledakan ketimbang ketegangan,
permusuhan atau pertentangan dalam masyarakat desa. Gerakan sosial yang didukung oleh
rakyat bertujuan mewujudkan ataupun sebaliknya penolak suatu perubahan dari susuan
masyarakat. Dalam usaha untuk melaksanakan tujuannya itu seringkali ditempuh jalan
radikal dan revolusioner.

Dalam menghadapi penetrasi Barat yang memiliki kekuatan disintehrasi/masyarakat


Indonesia mempunyai cara-cara untuk membuat reaksi sendiri karena didalam system
colonial yang tidak terdapat lembaga-lembaga untuk menyalurkan perasaan tidak puas,
maka jalan yang dapat ditempuh adalah dengan mengadakan gerakan sosial sebagai protes
sosial.

Secara luas gerakan-gerakan sosial dengan segala perkembangannya dapat dibagi menjadi
empat golongan, sesuai dengan landasan-landasan pokok yang mendorong timbulnya
gerakan tersebut. Golongan pertama adalah jenis yang pokok yang mendorong timbulnya
gerakan tersebut. Golongan pertama adalah jenis gerakan melawan keadaan atau peraturan
yang tidak adil. Dalam hal ini ideology yang pokok yang mendorong timbulnya gerakan itu
adalah timbulnya rasa dendam terhadap kondisi sosial ekonomi yang kurang memberi
tempat bagi kehidupan para pendukungnya. Golongan yang kedua, adalah jenis gerakan
Ratu Adil, atau Imam Mahdi sebagai juru selamat rakyat. Golongan ketiga adalah jenis
sekte keagamaan yang memuat kegiatan-kegiatan yang bertujuan agar rakyat, lebih rajin
menjalankan kewajiban agamanya. Sebagai bukti yang nyata dari gambaran itu maka sejak
tahun 1960 banyak didirikan masjid-masjid, pesantren disamping tarekat. Golongan
keempat Gerakan Sarekat Islam di daerah-daerah yang mencakup semua gerakan-gerakan
protes petani di daerah pedesaan yang dipengaruhi SI sebagai organisasi pergeraan nasional
yang modern.

Sartono Kartodirdjo yang pertama kali menerima penghargaan tersebut sebenarnya sangat
mengagumi Harry J. Benda yang merupakan pembimbing utamanya ketika sartono
Kartodirdjo sebagai seorang yang sangat disiplin serta tidak pernah marah, justru sering
memberikan kebebasan kepadanya untuk berbuat apa saja. Boleh meletakkan kaki diatas
meja, merokok, dan bahkan melempar korek di depan Harry J. Benda, misalnya. Tetapi
pada kegiatan yang berhubungan dengan perkuliahan, seperti pengumpulan makalah Harry
J. Benda sangat disiplin. Drop out bagi mahasiswa yang terlambat mengumpulkan makalah.
Kedisiplinan Harry J. Benda terbawa-bawa. Kalau Sartono Kartodirdjo mengajar selalu
datang 10 menit lebih awal dari waktu mengajar. Sebagai pengajar Sartono dikenal sebagai
orang memberi materi kuliah yang selalu baru sehingga akan menyulitkan bagi yang tak
22
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

membaca banyak dan ia juga sering meminjamkan buku karena itu mahasiswanya
menyukai Sartono. Ketika tahun 1970-an, Sartono Kartodirdjo dikenal sebagai algojo,
hantu yang cukup sulit meluluskan mahasiswa. Kalau ada 20 mahasiswa yang mengikuti
ujian, kalau yang lulus sekitar lima bisa dikatakan lumayan. Dasawarsa berikutnya diakui
Sartono Kartodirdjo bahwa dirinya telah menjadi lunak.56

