Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH

Continouos Ambulatory Peritoneal Dialysis


Sejarah dan perkembangan dialysis peritoneal.

Ruang Hemodialisa
RSSA Malang 2007

1.Editorial Peritoneal Dialysis – dari dulu hingga sekarang Ketika simptom uremia terdapat pada
tubuh, ini merupakan pertanda bahwa ginjal tidak berfungsi secara normal atau telah berheenti
menyaring racun dari darah. Berasal dari bahasa yunani “uremia” menunjukkan bahwa
kewaspadaan akan penyakit ini jauh daripada kemampuan kita dalam mengobati orang yang
terkena penyakit ini. Hanya dalam beberapa ratus tahun penelitian medis telah mampu untuk
meletakkan landasan untuk mengganti fungsi ginjal melalui dialisis. Secara esensial, terdapat dua
tipe dialisis: hemodialisis diutamakan pada 90% pasien dialisis, dan peritoneal dialisis. Untuk
kali ini kami akan coba memberikan laporan detil tentang peritoneal dialisis.Metode perawatan
rumahan dialisis menggunakan peritoneum sebagai membran dialisis Kemajuan pertama pada
perawatan tipe ini terjadi pada tahun 1920an, tapi masih membutuhkan bebeerapa penemuan
pada dekade selanjutnya untuk membuat dialisis peritoneal dapat diakses pada sejumlah besar
pasien dengan penyakit ginjal. Kemajuan ini dicapai dengan mendedikasikan pada dokter dan
ilmuan yang mengerahkan usaha dan penemuan- penemuan untuk selalu meningkatkan
kemungkinan perawatan. Pada lembar berikut, kami memberikan pengenalan pada sejarah yang
mempesona pada dilisis peritoneal dan penemuanpenemuan yang, pada hari ini, membantu
memastikan kehidupan yang lebih panjang dan lebih baik pada lebih dari 160.000 pasien dialisis
peritoneal diseluruh dunia.

2.Dasar dialisis peritoneal Seperti yang telah dijelaskan didepan, dialisis peritoneal adalah salah
satu dari suatu metode yang dikembangkan untuk menghilangkan racun dan kelebihan air dari
tubuh manusia. Lapisan abdomen (peritoneum) adalah sebuah membran tipis dan berkilau yang
memiliki permukaan dengan luas dua meter persegi dan menutupi seluruh rongga abdomen.
Karena peritoneum memiliki sirkulasi darah yang bagus, ini merupakan sebuuah filter membran
alami yang sempurna. Dialisis peritoneal memanfaatkan karakteristik tersebut.

Pertama, sebuah cairan spesial- cairan dialisis (dialisat. red:)dimasukan pada interval reguler
pada rongga abdominal melalui kateter. Cairan ini berada di dalam peritoneum dan membuat
metabolisme yang bergerak dari pembuluh darah yang kecil menuju cairan dialisis. Dengan
metabolit yang terkenal, seperti urea dan creatinine, seperti sejumlah substansi yang lain yang
berkumpul dalam darah pada pasien dialisis tapi secara normal dihilangkan oleh ginjal yang
sehat. Cairan dialisis membawa substansi baru. Sebagai tambahan pada metabolisme, kelebihan
air juga harus dipindahkan dari tubuh pasien. Karena itu, gula ditambahkan pada cairan dialisis
dengan konsentrasi jauh lebih tinggi dari pada yang ada dalam darah. Hal ini hanya memberi
satu opsi tersebut kemudian dipindahkan beberapa jam kemudian melalui kateter dan digantikan
dengan cairan yang atas penyeimbangan konsentrasi: aliran air dari darah melewati membran
dan menuju cairan dengan isi gula yang tinggi.

