Anda di halaman 1dari 48

BAB I11

NILAI –NILAI PENDIDIKAN DALAM SURAH LUQMAN

A. Kedudukan Surah Luqman Ayat 1 - 34 Dalam Al Quran

Surah Luqman (Arab: ‫ "ﻠﻗﻣﺎﻦ‬adalah surah ke 31 dalam Al Qur

an terdiri dari atas 34 ayat dan termasuk golongan surah-surah

Makkiyah. Surah ini diturunkan setelah surah As-Saffat.[1] Surah

Luqman adalah surah yang turun sebelum Nabi Muhammad SWT

berhijrah ke Madinah.[2] Nama Luqman diabadikan sebagai nama

salah satu surah dalam Al Quran.[3] Penamaan surah ini dengan surah

Luqman sangat wajar, karena nama dan nasihat beliau sangat

menyentuh.[4] Dan memuat nasihat Luqman kepada putranya nasihat

itu yang tertuang dalam ayat 13-19.[5]

Penamaan surah Luqman diambil dari kisah tentang Luqman

yang diceritakan dalam surah ini tentang bagaimana ia mendidik

anaknya.[6] Isinya banyak menekankan pada masalah-masalah akidah

dan dasar keimanan, seperti keesaan, kenabian, hari kebangkitan dan

tempat kembali serta perintah untuk berdakwa dengan kata-kata yang


bijak.[7] Surah Luqman termasuk di dalam kumpulan surah-surah

Makkiyyah kecuali ayat 27, 28 dan 29 ayat Madaniyyah. Manakala

ayat 34 turun selepas surah al-Saffa.

1. Asbabun Nuzul Surah Luqman

Surah ini diturunkan disebabkan bani Quraish senantiasa

menanyakan kepada Rasulullah SAW tentang kisah Luqman

bersama anaknya dan tentang berbuat baik kepada kedua ibu

bapak. Ayat 13-19 menceritakan secara khusus tentang pendidikan,

intisati kandungan ayat tersebut seperti berikut :

a. Ayat 12 menjelaskan tentang peribadi Luqman

b. Ayat 13 menceritakan cara Luqman memberi pendidikan kepada

anak-anak tentang bahaya syirik. Beliau berkata : Hai anakku,

Janganlah kamu mempersekutukan Allah SWT, sesungguhnya

mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang

besar.
c. Ayat 14 memerintahkan setiap orang anak mesti berbuat baik

kepada kedua orang tua.

d. Ayat 15 menjelaskan dengan lebih lanjut tentang ketaatan

kepada orang tua yang harus dilandaskan oleh ketaatan kepada

Allah SWT dan kewajiban mengikuti jalan orang-orang yang

senantiasa bertaubat kepada Allah SWT

e. Ayat 16 Luqman mengingatkan kepada anak-anaknya bahwa

Allah SWT akan membalas semua perbuatan manusia.

f. Ayat 17 Luqman menyuruh anak-anaknya menegakkan solat,

mengerjakan amal ma`ruf nahi mungkar dan bersabar di atas

segala musibah yang menimpa diri.

g. Ayat 18 Luqman memperingati anak-anaknya supaya tidak

bersikap angkuh dan sombong iaitu memalingkan muka dari

manusia karena sombong dan janganlah berjalan di muka bumi

dengan angkuh.
h. Ayat 19 bersikap pertengahan atau sederhana dalam segala hal

dan berakhlak yang baik seperti sederhana dalam berjalan dan

lunakkanlah suara.[8]

B. Apa Konsep Pendidikan Dalam Islam Menurut Surah Luqman

Sebagaimana kita ketahui pendidikan merupakan suatu yang

sangat penting bagi manusia. Dan Islam menempatkan pendidikan

sebagai sesuatu yang esensial dalam kehidupan umat manusia.[9] Bila

melihat dalam Al Quran banyak ide atau gagasan kegiatan atau usaha

pendidikan, antara lain dapat dilihat dalam surah Luqman ayat 12-19,

Al Alaq ayat 1-5 dan sebagainya.[10] Dalam Al Quran surah Luqman

tidak menjelaskan banyak tentang kehidupan Luqman hanya

menjelaskan tentang wasiatnya kepada putranya.[11]

Adapun pokok-pokok pendidikan dalam surah Luqman ayat

12-19 , dalam garis besarnya terdiri dari lima aspek yaitu pendidikan

Aqidah, pendidikan berbakti ( ubudiyah), pendidikan kemasyarakatan

( sosial ), pendidikan mental dan pendidikan akhlak ( budi pekerti ).

[12] Isi nasihat itu adalah pesan-pesan pendidikan yang seharusnya


dicontoh oleh setiap orang tua muslim yang memikul tanggung jawab

pendidikan terhadap anak.[13] Ini adalah sebagai isyarat dari Allah

SWT supaya setiap ibu dan bapak dapat melaksanakan pula terhadap

anak-anak mereka sebagaimana yang telah dilakukan oleh Luqman.

[14] Dan pada ayat 13 sampai 19 terdapat nasihat-nasihat Luqman

kepada anaknya[15] yang sarat dengan nilai-nilai sebagai konsep

pendidikan agama yang harus diterapkan oleh orang tua kepada anak-

anaknya.

Sebagaimana Allah SWT telah menjadikan Luqman dan

anaknya sebagai contoh proses pendidikan agama dari orang tua

kepada anaknya dan contoh tersebut dikemukakan oleh Allah SWT

kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada segenap

umatnya.[16]

1. Pendidikan Aqidah

   


  
   
    
Artinya : Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya,

di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku,


janganlah kamu mempersekutukan Allah SWT,

Sesungguhnya mempersekutukan (Allah SWT) adalah

benar-benar kezaliman yang besar".13-14)[17]

a. Pengertian Pendidikan Aqidah

Aqidah artinya ketetapan yang tidak ada keraguan pada

orang yang mengambil keputusan, sedangkan pengertian aqidah

dalan agama maksudnya berkaitan dengan keyakinan, bukan

perbuatan seperti aqidah dengan adanya Allah SWT dan

diutusnya para rasul,[18] Pendidikan aqidah terdiri dari

pengesaan Allah SWT, tidak menyekutukan-Nya, dan

mensyukuri segala nikmat-Nya. Larangan menyekutukan Allah

SWT termuat dalam ayat 13 surat Luqman tersebut.[19]

Kewajiban orang tua muslim adalah memelihara akidah

mereka, jangan sampai dikotori oleh kepercayaan atau

keyakinan yang salah.” Janganlah menyekutuhkan Allah SWT

” Janganlah mengangkat Tuhan selain Allah SWT.[20] Karena


syirik adalah menyembah selain Allah SWT, padahal tidak ada

sesuatu pun yang boleh disembah selain Allah SWT.[21]

Al Quran mengilustrasikan pendidikan keimanan dalam

keluarga itu melalui kisah Luqman ketika mengajari anaknya,

Luqman tokoh sufistik yang memproritaskan pendidikan tauhid

kepada anaknya.[22]

Ajaran tauhid yang dalam surah Luqman adalah ‫ﻻﺗﺸﺭﻚ ﺒﺎ‬

‫ ﷲ‬setelah itu kemudian diikuti dengan pengajaran-pengajaran

yang lain seperti akhlak yang dapat dipahami dari firman Allah

SWT dalam QS Luqman 18-19. [23]

   


    
    
   
   
  
    
 
﴾ ١٩-١٧ ‫﴿ﻠﻘﻤﺎﻦ‬ 
Artinya : Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari
manusia (karena sombong) dan janganlah kamu
berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya
Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri.

