Anda di halaman 1dari 19

Bab5 Regionalisme Ekonomi Asia Tenggara Dari

'. . ..... Perspektif lndonesla



Oleh : Asvi Warman Adam

Pendahuluan

Pembentukan ASEAN tahun 1967 menandai fase baru dalarn pengembangan tata regional Asia Tenggara. Bila dalam periode sebelumnya wilayah ini ditandai oleh konflik intra-regional dan ketegangan antar lima anggota pendiri ASEAN, hubungan itu menjadi harmonis dua dekade belakangan inl.' Meskipun sebagian konflik "disembunyikan di bawah karpet", paling sedikit negaranegara ASEAN telah mempunyai kesempatan untuk merealisasikan pembangunan ekonomi nasional rnasinq-masinq dengan adanya situasi regional yang relatif aman. .

8elama seperempat abad berdirinya organisasi regional ini dimensi polltlk lebih menonjol sedangkan kerjasama ekonomi kurang mendapat perhatian. Kesadaran akan pentingnya hal ini menyebabkan negara-negara anggota· A8EAN mulai mengajukan beberapa konsep kerjasama ekonomi sejak satu dasawarsa yang lalu. Thailand mengajukan konsep ASEAN Free Trade Area (AFTA) dalam pertemuan Menteri-Menteri A8EAN di Kualalumpur, Juli 1991. 8ebelumnya Indonesia telah menawarkan program CEPT pada sidang Menteri-Menteri A8EAN, dl Oenpasar, Oktober 1990. 8ingapura mengusulkan . 8egitiga Pertumbuhan Singapura-JohorRiau (SIJORI) dalam pertemuan yang sama."

. Tulisan ini membahas kerjasama ekonomiini (AFTA dan

segitiga pertumbuhan) dari perspektif Indonesia. Berdasarkan pengamatan di lapangan,dengan melakukari wawancara terhadap

1 Oewi Fortuna Anwar, Indonesia in ASEAN, Foreign Policy and Regio~alis'm

Singapore, ISEAS, 1994, hlm.2. .

2 CPF Luhulima, "ASEAN: The Way Ahead;', kertas keda dalam seminar Experiences in Regional Cooperation and Integration, Maastricht, 21 September-2 Oktober 1992.

78

Regionalisme Ekonomi di Asia-Pasifik

pejabat pemerintah dan swasta baik di pus at maupun di daerah sebagaimana tertuang dalam beberapa hasil laporan penelitian sebelumnya, tulisan in! berusaha menggambarkan prospek dan tantangan, harapan dan kenyataan dalam pelaksanaan regionalisasi ekonoml terse but.

Pada bagian pertama akan dijelaskan tentang proses pembentukan AFTA, faktor pendorong dan mekanisme program ini serta konsekuensi dari pelaksanaannya, tanggapan terhadap AFT A dan daya saing komoditi Indonesia yang termasuk jalur cepat CEPT. Bagian kedua mengenai segitiga pertumbuhan. Pada bagian ketiga dibicarakan tentang gagasan mengenai AFLA (ASEAN Free Labor Area) yang tampaknya selama ini kurang disinggung dalam pertemuan ASEAN.

Proses pembentukan AFT A

Tahun 1992 merupakan tonggak sejarah dilancarkannya regionalisasi ekonomi Asia. T enggara. Pad a KTT IV ASEAN di Singapura tahun 1992 disepakati dua naskah mengenai kerjasama ekonomi. Yang pertama adalah Framework Agreement on Enhancing ASEAN Economic Cooperation yang berisitiga prinsip yang harusdijalankan oleh negara-negara anggota, yaitu:

1. Memperkuat kerjasama ekonomi dalam rangka menghadapi liberalisasl perdagangan global;

2. Kerjasama ekonomi itu harus saling menguntungkan, dan

3. Semua negara anggota harus berpartisipasi dalam pengaturan ekonomi intra-ASEAN. Aspek ketiga ini dijabarkandalam naskah kedua mengenai Agreement on the Common Effective Preferential Tariff (CEPT) Scheme for the ASEAN Free Trade Area (AFTA).

Skema CEPT untuk AFTA tersebut adalah perjanjian yang bertuiuan membentuk kawasan perdagangan bebas di wilayah ASEAN dalam jangka waktu 15 tahun --yang kemudian dipercepat menjadi' 10 tahun-- dengan menggunakan CEPT sebagai mekanisme utama. Dengan prosedur ini maka pada tahun 2003 (belakangan dipercepat menjadi 2002) akan terbentuk AFTA yang

Regionalisme Ekonomi Asia Tenggara dari Perspektif Indonesia 79

memperlakukan tarif masuk 0% sampai 5% untuk berbagai barang yang berasal dari negara-negara ASEAN.3

Faktor pendorong

Runtuhnya tembok Berlin tahun 1989 dan berakhirnya perang Dingin menyebabkan sorotan utama dunia beralih dari masalah keamanan internasional menjadi persoalan ekonomi. Pada saat yang bersamaan, ditandatanganinya Perjanjian Paris mengenai perdamaian Kamboja tahun 1991 menyebabkan berkurangnya beban yang telah menyita perhatian para pemimpin ASEAN selama satu dekade sebelumnya. Kedua hal ini mendorong pemikiran untuk meninjau ulang kerjasama ASEAN dengan mencari kegiatan apa yang dapat merekat kepentingan bersama.

Tahun 1970-an dan 1980-an, yang menjadi raison d'etre untuk kerjasama ASEAN adalah politik, sebuah konsensus mulai berkembang bahwa raison d'etre untuk tahun 1990-an dan setelah itu adalah ekonomi. Selain dari faktor politik eksternal di atas, perkembangan ekonomi juga mendukung. Sementara ketika itu diskusi mengenai GATT yang dimulai sejak tahun 1986 masih diliputi ketidakpastian, di lain pihak muncul Pasar Tunggal Eropa dan NAFTA yang menyebabkan adanya blok-blok ekonomi dunia. Negara-negara ASEAN menyadari ancaman proteksionisme dan praktek-praktek diskriminasi dari negara-negara maju terhadap negara-negara sedang berkembang. Konsekuensinya, ada kemungkinan berkurangnya pasar untuk komoditi ASEAN. Periama, Mexico dengan menjadi anggota NAFTA memiliki akses be bas ke AS yang merupakan pasar terbesar negara-negara ASEAN. Kedue, . muncuJ saingan dan Cina yang memiliki keunggulan dalam hal buruh dan tanah yang murah; negara ini menjadi menarik sebagai lokasi produksi untuk ekspor maupun sebagai pasar."

