Anda di halaman 1dari 9

PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN ISLAM Mon

(2) May 2, 2005


12:54 pm
Oeh : Dra. Erwati Aziz, M.Ag
( Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Surakarta ) Show Message
PENDIDIKAN Info

1. Pengertian
"Zulfikri"
Pendidikan merupakan kata yang sudah umum. Oleh karena itu, boleh dikatakan semua orang <zulfikri@...>
mengenal apa yang disebut pendidikan, mulai dari orang awam sampai orang yang berpendidikanpakguruonline
tinggi. Begitu juga orang yang tinggal di desa dan di kota, semuanya mengenal kata pendidikan Offline
walaupun dalam pengertian yang berbeda, mulai dari pengertian yang sempit sampai pengertian Send Email
yang sangat luas. Orang awam umpamanya, mempersepsikan bahwa pendidikan itu identik
dengan sekolah, memberikan pelajaran, melatih anak, dan sebagainya. Di samping itu, ada yang
berpendapat bahwa pendidikan itu mencakup aspek yang sangat luas, termasuk semua
pengalaman yang diperoleh anak dalam pembentukan dan pematangan pribadinya, baik yang
dilakukan oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri.

Pendidikan sebagai suatu bahasan ilmiah sangat sulit untuk didefinisikan. Muhammad al-Naquib
al-Attas mengatakan bahwa konferensi internasional pertama tentang pendidikan muslim (1977)
ternyata belum berhasil menyusun suatu definisi pendidikan yang dapat disepakati oleh para ahli
pendidikan secara bulat. Sebelum membicarakan pengertian yang diberikan para ahli tersebut, ada
baiknya ditinjau terlebih dahulu pengertiannya secara bahasa.

Dalam bahasa Indonesia kata pendidikan merupakan kata jadian yang berasal kata didik yang
diberi awalan pe dan akhiran an yang berarti proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau
kelompok dalam usaha mendewasakan manusia.

Dalam Ensiklopedi Indonesia dinyatakan bahwa pendidikan adalah proses membimbing manusia
dari kebodohan menuju ke kecerahan pengetahuan. Lebih lanjut dikatakan bahwa proses tersebut
dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dresure atau paksaan, latihan untuk membentuk
kebiasaan, dan pendidikan untuk membentuk kata hati.

Dari pengertian lugawi di atas dapat kita simpulkan bahwa pendidikan merupakan proses
mengubah keadaan anak didik dengan berbagai cara untuk mempersiapkan masa depan yang baik
baginya. Dalam bahasa Arab paling tidak ada tiga kata yang dipakai untuk menunjuk kepada
konotasi pendidikan yaitu yang merupakan akar kata dari kata kata dasar dari
, dan yang merupakan akar kata dari

Kata berarti memberikan pelajaran, pegetahuan, dan sebagainya. Dalam Islam, kata ini tidak
asing lagi karena sudah sering digunakan sejak masa Nabi Muhammad saw. sampai sekarang. Di
dalam Al-Qur'an kata dalam berbagai bentuk perubahannya ditemukan sekitar 36 buah yang
tersebar dalam beberapa surat, seperti yang termaktub dalam Surat Al-'Alaq ayat 3:

(Dia telah mengajar manusia apa yang belum diketahuinya), Surat Al-Baqarah ayat 31:

(Dan Allah telah mengajar Adam nama-nama benda semuanya),

Surat An-Naml ayat 16:


(Sulaiman berkata: Hai manusia! telah diajarkan kepada kami pengertian bunyi burung).

Kalau kita perhatikan kata yang terdapat dalam Al-Qur'an tersebut lebih mengacu kepada
konotasi pemberian pengetahuan, kecerdasan, keterampilan dan sebagainya, seperti yang terlihat
pada ayat-ayat yang telah dinukilkan di atas.