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah


suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah
suara keledai.( Q.S Luqman; 18-19) [24]

Pendidikan Aqidah ini bertujuan untuk liberasi

(membebaskan) manusia dari ketergantungan kepada selain

Allah SWT.[25] Setelah itu, baru orang tua dituntut untuk

menstransformasikan pendidikan akhlak kepada anak-

anaknya[26]. Menurut penjelasan al Qurtubi larangan berbuat

syirik ini sekaligus diikuti dengan alasannya, yaitu syirik

termasuk dosa yang amat besar.

Larangan ini dikuatkan melalui dua pernyataan, pertama

dimulai dengan melarang untuk syirik itu sendiri. Kedua,

menjelaskan bahaya syirik termasuk dosa besar. Karena zalim

menurut al Maraghi karena menempatkan sesuatu tidak

proporsional (yaitu menyetarakan sesuatu dengan Allah SWT )

Bertolak pada uraian di atas, maka jelas akan bahwa

permasalahan tauhid yang diprofilkan melalui pesan Luqman


kepada anaknya, dan sekaligus memerintahkannya. Pesan mulia

orang tua kepada anak ini terjadi karena sikap tulus orang tua

yang bijaksana terhadap nasib masa depan anaknya. Inilah

pesan secara emosional yang sangat menonjol sehingga perlu

dilakukan.[27]

Persoalan jangan menyerikatkan Allah SWT ( Syirik) itu,

yang dalam ajaran Islam masuk dalam bidang tauhid, aqidah,

adalah merupakan landasan pokok dalam kehidupan manusia.

Tidak heran apabila soal itu diletakkan pada nomor satu dalam

urutan rangkaian nasihat itu. Syirik adalah penyakit berat dan

sangat berbahaya.”[28] Syirik disebut kezhaliman yang besar

karena seorang meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, [29]

Seseorang tidak pantas melakukan ibadah kepada selain Allah

SWT Dia harus menyerahkan dirinya dan semua perbuatannya

hanya untuk Allah SWT. Seseorang harus hati-hati dari sifat

riya’ dalam amalnya.

Ibnu Rajab berkata :


“riya’ murni hampir tidak terjadi pada seorang mukmin
dalam salat dan puasa. Akan tetapi riya’ terkadang terjadi
pada shadaqah wajib, haji, dan perbuatan-perbuatan yang
tampak. Ikhlas dalam perbuatan perbuatan yang sangat
berat. Perbuatan riya’ akan menghancurkan pahala amal
dan pelakunya berhak mendapat murka dan siksa Allah
SWT .”[30]

Setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia tidak

karena Allah SWT semata maka termasuk dari syirik dan akan

dikembalikan kepada pelakunya. Seorang mukmin tidak akan

berpaling kecuali kepada Allah SWT semata-mata. Orang

mukmin tidak boleh mengharap keberkahan dari kuburan,

meminyaki makam para wali, dan berdoa pada mereka selain

Allah SWT. Orang mukmin tidak boleh menyembelih selain

karena Allah SWT. Dia tidak boleh berbuat apapun yang

tampak maupun yang tidak, kecuali hanya untuk Allah SWT.

Ikhlas untuk Allah SWT adalah ruh segala ketaatan, kunci

agar segala kebaikan diterima di sisi-Nya serta pintu bagi

pertolongan dan taufiq Tuhan semesta alam. Sesuai dengan kadar

niat, keikhlasan dan kesungguhan terhadap Allah SWT dan

dalam mengingatkan berbagai kebaikan, sesuai kadar itu pula


pertolongan Allah SWT datang kepada seorang hambanya yang

beriman[31].

Arti ikhlas dalam soal tauhid ialah membersihkan diri dari

segala rupa syirik dalam hal menyembah Allah SWT. Tempat

ikhlas itu ialah di dalam hati. Maka perkataan berikhlas dalam

pembicaraan tauhid adalah ringkas dan pendek, tetapi

kandungannya adalah luas dan dalam[32]. Pendidikan keimanan

dalam perspektif Islam mestinya menjadi pendidikan prioritas

diutamakan dalam keluarga, Kenapa demikian? Pendidikan Islam

bertujuan untuk menjadikan manusia sebagai abid-Nya yang

beriman dan bertakwa kepada-Nya. Rukun iman dalam

perspektif Islam juga terkait bagaimana manusia mesti

menghambakan dirinya kepada Allah SWT. Oleh karena itu,

Pendidikan yang utama dalam keluarga adalah bagaimana orang

tua memperkenalkan Tuhan, Aqidah Islamiah kepada anaknya.

2. Pendidikan Berbakti ( Ubudiyah )

a. Birrul walidain
 
 
  
  
   
 
  
   
    
  
 
 
  
  
     

  
  
   
  
  
  
  
    
    
‫ ־‬: ‫ ﴿ ﻠﻘﻤﺎﻦ‬
﴾ ١٦١٤

Artinya: Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik)


kepada dua orang ibu - bapanya; ibunya Telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua
tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang
ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.
Dan jika keduanya memaksamu untuk
mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu
mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di
dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang
kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah
kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang
Telah kamu kerjakan. ( Q.S . Luqman : 14-16 )[33]

Salah satu ajaran Islam yang termasuk dalam bidang

kebaktian dan akhlak, yang diperintahkan kepada manusia

melaksanakannya, ialah berbuat baik dengan ibu dan bapak,

birrul walidain, kewajiban itu dirangkaikan dan disenafaskan

dengan perintah menyembah Allah SWT dan diletakkan

tempatnya pada nomor dua sesudah berbakti (ta’abbudi )

kepada Allah SWT pencipta alam semesta ini.[34] Wasiat bagi

anak untuk berbakti kepada kedua orangtuanya muncul

berulang-ulang dalam wasiat Rasulullah. Namun, wasiat buat

orang tua tentang anaknya sangat sedikit.[35]

Dalam konteks surah Luqman ayat 14, Allah SWT

menghendaki agar sang anak berbakti kepada kedua orang tua

mereka dan bersifat lemah lembut kepada keduanya, itu pun

masih jauh dari cukup bila dibandingkan dengan kepayahan dan


kelelahan orang tua dalam mengandung, membesarkan dan

mendidik sang anak hingga beranjak dewasa. Apakah

kandungan ayat di atas merupakan nasihat Luqman secara

langsung atau tidak?. Yang jelas ayat di atas menyatakan : Dan

kami wasiatkan, yakni berpesan dengan amat kokoh kepada

semua manusia.[36]

Semua manusia yang hidup di dunia ini berhutang budi

kepada orang tua. Dan kami perintahkan kepada manusia

( berbuat baik) kepada ke dua orang tua ibu bapak.[37] Oleh

karena itu anak berkewajiban menghormati dan menjalin

hubungan baik dengan ibu dan bapak.[38]

b. Mendirikan Salat

Firman Allah SWT

﴿١٧:‫… ﴾ ﻠﻘﻤﺎﻦ‬. 

