Anda di halaman 1dari 24

Proposal Penelitian Kuantitatif: Pengaruh

Emosional Inteligensi Terhadap Ahklak


Siswa Di SMPN 11 Kota Serang
A. Latar Belakang Masalah
Pola pembangunan SDM di Indonesia selama ini terlalu
mengedepankan IQ (kecerdasan intelektual) dan materialisme tetapi
mengabaikan EQ (kecerdasan emosi) terlebih SQ (Kecerdasan
spiritual). Pada umunya masyarakat Indonesia memang memandang
IQ paling utama, dan menganggap EQ sebagai pelengkap, sekedar
modal dasar tanpa perlu dikembangkan lebih baik lagi. Fenomena ini
yang sering tergambar dalam pola asuh dan arahan pendidikan yang
diberikan orang tua dan juga sekolah-sekolah negeri atau swasta pada
umumnya. Maka tidak heran kalau banyak remaja siswa Madrasah
Aliyah berprestasi tapi tidak sedikit kemudian mereka yang berprestasi
juga menjadi siswa yang urakan dan mengabaikan tanggungjawabnya
dalam menjalani proses pendidikan di sekolah, terjebak dalam
pergaulan bebas, narkoba dan atau budaya tawuran sering dilakukan.
Pengaruh obat-obatan terlarang, budaya kritis yang cenderung negatif
karena mengurangi kesopanan pada guru dan orang tua, selama ini
menjadi ciri adanya perubahan budaya pada remaja siswa di
Indonesia.

Selama empat dawarsa terakhir, setiap orang dari kepala sekolah


dasar hingga pengkotbah dan president telah berusaha sekuat tenaga
mengatasi krisis perkembangan moral/akhlak anak-anak, tetapi makin
lama keadaan justru semakin memburuk. Bila statistik untuk ini saja
sudah mengejutkan, apa lagi cerita dibalik data tersebut.

Sehingga pada tahun 2003, lahirlah Undang-Undang SIKDIKNAS


(Sistem Pendidikan Nasional) Nomor 20 Tahun 2003 merupakan awal
reformasi pendidikan yang mencoba menyeimbangkan pola
pembangunan SDM dengan mengedepankan SQ (Kecerdasan
spiritual), EQ (kecerdasan emosi) dan tidak mengabaikan IQ
(kecerdasan intelektual).[1]

Oleh karena itu, kecerdasan emosional harus slalu diasah. Penelitian-


penelitian telah menunjukkan bahwa keterampilan EQ yang sama
untuk membuat siswa yang bersemangat tinggi dalam belajar, atau
untuk disukai oleh teman-temannya di arena bermain, juga akan
membantunya dua puluh tahun kemudian ketika sudah masuk kedunia
kerja atau ketika sudah berkeluarga[2].

1
Daniel Golman mengangkat kasus yang sangat tragis berkenaan
dengan orang yang IQ-nya tinggi, tetapi sebaliknya EQ-nya sangat
rendah, yang merupakan tipe-tipe akademis murni. Jason H. adalah
seorang siswa SMU yang cerdas, ia memiliki cita-cita untuk memasuki
fakultas kedokteran Harvard. Akan tetapi, kata Golman, karena
Pologruto,guru guru fisikanya member nilai 80 kepada Jason dalam
satu tes, akibanya menjadi sangat fatal. Jason beranggapan bahwa
dengan nilai ia akan terhalang untuk memasuki fakultas kedokteran,
karena itu dengan sebuah pisau dapur ia tusuk guru fisikanya tersebut.
[3] Disinilah, seperti dikatakan oleh Golman,yang ‘pintar’ itu berubah
menjadi “bodoh,” karena apa yang telah di cita-citakan, hancur
berantakan karena ketidak mampuannya untuk mengendalikan diri
(nafsu) sendiri.

Banyak media-media masa, dan televisi yang memberitakan tentang


rendahnya kecerdasa emosional yang dimiliki remaja-remaja kita saat
ini, sehingga itu berimbas pada Akhlakul karimah mareka. Seperti yang
diberitakan di media net, Kompas.com:

“Lengan Riyan Sofyan (16), siswa kelas II SMK 1 Budi Utomo, nyaris
putus akibat disabet celurit oleh pelajar lain dalam tawuran
antarpelajar di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (10/9)
siang.”[4]

Berita yang lain, “Jakarta – Warga Kabupaten Lampung heboh.


Sebuah klip pemerkosaan beredar dari HP ke HP. Pelaku dan
korbannya masih duduk di bangku SMP. Sungguh miris. Dalam klip
video tersebut tergambar seorang anak perempuan, sebut saja
namanya Bunga, dikerubuti dua teman prianya. Yang mereka lakukan
sungguh tak pantas. Secara bersamaan, keduanya memperlakukan
Bunga dengan kasar dan tidak patut dilakukan anak SMP.”
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan detikcom.[5]

Statistik ini dan berita-berita dalam surat kabar mencerminkan


masalah-masalah yang paling gawat. Berkembangnya kesadaran akan
moral/akhlak dapat berpengaruh terhadap setiap aspek dalam
masyarakat kita: keharonisan dalam keluarga, kemampuan setiap
sekolah dalam mengajar, keamanan di jalan, dan terpadunya nialai-
nilai sosial.

