Anda di halaman 1dari 37

BAB III

BARANG PUBLIK DAN WELFARE STATE

Pengantar

Sebelum membahas lebih jauh mengenai barang publik, ada baiknya dibahas dulu
hubungan antara mekanisme pasar dalam pemenuhan berbagai barang dan jasa bagi
masyarakat dan hubungnnya dengan efisisensi sumber-sumber ekonomi. Mekanisme
pasar, jika memenuhi asumsi asumsinya, terutama adanya kebebasan berusaha sehingga
jumlah penjual menjadi banyak dan jumlah pembelinya juga banyak, maka akan
diperoleh harga yang tepat bagi suatu barang. Harga tersebut tidak terlalu rendah
sehingga penggunaan sumber ekonomi akan menjadi boros, karena memproduk terlalu
banyak. Demikian juga harga tidak terlalu tinggi, sehingga potensi daya beli akan
terakumulasi di tangan penjual, sebagaimana terjadi dalam kasus monopoli. Dalam kasus
monopoli harga ditentukan terlalu tinggi, daya beli konsumen akan beralih ke penjual,
kemudian monopolis mencetak barang terlalu sedikit. Beralihnya daya beli konsumen
disertai pengurangan kepada pembelian barang yang lain, di sana barang dan jasa yang
ditawarkan tidak terbeli dan terjadilah kemunduruan, akhirnya terjadi pengangguran atau
hilangnya sumber pendapatan.
Mekanisme pasar yang bersaing kompetitif akan menjamin alokasi yang tepat dari
berbagai sumber ekonomi. Alokasi yang tepat tersebut dikatakan sebagai alokasi sumber
yang efisien. Akan tetapi pasar seringkali tidak memenuhi asumsi-asumsinya, antara lain
adanya kebebasasan keluar masuk pasar/kebebasan berusaha sehingga pengusaha akan
menjadi banyak, adanya informasi barang dan jasa yang penuh, misalnya berapa biaya
produksi yang sebenarnya, berapa penjualnya dan seterusnya. Asumsi lainnya bahwa para
penjual tidak melakukan kompromi untuk memperdaya konsumen.
Asumsi mekanisme pasar sebagaimna disebut di atas sering tidak terjadi. Pasar
sering dapat dimainkan oleh aktor-aktor, misalnya, kapan membeli secara besar-besaran
dengan demikian harga akan naik, dan kapan akan menjual secara besar-besaran dan
dengan demikian harga akan turun. Untuk mendorong penanaman produk pertanian para
aktor sering membeli dengan harga tinggi, petani sering menanggapinya secara massal,
menanam secara massal dan kemudin pada saat panen harga turun. Kebebasan pasar di
negara sedang berkembang untuk mata uang, dan saham-saham sering menjadi sasaran
permainana seperi ini (Stiger, 2001; Susan, 1999).
Pada tahun 1996 setahun sebelum krisis ekonomi di Indonesia terjadi lonjakan
pemasukan mata uang asing untuk membeli surat berharga di Indoneisa (Rahbini, ).
Mata uang asing tersebut kemudian dibelanjakan ke negara asalnya untuk kebutuhan
kemewahan seperti fasilitas kelengkapan gedung dan sebagainya. Pada saat jatuh tempo
dolar kemudian menjadi langka dan harga dolar menjadi melonjak. Perubahan prubahan
nilai tukar inilah yang sering dimainkan oleh kapitalis internasional (Lihat Stiger, 2001).
Daya beli yang sangat besar dari seseorang atau sekelompok orang pelaku, tidak
lain adalah bentuk monopoli atau setidaknya oligopoli yang ternyata merupakan gejala
umum. Dengan demikian pasar tidak sepenuhnya kompetitif. Mekanisme pasar juga
mengasumsikan adanya informasi yang penuh bagi konsumen dan produsen, pada hal
iklan seringkali menjadikan konsumen menjadi salah, bahkan konsumen sering tergoda
untuk membeli barang secara berlebihan atau melebihi kemampuannya, sehingga alokasi

33
produksi barang barang menjadi salah arah. Bayangkan jika seorang konsumen
membatalkkan membeli mobil atau sepeda motor, maka konsumen akan memiliki uang
senilai 5 sampai 75 kali harga mesin jahit atau mesin las. Jika demikian, maka
pengangguran di sekeliling konsumen akan terkurangi karena modal di tangan konsumen
tersebut dibelikan barang modal yang lebih produktif yang lebih sesuai dengan tingkat
ekonomi bangsanya. Sumber daya tenaga kerja akan dapat dimanfaatkan dengan lebih
optimal, hanya karena berkurangnya pengaruh iklan dan dengan demikian preferensi
konsumen akan muncul tanpa distorsi. Konsumen akan lebih puas jika uangnya dibelikan
mesin jahit dan mesin las daripada motor baru.
Pasar juga mengasumsikan adanya increasing cost, untuk memproduk yang
makin banyak biaya biaya akan meningkat. Misalnya ketika kebutuhan pangan hanya
1000 ton maka tanah tanah subur saja yang digunakan. Ketika kebutuhan produksi
pangan meningkat menjadi 10.000 ton maka tanah-tanah yang tandus juga harus
ditanami. Produksi yang terakhir ini memerlukan biaya makin tinggi. Akan tetapi, karena
adanya penemuaan-penemuan baru, menyebabkan biaya produksi akan makin rendah.
Byte dalam komputer biaya persatuannya makin turun, biaya software juga makin turun
ketika digunakan oleh semakin besar konsumen. Makin besar lagi konsumen biaya
hampir tidak bertambah. Kurva biaya marginal bukannya meningkat tetapi menurun. Hal
ini mengakibatkan tidak pernah bertemunya biaya marginal dan harga yang merupakan
syarat keseimbangan di pasar.
Musgrave, meringkas 3 hal sebab-sebab kegagalan pasar.
a. Pasar tidak dapat berfungsi dengan adanya ekternalitas. Ekternalitas adalah
dampak baik positif maupun negatif yang dialami atau diakibatkan oleh
konsumen dan produsen. Produsen yang menghasilkaan limbah beracun,
sebenarnyaa untuk menghasilkan produknya memiki biaya yang lebih besar dari
yang dibukukan. Ikan dan sawah yang mati milik para petani juga merupakan
biaya sosial yang semestinya diperhitungkan.
b. Pasar hanya merespon permintaan efektif dari hasil distribusi pendapatan yang
terjadi. Distribusi tersebut seringkali tidak sesuai harapan atau tujuan bersama
suatau masyarakat, di mana pendapatan negara terdistribusi secara menceng,
misalnya, sedikit orang saja memiliki kekayaan sampai setengah dari PDB dan
sebagian besar rakyat berposisi sebagai petani kecil, pekerja informal, dan buruh
yang miskin.
c. Pasar tidak bekerja otomotais ketika ada pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan
ekonomi yang kurang.

Ketiga hal tersebut memerlukan campur tangan pemerintah untuk melakukan


perbaikan distribusi pendapatan (supaya harta tidak beredar hanya di antar orang
kaya), pemerintah juga dapat mendenda atau mensubsidi adanya eksternalitas yang
merugikan atau menguntungkan masyarakat. Terakhir, pemerintah bisa memainkan
budget yang dimilikinya untuk mendorong produksi, menurunkan harga, dan
sekaligus mengurangi penganguran. Campur tangan pemerintah dalam memenuhi
kebutuhan seluruh rakyat inilah ang kemudian menjadi prnsip welfare state, negara
kesejahteraan.

34
Pasar, barang swasta, dan barang sosial

Barang swasta dan pasar. Barang swasta adalah barang yang dapat diperoleh
dengan membayar di pasar. Barang tersebut memiliki ciri ”excludability” dan ”rivalry.”
Excludablity adalah prinsip hak milik atau property right, orang lain yang tidak
membayar dapat di exclude atau dikeluarkan dari memilikinya, dan tidak berhak
menjualnya.
Rivalry adalah prinsip di mana manfaat diinternalisasi atau dipribadikan. Orang
lain yang ikut mengkonsumsi barang tersebut akan mengurangi hak atau manfaat orang
pertama. Sepotong ikan yang dibeli di pasar akan berkurang manfaatnya jika orang lain
ikut memakannya.
Semua barang yang bersifat swasta yaitu bersifat excludability dan rivarly dapat
disedikan di pasar. Barang barang ini dapat mewujudkan harga, yaitu, berasal dri tarik
menarik dari kepentingan konsumen dan produsen. Jika barang barang ini disediakan
oleh banyak produsen, maka produsen akan ditekan oleh kompetisi dan menawarkan
harga yang serendah mungkin. Demikianlah ide dari bekerjanya pasar. Harga sudah tepat
jika besarnya sama dengan biaya marginal1 untuk menghasilkannya. Pada harga itu
jumlah yang ingin diproduksi oleh seluruh produsen sama dengan jumlah yang ingin
dibeli oleh seluruh konsumen yang memiliki daya beli.
Barang barang nonrival. Jika suatu barang berisfat nonrival, maka jika ada orang
lain yang ikut menggunakan barang itu, tidak mengurangi manfaat orang yang pertama.
Contoh, seseorang yang menikmati lampu jalan, tidak berkurang mnfaatnya ketika orang
lain ikut menikmatinya, tentu saja asal tidak padat sekali. Orang yang lewat di jalan tidak
berkurang manfaatnya ketika orang lain juga ikut lewat. Biaya marginal untuk
menyediakan satu konsumen tambahan adalah nol, di mana menurut hukum harga sama
dengan biaya marginal, maka harga di pasar juga nol. Walaupun biaya tmabahan yang
diperlukan untuk bertambahnya satu konsumen nol, tetapi pengadaan pertamanya tetap
memerlukan biaya yang mungkin besar. Contoh jalan raya dibangun dengan biaya awal
yang besar, walaupun tidak setiap tambahan satu orang lewat perlu disediakan tamabahan
biaya.

Kegagalan pasar berkaitan dengan konsumsi nonrival dan nonexclusion.

Jika suatau barang bersifat nonrival, atau, bersifat jointly consumed maka akan
sulit dikecualikan yang membayar atau tidak. Pasar dalam arti suplai – demand yang
biasa tidak dapat berlaku. Siaran radio sulit membedakan yang bersedia membayar dan
yang tidak, demikian juga orng lewat di jembatan, dan orang yang menikmati lampu
jalan. Mungkin saja suatau barang publik, konsumsinya bersifat rivalry misalnya
penggunaan air sungai, penggunaan jalan raya pada jam sibuk, akan tetapi mungkin sulit
atau tidak efisien melakukan penjagaan untuk melakukn pengecualian.

Barang barang yang bersifat rival dalam konsumsi dan sangat mungkin
melakukan pengecualian yang membayar dan yang tidak membayar, disebut barang

1
Biaya marginal adalah tambahan biaya per satuan yang diperlukan untuk memproduksi barang pada
kapasitas persuhaan yang terakhir. Karena adanya hukum atau kebiasaan produksi yang berubah hasil
totalnya dengn bertmbahnya input maka biaya marginal mula-mula turun dan kemudian terus meningkat.

35
swasta murni. Barang-barang tersebut akan efisien diserahkan pengadaannya kepada
mekanisme pasar. Pada sisi lain, barang – barang berisfat nonrival dalam konsumsi, dan
tidak mungkin dilakukan pengecualian disebut barang publik murni. Terdapat juga
barang di antara keduanya, disebut semi publik, yaitu kosnsumsinya bersaing tetapi
pengecualian sulit, atau konsumsi tidak bersaing dan pengecualian bisa dilakukan, contoh
tiket masuk untuk melihat pemandangan sebuah taman buatan.
Teknik-teknik pengecualian ternyata berkembang sejalan dengan kemajuan
rekayasa, seperti pembuatan jalan tol, penyaluran air ke rumah-rumah, demikian juga api
atau gas dan listrik. Pendidikan atau hak mengindera ilmu pengetahuan yang semula
bersifat publik bisa dibtasi dengan memberi sertifikat yang membayar. Hal – hal terakhir
ini menimbulkan perdebatan, karena ketika pengecualian dimungkinkan dan klasifikasi
konsumen dimungkinkan, maka terjadi gap konsumsi yang berakibat jauh seperti
pelestarian strata sosial melalui pembatasan akses kepada pendidikan. Demikian
pembayaran kepada akses air, listrik, dan gas menimbulkan masalah sosial. Di negara
yang mengalami musim dingin, sampai nol derajat atau minus, mesin penghangat dengan
listrik atau gas sangat vital. Orang-orang miskin bisa mati kedinginan karena untuk
memperoleh barang ini harus membayar. Demikian juga kasus penyaluran air bersih di
negara sedang berkembang di daerah tropis. Apakah listrik, gas, dan air harus dibebaskan
dari membayar, tentu saja konsumsi per keluarga akan berlebihan dan suplainya menjadi
tidak mencukupi.
Akhir-akhir ini terdapat kecenderungan menswastakan pengadaan barang publik.
Akibatnya perhitungan investasi dan harga serta mekanisme pasar akan menyaring rakyat
yang bisa membayar dan tidak bisa membayar. Hal tersebut akan menambah beban
kemiskinan rakyat, karena barang-barang yang semula gratis kini harus dibayar dan akan
mengurangi daya belinya untuk barang esensial yang lain.

Pemenuhan Barang Publik

Pasar terdiri dari empat komponen penting, yaitu, adanya pembeli yang
membentuk permintaan umum yang terdiri dari berbagai konsumen dengan aneka daya
beli yang dimiliki. Perilaku konsumen tersebut digambarkan sebagai kurve permintaan
yang makin besar jumlah yang ingin dikonsumsi ketika harga semakin rendah. Kedua,
terdapat penjual yang melayani konsumen tersebut, penjual bisa hanya satu, beberapa,
atau banyak, yang berpartisipasi di pasar tergantung dari tingkat efisiensinya. Perusahaan
yang lebih efisien dapat tetap berpartisipasi ketika harga turun menjadi sangat rendah.
Sebaliknya, perusahaan yang kurang efisien hnya akan berpartisipasi jika harga relatif
tinggi.
Komponen ketiga dan keempat adalah adanya harga dan kuantitas yang
ditransaksikan di pasar tersebut. Jika, barang yang ditransaksikan di pasar bersifat
nonrival, misalnya jalan, maka konsumen bisa menyembunyikan kebutuhnnya. Misalnya,
ketika, jalan akan dibangun diumumkan kepada masyarakat, maka sebagaian konsumen
akan mengatakan tidak membutuhkn jalan itu. Akan tetapi, ketika jalan itu terwujud,
konsumen yang semula menyembunyikan kebutuhannya sekarang ikut menumpang
lewat. Kejadian tersebut disebut free rider, atau penumpang gelap, tidak lain adalah
konsumen yang tidak mau ikut menanggung biaya pengadaan.

36
Cerita di atas menunjukkan bahwa pasar dalam pengertian yang biasa tidak dapat
memecahkan masalah pengadaan barang yang konsumsinya bersifat nonrival. Pengadaan
barang konsumsi berasama yang bersifat nonrival, harus melibatkan pemerintah.
Pemerintah dapat memainkan peran dengan mengadakan barang tersebut dan
memaksakan pembayaran produksinya kepada seluruh warga negara.
Sebagai contoh terdapat sebuah pemerintah dengan dua kelompok penduduk
untuk pengadaan sutu barang publik – misalnya lampu jalan, kelompok pertama adalah
kelompok pnduduk miskin dengan permintaan yang lebih rendah, kurve permintaan
penduduk tersebut berada pada level yang lebih rendah. Kelompok kedua, penduduk yng
lebih kaya mengekpresikan kurve permintaan yang lebih tinggi. Permintaan listrik
agregate dari dua kelompok dapat digambarkan sebagai penjumlahan kedua kurve
permintaan. Pertemuan kurve agregat dengan kurva suplai yang tidak lain adalah
pemerintah menunjukkan harga jual dan kuantitas listrik yang harus diproduksi. Supaya
terpenuhi asas adil, harga tersebut diberlakukan berbeda kepada kelompok miskin dan
kelompok kaya. Kelompok miskin dipungut lebih rendah dan kelompok kaya dipungut
lebih tinggi. Cerita di atas dapat digambarkan dengan modifikasi kurve permintaan dan
penawaran yang biasa.

