Anda di halaman 1dari 13

Jakarta (ANTARA News) – Hizbut Tahir Indonesia (HTI) menilai telah berhasil

memperkenalkan konsep khilafah melalui Konferensi Khilafah Internasional yang


berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (12/8) dan dihadiri
oleh sekitar 100.000 peserta. “Umat menjadi tahu istilah khilafah, istilah yang untuk
sebagian orang terasa asing,” kata juru bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto, saat
diskusi mengenai khilafah di Jakarta, Senin malam.
Diskusi yang dibuka oleh Menneg Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault tersebut juga
menghadirkan pembicara dari Hizbut Tahir Sudan Utsman Ibrahim Abu Khalil, Guru
Besar Sekolah Teologi Universitas Doshisha Jepang Prof Dr Hassan Ko Nakata dan dari
Hizbut Tahir Inggris Mehmed Salim, serta dihadiri sekitar 50 organisasi kepemudaan dan
kemahasiswaan. Nakata mengatakan, salah satu konsep khilafah Hizbut Tahir yaitu
pemerintahan berdasarkan pada hukum syariah Islam dan dijalankan melalui
kepemimpinan yang dipilih seluruh umat Islam.
Nakata juga mengatakan, khilafah adalah sistem pemerintahan keduniaan membumi yang
menjamin perlindungan seluruh masyarakat berdasar hukum publik Islam dan
memberikan kebebasan kepada komunitas berbasis agama di bidang keagamaan. Ismail
mengatakan, lewat konferensi tersebut banyak orang tahu istilah khilafah termasuk polisi-
polisi yang menjaga acara tersebut. Ia mengatakan, pemahaman terhadap arti khilafah
tersebut penting untuk mengembangkan gagasan tersebut.
“Ini sebuah kemajuan karena banyak umat Islam tidak tahu,” katanya. Ia mengatakan
konferensi tersebut juga diliput oleh banyak media di Indonesia. Langkah selanjutnya
yang dilakukan HTI adalah melakukan pembinaan sehingga ada kesadaran politik Islam
yakni segala sesuatu tidak boleh tidak diatur oleh syariat Islam. Sementara itu Adhyaksa
dalam sambutannya mengatakan, yang perlu diambil pelajaran dari khilafah adalah upaya
mewujudkan persatuan umat Islam dan ukhuwah Islamiyah.
Adhyaksa juga mengatakan semangat persatuan umat Islam itu dilakukan tanpa
mengambil atau mengganggu hak agama lain. “Sehingga tidak perlu dikuatirkan,”
katanya. Sebelumnya Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyerukan
agar umat Islam mengambil esensi dari konsep kekhilafan yaitu persatuan dan
kebersamaan serta menerapkannya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ia mengatakan, khilafah adalah ajaran Islam yang jelas tercantum dalam Al Quran tetapi
terdapat berbagai perbedaan pendapat antar ulama mengenai bagaimana cara terbaik
untuk mengimplementasikannya.(*) Sumber : http://www.antara.co.id
Comments (0)
Umum, SHARING, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT, inspirasi
8:44 am

Israel Miliki 150 Senjata Nuklir

Carter menyebut perlakuan Israel terhadap bangsa Palestina sebagai kejahatan


kemanusiaan terbesar di dunia

Mantan Presiden Amerika, Jimmy Carter, mengatakan Israel memiliki paling tidak 150
bom atom.
Israel tidak pernah membenarkan bahwa negara itu memiliki senjata nuklir, namun
negara itu diyakini memilikinya, sejak salah seorang ilmuwan membocorkan rincian di
tahun 1980-an.

Carter mengeluarkan pernyataan mengenai senjata Israel ini di sebuah jumpa pers dalam
festival sastra di Wales, Inggris, Hay Festival.

Dia juga menyebut perlakuan Israel terhadap bangsa Palestina sebagai “salah satu
kejahatan terhadap hak asasi manusia terbesar di bumi.”

Carter menyebut perkiraan jumlah senjata nuklir yang dimiliki Israel itu ketika menjawab
pertanyaan mengenai kebijakan Amerika terhadap Iran yang kemungkinan memiliki
senjata nuklir.

“Amerika memiliki lebih dari 12.000 senjata nuklir, Uni Soviet memiliki jumlah yang
kira-kira sama, Inggris dan Perancis memiliki ratusan, dan Israel memiliki 150 atau
lebih,” berikut kutipan pernyataan Carter dari penyelenggara festival itu.

“Kami memiliki koleksi persenjataan yang besar… bukan hanya besar, namun kami juga
memiliki roket-roket untuk membawa rudal-rudal itu ke sasaran dengan akurat.”

Sebagian besar ahli memperkirakan Israel memiliki antara 100-200 hulu ledak nuklir.

Perkiraan ini berdasarkan informasi yang dibocorkan kepada surat kabar Inggris the
Sunday Times di tahun 1980-an oleh Mordechai Vanunu, seorang bekas pegawai reaktor
nuklir Dimona di Israel.

‘Dipenjara’

Dalam jumpa pers itu, Carper menyatakan dukungannya kepada Israel sebagai sebuah
negara, namun mengecam kebijakan dalam dan luar negeri negara itu.

“Salah satu kejahatan kemanusiaan terbesar di dunia adalah memblokir makanan dan
memenjarakan 1,6 juta warga Palestina,” katanya.

Mantan presiden Amerika itu menyebut angka statistik yang menunjukkan konsumsi gizi
anak-anak Palestina berada di bawah anak-anak di Afrika Sub Sahara.

