Anda di halaman 1dari 11

Baitul Mal wa Tamwil 

(BMT)

Baitul Mal atau Baitul Mal wat Tamwil begitu marak belakangan ini seiring dengan
upaya umat untuk kembali berekonomi sesuai syariah dan berkontribusi menanggulangi krisis
ekonomi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997. Namun Baitul Mal atau BMT ternyata
dipahami secara sempit sebagai lembaga ekonomi privat yang mengurusi sebagian aspek
ekonomi umat, seperti wadhiah atau mudharabah.

Padahal, Baitul Mal sesungguhnya bukanlah lembaga privat atau swasta, melainkan
sebuah lembaga yang mengurusi segala pemasukan dan pengeluaran dari negara Islam
(Khilafah). Baitul Mal dalam pengertian ini, telah dipraktekkan dalam sejarah Islam sejak masa
Rasulullah, diteruskan oleh para khalifah sesudahnya, yaitu masa Abu Bakar, Umar bin
Khaththab, Utsman bin Affan, Ali Bin Abi Thalib, dan khalifah-khalifah berikutnya, hingga
kehancuran Khilafah di Turki tahun 1924. Gagasan konsep Baitul Mal yang ideal perlu disusun
dengan merujuk kepada ketentuan-ketentuan syariah, baik dalam hal sumber-sumber pendapatan
maupun dalam hal pengelolaannya.

Sumber-sumber pendapatan Baitul Mal adalah fai’, ghanimah/anfal, kharaj, jizyah,


pemasukan dari harta milik umum, pemasukan dari harta milik negara, usyuur, khumus dari
rikaz, tambang, serta harta zakat. Sedang pengelolaannya didasarkan pada enam kategori harta,
yaitu (1) harta zakat, (2) harta untuk menanggulangi terjadinya kekurangan dan untuk
melaksanakan kewajiban jihad, (3) harta sebagai suatu pengganti/kompensasi (badal/ujrah),
seperti gaji pegawai negeri, (4) harta untuk kemaslahatan secara umum yang merupakan
keharusan, (5) harta untuk kemaslahatan secara umum yang tidak merupakan keharusan, dan (6)
harta untuk menangani kondisi darurat, semisal bencana alam.

1. Pendahuluan

Istilah Baitul Mal atau Baitul Mal wat Tamwil (BMT) belakangan ini populer seiring
dengan semangat umat untuk berekonomi secara Islam dan memberikan solusi terhadap krisis
ekonomi yang terjadi di Indonesia sejak 1997. Istilah-istilah itu biasanya dipakai oleh sebuah
lembaga khusus (dalam sebuah perusahaan atau instansi) yang bertugas menghimpun dan
menyalurkan ZIS (zakat, infaq, shadaqah) dari para pegawai atau karyawannya. Kadang istilah
tersebut dipakai pula untuk sebuah lembaga ekonomi berbentuk koperasi serba usaha yang
bergerak di berbagai lini kegiatan ekonomi umat, yakni dalam kegiatan sosial, keuangan
(simpan-pinjam), dan usaha pada sektor riil (Tim DD-FES-BMT, 1997).

Memang, niat dan semangat yang tinggi untuk berekonomi Islam itu patut dihargai. Akan
tetapi, penggunaan istilah Baitul Mal tersebut nampaknya perlu dipertimbangkan lagi secara
bijaksana. Karena, penggunaan istilah Baitul Mal sekarang ini sebenarnya adalah suatu reduksi
¾ kalau tak dapat dikatakan distorsi ¾ terhadap ketentuan syariah Islam tentang Baitul Mal.
Dalam konsep aslinya ¾ seperti yang tersebut dalam ketentuan nash-nash syara’ maupun praktek
konkretnya dalam sejarah Islam ¾ Baitul Mal merupakan salah satu lembaga dalam negara Islam
(Khilafah Islamiyah) yang tugas utamanya adalah mengelola segala pemasukan dan pengeluaran
negara (Zallum, 1983). Baitul Mal merupakan lembaga keuangan negara yang bertugas
menerima, menyimpan, dan mendistribuslkan uang negara sesuai ketentuan syariat. Ringkasnya,
Baitul Mal dapat disamakan dengan kas negara yang ada dewasa ini (Dahlan, 1999).

