Anda di halaman 1dari 19

dengan baik, sudah semestinya

anggota DPRD mempunyai –


disamping- bekal kapasitas dan
kapabilitas, juga memerlukan
kredibilitas dan integritas.

LAPORAN KEGIATAN Untuk menjaga kredibilitas dan


WORKSHOP integritas anggota DPRD serta
PENGUATAN KAPASITAS BADAN kehormatan lembaga DPRD,
KEHORMATAN DPRD dibentuk Badan Kehormatan dan
diperlukan kode etik DPRD. Badan
Jakarta, kehormatan mempunyai peran untuk
23 - 25 Nopember 2009 menegakkan kehormatan DPRD
melalui kontrol pelaksanaan kode
etik oleh seluruh anggota DPRD.

BAGIAN I Sementara itu kode etik diharapkan


PENDAHULUAN menjadi pedoman dan referensi
dalam bersikap dan bertindak,
sehingga seluruh perilaku anggota
Dasar Pemikiran DPRD mencerminkan tindakan
pejabat publik yang terhormat.
DPRD merupakan lembaga
perwakilan rakyat yang penting Dari pengalaman yang ada, masih
dalam sistem pemerintahan daerah. banyak Badan Kehormatan DPRD
Arti penting itu terlihat dari yang belum efektif dalam
kedudukan dan peran DPRD menjalankan peran dan fungsinya
sebagai penyelenggara sebagaimana diamanatkan oleh
pemerintahan daerah yang undang-undang. Lokalatih ini
mempunyai fungsi, tugas, dimaksudkan untuk memfasilitasi
wewenang serta kewajiban anggota DPRD untuk merumuskan
institusional. DPRD mempunyai kode etik sesuai dengan kaidah
fungsi legislasi, anggaran dan ilmiah maupun normatif, dan
pengawasan. Untuk menjalankan mekanisme dan tatakerja Badan
fungsi tersebut, DPRD mempunyai Kehormatan DPRD dalam rangka
tugas dan wewenang antara lain; memperkuat kapasitas
membentuk perda, menetapkan kelembagaan.
APBD, melaksanakan pengawasan
terhadap pelaksanaan peraturan Tujuan
perundangan. Disamping itu, DPRD
mempunyai kewajiban untuk Setelah mengikuti workshop ini
melaksanakan kehidupan peserta diharapkan memiliki :
demokrasi, memperjuangkan 1. Pemahaman terhadap landasan
kesejahteraan rakyat dengan yuridis dan politis perumusan
menyerap, menampung, kode etik DPRD
menghimpun dan menindaklanjuti 2. Kemampuan merumuskan kode
aspirasi masyarakat. etik DPRD atas dasar dengan
Laporan

7
Kegiatan

kaidah ilmiah dan normatif,


Untuk melaksanakan fungsi, tugas, sesuai peraturan perundangan
wewenang, dan kewajiban DPRD yang berlaku
3. Mampu merumuskan mekanisme Nara Sumber:
dan tatakerja Badan Kehormatan
DPRD. Drs. Ferry Mursyidan Baldan

Hasil
3. Sesi III:
Workshop Badan Kehormatan ini Kode Etik Parlemen dalam
berhasil merumuskan draf Kode Etik Perspektif Etika Parlemen
DPRD Kabupaten.
Nara sumber:

Peserta Dr. Donny Gahral Adian

(Filsafat UI)
Peserta adalah Pimpinan dan
Anggota DPRD Kabupaten yang
berjumlah 32 orang, terdiri dari: 4. Sesi IV:
1. DPRK Aceh Jaya Implementasi Kode Etik DPRD
2. DPRK Bireun
3. DPRK Aceh Tenggara Nara Sumber: Iwan S. Soelasno,
4. DPRD Kabupaten Magelang Joko Sustanto, Awaluddin
5. DPRD Kabupaten Halmahera
Barat
6. DPRD Kabupaten Barru
7. DPRD Kabupaten Madiun Sistematika
8. DPRD Kabupaten Jombang
9. DPRD Kabupaten Luwu Timur Rumusan hasil dan kesimpulan dari
10. DPRD Kabupaten Lamandau Workshop Nasional ini meliputi:
11. DPRD Kabupaten Sidoarjo • Bagian Pertama adalah
12. DPRD Kabupaten Malang Pendahuluan, berisikan latar
belakang dilaksanakannya
kegiatan ini, tujuan, dan
Materi dan Nara Sumber sistematika penulisan.
• Bagian Kedua berikan proses
1. Sesi I: Workshop dan diskusi materi
Pemaparan tentang Adkasi dan yang berkembang.
Diskusi terkait Program • Bagian Ketiga berisikan draf
Advokasi, Loby dan Peningkatan Kode Etik DPRD Kabupaten.
Kapasitas DPRD.
Pelaksanaan
Nara Sumber: Iwan S. Sulasno
(Direktur Eksekutif Adkasi) Workshop Nasional Penguatan
Kapasitas Badan Kehormatan ini
pada:
2. Sesi II:
Mambangun Etika Politik di Hari : Senin - Rabu
Parlemen; Pembelajaran atas Tanggal : 23-25 November 2009
Tempat : Hotel Sheraton Media
Laporan