Sementara itu, kata berarti mendidik, tetapi di dalam bahasa Arab, kata ini lebih ditujukan
kepada pembinaan akhlak dan budi pekerti. Kata ini kita jumpai dalam hadis Nabi, antara lain
berbunyi:

(...Ibunya (ibnu Abi 'Atiq) telah mendidiknya dan kamu (al-Qasim) telah dididik oleh ibumu ...)

(Aku (Muhammad saw.) telah dididik oleh Tuhanku, lalu Dia mendidikku dengan didikan yang terbaik.)

Istilah tarbiyah yang berasal dari bahasa Arab mempunyai konotasi yang lebih luas dalam
bahasa Indonesia karena mencakup mendidik, mengajar, mengasuh, dan sebagainya. Dalam
bentuk kata kerja kata ini dapat dijumpai di dalam Al-Qur 'an, seperti pada Surat Asy-Syu'ara' ayat
18 dan Al-lsra' ayat 24.

Artinya:

Berkata (Firaun): Bukankah kami telah mengasuh (mendidikmu)dalam keluarga kami semenjak
kamu kecil dan menghabiskan beberapa tahun dari umurmu? (QS Asy-Syu'ara': 18)

Artinya:

... ya Tuhan kasihanilah keduanya (orang tua) sebagaimana keduanya telah mendidikku
semenjak aku kecil. (QS Al-lsra': 24)

Dari ketiga kata bahasa Arab tersebut kita melihat bahwa kata tarbiyah mempunyai pengertian
yang lebih luas dan lebih cocok dipakai untuk kata pendidikan dibandingkan dengan kata ta’dib
dan ta'lim. Kata ta'lim lebih dititikberatkan kepada pengajaran karena lebih terfokus kepada
pengetahuan, kecerdasan, dan keterampilan sebagaimana ayat yang telah kita kutip di atas,
sedangkan pendidikan lebih luas dari sekadar pengajaran. Sementara itu, kata ta'dib lebih banyak
mengacu kepada pendidikan akhlak dan budi pekerti sebagaimana yang dianut oleh para ahli
pendidikan, seperti Prof. Zakiah Daradjat dan Abdur-Rahman an-Nahlawi. Meskipun demikian,
Muhammad Naquib al-Attas yang mengatakan bahwa kata ta'dib lebih cocok dipakai untuk kata
pendidikan karena kata ta'dib mencakup wawasan ilmu dan amal yang merupakan esensi
pendidikan Islam. Lain lagi dengan Abdul Fattah Jalal yang menyatakan bahwa kata ta'lim lebih
luas daripada kedua kata lainnya. Alasannya adalah firman Allah pada ayat 151 dari Surat Al-
Baqarah yang berbunyi:

Artinya:

Sebagaimana Kami telah mengirim Rasul dari jenis kamu yang membacakan ayat-ayat Kami
kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kitab dan hikmah serta mengajarkan apa
yang belum kamu ketahui. (QS Al-Baqarah: 151)

Menurut Jalal, kata al-hikmah mencakup pengertian kesungguhan di dalam ilmu atau amal,
bahkan di dalam keduanya. Firman Allah yang menyatakan bahwa orang yang telah diberi hikmah
berarti telah diberi kebaikan yang banyak, seperti tercantum dalam Surat Al-Baqarah ayat 269. Di
samping itu, kata rabba hanya disebut dua kali dalam Al-Qur'an. Jadi, tidak seperti 'allama yang
banyak terdapat di dalam Al-Qur'an.

Dari beberapa pendapat tersebut agaknya pendapat pertama, yakni tarbiyah, lebih dekat kepada
pengertian kata pendidikan dalam bahasa Indonesia karena terasa lebih luas cakupannya, bukan
sekadar memberikan ilmu pengetahuan dan membina akhlak, melainkan mencakup segala aspek
pembinaan kepribadian anak didik secara utuh. Dalam hal ini, ta'lim dan ta'dib merupakan bagian
dari tarbiyah.

Batasan atau definisi 'pendidikan' secara terminologis telah banyak dikemukakan oleh para ahli,
baik ahli pendidikan muslim maupun nonmuslim.

