Anda di halaman 1dari 4

Donor ASI Melalui Bank ASI, Merancukan

Hubungan Mahram (2)


Pada tulisan pertama telah dibahas tentang akibat yang ditimbulkan dari donor ASI
melalui bank ASI, ditinjau dari sisi syar’i, yaitu kacau dan kaburnya hubungan
mahram atau persaudaraan sepersusuan. Hal ini karena orang yang menginginkan
mendapatkan ASI dari bank ASI tinggal membeli dari bank. Dan kemungkinan besar,
sumber ASI yang akan dibeli dan diminumkan kepada anak tidak diketahui, sehingga
menjadi kaburlah ibu susuan tersebut. Sehingga akibat buruk perkawinan sesama
saudara sesusuan bisa terjadi, dan ini dilarang oleh syariat. Namun sebelum lebih jauh
lagi membicarakan persoalan ini, Penulis (Ria Fariana) akan terlebih dulu mengupas
tentang hukum mengomersialkan (menjualbelikan) ASI.

Hukum Jual Beli Asi

Asi manusia adalah bagian mengalir dari anggota tubuhnya, dan tidak diragukan lagi
itu merupakan karunia Allah bagi manusia dimana dengan adanya ASI tersebut
seorang bayi dapat memperoleh gizi. Dan ASI tersebut merupakan sesuatu hal yang
urgen di dalam kehidupan mereka (baca: bayi). Karena pentingnya ASI untuk
pertumbuhan maka sebagian orang memenuhi kebutuhan tersebut dengan membeli
ASI pada orang lain. Jual beli ASI manusia itu sendiri di dalam fiqih Islam
merupakan cabang hukum yang berbeda pendapat para ulama di dalamnya. Ada dua
pendapat ulama tentang hal tersebut.

Pertama, tidak boleh menjualnya. Ini merupakan pendapat ulama Madzhab Hanafi
kecuali Abu Yusuf (berkenaan dengan susu seorang budak), salah satu pendapat yang
lemah pada Madzhab Syafi’i dan juga kata sebagian ulama Hanbali.

Kedua, pendapat yang mengatakan dibolehkan jual beli ASI manusia. Dan ini
merupakan pendapat Abu Yusuf (pada susu seorang budak), Maliki dan Syafi’i,
Khirqi dari Madzhab Hanbali, Ibnu Hamid, dikuatkan juga oleh Ibnu Qudamah dan
juga Madzhab Ibnu Hazm.

Sebab Timbulnya Khilaf

Menurut Ibn Rusyd, sebab timbulnya perselisihan pendapat ulama di dalam hal
tersebut adalah pada boleh tidaknya menjual ASI manusia yang telah diperah. Karena
proses pengambilan ASI tersebut melalui perahan. Imam Malik dan Imam Syafi’i
membolehkannya sedangkan Abu Hanifah tidak membolehkannya. Alasan mereka
yang membolehkannya adalah karena ASI itu halal untuk diminum maka boleh
menjualnya seperti susu sapi dan sejenisnya. Sedangkan Abu Hanifah memandang
bahwa ASI itu dihalalkan karena Dharurah bagi bayi dan dasar hukum dari ASI itu
sendiri adalah haram karena dia disamakan seperti daging manusia. Maka karena
daging manusia tidak boleh memakannya maka tidak boleh menjualnya.
Dalil Pendapat yang Membolehkan Jual Beli Susu Manusia

Mereka mengemukakan argument logika yang banyak di dalam masalah ini.


Diantaranya, ASI manusia bukanlah harta benda maka tidak boleh menjualnya. Dan
dalil bahwasannya ASI tersebut bukan harta benda adalah tidak dibolehkan bagi kita
mengambil manfaat (Intifa’) dengan ASI tersebut. Asi tersebut dibolehkan karena
dharurat saja kepada anak bayi karena mereka tidak bisa memperoleh gizi dengan cara
lain. Dan apa yang tidak dibolehkan mengambil manfaat kecuali dharurah tidaklah
dianggap bagian harta seperti babi dan narkotika. Selain itu ASI tersebut juga tidak
dijual di pasar karena tidak dianggap bagian dari harta.

Pendapat ini ditentang oleh pihak kedua. Mereka mengatakan: Bahwa ASI itu suci
dan bisa diambil manfaat sehingga boleh menjualnya seperti susu kambing. Adapun
sebab tidak dijualnya ASI tersebut di pasaran bukanlah landasan barang tersebut tidak
boleh dijual karena ada juga barang yang tidak ada di pasaran dan boleh jual beli
barang tersebut.

Kelompok pertama juga beralasan bahwa ASI tersebut merupakan bagian dari
manusia dan manusia beserta seluruh organnya adalah terhormat maka menjual jual
beli ASI tadi dapat menjatuhkan derajat kemuliaan manusia.

Pendapat di atas kembali ditentang oleh pihak kedua. Ibnu Qudamah berkata bahwa
seluruh tubuh manusia dapat dijual seperti bolehnya menjual budak. Sedangkan yang
tidak boleh menjualnya adalah orang merdeka dan diharamkan pula menjual anggota
tubuh yang sudah terpotong karena tidak bermanfaat.

Al Kasaai dari kelompok pertama menentang bantahan tersebut, beliau berkata bahwa
manusia tidak halal kecuali budak dan budak tidak halal kecuali hidup sedangkan ASI
itu bukanlah sesuatu yang hidup maka tidak boleh dujual.

Pendapat kelompok pertama mengatakan bahwa susu manusia itu adalah restan (sisa)
dari manusia maka tidak boleh menjualnya seperti air mata, keringat dan ingus.

