Anda di halaman 1dari 15

c 

Jujur jika diartikan secara baku adalah "mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi
yang sesuai kenyataan dan kebenaran". Dalam praktek dan penerapannya, secara hukum
tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang
dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Bila berpatokan pada
arti kata yang baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran
dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah
dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lainnya.


  

Saya sering mendengar orang tua menasehati anak supaya harus menjadi orang yang jujur.
Dalam mendidik dan memotivasi supaya seorang anak menjadi orang yang jujur, kerap kali
dikemukakan bahwa menjadi orang jujur itu sangat baik, akan dipercaya orang, akan
disayang orang tua, dan bahkan mungkin sering dikatakan bahwa kalau jujur akan
disayang/dikasihi oleh Tuhan. Tapi setelah mencoba merenungkan dan menyelami
permasalahan kejujuran ini, saya masih merasa tidak mengerti: "Kenapa jadi orang harus
jujur?"

Umumnya jawaban yang saya dapat adalah bahwa kejujuran adalah hal yang sangat baik dan
positif, dan kadang saya juga mendapat jawaban bahwa "Pokoknya jadi orang harus jujur!"

Jawaban-jawaban tersebut sampai saat ini memang sudah saya anggap "benar", tapi saya
masih selalu tergelitik untuk terus mempertanyakan: "Kenapa orang harus jujur? Apakah baik
dan positifnya? Lalu bagaimana juga jika dikaitkan dengan proses Siu Tao ( ) kita?"

     


Selain pertanyaan - pertanyaan diatas, selanjutnya dalam benak saya timbul pertanyaan: "
Bagaimanakah kejujuran itu dapat dipraktekkan dalam sehari-hari, serta bagaimanakah sikap
kita sebagai (dibaca: agar dapat menjadi) seorang Tao Yu ( ) yang jujur?"

R Apakah kita sama sekali tidak boleh berbohong?


R Dan mungkinkah kita selalu jujur dalam kehidupan sehari-hari ini?
R Ataukah masih ada toleransi bagi kita untuk berbohong dalam hal-hal tertentu atau
demi kepentingan tertentu?

Nah, sekali lagi saya mengajak para pembaca untuk merenungkannya bersama!

^       

Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering melihat (bahkan juga ikut terlibat) dalam berbagai
macam bentuk aktivitas interaksi sosial dimasyarakat, yang justru kebanyakannya adalah
wujud realisasi dari sikap tidak jujur dalam skala yang sangat bervariasi, seperti:
Sering terjadi, orang tua bereaksi spontan saat melihat anaknya terjatuh dan berkata "Oh,
tidak apa-apa! Anak pintar, enggak sakit, kok! Jangan nangis, yach!".

Menurut saya, dalam hal ini secara tidak langsung si-anak diajarkan dan dilatih kemampuan
untuk dapat "berbohong", menutup-nutupi perasaannya (sakit) hanya karena suatu
kepentingan (supaya tidak menangis).

Selain itu saya juga sering melihat dan mengalami kejadian seperti: Saat seseorang bertamu
kerumah orang lain, ketika ditanya: " Sudah makan, belum?", walaupun saya yakin tawaran
sang tuan rumah "serius" biasanya dengan cepat saya akan menjawab "Oh, sudah!! Kita baru
saja makan ", padahal sebenarnya saya belum makan.

Dalam lingkungan usaha / dagang, kejujuran sering disebut-sebut sebagai modal yang penting
untuk mendapatkan kepercayaan. Akan tetapi sangat kontroversial dan lucunya kok dalam
setiap transaksi dagang itulah justru banyak sekali kebohongan yang terjadi. Sebuah contoh
saja: penjual yang mengatakan bahwa dia menjual barang "tanpa untung" atau "bahkan rugi"
hampir bisa diyakini pasti bohong.

R Nah, jika demikian, lalu dimanakah letaknya kejujuran itu?


R Atau bagaimanakah kejujuran yang dimaksud tersebut dapat diaplikasikan dalam
dunia sehari-hari?

Œ
    
Jujur, adalah sikap pribadi. Jujur diekspresikan dengan kata-kata atau sikap yang
mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Tidak ditutupi atau bahkan tidak menipu. Jujur
adalah energi positif. Menyatakan sesuatu dengan langsung, spontan, lugas, apa adanya akan
menghemat waktu dan energi. Terjadilah efisiensi. Itulah yang dikatakan oleh Sawitri
Supardi Sadarjoen (SSS), seorang psikolog.

SSS menambahkan, alasan kenapa perlu jujur adalah terhindar dari masalah-masalah:

1. kemungkinan terjadi kesalahpahaman


2. kemungkinan menghindar secara emosional
3. kemungkinan menyakiti perasaan orang lain yang sebenarnya tidak perlu kita lakukan
4. kemungkinan membuang-buang waktu dan energi mental dengan percuma

Setiap manusia pasti pernah merasakan atau terlibat dengan hal yang berkaitan dengan
kejujuran ini. Pernah merasa dibohongi, pernah menemukan kejujuran, bahkan mungkin
pernah melakukan kebohongan atau berlaku jujur. Dari semua pengalaman yang mungkin itu,
setiap manusia tentu tahu bagaimana rasanya. Rasa ketika tahu dibohongi, rasa ketika
menemukan sebuah kejujuran. Berbagai rasa, sulit untuk diungkapkan, tapi jujurlah.. apa
yang menjadi pilihan ? jujur atau tidak jujur ?