Abdur Rahman, al-Bani misalnya, menyimpulkan dari ketiga kata bahasa Arab yang sudah kita
sebutkan tadi bahwa pendidikan itu memiliki empat unsur, yaitu:

a. menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang dewasa (balig);

b. mengembangkan seluruh potensi;

c. mengarahkan seluruh fitrah dan potensi menuju kesempumaan;

d. melaksanakannya secara bertahap.

Dari pendapat al-Bani ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan dalam hal
ini ialah pendidikan Islam yang meliputi unsur-unsur memelihara dan mengembangkan potensi
atau fitrah anak didik secara bertahap sesuai dengan perkembangannya.

Muhammad Naquib al-Attas yang menjadikan kata ta'dib sebagai pijakannya menjelaskan bahwa
pendidikan itu merupakan pengenalan dan pengakuan yang ditanamkan secara berangsur-angsur
ke dalam diri manusia (peserta didik) tentang keberadaan segala sesuatu sehingga dapat
membimbingnya ke arah pengenalan dan pengakuan adanya Tuhan.

Marimba, seorang pakar filsafat pendidikan, merumuskan bahwa pendidikan adalah bimbingan
atau tuntunan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik
menuju terbentuknya kepribadian utama. Dalam definisi ini tergambar bahwa Marimba
membatasi pendidikan pada apa yang dilakukan pendidik. Akibatnya, hal-hal yang diperoleh
peserta didik dari pengalamannya sendiri atau diperolehnya dari interaksinya dengan alam
lingkungan tidak dapat dikategorikan ke dalam lingkup pendidikan. Begitu pula dengan usaha
yang dilakukannya sendiri untuk mengembangkan potensi dirinya. Jadi dengan kata lain,
pendidikan menjadi amat terbatas pada sesuatu yang formal. Berkaitan dengan itu seorang pakar
pendidikan barat, Rupert C. Lodge mengemukakan bahwa pendidikan dapat dilihat dari
pengertian luas dan pengertian sempit. Dalam arti yang luas, ia mengatakan bahwa pendidikan itu
menyangkut seluruh pengalaman peserta didik, baik pengalamannya dengan pendidik, orang tua,
teman sepermainan maupun yang diperolehnya dari alam lingkungan selain manusia, seperti
hewan (dalam arti sempit, pendidikan hanya sekadar pengajaran di sekolah). Pendapat ini ada
benarnya karena pendidikan itu tidak hanya diterima oleh seseorang dari pendidik yang
melakukannya secara sadar, tetapi dapat pula diperoleh dari pengalamannya sendiri, baik yang
disadari maupun tidak. Sebuah pepatah kuno menyatakan bahwa pengalaman itu merupakan guru
yang paling baik. Jadi, dalam pengertian luas, pendidikan ialah pengembangan pribadi seseorang
dalam semua aspeknya, yaitu jasmani, akal, dan hati, baik oleh orang lain, lingkungan, maupun
diri sendiri."

Definisi lain diberikan oleh Park, yaitu the art of imparting or acquiring knowledge and habit
through instructional as study. Dan definisi ihi terlihat bahwa Park menyamakan pendidikan
dengan pengajaran.

Pengertian yang hampir sama dengan itu diberikan pula oleh Alfred Nort Whitehead dengan
mengatakan bahwa pendidikan merupakan pembinaan keterampilan dengan menggunakan
pengetahuan.

Dari beberapa definisi yang dikemukakan para ahli di atas jelaslah pengertian pendidikan itu dapat
dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu pendidikan dalam arti luas dan pendidikan dalam arti
sempit.

Terlepas dari pengertian sempit dan luas, yang jelas pendidikan merupakan suatu proses interaksi
yang terjadi antara seseorang dengan lingkungan sekitamya. Dalam proses pendidikan itu ada
beberapa masalah pokok atau unsur utama yang mesti ada, yaitu anak didik, pendidik, tujuan
pendidikan, materi pendidikan, dan cara atau metode pendidikan.

