Anda di halaman 1dari 16

Sistem Moneter Internasional

Ba
b
1
TIU :  Materi Bahasan :
 Mahasiswa mampu memahami dan • Pengertian Kurs Valuta Asing
mengerti Sistim Moneter yang berlaku di • Macam-macam Kurs Valuta Asing
duni Internasional • Sejarah Perkembangan Sistem Monter
Internasional
TIK : • Sistem Moneter Eropa
 Dapat menjelaskan sejarah moneter
internasional
 Dapat menjelaskan sistem kurs yang
berlaku dibeberapa negara
 Dapat menjelaskan kekuatan dan
kelemahan masing-masing sistem kurs.

Pendahuluan
Interdependensi perekonomian dunia membuat setiap perubahan kurs riil suatu
negara mempengaruhi perubahan yang sebaliknya pada kurs riil negara lain. Hal ini
menyulitkan pembuat kebijakan untuk mencapai stabilitas harga dan tingkat
kesempatan kerja penuh (full employment). Interdependensi itu sendiri ternyata
ditentukan oleh pengaturan moneter dan kurs yang dipakai oleh banyak negara, yang
sering disebut Sistem Moneter Internasional.
Sistem Moneter Internasional dapat didefinisikan sebagai struktur, instrumen,
institusi, dan perjanjian yang menentukan kurs atau nilai berbagai mata uang di
dunia. Termasuk juga penyesuaian aliran modal dan perdagangan internasional, dan
neraca pembayaran (Eitmen et. Al., 1995, hal. 26).
Dalam bab ini akan dibahas tentang pengertian kurs valuta asing, macam-macam
alternatif sistem kurs mata uang, sejarah perkembangan Sistem Moneter
Internasional, Sistem Mmoneter Eropa, dan sekilas tentang Eurocurrencies.

Pengertian Kurs Valuta Asing


Kurs valuta asing adalah harga mata uang suatu negara dalam unit komoditas
(seperti emas dan perak) atau mata uang negara lain. Apabila pemerintah suatu
negara mengatur nilai tukar mata uangnya, maka diklasifikasikan sebagai sistem
kurs tetap (fixed exchange rate). Sedangkan jika besarnya nilai tukar diserahkan
kepada mekanisme pasar tanpa campur tangan pemerintah, diklasifikasikan sebagai
sistem kurs mengambang (floating exchange rate). Penjelasan tentang berbagai
klasifikasi sistem kurs yang dianut akan dibahas pada bagian selanjutnya dalam bab
ini.
Suatu mata uang dikatakan konvertibel (convertible currency) apabila mata uang
tersebut bisa dipertukarkan secara bebas dengan mata uang negara lain

Bab-1 Sistem Moneter Internasional 1


(Krugman dan Obstfeld, 1994, hal. 537). Tidak adanya mata uang yang
konvertibel akan menyulitkan perdagangan antar negara, karena masing-masing
tidak akan mau menerima mata uang mitra dagangnya. Dalam keadaan seperti ini
yang terjadi adalah perdagangan barter, yaitu menukar barang secara langsung.
Tetapi, jika mata uang semua negara konvertibel maka perdagangan multinasional
yang terjadi akan lebih efektif. Kerena itu, Dana Moneter Internasional (IMF)
meminta negara anggotanya untuk mengusahakan mata uangnya konvertibel selekas
mungkin.
Mata uang negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, Inggris, dan Jepang
sudah merupakan mata uang yang konvertibel, terlebih lagi dolar Amerika Serikat
sehingga setiap negara mau menerima US$ dalam perdagangan internasional yang
mereka lakukan. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena Amerika Serikat
merupakan negara maju yang perekonomiannya sangat mantap sejak pasca perang
Dunia II. Selain itu, dolar sangat atraktif bagi para eksportir dan importir karena
dapat dipergunakan untuk membeli produk-produk yang dihasilkan Amerika Serikat
yang pada saat itu sangat diperlukan oleh negara-negara yang mengalami kerusakan
akibat perang.
Dalam mempelajari sistem moneter internasional, khususnya tentang perubahan kurs
mata uang, ada beberapa istilah yang perlu diketahui, seperti devaluasi, depresiasi,
soft dan hard currency. Devaluasi secara semantik dan sempit dapat diartikan
sebagai turunnya nilai mata uang suatu negara yang menggunakan sistem kurs
tertambat (pegged) atau sistem kurs tetap terhadap nilai mata uang negara
lain. Kebalikan dari devaluasi adalah revaluasi.
Depresiasi mengacu pada turunnya nilai mata uang negara yang menggunakan
sistem kurs mengambang terhadap mata uang negara lain. Kebalikan depresiasi
adalah apresiasi. Suatu mata uang disebut soft currency apabila mata uang
tersebut diharapkan mengalami devaluasi atau depresiasi terhadap sebagian
mata uang di dunia sehingga tidak secara luas diterima negara-negara yang
melakukan perdagangan internasional. Hard Currency adalah mata uang yang
diharapkan mengalami ravaluasi atau apresiasi relatif terhadap sebagian besar mata
uang dunia. Mata uang jenis ini diterima secara luas sebagai bukti pembayaran
internasional.

Macam-macam Alternatif Sistem Kurs Mata Uang


Sistem kurs mata uang secara ekstrem dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sistem
kurs mengambang bebas (freely floating rate) dan sistem kurs tetap (fixed rate).
Diantara kedua sistem ekstrem ini terdapat beberapa sistem kurs lain yang
merupakan pengembangan dari kedua sistem tersebut, yaitu sistem kurs
mengambang terkendali (managed float), sistem kurs dengan peraturan zona target
(target-zone arrangement), sistem kurs tertambat (pegged), sistem kurs tertambat
merangkak (crawling pegged), dan sistem kurs tertambat pada sekeranjang mata
uang (pegged to a basket of currencies). Tabel 2.1 menyajikan sistem kurs yang
digunakan oleh negara-negara di dunia.