Jadi, ada “bahaya” tersamar dengan penggunaan istilah Baitul Mal ¾ juga istilah Baitul Mal wat
Tamwil (BMT)¾ seperti yang populer sekarang. Pertama, istilah Baitul Mal hanya akan
dipahami secara dangkal dan parsial, tidak lagi dipahami sebagai institusi yang terintegrasi
dalam negara Islam (Khilafah). Jika istilah Baitul Mal disebut, umat tak lagi berpikir lagi tentang
Khilafah, yang menjadi payung atau induk keberadaannya, namun yang terpikir adalah aktivitas-
aktivitas ekonomi parsial yang dilakukan oleh rakyat, bukan oleh negara. Kedua, penggunaan
istilah Baitul Mal akan dapat membius atau meninabobokkan umat dan membuat mereka puas
dengan apa yang telah mereka capai, sehingga lupa terhadap sistem ekonomi Islam yang hakiki,
yang hanya akan terwujud dalam naungan negara Khilafah. Mereka mungkin akan menyangka,
Baitul Mal yang ada sekarang adalah kurang lebih sama dengan Baitul Mal yang ada dalam
sejarah Islam.

Mungkin karena alasan semacam itulah, istilah Baitul Mal di Aceh kemudian disepakati untuk
diubah namanya menjadi Baitul Qiradh (Hakim, 1995). Di Kuwait sebuah lembaga keuangan
diberi nama Baitut Tamwil Al Kuwaiti (Qaradhawi, 1997). Fenomena semacam ini kiranya dapat
menjadi bahan pertimbangan dan renungan.
Namun, terlepas dari dua “bahaya” itu, konsep Baitul Mal itu sendiri memang harus dikaji
kembali dengan seksama dengan melihat ketentuan hukum syara’ mengenai Baitul Mal dan
realitas objektif dari praktek Baitul Mal yang terbentang sepanjang sejarah Islam. Dengan
demikian, kita akan memiliki persepsi yang benar dan utuh mengenai Baitul Mal, termasuk
kedudukannya sebagai bagian integral dari Khilafah. Dengan bekal persepsi yang benar inilah,
mudah-mudahan kita akan mampu menerapkan konsep Baitul Mal secara sempurna dalam
realitas kehidupan suatu saat kelak, Insya Allah.

2. Pengertian Baitul Mal

Baitul Mal berasal dari bahasa Arab bait yang berarti rumah, dan al-mal yang berarti harta. Jadi
secara etimologis (ma’na lughawi) Baitul Mal berarti rumah untuk mengumpulkan atau
menyimpan harta (Dahlan, 1999).

Adapun secara terminologis (ma’na ishtilahi), sebagaimana uraian Abdul Qadim Zallum (1983)
dalam kitabnya Al Amwaal Fi Daulah Al Khilafah, Baitul Mal adalah suatu lembaga atau pihak
(Arab: al jihat) yang mempunyai tugas khusus menangani segala harta umat, baik berupa
pendapatan maupun pengeluaran negara. Jadi setiap harta baik berupa tanah, bangunan, barang
tambang, uang, komoditas perdagangan, maupun harta benda lainnya di mana kaum muslimin
berhak memilikinya sesuai hukum syara’ dan tidak ditentukan individu pemiliknya ¾ walaupun
telah tertentu pihak yang berhak menerimanya ¾ maka harta tersebut menjadi hak Baitul Mal,
yakni sudah dianggap sebagai pemasukan bagi Baitul Mal. Secara hukum, harta-harta itu adalah
hak Baitul Mal, baik yang sudah benar-benar masuk ke dalam tempat penyimpanan Baitul Mal
maupun yang belum.