Pendapat ini ditentang dengan mengatakan bahwa mengkiyaskan ASI dengan keringat
adalah tidak tepat karena keringat, ingus dan air mata tidak bermamfaat. Hal ini
seperti keringat kambing yang tidak boleh kita menjualnya, sedangkan susunya tetap
boleh.

Selanjutnya kelompok pertama mengatkan bahwa daging manusia tidak boleh untuk
dimakan maka tidak boleh menjual air susunya seperti susu keledai betina.

Pendapat ini ditolak oleh pihak kedua, mereka kembali mengatakan bahwa ini adalah
qiyas yang tidak sesuai karena ASI manusia suci sedangkan susu keledai najis.

Kelompok pertama kembali beralasan bahwasannya dengan adanya proses menyusui


tadi diharamkan bagi kita untuk menikahi saudara sesusuan dan ibu susu. Maka pada
proses jual beli ASI ini akan membuka peluang terjadinya perkawinan yang tidak
dibenarkan secara syariat karena ASI tadi dicampur sehingga kita tidak mengetahui
Asi siapa saja yang diminum oleh bayi.
Dalil Pendapat yang Mengharamkan Jual Beli Susu Manusia

Golongan kedua yang membolehkan menjual ASI manusia berpegang kepada Al-
Quran, Hadits dan logika.

Dalil Al-Quran yaitu firman Allah pada surat Al-Baqarah ayat 275 (yang artinya)
yaitu, “Allah telah menghalalkan jual beli.” Ayat tersebut menurut Ibnu Hazm
mengisyaratkan bahwa seorang wanita memerah ASInya dan mengumpulkannya di
dalam suatu bejana kemudian diminumkan pada bayi dan ini adalah milik wanita yang
diberikan kepada bayi dan sesuai landasan hukum, apa saja yang boleh
kepemilikannya berpindah kepada orang lain maka boleh dilakukan jual beli.

Sedangkan di dalam hadits juga terdapat suatu dalil yang diriwayatkan oleh Bukhari
dan Abu Daud dari Ibn Abbas, beliau berkata, aku melihat Rasulullah shallallaahu
'alaihi wasallam duduk di suatu sudut maka beliau mengangkat pandangan ke langit
kemudian tersenyum lalu bersabda, “ Allah Subhanahu wa Ta'ala melaknat golongan
Yahudi karena tiga perkara. . . . Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada mereka
lemak namun mereka menjualnya dan memakan hasil penjualannya, dan Allah jika
mengharamkan suatu kaum untuk memakan sesuatu maka Allah mengharamkan pula
memakan harta yang diperoleh darinya.”

Mawardi berkata bahwa apa yang tidak diharamkan memakannya maka tidak
diharamkan memakan hasil penjualannya, oleh karena itu ASI manusia boleh
dimakan maka otomatis boleh dijual maka tidaklah haram hasil penjualannya.

Pendapat ini ditentang oleh kelompok pertama. Mereka mengatakan bahwa ASI
manusia juga dilarang meminumnya, tetapi karena dharurah dibolehkan. Buktinya,
jika seorang bayi telah kuat dengan tidak meminum ASI maka tidak boleh lagi ia
meminumnya. Mengambil manfaat dari Asi juga haram. Bahkan sebagian mereka
melarang orang yang terkena penyakit kabur menggunakannya dan sebagian yang lain
membolehkannya jika diketahui itu adalah obat. Dan ASI juga tidak dianggap barang
yang berharga, dia sama seperti bangkai, yang menjadi gizi hanya ketika darurat saja,
dan bukanlah suatu harta yang diperbolehkan menjualnya. Kemudian mereka juga
mengatakan bahwa setiap yang suci itu belum tentu dapat dijual. Seperti air, ia tidak
boleh dijual kecuali sudah kita olah dan jaga.

Golongan kedua mengatakan bahwa asi itu adalah gizi bagi manusia maka boleh
dijual seperti beras.

Abu Yusuf mengatakan bahwa boleh menjual ASI dari budak karena budak itu-pun
sah untuk dilakukan akad jual beli maka ASI yang merupakan bagiannya pun sah
untuk dijual beli.

Madzhab yang Dipilih

Setelah kita melihat kedua madzhab di atas kita menyadari bahwa dalil yang
dilontarkan oleh kedua golongan tersebut tidak pernah berjalan mulus. Selalu saja ada
bantahan-bantahannya. Tetapi kita dapat menangkap pendapat mana yang dalilnya
lebih kuat, penulis sendiri cenderung kepada pendapat yang mengatakan bahwa tidak
boleh menjual ASI manusia (pendapat pertama) karena ASI itu adalah bagian dari
manusia dan manusia beserta anggota tubuhnya adalah mulia dan tidak boleh ada jual
beli padanya. Selain itu menjual ASI manusia juga dapat membawa kepada
kemudaratan, yaitu susahnya mengatur perkawinan karena sangat banyak saudara
sesusuan yang diharamkan menikahi mereka. Ibu susu tidak mengetahui siapa saja
yang meminum susunya dan sebaliknya sang bayi juga tidak tahu susu siapa saja yang
telah ia minum karena di dalam operasional Bank ASI itu sendiri tidak dapat
ditentukan antara penjual dan pembeli ASI maka tersebarlah pernikahan-pernikahan
yang tidak sesuai dengan syariat. Padahal Allah sendiri tidak menyukai adanya
kerusakan dan penyelewengan. Sedangkan menutup pintu kemunkaran itu lebih
diutamakan daripada mengerjakan suatu kebaikan. Wallahu a’lam.

(PurWD/voa-islam.com)