Sistem Kurs Mengambang Bebas

Bab-1 Sistem Moneter Internasional 2


Dalam sistem kurs mengambang bebas, tingkat kurs sepenuhnya ditentukan oleh
interaksi permintaan dan penawaran mata uang, tanpa adanya campur tangan
pemerintah. Fluktuasi volume permintaan dan penawaran mata uang dipengaruhi
oleh perubahan pada sejumlah parameter ekonomi, misalnya: perubahan tingkat
harga, perbedaan suku bunga, tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat pendapatan,
dan lain-lain. Adanya perubahan pada salah satu parameter ekonomi akan
menyebabkan perubahan kurs melalui penyesuaian pasar. Sistem ini sering pula
disebut sistem kurs mengambang bersih/murni (clear/pure floating rates).
Kelebihan dari sistem kurs mengambang bebas adalah mampu menyesuaikan nilai
tukar mata uang terhadap perubahan kondisi perekonomian dengan cepat sehingga
nilai tukar mencerminkan nilai yang wajar atau sesungguhnya. Misalkan laju inflasi
di negara asing tiba-tiba melonjak naik secara drastis sementara laju inflasi di dalam
negara relatif stabil. Akibatnya harga barang dari negara asing akan naik. Kondisi ini
akan menurunkan permintaan terhadap barang asing dan sebaliknya akan menaikkan
permintaan terhadap barang domestik. Akibatnya, nilai mata uang domestik akan
naik terhadap mata uang negara asing yang menyebabkan daya saing barang
domestik di pasar ekspor akan menurun karena di luar negeri harganya men- jadi
mahal. Keadaan ini akan mengurangi tekanan terhadap tingkat kesempatan kerja
dan laju inflasi di negara asing, karena konsumen di negara asing akan tetap bersedia
membeli barang lokal karena harga barang impor mengalami kenaikan . Sebaliknya,
konsumen dalam negeri tetap bersedia membeli barang dari negara asing karena
harga barang dari negara asing menjadi lebih murah. Mekanisme pasar ini akan
bekerja secara otomatis sampai terciptanya kondisi keseimbangan yang baru.
Kelemahan utama dari sistem ini justru terletak pada aspek yang membuat
mekanisme pasar dapat bekerja secara optimal. Karena kurs dapat berubah secara
bebas tanpa ada intervensi dari otoritas moneter, maka hal ini sering kali
menyulitkan pemerintah maupun pengusaha dalam membuat perencanaan atau
perhitungan bisnis. Sebagai contoh, seorang eksportir yang menunggu pencarian
letter of credit 90 hari yang akan datang tidak akan dapat menentukan secara tepat
berapa uang yang akan diperoleh, jika valuta asing yang diterima diubah menjadi
mata uang domestik. Penerapan sistem kurs mengambang bebas jelas akan
meningkatkan ketidakpastian. Dalam kondisi ini, instrumen-instrumen keuangan
untuk melakukan upaya-upaya pemagaran resiko mutlak perlu dikembangkan.

Sistem Kurs Tetap


Dalam sistem kurs tetap, seperti Bretton Wood, pemerintah menjaga nilai mata uang
pada tingkat yang telah ditetapkan dengan membeli atau menjual valuta asing dalam
jumlah yang tidak terbatas. Apabila nilai mata uang resmi yang telah ditetap- kan
tidak dapat dipertahankan lagi, maka pemerintah akan menetapkan nilai mata uang
baru dan mengumumkannya. Devaluasi dan revaluasi mata uang merupakan
alternatif terakhir yang akan diambil, yaitu saat transaksi berjalan mengalami defisit
atau surplus terus menerus.
Secara umum, ada empat alternatif kebijakan yang akan diambil pemerintah
sebelum melakukan devaluasi atau revaluasi, yakni membiayai defisit transaksi ber-
jalan melalui pinjaman luar negeri, pengetatan anggaran belanja negara, pengendali-
an harga dan upah, dan pengendalian kurs.
Pembiayaan dengan pinjaman luar negeri merupakan solusi yang sementara bagi
defisit transaksi berjalan yang berkepanjangan. Dana asing, apalagi yang ber- jangka

Bab-1 Sistem Moneter Internasional 3


pendek, sangat mudah masuk dan keluar dari suatu negara. Jadi, apabila suatu
negara dianggap tidak menarik lagi karena return yang diterima dari investasi di
negara tersebut kecil atau karena negara tersebut dianggap tidak akan mampu mem-
bayar angsuran pinjaman beserta bunganya, pemilik modal akan menarik modalnya
ke negara lain yang lebih menarik. Sebagai contoh, Meksiko membiayai defisit
besar pada transaksi berjalan dengan pinjaman luar negeri selama akhir 1970-an.
Namun, tahun 1982, investor mulai menarik dananya dari Meksiko karena
menganggap negara ini tidak mampu membayar kembali utang-utangnya. Akibatnya
peso mengalami penurunan tajam karena devaluasi yang besar.
Pengetatan angaran belanja negara dilakukan dengan kombinasi antara pengurangan
pengeluaran pemerintah dan peningkatan pajak. Jika pengetatan berjalan sesuai
dengan yang diharapkan, pendapatan nasional akan turun, dan bisa menurunkam
impor. Apabila ekspor diasumsikan tetap, maka defisit neraca perdagangan dapat
dikurangi.
Sistem Kurs tetap jika dapat dipertahankan akan sangat menarik, khususnya bagi
perusahaan yang melakukan bisnis internasional karena dapat mengurangi risiko
nilai tukar. Sebagai contoh, eksportir yang menerima usance letter of credit 90 hari
akan dapat menentukan dengan pasti berapa uang yang akan diterima jika valuta
asing ditukarkan dengan mata uang domestik.
Sistem kurs tetap mempunyai dua kelemahan utama. Pertama, nilai tukar sering kali
tidak mencerminkan nilai yang sesungguhnya dari suatu mata uang karena otoritas
moneter selalu menjaga stabilitas kurs pada tingkat yang diinginkan.Kondisi ini
akan menciptakan hubungan langsung antara laju inflasi dan kesempatan kerja di
antara negara yang melakukan perdagangan internasional. Seperti contoh di atas,
harga barang asing di luar negeri akan menjadi terlalu mahal, sementara harga
barang dalam negeri di luar negeri tidak mengalami perubahan. Akibatnya,
konsumen dalam negeri akan lebih suka membeli produk lokal dan konsumen luar
negeri akan lebih suka membeli barang impor. Akibatnya, tingkat pengangguran di
negara asing akan meningkat karena banyak perusahaan yang mengurangi volume
usaha. Sebaliknya, di dalam negeri akan terjadi penciptaan lapangan kerja baru
karena volume produksi perusahaan mengalami peningkatan.
Kedua, jika pelaku pasar (khususnya spekulan valuta asing) menilai nilai tukar suatu
mata uang terlalu tinggi atau terlalu rendah, maka mata uang tersebut akan mendapat
tekanan jual atau beli yang sangat besar. Apabila tekanan itu sangat besar,
pemerintah akan menemui kesulitan dalam mempertahankan nilai tukar mata uang.
Jika pemerintah tetap bersikeras hendak mempertahankan nilai tukar mata uangnya,
maka upaya ini akan dapat menguras cadangan devisa.