Demikian pula setiap harta yang wajib dikeluarkan untuk orang-orang yang berhak
menerimanya, atau untuk merealisasikan kemaslahatan kaum muslimin, atau untuk biaya
penyebarluasan dakwah, adalah harta yang dicatat sebagai pengeluaran Baitul Mal, baik telah
dikeluarkan secara nyata maupun yang masih berada dalam tempat penyimpanan Baitul Mal.

Dengan demikian, Baitul Mal dengan makna seperti ini mempunyai pengertian sebagai sebuah
lembaga atau pihak (al-jihat) yang menangani harta negara, baik pendapatan maupun
pengeluaran.

Namun demikian, Baitul Mal dapat juga diartikan secara fisik sebagai tempat (al- makan) untuk
menyimpan dan mengelola segala macam harta yang menjadi pendapatan negara (Zallum, 1983).

Insitusi Baitul Mal


Baitul mal merupakan institusi yang dominan dalam perekonomian Islam. Institusi ini secara
jelas merupakan entitas yang berbeda dengan penguasa atau pemimpin negara. Namun
keterkaitannya sangatlah kuat, karena institusi Baitul Mal merupakan institusi yang menjalankan
fungsi-fungsi ekonomi dan sosial dari sebuah negara Islam. Dalam banyak literatur sejarah
peradaban dan ekonomi Islam klasik, mekanisme Baitul Mal selalu tidak dilepaskan dari fungsi
khalifah sebagai kepala negara. Artinya berbagai keputusan yang menyangkut baitul mal dan
segala kebijakan institusi tersebut secara dominan dilakukan oleh khalifah.

Fungsi dan eksistensi Baitul Mal secara jelas telah banyak diungkapkan baik pada masa
Rasulullah SAW maupun pada masa kekhalifahan setelah Beliau wafat. Namun secara konkrit
pelembagaan Baitul Mal baru dilakukan pada masa Umar Bin Khattab, ketika kebijakan
pendistribusian dana yang terkumpul mengalami perubahan. Lembaga Baitul Mal itu berpusat di
ibukota Madinah dan memiliki cabang di profinsi-profinsi wilayah Islam.

Seperti yang telah diketahui, pada masa Rasulullah SAW hingga kepemimpinan Abu Bakar,
pengumpulan dan pendistribusian dana zakat serta pungutan-pungutan lainnya dilakukan secara
serentak. Artinya pendistribusian dana tersebut langsung dilakukan setelah pengumpulan,
sehingga para petugas Baitul Mal selesai melaksanakan tugasnya tidak membawa sisa dana
untuk disimpan. Sedangkan pada masa Umar Bin Khattab, pengumpulan dana ternyata begitu
besar sehingga diambil keputusan untuk menyimpan untuk keperluan darurat. Dengan keputusan
tersebut, maka Baitul Mal secara resmi dilembagakan, dengan maksud awal untuk pengelolaan
dana tersebut.

Dari penjelasan bab-bab sebelumnya telah dijabarkan peran dan fungsi lembaga Baitul Mal
sebagai bendahara negara (dalam konteks perekonomian modern, lembaga ini dikenal dengan
Departemen Keuangan – treasury house of the state) secara panjang lebar. Fungsi Baitul Mal
pada hakikatnya mengelola keuangan negara menggunakan akumulasi dana yang berasal dari
pos-pos penerimaan seperti Zakat, Kharaj, Jizyah, Khums, Fay’, dan lain-lain, dan dimanfaatkan
untuk melaksanakan program-program pembangunan ekonomi, sosial, pertahanan, keamanan,
penyebaran fikrah Islam melalui diplomasi luar negeri dan semua program pembangunan yang
menjadi kebutuhan negara.