Di samping adanya unsur pokok pendidikan, para ahli juga membahas tentang kerangka dasar
pendidikan, seperti prinsip tauhid, prinsip belajar sepanjang hayat dan efektivitas pendidikan.
Selain itu, mereka juga membicarakan ruang lingkup pendidikan, seperti aspek pendidikan akidah
(pendidikan tauhid), pendidikan akal, pendidikan akhiak, dan pendidikan jasmani.

Ketiga prinsip tersebut ditemukan di dalam Surat Al-'Alaq sebagaimana akan diuraikan berikut
ini.

2. Prinsip-Prinsip Pendidikan di dalam Surat Al-'Alaq

a. Kerangka Dasar Pendidikan


Ada tiga kerangka dasar pendidikan yang tergambar di dalam Surat Al-'Alaq, baik secara eksplisit
maupun implisit.

1) lkhlas

Prinsip ikhlas dapat terlihat dengan jelas dalam Surat Al-'Alaq ayat 1. Tuhan memerintahkan
membaca atas nama Allah. Begitu juga pada ayat ke-19, Allah menyuruh manusia hanya patuh
dan sujud kepada-Nya tidak kepada yang lain-Nya.

2) Pendidikan Seumur Hidup

Pendidikan seumur hidup tergambar secara implisit dalam Surat Al-'Alaq, yaitu tidak adanya
batasan yang konkret tentang kapan seorang harus mulai belajar dan sampai kapan. Tuhan hanya
menjelaskan bahwa manusia harus membaca dan belajar. Dengan demikian, manusia perlu belajar
sejak dilahirkan sampai ajalnya tiba.

3) Efektivitas Pendidikan

Di dalam Surat Al-'Alaq, Tuhan menginformasikan asal kejadian manusia dari 'alaq (ayat 2) dan
setelah diajari, mereka memperoleh ilmu pengetahuan. llmu pengetahuan membuat mereka
merasa cukup sehingga menimbulkan sikap angkuh dan sombong (ayat 6-7). Di sini terlihat
bahwa keberhasilan seseorang, termasuk dalam bidang pendidikan, dapat membuatnya bertindak
sewenang-wenang dan angkuh karena merasa dirinya cukup dan tidak membutuhkan pertolongan
orang lain. Walaupun Tuhan telah mendidik manusia, tidak semuanya berhasil menjadi manusia
yang baik karena hal itu tergantung pada beberapa faktor, seperti lingkungan dan kemauan untuk
menjadi baik.
b. Unsur Pokok Pendidikan

1) Pendidik

Pada ayat 4 dan 5 dijelaskan bahwa pendidik pertama adalah Allah SWT. Allah mengajar manusia
menulis dengan menggunakan pena. Dia memberikan pengetahuan kepada manusia tentang segala
sesuatu yang belum diketahuinya.

2) Peserta Didik

Peserta didik adalah manusia tanpa menyebutkan batas dan ketentuan lain. Dengan kata lain,
semua manusia merupakan peserta didik tanpa batas waktu dan tempat. Ini dapat dilihat pada ayat
ke-5.

3) Tujuan

Tujuan pendidikan di sini ialah agar manusia mempunyai pengetahuan sehingga dapat beribadah
dan bersujud serta mendekatkan diri kepada-Nya. Itu berarti bahwa tujuan pendidikan adalah
untuk mendapatkan rida-Nya. Masalah ini terlihat dengan jelas dalam ayat 1, 5, dan 19.

4) Materi

Secara eksplisit materi pendidikan tergambar dalam Surat Al-'Alaq ayat I dan 3 (membaca), ayat 4
(menulis), dan ayat 2 (mengenal diri melalui proses penciptaan secara biologis).

