Anda di halaman 1dari 17

A.

Pengertian Kecerdasan
Kecerdasan (intelligence/al-dzaka) menurut arti bahasa adalah
pemahaman,kecepatan dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan dalam
memahami sesuatu secara cepat dan sempurna. Begitu cepat penangkapannya itu
sehingga Ibnu Sina menyebut kecerdasan sebagai kekuatan intuitif.1
Menurut J.P. Chaplin kecerdasan memiliki tiga definisi, yaitu:2
1. Kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara
cepat dan efektif.
2. Kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, yang meliputi empat
unsur, seperti memahami, berpendapat, mengontrol dan mengeritik.
3. Kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar cepat sekali.

Piaget (1970) mendefinisikan kecerdasan sebagai pikiran atau tindakan adaptif. Dari
pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan
adaptasi dan berpikir abstrak dan menyelesaikan masalah secara cepat dan efektif.

Macam-Macam Kecerdasan
Pada mulanya kecerdasan hanya berkaitan dengan kemampuan struktural akal
dalam menangkap gejala sesuatu, sehingga kecerdasan hanya bersentuhan dengan aspek-
aspek kognitif. Namun pada perkembangan selanjutnya, disadari bahwa kehidupan
manusia bukan hanya semata-mata memenuhi struktur akal, melainkan terdapat struktur
kalbu yang perlu mendapat tempat tersendiri untuk menumbuhkan aspek-aspek afektif,
seperti kehidupan emosional, moral, spiritual, dan agama. Karena itu, jenis-jenis
kecerdasan pada diri seseorang sangat beragam seiring dengan kemampuan dan potensi
yang ada di dalam dirinya.3

1
Abdul Mujib & Jusuf muzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, cet. 1, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2002, h. 317.
2
Ibid., h. 318
3
Ibid.,h. 318-319

1
1. Kecerdasan Intelektual (Intelligence Quotient/IQ)
Intelligence Quotient adalah potensial seseorang untuk mempelajari
sesuatu dengan menggunakan alat-alat berfikir (dengan kata lain sangat
berhubungan dengan proses kognitif4) . Digunakan untuk menjelaskan sifat
pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti menalar, merencanakan,
memecahkan masalah, berfikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan
bahasa dan belajar. 5
Kecerdasan Ini terletak di Otak bagian Cortex (kulit otak). Kecerdasan ini
adalah sebuah kecerdasan yang memberikan seseorang kemampuan untuk :
berhitung, beranalogi, berimajinasi dan memiliki daya kreasi serta Inovasi
(pembaharuan). atau lebih tepatnya diungkapkan oleh para pakar psikologi
dengan “What I Think” (apa yang saya pikirkan).6 Sehingga dapat diukur dengan
menggunakan soal-soal yang bermuatan logika (logical question)

2. Kecerdasan Emosi (Emotional Quotient/EQ)


Peramalan tingkat keberhasilan ternyata tidak hanya dapat dilakukan
dengan mengukur kemampuan pemecahan masalah dan logika linear. Banyak
kasus yang menunjukkan bahwa mereka yang memiliki IQ tinggi ternyata gagal
dalam pekerjaan dan penghidupannya. Para ahli kemudian melihat, bahwa selain
proses berpikir yang linear yang menunjukkan kemampuan logika, terdapat
proses berpikir lain yang penting.7 Salah satunya yang disebut dengan kecerdasan
emosi.
Kecerdasan emosi semula diperkenalkan oleh Peter Salovey dar
universitas Harvard dan Jhon Mayer dari Universitas New Hampshire. Istilah itu

4
Abdul Mujib & Jusuf muzakir, h. 319.
5
sandy prayoga, http://www. sandyprayoga.com/kecerdasan-intelektual-intelligence-quotient
6
Ibid.
7
Aliah B. Purwakania hasan. Psikologi Perkembangan Islami, jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2006, h.154