Hal-hal yang dihindari seperti apa yang dikatakan SSS pada dasarnya menyangkut dua hal,
yaitu dan   . Tiga poin diantaranya adalah persoalan rasa. Tiga dari Empat memiliki
arti sebagian besar. Jadi, kejujuran memiliki kaitan sangat erat dengan perasaan.
Menyoal perasaan, kebahagiaan adalah tujuan dari semua manusia. Bahagia dan senang
biasanya mengikuti kejujuran, meskipun mungkin didahului dengan rasa marah atau kesal .
Jadi jujur kepada teman, pasangan atau calon pasangan hidup, atau orang-orang sekitar
adalah pilihan bijaksana.

Untuk berlaku jujur, itu tidak mudah. Ada rasa malu, takut, marah atau gengsi. Tapi, energi
besar yang diperlukan untuk jujur hanya sesaat. Setelah itu, energi besar lainnya akan segera
didapat. Apa itu ? pemahaman, pengertian, penghargaan, penghormatan, kasih sayang dan
cinta. Semua energi besar itu akan semakin kuat dan sejati dengan suntikan kejujuran.

Mulai sekarang, tidak ada salahnya mengakui dan niatkan untuk jujur..

- shiro-

Memilih Kejujuran atau Kebenaran?

Bertindak "jujur" belum tentu benar


Bertindak "benar" belum tentu jujur

Kedua kalimat diatas memang sering terjadi dan hal ini memang mengikuti hukum-hukum
tertentu yang satu dengan lainnya berbeda. Dalam kehidupan sehari-hari, kehidupan bisnis,
etika kedokteran, cara memberi pelajaran pada anak, dan lain-lain semuanya mempunyai
dasar hukum tertentu dan bukan berdasarkan kejujuran tetapi berdasarkan kebenaran.

Jujur menurut saya adalah sifat yang memang harus kita miliki dan boleh dikatakan mutlak
harus kita punyai. Sifat jujur boleh dikatakan setara dengan sifat-sifat lainnya seperti sifat
berani, belas kasih, dan lain-lainnya.

Kalau seseorang dikatakan harus berani, lalu apakah orang tersebut harus berani dalam segala
hal? Tentunya ada batas-batas tertentu dari keberanian orang tersebut, misalnya: orang
tersebut berani dalam mengambil keputusan, akan tetapi saat ia diminta untuk mencoba
"buggy jumping" atau mungkin diminta untuk menyanyi didepan umum maka orang tersebut
akan tidak berani.

Lalu bagaimanakah ini: "Apakah keberanian itu harus bisa dilaksanakan 100%?"

Demikian pula halnya dengan "belas kasih", walaupun harus kita miliki namun saat kita
menghadapi ular, harimau ataupun penjahat yang sangat mengancam diri kita, apakah kita
harus melaksanakan belas kasih 100%?

Tentunya tidak dan inipun berlaku untuk kejujuran. Dalam berbisnis orang dituntut untuk
jujur sehingga dipercaya orang.

Apakah benar kejujuran yang dituntut?, apakah bukan suatu tindakan yang benar yang
dituntut?

Mungkin hanya salah kaprah orang meminta pihak lain untuk jujur dalam berbisnis. Dalam
dunia bisnis sendiri ada hukum-hukum tertentu yang dipakai dan kalau dari prinsip "gunakan
energi sesedikit mungkin untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya", hal ini akan sangat
bertentangan dengan kejujuran, namun akan tetap dapat diterima bila seseorang
menjalankannya dengan benar dan tidak menyakiti pihak-pihak lain.

Seorang anak jatuh dan orang tuanya spontan menyatakan "Oh, tidak apa-apa! Anak pintar,
tidak sakit kok! Jangan nangis, yach!"

Menurut saya ini adalah salah orang tua tersebut dalam menanggapi masalah tersebut,
mungkin ada alternatif lain yang bisa kita gunakan misalnya "Oh, jatuh ya, mana yang sakit,
sini diberi obat agar tidak sakit", dengan tanggapan yang demikian kita mendidik anak untuk
mengerti suatu permasalahan, bahwa dia jatuh dan sakit dan perlu diobati dan kita tidak
berbohong.

      

Kebenaran tidak dapat dibantah, harus dilaksanakan dengan mutlak. Seorang pedagang
mengatakan tidak untung menjual barangnya, tentunya bisa dilihat pedagang tersebut tidak
jujur karena bisa saja pedagang tersebut telah mendapatkan keuntungan atau mungkin dia
telah mendapat bonus dari pabrik tetapi dia tidak mengutarakannya.

Namun hal ini tetap dibenarkan dalam berbisnis, jadi bisa dilaksanakan meskipun pedagang
tersebut tidak jujur. Kecuali pedagang tersebut memalsukan barang yang asli dengan yang
palsu atau barang lain yang kualitasnya lebih jelek dari barang sebenarnya, hal ini adalah
tidak benar, sehingga salah bila dilaksanakan, maka kita harus melakukan sesuatu yang
benar.

