Anda di halaman 1dari 62

BAG.

ANAK FK TRISAKTI RSUD KERAWANG


IDENTITAS PASIEN
• Identitas Pasien
• Nama : An. F
• Usia : 1 tahun 5 bulan
• Jenis Kelamin : Laki-laki
• Agama : Islam
• Alamat :Sampur 11/03 Pasir Kaliki RT/RW
11/03.Rawamerta Karawang.
• Pendidikan :-
• Masuk RSUD : 2 Juni 2010
• No. RM : 351996
IDENTITAS ORANG TUA
• Ayah:
• Nama : Tn. N
• Umur : 49 tahun
• Agama : Islam
• Pendidikan : SD
• Pekerjaan : Wiraswasta
• Penghasilan : Rp. 1.000.000
•  
• Ibu:
• Nama : Ny. C
• Umur : 38 tahun
• Agama : Islam
• Pendidikan : SMP
• Pekerjaan : Ibu rumah tangga
• Penghasilan :-
•  
• Hubungan dengan orang tua : Anak kandung
• Suku bangsa : Sunda
ANAMNESIS
• ANAMNESIS
• Alloanamnesis dengan Ibu pasien pada tanggal 3 Juni
2010, pukul 14.00 di ruangan 155 Bangsal Rawamerta,
RSUD Karawang.
•  
• Keluhan utama
• Kejang sejak 4 jam SMRS.
 
• Keluhan Tambahan
• Demam tinggi
Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang anak laki-laki berusia 1 tahun 5 bulan tahun,
dengan berat badan 6,6 kg, datang diantar ibunya dari
IGD RSUD Karawang dengan keluhan kejang sejak 4 jam
sebelum masuk Rumah Sakit.
 Pasien kejang selama 30 menit dengan tangan menempel
ke dada sambil menggenggam tapak tangan.tubuh
bergetar.
matanya melotot ke atas dan keluar busa berwarna putih
dari mulut pasien. Kejangnya ini hanya terjadi sebanyak 1
kali.
Pasien tidak terjatuh, terbentur kepalanya dan tergigit
lidah sebelum atau saat kejang
• Setelah kejang, pasien menjadi mengantuk dan terus
tidur kurang lebih selama 15 menit
• Setelah sadar, pasien tidak terlihat kebingungan atau
tidur lagi.
• kejang tidak didahului oleh aura
• Pasien tidak pernah mengalami kejang sebelum ini.
• Pasien tidak pernah dibawa berobat untuk kejangnya
• Demam tinggi. Suhu 39o C
• Panas terus menerus sepanjang hari dan tidak berkeringat.
• Dia diberikan obat suppositoria dan demamnya sedikit
membaik setelah itu.
• 8 bulan yang lalu timbul cairan dari telinga kanan.
• 2 bulan yang lalu, keluar cairan dari telinganya.
• Pasien berobat ke puskesmas diberikan obat tetes ,
jenisnya tidak diketahui dan membaik
• Cairan berwarna kuning kehijauan, konsistensi cair dan
berbau busuk
• Demamnya terjadi bersamaan dengan keluar cairan dari
telinga kanan.
• Pasien tidak lumpuh dan baal sebelah atau seluruh
tubuh
• Tidak ada pemakaian obat lama
• Tidak ada riwayat trauma dikepala
• Tidak ditemukan gangguan pencernaan seperti diare,
atau obstipasi dan muntah,
• Tidak ada keluhan batuk-batuk dan tidak ada
keluhan sesak nafas.
Penyakit Umur Penyakit Umur Penyakit Umur
alergi - difteri - Jantung -

cacingan - Diare 15 bulan Ginjal -

Demam berdarah - Kejang - Darah -

Demam - Kecelakaan - Radang paru -


Typhoid

Otitis 8 bulan Morbili - TBC -

Parotitis - Operasi - lainnya -


Riwayat Penyakit Dahulu
 Keterangan penyakit:
 Otitis media: pernah dialami 8 bulan yang lalu dan berulang lagi 2
bulan yang lalu. Cairan yang keluar adalah cair, kuning kehijauan dan
berbau busuk. Pasien mengalami gangguan pendengaran disertai
demam.