2
kemudaian dipopulerkan oleh Daniel Goleman dalam karya monumentalnya
Emotional Intelligence.8
Kecerdasan emosional menurut Ary Ginanjar Agustian adalah seseorang yang
memiliki ketangungguhan, inisiatif, optomisme, dan kemampuan beradaptasi.[9]
Hal yang senada di kemukakan oleh Goleman bahwa kecerdasan emosional
adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi
(to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan
pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui
keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan
keterampilan sosial.9
Steiner (1997) menjelaskan kecerdasan emosi adalah suatu kemampuan
yang dapat mengerti emosi diri sendiri dan orang lain, serta mengetahui
bagaimana emosi diri sendiri terekspresikan untuk meningkatkan maksimal etis
sebagai kekuatan pribadi.
Senada dengan definisi tersebut, Mayer dan Solovey mengungkapkan kecerdasan
emosi sebagai kemampuan untuk memantau dan mengendalikan perasaan sendiri
dan orang lain, dan menggunakan perasaan-perasaan itu untuk memadu pikiran
dan tindakan.
Berbeda dengan pendapat sebelumnya, Patton (1998) mengemukakan
kecerdasan emosi sebagai kemampuan untuk mengetahui emosi secara efektif
guna mencapai tujuan, dan membangun hubungan yang produktif dan dapat
meraih keberhasilan. Sementara itu Bar-On (2000) menyebutkan bahwa
kecerdasan emosi adalah suatu rangkaian emosi, pengetahuan emosi dan
kemampuan-kemampuan yang mempengaruhi kemampuan keseluruhan individu
untuk mengatasi masalah tuntutan lingkungan secara efektif.
Dari beberapa definisi kecerdasan emosi tersebut ada kecenderungan arti
bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan mengenali perasaan sendiri dan

8
Abdul Mujib & Jusuf muzakir, h. 320.
9
http://www.canboyz.co.cc/2010/07/pengertian-akhlak-dan-kecerdasan.html

3
perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, kemampuan mengolah
emosi dengan baik pada diri sendiri dan orang lain.
Kecerdasan emosional merupakan hasil kerja otak kanan, sedangkan
kecerdasan intelektual merupakan hasil kerja otak kiri. Otak kanan memiliki cara
kerja yang acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik, sedangkan otak kiri memiliki
cara kerja yang logis, rasional, sekuensial dan linier.10

3. Kecerdasan Moral (Moral Quotient/MQ)


Kecerdasan moral atau yang biasa dikenal dengan MQ (bahasa Inggris:
moral quotient) adalah kemampuan seseorang untuk membedakan mana yang
benar dari mana yang salah berdasarkan keyakinan yang kuat akan etika dan
menerapkannya dalam tindakan.11
Kecerdasan ini dipopulerkan oleh Robert Coles, seorang psikiater anak
dan peneliti di Hardvard University Health Services dan profesor psikiatri serta
ilmu-ilmu kemanusiaan medis pada Harvard Medical School. Ia mengatakan
bahwa pertama kali ia mendengar istilah “kecerdasan moral” dari Austin
Mcintosh, seorang dokter anak. Coles kemudian tertarik untuk mengembangkan
jenis kecerdasan ini melalui penelitiannya yang dilakukan selama lebih dari 30
tahun.12
Ia mengemukakan bahwa kecerdasan moral seolah-olah bidang ketiga
dari kegiatan otak (setelah kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional)
yang berhubungan dengan kemampuan yang tumbuh perlahan-lahan untuk
merenungkan mana yang benar dan mana yang salah, dengan menggunakan
sumber emosional dan intelektual pikiran manusia.13

10
Abdul Mujib & Jusuf muzakir, h. 321.
11
http://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_Moral
12
Abdul Mujib & Jusuf muzakir, h. 322.
13
Ibid., h. 323.

4
Kecerdasan moral tidak dapat dicapai dengan cara menghafal atau
mengingat kaidah atau aturan yang dipelajari didalam kelas, melainkan
membutuhkan interaksi dengan lingkungan luar.14

4. Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient/SQ)


