Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

Pendidikan memiliki peranan yang sangat strategis dalam membangun suatu


masyarakat bangsa. Melalui pendidikan suatu bangsa dapat mengembangkan
masyarakatnya menjadi masyarakat dan bangsa yang maju. Karena melalui pendidikan
akan dapat dikembangkan sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan
tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang ingin dikembangkanya. Hal ini terlihat dari
berbagai kenyataan, bahwa suatu masyarakat dan bangsa maju pasti memiliki suatu
sistem pendidikan yang baik. Kondisi ini dapat ditafsirkan dengan dua hal. Pertama,
pendidikan di negara maju baik karena pemerintahnya memiliki komitmen yang tinggi
terhadap pendidikan, Kedua bisa jadi karena pendidikan yang baik menghasilkan dan
mendorong suatu masyarakat dan bangsa menjadi maju. Kedua kemungkinan ini dapat
saja terjadi. Namun kemungkinan pertama didukung oleh banyak pengalaman negara
yang baru saja memasuki dalam kelompok negaran maju.

China merupakan Negara yang sering kita kenal sebagai Negara yang maju akan
pendidikannya. Seperti halnya telah disebutkan dalam sebuah hadits “ carilah ilmu
sampai negeri china”. Dalam beberapa tahun terakhir, Cina berhasil membuat prestasi
yang sangat mengagumkan, yaitu merubah kondisi sosial ekonomi masyarakatnya, yang
tadinya hanya sebagai negara berkembang, yang hanya mampu menyediakan kebutuhan
dasar masyarakatnya, kemudian berubah dan masuk ke tahap awal menjadi masyarakat
yang makmur. Perubahan yang dialami Cina merupakan perubahan yang sangat berarti.
Perkembangan ekonomi dan kemajuan yang dialami Cina sangat dikagumi dunia dan
dihormati oleh banyak kalangan.
Semua keberhasilan itu, tidak terlepas dari upaya yang dilakukan oleh para
pemimpin Cina dalam melakukan reformasi dalam berbagai aspek kehidupan di Cina,
terutama dalam dunia pendidikan. Mereka menyadari bahwa pendidikan telah memiliki
peran yang banyak dalam mencapai kesuksesan tersebut. Itu adalah hasil dari upaya
mereka yang tidak kenal lelah dalam membangun bangsa melalui aspek pendidikan.
Keyakinan mereka membangun bangsa melalui sektor pendidikan terlihat dari upaya
ekspansi yang berkelanjutan yang dilakukan sejak tahun 1980 sampai awal tahun 1990.
Selama periode ini, pendidikan Cina terus mengalami kemajuan secara cepat, dan
banyak inovasi yang historis selama dekade tersebut.
BAB I
PEMBAHASAN

A. Potret Sistem Pemerintahan

Republik Rakyat Cina juga disebut Republik Rakyat Tiongkok/RRT Adalah


sebuah negara komunis yang terdiri dari hampir seluruh wilayah kebudayaan, sejarah,
dan geografis yang dikenal sebagai Cina/Cina. Sejak didirikan pada 1949, RRC telah
dipimpin oleh Partai Komunis Cina (PKC). Sekalipun seringkali dilihat sebagai negara
komunis, kebanyakan ekonomi republik ini telah diswastakan sejak tiga dasawarsa yang
lalu. Walau bagaimanapun, pemerintah masih mengawasi ekonominya secara politik
terutama dengan perusahaan-perusahaan milik pemerintah dan sektor perbankan. Secara
politik, ia masih tetap menjadi pemerintahan satu partai.
RRC adalah negara dengan penduduk terbanyak di dunia, dengan populasi
melebihi 1,3 milyar jiwa, yang mayoritas merupakan bersuku bangsa Han. RRC juga
adalah negara terbesar di Asia Timur, dan ketiga terluas di dunia, setelah Rusia dan
Kanada. RRC berbatasan dengan 14 negara: Afganistan, Bhutan, Myanmar, India,
Kazakhstan, Kirgizia, Korea Utara, Laos, Mongolia, Nepal, Pakistan, Rusia, Tajikistan
dan Vietnam. Kepala negaranya dipimpin oleh seorang presiden.