Sistem Kurs Mengambang Terkendali


Sistem kurs mengambang bebas menyebabkan ketidakpastian dan fluktuasi kurs
yang tinggi. Karena itu banyak negara khawatir sistem mengambang bebas akan
menyebabkan ketidakstabilan perekonomian dalam negeri. Mereka takut ekspor
akan menurun drastis jika mata uang mengalami apresiasi dan akan terjadi inflasi
yang tinggi jika terjadi depresiasi.
Untuk mengurangi fluktuasi kurs dan tidak stabilnya perekonomian, banyak negara
yang menganut sistem mengambang melakukan intervensi via bank sentral untuk
mengurangi fluktuasi kurs. Intervensi bank sentral dapat berupa mengurangi

Bab-1 Sistem Moneter Internasional 4


fluktuasi harian (smoothing out daily fluktuations), “cenderung melawan angin”
(learning againts the wind), dan terlambat tak resmi (unofficial pegging). Sistem
mengambang terkendali ini sering pula disebut dirty float.
Dalam kebijakan pengurangan fluktuasi harian, pemerintah mencoba mempersempit
fluktuasi kurs melalui pasar dengan menjual atau membeli mata uang domestik.
Apabila diperkirakan akan terjadi apresiasi, pemerintah akan menjual mata uang
domestik di pasar uang. Demikian pula jika diperkirakan akan terjadi depresiasi,
pemerintah akan membeli mata uang domestik.
“Learning againts the wind” digunakan pemerintah untuk mencegah fluktuasi besar
dalam jangka pendek dan jangka menengah agar tercipta kestabilan ekonomi bagi
para eksportir dan importir. Sedangkan unofficial pegging digunakan untuk
mengubah kurs tanpa melalui mekanisme pasar. Sebagai contoh, Jepang pernah
menghambat ravaluasi yen karena takut akan menurunkan ekspor, Kebijakan ini
tidak cocok untuk negara yang menganut sistem kurs tetap.
Pengaturan Zona Target
Banyak ahli ekonomi dan pembuat kebijakan berpendapat bahwa negara-negara
industri dapat meminimalkan perubahan kurs dan meningkatkan stabilitas ekonomi
jika Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang menggabungkan mata uang mereka ke
dalam sistem zona target. Negara-negara industri menyesuaikan kebijakan ekonomi
mereka untuk menentukan tingkat kurs dengan margin tertentu, di atas atau di
bawah nilai mata uang gabungan. Sistem seperti ini telah digunakan oleh negara-
negara eropa dalam sebuah wadah yang dinamakan Sistem Moneter Eropa (EMS).
Pengaturan zona target juga sering disebut joint float.

Sistem Kurs Tertambat


Apabila suatu negara menetapkan nilai mata uangnya berdasarkan nilai mata uang
satu atau sekelompok negara, maka negara tersebut menganut sistem kurs tertambat.
Besarnya nilai mata uang bergerak mengikuti perubahan nilai mata uang negara
yang ditambahnya.
Kurang lebih 50 negara yang menganut sistem kurs ini, sebagai contoh, menjadikan
US$ sebagai dasar bagi penentuan mata uang 24 negara, dari chintzy Angola sampai
rial yang digunakan oleh Republik Yaman. Franc Perancis dijadikan dasar
penentuan nilai mata uang oleh 14 negara Afrika berkas jajahan Perancis. Enam
negara baru yang memisahkan diri dari Uni Soviet menambatkan mata uang mereka
pada ruble Rusia. Dan enam negara lainnya menambatkan mata uang mereka pada
mitra dagang utama.

Sistem Kurs Tertambat Merangkak


Dalam sistem ini, suatu negara menetapkan nilai mata uang dikaitkan dengan nilai
mata uang negara lain. Tetapi dalam jangka waktu tertentu, nilai mata uang negara
tersebut berubah sedikit demi sedikit, mencapai tingkat tertentu.

Sistem Kurs Tertambat Pada sekeranjang Mata Uang


Sekitar 34 negara menambatkan mata uang mereka pada sekeranjang mata uang
yang berisi kumpulan mata uang negara mitra dagang utama. Nilai sekeranjang mata
uang lebih stabil dibandingkan nilai mata uang satu negara. Besarnya persentase
nilai mata uang yang dimasukkan dalam keranjang dihitung dari bobot relatif peran

Bab-1 Sistem Moneter Internasional 5


masing-masing negara terhadap negara bersangkutan. 29 negara dari 34 negara yang
menganut sistem ini menambatkan mata uang mereka pada sekeranjang mata uang
mitra dagang utama. Lima negara lainnya menambatkan pada Special Drawing
Rights (SDR).
Sejarah Perkembangan Sistem Moneter Internasional
Sistem moneter internasional dimulai dari tahun 1821, saat diberlakukannya standar
emas (gold standard). Namun, ada beberapa ahli ekonomi yang menganggap bahwa
sistem moneter internasional baru dimulai pada tahun 1876 (Eitman, 1995, hal. 28)
atau tahun 1880 (Dunn dan Ingram, 1996, hal. 432).
Sebenarnya, ketiga pendapat tersebut semuanya benar. Pada tahun 1821, saat
terjadinya perang Napoleon (Napoleon War), Inggris menerapkan standar emas.
Tahun 1876 standar emas diterima sebagai sistem moneter di Eropa Barat. Baru
kemudian pada tahun 1880 semua negara industri menerima sistem standar emas.
Jadi, kalau dilihat secara historis, sistem moneter internasional dimulai pada tahun
1821. Secara kronologis, perkembangan sistem moneter internasional dapat dilihat
pada gambar 2.1.

Standar Emas, 1821-1914


Kira-kira 3000 tahun sebelum masehi, emas telah digunakan sebagai alat pertukaran
dan penyimpan nilai. Bangsa Romawi dan Yunani menggunakan koin emas dan
meneruskan tradisi tersebut sampai pada zaman merkantilisme, abad ke-19.
Meningkatnya perdagangan antar negara selama periode perdagangan bebas pada
akhir abad ke-19, mendorong timbulnya kebutuhan akan sistem yang lebih formal
untuk menentukan neraca perdagangan internasional.

