Anda di halaman 1dari 8

ASPEK PENTING DAN PETUNJUK PRAKTIS DALAM

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG DI DEKAT PUSAT GEMPA


Nathan Madutujuh

1 PENDAHULUAN

Dalam beberapa kejadian gempa bumi di kota besar di Indonesia, seperti di Aceh, Jogja dan
Padang, telah dijumpai bahwa kerusakan bangunan dan besarnya korban jiwa yang terjadi
tidak hanya disebabkan oleh rendahnya mutu material, kesalahan dalam disain dan
kesalahan dalam konstruksi dan detail tulangan, melainkan juga oleh beberapa hal dibawah
ini: Peta gempa yang perlu di update, Pengaruh gelombang S dan Gempa Vertikal, Arah
memanjang bangunan, Kegagalan pondasi, Soil Liquefaction, differential settlement yang
besar, Efek kolom pendek, Efek Kolom Langsing, Efek Torsi, dan Kurangnya Redundancy
pada bangunan. Hal lain adalah tidak tersedianya jalur evakuasi yang aman secara struktur.

Untuk itu dalam tulisan ini akan dibahas: Apakah Design Code sudah memadai ?, Apakah
Pemahaman dan Kemampuan Perencana sudah memadai ?, Bagaimana meminimalisasi
Kegagalan Struktur ?, dan Bagaimana meminimalisasi Korban pada saat kegagalan struktur
(Plan B) ?.

2 KONSEP DISAIN LIMIT STATE

Prinsip dasar yang melandasi semua peraturan bangunan adalah bagaimana mendapatkan
disain gedung yang aman dan kalau pun terjadi keruntuhan harus dapat meminimalkan
korban jiwa. Bukan gempa yang membunuh, atau pun gedungnya, tetapi gedung yang
didisain dengan buruk. Walaupun gedung telah didisain dengan baik, keruntuhan gedung
tetap perlu diantisipasi, khususnya untuk daerah dekat pusat gempa, karena kemungkinan
selalu ada untuk ketidaktepatan data gempa yang digunakan, dan juga karena metode
disain kapasitas yang ada hanya ditujukan untuk getaran pada arah horizontal saja.

Untuk mendapatkan disain yang aman, perlu ditinjau beberapa limit states yang akan
menentukan keamanan suatu gedung. Limit State untuk gedung tahan gempa adalah sbb:
Kekuatan Tanah -> Kekuatan Pondasi -> Kekuatan Sloof -> Kekuatan Struktur -> Kekuatan
Struktur pada Jalur Evakuasi -> Kekuatan Struktur pada Emergency Shelter.

Rekomendasi: Kenali titik lemah gedung, tingkatkan redundansi, hindari sistem/komponen


tanpa redundansi (Kantilever, kolom langsing, Canopy), Perkuat struktur di jalur evakuasi
dengan gempa elastik (Hindari dinding bata di area koridor, perkuat tulangan dan stek
tangga, canopy, dsb)

3 MIKROZONASI PETA GEMPA

Dari beberapa kejadian gempa diperoleh data bahwa percepatan aktual batuan dasar pada
saat gempa ternyata lebih besar dari yang diberikan oleh peta gempa yang ada. Untuk Kota
Padang, telah diindikasikan kenaikan percepatan batuan dasar dari 0.25g (Zona 5) menjadi
0.4g (Lebih dari Zona 6 = 0.3g), dengan kenaikan 60%. Untuk itu diperlukan pemutahiran
peta gempa Indonesia berdasarkan riwayat gempa terakhir dan dengan skala yang lebih
halus (Mikrozonasi). Bila pada peta gempa yang baru akan diantisipasi gempa dengan
periode ulang 2500 tahun, maka dapat dibayangkan berapa besar gempa yang harus
diantisipasi sedangkan catatan riwayat gempa yang digunakan hanya sampai beberapa
ratus tahun saja.

Seminar dan Pameran Haki 2010 - “ Perkembangan dan Kemajuan Konstruksi Indonesia” 1
Rekomendasi: Gunakan Peta Gempa dengan update terbaru, atau Gunakan Peta Gempa
lama dengan Zona yang lebih tinggi + Importancy Factor 1.4

4 PENGARUH GELOMBANG P YANG BESAR

Energi gempa akan merambat dalam gelombang P, S, Raleygh dan Love. Energi yang
disalurkan oleh gelombang P ini (getaran horizontal push-pull) ini dominan untuk semua
lokasi, sehingga kita dapat merasakan getaran pada arah horizontal, tapi pada daerah dekat
pusat gempa, gelombang S juga akan memiliki pengaruh signifikan, dimana getaran vertikal
dan differential settlement yang terjadi akibat perambatan gelombang S ini akan memiliki
efek merusak yang besar. Gelombang P yang besar akan menyebabkan percepatan
horizontal yang besar, kebutuhan untuk daktilitas struktur yang tinggi dan meningkatnya
potensi Liquefaction pada tanah berpasir lepas.