 Diare: dialami saat usia 15 bulan. Frekwensi 3x sehari selama 3 hari,


konsistensi cair, berampas, busuk serta berwarna kuning kecoklatan.
Tidak dibawa berobat, hanya diberikan minum air yang banyak.
Membaik setelah 5 hari
Riwayat Penyakit Keluarga

Pasien anak ketujuh dari tujuh bersaudara. Belum


pernah mengalami penyakit serupa sebelumnya. Dari
ketujuh bersaudara, hanya saudara kelima yang
pernah mengalami kejang saat demam yaitu setelah
pemberian imunisasi BCG pada usianya 2 bulan
Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
 Kehamilan :
 Morbiditas :-
 Perawatan antenatal : kontrol ke bidan teratur, disuntik vitamin dan anti tetanus
 Kelahiran :
 Tempat kelahiran : RSUD Karawang
 Penolong kelahiran : Dokter Kandungan
 Cara persalinan : Spontan
 Berat badan lahir : 2,9 kg
 Panjang Badan : Tidak tahu
 Lingkar Kepala : Tidak tahu
 Masa Gestasi : Cukup bulan
 Keadaan setelah lahir : Langsung menangis, kulit berwarna merah, Apgar Score
 Tidak diketahui
 Kelainan bawaan : Tidak ada kelainan
 Anak ke : 7 dari 7 anak.
 Kesimpulan riwayat kehamilan dan kelahiran : Ibu pasien melakukan perawatan antenatal yang
baik, namun tidak terdapat riwayat kehamilan dan persalinan yang turut mempengaruhi keadaan
pasien saat ini.baik
Umur (bulan) ASI/PASI Buah/Biskuit Bubur Susu Nasi Tim

0-2 bulan ASI - - -

2-4 bulan ASI - - -

4-6 bulan ASI - Bubur -

6-8 bulan ASI Buah/biskuit Bubur Nasi tim

8-10 bulan ASI Buah/biskuit - Nasi tim

10-12 bulan ASI Buah/biskuit - Nasi tim


umur di atas 1 tahun

Jenis makanan Frekuensi dan Jumlah

Nasi/Pengganti 2x/ hari

Sayur 5x/ minggu

Daging -

Telur 6x/minggu

Ikan -

Tahu 6x/minggu

Tempe 6x/minggu

Susu (merk/takaran) Susu Enak, 3x/minggu

Lain-lain -
BCG Bulan 0 - - - -

DPT Bulan 2 Bulan 3 - - -

Polio Bulan 0 Bulan 2 Bulan 4

Campak - - - - -

Hepatitis B Bulan 0 - - - -
Corak reproduksi
No Umur JenisKelamin Hidup Lahir mati Abortus Mati Kesehatan
Keluarga

1 22 tahun L Ya - - - Sehat

2 20 tahun L Ya - - - Sehat

3 13 tahun P Ya - - - Sehat

4 11 tahun P Ya - - - Sehat

5 8 tahun P Ya - - - Sehat

6 7 tahun P Ya - - - Sehat

7 1 tahun 5 L Ya - - - Pasien
bulan
Ayah Ibu

Nama Bp. S Ibu C

Perkawinan ke Pertama Pertama

Umur saat menikah 30 tahun 19 tahun

Pendidikan terakhir SD SMP

Agama Islam Islam

Suku bangsa Sunda Sunda

Keadaan kesehatan Sehat Sehat


Riwayat Lingkungan Perumahan

Perumahan : Pribadi
Keadaan rumah : Perumahan, 6x8m, 2
jendela, 2 kamar tidur, 1 kamar mandi.
Daerah / lingkungan : kawasan padat penduduk,
terdapat kebun disamping rumah dengan
genangan air, terdapat kali di belakang rumah.
Kesimpulan keadaan lingkungan : Lingkungan
tempat tinggal pasien memungkinkan terjadinya
berbagai proses penyakit.
PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang


Kesadaran : Compos mentis
 
Data Antropometri :
Berat Badan : 6.6 kg
Panjang badan : 66 cm
BB pasien/persentil BB menurut NCHS x 100%
BB persentil menurut NCHS : 12 kg
Status gizi : 6.6/11 x 100% :57.9% (gizi
buruk)
Tanda Vital
Tekanan Darah : 90/60 mmHg
Nadi : 120x/menit
Suhu : 39 C
Frekuensi Pernapasan : 40 x/men
 Kepala :
 Normochepali
  
 Rambut :
 Hitam, distribusi merata, rambut tidak mudah di cabut
  
 Mata :
 Pupil bulat isokor, reflex cahaya langsung +/+, reflex cahaya tidak langsung +/+, Conjunctiva anemis
-/-, Sklera ikterik -/-
  
 Telinga :
 Normotia, serumen +/+, sekret +/-, nyeri tekan tragus +/-, membrane timpani sulit dinilai.
  
 Hidung :
 Deviasi septum -/-, Sekret hidung -/-, mukosa hiperemis -/-, Pernapasan cuping hidung -/-
  
 Bibir :
 Merah, tidak kering, tidak pecah-pecah, tidak ada kelainan anatomi
  
 Mulut:
 Tonsil T1-T1 tenang, hiperemis -/-, Faring hiperemis -, selaput lidah –, oral hygiene baik, bau mulut
-, uvula simetris letak di tengah,
Leher :
Pembesaran Kelenjar Getah Bening –, trakea lurus
ditengah, kelenjar tiroid tidak teraba membesar.
Thoraks
Jantung :
Inspeksi : Pulsasi ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS IV 1 cm medial
dari linea midclavicularis sinistra
Perkusi : tidak dilakukan
Auskultasi : BJ I-II regular, murmur -, gallop –
 Paru :
 Inspeksi : gerak dada simetris, statis, dinamis, retraksi sela iga -/-
 Palpasi : vocal fremitus kanan dan kiri sama
 Perkusi : sonor pada kedua hemithorax
 Auskultasi : suara napas bronkovesikuler, Rh -/-, Wh -/-
 
 Abdomen :
 Inspeksi : Datar, simetris
 Palpasi : supel, NT -, hepar dan lien tidak teraba membesar,
turgor baik.
 Perkusi : timpani
 Auskultasi : BU (+) normal
 
 Genitalia : laki-laki, tidak ada kelainan

 Extremitas : Gerak aktif di keempat ekstremitas, akral hangat,
capillary refill time <2 detik, edema -/-
 
 Tulang belakang : Tidak ada deformitas
 
 Susunan Saraf : reflex fisiologis +, reflex patologis –, tanda
rangsang meningeal -
 
 Kulit : warna sawo matang, hangat, ikterik -, eflorosensi -, lembab
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
 Darah tepi :
 Hb : 8,6 g%
 Ht : 26 %
 Leukosit : 23.900
 Trombosit : 382.000
 LED : 30
 Hitung Jenis
 Basofil :0
 Eosinofil :0
 Netrofil Batang : 0
 Netrofil Segmen : 89
 Limfosit : 10
 Monosit :1