Carter, yang mendapat Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2002, menjadi penengah
kesepakatan Mesir-Israel tahun 1979, kesepakatan damai pertama antara Israel dan
sebuah negara Arab.

Bulan April lalu dia secara kontroversial mengadakan pembicaraan di ibukota Suriah,
Damaskus, dengan Khaled Meshaal, pemimpin gerakan militan Palestina Hamas. (BBC ;
26 mei 2008)
Sumber: http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/05/27/israel-miliki-150-senjata-nuklir/

Comments (1)
Umum, SHARING, REFLEKSI, ISLAM, WACANA, inspirasi 8:42 am

Kerusuhan Pangan: Kegagalan Ekonomi Kapitalis dan Institusi Global

Krisis kelangkaan pangan yang mengakibatkan gejolak kerusuhan di berbagai negara


berkembang beberapa bulan terakhir ini adalah bukti rentannya globalisasi. Lebih jauh
lagi, Bank Dunia dan IMF beserta agenda liberal pasar bebasnya pantas dituding sebagai
sumber kekacauan. Beberapa faktor yang memicu melambungnya harga pangan adalah
tingginya kebutuhan pangan di negeri industrialis baru seperti Cina dan India, kekeringan
di Australia dan Eropa Tengah dan juga mungkin adanya permainan spekulasi di tingkat
pedagang besar yang mulai beralih dari sektor keuangan (yang mengalami kerugian
akibat masalah kredit macet di Barat) ke sektor komoditas pangan. Konversi lahan
produksi pangan menjadi lahan pemasok bensin hayati (biofuel), sebagai sumber energi
bagi mobil-mobil di Barat yang ramah lingkungan, juga berkontribusi terhadap
kurangnya stok pangan. Pejabat Bank Dunia dan IMF cepat sekali menyalahkan faktor di
atas sebagai penyebab utama adanya krisis pangan. Kenaikan harga dua kali lipat
mengakibatkan miliaran penduduk di dunia berkembang yang hidup dibawah garis
kemiskinan kehilangan haknya untuk mendapatkan akses makanan pokok. Lebih jauh
lagi, miliaran penduduk lainnya semakin tenggelam di bawah garis kemiskinan, yaitu
kurang dari 1 dolar sehari, sebagaimana didefinisikan oleh pakar ekonomi internasional.
Dominique Strauss-Kahn, direktur manajemen IMF dan Robert Zoellick, Presdir World
Bank, secara enteng tidak mau bertanggungjawab atas kebijakan yang gagal dan praktek
korup yang dilakukan oleh institusi mereka masing-masing. Padahal dua institusi inilah
yang mengawasi agenda pembangunan di negara berkembang se lama puluhan tahun,
dimana tingkat kemiskinan justru semakin memburuk. Ini juga terbukti dari naiknya
angka kemiskinan di Afrika, Asia Selatan, Timur Tengah dan Amerika Latin
sebagaimana dicatat dari publikasi World Development Report (Laporan Pembangunan
Dunia), tahun 2008. Dengan adanya krisis pangan, maka tidak heran apabila laporan
tersebut menjadikan bidang pertanian sebagai fokus pengembangan ekonomi. Akan
tetapi, laporan tersebut menyanyikan lagu lama yang sudah terdengar selama puluhan
tahun dengan merekomendasikan sebagai berikut: Ekonomi negeri miskin harus
mengurangi tariff bea cukai dari produk pertanian ekspor dan impor, dan meliberalisasi
pasar domestik. Bank Dunia dan IMF tidak ambil pusing walaupun rekomendasi seperti
itu sebenarnya toh sudah dijalankan berpuluh tahun oleh negara-negara berkembang. Dua
institusi ini juga tidak begitu peduli bahwa krisis yang terjadi sebelumnya di negara
berkembang sebenarnya terjadi karena imbas dari jatuhnya harga pasar komoditas dunia.
Bahkan kebijakan negeri kaya dari benua Amerika Utara dan Eropa Barat yang
menerapkan proteksi terhadap produk pertanian mereka sendiri, tidak dianggap
bermasalah. Malahan subsidi pemerintahan Amerika dan juga Eropa (Common
Agricultural Policy )dengan terhadap para petani mereka sendiri justru meningkat. Lebih
jauh lagi, tidaklah penting bagi dua lembaga keuangan dunia tersebut, bahwa pihak yang
paling diuntungkan dari program liberalisasi ekonomi, adalah produser gabah di Amerika
(yang menguasai sekitar 30% dari nilai ekspor gabah dunia) dan juga perusahaan
agrokimia multinasional seperti Monsanto dan Dupont.Mesir dimana rakyatnya telah
terbunuh dalam beberapa peristiwa kekacuaan telah mengikuti secara detil rekomendasi
dari Bank Dunia dan IMF, dan menggantungkan dirinya pada impor gandum sebesar
44% dari konsumsi total (di tahun 1960an) dan sebesar 50% atau lebih, menurut prediksi
terakhir. Ketahanan pangan sering diejek karena tidak lagi menjadi tren, meskipun
sebenarnya Mesir menghabiskan tingkat konsumsi per kapitanya sekitar 70-80% dari
pendapatannya untuk membeli makanan. Ekonom mesir, yang mematuhi aturan diet dari
IMF dan Bank Dunia, berdalih bahwa swasembada pangan tidak lah penting karena
selalu bisa mengakses pangan impor. Namun akses saja tidak berarti banyak apabila
harga pangan impor pun tidak bisa dijangkau rakyat biasa. Alangkah
bertanggungjawabnya suatu negara yang mengalihkan usaha memberikan pangan kepada
rakyat kepada usaha produksi bensin hayati, pemberian pakan ternak, atau kepada
spekulan perdagangan yang menarik keuntungan dari membumbung tingginya harga
komoditi pangan. Padahal, komoditas bahan pangan sangatlah penting untuk
kelangsungan hidup, sebab kelangkaan komoditas seperti barang elektronik, perekam
video, maupun mobil tidak akan dituding sebagai sebab darurat nasional.Akar dari
kelangkaan pangan adalah gagalnya kebijakan dari Bank Dunia dan IMF. Padahal
kebijakan yang dibuat di Washington dan London, tidak diterapkan di Amerika maupun
Eropa sendiri, dan keduanya justru ingin berswasembada pangan dan menjual produksi
pertaniannya ke luarnegeri dengan cara paksa (dengan dalih liberalisasi). Kebijakan jahat
semacam ini hanya menghasilkan penderitaan di negeri-negeri yang lain. Namun,
tanggungjawab terbesar jatuh di pundak para penguasa pengkhianat di dunia muslim,
seperti Mubarak, yang menerapkan kebijakan jahat tersebut secara mentah-mentah dan
tidak memperdulikan efek kesengsaraan yang menimpa kalangan masyarakat terlemah,
yang justru seharusnya lebih diperhatikan oleh negara. Para penguasa tersebut adalah
kaki tangan pemerintahan Barat untuk memastikan kelanggengan pengaruh mereka
dengan meliberalisasi pasar dan meredam keinginan sebagian rakyatnya yang
menghendaki berakhirnya dominasi Barat dan menginginkan kembalinya penerapan
Islam. Gambaran bagaimana Sistem Ekonomi Islam yang diterapkan oleh Khalifah dalam
menangani krisis seperti sekarang, dengan mengambil Mesir sebagai wilayah yang
potensial, akan terlihat dengan penerapan beberapa instrumen Syariah sebagai berikut.
Reformasi pengaturan penggunaan tanah akan dilakukan dengan mendistribusikan ulang
tanah yang menganggur untuk menciptakan kompetisi di sektor pertanian yang didukung
oleh dana investasi dari negara dalam pengembangan infrastruktur pertanian seperti
penelitian dan perbaikan mutu benih-benih unggulan. Hal ini penting dilakukan karena
konsumsi gandum di Mesir membutuhkan produksi dua kali lipat. Menarik untuk diingat
bahwa di tahun 1950an, Korea dan Taiwan, sebagai macan ekonomi Asia, membangun
roda perekonomiannya dengan diawali reformasi pengaturan penggunaan tanah dan
investasi pertanian sehingga mampu memperbaiki tingkat pendapatan dari pertumbuhan
sektor pertanian.
Sumber:http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/04/18/kerusuhan-pangan-kegagalan-
ekonomi-kapitalis-dan-institusi-global/