Harga
Kurve suplai
Harga Total
Pajak Kel kaya

Kurve demand total


Pajak kel
miskin
Kuantitas
Kuantitas barang publik b

Gambar 1. Interaksi demand dan suplai barang publik, dengan dua


Kelompok konsumen dan harga/pajak bagi masing-masing,
serta kuantitas yang diproduksi oleh pemerintah.

Pemenuhan barang publik dilakukan melalui keputusan politik. Dari contoh di


atas diperlihatkan peran pemerintah dalam mengambil alih pemenuhan listrik.
Masalahnya adalah bahwa permintaan terhadap barang publik berbeda beda antar
kelompok penduduk, karena pembiayaan barang piblik tersebut pada akhirnya harus
mereka bayar sebagai pajak. Untuk menentukan seberapa banyak barang publik di
produksi dan bagaimana membayarnya ditentukan melalui keputusan politik. Cara
penentuan tersebut dapat ditempuh melalui dua ekstrim yaitu proses otoriter atau
monopoli oleh pemimpin politik, dan proses voting yang melibatkan wakil rakyat.

37
Dalam proses monopoli, pemerintah diasumsikan mengetahui kebutuhan
masyarakat. Pemerintah kemudian menyusun daftar kebutuhan barang publik dan
melaksanakan pemenuhannya, menentapkan juga pajak kepada warga negaranya.

Teori Median Voter

Proses politik yang lain adalah voting, di mana warga negara membuat
perwakilan di parlemen dan memutuskan berapa kuantitas dan kualitas barang publik
diproduksi, dan bagaimana pembiyaan didistribusikan melalui pajak. Hutang luar negeri
termasuk juga ke dalam pengertian pajak yang dipinjam oleh generasi sekarang kepada
generasi yang akan datang dan hendaknya diputuskan melalui voting.
Dalam voting, biaya minimal terjadi jika dipilih proyek yang median. Itulah
sebabnya kelompok tengah umumnya memenangkan voting. Misalnya terdapat tiga
pilihan barang publik dengan kebutuhan 1, 3, dan 5. Jika yaang dipilih kuantitas 1, maka
yang memilih 3 akan mengalami rugi 2, dan yang memilih 5 mengalami kerugian 4.
Sebaliknya, jika yang dipilih 5, kelompok yang memilih 3, akan rugi 2 dan yang memilih
1 akan rugi 4. Total kerugian pilihan di kedua ekstrim adalah 6. Jika dipilih 3, total
kerugian sosial hanya 4 (minimal), yaitu, yang memilih 1 rugi 2, dan yang memilih 5 juga
rugi 2.

Rekayasa pasar dan Negara Muslim / Negara Ketiga

Susan George (1999) yang semula merupakan staf senior di Bank Dunia
menyampaikan paper berjudul The Sort History of Neoliberalsm. Artikel itu membahas
adanya rekayasa pasar, di mana pasar dalam teks ilmu ekonomi diasumsikan bekerja
secara alami mendekati hukum fisika. Menuut Susan, asumsi bahawa pasar bekerja
secara alami sebenarnya dipropagandakan oleh para kapitalis internasional agar para
ilmuwan dan para pemimpin dunia percaya dan mau menggunakannya sebagai idiologi
ekonomi negara dan idiologi ekonomi global.
Pasar sebenarnya dapat direkayasa, mata uang dolar yang dicetak oleh Bank
Sentral Amerika yang sahamnya dimiliki oleh sekumpulan Bank yang semula merupakan
bisnis para kapitalis internasional, direkayasa sedemikian rupa masuk di bursa-bursa di
seluruh dunia. Para kapitalis mengetahui berapa isi kantong mata uang mereka yang
beredar di berbagai bursa. Singkatnya para kapitalis internasional tersebut dapat
memainkan kecukupan dan kelangkaan dolar dan demikian juga nilai tukar dan harga
saham. Steger (2001) dan demikian juga Mahattir (2003) menggambarkan lalu lintas
uang tersebut sangat berpengaruh bahkan menguasai negara negara dunia ketiga,
khususnya dalam hal ini negara negara muslim. Pasar bursa yang belum mapan dan
diketahui isi kantong dolarnya dapat digoyang atau dikendalikan. Tujuannya adalah
memperoleh keuntungan ekonomi dan mungkin juga politik ketika pemimpin negara
sedang berkembang tidak sejalan dengan arus global di bawah kepemimpinan kapitalis
internasional tersebut. Para kapitalis bukan hanya mengendalikan kepemimpinan negara
sedang berkembang tetapi juga para pemimpin politik di negara mereka sendiri, karena
sistem politik yang menekankan sukses ekonomi mendorongnya demikian.
Propaganda akan kemampuan pasar untuk menyelesaikan pengadaan barang-
barang secara swasta ternyata menjangkau barang barang yang vital selain penguasaan

38
industri keuangan, juga barang barang publik seperti pengadaan api (saluran gas), listrik,
penyedian air, media massa, telekomunikasi, angkutan udara, pendidikan, kesehatan dan
seterusnya. Barang barang tersebut merupakan barang publik yang dengan kemjuan
teknologi dapat diexcludability, yaitu, dapat dipisahkn siapa yang mampu membayar dan
tidak mampu membayar. Dengan masuknya swasta dan undurnya pemerintah dari
bidang itu, maka penggunaan dan akhirnya pengadaan barang publik dapat diterapkan
prinsip excludabilitas, ditetapkan harga jualnya menururt kelayakan investasi dan
akhirnya investor dapat masuk. Pola ini mennyebabkan penderitaan rakyat miskin. Susan
George menggambarkan, di negara Barat sendiri yang memiliki empat musim, rakyat
miskin digambarkan harus memasukkan koin pada meteran gas untuk mesin pemanas,
agar gas dapat memancar dan menghangatkan ruangan, agar mereka tetap hidup.
Negara yang semula memiliki kedaulatan teritorial, menjadi tanpa batas dengan
keluar masuknya uang secara internasional. Perkembangan interner memainkan peranan
penting. Spekulai uang tersebut dikendalikan oleh para kapitalis internasional, dan dalam
jumlah yang signifikan dapat mengancam ekonomi dan politik suatu negara. Negara-
negara di seluruh dunia digambarkan akan jatuh kedalam imperial kapitalis internasional.
Barang barang yang semula merupakan barang publik, dengan program swastanisasi
harus dibayar oleh rakyat.
Di sisi lain, para pemimpin politik dengan demokratisasi dan pemilihn langsung
yang dipropagandakan ke seluruh dunia, untuk maju menjadi calon calon pemimpin mau
tidak mau harus berurusan dengan kebutuhan iklan dan urusan pembiayaan media masa
yang besar. Para pemimpin politik di negara maju akhirnya jatuh menjadi kaki tangan
para kapitalis internasional yang sebenarnyaa merupakan sebuah etnik minoritas.
Demikian juga di wilayah emperial di negara-negra sedang berkembang yang umumnya
negara muslim. Untuk menjadi bagian emperial negara-negara muslim dapat melalui tiga
pola. Pola pertama, dibantu dengan pinjaman dolar, khsusnya pada masa-masa sulit,
seperti pada waktu krisis Indonesia tahun 1966, dan akhir-akhir ini karena bencana
tsunami di Aceh. Semua kejadian dimanfaatkan untuk memperbesar hutang. Hutang yang
semakin membengkak menjadikan negara negara muslim dan negara ke tiga lainnya
menjadi tergantung. Hubungan hutang piutang itu akan menjamin mengalirnya sumber
daya alam penting ke negara maju untuk memperoleh devisa dan dengan devisa itu
hutang harus dibayar.
Pola kedua, yang umumnya terjadi di Timur Tengah negara Barat menawarkan
perlindungan kepada para raja. Minyak di negara negara ini dikerjakan dengan saham
pemilikan dari para kapitalis internasional. Para raja umumnya merasa mengalami
masalah kelanggenan kekuasaan politiknya baik di dalam negeri maupun dari negara
tetangganya. Mereka umumnya memilih perlindungan kepada tentara asing. Kehadiran
tentara asing inilah yang ditentang keras oleh kelompok garis keras yang kemudian
berjuang di bawah tanah.
Pola ke tiga, cara untuk mendemokratisasi dan membuat negara muslim
tergantung adalah konfrontasi politik dan militer. Negara muslim umumnya mengalami
destabilisasi, embargo internasisonal, konflik berkepanjangan, dan jika perlu berhadapan
langsung dengan militer Barat. Demokratisasi politik dan ideologi pasar berjalan seiring.
Demikianlah pasar yang diprogandakan sebagai dapat berjalan alami dipropagandakan di
dalam negeri di Barat dan di seluruh dunia. Asumsi pasar sebagai bergerak alami
merupakan asumsi dasar ilmu ekonomi di mana bangunan diatasnya yang begitu cangih

39
ditegakkan. Barang-barang publik dengan ideologi pasar tersebut berubah menjadi barang
yang harus dibeli dan mau tidak mau rakyat harus menjadi klien para monopolis yang
dapat ditelusur terkait dengan jaring para kapitalis internasional. Demikianlah kurang
lebih analisis George (1999), Steger (2001), Mahattir (2003) serta kelompok
cendekiawan segaris.

Globalisasi, Kapitalis Internasional, dan Barang Publik2

Untuk lebih dapat menggambarkan perbincangan sekitar liberalisme dan


hubungannya dengan barang publik, pada bagian ini ditulis secara kronologis hubungan
ekonomi AS, liberalisasi, dan reformsi ekonomi di negara negara muslim.
Dasar-dasar ekonomi AS adalah ekonomi liberal, walaupun sebenarnya prinsip-
prinsip kesejahteraan umum juga dikembangkan. Dalam praktek, ekonomi Amerika
berbentuk ekonomi campuran (mixed economy), di mana terdapat sejumlah besar regulasi
yang bertujuan melindungan konsumen, lingkungan, kesehatan dan keselamatan
masyarakat, buruh, dan persaingan industri besar dan kecil yang mematikan.
Walaupun demikian, tetap dapat dikatakan bahwa Amerika merupakan negara
yang lebih liberal dibanding umumnya negara-negara muslim. Dengan demikian liberal
dan non liberal bukanlah suatu garis hitam putih tetapi merupakan tingkatan-tingkatan.
Negara liberal adalah negara yang menjamin tiga kebebasan berikut yaitu kebebasan
individual (personal liberty), kebebasan ekonomi (economic freedom), dan keseimbangan
kekuatan (balance of power).
Ajaran liberal merujuk kepada karya Bapak ekonomi modern Adam Smith (1723-
1790). Karya Smith diinpirasi oleh dua faktor yaitu tenaga kerja dan kuantitas produksi
didasarkan atas divisi tenaga kerja dan perusahaan yang tidak dibatasi oleh intervensi
pemerintah secara langsung di pasar dan dinsipirasi oleh kebebasan kepentingan
individu. Prinsip dari gagasan ini adalah bahwa perpaduan dari kepentingan pribadi akan
membentuk suatu harmoni umum dengan dorongan yang berkualitas dari kekuatan pasar.
Bahwa kemakmuran akan berkembang dengan spesialisasi tenaga kerja yang menjamin
produksi berada di tempat yang paling murah, adanya perdagangan yang lebih bebas,
dan adanya keterbukaan dan kebebasan pasar. Dengan alasan ini negara harus memberi
perlindungan yang kuat terhadap persaingan. Negara didorong secara subtansial untuk
memulai bergerak masuk kedalam sistem pasar bebas. Terutama untuk mengurangi peran
ekonomi pemerintah dan memberikan kebebasan kepada individu serta menghilangkan
mitos bahwa jalan satu-satunya untuk penyelamatan adalah dominasi negara dalam
bidang ekonomi. Penyelamatan harus datang dari kebebasan beraktifitas, kebebasan
pasar, kebebasan harga, kebebasan negosiasi upah, dan kebebasan melakukan hubungan
kontrak antar pengusaha dan pekerja. Adam Smith sendiri tidak menginginkan merampas
peran negara semuanya dari fungsi regulasi. Kerangka regulasi diperlukan dengan tanpa
prasangka misalnya untuk melindungi kekayaan perorangan. Demikian juga, harus ada
perlindungan sosial yang kuat bersamaan dengan upaya menjaga kompetisi yang bebas
dan adil.
2
Sebagian besar bahan ini disarikan dari buku Outline of the US Economy

40
Awal industrialisasi berjalan kepada situasi yang “naïve” exploitasi kelompok
buruh makin kuat. Dorongan perbaikan didesakkan, dan pada akhir abad 19, merespons
masalah ini kemudian diperkenalkan asuransi sosial untuk sakit, kecelakaan, hari tua, dan
cacat. Kemudian lahir perlindungan pekerja wanita dengan maksimum 10 jam kerja
sehari, pekerja anak-anak tidak diperbolehkan sebelum selesai kewajiban sekolahnya, dan
adanya supervisi untuk industri. Gerakan buruh sebenarnya sudah mulai sejak abad ke
17. Gerakan ini semula merupakan bentuk kegiatan sosial yang bertujuan saling tolong
menolong sesama buruh, misalnya mengadakan semacam iuran untuk keperluan sesama
pekerja untuk santunan sakit, hari tua yang berkembang seperti sistem asuransi. Di
Inggris, kegiatan tolong menolong sesama pekerja tersebut dikuatkan secara legal dengan
lahirnya undang-undang Friendly Socities Act (Booth, 1995). Pada awal abad 18
beberapa negara Eropa meloloskan undang-undang keabsahan adanya serikat pekerja
yang jelas bertujuan menetapkan upah dan menghalangi mekanisme pasar. Namun,
kegiatan serikat pekerja yang sering mogok, mengintimidasi, dan yang mendekati
kriminal, mendorong parlemen Inggris mengesahkan undang-undang yang melarang
kekerasan (1824-1825).
Sukses ekonomi Amerika memberi validasi terhadap pandangan bahwa ekonomi
akan bekerja terbaik jika pemerintah meninggalkan bisnis dan menyerahkan individu
untuk meraih sukses atau kegagalan atas tanggung jawab mereka sendiri dalam situasi
pasar yang terbuka dan kompetitif. Tetapi seberapa bebas sebenarnya dunia bisnis di
dalam sistem Amerika ? Jawabanya adalah kebebasan itu tidaklah seutuhnya sempurna.
Suatu jaringan regulasi pemerintah yang kompleks membentuk banyak aspek dari operasi
bisnis. Setiap tahun, pemerintah menghasilkan ribuan halaman3 berupa regulasi regulasi
baru yang mengatur dunia bisnis apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan.
Dengan demikian, ekonomi liberal yang dijalankan di Eropa, setelah masa
industrialisasi yang “naïve” yang menyebabkan kemiskinan buruh, sudah mulai
dilakukan koreksi internal. Koreksi itu, antara lain dilakukan dengan adanya berbagai
program jaminan sosial. Peran negara dalam melakukan redistribusi dengan jalan
memungut pajak pada si kaya untuk membiayai kebutuhan publik dan memberi jaminan
orang yang tidak mampu di Eropa dan Amerika. Dalam buku Outline of the US Economy
(2003) yang merupakan terbitan resmi, hubungan negara dan ekonomi dapat diringkas
sebagai berikut.
Dalam dunia praktek, ideologi laissez faire (tinggalkan dia sendiri) tidak
menghalangi pemerintah untuk membantu dalam banyak hal, perusahan kereta api
menerima hibah tanah dan subsidi di abad 19. Industri yang menghadapi persaingan yang
sangat kuat dari luar mendapat proteksi melalui kebijakan perdagangan. Pertanian
Amerika juga telah mendapat bantuan yang menguntungkan dari pemerintah. Banyak
industri yang lain mendapat bantuan pemerintah dari keringan pajak sampai subsidi.
Regulasi pemerintah atas industri swasta dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu
regulasi ekonomi dan regulasi sosial. Regulasi ekonomi bertujuan khususnya untuk
mengontrol harga, dan untuk melindungi jenis usaha tertentu yang umumnya berupa
usaha kecil dari ancaman perusahaan yang lebih kuat. Alasannya bahwa kondisi
3

