Anda di halaman 1dari 3

KOMPAS.com http://www1.kompas.com/printnews/xml/2010/05/2...

Print Send Close

Cinta di Balik Sehelai Batik


MINGGU, 23 MEI 2010 | 09:15 WIB
Myrna Ratna/Retno Bintarti

KOMPAS.com - Persinggungan yang intens dengan kain


batik membuahkan kecintaan yang mendalam. Terlebih
ketika melihat kain-kain langka Indonesia ”terbang” ke
tangan kolektor asing.

Bagi Hartono Sumarsono (57), perkenalannya dengan


batik sudah dimulai sejak dia masih duduk di bangku
SMA. Kala itu, ia ikut pamannya berdagang batik di Pasar
Tanah Abang, Jakarta, sekitar awal 1970-an. Selepas
surya/sugiharto SMA, Hartono sudah berjualan batik sendiri, juga di Pasar
Hj Putu Sulistiani Prabowo menunjukkan batik motif Tanah Abang.
ujung galuh, semangggi, dan ayam bekisar di rumahnya
yang berada di kawasan Jemursari Utara, Surabaya,
Selasa (6/1). Warna batik karya Hj Putu Sulistiani ”Saya ikut Paman tiga tahun. Pagi kerja di pasar, siang
Prabowo ini merupakan ciri khas Kota Surabaya sesuai sekolah. Setelah tiga tahun, saya sudah tahu seluk-beluk
dengan kepribadian warga cenderung spontan dan
ceria. berjualan batik. Lulus sekolah, saya ’kuliah’-nya di pasar
saja,” kata Hartono yang pagi itu berada di kediamannya
yang luas di kawasan Palmerah, yang penuh dengan
barang antik.

Hartono kemudian mulai suka berjalan-jalan ke kios-kios barang antik di Jalan Surabaya, Jakarta. Pengetahuannya
tentang batik mengantarnya pada ”komunitas” kolektor ataupun broker batik antik. ”Dari mereka, saya mendengar
dan melihat bagaimana batik-batik kuno kita yang langka dibawa ke luar Indonesia oleh kolektor-kolektor asing. Dari
situ muncul perasaan prihatin. Sayang betul kalau warisan budaya kita habis. Masa untuk melihat batik Indonesia
nanti kita mesti ke Belanda atau Inggris?” katanya.

Hartono kemudian berkenalan dengan sejumlah ahli batik maupun penjual batik. Setelah tiga puluh tahun, ia kini
memiliki ratusan batik kuno yang langka. Sebut saja batik dengan ragam hias Von Franquemont, batik dongeng dari
Metzelaar (yang terkenal dengan motif Roodkapje, Si Topi Merah dan Serigala), Van Zuylen, Padmo Soediro
(bangsawan Jawa yang menjadi kepala urusan rumah tangga Lies van Zuylen), dan lainnya.

”Dari koleksi saya yang ratusan itu, sekitar 300 yang saya anggap benar-benar bagus dan langka. Sisanya,
sebanyak 600-an, adalah batik kuno yang kategorinya sedang-sedang saja. Nah, yang enam ratus itu sudah saya
jual,” katanya.

Bagus dan langka

Seperti apa batik kuno yang menurut dia ”sangat bagus dan langka” itu? Hartono kemudian membeberkan sehelai
kain batik selebar bedcover Bang Biru Lasem. Batik yang usianya sekitar 120 tahun itu penuh dihiasi motif binatang

1 of 3 05/23/2010 03:10 PM
KOMPAS.com http://www1.kompas.com/printnews/xml/2010/05/2...

dengan guratan primitif.

Di situ ada binatang legenda, kilin (singa) yang menurut mitos orang China adalah lambang kemunculan tokoh
penting, ada burung hong yang melambangkan wanita utama, ikan makara yang melambangkan ketahanan dan
perjuangan, dan lainnya. Di tengah ragam hias ini terdapat segi delapan.

”Ini batik yang sangat langka. Saya duga, yang memilikinya dulu pangkatnya cukup tinggi. Dari batik ini, saya
belajar banyak hal tentang filosofi hidup,” kata Hartono.

Koleksi lainnya adalah beberapa lembar batik Hokokai (era pendudukan Jepang) yang kualitasnya sangat indah. ”Di
antara koleksi batik Hokokai yang ada, saya kira ini yang terbaik. Silakan dilihat goresannya yang sangat halus, juga
warnanya yang mencuat keluar,” kata Hartono sambil menunjuk motif bunga krisan yang berwarna kuning itu.