Kecerdasan spiritual (SQ) merupakan temuan terkini secara ilmiah yang
pertama kali digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall. Akan tetapi SQ
tersebut belum atau bahkan tidak menjangkau ketuhanan. Pembahasannya baru
sebatas tataran biologi atau psikologi semata.15
Menurut Munandir (2001 : 122) kecerdasan spritual tersusun dalam dua
kata yaitu “kecerdasan” dan “spiritual”. Kecerdasan adalah kemampuan
seseorang untuk memecahkan masalah yang dihadapinya, terutama masalah yang
menuntut kemampuan fikiran. Berbagai batasan-batasan yang dikemukakan oleh
para ahli didasarkan pada teorinya masing-masing. Selanjutnya Munandir
menyebutkan bahwa Intelegence dapat pula diartikan sebagai kemampuan yang
berhubungan dengan abstraksi-abstraksi, kemampuan mempelajari sesuatu,
kemampuan menangani situasi-situasi baru.16
Sementara itu Mimi Doe & Marsha Walch mengungkapkan bahwa
spiritual adalah dasar bagi tumbuhnya harga diri, nilai-nilai, moral, dan rasa
memiliki. Ia memberi arah dan arti bagi kehidupan kita tentang kepercayaan
mengenai adanya kekuatan non fisik yang lebih besar dari pada kekuatan diri
kita; Suatu kesadaran yang menghubungkan kita langsung dengan Tuhan, atau
apa pun yang kita namakan sebagai sumber keberadaan kita. Spiritual juga
berarti kejiwaan, rohani, batin, mental, moral.17
Jadi berdasarkan arti dari dua kata tersebut kerdasan spiritual dapat
diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menghadapi dan memecahkan

14
Ibid., h. 324.
15
Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ
Brdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, Jakarta: Agra, 2001, h. Xxxix.
16
http://id.wordpress.com/tag/pengertian-kecerdasan-spiritual/
17
Ibid.

5
masalah yang berhubungan dengan nilai, batin, dan kejiwaan. Kecerdasan ini
terutama berkaitan dengan abstraksi pada suatu hal di luar kekuatan manusia
yaitu kekuatan penggerak kehidupan dan semesta.18
Singkatnya definisi kecerdasan spiritual adalah kemampuan potensial
setiap manusia yang menjadikan ia dapat menyadari dan menentukan makna,
nilai, moral, serta cinta terhadap kekuatan yang lebih besar dan sesama makhluk
hidup, karena merasa sebagai bagian dari keseluruhan. Sehingga membuat
manusia dapat menempatkan diri dan hidup lebih positif dengan penuh
kebijaksanaan, kedamaian, dan kebahagiaan yang hakiki.19

5. Kecerdasan Qalbiah/Kecerdasan Beragama


Setiap kita meyakini betul bahwa hati menunjukkan sentral kualitas
aktivitas keseharian manusia. Hatilah yang mengendalikan segala tingkah laku
otak (termasuk seluruh tubuh). Otak memang bekerja mengirimkan pesan, tetapi
di dalam hatilah pesan tersebut diolah. Ketika hati seseorang jernih, ia akan
mampu menerjemahkan pesan tersebut dengan jelas, terang benderang, positif.
Sebaliknya, ketika hati sedang gelap gulita, maka proses penerjemahan pesan
menjadi keruh, emosional, dan merusak. Maka mereka yang hatinya kotor,
mengidap beragam penyakit hati, tindak tanduknya niscaya cenderung
meresahkan orang lain, bahkan membahayaka dirinya sendiri.20
Sudah tak asing lagi bagi kita sebuah hadis Nabi yang mengatakan:
“Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik,
seluruh tubuh menjadi baik. Tapi bila rusak, semua tubuh menjadi rusak pula.
Ingatlah bahwa ia adalah kalbu” (HR. Bukhari).
Dalam kaitan dengan ini, al-Ghazali mendefinisikan qalbu menjadi dua.
Pertama, qalbu jasmani yaitu segumpal daging yang terletak di dada sebelah kiri
atau disebut jantung (heart). Kedua, qalbu rohani, yaitu sesuatu yang bersifat

