Anda di halaman 1dari 1

FADILAH RASKASIH

B111 09 410
PENGUASAAN TANAH PADA 2 FASE :
1. Persekutuan Hukum
Masyarakat hidup berkelompok sehingga penguasaan tanah saat itu
membuat kelompok yang disebut sebagai masyarakat adat. Hak kolektif
atas tanah dari suatu masyarakat adat atau persekutuan hukum adat
disebut hak ulayat. Isi hak ulayat adalah serangakaian wewenang dan
kewajiban suatu masyarakat hukum adat , yang berhubungan dengan
tanah yang terletak dalam lingkungan wilayahnya.
Hanya persekutuan hukum itu sendiri beserta para warganya yang
berhak mempergunakan tanah-tanah liarnya yang berada di sekitar
wilayah kekuasaanya. Orang luar hanya boleh mempergunakan tanah itu
dengan izin penguasa persekutuan tersebut, tanpa izin dianggap
melakukan pelanggaran. Adapun warga persekutuan hukum hanya boleh
mengambil manfaat dari wilayah hanya untuk keperluan sehari-hari dan
itupun harus memberi pemasukan, upeti, mesi, atau recognisi kepada
persekutuan hukum. Tanah ulayat dapat menjadi hak milik jika hubungan
antara anggota masyarakat hukum adat itu renggang. Pada masa sekarang
persekutuan hukum masih diterapkan di beberapa daerah di Indonesia,
seperti di Jawa di mana penduduk padat, maka di beberapa daerah yang
banyak perkebunan tebunya masyarakat hukum adat tertentu diwajibkan
untuk menyediakan sebagian tanahnya untuk ditanami tebu. Sisa dari
lingkungan tanah dapat dikuasai dan dimiliki secara bergilir oleh warga
masyarakat tersebut.

2. Feodal/Kerajaan
Pada masa ini penguasaan tanah tidak lepas dari otoritas raja
sebagai penguasa, raja adalah penguasa mutlak atas tanah. Kemudian
dalam pengelolaanya raja memiliki bawahan untuk mengatur tanah-tanah
tersebut. Menurut tradisi mutlak raja adalah satu-satunya pemilik tanah
dalam arti secara teoritis ialah yang berkuasa atasnya. Dalam
penguasaannya terkadang raja memberi penguasaan kepada orang-orang
yang dipercaya atau rakyat dari kerajaan untuk mengurusi tanah-tanah
tersebut. Sehingga terkadang ada tanah yang digarap secara turun temurun
yang akhirnya menjadi tanah milik perorangan. Pada masa sekarang
penguasaan tanah secara feodal masih ada seperti halnya di Yogyakarta
ada pola yang tetap dalam politik pertanahan adalah bahwa kepemilikan
atas tanah pada dasarnya tetap berada pada kuasa kesultanan.