41
persaingan pasar yang kompetitif tidak terwujud dan karenanya tidak dapat membentuk
proteksi mereka sendiri. Dalam banyak hal, regulasi ekonomi dilakukan untuk
menghindari apa yang disebut kompetisi yang destruktif. Regulasi sosial, di sisi lain,
bertujuan di luar masalah ekonomi, seperti aturan keselamatan kerja, kesehatan, dan
lingkungan.
Regulasi sosial bertujuan untuk menghalangi perilaku perusahaan yang
membahayakan dan mendorong perilaku yang secara sosial dikehendaki. Pemerintah
mengontrol emisi asap. Dan sebaliknya memberikan keringan pajak bagi perusahaan
yang memberikan kepada para pekerja jaminan kesehatan dan pensiun yang memenuhi
standar tertentu.
Sejarah ekonomi Amerika merupakan tarik menarik pendulum antara prinsip
laissez faire dan kebutuhan regulasi. Awalnya merupakan ekonomi liberal yang naïve.
Kemudian sejak akhir abad 19, terutama awal abad 20 sampai akhir 1970an disebut masa
regulasi. Tahun 1980an sampai sekarang merupakan masa deregulasi (neo liberal) ketika
parlemen setuju untuk mengurangi regulasi ekonomi. Mereka setuju bahwa regulasi
secara salah melindungi perusahaan dari kompetisi dengan menjadi biaya para konsumen.
Deregulasi Amerika (menguatnya Neoliberal) selama 25 tahun terakhir, berimpitan
dengan perkembangan teknologi informasi, khususnya internet, liberalisasi, dan integrasi
pasar dunia. Globalisasi kapital dan uang melalui transaksi dengan fasilitas internet
selama 24 jam menyebabkan terjadinya integrasi pasar yang tidak mengenal lagi batas
negara. Gelombang uang masuk dan keluar sering menyebabkan krisis di negara sedang
berkembang seperti yang kita saksikan di Asia Tenggara. Lembaga pasar saham dan uang
yang belum kuat di negara sedang berkembang sering dijadikan tempat spekulasi untuk
mengeruk keuntungan (Steger, 2002). Dengan demikian selama 25 tahun terakhir ini,
perubahan peran pemerintah AS di sektor bisnis pengaruhnya bagi negera sedang
berkembang sangat besar.

Masa menguatnya regulasi 1890 - 1980


Sebagaimana diuraikan di atas abad 18 sampai akhir abad 19 bisa dikatakan
Amerika melaksanakan kehidupan ekonomi dan sosial yang sangat liberal, bahkan
dikatakan sebgai naïve liberlism. Pada abad 19 di samping perburuhan, di bidang industri
mulai diatur kompetisi, hal ini didorong oleh kekhawatiran konsolidasi beberapa
perusahaan akan membahayakan industri kecil dan juga konsumen. Pada 1890, konggres
mengesahkan undang-undang Sherman Antitrust, undang-undang ini didesign untuk
memperbaiki kompetisi dengan menghentikan monopoli-monopoli. Pada 1906, konggres
meloloskan undang2 yang mengatur pangan dan obat2an, antara lain berisi agar pangan
da obat harus secara benar dilabelkan, dan daging harus diinspeksi sebelum dijual.
Tahun 1930an terjadi resesi yang hebat, akibatnya terjadi pengangguran yang besar
di Amerika. Hal ini mengisnpirasi Keynes menulis bukunya, The General Theory, yang
melihat perlunya manajemen ekonomi dari pemerintah. Jika ekonomi mengalami

42
booming pemerintah sebaiknya mengencangkan pengeluaran, yang bertujuan supaya
sektor bisnis tidak merespon dengan ekspansi yang berlebihan yang nanti akan melebihi
kapasitas ketika ekonomi sudah normal kembali. Sebaliknya, pada waktu resesi,
pemerintah sebaiknya memperbesar pengeluaran, supaya permintaan umum meningkat
dan sektor bisnis tetap dapat beroperasi.
Perubahan terbesar dari peran pemerintah terjadi selama periode “New Deal” yang
merupakan respons dari Presiden Franklin Roosevelt’s terhadap depresi saat itu. Karena
selama periode 1930an bisnis memburuk dan juga pengangguran yang tinggi, banyak
orang berpendapat bahwa kebebasan kapitalisme sudah gagal. Mereka berpaling kepada
pemerintah untuk melepaskan kesulitan dan mengurangi kompetisi yang sudah bersifat
self destructive merusak diri sendiri. Rooselvelt dan konggres meloloskan atau
meratifikasi undang-undang yang memberi kekuasaan kepada pemerintah untuk
mengintervensi ekonomi. Di antara pengaturan itu adalah regulasi penjualan saham,
mengakui hak buruh untuk membentuk serikat buruh, menetapkan peraturan mengenai
upah dan jam kerja, memberi tunjangan kepada pengangur dan uang pensiun kepada
lanjut usia, memberi subsidi pertanian, menjamin deposito bank, dan menciptakan suatu
otoritas pembangunan di lembah Tennessee. Banyak undang-undang diloloskan sejak
1930an untuk memproteksi pekerja dan konsumen. Larangan diskriminasi dalam
mempekerjakan baik dalam umur, jenis kelamin, suku, dan keyakinan agama. Pekerja
anak-anak secara umum dilarang.
Serikat pekerja diberi hak untuk berorganisasi. Pemerintah juga mengeluarkan
peraturan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja. Hampir setiap produk di AS
dikenakan pengaturan pemerinatah: produk makanan harus menyatakan dengan jelas apa
yang terkandung di dalamnya, obat tidak boleh dijual sebelum di uji dengan sempurna,
mobil harus dibuat dalam rancangan keamanan yanga standar dan harus memenuhi
standar polusi, harga barang-barang harus ditentukan oleh pasar yang bersih, dan
advertensi tidak boleh menyesatkan konsumen.
Sampai awal 1990an Konggres sudah menghasilkan lebih dari 100 peraturan
federal (Pusat) di berbagai lapangan dari perdagangan sampai komunikasi, dari nuklir
sampai keamanan produk, dan dari obat sampai kesempatan pekerja. Di antara yang
terbaru adalah adminsitrasi Penerbangan Federal (1966), yang mengatur keselamatan
penerbangan.
Administrasi Keamanan Jalan Raya (1971) mengatur mobil yang oversees dan
keselamatan dalam mengemudi. Badan-badan tersebut dijalankan oleh badan
independen yang harus mendapat persetujaun Senat. Badan-badan tersebut umumnya
bekerja untuk waktu 5 sampai 7 tahun. Setiap badan memiliki staf sering sampai di atas
1000 orang. Kongres menentukan keuangan dan pekerjaan yang dilakukan oleh Badan
tersebut. Dalam beberapa kasus Badan itu bekerja seperti pengadilan. Mendengar dan
mengkaji aturan-aturan yang harus ditegakkan.

43
Di samping adanya Badan-Badan, anggota legislatif juga bertindak untuk
mempengaruhi suatu keputusan atas nama konstituen yang diwakilinya. Suatu bisnis
dikatakan beruntung karena belum terjamah adanya peraturan yang mengaturnya. Agen
dari badan-badan itu sering memerlukan pengetahuan yang mendalam dari bisnis yang
sedang diaturnya.

Masa deregulasi dan menguatnya neoliberal (1977 sampai kini)


Di bawah Presiden Jimmy Carter (1977-1981) kongres menyetujui undang-
undang untuk menghilangkan regulasi sekitar penerbangan, angkutan jalan raya, dan
kereta api. Perusahaan diliberalisasi untuk memilih rute dan menetapkan tarif sendiri.
Dalam proses deregulasi transportasi, Konggres menghilangkan dua regulasi ekonomi
utama: Komisi Perdagangan Antar Negara bagian yang berusia 109 tahun, dan Dewan
Penerbanagan Sipil yang berusia 45 tahun. Impak pada industri penerbangan, misalnya,
setelah regulasi ditiadakan, perusahaan penerbangan menjadi tak bearaturan. Kompetitor
yang baru bermunculan, sering menyewa pilot diluar serikat pekerja, pilot yang bersedia
dibayar lebih murah, dan menghilangkan layanan-layanan dasar. Perusahaan-perusahaan
besar yang terbiasa mengikuti tarif pemerintah yang dapat menutup seluruh biaya
mereka, sulit menghadapi kompetisi.
Beberapa di antara penerbangan beralih ke pasar commuter yang semula dilayani
oleh penerbangan kecil. Untuk konsumen, secara umum menyebabkan biaya tiket turun,
hal yang sama terjadi di Indonesia pada akhir tahun 1990an ketika penerbangan swasta
diijinkan beroperasi. Jumlah penumpang meningkat pesat baik di AS maupun di
Indonesia pasca deregulasi penerbangan.
Deregulasi telekomunkasi di AS terjadi pada tahun 1980an. Semula telepon
merupakan monopoli AT&T (American Telephone and Telegraph) yang mengontrol
hampir seluruh aspek bisnis telepon. Sama seperti Indonesia saat ini, harga telepon diatur
oleh komisi komunikasi federal yang bertugas meregulasi tarif jarak jauh antar negara
bagian, sementara, regulator di negara bagian bertugas menetapkan tarif lokal dan tarif
jarak jauh dalam negara bagian. Regulasi pemerintah dalam bidang telepon dan listrik
dibenarkan karena keduanya memiliki sifat monopoli natural. Kompetisi dipandang
sebagai pemborosan karena akan menyebabkan banyak jaringan kabel di seluruh negara.
Pemikiran ini berubah sekitar tahun 1970an, ketika perkembangan teknologi
memungkinkan telekomunikasi yang lebih cepat dan canggih.
Deregulasi telepon terjadi dalam dua tahap besar, tahun 1984, pengadilan secara
efektif menghentikan monopoli AT&T, kompetitor yang kuat seperti MCI
Communication dan Sprint Communications memenangkan beberapa bisnis,
memperlihatkan bahwa kompetisi dapat mendorong harga yang lebih rendah dan
meningkatkan servis.

44
Satu dekade kemudian, teknologi baru termasuk TV kabel, handphone atau
cellular, internet, dan kemungkinan lainnya – menawarkan altrernatif-alternatif
komunikas. Jaringan AT&T yang ada memungkinkan untuk digunakan secara bersama.
ada tahun 1996, Konggres merespon dengan Undang-Undang telekomunikasi, yang
mengijinkan perusahaan di luar AT & T memulai bisnis telepon lokal. Hal ini berarti
diijinkannya kompetitor untuk ikut menggunakan jaringan kabel yang semula
dimonopoli secara regional. Sampai artikel ini ditulis jaringan di Indonesia dikuasi oleh
PT Telkom. Untuk sambungan tanpa kabel kompetitor sudah mulai ada seperti Indosat
dan VOIP. Peraturan yang mengijinkan masuknya kompetitor sudah dimulai pada
februari 2006, tender untuk penggunaan frekuensi 3G dimenangkan oleh beberapa
perusahaan yang diharapkan akan menurunkan harga komunikasi.
Sampai akhir 1990an, di AS banyak perusahaan yang lebih kecil mulai
menawarkan servise lokal khususnya di perkotaan, di mana mereka mendapat pelanggan
yang besar dengan biaya dengan tarif yang rendah. Jumlah pelanggan telepon selular juga
meningkat pesat. Demikian juga jasa internet yang menghubungkan rumah tangga
dengan jaringan internet. Masa ini kita kenal dengan revolusi teknologi informasi.
Internet memainkan peranan lalu lintas informasi yang luar biasa, surat, foto,
gambar, berita, artikel, majalah ilmiah, dan buku mutakhir dapat diakses dengan mudah.
Bahkan kemudian berkembang ke gabungan suara dan gambar di mana hubungan
telekomunikasi antar negara dapat dilakukan dengan kombinasi tulis, suara, dan melalui
kamera gambar visual kedua fihak. Jepang merupakan negara dengan harga saluran
internet termurah. Di Indonesia sekarang harga langganan per 1 mega masih berkisar 30
sampai 38 juta rupiah per bulan. Di Jepang, harga per 1 mega tersebut hanya sekitar 5000
rupiah. Ini semua disebabkan oleh regulasi pemerintah yang mewajibkan perusahaan
negara telekomukasi Jepang meminjamkan jaringan kabel optiknya kepada perusahaan
lain.

Regulasi-deregulasi di bidang keuangan dan perbankan.

Perbankan walaupun dimiliki oleh swasta memainkan peran sentral dalam


ekonomi. Pada masa depresi, tahun 1930an, banyak depositor panik, mereka antri untuk
mengambil uangnya di perbankan. Tentu saja hal ini membuat bank yang hati-hatipun
tidak mampu menyediakan dana tersebut. Oleh karena itu pemerintah AS memiliki
kepentingan yang besar untuk menyelamatkan operasi perbankan.
Sama dengan krisis yang melanda kita akhir-akhir ini, pemerintah AS pada waktu
itu menjamin deposito di bawah jumlah tertentu, dengan jalan mendirikan perusahaan
asuransi (Federal Deposit Insurance Corporation). Bahkan, jika perlu hal tersebut diback
up melalui anggaran pemerintah. Cara ini ternyata dapat menenangkan depositor.
Di samping itu paket kebijakan “New Deal” dicanangkan oleh presiden
Rooselvelt melarang bank dari bisnis sekuritas dan asuransi yang memiliki resiko besar.