Kinerja Badan Kehormatan DPR


Kegiatan

Jl Gunung Sahari Raya


RI 2004-2009.
Jakarta 10720
Laporan
Kegiatan
7
Bagian II
PROSES WORKSHOP Misi ini menyiratkan implementasi
dari program-program penguatan
kelembagaan baik bagi ADKASI
maupun anggotanya. Dari misi ini
Pembukaan
mandat dan fungsi-fungsi pokok
Acara dibuka oleh Bapak Iwan S. dapat diturunkan.
Soelasno, Direktur Eksekutif Seknas
Adkasi. Dalam sambutannya, beliau Untuk memberikan nilai-nilai dasar
menyampaikan selamat atas terpilih yang menjadi kerangka ideologis
dan terpilihnya kembali menjadi bagi seluruh pembuatan kebijakan
anggota DPRD Kabupaten.
dan keputusan dalam ADKASI serta
Sesi I kegiatan-kegiatannya, Rencana
Pemaparan tentang ADKASI dan Strategis ini memberikan
Diskusi tentang Layanan Adkasi. serangkaian nilai-nilai dasar paling
penting sebagai panduan ideologis
Adkasi didirikan pada tanggal 28 bagi ADKASI, dan melalui ADKASI,
Agustus 2001, melalui Musyawarah bagi anggotanya.
Nasional (Munas) Pimpinan DPRD
Kabupaten Seluruh Indonesia di
Sebagai wadah berhimpun para
Mataram.
pimpinan dan anggota DPRD,
Adkasi memberikan berbagai
Keanggotan Adkasi mencakup
layanan kepada para anggotanya.
seluruh pimpinan dan anggota
Layanan yang diberikan Adkasi,
DPRD Kabupaten se-Indonesia.
antara lain advokasi, informasi dan
Oleh karena itu, rumusan visi Adkasi
komunikasi dan peningkatan
adalah: “DPRD Kabupaten menjadi
kapasitas DPRD Kabupaten.
lembaga yang efektif, efisien, dan
otonom yang menjalankan prinsip-
Sesi II
prinsip Tata Pemerintahan Daerah
“Membangun Etika Politik di
yang baik yang membawa manfaat
Parlemen; Pembelajaran atas
bagi masyarakat di daerah”.
Kinerja Badan Kehormatan DPR RI
2004-2009 dan Muatan Material
Sedangkan misi Adkasi dirumuskan
pada Perumusan Kode Etik DPRD”.
sebagai berikut:
Oleh: Drs. Ferry Mursidan Baldan
ADKASI adalah Asosiasi DPRD
Kabupaten Seluruh Indonesia yang
Munculnya kode etik lebih karena
mendukung anggotanya untuk
desakan dari luar. Sebenarnya,
menjadi lembaga pemerintahan
DPRD telah bekerja dengan tata
daerah yang efektif, transparan,
tertib. Kode etik mengatur apa yang
bertanggung jawab, dan
boleh dan tidak boleh yang sifatnya
independen.
personal.
Jika diringkas, rumusan misi ini bisa
Kode etik lahir karena adanya
menjadi slogan, yakni ADKASI,
Laporan