Nah dari uraian saya diatas saya coba menjawab pertanyaan:


Dalam Siu Tao ( ) untuk mengejar kesempurnaan apakah kita bisa tidak berbohong?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin menyetarakan dulu istilah "berbohong"
disini sama dengan "tidak jujur tetapi untuk kebaikan".

Bila hal ini kita sepakati dan memahaminya, maka tidak masalah kita berbohong, karena kita
masih berpijak pada kebenaran.

Contoh-contoh konkrit yang kita bisa lihat misalnya:

R Seorang teman saya setelah membeli daging, dia menyimpan uangnya bersama
daging tersebut dalam tas plastik, dan menyisakan sedikit uang disaku, diperjalanan
dalam kendaraan umum dia ditodong oleh penjahat dan dimintai uang, dia
mengeluarkan uangnya dari sakunya yang hanya sedikit dan memberikannya pada
penjahat tersebut dan mengatakan dia tidak punya uang, bahkan dia mengatakan dia
perlu ongkos untuk pulang pada penjahat tersebut, yang akhirnya dia diberi beberapa
ribu untuk ongkos (Wah, teman saya telah berbohong dua kali).
R Kita menyumbang untuk amal, ketika ditanya siapa yang menyumbang, kita tidak
mengaku karena kita tahu amal tidak perlu di gembar-gemborkan, inipun kita
berbohong.

c    


ï  
  
   
  
 


Kejujuran«?? Dalam praktek dan penerapannya, secara hukum tingkat kejujuran seseorang
biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan seseorang dengan
kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Jujur jika diartikan secara baku adalah åmengakui,
berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran´. Bila
berpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai
dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya,
orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong,
munafik atau lainnya.

Dan kondisi ini juga lah yg sedang di alami oleh bangsa Indonesia saat ini, banyaknya kasus²
yg mencuat di permukaan mulai dari kasus KPK vs POLRI, BANK Century dan terbaru
kasus Gayus. Ironisnya hampir semua kasus yg terjadi melibatkan instansi POLRI dan
Kejaksaan. Ini membuat para pemirsa rakyat Indonesia berharap para pelaku (read; penyidik
& terdakwa) di tuntut untuk menjunjung tinggi sebuah kejujuran dalam hal membongkar
kasus yg ada. Tapi nampaknya rasa pesimistis tetap menghantui sebagian besar rakyat negeri
ini terhadap kejujuran dalam mengungkap sebuah kebenaran bagi mereka yg di beri amanah.
Semua tertuju pada sebuah kalimat ³Rekayasa´, ahhh..ini mah klasikkkk«tapi paling tidak
kita semua berharap kali ini benar² adanya sebuah kejujuran«.amin

Lantas pertanyaannya adalah apakah kita sudah jujur pada diri sendiri? kemudian jujur
terhadap orang lain? Lalu Bagaimanakah kejujuran itu dapat dipraktekkan dalam sehari-hari?
Jawabannya adalah ada pada diri anda sendiri.

c c 

 c 
  c

c !c " !#     " # 
" ##
 $ ## 
" # "! #  " "
# "   " " 
#     % #   &"#"
# ##   #

  #  #"#

  #  "#    
"  # & "  # " 
#%#"  

#""  # "&   
       # ""
# "  '"" &# 
# ""   #   ( "
 # & "# " " 

  " # "
  &# 
 " # # "" 

#&   # %#  
&  %#  # ""

&"" &  " " 
" %%%&)&  #
#""#"&# #&# #&# %&  "&# " &
"" "  #"&(    
 # 


" %'" *  &   "


'"" "    *##   "&
 & #& %&#"&   "&
 " &" +*& # "  

,     #   ! "
#  ##&"  "((c"   
# #c       #
   "c&  % ""
 c&c # "
  "&" "  # "

-"& # "  .

" "#" # )"&#   % #
"  ("!#"& #"# c
  #    #" "#  # #"
# "  $ #&&& #
# &# ## 
&# #&
" # 
" # #"&"
(#"!&"""  
"   )"&"  " " " 

c# # ( " #""#
$  "#    #'" %
 ""   . $&  (#
   # %&  ""& #" 
   / (

 % "  (  
#  "!  &# """" "#"  
 "    0 ""&
 #&"&  "# & # 
"& 

,    #   "  
 %#"" " "#" # #c# &
 "" "  % #& #   #
 &# 

   "#"  " "
Y Y Y"
   Y"  "      


 Y Y  Y "  #Y   ""YY
 #Y  
          "      %# "#YY 
 
  " ""Y Y   " Y#    #"  Y  Y#

 Y Y Y# " "YY % Y Y " "  Y# " "
   