Rekomendasi: Gunakan sistem struktur yang berpotensi daktail (Portal Daktail atau Dinding
Geser), Gunakan prinsip disain kapasitas secara ketat, Gunakan nilai R yang lebih kecil dari
maksimum (R=7 untuk SRPMK), Periksa potensi liquefaction bekerjasama dengan Ahli
Geoteknik yang kompeten, Arah lemah kolom jangan berada pada arah gempa.

5 PENGARUH GELOMBANG S YANG BESAR

Gelombang S ini dapat terlihat pada saat gempa terjadi, sebagai pergerakan tanah naik-
turun. Pengaruh gelombang S dan gempa vertikal ini akan menyebabkan dua hal:
Penambahan beban vertikal, Differential Settlement yang besar.

Gambar 1 Gelombang P dan S

Rekomendasi: Hindari penggunaan balok prategang, Gunakan Rasio panjang:lebar = 1:4,


Gunakan Sloof yang sanggup memikul differential settlement >= 50-100mm, letakkan arah
panjang bangunan pada arah tegak lurus gempa (arah pendek searah gempa). Untuk
daerah sangat dekat dengan episenter, bangunan dibatasi tidak boleh memanjang, tetapi
berbentuk kotak atau bulat, karena arah gempa tidak dapat ditentukan dengan pasti.

Seminar dan Pameran Haki 2010 - “ Perkembangan dan Kemajuan Konstruksi Indonesia” 2
6 ARAH MEMANJANG BANGUNAN (DIRECTIVITY)

Dari penelitian yang dilakukan oleh Rahardjo (2010) di Kota Padang setelah gempa
September 2009, didapati fenomena yang menarik, yaitu ada beberapa bangunan yang
identik dan berumur sama, namun yang satu memanjang pada arah gempa, dan yang lain
arah memanjangnya tegak lurus gempa, dijumpai bahwa bangunan yang arah
memanjangnya sejajar arah gempa mengalami keruntuhan, sedangkan bangunan yang
terletak pada arah tegak lurus tetap utuh. Bahkan ada beberapa gedung yang berbentuk L,
mengalami keruntuhan pada bagian sayap yang sejajar arah gempa (Barat-Timur).

Salah-satu penyebab dari fenomena ini adalah karena gelombang S merambat pada arah
gempa dan bila arah memanjang bangunan sejajar dengan gelombang S ini maka,
gelombang vertikal ini akan menyebabkan differential settlement yang besar dan berulang-
ulang pada bangunan, yang mengakibatkan patahnya balok dan sloof karena momen yang
berubah tanda, dan menyebabkan keruntuhan. Bila arah pendek bangunan yang
mengalaminya, efeknya akan jauh berkurang.

Rekomendasi: Letakkan arah memanjang bangunan tegak lurus arah gempa, atau gunakan
denah kotak / bulat saja, Gunakan Rasio panjang:lebar = 1:4, Gunakan Sloof yang sanggup
memikul differential settlement >= 50-100mm.

7 AKSELERASI VERTIKAL GEMPA

Akselerasi vertikal gempa pada daerah dekat pusat gempa cukup signifikan dan perlu
diperhitungkan dalam disain. Sayangnya data dan ketepatan pengukuran akselerasi vertikal
ini sangat minim, karena hanya dapat diukur langsung pada lokasi kejadian gempa saja.
Besar akselerasi vertikal ini adalah av = 0.3g – 1.0g, dimana untuk Zona 6, SNI-1726-2003
memberikan av,max = 0.304 (Zone 6, I=1.0).

Akselerasi vertikal yang besar akan menyebabkan balok retak pada daerah tulangan
sekunder, dan efeknya akan lebih signifikan pada balok prategang karena balok prategang
hanya dioptimasi untuk beban vertikal ke arah bawah saja.