B. Kondisi Demografi China


Letak geografis china
- Sebelah utara : Mongolia, Rusia, dan Kazakhtan
- Sebelah barat : Pakistan, Kirgnistan, dan Tadzikistan
- Barat daya : India, Bhutan, dan Nepal
- Selatan : Asia Tenggara
- Timur : Korea dan Jepang

C. Filsafat Pendidikan di China

Sikap orang Cina yang mementingkan pendidikan di dalam kehidupannya telah


melahirkan sebuah filofis orang Cina mengenai pendidikan dan pendidikan ini telah
lama menjaga kekuasaan Cina berapa lama, sampai pada masuknya bangsa asing ke
Cina yang akan merubah wajah sistem pendidikan kuno di Cina. Tradisi pemikiran
falsafah di Cina bermula sekitar abad ke-6 SM pada masa pemerintahan Dinasti Chou di
Utara. Kon Fu Tze, Lao Tze, Meng Tze dan Chuang Tze dianggap sebagai peletak dasar
dan pengasas falsafah Cina. Pemikiran mereka sangat berpengaruh dan membentuk ciri
ciri khusus yang membedakannya dari falsafah India dan Yunani.
Dalam upaya melihat bahwa teori dan kehidupan praktis tidak dapat dipisahkan,
kita perlu melihat bagaimana orang Cina memahami hubungan antara teori dan praktek
dalam suatu pemikiran yang bersifat falsafah. Kita juga perlu mengetahui bagaimana
teori dihubungkan dengan kehidupan nyata. Ada dua perkara yang harus dikaji dan
ditelusuri secara mendalam: Pertama, konsep umum tentang ‘kebenaran’ dalam falsafah
Cina; kedua, kemanusiaan yang dilaksanakan dalam kehidupan nyata dan kemanusiaan
yang diajarkan para filosof Cina dalam sistem falsafah mereka. Secara umum pula
pemahaman terhadap dua perkara tersebut ditafsirkan dari Konfusianisme, yaitu ajaran
falsafah yang dikembangkan dari pemikiran Konfusius. Konfusianisme sendiri
berkembang menjadi banyak aliran, di antaranya kemudian dikembangkan menjadi
semacam agama, dengan kaedah dasar dari ajaran etikanya yang dirujuk pada
pandangan atau ajaran Konfusius. Sebagai ajaran falsafah pula, Konfusianisme telah
berperan sebagai landasan falsafah pendidikan di Cina selama lebih kurang 2000 tahun
lamanya. Karena itu ia benar-benar diresapi oleh bangsa Cina secara turun temurun
selama ratusan generasi. Konfusisnismelah yang mengajarkan bahwa antara teori dan
praktek tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan individu atau masyarakat. Dalam
Konfusianisme, seperti dalam banyak falsafah Cina yang lain, pemikiran diarahkan
sebagai pemecahan masalah-masalah praktis . Karena itu falsafah Cina cenderung
menolak kemutalakan atau pandangan hitam putih secara berlebihan. Kebenaran harus
diuji dalam peristiwa-peristiwa aktual dalam panggung kehidupan, dan baru setelah
teruji ia dapat diakui sebagai kebenaran.