Fenomena-fenomena tersebut adalah salah satu gambaran


kurangnnya pengetahuan tentang diri (EQ) tidak dimiliki peserta didik
kita, akibatnya terjadi “kekosongan” yang kemudian di isi oleh
sentiment, kemarahan, kesombangan dan sifat-sifat buruk lainnya,
yang menggerakkan untuk berbuat jahat. Dalam bahasa al-Qura’an

2
dikatakan, barang siapa menolak pengajaran Allah, maka syaitan akan
mendudukinya untuk melakukan tindakan-tindakan jahat.[6]

Mengetahui diri sendiri berarti mengetahui potensi-potensi dan


kemampuan yang dimiliki sendiri, mengetahui kelemahan-kelemahan
dan juga perasan dan emosi. Dengan mengetahui hal tersebut,
seseorang mestinya juga bisa mendayagunakan, mengekspresikan,
mengendalikan dan juga mengomunikasikan dengan pihak lain.[7]

Sekolah merupakan tempat bagaimana anak belajar berinteraksi


dengan orang lain. Sekolah harus membangun budaya yang
mengedepankan aspek moral, cinta kasih, kelembutan, nilai
demokratis, menghargai perbedaan, berlapang dada menerima
kenyataan, dan menjauhkan diri dari nilai-nilai kekerasan. Sekolah
harus meningkatkan kecerdasan emosional (psikologis) yang
berpengaruh terhadap faktor Akhlak (tingkah laku) siswa agar dapat
mencapai tingkat mutu pendidikan.

Semua permasalahan di atas merupakan sebuah realita yang mana


kecerdasan emosional itu sangat berpengaruh tehadap tingkah laku
(akhlak) seseorang. Pengaruh kecerdasan emosional bisa digambarkan
melalui kekuatan emosi seseorang yang bisa lebih kuat daripada
kekuatan logikanya. Itu karena, otak logika berfikir kalah cepat dengan
otak emosi. Yang dimaksud dengan otak emosi, adalah bagian otak
yang disebut amigdala, yaitu bagian yang berproses memberikan
respon berupa tindakan emosional.

Manakala terjadi sebuah peristiwa, semisal bapak guru matematika


killer mengumumkan ujian mendadak di suatu pagi, seperti apa respon
emosional yang ditampilkan siswa? Terkejut, wajah pucat, tangan
gemetar, darah seperti berhenti mengalir. Betapa kecewa seorang
anak karena semalam belum belajar. Rupanya amigdala, otak
emosional anak telah bereaksi dengan begitu cepat, sebelum otak
rasionalnya sempat berfikir. Nyontek! Itu satu-satunya jalan keluar,
pikir amigdala.

Ketika dia tidak memiliki kesempatan untuk nyontek karena gurunya


terus berdiri di depan kelas mengawasi dengan ketat. Ketegangan
yang mengusik pikirannya sudah mulai reda. Keinginan untuk
nyontekpun mulai goyah. Rupanya kini otak rasionalnya mulai bekerja.
Dalam beberapa situasi darurat, otak emosi merespon dalam bentuk
refleksi emosional. Jika pembelajaran emosi sebelumnya negatif, ia
juga akan mengeluarkan reflek negatif pula dan begitu sebaliknya. Itu
sebabnya, pendidikan emosi bagi amigdala harus diberikan sebaik
mungkin, dimana pembelajaran emosional disampaikan melalui
praktek keseharian dalam kehidupan siswa.

3
Permasalahan yang banyak terjadi di SMPN 11 Kota Serang adalah
permasalahan yang berhubungan dengan setting/beground keluarga
siswa, yang sangat mempengaruhi tingkah laku atau akhlak mereka di
sekolah. Anak-anak yang memiliki permasalahan keluarga (broken
home) sering mangalami stress yang berlebihan sehingga akan
membuat mereka tidak besemangat dalam mengikuti pelajaran, dan
berlaku acuh-tak acuh terhadap semua orang. Seperti yang terjadi
pada siswa x kelas III ini, dia sering tidak bersemangat dalam
mengikuti setiap pelajaran, tidak disiplin dan sering membolos,
sehingga membuat dia hampir di keluarkan dari sekolah. Namun
berkat bimbingan-bimbingan yang dilakukan oleh pihak sekolah
membuat dia berubah sampai dia bisa lulus. Inilah bagaimana sekolah
sangat berperan penting dalam membentuk prilaku seiap siswa
menjadi orang yang dewasa dan mandiri.

Maka dari itu, dalam kaitan pentingnya kecerdasan emosional pada diri
siswa sebagai salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam
pembentukan akhlaknya, maka dalam penyusunan skripsi ini penulis
tertarik untuk meneliti: ”Pengaruh Emosional Inteligence terhadap
Akhlak Siswa kelas III SMPN 11 Kota Serang”.

B. Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas,
maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut,
“Seberapa besar pengaruh emosional inteligence terhadap akhlak
siswa kelas II SMPN 11 Kota Serang?”

4
C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas tujuan penelitian dalam


penulisan ini adalah “Untuk menjelasakan seberapa besar pengaruh
emosional intelligence terhadap akhlak siswa kelas II SMPN 11 Kota
Serang.”

D. Hipotesisi Penelitian

Berdasarkan uraian teoritik di atas, maka hipotesis penelitian ini dapat


dirumuskan sebagai berikut :

1. Hipotesis alternatif (Ha) : “semakin tinggi kecerdasa emosional


siswa, maka semakin baik pula akhlak siswa”
2. Hipotesis nihil (Ho) : “semakin rendah kecerdasan emosional
siswa, maka semakin buruk pula kecerdasan emosional siswa”

E. Mamfaat Penelitian

Hasil penelitian ini mempunyai beberapa manfaat, antara lain ialah :

1. Bagi individu

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu memberikan informasi


khususnya kepada para orang tua, konselor sekolah dan guru dalam
upaya membimbing dan memotivasi siswa remaja untuk menggali
kecerdasan emosional yang dimilikinya.