Diakhir tahun 1981 sampai awal 1982 Sartono Kartodirdjo yang telah mengakhiri sebagai
guru besar luar biasa FSUI kemudian menjadi guru besar tamu pada Netherland Institute
for Advanced Study and Humanities and Sosial Science, di Wasernar, Negeri Belanda.
Selama Sartono Kartodirdjo di negeri Kincir Angin ia menulis serangkaian tulisan yang
dimuat pada harian Kompas yang diberi judul, “ Surat dari Wessenar.” Dalam Tulisannya
Sartono Kartodirdjo banyak menyinggung bidang kesejahteraan, terutama yang berkaitan
dengan masa pendudukan Belanda di Indonesia. Disana juga Sartono Kartodirdjo
menganggap bahwa buku-buku sejarah Indonesia yang tersedia masih kurang memuaskan.
Karya-karya sejarah Indonesia yang bermutu biasanya ditulis oleh sejarawan asing.
Merupakan suatu pertanda yang aneh kalau setiap berbicara mengenai sejarah Indonesia
selalu merujuk pada karya-karya asing. Hasil penelitian Sartono Kartodirdo ini kemudian
menjadi buku dengan judul – Pengantar Sejarah Indonesia Baru : 1500 – 1900 : Dari
Emporium sampai Iperium, Jilid I (Jakarta : Gramedia 1987) dan Pengantar sejarah
Indonesia Baru : 1500 – 1900 : Dari Kolonialisme ke Nasionalisme, Jilid II, (Jakarta :
Gramedia, 1989). Kedua buku tersebut mengobati Sartono Kartodirdjo atas rasa
kekecewaannya pada buku Sejarah Nasional Indonesia.57

Tulisan-tulisan Sartono yang pernah dilembaran sejarah pada tahun 1980-an kemudian
diterbitkan sebagai buku dengan judul – Pemikiran dan Perkembangan Historiografi
Indonesia – Suatau Alternatif ( Jakarta : Gramedia, 1982). Secara garis besar buku ini kita
bagi dalam empat bagian. Bagian pertama membahas perkembangan-perkembangan
historiografi Indonesia yang samapi tahun 1970-an. Bagian kedua membahas pokok-pokok
metodelogi tersebut, bagian keempat membahas persoalan penulisan Sejarah Nasional.
Buku yang ditulis Sartono ini menerima hadian pemenang Buku Bacaan dewasa bidang
sejarah untuk penulisan buku ilmu pengetahuan (1985).

Orang hanya mungkin mengenal karya master piecenya, The Peasant Revolt of Banten in
1888. sebuah karya yang memperkenalkan metodelogi baru yang berasal dari ilmu-ilmu
sosial. Karya ini yang menghantarkan Sartono Kartodirdjo melambung sebagai teoritis
terkemuka dan ahli metodelogi. Menulis Sejarah Nasional Indonesia dengan menggunakan
pendekatan multidimensional.

Tetapi sesungguhnya karya-karya ilmiah (yang kebanyakan bertemakan gerakan sosial)


yang telah dihasilkan dengan kualitas yang tetap dipelihara, jauh lebih besar dari yang bisa

56
Tempo, loc. cit.
57
Tulisan Sartono Kartodirdjo berhenti sampai periode 1942. Mengingat menulis buku sejarah semacam itu,
memerlukan banyak membaca. Hambatan mata Sartono Kartodirdjo yang tidak awas lagi dan tidak bisa
membaca lagi secara cepat. Kenyataan itu memaksa Sartono Kartodirdjo hanya sampai periode 1942.

23
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

diperkirakan karena itu tidak menghiraukan kalau Sartono Kartodirdjo mendapatkan


penghargaan sebagai ilmuwan sosial terbaik 1990 dari Presiden Soeharto.

Hambatan disekitar mata ini menyebabkan Sartono menulis. Ia hanya mampu menulis
coretan dengan pena, tak bisa lagi mengetik. Untuk membaca ia harus meletakkan buku
pada jarak kurang dari tujuh sentimeter dari kacamatanya yang dilengkapi pula alat
pembesar. Hanya buku tertentu yang Sartono baca untuk menghemat mata.

Untuk membantu mendapatkan informasi aktual dalam bidang ilmiah, setiap hari
penggemar Mozart dan bethoven ini mendengarkan BBC. Sartono yangtak pernah
menonton TV itu menyukai acara To Day dan Book Choice, mendengar alunan tembang
macapat, dari radio sambil membaca buku.58

Sartono dna murid-muridnya telah banyak melakukan tugasnya dalam penulisan Sejarah
Nasional dan juga mengenai masalah-masalah sosial. Cukup sudah dirinya sebagai
pendidik memberi gairahnya sebagai konsekwensi logis kepada muridnya baik secara
langsung ataupun ‘jarak jauh’, serta ada pemikiran-pemikirannya yang sejajar dengan para
sesama intelektual Indonesia lainnya.