Comments (0)
UmumMay 12, 2008 9:35 am

Mengenang Bahasa Cintamu, Ibu

Kemarin sore, tak sengaja terlintas di mataku sebuah kalimat „Alles Liebe zum Muttertag
„ dalam sebuah jurnal iklan sebuah swalayan di Berlin. Ternyata kulihat tanggalan di
kalender tanggal 11 Mei ditulis sebagai Muttertag. Banyak sekali bentuk hadiah yang
terpampang dalam iklan tersebut yang ditujukan untuk merayakan hari tersebut.

Hmm…tiba-tiba saja pikiranku melayang pada sosok perempuan yang tegar namun
lembut dan penuh kasih. Perempuan yang mengiringi nafas hidupku sejak kanak-kanak
hingga dewasa. Perempuan anggun yang hingga detik ini kusebut ibu.

Sebuah penggalan dialog yang sampai kini masih kuingat dan seperti masih terngiang-
ngiang dengan jelas di telingaku adalah ketika kami kehilangan cinta ayah untuk
selamanya. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas 3 SD. Begitu tenang beliau
menyampaikan rasa duka itu pada kami.
„Anakku, kemari sayang, ibu mau ngasih tahu sesuatu…“sambil meraihku ke dalam
pelukannya.

„Apa yang kamu inginkan dari ayah?“ tiba-tiba beliau bertanya.


Spontan kujawab, „aku ingin ayah bahagia“…
“Kamu tahu rahasianya agar ayahmu bahagia?“ beliau kembali bertanya.
Aku menggelengkan kepala…“apa rahasianya Bu?“...
„Ayahmu pasti akan bahagia sekali jika kamu dan saudara-saudaramu selalu berdoa saat
ayahmu menjumpai Allah“. Ibu berhenti dan sejenak menunggu reaksiku…

Kenapa ayah menjumpai Allah?“tanyaku.


„Bukan hanya ayah yang akan menjumpai Allah, kita semua pasti akan menjumpainya.
Tetapi, waktunya tidak bersamaan.. Pagi ini saatnya giliran ayah berangkat ke tempat
Allah. Nah, agar ayah selamat sampai di tempat Allah, ayah memerlukan doa kalian“…
urai ibu panjang lebar.
Indah sekali tutur kata ibu mengungkapkan duka lara ditinggal belahan jiwa tanpa
membuat kami merasa berat melepas ayah.