Artinya : Hai anakku dirikan Salat... ( Q. S Luqman : 17 ) [39]

1) Makna Salat
Salat secara bahasa adalah ad-dua ( doa ). Secara syar’i salat

adalah perkataan dan perbuatan tertentu yang diawali dengan

takbir dan diakhiri salam.[40] Banyak sisi pendidikan dari

ayat di atas, yakni kerjakanlah salat dengan sempurna sesuai

dengan cara yang diridhai.[41] Tunaikan sembahyang dengan

cara yang bisa mendapatkan ridha Allah SWT. Sembahyang

yang diridhai oleh Allah SWT akan mampu mencegah kita

melakukan perbuatan keji dan mungkar.[42] Sementara itu

dalam Tafsir Muqatil bin Sulaiman mengartikan ayat di atas

dengan dimensi bittauhid[43] menurut pemahaman penulis

dengan tauhid.

Sesungguhnya, semua syariat langit menetapkan kewajiban

shalat sejak awal mula rasul dan nabi.[44] Islam memberikan

perhatian yang sangat besar terhadap masalah salat dan

memerintahkannya agar pemeluknya sungguh-sungguh

mendirikannya. Sebaliknya Islam memberikan peringatan

keras kepada mereka yang meninggalkan salat.[45]


Ruang lingkup syari’ah meliputi interaksi vertikal

seorang hamba dengan Allah SWT yang direalisasikan

melalui ibadah, dan interaksi horizontal yang dilakukan

dengan sesama manusia (muamalah). Dalam hal ibadah ini

Luqman mengajarkan salat kepada anaknya, lalu

diperintahkan untuk membiasakan sikap baik terhadap

keluarga terdekat.[46]

Dari uraian ini dapat dipahamkan, bahwa setelah

seseorang anak mempunyai landasan yang kuat dalam

kehidupan, maka Rasulullah mewajibkan kepada orang tua

untuk menyuruh anaknya mengerjakan salat apabila anak

mereka sudah besar, sebab salat mendekatkan diri (taqarrub )

kepada Tuhan pun dia dapat mencegah orang untuk

melakukan sebuah kejahatan.[47]

Hal ini dipertegas dalam hadits, menyatakan

‫ ﻤﺮﻭﺍﺍﻟﺼﺒﻰ ﺒﺎﻠﺼﻼﺓ‬: ‫ ﻘﺎﻞ ﻧﺒﻰ ﺹﻢ‬:‫ﻋﻦ ﺴﺒﺭﺓ ﺑﻦ ﻣﻌﺒﺪ ﺍﻠﺠﻬﻨﻲ ﻘﺎﻞ‬

‫ﺍﺬﺍ ﺒﻠﻎ ﺴﺑﻊ ﺴﻨﻴﻦ ﻮﺍﺫ ﺍﺒﻠﻎ ﻋﺷﺭ ﺳﻧﻴﻦ ﻔﺍﺿﺮﺒﻮﻩ ﻋﻠﻴﻬﺎ‬
﴿ 48] ﴾ ٤٩٤ ‫]ﺮﻮﺍﻩ ﺍﺒﻮ ﺪﺍﻭ ﺪ ﺍﻠﺣﺪ ﻳﺚ׃‬

Artinya : Dari Sabrah bin Ma`had Al Juhani RA dia berkata :


Berkata nabi Muhammad SAW ” Perintahkanlah
anak-anakmu untuk mengerjakan shalat apabila
telah berumur 7 tahun, dan apabila telah berumur
10 tahun, maka pukullah dia karena
meninggalkannya” ( HR Abu Daud no 494 ).[49]

Mengapa kita dituntut untuk memerintahkan anak yang

masih kecil untuk melakukan shalat?. Maksudnya, agar anak

itu terbiasa, sehingga ketika kelak sudah baligh, shalat itu

menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan.[50]

Usaha untuk membina dan membimbing rumah tangga

haruslah ditingkatkan hubungan secara kontinu antara suami

dengan istri serta. Umpama selalu makan bersama, salat

berjamaah di rumah, saling duduk bersama sambil relex dan

minum-minum teh. Di mana banyak kesempatan terbuka

untuk memberikan bimbingan dan pengarahan secara tidak

berlangsung tapi, kalau antara suami dan istri. Anak dengan

istri, suami dengan anak, jarang-jarang bertemu di rumah

sebab masing-masing sibuk sendiri-sendiri, maka tidaklah


diherankan kalau terjadi : satu ngidul satu ngulon, satu ke

timur, satu ke barat, akhirnya terpaksa….gigit jari.[51]

3. Pendidikan Kemasyarakatan ( Sosial )

  


   
﴾ ١٧:‫ ﴿ﻠﻘﻤﺎﻦ‬

Artinya : Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan

cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar

( Luqman : 17 ) [52]

Allah SWT memerintahkan manusia agar taat dan mengikuti

perintah-Nya dan melarang mereka untuk durhaka, melakukan

kemaksiatan, atau melakukan hal-hal yang dilarang dan

diharamkan-Nya. [53]

a. Pengertian Pendidikan Kemasyarakatan

Yang dimaksud dengan pendidikan sosial adalah

mendidik anak sejak kecil agar terbiasa menjalankan perilaku

sosial yang utama, dasarnya kejiwaan yang mulia yang


bersumber pada akidah islamiah yang kekal dengan kesadaran

iman yang mendalam. Agar di tengah masyarakat nanti ia

mampu bergaul dan berperilaku sosial baik, memiliki

keseimbangan akal yang matang dan tindakan yang bijaksana.

[54]

Di antara dasar sosial terpenting dalam membentuk

perangai dan mendidik kehidupan sosial anak, adalah

membiasakan anak sejak kecil untuk melakukan pengawasan

dan kritik sosial yang dapat membangun pergaulan dengan

setiap individu, meneladani atau memberi teladan yang baik,

memberi nasihat kepada setiap individu yang tampaknya

menyimpang dan menyeleweng.[55]

Seorang muslim dimintakan supaya turut membangun

masyarakat dan dilarang memperbuat kerusakan-kerusakan.

Seandainya seorang tidak mampu memperbuat kebajikan, atau

tidak bisa turut membangun atau menjauhkan kejahatan, maka

paling kurang dimintakan dari padanya jangan turut


memperluas dan menyebarluaskan kejahatan, apalagi

mempeloporinya.

