Anda di halaman 1dari 10

Perceptual Processes I : Visual and Auditory Recognition

Berdasarkan pemahaman saya, ketika mempelajari Mata Kuliah Psikologi Umum I dan membaca
buku Recognition oleh Matlin edisi keenam chapter 2 dan 3 diketahui bahwa ada 5 proses dalam
persepsi. Salah satu proses tersebut adalah rekognisi. Contohnya saja ketika kita membaca
tulisan “persepsi”. Bagaimana caranya kita mengetahui bahwa huruf terakhir pada kata persepsi
adalah I ? Hal pertama yang dilakukan adalah kita mengkombinasikan informasi yang telah
ditangkap oleh retina mata dengan pengetahuan yang telah dimiliki tentang bentuk-bentuk huruf
serta pengetahuan kita tentang hal apa yang biasa kita ketahui, dalam kasus ini huruf apa yang
diikuti setelah kata “perseps”..?

Persepsi dikombinasikan oleh dunia luar (ransangan visual) dan dunia atau pengetahuan yang
telah ada dan kita ketahui. Hal ini menunjukkan bahwa ada kombinasi proses antara bottom-up
dan top-down. Proses perseptual dimulai dengan informasi dasar pada rekognisi objek secara
visual. Kemudian kita akan memeriksa 2 hal utama pada visual yaitu proses top-down dan
persepsi wajah. Kemudian persepsi yang kita miliki ini dipasangkan pada persepsi yang umum
terjadi dan menjadi persepsi yang bisa diakui oleh semua orang. Proses ini juga berlaku pada
persepsi suara (auditori).

Background on Visual Object Recognition


Ada 2 istilah yang paling dikenal oleh para psikolog terkait ransangan perseptual, yaitu:
1. Distal stimulus, yaitu objek yang benar-benar ada yang berada di sekitar lingkungan kita,
misalnya botol air minum.
2. Proximal stimulus, yaitu informasi yang terdapat pada penerima ransangan kita, misalnya
bayangan botol air yang muncul di retina.
Karena adanya proximal stimulus maka kita dapat menentukan benda-benda distal stimulus
walaupun dari sisi yang terkadang membuat benda tersebut tidak seperti benda aslinya. Bahkan
kita dapat mengenali benda yang baru kita lihat pada tempat yang berbeda hanya dalam 1/10
detik. Kenapa hal ini bisa terjadi? Seperti kita ketahui memori sensori kita memiliki kapasitas
penyimpanan yang sangat besar yang mampu menampung informasi-informasi yang diberikan
oleh masing-masing indera dengan kapasitas yang bisa diterima. Iconic memory, memori visual,

Scribd |
Feika_5
dapat mempertahankan ransangan stimulus yang dilihat selama 200 hingga 400 milisekon
(kurang dari setengah detik) setelah ransangan stimulus menghilang.

Manusia, menurut psikologi Gestalt, memiliki kecenderungan untuk mengorganisasi persepsinya


bahkan ketika terjadi kesalahpahaman antara mana yang menjadi figure dan ground pada suatu
objek (ambiguous figure-ground) dan pada illusory-contour stumuli dimana tidak ada pemisah
yang nyata antara figure dan ground akan tetapi manusia dapat mempersepsikannya.