# ##      YY " Y Y Y  

%

Arti Sebuah Kejujuran
OPINI
Ardian Syah
| 3 Juni 2010 | 11:51

312

5
1 dari 1 Kompasianer menilai Inspirati

Katakanlah sejujurnya walau itu pahit Itulah yang saya lakukan atas perbuatanku pada
seseorang yang sangat ku hormati dan menjadi panutanku, namanya Pak Taluddin, beliau
bukan hanya sebatas teman tapi beliau sudah seperti saudara bagiku terlebih beliau adalah
orang yang ku tuakan, beliau ku panggil ABI, itu bukanlah hanya panggilan yang berarti
Bapak dalam bahasa arab, saya memanggilnya demikian disamping beliau mempunyai
seorang anak lelaki yang bernama versi arab Dzar Al Ghi ari namanya. Beliau sebenarnya
biasa dipanggil PADIT panggilan singkatan dari Bapak Dita, diambil dari nama anak
perempuan tertuanya. Hampir semua orang memanggilnya demikian akan tetapi saya tidak,
saya memanggilnya dengan versi yang berbeda, panggilan ABI selain bermakna Bapak, saya
mempunyai arti sendiri yaitu Allah Berkati Ia, karena saya ingin memanggilnya dengan
hembusan doa kebaikan, yang pada akhirnya akan memberikan kebaikan kepadanya dan
tentu padaku juga, karena mendoakan sesama yang seakidah dalam kebaikan.

Abi adalah seorang yang menjadi panutanku dalam mempelajari makna kehidupan, dari
dirinya saya memperoleh pengetahuan baik diajar secara langsung maupun tidak yaitu saya
mempelajarinya dari perilaku beliau yang saya lihat secara langsung. pokoknya banyak sekali
yang kuperoleh.

Kemudian saya ingin mengenalnya lebih jauh, dengan cara saya mengsms beliau dengan
nomor yang tidak dikenal, saya memakai identitas sebagai wanita kesepian, dalam sms saya
memakai nama Shinta, maksud tujuan saya adalah ingin melihat secara langsung apakah ABI
seorang laki laki yang mudah tergoda oleh seorang wanita, biasanya seorang lelaki akan
terpancing apabila mendapat sms demikian, pasti akan berkata bohong dengan
menyembunyikan identitasnya sudah menikah punya anak dan sebagainya, pasti pada bilang
masih bujang, tetapi berbeda halnya dengan ABI, dia begitu jujur, beliau membalas SMS
saya dengan tidak ada yang ditutupi termasuk identitasnya berikut petikan smsnya ³Saya
sudah berkeluarga dan punya 3 orang anak´

Saya sangat salut dengan beliau begitu jujur, ini adalah pelajaran paling berharga dan ini jadi
contoh buat saya apabila kelak menikah nanti harus senatiasa jujur apa adanya dan tidak
berbohong tentang sesuatu, apalagi sampai menyembunyikan identitas pribadi.
Tapi saya tidak kehabisan langkah, saya meng-SMS-nya dengan sms yang paling menggoda
hingga mengajaknya untuk tidur dan Making Love dengan harapan mungkin dia tergoda
dengan hal itu, tapi ternyata ABI tidak sedikitpun tergoda justru dia mengsms balik ³Jangan
Hubungi Saya Lagi´, berarti dia tidak tergoda dan merasa muak dengan hal-hal yang
demikian, ABI merupakan seorang suami yang soleh rajin beribadah dan bertanggung jawab,
ABI juga suami setia yang memegang teguh sumpah suci pernikahan dan tidak ada dusta
antara suami dan istri, wah ini betul-betul saya angkat jempol, memang tidak salah Allah
SWT mengirimkan saya kepada beliau agar saya banyak belajar akan makna kehidupan,
Peristiwa sms ini sampai-sampai membuat sang istri gerah dan cemburu, tapi ABi berhasil
meyakinkan bahwa ini adalah sms dari orang yang tidak mempunyai kerjaan, dan akhirnya
sang istri memahami akan hal ini.

Setelah peristiwa itu saya kemudian membalas smsnya dengan ucapan permintaan maaf yang
sebesar-besarnya ternyata saya sudah salah menilai ABI, maka dari sms itu pula saya bilang
bahwa saya tidak akan menghubungi beliau dan berjanji akan bertobat serta meminta maaf
yang sebesar-besarnya, ABI membelasnya ³OK´ beliau menerima permintaan maafku. Kartu
SIM yang kugunakan tersebut sudah ku musnahkan.

Singkat cerita saya kemudian membongkar semua itu dengan berkata sejujur-jujurnya bahwa
saya yang telah mengerjainya dalam sms tersebut, ABI diam seribu bahasa seakan tidak
percaya mengapa saya tega melakukan semua itu, ABI berkata sampai hatimu kamu berbuat
itu, saya sudah maafkan kamu, jangan kamu berbuat ini pada orang lain, saya sangat malu
dan sangat menyesal akan semua perbuatanku, dari peristiwa itu hubungan saya dengan
beliau kini renggang, sepertinya beliau belum siap menerima saya kembali atas perbuatanku,
saya menyesal sekali, padahal saya masih membutuhkan beliau karena masih banyak yang
harus kupelajari dari beliau, kalau sudah begini saya harus bagaimana lagi, yang ada hanya
penyesalan dan merasa tidak bisa memaafkan diri ini. Kadang saya berpikir mengapa saya
harus mengatakan ini semua, tapi mungkin lebih baik jujur daripada menyimpan bangkai
dalam hati, hidup terasa tidak tentram karena diliputi rasa berdosa, tapi dengan kata jujur ini,
maka saya mendapat banyak makna, semua ada hikmahnya, sekarang bagaimanakah apakah
ABI mau menerima saya kembali ?? hanya doa yang terus dipanjatkan agar Allah SWT
mengabulkan doaku dan Abi bisa menerima saya lagi, Apakah ada penyelesalan berkata
jujur«ternyata ada makna dari sebuah kejujuran«««.