Standar Perang Perang Bretton


emas Dunia I Dunia I Wood

1821 1914 1918 1940 1945 1971


sekarang

sistem kurs
mengambang
periode antar perang dunia
1919-1925 periode kurs fluktuasi
1925-1931 standar kurs emas
1931-1940 nasionalisme moneter

Gambar 2.1 Sketsa Kronologis: Sistem Moneter Internasional, 1821 – sekarang.

Pada tahun 1821, bersamaan dengan perang Napoleon dan inflasi di eropa Barat,
Inggris kembali ke sistem standar emas. Dari tahun 1821 sampai 1880, banyak
negara kemudian menggunakan standar emas. Dan tahun 1880, sebagian besar
negara di dunia telah menggunakan sistem standar emas, termasuk Amerika Serikat.
Periode dari tahun 1880 sampai 1914 tercatat dalam sejarah dunia sebagai sistem

Bab-1 Sistem Moneter Internasional 6


standar emas klasik. Periode ini ditandai oleh meningkatnya perdagangan bebas
internasional, stabilitas kurs dan harga, perpindahan tenaga kerja dan modal yang
semakin besar antar negara, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan meningkatnya
perdamaian dunia.
Cara penentuan nilai suatu mata uang dengan standar emas relatif sederhana dan
jelas. Nilai mata uang suatu negara akan ditentukan oleh beberapa nilai uang dari
setiap satuan berat emas tertentu. Sebagai contoh, Amerika Serikat mengumumkan
bahwa 1 ons emas dapat dibeli dengan US$ 20.67. Sementara itu, Inggris mematok
pada tingkat 4.2474/ons. Dengan demikian, kurs dolar/pound adalah:

US420.67 / ons
£ 4.2474/ons = US$4.86656/£
Perkembangan selanjutnya dari era standar emas adalah disetujuinya nilai paritas
antar mata uang, yang bersifat tetap. Nilai paritas tersebut berlaku untuk pembelian
dan penjualan suatu mata uang. Cara ini ditempuh untuk menciptakan mekanisme
yang mampu mempertahankan nilai mata uang dalam satuan emas, dan karena itu
tingkat paritas antar negara dapat dipertahankan. Dalam sistem ini, suatu negara
harus memiliki cadangan emas yang cukup untuk menjamin nilai mata uangnya.
Sistem ini secara tidak langsung telah membatasi penambahan jumlah uang beredar
di masing-masing negara karena setiap penambahan jumlah uang beredar harus
disertai dengan penambahan cadangan emas.
Standar emas dapat berfungsi secara efektif sebelum pecahnya perang dunia I. Saat
perang dunia I terjadi, pergerakan emas antar negara dan perdagangan internasional
menjadi terhambat Hal ini mendorong negara-negara industri utama dunia untuk
mulai memikirkan sistem moneter lain di luar standar emas.

Periode Antar Perang Dunia, 1918-1940


Selama perang dunia I dan awal 1920-an, nilai mata uang disepakati dapat
berfluktuasi sampai batas yang wajar. Secara teoritis diharapkan permintaan dan
penawaran terhadap ekspor dan impor suatu negara akan memberikan perubahan
yang moderat terhadap nilai mata uangnya. Dalam kenyataannya, harapan yang ada
di benak pengambil keputusan ternyata tidak terwujud. Adanya ketidakstabilan
situasi politik dan ekonomi menimbulkan perubahan yang sangat besar pada nilai
mata uang suatu negara yang terkadang tidak sesuai dengan kondisi perekonomian
secara riil. Periode ini oleh Dunn dan Ingram (1996, hal 446) disebut sebagai
episode kurs yang berfluktuasi.
Karena alasan-alasan tersebut, beberapa usaha telah ditempuh untuk kembali ke
sistem standar emas. Amerika Serikat kembali ke standar emas pada 1919, Inggris
1925, dan Perancis 1928. Nilai poundsterling pada April 1925 kembali menjadi US$
4.86656/£ (paritas sebelum perang), sehingga menyebabkan meningkatnya
pengangguran dan stagnasi ekonomi di Inggris.
Masalah yang dihadapi negara-negara yang ingin kembali ke standar emas adalah
penentuan nilai paritas baru yang stabil untuk emas. Masalah ini belum sempat
dipecahkan secara tuntas, sampai bangkrutnya sistem perbankan Austria pada 1931,
yang menyebabkan sebagian besar negara yang melakukan perdagangan
internasional membatalkan niat mereka untuk kembali ke sistem standar emas.

Bab-1 Sistem Moneter Internasional 7


Amerika Serikat kembali ke standar emas yang dimodifikasi pada tahun 1934, ketika
diumumkan bahwa US$ didevaluasi menjadi US$ 35/ons emas, yang sebelumnya
US$ 20.67/ons emas. Meskipun Amerika Serikat kembali ke standar emas, emas
hanya diperdagangkan dengan bank sentral luar negeri. Dari 1934 sampai akhir
perang dunia II, nilai tukar mata uang secara teoritis ditentukan oleh nilai masing-
masing mata uang terhadap emas. Selama perang dunia II dan masa-masa
sesudahnya, banyak mata uang utama dunia yang diperdagangkan kehilangan
kemampuannya untuk diubah menjadi mata uang lain (less converbility). US$
merupakan satu-satunya mata uang utama yang masih tetap dapat dikonversikan.

Persetujuan Bretton Woods, 1945-1971


Negosiasi Bretton Woods berhasil melahirkan kesepakatan untuk menerapkan
standar tukar emas. Dalam persertujuan tersebut ditetapkan Sistem Moneter
Internasional, yang pada uintinya merupakan sistem berbasis dollar Amerika
Serikat. Selain itu juga disepakati pembentukan intitusi untuk membantu negara-
negara dalam hal manajemen neraca pembayaran internasional dan kebijakan
penentuan nilai tukar mata uang. Institusi tersebut dikenal dengan sebutan Dana
Moneter Internasional (International Monetary Fund). Selain IMF juga dibentuk
Bank Dunia (World Bank) yang berfungsi membantu pembangunan dan rekonstruksi
perekonomian secara umum.
Dalam persetujuan Bretton Woods disepakati bahwa semua negara harus
menetapkan nilai mata uangnya dalam emas, tetapi tidak diwajibkan
mempertukarkan mata uangnya dengan emas. Hanya US$ yang dapat dikonversikan
ke emas (US$ 35/ons emas). Oleh karena itu, semua negara akan menetapkan nilai
tukar mata uangnya terhadap US$, kemudian menghitung nilai paritas emas mata
uangnya untuk mendapatkan kurs terhadap US$ seperti yang dikehendaki. Telah
disepakati bahwa semua negara akan berusaha mempertahankan nilai mata uangnya,
kira-kira 1% dari nilai parnya. Caranya ialah dengan membeli atau menjual valuta
asing atau emas sebesar yang diperlukan. Devaluasi tidak boleh dipakai sebagai
kebijakan perdagangan untuk bersaing, tetapi apabila keadaan tidak memungkinkan,
misalnya terjadi defisit transaksi berjalan yang berkelanjutan, devaluasi 10% boleh
dilakukan tanpa persetujuan formal dari IMF. Semakin besar devaluasi, persetujuan
formal dari IMF semakin diperlukan.