Rekomendasi: Hindari penggunaan balok prategang atau gunakan tulangan tambahan


untuk akselerasi vertikal, Perhitungkan akselerasi vertikal dalam kombinasi beban, minimal
akselerasi vertikal yang digunakan = 0.5g (Faktor beban vertikal = 1.5)

1.2 DL + 1.6 LL (1)


1.5 * (DL + LL) +/- EQx +/- 0.3 EQz (2)

8 POTENSI LIQUEFACTION

Pada tanah dengan lapisan pasir halus dan tekanan air pori tinggi (tipikal tanah daerah
pantai), gelombang P yang besar akan menyebabkan percepatan horizontal yang besar
yang meningkatkan tekanan air pori yang menyebabkan lapisan pasir secara tiba-tiba
kehilangan daya dukungnya sama sekali, bahkan dapat memancar keluar dari dalam tanah.
Karena hal ini dapat terjadi tidak merata pada area gedung, maka gedung dapat mengalami
diffrerential settlement yang sangat besar secara tiba-tiba (mencapai 20-100cm), yang akan
menyebabkan keruntuhan. Pedoman geoteknik untuk meninjau bahaya Liquefaction ini
dapat dilihat pada tulisan Rahardjo (2010). Pada Gempa Padang 2009, banyak bangunan
yang menggunakan pondasi sumuran dangkal mengalami keruntuhan atau kerusakan hebat
yang diakibatkan oleh efek liquefaction ini, sedangkan kedalaman aktual bedrock adalah 25-
40m. Catatan: Efek Liquefaction ini tidak dapat dilawan tapi harus dihindari dengan sistem
pondasi yang tepat.

Seminar dan Pameran Haki 2010 - “ Perkembangan dan Kemajuan Konstruksi Indonesia” 3
Rekomendasi: Harus meninjau potensi liquefaction, Gunakan pondasi tiang menembus
lapisan liquefaction atau pondasi raft, atau Pile-raft, Gunakan pelat dasar beton bertulang
minimal 30cm dengan tulangan minimal D13-150 sebagai cadangan kekuatan
(Redundancy) terhadap liquefaction.

9 DISAIN PONDASI TAHAN GEMPA

Pondasi yang digunakan harus memiliki kekuatan dan redundansi yang cukup dan dapat
mengurangi bahaya liquefaction. Jenis pondasi yang dapat dipilih adalah : Pondasi Tiang
Pancang, Pondasi Pile-Raft, Pondasi Raft + Grouting dimana pondasi harus didisain
terhadap kombinasi gaya sbb:

DL + LLrt <= P (3)


DL + LLrf + EQx +/- 0.3 Eqz <= 1.3 P (4)
DL + LLrf + (EQx +/- 0.3 Eqz) <= 2.5 P (5)

Dimana : P = daya dukung ijin tiang, LLrt adalah Live Load dengan reduksi
tingkat, dan LLrf adalah Live Load dengan reduksi terhadap gempa

Untuk meningkatkan redundansi, hindari penggunaan tiang tunggal, dan gunakan jarak
antar tiang minimal 3D. Untuk tanah lunak, digunakan grouting semen pada sekeliling tiang,
dan urugan sirtu yang dipadatkan setebal 2m pada lapisan tanah teratas. Lantai dasar harus
menggunakan pelat beton setebal minimal 30cm sebagai cadangan kekuatan.

10 SISTEM STRUKTUR YANG DAKTAIL

Untuk daerah dekat pusat gempa, penggunaan sistem struktur yang daktail dan memiliki
redundansi tinggi adalah suatu keharusan. Empat hal yang harus dihindari adalah: Denah
yang kurang baik, Efek Torsi, Efek Soft-Story, dan Efek Balok Transfer dan Kolom Pendek.
Efek torsi dapat dihindari dengan menggunakan denah yang simetris dan tidak memiliki
tonjolan yang panjang.

Gambar 2 Efek Soft-Story (Earthquake Tips, 2010)

Seminar dan Pameran Haki 2010 - “ Perkembangan dan Kemajuan Konstruksi Indonesia” 4
Efek Soft-Story ini dapat terlihat jelas atau tersembunyi dalam bangunan, seperti gambar b
dan c diatas. Pada gambar 2d terlihat potensi kerusakan pada kolom gantung dan balok
transfer.

Rekomendasi: Hindari gedung yang terletak diatas lereng karena gedung demikian akan
mengalami efek soft-story, efek kolom-pendek, dan efek torsi sekaligus. Tanah di lereng
juga dapat mengalami liquefaction pada arah horizontal yang akan menyebabkan
keruntuhan lereng.