18
Ibid.
19
Ibid.
20
http://www.nuansaislam.com/index.php/kecerdasan-qalbiah/psikologi-islam

6
halus (lathifi), rabbani, dan ruhani. Qalbu jasmani berfungsi megatur peredaran
darah serta segala perangkat tubuh manusia. Sementara qalbu rohani berperan
sebagai pemandu dan pengendali struktur jiwa (nafs). Bila kedua fungsi qalbu ini
berjalan normal dan baik maka kehidupan manusia akan baik, dan berjalan sesuai
fitrahnya.21
Singkatnya, kecerdasan beragama adalah kecerdasan qalbu yang
menghubungkan dengan kualitas beragama dan ketuhanan. Kecerdasan ini
mengarahkan pada seseorang untuk berperilaku secara benar, yang puncaknya
menghasilkan ketaqwaan secara mendalam, denagn dilandasi oleh eman
kompetensi keimanan, lima kompetensi keislaman, dan multi kompetensi
ihksan.22
B. Bentuk-Bentuk Bentuk-bentuk kecerdasan intelektual, emosional, moral,
spiritual, dan agama dalam psikologi islam
Bentuk-bentuk kecerdasan qalbiah seperti kecerdasan intelektual, emosi,
moral, spiritual, dan beragama sulit dipisahkan, sebab semuanya merupakan perilaku
qalbu. Barangkali yang dapat membedakannya adalah niat dan motivasi yang
mendorong perilaku qalbiah, apakah perilaku itu berasal dari insaniah atau ilahiah.
Adapun bentuk-bentuk kecerdasan qalbiah yaitu :
Pertama, kecerdasan ihkbat, yaitu kondisi qalbu yang memiliki kerendahan
dan kelembutan hati, merasa tenang dan khusyu dihadapan Allah, dan tidak
menganiaya orang lain. Kecerdasan ikhbat dapat diartikan sebagai kondisi qalbu
yang kembali dan mengabdi denagn kerendahan hati kepada Allah, merasa tenang
jika berzikir kepada-Nya, tunduk dan dekat kepada-Nya. Kondisi ikhbat merupakan
dasar bagi terciptanya kondisi jiwa yang tenang, yakin dan percaya kepada Allah.
Kedua, kecerdasan zuhud. Secara harfiah zuhud berarti berpaling,
menganggap hina dan kecil, serta tidak merasa butuh terhadap sesuatu. Kecerdasan

21
Ibid.
22
http://www. psikologiuhuy.wordpress.com/2010/05/26/pandangan-islam-
mengenai-kecerdasan/

7
zuhud memiliki tiga tingkatan : pertama, zuhud dari hal-hal yang syubhat. Kedua,
zuhud dari penggunaan harta yang berlebihan. Dan ketiga, zuhud dalam zuhud.
Ketiga, kecerdasan wara’. Wara’ adalah mejaga diri dari perbuatan yang
tidak baik, yang dapat menurunkan derajat dan kewibawaan diri seseorang.
Keempat, kecerdasan dalam berharap baik (Raja’). Raja’ ialah berharap
terhadap sesuatu kebaikan terhadap Allah SWT dengan disertai usaha yang
sungguh-sungguh dan tawakkal. Hal itu tentunya berbeda dengan al-Tamanni
(angan-angan), sebab merupakan harapan dengan bermalas-malasan tanpa disertai
dengan usaha.
Raja’ dapat berupa harapan seseorang terhadap pahala setelah ia melakukan
ketaatan kepada Allah SWT, atau harapan ampunan darinya setelah ia bertobat dari
dosanya. Menurut Ibnu Qayim raja’ memiliki tiga tingkatan; pertama harapan yang
mendorong seseorang untuk berusaha dengan sungguh-sungguh, sehingga
melahirkan kenikmatan batin dan meninggalkan larangan. Kedua, harapan orang-
orang yang mengadakan latihan, agar ia dapat membersihkan hasratnya dan
terhindar dari kemudhorotan masa depan. Ketiga, harapan kalbu seseorang untuk
bertemu pada Tuhannya dan kehidupannya dimotivasi oleh kerinduan kepadanya.
Kelima, kecerdasan Ri’ayah. Ialah memelihara pengetahuan yang pernah
diperoleh dan mengaplikasikannya dengan perilaku nyata. Ilmu tanpa amal ibarat
pohon tanpa buah, ilustrasi ini menunjukkan bahwa pendekatan perolehan ilmu
bukan hanya melalui fakultas piker belaka, tapi juga harus menyertakan fakulta
dzikir. Gabungan keduanya akan melahirkan ulu al-bab yaitu orang yang beriman
dan beramal shaleh. Dan kecerdasan ini merupakan bentuk kecerdasan intelektual-
qalbiah.
Menurut Ibnu Qayyim, orang yang telah berilmu memiliki tiga
tingkat;pertama, Riwayah yaitu seseorang yang hanya sekedar menerima dan
meriwayatkan ilmu pengetahuan dari orang lain. Kedua, Dirayah, yaitu orang yang
berusaha memahami, menganalisa, mengkritisi, dan memikirkan maknanya. Ketiga,
Riayah, yaitu orang yang mengaplikasi apa yang diketahui melalui perbuatan nyata.