45
Sebelum depresi tahun 1930an banyak bank berinvestasi di pasar saham yang beresiko
dan memberikan kredit kepada gorupnya sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi lagi,
parlemen mengundangkan Glass Steagall Act yang melarang percampuran antara bisnis
perbankan, saham-saham, dan asuransi. Sampai 1970-an, regulasi tersebut menumbuhkan
kontroversi, karena perbankan akan kehilangan konsumen dengan tidak diijinkannya
memberikan jasa keuangan yang lain.
Pemerintah kemudian merespons dengan memberi kebebasan lebih besar kepada
bank-bank untuk menawarkan kepada konsumen jasa finansial yang baru. Kemudian,
pada akhir 1999, Konggres mengundangkan Financil Service Modernization Act of 1999
yang merevisi Glass Steagall Act.
Ternyata, undang-undang yang baru menyebabkan perbankan melampaui
kebebasan yang diharapkan. Bank menawarkan sesuatu dari consumer banking sampai
menjadi penjamin (underwriting) saham-saham. Hal ini memungkinkan bank-bank,
saham-saham, perusahaan asuransi untuk membentuk konglomerasi perusahaan
keuangan. Peruasahaan tersebut dapat memasarkan sejumlah produk-produk, misalnya
produk yang mengkaitkan saham dan obligasi, asuransi dan pinjaman pembelian mobil.
Sebagaimana perundangan yang menderegulasi transportasi, telekomunikasi, dan industri
industri lain, undang –undang baru tersebut mendorong suatu gelombang merger antara
institusi keuangan.
Secara umum, legislasi New Deal tahun 1930an sudah sukses, dan sistem
perbankan Amerika sudah sehat seperti menjelang perang dunia II. Akan tetapi,
perbankan kembali dilanda kesulitan pada 1980 dan 1990an. Sesudah perang,
pemerintah sangat antusias untuk mempercepat pemilikan rumah kepda masayarakat,
sehingga ia membantu menciptakan industri sektor perbankan baru – saving & loan
(S&L) yang berkonsentrasi memberikan pinjaman jangka panjang yang dikenal dengan
mortgages. Saving and loans menghadapi satu problem utama: Morgages yang umumnya
berjangka 30 tahun dengan suku bunga tetap, sedangkan deposito sebagai sumber dana
memiliki jangka waktu yang sangat pendek. Ketika suku bunga jangka pendek
meningkat di atas suku bunga jangka panjang dari mortgages, S&L mengalami kerugian.
Untuk melindungi asosiasi S&L dan perbankan ini, para pengambil kebijakan
memutuskan untuk mengontrol suku bunga deposito. Hal ini menunjukkan bahwa
liberalisasi AS sangat fleksible melihat kasus dan permasalahan yang dihadapi. Jika
liberalisasin berakibat destruktif atau tidak menguntungkan secara social, pemerintah
akan melakukan pembatasan.
Di Indonesia liberalisasi yang disyaratkan sejak reformasi yang oleh IMF
dilaksanakan dengan naïve lebih bebas dan negara asalnya. Liberalisasi tersebut sering
memiskinkan petani dan industri kecil lainnya. Industri-industri besar dan pemilik
monopoli sering ditolong pemerintah, tetapi persaingan yang ketat dan digunakannya
prinsip mekanisme pasar murni di sektor swasta kecil menengah berlaku sampai

46
mematikan. Modal yang digunakan oleh pemain kecil menengah sering hanya satu-
satunya milik, persaingan yang mematikan menyebabkan mereka jatuh miskin.
Kasus S&L di AS disebabkan oleh pinjaman massive perumahan kepada rakyat
yang sumber dananya diperoleh dari deposito. Deposito dengan bunga rendah menjadi
tidak menarik, karena orang cenderung menempatkan uangnya untuk fortofolio yang lain
seperti saham dan obligasi. Ketika batas bunga deposito dinaikkan supaya bersaing
dengan saham dan obligasi S&L memang mendapat sumber baru. Akan tetapi, hal ini
menyebabkan kerugian, karena kredit jangka panjang untuk rumah sudah ditulis dengan
kontrak bunga rendah dan tetap. Kemudian, menjawab permalahan itu, konggres
melonggarkan pembatasan-pembatasan yang bertujuan mendorong S&L untuk
mendapatan penghasilan investasi yang lebih tinggi. Khususnya Konggres mengijinkan
S&L memberikan pinjaman konsumen, business, dan komersial real estate. S&L juga
memperluas diri kedalam aktifitas aktifitas beresiko tinggi seperti spekulasi pada
pembiayaan real estate. Dalam banyak kasus, kerjasama ini terbukti tidak
menguntungkan, khususnya ketika kondisi ekonomi memburuk. S&L diambil alih oleh
orang yang tidak tepat yaitu para perampok. Krisis S&L dalam beberapa tahun
berkembang kedalam skandal keuangan nasional terbesar dalam sejarah Amerika. Pada
akhir dekade itu, banyak S&L jatuh kedalam kebangkrutan. S&L yang ada pada tahun
1970 tingal menjadi setengah pada tahun 1989. Tabungan federal dan perusahaan
asuransi pinjaman yang menjamin uang deposito menjadi tidak mampu membayar. Pada
tahun 1989, Konggres dan presiden setuju atas talangan untuk pembayar pajak yang
dikenal dengan Financial Institution Reform, Recovery and Enforcement Act (FIRREA).
Undang-undang ini memberi $ 50 milyar dolar untuk menutup kegagalan S&L, secara
total merubah aparat regulator untuk lembaga tabungan, dan memasukkan pembatasan
portofolio yang baru.
Suatu agensi pemerintah yang disebut Resolution Trust Corporation (RTC) telah
disusun untuk melikuidasi lembaga-lembaga yang tidak mampu membayar. Pada bulan
maret, 1990, sebesar 78 milyar dolar sudah dipaksakan diambil alis kedalam RTC. Akan
tetapi, estimasi dari biaya total dari S&L terus memuncak mencapai 200 milyard dolar.
Pelajaran yang dapat dipetik dari sejarah keuangan AS setelah perang dunia
disimpulkan sebagai berikut. Pertama, adanya asuransi pemerintah untuk memproteksi
penabung kecil dan membantu menjaga stabilitas sistem perbankan dengan mengurangi
bahaya menjalankan bank. Kedua, kontrol suku bunga tidak perlu dijalankan. Ketiga,
pemerintah tidak perlu mengawasi langsung investasi perbankan, melainkan, investasi
hendaknya didasarkan pada kekuatan pasar dan keuntungan ekonomi. Keempat, pinjaman
bank kepada sesama group harus diawasi dan dibatasi. Kelima, ketika bank bangkrut
harus ditutup secepat mungkin, para deposan dibayar, dan pinjamannya dialihkan kepada
yang lain yang lebih sehat. Mempertahankan lembaga yang bangkrut hanya
mensolidkan pinjaman dan dapat menekan aktifitas ekonomi.

47
Regulator menetapkan persyaratan untuk meningkatkan jumlah kapital
pemiliknya yang subtantif, artinya tidak boleh hanya memainkan uang orang lain (para
penabung). Hal ini bertujuan agar perbankan memiliki dana yang dapat digunakan untuk
menyerap kerugian, dan mendorong pemilik bank untuk beroperasi secara bertanggung
jawab, karena jika mereka terjadi kerugian, mereka akan kehilangan dananya sendiri.
Regulator juga menekankan pentingnya persayatan bank untuk membuka status
finansialnya, hal ini mendorong bank berperilaku lebih bertanggung jawab jika aktifitas
dan kondisinya diketahui oleh publik. Regulasi ini adalah contoh yang nyata dari
intervensi pemerintah dalam ekonomi untuk tujuan sosial.
Demikianlah peran pemerintah AS kedalam ekonomi yang semula memberikan
kebebasan sampai memasuki abad 20 dan kemudian selama hampir satu abad melakukan
regulasi (intervensi), dan membebaskannya kembali sejak akhir 1980an bersama dengan
gelombang globalisasi yang dipicu oleh perkembangan industri informasi, dan
pembebasan industri komunikasi di dalam negeri AS. Di sektor perbankan tampaknya
terjadi kasus khusus karena setelah dicoba diberi kebebasan kemudian menjadi
berlebihan dan menjadi krisis, akhirnya dilakukan regulasi kembali.
Sumber dan penanganan krisis perbankan ini hampir mirip dengan apa yang
dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Pada saat terjadi krisis keuangan, Bank Indonesia
menaikkan suku bunga, perbankan akhirnya merugi karena kredit yang sudah disalurkan
dengan perjanjian yang panjang dengan bunga tertentu, sementara untuk memperoleh
deposito yang baru harus membayar bunga yang tinggi (bank mengalami negative
spread). Di samping itu banyak bank memberikan kredit kepada groupnya sendiri yang
kemudian menjadi macet. Negative spread ternyata tidak terjadi kepada Bank Islam. Hal
ini disebabkan pembayaran kepada deposan dalam sistem bank Islam diambangkan,
sesuai dengan keuntungan yang diperoleh oleh bank. Hanya saja, nasabah bank Islam
mungkin tergoda untuk mengalihkan dananya kepada bank konvensional, ketika bunga
meningkat tinggi, atau paling tidak hal ini akan menjadi bench mark bank Islam untuk
menyenangkan deposannya. Bank Islam di Indonesia pasca krisis ekonomi meningkat
pesat, baik jumlah pemain, aset, dana yang dihimpun, sejalan dengan pertumbuhan kantor
cabang dan nasabahnya. Kota-kota besar dan menengah sudah dimasuki Bank Syariah
yang tanpa terasa menyebabkan menghilangnya phobia terhadap syariah.

Ketidakpuasan terhadap neoliberal

Sebagaimana dikemukakan di atas, bahwa sejak akhir tahun 1980an terjadi


gelombang deregulasi di AS kecuali untuk sektor perbankan yang regulasinya diperlukan
justru untuk menguntungkan dan menyehatkan operasi bank. Gelombang deregulasi
tersebut berimpit dengan globalisasi, yang berintikan kepada liberalisasi dan integrasi
pasar dunia, disertai deregulasi dan privatisasi di AS sendiri dan di berbagai negara
sedang berkembang terutama yang sedang tergantung kepada lembaga keuangan dunia
yang sahamnya juga dikuasai oleh para kapitalis internasional di AS.

48
Deregulasi di AS, pada akhir 1970an, diberlakukan dalam bidang komunikasi,
dan transportasi yang semula merupakan monopoli perusahaan publik, bersamaan dengan
perkembangan internet dan kemudian isue globalisasi dunia. Perkembangan internet
untuk memfasilitasi transaksi di pasar modal dan pasar uang sungguh luar biasa. Lalu
lintas modal dan uang antarnegara menyebabkan integrasi pasar dunia yang beroperasi
selama 24 jam.

Uang dan modal bergerak antarbursa dan antarnegara yang umumnya merupakan
investasi jangka pendek. Pada waktu terjadi gelombang masuk dan penarikan yang tidak
normal uang dan modal tersebut umumnya dapat melumpuhkan bursa di negara-negara
dengan kekuatan ekonomi yang kecil. Inilah yang terjadi di Asia Tenggara, perpaduan
antara gelombang pemasukan dan penarikan uang dari pemain asing, dan utang yang
jatuh tempo menyebabkan krisis keuangan dan yang kemudian menjalar menjadi krisis
multidimensi. Steger (2002), mengungkapkan bahwa para spekulator sering mengambil
keuntungan atas kelemahan bursa di negara-negara dengan kekuatan ekonomi kecil.

Dr. Mahhattir Muhammad yang pada waktu itu menjabat sebagai Perdana Menteri
menyatakan kenyataan bahwa negara-negara di Asia Tenggara direkayasa oleh kapitalis
Barat (Steger, 2002). Hal ini kemudian dibantah oleh Freeman, bahwa tidak ada
seorangpun yang dapat dipersalahkan, karena pemain-pemain itu anonim tak bernama,
mereka menghadapi layar komputer yang terjalin di seluruh dunia, dan memutuskan
untuk membeli atau menjual, saham atau uang berbagai negara. Dunia benar-benar
terintegrasi khusunya melalui pasar modal dan uang. Liberalisasi dan integrasi lalu lintas
uang dan modal tersebut dibarengi dengan berbagai pertemuan yang betujuan
membebaskan keluar masuknya komoditi yang bermakna tidak boleh ada pembatasan
konsumsi kepada berbagai produk asing.

Pembantasan konsumsi barang mewah, misalnya mobil mewah, yang memerlukan


banyak devisa sudah dilakukan pada masa Orde Lama dengan ketat, dan dilakukan oleh
Orde Baru dengan moderat. Kebebasan yang dilakukan pada orde reformasi dibarengi
dengan liberalisasi kapital, uang, dan komoditi, menyebabkan penggunaan devisa yang
boros, pada hal devisa itu diperoleh dengan susah payah melalui pengiriman tenaga kerja
wanita (TKW), dan penjualan hasil alam yang tidak bisa diperbarui khususnya minyak,
dan demikian juga hutan. Tujuan liberalisasi perdagangan tersebut adalah untuk
mengimbangi liberalisasi uang dan modal. Akibatnya sumber-sumber alam di dunia
ketiga dan dunia muslim seolah tergadai, hanya ditukar dengan uang kertas yang dengan
itu dibelanjakan untuk konsumsi barang mewah yang akan rusak dalam beberapa tahun.

Berbagai deregulasi dan swastanasasi di AS membawa implikasi pemisahan


kepemimpinan politik dan ekonomi. Para pemimpin politik sering menghadapi dilema
yang memaksanya tunduk kepada pemimpin ekonomi karena alasan-alasan berikut.
Secara langsung untuk mendapat pembiayaan kampanye dan partai politik, dan secara
tidak langusng, untuk mendapatkan sambutan ketika pemerintah melakukan program
ekonomi. Pemimpin ekonomi (para kapitalis) dapat tidak merespons pemimpin politik
dan dengan demikian pemimpin politik akan jatuh. Pada akhirnya pemimpin ekonomi
yang disebut para kapitalis internasional lah yang lebih berkuasa. Dalam kasus perbankan

49
pemerintah demi menyelamatkan ekonomi yang lebih luas sering terpaksa
menyelamatkan dengan menggunakan uang publik.

Ada indikasi perang dan politik AS misalnya selalu dituntun oleh kepentingan
kapitalis untuk menguasai sumber-sumber ekonomi. Kaum kapitalis ini menuntut
pembukaan pasar di seluruh dunia baik pasar modal, uang, maupun pasar komoiditi.
Melalui IMF yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Bank Sentral Amerika dan Bank
Sentral tersebut dimiliki Bank-Bank pendiri yang akhirnya dimilki kelompok Bankir
yang beretnis tertentu (lihat Maulani, 2002; Susan George, 1999) negara sedang
berkembang terutama yang mengalami krisis diarahkan untuk melaksanakan prinsip
liberalisasi, swastanisasi, dan deregulasi sebagaimana dilaksanakan di AS sejak akhir
1970an.

Jika swastanisasi, deregulasi, dan liberalisasi yang merupakan resep IMF tersebut
dijalankan, maka kepemimpinan ekonomi akan jatuh ketangan swasta, dan melalui
globalisasi modal dan kapital akhirnya kepemimpinan ekonomi tersebut akan bermuara
kepada kapitalis internasional yang kini memimpin AS. Penguasaan dunia benar-benar
terjadi melalui penguasaan ekonomi. Para pemimpin politik hanyalah simbol yang
berganti melalui ritual pemilihan umum lima tahunan. Para pemimpin politik tidak dapat
melakukan perubahan yang fondamental pada masyarakat liberal, dan masih harus selalu
takluk kepada pemimpin ekonomi. Para pemimpin ekonomi atau kapitalis internasional
merupakan dinasti yang panjang yang kekuasaannya merupakan sebuah imperium yang
luas. Sebelum turun tahta Dr Mahattir memberi pernyataan mengejutkan bahwa para
kapitalis menguasai dunia melalui mandat. Pernyataan tersebut seperti merupakan oleh-
oleh yang penting yang disimpan oleh Mahattir dari kepemimpinannya yang panjang.
Negara-negara Barat membuat reaksi keras atas pernyataan Mahattir, akan tetapi sehari
berikutnya Mahattir sudah menjadi rakyat biasa, maka selamatlah Malaysia.

Dua sisi mata pedang liberalisasi

Sebagaimana diceritakan di atas bahwa liberalisasi dan swastanisasi penerbangan


dan telekomunikasi sangat menguntungkan konsumen. Rakyat biasa sekarang sudah biasa
terbang dan menikmati biaya telekomunikasi yang cenderung turun. Swastanisasi dan
liberalisasi di sektor ini sangat menguntungkan konsumen. Di sisi lain, dalam hubungan
internasional, liberalisasi mengancam petani dan rakyat di negara sedang berkembang
yang justru menjalankan liberalisasi berlebihan. Produk dasar petani tersaingi dan
menekannya menerima harga yang rendah. Sumber alam mereka juga tergadai akibat dari
tingginya hutang dolar. Hutang tersebut merpakan akumulasi dari masuknya barang dan
jasa asing lebih besar dari nilai ekspor, plus hutang langsung, dan repatriasi laba
perusahaan asing di negara sedang berkembang. Dengan ikatan akumulasi hutang
pemenuhannya, memaksa negara muslim dan negara sedang berkembang menjual sumber
alamnya secara terus menerus.

Kelompok penentang globalisasi dan ideologi neoliberalisme bukan hanya terjadi


di negara sedang berkembang, tetapi juga di negara maju. Di negara maju umumnya
berintikan kepada perdebatan apakah ”welfare state” yang memungkinkan rakyat
mendapat layanan publik gratis dan berbagai tunjangan masih perlu dipertahankan.

