Anda di halaman 1dari 18

Fiqih Qurban

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

‫حْر‬ َ ّ ‫ل ل َِرب‬
َ ْ ‫ك َوان‬ َ َ‫ف‬
ّ ‫ص‬
Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (QS. Al Kautsar: 2)
Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir
mengatakan; Yang dimaksud dengan menyembelih hewan (dalam ayat di atas) adalah
menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied.” Pendapat ini dinukilkan dari Qatadah,
Atha’ dan Ikrimah (Taisirul ‘Allaam, 534 Taudhihul Ahkaam, IV/450).
Dalam bahasa arab, hewan qurban biasa disebut dengan Al Udh-hiyah, yang
bentuk jamaknya Al Adhaahi.

Pengertian Qurban (Udh-hiyah)


Secara istilah Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Idul
Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya
hari raya tersebut (Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366)

Keutamaan Qurban
Menyembelih qurban termasuk amal salih yang paling utama. Ummul Mukminin
‘Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Idul Adha)
yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya
kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan
sanad sahih, lihat Taudhihul Ahkam, IV/450)
Hadis di atas didhaifkan oleh Syaikh Al Albani dalam dhaif Sunan Ibn Majah,
nomor: 671. Namun kegoncangan status hadis di atas tidaklah menyebabkan
hilangnya keutamaan berqurban. Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih
hewan qurban pada hari idul Adlha lebih utama dari pada sedekah uang atau barang
yang senilai dengan harga hewan qurban. Atau bahkan, sedekah yang lebih banyak
dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah
mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, menyembelih qurban lebih
menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam. (Shahih Fiqh Sunnah 2/379 & Syarhul Mumthi’ 7/521)

Hukum Berqurban
Dalam hal ini para ulama terbagi dalam dua pendapat:
Pertama, wajib bagi orang yang berkelapangan.
Ulama yang berpendapat demikian adalah Rabi’ah (guru Imam Malik), Al Auza’i,
Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, Laits bin Sa’ad serta
sebagian ulama pengikut Imam Malik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syaikh
Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin rahimahumullah.
Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan: “Pendapat yang menyatakan wajib itu
tampak lebih kuat dari pada pendapat yang menyatakan tidak wajib. Akan tetapi hal
itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…” (Syarhul Mumti’, III/408)
Diantara dalilnya adalah hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‫صّلَنا‬
َ ‫م‬
ُ ‫ن‬ ْ َ ‫ح فََل ي‬
ّ َ ‫قَرب‬ ّ ‫ض‬ ْ َ ‫ة وَل‬
َ ُ‫م ي‬ ٌ َ‫سع‬ ُ َ‫ن ل‬
َ ‫ه‬ َ ‫ن‬
َ ‫كا‬ ْ ‫م‬
َ
“Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berqurban maka jangan
sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Al Hakim dan
dihasankan oleh Syaikh Al Albani)
Pendapat kedua menyatakan Sunnah Mu’akkadah (ditekankan).
Ini adalah pendapat mayoritas ulama, diantaranya Imam Malik, Imam As Syafi’i,
Imam Ahmad, Ibnu Hazm dan lain-lain.
Ulama yang mengambil pendapat ini berdalil dengan riwayat dari Abu Mas’ud Al
Anshari radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang tidak
berqurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku
khawatir kalau tetanggaku mengira qurban itu adalah wajib bagiku.” (HR. Abdur
Razzaq dan Baihaqi dengan sanad shahih).
Demikian pula dikatakan oleh Abu Sarihah, “Aku melihat Abu Bakar dan Umar
sementara mereka berdua tidak berqurban.” (HR. Abdur Razzaaq dan Baihaqi,
sanadnya shahih)
Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada riwayat sahih dari seorang sahabatpun yang
menyatakan bahwa qurban itu wajib.” (Shahih Fiqih Sunnah, II/367-368, Taudhihul
Ahkaam, IV/454)
Dalil-dalil di atas merupakan dalil pokok yang digunakan masing-masing
pendapat. Jika dijabarkan semuanya menunjukkan masing-masing pendapat sama
kuat. Sebagian ulama memberikan jalan keluar dari perselisihan dengan
menasehatkan: “…selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan
berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan
tanggungan, wallahu a’lam.” (Tafsir Adwa’ul Bayan, 1120)
Yakinlah…! bagi mereka yang berqurban, Allah akan segera memberikan ganti
biaya qurban yang dia keluarkan. Karena setiap pagi Allah mengutus dua malaikat,
yang satu berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq.” Dan yang
kedua berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya
(pelit).” (HR. Al Bukhari & Muslim).
Hewan yang Boleh Digunakan Untuk Qurban
Hewan qurban hanya boleh dari kalangan Bahiimatul Al An’aam (hewan ternak
tertentu) yaitu onta, sapi atau kambing dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok
ulama menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali
dengan hewan-hewan tersebut (Shahih Fiqih Sunnah, II/369 dan Al Wajiz 406).
Dalilnya adalah firman Allah:
َْ ُ ّ ُ ‫ل ِك‬
ِ ‫مةِ الن َْعام‬
َ ‫ن ب َِهي‬
ْ ‫م‬
ِ ‫م‬ َ ‫م الل ّهِ ع ََلى‬
ْ ُ‫ما َرَزقَه‬ ْ ‫كا ل ِي َذ ْك ُُروا ا‬
َ ‫س‬ ً ‫س‬ َ ‫جعَل َْنا‬
َ ْ ‫من‬ َ ٍ ‫مة‬
ّ ‫لأ‬
“Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama
Allah atas rezki
yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an’aam).”
(QS. Al Hajj: 34)
Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin mengatakan, “Bahkan jika
seandainya ada orang yang berqurban dengan jenis hewan lain yang lebih mahal dari
pada jenis ternak tersebut maka qurbannya tidak sah. Andaikan dia lebih memilih
untuk berqurban seekor kuda seharga 10.000 real sedangkan seekor kambing
harganya hanya 300 real maka qurbannya (dengan kuda) itu tidak sah…” (Syarhul
Mumti’, III/409)