Dari segi internal ASEAN, kondisi ekonomi di ASEAN Jebih memungkinkan pelaksanaan perdagangan bebas dibanding waktu-

3 Zatni Arbi dan Asvi Warman Adam (penyunting), Menyongsong Kawasan Investasi ASEAN, Relokasi Industri Ke/apa Sawit, laporan penelitian PPW-LlPI, 1998.

4 Lee Tsao Yuan, "The ASEAN Free Trade Area: the search for a common prosperity", dalam Ross Gamaut & Peter Drysdale, 1994.

80

Regionalisme Ekonomi di Asia-Pasifik

waktu sebelumnya. Di masa lampau, di samping struktur ekonomi yang lemah, beberapa negara ASEAN menganut kebijakan ekonomi inward-looking. Untuk Indonesia misalnya, pada tahun 1980 sektor manufaktur baru mencapai 7 persen dari perdagangan dengan negara-negara ASEAN, angka ini meningkat menjadi 47 persen pada tahun 1990. Industrialisasi yang cepat ini meningkatkan perdagangan intra-lndustri dalam produk-produk manufaktur di kawasan ini dan sekaligus menjadikan perdagangan intra-ASEAN lebih komplementer daripada kornpetltlf."

Sejak dibentuk tahun 1967 sampai seperempat abad kemudian, keberhasilan ASEAN barulah di dalam bidang politik. Kerjasama ekonomi yang dilakukan dalamperiode tersebut belum banyak berarti. Sejak tahun 1977 sudah disetujui program ASEAN-PTA yang menyangkut pemberian preferensi atau potongan tarif sekitar 25 sampai 30 persen. Terdapat kendala dalam pelaksanaan ASEAN-PTA. Pertama, produk yang dimasukkan ke dalam skema secara komersial tidak signifikan. Kedua, prosedur administrasinya demikian kompleks sehingga preferensi yang ditawarkan tidak banyak berguna.Ketiga, adanya perbedaan dalam tingkat tarif efektif yang disebabkan oteh tarif dasar yang berbeda. Keempat, masih ada halangan non-tarif di beberapa negara ASEAN.6

Persetujuan ASEAN-PTAakhirnya ditinjau kernball setelah dijalankan selama 15 tahun. Kelemahan yang ada dalam program itu mendorong negara-negara ASEAN menyepakati kegiatan baru yakni ASEAN Free Trade Area (AFTA) berdasarkan skema CEPT (Common Effective Preferential Tariff). ltu berarti bahwa negaranegara ASEAN sepakat untuk mengurangi atau menghilangkan berbagai hambatan untukmenciptakanperdagangan bebas di

antara mereka. ..... ... . .. _ . .

Sebelum KTT ASEAN di Singapura yang diadakan pada tahun 1992 Indonesia selalu menolak ide pembentukan. kawasan perdagangan bebas. Namun hal ini berubah sejak pertemuan puncak terse but, bahkan Indonesia menyodorkan inisiatif dalam

5 Seiji Naya dan Pearllmada, AFTA The Way Ahea£1992.

6 Soedradjat Djiwandono, ''The ASEAN Summit Conference and Its Significance to Indonesia's Economy", The Indonesian Quarterly, no 3; 1992.

RegionaJisme Ekonomi Asia Tenggara dari Perspektif Indonesia 81

bentuk skema CEPT yang akhirnya disepakati sebagai mekanisme utama AFTA. Apa yang menyebabkan pergeseran sikap lndonesia?

Pertama, menguatnya sektor manufaktur pada dekade 80-an.

Selama 9 tahun terakhir, ekspor manufaktur meningkat rata-rata 30 persen per tahun (dari US$ 1 milyar tahun 1981 menjadi US$ 10 milyar tahun 1990). Keraguan akan kemampuan industri unfuk bersaing berangsur-angsur hilang, setidak-tidaknya dalam komoditi tertentu. Oleh sebab itu, pemerintah merasa sudah waktunya bagi Indonesia bersaing secara terbuka dengan produsen-produsen asing.

Kedua, kenyataan bahwa Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan ekspor pada minyak dan gas alam saja. Semakin disadari bahwa pertumbuhan ekspor yang berkelanjutan hanya bisa dicapai melalui kompetisi, bukan dengan proteksi industri domestik atau subsidi kepada eksportir. Cara yang efektif untuk memperkuat daya saing adalah melakukan peningkatan efisiensi dengan memperkenalkan persaingan di pasar, termasuk pasar ASEAN. Sementara itu, komitmen Indonesia mendukung AFTA melalui skema CEPT bisa menjadi instrumen untuk mendorong deregulasi ekonomi lebih lanjut. Berkaitan dengan lnl, pemerintah melihat AFTA sebagai batu loncatan menuju tahap persaingan di pasar internasionaL Dengan kata lain AFT A dipandang sebagai ajang latihan untuk mempersiapkan masyarakat bisnis Indonesia berkompetisi di pasar global yang lebih luas dan berat.

Mekanisme CEPT

Pembentukan AFTA dengan pelaksanaan skema CEPT sebagai mekanisme utamanya pada dasarnya ditujukan untuk menciptakan liberalisasi perdagangan antar negara-negara ASEAN dengan mengurangi atau menghilangkan hambatan-hambatan tarif dan nontarif. Produk-produk yang sudah disepakati adalah produk industri olahan atau manufaktur, termasuk produk pertanian yang telah diproses serta barang-barang modal.