kecurigaan dan kekhawatiran public


Kegiatan

berkomitmen untuk memperkuat


terhadap kerja dewan. Dalam kode
pemerintahan kabupaten di
etik yang tertuang adalah norma dan
Indonesia secara efektif.
nilai-nilai yang memandu anggota
DPRD agar mampu menampilkan memadai, baik anggaran maupun
citra diri sebagai anggota DPRD supporting systemnya. Sepanjang
yang terhormat. hal itu tidak terpenuhi, DPRD akan
selalu dibawah eksekutif dan bisa
Dalam hal tingkat kehadirannya bermain mata yang berpotensi
misalnya, apakah ukuran kinerja melanggar kode etik.
hanya berdasarkan absensi Batasi ruang untuk sampai ke
kehadiran? Padahal, ada anggota pemberhentian. Sekali lagi, tugas
yang hadir, namun diam saja dalam Badan Kehormatan adalah menjaga
rapat, maka menjadi kurang citra anggota DPRD. Kalau sampai
bermakna. Karena itu dalam UU ke pemberhentian, lebih mengaja ke
diatur ketidakhadiran berturut-turut larangan mengacu ke UU.
selama 3 bulan dalam menjadi
alasan pemberhentian. Sesi III
“Kode Etik DPRD dalam Prespektif
Kode etik hendaknya tidak dijadikan Politik dan Hukum”
alat politicking diantara anggota Oleh: Dr. Donny Gahral Adian
DPRD. Karena sesungguhnya tugas (dosen Filsafat UI dan penulis buku)
utama Badan Kehormatan adalah
menjaga citra anggota secara Pemimpin politik adalah mereka
keseluruhan. Tugasnya adalah yang diberi otoritas untuk mengambil
mengkonfirmasi berbagai dugaan keputusan-keputusan politik yang
pelanggaran. Hasilnya disampaikan memiliki konsekuensi public. Oleh
dalam rapat paripurna. sebab itu, legimitasi menjadi
sesauatu yang sungguh-sunguh
Badan Kehormatan mengklarifikasi sentral dalam kepemimpinan politik.
berbagai hal yang sifatnya negative.
Karena itu, BK juga sekaligus Legimitasi politik terkait dengan
menjalankan fungsi public realtion otoritas pimpinan politik dalam
(PR). Dalam hal penting dipikirkan menjatuhkan keputusan politik.
bahwa BK mestinya bukan sebagai Keputusan seorang anggota
lembaga penindak. parlemen menyekolahkan anaknya
ke luar negeri tidak masuk dalam
Norma-norma kode etik bisa diambil ranah legitimasi politik.
dari larangan-larangan dalam UU.
Selanjutnya diserahkan kembali ke Legitimasi politik dapat dibagi
partai politik untuk menetapkan berdasarkan charisma, tradisonal
sanksi, bukan ke pimpinan dewan. dan legal. Legimitasi legal diperoleh
melalui pemilihan umum secara
Terkait dengan hasil klarifikasi BK, langsung sesuai dengan undang-
hasilnya mestinya tidak disampaikan undang yang berlaku. Sebaliknya,
ke pers. kekuasaan yang didapatkan melalui
cara-cara inskonstitusional adalah
Tata tertib dengan mengacu ke UU tidak sah.
27/2009 semakin baik. Rapat yang
sebelumnya tertutup, di UU tersebut Terkait dengan etika pemimpin
pada prinsipnya terbuka. politik, tidak selalu berurusan
Laporan

7
Kegiatan

dengan prinsip atau hukum moral.


Untuk dapat menegakkan kode etik, Sebagai anggota parlemen, dimana
harus ditunjang daya dukung yang anggota parlemen adalah profesi,
maka harus diikat dengan kode etik Office of The Senate Ethics Officer
profesi. (semacam Badan Kehormatan) di
Kanada memiliki tiga prinsip
Profesionalitas anggota parlemen fundamental berkenaan dengan
adalah pengabdian pada etika parlemen, yaitu:
kepentingan orang banyak yang 1. Anggota parlemen dituntut untuk
berarti mengesampingkan tetap aktif di komunitas atau
kepentingan pribadi. Dengan wilayahnya selain tetap melayani
demikian, profesi anggota parlemen kepentingan public.
memiliki konsekuensi etis yang 2. Anggota parlemen dituntut untuk
cukup berat. memenuhi kewajiban publiknya
dengan menjunjung tinggi
Ada tiga komponen etika perlemen: patokan etis untuk menghindari
1. Aturan main yang jelas (kode konflik kepentingan.
etik) yang mengatur tindak 3. Anggota parlemen harus
tanduk anggota parlemen. mengatur persoalan privatnya
2. Sanksi yang jelas dan tegas. sedemikian rupa sehingga konflik
3. Komite etik atau badan kepentingan yang muncul
kehormatan yang berisikan muncul dapat dihindarkan.
orang-orang berintegritas tinggi.
Dalam kode etik juga harus memuat
Sebagai kode etik profesi, etika sanksi. Sanksi harus mengandung
parlemen harus memperhatikan tiga kepastian dan konsistensi, sanksi
kewajiban utama seorang individu tidak boleh diskriminatif dan sanksi
sebagai anggota parlemen. juga harus diumumkan ke public
sebagai bentuk akuntabilitas public.
Pertama, kewajiban anggota
terhadap konstituen yang Karena itu, kehadiran Badan
memilihnya, anggota harus bekerja Kehormatan DPRD haruslah
keras menyelesaikan permasalahan independen, yakni harus bebas dari
yang dihadapi konstituen yang segala tekanan dalam mengambil
memilihnya. keputusan. Disamping itu, BK harus
memiliki integritas moral tinggi dan
Kedua adalah kewajiban anggota harus menjalankan fungsi preventif
terhadap mereka yang bukan dengan menyediakan jasa
konstituennya. Apabila sang konsultasi bagi anggota yang
anggota memiliki kecakapan atau memiliki persoalan etis terkait
pengetahuan yang dapat membantu dengan jabatannya.
sekelompok orang yang bukan
konstituennya, maka yang Sesi IV
bersangkutan harus melakukannya. Implementasi Kode Etik DPRD