1. Bagi lembaga

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi sekolah


dalam membimbing tingkah laku (akhlak) siswa. Sehingga akan
menjadi manusia yang mandiri dan dewasa.

1. Bagi ilmu pengetahuan

Menambah khazanah ilmu pengetahuan dan memperkaya hasil


penelitian yang telah ada dan dapat memberi gambaran mengenai
pengaruh kecerdasan emosional terhadap akhlak siswa.

F. Definisi Oprasional

5
1. Pengertian Pengaruh

Pengertian pengaruh menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah


daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut
membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang.[8]

Dalam penelitian ini pengaruh adalah yang menyebabkan sesuatu


terjadi, baik secara langsung maupun tidak. Berarti yang menjadi
penyebab emosional itu secara langsung atau tidak terhadap akhlak
siswa.

1. Pengertian Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional menurut Ary Ginanjar Agustian adalah


seseorang yang memiliki ketangungguhan, inisiatif, optomisme, dan
kemampuan beradaptasi.[9] Hal yang senada di kemukakan oleh
Goleman bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang
mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our
emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan
pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression)
melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri,
empati dan keterampilan sosial.

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional


adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola
emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain
(empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama)
dengan orang lain.

1. Pengertian Akhlak

Al-Ghozali mendefinisikan Akhlaq adalah suatu sifat yang tertanam


dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan
mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (lebih dulu).

Jadi pengertian Akhlak dalam penelitian ini adalah suatu kondisi atau
sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian hingga
dari situ timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan
dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran.
Apabila kondisi tadi timbul kelakuan yang baik dan terpuji menurut
pandangan syari’at dan akal pikiran, maka ia dinamakan budi pekerti
mulia (akhlakul karimah) dan sebaliknya pabila yang lahir kelakuan
yang buruk, maka disebutlah bukit pekerti yang tercela.

6
G. Identifikasi variabel penelitian

Berdasarkan landasan teori yang ada serta rumusan hipotesis


penelitian maka yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah :

1. Variabel bebas : Kecerdasan Emosional

2. Variabel terikat : Akhlak Siswa

Yang nanti akan dijabarkan kedalam beberapa indikator penelitian di


tunjukkan kedalam table 1.

Tabel 1.1

Kecerdasan Emosional 1. Mengenali emosi diri


2. Mengelola emosi
3. Memotivasi diri sendiri
4. Mengenali emosi orang lain

5. Membina hubungan. Daniel


Golman dalam T. Hermaya
(2007: 58-59)
Kahlak 1. Shiddiq
2. Istiqamah
3. Fathanah
4. Amanah

5. Tablihg . Toto Tasmara


(2001: 189-230)

H. Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi pada masalah psikologis siswa yang meliputi


kecerdasan emosionalnya dan pengaruhnya terhadap akhlak (tingkah
laku siswa). Berdasarkan pertimbangan peneliti dalam beberapa hal,
maka penelitian ini hanya dilaksanakan pada siswa kelas II MAN 03
Malang.

I. Kerangka Konsep

7
Jika dibuat dalam suatu kerangka konsep, maka akan terlihat
hubungan sebagai berikut:

J. Tinjauan Pustaka

1. Penelitian Terdahulu

Terdapat beberapa penelitian yang mengangkat tentang materi


Emosional Inteligensi di berbagai perguruan tinggi. Dari beberapa
penelitian tersebut terdapat berbagai macam fokus yang ingin
dianalisis, baik mengenai peranannya, hubungannya, dan urgensi
emosional inteligence. Dari beberapa penelitian tentang emosional
dapat desebutkan sebagai berikut.

Skripsi yang ditulis oleh Gatot Nurluqman pada tahun 1997 Universitas
Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang yang berjudul
”Urgensi Kecerdasan Emosional Sebagai Paradigma Baru Pendidikan
Anak Di Lingungan Keluarga.” Penelitian yang menggunakan
pendekatan kualitatif ini memaparkan tentang pentingya
mengembangkan dan menjadikan paradigma emosional inteligensi
sebagai konsep yang harus mendapat perhatian untuk dikembangkan
dalam lingkungan pendidikan formal maupun non formal, namun
penelitian ini juga tidak memisahkan antara urgensi aspek-aspek
kecerdasan yang lain termasuk didalamnya kecerdasan spritual
dengan memberikan nilai yang berlebihan terhadap aspek kecerdasan
emosional sebagai paradigma yang begitu penting dalam usaha
mendidik dan membesarkan anak.

Skripsi selanjutnya berjudul ” Hubungan antara Kecerdasan Emosional


dengan Prestasi Belajar pada Siswa Kelas II SMU Lab School Jakarta
Timur.” Skripsi ini ditulis oleh Amalia Sawitri Wahyuningsih tahun 2004
Universitas Persada Indonesia Y.A.I Jakarta. Dalam penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitaf yang mengukur tentang
hubungan antara emosional inteligensi dengan prestasi belajar siswa.

8
Analisi datanya dengan menggunakan Produc Momen dan nilai
koefisien reliabilitasnya menggunakan rumus Alpha Cronbach.

Skripsi dengan judul “Peranan Kecerdasan Emosional dalam


Meningkatkan Kualitas Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa
AMK Kosgoro I Lawang Malang” yang ditulis oleh Andik Bambang tahun
2004 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.
Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif ini dilatar
belakangi oleh pendapat para ahli yang mengatakan bahwa IQ hanya
mempunyai peran sekitar 20% dalam menentukan keberhasilan hidup.
Sedangkan 80% sisanya ditentukan oleh faktor-faktor lain.