RESUME
 Anak F, laki-laki berusia 1 tahun 5 bulan datang ke IGD RSUD Karawang pada
2 Juni 2010 dengan keluhan kejang disertai demam.
 Dari anamnesis
 pasien mengalami kejang selama 30 menit dengan gerakan cepat dan kaku
tangan kiri kanan, kedua bola mata ke atas dan keluar busa berwarna putih
dari mulutnya.
 Setelah kejang, pasien terus tertidur selama 15 menit dan apabila terjaga,
pasien tidak mengalami gangguan kesadaran dan tidak terlihat bingung.
 Pasien juga menderita demam tinggi 4 hari yang lalu, terus menerus
sepanjang hari.
 Sejak 2 bulan yang lalu, terdapat cairan berwarna kuning kehijauan, cair,
berbau busuk dari telinga kiri pasien disertai nyeri dan gangguan
pendengaran.
Resume
Gejala-gejala ini tidak disertai dengan batuk, keringat
dingin, mencret, mual, muntah dan masalah buang air
kecil.
Tidak ditemukan riwayat sesak tidak ditemukan kelainan
seperti lumpuh
 Kejang tidak didahului oleh aura
Tidak ada pemakaian obat lama, tidak ada riwayat trauma
dikepala
Tidak ditemukan manifestasi perdarahan seperti bintik-
bintik merah atau mimisan
Pasien tidak ada riwayat kejang sebelumnya(-)
Dari pemeriksaan fisik, didapatkan sekret dan
membran timpani yang masih intak pada liang telinga
kiri dan gangguan pendengaran serta tidak
ditemukan refleks patologis pada pasien.
Pada hasil pemeriksaan penunjang, didapatkan
anemia dengan nilai HB 8,6 , leukositosis dengan
nilai leukosit 23900, peningkatan laju endap darah,
yang menunjukan bahwa telah terjadi proses infeksi
Data Antropometri
Berat Badan : 6.6 kg
Panjang badan : 66 cm
BB pasien/persentil BB menurut NCHS x 100%
BB persentil menurut NCHS : 12 kg
Status gizi : 6.6/11 x 100% :57.9%
(gizi buruk)
Diagnosis Kerja

Kejang demam kompleks


Diagnosis Banding

Epilepsi yang dibangkitkan oleh demam


Ensefalitis
Meningitis
Anjuran pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan hematologi : hemoglobin, hematokrit,


leukosit, dan trombosit
Besi serum (Serum Iron) dan TIBC
Feses rutin (untuk memastikan ada/tidaknya infeksi
ascaris)
EEG
Penatalaksanaan
 Rawat inap dan tirah baring dengan medikamentosa
 Konsul THT
 IVFD Ringer Laktat 16 tetes/menit

 Medikamentosa
 Antibiotik
 Clanexi forte(amoxicilin syup) 3x1/2 sdt
 Anti pyretik
 Asetaminofen10-10 mgr/kgBB/kali tiap 4 jam maksimal 5 kali sehari ½ cth

 Anti convulsion
 oral diazepam, 0.3 mg/kg q8h (1 mg/kg/24 hr)

 Non medikamentosa
 edukasi pada orang tua
Prognosis

Ad vitam : dubia ad bonam


Ad fungsionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
ETIOLOGI
PATOFISIOLOGI
MANIFESTASI KLINIS
DIAGNOSIS
PENATALAKSANAAN
KOMPLIKASI
DEFINISI
Kejang (konvulsi) didefinisikan sebagai gangguan
fungsi otak tanpa sengaja,paroksismal, yang dapat
nampak sebagai gangguan atau kehilangan kesadaran,
aktivitas motorik abnormal, kelainan perilaku,
gangguan sensoris, atau disfungsi autonom.
ETIOLOGI
 Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh
(suhu rektal > 38°C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.
Biasanya kejang terjadi pada anak usia 6 bulan- 5 tahun. Kejang demam terdiri
atas :
  1. Kejang demam kompleks ( berlangsung lama/lebih dari sama dengan 15 menit,
 dapat bersifat fokal/parsial, atau kejang umum didahului kejang fokal, dan kejang
 berulang lebih dari 2 kali dalam 24 jam).
 2. Kejang demam sederhana (kejang menyeluruh yang berlangsung < 15 menit dan
 tidak berulang dalam 24 jam./kriteria tidak memenuhi kejang demam kompleks)
 
 Demam yang terjadi sering disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan atas
(ISPA), gangguan metabolik, penyakit infeksi diluar susunan saraf misalnya
tonsilitis, otitis media, bronkitis, keracunan obat, faktor herediter, dan idiopatik.
FAKTOR RESIKO

Faktor resiko berulangnya kejang demam adalah :