Dalam skema CEPT telah disetujui 15 macam produk yang penurunan tarifnya dipercepat (termasuk fast track) yaitu: semen, pupuk, pulp, tekstil, perhiasan dan permata, perabot dari kayu dan rotan, barang-barang kulit, plastik, elektronika, obat-obatan, bahan kimia, produk karet, keramik dan ge1as, minyak nabati, dan katoda

82

Regionalisme Ekonomi di Asia-Pasifik

tembaga. Pada jalur cepat ini, tarif yang masih di atas 20% diturunkan secara bertahap dalam waktu 10 tahun menjadi 0-5%, sedangkan tarif 20% ke bawah diturunkan berangsur-angsur dalam waktu 7 tahun menjadi 0-5%.

Pada jalur normal (normal track) terdapat semua komoditi yang tidak tercakup dalam jalur cepat dan komoditi yang dikecualikan. Penurunan tarifnya dilakukan dalam dua tahap. Pertama, akan diturunkan sampai 20% dalam waktu 5-8 tahun dan kemudian diturunkan lagi sampai 0-5% dalam waktu 7 tahun berikutnya. Sedangkan, yang tarifnya 20% ke bawah diturunkan secara bertahap dalam waktu 10 tahun.

Berdasarkan ketentuan tambahan, CEPT diberlakukan terhadap produk-produk yang memiliki kandungan lokal ASEAN sebanyak 40%. Suatu produk dianggap berasal dari negara anggota ASEAN apabila berisi kandungan lokal dari satu negara anggota atau secara kumulatif dari beberapa negara anggota paling sedikit 40% dengan formula sebagai berikut: 7

Nilai bahan, suku cadang atau nilai yang diimpor

yang tidak diketahui asalnya ____________________________________ ~x100<60%

Nilai bahan, suku cadang + atau hasil yang

diimpor dari non-ASEAN

Harga FOB

Konsekuensi AFTA.8

Idealnya perdagangan bebas akan mendorong peningkatan efisiensi industri yang menghasilkan produk-produk yang diperdagangkan tersebut. Secara teoritis, dengan terciptanya AFTA, setiap negara ASEAN tidak perlu lagi menghasilkan barang kebutuhannya, meskipun ia mampu membuatnya. Tiap negara akan mengkhususkan diri pada barang-barang yang diproduksinya dengan biaya lebih rendah dan kualitas lebih bagus dibandingkan

7 Yasrnln, "AFTA: Pandangan Internal ASEAN", dalam Asvi Warman Adam, 1995.

6 Yasmin, "Perkembangan Ekonomi Intra-ASEAN Menuju Pasar 8ebas", dalam Zatni Arbi (penyunting), 1993.

Regionalisme Ekonomi Asia Tenggara dari Perspektif Indonesia 83

negara lain. Hal ini selalan dengan asumsi lain mengenai kerjasama regional yaitu adanya pembagian kerja di antara negara-negara yang berdekatan secara geografis.

Penurunan tarif dan penghapusan hambatan perdagangan akan meningkatkan lalu lintas perdagangan di antara negara yang terlibat. Namun peningkatan perdagangan itu dapat berupa trade creation atau bisa pula trade diversion. Pad a trade creation terjadi penclptaan perdagangan yang ditimbuJkan oleh adanya pergeseran dari sumber pembelian dan biaya produksi tinggi kepada sumber pembelian dan biaya produksi rendah di antara sesama negara anggota, yang disebabkan penghapusan bea masuk. Negara yang dulu memproduksi sendiri barang tertentu kini mengimpor dari negara anggota yang biaya produksinya lebih rendah.

SebaJiknya pada trade diversion terjadi peningkatan

perdagangan karena pergeseran dari sumber pembelian dan biaya produksi rendah kepada sumber pembelian dan biaya produksi tinggi yang disebabkan penghapusan bea. masuk. Negara yang sebelumnya mengimpor suatu komoditi dari negara non-anggota kini mengimpornya dari sesama negara anggota, meskipun biaya produksi negara non-anggota lebih rendah dibandingkan dengan biaya produksi negara anggota.9 Seperti ditekankan dalam teori tradisional, konsekuensi statis yang terbaik dari integrasi ekonomi bagi negara-negara yang sedang berkembang adalah bahwa ia dapat mendatangkan sedikit keuntungan. Sebaliknya, kemungkinan konsekuensi yang terburuk adaJah membawa kerugian akibat integrasi ekonomi itu sendlrl." Namun keuntungan dinamis, seperti telah disebutkan sebelumnya yaitu timbulnya efisiensi dalam ekonomi nasional, telah mendorong pimpinan ASEAN memifih alternatif ini. Siap atau tidak siap, era perdagangan bebas ASEAN . telah berada di hadapan mata.

Para pelaku ekonomi yang akan memperoleh manfaat dari AFTA adalah produsen yang berorientasi ekspor dan konsumen, sedangkan yang dirugikan adalah produsen yang berorientasi ke pasar domestik dan pemerintah. Eksportir nasional akan memperoleh penurunan bea rnasuk bagi produksi mereka di negara

9 Seknas ASEAN, ASEAN Menghadapi Era Perdagangan Bebas, 1996-1997. 10 Pearl Imada, Manuel Montes & Seiji Naya, A Free Trade Area: Implications for AS EAN , ISEAS,

84

Regionalisme Ekonomi di Asia-Pasifik

ASEAN lain. Konsumen dapat membeli barang dengan harga lebih murah. Produsen berorientasi pasar domestik, akan mendapat saingan dari produk luar. Pemerintah akan mengalami pengurangan penerimaan karena bea masuk diturunkan. Masyarakat secara keseluruhan akan memperoleh manfaat dalam bentuk peningkatan efisiensi ekonomi naslonal."