8
Keenam, kecerdasan Muqorrobah. Yaitu berarti kesadaran seseorang bahwa
Allah SWT mengetahui dan mengawasi apa yang dipikirkan, dirasakan, dan
diperbuatnya baik lahir maupun batin. Sehingga tidak sedetikpun waktu yang
terbuang untuk mengingat-Nya.
Ketujuh, kecerdasan Ikhlas. Yaitu kemurnian dan ketaatan yang ditujukan
kepada Allah semata, dengan cara membersihkan perbuatan baik lahir maupun batin.
Menurut al-Qurthubi dalam tafsirnya, ikhlas dikaitkan pada kondisi ibadah
seseorang yang terhindar dari perbuatan penyekutuan Tuhan dengan sesuatu.
Sedangkan menurut Qayyim, ikhlas dibagi kedalam tiga tingkat; pertama, tidak
menganggap bernilai lebih terhadap perbuatan yang dilakukan. Kedua, merasa malu
terhadap perbuatan yang telah dilakukan sambil berusaha sekuat tenaga untuk
memperbaikinya. Ketiga, berbuat dengan ikhlas melalui keihklasan dalam berbuat
yang didasarkan atas ilmu dan hukum-hukum-Nya.
Kedelapan, kecerdasan istiqomah. Ialah berarti melakukan suatu pekerjaan
baik melalui prinsip kontinuitas dan keabadian. Ibnu Qoyyim membagi istiqomah
dalam tiga tingkatan; Pertama, istiqomah dalam arti kesederhanaan dalam
bersungguh-sungguh sehingga tidak melampaui batas pengetahuan, ikhlas dan
sunnah. Kedua, Istiqomah keadaan, dengan menyaksikan hakikat sesuatu
berdasarkan ilmu dan cahaya kesadaran. Hakikat ini meliput hakikat Kauniyah dan
hakikat Diniyyah. Ketiga, istiqomah dengan cara tidak menganggap berarti
istiqomah yang pernah dilakukan, sehingga ia terus berusaha untuk beristiqomah
pada jalan yang benar.
Kesembilan, kecerdasan Tawakkal, yaitu menyerahkan diri sepenuh hati,
sehingga tiada beban psikologis yang dirasakan. Dalam hal ini tawakkal yang
dimaksud adalah mewakili atau menyerahkan semua urusan kepada Allah SWT,
sebagai Zat yang mampu menyelesaikan semua urusan.
Tawakkal menghindarkan seseorang dari sikap meterialis, dikatakan
demikian karena tawakkal menuntut seseorang untuk menggunakan harta benda
secukupnya, meskipun batas kecukupan itu relatif. Untuk memperoleh tawakkal

9
yang sesungguhnya, Ibnu Qayyim memberikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut;
memiliki keyakinan yang benar tentang kekuasaan dan kehendak Allah, mengetahui
hokum sebab akibat akan urusan yang dikerjakan, memperkuat qalbu dengan tauhid,
menyandarkan qalbu kepada Allah SWT dan merasa tenang disisinya, memiliki
persangkaan yang baik terhadap Allah SWT, menyerahkan Qolbu sepenuhnya
kepada Allah dan menghalau apa saja yang merntanngi, pasrah atau menyerahkan
segala urusan kepada-Nya.
Ibnu Qayyim lebih lankut mengemukakan tiga tingkatan tawakkal;
pertama,tawakkal yang disertai dengan permohonan dan menempuh sebab-
sebab memperoleh permohonan tersebut.
Kedua, tawakkal yang tidak disertai dengan permohonan sehingga ia
meninggalkan sebab-sebabnya.
Ketiga, tawakkal dengan mengetahui hakikat tawakkal, sehingga dapat
membebaskan dari penyakit dan menambah kepercayaan akan keagungan Tuhan.
Kesepuluh, Kecerdasan Sabar. Berarti menahan, maksudnya menahan diri
dari hal-hal yang dibenci dan menahan lisan agar tidak mengeluh. Sabar dalam
pandangan ibnu Qayyim terbagi atas dua macam pengertian; Pertama, sabar adalah
menahan diri dari segala yang tidak menyenangkan, Kedua sabar adalah ketabahan
yang disertai sikap berani, melawan dan menentang terhadap sesuatu yang
mnimpah.
Ibnu Qayyim selanjutnya mengemukakan tiga terminology sabar yang
mencerminkan stratifikasinya. Pertama, stratifikasi al-tashabbur, yaitu sabar
terhadap kesulitan dan tidak merasakan adanya kesedihan. Kedua, al- shabr yaitu
sikap yang tidak merasa terbebani terhadap adanya musibah dan kesulitan. Ketiga,
al-ishtibar yaitu menikmati musibah dengan perasaan gembira.
Lebih lanjut Ia menyebut tiga jenis sabar; petama, sabar bi-Allah yaitu sabar
yang lazim diperankan oleh kebanyakan orang, yang selalu mengharap pertolongan
dari-Nya. Kedua, sabar li-Allah yaitu sabar yang diperankan oleh al-muridin yang
motif sabarnya tidak lain karena Cinta kepada Allah. Ketiga sabar ma’a-Allah yaitu