Di samping itu, secara implisit Surat Al-'Alaq menyatakan bahwa materi pendidikan dalam Islam
itu terpadu, tidak terbagi antara ilmu agama dan ilmu umum. Dengan kata lain, tidak ada dikotomi
ilmu pengetahuan yang akan diajarkan karena pada hakikatnya ilmu itu hanya satu, yaitu
bersumber dari Allah SWT sebagai pendidik utama. Hal ini dapat disimpulkan dari ayat 1 dan 3.
Ayat tersebut menyatakan bahwa Tuhan memerintahkan membaca tanpa menyebutkan objek yang
harus dibaca. Jadi, apa saja boleh dibaca untuk mendapatkan informasi.

Ilmu pengetahuan tidak terbatas pada teks yang tertulis, tetapi juga yang tidak tertulis, seperti
alam semesta. Jadi, objek bacaan tidak penting, selama dilakukan atas nama Tuhan, insya Allah
akan memperoleh hasil yang baik dan bermanfaat.

5) Metode

Secara eksplisit metode pendidikan yang tergambar di dalam Surat Al-'Alaq adalah sebagai
berikut:

(a) pembiasaan dan pengamalan,

(b) mail' izah (ayat 19),

(c) targib wa tarhib (ayat 8, 15-18), dan

(d) hiwar khitabi ta'ridi (ayat 9-10).

6) Alat

Pena merupakan sarana untuk memperoleh dan mewariskan ilmu pengetahuan. Dengan pena, ilmu
pengetahuan akan ditulis lalu dibaca oleh generasi sekarang dan yang akan datang sehingga
informasi tersebut menjadi berkembang dan dapat dikembangkan oleh generasi selanjutnya (ayat
4).

c. Ruang Lingkup Pendidikan

Di dalam Surat Al-'Alaq memang tidak dijelaskan secara eksplisit tentang ruang lingkup
pendidikan seperti yang telah dikemukakan di atas, tetapi secara implisit dapat dipahami petunjuk-
petunjuknya tentang hal ini.

1) Pendidikan Tauhid atau Akidah

Pendidikan tauhid atau pendidikan akidah dapat terlihat dengan jelas di dalam ayat 1, 2, dan 19.

2) Pendidikan Akhlak

Pendidikan akhlak dapat dipahami dari isyarat Allah tentang perilaku Abu Jahal yang tidak
bersahabat dengan Nabi Muhammad saw. dan adanya penjelasan Allah tentang tingkah lakunya
yang sombong sehingga pada ayat terakhir Tuhan melarang keras untuk patuh dan tunduk
kepadanya. Selain itu, Allah juga menggambarkan akhlak yang terpuji, seperti mengajak untuk
bertakwa. (ayat 6-13)

3) Pendidikan Akal

Dalam Surat Al-'Alaq, Allah mengisyaratkan tentang pendidikan akal. Pada ayat 1-2 Tuhan
merangsang manusia untuk berpikir dengan perintah membaca. Kemudian dilanjutkan dengan
informasi tentang penciptaan manusia yang berasal dari 'alaq. Bukankah pola susunan kalimat dan
muatan materi yang disampaikannya itu merangsang manusia untuk memikirkan secara rasional
yang objektif ? Berarti sejak wahyu pertama diturnnkan, pendidikan akal ini telah mulai
dicanangkan oleh Al-Qur'an.

4) Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani dapat kita lihat dari isyarat Allah pada ibadah salat. Di dalamnya diajarkan
sujud dan zikir. Meskipun gerak-gerak dalam ibadah tersebut bukan bertujuan untuk senam, jelas
hal itu tidak dapat dilepaskan dari pendidikan jasmani, yaitu menggerakkan tubuh untuk
menyegarkan jasmani agar dalam beribadah lebih khusu' dan konsentrasi. Oleh karena itu, ayat 10
dan 19 boleh disebut memberikan indikasi terhadap pendidikan jasmani.