50
Welfare state memungkinkan rakyat memperoleh layanan publik yang akan menjadi
beban pajak pengusaha, ekskutif, dan pekerja umumnya. Apakah anggaran negara dari
pajak diperuntukkan untuk mendorong bisnis atau sosial.

Tokoh seperti Stiglitz yang merupakan penerima nobel, adalah tokoh yang
semula berkerja di Bank Dunia yang kemudian agak berseberangan dengan mainstream
mereka, demikian juga Susan George. Sussan George (1999) menyatakan bahwa ideologi
pasar yang dibarengi dengan swastanisasi pengelolaan barang publik menyebabkan orang
miskin tidak mampu membayar kebutuhan vitalnya. Untuk memperoleh gas pemanas
ruangan di musim dingin misalnya, ia mencontohkan, orang miskin terpaksa
menggunakan koin untuk memutar meterannya. Demikian juga swastanisasi air,
pendidikan, dan kesehatan mungkin akan berakibat sama. Di negara sedang berkembang
protes terhadap ideologi liberal bukan hanya karena kemungkinan harus membayar
kebutuhan publiknya, tetapi hubungan antar bangsa terlihat timpang, di mana sumber-
sumber alam dunia ke tiga diserap untuk menopang industri dan konsumsi yang tinggi di
negara maju.

Secara kelembagaan antiglobalis atau anti liberalis dapat digolongkan kepada


sayap kiri dan sayap kanan. Kelompok-kelompok itu antara lain, Nasionalis –
Proteksionis yang dipersonifikasi oleh Patrick Buchanan yang semula merupakan
jurubicara preiden Nixon dan kemudian menjadi kandidat presiden partai Republik
bersaing melawan Bush senior. Di Eropa, partai nasional populis seperti Jong Haider’s
Austrian Freedom Party, Jean Mary Le Pen’s French National Front, Gerhard Frey’s
German People’s Union, Gianfranco Fini’s Italian National Alliance semuanya
memperlihatkan oposisi kepada “American-style globalization” dan mendorong adanya
tata dunia baru yang multikultur (multicultural “new world order”). American style
dianggap sebagai penyeragaman terhadap kultur Amerika ke seluruh dunia melalui
dominasi dan globalisasi.

Di negara sedang berkembang, Hugo Chavez dari Venezuela merupakan contoh


antiglobalis di selatan. LSM dan jaringan internasional umumnya concern terhadap
penyelamatan lingkungan, perdagangan internasional dan perburuhan yang adil, dan isu-
isu wanita. Ketiga sektor menderita dengan berlakunya ideologi neoliberal yang
mengandalkan mekanisme pasar yang seringkali tidak memperhatikan kerusakan
lingkungan, nasib buruh, dan terutama buruh perempuan. Pasar hanya mementingkan
produksi di tempat yang paling murah. Tenaga kerja wanita misalnya bersedia dibayar
murah supaya bisa bersaing dengan tenaga kerja pria. Jika hanya mengandalkan
mekanisme pasar maka modal akan memilih bekerjasama dengan buruh wanita. Di
samping itu, kelompok anti neoliberal juga datang dari Green Party diwakili oleh Ralph
Nader di AS. Ia menuduh WTO, IMF, dan Bank Dunia bertindak tidak demokratis dan
menjadi alat neo imperialis (Lihat Steger, 2002: 84-85). Kelompok Islam di negara
sedang berkembang juga cenderung tidak menyukai globalisasi dan Amerikanisasi. Di
samping ekonomi, kultur, dan pemikiran, religiusitas juga terserang oleh globalisasi.

Neoliberal dianggap sebagai ideologi di mana pemenuhan barang dan jasa yang
semula dikelola negara, sebaiknya diserahkan pasar, mengundang investor masuk dengan
mendorong harga yang layak sehingga investor mendapat keuntungan. Hal inilah yang

51
dikhawatirkan oleh para pengkritik. Para pengkritik khawatir bahwa anggaran negara
akan condong kepada bisnis dan tidak kepada program welfare state.

Perdebatan Welfare State-Neo liberalis.

Definisi mengenai welfare state sangat luas dan beragam. Di satu sisi definisi
welfare state adalah keterlibatan negara dalam menyediakan pekerjaan penuh bagi rakyat.
Pekerjaan adalah sumber pendapatan rakyat, jika negara dapat menyediakan pekerjaan
secara penuh maka kemiskinan rakyat akan berkurang dan rakyat akan sejahtera.
Definisi ini terlalu longgar, karena, dengan menganut kebebasan pasar, diasumsikan
bahwa interaksi suplai demand di semua bidang akan menyebabkan pengerjaan yang
penuh. Definisi lain dari welfare state adalah keterlibatan negara dalam pemenuhan
welfare (kesejahteraan) dan santunan-santunan. Wujud dari komitmen welfare dari
negara adalah tunjangan-tunjangan yang diberikan oleh negara untuk mendukung
keluarga-keluarga. Beberapa program welfare antara lain, pemberian pensiun kepada
orang lanjut usia, skema asuransi dan bantuan kesehatan, pendidikan, voucher untuk
bahan makan, makan di sekolah, pengawasan terhadap defisiesnsi mental, penanganan
kelahiran dan pengasuhan ibu dan bayi.

Program-program tersebut dibiayai dari pajak yang bersifat trade off. Jika suatu
anggaran yang jumlahnya tertentu dialokasikan untuk membiayai program welfare state
maka alokasi untuk membiayai fasilitas bisnis untuk memperkuat pasar pasti berkurang.
Fokus alokasi ini merupakan inti perdebatan antara kelompok liberal dan pembela
welfare state. Kelompok liberal cenderung ke arah pengelolaan negara secara makro
ekonomi, di mana jika investasi banyak dilakukan, investor datang karena tertarik oleh
program makro ekononomi pemerintah, maka akan terbuka lapangan kerja dan upah yang
diterima dapat untk membiayai kebutuhan keluarga. Kelompok pembela welfare state
sebaliknya, uang yang ada di tangan pemerintah sebaiknya dialokasikan langsung untuk
membantu kelompok miskin, orang lanjut usia, balita, pendidikan, pangan, kesehatan,
perumahan rakyat, air, petani, dan sekitarnya.

Indonesia sejak 1998 secara politik berubah paradigma dari pemerintahan yang
tersentral di tangan presiden dan cenderung otoriter ke bentuk yang lebih demokratis.
DPR yang semula merupakan tukang stempel, sekarang memiliki posisi yang lebih
seimbang dalam mengontrol kekuasaan. Di bidang ekonomi terjadi juga liberalisasi dan
pasarisasi. Peran pemerintah undur dari ekonomi, pemerintah semula memimpin
ekonomi, mengalokasikan berbagai subsidi untuk petani, dan melakukan berbagai
program kesejahteraan yang unik. Program kesejahteraan pada masa orde baru dapat
dilaksanakan sesuai dengan kemampuan keuangan pemerintah yang masih terbatas.
Program ini dimotori oleh Prof. Haryono Suyono yang memegang kementeian Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional yang juga sangat lama. BKKBN adalah
pertemuan antara kependudukan, kesehatan, dan ekonomi keluarga. Kantor ini semula
memperkenalkan keluarga berencana sangat berorientasi kependudukan. Kemudian
kantor ini mendorong ekonmi keluarga dengan memberikan batasan keluarga pra
sejahtera, sejahtera satu, dan seterusnya. Batasan-batasan tersebut digunakan untuk
memberikan stimulan yang bersumber dari dana kantor BKKBN yang dianggarkan

52
pemerintah. Prinsip dari dana tersebut adalah dana murah dan bergulir, yaitu angsurannya
digunakan untuk mengentaskan kelompok.

Di sektor moneter Presiden selama Orde Baru mengangkat langsung gubernur


Bank Indonesia sebagai bank sentral. Pesiden memerintahkan gubernur BI untuk
memberikan kredit khusus berbunga rendah kepada petani dan kelompok marginal
lainnya. Dengan demikian pemerintah melakukan intervensi kepada kelompok miskin
melalui sisi pengeluaran dan juga sisi perbankan-permodalan. Memang diakui ada
potensi kelemahan dari kemampuan intervensi ini ketika perusahaan yang memiliki missi
nasional tertentu yang kebetulan masih kerabat mendapat kredit khusus. Setelah
runtuhnya Orde Baru, gubernur BI dipilih oleh DPR, Bank Indonesia menjadi
independen. Keterkaitan BI kepada ekonomi disandarkan kepada mekanisme pasar. BI
yang baru melakukan kebijakan aktif menjaga nilai rupiah dengan target inflasi dan kurs
tertentu. Keterkaitan langsung dalam memberikan kredit khusus dan menunjang langsung
kelompok miskin dihentikan. Unit usaha kecil dan industri rumah tangga harus mampu
membayar biaya modal sesuai harga yang terbentuk di pasar.

Tidak dilanjutkannya usaha-usaha pembinaan ekonomi keluarga di bawah


BKKBN dan bersamaan dengan itu perubahan BI. Pengembangan eknonomi keluarga
menjadi terganggu. Akan tetapi, ketika pemerintah akan mencaabut subsidi bahan bakar
minyak, dana yang ada di tangan pemerintah digunakan untuk kesejahteraan melalui
bantuan langsung tunai, dan juga untuk membantu biaya sekolah melalui bantuan operasi
sekolah yang bertujuan mengurangi beban SPP. Usaha pemerintah ini baik, tetapi bisa
lebih baik jika kegiatan usaha ekonomi keluarga juga tetap didorong sehingga dana yang
terbatas dan tidak jelas kelangusangannya menjadi sistem nasional bulan hanya
mendorong konsumsi tetapi produksi. Usaha usaha intervensi Orde Baru terutama di
bawah BKKBN dan Bank Indonesia bernuansi produktif dan suplai side. Usaha usaha
pada era kebebasan sekarang bernuansi permintaan. Untuk negara dengan jumlah
penduduk yang besar, penganguran yang tinggi, industri formal yang terbatas, dan
ekonomi rakyat yang cenderung informal dan mandiri, usaha-usaha suplai side sangat
penting. Dari sisi suplai rakyat bukan hanya diberi uang, tetapi diakitkan dengan sisi
kualitatif yang mendorong kreasi bisnis kecil untuk menopang keluarga.

Pengucuran uang pemerintah dan pemerintah daerah kepada rakyat dari sisi
permintaan bahkan sangat politis berorientasi pada Pemilu dan kelangsungan kekuasaan.
Pendekatan tersebut sangat perlu disertai pendekatan sosial dan keagamaan. Di bawah
BKKBN konsep tahapan keluarga prasejahtera dan sejahtera diakitkan juga dengan
keajegan beribadah, di samping kecukupan pangan, perumahan, dan sandang. Kedua
pendekatan perlu dipadukan, karena hanya memberi kebebasan kepada masyarakat yang
ternyata memiliki buta aksara yang tinggi, ditunjukkan oleh tingginya angka tidak lulus
sekolah dasar, pendekatan welfare state dengan pembagian uang akan mendorong
perilaku yang sala. Pembagian uang itu sendiri disertai dengan antrian yang panjang
berdesakan yang menunjukkan kurang beradab. Pada bab pembiayaan negara diajukan
integrasi zakat dan pajak. Zakat adalah dana kesejahteraan yang dalam Islam harus
diserahkan kepada pemerintah. Akan tetapi pemerintah tidak daoat menggunakannya
kecuali seperdelapan, sedang yang 7/8 harus mengucur kepada kelompok miskin.
Nuansa liberal memang terlihat hanya pada angka dan krangnya pendekatan sosial atau

53
pendekatan kualitatif bahkan religius yang salah satunya usaha memberikan motivasi,
menggerakkan, dan memberi inspirasi bisnis keluarga yang dimulai dari kecil-kecilan.

Dari sektor korporasi terjadi juga perdebatan dari nuansa liberal dan nasionalisme.
Sebagaimana terjadi polemik akhr-akhir ini di Indonesia apakah minyak di Cepu
dikerjakan sendiri oleh Pertamina atau diserahkan kepada investor Exxon. Kelompok
yang cenderung kepada Pertamina terpanggil oleh nasionalisme, sedangkan kelompok
yang mendukung Exxon cenderung kepada pendekatan investasi. Kelompok
nasionalisme cenderung dekat dengan welfare state walaupun tidak selamanya demikian,
sedang kelompok pendukung Exxon cenderung dekat dengan liberal, walaupun tidak
selamanya demikian, misalnya jika pemerintah daerah memberikan bagi hasilnya untuk
subsidi langsung kepada orang miskin. Disebut welfare state haruslah porsi anggaran
untuk menopang kebutuhan keluarga miskin tersebut menjadi bagian terbesar dari
anggaran dan lebih dari itu haus dirancang menjadi sistem nasional dijaga oleh undang-
undang dan menjadi tujuan utama pemerintahan. Hal terakhir ini kurang nampak
dilaksanakan secara sistematik dan menjadi concern pemerintah.

BARANG PUBLIK DALAM ISLAM4

Sejak nabi SAW hijrah ke Madinah generasi pertama Islam membentuk


pemerintahan di bawah kepemimpinan rsulullah SAW. Baik kaum muhajirin dan kaum
anshar di Madinah membentuk masyarakat religio politik. Nabi meletakkan dasar-dasar
pemerintahan yang langsung dikaitkan dengan wahyu Al qur’an. Pembiayaan negara
dibiayai secara terpadu dari kewajiban zakat yang merupakan salah satu dari rukun Islam
dan kekuarangannya dibiayai oleh hasil tanah-tanah negara, dan partisipasi non muslim.
Setelah nabi wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh Abu Bakar dan kemudian Umar Bin
Khattab yang mulai memformalkan administrasi negara dengan lebih nyata. Sebagai
contoh, Umar mengintitusionalkan tentara dengan gaji reguler (diwan) yang dikirim
sebagai garnisun di kota-kota yang jauh. Penyelenggraan pemerintahan di Madinah
dalam kurun waktu yang relatif singkat meluas dari Yaman sampai Armenia dan dari
Mesir sampai Iran Timur, kemudian dari Mesir meluas ke Libia, Afrika Uutara, dan
Sudan, dan dari Syiria dan Mesopotamia selatan ke Anatolia; dari Armenia ke Kaukasus,
dari Mesopotamia bawah ke Iran, afganistan dan Asia Tengah5.

Dalam bidang pembiyaan negara, hukum hukum harta dalam negara khilafah
diambil dari al-Qur’an dan as-Sunah yang langsung dipraktekkan oleh Nabi SAW dan
para penggantinya. Mekanisme pembiayaan negara dilakukan melalui lembaga Baitul
Mal. Lembaga Baitul Mal terus berkembang dari masa Nabi yang hanya berisifat
informal di mana harta yang masuk langsung dibagikan kepada yang berhak. Pada masa
pemerintahan Abu Bakar lembaga baitul Mal mulai menempati kantor khusus. Terutama
pada masa khalifah Umar Bin Khattab lembaga baitul mal makin berkembang dengan
administrasi dan kantor khusus. Khalifah umar juga membentuk bagian-bagian atau

4
Referensi bahan tulisan ini disarikan dari buku Keaungan Negra Dalam Sistem Khilfah HT dan juga
disarikan dari Ibnu Taimiyah Tugas Negara dalam Islam, Capra , Jhon L Esposito, kekuasaan negara dalam
Islam.
5
Esposito, Kekuasaaan pemerintahan.

54
organisasi Baitul Mal dan mengangkat pejabat-pejabatnya, menetapkan berbagai
santunan dan untuk keperluan pembentukan tentara.6

Apa yang dilakukan khalifah Umar sejalan dengan asnab-asnab dalam pembagian
zakat.

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,


pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan)
budak, orang-orang yang berhutang, untuk (perjuanagan) di jalan Allah dan orang-orang
yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(At Taubah 60).