Eksistensi lembaga Baitul Mal pada awalnya merupakan konsekwensi profesionalitas


manajemen yang dilakukan pengelola zakat (amil). Namun ia juga merefleksikan ruang lingkup
Islam, dimana Islam didefinisikan juga sebagai agama dan pemerintahan, qur’an dan kekuasaan,
sehingga Baitul Mal menjadi salah satu komponen yang menjalankan fungsi-fungsi
pemerintahan dan kekuasaan dari negara. Jadi ketika juga negara harus mengelola penerimaan-
penerimaan negara baik yang diatur oleh syariah maupun yang didapat berdasarkan kondisi pada
saat itu, negara membutuhkan lembaga yang menghimpun, mengelola dan mendistribusikan
akumulasi dana negara tersebut untuk kepentingan negara, baik penggunaan yang memang diatur
oleh syariah atau juga yang merupakan prioritas pembangunan ketika itu. Lebih lengkapnya
penggunaan dana-dana yang terkumpul dalam Baitul Mal sudah dijabarkan pada bahasan
anggaran negara pada bab ini.

G.1.1. Hirarki Organisasi dan Operasionalnya


Pada masa Umar bin Abdul Azis, dalam oparasionalnya institusi Baitul Mal dibagi menjadi
beberapa departemen. Pembagian departemen dilakukan berdasarkan pos-pos penerimaan yang
dimiliki oleh Baitul Mal sebagai bendahara negara. Sehingga departemen yang menangani zakat
berbeda dengan yang mengelola khums, Jizyah, Kharaj dan seterusnya.

Yusuf Qardhawy (1988) membagi baitul mal menjadi empat bagian (divisi) kerja berdasarkan
pos penerimaannya, merujuk pada aplikasi masa Islam klasik :
1. Departemen khusus untuk sedekah (zakat).
2. Departemen khusus untuk menyimpan pajak dan upeti.
3. Departemen khusus untuk ghanimah dan rikaz.
4. Departemen khusus untuk harta yang tidak diketahui warisnya atau yang terputus hak
warisnya (misalnya karena pembunuhan).

Hal ini sebenarnya juga telah diungkapkan pula oleh Ibnu Taimiyah, beliau mengungkapkan
bahwa dalam adminstrasi keuangan Negara, dalam Baitul Mal telah dibentuk beberapa
departemen yang dikenal dengan Diwan (dewan). Dewan-dewan tersebut diantaranya:
1. Diwan al Rawatib yang berfungsi mengadministrasikan gaji dan honor bagi pegawai negeri
dan tentara.
2. Diwan al Jawali wal Mawarits al Hasyriyah yang berfungsi mengelola poll taxes (jizyah) dan
harta tanpa ahli waris.
3. Diwan al Kharaj yang berfungsi untuk memungut kharaj.
4. Diwan al Hilali yang berfungsi mengkoleksi pajak bulanan.

Pada hakikatnya pengembangan institusi dan kebijakan dalam ekonomi Islam tidak memiliki
ketentuan baku kecuali apa yang telah digariskan dalam syariat. Khususnya dalam pembentukan
departemen dan kebijakan strategi pengkoleksian dan penggunaan pendapatan Negara,
sebenarnya juga tergantung pada perkembangan atau kondisi perekonomian Negara pada satu
waktu tertentu. Artinya pengembangan institusi dan kebijakan ekonomi tidaklah terikat pada apa
yang telah dilakukan oleh para pemimpin-pemimpin terdahulu, peran ijtihad dengan
mempertimbangkan keadaan kontemporer menjadi sangat menentukan arah dan bentuk institusi
dan kebijakan ekonomi.