10
sabar yang dilakukan oleh orang-orang yang menempuh jalan spiritual dengan cara
tunduk dan senang melaksanakan perintah-Nya.
Kesebelas, kecerdasan Ridho, adalah rela terhadap apa yang dimiliki dan
diberikan. Ridho merupakan kedudukan spiritual seseorang yang diusahakan setelah
ia melakukan tawakkal. Untuk mengukur benar tidaknya ridho seseorang, Ibnu
Qayyim memberikan batasan-batasan, tiga diantaranya adalah; Pertama, sebagai
pihak yang pasrah seorang hamba harus rela terhadap pilihan Allah SWT karena hal
itu mengandung hikmah. Kedua, hamba yakin bahwa takdir Allah SWT baik tentang
nikmat atau cobaan tidak akan berubah. Ketiga, sebagai hamba, seorang tidak boleh
benci atau marah terhadap pilihan atau pemberian Tuhannya.
Keduabelas, kecerdasan Syukur, adalah menampakkan nikmat Allah SWT.
Syukur dilakukan dengan tiga tahap; pertama, mengetahui nikmat, dengan cara
memasukkan dalam ingatan bahwa nikmat yang diberikan oleh pemberi telah
sampai pada penerima. Kedua, menerima nikmat dengan cara menampakkan pada
pemberi bahwa ia sangat butuh terhadap pemberian-Nya dan tidak minta lebih.
Ketiga, memuji pemberian-nya dengan cara membaca hamdalah.
Ibnu Qayyim membagi syukur kedalam tiga tingkatan; pertama, sukur
terhadap sesuatu yang dicintai. Kedua, syukur terhadap sesuatu yang dibenci.
Ketiga, syukur tanpa mengenal objek yang diterima.
C. Cara Menumbuh Kembangkan Kecerdasan
Sebelum berbicara beberapa cara untuk meningkatkan kecerdasan , hendaknya
diketahui dahulu struktur kecerdasan yang terdiri dari dua bagian.Bagian pertama ialah
informasi atau pengetahuan itu sendiri. Ini kita peroleh melalui pengalaman dan
pendidikan; Bagian kedua ialah mengolah informasi, terdiri dari penalaran, penilaian,
dan kreativitas. 23
Mudah dipahami, memang sebagian kecerdasan, kita warisi secara genetis.
Warisan semacam ini umumnya kita sebut sebagai bakat. Tetapi bagian terbesar dari
kecerdasan adalah hasil usaha. John Dewey mengatakan bahwa kecerdasan bukanlah

