Anda di halaman 1dari 1

KIAT MENGETAHUI AIB DIRI SENDIRI

Ketika kita bicara masalah aib, kebanyakan dari kita


menghindari atau menutupinya.padahal yang sebenarnya kita
harus mengetahui aib-aib kita untuk melakukan perbaikan.
Didalam kitab Mukhtashar Minhaj al-Qashidin
dijelaskan bahwa ada emapt cara yang dapat dilakukan oleh
manusia untuk mengetahui aib dirinya.
Pertama, dengan cara mencari seorang “guru” yang
memahami aib-aib jiwa dan memberitahu kita cara
mengobatinya. Guru seperti ini ibarat seorang dokter
spesialis yang handal, dan sangat disayangkan jika kita
meninggalkannya apalagi pada zaman seperti ini sang guru
seperti ini begitu sulit kita temukan.
Kedua, mencari seorang teman atau sahabat yang tulus,
jujur, bernurani bersih, berakhlak baik dan beragama
baik. Teman yang seperti ini akan menjadi pengontrol bagi
kita, ibarat alarm dia akan mengingatkan kita pada saat
kita melakukan perbuatan atau perilaku yang tidak
terpuji. Akan tetapi pada zaman seperti saat ini sangat
sedikit teman yang tidak berpura-pura dan tidak berbasa-
basi dihadapan kita dan bersedia memberitahu kita
kekurangan yang ada dalam diri kita. Sangat sulit bagi
kita menemukan seoorang teman / sahabat yang memiliki
sifat seperti tersebut diatas, apalagi terkadang kita
membenci orang yang memberitahu aib-aib kita.
Ketiga, mengambil pelajaran dari perkataan orang—
orang yang tidak menyukai kita, karena orang yang tidak
menyukai kita pasti akan melihat seluruh kelemahan atau
kejjelekan kita. Manfaat yang ddapat kita ambil dari
oorang yang tidak menyukai kita (kontra) yang menyebutkan
aib-aib (kekurangan) kita jauh lebih besar dari pada yang
diambil dari teman yang berpura-pura di hadapan kita dan
menyembunyikan aib-aib kita.
Keempat, banyak bergaul dengan orang lain dan kita
harus menghindari semua tindakan tercela yang kita lihat
pada mereka.
Kita harus berhati-hati pada kamuflase hawa nafsu.
Kita harus mengakui aib dan dosa-dosa kita, berniat
melakukan perbaikan, tidak malu meminta nasihat. Menjadi
orang yang realistis, mengawasi celah celah jiwa kita.
Walaupun melakukannya secara terperinci aadalah hal yang
sulit dilakukan oleh jiwa.
Jika Allah SWT menghendaki kebaikan kepada seseorang,
maka DIA membuat orang itu mampu melihat aib-aib dirinya.
Jika kita sudah tau aib-aib kita maka kita akan mampu
mengobatinya. Ttapi kebanyakan dari kita tidak mengetahui
aib-aib kita. Kebanyakan dari kita melihat kotooran di
mata orang lain, tapi tidak dapat melihat kotoran di mata
kita sendiri.