3.Langkah pertama menuju dialisis peritoneal Istilah Kata “peritoneum” merujuk pada bahasa
Yunani “peritonaion” dan berarti “merentangkan”. Pengusaha pemakaman pada jaman Mesir
kuno merupakan orang pertama yang melihat selaput perut (peritoneum) ketika mereka
mempersiapkan organ pada saat influential gaya Mesir. Tabib yunani yang sangat terkenal Galen
dan sarjana medis mempelajari abdomen yang terbuka pada gladiator yang terluka. Ahli anatomi
dan ahli bedah terdahulu menguraikan ukuran dan ciri membran peritoneal tapi gagal untuk
menemukan detil struktur dan fungsinya. Penelitian tersebut diikuti oleh Friedrich Daniel von
Recklinghausen pada tahun 1862, yang memberikan penjelasan ilmiah pertama kali mengenai
komposisi sel-sel peritoneum. Proses transport metabolis Pada tahun 1877, orang Jerman yaitu
G. Wegner melakukan experimen pertama pada hewan untuk mengamati proses transportasi
metabolis yang terjadi pada peritoneum. Sebagai contoh, dia menyuntikkan cairan dengan
bermacam isi dan temperatur cairan pada kelinci dan menemukan Inilah bahwa G. sebuah
Wegner konsentrasi cairan gula bisa menjadikan peningkatan jumlah pada rongga abdomen. cara
menemukan basis dalam menggunakan peritoneum sebagai pemindahan cairan, atau ultrafiltrasi
peritoneal. Pada tahun 1894, dua orang inggris, Ernest Henry Starling dan Alfred Herbert Tubby,
menemukan bahwa pemindahan cairan melalui peritoneum diakibatkan oleh pembuluh darah
pada membran

Perawatan pertama pada manusia Stephen Hales dan Christopher Warrick, seorang ahli bedah
dari Inggris, meletakkan “batu pertama” bagi dialisis peritoneal padä manusia pada tahun 1744:
mereka mencoba pada pasien berumur 50 tahun dengan ascites pada pemindahan kelebihan
cairan abdominal yang pertama dari perempuan sebelum menggunakan pipa kulit untuk
menginfus cairan berisi 50% air dan 50% anggur (wine) pada abdomennya. Bagaimanapun,
dialisis peritoneal pertama pada pasien uremic dilakukan lagi beberapa waktu kemudian di
Universitas Wurzburg oleh George Ganter. Pada tahun 1923, setelah melakukan eksperimen
pada hewan, dia menginfus satu setengah liter cairan fisiologis – dengan konsentrasi garam yang
sama dengan darah manusiadalam abdomen pada wanita yang menderita buntu pada saluran
kencing (ureter). Walaupun terapi pada wanita itu mengurangi gejala sementara, tapi pasien
tersebut meninggal beberapa waktu kemudian. Antara tahun 1942 dan 1938, sejumlah tim medis
di Amerika Serikat dan Jerman melakukan perawatan dialisis peritoneal pertama- secara
berkala- dan membuktikan bahwa prosedur tersebut bisa menjadi pengganti sementara fungsi
alami ginjal. Pada tahun berikutnya, seleksi material yang seksama seperti porselen, logam, latex
dan kaca yang bisa disterilkan, membuatnya bisa dipastikan kondisi higienis yang layak selama
dialisis peritoneal. Namun, prosedur tersebut hanya untuk pemakaian terbatas, sebagian besar
dalam kaitannya dengan kurangnya metode yang aman dalam akses abdomen pasien.

4.Kateter dialisis peritoneal Akses yang aman ke abdomen pada dialisis peritoneal