Pandangan terhadap AFT A

Dalam penelitian yang dilakukan tahun 1994 mengenai pandangan pemerintah dan swasta terhadap AFTA diperoleh beberapa kesimpulan. Pemerintah memandang AFTA sebagai peluang yang perlu dimanfaatkan Indonesia tidak saja untuk meningkatkan daya saing komoditi nasional di pasaran regional dan internasional tetapi juga dapat menggairahkan investasi modal asinq." Kesungguhan pihak pemerintah terlihat dalam penyusunan mata dagangan yang masuk dalam skema CEPT yang dilakukan instansi terkait, juga telah diadakan pemasyaratan program AFT A ini di kalangan penguasa di berbagai daerah di Indonesia. Meskipun demikian, tingkat pemahaman para penguasa tersebut terhadap AFTA ternyata belumlah merata. Nanum demikian, pemerintah tampaknya menunjukkan sikap yang ambivalen terhadap program AFTA, antara lain dengan masih dilindunginya beberapa industri hulu, seperti dikeluhkan oleh beberapa pengLisaha industri plastik.

Sementara itu, pandangan pihak swasta dapat dikelompokkan menjadi tiga: optimis, pesimis dan tidak peduli terhadap AFTA. Mereka yang optimis umumnya adalah para pengusaha yang sudah berpengalaman di pasar intemasional seperti pengusaha mebel rotan, tekstil, semen dan pupuk. Sedangkan pengusaha yang selama ini menikmati proteksi pemerintah dan yang tidak berpengalaman dalam perdagangan internasional merasa pesimis. Oi samping itu, ada pula kalangan swasta yang tidak banyak menaruh perhatian terhadap AFTA karena mereka lebih tertarik

11 Pandangan beberapa pengusaha seperti terdapat dalam Asvi Warman Adam (penyunting), Strateg; Pemerintah dan Swasta Menghadap; AFTA, laporan penelitian PPW-UP1, 1995.

12 Indonesia dan AFT A: Pandangan Pemerintah dan Swasta, laporan penelitian PPW-l1Pl, 1994

Regionalisme Ekonomi Asia Tenggara dari Perspektif Indonesia 85

pad a proyek-proyek lain seperti segitiga pertumbuhan yang berhubungan langsung dengan mereka. Mereka munqkin kurang peduli p_ada AFTA karena tujuan ekspor bukan wilayah ASEAN. Bisa jadi pula, komoditi CEPT tersebut bukan produk andalan mereka.

Terlepas dari perbedaan pandangan di atas, beberapa asoslasl pengusaha (seperti elektronika dan plastik) seakan tawar-menawar dengan pemerintah. Menurut mereka, komoditi yag mereka usahakan tidak sangggup bersaing dengan barang impor bila pemerintah masih memberlakukan beberapa ketentuan yang dinilai tidak menguntungkan secara n~~ional. Terdapat pula pandangan pengusaha agar upaya yang dilakukan pemerintah untuk menyederhanakan prosedur blrokratls sejalan dengan pelaksanaan CEPT dan AFTA dilakukan secara serius dan konsisten. Oapat diterima bahwa AFTA dimaksudkan untuk mendukung proses deregulasi dan menurunkan proteksi industri di beberapa negara anggota untuk menghadapi tuntutan pasar yang serna kin tinggi. AFTA tidak bertentangan dengan program APEC dan GATT (yang kini bernama WTO). AFTA, APEC dan WTO, bagi anggota ASEAN, adalah suatu proses pengembangan perdagangan bebas secara bertahap yang dimulai dari fingkungan rnereka sendiri (AFTA) difanjutkan pada lingkungan yang lebih fuas (APEC) dalam mencapai tingkat global (WTO).

Oengan demikian, ketiga proses itu perlu dijalankan secara konsisten. Tentu dalarn setiap proses yang dilalui akan terdapat berbagai kendala internal dan eksternal. Tidak adanya keserasian langkah antara pihak pernerintah yang rnembuat kebijakan dan pengawas pelaksanaannya dengan pihak swasta yang akan rnenjalankan perdagangan bebas itu sendiri akan menjadi kendala internal utama. Sementara itu yang akan menjadi kendala eksternal adalah kurangnya kerjasama antar pemerintah neqara-neqara ASEAN pada ketiga proses tersebut di atas dalam melakukan harmonisasi aturan kebijakan nasional rnereka rnasing-rnasing yang mengarah kepada tujuan yang sama.

Pada tingkat propinsi terdapat pula kendala yang disebabkan _ oleh kesenjangan pernahaman antara pejabat pada instansi terkait di pusat yang cukup rnengerti tentang seluk-beluk AFTAdengan pejabat pelaksana di daerah-daerah. Oi samping itu

86

Regionalisme Ekonomi di Asia-Pasifik

pemasyarakatan AFTA di daerah juga belum efektif. Usaha mempopulerkan program ini di kalangan pengusaha belum dilaksanakan pejabat instansi terkait di daerah secara optimal karena berbagai kendala terutama keuangan.

Oaya saing kelapa sawit Indonesia menghadapi AFT A

Dari 15 komoditi yang termasuk jalur cepat CEPT kami telah melakukan penelitian terhadap tiga komoditi yaitu TPT (Tekstil dan Produk Tekstil), Elektronlka" dan Minyak Nabati (Kelapa Sawlt)." Mengenai kelapa sawit, sampai saat ini pangsa produksi dan ekspornya masih dikuasai oleh Malaysia. Namun, keterbatasan 1ahan untuk perluasan tanaman merupakan kendala utama Malaysia untuk mempertahankan pangs a pasarnya. Sementara itu, kemampuan produksi maupun ekspor negara ASEAN lain seperti Thailand dan Filipina relatif terbatas. Kemampuan Indonesia menggeser posisi Malaysia semakin besar, antara lain karena a) areal perkebunan masih bisa diperluas, b) peningkatan produktivitas per unit lahan masih terbuka.

Sementara itu prospek permintaan terhadap ke1apa sawit cukup baik. Pertama, jumlah penduduk dunia terus meningkat dengan laju 1,7% per tahun. Kedua, konsumsi minyak sawit per kapita meningkat dengan kecepatan tertinggi dibandingkan dengan kenaikan konsumsi per kapita untuk jenis minyak nabati lainnya. Ketiga, harga minyak sawit mampu bersairig dengan minyak nabati lainnya. Keempat, minyak sawit memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan minyak nabati lainnya, seperti penggunaannya yang semakin bervariasi dan mempunyai keunggulan fisik pada temperatur tinggi, mengandung Caroten, dan seterusnya. Aspek harga juga mendukung optimisme bisnis di sektor agro-industri ini. Meskipun pola perkembangan harga minyak sawit mengikuti siklus 5 sarnpai 7 tahun, tetapi kecenderungan jangka panjangnya adalah meningkat

13 Asyi Warman Adam (penyunting), Daya Saing TPT dan Elektronika Indonesia dalam Menghadapi AFTA,laporan penelitian PPW-LlPI, 1996.