Dari beberapa penelitian di atas, ada yang memiliki persamaan judul


maupun pembahasan yang akan dibahas dalam skripsi yang akan
peneliti tulis. Namun persamaan itu hanya terdapat pada satu segi saja
seperti pada Emosional Inteligensi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
belum ada satu skripsipun yang membahas tentang Pengaruh
Kecerdasan Emosional Inteligensi Terhadap Akhlak Siswa, yang akan
dilakukan penelitian pada siswa kelas II SMPN 11 Kota Serang.

2. Kecerdasan Emosional

a. Definisi Emosi

Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti
bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan
bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel
Goleman[10] emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang
khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian
kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah
dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap
rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi
gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga
secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang
berperilaku menangis.

Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran.


Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan

9
manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti
meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional
manusia.

Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi, antara


lain Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire
(hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love
(cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan
tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love
(cinta). Daniel Goleman mengemukakan beberapa macam emosi yang
tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu :

1) Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati

2) Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis,


mengasihi diri,

putus asa

3) Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan


takut sekali,

waspada, tidak tenang, ngeri

4) Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang,


terhibur, bangga

5) Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan,


kebaikan hati, rasa

dekat, bakti, hormat, kemesraan, kasih

6) Terkejut : terkesiap, terkejut

7) Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka

8) Malu : malu hati, kesal[11]

Dari beberapa pengertian tentang emosi diatas dapat disipulkan emosi


adalah keadaan atau dorongan untuk bertindak sehingga mendorong
individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap
stimulus yang ada.

b. Definisi kecerdasan emosional

10
Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun
1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John
Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-
kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan.

Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang


sering disebut EQ sebagai :

“himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan


kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan
pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan
informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.”[12]

Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak


bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan
lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat
mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional.

Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan


kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada
tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak
begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan.[13]

Sebuah model pelopor lain yentang kecerdasan emosional diajukan


oleh Bar-On pada tahun 1992 seorang ahli psikologi Israel, yang
mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai serangkaian
kemampuan pribadi, emosi dan sosial yang mempengaruhi
kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tututan dan
tekanan lingkungan.[14]

Menurut Gardner, kecerdasan pribadi terdiri dari :”kecerdasan antar


pribadi yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, apa yang
memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja, bagaimana bekerja
bahu membahu dengan kecerdasan. Sedangkan kecerdasan intra
pribadi adalah kemampuan yang korelatif, tetapi terarah ke dalam diri.
Kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk suatu model
diri sendiri yang teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk
menggunakan modal tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan
secara efektif.”[15]

David Coleman memberikan penjelasan melalui ciri-ciri orang yang


memilikin kecerdasan emosional adalah sebagai berikut:

1) Memiliki pengaruh: melakukan taktik persuasi secara efektif.

11
2) Mampu berkomuniasi: mengirimkan pesan secara jelas dan
meyakinkan.

3) Manajemen konflik: merundingkan dan menyelesaikan pendapat.

4) Kepemimpinan: menjadi pemandu dan member ilham.

5) Katalisator perubahan: mengawali, mendoroang, atau mengelola


perubahan. [16]

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional


adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola
emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain
(empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama)
dengan orang lain.

c. Faktor Kecerdasan Emosional

Goleman mengutip Salovey menempatkan menempatkan kecerdasan


pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional
yang dicetuskannya dan memperluas kemapuan tersebut menjadi lima
kemampuan utama, yaitu :

1) Mengenali Emosi Diri

Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk


mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini
merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli psikologi
menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood, yakni kesadaran
seseorang akan emosinya sendiri. Menurut Mayer kesadaran diri
adalah waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang
suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut
dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang
belum menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu
prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga individu
mudah menguasai emosi.[17]

2) Mengelola Emosi

Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani


perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehingga
tercapai keseimbangan dalam diri individu. Kemampuan ini mencakup
kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan,
kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang
ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-
perasaan yang menekan.[18]

12
3) Memotivasi Diri Sendiri

Presatasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu,


yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap
kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai
perasaan motivasi yang positif, yaitu antusianisme, gairah, optimis dan
keyakinan diri.

4) Mengenali Emosi Orang Lain

Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati.


Menurut Goleman kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain
atau peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu
yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-
sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang
dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut
pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih
mampu untuk mendengarkan orang lain.[19]

5) Membina Hubungan

Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu


keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan
keberhasilan antar pribadi.[20] Keterampilan dalam berkomunikasi
merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina
hubungan.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis mengambil komponen-


komponen utama dan prinsip-prinsip dasar dari kecerdasan emosional
sebagai faktor untuk mengembangkan instrumen kecerdasan
emosional

3. Definisi Akhlak

Definisi Akhlak dari segi etimologi adalah berasal dari kata Al-Khalqa
dan Al-khulqu yang bermakna satu, sebagaimana kata Asy Ayarabu
dan Asy Syurabu. Tetapi ketika harokat fathanya disukunkan pada
huruf Kha’ dalam kata al-Khalqu, maka ia bermakna suatu keadaan
dan gambaran yang bisa dirasakan oleh pandangan. Sedangkan
tatkala harakatdhammahnya dikhususkan pada kha’nya, maka ia
bermakan suatu kekuatan dan peragai yang bisa dirasakan oleh
pandangan hati.[21]

Sedangkan Al-Qhazali mengatakan “Bagaimana orang mengatakan si


A itu baik khalqunya dan Khuluqnya, berarti si A itu baik sifat lahirnya
dan sifat batinya”. Dalam pengertia sehari-hari, “akhlaq” umumnya

13
disamakan artinya dengan arti kata “budi pekerti” atau “kesusilaan”
atau “sopan santun” dalam bahasa Indonesia, dan tidak berbeda pula
dengan arti kata “moral” atau “etic” dalam bahasa ingris. Dalam
bahasa Yunani, untuk pengertian “akhlaq” ini dipakai kata “ethos”
atau “ethikos” yang kemudian menjadi “etika” dalam istilah bahasa
Indonesia.