Ayat tersebut ternyata hanya menjadi efektif ketika umat Islam mencapai
kekuasaan politik sebagaimana prestasi yan diperoleh generasi pertamanya. Zakat di
Indonesia misalnya dilaksanakn secara swasta, hasilnya, menjadi sangat memalukan,
misalnya kemampunnya mengkoleksi untuk kemiskinan, yatim, bantuan bencana alam
seperti bencana badai tsunami di Aceh akhir tahun 2004 dan sebagainya.

Ajaran Islam di atas hanya akan berbobot dilaksankan jika bisa mencapai
kekuasaan politik. Pentingnya kekuasaan politik terlihat dari bagian ke delapan dari zakat
yaitu untuk keperluan fii sabilillah. Tujuan kekuasaan politik di dalam Islam adalah
terwujudnya negara kesejahteraan (welfare state), sebagaimana jiwa ayat di atas yang
menyandingkan pembiayaan kemiskinan dan pembiayaan pertahanan.

Negara kapitalis Barat memang bisa mencapai kesejahteraan sebagaimana dicapai


negara Barat sekarang, tetapi hal itu bisa terjadi ketika pendapatan negara bisa mencapi
taraf yang sangat tinggi. Program welfare diperkenalkan di AS pada tahun 1930an dan
baru mencapi perkembangan signifikan pada pertengahan abad 20. Pendapatan perkapita
di AS sekarang sekitar 30 ribu dolar. Nilai ini sama dengan sekitar 30 kali lipat
pendapatan perkapita tertinggi kita. jika sejarah berjalan linear. Akan tetapi, krisis
kemungkinan berulang setiap tiga puluh tahun. Dan, pendapatan negara sedang
berkembang akan menjadi merosot setelah krisis. Sebagaimana dibahas di atas, bahwa
para kapitalis internasionl berkemampuan menggoyang ekonomi dunia ketiga di mana
negara muslim ada di dalamnya.

6
Sistem keunagan HT

55
Negara muslim tidak akan pernah mencapai pendapatan tinggi untuk memulai
program welfare. Sulit menduga berapa pendapatan perkapita pada masa Nabi SAW
sampai masa khalifah Umar, ketika negara kesejahteraan mulai dirintis. Spirit Islam dan
ajaran zakat mendorong program welfare dapat dimulai sejak awal, sejak negara masih
miskin. Islam memberikan percepatan waktu yang sangat panjang. Jika negara dibiarkan
semakin sekuler, waktu itu mungkin tidak terbatas, karena negara muslim dewasa ini
ditempatkan sebagai pelengkap dan pinggiran dalam konteks kapitalisme internasional
dewasa ini. Percepatan yang ditunjukkan oleh Islam tersebut baru dalam bentuk
pencapaian materi, sedang pencapaian spiritual seperti ketenangan yang muncul di ruang
publik, kehidupan saling percaya, persahabatan yang menonjol di ruang publik tak bisa
dinilai dengan uang.

Menurut Ibn Taimiyah ( ) sebelum masalah atau lembaga ekonomi


ditegakkan, maka spririt dasar kehidupan bermasyarakat harus dibersihkan, singkatnya,
memperbaiki tauhid atau pengabdian kepada Allah SWT. Cinta dan benci merupakan
pengabdian kepada Allah swt. ukuran bahwa sebuah masyarakat menjunjung pengabdian
kepada Allah SWT dimanifestasikan kepada larangan untuk menampilkan secara publik
apa yng dilarang dan mendorong ditamplkannya secara publik apa yang diperintahkan.

Semua larangan didalam Islam dapat dibuktikan secara moral merupakan hal-hal
yang keji seperti larangan perzinahan/industri yang mengarah perzinahan, larangan
industri perjudian, zat pemabuk, korupsi/pencurian, merupakan yang jelas madharatnya.
Larangan industri riba dan spekulasi mata uang karena adanya kemungkinan mendholimi
fihak lain. Tidak satupun Islam melarang hal yang secara moral baik atau ma’ruf.
Demikian juga dapat dibuktikan, tidak ada yang didorong oleh Islam sesuatu yang keji,
misalnya ritual dengan mengorbankan manusia, dan keyakinan-keyakinan yang aneh
seperti sulap, sihir, dan sebagainya tidak didorong di dalam Islam. Bahkan gambar-
gambar dan patung dilarang dalam Islam dikhawatirkan memberi nuansa hati yang gelap.
Ketika orang menggambarkan Tuhan atau dewa dengan gmbaran wajah yang
mengerikan. Inilah yang dimaksud dengan agama yang bersih.

Cinta dan benci yang tidak didasarkan kepada kepentingan selain Allah s.w.t. yang
tidak lain adalah kehidupan masyarakt yang luhur, disebut mengikuti hawa nafsu.
Larangan dan dorongan atau cinta dan benci di dalam Islam membawa kehidupan umum
lebih baik karena akan mengendorkan perilaku menyimpang yang berbasis ambisi pribadi
atau golongan dan bukan ikhlas. Menegakkan moralitas umum yang bertujuan
memperkuat yang ma’ruf dan menghilangkan yang munkar dari panggung publik (at-
Tagabun:17; al-Qashash: 50; Shad: 26; ar-Rum: 28-29; al An’am: 119; al Maidah:40 dan
77; al – Baqarah: 145).

Dengan semangat menegakkan kehidupan publik sebagaimana digambarkn di atas,


maka apa yang teknis sebagaimana di daftar berikut mungkin bisa sama dengan prinsip-
pronsip ekonomi pasar. Namun, ekonomi pasar yang sudah mencapai kemajuan yang
tinggi, disertai program kemanusiaan (program welfare) yang baik, tanpa dilandasi dasar-
dasar atau spirit atau ruh tauhid mengabdi kepada Allah swt tidak akan mencapai negara
sejahtera atau welfare state sebagaimana dibayangkan oleh Ibn Taimiyah. Apa yang
kurang dari masyarakat Barat sekarang adalah kering, kemajuannya tidak disertai

56
keagungan. Lihatlah betapa negara sebessar AS dalam menyelamatkan suplai minyak,
negara ini tidak agung misalnya sabar dengan cara tukar menukar yang sehat, melainkan
cenderung melakukan apa saja asal dapat menguasi produksi di negara yang seharusnya
menjadi partener sederajat. Selanjutnya, apa yang teknis dari ekonomi Islam yang
direkosntruksi oleh Ibn Taimiyah, diringkas oleh Akram Khan7. Pokok pokok ekonomi
Islam terlihat dari 7 masalah pokok berikut yang juga menjadi pertanyaan dalam ekonomi
modern.

1) Mengelola keseimbangan, pasar tidak dibiarkan bekerja dengan sendirinya, akan


tetapi perlu manajemen pemerintah untuk merekayasa perubahan kepada keadaan
yang dirumuskan atau dikehendaki lebih baik. Prinsip ini dalam ekonomi modern
secara teknis dikenal sebagai ekonomi Keynesian plus, atau ekonomi Keynes
yang lebih aktif. Peran negara yang aktif dalam Islam lebih mendekati ekonomi
kesejahteraan atau welfare economic. Karena sifat aktif dari negara, Capra
menyebutnya sebagai Islamic Welfare Economic.

2) Mengatur pasokan. Negara melalui lembaga muhtasib harus memastikan bahwa


tidak ada industri yang haram. Kedua, bahan pokok khususnya bahan makanan
harus tersedia dengn harga yang terjangkau. Para penimbun dapat diberi sanksi
karena dapat diartikan mendholimi masyarakat. Persekongkolan yang bertujuan
monopoli dan menguasai masyarakat dengan memainkan harga dilarang.
Hambatan terhadap masuknya pemain baru harus dihilangkan. Dilarang
menghambat informasi harga, digambarkan dalam hadist sebagai menjemput
barang dagangan ke desa, sebelum orang desa sampai di pasar dan mengetahui
harga yang terjadi. Harus dilakukan perlindungan terhadap pemain kecil,
misalnya larangan dumping harga yang mematikan pemain kecil yang bertujuan
monopoli.

3) Kontrol Harga. Dalam kasus terjadinya monopoli Ibn Taimiyah dengan mengutip
imam Ahmad mengijinkan adanya kontrol harga atau penetapan standar harga.
Hal ini dilakukan karena jika terjadi monopoli baik dalam pembelian mupn
penjualan dikhawatirkan terjadi perbuatan zalim kepada masyarakat. Pada
prinsipnya islam melarang perbuatan zalim. Kezaliman bisa terjadi dengan
monopoli penjualan, monopolis akan menaikkan harga atau melakukan
monopsoni pembelian dengan menurunkan harga (sering terjadi dalam pembelian
hasil panen, termasuk upah). Islam menyetujui penetapn upah minimum yang
tidak juga menzalimi atau memberaratkan pengusaha. Dasar dari larangan
konspirasi ini antara lain larangan Nabi SAW untuk membeli barang-barang dari
dari desa (mencegat) sebelum mereka sampai di pasar sehingga mengetahui
informasi harga. Semua hal yang menyebabkan masyarakat membeli atau
menjual dengan harga yang lebih tinggi atu lebih rendah. Secara umum prinsip
ajaran Islam adalah melindungi kaum lemah, termasuk wanita, budak, buruh,
pengusaha kecil dan sebagainya.

4) Struktur Kredit. Negara melalui muhtasib bertugas menghilangkan unsur riba


dalam berbagai transaksi, khususnya jual beli yang tidak tunai. Riba merupakan
7
koment

57
sistem yang bersifat mengekploitir masyarakat. Masyarakat pekerja yang
merupakan mayoritas penduduk umumnya mengambil barang barang konsumsi
berupa rumah dan kendaraan yang terikat dalam angsuran sepanjang hidupnya.
Dengan suku bunga yang tinggi maka masyarakat tereksploitir dengan
menyerahkan hampir seluruh surplus bekerjanya kepada pemilik modal. Struktur
yang eksploitatif hampir dapat dipastikaan ditemukan dalam masyarakat yang
menggunakan sistem riba dengan suku bunga yang tinggi.

5) Hak Milik. Di dalam Islam hak pemilikan pribadi dihormati, namun tidak secara
mutlak. Jika publik memerlukan, dan anggaran pemerintah (yang bersih dan jujur)
tidah mencukupi, pemerintah berhak meminta warga yang mampu untuk
mengadakan pasokan air, api (pistrik), pengelolaan sampah dan sebagainya.
Swastanisasi barang barang vital tidak dapat dibenarkan seperti pengadaan air, api
(listrik), jalan raya, pasar, tempat penggembalaan dan sebagainya. Hal ini
dikhawtirkan akan menyebabkan orang miskin tidak dapat mengakses barang
barang tersebut di kemudian hari, ketika barang tersebut harus dibeli pada harga
pasar yang berlaku. Tentu saja pengadaan barang barang ini memerlukan investasi
yang besar, dan kebutuhan kemewahan yang melampaui kebutuhan dasar bisa
menyebabkan pemborosan dan menyebabkan ketidak adilan pasokan. Oleh sebab
itu, tidak dilarang memungut kompensasi untuk pasokan berlebih untuk
penggunaan air, listrik, dan bahan bakar minyak atau gas untuk pemenuhan
kemewahan. Islam mendorong mempertahankan bentuk pelayanan negara akan
barang-barang ini tentu saja harus disertai transparansi pengelolaan yang
merupakan spirit dasar Islam untuk memnciptakan pemerintahan yang bersih dan
jujur.

6) Pemanfaatan Sumber Daya Manusia. Bekerja keras dalam takaran yang wajar
merupakan salah satu pilar ajaran Islam. Pada awal surah al Mukminun, misalnya,
disebutkan bahwa salah satu ciri orang beriman adalah meninggalkan perbuatan
yang tak berguna. Umat Islam juga dilarang berlaku kikir dan berlaku boros.
Ajaran ajaran ini jika direkonstruksi akan membentuk sebuah budaya kerja keras.
Budaya malas, misalnya pengemis, secara ketat diawasi oleh lembaga hisbah,
tetapi pada saat yang sama, diberikan tunjangan kemiskinan, melalui zakat dan
shadaqah yang dikumpulkan oleh negara. Muhtasib berhak memaksa orang kaya
untuk terlibat dalam masalah tersebut.

Negara berkewjiban memanfaatkan sumber daya manusia yang ada dengan


menyelenggarakan pekerjaan publik. Dengan demikian penngangguran dapat
ditekan dalam sejarah Islam. Dalam hal ini patut dicatat bahwa bekerja di luar
rumah diutamakan untuk laki-laki, pekerjaan domestik diutamakan untuk wanita.
Namun, wanita tidak dilarang untuk bekerja. Pembagian kerja ini dapat
menyebabkan tekanan penawaran di pasar tenaga kerja mengendor, upah akan
meningkat. Sebaliknya, keberadaan wanita di sektor domestik akan menyebabkan
keluarga keluarga yang membaik, dan pendidikan SDM menjadi lebih optimal.
Pekerjaan domestik bagaimanapun akan lebih optimal dikerjakan oleh kaum
wanita. Mereka sebenarnya juga menghasilkn barang dan jasa, hanya saja tidak
dalam bentuk cash.

58
Pemerintah melalui muhtasib bertugas memperhatikan kesejahteraan budak. Islam
mendorong pembebasan budak secara bertahap. Cara Islam menangani hal ini
adalah memperbaiki nasib mereka dengan memperhatikan kecukupan pendapatan
mereka, juga pembebasan budak sebagai alat mendenda/hukuman jika terjadi
kesalahan (misalnya berjimak di bulan ramadhan dsb). Penanganan terhadap
budak dapat dianalogikan kepada buruh. Upah hendaknya dibayarkan tepat waktu
dan juga memperhatikan kecukupan kebutuhan para pekerja. Spirit umum Islam
adalah negara yang berakhlak, demikin juga terhadap perburuhan, kesejahteraan
dan kemiskinan. Semangat umum dibolehkannya kontrol harga, penetapan upah
minimum yang bertujuan memperbaiki atau sebagai alat memngurangi
kemiskinan sejalan dengan ekonomi islam.

7) Efisiensi di Sektor Publik

Sebagaimana dikemukakan dalam bab sebelumnya bahwa pemerintah memiliki


peran dalam memperbesar kapasitas ekonomi melalui belanja yang dilakukan. Karena
perbedaan kecenderungan konsumsi orang yang kena pajak dan efek belanja
pemerintah dalam memperbesar kapasitas ekonomi, maka setiap pemerintah
memungut sejumlah uang dan dikembalikan lagi kedalam masyarakat, ekonomi
makin meningkat. Efektifiatas belanja pemerintah tersebut sangat tergantung dari
kebersihan aparat pemerintah dalam menjalankan amanat keuangan publik. Lembaga
hisbah juga bertanggung jawab untuk mengawasi aparat pemerintah untuk berlaku
bersih.

Uang negara, memang harus dibelanjakan karena uang publik tersebut bermanfaat
untuk mendorong industri dan produksi suatu negara. Akan tetapi, dapat dibedakan
belanja yang lebih efektif dan yang kurang efektif, jika belanja dilakukan dengan
alokasi yang tepat dan kejujuran yang tinggi dibanding alokasi anggaran yang tidak
tepat serta disertai kebocoran yang tinggi. Semangat Islam untuk menciptakan
pemerintahan yang bersih dan jujur tidak diragukan lagi.

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu
dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim,
supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan
(jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. Al Baqarah 188

59
Di antara ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang
banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu
mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya padamu, kecuali jika kamu
selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "Tidak ada dosa
bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal
mereka mengetahui. Ali Imraan 75 Lihat juga An Nisa 161. At Taubah 34.

Dua ayat di atas merupakan sebagian dari khasanah Islam yang menekankan
kejujuran dan keadilan dalam memegang amanah pemerintahan. Melunturnya nilai ini
dalam negara muslim modern disebabkan oleh tidak dikaitkannya agama dalam moralitas
memerintah secara riel, dan disebabkan oleh berkembangnya budaya materialistik
rendah. Demikianlah secara selintas diuraikan pandangan Islam dalam pengelolaan
barang publik.