D. Sistem Pendidikan Cina

Ada sebuah hadist mengenai pendidikan, yang dalam bahasa Indonesia berbunyi:
“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Dalam hadist ini muncul satu negara, yaitu
negeri Cina. Dari hadist ini timbul pertanyaan, ada apa dengan pendidikan cina
sehingga dapat dijadikan panutan untuk negeri lain. Dalam buku Muhammad Said dan
Junimar Affan (1987: 119) yang berjudul Mendidik Dari Zaman ke Zaman dikatakan
bahwa: “Di negeri Cina pendidikan mendapat tempat yang penting sekali dalam
penghidupan”.
Dengan mendapatkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat,
membuat sistem pendidikan di Cina meningkat. Sikap orang Cina yang mementingkan
pendidikan di dalam kehidupannya tela melahirkan sebuah filofis orang Cina mengenai
pendidikan dan pendidikan ini telah lama menjaga kekuasaan Cina berapa lama, sampai
pada masuknya bangsa asing ke Cina yang akan merubah wajah sistem pendidikan kuno
di China. Tetapi, pada kesempatan ini tidak menjelaskan sampai masuknya bangsa asing
ke Cina.
Permulaan pendidikan Cina kuno mencapai puncak dimulai pada Dinasti Han,
dimana ajaran Kung fu Tse kembali lagi diangkat dan diterapkan dalam kehidupan
masyarakat Cina, yang sebelumnya ajaran ini dibrangus oleh penguasa sebelumnya.
Masyarakat Cina yang menganggap pendidikan sejalan dengan filsafat, bahkan menjadi
alat bagi filsafat, yang mengutamakan etika (Muhammad Said dan Junimar Affan, 1987:
119). Anggapan ini membuat pendidikan di Cina mengiringi kembalinya popularitas
aliran filsafat Kung Fu Tse di dalam masyarakat Cina.
Pada masa Dinasti Han banyak melahirkan para sarjana-sarjana yang kelak akan
memimpin negara dan telah membuat Dinasti Han sebagai salah satu dinasti yang besar
dalam sejarah Cina. Sistem pendidikan yang dikembangkan oleh bekas pengikut-
pengikut Kung Fu Tse ini telah melahirkan sebuah golongan yang terkenal dalam
sejarah Cina dan menentukan perjalanan kekuasaan Dinasti Han, yaitu Kaum Gentry.
Kaum gentry merupakan suatu komunitas orang-orang terpelajar yang telah
menempuh pendidikan dan sistem ujian Negara. Sistem pendidikan yang diterapkan
oleh pihak pemerintahan pada saat itu pada awalnya bertujuan untuk mencari calon-
calon pejabat pemerintahan yang beraliran konfusius. Jenjang pendidikan didasarkan
atas tingkatan daerah administrative pemerintahan. Setiap distrik memiliki sekolah-
sekolah, sampai pada akademi di ibukota kerajaan. Setiap jenjang tersebut diharuskan
melewati system ujian yang terbagi ke dalam tiga tahapan. System ujian ini dinilai
sangat berat, dikarebakan dari banyak orang yang ikut ujian ini hanya beberapa yang
berhasil lulus.
Kekaisaran dinasti han telah memberikan dasar-daar pada sistem ujian di daratan
Cina, walaupun selanjutnya ada perubahan dan penambahan. Sistem pendidikan ini juga
membawa perubahan pada stratifikasi masyarakat dan pola prestise dalam masyarakat.
System pendidikan yang menghasilkan lulusan-lulusan pelajar secara alami membentuk
kelas baru, yang pada akhirnya menggeser posisi bangsawan dalam stratifikasi
masyarakat Cina. Dan pola prestise dalam masyarakat, dimana masyarakat tidak lagi