Sejak itu, aku selalu melihat ibu rajin sekali shalat, di samping shalat wajib beliau pun
selalu memunaikan shalat-shalat sunah. Sering aku terbangun setiap jam 3 malam karena
gemericik air saat beliau mengambil wudhu. Suatu waktu kutanyakan pada beliau tentang
kebiasaannya itu, lalu dengan tenang beliau menjelaskan padaku bahwa semua yang ibu
lakukan itu agar kami dikasihi Allah termasuk ayah. Sejak itu aku pun membiasakan diri
bangun dan mengikuti apa yang ibu kerjakan.
Di saat aku menginjak usia baligh dan kebingungan dengan apa yang terjadi padaku saat
itu, ibu malah dengan sumringah mengucapkan selamat bahwa aku telah menjadi remaja
putri. Seminggu kemudian Ibu memberiku hadiah al-qur’an dan sebuah mukena hasil
karya tangannya sendiri, di ujung mukena tersebut tersulam namaku. Aku terharu apalagi
saat beliau memberiku wejangan tentang kewajiban shalat dan menjaga ahlak. Syukurku
tak terkira menerima bahasa cintamu, ibu.

Tidak hanya kami yang merasakan hangatnya cinta ibu, tetangga dan masyarakat umum
pun merasakannya. Sejak ayah tiada, seluruh hasil kebun warisan ayah yang ditanami
berbagai pohon buah-buahan seperti kedondong, mangga, jeruk, nanas, alpuket dan lain-
lain, ibu bagi-bagikan pada tetangga. Padahal kalau ibu mau, bisa saja dijual untuk
membantu mencukupi kebutuhan hidup kami. Tetapi ternyata ibu lebih senang
membagikannya, aku dan saudara-saudaraku sering mendapat tugas mengantarkan hasil
kebun itu hingga tetangga yang rumahnya paling jauh dari rumah kami pun dapat
merasakannya.

Pernah suatu hari saat berlibur ke rumah ibu di Garut, ibu meminta maaf padaku karena
uang yang kuberikan pada beliau sebulan sebelumnya tidak dibelikan seperti harapanku.
Ya, sejak mulai belajar mengenyam dunia kerja aku punya kebiasaan baru
mengumpulkan sebagian honor gajiku yang tidak seberapa untuk kubelikan sesuatu untuk
ponakan-ponakanku juga tentunya buat ibu, sekalipun beliau tak pernah meminta bahkan
sering menolak tapi aku selalu memaksa. Hingga waktu itu aku memberi ibu sejumlah
uang dengan harapan ibu membeli sesuatu untuk keperluan pribadi ibu.

Tapi ternyata sungguh aku terkejut sekaligus terharu karena uang tersebut ibu gunakan
untuk membuat trotoar agar anak-anak yang sekolah di SMA dekat rumah maupun orang-
orang yang sering berlalu lalang di depan rumah kami bisa nyaman berjalan, demikian
alasan ibu. Subhanallah, begitu mulia hatimu, ibu. Hidupmu tetap dalam kesahajaan
namun jiwamu sangat kaya.

Kebiasaan lain yang hingga kini ibu geluti sejak ayah tiada adalah aktif dalam kegiatan
menolong kaum duafa. Ibu bekerja tanpa pamrih mendata masyarakat miskin, tiap malam
mengevaluasi data yang diperoleh kemudian pada hari-hari tertentu mengunjunginya
hingga ke pelosok-pelosok desa dengan berjalan kaki. Pernah suatu hari aku mengikuti
kegiatan ibu, dan berikutnya aku tak pernah mau ikut lagi karena kelelahan. Segala
aktivitas sukarelanya membuahkan penghargaan. Ibu diundang ke Bogor untuk
menghadiri acara penyematan lambang penghormatan atas usaha beliau tersebut. Aku
tahu ibu tak menginginkan semua itu, karena pernah ibu menjelaskan padaku saat aku
protes atas sedikitnya waktu ibu untuk kami, bahwa semua yang ibu lakukan adalah
untuk memenuhi wasiat ayah yang meminta ibu mengabdikan diri pada masyarakat tanpa
pamrih.

Saat itu ayah menyitir sebuah hadist rasul tentang sebaik-baik orang adalah yang paling
memberikan manfaat untuk sekitarnya. Ibu berjanji memenuhi permintaan ayah tersebut
karena ibu ingin mendapat ridha Allah menjadi isteri yang shalihah. Lagi-lagi aku dibuat
kagum sekaligus malu pada dirisendiri yang belum bisa berbuat banyak untuk umat.
Kembali terlintas kenangan saat aku baru saja melahirkan anak pertama sementara suami
sedang di negeri orang. Entah kenapa saat itu aku ingin mendapat perhatian lebih dari
ibu, namun ternyata ibu lebih mendahulukan seorang janda sangat miskin di kampungku
yang sedang hamil 9 bulan dan saat itu memerlukan pertolongan karena terjatuh. Ibu
segera menolong melarikan janda tersebut ke rumah sakit dan mengurus seluruh
keperluannya sekalipun akhirnya bayi janda tersebut tak bisa di selamatkan. Aku yang
saat itu sempat kecewa menjadi malu dan menyesal atas kelakukanku setelah mendengar
penjelasan ibu mengapa beliau mendahulukan janda tersebut.

Oh ibu…bahasa cintamu tak kan pernah sanggup kubalas. Teringat pada sebuah kisah
saat Rasulullah SAW lagi thawaf dan bertemu dengan seorang anak muda yang
pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak
muda itu, "Kenapa pundakmu itu?" Jawab anak muda itu, "Ya Rasulullah, saya dari
Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan
saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat,
ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya."