Ada banyak teori yang menjelaskan tentang rekognisi objek, 3 diantaranya adalah:
1. Template-Matching Theory
Teori ini membandingkan sebuah ransangan stimulus dengan template atau pola spesifik
tertentu yang telah kita miliki pada teori. Misalnya ketika kita melihat huruf Q kita tidak akan
mengatakan itu huruf O karena kita telah memiliki ciri khusus pada Q yaitu adanya tanda
dibawahnya. Hanya saja teori ini memiliki kekurangan. Jika pada sistem komputerisasi,
metode ini sangat baik digunakan sehingga komputer bisa secara otomatis mengarahkan
suatu program jika diberi kode A maka pada kehidupan sehari-hari hal ini lebih susah
diaplikasikan. Setiap manusia memiliki keunikan termasuk dalam gaya menulis. Hal ini
menyebabkan gaya tulisan setiap orang akan berbeda sehingga bisa saja terjadi kesalahan
pembacaan seperti huruf “i” dibaca “j”. Oleh sebab itu, teori ini hanya bisa berlaku pada
angka atau huruf yang terisolasi dan objek-objek yang simpel yang langsung dapat
dipresentasikan dalam bentuk keseluruhan.
2. Feature-Analysis Theory
Teori ini meyakinkan kita bahwa stimulus visual tersusun dari sejumlah komponen atau
karakteristik. Karakteristik ini disebut distinctive feature. Misalnya saja ketika kita
membedakan huruf R dan P dimana R memiliki garis vertikal, melengkung, dan horizontal.
Hal ini membuat kita dapat membedakan objek walaupun objek tersebut berupa tulisan
tangan maupun diketik. Akan tetapi teori ini juga memiliki kekurangan. Misalnya saja huruf
L dan T. Keduanya memiliki garis vertikal dan garis horizontal, tetapi keduanya berbeda.
Begitu juga dengan kuda. Apakah kita memberikan ciri seekor kuda dengan kepala dan
ekornya? Lalu bagaimana dengan keledai? Kuda dan banyak objek di lingkungan sekitar kita

Scribd |
Feika_5
memiliki terlalu banyak lengkung dan garis sehingga tidak bisa disederhanakan seperti
alfabet. Teori ini berlaku pada bentuk 2 dimensi.
3. The Recognition-by-Components Theory (Structural Theory)
Para peneliti, salah satunya Irving Biederman, mencari
pendekatan bagaimana jika kita hendak merekognisi
objek yang memiliki bentuk 3 dimensi? Kemudian
berkembanglah teori ini dimana objek dapat
dipresentasikan sebagai suatu susunan 3 dimensi yang
sederhana yang biasa disebut geons. Seperti huruf yang
jika dikombinasikan akan membentuk kata yang
bermakna, maka geons jika dikombinasikan akan menjadi
objek yang bermakna. Seiring dengan perkembangan,
maka teori ini pun mengalami modifikasi. Hal ini
disebabkan oleh manusia akan lebih sulit merekognisi objek jika objek dilihat dari sudut
pandang yang tidak biasa. Salah satu modifikasi teori ini disebut viewer-centered approach
dimana kita tidak hanya menyimpan satu gambaran akan suatu benda tetapi tiga gambaran
sehingga ketika kita melihat suatu objek pada sudut pandang yang tidak biasa maka kita akan
memutar objek tersebut di dalam pikiran kita sampai menemukan bentuk yang sesuai dengan
gambaran yang kita miliki.

Top Down Processing and Visual Object Recognition


Para psikolog kognitif berpendapat bahwa proses bottom-up dan top-down sangat diperlukan
untuk menjelaskan kekompleksan rekognisi objek. Sejauh ini kita lebih banyak membahas
proses bottom-up atau dikenal juga dengan nama data-driven processing. Proses bottom-up
ini diawali dengan kita melihat dan merekognisi objek dari karakteristik seperti bentuk,
warna, dan permukaannya. Setelah itu kita baru mengenali objek secara keseluruhan.

Bagian pertama pada proses visual mungkin memang bottom-up yang kemudian dilanjutkan
dengan proses kedua yang disebut proses top-down (conceptually driven processing). Proses
top-down menekankan bahwa konsep dan proses mental seseorang dapat mempengaruhi

Scribd |
Feika_5
rekognisi orang tersebut pada suatu objek. Proses top-down sangat berguna ketika kita
mendapatkan ransangan yang tidak lengkap, ambigu, atau ditampilkan dalam waktu yang
sangat singkat.

Salah satu fenonema dalam penelitian rekognisi adalah word superiority effect atau efek
keunggulan kata. Menurut efek ini, sebuah huruf lebih mudah kita identifikasi dengan akurat
dan dengan cepat ketika huruf itu terletak pada kata yang bermakna. Ini menunjukkan bahwa
proses top-down sangat berpengaruh pada rekognisi huruf. Parallel distributed processing
(PDP) atau connectionism juga mendukung pendapat bahwa proses kognitif lebih dapat
dimerngerti jika tergabung dalam suatu unit.