Sistem Kurs Mengambang, 1971-sekarang


Perubahan sistem kurs tetap ke sistem kurs mengambang melalui suatu proses yang
panjang dan cukup rumit, mulai dari krisis Agustus 1971 sampai perundingan di
Jamaika. Sistem kurs mengambang ini dipergunakan oleh sebagian besar negara
yang melakukan perdagangan internasional. Berikut ini akan dijelaskan tentang
bagaimana sistem kurs mengambang diterapkan dan digunakan sampai sekarang ini.

- Krisis Agustus 1971

Kurangnya keyakinan terhadap sistem moneter international, khususnya US$,


mencapai puncaknya pada Agustus 1971, dimana defisit neraca pembayaran
Amerika Serikat mencapai US$ 29.6 trilyun. Tanggal 15 Agustus 1971,
Presisden Richard Nixon didesak untuk menghentikan pembelian dan penjualan
emas secara resmi oleh Bank Sentral Amerika Serikat, setelah kira-kira 1/3 dari

Bab-1 Sistem Moneter Internasional 8


cadangan emas resmi mengalir ke luar Amerika Serikat hanya dalam tempo
tujuh bulan.
Karena harga emas sebesar US$ 35/ons secara teoritis dibiarkan tetap, maka
jumlah cadangan moneter internasional tidak terpengaruh oleh sistuasi yang
terjadi. Namun demikian, Amerika Serikat tetap mengumumkan bahwa US$
tidak dapat lagi dipakai sebagai basis standar emas. Sejak itu nilai tukar dari
kebanyakan negara dagang terkemuka diperbolehkan berfluktuasi terhadap US$,
dan karena olehnya secara tidak langsung berfluktuasi terhadap emas.

- Perjanjian Smithsinian

Pertemuan multilateral antara negara-negara dagang utama dunia (disebut


kelompok 10) di Washington DC pada 17-18 Desember 1971, mencapai
beberapa kesepakatan. Amerika Serikat setuju untuk mendevaluasi US$ menjadi
US$ 38/ons (terdepresiasi sekitar 8,75%). Sebagai gantinya, anggota kelompok
10 yang lain setuju untuk mengapresiasikan mata uangnya terhadap US$.
Apresiasi mata uang berkisar antara 7,4% sampai 16,9%. Lebih jauh lagi, batas
fluktuasi nilai mata uang yang diperlebar dari 1% menjadi 2,25%. Kesepakatan
ini dikenal dengan Persetujuan Smithsonian.
Memasuki pertengahan kedua tahun 1972, penyesuaian nilai mata uang mulai
diberlakukan. US$ tetap lemah karena defisit neraca pembayarannya terus
berlanjut. Selain itu, mata uang US$ masih tidak konvertibel untuk
dikonversikan ke emas, dan kemungkinan untuk dapat dikonversikan kembali di
masa yang akan datang sangat kecil. Sementara itu, harga emas di pasar bebas
Lordon pada Agustus 1972 sebesar US$ 70/ons, yang sebelumnya US$ 38/ons.

- Keputusan untuk beralih ke kurs mengambang, Maret 1973

Sebelum persetujuan Smithsonian genap berumur satu tahun, telah timbul


tekanan pasar yang menyebabkan perubahan nilai mata uang. US$ didevaluasi
untuk kedua kalinya, menjadi US$ 42,22/ons emas, pada 12 Januari 1973. Pada
akhir bulan Februari 1973 terlihat bahwa sistem kurs tetap tidak cocok lagi
dengan kondisi yang ada. Pasar-pasar valuta asing utama dunia tutup selama
beberapa minggu pada bulan Maret 1973, dan ketika dibuka kembali,
kebanyakan nilai mata uang diperbolehkan mengambang sesuai dengan
ketentuan pasar. Nilai pari dibiarkan tetap.
Negara-negara yang menandatangani persetujuan Smithsonian mulai menyadari
bahwa diperlukan terobosan baru pada sistem moneter international dari yang
telah ditetapkan di Bretton Woods tahun 1944, tetapi belum terdapat
kesepakatan mengenai bentuk perubahan yang diinginkan. Beberapa negara
merasa bahwa sistem kurs tetap masih diperlukan, tetapi kebanyakan percaya
bahwa sistem kurs mengambang yang terkendali akan lebih efektif dalam
mengendalikan perekonomian dunia. Pada September 1972, IMF mengundang
Komite 20, yang merupakan perluasan dari Komite 10, untuk memberikan saran
perubahan sistem moneter internasional. Pertemuan diadakan pada Juli 1975.
Terjadinya krisis minyak dan adanya perbedaan pendapat antara peserta kongres
membuat perundingan gagal mencapai kata sepakat. Meskipun demikian,
pertemuan tersebut meletakkan dasar-dasar pemikiran untuk pertemuan
berikutnya di Jamaika pada Januari 1976.

Bab-1 Sistem Moneter Internasional 9


- Perjanjian Jamaika, Januari 1976

Dalam Perundingan di Jamaika dicapai beberapa kesepakatan, yaitu :

1. Diterimanya sistem kur mengambang yang masih


memperkenankan campur tangan pemerintah. Dengan demikian, negara tidak
terikat untuk membatasi fluktuasi niali mata uangnya.
2. Emas tidak lagi dianggap sebagai aset cadangan. IMF setuju
untuk mengembalikan 25 juta ons emas kepada anggotanya dan menjual 25 juta
ons lainnya pada harga pasar yang berlaku. Hasil penjualan akan ditempatkan
pada trust fund untuk membantu negara-negara miskin. Anggota IMF juga dapat
menjual cadangan emasnya pada harga pasar yang berlaku.
3. Kuota IMF ditingkatakan ,menjadi US$ 41 trilyun. Selanjutnya
kuota akan dinaikkan menjadi US$ 180 trilyun. Negara-negara berkembang
yangbukan eksportir minyak memperoleh proporsi pinjaman yang lebih tinggi
daripada sebelumnya. Hak voting disesuaikan dengan distribusi perdagangan
dan cadangan emas. Sepuluh persen dari keseluruhan hak voting dimiliki oleh
negara-negara yang tergabung dalam OPEC.
Banyak pengamat merasa bahwa para ekonom telah berhasil mencapai kata
sepakat mengenai fleksibilitas nilai tukar ketika kurs mengambang diterima oleh
banyak negara pada tahun 1973, dan diperkuat oleh persetujuan Jamaika pada
1976. Beberapa argumentasi timbul seiring dengan berlakunya sistem kurs
mengambang, baik yang pro maupun yang kontra. Mereka setuju dengan kurs
mengambang yang menyodorkan argumentasi sebagai berikut :