14 Asvi Warman Adam (penyunting), Indonesia Menghadapi AFTA: Strategi Untuk Memberdayakan Industri Kelapa Sawit, laporan peneHtian PPW-LlPI, 1997.

Regionalisme Ekonomi Asia Tenggara dari Perspektif Indonesia 87

Namun optimisme tersebut ternyata tidak menjadi kenyataan.

Malaysia sudah berusaha melakukan relokasi industri sawit ini ke Indonesia seperti ke Kalimantan Barat. Sementara itu, pemerintah Indonesia telah memberi peluang bagi investor nasional dan asing untuk mengembangkan industri kelapa sawit. Kebijakan itu tertuang dalam peraturan pemerintah PP No. 20 tahun 1994 yang memberi kesempatan lebih besar bagi PMA dengan persyaratan kepemilikan saham nasional hanya 5%. Namun awal tahun 1997 investasi asing dalam kelapa sawit ditutup dengan alasan "untuk mengevaluasi derasnya investasi asing di perkebunan sawit". Pada tahun 1998 kebijakan ltu ditinjau kembali. Ketidakkonsistenan dan ketidaktransparanan kebijakan seperti ini yang menyebabkan investor asing merasa tidak nyaman berusaha di Indonesia.

Oaya Saing Ekspor 5 Komoditi ASEAN

Kajian mengenai daya saing ekspor negara-negara ASEAN 1986- 1995 dilakukan oleh Peter Wilson dan Wong Yin Mei.15 Studi tersebut mencoba melihat perubahan daya saing ekspor Singapura, Thailand, Malaysia, Filipina dan Indonesia dibanding dengan ekspor keseluruhan kelima negara ke AS dan Jepang. Kelima komoditi yang dikaji dengan analisis shit-share dua digit adalah 1) kimia organik, 2) mesin kantor/prosesing data, 3) peralatan telekomunikasi, 4) mesin listrik, 5) tekstil dan prod uk teksti!.

Penelitian di atas menyimpulkan bahwa a) Singapura mendapat saingan dari negara-negara ASEAN lainnya sepanjang periode kecuali pada produk yang termasuk kategori mesin kantor/mesin prosesing data, dalam sektor ini Singapura tetap berada posisi teratas; b) Thailand tampaknya lebih sukses pada periode awal tetapi tahap akhir prestasinya dikejar oleh negara lain yaitu Filipina dan terutama Malaysia; c) Indonesia boleh dikatakan kurang berhasil, kecuali dalam kategori tekstil dan produk tekstil ke AS.

Singapura mulai dikalahkan terutama oleh Malaysia di sektor kimia organik dan alat telekomunikasi pada kedua pasar (AS dan Jepang) serta untuk mesin listrik di pasar AS pada akhir tahun

15 Peter Wilson & Wong Yin Mei, ''The Export Competitiveness of ASEAN Economies, 1986-95", ASEAN Economic Bulletin, vol, 16, no 2, August 1999, Singapore: ISEAS.

88

Regionalisme Ekonomi di Asia-Pasifik

1980-an. Kebangkitan Malaysia,(dalam level lebih rendah, Thailand), sebagai kompetitor Singapura (bahkan juga sebagai pesaing "macan" ekonomi Asia lainnya, suatu saat nanti), disebabkan oleh diversifikasi ekspornya. Diakui bahwa petroleum tidak dimasukkan dalam analisis, sungguhpun produk tersebut sangat penting dan menentukan bagi Indonesia. Tetapi produk tersebut tidak bisa dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Tetapi paling sedikit, untuk kelima komoditi di atas Indonesia memang tidak berhasil melakukan diversifikasi karena hanya mengandalkan tekstil dan produk tekstil yang nllai tambahnya relatif keci!.

Segitiga Pertumbuhan

Selain dari program AFTA yang mengarah kepada perdagangan bebas dalam lingkup regional, negara-negara ASEAN secara terpisah menyetujui pengembangan pusat-pusat pertumbuhan dalam wilayah yang lebih kecil. Indonesia, Singapura dan Malaysia sepakat mengembangkan segitiga pertumbuhan Sijori (Singapura, Johor dan Riau) yang kemudian bernama IMS-GT (Indonesia, Malaysia, Singapura, Growth Triangle). Di bagian barat, terbentuk IMT-GT (Indonesia, Malaysia,. Thailand Growth Triangle). Di sebelah timur dijalin kerjasama BIMP-EAGA (Brunei, Indonesia, Malaysia, Philippines, East ASEAN Growth Area). Berikut ini diuraikan sedikit mengenai salah satu segitiga pertumbuhan yang dalam kasus ini dapat disebut segiempat pertumbuhan yaitu BIMPEAGA.

Ide kerjasama BIMP-EAGA (Brunei-Indonesia-Ma/aysia-

Philipines-:-Easf ASEAN Growth Area) pertama kali dikemukakan oleh Presiden Filipina Fidel Ramos di Brunei Darussalam Oktober 1992. Pada bulan September 1993 Ramos pergi ke Indonesia dan Presiden Soeharto menyatakan dukungan terhadap proyek tersebut. Perdana Menteri Malaysia Mahatir yang berkunjung ke Filipina Februari 1994 mengeluarkan dukungan serupa dan dua bulan kemudian menterikeempat negara ASEAN menandatangani pembentukan BIMP-EAGA.