disediakan oleh kateter. Dahulu, kateter tersebut berasal dari sebuah pipa logam kecil, yan
digunakan untuk mengakses ke rongga abdomen. Tapi kemudian digantikan oleh selang oksigen
dikemudian hari. Pada tahun 1952 Southwestern Medical School di Arthur Grollman dari Dallas
mengembangkan sebuah kateter yang membuat perawatan dialisis peritoneal layak pada pasien
dengan kerusakan ginjal kronis. Grollman menggunakan wadah satu liter dengan sebuah tutup
dimana pipa plastik dipasangkan. Ide revolusionernya menggunakan kateter yang fleksibel
daripada pipa yang kaku., seperti yang lakukan pada masa lalu. Sebagai tambahan, ujung pipa
yang tetap di rongga abdomen memiliki beberapa lubang kecil untuk mengoptimalkan
pemasukan dan pengeluaran cairan dialisis. Pada waktu perang Korea, seorang Amerika Paul
Doolan mengembangkan sebuah kateter untuk pemakaian jangka panjang pada tahun 1959.
terbuat dari polyethylene dan memiliki geometri unik pada lubang untuk mencegah
penyumbatan, dan memaksimalkan jumlah aliran. Richard Ruben, seorang Amerika yang lain
melakukan dialisis peritoneal pertama selama periode tujuh bulan, menggunakan pipa Doolan
sebagai pipa permanen yang bisa tetap berada dirongga abdomen. Hal ini menunjukkan bahwa
para peneliti tidak hanya bertujuan untuk merawat pasien dengan penyakit akut tapi juga pasien
dengan gagal ginjal kronis. Pada tahun 1968, seorang Amerika yang Henry dinamai Tenckhoff
dengan mengembangkan sebuah kateter namanya. Kemudian, penggunaan secara luas kateter
telah membuatnya mungkin untuk merawat pasien dengan gagal ginjal kronis menggunakan
penyakit peritoneal. Bagaimanapun, “teknik pelubangan yang berulang” berarti meletakkan pipa
baru pada rongga abdomen untuk tiap perawatan. Prosedur yang memakan waktu ini
mengganggu pasien dan anggota medis. Tenckhoff sendiri telah melakukan pekerjaan hebat
dengan tetap membuat kateter pada waktu liburnya. Jadi kateter permanennya tidak hanya
menyediakannya dengan waktu luang yang lebih panjang, tapi juga memberikan pertolongan
pada dialisis peritoneal lebih luas. Kateter Tenckoff masih digunakan sampai sekarang. Terbuat
dari silikon, memiliki satu atau dua kancing yang mecmudahkan pipa naik ke peritoneum
(selaput perut) dan masuk lapisan dalam jaringan penghubung.

5.Kantong dan tabung Sebagai tambahan pada kateter, perkembangan kantong dan tabung juga
memberi peranan yang menentukan pada kesuksesan jangka panjang dialisis peritoneal. Pada
kesulitan yang umum, radang selaput perut (peritonitis) mengurangi penyebaran (CAPD)
Sampai musim gugur tahun 1987, larutan dialisis peritoneal (Dialysat) hanya tersedia dalam
kantong kaca, tersambung pada pipa permanen dengan tabung plastik. Pasien harus
menyertakan tabung pada pipa kapanpun mereka menambah atau memindah cairan. Karena
banyaknya penyambungan dan pelepasan, bahaya infeksi peritoneal selalu bisa terjadi. Dimitrous
Oreopolus dari Toronto akhirnya membuat CAPD yang praktis dengan memperkenalkan wadah
plastik pembuangan, yang mengurangi jumlah peritonitis dengan signifikan. Ketika cairan
dialisis dipergunakan pada rongga abdominal, wadah plastik bisa digulung dan tetap terhubung
pada tubuh pasien dalam jangka waktu perawatan. Untuk memindahkan cairan, wadah
gulungan dibuka dan gaya gravitasi kantong dipindahkan dari pipa dan menarik cairan yang baru
dialis yang digunakan dalam kantong. Pada akhir prosedur, kantong disambungkan. Teknologi
baru ini menawarkan kenyamanan dan privasi bagi pasien. Dialysis Peritoneal Mandiri
Berkesinambungan. Beberapa tim peneliti Itali juga membuat kontribusi yang berharga pada
pencegahan peritonitis, yang paling terkemuka Umberto buoncristiani dari Perugia, yang
menemukan sistem-Y (Y-set System). Sistem ini mengikutkan sebuah kantong kosong dan
dihubungkan pada sistem, berbentuk mirip huruf Y. Pertama-tama, penggunaan cairan dialisis
dialirkan menuju kantong kosong, membawa bakteri yang mungkin dari kateter. Kemudian
cairan dialisis baru dibilas melalui tabung dan menuju kantong selama kira-kira tiga detik.
Koneksi ke rongga abdomen tetap tertutup selama proses ini. Ketika tabung telah dibilas,
konektor kateter pasien dibuka dan cairan PD yang baru dimasukkan pada rongga (prinsip bilas-
sebelum-mengisi). Tergantung pada sistem, aliran cairan PD (drainase, bilas, mengisi) dikontrol
dengan pengapit alat yang kemudian disebut Twist Clamp. Teknologi ini memainkan peranan
penting dalam menurunkan jumlah peritonitis. Keuntungan yang lain: pasien tidak harus
membawa kantong yang terhubung pada tubuhnya. Sistem dua wadah adalah pengembangan
pada sistem-Y. Inovasi ini tidak hanya menyediakan wadah kosong yang terhubung pada bentuk
sistem tabung Y, tapi juga sebuah kantong dengan cairan dialisis yang baru. Pemindahan ini
yaitu koneksi yang lain dan juga kekurangan lain yaitu resiko infeksi. Dua kantong adalah
kesimpulan yang sangat sukses dalam usaha kepeloporan dalam mengurangi jumlah peritonitis
pada dialisis peritoneal.