Lalu anak muda itu bertanya, " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk ke dalam
orang yang sudah berbakti kepada orang tua?" Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu
dan mengatakan, "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang
berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu."

Sumber: http://www.eramuslim.com/atk/oim/8511094258-mengenang-bahasa-cintamu-
ibu.htm

Comments (0)
Umum, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, inspirasi 9:30 am

Menangkal Film "Fitna", Muslim Belanda Sebarkan 50 Ribu Buku Ahmad Deedat Gratis

Sehari setelah politisi ekstrim Belanda Geert Wilders, mempublikasikan film “Fitna”
yang melecehkan Islam, di Amsterdam, dimulailah aksi Muslim Belanda bekerjasama
dengan Saudi Arabia untuk menghadapi kedustaan yang dilakukan oleh film "Fitna."

Para pelaku aksi ini memilih buku-buku da’i terkenal dari Selatan Afrika yakni Syaikh
Ahmad Deedat. Tokoh yang kini sudah wafat itu memiliki buku-buku yang terkenal kuat
argumentasinya menghadapi tuduhan dan fitnah yang dilancarkan musuh-musuh Islam
terhadap Al-Quranul Karim.

Seorang tokoh perbandingan agama asal Saudi, Asham Ahmad yang juga menggagas aksi
ini mengatakan, “Target kampanye yang kami lakukan terfokus pada bentuk reaksi besar
terhadap serangan terhadap Al-Quranul Karim. Karena itu, kami melakukan aksi ‘tenang’
ini, untuk memfungsikan semua programnya secara damai, guna memperbaiki pengertian
publik terhadap risalah Islam.”
Ia menambahkan bahwa agenda aksinya juga ditujukan untuk menutup kesempatan bagi
para musuh Islam untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan, yakni menekan
minoritas Muslim dengan aksi-aksi teror dan kekerasan.

“Mereka ingin menjadikan film itu sebagai sarana untuk lebih menekan umat Islam,
mempersempit ruang kaum muslimin sebagaimana yang telah terjadi atas minoritas
Muslim di Eropa, ” ujar Ahmad.

Geert Wilders telah mengabaikan berbagai pendapat dan permintaan agar ia membatalkan
penyiaran film "Fitna" yang diprediksi akan memunculkan reaksi besar umat Islam. Dan
sebagai jawabannya, umat Islam akan memanfaatkan momentum ini untuk lebih
memperluas penjelasan dan dakwah Islam yang sesungguhnya ke masyarakat Belanda.

Program aksi ini dilakukan dengan membagikan lebih dari 50 ribu eksemplar buku gratis
milik Ahmad Deedat yang berjudul, “Al-Masih dalam Islam dan Al-Quran”. Buku itu
kini sudah diterjemahkan dalam bahasa Belanda dan siap dibagikan secara luas di
masyarakat Belanda melalui berbagai tempat, seperti masjid, perkantoran, dan berbagai
organisasi masyarakat Belanda.

Dengan dukungan walikota Amsterdam yang juga mendukung kegiatan ini, kaum
minoritas Muslim Belanda akan semakin terdorong untuk menyebarkan misi Islam yang
memang damai dan bisa berdampingan hidup dengan berbagai agama di Belanda.

Pilihan buku Ahmad Deedat untuk melawan kejahatan atas Islam dalam film "Fitna",
adalah karena Ahmad Deedat merupakan tokoh terkenal dan mempunyai pengalaman
panjang dalam membela dakwah Islam sekaligus mampu menawarkan argumentasi yang
mematikan di hadapan orang-orang yang memusuhi Islam.

“Dia juga memiliki kumpulan karya yang sangat berharga dari tulisannya yang sudah
terbukti manfaatnya bagi dunia Islam. Buku-buku Ahmad Deedat telah juga membuka
pintu bagi ribuan orang yang telah masuk Islam setelah membaca buku-bukunya, ” ujar
Ahmad.

Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/int/8329103252-menangkal-film-
quotfitnaquot-muslim-belanda-sebarkan-50-ribu-buku-ahmad-deedat-gratis.htm

Comments (0)
Umum, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT, inspirasiMay 3, 2008 8:26 am

Fatwa MUI dan “Diktator” Minoritas

oleh: Hidayatullah Muttaqin *


Siapa pun pasti tidak mau dirinya dizalimi oleh orang lain dan ingin hidup merdeka bebas
dari ketertindasan. Sikap tersebut manusiawi dan senantiasa muncul dari manusia mana
pun sebagai konsekwensi adanya naluri mempertahankan diri pada dirinya. Hatta, Islam.
Sebab diantara ajaran utama Islam adalah melarang berlaku dzalim. Termasuk sikap umat
Islam yang menolak keberadaan Ahmadiyah sebagai bagian dari Islam adalah sikap yang
benar untuk menjaga keutuhan dan kemurnian akidah Islam.

Keluarnya fatwa MUI No. 11/MUNAS VII/15/2005 yang menyatakan Ahmadiyah bukan
bagian dari Islam, sesat dan menyesatkan, merupakan fatwa yang bertujuan melindungi
akidah umat dari fitnah dan “rongrongan” akidah Ahmadiyah. Fatwa ini sekaligus
menjadi edukasi bagi pengkuatan akidah umat. Fatwa hanya melindungi umat Islam dari
akidah yang benar. Namun tetap melarang mendzolimi secara pribadi penganutnya. Dua
hal ini, adalah beda sisi yang tak banyak dipahami orang.

Fatwa MUI: Monopoli Kebenaran?