Definisi “akhlak” dilihat dari segi terminologi di kemukakan oleh para


ahli. Diantaranya sebuah definisi dari Ibnu Maskawaih menyatakan,
bahwa yang disebut “akhlaq” adalah:

‫حال للنفس داعية لها الى افعا لها من غير فكروروية‬.

“Keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan


perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran (lebih dulu)”.

Dengan kalimat yang agak berbeda, Iman Al-Ghazali mengemukakan


definisi “akhlaq” sebagai berikut:

‫الخلق عبارةعن هئة في النفس راسخة عنها تصدرالفعال بسهولة ويسرمن غيرحاجةالى فكلروروية‬.

Akhlaq ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya
timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak
memerlukan pertimbangan pikiran (lebih dulu).[22]

Jadi pada hakekatnya Khulk (budi pekerti) atau akhlak adalah suatu
kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi
kepribadian hingga dari situ timbullah berbagai macam perbuatan
dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa
memerlukan pemikiran. Apabila kondisi tadi timbul kelakuan yang baik
dan terpuji menurut pandangan syari’at dan akal pikiran, maka ia
dinamakan budi pekerti mulia (akhlakul karimah) dan sebaliknya pabila
yang lahir kelakuan yang buruk, maka disebutlah bukit pekerti yang
tercela.

b. Dasar Akhlakul Karimah

Akhalakul Karimah, tingkah laku yang mulia atau perbuatan baik


adalah cerminan dari iman yang benar dan sempurna. Diantara para
ahli mnegatakan bahwa akhlak itu adala instinct (garizah) yang dibawa
manusia sejak lahir dan ada pula yang mengatakan bahwa akhlak itu
adalah hasil dari pendidikan dan latihan serta perjuangan. Pendapat ini
dapat memudahkan kita untuk mengkaji akhlak itu dalam
penempatannya pada kedudukannya yang seharusnya. Secara
sederhana bahwa akhlak itu merupakan hasil usaha dalam pendidikan
dan melatih sungguh-sungguh potensi yang dimiliki manusia yang

14
merupkan pembawaan sejak lahir. Jika pendidikan itu benar, yaitu
menuju pada kebaikan, maka lahirlah perbuatan baik dan jika
pendidikannya salah, maka lahirlah perbuatan yang tercela. Jadi
sebenarnya yang menjadi dasar akhlakul karimah adalah pendidikan
dan laihan untuk selalu berbuat baik.[23]

c. Faktor Akhlak

Toto Tasmara dalam bukunya Kecerdasa Ruhaniayah mengatagorikan


akhlakul karimah kedalam sifat-sifat Rasulullah, yang mana
Rasulullahlah yang memiliki akhlakul karimah yang paling sempurna.
Toto Tasmara menyingkatnya dengan kata SIFAT singkatan dari siddiq,
istiqomah, fathanah, amanah, dan tablihg. Tentu saja akhlak beliau
tidak dapat dibatasi pada lima kata tersebut karena beliu adalah
bentuk hidup dari aktualisasi Al-Qur’an yang sangat multidimensi dan
sangat luas batasannya.[24]

1) Siddiq

Siddiq atau Kejujuran adalah komponen ruhaniyah yang memantulkan


berbagai sikap terpuji (honorable, respectable, creditable, maqamam
mahmudah). Mereka berani menyatakan sikap secra transparan,
terbebas dari segala kepalsuan dan penipuan (free from fraud or
deception). Hatinya terbuka dan selalu bertindak lurus (openmainded
and straight forwardness). Sehingga mereka memiliki keberanian
moral yang sangat kuat. Seorang sufi terkenal, yaitu al-Qusyairi,
mengatakan bahwa siddiq adalah orang yang benar dalam semua
kata, perbuatan, dan keadaan batinnya.[25]

Ada beberapa cirri-ciri orang disebut siddiq adalah sebagai berikut:


jujur pada diri sendiri, jujur terhadap orang lain, jujur terhadap allah,
menyebarkan salam. Sedangkan lawan dari siddiq adalah kidzib yang
berarti berbohong atau berdusta. Islam mengajarkan kita untuk
menghindari sifat bohong karena akan merusak hubungan sosial dan
merugikan diri sendiri.

2) Istiqamah

Istiqamah diterjemahkan sebagai bentuk kualitas batin yang


malahirkan sikap konsisten (taat azas) dan teguh pendirian untuk
menegakkan dan membentuk sesuatu menuju pada kesempurnaan
atau kondisi yang lebih baik, sebagaimana kata taqwim menuju pula
pada bentuk yang sempurna (qiwam),

15
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya . (at-Tiin:4)

Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Ada tiga derajat peringat istiqamah, yaitu
menegakkan atau membentuk sesuatu (taqwim) menyehatkan dan
meluruskan (isqamah), dan berlaku lurus (istiqamah). Taqwim
menyangkut disiplin jiwa, isqamah berkaitan dengan penyempurnaan,
dan istiqamah berhubungan dengan tindakan mendekatkan diri
kepada Allah.”[26] Adapun lawan kata dari istiqhomah tidak teguh
pendirian dan tidak konsisten terhadap apa yang dia ucapakan atau
perbuat.