6.Zaman Penggunaan Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) CAPD (Eng.


Red:) atau Dialysis Peritoneal Mandiri

Berkesinambungan DPMB. bermula dari Austin, Texas, pada tahun 1975, ketika Robert
Popovich dan Jack Moncrief beriskusi tentang terapi dialysis Masalah pada tersebut pasien yang
tidak bisa hemodialysis. membuat Dr. Popovich

mengembangkan perencanaan kalkulasi berdasar jumlah dan lama waktu tinggal cairan dialisis
di dalam abdomen (Dwell Time), menentukan pemindahan yang efektif pada racun uremic. Dia
menyimpulkan bahwa sebuah wadah dua liter kantong harus diganti lima kali dalam sehari dan
cairan PD harus secara konstan tetap pada tubuh pasien. Sayangnya, penemuan mereka itu tidak
ditanggapi secara serius oleh Komite tahun Medis. 1978, Tapi ketika medis prosedur Popovich
kemudian yang dan Moncrief yakin. memperkenalkan kesuksesan klinis yang selanjutnya pada
komunitas dengan menjadi Dibandingkan sebentar-sebentar (intermittent), metode yang mereka
kembangkan membuatnya mungkin untuk memindahkan cairan dan menyaring darah lebih stabil
dan terus menerus.

7.Automated Peritoneal Dialysis (APD) Sebagai tambahan untuk menurunkan jumlah infeksi,
biaya untuk staff medis dan material harus diturunkan. Mesin dialisis peritoneal terotomatisasi
(APD) dikembangkan untuk tujuan tersebut. APD menggunakan sebuah mesin yang bisa
diprogram, atau alat yang mengontrol jumlah, isian, lama waktu dan drainase cairan. Pada
pada tahun 1981, jose Diaz –Buxo menawarkan Continous Cyclic Peritoneal Dialysis (CCPD),
yang sekarang paling umum digunakan pada metode APD. Disini, kelebihan air dan racun
dipindahkan dari pasien pada malam hari menggunakan 10 sampai 15 liter cairan dialisis.
Selama waktu itu, satu atau dua setengah cairan dialisis tetap tersisa di rongga abdomen.