Seiring dikeluarkannya rekomendasi Bakorpakem (16 April 2008) berbagai cacian dan
pemaksaan opini dilontarkan oleh banyak pihak khususnya terhadap MUI. Salah satunya
adalah sebutan "memonopoli kebenaran" yang diberikan oleh Prof. Dr. Syafii Maarif
kepada MUI (www.okezone.com, 27/04/2008).

Menurut Prof. Dr. Syafii Maarif keberadaan Ahmadiyah di Indonesia dilindungi oleh
undang-undang yang menjamin kebebasan beragama. Bahkan menurut sang profesor,
atheis pun diperbolehkan hidup di Indonesia selama tidak mengganggu kepercayaan
orang lain (ibid).

Sebaliknya, Prof. Dr. Syafii Maarif menganggap fatwa MUI bertentangan dengan
undang-undang, sehingga jika rekomendasi Bakorpakem ditindaklanjuti dalam bentuk
SKB, maka SKB tersebut dianggap profesor sebagai wujud "monopoli kebenaran" MUI.
Tak hanya MUI, para intelektual –bahkan tak memiliki otoritas hukum Islam pun—ikut
mengecam MUI. Termasuk Adnan Buyung Nasution.

Argumentasi yang dipaksakan oleh profesor lemah dan bertentangan dengan fakta.
Pertama, rekomendasi Bakorpakem lahir dari pengamatan rinci dan pemantauan selama
tiga bulan pada 55 komunitas Ahmadiyah di 33 kabupaten. Menurut Kepala Litbang
Depag, Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) telah menyimpang dari ajaran pokok Islam
karena di seluruh cabang Ahmadiyah, Mirza Gulam Ahmad tetap diakui sebagai Nabi
dan Tadzkirah sebagai kitab suci mereka. Koordinator Bakorpakem juga menyatakan,
dengan jelasnya penyimpangan JAI maka tidak ada lagi evaluasi, negosiasi, dan diskusi
tentang akidah Ahmadiyah. Jadi rekomendasi Bakorpakem lahir bukan karena paksaan
dari MUI melainkan hasil pengamatan berdasarkan fakta.

Kedua, tuduhan terhadap MUI oleh profesor hanya berdasarkan "logika jungkir balik".
Maksudnya, dengan mengacu pada logika "kebebasan beragama" semua permasalahan
kehidupan beragama dinilai dengan menggunakan logika ini tetapi di sisi lain logika ini
justru menjungkirbalikkan pokok-pokok ajaran agama Islam.

Semua orang pasti mengetahui kitab suci umat Islam hanyalah Al-Quran dan tidak ada
nabi dan rasul setelah Muhammad SAW. Sedangkan Ahmadiyah mengaku dirinya Islam
tetapi kitab sucinya adalah Tadzkirah dan Nabinya adalah Mirza Gulam Ahmad, bahkan
Ahmadiyah mengkafirkan Islam selain Islam versi Ahmadiyah. Fakta ini menunjukkan
Ahmadiyah bukan hanya mengganggu keyakinan beragama umat, tetapi melakukan
penistaan dan penghancuran akidah Islam. Penghancuran bangunan akidah Islam oleh
Ahmadiyah merupakan fitnah yang lebih jahat dari tindakan kriminal terhadap manusia.

Jika saja ada seseorang yang tidak dikenal dan bukan darah daging profesor tiba-tiba
datang mengaku sebagai anak kandung beliau dan menuduh anak kandung profesor
sebagai orang lain, apakah profesor dapat menerimanya? Apalagi tujuan orang tersebut
mengaku anak kandung hanya untuk merampok harta warisan profesor. Secara naluri dan
perasaan mungkin saja profesor menolak kedatangan orang yang tak dikenal tersebut dan
marah bila ia tetap bersikeras mengaku sebagai anak. Jika profesor konsisten dengan
"logika jungkir balik" kebebasan beragama, maka profesor harus menerima orang
tersebut sebagai anak kandungnya. Bila sikap ini yang diambil profesor, maka profesor
mengakomodir kebohongan orang yang tak dikenal tersebut yang akan merusak keutuhan
kehidupan keluarga.

Inilah fakta, siapa pun tidak dapat mengelak dari kebenaran bila kebenaran tersebut
berpijak pada fakta yang benar, di luar itu adalah "kebohongan" belaka. Dan ini pula
yang menjadi pijakan fatwa MUI bahwa Ahmadiyah sesat dan menyesatkan ditinjau dari
akidah Islam. Sehingga fatwa MUI tersebut bukanlah "memonopoli kebenaran"
melainkan "mengungkap kebenaran".

Munculnya “Diktator” Intelektual

Berlindungan dibalik jargon "Kebebasan Beragama", kalangan Non Muslim termasuk


Pendeta juga melakukan demo anti Fatwa MUI, Kok bisa?? Baca »
Sikap menuduh penolakan umat terhadap Ahmadiyah yang diwakili oleh MUI melalui
fatwanya sebagai "memonopoli kebenaran", tidak menghargai kebebasan beragama, dan
melanggar HAM, merupakan sikap arogan dan zalim. Memaksakan pemikiran "logika
jungkir balik" kebebasan beragama meski umat telah menolaknya merupakan suatu
bentuk "arogansi pemikiran". Memberikan "cap negatif" sebagai punishment terhadap
penolakan pemikiran yang dipaksakan adalah "kezaliman pemikiran".