Terkadang terjadi pula error pada proses top-down. Mary Potter dan rekannya mengatakan
kecenderungan error ini terjadi ketika kita “terlalu” menggunakan proses top-down. Ketika
diperlihatkan kata menyanyo dalam waktu kurang dari 1/10 detik maka kebanyakan akan
mengatakan kata yang diperlihatkan adalah menyanyi. Jika error yang tadi terjadi pada kata,
error ini juga dapat terjadi pada saat kita merekognisi objek. Change blindness adalah
ketidakmampuan kita untuk membedakan perubahan yang terjadi pada suatu objek atau
pemandangan. Selain itu ada pula inattentional blindness, ketidakmampuan kita untuk
memperhatikan objek baru yang muncul. Hal ini terjadi karena ketika suatu objek yang tidak
sesuai ekspetasi muncul pada pemandangan yang telah biasa kita lihat, maka kita akan gagal
mengenal objek tersebut.

Face Perception
Kita dapat dengan mudah mengenali wajah orang yang kita kenal bahkan dalam sudut pandang
yang tidak biasa. Padahal pada dasarnya, manusia memiliki bentuk dan struktur wajah yang
sama. Rekognisi wajah lebih “spesial” daripada rekognisi objek. Kita dapat lebih mudah
mengenali seseorang ketika kita melihat wajah orang itu secara keseluruhan (dikenal dengan
nama holistic basis). Kita bahkan mengalami kesulitan ketika kita hanya melihat sebagian dari
wajah tersebut misalnya hidung atau matanya saja. Berbeda ketika kita rekognisi objek dimana
lebih mudah jika kita melihat objek yang terisolasi atau sebagian.

Scribd |
Feika_5
Prosopagnosia adalah kondisi dimana kita tidak dapat mengenali wajah orang lain. Sebagaimana
kita ketahui, lobus occipital yang terletak di bagian belakang otak kita merupakan bagian otak
yang berperan pada visual. Sementara untuk mengenali wajah, bagian yang berperan terletak di
korteks inferotemporal.

Speech Perception
Ada beberapa karakteristik penting dalam persepsi bicara, yaitu:
 Adanya beragam pengucapan fonem (fonem adalah unit dasar dari bahasa, misalnya bunyi a,
c, atau ng)
 Hubungan kata-kata atau konteks membuat pendengar dapat menebak pembicaraan yang
tidak terdengar. Kemampuan kita untuk dapat merekonstruksi suara tersebut disebut
phonemic restoration.
 Pendengar dapat menentukan batasan-batasan antar suara walaupun suara tersebut tidak
terpisah dari keributan
 Isyarat visual dari mulut pembicara dapat membantu pendengar untuk menginterpretasikan
suara atau bunyi yang ambigu

Pada umumnya ada 2 teori yang menjelaskan tentang persepsi bicara, yaitu:
1. The Special Mechanism Approach (speech-is-special approach), dimana menurut teori ini,
kita memiliki bagian otak khusus untuk menerima fonem.
2. The General Mechanism Approach, dimana menurut teori ini, cara kita menerima bunyi
saura sama dengan cara kita menerima yang tidak berbunyi dan persepsi fonem dapat
dipengaruhi oleh proses kognitif yang lain.

Perceptual Processes II : Attention and Consciousness


Atensi adalah konsentrasi dari aktivitas mental kita. Seringkali kita tidak memberikan atensi
ketika kita sedang melakukan sesuatu. Misalnya ketika membaca buku, kita tidak merasakan
bagaimana permukaan tempat kita duduk, seperti apa lingkungan di sekitar kita, suara apa saja
yang ada di sekitar kita. Semua itu seakan terjadi begitu saja seperti bernafas. Atensi membuat
kita bisa memberikan fokus untuk ransangan yang kita inginkan. Pada kasus tadi maka atensi

Scribd |
Feika_5
kita berikan pada tulisan-tulisan di buku tersebut. Ransangan yang tidak berhubungan dengan
kegiatan yang ingin kita lakukan kita abaikan.