Ketiga adalah kewajiban anggota Dalam sesi ini, peserta diajak


terhadap institusi parlemen itu mendiskusikan beberapa hal terkait
sendiri, dalam artian nama baik dan kode etik. Nara sumber
martabat institusi. Perilaku koruptif menyampaikan draf kode etik dan
anggota parlemen, dalam hal ini, peserta mendiskusikan draf
Laporan

7
Kegiatan

dapat menurunkan kepercayaan tersebut, yang dapat dilihat dalam


public pada perlemen. bagian III ini.
BAGIAN III
HASIL-HASIL

Workshop ini berhasil merumuskan


Draf Kode Etik DPRD. Draf ini bisa
diadopsi oleh DPRD Kabupaten
seluruh Indonesia.

Laporan

7
Kegiatan
Laporan
Kegiatan
7
DRAFT

KODE ETIK
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
.......................................................

KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH ......................


NOMOR……………….

TENTANG
KODE ETIK DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH………………..

9
DAFTAR ISI
DRAFT KEPUTUSAN DPRD
LAMPIRAN DRAFT KEPUTUSAN DPRD
KONSIDERAN
PENDAHULUAN
BAB I Ketentuan Umum
BAB II Maksud dan Tujuan
a. Maksud
b. Tujuan
BAB III Kepribadian dan Tanggung Jawab
a. Kepribadian
b. Tanggung Jawab
BAB IV Mekanisme Penyampaian Pernyataan
BAB V Ketentuan Dalam Rapat
BAB VI Perjalanan Dinas
BAB VII Kekayaan, Imbalan dan Pemberian Hadiah
BAB VIII Konflik Kepentingan dan Perangkapan Jabatan
Konflik Kepentingan
Perangkapan Jabatan
BAB IX Kerahasiaan
BAB X Hubungan Dengan Mitra Kerja dan Lembaga DI Luar
DPRD
Hubungan dengan Mitra Kerja
Hubungan dengan Lembaga Luar
BAB XI Tugas dan Wewenang Badan Kehormatan
Tugas
Wewenang
BAB XII Sanksi dan Rehabilitasi
BAB XIII Perubahan Kode Etik
BAB XIV Ketentuan Penutup

10
LOGO

DEWAN PERWAKILAN DAERAH ………………….

KEPUTUSAN
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH…………..

NOMOR............................

TENTANG
KODE ETIK DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH ………….

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH …………..

Menimbang : a. Bahwa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ............ mempunyai


kedudukan sebagai wakil rakyat yang terhormat (kata ”terhormat
diserahkan masing-masing daerah mau dicantumkan atau tidak),
yang bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa, bangsa,
negara, masyarakat, dan konstituennya dalam melaksanakan
tugasnya.
b. bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud
huruf a di atas, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ........................
perlu memiliki landasan etik atau filosofis yang mengatur perilaku
dan ucapan mengenai hal-hal yang diwajibkan, dilarang, atau tidak
patut dilakukan.
c. bahwa berdasarkan hal-hal sebagaimana dimaksud dalam huruf a
dan b diatas, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah .............. perlu
memiliki Kode Etik yang bersifat mengikat dan wajib dipatuhi oleh
setiap Anggota Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah...........................dalam menjalankan tugasnya demi menjaga
harkat, martabat, kehormatan, citra, dan kredibilitas Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah..............
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 tahun 1999, sebagaimana telah diubah
oleh UU No 20 Tahun 2001 Tentang Penyelenggaraan Negara yang
Bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3851)
2. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang Majelis
Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan
Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 123).
3. Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 Tentang Penyusunan
Peraturan Perundang-undangan.
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004, dan Tambahan Lembaran
Negara nomor 4437).
5. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan
Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD,
sebagaimana telah diubah oleh Peraturan Pemerintah Nomor 37

11
Tahun 2005 (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 94, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4540), sebagaimana telah diubah oleh
Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2006 (Lembaran Negara
Tahun .......).
6. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Pedoman
Penyusunan Peraturan Tata Tertib DPRD, sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2005,
(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 91, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4417). (menunggu PP Tatib terbaru)
7. Peraturan Daerah tentang Keuangan Daerah (diserahkan masing-
masing daerah akan dicantumkan atau tidak).
8. Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah .....................
Nomor...............Tanggal ...... Tentang Peraturan Tata Tertib
DPRD.....................
Memperhatikan : Laporan ………………..Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.............. yang
ditugasi membahas Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
………….dan Kode Etik Dewan Perwakilan Rakyat Daerah……………..