Jatuhnya Barang Publik kefihak Swasta: Peran Pemuka Agama Indonesia.

Tokoh Amin Rais dari PAN yang berbasis Muhammadiyah pada waktu menjabat
sebagai ketua MPR, berjuang keras melawan privatisasi beberapa BUMN, terutama
privatisasi perusahaan telekomunikasi INDOSAT yang diprakarsai oleh menteri BUMN
Laksamana Sukardi. Polemik mereka berakhir menjadi kasus hukum yang ditangani
polisi, yang ternyata tidak dilanjutkan. Kelompok musilm yang sangat concern dengan
pembahasan ekonomi adalah kelompok Hisbuth Tahrir. Ismail Yusanto juru bicara HT
banyak menulis buku yang banyak mengecam prinsip negara liberal. Pemimpin Islam
lain khususnya yang di NU lebih concern kepada perubahan kultural. Majelis Ulama
Indonesia sudah memprakarsai pendirian Bank Muamalat Indonesia, dan BMI merupakan
usaha memupuk kemampuan kemandirian rakyat yang masyoritas muslim. Usaha MUI
dan Bank Islam yang kemudian berkembang pesat merupakan manifestasi perjuangan
ekonomi kelompok pribumi atau muslim.

Kelompok Islam liberal, karena teologi yang dianutnya, selalu menunjukkan sikap
mendukung kultur Amerika atau Barat. Dari sisi keuangan publik, posisi mereka dapat
dipandang sebagai pendukung globalisasi, dan swastanisasi di bawah emperial Amerika.
Inti teologi Islam Liberal adalah bagaimana menafsirkan ayat dan hadist sehingga
kehidupan yang bebas, demokratis, setara, non diskriminatif baik sesama aliran dalam
komunitas Islam maupun lintas agama. 8
8
Kekafiran sekte para madina. Ilsam Progressif .

60
Sebagaimana diuraikan pada bab sebelumnya, dari sisi industri keuangan dan
permodalan dunia dikuasai oleh emperium kapitalis internasional. Dari sisi ekonomi dan
politik kesetaraan sebenarnya suatu otopia. Para penguasa politik memiliki kekuasaan
menunjuk Bank Sentral yang diberi hak mencetak uang untuk menukar semua keringat
yang dikucurkan untuk memproduk suatu barang. Amerika Serikat berhak mencetak
dolar untuk memfasilitasi pertukaran sumber daya alam di negara sedang berkembang di
berbagai negara di dunia. Walaupun hak itu disebabkan oleh kemajuan teknologi
Amerika, sebagian besar dari hak itu disebabkan oleh pengaruh politik dan bkan semata
mata kemampuan industgri dan ekonomi. Hukum atau hak mencetak uang ini adalah
proporsi tertentu dari jumlah produksi, dirumuskan sebagai

MS = MD

Money supplai hendaknya dilakukan seimbang dengan money demand, dan money
demand adalah sepersekian dari jumlah barang dan jasa, atau

MD = kY, atau MS = kY.

Kekuasaan politik berhak membuat MS atau singkatnya mencetak dan


menawarkan uang yang dijual sebagai modal kepada industri atau konsumen yang ingin
membeli barang tahan lama dengan harga yang disebut suku bunga. Memproduk uang
yang dimiliki penguasa politik bagaimanapun lebih enak atau mujur nasibnya daripada
memproduk barang dengan keringat. AS yang menikmati kekuasaan politik dunia, juga
mendorong Bank Sentralnya dapat mencetak uang sepersekian dari produk (Y) yang
bukan saja yang berada di dalam negeri AS, tetapi juga Y dalam arti tambang-tambang
minyak, emas, dan lainnya di seluruh dunia. Jika negara-negara di dunia tidak lagi suka
menggunakan dolar AS yang berarti tidak mengakui kekuasaan politiknya, maka nilai k
dolar yang sudah terlanjur dicetak akan terlalu besar. Uang dolar akan kembali ke AS,
inflasi akan sangat tinggi dan diduga akan mendestabilkan ekonomi AS.

Dewasa ini, secara sadar atau tidak umat manusia masuk dalam dikotomi
komunitas kapitalis dan komunitas yang masih resisten. Masyarakat Islam, walaupun
sebagian besar sudah dapat ditaklukkan di bawah emperial kapitalisme, masih ada potensi
untuk resisten dan melakukan perubahan. Manusia dibagi dalam kelompok penganut
kebebasan atau demokratis - non demokratis yang disamakan menganut Barat atau
resisten Islam. Masyarakat Islam yang sebenarnya secara Al Qur’an demokratis, dan
welfarist tetap disebut non demokratis karena di dalam masyarakat Islam dilakukan
batasan batasan individual. Sebagaimana diuraikan di muka sebenarnya pembatasan di
dalam Islam hanyalah implikasi pengakuan spritualisme di ruang publik, sama dengan
pembatasan ketat di negara bebas tentang kesehatan mengenai produk, keselamatan
lingkungan, dan aturan mengenai persaingan. Singkatnya jika kepemimpinan dunia
berada di tangan kapitalis sekuler maka manusia dibedakan dalam kelompok strata
ekonomi, faham demokrasinya, dan ekstrimnya dikelompokkan dalam kelas sosial.
Sebaliknya, dalam masyarakat yang dipimpin oleh pemuka agama maka masyarakat
diklasifikasi menurut agama. Sejarah Islam membuktikan bahwa pengelompokkan
menurut agama ini tidak bertujuan mengurangi kebebasan dan membuat perlakuan buruk,
tetapi hanya untuk mengelompokkan kewajiban sosialnya. Orang muslim untuk

61
membiayai negara diwajibkan membayar zakat dan itu merupakan ibadahnya kepada
Allah. Orang non muslim tentu saja tidak bisa menerima beribadah dengan membayar
zakat, akan tetapi mereka juga perlu memikul beban penyelenggaraan negara, maka
orang tersebut dikenakan jizyah.

Bagaimana misalnya kasus Indonesia ? Negara ini bukan sekuler tetapi juga
bukan negara Islam. Akan tetapi syariah Islam dimungkinkan dikembangkan
sebagaimana hukum menikah, waris, dan perbankan syariah. Dalam realitas demikian,
hukum atau syariah zakat yang diadopsi oleh negara juga dimungkinkan. Simbiose ini
bisa dimulai dan dimungkinkan untuk menghilangkan Islamo phobia. Bahwa Islam
bukanlah sebagaimana dicitrakan sebagai ajaran kolot yang mengekang dan tentu saja
mundur. Dari syariah zakat saja dapat ditunjukkan sebenarnya Islam sangat concern
kepada kesejahteraan sebagaimana digandrungi oleh setiap bentuk ideologi kenegaraan.
Kelompok Islam konvensional di Indonesia walaupun lambat ternyata dapat melakukan
langkah-langkah yang mantab. Dimulai dari Muhammadiyah yang berusaha sekuat
tenaga bahwa Islam tidak anti kemajuan dengan membuat rumah sakit modern, sekolah,
dan universitas modern yang cukup terpandang di Indonesia. Beberapa Menteri
Pendidikan diserahkan kepada orang Muhammadiyah. Kelompok ICMI berhasil
menggoalkan Bank Syariah yang ternyata juga cukup maju dan dapat diterima secara
bisnis. Masalah zakat dan hubungannya dengan departemen keuangan merupakan salah
satu tujuan penulisan buku ini. Dan ini merupakan langkah lain untuk menghilangkan
islamo phobia. Zakat adalah alat kesejahteraan atau welfare state dalam islam yang
sangat cocok dan ditunggu oleh rakyat melalui suatu simbiose dengan negara.

Di sisi lain kelompok non kenvensional untuk memudahkan diwakili oleh


Jaringan Islam Liberal yang dari sisi kajian Islam bersifat minoritas, tetapi dari sisi
praktis sebenarnya cukup luas. Teologi JIL bersifat membenarkan dan melindungi sistem
politik dan ekonomi yang berpusar di Barat. Teologi ini bertujuan menafsirtakan Al
Qur’an dan Hadist yang asalnya mengklasifikasi umat berdasar agama, ditafsirkan
kembali agar sesuai dengan klasifikasi masyarakat dengan pandangan sekuler yang kini
sedang naik dipanggung dunia.

Klasifikasi baik berdasar agama dan berdasar pandangan sekuler sebenarnya


berpotensi menjadi konflik. Pada titik titik tertentu dari sejarah ketegangan itu
dimanifestasikan dalam perang. Kelompok sekuler dewasa ini sedang memompakan
bahwa ketegangan, dan kekerasan seolah hanya dipicu oleh pengelompokkan berdasar
agama. Akan tetapi, perang yang sebanarnya paling banyak disebabkan oleh
pengelompokkan sekuler dan politik. Misalnya diambil sampel 50 perang besar dalam
abad lalu, mulai dari perang dunia, 90 persen disebabkan oleh pertikaian politik dan
pengelompokkan sekuler. Perang terakhir antara US dan Usama Bin Ladin bukanlah
perang peradaban yang disebabkan oleh karena Usama membenci kehidupan hedonis
masyarakat AS, akar permusuhan adalah kehadiran dan penguasaan AS atas timur
tengah yang memiliki ladang minyak yang sangat vital bagi kehidupan industri. Dua
alternatif yang bertentangan yaitu tetap menjadi negara monarki yang menguasai minyak
dan negara demokratis seperti yang sedang dibangun di Irak sama sama menguntungkan
pasokan minyak ke AS. Bentuk yang pertama akan melakukan bagi hasil dengan AS
dengan melindungi kepentingan kerajaan, dan bentuk yang kedua akan membebaskan

62
modal AS masuk ke negara demokratis untuk memiliki saham minyak dan industri
terpenting.

Varian-varian Islam dan pandangannya terhadap neoliberalisme

Berbagai pandangan keislaman di Indonesia dapat dikalsifikasi dalam 3


kelompok yaitu kelompok fondamentalis yang berusaha mengembalikan ajaran Islam
sebagaimana generasi awal dengan mengeliminir pengaruh sejarah, di satu sisi, dan sisi
lain, kelompok Islam liberal yang berusaha menafsirakan Islam sehingga kompetible
dengan kerangka sekuler demokratis. Kedua pandangan merupakan sisi ekstrim dalam
distribusi kurve normal. Kelompok tengah dapat dipersonifikasi kepada Muhammadiyah
dan NU sedang di dua ujung kiri dan kanan adalah kelompok Fondamentalis dan
kelompok Liberal.

Kedua kelompok ekstrimitas memiliki kesamaan yaitu sama sama tidak menyukai
dan tidak menggunakan metodologi standar dalam memahami Islam. Pengambilan
hukum dengan membandingkan berbagai nash yang luas sebagaimana dikenal dalam
prinsip Ushul Fikih tidak digunakan oleh kelompok Fondamentalis, demikian juga oleh
kelompok Liberal. Kelompok Fondamentalis cukup menggunakan satu Hadist dan kurang
menghubungkannya dengan banyak hadist di berbagai bab dalam kodifikasi hukum
Islam, sedangkan kelompok liberal bekerja dengan mengedepankan rujukan berupa
prinsip yang dipandang universal seperti demokrasi, kebebasan, kesetaraan, hak asasi,
hak perempuan, dan seterusnya.

Sebagai contoh, polemik monogami – poligami misalnya, kelompok liberal


cenderung mengambil bentuk monogami karena lebih dekat dengan kultur Barat,
sebaliknya kelompok fundamentalis cenderung membela poligami. Kedua kelompok
umumnya berfikir dari skope mikro. Sedangkan Islam moderat mengambil dua-duanya,
yaitu mengijinkan sekitar 10 persen populasi melakukan poligami di samping mayoritas
monogami. Sistem monogami mutlak yang secara mikro ingin melindungi wanita, justru
secara sistematis menindas wanita yang lain. Angka 10 persen tersebut diperoleh
berdasarkan kerucut penduduk yang umumnya terjadi di negara sedang berkembang,
karena pria pada usia tertentu yang lebih sedikit menikahi wanita pada kelompok usia
yang lebih muda. Perhatikan gambar berikut,

Kelompok usia 20-25 th

Kelompok usia 15-20 th

Laki-laki wanita

Gambar di atas adalah potongan kerucut penduduk yang biasa terjadi di negara sedang
berkembang. Misalnya ditemukan secara empirik bahwa kelompok usia laki-laki 20-25
tahun menikahi wanita kelompok 15-20 tahun (diasumsikan secara empirik rata-rata
pernikahan laki-laki 5 tahun lebih tua). Jika pertumbuhan penduduk 2 persen setahun,
maka selama lima tahun selisih laki-laki dan wanita pada usia di bawahnya adalah 10
persen = 5 tahun x 2 persen/tahun. Hal ini digambarkan oleh segi empat kelompok laki-

63
laki yang berada di segi empat bagian kiri atas dengan empat persegi kelompok wanita
pada usia di bawahnya, segi empat kanan bawah.

Secara umum struktur penduduk dapat dibedakan menjadi dua bentuk yaitu,
berbentuk silinder, dan berbentuk kerucut. Struktur penduduk berbentuk silinder biasa
terjadi di negara maju dengan pertumbuhan penduduk hampir nol. Hal ini menyebabkan
stock laki-laki pada lapisan umur atas berjumlah seimbang dengan stock wanita pada
lapisan umur di bawahnya. Poligami dalam struktur penduduk seperti itu menyebabkan
ketidakadilan, karena jumlah stock relatif sama. Sebaliknya, dalam struktur penduduk
kerucut, monogami cenderung tidak adil. Stock laki-laki pada lapisan umur atas tidak
cukup untuk melindungi, memberi nafkah, kepada wanita satu lawan satu, lebih-lebih di
negara di mana menganut nilai laki-laki sebagai pelindung, pencari nafkah dan kepala
keluarga sebagaimana diajarkan dalam islam. Di dalam masyarkat Barat dewasa inipun,
masalah laki-laki sebagai kepala keluarga masih merupakan realitas empirik. Undang-
undang tunjangan untuk merealisir welfare state misalnya masih implisit memandang
keluarga dipimpin laki-laki. Dari titik inilah salah gerakan jender di Barat mulai dan
sampai hari ini.

Dengan melihat gambar struktur penduduk di atas, ekstrimitas dua kelompok


terlihat, yaitu kelompok fundamentalis cenderung melebihkan kewajiban poligami, dan
kelompok liberal cenderung melarang karena terinspirasi oleh hak asasi perempuan di
Barat yang cenderung dianggap universal. Kelompok moderat memadukan kedua-duanya
dengan menyadari kecendrungan empirik dan melihat dari perspektif makro. Pelarangan
poligami justru menyebabkan sekitar 10 persen wanita yang tidak dapat menikah
mengalami masalah hak asasi. Hal ini disebabkan oleh karena peran lelaki dalam
ekonomi dan perlindungan sosial di dalam masyarakat Islam. Pelarangan poligami justru
menyebabkan setidaknya bagi 10 persen perempuan mejadi tertindas, wanita yang tidak
menikah umumnya menjadi buruh dengan upah sangat rendah, menjadi janda atau layang
di kampung-kampung dengan perlindungan sosial dan ekonomi yang rendah, dan
sebagian menjadi pekerja pembantu rumah tangga di dalam dan di luar negeri yang juga
sering tertindas. Mereka bekerja dengan jam kerja yang panjang, gaji rendah, pekerjaan
yang tidak ada batasan, diperlakukan tak senonoh, tanpa sistem upah dan jaminan sosial
yang jelas, bahkan jika mereka bekerja di dalam keluarga penggerak feminimisme
sekalipun. Jadi, pelarangan poligami yang bertujuan meningkatkan hak asasi wanita, jika
dirunut menyebabkan wanita lain tidak dapat menikah dan akhirnya mengalami banyak
masalah hak asasi baik dari sisi ekonomi dan sosial.