(1) riwayat kejang demam dalam keluarga;
(2) usia kurang dari 18 bulan;
(3) temperatur tubuh saat kejang. Makin rendah
temperatur tubuh saat kejang. Makin
rendah temperatur saat kejang makin sering berulang; dan
(4) lamanya demam.
FAKTOR RESIKO
Risiko berulangnya kejang demam adalah 10% tanpa
faktor risiko, 25% dengan 1
faktor risiko, 50% dengan 2 faktor risiko, dan dapat
mencapai 100% dengan 3 faktor
risiko. Adapun faktor risiko terjadinya epilepsi di
kemudian hari adalah :
(1) adanya gangguan perkembangan neurologis;
(2) kejang demam kompleks;
(3) riwayat epilepsi dalam keluarga; dan
(4) lamanya demam.
PATOFISIOLOGI
 Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1°C akan mengakibatkan
kenaikan metabolisme basal 10% – 15% dan kebutuhan oksigen 20%.
 Akibatnya, terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel otak
dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion
Natrium melalui membran, sehingga terjadi lepasnya muatan listrik.
 Lepasnya muatan listrik yang cukup besar dapat meluas ke seluruh
sel/membrane sel di dekatnya dengan bantuan neurotransmitter,
sehingga terjadi kejang.
 Kejang tersebut kebanyakan terjadi bersamaan dengan kenaikan suhu
badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar
susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis (peradangan pada amandel),
infeksi pada telinga, dan infeksi saluran pernafasan lainnya.
MANIFESTASI KLINIS

Pada kejang demam, manifestasi klinisnya adalah


gejala berupa suhu anak tinggi, anak pucat / diam saja,
mata terbelalak ke atas disertai kekakuan dan kelemahan,
umumnya kejang demam berlangsung singkat, gerakan
sentakan berulang tanpa didahului kekakuan atau hanya
sentakan atau kekakuan fokal, serangan tonik-klonik
( dapat berhenti sendiri ),
kejang dapat diikuti sementara berlangsung beberapa
menit, seringkali kejang berhenti sendiri.
 
DIAGNOSIS
Pengamatan kejang tergantung pada banyak faktor,
termasuk umur penderita, tipe dan frekuensi kejang, dan
ada atau tidaknya temuan neurologis dan gejala yang
bersifat dasar. Pemeriksaan minimum untuk kejang tanpa
demam pertama pada anak lainnya yang sehat meliputi
glukosa puasa, kalsium, magnesium, elektrolit serum, dan
EEG. Peragaan discharge (rabas) paroksismal pada EEG
selama kejang klinis adalah diagnostic epilepsi, tetapi
kejang jarang terjadi dalam laboratorium EEG.
DIAGNOSIS
Memonitor EEG lama dengan rekaman video aliran
pendek dicadangkan pada penderita yang terkomplikasi
dengan kejang lama dan tidak responsif.
Penggunaan skenning CT atau MRI (Magnetic Resonance
Imaging) pada pengamatan kejang diidikasikan untuk
penderita yang dicurigai terdapat lesi intracranial atas
dasar riwayat atau pemeriksaan neurologis abnormal,
kejang sebagian yang lama, tidak mempan dengan terapi
antikonvulsan, defisit neurologis setempat, dan bukti
adanya kenaikan tekanan intrakranial.
PEMERIKSAAN PENUNJANG 

Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin;


dilakukan untuk evaluasi penyebab demam, atau keadaan
lain misalnya darah perifer, elektrolit, dan glukosa darah.
Pungsi lumbal dilakukan untuk menegakkan atau
menyingkirkan kemungkinan meningitis; resiko
meningitis bakterialis adalah 0,6%-6,7%. Jika yakin klinis
bukan meningitis, maka tidak perlu melakukan lumbal
pungsi. Mengingat manifestasi klinis meningitis sering
tidak jelas pada bayi, maka pada :
1. Bayi < 12 bulan sangat dianjurkan periksa pungsi lumbal
2. Bayi antara 12-18 bulan dianjurkan
3. Bayi > 18 bulan tidak rutin dilakukan pemeriksaan
 EEG (Elektroensefalograf) tidak direkomendasikan karena tidak dapat
memprediksi berulangnya kejang atau memperkirakan resiko epilepsi
di kemudian hari. Pemeriksaan EEG dapat dilakukan pada kejang
demam tidak khas, misalnya pada anak usia lebih 6 tahun atau kejang
demam fokal.
 