Selayaknya pemikiran-pemikiran Sartono tentang historiografi sudha menjadi milik


bersama sejarawan Indonesia yang tidak pernah membaca dari buku-buku dan tulisannya.
Dan sudah banyak orang yang dirintisnya, tetap ada saja pekerjaan baru baginya seperti
penulisan sejarah ekonomi, sejarah lisan, biografi, sejarah demografi, dan sebagainya.
Menurutnya satu nilai sejarah yang perlu dikerjakan sebenarnya ini yaitu sejarawan
pelayaran.59

Kemampuan yang tertanam dalam dirinya guna melestarikan kebudayaan keahliannya,


berkaitan dengan peran sejarah sebagai profesionalisme, maka historiografi sebagai sejarah
intelektual sangat besar peranannya dalam pembentukan negara nasional serta
pembentukan peradaban nasional atau identitas nasional bangsa. Menurutnya, tanpa
mengenal sejarah, suatu bangsa akan kehilangan identitasnya.

Dengan tanggung jawab ilmiahnya dari kesadaran profesinya, dengan demikian rekontruksi
sejarah nasional dengan mengungkapkan realita pengalaman kolektif/bangsa Indonesia
sebagai solidaritas nasional dan juga meningkatkan kesadaran berbangsa pada dirinya.

Dalam rangka pembangunan bangsa sejarah sebagai bagian dari ilmu pengetahuan
seharusnya tidak hanya berguna untuk menyampaikan informasi fakta-fakta sejarah sebagai
pengetahuan yang nyata, tetap berfungsi sebagai suatu proses penyadaran terutama
mengenai kebenaran bangsa Indonesia dalam masa lampau dan masa lain di tengah-tengah
ziarahnya kemasa depan dengan menemukan dan merealisasikan diri, demikian hal ini
tertanam pada motivasi intelektual Sartono.

58
Tempo, No. 19 Tahun XIII, Juli, 1983.
59
Kuntowijoyo

24
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Kalau boleh bertamsil, Profesor yang memakai baju batik ibaratnya sumur bukanya pohon
pisang karena pisang hanya sekali berbuah sedangkan sumur tak pernah berhenti
mengalirkan air. Sumur tak pernah kering menyediakan air bagi timba-timba yang datang
menjemput.

Sartono yang waktu mudanya suka main bulu tangkis, sepak bola dan catur buka hanya
sumur tetapi juga timba selain menulis, memberi kuliah, seminar dan ceramah. Penggemar
boneka, sampul, kertas surat berbagai hotel, mata uang, prangko dan berbagai kertas
seminar, juga membaca, medengar siaran radio, mengumpulkan bahan, bahan tulisan.

Selain mengajar dan membimbing generasi baru Sejarawan Indonesia, guru yang
berkacamata minus 13 tak berhenti mengaliskan berbagai karya ilmiah dari tangannya. Kini
memang tengah menikmati masa pensiunnya setelah bergulat begitu lama dalam dunia
akademis. Walaupun demikian Sartono Kartodirdjo mengibaratkan dirinya masih berada
dalam tingkat tiga – tingkat Kamandatu. Sartono merasa belum mencapai tingkat
Arupadatu, belum mencapai tingkat realitas tinggi. Ini berarti masih banyak bisa
diharapkan lahir dari Sartono Kartodirdjo.60

Meskipun usianya telah senja dan rusaknya retina matanya sangat menghalangi
kemampuan pandangannya, Sartono tidak pernah bersedia menikmati kemewahan seorang
tua, beristirahat sambil menghitung hari. Pada pesta ulang tahun ke-80, Sartono Kartodirdjo
menerbitkan buku terbarunya Indonesia Historiogfi dan dilanjutkan bedah buku kumpulan
karangan Sartono Kartodirdjo 10 tahun terakhir. Sore hari diselenggarakan misa syukur dan
resepsi di Wisma kagama dengan pidato tunggal Prof. Dr. Ibrahim Alfian, promovendus
pertama bimbingan Sartono Kartodirdjo.

Secara resmi dia sudah pensiun sejak 1 Maret 1986. tetapi, pensiun sekedar iatilah
administratif, bahkan usia tua ternayata hanya catatan yang tidak menghalangi aktifitas
ilmiahnya. Sampai hari ini mahaguru ini tetap menulis, mengajar, membimbing, meneliti,
bahkan masih tampil di berbagai seminar.61

60
Surya, 17 Juli 1990.
61
Kompas, Lebih Jauh Dengan Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, 18 Februari 2001.

25
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

26
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com