Merujuk pada apa yang telah dijelaskan oleh Qardhawi tentang institusi Baitul Mal, dalam
operasionalnya, salah satu kebijakan pengelolaan pendapatan Negara adalah ketika dana yang
dimiliki departemen sedekah (zakat) yang fungsinya memenuhi kebutuhan dasar warga negara
kurang, maka dapat menggunakan dana dari departemen lain yaitu departemen pajak dan upeti.
Namun pada masa klasik Islam hal ini dilakukan dengan skema hutang, artinya jika suatu saat
departemen sedekah sudah memiliki kecukupan dana, maka hutang tadi harus dilunasi pada
departemen pajak dan upeti. Tahapan penggunaan keuangan negara ini sesuai dengan yang
dijelaskan sebelumnya, dimana sumber keuangan negara utama adalah zakat, kemudian fay’ dan
pajak. Jika masih juga kekurangan maka negara akan melakukan skema takaful, dimana semua
harta dikumpulkan negara dan dibagikan sama rata.
Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi
dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan
ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi bertujuan untuk menyejahterakan
anggotanya.

Berdasarkan pengertian tersebut, yang dapat menjadi anggota koperasi yaitu:

 Perorangan, yaitu orang yang secara sukarela menjadi anggota koperasi;

 Badan hukum koperasi, yaitu suatu koperasi yang menjadi anggota koperasi yang
memiliki lingkup lebih luas.

Pada Pernyataan Standard Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 27 (Revisi 1998), disebutkan bahwa
karateristik utama koperasi yang membedakan dengan badan usaha lain, yaitu anggota koperasi
memiliki identitas ganda. Identitas ganda maksudnya anggota koperasi merupakan pemilik
sekaligus pengguna jasa koperasi.

Umumnya koperasi dikendalikan secara bersama oleh seluruh anggotanya, di mana setiap
anggota memiliki hak suara yang sama dalam setiap keputusan yang diambil koperasi.
Pembagian keuntungan koperasi (biasa disebut Sisa Hasil Usaha atau SHU) biasanya dihitung
berdasarkan andil anggota tersebut dalam koperasi, misalnya dengan melakukan pembagian
dividen berdasarkan besar pembelian atau penjualan yang dilakukan oleh si anggota.

Fungsi dan Peran Koperasi

Menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 Pasal 4 dijelaskan bahwa fungsi dan peran koperasi
sebagai berikut:

 Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada


khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi
dan sosialnya;

 Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan
masyarakat

 Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan


perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko-gurunya

 Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional, yang


merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi
Prinsip Koperasi

Menurut UU No. 25 tahun 1992 Pasal 5 disebutkan prinsip koperasi, yaitu:

 Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka

 Pengelolaan dilakukan secara demokratis

 Pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa
usaha masing-masing anggota (andil anggota tersebut dalam koperasi)

 Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal

 Kemandirian

 Pendidikan perkoprasian

 kerjasama antar koperasi

Jenis-jenis Koperasi menurut UU No. 25 Perkoperasian

Koperasi secara umum dapat dikelompokkan menjadi koperasi konsumen, koperasi produsen
dan koperasi kredit (jasa keuangan). Koperasi dapat pula dikelompokkan berdasarkan sektor
usahanya.

 Koperasi Simpan Pinjam


 Koperasi Konsumen
 Koperasi Produsen
 Koperasi Pemasaran
 Koperasi Jasa

Koperasi Simpan Pinjam Adalah koperasi yang bergerak di bidang simpanan dan pinjaman

Koperasi Konsumen Adalah koperasi beranggotakan para konsumen dengan menjalankan


kegiatannya jual beli menjual barang konsumsi

Koperasi Produsen Adalah koperasi beranggotakan para pengusaha kecil (UKM) dengan
menjalankan kegiatan pengadaan bahan baku dan penolong untuk anggotanya.

Koperasi Pemasaran Koperasi yang menjalankan kegiatan penjualan produk/jasa koperasinya


atau anggotanya

Koperasi Jasa Koperasi yang bergerak di bidang usaha jasa lainnya.