8. Baru, cairan biocompatible dialisis peritoneal Cairan PD memiliki peranan penting pada
perkembangan penelitian dialisis peritoneal. Pada tahun 1920, Ganter menggunakan sebuah
cairan fisiologis bersifat garam, dimana glukosa ditambahkan kemudian. Pada tahun 1938,
Jonathan Rhoads memulai penambahan laktat pada cairan dalam acidosis metabolis sempurna.,
yang bisa meningkat jika ginjal tidak bisa menghilangkan produk acidic metabolis. Lebih dari 60
tahun kemudian, laktat tetap merupakan penyangga yang paling umum digunakan pada cairan
PD. Bagaimanapun, hari ini terdapat juga cairan yang mengandung biokarbonat murni atau
campuran dari substansi. Sebagai pengganti glukose, cairan dialisis juga mengandung amino acid
atau glukosa polymer. Pada awal tahun 1980an, artikel yang sangat terkenal oleh Axel Duwe
diterbitkan, membahas mengenai efek komponen individual pada cairan PD pada efisiensi
peritoneal dalam bakteri pembunuh untuk pertama kalinya. Beberapa tahun kemudian kata
“bio(dalam)compability” muncul untuk mengindikasikan ketidaktoleransian cairan dialisis. Pada
waktu itu, penelitian menunjukkan bahwa PD konvensional bisa menghalangi aktifitas sel utama
pada peritoneum dan menyebabkan kerusakan jangka panjang pada membran. Komplikasi
tersebut komplikasi tersebut bisa menyebabkan kelemahan secara bertahap pada membran
peritoneal dan membuatnya tidak cocok untuk penggunaan konsentrasi dalam tinggi dialiser
penurunan berikutnya. produk Cairan dialisis konvensional memiliki non-fisiologis pH dibawah
peritoneum dan glukosa. Keduanya menyumbang secara signifikan pada cairan
bioincompability. Sekarang, cairan PD ditawarkan pada wadah multi-ruang yang memiliki netral
pada fisiologis pH dan lebih rendah jumlahnya secara signifikan pada penurunan jumlah glukosa.
Perkenalan generasi baru cairan PD adalah awal yang menjanjikan untuk perkembangan yang
lebih baik, cairan yang lebih biocompatible. Hasil dari penelitian mutakhir menunjukkan
kepercayaan bahwa cairan PD bisa meluaskan fungsi dialiser pada peritoneum. Sebenarnya,
sebuah penelitian klinis menunjukkan bahwa sebuah cairan yang lebih biocompatible bisa
memperpanjang harapan hidup pasien. Perkenalan menunjukkan sedikit mengenai yang sejarah
peritonial analysis ide,

9.Diagnosa Keperawatan Dialysis Ginjal : Peritoneal Peritoneum berfungsi sebagai membran


semipermiabel yang memungkinkan transfer sisa nitrogen/toksin dan cairan dari darah ke dalam
cairan dialisat. Dialisis Peritoneal dipilih karena menggunakan teknik yang lebih sederhana dan
memberikan perubahan fisiologis lebih bertahap daripada hemodialisa. Dialisis Peritoneal
Mandiri Berkesinambungan (CAPD) memungkinkan pasien untuk menangani prosedur di
rumah dengan kantong dan aliran gravitasi, menggunakan waktu tinggal (dwell time) lebih lama
pada malam hari, dan total 3-5 siklus harian, 7 hari seminggu. DIAGNOSA KEPERAWATAN
YANG MUNGKIN TERJADI

1. Volume cairan, kelebihan, resiko tinggi terhadap. 2. Kekurangan volume cairan, resiko tinggi
terhadap. 3. Trauma, resiko tinggi terhadap. 4. Nyeri (Akut). 5. Infeksi, resiko tinggi terhadap,
(Peritonitis). 6. Pola pernapasan, tidak efektif, resiko tinggi terhadap. FAKTOR RESIKO
MELIPUTI 1. Tidak adekuatnya gradien osmotik dialisat. Retensi cairan (malposisi atau kateter
terlipat/bekuan,distensi usus;peritonitis, jaringan parut peritoneum). Pemasukan per oral/IV
berlebihan. 2. Penggunaan dialisat hipertonik, dengan pembuangan cairan berlebihan dari
volume sirkulasi. 3. Kateter dimasukan ke dalam rongga peritoneal. Sisi dekat usus/kandung
kemih, dengan potensial terjadi perforasi selama pemasukan atau manipulasi kateter. 4.
Iritasi/infeksi dalam rongga peritoneal. Infus dialisat dingin atau asam, distensi abdominal, infus
dialisat cepat. 5. Kontaminasi kateter selama pemasangan. Kontaminasi kulit pada sisi
pemasangan kateter. Peritonitis steril (respon terhadap komposisi dialisat) 6. Tekanan
TINDAKAN 1. Mandiri: a. Pertahankan pencatatan volume masuk dan keluar, dan kumulatif
keseimbangan cairan. Rasional : Pada kebanyakan kasus, jumlah cairan yang keluar harus sama
atau lebih daripada yang masuk. abdomen/keterbatasan pengembangan diagfragma; infus dialisat
terlalu cepat; nyeri.