 Pencitraan seperti foto X-ray, CT Scan atau MRI kepala hanya
dilakukan jika :
 1. Terdapat kelainan neurologik fokal menetap (misalnya hemiparesis)
 2. Paresis n.VI (n. Abdusens), bola mata tidak dapat melirik ke lateral
 3. Papiledema
PENATALAKSANAAN
 Pada penatalaksanaan kejang demam ada 3 hal yang perlu dikerjakan yaitu :
  
 1. Pengobatan Fase Akut 
 Seringkali kejang berhenti sendiri.
 Pada waktu kejang pasien dimiringkan untuk mencegah aspirasi ludah atau muntahan.
 Jalan napas harus bebas agar oksigenisasi terjamin.
 Perhatikan keadaan vital seperti kesadaran, tekanan darah, suhu, pernapasan dan
fungsi jantung.
 Suhu tubuh tinggi diturunkan dengan kompres air dan pemberian antipiretik.
 Obat yang paling cepat menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan IV atau
intrarektal. Dosis diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1-2
mg/menit dengan dosis maksimal 20 mg.
 bila kejang berhenti sebelum diazepam habis, hentikan penyuntikan,
tunggu sebentar, dan bila tidak timbul kejang lagi jarum dicabut.
 Bila diazepam intravena tidak tersedia atau pemberiannya sulit,
gunakan diazepam intrarektal 5 mg (BB<10>10kg).
 Bila kejang tidak berhenti dapat diulang dengan interval 5 menit
kemudian.
 Bila tidak berhenti juga, berikan fenitoin dengan dosis awal 10-20
mg/kgBB secara intravena perlahan-lahan 1 mg/kgBB/menit.
 Setelah pemberian fenitoin, harus dilakukan pembilasan dengan NaCl
fisiologis karena fenitoin bersifat basa dan menyebabkan iritasi vena.
2. Mencari dan mengobati penyebab
Pemeriksaan cairan serebrospinalis dilakukan
untuk menyingkirkan kemungkinan
meningitis, terutama pada pasien kejang demam
yang pertama. Walaupun demikian kebanyakan
dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada
kasus yang dicurigai sebagai meningitis, misalnya
bila ada gejala meningitis atau kejang demam
berlangsung lama
Pengobatan profilaksis
Ada 2 cara profilaksis, yaitu profilaksis intermiten saat
demam atau profilaksis terus menerus dengan
antikonvulsan setiap hari. Untuk profilaksis intermiten
diberian diazepam secara oral dengan dosis 0,3-0,5
mg/kgBB/hari dibagi menjadi 3 dosis saat pasien demam.
Diazepam dapat diberikan pula secara intrarektal tiap 8
jam sebanyak 0,5mg/kgBB setiap pasien menunjukkan
suhu lebih dari 38,5 0 C. Efek samping diazepam adalah
ataksia, mengantuk dan hipotonia.
Profilaksis terus-menerus berguna untuk mencegah
berulangnya kejang demam berat yang dapat
menyebabkan kerusakan otak tapi tidak dapat mencegah
terjadinya epilepsy dikemudian hari. Profilaksis terus
menerus setiap hari dengan fenobarbital 4-5mg.kgBB/hari
dibagi dalam 2 dosis. Obat lain yang dapat digunakan
adalah asam valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari.
Antikonvulsan profilaksis selama 1-2 tahun setelah kejang
terakhir dan dihentikan bertahap selama 1-2 bulan.
 Profilaksis terus-menerus dapat dipertimbangkan

 1. Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologis atau
 perkembangan (misalnya serebral palsi atau mikrosefal)
 2. Kejang demam lebih dari 15 menit, fokal, atau diikuti kelainan neurologis
 sementara dan menetap.
 3. Ada riwayat kejang tanpa demam pada orang tua atau saudara kandung.
 4. Bila kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan atau terjadi
 kejang multipel dalam satu episode demam.