Tujuan proyek ini adalah untuk mengembangkan sub-wilayah ekonomi masing-masing negara dalam rangka menarik investasi loka! dan aslnq serta meningkatkan perdagangan di Kawasan Timur

Regionalisme Ekonomi Asia Tenggara dan Perspektif Indonesia 89

ASEAN. Pada mulanya, selain dari Brunei Darussalam, kerjasama ini mencakup wilayah Sabah, Sarawak dan Labuhan (~alaysia), Mindanao dan Pahlawan (Filipina) dan tiga propinsi di ,1ndonesia (Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Sulawesi Utara). Dalam perkembangan selanjutnya, proyek ini mencakup 10 propinsi di Kawasan Timur Indonesia (KTI). BIMP-EAGA bermanfaat bc1gi daerah di Indonesia bila diatasi beberapa kendala yang ada seperti kesenjangan kewenangan antara pemerintah Pusat dan daerah. Hal ini tidak saja berlaku bagi pemerintah tetapi juga antara pemerintah

dengan swasta. _

Idealnya aspek multilateral di lingkungan BIMP-EAGA bisa diwujudkan dalam bentuk kerjasama: modal dari Malaysia/Brunei Darussalam, Indonesia memiliki sumber daya alam sedangkan Filipina mempunyai manager anda!. Namun kenyataan hubungan itu kebanyakan masih bersifat bilateral. Filipina Selatan berhubungan dengan Sulawesi Utara, Sarawak dengan Kalimantan Barat dan Sabah dengan Kalimantan Timur. Dari ketiga komposisi ini tampaknya hubungan antara Filipina Selatan dengan Sulawesi Utara yang paling gencar. Oleh sebab itu dirasakan tidak begitu perlu sepuluh propinsi diikutsertakan dalam BIMP-EAGA. Di samping memakan banyak biaya juga menyebabkan kerjasarna ini semakin tidak efektif. Jadi keanggotaan BIMPEAGA yang Jebih keeil akan memudahkan pereneanaan dan realisasinya.

Hubungan antara segitiga pertumbuhan dengan AFTA

Program AFTA dan beberapa segitiga pertumbuhan diJancarkan dalam waktu yang bersamaan, bahkan kerjasama SJJORI dimulai lebih dahulu (berdasarkan Riau Agreement aniara pemerintah Indonesia dan Singapura, 28 Agustus 1990. Dibandingkan dengan AFTA, maka segitiga pertumbuhan mefingkupi wi1ayah yang lebih keeil dengan keanggotaan yang lebih sedikil Bila' segitiga pertumbuhan merupakan pengaturan yang lrurang fonnal. maka AFTA adalahpengaturan yang fonnal dan terlembagakan secara formal pula." Oleh sebab itu pada AFTA. perundingan bisa

16 Seknas ASEAN Departemen Luar Negeri, Sub~Wi1ayah' EkonDmi ASEAN dan Kawasan Perdagangan Bebas ASEANJAFTA). Jakarta, 1995196

90

Regionalisme Ekonomi di Asia-Pasifik

berlangsung lama karena menyangkut kebijakan atau peraturan perdagangan yang lebih luas. Segitiga pertumbuhan mengikhtiarkan komplementaritas ekonomi untuk menarik investasi yang pada gilirannya akan memproduksi bagi pasar internasional, sedangkan AFTA tetiokus pada pembagian pasar regional dan bahkan melakukan diskriminasi terhadap negara bukan anggota.

Selanjutnya, risiko politik dan ekonomi, segitiga pertumbuhan lebih kecil daripada AFT A karena ia berada pada wilayah yang terbatas. Selain itu, ketiga segitiga pertumbuhan dapat ditonjolkan sebagai kegiatan ekonomi yang mendorong dan mempercepat terlaksananya AFT A. Sebagai suatu mekanisme yang mendorong pengembangan sektor swasta dan mengupayakan integrasi intraASEAN, segitiga pertumbuhan sejalan dan mendukung sasaran AFTA.

AFLA (Asean Free Labor Area)

Satu isu yang penting untuk dikaji untuk masa mendatang di ASEAN adalah masalah tenaga kerja pada tingkat regional. Salah satu aspek ekonomi dari terbentuknya ASEAN-10 adalah harapan terciptanya pasar besar yang terdiri dari 500 juta jiwa. Para investor tentu melirik ratusan juta jiwa sebagai konsumen yang potensial sehingga mereka tertarik untuk menanamkan modalnya di kawasan ini. Dari sisi lain, jumlah penduduk yang sebesar itu dapat dipandang sebagai produsen. Dalam hal ini kita melihatnya sebagai sumber tenaga kerja.

Adalah kenyataan bahwa penduduk Indonesia (200 juta jiwa) merupakan 40% dari penduduk seluruh ASEAN. Maka muncul kemudian pertanyaan apakah program AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang mencakup liberalisasi perdagangan di ASEAN sebaiknya diikuti pula dengan AFLA (ASEAN Free Labor Area). Pada sebuah kawasan yang berorientasi kepada integrasi ekonomi seperti Uni Eropa memang telah terjadi kebebasan pereda ran barang, modal, orang dan jasa. Dari keempat aspek ini, ASEAN baru menerapkan dua unsur yakni barang dan modal. Mengenai jasa, sebagian negara terutama Indonesia merasa belum siap. Bagaimana dengan kebebasan peredaran orang, artinya kebebasan lalu lintas tenaga kerja di lingkungan ASEAN ?

Regionalisme Ekonomi Asia Tenggara dari Perspektif Indonesia 91

Sudah sering dikemukakan oleh berbagai kalangan tentang pentingnya AFTA Plus, maksudnya agar AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang merupakan program ekonomi antar negara ASEAN tidak hanya menyangkut masalah perdagangan (penurunan tarif) tetapi dikaitkan pula dengan aspek investasi. Bila kita melangkah jauh, mengapa AFT A tidak dihubungkan pula dengan masalah tenaga kerja?

Indonesia perlu mengkaji untung-ruginya. Keuntungannya adalah kita memiliki jumlah penduduk terbanyak. Bila pekerja Indonesia bisa dengan be bas bekerja di lingkungan negara ASEAN, ini telah membantu beban pengadaan lapangan kerja di tanah air. Di samping itu tentu ada aliran pengiriman uang (remittance) dari luar negeri ke tanah air berupa tabungan atau kelebihan gaji pekerja yang dikirim ke kampung halaman mereka.