Hartono beserta istrinya, Herawati (57), berencana ingin membuat semacam ruang pamer sehingga koleksinya juga
bisa dinikmati orang banyak. ”Saya ingin berbagi juga rasa bahagia menikmati sehelai batik. Hanya, yang saya
pikirkan, bagaimana menjaganya karena saya pernah kaget waktu di sebuah pameran koleksi batik saya
diremas-remas pengunjung,” katanya.

Yang pasti, dia tidak akan melepas koleksi batiknya untuk dijual. ”Wong kami membeli batik kuno tujuannya agar
batik itu tidak sampai dijual ke luar Indonesia. Untuk yang mau beli batik saya, silakan beli yang di toko saja,” kata
pengusaha batik yang tinggal di Jakarta ini sambil tertawa.

Tidak sengaja

Berbeda dengan Hartono, menjadi kolektor dan penjual kain batik dimulai Fawarti Gendra Nata Utami (34) tanpa
sengaja. Saat masih kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI), Surakarta, tahun 1997, Fafa sering berkain batik dan
mengenakan blus-blus batik yang dia jahit sendiri. Teman-temannya mulai tertarik dan memintanya membuatkan
untuk mereka. Dari situ, Fafa mulai mengumpulkan bermacam kain batik. Dia banyak keluar masuk pasar untuk
mencari kain, sampai kemudian pada tahun 1999 dia membuat merek untuk produk-produknya dengan nama
Seratan.

Bersamaan dengan usaha membuat pakaian, Fafa menemukan banyak batik yang dia sendiri merasa tak tega untuk
menjahitnya. Batik kuno atau lawasan dia simpan. ”Saya mulai menyimpan dan mengoleksi kain-kain batik untuk diri
sendiri. Tak tahu mau diapakan, pokoknya senang,” kata lulusan ISI Jurusan Tari ini.

Jika menemukan kain antik yang tidak diketahui nama motifnya, Fafa mengaku penasaran. Dia segera mencari tahu
dari buku-buku referensi batik, sampai dia bisa menemukan jawabannya. Pencarian itu bisa memakan waktu
berhari-hari.

Pasar loak

Rasa senang dan rasa cinta terhadap kain batik kian hari kian dalam. Setiap kali ada waktu luang, Fafa pergi
memburu kain ke pasar-pasar, termasuk pasar loak. Untuk membiayai kesenangannya, dia menjual juga kain-kain
lawas kepada para kolektor, di antaranya kolektor asing. ”Apa boleh buat karena saya toh tak mungkin menyimpan
semua. Setiap melepas kepada orang asing, ada rasa kecewa luar biasa,” ujar pengajar di ISI ini.

Oleh karena itu, ada sekitar 800 helai kain yang benar-benar dia pertahankan dan tidak akan dia lepas meski dengan
harga berapa pun. Sebuah kain motif ”kapal kandas cirebon”, misalnya, adalah salah satu yang tak bakal dia lepas.

2 of 3 05/23/2010 03:10 PM
KOMPAS.com http://www1.kompas.com/printnews/xml/2010/05/2...

Sampai ada kolektor yang bilang, ”Sudah, Fafa mau berapa, bilang saja.”

Umumnya, batik lawas dijual Fafa dengan harga Rp 2,5 juta-Rp 12 juta. Nilai batik lawas tergantung dari motif,
kondisi, pembuat, juga kualitas pembatikan. Makin langka motif, nilai semakin tinggi. Kondisi kain yang masih baik
tentu saja lebih mahal dibandingkan dengan yang sudah rusak.

Saat ini, dia mempunyai sekitar 2.000 kain, di luar 800 kain koleksi pribadinya. Salah satunya batik tahun 1830
karya Oei Soe Tjoen. Deretan nama pembatik ternama, seperti Van Zuylen, Go Tik Swan, H Bilal, Ray Praptini,
Partoningrat, Jawa Hokokai (atau lebih sering disebut Pagi Sore), sampai batik Belanda dan China adalah sebagian
koleksinya yang tak akan dilepas kepada kolektor lain.

Tiap kali ada peminat mau membeli kain, Fafa dengan senang hati menggelar kain-kain miliknya. Kendati kadang
ada yang hanya lihat-lihat, dia mengaku tetap senang melayaninya. ”Karena setiap kali melihat kain-kain itu, rasanya
senang sekali. Bahkan, kadang seharian saya tak ke mana-mana dan menikmati keindahan batik-batik di rumah.
Saya menghargai kain-kain tersebut sebagai karya seni sambil membayangkan tangan-tangan pembuatnya yang
begitu telaten mengerjakan selembar kain dengan seluruh hatinya.”

Dapatkan artikel ini di URL:


http://www.kompas.com/read/xml/2010/05/23/09154319/Cinta.di.Balik.Sehelai.Batik-8

3 of 3 05/23/2010 03:10 PM