Bagaimanapun, MUI adalah representadi umat Islam seluruh Indonesia. Sebagai


representasi umat, MUI punya hak melindungi dan menjaga kemurnian aqidah umatnya
melalui Fatwa. Itu adalah hak dan kewajibannya. Justru akan lain, jika fatwa itu datang
dari kaum minoritas yang dipaksakan untuk mayoritas. Jika yang terjadi seperti yang
terakhir, maka, itu adalah kediktatoran.

Arogansi dan zalim merupakan sifat yang melekat pada seorang diktator. Karena arogansi
dan kezaliman ini berada dalam ranah pemikiran, maka orang-orang dan kaum intelektual
yang mengusung pemikiran dengan cara seperti ini lebih tepat disebut "diktator
intelektual".

Seperti halnya yang disampaikan Prof. Dr. Syafii Maarif, Dr. Hamim Ilyas yang bekerja
sebagai dosen pada UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengungkapkan fatwa MUI
bertentangan dengan konstitusi dan HAM yang menjamin kebebasan beragama. Ia juga
mengatakan karena fatwa sesatnya, MUI harus disadarkan (Okezone.com 24/04/2008).
Dari pernyataan tersebut, seolah-olah Dr. Hamim Ilyas mengatakan yang sesat adalah
MUI bukan Ahmadiyah, sehingga yang harus diluruskan adalah MUI. Sebagai bagian
umat Islam, "cap sesat" terhadap MUI bagi penulis sangat zalim dan menyakitkan, karena
cap tersebut semata-mata fitnah belaka.

Dr. Hamim Ilyas juga menyatakan MUI perlu didemo karena menolak pluralisme agama.
Apalagi MUI menggunakan dana APBN/APBD, yang salah satunya berasal dari pajak
warga Ahmadiyah. Katanya, "kalau mau menyesatkan jangan pakai APBN dan APBD
dong". Hamim menambahkan, berdasarkan hasil penelitian UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, fatwa-fatwa MUI menyebabkan deintelektualitas kaum Muslim (ibid).

Benar-benar "logika ngawur" apa yang disampaikan dan dituduhkan Dr. Hamim Ilyas
tersebut. Ia dengan yakinnya menjadikan pluralisme agama sebagai "kebenaran mutlak",
yang berbeda menurut pemikirannya ini salah dan harus didemo.

Sebagai institusi ulama, maka wajar bagi MUI untuk memberikan edukasi akidah dan
edukasi syariah Islam kepada umatnya salah satunya dalam fatwa. Karenanya kesimpulan
penelitian UIN Sunan Kalijaga seperti yang disampaikan Dr. Hamim Ilyas patut
dipertanyakan khususnya menyangkut metodologi, independensi, dan sponsorshipnya.

Sebaliknya langkah-langkah Dr. Hamim Ilyas dan orang-orang yang katanya mengusung
"kebebasan berpikir" hanya akan memalingkan umat dari akidah dan syariah agamanya.
Sifat-sifat "diktator pemikiran" yang suka memfitnah inilah yang justru menyebabkan
"deintelektualitas umat Islam".

Dari sisi tinjauan fakta, jika seseorang ingin menjadi Muslim ia harus memahami dan
mengadopsi akidah Islam sebagai fondasi agamanya, dan mengambil syariah Islam
sebagai tata perilaku dan perbuatan dalam kehidupannya. Begitu pula jika seseorang
ingin menjadi mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga, ia harus mengikuti prosedur
pendaftaran dan seleksi yang telah ditetapkan pihak rektorat. Dan ketika sudah diterima,
ia harus mematuhi tata tertib kampus dan aturan akademik.

Jika ada seorang pemuda ditangkap polisi karena melakukan tindakan kriminal dan
mengaku sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga padahal ia tidak pernah terdaftar
sebagai mahasiswa, maka "sangat logis" bila rektorat UIN Sunan Kalijaga menyatakan
pemuda tersebut bukan mahasiswanya. Jika logika berpikir Dr. Hamim Ilyas diterapkan
dalam kasus ini, maka rektorat harus mengakui pemuda tersebut adalah mahasiswanya.
Tentu pengakuan seperti ini merupakan kebohongan.

Penutup
Sikap penolakan terhadap klaim Ahmadiyah merupakan hak umat Islam. Sikap para
"diktator intelektual" yang menuduh MUI dan penolakan umat atas Ahmadiyah dengan
tuduhan keji seperti "memonopoli kebenaran" dan "cap sesat" merupakan "pemerkosaan"
atas hak umat untuk beragama sesuai agamanya.
Sebagai "diktator intelektual", kepentingan yang di bawa oleh pengusung "kebebasan
berpikir" bukanlah kepentingan umat melainkan kepentingan ashobiyah (golongan). Di
sini, bisa golongan nafsu dan golongan yang punya kepentingan lain. Karenanya, jika
umat dihadapkan pada dua pilihan, kepada MUI (lembaga agama yang memiliki otoritas
dalam hukum Islam) dan golongan nafsu (yang tidak merepresantasikan wakil umat,
apalagi bukan pakar hukum Islam), kira-kira pilihannya jatuh ke mana? Pertanyaan ini
sama dengan jika kita ditanya, “Kalau masalah penyakit, kira-kira kita akan bertanya
kepada dokter atau pada tukang las?” Dan insyaAllah, umat lebih tahu jawabanya. []

Penulis adalah dosen tetap Fakultas Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi
Pembangunan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan pengelola website
Jurnal Ekonomi Ideologis : jurnal-ekonomi.org

Sumber: http://www.swaramuslim.com/
Comments (0)
Umum, REFLEKSI, SELINGAN, PENDAPAT, inspirasi 8:23 am