Sumber Modal Koperasi

Seperti halnya bentuk badan usaha yang lain, untuk menjalankan kegiatan usahanya koperasi
memerlukan modal. Adapun modal koperasi terdiri atas modal sendiri dan modal pinjaman.

modal sendiri meliputi sumber modal sebagai berikut:

 Simpanan Pokok

Simpanan pokok adalah sejumlah uang yang wajib dibayarkan oleh anggota kepada
koperasi pada saat masuk menjadi anggota. Simpanan pokok tidak dapat diambil
kembali selama yang bersangkutan masih menjadi anggota koperasi. Simpanan pokok
jumlahnya sama untuk setiap anggota.

 Simpanan Wajib

Simpanan wajib adalah jumlah simpanan tertentu yang harus dibayarkan oleh anggota
kepada koperasi dalam waktu dan kesempatan tertentu, misalnya tiap bulan dengan
jumlah simpanan yang sama untuk setiap bulannya. Simpanan wajib tidak dapat diambil
kembali selama yang bersangkutan masih menjadi anggota koperasi.

 Dana Cadangan

Dana cadangan adalah sejumlah uang yang diperoleh dari penyisihan Sisa Hasil usaha,
yang dimaksudkan untuk pemupukan modal sendiri, pembagian kepada anggota yang
keluar dari keanggotaan koperasi, dan untuk menutup kerugian koperasi bila
diperlukan.

 Hibah

Hibah adalah sejumlah uang atau barang modal yang dapat dinilai dengan uang yang
diterima dari pihak lain yang bersifat hibah/pemberian dan tidak mengikat.

adapun modal pinjaman koperasi berasal dari pihak-pihak sebagai berikut:

 Anggota dan calon anggota

 Koperasi lainnya dan/atau anggotanya yang didasari dengan perjanjian kerjasama


antarkoperasi

 Bank dan lembaga keuangan lainnya yang dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan
perudang-undangan yang berlaku
 Penerbitan obligasi dan surat utang lainnya yang dilakukan berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku

 Sumber lain yang sah

Mekanisme Pendirian Koperasi

Mekanisme pendirian koperasi terdiri dari beberapa tahap. Pertama-tama adalah pengumpulan
anggota, karena untuk menjalankan koperasi membutuhkan minimal 20 anggota. Kedua, Para
anggota tersebut akan mengadakan rapat anggota, untuk melakukan pemilihan pengurus koperasi
( ketua, sekertaris, dan bendahara ). Setelah itu, koperasi tersebut harus merencanakan anggaran
dasar dan rumah tangga koperasi itu. Lalu meminta perizinan dari negara. Barulah bisa
menjalankan koperasi dengan baik dan benar.

Sejarah Berdirinya Koperasi

Gerakan koperasi digagas oleh Robert Owen (1771–1858), yang menerapkannya pertama kali
pada usaha pemintalan kapas di New Lanark, Skotlandia.

Gerakan koperasi ini dikembangkan lebih lanjut oleh William King (1786–1865) – dengan
mendirikan toko koperasi di Brighton, Inggris. Pada 1 Mei 1828, King menerbitkan publikasi
bulanan yang bernama The Cooperator, yang berisi berbagai gagasan dan saran-saran praktis
tentang mengelola toko dengan menggunakan prinsip koperasi.

Koperasi akhirnya berkembang di negara-negara lainnya. Di Jerman, juga berdiri koperasi yang
menggunakan prinsip-prinsip yang sama dengan koperasi buatan Inggris. Koperasi-koperasi di
Inggris didirikan oleh Charles Foirer, Raffeinsen, dan Schulze Delitch. Di Perancis, Louis Blanc
mendirikan koperasi produksi yang mengutamakan kualitas barang. Di Denmark Pastor
Christiansone mendirikan koperasi pertanian.