 Bila hanya memenuhi satu kriteria saja dan ingin memberikan obat jangka
 panjang maka berikan profilaksis intermiten yaitu pada waktu anak demam
dengan
 diazepam oral atau rektal setiap 8 jam disamping antipiretik
KOMPLIKASI
 Pada umumnya, kejang demam sederhana tidak menyebabkan
kerusakan otak, retardasi mental, ataupun disabilitas dalam
kemampuan belajar.
 sebagian kecil kasus kejang demam yang berkembang menjadi
epilepsi dan hal tersebut bukan dikarenakan kejang demam,
melainkan faktor-faktor lain.
 Komplikasi yang paling sering dari kejang demam adalah
kemungkinan untuk mengalami kejang demam kembali (kejang
demam rekuren).
 Pada kejang demam yang berlangsung lama lebih dari 15 menit dan
bersifat unilateral, dapat terjadi penurunan IQ.
KESIMPULAN
Kejang (konvulsi) didefinisikan sebagai gangguan fungsi
otak tanpa sengaja, paroksismal, yang dapat nampak
sebagai gangguan atau kehilangan kesadaran, aktivitas
motorik abnormal, kelainan perilaku, gangguan sensoris,
atau disfungsi autonom.
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada
kenaikan suhu tubuh (suhu rektal > 38°C) yang
disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Biasanya
kejang terjadi pada anak usia 6 bulan- 5 tahun.
 
Kejang demam terdiri atas :
1. Kejang demam kompleks ( berlangsung lama/lebih dari
sama dengan 15 menit,
dapat bersifat fokal/parsial, atau kejang umum didahului
kejang fokal, dan kejang
berulang lebih dari 2 kali dalam 24 jam).
2. Kejang demam sederhana (kejang menyeluruh yang
berlangsung < 15 menit dan
tidak berulang dalam 24 jam./kriteria tidak memenuhi
kejang demam kompleks)
Demam yang terjadi sering disebabkan oleh infeksi
saluran pernapasan atas
(ISPA), gangguan metabolik, penyakit infeksi diluar
susunan saraf misalnya tonsilitis,
otitis media, bronkitis, keracunan obat, faktor herediter,
dan idiopatik.
Pengamatan kejang tergantung pada banyak faktor,
termasuk umur penderita, tipe
dan frekuensi kejang, dan ada atau tidaknya temuan
neurologis dan gejala yang bersifatdasar.
DAFTAR PUSTAKA
 1. Haslam RH. Kejang pada masa anak. Dalam : behrman, kliegman, Arvin. Ilmu
 Kesehatan Anak Nelson. Edisi 15, Volume 3. Jakarta. EGC, 2000. hal 2053-60.
  
 2. Hawani D. Neuropediatri. Dalam : Herry G, Heda M. Pedoman Diagnosis dan
 Terapi Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 3, Bandung: Fakultas Kedokteran Universitas
 Padjajaran, 2005. hal 598-600.
  
 3. Exil G. Kejang. Dalam: M. William Schwartz. Pedoman Klinis Pediatri. Edisi 1,
 Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2005. hal 657-666.
  
 4. Arif M, Suprohaita, Wahyu I.W, Wiwiek S. Kejang Demam. Dalam : Kapita
 Selekta Kedokteran, Bab VI Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 3 Jilid 2, Jakarta :
 Fakultas Kedokteran Indonesia, 2000. hal 434-5
  
 5. Matondang C, Wahidiyat I. Diagnosis fisis pada anak. Edisi ke 2. Jakarta : CV
 Sagung Seto 2003.
  
 6. Sadleir LG, Scheffer IE ; Febrile seizures. BMJ. 2007 Feb 10;334(7588):307-11.
  
 7. FebrileSeizure.http://clinicalevidence.bmj.com/ceweb/condition/chd/0324-
 background.jsp?grp=1.