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH ……….


TENTANG KODE ETIK DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
DAERAH …………..

PERTAMA : Kode Etik Dewan Perwakilan Rakyat Daerah …………, sebagaimana


termuat dalam lampiran keputusan ini, merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Keputusan ini.

KEDUA : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di ……………..
Pada tanggal ………………

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH………………….

KETUA

WAKIL KETUA WAKIL KETUA WAKIL KETUA

12
LAMPIRAN

KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH……………..


NOMOR …………………
TANGGAL …………………

KODE ETIK
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH …………..

PENDAHULUAN

Bahwa perkembangan ketatanegaraan Indonesia saat ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari proses reformasi dalam berbagai aspek kehidupan kenegaraan yang antara lain, ditentukan oleh
kualitas kerja dan kinerja lembaga legislatif yang memiliki komitmen politik, moralitas, dan
profesionalitas yang lebih tangguh dalam proses pelaksanaan ketatanegaraan yang didasarkan pada
terciptanya suatu sistem pengawasan dan keseimbangan. Komitmen tersebut semakin dirasa penting
sebagai upaya untuk mewujudkan DPRD...........................yang kuat, produktif, terpercaya, dan
berwibawa dalam pelaksanaan fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan.

Karena menyadari bahwa kedudukannya sebagai wakil rakyat yang terhormat (kata ”terhormat”
tergantung dari setiap daerah mau ditampilkan atau tidak), Anggota DPRD .........................
bertanggungjawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bangsa, negara, masyarakat, dan konstituennya
dalam melaksanakan tugas yang diamanatkan.

Untuk melaksanakan tugas konstitusionalnya, Pimpinan dan Anggota DPRD ......................bersepakat


untuk menyusun suatu Kode Etik DPRD......................., yang bersifat mengikat serta wajib dipatuhi
oleh setiap Pimpinan dan Anggota DPRD ...........................selama menjalankan tugasnya di dalam
maupun di luar gedung demi menjaga harkat, martabat, kehormatan, citra, dan kredibilitas
DPRD........................ Kode Etik ini merupakan kesatuan landasan etik atau filosofis dengan peraturan
perilaku maupun ucapan mengenai hal-hal yang diwajibkan, dilarang, atau tidak patut dilakukan oleh
Anggota DPRD ..................

Kode etik Pimpinan dan Anggota DPRD.................. ini disusun dalam kerangka dan acuan atas
keragaman budaya, persoalan daerah, dinamika politik, dan keadaan-keadaan khusus di dalam suatu
masyarakat daerah. Hal ini dimaksudkan bukan saja karena kekhasan tersebut akan dengan sendirinya
menjelaskan persoalan daerah, tetapi juga dalam kerangka menghormati kearifan-kearifan lokal.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Kode Etik ini, yang dimaksud dengan :


1. Kode Etik adalah norma-norma atau aturan-aturan yang merupakan kesatuan landasan etik
atau filosofis dengan peraturan perilaku maupun ucapan mengenai hal-hal yang diwajibkan,
dilarang, atau tidak patut dilakukan oleh Pimpinan dan Anggota DPRD.
2. DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ............
3. Pimpinan DPRD adalah Ketua dan Wakil Ketua DPRD.
4. Anggota DPRD adalah Anggota DPRD Periode 2004-2009 yang telah diambil sumpah atau
janjinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dalam melaksanakan
tugasnya sungguh-sungguh memperhatikan kepentingan rakyat.