Ada 3 jenis proses atensi, yaitu:


1. Divided Attention
Pada divided attention ini, kita diharapkan untuk melakukan 2 atau lebih tugas dalam waktu
bersamaan. Hal ini biasanya sulit dilakukan karena kita harus membagi atensi pada 2 tugas
sekaligus. Akan tetapi hal ini bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Jika kita berlatih secara
terus menerus maka kita dapat melakukannya dengan mudah. Misalnya saja supir mobil yang
sudah berpengalaman membawa mobil akan dengan mudahnya menukar siaran radio dan
menelpon seseorang.
2. Selective Attention
Jika pada divided attention kita harus membagi atensi pada 2 atau lebih hal di saat yang
bersamaan maka pada selective attention kita akan memilih atau menyeleksi apa saja yang
akan kita beri atensi. Ada 3 penelitian yang dilakukan tentang selective attention dimana kita
akan mengalami kesulitan untuk memberikan atensi yang tidak relevan, yaitu:
 Dichotic Listening
Keadaan dimana kedua telinga kita diperdengarkan dua pesan yang berbeda. Kebanyakan
dari kita hanya akan memperhatikan pesan pertama dan tidak menangkap pesan kedua.
Justru hal-hal yang kurang relevan yang dapat kita ingat dari pesan kedua seperti jenis
kelamin pembawa pesan, sementara itu makna pesan atau adanya perubahan pesan yang
terjadi tidak terperhatikan.
 The Stroop Effect
Keadaan dimana kita harus
menyebutkan warna dari tulisan
tersebut bukannya membaca
tulisan tersebut sulit dilakukan
oleh orang tua dan para penderita

Scribd |
Feika_5
schizophrenia, gangguan psikologis dimana penderita kesulitan untuk mengontrol atensi
mereka.
 Other Visual Selective-Attention Effects
Attentional blink adalah keadaan dimana serangkaian stimulus disajikan dengan cepat dan
sistem menjadi overload sehingga kita dapat melihat yang pertama tapi gagal melihat
yang kedua, yang mungkin saja karena mata kita berkedip.

The isolated-feature/combined-feature effect didasarkan pada penelitian klasik Treisman


dan Gelade (1980). Berdasarkan pada penelitian tersebut, jika target berbeda dengan
item yang tidak relevan pada layar, yakni fitur yang simpel seperti warna, maka
pengamat dapat mendeteksi target ketika ditampilkan dalam susunan 25 item sama
cepatnya ketika ditampilkan dalam susunan 3 item. Akan tetapi jika kita mencari target
pada kombinasi dari beberapa fitur maka waktu yang diperlukan untuk mencari target
lebih lama. Misalnya saja ketika kita mencari X biru diantara X merah, O biru, dan O
merah. Waktu yang diperlukan untuk mencari target juga dipengaruhi oleh jebakan yang
ada pada layar.

Penelitian Treisman dan Souther (1985) mendukung pernyataan bahwa proses kognitif
kita lebih baik dalam menangani informasi yang positif dibandingkan informasi negatif.
Dukungan ini ditunjukkan pada the feature-present/feature-absent effect. Pada gambar di
demonstrasi 3.3 kita dapat lebih mudah mencari suatu target jika ada fitur atau ciri khas
tertentu walaupun pada layar ada banyak item yang tidak relevan. Akan tetapi jika tidak
ada fitur tertentu yang kita cari maka kita akan memerlukan waktu yang lebih lama dalam
mencari target, dalam hal ini kita harus memusatkan fokus perhatian kita. Selain itu
Royden dan rekannya juga menemukan bahwa kita akan lebih mudah menemukan target
yang bergerak daripada target yang diam.
3. Saccadic Eye Movement
Adalah pergerakan atau “lompatan” yang dilakukan mata dari satu spot ke spot yang lain
ketika sedang membaca atau melihat sesuatu. Tujuannya adalah untuk membawa pusat
retina, fovea, ke posisi kata yang ingin kita baca. Pola perpindahan ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti prediktabilitas teks dan perbedaan individu antara pembaca
Scribd |
Feika_5
Explanation for Attention
Para peneliti berpendapat ada 2 daerah di korteks yang mengatur atensi, yaitu:
1. The Posterior Attention Network di Lobus Parietal
Daerah ini bertanggung jawab untuk atensi yang diperlukan ketika melakukan pencarian
visual di lokasi yang luas. Ada 2 cara untuk mengetahui daerah mana yang mengatur atensi
pada pencarian visual, yaitu:
 Positron Emission Tomography (PET scan)
Cara ini dilakukan dengan menghitung aliran darah di otak dengan memasukkan bahan
kimia radioaktif kepada peserta sebelum peserta diminta melakukan tugas kognitif.
Peningkatan pada aliran darah di daerah tertentu menunjukkan daerah tersebut berperan.
 Brain Lesions
Brain lesions terjadi karena kerusakan pada otak akibat stroke, kecelakaan, atau trauma
yang lainnya. Jika terjadi kerusakan pada bagian lobus parietal di hemisfer kanan maka
penderita akan kesulitan melihat ransangan stimulus dari sebelah kirinya. Jika diminta
untuk menggambar maka penderita hanya mampu menggambar sebagian dari gambar itu
saja. Ini dinamakan unilateral neglect.
2. The Anterior Attention Network di Lobus Frontal
Daerah ini akan aktif ketika kita sedang melakukan tugas Stroop dimana kita harus
menghambat respon otomatis terhadap ransangan (menghambat kita untuk membaca tulisan
yang diperlihatkan secara otomatis karena kita harus menyebutkan warna dari tulisan
tersebut)
Kita juga bisa untuk mengetahui daerah otak yang berperan pada atensi dengan melakukan
teknik the event-related potential (ERP) dimana elektroda dipasang di kulit kepala.