Islam mewajibkan kepada setiap muslim dan muslimah

untuk melakukan amar maruf, nahi mungkar, yaitu mengajak

semua manusia mengerjakan kebaikan dan mencegah

mengerjakan kejahatan. Islam juga sudah mengatur tentang tata

cara melakukan nahi mungkar itu. Dalam satu hadits yang

diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sa`id al Khudry Rasulullah

bersabda:

‫ ﻤﻦ ﺭﺃﻯ‬: ‫ﻋﻦ ﺃﺒﻰ ﺴﻌﻳﺪ ﺍﻟﺨﺪﺮﻯ ﺮﻀﻰ ﺍﷲ ﻋﻧﻪ ﻘﺎﻞ ﺴﻤﻌﺕ ﺭﺴﻮﻞ ﺍﷲ ﺹ ﻴﻗﻮﻞ‬
‫ﻤﻨﻜﻢ ﻤﻨﻜﺭﺍ ﻓﻠﻳﻐﻴﺭﻩ ﺑﻴﺪﻩ ﻔﺈﻥ ﻟﻡ ﻴﺴﺗﻄﻊ ﻔﺒﻟﺴﺎﻨﻪ ﻔﺎﺀﻦ ﻟﻡ ﻳﺴﺗﻃﻊ ﻔﺒﻘﻟﺑﻪ ﻮﺫﻟﻚ ﺃﻀﻌﻒ‬
56] ﴾ ٤٩ ‫]ﺍﻹﻴﻤﺎﻦ ﴿ ﺮﻮﺍﻩ ﻤﺴﻠﻢ ﺍﻠﺣﺪ ﻳﺚ׃‬

Artinya : Dari Abi Said Al Khudri r.a. telah berkata; Aku telah
mendengar Rasulullah saw bersada: “Barangsiapa
diantaramu melihat kemungkaran hendaklah ia
mengubahnya ( mencegah ) dengan tangannya
( kekuasaan) jika ia tidak sanggup, maka dengan
lidahnya (nasihat ), jika tidak sanggup juga, maka
dengan hatinya ( merasa tidak senang dan tidak
setuju, tinggalkan ! ) dan itu adalah selemah lemahnya
iman “ ( Diriwayatkan oleh Imam Muslim no 49 )
[57]
Sementara itu menurut imam Al Ghazali

“ Amar ma`ruf nahi mungkar itu adalah suatu perkara


yang sangat penting dalam agama, dan Allah SWT
memang telah mengutus para nabi sebagai utusannya
untuk amar ma`ruf nahi mungkar itu supaya umat
manusia itu tidak melakukan kemaksiatan atau
kemungkaran ( di dunia ini) “.[58]

Amar ma’ruf-menurut al-Maraghi terkait dengan perintah

kepada masyarakat untuk melakukan kebaikan secara optimal,

sebagai kunci menuju kesuksesan hidup. Sedangkan nahi

munkar yakni larangan kepada masyarakat berbuat maksiat

terhadap Allah SWT yang menyebabkan bencana kehidupan

dan siksa yang amat pedih di neraka.[59] Oleh karena itu,

sebagai mukmin kita wajib melaksanakan amar ma`ruf dan nahi

mungkar sebagai bukti ketaatan dan kecintaan kepada Allah

SWT, yaitu melaksanakan amal saleh dan membendung diri

dari tingkah laku tercela.

Dalam hadits tersebut juga dijelaskan tiga cara mencegah

kejahatan itu. Pertama, dirobah dengan tangan. Kedua, dirobah

dengan lisan Umpamanya dengan memberikan nasihat,


memberikan peringatan dan lain-lain sebagainya. Ketiga

dirobah dengan hati. Artinya, dalam hati tetap berontak.

Mengubah di sini maksudnya membasmi kemungkaran

itu dengan kekerasan kekuatan tangan atau lidah, atau kalau

dikhawatirkan akan lebih besar bahayanya, maka cukup

membenci dalam hati.[60] Para ulama berbeda pendapat dalam

tentang pelaksanaan hadist ini. Ada yang berpendapat bahwa

mengubah dengan tangan hanya bagi pengusaha atau orang

yang memiliki kekuasaan. Mengubah dengan lisan adalah peran

para ulama yang memahami agama dan dapat memberikan

penjelasan kepada lainnya dengan dalil. Mengubah dengan hati

diperuntukkan bagi seluruh manusia dan anggota masyarakat,

sehingga mereka tidak ikut melakukan kemungkaran.[61]

4. Pendidikan Mental

Salah satu kewajiban utama dan pertama dari orang tua

adalah membina mental, rohani dan ketakwaan anaknya, agar


mereka tumbuh, berkembang dan hidup sebagai insan yang

beriman dan bertakwa kepada Allah SWT Yang Menciptakan.[62]

a. Definisi Sabar

Sabar berarti Al-Habsu ( mencegah, menghalangi,

memenjarahkan). Sabar juga bisa bermakna al jara’ah atau

keberanian [63] Sabar adalah menahan diri dari sesuatu yang

tidak berkenan di hati. Ia juga berarti ketabahan. Imam Ghazali

sendiri dalam M. Quraisy Shihab mendefinisikan sabar sebagai

ketetapan hati dalam melaksanakan tuntunan agama

menghadapi rayuan nafsu.[64]

Hakikat sabar adalah kuatnya dorongan agama dalam

menghadapi dorongan hawa nafsu.[65] Dari makna menahan,

lahir makna konsisten / bertahan, karena yang bersabar

bertahan diri pada suatu sikap. Seseorang yang menahan

gejolak hatinya, dinamai bersabar{.66}Mengenai pembentukan

pendidikan mental, disebutkan dalam Al Quran surah Luqman

ayat 17 yang berbunyi


  
    
﴾١٧ :‫﴿ ﻠﻘﻤﺎﻦ‬  

Artinya: Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.

Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal

yang diwajibkan (oleh Allah SWT).[67]

Artinya, hendaknya manusia bersabar terhadap cobaan

dan rasa berat dalam melaksanakan apa yang diperintahkan

khususnya dalam mendirikan shalat dan amar ma’ruf dan nahi

mungkar. [68]

Sikap sabar dan teguh hati mengarungi gelombang hidup,

terutama menghadapi musim pancaroba, adalah satu sikap

mental yang diperlukan untuk mencapai sukses dan

kemenangan dalam setiap usaha dan perjuangan. Keteguhan

hati dapat membentuk kemauan yang keras, membajakan cita-

cita, mengalirkan aktivitas dan dinamika, menghilangkan

semangat lesu dan pasifisme dan lain-lain sebagainya.

Menurut filsafat Islam sikap sabar ada lima macam, yaitu


:
1) Sabar dalam beribadah (Ashsbru fil ibadah), ialah tekun
mengendalikan diri melaksanakan syarat-syarat dan tata
tertib ibadah.

2) Sabar ditimpa malapetaka atau musibah (Ashshabru indal


mushibah), ialah teguh hati ketika mendapat musibah
(cobaan ujian) baik yang berbentuk kemiskinan, kematian,
kecelakaan, kejatuhan, diserang penyakit dan sebagainya.