Sedangkan ciri-ciri orang yang disebut sebagai orang yang istiqomah


adalah mereka mempunyai tujuan, mereka adalah orang yang kreatif,
mereka sangat menghargai waktu, mereka bersikap sabar.

3) Fathanah

Pada umunya, fathanah diatikan sebagai kecerdasan, kemahiran, atau


penguasaan terhadap bidang tertentu padahal makan fathanah
merupakan kecerdasan yang mencakup kecerdasan intelektual,
emosional, dan terutama spiritual.

Seorang yang memiliki sifat fathah, tidak saja menguasai bidangnya,


tetapi memiliki dimensi ruhani yang kuat. Keputusan-keputusannya
menunjukkan warna kemahiran professional yang didasarkan pada
sikap moral atau akhlak yang luhur. Seorang yang fathanah itu tidak
saja cerdas, tetapi juga memiliki kebijaksanaan atau kearifan dalam
berfikir dan bertindak. Sedangkan lawannya adalah bodoh, yakni
melakukan perbuatan bodoh (jahil).

Cir-ciri orang fathanah adalah Diberi Hikmah Dan Ilmu, mereka


berdisiplin dan proaktif, mampu memilih yang terbaik.

4) Amanah

amanah merupakan dasar dari tanggung jawab, kepercayaan, dan


kehormatan serta prinsip-prinsip yang melekat pada mereka yang
cerdas secara ruhani. Di dalam nilai diri yang amanah itu ada
beberapa nilai yang melekat yaitu: 1) Rasa tanggung jawab (takwa), 2)
kecanduan kepentingan dan sense of urgency, 3) Al-Amin, krideble,
ingin dipercaya dan mempercayai, 4) Hormat dan di hormati
(honorable).[27] Lawan dari kata amanah adalah berkhianat atau tidak
bertanggung jawab terhadap apa yang telah menjadi tanggungannya.

16
5) Tablihg

Kata tablihg di dalam al-Qur’an disebut dalam bentuk kata kerja (fi’il)
sedikitnya ada sepuluh kali (al-Maidah:67, al-Azhab: 62 68, al-Ahqaaf:
23, al-Jin: 28, al-A’raaf: 79, 92, Huud: 57) yang merupakan bentukan
dari akar kata balagha-yublahgu-tabliighan.artinya proses
menyampaika sesuatu untuk mempengaruhi orang lain melalui
lambing-lambang yang berarti (the process of transmitting the
meaningful symbol).

Nilai tablihg telah memberikan muatan yang mencakup aspek


kemampuan berkomunikasi (communication skill), kepemimpinan,
pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya insani dan
kemampuan diri untuk mengelola sesuatu.

17
K. Metode Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMPN 11 Kota Serang, Tepatnya di


Jl Ki Ajurum No.50 , letak geagrafis lokasi sekolah berada pada
kawasan dekat dengan pemukiman masyarakat sehingga itu tidak
menutup kemungkinan para siswa akan terpengaruh terhadap
lingkungan sekiatar. Seperti membolos sekolah karena jalan-jalan ke
mal. Oleh karena itu diperlukan kajian pengaruh kecerdasan emosional
inteligensi terhadap akhlak siswa kelas II SMPN 11 Kota Serang.

2. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan penelitan ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena


data yang kami ambil dalam bentuk angka akan diproses secara
statistik.[28] Dan dideskripsikan secara deduksi yang berangkat dari
teori-teori umum, lalu dengan observasi untuk menguji validitas
keberlakuan teori tersebut ditariklah kesimpulan. Kemudian di
jabarkan secara deskriptif, karena hasilnya akan kami arahkan untuk
mendiskripsikan data yang diperoleh dan untuk menjawab rumusan.

Sedangkan jenis penelitiannya berdasarkan tempat adalah penelitian


lapangan (field research) dan studi pustaka. Studi pustaka digunakan
untuk melakukan pengumpulan data dari berbagai literatur yang
berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam skripsi ini. Penelitian
lapangan (field research) digunakan pengumpulan data dari objek
penelitian, baik berupa data kuantitatif maupun data kualitatif yang
diperlukan, dan jenis penelitian berdasarkan tekniknya adalah Survey
Research (Penelitian Survei), karena tidak melakukan perubahan (tidak
ada perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti.

3. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan Correlation Studies, rancangan ini sangat


sederhana, dua sekor dikumpulkan, satu set untuk satu variabel yang
dicakup dalam penelitian dihubungkan dengan variabel lainnya.
Koefisien relasi menunjukkan kekuatan hubungan antar varibel.[29]

4. Data dan Sumber Data

Sumber data dalam penelitian kuantitatif ini adalah berupa data


primer dan sekunder. Data primer diambil berdasarkan hasil
pengumpulan data melalui angket yang dibagikan kepada responden

18
secara langsung, serta melalui observasi langsung terhadap objek.
Sedangkan data sekunder didapatkan melalui laporan prestasi belajar
siswa yang dapat berupa buku raport.

5. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel

Menurut Burhan Bungin populasi penelitian merupakan keseluruhan


(universum) dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan,
tumbuh-tumbuhan, udara, segala, nilai, paristiwa, sikap hidup, dan
sebagainya, sehingga objek-obejk ini dapat menjadi sumber data
penelitian.[30] Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas
II SMPN 11 Kota Serang yang berusia 12-15 tahun.

Jumlah seluruh siswa kelas II SMPN 11 Kota Serang selurunya adalah


252 siswa. Karena terlalu banyaknya populasi maka perlu diadakan
teknik pengambilan sampel dengan menggunkan cara penarikan
sample dari populasi. Sampel yang digunakan adalah sampling random
(random sampling), dengan penentuan besar sampelnya berdasarkan
pendapat Suharsimi Arikunto yang mengatakan bahwa jika jumlah
populasinya lebih dari 100 maka dapat diambil 15% dari populasi.[31]

6. Instrumen Penelitian

Suatu alat ukur dapat dinyatakan sebagai alat ukur yang baik dan
mampu memberikan informasi yang jelas dan akurat apabila telah
memenuhi beberapa kriteria yang telah ditentukan oleh para ahli
psikometri, yaitu kriteria valid dan reliabel. Oleh karena itu agar
kesimpulan tidak keliru dan tidak memberikan gambaran yang jauh
berbeda dari keadaan yang sebenarnya diperlukan uji validitas dan
reliabilitas dari alat ukur yang digunakan dalam penelitian.

a. Uji Validitas

Validitas lebih berupa derajat kedekatan kepada kebenaran dan bukan


masalah sama sekali banar atau sekali salah. Validitas adalah suatu
proses yang tak perah berakhir. Suatu cara pengukuran yang telah
lama sekali diyakini akan validitasnya, suatu ketika ditemukan bukti-
bukti baru aka kesalahan atau kekurangannya, sehingga dilakukan
penyempurnaan atau peurbahan prosedur dan alat ukur tersebut.[32]

Uji validitas item yaitu pengujian terhadap kualitas item-itemnya yang


bertujuan untuk memilih item-item yang benar-benar telah selaras dan
sesuai dengan faktor yang ingin diselidiki. Cara perhitungan uji coba
validitas item yaitu dengan cara mengorelasikan skor tiap item dengan
skor total item.

19
Dalam penelitian ini digunakan pendekatan validitas konstruk
(construct validity) yaitu validitas yang mengacu pada konsistensi dari
semua komponen kerangka konsep. Untuk menguji tingkat validitas
instrumen penelitiannya, maka digunakan rumus teknik Regresi liner
sederhana.

Bagian dari uji validitas yang dipakai dalam penelitian ini adalah
melalui analisis butir-butir, dimana untuk menguji setiap butir skor
total valid tidaknya suatu item dapat diketahui dengan
membandingkan antara angka regresi linier sederhana (r Hitung) pada
level signifikansi 0,05 nilai kritisnya. Instrumen penelitian ini dikatakan
valid dimana nilai korelasinya lebih besar dari 0,3.

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah menunjuk pada tingkat keterdalaman sesuatu. Data


yang reliabel adalah data yang dihasilkan dapat dipercaya dan
diandalkan. Apabila datanya memang banar-benar sesuai dengan
kenyataannya, maka berapa kali pun diambil, tetap akan sama.[33]

Uji realibilitas adalah dengan menguji skor antar item dengan tingkat
signifikansi 0,05 sehingga apabila angka korelasi yang diperoleh lebih
besar dari nilai kritis, berarti item tersebut dikatakan reliabel. Uji Alpha
Cronbach digunakan untuk menguji realibilitas instrumen ini.

7. Metode Pengumpulan Data

a. Observasi

Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah


melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai
instrument. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian
atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi

Dari penelitian berpengalaman diperoleh suatu petunjuk bahwa


mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat, tetapi juga
mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian ke dalam
suatu skala bertingkat. Misalnya kita memperhatikan reaksi penonton
televisi, bukan hanya mencatat bagaimana reaksi itu, dan berapa kali
muncul, tetapi juga menilai reaksi tersebut sangat, kurang, atau tidak
sesuai dengan yang kita kehendaki.

b. Dokumentasi

20
Metode dokumentasi dilakukan dengan cara mencari data tentang hal-
hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar,
majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.

Lexi J. Moleong mendefinisikan dokumen sebagai setiap bahan tertulis


ataupun film, yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan
aseorang penyidik.[35]

Menurut Guba dan Lincoln, (1981) Penggunaan metode dokumen


dalam penelitian ini karena alasan sebagai berikut.[36]

1) Merupakan sumber yang stabil, kaya, dan mendorong.

2) Berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian.

3) Berguna dan sesuai dengan penelitian kualitatif karena sifatnya


yang alamiah, sesuai dengan konteks, lahir dan berada dalam konteks.

4) Tidak reaktif sehingga tidak sukar ditemukan dengan teknik


kajian isi.

5) Dokumentasi harus dicari dan ditemukan.

6) Hasil pengkajian isi akan membuka kesempatan untuk lebih


memperluas tubuh pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki.

c. Angket

Metode angket merupakan serangkaian atau daftar pertanyaan yang


disusun secara sistematis, kemudian dikirim untuk diisi oleh
responden. Setelah diisi, angket dikirim kembali atau dikembalikan
kepeneliti.[37]

Bentuk angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat


langsung dan tertutup. Artinya angket yang merupakan daftar
pertyanyan diberikan langsung kepada mahasiswa sebagai subyek
penelitian, dan dakam mengisi angket, mehasiswa diharuskan memilih
karena jawaban telah disediakan.