23
http://erikarianto.wordpress.com/2008/01/05/tips-meningkatkan-kecerdasan/

11
sesuatu yang kita miliki dan tak berubah selamanya, melainkan kecerdasan adalah suatu
proses pembentukan yang berkesinambungan, dan untuk mempertahankannya
diperlukan semacam kewaspadaan untuk mengamati kejadian kejadian, keterbukaan
untuk belajar, dan keberanian untuk menyesuaikan diri.
Jadi untuk meningkatkan kecerdasan, kita perlu menambah pengetahuan dan
berlatih memproses pengetahuan itu lewat kegiatan kreatif, kegiatan menalar, dan
kegiatan mengevaluasi atau menilai. 24
Dari penjelasan yang sederhana ini maka beberapa hal di bawah ini akan menolong
kita untuk meningkatkan kecerdasan kita:25
1. Mengadakan Evaluasi Diri
Meneliti kekuatan dan kelemahan diri sendiri, tepatnya menyusun
peringkat kecerdasan kita, yang mana dari yang tujuh tersebut paling kuat, kedua
paling kuat, dan seterusnya.
2. Menetapkan Cita-Cita Atau Sasaran Hidup
Cita-cita yang jelas akan membangkitkan semangat dan antusiasme. Cita-
cita yang memikat bagi diri sendiri mampu melahirkan daya juang. Semangat,
antusiasme, dan daya juang adalah tiga serangkai yang membuat kita produktif
belajar dengan demikian kecerdasan kita diasah. Dari sekian banyak cita-cita,
maka salah satunya ialah kita harus mencita-citakan menjadi orang cerdas dan
ingin dikenal orang sebagi orang cerdas.
3. Membangun Suatu Kebiasaaan Hidup Cerdas
Umpamanya membaca, berdiskusi, olah pikir, olah rasa, dan olah raga.
4. Membangun sikap keterbukaan-kritis
Sikap terbuka membuat kita mampu menerima ide-ide baru, ilmu-ilmu
baru, dan pengertian-pengertian baru. Tapi jangan terlalu terbuka supaya kita
masih mungkin membuat sintesa dari pertemuan sejumlah ide-ide yang
berlainan. Jadi kita juga harus kritis, artinya mampu mempertanyakan apa saja

24
Ibid.
25
Ibid.

12
yang memasuki alam pikiran kita. Tapi jangan terlalu kritis yang membuat kita
jadi tertutup, kaku, dan merasa benar sendiri. Yang pas adalah terbuka dan kritis.
5. Membangun suatu sikap belajar positif terhadap apapun yang kita alami
Pengalaman, kata Aldous Huxley, bukanlah peristiwa-peristiwa yang
menimpa kita, melainkan apa yang kita lakukan terhadap peristiwa-peristiwa itu.
Hanya dengan sikap belajar positif inilah kita dapat bertambah cerdas sesudah
mengalami suatu peristiwa, yaitu pengalaman kita jadikan sebagai guru.
Pengalaman, katanya, adalah guru terbaik.
6. Membangun sikap yang rendah hati
Air selalu mengalir ke tempat yang rendah, demikian pula hikmat dan
pengetahuan mengalir menuju hati yang rendah.
Selain dari itu terdapat cara-cara khusus dalam rangka meningkatkan IQ, EQ,
MQ, SQ, dan kecerdasan qalbiyah selain dari cara umum di atas yaitu:
Cara meningkatkan IQ
IQ sangat erat dengan kegiatan otak, sehingga kesehatan otak, kosentrasi dan
kebugaran sangat menunjang dalam peningkatan IQ. Menurut para ahli IQ - Intelligence
Quotient, dapat ditingkatkan dengan latihan sederhanadan mengubah kebiasaan-
kebiasaan tertentu, caranya sebagai berikut :26
1. Latihan pernapasan dalam
2. Jaga postur tubuh
3. Lakukan olahraga untuk membantu meningkatkan aliran darah ke otak.
4. Perhatikan makanan
Cara meningkatkan EQ
Ada beberapa kiat untuk meningkatkan kecerdasan Emosional diantaranya yaitu: 27
1. Mengenali emosi diri
2. Melepaskan emosi negatif
3. Mengelola emosi diri sendiri

26
http://www.shvoong.com/sort-popular/medicine-and-health/kiat-meningkatkan-
iq
27
http://belajarpsikologi.com/cara-meningkatkan-kecerdasan-emosi-eq/