b. Kaji patensi kateter, catat kesulitan pada drainase. Perhatikan Melambatnya lembaran/plak
kecepatan fibrin. Rasional : aliran/adanya fibrin menunjukkan hambatan kateter parsial yang
perlu evaluasi/intervensi. c. Catat seri berat badan, bandingkan dengan pemasukan dan
pengeluaran. Timbang pasien saat abdomen kosong tanpa dialisat (titik rujukan konsisten).
Rasional : Seri berat badan adalah indikator akurat status volume cairan. d. Evaluasi Rasional
Kolaborasi : a. Perubahan program dialisat sesuai indikasi. Rasional : Perubahan dialisis. b.
Tambahkan heparin pada dialisa awal, bantu irigasi kateter dengan garam faal heparinisasi.
Rasional : Beguna dalm mencegah pembentukan bekuan fibrin, yang dapat menghambat kateter
peritoneal. 2. Mandiri : a. Pertahankan pencatatan volume masuk dan keluar, dan keseimbangan :
Memberikan cairan kumulatif/individual. tentang status Rasional informasi mungkin diperlukan
dalam konsentrasi glukosa atau natrium untuk memudahkan efisiensi Keseimbangan terjadinya :
Distensi cairan positif dengan peningkatan berat badan menunjukkan retensi cairan. takipnea,
dipsnea, peningkatan diagfragma upaya pernapasan. Alirkan dialisat dan beritahu dokter.
abdomen/kompresi dapat menyebabkan kesulitan pernapasan.

kehilangan pertukaran atau peningkatan pasien pada ahkir

Perhatikan keluhan pusing, mual, peningkatan rasa haus. Rasional : Dapat menunjkan
hipovolemia/sindrom hiperosmolar. c. Berikan jadwal untuk pengaliran dialisat dari abdomen.
Rasional : Waktu tinggal lama, khususnya bila menggunakan cairan dextrose 4,25 %, dapat
menyebabkan kehilangan cairan berlebihan. d. Inspeksi membran mukosa, evaluasi turgor kulit,
nadi perifer, pengisian kapiler. Rasional :Membran mukosa kering, turgor klit buruk, dan
penurunan nadi/pengisian kapiler adalah indikator dehidrasi dan membutuhkan peningkatan
pemasukan/perubahan dalam kekuatan dialisat. Kolaborasi : a. Awasi pemeriksaan laboratorium
sesuai indikasi, contoh, Natrium serum dan kadar glukosa. Rasional : Cairan hipertonik dapat
menyebabkan hipernatremia dengan membuang lebih banyak air daripada natrium. Selain itu
dextrose dapat diabsropsi dari dialisat, sehingga meningkatkan glukosa serum. 3. Mandiri : a.
Biarkan pasien mengosongkan kandung kemih sebelum pemasangan katetr peritoneal bila
kateter indwelling tidak ada. Rasional : Kandung kemih kosong, lebih jauh dari sisi pemasukan
dan menurunkan kemungkinan tertusuk selama pemasangan kateter.