3) Sabar terhadap kehidupan dunia (Ashshabru anid-dunya)


ialah sabar terhadap tipu daya dunia, jangan sampai hati
terpaut kepada kenikmatan hidup di dunia ini, jangan
dijadikan tujuan, tetapi hanya sebagai alat untuk
mempersiapkan diri mengahadapai kehidupan yang kekal.

4) Sabar terhadap ma’siat (Ashshabru anil ma’shiah) ialah


mengendalikan diri supaya tidak berlaku ma’siat.

5) Sabar dalam perjuangan (Ashshabru fil jihad), ialah


menyadari sepenuhnya bahwa setiap perjuangan mengalami
masa naik dan turun, masa menang dan kalah.[69]

5. Pendidikan Akhlak .

  


   
    
   
   
  
   
 
﴾١٩-١٨ :‫ ﴿ ﻠﻘﻤﺎﻦ‬ 

Artinya : Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia


(karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka
bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah SWT tidak
menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri.

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.


Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
( Luqman 18-19 ) [70]

Ayat ini berkaitan dengan akhlak dan sopan santun

berinteraksi dengan sesama manusia. Materi pelajaran akidah,

diselingi dengan materi pelajaran akhlak, bukan saja agar peserta

didik tidak jenuh dengan materi, tetapi juga untuk mengisyaratkan

bahwa ajaran akidah dan akhlak merupakan satu kesatuan yang

tidak dapat dipisahkan.[71] Pada rangkaian ayat-ayat ini disuruh

supaya ibu dan bapak mendidik anak menjadi orang yang rendah

hati, jangan sombong, over-acting, dalam segala hal bersikap

sederhana, lemah lembut dalam pergaulan, jangan mengeluarkan

ucapan-ucapan yang kasar.[72]

Mendidik anak dengan baik dan benar dan mengajarinya

budi pekerti yang luhur merupakan tugas dan tanggung jawab yang

berada di puncak ayah dan ibu. Di lain pihak, adalah hak anak

untuk mendapatkan pendidikan yang benar tersebut. Anak sangat

memerlukan perhatian dan pengawasan ketat dari orangtuanya.


Karena itu, orang tua harus meluangkan waktu dan tenaga yang

lebih besar.[72]

Akhlak adalah bentuk kata jamak dari kata khuluq. Kata

khuluq mengandung arti “ budi Pekerti ” Budi pekerti itu sendiri

diartikan sebagai akal, alat bantu untuk menimbang baik buruk.

Kata ini juga diartikan tabiat, watak, perangai dan sebagainya.

Kata akhlak dalam bahasa Arab mengandung segi persamaan

makna dengan kata khalik dan makhluk.[74] Akhlak dalam ajaran

Islam tidak dapat disamakan dengan etika. Jika etika dibatasi pada

sopan santun antara sesama manusia serta hanya berkaitan dengan

tingkah laku lahiriah.[75]

Sementara itu Kart Bart melihat terminologi akhlak sama dengan

moral dan etika. Bart menyatakan sebagai berikut :

“ Etika ( dari etos ) adalah sebanding dengan moral (dari


mos ) adalah sebanding dengan moral. Keduanya
mengandung makna kefilsafatan karena mengandung adat
kebiasaan ( sitten ). Kata sitten ini berasal dari bahasa
Jerman kuno sittu yang menunjukkan arti Modda (modde)
tingkah laku manusia, suatu konstruktansi (constancy,
kelumintuan ) tingkah laku manusia. Karena itu etika dan
moral adalah filsafat atau disiplin ilmu tentang moda-moda
tingkah laku manusia atau konstansi-konstansi tindakan
manusia. [76]

Mempelajari etika bertujuan untuk mendapatkan konsep yang

sama mengenai penilaian baik dan buruk bagi semua manusia

dalam ruang lingkup dan waktu tertentu.[77] Akhlak dalam

kehidupan manusia dapat diumpamakan laksana kembang dalam

taman. Suatu taman walau bagaimanapun luas, lengkap, dan tetapi

tidak ada bunga-bunga yang tumbuh di dalamnya taman itu

kelihatan tidak semarak.

Analogi dengan itu, maka seseorang yang cantik, ganteng, pintar,

kaya, dan berpuluh-puluh kelebihan lainnya, tetapi jika tidak

mempunyai akhlak yang baik maka kelebihan-kelebihan tersebut

tidak bernilai. Baik dalam Al Qur’an maupun dalam hadits

dijumpai berpuluh-puluh ketentuan yang merupakan adab yang

harus diterapkan dalam pergaulan. Ada yang bersifat perintah ada

pula yang berbentuk larangan. Setiap ketentuan yang bersifat

larangan itu mengandung unsur-unsur yang dapat menciptakan

harmonis dalam antar hubungan itu.[78]


Oleh karena itu, Islam memuji akhlak yang baik, menyerukan

kaum muslimin membinanya, mengembangkannya di hati mereka.

Islam menegaskan bahwa bukti keimanan ialah jiwa yang baik,

dan bukti keislaman ialah akhlak yang baik.[79]

Rasulullah saw bersabda :

‫ن اْلِب بّر‬
ْ ‫عب‬
َ ‫س بّلَم‬
َ ‫عَلْيِه َو‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫صّلى ا‬
َ ‫ل‬
ِّ ‫سوَل ا‬
ُ ‫ت َر‬
ُ ‫سَأْل‬
َ ‫ي َقاَل‬
ّ ‫صاِر‬
َ ‫ن اَْلْن‬
َ ‫سْمَعا‬
ِ ‫ن‬
ِ ‫س ْب‬
ِ ‫عنْ الّنّوا‬
َ
[80] ﴾ ٢١٨٣ ‫ ﴿ﺮﻭﺍﻩ ﻤﺴﻠﻢ ﺍﻠﺣﺪ ﻳﺚ׃‬... ‫ق‬
ِ ‫خُل‬
ُ ‫ن اْل‬
ُ‫س‬ْ ‫ح‬
ُ ‫َواِْلْثِم َفَقاَل اْلِبّر‬

Artinya : Dari Nawwas bin Sam`an Al Anshari r.a. katanya : Aku

pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang arti

kebaikan dan dosa. Sabda beliau, “ Kebaikan ialah akhlak

yang baik …(H.R. Muslim no 2183 ).[81]

Pendidikan akhlak tidak dapat dipahami secara terbatas hanya pada

pengajaran agama, karena perihal akhlak tidak cukup diukur hanya

dari seberapa jauh anak itu menguasai hal-hal yang bersifat

kognitif atau pengetahuan tentang akhlak atau ajaran agama atau

ritus-ritus keagaman semata. Justru yang lebih penting seberapa

jauh tertanam nilai–nilai itu terwujud nyata dalam tingkah lakunya

sehari-hari, perwujudan nyata nilai-nilai tersebut dalam tingkah


laku sehari-hari melahirkan budi pekerti luhur atau akhlaqul

karimah (Moralitas yang terpuji) [82]

C. Dimensi Konsep Pendidikan Mendidik Anak Menurut Surah

Luqman Ayat 13 -19

Dan pada ayat 13 sampai 19 terdapat nasihat-nasihat Luqman kepada

anaknya[83] yang sarat dengan nilai-nilai sebagai konsep pendidikan

agama yang harus diterapkan oleh orang tua kepada anak-anaknya.