13
4. Memotivasi diri sendiri
5. Mengenali emosi orang lain
6. Mengelola emosi orang lain
7. Memotivasi orang lain.
Cara meningkatkan MQ
Menurut Dr. Michael Borba terdapat 7 langkah utama untuk membangun
kecerdasan (intelejensi) moral seseorang, yakni :28
1. Mengembangkan sikap empati (turut merasakan apa yang dialami orang lain
secara mendalam)
2. Menumbuhkan hati nurani (teguran dalam diri seseorang ketika melakukan
kesalahan),
3. Menumbuhkan pengendalian diri, yakni dengan memprioritaskan mana yang
dianggap benar, selalu berupaya untuk menjadi motivator bagi dirinya sendiri,
dan berpikir matang sebelum mengambil keputusan.
4. Mengembangkan sikap menghormati orang lain (respect)
5. Memelihara kebaikan (menunjukkan kekhawatiran mengenai perasaan orang
lain)
6. Mengembangkan sikap toleransi
7. Mengembangkan keadilan, yakni dengan mengembangkan sikap terbuka dan
berperilaku secara seimbang, tanpa membeda-bedakan sesuatu.

Cara meningkatkan SQ
Secara umum kita dapat meningkatkan SQ dengan meningkatkan penggunaan
tersien psikologis kita, yaitu kecenderungan kita untuk bertanya mengapa untuk mencari
keterkaitan antara segala sesuatu untuk membawa ke permukaan asumsi-asumsi
mengenai makna dibalik atau di dalam sesuatu, menjadi lebih suka merenung, sedikit
menjangkau di luar diri kita, bertanggung jawab, lebih bersadar diri, lebih jujur terhadap
diri sendiri dan lebih pemberani.

28
http://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_Moral

14
Jelasnya ada 7 cara untuk meningkatkan SQ agar meraih inner peach:29
1. Menyadari di mana posisi saya saat ini.
2. Memiliki perasaan kuat bahwa saya ingin berubah.
3. Merefleksikan apa yang menjadi tujuan dan motif tersembunyi saya.
4. Temukan dan atasi rintangan yang menghadang.
5. Cari dan kenali kemungkinan-kemungkinan lain untuk bisa maju.
6. Meningkatkan diri pada tujuan yang telah ditetapkan.
7. Tetaplah terbuka pada tujuan-tujuan lain yang mungkin ada.

Cara meningkatkan Kecerdasan Qalbiah


Untuk meraih kecerdasan qalbiah memang bukanlah hal yang mudah, kita perlu
melatih diri, paling tidak ada tiga langkah yang harus kita lakukan:
1. Kenali diri sendiri. Seseorang yang mengenali dirinya, mengetahui kondisi
jiwanya serta riak gelombang keimanan di hatinya maka ia akan mengetahui
tindakan apa yang paling tepat yang harus ia lakukan.
2. Muhasabah, introspeksi diri. Lihat apa saja yang telah kita lakukan minimal
setiap malam sebelum tidur. Apakah sudah sesuai dengan tuntunan Islam atau
belum. Kalau belum maka bertaubatlah dan berusahalah untuk memperbaikinya.
3. Kecerdasan qalbiah akan hadir tatkala seseorang senantiasa merasakan
kehadiran Allah swt dalam setiap tindakan, kapan pun dan dimana pun.
Perilaku qalbiah akan timbul manakala kita selalu mengingat Allah
(dzikrullah). Karena Dia adalah sumber kebenaran tertinggi dan kepada-Nya kita
kembali. Mengingat Tuhan dapat dilakukan melalui sholat, berzikir, dan lain
sebagainya yang dapat mengisi hati manusia dengan sifat-sifat Tuhan. Firman
Allah dalam surah al-Ahzab [33] ayat 41: ”Hai orang-orang yang beriman,
berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya”.
Dalam ayat lain Allah juga berfirman: "Seseorang yang selalu mengingat Allah
hatinya akan merasa tenang” (QS. ar-Ra’d [13]:28).

29
http://ktp09003.wordpress.com/tag/sq/

15
Penutup

konsep kecerdasan, terbagi kedalam beberapa bagian diantaranya


adalah spiritual intelligence, intellectual, emosional, moral, dan Qalbiyah.
Dalam definisi kecerdasan ini saling melengkapi untuk mencapai manusia
yang paripurna. Di dalam islam seorang muslim dituntut untuk menjadi
seorang yang bertakwa, berpengetahuan luas, serta bijak dalam

16
berhubungan sosial baik itu hubungan horizontal kepada sang kuasa
maupun vertical kepada sesama manusia. Serta dapat mengendalikan
segala kehidupan dengan baik dan benar.

17