b. Fiksasi kateter/selang dengan plester

Tekankan pentingnya pasien menghindari penarikan/mendorong kateter. Restrain tangan bila di


indikasikan. Rasional : Memnurunkan kateter. resiko trauma dengan memnipulasi

c. Hentikan dialysis bila ada bukti perforasi

usus/kandung kemih. Biarkan kateter dialisis tetap pada tempatnya. Rasional : Tindakan cepat
akan mencegah cedera selanjutnya. Bedah perbaikan segera dapat dibutuhkan. Membiarkan
kateter pada tempatnya, memudahkan diagnosa/lokasi perforasi. 4. Mandiri : a. Selidiki keluhan
pasien akan nyeri; perhatikan intensitas (0-10), lokasi, dan faktor pencetus. Rasional :
Membantu dalam mengidentifikasi sumber nyeri dan intervensi tepat. b. Jelaskan bahwa
ketidaknyamanan awal biasanya hilang setelah pertukaran pertama. Rasional : Penjelasan dapat
menurunkan ansietas, dan meningkatkan relaksasi selama prosedur. c. Perhatikan keluhan nyeri
pada area bahu. Cegah udara masuk ke rongga peritoneum selama infus. Rasional : Masuknya
udara ke peritoneum dapat mengiritasi diagfragma dan mengakibatkan nyeri pada bahu. Dapat
dikeluhkan juga pada awal terapi, gunakan volume yang lebih kecil dulu sampai pasien baik.

d. Hangatkan dialisat (hangat kering)pada suhu tubuh sebelum diinfuskan. Rasional :


Penghangatan cairan dapat melalui meningkatkan dilatasi kecepatan pembuangan Dialisat urea
dingin pembuluh darah.
menyebakan vasokonstriksi, yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan /atau terlalu rendah
dari suhu inti tubuh, mencetuskan henti jantung. Kolaborasi : a. Berikan analgesik. Rasional :
Menghilangkan nyeri dan ketidaknyamanan. b. Tambahkan Natrium Hidroksida pada dialisat,
bila diindikasikan. Rasional : Kadang-kadang digunakan untuk mengubah pH bila pasien tidak
toleran pada keasaman dialisat.

5. Mandiri : a. Observasi tehnik aseptik dan gunakan masker selama pertukaran cairan, gunakan
prinsip steril saat pemasangan kateter, ganti balutan dan kapanpun sistem dibuka. Lakukan
pertukaran cairan dialisat sesuai protokol. Rasional : Mencegah introduksi organisme dan
kontaminasi lewat udara yang dapat menyebabkan infeksi. b. Ganti balutan sesuai bau indikasi
drainase dengan dari bakteri. hati-hati, sisi dengan tidak mengubah posisi kateter. Perhatikan
karakter, warna, sekitar pemasangan. Rasional : Lingkungan yang lembab meningkatkan
pertumbuhan Drainase purulen pada sisi insersi menunjukkan adanya infeksi lokal. c. Observasi
warna dan kejernihan keluaran. Rasional : Keluaran keruh diduga infeksi peritoneal. Kolaborasi :
a. Awasi jumlah SDP dari keluaran. Rasional : terhadap substansi darah, asing; keluaran namun,
cairan, Adanya SDP pada awal dapat menunjukan respon normal b. berlangsungnya peningkatan
diduga terjadi infeksi. Ambil spesimen dan/atau drainase. Rasional : Mengidentifikasi tipe
organisme, pilihan intervensi. c. Berikan antibiotik secara sistemik atau dalam dialisat sesuai
indikasi. Rasional : Mengatasi infeksi, mencegah sepsis. 6. Mandiri : a. Awasi frekuensi/upaya
infus bila pernapasan. ada dipsnea. Penurunan Rasional : kecepatan Takipnea, dipsnea, dan napas
dangkal selama dialisa diduga tekanan diafragmatik dari distensi rongga peritoneal atau mungkin
menunjukkan komplikasi. b. Tinggikan kepala tempat tidur, tingkatkan latihan napas dalam dan
batuk. Rasional : Memudahkan ekspansi dada/ventilasi dan mobilisasi sekret.

Kolaborasi : a. Berikan analgesic sesuai indikasi. Rasional Menghilangkan nyeri,


meningkatkan pernapasan nyaman, upaya batuk maksimal. b. Berikan tambahan O2 sesuai
indikasi. Rasional : Memaksimalkan oksigen untuk penyerapan vaskular,
pencegahan/pengurangan hipoksia.