Seekor Kambing Untuk Satu Keluarga


Seekor kambing cukup untuk qurban satu keluarga, dan pahalanya mencakup
seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak atau bahkan yang sudah
meninggal dunia. Sebagaimana hadits Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang
mengatakan, “Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seseorang (suami)
menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR.
Tirmidzi dan beliau menilainya shahih, Minhaajul Muslim, 264 dan 266).
Oleh karena itu, tidak selayaknya seseorang mengkhususkan qurban untuk
salah satu anggota keluarganya tertentu, misalnya kambing 1 untuk anak si A,
kambing 2 untuk anak si B. Seseunggunya karunia dan kemurahan Allah sangat luas
maka tidak perlu dibatasi.
Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban untuk seluruh dirinya dan
seluruh umatnya. Suatu ketika beliau hendak menyembelih kambing qurban. Sebelum
menyembelih beliau mengatakan:”Yaa Allah ini – qurban – dariku dan dari umatku
yang tidak berqurban.” (HR. Abu Daud & Al Hakim dan dishahihkan Syaikh Al Albani
dalam Al Irwa’ 4/349).
Berdasarkan hadis ini, Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby mengatakan: “Kaum
muslimin yang tidak mampu berqurban, dia mendapatkan pahala sebagaimana orang
berqurban dari umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Ahkamul Idain, hal. 79)
Adapun yang dimaksud: “…kambing hanya boleh untuk satu orang, sapi untuk
tujuh orang...” adalah biaya pengadaannya. Biaya pengadaan kambing hanya boleh
dari satu orang, biaya pengadaan sapi hanya boleh maksimal dari tujuh orang.
Namun, seandainya ada orang yang hendak membantu shohibul qurban yang
kekurangan biaya untuk membeli hewan, maka diperbolehkan dan tidak
mempengaruhi status qurbannya. Dan status bantuan di sini adalah hadiah bagi
shohibul qurban.

Ketentuan Untuk Sapi & Onta


Seekor Sapi dijadikan qurban untuk 7 orang. Sedangkan seekor onta untuk 10
orang. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu beliau mengatakan, “Dahulu kami penah
bersafar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya Idul
Adha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor onta. Sedangkan
untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.” (Shahih Sunan Ibnu Majah,
Al Wajiz, hal. 406)
Dalam masalah pahala, ketentuan qurban sapi sama dengan ketentuan qurban
kambing. Artinya urunan 7 orang untuk qurban seekor sapi, pahalanya mencakup
seluruh anggota keluarga dari 7 orang yang ikut urunan.

Hutang Untuk Berqurban?


Sebagian ulama menganjurkan untuk berqurban meskipun harus hutang. Di
antaranya adalah Imam Abu Hatim, sebagaimana dinukil oleh Ibn Katsir dari Sufyan At
Tsauri. Sufyan At Tsauri rahimahullah mengatakan: Dulu Abu Hatim pernah berhutang
untuk membeli unta qurban. Beliau ditanya: “Kamu berhutang untuk beli unta

qurban?” beliau jawab: “Saya mendengar Allah berfirman: ‫خي ٌْر‬ ْ ُ ‫ل َك‬
َ ‫م ِفيَها‬ (kamu
memperoleh kebaikan yang banyak pada unta-unta qurban tersebut) (QS: Al Hajj:36).”
(Tafsir Ibn Katsir, surat Al Hajj: 36).
Demikian pula Imam Ahmad dalam masalah aqiqah. Beliau menyarankan agar
orang yang tidak memiliki biaya aqiqah agar berhutang dalam rangka menghidupkan
sunnah aqiqah di hari ketujuh setelah kelahiran.
Sebagian ulama lain menyarankan untuk mendahulukan pelunasan hutang dari
pada berqurban. Di antaranya adalah Syaikh Ibn Utsaimin dan ulama tim fatwa
islamweb.net di bawah pengawasan Dr. Abdullah Al Faqih (lih. Fatwa Syabakah
Islamiyah no. 7198 & 28826).
Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin mengatakan: “Jika orang punya
hutang maka selayaknya mendahulukan pelunasan hutang dari pada berqurban.”
(Syarhul Mumti’ 7/455). Beliau juga pernah ditanya tentang hukum orang yang tidak
jadi qurban karena uangnya diserahkan kepada temannya yang sedang terlilit hutang,
dan beliau jawab: “Jika di hadapkan dua permasalahan antara berqurban atau
melunaskan hutang orang faqir maka lebih utama melunasi hutang, lebih-lebih jika
orang yang sedang terlilit hutang tersebut adalah kerabat dekat.” (Majmu’ Fatawa &
Risalah Ibn Utsaimin 18/144).
Kesimpulannya, bahwa dua keterangan di atas tidaklah saling bertentangan.
Karena perbedaan ini didasari oleh perbedaan dalam memandang keadaan orang
yang berhutang. Ulama yang menyarankan untuk berhutang ketika qurban atau
aqiqah, dipahami untuk kasus orang yang keadaanya mudah dalam melunasi hutang
atau orang yang berhutang dengan jatuh temponya masih panjang.
Sedangkan anjuran sebagian ulama untuk mendahulukan pelunasan hutang
dari pada qurban dipahami untuk kasus orang yang kesulitan melunasi hutang atau
hutang yang menuntut segera dilunasi. Dengan demikian, jika berhutang untuk
berqurban ini termasuk sebagai hutang yang jatuh temponya panjang atau hutang
yang mudah dilunasi maka berqurban dengan berhutang adalah satu hal yang baik.
Wallahu a’lam.