1. Kurs yang fleksibel memungkinkan dilakukannya penyesuaian secara


lebih halus jika terjadi gejolak eksternal. Tidak ada kebutuhan untuk
“memompa” atau “mengempiskan” perekonomian secara keseluruhan,
seperti yang akan dilakukan pada era kurs tetap.
2. Bank sentral tidak perlu memelihara cadangan internasional dalam
jumlah yang besar untuk mempertahankan kurs.
3. Bank sentral tidak perlu kehilangan uang hanya untuk mencoba
mempertahankan kurs yang sudah tidak sesuai lagi.
4. Negara-negara dapat menentukan kebijakan moneter dan fiskal secara
independen tanpa harus memberikan pengaruh yang besar pada nilai mata
uang.
5. Pasar forward menyediakan sarana yang efisien dan murah untuk
menghilangkan risiko valuta asing.
Sementara itu, mereka yang tidak setuju dengan sistem kurs mengambang
memiliki beberapa argumentasi, yaitu :

1. Meningkatkan voltalitas pada sistem kurs mengambang akan


meningkatkan ketidakpastian harga. Hal ini dapat mengurangi volume
perdagangan dunia dan menurunkan standar hidup masyarakat dunia.

Bab-1 Sistem Moneter Internasional 10


2. Kurs fleksibel bersifat inflasioner karena mereka meniadakan
disiplin eksternal yang dicerminkan pada kebijakan moneter dan fiskal
pemerintah.
3. Kesalahan penentuan kurs yang bersifat temporer dapat
menyebabkan kesalahan dalam memutuskan alokasi sumber daya.

- Krisis dollar Amerika Serikat, 1977-1978

Selama 1977-1978, nilai dollar menurun, dan masalah neraca pembayaran


Amerika Serikat semakin memburuk akibat kebijakan ekspansi moneter.
Penurunan nilai dollar terus berlangsung sepanjang tahun 1977. Hal ini
mendorong Menteri Keuangan Amerika Serikat Michael Blumenthal
mengumumkan bahwa dollar mengalami overvalued.

- Meningkatnya nilai dollar, 1980-1983

Setelah nilai dollar menurun pada tahun 1977 sampai 1978, Amerika Serikat
mengubah kebijakan moneternya, antara lain dengan usaha menstabilkan
penawaran uang dan inflasi, yang akhirnya akan menstabilkan tingkat
bunga.
Adanya perubahan ini menyebabkan tingkat inflasi menurun dan nilai dollar
melonjak. Lonjakan ini ditandai dengan ekspansi ekonomi secara besar-
besaran di Amerika Serikat. Akibatnya, menarik banyak modal yang masuk
ke Amerika Serikat.

- Menurunnya nilai dollar 1985-1987

Puncak nilai dollar terjadi pada bulan Maret 1985 yang kemudian mengalami
penurunan nilai dalam jangka waktu +2,5 tahun. Penurunan ini menyebabkan
perubahan kebijakan pemerintah dan penurunan kinerja ekonomi nasional
secara relatif terhadap pertumbuhan negara utama lain.
Pada bulan September 1985, dollar menurun kira-kira 15% dari nilai pada
bulan Maret. Tetapi penurunan ini tidak cukup untuk menghilangkan defisit
neraca perdagangan yang dialami Amerika Serikat. Pada bulan itu juga,
menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari 6 negara yang dikenal
dengan kelompok enam negara industri (Amerika Serikat, Perancis, Jerman,
Inggris, Jepang dan Kanada) mengadakan pertemuan di hotel Plaza di New
York, dan menghasilkan kesepakatan yang dikenal dengan Persetujuan Plaza
(Plaza Agreement). Mereka mengumumkan bahwa semua mata uang utama
harus diapreasi terhadap dollar Amerika Serikat dan berjanji akan melakukan
intervensi di pasar uang agar persetujuan ini dapat terlaksana.
Dollar kembali mengalami penurunan yang tajam pada akhir tahun 1985
sampai awal tahun 1987. Karena itu, bulan Februari 1987 negara-negara
industri utama kembali mengadakan pertemuan dan menghasilkan
persetujuan baru yang dikenal dengan Louvre Accord. Mereka setuju bahwa
tingkat kurs diatur kembali secukupnya dan berjanji untuk menjaga stabilitas
kurs.

- Nilai dollar 1988-1993

Bab-1 Sistem Moneter Internasional 11


Pada tahun 1987, nilai dollar masih terus menurun. Baru kemudian pada
awal tahun 1988 nilai dollar kembali menguat. Namun, menurun kembali
pada tahun 1990. Tahun 1991 dan 1992 nilai dollar kembali stabil.

Sistem Kurs Deviasi Pada 30 September 1998

Sistem kurs tertambat (pegged) Fleksibilitas terbatas terhadap Lebih fleksibel


satu mata uang
Pada Satu Mata Uang Pada Mata Uang Komposit Satu Mata Pengaturan Mengambang terkendali Secara
Uang Kerjasama lainnya Indevenden
US$ parancis Lain-lain SDR Lainnya Mengambang