(bersambung)

PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN ISLAM Fri Jun 3, 2005


(7) 12:17 pm

Oeh : Dra. Erwati Aziz, M.Ag Show Message


( Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Surakarta ) Info

2. Peserta Didik "Zulfikri"


<zulfikri@...>
Jika diamati dengan saksama, Surat Al-'Alaq amat mementingkan peserta didik. Hal ini dinyatakan
pakguruonline
secara eksplisit lafal di dalam ayat ke-5 Sebelum membahas jati diri peserta Offline
didik yang tercantum di dalam ayat itu, ada baiknya ditinjau sekilas tentang pemakaian kata Send Email

secara ekplisit di dalam ayat tersebut agar diperoleh gambaran bahwa Al-Qur'an sangat
hati-hati dan akurat dalam pemakaian dan penempatan suatu kata di dalam suatu ayat atau kalimat,
dan kata yang digunakan biasanya selalu membawa pesan tersendiri, berbeda dari yang lain.
Penyebutan lafal secara tegas berfungsi sebagai objek dari pendidikan memberikan
indikasi bahwa peserta didik harus jelas dan nyata. Dengan begitu, proses belajar-mengajar akan
dapat terlaksana dengan baik dan efisien, sebaliknya jika peserta didiknya tidak jelas, proses
belajar-mengajar akan terganggu dan sukar sekali mendapatkan hasil yang diharapkan. Agaknya
kondisi itulah yang menyebabkan Allah tidak menggunakan kata ganti orang ketiga

sebagai pengganti lafal di dalam ayat ke-5 itu, padahal jika hal itu dilakukan, pemahaman

ayat tersebut tetap dapat diserap dengan baik, misalnya dikatakan: (Dia mengajarinya
(manusia) apa yang belum diketahuinya). Sebagai tambahan, jika dilihat dari sudut gramatika,

susunan itu tidak salah karena sebelumnya telah disebut lafal secara eksplisit sehingga
pengulangan kata itu secara eksplisit untuk kali kedua tidak terlalu dibutuhkan, apalagi

pemahamannya tidak akan keliru sedikitpun. Jadi, jelas sekali bahwa pengulangan kata
secara eksplisit memberikan indikasi bahwa hal itu membawa pesan yang jauh lebih penting dan
menyangkut hajat orang banyak sebagaimana telah dijelaskan di atas. Sebagian" orientalis yang
tidak senang terhadap Islam, Dozy (w. 1883 M) dengan nada sinis menyatakan, “... dalam Al-
Qur'an banyak didapati kalimat-kalimat panjang yang berulang-ulang, tanpa arti, dan sangat
menjemukan”

Pemakaian lafal di dalam ayat itu menunjuk kepada term peserta didik terasa sangat tepat
dan akurat. Ketepatan dan keakuratan tersebut tidak hanya dari sudut pemilihan kata dan
penempatannya di dalam ayat, tetapi dari cakupan makna yang terkandung di dalamnya.

Dari sudut pemilihan kata dan penempatannya, keakuratannya akan terasa jika dibandingkan

dengan ayat lain yang memakai kata berkonotasi sama dengan misalnya kata yang
terulang sebanyak 26 kali di dalam Al-Qur'an, antara lain di dalam Surat Ali Imran ayat 47 yang
berbunyi sebagai berikut.

Artinya:
... Maryam berkata, Oh Tuhanku bagaimana mungkin saya akan punya anak, sedangkan saya
belum pernah disentuh oleh seorang lelakipun .... (QS Ali Imran: 47)

Artinya:
Katakanlah (ya Muhammad) bahwa saya adalah manusia sama dengan kamu, saya diberi wahyu
bahwa Tuhan kalian hanya satu .... (QS Al-Kahfi: 110)

Artinya:
... orang ini tiada lain dari manusia sama dengan kalian, dia memakan makanan apa yang kalian
makan dan meminum apa yang kalian minum. (QS Al-Mu'minun: 33)

Meskipun masih banyak ayat yang memakai kata tiga ayat di atas cukup memberikan
gambaran kepada kita bahwa kata tersebut lebih mengacu kepada pengertian fisik biologis
daripada pengertian mental spritual sebagaimana diakui oleh al-Asfihani, berbeda halnya dengan

kata Kata yang terulang sebanyak 65 kali di dalam Al-Qur'an ini lebih banyak berkonotasi
kepada potensi spiritual manusia daripada potensi biologisnya.72 Jadi, antara keduanya terdapat
perbedaan yang jauh sekali. Perhatikan ayat-ayat berikut ini.