Qurban Kerbau?
Para ulama’ menyamakan kerbau dengan sapi dalam berbagai hukum dan
keduanya dianggap sebagai satu jenis (Mausu’ah Fiqhiyah Quwaithiyah 2/2975). Ada
beberapa ulama yang secara tegas membolehkan berqurban dengan kerbau, dari
kalangan Syafi’iyah (Hasyiyah Al Bajirami) maupun dari Hanafiyah (Al ‘Inayah Syarh
Hidayah 14/192 dan Fathul Qodir 22/106). Mereka menganggap keduanya satu jenis.
Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utasimin pernah ditanya tentang hukum qurban
dengan kerbau.
Pertanyaan:
“Kerbau dan sapi memiliki perbedaan dalam banyak sifat sebagaimana kambing
dengan domba. Namun Allah telah merinci penyebutan kambing dengan domba tetapi
tidak merinci penyebutan kerbau dengan sapi, sebagaimana disebutkan dalam surat
Al An’am 143. Apakah boleh berqurban dengan kerbau?”
Beliau menjawab:
“Jika hakekat kerbau termasuk sapi maka kerbau sebagaimana sapi namun jika tidak
maka (jenis hewan) yang Allah sebut dalam alqur’an adalah jenis hewan yang dikenal
orang arab, sedangkan kerbau tidak termasuk hewan yang dikenal orang arab.” (Liqa’
Babil Maftuh 200/27)
Jika pernyataan Syaikh Ibn Utsaimin kita bawa pada penjelasan ulama di atas maka
bisa disimpulkan bahwa qurban kerbau hukumnya sah, karena kerbau sejenis dengan
sapi. Wallahu a’lam.

Berqurban Atas Nama Orang yang Sudah Meninggal?


Berqurban untuk orang yang telah meninggal dunia dapat dirinci menjadi tiga bentuk:
Pertama, Orang yang meninggal bukan sebagai sasaran qurban utama namun
statusnya mengikuti qurban keluarganya yang masih hidup. Misalnya seseorang
berqurban untuk dirinya dan keluarganya sementara ada di antara keluarganya yang
telah meninggal. Berqurban jenis ini dibolehkan dan pahala qurbannya meliputi dirinya
dan keluarganya meskipun ada yang sudah meninggal.
Kedua, Berqurban khusus untuk orang yang telah meninggal tanpa ada wasiat dari
mayit. Sebagian ulama madzhab hambali menganggap ini sebagai satu hal yang baik
dan pahalanya bisa sampai kepada mayit, sebagaimana sedekah atas nama mayit (lih.
Fatwa Majlis Ulama Saudi no. 1474 & 1765). Namun sebagian ulama’ bersikap keras
dan menilai perbuatan ini sebagai satu bentuk bid’ah, mengingat tidak ada tuntunan
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada riwayat bahwasanya beliau
berqurban atas nama Khadijah, Hamzah, atau kerabat beliau lainnya yang mendahului
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketiga, Berqurban khusus untuk orang yang meninggal karena mayit pernah
mewasiatkan agar keluarganya berqurban untuknya jika dia meninggal. Berqurban
untuk mayit untuk kasus ini diperbolehkan jika dalam rangka menunaikan wasiat si
mayit.
(Dinukil dari catatan kaki Syarhul Mumti’ yang diambil dari Risalah Udl-hiyah Syaikh
Ibn Utsaimin hal. 51)

Umur Hewan Qurban


Dari Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah kalian menyembelih (qurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu
menyulitkan bagi kalian maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah.” (HR. Al
Bukhari & Muslim)
Musinnah adalah fase hewan yang sudah menginjak dewasa. Usia hewan pada
fase musinnah berbeda-beda tergantung jenis hewannya. Onta masuk fase musinnah
ketika sudah genap berusia 5 tahun, sapi masuk fase musinnah ketika sudah berusia 2
tahun, dan kambing masuk fase musinnah ketika sudah genap berusia satu tahun.
Adapun domba Jadza'ah adalah domba yang sudah berusia 6 bulan.
Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa usia hewan minimal yang
bisa digunakan untuk qurban adalah sebagai berikut:

No. Hewan Umur minimal


1. Onta 5 tahun
2. Sapi 2 tahun
3. Kambing jawa 1 tahun
4. Domba/ kambing 6 bulan
gembel (domba
Jadza’ah)
(lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/371-372, Syarhul Mumti’, III/410, Taudhihul Ahkaam,
IV/461)

Cacat Hewan Qurban


Cacat hewan qurban dibagi menjadi 3:
Cacat yang menyebabkan tidak sah untuk berqurban
Ada 4 cacat yang menyebabkan binatang tidak boleh digunakan untuk
berqurban. Empat cacat ini disebutkan dalam hadis berikut:
Dari Al Barra' bin Azib radliallahu 'anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda sambil berisyarat dengan tangannya demikian (empat jari
terbuka): “Ada empat cacat yang tidak boleh dalam hewan qurban: buta sebelah
matanya dan jelas butanya, sakit dan jelas sakitnya, pincang dan jelas pincangnya,
dan sangat kurus sampai-sampai tidak punya sumsum tulang.” Al Barra' mengatakan:
Apapun ciri binatang yang tidak kamu sukai maka tinggalkanlah dan jangan haramkan
untuk orang lain. (HR. An Nasa'i, Abu Daud dan dishahihkan Al Albani)
Keterangan hadis:
a) Buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya: Jika butanya belum jelas – orang
yang melihatnya menilai belum buta – meskipun pada hakekatnya kambing
tersebut satu matanya tidak berfungsi maka boleh diqurbankan. Demikian pula
hewan yang rabun senja. ulama’ madzhab syafi’iyah menegaskan hewan yang
rabun boleh digunakan untuk qurban karena bukan termasuk hewan yang buta
sebelah matanya.
b) Sakit dan tampak sekali sakitnya, kelihatan pengaruhnya. Misalnya tidak mau
berdiri
c) Pincang dan tampak jelas pincangnya: Artinya pincang dan tidak bisa berjalan
normal. Tetapi jika baru kelihatan pincang namun bisa berjalan dengan baik
maka boleh dijadikan hewan qurban.
d) Sangat kurus atau tua, sehingga seolah tidak punya sumsum tulang, karena
saking kurusnya.
Jika ada hewan yang cacatnya lebih parah dari 4 jenis cacat di atas maka
hukumnya lebih terlarang lagi untuk dijadikan hewan qurban. (lih. Shahih Fiqih
Sunnah, II/373 & Syarhul Mumti’ 3/294).
Cacat yang menyebabkan makruh untuk berqurban:
Terdapat hadis yang menyatakan larangan berqurban dengan hewan yang
memilki dua cacat, telinga terpotong atau tanduk pecah. Namun hadisnya dhaif.
Sehingga sebagian ulama menggolongkan cacat jenis kedua ini hanya menyebabkan
makruh dipakai untuk qurban. (Syarhul Mumthi’ 7/470)
Ada 2 jenis cacat hewan yang menyebabkan makruh untuk dijadikan hewan
qurban:
a) Sebagian atau keseluruhan telinganya terpotong
b) Tanduknya pecah atau patah
(Shahih Fiqih Sunnah, II/373)
Cacat yang tidak berpengaruh pada hewan qurban
Hewan yang memiliki cacat jenis ini boleh untuk dijadikan hewan qurban,
namun kurang sempurna.
Jenis cacat binatang yang tidak mempengaruhi hewan qurban adalah cacat selain
dari 6 jenis cacat di atas atau cacat yang tidak lebih parah dari cacat di atas.
Misalnya tidak bergigi (ompong), tidak berekor, bunting, atau tidak berhidung. Wallahu
a’lam
(Shahih Fiqih Sunnah, II/373)