Gerakan Koperasi di Indonesia

Koperasi diperkenalkan di Indonesia oleh R. Aria Wiriatmadja di Purwokerto, Jawa Tengah pada
tahun 1896. Dia mendirikan koperasi kredit dengan tujuan membantu rakyatnya yang terjerat
hutang dengan rentenir. Koperasi tersebut lalu berkembang pesat dan akhirnya ditiru oleh Boedi
Oetomo dan SDI. Belanda yang khawatir koperasi akan dijadikan tempat pusat perlawanan,
mengeluarkan UU no. 431 tahun 19 yang isinya yaitu :

 Harus membayar minimal 50 gulden untuk mendirikan koperasi


 Sistem usaha harus menyerupai sistem di Eropa
 Harus mendapat persetujuan dari Gubernur Jendral
 Proposal pengajuan harus berbahasa Belanda

Hal ini menyebabkan koperasi yang ada saat itu berjatuhan karena tidak mendapatkan izin
Koperasi dari Belanda. Namun setelah para tokoh Indonesia mengajukan protes, Belanda
akhirnya mengeluarkan UU no. 91 pada tahun 1927, yang isinya lebih ringan dari UU no. 431
seperti :

 Hanya membayar 3 gulden untuk materai


 Bisa menggunakan bahasa daerah
 Hukum dagang sesuai daerah masing-masing
 Perizinan bisa didaerah setempat

Koperasi menjamur kembali hingga pada tahun 1933 keluar UU yang mirip UU no. 431
sehingga mematikan usaha koperasi untuk yang kedua kalinya. Pada tahun 1942 Jepang
menduduki Indonesia. Jepang lalu mendirikan koperasi kumiyai. Awalnya koperasi ini berjalan
mulus. Namun fungsinya berubah drastis dan menjadi alat jepang untuk mengeruk keuntungan,
dan menyengsarakan rakyat.

Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia
mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya. Hari ini kemudian ditetapkan
sebagai Hari Koperasi Indonesia.

Perangkat Organisasi Koperasi


Rapat Anggota

Rapat anggota adalah wadah aspirasi anggota dan pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi.
Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, maka segala kebijakan yang berlaku dalam koperasi
harus melewati persetujuan rapat anggota terlebih dahulu., termasuk pemilihan, pengangkatan
dan pemberhentian personalia pengurus dan pengawas.

Pengurus

Pengurus adalah badan yang dibentuk oleh rapat anggota dan disertai dan diserahi mandat untuk
melaksanakan kepemimpinan koperasi, baik dibidang organisasi maupun usaha. Anggota
pengurus dipilih dari dan oleh anggota koperasi dalam rapat anggota. Dalam menjalankan
tugasnya, pengurus bertanggung jawab terhadap rapat anggota. Atas persetujuan rapat anggota
pengurus dapat mengangkat manajer untuk mengelola koperasi. Namun pengurus tetap
bertanggung jawab pada rapat anggota.

Pengawas

Pengawas adalah badan yang dibentuk untuk melaksanakan pengawasan terhadap kinerja
pengurus. Anggota pengawas dipilih oleh anggota koperasi di rapat anggota. Dalam
pelaksanaannya, pengawas berhak mendapatkan setiap laporan pengurus, tetapi merahasiakannya
kepada pihak ketiga. Pengawas bertanggung jawab kepada rapat anggota
Logo gerakan koperasi Indonesia

Lambang gerakan koperasi Indonesia memiliki arti sebagai berikut :

1. Rantai melambangkan persahabatan yang kokoh.

2. Roda bergigi menggambarkan upaya keras yang ditempuh secara terus menerus.

3. Kapas dan padi berarti menggambarkan kemakmuran rakyat yang diusahakan oleh koperasi.

4. Timbangan berarti keadilan sosial sebagai salah satu dasar koperasi.

5. Bintang dalam perisai artinya Pancasila, merupakan landasan ideal koperasi.

6. Pohon beringin menggambarkan sifat kemasyarakatan dan kepribadian Indonesia yang kokoh
berakar.

7. Koperasi Indonesia menandakan lambang kepribadian koperasi rakyat Indonesia.

8. Warna merah dan putih menggambarkan sifat nasional Indonesia.

Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Koperasi"