[84] Dari referensi ini terlihat bahwa seluruh dimensi yang dikandung

dalam Al Quran memiliki misi dan implikasi kependidikan yang

bergaya impratif, motivatif dan persuatif dimanis sebagai suatu sistem

pendidikan yang utuh dan demokrasi lewat proses manusiawi. [85]

1. Dimensi Pendidikan Aqidah

  


  
   
   
﴾١٣ ‫ ﴿ﻠﻘﻤﺎﻦ‬ 

Arti : "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah SWT,


Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-
benar kezaliman yang besar". ( Q. S Luqman : 13 )[86]
Sesungguhnya nasihat seperti ini tidak menggurui dan tidak

mengandung tuduhan. Karena orang tua tidak menginginkan

melainkan kebaikan, dan orang tua hanyalah sebagai nasihat bagi

anaknya. [87] Nasihat seorang ayah kepada anaknya bebas dari

segala syubhat dan jauh dari segala sangka. Sesunggunya perkara

tauhid dan larangan berbuat syirik merupakan perkara lama yang

selalu diserukan oleh orang-orang yang dianugrahkan hikmah oleh

Allah SWT di antara manusia.[88]

Dalam potongan ayat di atas (ya bunayya la tusyrik billah),

dapat dipahami bahwa sebagai orang tua, ajaran yang paling dasar

dan mesti ditanamkan pada seorang anak adalah ajaran ketauhidan.

Dengan kata lain, orang tua punya kewajiban untuk membimbing,

mendidik dan mengantarkan anaknya untuk senantiasa bertauhid

kepada Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya.[89]

Pendidikan aqidah merupakan landasan pertama dalam

pembentukan karakteristik dan moral anak. Kewajiban orang tua

muslim adalah memelihara akidah mereka, jangan sampai dikotori

oleh kepercayaan atau keyakinan yang salah.” Janganlah


menyekutuhkan Allah SWT ” Janganlah mengangkat Tuhan selain

Allah SWT.[90]

Dengan pendidikan tauhid, anak-anak akan mempunyai

pegangan tidak akan kehilangan kompas dalam keadaan situasi

yang bagaimanapu baik, di waktu lapang maupun di waktu sempit.

Sebab mereka percaya sepenuhnya, bahwa segala sesuatu yang

ditemui dalam kehidupan ini, datangnya dari yang maha kuasa dan

akan kembali kepada-Nya pula

2. Dimensi Pendidikan berbakti ( Ubudiah )

Dimensi Pendidikan ibadah mencakup segala tindakan

dalam kehidupan sehari-hari, baik yang berhubungan dengan Allah

SWT seperti shalat, maupun dengan sesama manusia.[91]

Termasuk akhlak yang diperintahkan kepada ibu dan bapak, (

birrul walidain ).[92] Hubungan kepada Allah SWT dalam bentuk

shalat ini dinyatakan oleh ayat 17 surat Luqman. Pada ayat ini

Allah SWT mengabadikan empat bentuk nasihat untuk penetapan

jiwa anaknya, yaitu :


a. Dirikanlah shalat;

b. Menyuruh berbuat yang baik (makruf);

c. Mencegah berbuat mungkar, dan

d. Bersabar atas segala musibah. Inilah empat modal hidup yang

diberikan Luqman kepada anaknya dan diharapkan menjadi

modal hidup bagi kita semua yang disampaikan Muhammad

SAW kepada umatnya.

Ayat ini mendidik manusia dengan pemantapan jiwa dengan

mendirikan shalat, diikuti sebagai pelopor untuk perbuatan makruf,

berani menegur yang salah, mencegah yang mungkar, dan bila

dalam melakukan itu semua terdapat rintangan, maka diperlukan

sifat sabar dan tabah. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk

yang diwajibkan oleh Allah SWT.

Dengan demikian ayat ini memberi indikasi bahwa salat

sebagai peneguh pribadi, amar makruf nahi mungkar dalam


hubungan masyarakat, dan sabar untuk mencapai apa yang dicita-

citakan.[93]

3. Dimensi Pendidikan Kemasyarakatan

Dimensi pendidikan sosial menurut surah Luqman setelah

anak dikenalkan konsep akhlak kepada Tuhannya melalui jalan

ibadah, dan berbakti kepada kedua orangtuanya, berikutnya

diajarkan padanya akhlak dalam konteks kemasyarakatan

mencakup etika pergaulan (bertemu), berbicara dan berjalan.[94]

Dalam bahasa yang lain, yaitu membiasakan anak-anak

sejak kecil untuk melaksanakan kewajiban amal ma`ruf nahi

mungkar.[95] Hendaklah kedua orang tua untuk mendidik anak-

anaknya agar membiasakan diri mengerjakan kebaikan baik untuk

dirinya sendiri maupun untuk orang lain atau masyarakat. Agar

menjauhi perbuatan yang buruk, yang merugikan diri sendiri atau

merusak orang lain. [96]

Juga mengarahkan anak untuk senantiasa berdakwa yaitu

melalui amar ma`ruf nahi mungkar. Bersabar dalam berdakwa dan


berbuat kebaikan.[97] Mendidik sedemikian rupa sehingga anak-

anak betul-betul merasakan sebagai makhluk sosial yang gemar

melakukan usaha-usaha yang bersifat sosial.

Ahli-ahli sosiologi mengibaratkan masyarakat laksana suatu

rumah tangga. Setiap penghuni rumah tangga berkepentingan

supaya tempat tinggalnya itu menyenangkan hatinya, di mana dia

dapat menghayati hidup dan kehidupan dengan penuh nikmat.

Rumah tangga itu baginya mempunyai fungsi tempat berlindung di

waktu panas, tempat berteduh di kala hujan.[98]

Islam mengajarkan bahwa setiap individu mempunyai

tanggung jawab terhadap masyarakatnya, tanggung jawab untuk

menciptakan kebaikan-kebaikan, yang istilah sekarang dinamakan

pembangunan. Dalam Al Quran dipakai perkataan yang umum,

yaitu Ishlah. Artinya, mendamaikan, membetulkan.[99]

Tanggung jawab individu untuk membangun masyarakat itu

bukan saja turut berusaha menanamkan benih-benih kebaikan,


tetapi juga mempunyai tanggung jawab untuk menghilangkan

kerusakan dan kebinasaan, bahkan untuk memberantasnya.

4. Dimensi Pendidikan Mental

a. Dimensinya

Secara umum dimensi pendidikan kesabaran dapat dibagi

dalam dua bagian pokok: Pertama, sabar jasmani yaitu

kesabaran dalam menerima dan melaksanakan perintah-

perintah keagamaan yang melibatkan anggota tubuh, seperti

sabar dalam melaksanakan ibadah haji yang mengakibatkan

keletihan atau sabar dalam peperangan membela kebenaran.