sepenuhnya memandang orang dari kepemilikan harta atau keturunananya, tetapi
masyarakat memandang seseorang dari jenjang pendidikan yang telah ditempunya.
Disamping itu, kaum gentry ini diberikan penghormatan dan penghargaan berupa hak-
hak istimewa dari pemerintahan dan masyarakat.
Pada masa Dinasti Han sudah terdapat sebuah system pendidikan yang ketat. Para
pegikut-pengikut konfusius yang berada di beberapa daerah distrik mendirikan sekolah-
sekolah yang bersifat informal. Disebut sekolah informal dikarenakan proses belajar
mengajar yang dilakukan tidak terikat oleh tempat atau waktu. Dengan menggunakan
gambar yang tertera dalam pembelajaran dapat diketahui metode mengajar yang
digunakan para guru dalam menyampaikan bahan materi pelajaran. Jadi dari gambar
dan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa metode mengajar yang digunakan oleh
guru pada saat itu ialah metode ekspositori (ceramah).
Penyimpulan ini dikarenakan yang dilakukakan serupa dengan metode ekspositori,
dimana guru lebih aktif disini dalam mentransfer ilmu kepada para murid. Setelah
tahapan belajar mengajar, maka melangkah kepada tahapan evaluasi atau system ujian.
System ujian yang berlaku pada masa Dinasti Han merupakan suatu hal yang unik
dalam system pendidikan Cina. Pada masa itu sudah berkembang suatu system evaluasi
yang sangat kompleks.
Menurut Rochiati Wiriaatmadja, A. Wildan, dan Dadan Wildan (2003: 144 – 145)
mengatakan bahwa ujian ini dibagi ke dalam tiga tahap atau jenjang. Tiga tahap ujian
tersebut antara lain: Ujian tingkat pertama diadakan di beberapa ibukota prefektur
(kabupaten). Calon pegawai yang dapat melewati ujian tahap pertama ini diberi gelar
Hsui-Tsai, bila diartikan yaitu “bakat yang sedang berkembang”. Selanjutnya, ujian
tingkat dua yakni ujian tingkat provinsi untuk mencapai gelar Chu-Jen, yakni “orang
yang berhak mendapatkan pangkat”. Orang-orang yang berhak mengikuti tahapan ujian
ini yaitu orang-orang yang telah mendapatkan gelar Hsui-Tsai. Para peserta ujian tidak
langusng mengikuti ujian, tetapi mereka diharuskan mengikuti latihan di akademi
prefektur dalam rangka menghadapi persiapan ujian Chu Jen. Ujian provinsi ini
diadakan tiga tahun sekali. Mereka yang dapat lulus dari ujian ini dengan nilai tertinggi
akan mendapatkan tunjangan belajar. Pada tahap akhir yaitu ujian tahap tiga yang
diadakan di ibukota kerajaan. Ujian ini diadakan setiap tiga tahun sekali, dilaksanakan
setahun setelah ujian provinsi. Tahapan ujian bertujuan untuk mendapatkan gelar Chih
Shih, yakni “Sarjana naik pangkat”.
Ujian tersebut dilaksanakan di ruang dalam bangunan-bangunan yang sangat
panjang dan lurus. Bangunan panjang tersebut terdiri dari kamar-kamar kecil yang
disekat (dapat dilihat dalam lampiran 2 & 3). Calon pegawai tersebut tinggal di dalam
kamar selama sehari untuk ujian tahap pertama, tiga hari untuk ujian tahap kedua, dan
lebih lama lagi untuk ujian tahapan ketiga. Output-output yang dikeluarkan dari system
pendidikan ini disalurkan menjadi pegawai-pegawai pemerintahan dan mereka yang
gagal dalam mengikuti ujian ini akan menjadi tenaga-tenaga pengajar di daerah asalnya.