PENTINGNYA KEJUJURAN

Banyak sekali hadits -hadits Nabi shallallahu µalaihi wasallam yang


membicarakan keutamaan jujur, di antaranya adalah:

1. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu µanhu dia berkata,


"Rasulullah shallallahu µalaihi wasallam bersabda,
"Wajib atas kalian semua untuk jujur, karena jujur akan membimbing
kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing ke surga. Seseorang
senantiasa berbuat jujur dan memilih kejujuran sehingga dia ditulis di sisi
Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta, karena
dusta akan membawa kepada keburukan, dan keburukan akan menyeret ke neraka.
Seorang hamba senantiasa berdusta , dan dia memilih kedustaan, sehingga
ditulis di sisi Allah sebagi pendusta." (HR. Al -Bukhari dan Muslim).
(11)

Al Munawi rahimahullah tatkala menjelaskan hadits di atas mengatakan:


(Wajib atas kalian jujur), yaitu ucapan yang benar (haq), dan kadang
pula mencakup pada perbuatan anggota badan, misalnya jika seseorang yang
jujur dalam berperang, maka tentu dia akan menunaikan hak -haknya.

(Sesungguhnya kejujuran akan membimbing kepada kabaikan), yaitu kepada


amal shalih yang murni, sedang al -birr maknanya adalah sebuah sebutan
untuk sesuatu yang mencakup segala macam kebaikan.

(Kebaikan akan membimbing ke surga), yakni akan mengantarkan masuk ke


dalam surga.

Ibnul Arabi rahimahullah berkata, "Nabi shallallahu µalaihi wasallam


menjelaskan bahw a kejujuran adalah pangkal segala macam kebaikan.
Karena seseorang jika telah menjatuhkan pilihan pada kejujuran maka dia
tidak akan bermaksiat kepada Allah. Sebab -misalnya- dia ingin meminum
khamer, atau berzina, atau menyakiti orang maka dia akan tak ut dicap
sebagai peminum atau pezina. Sebab jika dia ditanya tentang perbuatan itu,
maka kalau diam berarti dia dalam keraguan, jika menjawab tidak maka dia
berdusta, dan kalau dia jujur menjawab ya, maka jatuhlah kehormatan dan
harga dirinya. Dan akhi rnya dia pun me -milih untuk menjauhi perbuatan
itu.

(Seseorang senantiasa jujur), maksudnya jujur dalam ucapannya.

(Memilih kejujuran), yakni berusaha maksimal dalam melaksanakan


kejujuran itu.

(Sehingga ditulis disisi Allah sebagai orang jujur), y akni dia dihukumi
dengan kejujuran itu dan berhak menyandang predikat sebagai orang yang
jujur.

(Jauhilah dusta), yaitu berhati -hatilah darinya.

(Karena dusta akan mengantarkan kepada keburukan), yakni dia akan


mengajak untuk condong dari jalan yang lurus serta akan membangkit -kan
kemaksiatan.

(Dan dusta akan mengantarkan ke neraka), yakni menjadikan pelakunya


terjerumus di dalamnya.

(Seseorang selalu berusta dan memilih dusta sehingga ditulis di sisi


Allah I sebagai pendusta), yakni dia dihukumi sebagai orang pendusta, dan
berhak mendapatkan julukan tersebut berikut berbagai konsekuensinya.
(12)

Diriwayatkan dari Ubadah Ibnu ash -Shamit radhiyallahu µanhu, bahwa


Nabi shallallahu µalaihi wasallam bersab da,
"Berilah aku jaminan dengan enam perkara, maka aku akan menjamin untuk
kalian dengan surga. (Yaitu) jujurlah kamu jika berbicara, tepatilah
jika kamu berjanji, tunaikanlah amanat jika engkau diberi kepercayaan,
jagalah kemaluan kalian, tundukkan pa ndangan kalian, dan tahanlah tangan
kalian (jangan mengganggu atau menyakiti)." (HR. Ahmad) (13)

Diriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu µanhu bahwa Nabi


shallallahu µalaihi wasallam bersabda,
"Aku memberikan jaminan dengan sebuah rumah di dalam sur ga bagi orang
yang meninggalkan dusta, meskipun hanya senda gurau. " (HR. al -Baihaqi)
(14)

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu µanha dari Nabi shallallahu


µalaihi wasallambeliau bersabda,
"Seorang mukmin dikenali dengan sikap rendah hatinya, kelemb utan
ucapannya dan kejujuran ucapannya." (15)

Renungan Ke Empat, Bersama Para Salaf

Terdapat banyak ungkapan tentang kejujuran dan hakikatnya yang


disampaikan oleh para salaf, di antaranya sebagai berikut:

1. Umar radhiyallahu µanhu berkata, "Kalia n wajib untuk jujur,


meskipun membawamu kepada kematian."