Gambar 3 Efek Soft-Story dan Kolom Pendek (Earthquake Tips, 2010)

Pada kejadian Gempa Padang, dijumpai banyak sekali Ruko yang mengalami kerusakan
pada area pintu depan. Hal ini disebakan efek soft-story dan efek kolom-pendek, dimana
pada bagian depan ruko ada balok melintang diatas pintu besi yang membentang dari kolom
sisi kiri ke sisi kanan ruko (Gambar 3b). Balok melintang ini akan menyebabkan efek kolom
pendek (Short-Column Effects), dimana seharusnya penulangannya adalah menggunakan
sengkang rapat sepanjang kolom pendek, sbb:

Gambar 4 Penulangan untuk Efek Kolom-Pendek (Earthquake Tips, 2010)

Seminar dan Pameran Haki 2010 - “ Perkembangan dan Kemajuan Konstruksi Indonesia” 5
11 SISTEM STRUKTUR DENGAN REDUNDANSI TINGGI

Karena ada begitu banyak faktor yang belum dapat ditentukan dengan akurat,
menggunakan sistem struktur dengan redundansi tinggi sangatlah dianjurkan untuk
menghindari korban jiwa yang besar pada saat kegagalan struktur. Hindari penggunaan
kantilever panjang, bangunan gantung, balok transfer, kolom langsing, flat-slab, yang
berpotensi menghasilkan keruntuhan tiba-tiba.

Detail tulangan untuk disain kapasitas mutlak harus digunakan (Imran, 2010). Tulangan joint
dan tulangan menerus minimal 2 batang diatas dan bawah balok (dengan diameter yang
sama dengan tulangan utama) harus dipasang baik pada balok maupun pelat lantai.

Mutu bahan beton digunakan minimal K-300 dan mutu baja minimal U-39 (Ulir) dengan
Fu/Fy > 1.25 dan 1.0 < Fy,actual / Fy < 1.30.

Reduksi beban hidup yang digunakan adalah maksimal 0.50 (50%) saja, atau dianjurkan
menggunakan 100% beban hidup pada saat gempa.

Untuk bangunan sekolah, rumah ibadah, pemadam kebakaran, power house, gardu, rumah
sakit, kampus, hotel, apartment, rusunami, asrama, kantor pemda, chemical plant, dan
bangunan dengan minimal penghuni 300 orang, minimal digunakan Importancy Factor 1.40.

Untuk Zona gempa 6, tinggi bangunan perlu dibatasi sampai 8-20 tingkat saja.
Kekakuan struktur ditingkatkan dan dibatasi secara lebih konservatif. Analisis dinamik
dibatasi dengan nilai-nilai dan batasan sbb:

1. Time Periode To dibatasi <= 0.10 - 0.12 NF dimana NF = Jumlah lantai


2. Mode 1 dan 2 harus berupa translasi
3. Drift bangunan harus dibatasi < Drift maksimum
4. Koreksi Eksentrisitas harus diterapkan
5. Persyaratan Base shear dinamik Vd >= 0.8 Base shear statik harus dipenuhi
6. Effective Mass Participation >= 90%

12 JALUR EVAKUASI DAN EMERGENCY SHELTER

Untuk mengurangi korban jiwa secara total, limit state yang terakhir, yaitu jalur evakuasi dan
tempat penampungan korban harus direncanakan untuk memiliki kekuatan yang lebih dari
bagian struktur yang lain.

Struktur tangga yang biasanya didisain secara biasa saja, sekarang perlu ditinjau terhadap
gempa yang lebih besar (gempa elastik), khususnya daerah sambungan, agar kejadian di
Padang, dimana banyak tangga yang terlepas pada saat penghuni hendak keluar gedung,
tidak terjadi lagi.

Sepanjang jalur evakuasi, dinding tembok didisain untuk menggunakan bahan yang ringan,
atau diikat dengan baik agar tidak melukai penghuni yang sedang melarikan diri.

Khusus untuk gedung yang menjadi tujuan berkumpul (meeting point) dan mengungsi,
seperti rumah ibadah, sekolah, rumah sakit, harus didisain dengan Importancy Factor dan
redundansi yang lebih tinggi.

Rekomendasi: Gunakan dinding hebel/dry-wall, Disain tangga dengan gempa elastik,


Gunakan diameter tulangan utama tangga >= D16, stek tulangan tangga yang lebih panjang

Seminar dan Pameran Haki 2010 - “ Perkembangan dan Kemajuan Konstruksi Indonesia” 6
(60 Db), Gunakan Importancy Factor >= 1.4 untuk rumah ibadah, sekolah, rumah sakit, dan
posko Bencana. Gunakan R=7.0, Naikkan tulangan lapangan 20%, Hindari pengurangan
tulangan tumpuan akibat redistribusi momen.