Antingua & Benin Bhutan Libya Bangladeech Bahrain Denmark Chili Lao Afganistan
Barbuda Burkina Lesotho Myanmar Botawana Qatar Parancis Colombia Maidives Zimbabwe
Argentina Faso Swazliand Jordon Burundi Saudi Jerman Zambia Mauritania Zambia
Bahamas Kamerun Boania & Latvia Cyprus Arabia Irlandia Algaria Pakistan Yaman
Barbados Afrika Herzegovina Fiji Uni Emirat Itali Angola Polandia Inggris
Belize Tengah Brunei Iceland Arab Luxem-boung Azerbaijan Romania Thailand
Djiboti Chad Bulgaria Kuwait Belanda Balarus Singapura Tanzadia
Dominice Comoros Cape Verde Italia Spanyol Bolivia Sri Langka Swiss
Ethiopia Congo Estonia Malta Austria Brazill Tunisia Swedia
Grenada Pantai Klribati Maroko Belgia Kamboja Turki Somalia
Irak Gading Namibia Tonga Firlandia China Uruguay Sao tome
Lithuania Guinea- Napai Vanuatu Yunani Costa rica Vietnam Albania
Malaysia Bissau San marino Portugal Kroasia Venezuela Armenia
Marshall Gabon Ceko Ukraina Congo
Islanda Mali Dominikan Turmeniktan Eritrea
Mikronesia Nigeria El Salsador Tajikistan Guenia
Negerle Senegai Ethiopia Suriname India
Oman Togo Georgia Sudan Indonesia
Palau Honduras Kep.Solomon Korea
Panama Hongaria Solvenia Liberia
St.lucia Iran Solvakia Madagaskar
St. vincent & Kazakhatan Malawi Meksiko
the Kenya Mauritius Moldava
Grenadines Kyrgyu Nikaragua Mongolia
syria Macadonia Nigeria Mozambique
Iran Norwegia Papua nugini
China Paraguay Rwanda
Ekuador Rusia Australia
Mesir Costarica
Larael Bolivia
Brazil
Bulgaria
Canada
Rep.dominika
El sapador
Gambia
Ghana
Guatemala
Guyana
Haiti
Honduras
Jamaika
Jepang
Lobanon
Namibia
New-zealand
Peru
Philipina
Seirra
Laone
Afrika selatan
Uganda
USA

Sistem Moneter Eropa


Sistem moneter Eropa (EMS) mulai beroperasi pada bulan Maret 1979, dengan
beranggotakan 12 negara (yang juga anggota European Union). Tujuannya adalah
untuk membantu stabilitas moneter negara-negara komunitas Eropa (European
Community). Dalam sistem ini, para anggota menetapkan unit mata uang Eropa
(ECU) yang memainkan peran penting dalam menjalankan EMS. ECU adalah mata
uang komposit yang merupakan penjumlahan dari mata uang 12 negara Eropa.
Proporsi masing-masing mata uang negara anggota dalam ECU menunjukkan

Bab-1 Sistem Moneter Internasional 12


kekuatan ekonomi relatif dalam komunitas Eropa. ECU berfungsi sebagai satuan
unit (unit of account), alat settle-ment, dan aset cadangan bagi anggota EMS.
Inti dari sistem ini adalah Exchange-rate Mechanism (ERM), merupakan indeks
komposit penjumlahan dari mata uang negara Eropa yang membatasi fluktuasi mata
uang negara anggota EMS dengan menentukan batas atas dan batas bawah. Tujuan
diterapkannya ERM adalah untuk menjaga ekuilibrium kurs di pasar uang
internasional. Kurs mata uang negara anggota komunitas Eropa tidak boleh
berfluktuasi melebihi 2,25% di atas atau di bawah nilai pari.
Pada tanggal 12 Januari 1987, ditetapkan kembali kurs ECU terhadap mata uang
negara Eropa. Satu ECU senilai 42.4582 francs Belgia, atau 7.85212 kroner
Denmark, atau 2.05853 Deustchemarks, atau 6.90403 franc Perancis, atau 2.31943
gulden Belanda, atau 0.798411 pound Irlandia, atau 1483.58 lira Italia. Negara lain
seperti Norwegia, Swedia, dan Firlandia yang menambatkan mata uangnya pada
ECU, tidak menjadi anggota ERM.
ECU sebagai nilal sentral EMS dipergunakan untuk menghitung kurs bilateral.
Sebagai contoh, nilai satu ECU adalah 2.05853 Deutschemarks dan satu ECU sama
dengan 7.85212 kroner Denmark, maka nilai kurs tertambat antara Jerman dan
Denmark adalah:

7.85212 kroner/ECU = 3.8144 kroner/DM


2.05853 Deutschemark
Bertolak dari kurs bilateral, bank sentral masing-masing negara harus melakukan
intervensi untuk menjaga kurs yang berlaku berkisar antara nilai di atas.
Pada tanggal 1 Agustus 1993, fluktuasi kurs mata uang negara-negara angota
diijinkan 15% dari nilai pari, kecuali Jerman dan Belanda masih menggunakan
rentang fluktuasi yang lama, yakni 2,25%).
Berdasarkan hasil pertemuan Maastricht pada tahun 1991, terhitung sejak tangal 1
Januari 1999, Euro resmi menggunakan ECU dalam mekanisme nilai tukar Eropa.
Euro hanya berfungsi sebagai satuan hitung dan tidak memiliki wujud fisik. Baru
pada tangal 1 Januari 2002, mata uang Euro mulai diedarkan dan akan
diperdagangkan bersama mata uang negara anggota EMS. Selanjutnya, mulai
tanggal 1 Juli 2002, mata uang Euro akan menggantikan mata uang negara anggota
EMS. Negara-negara yang telah menyetujui untuk bergabung dalam EMU adalah
Austria, Belgia, Finlandia. Perancis, Jerman, Irlandia, Italia, Luxemburg, Belanda,
Portugal, dan Spanyol. Sementara Denmark, Swedia, dan Inggris belum bersedia
bergabung.

Eurocurrencies
Eurocurrencies kadang dipandang sebagai jenis uang, walaupun dalam
kenyataannya adalah mata uang domestik suatu negara yang didepositokan di negara
lain. Sebagai contoh, Eurodollar adalah deposito yang didominasi dalam mata uang
dolar di bank-bank di luar Amerika Serikat di luar negeri, atau Internasional
Banking Facility (IBF).