13
5. Badan Kehormatan adalah alat kelengkapan DPRD yang bersifat tetap dan memiliki
kewenangan untuk meneliti, memverifikasi, dan mengklarifikasi terhadap Pimpinan dan Anggota
Dewan yang melakukan pelanggaran terhadap Peraturan Tata Tertib, Kode Etik, Sumpah dan
Janji (yang tercantum dalam PP 25 Tahun 2004).
6. Mitra Kerja adalah pihak-pihak baik Pemerintah Daerah, perseorangan, kelompok, organisasi,
badan swasta, dan instansi lainnya, yang mempunyai hubungan tugas dengan DPRD.
7. Rapat ialah semua jenis rapat, sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Tata Tertib DPRD.
8. Keluarga adalah suami atau istri dan anak Pimpinan dan Anggota DPRD.
9. Sanak famili adalah pihak-pihak yang mempunyai hubungan pertalian darah dan semenda
sampai derajat ketiga ke samping Pimpinan dan Anggota DPRD.
10. Perjalanan Dinas adalah perjalanan Pimpinan dan/atau Anggota DPRD untuk melaksanakan
tugas, fungsi dan wewenangnya sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan
yang berlaku. (“baik yang dilakukan di dalam daerahnya atau daerah lain di wilayah Republik
Indonesia maupun di luar batas wilayah Republik Indonesia” –terserah masing-masing daerah
akan dicantumkan atau tidak).
11. Rahasia adalah rencana, kegiatan, atau tindakan yang telah, sedang, atau akan dilakukan, dan
hal-hal lain yang dianggap penting, yang dapat mengakibatkan kerugian besar dan bahaya
apabila diberitahukan kepada atau diketahui oleh orang yang tidak berhak.
12. Sanksi adalah hukuman yang diberikan kepada Pimpinan dan Anggota DPRD, karena
melanggar Peraturan Tata Tertib, Kode Etik, Sumpah dan Janji.
13. Rehabilitasi adalah pernyataan pemulihan nama baik Pimpinan dan Anggota DPRD di
hadapan Rapat Paripurna, karena tidak terbukti melanggar Peraturan Tata Tertib, Kode Etik,
Sumpah dan Janji.
14. Hadiah adalah pemberian barang, uang, dan atau sesuatu lainnya yang diberikan oleh
Pemerintah Daerah, perseorangan, kelompok, organisasi, badan swasta, dan instansi lainnya,
kepada Pimpinan dan Anggota DPRD.
15. Kekayaan adalah harta benda bergerak maupun tidak bergerak yang dimiliki oleh Pimpinan
dan atau Anggota DPRD.
16. Imbalan adalah pemberian kepada Pimpinan dan atau Anggota DPRD karena pelayanan dan
jasanya.
17. Pemanggilan secara patut adalah yang disampaikan tiga (3) hari sebelum pemeriksaan, dan
disampaikan kepada yang bersangkutan dengan tanda terima.
18. Penasihat adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk mendampingi pelapor maupun
Pimpinan dan atau Anggota DPRD yang dilaporkan dalam sidang Badan Kehormatan.
19. Organisasi adalah organisasi umum di luar organisasi politik.

BAB II
MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dan Tujuan


Pasal 2

(1) Kode Etik DPRD ini ditetapkan dengan maksud menjadi penuntun bagi Pimpinan dan
Anggota DPRD dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan wewenang serta kewajibannya
sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Kode Etik DPRD bertujuan untuk menjaga harkat, martabat, kehormatan, citra dan
kredibilitas DPRD serta membantu Pimpinan dan Anggota DPRD dalam melaksanakan
setiap tugas, fungsi, dan wewenangnya kepada bangsa, negara, masyarakat dan
konstituennya.

BAB III

14
KEPRIBADIAN DAN TANGGUNG JAWAB

Kepribadian
Pasal 3

Pimpinan dan Anggota DPRD wajib bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berjiwa Pancasila, taat
kepada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan peraturan perundang-
undangan, berintegritas yang tinggi, dengan senantiasa menegakkan kejujuran, kebenaran dan
keadilan, menjunjung tinggi demokrasi dan hak asasi manusia, mengemban amanat penderitaan
rakyat, mematuhi Peraturan Tata Tertib DPRD, menunjukkan profesionalisme sebagai Anggota, dan
selalu berupaya meningkatkan kualitas dan kinerjanya.

Tanggung Jawab
Pasal 4

(1) Pimpinan dan Anggota DPRD bertanggung jawab mengemban amanat penderitaan rakyat,
melaksanakan tugasnya secara jujur, adil dan transparan, mematuhi hukum, menghormati
keberadaan lembaga legislatif, mempergunakan kekuasaan dan wewenang yang diberikan
kepadanya demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat, serta mempertahankan kedaulatan
bangsa dan negara.
(2) Pimpinan dan Anggota DPRD bertanggung jawab menyampaikan dan memperjuangkan
aspirasi rakyat kepada Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat, lembaga atau pihak yang terkait
secara adil tanpa memandang suku, agama, ras, golongan, dan gender.

BAB IV
MEKANISME PENYAMPAIAN PERNYATAAN

Pasal 5

(1) Pernyataan yang disampaikan dalam rapat, konsultasi, atau pertemuan berikut penyampaian
hasilnya adalah pernyataan dalam kapasitas sebagai Anggota, Pimpinan Alat Kelengkapan, atau
Pimpinan DPRD.