E. Kebijakan Pemerintah
Pendidikan memiliki peranan yang sangat strategis dalam membangun suatu
masyarakat bangsa. Melalui pendidikan suatu bangsa dapat mengembangkan
masyarakatnya menjadi masyarakat dan bangsa yang maju. Karena melalui pendidikan
akan dapat dikembangkan sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan
tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang ingin dikembangkanya. Semua keberhasilan
itu, tidak terlepas dari upaya yang dilakukan oleh para pemimpin Cina dalam
melakukan reformasi dalam berbagai aspek kehidupan di Cina, terutama dalam dunia
pendidikan.
Cina, dalam beberapa tahun terakhir, berhasil membuat prestasi yang sangat
mengagumkan, yaitu merubah kondisi sosial ekonomi masyarakatnya, yang tadinya
hanya sebagai negara berkembang, yang hanya mampu menyediakan kebutuhan dasar
masyarakatnya, kemudian berubah dan masuk ke tahap awal menjadi masyarakat yang
makmur. Perubahan yang dialami Cina merupakan perubahan yang sangat berarti.
Perkembangan ekonomi dan kemajuan yang dialami Cina sangat dikagumi dunia dan
dihormati oleh banyak kalangan. Keyakinan mereka membangun bangsa melalui sektor
pendidikan terlihat dari upaya ekspansi yang berkelanjutan yang dilakukan sejak tahun
1980 sampai awal tahun 1990. Selama periode ini, pendidikan terus mengalami
kemajuan secara cepat, dan banyak inovasi yang historis selama dekade tersebut.
Kemajuan dunia pendidikan yang terjadi di akhir 90-an dan awal 2000 di Cina
tidak lepas dari peran dari seorang birokrat yang memiliki visi dan komitmen yang kuat
terhadap dunia pendidikan. Li Lanqing, yang pada tahun 1993 di angkat menjadi Wakil
Perdana Menteri Cina, sekaligus ditugasi untuk menangani masalah pendidikan di
negeri tirai bambu tersebut, adalah orang yang dianggap berhasil melaksanakan
tugasnya mendorong kemajuan Cina melalui reformasi dalam bidang pendidikan. Li
Lanqing sebenarnya bukan tokoh yang berlatar belakang bidang pendidikan.
Pada tahun 1993, tercatat, guru memiliki gaji yang rendah dan disadari, kondisi
ini akan berpengaruh terhadap kinerja dan profesionalitas guru dalam melaksanakan
tugasnya. Bagaimana dapat menuntut guru melaksanakan tugas dengan optimal, kalau
dirinya menghadapi masalah dengan kesejahteraan diri dan keluarganya. Pada tahun
1989, dana dari negara untuk pendidikan hanya 9,4 milyar yuan. Dengan dana sebesar
itu, tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mengembangkan dunia pendidikan, yang
harus melayani masyarakat lebih dari satu milyar orang. Li Lanqing memandang bahwa
yang bertanggung jawab menyediakan pendidikan yang layak adalah pemerintah.
Pendidikan dasar, khususnya untuk wajib belajar, sangat tergantung pada alokasi dana
dari pemerintah. Demikian juga dengan pembiayaan pengembangan infrastruktur untuk
pendidikan keterampilan dan pendidikan tinggi, sangat bergantung pada dukungan dana
dari pemerintah. Hanya permasalahannya adalah semua itu harus diatur dengan undang-
undang.
Beberapa inovasi lain telah digulirkan Cina adalah, diberlakukannya wajib
pendidikan dasar 9 tahun dan penghapusan buta huruf bagi anak muda dan setengah
baya. Inovasi ini berhasil meningkatkan tingkat pendidikan nasional secara berarti.
Pendidikan tinggi dikembangkan secara cepat dengan beberapa perubahan awal,
diantaranya pembelajaran dikembangkan dengan menekankan pada peningkatan
kualitas siswa, seperti mengembangkan karakter siswa sebagaimana penguasaan
pengetahuan (kognisi). Penggunaan teknologi informasi dalam pendidikan juga telah
berhasil mendorong mempercepat moderinisasi. Kompensasi, kesejahteraan dan status
sosial guru telah banyak dikembangkan, dan membuat profesi tersebut mendapat respek
dan penghormatan dari masyarakat. Pendidikan swasta berkembang dengan cepat. Hal
ini ditandai dengan banyak jenis sekolah dibangun. Pertukaran pendidikan dan kerja
sama dengan negara lain secara aktif dan luas telah memperkuat daya saing/kompetisi
di dunia.
Pada dekade terakhir, sejumlah permasalahan besar telah terpecahkan. Total
dana pendidikan nasional telah mencapai rata-rata 20% per tahun, dan mencapai 548
milyar yuan pada tahun 2002, lima kali lebih banyak dibanding tahun 1993. Di akhir
abad 20, wajib pendidikan dasar 9 tahun telah mendekati universal dan remaja dan
orang-orang setengah baya telah bebas dari buta huruf, sementara pendidikan menengah
telah meningkat dengan sangat pesat. Sejak tahun 1999, institusi pendidikan tinggi telah
mengerahkan banyak siswa setiap tahunnya hingga tahun 2002. Terdapat 16 juta siswa
di jenis pendidikan tinggi yang berbeda. Berdasarkan statistik UNESCO terakhir skala
pendidikan tinggi Cina adalah terbesar di dunia. Selama sepuluh tahun perubahan dan
pengembangan secara keseluruhan telah menciptakan suatu pemandangan pendidikan
baru di Cina.