Karakteristik Eurocurrency

Bab-1 Sistem Moneter Internasional 13


Jangka waktu deposito Eurodollar didasarkan pada sertifikat deposito, biasanya tiga
bulan atau lebih, dan dalam jumlah jutaan dolar. Deposito Eurodollar tidak sama
dengan demand deposit karena pemilik deposito Eurodollar tidak dapat menarik cek
atas deposito yang dimilikinya, Dalam lampiran I pada akhir bab ini akan dijelaskan
tentang bagaimana proses penciptaan Eurodollar.
Banyak mata uang yang dapat didepositokan dalam bentuk “Euro”, seperti
Euromark (deposito Deutschemark pada bank di luar Jerman), Eurosterling
(poundsterling Inggris yang didepositokan di luar Inggris), dan Euroyen (yen Jepang
yang didepositokan di luar Jepang).
Pasar Eurocurrency memiliki dua tahun, yaitu:
1. Sebagai pasar uang yang efisien dan tepat untuk menyimpan kelebihan
likuiditas perusahaan.
2. Sebagai sumber utama pinjaman jangka pendek untuk membiayai kebutuhan
modal kerja perusahaan, termasuk pula pembiayaan ekspor dan impor.
Bank di mana Eurocurrencies didepositokan biasanya disebut “Eurobank”.
Eurobank diartikan sebagai perantara keuangan yang mendapatkan deposito dalam
mata uang negara tertentu dan kemudian menyalurkannya ke peminjam dalam mata
uang negara tempat dia berlokasi. Dalam prakteknya, Eurobank biasanya merupakan
departemen atau bagian dari bank komersial besar.

Sejarah Pasar Eurodollar

Pasar Eorudollar modern mulai berjalan setelah perang dunia II, ketika Eropa Timur
bersedia menerima deposito dalam dollar, termasuk bank dagang Uni Soviet, karena
mereka kemudian dapat meminjamkan dollar yang mereka kumpulkan ke negara
atau lembaga yang membutuhkan. Diakuinya dollar sebagai mata uang yang paling
konvertibel pada masa itu justru semakin mendorong negara-negara Eropa untuk
mengumpulkan dollar dalam jumlah besar. Dollar yang terkumpul disalurkan
sebagai pinjaman atau didepositokan kembali ke negara lain sebagai contoh, Eropa
Timur mendepositokan dollar di Eropa Barat. Bank Eropa Barat kemudian
mendepositokan kembali dollar tersebut ke negara lain.
Pada tahun 1957, keadaan perekonomian Inggris melemah. Untuk merespons hal
tersebut, otoritas moneter Inggris melaksanakan pengendalian ketat terhadap
pinjaman bank Inggris kepada nonresiden, dalam mata uang poundsterling. Bank-
bank Inggris kemudian memberikan pinjaman dalam mata uang dollar, sebagai satu-
satunya alternatif yang diizinkan, untuk memperbaiki posisinya di dunia
internasional. Perdagangan mata uang dollar internasional berpusat di London
karena kota ini ahli dalam masalah moneter internasional.
Pasar dollar Eropa semakin membesar saat Amerika Serikat mengalami kesulitan
neraca pembayaran pada tahun 1990-an. Dan terus bertumbuh setiap tahun karena
pasar Eurocurrency adalah pasar uang internasional berskala besar yang relatif bebas
dari campur tangan dan peraturan pemerintah.

Rangkuman

Bab-1 Sistem Moneter Internasional 14


Jika nilai mata uang suatu negara ditentukan oleh pemerintah, maka disebut sistem
kurs tetap. Sedangkan jika nilai mata uangnya diserahkan sepenuhnya kepada pasar,
maka disebut kurs mengambang. Suatu mata uang dapat dikatakan konvertibel
apabila mata uang tersebut bisa dipertukarkan secara bebas dengan mata uang
negara lain. Contoh mata uang yang konvertibel adalah dollar Amerika Serikat.
Ada 7 alternatif sistem kurs dewasa ini, antara lain sistem kurs mengambang bebas,
mengambang terkendali, pengaturan zona target, sistem kurs tertambat, tertambat
merangkak, tertambat pada sekeranjang mata uang , dan sistem kurs tetap. Hampir
sudah tidak ada lagi negara yang menganut sistem kurs tetap. Sistem kurs
mengambang bebas paling banyak dipergunakann oleh negara-negara di dunia.
Sistem moneter internasional dimulai sejak tahun 1821, saat terjadinya perang
Napoleon, dengan berlakunya standar emas. Periode antar perang dunia ditandai
dengan periode kurs fluktuasi tahun 1919-1925, standar emas tahun 1925-1931, dan
nasionalisme moneter tahun 1931-1940. Kemudian setelah perang dunia II
diberlakukan sistem Bretton Wood sampai tahun 1971, yang dilanjutkan dengan
sistem kurs mengambang samapi saat ini. Selama berlakunya sistem kurs
mengambang terjadi beberapa peristiwa penting, seperti perjanjian Smithsonian,
perjanjian Jamaika, persetujuan Plaza, dan Louvre Accord.
Sistem moneter Eropa dimulai pada bulan Maret 1979 dengan anggota 12 negara
yang juga anggota Europian Union yang bertujuan membantu stabilitas moneter
negara-negara komunitas Eropa. Mata uang yang dipakai dalam SME dikenal
dengan nama ECU, sedangkan indeks yang digunakan sebagai nilai pari dinamakan
ERM. Dari nilai ECU dapat dihitung kurs bilateral, yaitu dengan membandingkan
nilai kurs mata uang terhadap ECU satu negara dengan kurs mata uang negara lain
terhadap ECU.
Eurocurrencies adalah mata uang domestik suatu negara yang didepositokan di
negara lain. Jangka waktu deposito Eorocurrency biasanya tiga bulan atau lebih.
Pertumbuhan Eurocurrencies bertambah dalam jumlah jutaan dollar setiap bulannya.

Latihan
1. Dapatkah perubahan kurs pada sistem mata uang mengambang terkendali
berfluktuasi tinggi ? Jelaskan.
2. Carilah sebuah contoh tentang intervensi pasar valuta asing yang dilakukan
pemerintah baru-baru ini. Apakah intervensi ini membuat perubahan dalam
bidang ekonomi ?
3. Dapatkah koordinasi kebijakan ekonomi membuat kurs lebih atau kurang
stabil ?
4. Berdasarkan pengalaman sejarah, sistem kurs tetap dan pengaturan zona
target tidak memberikan hasil yang memuaskan bagi negara yang
menganutnya.
a. Pelajaran apa yang dapat ditarik oleh para ahli ekonomi atas gagalnya
sistem Bretton Woods?
b. Pelajaran apa yang dapat ditarik oleh para ahli ekonomi atas
pengalaman kurs Sistem Moneter Eropa (EMS) ?
5. Bagaimana perbedaan sistem Bretton Woods dengan standar emas ?

Bab-1 Sistem Moneter Internasional 15


6. Bagaimana aturan main dalam standar emas ?
7. Mengapa standar emas tidak berjalan baik pada tahun 1920-an, tidak seperti
sebelum tahun 1914 ?
8. Bagaimana timbulnya pasar Eurocurrency ?

Bab-1 Sistem Moneter Internasional 16