2. Dan perkataan beliau yang lainnya, "Kejujuran yang membuatku menjadi


terhina lebih aku sukai daripada kedustaan yang mengangkat
kedudukanku."

3. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, "J ika engkau ingin menjadi


orang-orang yang benar (jujur) maka wajib atasmu sikap zuhud dalam
urusan dunia dan menahan diri dari menyakiti ahlul millah (sesama muslim)."

4. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, "Seandainya kejujuran


diletakkan pad a luka, maka tentu luka itu akan sembuh."

5. Abu Sa'id al Qurasyi rahimahullah berkata, "Orang jujur adalah orang


yang siap menghadapi kematian dan dia tidak malu terhadap keburukan
dirinya seandainya tersingkap, sebagaimana firman Allah, "Katakanlah,
"Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di
sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika
kamu memang benar." (QS. Al -Baqarah:94)

6. Abdul Wahid bin Zaid rahimahullah berkata, "Jujur adalah menepati


janji terhadap Allah dengan beramal."

7. Bisyar al -Haafi rahimahullah mengatakan, "Barang siapa yang


bermuamalah dengan Allah I secara jujur maka dia akan merasa sepi dari
manusia.
Dan juga dikatakan, "Jujur adalah kesesuaian antara yang tersembunyi
dengan yang terucap."

8. Dikatakan juga bahwa jujur adalah kesamaan antara yang disembunyikan


dengan yang tampak. Artinya bahwa orang yang berdusta adalah orang yang
menampakkan kebai kan tetapi batinnya menyembunyikan keburukan seperti
halnya orang munafik yang secara lahir adalah seperti orang yang baik
padahal batinnya tidak demikian.

9. Ada sebagian yang mengatatakan, "Kejujuran adalah mengucapkan


kebenaran dalam kondisi yang m embahayakan."

10. Ada pula yang lain mengatakan, " Jujur adalah berkata benar di
hadapan orang yang kau takuti dan kau harapkan." (16)

11. Ada pula seseorang yang berkata, "Barang siapa yang tidak melakukan
kewajiban yang kontinyu, maka tidak akan da pat melaksanakan kewajiban
yang temporer. Ditanyakan, "Apakah kewajiban yang kontinyu itu? Lalu
dijawab, "Jujur."

12. Dikatakan pula, "Barang siapa yang mencari keridhaan Allah dengan
jujur maka Allah akan memberikan kepadanya cermin yang dengannya di a
bisa melihat yang haq dan yang batil.

13. Juga dikatakan, "Wajib atasmu berlaku jujur meskipun engkau


khawatir bahwa jujur itu akan memberikan madharat kepadamu, padahal
sesungguhnya dia akan memberikan manfaat kepadamu. Dan tinggalkan dusta
meskipun
engkau melihat bahwa dusta itu memberimu manfaat, sebab ia jutru akan
mendatangkan madharat kepadamu.

Sumber: Majalah ³Al Jundi Al Muslim´ No.121 Ramadhan 1426, oleh


Syaikh Sulthan Fuad Al -Thubaisyi, bagian ke 2 dari 4 edisi.

  
Dalam kehidupan sehari ± hari, apakah anda termasuk orang yang mendapat kepercayaan dari
orang lain? Coba renungkan mengapa anda bisa mendapatkan kepercayaan dari mereka?
Bukankah salah satunya dikarenakan anda adalah seorang yang jujur?! Saya salut kepada
anda yang telah jujur.

Menjalin hubungan dengan orang yang jujur akan menimbulkan rasa tenang, percaya, damai
serta nyaman. Coba bila kita bandingkan bila kita berhubungan dengan seorang pendusta,
yang ada hanyalah rasa was ± was, tidak percaya, dan tidak mungkin kita mengatakan suatu
hal yang penting menyangkut rahasia diri kita kepada seorang pendusta. Jadi, akankah
memilih menjalin hubungan dengan orang yang jujur atau orang yang dusta?

Lalu sebenarnya apakah  itu? Jujur dalam arti sempit adalah sesuainya ucapan lisan
dengan kenyataan. Dan dalam pengertian yang lebih umum adalah sesuainya lahir dan batin.
Œudah untuk dikatakan namun membutuhkan kesungguhan dalam penerapannya.

Lidah tidak bertulang, begitulah pepatah mengatakan. Dengan mudahnya, lidah mengatakan
sesuatu yang dusta, menciptakan fitnah yang lebih keji dari pembunuhan, serta masih banyak
hal yang dapat ditimbulkan oleh lidah seorang yang tidak jujur (pendusta). Oleh karena itu,
demi keselamatan diri sendiri baik di dunia maupun di akhirat, lidah harus selalu dijaga
serta dipelihara dari perkataan dusta.