Artinya:
... manusia itu selalu ingin segera .... ( QS Al-Isra': 11).

Artinya:
... sesungguhnya manusia itu sangat ingkar .... (QS Al-Hajj: 66).

Artinya:
... maka hendaklah manusia merenungkan dari apa dia diciptakan .... (QS. At-Tariq: 5)

Setelah memperhatikan pemakaian kedua kata tersebut, tampak jelas bahwa tiap-tiap kata
mempunyai maksud spesifik. Oleh karena itu, tidak mungkin dipertukarkan letaknya. Kata

yang ditempatkan di dalam untaian Surat Al-'Alaq tidak dapat diganti dengan kata
meskipun secara umum kata ini masih menunjuk kepada makhluk yang disebut manusia. Hal itu

dikarenakan kata dalam untaian Surat Al-'Alaq diungkapkan Allah dalam konteks
pendidikan manusia, yakni Allah mengajari mereka apa-apa yang belum mereka ketahui melalui
pena. Dengan demikian, sangat logis jika yang dipilih untuk menunjuk peserta didik di dalam ayat

itu lafal bukan Berdasarkan kenyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa


pemakaian kata di dalam Al-Qur'an bukan kebetulan, tetapi sengaja dibuat demikian untuk
menyampaikan pesan-pesan ilahi demi membimbing umat manusia ke jalan yang benar di dalam
berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk pendidikan.

Kata yang berperan sebagai peserta didik di dalam ayat itu mencakup makna yang amat
luas. Artinya, peserta didik yang ingin diajar atau dididik oleh Al-Qur'an tidak tertuju pada suatu
kelompok tertentu, tetapi umum, kepada siapa saja yang berpredikat manusia, tidak peduli kaum
konglomerat atau melarat, pejabat tinggi atau pegawai rendah, dan para ningrat atau orang biasa.
Tidak ada pula perbedaan dari segi urnur, tua, muda, dan sebagainya. Al-Qur'an tidak
membedakan peserta didik dari sudut ras, keturunan, kekayaan, atau umur.

Pengertian umum di atas dapat dipahami dari kata itu sendiri. Allah memakainya dalam

bentuk isim jama (kata benda jamak) disertai (alif lam). Kata tersebut mengandung makna
istigraq (mencakup semua aspeknya) sebagaimana diakui oleh para ahli bahasa Arab.

Jika demikian, mengapa hanya manusia yang dijadikan oleh Allah sebagai peserta didik, mengapa
tidak makhluk lain, seperti jin dan malaikat.

Sebagai manusia yang mempunyai berbagai keterbatasan dan kelemahan, tentu kita tidak dapat
menjawab pertanyaan tersebut secara pasti, tetapi paling tidak kita telah berusaha untuk
mencarikan solusinya. Untuk mendapatkan jawaban bagi pertanyaan itu, cara yang terbaik ialah
menelusuri ayat-ayat Al-Qur'an yang berbicara tentang manusia dalam kaitannya dengan
pendidikan. Dalam konteks ini ada sejumlah ayat yang perlu diperhatikan sebagai berikut.

Artinya:
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun,
dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur. (QS An-Nahl: 78)

Artinya:
Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan memhuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dan memuji Engkau?" Tuhan berfirman:
" Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS Al-Baqarah: 30)

Artinya:
... Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu
mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya .... (QS. Hud: 60)

Artinya:
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan (menawarkan) amanat kepada langit, bumi dan
gunung-gunung, sernuanya enggan memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak sanggup
mengembannya, dan manusia (mau) memikulnya. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan
hodoh sekali. (QS Al-Ahzab: 72)

(bersambung)