13 SUMMARY

Dari pembahasan diatas dapat diberikan ringkasan sebagai petunjuk praktis untuk
digunakan pada perencanaan gedung tahan gempa di daerah dekat pusat gempa (Zona
5/6) sbb :

1. Gunakan sistem struktur daktail dan denah simetris


2. Arah memanjang gedung tegak lurus arah gempa
3. Gunakan tinggi tingkat seminimal mungkin
4. Gunakan Mutu beton K-300, Baja Ulir U-39
5. Gunakan Tanah Lunak (Soft soil)
6. Gunakan Zona 6 dengan Percepatan bedrock ah = 0.4g
7. Gunakan Zona 6 dengan Percepatan vertikal av = 0.5g
8. Gunakan R = 7.0 < 8.5 untuk SRPMK
9. Gunakan Faktor Keutamaan, I = 1.4-1.6
10. Gunakan Perioda Dasar, To <= 0.10 - 0.12 NF
11. Check terhadap liquefaction menggunakan data borlog dan sondir CPTu
12. Sistem Pondasi Tiang menembus lapisan liquefaction
13. Gunakan pelat lantai dasar beton t=30cm, tulangan minimal D13-150 //
14. Tanah lunak sekeliling tiang digrouting dengan air semen sedalam 10m dan
dan sirtu 2m
15. Sloof didisain dapat menahan differential settlement >= L/100
16. Gunakan tulangan joint dan tulangan penuh pada kolom pendek
17. Tulangan lapangan ditambah 20%, tulangan tumpuan tetap
18. Hindari penggunaan balok/pelat prategang tanpa tulangan penguat
19. Hindari penggunaan kolom pipih
20. Gunakan standard detail kapasitas untuk beton bertulang
21. Gunakan shearwall daktail bilamana mungkin
22. Hindari penggunaan patokan Rasio beton dan Rasio tulangan

Rekomendasi untuk Pemda Kota di daerah yang dekat Pusat Gempa:

1. Pencatatan gempa horizontal dan vertikal yang lebih akurat perlu disediakan
2. Model gedung dengan To = 0.1 detik dan 1.0 detik yang dilengkapi dengan
instrumentasi perlu dibuat untuk memvalidasi teori yang ada
3. Peta Mikrozonasi gempa perlu dibuat dengan teliti
4. Peta Potensi Liquefaction perlu dibuat dengan teliti disertai peta rekomendasi
jenis pondasi
5. Beberapa gedung tinggi perlu dilengkapi instrumentasi untuk mendapatkan
perilaku aktual, validasi teori dan data yang digunakan dalam disain.
6. Untuk non-engineered building, perlu disediakan standard design untuk rumah
T.21, T.36, T.72, T.108 yang dapat diakses oleh semua pihak
7. Menyediakan Check-List sesuai rekomendasi diatas untuk memeriksa disain
dari engineered building

Seminar dan Pameran Haki 2010 - “ Perkembangan dan Kemajuan Konstruksi Indonesia” 7
14 PENUTUP

Demikian pembahasan mengenai petunjuk praktis untuk perencanaan gedung tahan gempa
di daerah dekat pusat gempa ini, semoga tulisan ini dapat digunakan sebagai pedoman dan
rekomendasi dalam merencanakan gedung yang aman terhadap gempa di daerah tersebut
sampai dikeluarkan petunjuk yang lebih lengkap dan akurat dari badan yang lebih
berwenang berdasarkan data yang lebih mutahir dan akurat.

DAFTAR PUSTAKA

FEMA 99, Non-technical explanation of NEHRP Recommendation, 1999, IIT/BMTPC,


Earthquake Tips, 2010

Rahardjo, P. P, Potensi Liquefaction Kota Padang, Seminar Gempa ITP, Padang, 2010.

Imran, Iswandi, Disain Konstruksi Beton Tahan Gempa, Seminar Gempa ITP, Padang, 2010

Makalah ini disampaikan dalam rangka diseminasi informasi melalui Seminar HAKI.
Isi makalah sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis, dan tidak mewakili pendapat HAKI.

Seminar dan Pameran Haki 2010 - “ Perkembangan dan Kemajuan Konstruksi Indonesia” 8