8. Analisis Data

Secara garis besar, pekerjaan analisis data meliputi tiga tahap utama:

1. Persiapan: mengecek nama, isian, dan macam data.


2. Tabulasi : memberi skor, memberi kode, mengubah jenis data,
dan coding dalam coding form.

21
3. Penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian:
4. Penelitian deskriptif : presentase dan komparasi dengan criteria
yang telah ditentukan
5. Penelitian komparasi: dengan berbagai teknik korelasi sesuai
dengan jenis data.
6. Penelitian eksperimen: diuji hasilnya dengan t-test.

Namun oleh karena data yang dikumpulkan baru data mentah, maka
sebelum di analisis, data mentah tersebut diolah lebih dahulu sebelum
dianalisis dengan tehnik analisis tertentu. Dan secara umum teknik
analisa data untuk kuantitatif menggunakan metode statistic, dan agar
mudah biasanya di bantu oleh program komputer, seperti SPSS, SPS,
Minitab, MS exel, dll. Terdapat dua macam statistik yang digunakan
untuk analisa data dalam penelitian, yaitu: statistik deskriptif dan
statistik inferensial. Statistik inferensial meliputi statistik parametris
dan statistik non parametris. Dalam penelitian ini, menggunakan
statistik inferensia dan juga deskriptif, karena kedua- duanya sangat
membantu dalam penelitian ini.

Bila persyaratan penggunaan teknik analisis statistik benar, maka


hasilnya dapat digunakan untuk menerima atau menolak hipotesis
atau untuk menolak atau menerima teori yang diujinya. Sebagimana
diketahui bahwa tujuan akhir penelitian kuantitatif ialah untuk menguji
teori. Oleh karena itu, lengkapnya data yang dikumpulkan dari uji
validitas dan uji reliabilitas merupakan criteria mutu hasil penelitian.
Sebab, data yang tidak valid dan tidak reliable berarti data itu salah
dan tidak dapat dipercaya, sehingga kalau data itu dianalisis, hasilnya
juga akan salah.

Berdasarkan skala pengukurannya, jenis data yang digunakan dalam


penelitian ini adalah data interval dan ordinal, data interval yaitu data
yang selain mengandung unsur penamaan urutan juga memiliki sifat
interval (selangnya bermakna). Disamping itu data ini memiliki ciri
angka nolnya tidak mutlak. Skala interval memiliki ciri matematis
additivity, artinya kita dapat menambah atau mengurangi. Sedangkan
data ordinal adalah digunakan untuk mengurutkan objek dari yang
paling rendah sampai yang paling tinggi atau sebaliknya. Ukuran ini
tidak memberikan nilai absolut terhadap objek, tetapi hanya
memberikan peringkat saja. Jika kita memiliki sebuah set objek yang
dinomori, dari 1 sampai n, misalnya peringkat 1, 2, 3, 4, 5 dan
seterusnya, bila dinyatakan dalam skala, maka jarak antara data yang
satu dengan lainnya tidak sama. Ia akan memiliki urutan mulai dari
yang paling tinggi sampai paling rendah. Atau paling baik sampai ke
yang paling buruk. Misalnya dalam skala Likert.

22
Dalam penelitian ini, akan digunakan analisis data dengan metode
statistik parametik. Karena statistik parametik dapat dilakukan jika
sample yang akan dipakai berasal dari populasi yang berdistribusi
normal. Jumlah data yang digunakan dalam analisis ini minimal 30
sampel dan menggunakan yang berupa data interval dan ordinal. Ini
sangat berkaitan dengan data Interval yang telah digunakan
sebelumnya.

Dalam penelitian ini, menggunakan analisis korelasi. Karena digunakan


untuk menguji hubungan antara 2 variabel atau lebih, apakah kedua
variabel tersebut memang mempunyai hubungan yang signifikan,
bagaimana arah hubungan dan seberapa kuat hubungan tersebut.

Untuk menguji penerimaan atau penolakan Ho telah ditentukan untuk


menggunakan 2 arah (two sided test). Tahap dari penggunaan rumus
korelasi diatas adalah:

a) Menggunakan rumus korelasi untuk mendapatkan r hitung

b) Menentukan tingkat signifikansi (level of significance) yaitu


sebesar 5 %.

c) Melihat nilai kritis menurut table nilai t dengan tingkat signifikansi


sebesar 5 %.

d) Mengambil kesimpulan apakah menerima atau menolak Ho dengan


membandingkan antara nilai r hitung dan r tabel.

L. Sistematika Penulisan Pembahasan

Agar memperoleh gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh


mengenai pembahasan skripsi ini. Maka secara global penulis merinci
dalam sistematika pembahasan ini sebagai berikut.

Bab I, merupakan kerangka dasar yang berisi latar belakang,


rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, ruang
lingkup penelitian, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab II, berisi tentang kajian pustaka, dengan bab ini dapat dijadikan
dasar untuk penyajian dan analisis data yang ada relevansinya dengan
rumusan masalah.

Bab III, berisi tentang metode-metode yang akan digunakan dalam


penelitian, diantaranya: pendekatan dan jenis penelitia, data dan
sumber data, populasi dan sampel, intrumen, pengumpulan data, dan
análisis data.

23
Bab IV, berisi tentang laporan hasil penelitian terdiri atas latar
belakang obyek, penyajian dan analisis data.

Bab V, berisi tentang paparan data dan hasil dari penelitian yang telah
dilaksanakan.

Bab VI, penutup dari seluruh rangkaian pembahasan yang berisi


tentang kesimpulan dan saran-saran.

24