F. Kurikulum Pendidikan
Untuk mengembangkan pendidikan karakter tersebut, maka Li Lanqing
melakukan reformasi pada kurikulum, buku teks, dan sistem evaluasi dan testing.
Kurikulum sekolah dikembangkan sesuai dengan potensi yang dimiliki anak; kurikulum
diarahkan untuk memfasilitasi semua potensi yang dimiliki anak agar berkembang
secara optimal, melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada siswa melalui
diskusi, mendorong pada pengembangan berfikir inovatif, dan pembelajaran yang
berkualitas.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Kualitas sistem pendidikan sangat berpengaruh terhadap perkembangan suatu
masyarakat dan bangsa. Hal ini telah terbukti dari apa yang dilakukan oleh Cina.
Reformasi pendidikan di Cina dinilai sangat berhasil karena membawa perubahan besar
bagi kehidupan bangsa dan masyarakat Cina. Keberhasilan-keberhasilan ini dicapai
memang pada dasarnya tidak lepas dari dukungan pemerintah.
Cina, dalam beberapa tahun terakhir, berhasil membuat prestasi yang sangat
mengagumkan, yaitu merubah kondisi sosial ekonomi masyarakatnya, yang tadinya
hanya sebagai negara berkembang, yang hanya mampu menyediakan kebutuhan dasar
masyarakatnya, kemudian berubah dan masuk ke tahap awal menjadi masyarakat yang
makmur. Perubahan yang dialami Cina merupakan perubahan yang sangat berarti.
Perkembangan ekonomi dan kemajuan yang dialami Cina sangat dikagumi dunia dan
dihormati oleh banyak kalangan. Keyakinan mereka membangun bangsa melalui sektor
pendidikan terlihat dari upaya ekspansi yang berkelanjutan yang dilakukan sejak tahun
1980 sampai awal tahun 1990. Selama periode ini, pendidikan terus mengalami
kemajuan secara cepat, dan banyak inovasi yang historis selama dekade tersebut.
Pada masa Dinasti Han sudah terdapat sebuah system pendidikan yang ketat. Para
pegikut-pengikut konfusius yang berada di beberapa daerah distrik mendirikan sekolah-
sekolah yang bersifat informal. Disebut sekolah informal dikarenakan proses belajar
mengajar yang dilakukan tidak terikat oleh tempat atau waktu. Dengan menggunakan
gambar yang tertera dalam pembelajaran dapat diketahui metode mengajar yang
digunakan para guru dalam menyampaikan bahan materi pelajaran. Jadi dari gambar
dan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa metode mengajar yang digunakan oleh
guru pada saat itu ialah metode ekspositori (ceramah).
Penyimpulan ini dikarenakan yang dilakukakan serupa dengan metode ekspositori,
dimana guru lebih aktif disini dalam mentransfer ilmu kepada para murid. Setelah
tahapan belajar mengajar, maka melangkah kepada tahapan evaluasi atau system ujian.
System ujian yang berlaku pada masa Dinasti Han merupakan suatu hal yang unik
dalam system pendidikan Cina. Pada masa itu sudah berkembang suatu system evaluasi
yang sangat kompleks.
B. SARAN
- Pemerintah Indonesia diharapkan bersungguh-sungguh dalam meningkatkan
sistem pendidikan di Indonesia agar kehidupan rakyat Indonesia menjadi lebih
baik.
- Pemerintah Indonesia diharapkan mengkaji ulang sistem pendidikan di
Indonesia, jika terdapat kesalahan atau kekurangan dapat mencontohkan sistem
pendidikan di Cina
-