Hewan yang Disukai dan Lebih Utama untuk Diqurbankan


Hendaknya hewan yang diqurbankan adalah hewan yang gemuk dan sempurna.
Allah berfirman:

ِ ‫قُلو‬
..‫ب‬ ُ ْ ‫وى ال‬ ْ َ ‫من ت‬
َ ‫ق‬ ِ ‫ها‬ َ ‫عائ َِر الله‬
َ ّ ‫فإ ِن‬ َ ‫ش‬ ْ ّ ‫عظ‬
َ ‫م‬ َ ُ ‫من ي‬
َ ‫و‬ َ ِ ‫ذَل‬
َ ‫ك‬
“…barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya itu adalah
berasal dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj: 32).
Berdasarkan ayat ini Imam Syafi’i rahimahullah menyatakan bahwa orang yang
berqurban disunnahkan untuk memilih hewan qurban yang besar dan gemuk.
Abu Umamah bin Sahl mengatakan, “Dahulu kami di Madinah biasa memilih
hewan yang gemuk dalam berqurban. Dan memang kebiasaan kaum muslimin ketika
itu adalah berqurban dengan hewan yang gemuk-gemuk.” (HR. Bukhari secara
mu’allaq & dinyatakan bersambung oleh Abu Nu’aim dalam Al Mustakhraj, dan
sanadnya hasan)

Berqurban Yang paling Sempurna


Diantara ketiga jenis hewan qurban menurut mayoritas ulama yang paling
utama adalah berqurban dengan onta, kemudian sapi kemudian kambing, jika biaya
pengadaan masing-masing ditanggung satu orang (bukan urunan).
Dalilnya adalah jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh
Abu Dzar radhiallahu ‘anhu tentang budak yang lebih utama. Beliau bersabda, “Yaitu
budak yang lebih mahal dan lebih bernilai dalam pandangan pemiliknya” (HR. Bukhari
dan Muslim). (Shahih Fiqih Sunnah, II/374)

Manakah yang Lebih Baik, Ikut Urunan Sapi atau Qurban Satu Kambing?
Sebagian ulama menjelaskan qurban satu kambing lebih baik dari pada ikut
urunan sapi atau onta, karena tujuh kambing manfaatnya lebih banyak dari pada
seekor sapi (lih. Shahih Fiqh Sunnah, 2/375, Fatwa Lajnah Daimah no. 1149 & Syarhul
Mumthi’ 7/458). Disamping itu, terdapat alasan lain diantaranya:
a) Qurban yang sering dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utuh
satu ekor, baik kambing, sapi, maupun onta, bukan 1/7 sapi atau 1/10 onta.
b) Kegiatan menyembelihnya lebih banyak. Lebih-lebih jika hadis yang
menyebutkan keutamaan qurban di atas statusnya shahih. Hal ini juga sesuai
dengan apa yang dinyatakan oleh penulis kitab Al Muhadzab Al Fairuz Abadzi As
Syafi’i. (Al Muhadzab 1/74) .

Berqurban Dengan Domba


Hewan qurban yang paling bagus adalah domba jantan bertanduk, warna putih
bercampur hitam di sekitar matanya dan kaki-kakinya. Inilah ciri-ciri kambing yang
disukai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan beliau gunakan untuk berqurban.
Dari 'Aisyah radliallahu 'anha, bahwa nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
meminta domba bertanduk, menginjak sesuatu yang hitam, duduk di atas yang hitam,
dan melilhat dengan sesuatu yang hitam. Kemudian beliau diberi hewan dengan ciri
tersebut dan beliau gunakan untuk berqurban. (HR. Muslim)
keterangan: maksud “menginjak sesuatu yang hitam, duduk di atas yang
hitam, dan melilhat dengan sesuatu yang hitam” : kaki-kaki, sekitar mata, dan
perutnya berwarna hitam.
Dari 'Aisyah dan Abu Hurairah radliallahu 'anhuma, bahwa suatu ketika Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam ingin berqurban, kemudian beliau membeli dua ekor
domba yang besar, gemuk, bertanduk, berwarna putih bercampur hitam, dan dikebiri.
Kemudian beliau menyembelihnya...(HR. Ibn Majah dan dishahihkan Al Albani)

Apakah Harus Jantan?


Tidak ada ketentuan jenis kelamin hewan qurban. Boleh jantan maupun betina.
Dari Umu Kurzin radliallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Aqiqah untuk anak laki-laki dua kambing dan anak perempuan satu kambing. Tidak
jadi masalah jantan maupun betina.” (HR. Ahmad 27900 & An Nasa’i 4218 dan
dishahihkan Syaikh Al Albani).
Berdasarkan hadis ini, Al Fairuz Abadzi As Syafi’i mengatakan: “Jika dibolehkan
menggunakan hewan betina ketika aqiqah berdasarkan hadis ini, menunjukkan bahwa
hal ini juga boleh untuk berqurban.” (Al Muhadzab 1/74)
Akan tetapi, umumnya hewan jantan lebih baik dan lebih mahal dibandingkan
hewan betina. Oleh karena itu diutamakan menggunakan hewan jantan.