(2) Pernyataan di luar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dianggap sebagai pernyataan
pribadi.

(3) Pimpinan dan Anggota DPRD yang tidak menghadiri suatu rapat, konsultasi, atau pertemuan
tidak diperkenankan menyampaikan hasil rapat, konsultasi, atau pertemuan tersebut,
sebagaimana diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD, dengan mengatasnamakan forum
tersebut kepada publik.

BAB V
KETENTUAN DALAM RAPAT
Pasal 6

(1) Pimpinan dan Anggota DPRD harus mengutamakan tugasnya dengan cara menghadiri secara
fisik setiap rapat yang menjadi kewajibannya.

(2) Ketidakhadiran Pimpinan dan Anggota DPRD secara fisik sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut
dalam rapat sejenis, tanpa ijin dari Pimpinan Fraksi, merupakan suatu pelanggaran kode etik.

15
Pasal 7

(1) Selama rapat berlangsung setiap Pimpinan dan Anggota DPRD bersikap sopan santun,
bersungguh-sungguh menjaga ketertiban, dan memenuhi segala tata cara rapat sebagaimana
diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD.
(2) Terhadap Pimpinan dan Anggota DPRD apabila hendak meninggalkan rapat/paripurna,
harus mendapatkan ijin dari Pimpinan Sidang. (Akan disesuaikan dengan daerah masing-
masing).

Pasal 8

Dalam melaksanakan tugasnya, Pimpinan dan Anggota DPRD berpakaian sesuai dengan Peraturan
dan Tata Tertib DPRD.

BAB VI
PERJALANAN DINAS

Pasal 9

(1) Pimpinan dan Anggota DPRD dapat melakukan perjalanan dinas di dalam daerah, atau ke luar
daerah maupun keluar negeri dengan biaya APBD sebagaimana diatur dalam peraturan
perundang-undangan.
(2) Pimpinan dan Anggota DPRD tidak diperkenankan menggunakan fasilitas perjalanan dinas
untuk kepentingan di luar tugas DPRD.
(3) Pimpinan dan Anggota DPRD wajib mengikuti semua kegiatan yang diagendakan dalam
perjalanan dinas.
(4) Pimpinan dan Anggota DPRD tidak dapat membawa keluarga dalam suatu perjalanan dinas,
kecuali dimungkinkan oleh peraturan perundang-undangan atau atas biaya sendiri.
(5) Dalam hal perjalanan dinas atas biaya pengundang, Anggota DPRD yang akan menghadiri
undangan harus mendapat izin tertulis dari Pimpinan DPRD.
(6) Pimpinan dan Anggota DPRD yang melaksanakan perjalanan dinas ke luar negeri harus
memperoleh izin tertulis dari Gubernur atas usul Pimpinan DPRD.

BAB VII
KEKAYAAN, IMBALAN, DAN PEMBERIAN HADIAH

Pasal 10

Pimpinan dan Anggota DPRD wajib melaporkan kekayaan kepada pihak terkait secara jujur dan
benar, sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 11
Pimpinan dan Anggota DPRD dilarang menerima imbalan atau hadiah dari pihak lain, sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB VIII
KONFLIK KEPENTINGAN DAN PERANGKAPAN JABATAN

Konflik Kepentingan
Pasal 12

16
(1) Sebelum mengemukakan pendapatnya dalam pembahasan suatu permasalahan tertentu,
Pimpinan dan Anggota DPRD harus menyatakan di hadapan seluruh peserta rapat, apabila ada
suatu kepentingan pribadinya dalam permasalahan yang dibahas di luar kedudukannya sebagai
Anggota DPRD.

(2) Setiap Pimpinan dan Anggota DPRD mempunyai hak suara pada setiap pengambilan
keputusan, kecuali apabila rapat memutuskan lain karena yang bersangkutan mempunyai
konflik kepentingan dalam permasalahan yang sedang dibahas.

Pasal 13

Pimpinan dan Anggota DPRD dilarang menggunakan jabatannya untuk mempengaruhi semua proses
peradilan, untuk kepentingan diri pribadi dan/atau pihak lainnya.

Pasal 14
Pimpinan dan Anggota DPRD dilarang menggunakan jabatannya untuk mencari kemudahan dan
keuntungan pribadi, keluarga, sanak famili, dan pihak lain yang mempunyai usaha atau melakukan
penanaman modal dalam suatu bidang usaha.