Di antara pengaruh kejujuran adalah teguhnya pendirian, kuatnya hati, dan jelasnya
persoalan, yang memberikan ketenangan kepada pendengar. Dan di antara tanda dusta
adalah ragu-ragu, gagap, bingung, dan bertentangan, yang membuat pendengar merasa ragu
dan tidak tenang.

c  meriwayatkan, suatu hari ia melakukan perjalanan bersama   


!    r.a dari Madinah ke Mekah. Di tengah jalan mereka berjumpa dengan
seorang anak gembala yang tampak sibuk mengurus kambing-kambingnya. Seketika itu
muncul keinginan Ohalifah untuk menguji kejujuran si gembala. Kata Khalifah Umar,
³Wahai gembala, juallah kepadaku seekor kambingmu.´ ³Aku hanya seorang budak, tidak
berhak menjualnya,´ jawab si gembala. ³Katakan saja nanti kepada tuanmu, satu ekor
kambingmu dimakan serigala,´ lanjut Khalifah. Kemudian si gembala menjawab dengan
sebuah pertanyaan, å "  c #

Khalifah Umar tertegun karena jawaban itu. Sambil meneteskan air mata ia pun berkata,
³Kalimat $  c % itu telah memerdekakan kamu di dunia ini, semoga dengan
kalimat ini pula akan memerdekakan kamu di akhirat kelak.´ Kisah di atas merupakan
gambaran pribadi yang jujur, menjalankan kewajiban dengan disiplin yang kuat, tidak akan
melakukan kebohongan walau diiming-imingi dengan keuntungan materi.
Mengapa saya harus jujur? Selain perbuatan yang berpahala, kejujuran juga merupakan
cermin pribadi diri serta meninggikan derajat. Sulitkah menjadi seorang yang jujur?
Kejujuran dapat dilatih agar menjadi kebiasaan yang tidak perlu untuk dipikirkan lagi dan
tercermin dalam tingkah laku kehidupan kita sehari ± hari.

Akhir kata, selalu berkata dan berbuat jujurlah dalam kehidupan kita walaupun pahit.  
  
   &  
 å' #

Sep 21, '06 11:38 PM


6 Manfaat Jika kamu selalu jujur
for everyone

Jujur merupakan sikap terpuji yang dianjurkan oleh agama, ia selalu bersanding dengan
kebenaran yang harus dikawal dan ditegakkan, bahkan Allah SWT menyebut diri-Nya
dengan Al-Haq yang artinya Mahabenar.

Begitu juga para nabi dan Rasul-Nya selalu mempunyai sifat Ash-Shidq yang berarti
jujur.Jujur mempunyai banyak manfaat dan khasiat bagi pelakunya baik di dunia maupun di
akhirat. Setidaknya ada enam manfaat bagi orang yang jujur dalam perkataan maupun
perbuatannya.

   , perasaan enak dan hati tenang, jujur akan membuat pelakunya menjadi tenang
karena ia tidak takut akan diketahui kebohongannya. Baginda Rasul SAW bersabda,
''Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju perkara yang tidak meragukanmu,
sesungguhnya jujur adalah ketenangan sedangkan dusta adalah keraguan.'' (HR Turmudzi
dari riwayat Hasan bin Ali).

 , mendapatkan keberkahan dalam usahanya. Rasulullah SAW bersabda, ''Dua orang
yang berjual beli mempunyai pilihan (untuk melanjutkan transaksi ataupun membatalkannya)
selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan barangnya maka akan
diberkahi jual beli mereka, dan jika mereka merahasiakan dan berdusta maka dihilangkan
keberkahan jual beli mereka.'' (HR Bukhari)

 , mendapat pahala seperti pahala orang syahid di jalan Allah SWT. Rasulullah SAW
bersabda, ''Barang siapa meminta mati syahid dengan jujur, maka Allah akan
mengantarkannya ke dalam golongan orang-orang syahid, walaupun ia mati di atas
kasurnya.'' (HR Muslim) .


, selamat dari bahaya. Orang yang jujur walaupun pertama-tama ia merasa berat
akan tetapi pada akhirnya ia akan selamat dari berbagai bahaya. Rasulullah SAW telah
bersabda, ''Berperangailah selalu dengan kejujuran! Jika engkau melihatnya jujur itu
mencelakakan maka pada hakikatnya ia merupakan keselamatan.'' (HR Ibnu Abi Ad-Dunya
dari riwayat Manshur bin Mu'tamir).

 , dijamin masuk surga, sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW, ''Berikanlah
kepadaku enam perkara niscaya aku akan jamin engkau masuk surga: jujurlah jika engkau
bicara, tepatilah jika engkau berjanji, tunaikanlah jika engkau diberi amanat, jagalah
kemaluanmu, tundukkan pandanganmu, dan jagalah tanganmu.'' (HR Ahmad dari riwayat
'Ubadah bin Ash-Shamit).
 , dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW bersabda, ''Jika engkau ingin
dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka tunaikanlah jika engkau diberi amanah, jujurlah jika
engkau bicara, dan berbuat baiklah terhadap orang sekelilingmu.'' (HR Ath-Thabrani).
Demikianlah, jujur penting sekali, terutama di masa ketika segala aspek kehidupan dipenuhi
kepalsuan dan dusta. Di manapun berada, kejujuran harus di atas segalanya. Jujur adalah
simbol profesionalisme kerja dan inti dari kebaikan hati nurani seseorang.

 c  c 


ï  
   



Menurut Robert T.Kiyosaki,aset adalah


 
     
    .Sedang menurut saya,aset adalah      "  
             .

Agak mirip ya?