Larangan Bagi yang Hendak Berqurban


Orang yang hendak berqurban dilarang memotong kuku dan memotong
rambutnya. Dari Ummu Salamah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau
bersabda, “Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan Dzulhijjah)
sedangkan diantara kalian ingin berqurban maka janganlah dia menyentuh sedikitpun
bagian dari rambut dan kulitnya.” (HR. Muslim).
Keterangan:
a) Larangan potong rambut dan kuku di hadis ini adalah rambut dan kuku orang
yang hendak berqurban, bukan hewan qurbannya.
b) Larangan tersebut berlaku untuk cara apapun dan untuk bagian manapun,
mencakup larangan mencukur gundul atau sebagian saja, atau sekedar
mencabutinya. Baik rambut itu tumbuh di kepala, kumis, sekitar kemaluan
maupun di ketiak (Shahih Fiqih Sunnah, II/376).
Apakah larangan ini hanya berlaku untuk kepala keluarga ataukah berlaku juga
untuk anggota keluarga shohibul qurban?
Jawab: Larangan ini hanya berlaku untuk kepala keluarga (shohibul qurban) dan tidak
berlaku bagi anggota keluarganya. Karena 2 alasan:
• Dlahir hadis menunjukkan bahwa larangan ini hanya berlaku untuk yang mau
berqurban.
• Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berqurban untuk dirinya dan
keluarganya. Namun belum ditemukan riwayat bahwasanya beliau menyuruh
anggota keluarganya untuk tidak memotong kuku maupun rambutnya. (Syarhul
Mumti’ 7/529)

Waktu Penyembelihan
Waktu penyembelihan qurban adalah pada hari Idul Adha dan 3 hari
sesudahnya (hari tasyriq). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap
hari taysriq adalah (hari) untuk menyembelih (qurban).” (HR. Ahmad dan Baihaqi).
Baik siang maupun malam, keduanya boleh dijadikan sebagai waktu untuk berqurban.
Namun menurut Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin, melakukan
penyembelihan di waktu siang itu lebih baik. (Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi, hal.
33). Karena berqurban di siang hari akan lebih memudahkan penananganan hewan
qurban.
Para ulama sepakat bahwa penyembelihan qurban tidak boleh dilakukan
sebelum shalat 'id di hari Idul Adha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat Ied maka sesungguhnya dia
menyembelih untuk dirinya sendiri (bukan qurban). Dan barangsiapa yang
menyembelih sesudah shalat itu maka qurbannya sempurna dan dia telah menepati
sunnahnya kaum muslimin.” (HR. Bukhari dan Muslim) (lihat Shahih Fiqih Sunnah,
II/377)

Tempat Penyembelihan
Tempat yang disunnahkan untuk menyembelih adalah tanah lapangan tempat
shalat ‘ied diselenggarakan. Terutama bagi imam atau tokoh masyarakat, dianjurkan
untuk menyembelih qurbannya di lapangan dalam rangka memberitahukan kepada
kaum muslimin bahwa qurban sudah boleh dilakukan dan memberi contoh tentang
tata cara qurban yang baik. Ibnu ‘Umar radliallahu 'anhuma mengatakan, “Dahulu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menyembelih kambing dan onta
(qurban) di lapangan tempat shalat.” (HR. Al Bukhari).
Dan dibolehkan untuk menyembelih qurban di tempat manapun yang disukai,
baik di rumah sendiri ataupun di tempat lain. (Shahih Fiqih Sunnah, II/378)

Penyembelih Qurban
Disunnahkan bagi shohibul qurban untuk menyembelih hewan qurbannya
sendiri namun boleh diwakilkan kepada orang lain. Syaikh Ali bin Hasan mengatakan:
“Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama’ dalam
masalah ini.” (Ahkamul Idain, hal. 32)
Hal ini berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu di dalam Shahih
Muslim yang menceritakan bahwa pada saat qurban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah menyembelih beberapa onta qurbannya dengan tangan beliau sendiri
kemudian sisanya diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu untuk
disembelih. (Ahkaamul Idain, 32)

Tata Cara Penyembelihan


Pertama, tidak boleh menyembelih kecuali seorang muslim atau ahli kitab
(yahudi & nasrani) yang telah tamyiz (sejak 7 tahun) dan berakal. Kemudian,
orang yang menyembelih harus berniat menyembelih untuk dimakan. Tidak boleh
ditujukan untuk selain Allah dan tidak bolek menyebut nama selain Allah ketika
menyembelih. Ini semua adalah syarat sah sembelihan.
Kedua, dianjurkan bagi orang yang berqurban untuk menyembelih qurbannya
sendiri (tanpa diwakilkan). Namun jika penyembelihannya diwakilkan maka
qurbannya sah.
Syaikh Ali bin hasan Al Halabi mengatakan: Saya tidak mengetahui adanya
perselisihan di antara ulama dalam masalah ini. (Ahkam Al idain, hal. 32)
Ketiga, wajib memperlakukan hewan dengan baik ketika menyembelih. Dengan
melakukan cara penyembelihan yang paling mudah dan paling cepat mematikan.
Dari Syaddad bin Aus radliallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan kepada
semuanya. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan ihsan, jika kalian
menyembelih, sembelihlah dengan ihsan. Hendaknya kalian mempertajam
pisaunya dan menenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim)
(ihsan adalah memperlakukan sesuatu dengan sebaik mungkin)
berbuat ihsan ketika menyembelih, rinciannya sebagai berikut:
1. jika hewan sembelihannya berupa onta maka menyembelihnya dilakukan
dengan berdiri dan kaki kiri depan ditekuk kemudian diikat
Allah berfirman:

‫فاذْك ُُروا‬
َ ‫خي ٌْر‬
َ ‫ها‬ َ ‫في‬
ِ ‫م‬ْ ُ ‫ر الله ل َك‬ ِ ِ ‫عائ‬
َ ‫ش‬َ ‫من‬ ّ ‫كم‬ُ َ ‫ها ل‬َ ‫عل َْنا‬
َ ‫ج‬
َ ‫ن‬ َ ْ‫وال ْب ُد‬
َ
.‫فك ُُلوا‬
َ ‫ها‬َ ُ ‫جُنوب‬
ُ ‫ت‬ ْ َ ‫جب‬ َ ‫و‬ َ ِ ‫فإ‬
َ ‫ذا‬ َ ‫ف‬ ّ ‫وا‬
َ ‫ص‬ َ ْ ‫عل َي‬
َ ‫ها‬ َ ‫م الله‬ َ ‫س‬
ْ ‫ا‬
Telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu bagian dari syi'ar Allah, kamu
memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah nama Allah
ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat).
Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah..(QS. Al Haj: 36)
Ibn Abbas radliallahu 'anhuma menjelaskan ayat di atas: (Ontanya) berdiri
dengan tiga kaki, sedangkan satu kaki kiri depan diikat. (tafsir Ibn Katsir
untuk ayat ini)
Dari Jabir bin Abdillah radliallahu 'anhuma, beliau mengatakan: bahwa Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat menyembelih onta dengan
posisi kaki kiri depan diikat, dan berdiri dengan tiga kaki sisanya. (HR. Abu
daud & dishahihkan Al Albani)
2. jika hewan sembelihannya selain onta maka menyembelihnya sambil
dibaringkan ke lambung kiri, dan orang yang menyembelih meletakkan
kakinya di lehernya agar bisa menekan hewan sehingga tidak banyak
bergerak.
Dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam pernah menyembelih dua ekor domba bertanduk,...beliau sembelih
dengan tangannya, dan beliau letakkan kaki beliau di atas leher hewan.
(HR. Al Bukhari & Muslim)
Keempat, membaca basmalah ketika menyembelih. Dan ini hukumnya wajib
Allah berfirman:

ِ َ‫ه ل‬ ْ
..‫ق‬
ٌ ‫س‬
ْ ‫ف‬ ُ ّ ‫وإ ِن‬ ِ ْ ‫عل َي‬
َ ‫ه‬ َ ‫م الله‬
ُ ‫س‬
ْ ‫را‬ ْ َ ‫ما ل‬
ِ َ ‫م ي ُذْك‬ ِ ْ ‫و ل َ ت َأك ُُلوا‬
ّ ‫م‬ َ
janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah
ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah
suatu kefasikan. (QS. Al An'am: 121)
Kelima, dianjurkan untuk membaca takbir (Allahu akbar) setelah membaca
basmalah
Dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam pernah menyembelih dua ekor domba bertanduk,...beliau sembelih dengan
tangannya, beliau baca basmalah dan bertakbir.... (HR. Al Bukhari & Muslim).
keenam, menyebut orang yang menjadi atas nama qurban ketika menyembelih
Dari Jabir bin Abdillah radliallahu 'anhuma, bahwa suatu ketika didatangkan
seekor domba. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyembelih dengan
tangan beliau. Ketika menyembelih beliau mengucapkan: “Bismillah Wallaahu
akbar, ini qurban atas namaku dan atas nama orang yang tidak berqurban dari
umatku.” (HR. Abu daud, At Turmudzi dan dishahihkan Al Albani)
ketujuh, terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dua urat leher (kanan-kiri),
dan mengalirkan darah.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz menyebutkan bahwa penyembelihan yang sesuai
syariat itu ada tiga keadaan (dinukil dari shalatul idain karya Syaikh Sa'id Al
Qohthoni):
Pertama, terputusnya: tenggorokan, kerongkongan, dan dua urat leher. Ini
adalah keadaan yang terbaik. Jika terputus empat hal ini maka sembelihannya
halal menurut semua ulama
Kedua, terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan salah satu urat leher.
Sembelihannya benar, halal, dan boleh dimakan, meskipun keadaan ini derajatnya
di bawah kondisi yang pertama.
Ketiga, terputusnya tenggorokan dan kerongkongan saja, tanpa dua urat
leher. Status sembelihannya sah dan halal, menurut sebagian ulama, dan
merupakan pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini. Dalilnya adalah sabda
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: “Selama mengalirkan darah dan telah disebut
nama Allah maka makanlah. Asal tidak menggunakan gigi dan kuku. (HR. Al
Bukhari & Muslim)
kesembilan, hendaknya berdo'a ketika menyembelih agar qurbannya diterima
Dari 'Aisyah radliallahu 'anha, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
mengambil seekor domba, kemudian beliau baringkan dan beliau mengucapkan:
“Bismillah, Yaa Allah, terimalah (qurban) dari Muhammad, keluarga Muhammad,
dan Ummat Muhammad.” lalu beliau menyembelihnya. (HR. Muslim)

Bolehkah Mengucapkan Shalawat Ketika Menyembelih?