Kaca: 'Chronicle of Jogja Corpsegrinder'

JOGJA Corpsegrinder. Dari namanya saja sudah ketahuan kalau itu berhubungan dengan
dunia bawah tanah atau lebih kerennya lagi, underground. Terus Jogja Corpsegrinder itu
apa? Weits, jangan berpikiran yang bukan-bukan. Jangan dikira itu itu semacam batalyon
pasukan inferinya Mr Voldemort untuk membunuh Mr Potter. Jangan dikira juga itu
semacam Inferi Fans Club. Trus apa dong? Jogja Corpsegrinder terdiri dari kata Jogja,
corpse, dan grinder. Jogja adalah tempat berdirinya komunitas ini. Sedangkan corpse,
yang berarti mayat, sebutan para sceneters (orang-orang underground) untuk diri mereka
sendiri. Sedangkan grinder berarti pelumat. "Jadi arti secara keseluruhan, para corpse
ingin meng-grind segala sesuatu yang dilewatinya," ujar Iwan dan Camel, dedengkot
underground di Yogya. Sayangnya komunitas ini hanya eksis sekitar 5 tahun. Walaupun
umurnya pendek komunitas ini merupakan cikal bakal event underground terbesar di
Yogya, Jogja Brebeg (JB) yang masih tetap hidup sampai sekarang. Komunitas anak-
anak underground ini berdiri tahun 1993-an. Berawal dari nongkrong bareng, semakin
banyak sceneters yang datang dari seluruh penjuru Yogya. Saat itu, belum terlintas untuk
mendirikan komunitas karena nongkrong bareng telah dianggap sebagai kebiasaan.
Selalu, saat band salah satu dari mereka naik panggung, mereka semua ramai-ramai men-
supportnya. Sering pula mereka men-support band sampai luar kota. Karena animo yang
semakin besar dan masih sangat sedikit (bahkan tak ada sama sekali) komunitas
underground di Yogya, maka dibentuklah Jogja Corpsegrinder oleh beberapa sceneters
senior. Anggota Jogja Corpsegrinder selalu nongkrong setiap Sabtu malam di depan
Hotel Inna Garuda. Tahun 1996 merupakan tahun paling bersejarah bagi dunia
underground Yogya. Karena pada tahun itulah JB pertama kali diadakan. Event ini
pertama kali diselenggarakan oleh seluruh sceneters Yogya dengan biaya patungan.
Namun tahun-tahun berikutnya (sampai JB 14) Jogja Brebeg diadakan dengan biaya
pribadi dari seorang sceneters senior yang juga merupakan penggagas Jogja
Corpsegrinder sedangkan JB 15-19 telah menggunakan sponsor. Jogja Corpsegrinder
hanya berlangsung sampai tahun 1998an karena kesibukan masing-masing dan
pergantian muka lama dengan muka baru. Kini, para sceneters di Yogya memiliki
kelompok sendiri-sendiri yang lebih kecil daripada Jogja Corpsegrinder. Biasanya
kelompok ini bersifat kedaerahan. Maksudnya, anggotanya sceneters yang tinggal di
sekitar wilayah itu. Jadi, saat ini yang dimaksud komunitas underground di Yogya bukan
suatu membership community, namun keseluruhan sceneters di Yogya yang (bisa
disebut) selalu ber-reuni ria setahun sekali pada saat JB.

Sumber: http://www.kr.co.id/

Comments (0)
Umum, keseharian, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT, inspirasi 8:22 am

Dalam Sepekan, Israel Lakukan 40 Kali Infiltrasi dan Agresi Militer

Nablus – Infopalestina: Pasukan penjajah Zionis Israel terus melanjutkan operasi militer
di kota-kota, desa-desa dan kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat di tengah-tengah aksi
penembakan dan terror terhadap warga sipil Palestina. Dalam sepekan Israel melakukan
40 kali operasi militer, sebanyak 37 warga Palestina diculik di antaranya dua orang
bocah.

Dalam penelusuran lapangan yang dilakukan Pusat HAM Palestina atau PCHR (The
Palestinian Centre for Human Rights) tercatat bahwa penjajah Israel melakukan 36
operasi militer di sebagian besar kota-kota dan kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat.
Selama itu pula pasukan penjajah Israel menyerbu bangunan-bangunan dan rumah-rumah
warga, melakukan penembakan beberapa kali secara sporadis dan sengaja kea rah warga
dan rumah-rumah mereka.

Jumlah warga Palestina yang menjadi korban penculikan Israel hingga akhir April
mencapai 1051 warga. Belum lagi mereka yang ditangkap di perlintasan-perlintasan
militer, gerbang-gerbang perbatasan, saat melakukan aksi protes damai menentang terus
berlanjutnya aktifitas pembangunan tembok pemisah rasial di Tepi Barat, dan
penentangan terhadap kebijakan sanksi massal yang dilakukan Israel dengan mendirikan
perlintasan-perlintasan militer dan penutupan jalan-jalan.

Sementara itu di Jalur Gaza, dalam rentang waktu yang sama penjajah Israel melakukan 4
kali operasi militer. Dua di antaranya di Beit Hanun, wilayah utara Jalur Gaza. Sekali di
Abasan, timur kota Khan Yunis dan sekali di kota Deor Balah, tengah Jalur Gaza. (seto)

file:///C:/Documents%20and%20Settings/Alfath%202/My
%20Documents/Downloads/Kumpulan%20Artikel%20%20%20May
%20%20%202008.htm