Termasuk pula dalam kategori ini, sabar dalam menerima

cobaan-cobaan yang menimpa jasmani seperti penyakit,

penganiayaan dan semacamnya. Kedua sabar rohani

menyangkut kemampuan menahan kehendak nafsu yang dapat

mengantar kepada kejelekan-kejelekan seperti sabar menahan

amarah atau menahan nafsu sexsual yang bukan pada

tempatnya.[100]
Adapun yang amat terpuji adalah orang-orang yang

sabar yakni tabah, menahan diri, dan berjuang dalam mengatasi

kesempitan, yakni kesulitan hidup seperti krisis ekonomi,

penderitaan seperti penyakit atau cobaan, dan dalam

peperangan, yakni perang sedang berkecamuk. Mereka itulah

orang-orang yang benar dalam arti sesuai sikap, ucapan, dan

perbuatannya dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

b. Macam-Macam Sabar

Jika kita meneliti makna sabar, maka sabar dibagi

menjadi tiga bagian, sabar dalam taat kepad Allah SWT, Sabar

dalam meninggalkan maksiat, dan sabar menghadapi ujian dan

cobaan yang diberikan oleh Allah.[101] Sabar ialah menahan

diri terhadap apa yang dibencinya, atau sesuatu yang

dibencinya dengan ridha dan rela[102]. Sikap sabar

mencerminkan keimanan[103] dan kedudukan yang utama

dalam agama dan merupakan derajat utama bagi orang-orang

yang menempuh jalan menuju Allah SWT.[104]


5. Dimensi Pendidikan Akhlak

Dalam surat Luqman ayat 14-19, terdapat beberapa contoh dimensi

pendidikan akhlak yang diajarkan, yaitu

a. Akhlak terhadap orang tua,

b. Akhlak terhadap orang lain

c. Akhlak dalam penampilan diri.

Pendidikan akhlak tidak hanya dikemukakan secara teoritik,

melainkan disertai contoh-contoh konkrit untuk dihayati

maknanya. [105] Dalam bidang akhlak, dimensi pendidikan yang

mula-mula dilakukan adalah dengan memperkenalkan etika baik

terhadap kedua orang tua. Prinsip berbakti ini dengan cara

melakukan segala yang diperintahnya, dan menjauhi segala

larangannya selama dalam batas tidak melanggar syariat Islam.

[106]

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dalam M. Quraish

Shihab, kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan.


Kata akhlak banyak ditemukan di dalam hadits-hadits Nabi SAW,

dan salah satunya yang paling populer adalah. [107]

‫﴿ ﺍﻹﻤﺎﻡ ﺍﺤﻤﺪ‬. ‫ ﺇﻨﻣﺎ ﺑﻌﺛﺕ ﻷ ﺘﻣﻡ ﺼﺎﻠﺢ ﺍﻻﺨﻼﻖ‬: ‫ ﻗﺎﻞ ﺮﺴﻮﻞ ﺁﷲ ﺺ‬: ‫ﻋﻦ ﺍﺑﻰ ﻫﺮﻴﺮﺓ ﻗﺎﻞ‬
٨٩٦١‫﴾ ﺑﻦﺣﻤﺒﻞ ﻓﻰ ﻤﺴﻨﺪﮦ ﺍﻠﺣﺪ ﻳﺚ׃‬

Artinya: Dari Abi Hurairah berkata : Berkata Rasulullah SAW :

Aku hanya diutus menyempurnakan akhlak yang mulia

( H.R Imam Ahmad Bin Hambal no 8961) [108]

CATATAN AKHIR BAB III

1) Internet. id.wikipedia.org/wiki/Surah_Luqman - Tembolok - Mirip

2) M. Quraisy Shihab, Tafsir Al Mishbah Vol 11, Jakarta : Lintera


Hati, 2002 hlm 107-108

3) Anonim, Ensiklopedi Nasional Indonesia jilid 9, Jakarta: PT Delta


Pamungkas, 2004, hlm 450

4) M. Quraisy Shihab, loc.cit. hlm 107-108

5) J V Barus, ( et Al ), Ensiklopedi Islam, Jakarta : PT Ichtiar Baru


Van Hoeve 2005, hlm, 123

6) Internet. id.wikipedia.org/wiki/Surah_Luqman - Tembolok - Mirip


7) Muhammad Ali Ash , loc.cit. hlm 372

8) Internet cari-pdf.com/pdf.php?q=asbab+nuzul+surah+lukman -
Tembolok

9) Samaun Bakry, op.cit., hlm 1

10) Arifuddin Arif, op.cit., hlm 38

11) M. Ishom El Saha dkk, Sketsa Al Quran. Jakarta : PT Listafariska


Putra, 2005 , hlm 386

12) Muhammad Yunan Nasution , Khutbah Jumat 6, Jakarta : Bulan


Bintan, 1977, hlm 153

13) Rusli Amin., Rumahku Surgaku ( sukses Membangun Keluarga


Islami ) : Jakarta : Al Mawardi , 2003 hlm 79

14) Anonim , 1990, hlm 652

15) Ibid 652

16) nternet, http://idb4.wikispaces.com/file/view/ss/. loc.cit.

17) Anonim, loc.cit. 1990. hlm 654-655

18) Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsari, Intisari Aqidah Ahlus


Sunnah wal Jamaah, Jakarta Pustaka As-Syafi`I ,2006, hlm 33
19) Internet http://idb4.wikispaces.com/file/view/ss., loc.cit.

20) Rusli Amin. op. cit., hlm 80

21) Abdullah Al Ghamidi, Namanya Luqman Al Hakim, (Menguak


Jati Dirinya, Capaian Hikmahnya, Dan Kemukjizatan Wasiatnya
Yang Mengantar Kepada Makam Pendidikan Insan Kamil ),
Yogyakarta, Diva Press, 2008, hlm 114-115

22) Samaun Bakri. loc.cit. hlm 115

23) Ibid., hlm 116

24) Anonim ,op. cit. , 1990 hlm 655

25) Miftahul Huda, loc.cit.

26) Samaun Bakry, loc.cit. hlm 116

27) Miftahul Huda, loc.cit.