Tidak juga! Kalau pendapat Kiyosaki,segalanya menyangkut uang,sedangkan pendapat saya


lebih dari itu,lebih luas daripada sekedar mendapatkan uang.Yang didapatkan bisa hubungan
baik dengan orang lain,persahabatan,kebahagiaan,dan lain-lain yang menurut saya lebih
berharga dari uang.

Saya tidak mengesampingkan fungsi uang dalam kehidupan.Uang memang sangat


penting.Tapi,mengaitkan segala sesuatu dengan uang adalah sifat orang yang
materialistis.Orang semacam ini,akan sulit sekali mempunyai sifat tulus dan mungkin akan
kehilangan hal-hal berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Salah satu aset berharga yang kita sungguh beruntung apabila memilikinya adalah
kepercayaan orang lain kepada kita.Kepercayaan bisa menghasilkan sesuatu yang berharga
kepada kita,termasuk uang.Untuk mendapatkan kepercayaan,banyak hal yang harus kita
miliki,misal tanggung jawab,dedikasi,dan kejujuran.Yang menjadi pembahasan kita kali ini
adalah tentang kejujuran,bagaimana perannya sebagai aset yang harus kita jaga,agar aset
lainnya,yaitu kepercayaan bisa terjaga.

Kejujuran merupakan sifat yang sangat baik.Bahkan saya berani mengatakan orang yang baik
pasti jujur.Orang yang jujur akan mendapat tempat yang baik pada hati manusia.Sifat jujur
harus dimiliki oleh setiap pedagang,pengusaha,pegawai,apalagi seorang pemimpin.Tapi
kenyataan sekarang,sering kita lihat orang-orang semacam mereka yang mengorbankan
kejujuran hanya untuk meraup keuntungan yang sedikit.Mereka tidak segan-segan merugikan
orang lain untuk itu.Saya berpikir,bagaimana kalau kepercayaan orang lain hilang sementara
dia sangat membutuhkan,pastinya dia akan sangat kesulitan.

Apabila anda ditipu oleh seseorang,apakah anda mau lagi mempercayakan sesuatu kepada
dia? Jawabannya pasti anda tidak mau,kecuali anda mempunyai alasan
tertentu.Sebaliknya,ketika anda mempercayakan sesuatu kepada orang yang ternyata
jujur,membeli kepada pedagang yang anda lihat jujur,rasa cinta anda kepada kejujurannya
bisa menjadikan keinginan untuk µkembali kepada dia¶.Ini salah satu dampak kejujuran.Dan
selain itu banyak sekali dampak positifnya.

^ Π  

Segala sesuatu bila dibiasakan,niscaya akan menjadi sebuah kebiasaan.Entah itu yang baik
ataupun yang buruk.Membiasakan diri untuk selalu jujur,walaupun dalam hal yang dalam
pandangan kita kecil,akan membuat kejujuran menjadi kebiasaan kita.Jangan meremehkan
yang kecil,sebab,sesuatu yang besar bermula dari yang kecil.Terkadang,tanpa sadar kita
mengajarkan bohong kepada anak kita.Misalnya,karena malas untuk menemui tamu,kita
meminta tolong kepada anak kita untuk mengatakan kepada tamu bahwa kita tidak
ada.Sebagai orang tua kita harus menjadi contoh yang baik.Berlakulah jujur agar anak anda
jujur.

Bergaulah dengan orang jujur agar anda µtertular¶ sifat mereka.Pergaulan sangat berpengaruh
terhadap kepribadian kita.Orang yang terbiasa bergaul dengan orang yang tidak
jujur,dikhawatirkan lambat laun meniru sifatnya.Awal korupsi yang besar berasal dari hal-hal
seperti ini.

Π 
   

Apabila kita sudah diberi kepercayaan karena orang lain menganggap kita jujur,maka jangan
sia-siakan kepercayaan mereka.Rawatlah kepercayaan mereka dengan selalu bersikap
jujur.Kita taburkan benih-benih kejujuran kepada orang lain,dengan harapan dia mengikuti
kita. Kekuatan doa juga sangat berpengaruh terhadap hal ini.Semoga saja,anda semakin
dicintai orang lain dan mendapatkan hal-hal yang lebih daripada yang anda inginkan.

?



Jujur merupakan sebagian sifat orang Indonesia meskipun belum semuanya,tetapi kita
Indonesia memiliki Soekarno yang senangtiasa berperilaku jujur dan tidak korupsi,egois dan
lain lain.Orang yang jujur akan memberikan dampak bagi Indonesia,bukan dampak negative

melainkan dampak positive.

Walaupun demikian kekayaan jugalah yang memperngaruhi jiwa kejujuran,Kekayaan sering


membuat onar para pelakunya,seorang pemerintah atau seorang pengusaha akan berusaha
untuk mendapatkan uang melalui jalan pintas.Jika semua orang berbuat ini saya yakin
kedepannya Indonesia malah tambah bodoh,jika semuanya!!.Tapi Alhamdulillah belakangan
ini Hukum masih dipergunakan dan tidak menyiksa yang lain.
Ini membuktikan bahwa Indonesia juga bukan Indonesia-Indonesiaan.Indonesia Dilahirkan
atas asas Hukum dan bukan asas semata melainkan didasarkan juga oleh Pancasila dan
Pembukaan UUD 194 .