Di samping itu, jumlah tenaga kerja "haram" atau illegal diharapkan bisa berkurang. Padahal "pendatang haram" ini menyebabkan banyak persoalan sosial-ekonomis di Malaysia," Kerugiannya, bila justeru tenaga asing yang membanjiri negara kita sehingga lahan pekerjaan bagi warga Indonesia menjadi berkurang. Kita ketahul bahwa Vietnam misalnya memiJiki tenaga kerja yang sangat uJet. 8eberapa tahun yang siJam, untuk memperbaiki nasib mereka bersedia menyabung nyawa sebagai "manusia perahu". Apakah kita sanggup menghadapi manusia-manusia yang demikian gigih untuk memperbaiki taraf hidupnya. Namun untuk rnasa-rnasa sekarang, di mana Indonesia masih belum pulih sepenuhnya dar; keterpurukan ekonomi, "ancaman" datangnya tenaga kerja asing tersebut masih dipertanyakan. Harapan apa yang bisa diperoleh mereka dari sektor-sektor industri Indonesia yang masih terimbas krisis ekonomi agaknya akan menjadi pertimbangan utama mereka. .

Sehubungan ini perJu diperhitungkan komposisi usia penduduk Indonesia. Dua puluh tahun yang Jalu piramida penduduk Indonesia menurut usia berbentuk seperti "candi Borobudur", besar di bawah, banyak yang muda dan yang tua sedikit dl atas. Dewasa ini sedikit

17 Carunia Mulya Firdausy, Movement of People within and from the East dan Southeast Asian Countries: Trends, Causes,and Consequences, Jakarta: Toyota Foundation and Southeast Asian Studies Program, Indonesian Institute of SCiences, 1996.

92

Regionalisme Ekonomi di Asia-Pasifik

demi sedikit berubah menjadi "candi Prambanan", di bawah sedikit dan banyak di atas, Tahun 2020 seperti "candi Mendut", mirip gentong, besar di tengah, di bawah dan di atas sedikit."

Selain itu juga penting diperhatikan mobilitas penduduk di dalam negeri. Daerah yang menjadi pusat pertumbuhan seperti Batam akan senantiasa menjadi incaran pencari kerja dari daerah lain. Sementara itu secara umum, migrasi dari Indonesia Timur akan tetap berlangsung ke pulau Jawa. Kecuali bila pemerintah mampu

. menciptakan proyek besar pembangunan di Indonesia Timur seperti di Papua, yang tampaknya kurang memungkinkan dalam situasi pasca krisis dewasa ini.

Persoalan lain tentu menyangkut tingkat keahlian dan ketrampilan tenaga kerja itu. Selama ini kita mengirim ke luar negeri tenaga kerja murah yang sebagian masih belum trampil (kini sudah dilakukan secara bertahap peningkatan kualitas tenaga kerja yang akan di"karya"kan ke mancanegara). Pada masa selanjutnya apakah kita juga akan mendorong pengiriman tenaga ahli ke luar negeri. Apakah itu tidak berarti brain drain (semacam pelarian orang-orang pintar ke luar negeri). Kalau hanya satu dua orang mungkin tidak seberapa, tetapi kalau secara massal apakah itu tidak merugikan kepentingan nasional kita. Pertanyaan lainnya tentu mengenai berapa lama migrasi tenaga ahli itu apakah bersifat permanen atau hanya semusim? Yang terakhir ini tentu tak jadi masalah.

Sebaliknya bagaimana pula slkap kita menerima tenaga kerja asing. Tadi sudah disinggung tentang buruh Vietnam yang bekerja lebih tekun dengan upah lebih murah daripada di sini. Apakah tenaga kerja Indonesia sanggup bersaing menghadapi mereka? Belum lagi kalau tenaga ahli atau konsultan datang ke Indonesia secara bergelombang. Entah berapa banyak manajer Filipina yang diperkerjakan di Indonesia (contoh jelas dalam kasus tambang emas Busang). Paling tidak, eksekutif dari Filipina itu memiliki kelebihan dalam berbahasa Inggris. Namun sekarang ini sudah terdengar keluhan dari kalangan konsultan Indonesia. Berapa

18 Aris Ananta, "Penduduk Indonesia Masa Oepan", dalam Hadi Soesastro dan Iwan P Hutajulu (eds), Indonesia 2000: Wawasan Ekonomi, Sosial Budaya dan Po/itik. Jakarta: eSIS, 1996.

Regionalisme Ekonomi Asia Tenggara dari Perspektif Indonesia 93

banyak uang yang disedot untuk membayar gaji pekerja asing

tersebut. .

AFLA merupakan terobosan untuk menghilangkan kesan bahwa selama tiga dasawarsa inl kerjasama ASEAN hanya pada tingkat negara atau elite di kawasan ini. SUa program ini dapat diterapkan rnaka ASEAN akan menjadi nyatadalam kehidupan masyarakat. ASEAN akan menyangkut ratusan jiwa manusia dan pekerja di Asia Tenggara. ASEAN tidak hanya menjadi buah bibir di kalangan akademisi dan diplomat, tetapi menjadi titik perhatian masyarakat Asia Tenggara. Masalah ini perlu didiskusikan secara nasional karena ini menyangkut kepentingan kita semua. AFLA (ASEAN Free Labor Area) akan melemparkan 200 juta jiwa warga Indonesia ke "kawah Candradimuka lapangan kerja". Yang trampil atau mau meningkatkan kemampuan profesional akan muncul dengan lebih siap, sedangkan yang masih berlalai-Ialai akan tetap ketinggalan. Itu mernanq risikonya. Dalam jangka pendek, arus manusia (paling tidak untuk wisatawan) antar negara ASEAN perlu dibebaskan. Seyogianya ditetapkan bahwa warga ASEAN bisa berkunjung ke seluruh negara anggota tanpa visa selama 2 pekan. Hendaknya ini berlaku bagi semua negara anggota, sebab jika masih mau menutup dirl, untuk apa masuk ASEAN? Yang patut mendapat perhatian ekstra adalah belakangan ini arus keluar masuk manusia di ASEAN mengakibatkan terjadi reslko penyelundupan barang terlarang seperti narkotika.