28) Nashir Ibn Musfir Az Zahrani, Indahnya Ibadah Haji, Jakarta :


Qisthi Press, 2004, hlm 78

29) Abdullah Al Ghamidi, loc.cit. hlm 114-115

30) Nashir Ibn Musfir Az Zahrani, loc.cit. hlm 78

31) Aris Munandar, http : // almanhaj.or.id artikel www.muslim.or.id


32) Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Al Islam
I ,Semarang : PT Pustaka Rizki Putra, 1998, hlm 162

33) Anonim. 1990. op.cit.,hlm 654-655

34) Muhammad Yunan Nasution, op.cit., hlm 221

35) Sayyid Quthb.. Tafsir Fi Zhilalil Quran di bawah naungan Al


Quran jilid 9 (Penerjemah. As`ad Yasin dkk ). Jakarta : Gema
Insani. 2005. hlm 174

36) M. Quraisy Shihab, loc. cit., hlm 129

37) Mohsen Qaraati, Seri Tafsir untuk Anak Muda Surah Luqman,
Jakarta : Al Huda 2005, hlm 59 Abdullah Al Ghamidi. op.cit., hlm
188

38) M. Quraisy Shihab, op. cit., hlm 132

39) Anonim, op. cit., 1990, .hlm 655

40) Abdullah Al Ghamidi. op.cit., hlm 188

41) Ahmad Mustafa Al Maraghi, op.cit., hlm 158

42) Teungku Muhammad Hasbi Ash- Shiddieqy. op. cit. hlm 3210

43) Imam Abi Muqatil bin Sulaiman, loc.cit. hlm 21


44) Abdullah Al Ghamidi, op.cit., hlm 175

45) Ibid hlm 178

46) Miftahul Huda. Loc.cit.

47) Muhammad Yunan Nasution, loc.cit. hlm 179-180

48) Imam Al Hafidz Abi Daud Sulaiman ibn As Assistani, Sunan Abi
Daud juz 1 Bairut : Darul Fikry , 275 H, hlm 197

49) Muhammad Nashiruddin Al Bani. Shahih Sunan Abu Daud. Al


Makhtabah : Riyad 2003 hlm 198

50) Abdullah Zaki Al Kaaf, Kumpulan Khutbah Jum`at Pilihan,


Bandung : CV Pustaka Setia. 1999, hlm 394

51) Muhammad Yunan Nasotion,loc.cit. hlm 180

52) Anonim. op. cit., 1990, hlm 655

53) Abdullah Al Ghamidi, op.cit., hlm 230

54) Abdullah Nashih Ulwan. ( terj ). Pendidikan Anak dalam Islam


jilid 1, Jakarta : Pustaka Amani, 2002, hlm 435

55) Ibid., hlm 607


56) Imam Abi Husain Muslim bin Hajjad Al Quraisy Nasaburi, Sahih
Muslim hadits no 49, Bairut : Darul Fikry , 162-202 H hlm 29

57) Aminah Abdullah Dahlan, Hadits Arbain Annawiyah dengan


Tarjamah dalam Bahasa Indonesia, Bandung : PT Al Ma`arif
penerbit percetakan offset, 1981, hlm 48

58) Labib. MZ, Himpunan Khutbah Jumat Setahun, Surabaya :


Penerbit Usaha Jaya, 2005, hlm 116

59) Miftahul Huda, loc.cit.

60) Salim Bahresy, Tarjamah Riadhusshalihin I, Bandung, PT Al


Ma`arif, 1983, hlm 198

61) Abduhllah Al Ghamidi. op.cit., hlm216-217

62) Anonim, Majalah Bulanan Khutbah Jumat ( Menyiapkan


Generasi Qur`ani) bagian Selamatkan Mereka Dari Api Neraka no
124, Ikatan Masjid Indonesia, 1991, hlm 33

63) Abdullah Al Ghamidi., op. cit., hlm 233-234

64) M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah Volume 1, Jakarta Lintera


Hati, 2004, hlm 181

65) Imam Al Ghazali, 40 Prinsif Agama, Bandung :Pustaka Hidayah,


2006, hlm 189
66) M. Quraisy Shihab 2004, op.cit., hlm 137-138

67) Anonin., op.cit., hlm 655

68) Abdullah Al Ghamidi. op.cit., hlm 250

69) M. Ali Usman, Hadits Qudsi, Bandung : CV Diponegoro, 1975,


hlm 99

70) Anonim, 1990,op.cit., hlm 656

71) M. Quraisy Shihab, Vol II. op. cit., hlm 138-139

72) Muhammad Yunan Nasution, Khutbah Jumat, Jakarta : Bulan


Bintang, 1977, hlm 157

73) Iskandar, op.cit., hlm 41

74) Samaun Bakry, op. cit., hlm 117

75) Anonim, Himpunan Khutbah Jumat Masjid Agung Al- Falah


Jambi , 1423 H, hlm 12

76) Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta : PT Rineka


Cipta hlm 188

77) ibid hlm 188


78) Muhammad. Yunan Nasution. Khutbah Jum’at Jilid 2, Jakarta :
Bulan Bintang, 1973 hlm 155

79) Abu Bakar Jabir Al- Jazairi, Ensiklopedi Muslim Minhajul


Muslim, Jakarta : Darul Falah, 2000, hlm 217

80) Annawawi, Shahih Muslim bi syarah Annnawawi juz ke 16 Al


Matbaatul Mesiryah wa mattabiha,1924, hlm 110-111

81) Mak`mur Daud, Terjemah Hadits Shahih Muslim, Klang,


Slangor : Klang Book Center. 2004, hlm 201

82) Mukhtar dkk. Mengukir Prestasi, Menjadi Guru Propesional,


Jakarta : CV Misaka Galiza., 2001, hlm 93

83) Anonim, 1990 , hlm 652

84) Internet, http://idb4.wikispaces.com/file/view/ss. loc.cit.

85) Arifuddin Arif, loc.cit. hlm 38

86) Anonim. 1990, hlm 654

87) Sayyid Quthb, loc.cit. hlm 174

88) Ibid hlm 174

89) www.darussholah.net/cetak.php?id=162 – loc.cit.


90) Rusli Amin. op. cit., hlm 80

91) Internet : http://idb4.wikispaces.com/file/view/ss. loc.cit.

92) Muhammad Yunan Nasution,loc.cit. hlm 221

93) Internet http://idb4.wikispaces.com/file/view/ss. loc.cit.

94) Miftahul Huda, loc.cit.

95) Abdullah Nashih Ulwan, loc.cit. hlm 607

96) Muhammad .Yunan Nasution. 1973 op.cit., hlm 241

97) Adnan Hasan Shahih Baharits,) Tanggung Jawab Ayah Terhadap


Anak Laki-Laki, Jakarta : Gema Insani Press ( 1996, hlm 80

98) M.Yunan Nasution. loc.cit. hlm 241

99) Muhammad Idris Abdurrauf. Op. cit., 342

100) M. Quraish Shihab, loc.cit. hlm 181

101) Abdullah Al Ghamidi. op.cit., hlm 235

102) Abu Bakr Jabir Al Jazairi, op.cit., hlm 220

103) Imam Al Ghazali, Ringkasan Ihya Ulumuddin, Surabaya : Gita


Media Press hlm 313
104) Ibid 315

105) Internet :
gurutrenggalek.blogspot.com/2009_12_01_archive.html

106) Miftahul Huda, loc.cit.

107) M. Quraish Shihab, Wawasan Al Quran, Bandung : Mizan, 1994,


hlm 253

108) Imam Ahmad bin Hambal, Al Musnab li Imam Ahmad bin


Hambal, Darul Fikry,164-241H. hlm 323

Diposkan oleh muhammad abduh di 02.44