Tidak boleh mengucapkan shalawat ketika hendak menyembelih, karena 2 alasan:
a) Tidak terdapat dalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan
shalawat ketika menyembelih. Sementara beribadah tanpa dalil adalah
perbuatan bid’ah.
b) Bisa jadi orang akan menjadikan nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam sebagai wasilah ketika qurban. Atau bahkan bisa jadi seseorang
membayangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyembelih,
sehingga sembelihannya tidak murni untuk Allah. (Syarhul Mumti’ 7/492)

Pemanfaatan Hasil Sembelihan


Bagi pemilik hewan qurban dibolehkan memanfaatkan daging qurbannya, melalui:
a) Dimakan sendiri dan keluarganya, bahkan sebagian ulama menyatakan shohibul
qurban wajib makan sebagian hewan qurbannya. Termasuk dalam hal ini adalah
berqurban karena nadzar menurut pendapat yang benar.
b) Disedekahkan kepada orang yang membutuhkan
c) Dihadiahkan kepada orang yang kaya
d) Disimpan untuk bahan makanan di lain hari. Namun penyimpanan ini hanya
dibolehkan jika tidak terjadi musim paceklik atau krisis makanan.
Dari Salamah bin Al Akwa’ dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang berqurban maka jangan sampai dia
menjumpai subuh hari ketiga sesudah Ied sedangkan dagingnya masih tersisa
walaupun sedikit.” Ketika datang tahun berikutnya maka para sahabat mengatakan,
“Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu ?” Maka
beliau menjawab, “(Adapun sekarang) Makanlah sebagian, sebagian lagi berikan
kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah. Pada tahun lalu masyarakat sedang
mengalami kesulitan (makanan) sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu
mereka dalam hal itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Menurut mayoritas ulama, perintah yang terdapat dalam hadits ini
menunjukkan hukum sunnah, bukan wajib (Shahih Fiqih Sunnah, II/378). Oleh sebab
itu, boleh mensedekahkan semua hasil sembelihan qurban. Sebagaimana
diperbolehkan juga untuk tidak menghadiahkannya kepada orang kaya. Namun hanya
disedekahkan kepada orang miskin. (Minhaajul Muslim, 266).

Bolehkah Memberikan Daging Qurban Kepada Orang Kafir?


Ulama madzhab Malikiyah berpendapat makruhnya memberikan daging qurban
kepada orang kafir, sebagaimana kata Imam Malik: “(diberikan) kepada selain mereka
(orang kafir) lebih aku sukai.” Sedangkan syafi’iyah berpendapat haramnya
memberikan daging qurban kepada orang kafir untuk qurban yang wajib (misalnya
qurban nadzar, pen.) dan makruh untuk qurban yang sunnah. (Fatwa Syabakah
Islamiyah no. 29843).
Al Baijuri As Syafi’I mengatakan: “Dalam Al Majmu’ (Syarhul Muhadzab)
disebutkan, boleh memberikan sebagian qurban sunnah kepada kafir dzimmi yang
faqir. Tapi ketentuan ini tidak berlaku untuk qurban yang wajib.” (Hasyiyah Al Baijuri
2/310)
Lajnah Daimah (Majlis Ulama’ saudi Arabia) ditanya tentang bolehkah memberikan
daging qurban kepada orang kafir.
Jawaban Lajnah:
“Kita dibolehkan memberi daging qurban kepada orang kafir Mu’ahid (*) baik karena
statusnya sebagai orang miskin, kerabat, tetangga, atau karena dalam rangka
menarik simpati mereka… namun tidak dibolehkan memberikan daging qurban
kepada orang kafir Harby, karena kewajiban kita kepada kafir harby adalah
merendahkan mereka dan melemahkan kekuatan mereka. Hukum ini juga berlaku
untuk pemberian sedekah. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah:

ْ َ ‫ول‬
‫م‬ َ ‫ن‬ ِ ‫دي‬ ّ ‫في ال‬ ِ ‫م‬ْ ُ ‫قات ُِلوك‬ َ ُ‫م ي‬ ْ َ‫ن ل‬ َ ‫ذي‬ ِ ّ ‫ن ال‬ ِ ‫ع‬ ُ ّ ‫الل‬
َ ‫ه‬ ُ ُ ‫هاك‬
‫م‬ َ ْ ‫َل ي َن‬
َ ‫طوا إ ِل‬
ُ ‫س‬ َ ‫من ديارك ُم أ‬
‫ن‬
ّ ِ‫م إ‬ ْ ‫ه‬
ِ ْ ‫ي‬ ِ ‫ق‬ْ ُ ‫ت‬‫و‬َ ‫م‬
ْ ‫ه‬
ُ ‫رو‬ ّ َ ‫ب‬َ ‫ت‬ ‫ن‬ ْ ْ ِ َ ِ ْ ِ ‫م‬ْ ُ ‫جوك‬ ُ ‫ر‬ ِ ‫خ‬
ْ ُ‫ي‬
‫ن‬َ ‫طي‬ ِ ‫س‬ ِ ‫ق‬ ْ ‫م‬ُ ْ ‫ب ال‬ ّ ‫ح‬ ِ ُ‫ه ي‬ َ ّ ‫الل‬
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang
yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil .” (QS. Al Mumtahanah:
8)
Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan Asma’ binti
Abu Bakr radhiallahu ‘anhu untuk menemui ibunya dengan membawa harta padahal
ibunya masih musyrik.” (Fatwa Lajnah Daimah no. 1997).
Kesimpulannya, memberikan bagian hewan qurban kepada orang kafir
dibolehkan karena status hewan qurban sama dengan sedekah atau hadiah, dan
diperbolehkan memberikan sedekah maupun hadiah kepada orang kafir. Sedangkan
pendapat yang melarang adalah pendapat yang tidak kuat karena tidak berdalil.
(*) Catatan:
Kafir Mu’ahid: Orang kafir yang mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin.
Termasuk orang kafir mu’ahid adalah orang kafir yang masuk ke negeri islam dengan
izin resmi dari pemerintah. Kafir Harby: Orang kafir yang memerangi kaum muslimin.
Larangan Memperjual-Belikan Hasil Sembelihan
Tidak diperbolehkan memperjual-belikan bagian hewan sembelihan, baik
daging, kulit, kepala, teklek, bulu, tulang maupun bagian yang lainnya. Ali bin Abi
Thalib radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
memerintahkan aku untuk mengurusi penyembelihan onta qurbannya. Beliau juga
memerintahkan saya untuk membagikan semua kulit tubuh serta kulit punggungnya.
Dan saya tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun darinya kepada tukang
jagal.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan terdapat ancaman keras dalam masalah ini,
sebagaimana hadis berikut:

ُ َ‫ة ل‬
‫ه‬ ِ ‫فل َ ُأض‬
َ َ ‫حي‬ َ ‫ه‬
ِ ِ ‫حي َت‬ ْ ُ ‫جل ْدَ أ‬
ِ ‫ض‬ َ ‫ع‬
َ ‫ن َبا‬
ْ ‫م‬
َ
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa yang menjual kulit hewan qurbannya maka ibadah qurbannya tidak
ada nilainya.” (HR. Al Hakim & Al Baihaqi dan dihasankan Syaikh Al Albani)

Catatan:
a) Termasuk memperjual-belikan bagian hewan qurban adalah menukar kulit atau
kepala dengan daging atau menjual kulit untuk kemudian dibelikan kambing.
Karena hakekat jual-beli adalah tukar-menukar meskipun dengan selain uang.
b) Transaksi jual-beli kulit hewan qurban yang belum dibagikan adalah transaksi
yang tidak sah. Artinya penjual tidak boleh menerima uang hasil penjualan kulit
dan pembeli tidak berhak menerima kulit yang dia beli. Hal ini sebagaimana
perkataan Al Baijuri: “Tidak sah jual beli (bagian dari hewan qurban) disamping
transaksi ini adalah haram.” Beliau juga mengatakan: “Jual beli kulit hewan
qurban juga tidak sah karena hadis yang diriwayatkan Hakim (baca: hadis di
atas).” (Fiqh Syafi’i 2/311).
c) Bagi orang yang menerima kulit dibolehkan memanfaatkan kulit sesuai
keinginannya, baik dijual maupun untuk pemanfaatan lainnya, karena ini sudah
menjadi haknya. Sedangkan menjual kulit yang dilarang adalah menjual kulit
sebelum dibagikan (disedekahkan), baik yang dilakukan panitia maupun
shohibul qurban.

Larangan Mengupah Jagal Dengan Bagian Hewan Sembelihan


Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa “Beliau pernah diperintahkan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengurusi penyembelihan ontanya dan agar
membagikan seluruh bagian dari sembelihan onta tersebut, baik yang berupa daging,
kulit tubuh maupun pelana. Dan dia tidak boleh memberikannya kepada jagal barang
sedikitpun.” (HR. Bukhari dan Muslim) dan dalam lafaz lainnya beliau berkata, “Kami
mengupahnya dari uang kami pribadi.” (HR. Muslim). Danini merupakan pendapat
mayoritas ulama (Shahih Fiqih Sunnah, II/379)
Syaikh Abdullah Al Bassaam mengatakan, “Tukang jagal tidak boleh diberi
daging atau kulitnya sebagai bentuk upah atas pekerjaannya. Hal ini berdasarkan
kesepakatan para ulama. Yang diperbolehkan adalah memberikannya sebagai bentuk
hadiah jika dia termasuk orang kaya atau sebagai sedekah jika ternyata dia adalah
miskin…..” (Taudhihul Ahkaam, IV/464).
Keterangan beliau semakna dengan keterangan Ibn Qosim, yang mengatakan:
“Haram menjadikan bagian hewan qurban sebagai upah bagi jagal.” Perkataan beliau
ini dikomentari oleh Al Baijuri: “Karena hal itu (mengupah jagal) semakna dengan jual
beli. Namun jika jagal diberi bagian dari qurban dengan status sedekah bukan upah
maka tidak haram.” (Hasyiyah Al Baijuri As Syafi’i 2/311).
Adapun bagi orang yang memperoleh hadiah atau sedekah daging qurban
diperbolehkan memanfaatkannya sekehendaknya, bisa dimakan, dijual atau yang
lainnya. Akan tetapi tidak diperkenankan menjualnya kembali kepada orang yang
memberi hadiah atau sedekah kepadanya (Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi, 69)

Menyembelih Satu Kambing Untuk Makan-Makan Panitia? Atau Panitia Dapat


Jatah Khusus?
Status panitia maupun jagal dalam pengurusan hewan qurban adalah sebagai
wakil dari shohibul qurban dan bukan amil, sebagaimana dalam zakat harta. Karena
statusnya hanya sebagai wakil maka panitia qurban tidak diperkenankan
mengambil bagian dari hewan qurban sebagai ganti dari jasa dalam mengurusi
hewan qurban. Namun panitia boleh menerima daging qurban sebagaimana jatah
biasa. Artinya tidak ada kelebihan dibandingkan jatah masyarakat lainnya.

Mengirim sejumlah uang untuk biaya qurban di luar daerah pemilik hewan?
Pada asalnya tempat menyembelih qurban adalah daerah orang yang
berqurban. Karena orang-orang yang miskin di daerahnya itulah yang lebih berhak
untuk disantuni. Kasus yang sama dengan hal ini adalah mengirim hewan untuk
diqurbankan di luar daerah.
Sebagian ulama syafi’iyah mengharamkan mengirim hewan qurban atau uang
untuk membeli hewan qurban ke tempat lain – di luar tempat tinggal shohibul qurban
– selama tidak ada maslahat yang menuntut hal itu. Seperti penduduk tempat
shohibul qurban yang sudah kaya sementara penduduk tempat lain sangat
membutuhkan. Sebagian ulama membolehkan secara mutlak (meskipun tidak ada
tuntutan maslahat).
Sebagai jalan keluar dari perbedaan pendapat, sebagian ulama menasehatkan
agar tidak mengirim hewan qurban ke selain tempat tinggalnya. Artinya tetap
disembelih di daerah shohibul qurban, namun yang dikirim keluar adalah daging
hewan setelah disembelih. (Fatwa Syabakah Islamiyah no. 2997, 29048, dan 29843 &
Shahih Fiqih Sunnah, II/380)
Kesimpulannya, berqurban dengan model seperti ini (mengirim hewan atau uang
dan bukan daging) termasuk qurban yang sah namun menyelisihi sunnah Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tiga hal:
1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radiallahu ‘anhum tidak
pernah mengajarkannya
2. Hilangnya sunnah anjuran untuk disembelih sendiri oleh shohibul qurban
3. Hilangnya sunnah anjuran untuk makan bagian dari hewan qurban.
Wallaahu waliyut taufiq.