Perangkapan Jabatan
Pasal 15

Pimpinan dan Anggota DPRD dilarang melakukan perangkapan jabatan sesuai peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

BAB IX
KERAHASIAAN

Pasal 16

Pimpinan dan Anggota DPRD wajib menjaga rahasia yang dipercayakan kepadanya, termasuk hasil
rapat yang dinyatakan sebagai rahasia sampai batas waktu yang telah ditentukan atau sampai masalah
tersebut sudah dinyatakan terbuka untuk umum.

BAB X
HUBUNGAN DENGAN MITRA KERJA DAN LEMBAGA DI LUAR DPRD

Hubungan dengan Mitra Kerja


Pasal 17

(1) Pimpinan dan Anggota DPRD bersikap adil dan profesional dalam melakukan hubungan dengan
mitra kerjanya.
(2) Pimpinan dan Anggota DPRD tidak diperkenankan melakukan hubungan dengan mitra kerjanya
dengan maksud meminta atau menerima imbalan atau hadiah untuk kepentingan pribadi.

Hubungan dengan Lembaga di Luar DPRD


Pasal 18

Pimpinan dan Anggota DPRD yang ikut serta dalam kegiatan organisasi di luar DPRD harus
mengutamakan tugasnya sebagai Anggota DPRD.

17
BAB XI
TUGAS DAN WEWENANG BADAN KEHORMATAN

Tugas
Pasal 19

Badan Kehormatan mempunyai tugas:


(1) Mengamati, mengevaluasi disiplin, etika, dan moral Pimpinan dan Anggota DPRD dalam
rangka menjaga harkat, martabat dan kehormatan sesuai dengan Kode Etik DPRD.
(2) Meneliti dugaan pelanggaran yang dilakukan Pimpinan dan Anggota DPRD terhadap Peraturan
Tata Tertib dan Kode Etik serta Sumpah dan Janji.
(3) Melakukan penyelidikan, verifikasi, dan klarifikasi atas pengaduan Pimpinan dan Anggota
DPRD dan/atau Masyarakat.
(4) Menyusun kesimpulan atas hasil penyelidikan, verifikasi, dan klarifikasi sebagaimana
dimaksud dalam ayat (3), baik berupa sanksi maupun rehabilitasi atas dugaan pelanggaran
Peraturan Tata Tertib, Kode Etik, Sumpah dan Janji.

Wewenang
Pasal 20

Dalam melaksanakan tugasnya, Badan Kehormatan mempunyai wewenang :


(1) Memanggil Pimpinan dan anggota yang diduga melakukan pelanggaran Peraturan Tata Tertib,
Kode Etik, Sumpah dan Janji, untuk memberikan penjelasan terhadap dugaan pelanggaran yang
dilakukan.
(2) Meminta keterangan pelapor, saksi, dan/atau pihak-pihak lain yang terkait, termasuk untuk
meminta dokumen atau alat bukti lain.
(3) Memberi rekomendasi sanksi atau rehabilitasi atas dugaan pelanggaran Peraturan Tata Tertib
DPRD, Kode Etik, Sumpah dan Janji, berdasarkan hasil penyelidikan, persidangan, kesimpulan
dan pengambilan keputusan yang disertai dengan berita acara penyelidikan dan persidangan.

BAB XII
SANKSI DAN REHABILITASI

Pasal 21

(1) Sanksi dan rehabilitasi, ditetapkan dan dilaksanakan oleh Rapat Paripurna DPRD.
(2) Sanksi dan Rehabilitasi dilaksanakan berdasarkan Peraturan Tata Tertib DPRD.

(Perlu dipikirkan juga mengenai jenis-jenis pelanggaran dan sangsinya)

BAB XIII
PERUBAHAN KODE ETIK

Pasal 22

(1) Usul perubahan Kode Etik DPRD dapat diajukan oleh sekurang-kurangnya 5 (lima) orang
Pimpinan dan Anggota DPRD dari fraksi yang berbeda.
(2) Usul perubahan yang berasal dari Pimpinan dan Anggota DPRD, sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), disampaikan secara tertulis kepada Pimpinan DPRD, dengan disertai daftar nama,
nomor Anggota, dan tanda tangan pengusul serta nama Fraksinya.

18
(3) Usul perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh Pimpinan DPRD dalam
Rapat Paripurna untuk diambil keputusan.
(4) Dalam hal usul perubahan disetujui, Rapat Paripurna membentuk dan menyerahkannya kepada
Panitia Khusus yang dibentuk untuk keperluan tersebut.
(5) Hasil pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disampaikan di dalam Rapat Paripurna
untuk diambil keputusan.

BAB XIV
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 24
Kode Etik ini mengikat Pimpinan dan Anggota DPRD dalam melaksanakan fungsi, tugas, dan
wewenangnya.

Pasal 25

Kode Etik ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

19