Kelompok moderat atau konvensional misalnya teknik Tarjih dalam


Muhammdiyah selalu mengedapankan petunjuk Al Qur’an dan hadist yang luas yang
berkaitatau memberi informasi kepada suatu babyang dibahas, kemudian
merumuskannya dengan kaidah-kaidah bahasa dan kaidah hukum. Menurut Profesor
Yunahar Ilyas (2006) salah seorang Pimpinan Pusat Muhammdiyah metode
Muhammadiyah tersebut termasuk metode salafi. Yaitu menganut kebebasan tidak
mengikat kepada penafsiran hukum yang dirumuskan oleh seorang Imam rujukan.
Singkatnya Muhammadiyah bisa mengambil pandangan 4 imam rujukan secara bebas
(Maliki, Syafei, Hambali, dan Hanafi) sekaligus, tergantung masalah yang dipakai
dengan cara mengkonfrontir dengan hadist-hadis yang ditulis periode berikutnya.

64
Muhammdiyah termasuk kategori subtansial ketika menangkap ketentuan ketentuan
seperti memelihara janggut, isbal atau kewajiban bercelana di atas mata kaki, musik,
ghamis, dan gambar atau patung. Bahwa perintah-perintah tersebut ada latar belakangnya
dengan berpatokan kepada hadist-hadis dengan teks yang lebih panjang yang
menggambarkan tujuan suatu teks perintah. Dengan pemahaman ini Muhammadiyah
ternyata dapat memadukan faham salafi dan kemodernan.

Keindonesiaan dan kejawaan bagaimanapun mewarnai Muhammdiyah terutama


dalam pergaulan politik, ekonomi, dan sosial praktis. Kecenderungan harmoni orang
Jawa yang sebenarnya juga menyukai keadilan tetapi tidak dengan frontal, mendorong
Muhammdiyah membawa Islam dengan lebih tenang. Membawa Islam dengan fasilias
modern dan kemajuan yang digagas Muhammadiyah dibawakan dengan pelan-pelan dan
menghindar konfrontasi frontal yang sering berbau kekerasan. Hal ini karena
Muhhammadiyah menyadari kultur Indonesia kurang menyukai kefrontalan.

NU sebagai organisasi Islam besar lain, mengambil rujukan hukum Syafiiyah, dan
teologi sufi, membawakan Islam dengan lebih dekat lagi dengan kultur Jawa. NU
mewadahi kebutuhan teologis Jawa yang semula animis, dan hinduis. NU merupakan
garis terdepan dalam Islamisasi teologi Jawa. Karena itu kesan NU berada pada pedesaan
dan tradisional. Lompatan terjadi ketika sekelompok anak muda NU membangun
Jaringan Islam Liberal yang berangkat dari idealisme seperti hak asasi, kesamaan,
kebebasan, dan demokrasi (lihat Ulil Abshar dkk, 2003). JIL mengembangkan metode
penafsiran baru terhadap Al Qur’an supaya kompetible. Pengaruh Barat yang begitu kuat
akhirnya mendorong kelompok liberal menjadi semacam agen Barat.

Posisi Islam liberal terhadap syariat, seperti jilbab, sangat berbeda dengan
kelompok Islam moderat misalnya Muhammadiyah. Sekolah-sekolah Muhammadiyah,
berbeda dengan pesantren NU di mana lingkungan kelompok pertama JIL dibesarkan,
sejak semula mengijinkan anak wanita sekolah tidak berjilbab. Akan tetapi, hal itu bukan
merupakan pilihan asli atau pilihan utama (the first best) dalam keyakinan
Muhammadiyah. Jelasnya, Muhammadiyah tetap meyakini kewajiban jilbab dan
menganjurkannya, akan tetapi, Muhammadiyah sama sekali tidak sinis terhadap siswa
atau mahasiswanya yang tidak memakai jilbab. Di tahun 1980an dan 1990an, pada waktu
jilbab dilarang, di sekolah-sekolah Muhammadiyah digencarkan himbauan berjilbab
sebagai bentuk perlawanan. Dakwah bil mauidhatil hasanah yang berupa himbauan-
himbauan yang sopan tidak menyakiti merupakan jargon yang hidup di kalangan
Muhammadiyah. Jargon tersebut sangat terkenal di tahun 1980 dan 1990an sebagai
respons untuk mengerem sikap keras sebagian kelompok Islam.

Kelompok Islam liberal menyerang jilbab dengan alasan perintah Allah dalam Al
Qur’an terkait dengan budaya Arab, karena bahasa yang merupakan media Al Qur’an
merupakan bagian dari budaya, atau dalam bahasa terkandung budaya. Sebaliknya,
Muhammadiyah berpendapat Allah s.w.t. memang memerintahkan jilbab sebagaimana
teksnya. Allah s.w.t., telah menurunkan Al Qur’an dalam bahasa Arab, walaupun bahasa
adalah bagian dari budaya, tidak terpikir di kalangan Muhammadiyah bahwa hal itu
menjadikannya menolak suatu perintah atau larangan di dalamnya. Hal ini kurang lebih
sama dengan kebutuhan akan standar, walaupun bahasa dan budaya manusia di bumi

65
berbeda, akan tetapi komunikasi dan naskah-naskah perjanjian, standar-standar masih
dapat dilakukan. Pandangan yang menolak teks Al Qur’an dengan alasan merupakan
bagian budaya bukan merupakan pandangan tengah, khusunya yang terjadi di
Muhammadiyah, itulah sebabnya Islam liberal dapat dikelompokkan dalam ujung
ekstrimitas dalam kurve normal, ketika Muhammadiyah atau NU diletakkan sebagai
median.

Hubungan Liberalisme Sosio Ekonomi Dan Liberalisme Agama

Liberalisme agama secara kopseptual merupakan minoritas dalam aliran Islam, tetapi
liberalisme agama sebagai cara pandang yang diaplikasikan merupkan kelompok yang
sangat besar. Kelompok muslim abangan, umumnya memiliki pandangan keagamaan
liberal di mana Al qur’an dan al Hadist tidak diikuti dengan mutlak dan sempurna, tetapi
berpadu dengan kepentingan nasional atau lokal yang berubah dari waktu ke waktu atau
dari tempat ke tempat yang lain.

Dalam kerangka liberalisasi dan internasioanalsiasi kapital dan pertarungan


menguasai negara negara muslim, yang diikuti liberalisasi politik dan budaya, maka
leberalisme dalam agama juga merupakan sub ideologi neoliberalisme tersebut. Ideologi
pasar yang baru (neo) tersebut tersebar melalui globalisasi dunia terutama melalui lalu
lintas modal dan uang. Dalam ekonomi modern kekayaan yang diwujudkan dalam uang
menjadi semakin besar melampaui produk yang ada. Uang ini perlu ditanamkan dengan
disimpan dalam deposito atau dibelikan saham-saham yang relatif likuid, atau dibelikan
uang asing yang juga likuid dan memungkinkan memberi keuntungan. Bentuk pilihan
portofolio ini ditarik dan ditransfer ke berbagai negara melalui fasilitas internet (Steger,
2002). Ekonomi negara maju sebagai pencetak dolar dan akumulasi modal, kemudian
menjadi dominan. Dalam hubungan tidak simetris tersebut, membawa serta pola
konsumsi, kultur, seni, dan juga nilai-nilai dibelakangnya, tidak terkecuali juga
pendekatan dalam beragama. Disinilah JIL berada yaitu sebagai agen ideologi liberal
dalam bidang agama.

Kembali kepada liberalisme sosio ekonomi sebagai induk liberalisme sektor lain
berintikan gagasan berikut. Kaum liberal yakin bahwa bentuk masyarakat adalah hasil
dari proses. Proses itu adalah interaktif dan melibatkan semua anggota masyarakat.
Contoh yang baik menggambarkan proses itu adalah pasar, interelasi suplai dan demand
menghasilkan harga dan jumlah yang ingin diproduksi oleh masyarakat, dan dengan
demikian pasar merupakan barometer bagaimana sumber ekonomi dialokasikan. Pasar
selanjutnya disebut pengatur atau tangan yang tidak kentara. Kaum liberal tidak setuju
ada intervensi kepada proses interaksi itu karena proses diyakini akan menghasilkan
harmoni, dan keadilan.
Kaum liberal kemudian menolak segala design atau pilihan bentuk masyarakat (tidak
boleh ada amar ma’ruf nahi munkar), baik yang berasal dari agama, etika, dan utopia.
Segala sesutau dapat disajikan di dalam masyarakat, silakan pilih, yang dipilih
masyarakat itulah yang harus dikembangkan sampai masyarakat menolaknya. Sebagai
ideologi, dan sebagaimana umumnya ideologi, liberalisme bersifat menyerang terhadap
masyarakat non liberal – mereka bukan dianggap berbeda tetapi dianggap salah. Inilah
sebabnya AS melakukan berbagai perang di seluruh dunia yang bertujuan menyebarkan

66
kebebasan dan demokrasi. Perang-perang itu sendiri sering bertentangan dengan nilai
dasar kebebasan dan demokrasi yang diperjuangkan.

Pokok-pokok agenda neoliberal dirumuskan dalam Washingotn Concensus yang


disusun oleh staf IMF John Williamson pada 1970an. Konsensus Washington yang
merupakan prinsip-prinsip yang akan dilaksanakan kepada negara sedang berkembang
untuk memperoleh bantuan finansial dari IMF atau Bank Dunia jika mereka mengalami
suatu krisis. Washington Concensus terdiri dari butir-butir berikut (Steger 2002, 63-64;
John Williamson, 2004).

1. Menjamin adanya disiplin fiskal, dan membatasi difisit anggaran. Pengurangan


belanja kebutuhan publik, khususnya dalam bidang militer dan administrasi
pemerintahan.

2. Reformasi pajak, bertujuan untuk mencari sistem dengan dasar pajak yang meluas
dan dengan pemaksaan yang efektif.

3. Liberalisasi keuangan, dengan menyerahkan penetapan suku bunga oleh pasar.

4. Menjaga nilai tukar yang kompetitif, untuk mendorong ekspor yang mendorong
pertumbuhan.

5. Deregulasi perdagangan, dibarengi dengan penghapusan lisensi impor dan


pengurangan tarif masuk.

6. Menarik investasi asing langsung ke dalam negeri.

7. Privatisasi perusahan-perusahaan negara, untuk mendorong efisiensi managemen


dan meningkatkan kinerja.

8. Menderegulasi ekonomi.

9. Perlindungan hak atas kekayaan intelektual (property right).

Prinsip-prinsip di atas pada akhir 1990an juga didiktekan oleh IMF untuk
mereformasi ekonomi Indonesia sebagai syarat bantuan IMF dalam menanggulangi
krisis. Menjadikan pasar atau harga sebagai tanda ke mana sumber ekonomi diarahkan,
privatisasi, reformasi anggaran pemerintah khususnya pengurangan subsidi, memberi
dampak langsung pada kehidupan ekonomi masyarakat. Harga beras yang semula sekitar
seribu rupiah menjadi sekitar tiga ribu rupiah, BBM, listrik, telepon, yang merupakan
barang strategis yang umumnya disertai kenaikan harga yang lain meningkat secara
reuler mendekati harga pasar dunia.

Kenaikan haga merupakan pajak yang tersembunyi bagi para pekerja khususnya
para buruh. Dengan kenaikan upah yang tidak sepadan, maka jumlah komoditas yang
dapat dibeli oleh kelompok buruh menjadi lebih sedikit dari keseluruhan produksi
nasional. Kebijakan ini sama saja efeknya dengan pajak terhadap kelompok buruh, dan
karena jumlah komoditi di suatu negara sudah tertentu, maka kelompok non buruh dan

67
kelompok lain mungkin pegawai negeri yang dapat nenyesuaiakan upahnya memperoleh
komiditi yang lebih banyak. Efek dari kebijakan tersebut bisa dipastikan terjadi
redistribusi dari kelompok miskin kepada kelomppok kaya.

Privatisasi dan penjualan BUMN, juga memiliki implikasi kekuasaan ekonomi


yang lebih besar kepada kelompok kapitalis. Dengan kekuasaan tersebut, pemerintah
dalam mengambil kebijakan harus selalu memperhitungkan reaksi pengusaha yang kini
berada di luar dirinya. Kekuasaan ekonomi sekarang beralih ke tangan pengusaha atau
pemilik modal, yang sebagaimana sejarah Amerika, akhirnya dapat mendikte penguasa
politik dari sejak pencalonan sampai pada saat mereka berkuasa. Sistem politik yang
mengharuskan seorang calon berkampanye secara individual, akhirnya mendorong
diperlukanya dana besar untuk duduk menjadi politisi dan ekskutif. Hanya orang kaya
atau yang dibiayai oleh pengusaha yang nanti akan dapat menduduki kekuasaan politik.
Kapitalis masih bisa menekan pemimpin negara dengan memainkan reaksinya terhadap
kebijakan pemerintah. Market friendly atau market tidak friendly dapat dimanipulasi jika
kapitalis menguasai ekonomi dengan struktur monopoli, atau menjadi market leader.

Liberalisasi keuangan dilaksanakan dengan penetapan suku bunga yang dilakukan


oleh pasar. Tidak ada lagi program suku bunga khusus yang semula dinikmati oleh usaha-
usaha kecil dan petani. Adanya usaha-usaha rakyat yang bersifat gurem yang tidak
memiliki bentuk usaha yang formal, tidak memungkinkan mereka melakukan transakasi
kredit dengan bank umum. Hal tersebut disebabkan oleh sulit terpenuhinya persyaratan
untuk melaksanakan transaksi dengan bank, dan di samping itu, kecilnya usaha membuat
bank umum tidak efisien melayani mereka. Celah tersebut ditutup dengan munculnya
fenomena Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang bertugas menjadi mediator antara usaha
rakyat yang kecil-kecil dengan bank umum. Namun, akhirnya beban bunga yang dihadapi
oleh usaha kecil menjadi sangat tinggi. Bunga tersebut bisa mencapai antara 24 sampai
36 persen setahun bahkan lebih. Hal ini menyebabkan adanya potensi eksploitatif karena
menyebabkan usaha kecil ini seolah hanya bekerja untuk pemilik kapital.

Stiglitz (2004), seorang yang semula menajdi ekonom senior di Bank Dunia
mengkritik konsensus Washington yang diberlakukan ke seluruh dunia melalui lembaga
keuangan internasional. Ia menganggapnya terlalu generik dan seolah merupakan satu-
atunya jalan. Stiglitz menunjukkan contoh-contoh keberhasilan ekonomi yang
melaksanakan maupun tidak melaksanakan konsensus Washington. Hal ini menunjukkan
adanya keunikan dan tidak mungkinnya menciptakan resep umum bagi seluruh dunia. Ia
mencontohkan swastanisasi BUMN di Soviet yang gagal, sebaliknya di China yang tidak
melakukan swastanisasi, tetapi hanya memberi kesempatan kepada swasta sambil
mempertahankan BUMN ternyata berhasil. Yang penting adalah apakah BUMN
mendorong ketidak efisienan, dan apakah swastanisasi tidak sekedar mengalihkan saja
monopoli oleh pemerintah menjadi monopoli oleh swasta.

Isue monopoli yang penting adalah bagaimana melindungi rakyat atau konsumen.
Jika pemeranan sektor swasta membuat harga-harga suatu jasa menjadi lebih murah bagi
rakyat, seperti swastanisasi telepon dan internet, hal demikian dapat diterima.
Swastanisasi frekuensi TV yang langka memungkinkan menggiring rakyat kepada pola
budaya tertentu sangat membahayakan kelangsungan nilai suatu bangsa. Saham yang

68
dominan sebagai kontrol pemerintah sangat diperlukan dalam hal ini. Sangat tidak
menguntungkan ketika rakyat miskin menjadi materialistik dan menjadi hedonik. Karena
akan terwujud dalam kehidupan umum yang tidak bermutu, kapitalisme yang kejam,
perburuhan yang anarkis, dan kekerasan umum atas dasar hal yang sangat remeh.

69