Penutup

Meskipun sudah ada beberapa organisasi sebelumnya, baru tahun 1967 negara-negara di kawasan ini memiliki perhimpunan tingkat" regional yang mantap dengan berdirinya ASEAN. Selama seperempat abad kegiatan ASEAN lebih banyak memusatkan perhatian kepada bidang politik terutama mengendapkan sengketa yang ada antar anggota dan menciptakan citra sebagai organisasi kawasan yang solid di mata lnternaslonal. 8eberapa hal menyebabkan aspek ekonomi agak diabaikan. 8aru tahun 1992 dicanangkan program ekonomi yang lebih serius seperti program pembentukan AFTA dan pada waktu yang hampir bersamaan juga digerakkan segitiga pertumbuhan yang meliputi .beberapa negara /propinsi di ASEAN.

94

Regionalisme Ekonomi di Asia-Pasifik

Dari semula memang tidak banyak yang diharapkan dari keuntungan statis program AFTA. Perdagangan di wilayah ini termasuk perdagangan masing-masing negara lebih banyak dengan negara luar kawasan. Namun yang diinginkan sebetulnya keuntungan dinamis dari AFTA yaitu --mudah-mudahan-tercapainya efisiensi dalam perekonomian. Sudah sering terdengar keinginan mewujudkan AFT A Plus. Jadi bukan hanya peningkatan perdagangan yang dituju tetapi juga investasi. Sehubungan dengan ini, ASEAN sebetulnya telah merancang pembentukan Kawasan Investasi ASEAN (AlA, ASEAN Investment Area). Namun sebelum memulai program lnl, Asia Tenggara dilanda krisis ekonomi yang parah, sehingga kegiatan lni tertunda.

Segitiga pertumbuhan selama ini belum mencapai hasil optimal.

Dalam konteks SIJORI (atau IMS-GT) jelas Singapura berperan besar dan sangat berkepentingan. Tidak demikian halnya dengan kedua segitiga pertumbuhan lainnya yang kelihatannya kurang memiJiki dinamisator penggerak kerjasama itu. Sebab itu pada BIMP-EAGA, misalnya, yang berjalan adalah kerjasama tradisional yang selama ini sudah ada seperti antara Filipina Selatan dengan Sulawesi Utara atau antara Kalimantan Barat dengan Sarawak.

Dari pengamatan di lapangan disadari bahwa koordinasi kebijakan dan pelaksanaan yang konsisten antara pemerintah pusat dan daerah akan berpengaruh terhadap pengembangan kerjasama regional dalam rangka AFTA. Semakin terpadu koordinasi antara pihak swastadan pemerintah semakin tinggi tingkat keberhasilan pelaksanaan AFTA dl daerah. Diketahui pula bahwa sebagian produk Indonesia, baik pada tingkat nasional maupun daerah, mempunyaidaya saing yang tinggi. Namun mesti diingat bahwa Indonesia jangan hanya mengandalkan produk yang memiliki nllal tambah rendah, tetapi seyogianya melakukan diversifikasi ekspor pada produk-produk yang memiliki nilai tambah tinggi. Diakui bahwa komoditas seperti tekstil dan produk tekstil meski bernilai tambah rendah, mampu menyerap tenagakerja yang banyak. Untuk negara seperti Indonesia yang memiliki penduduk melimpah,sektor ini memang banyak membantu membuka lapangan kerja. Tetapi untuk masa depan, produk ini tidak bisa diharapkanbanyak, karena pesaingdatang dan negara ASEAN baru sepertiVietnam dan Kamboja. Keduanya juga aktif dalam bidang industri ini.

Regionalisme Ekonomi Asia Tenggara dari Perspektif Indonesia 95

Secara keseluruhan, pemberlakuan AFTA akan berdampak positif terhadap perkembangan ekspor komoditi nasional. Perlu ditegaskan bahwa daya saing produk Indonesia dltentukan tidak hanya oleh efisiensi usaha yang diupayakan oleh sektor swasta, melainkan juga oleh kemampuan pemerintah dalam menurunkan high-cost economy. Kegiatan demi kegiatan di lingkungan ASEA~ berjalan sesuai dengan perkembangan waktu. Kita mengetahui telah terjadi berbagai perubahan penting di wilayah inl termasuk perluasan ASEAN. Perlu penyesuaian balk bagi anggota baru ASEAN maupun anggota lama dalam melakukan kerjasama.

Krisis ekonomi yang melanda Asia Timur dan Asia Tenggara berdampak terhadap kegiatan di Iingkungan ASEAN yang menurun. Namun perlu digarisbawahi bahwa dampak krisis itu tidak merata pada semua daerah di Indonesia. Beberapa pelaku ekonomi di Sulawesi terutama petani yang melakukan ekspor, rnasih blsa bertahan denqan baik. Oleh sebab itu kerjasama pada segitiga perturnbuhan itu relatif terus berjalan meskipun wilayah ini dilanda krlsls Sehubungan dengan hal ini, segitiga pertumbuhan juga serna kin relevan dengan adanya otonomi daerah, karena selama ini berbagai MOU (Memorandum of Understanding) antara pihak swasta di daerah dengan pihak asing, tidak direalisasikan karena harnbatan sentralisasi perijinan investasi. Bila nanti ijin investasi bisadikeluarkan oleh daerah, maka segitiga perturnbuhan akan lebih berkernbang ..

Aspek lain yang periu diperhatikan di masa datang adalah pemasyarakatan ASEAN. Janganlah la sekedar menjadi pembicaraanantar akademisi dan diplomat tetapi juga menyangkut kepentinqan masyarakat banyak. Oleh sebab itu gagasan AFLA (ASEAN Free Labor Area) kiranya perlu dipertimbangkan. AFLA

. akan menjadikan kawasan Asia Tenggara menjadi wilayah tenaga kerja yang dinamis dan menghapuskan migrasi illegal yang terjadi selamaini(menyangkut sebagian pekerja Indonesia di Malaysia). Bagi Indonesia, program AFLA adalah kesempatan sekaliqus tantangan.