Teori tentang atensi telah berkembang semenjak psikologi kognitif masih “bayi”. Teori-teori
tersebut adalah:
1. Early Theories of Attention
Teori yang terkenal di masa ini adalah Bottleneck Theories. Menurut teori ini, ketika ada satu
pesan yang masuk, maka pesan atau informasi yang lain akan hilang. Kesalahan teori ini
adalah teori ini tidak percaya akan kefleksibilitasan atensi manusia. Informasi yang hilang
Scribd |
Feika_5
tersebut tidak akan menghilang begitu saja melainkan akan melalui beberapa bagian proses
terlebih dahulu.
2. Automatic Versus Controlled Processing
Pada tahun 1970an, muncul teori dari Shiffrin dan Schneider yang mengatakan ada 2 jenis
proses yang terjadi ketika kita melakukan atensi. Yang pertama adalah automatic processing
dimana kita dapat melakukan 2 atau lebih tugas secara bersamaan. Akan tetapi tugas ini
terbatas hanya pada tugas yang mudah dan telah familiar dilakukan, dengan kata lain kita
telah sering berlatih melakukan tugas ini. Proses ini terjadi secara paralel. Yang kedua adalah
controlled processing dimana kita tidak dapat melakukan 2 tugas bersamaan karena tugas ini
lebih sulit dan tidak familiar sehingga kita harus memfokuskan atensi kita. Oleh sebab itu
proses ini terjadi secara serial dimana kita hanya bisa melakukan satu tugas pada satu waktu.
3. Feature-Integration Theory
Pada tahun 1980, Anna Treisman mengembangkan teori yang menggabungkan antara atensi
dan proses perseptual. Teori ini membahas dua komponen yaitu distributed attention dimana
diuji dengan fitur tunggal sehingga kita dapat menemukan objek yang kita cari dengan
mudah dan focused attention dimana diuji dengan kombinasi fitur atau adanya fitur yang
hilang sehingga akan lebih sulit untuk menemukannya.

Ketika kita menjumpai terlalu banyak target yang hendak dicari bisa saja terjadi overload. Ini
disebut illusory conjuction dimana dimana terjadi ketidaktepatan kombinasi fitur. Misalnya
ketika kita melihat S biru dan R merah, maka ketika terjadi illusory conjuction kita akan
melihatnya sebagai S merah.

Consciousness
Consciousness atau kesadaran memiliki banyak definisi, salah satunya adalah kesadaran manusia
terhadap dunia luar dan persepsi, gambaran, pemikiran, memori, dan perasaan yang kita miliki
terhadap dunia luar tersebut. Ada 3 persoalan yang paling sering dibahas para peneliti terkait
kesadaran yaitu:
1. Kemampuan kita untuk membawa apa yang ada di pikiran kita memasuki bagian sadar kita.
Kita mungkin dapat menyelesaikan suatu permasalahan dengan baik melalui pikiran kita
tetapi ketika ditanya kembali bagaimana cara kita menyelesaikan pikiran tersebut, kita
Scribd |
Feika_5
mungkin hanya akan mengatakan ide itu datang begitu saja. Kita sering tidak menyadari
bagaimana proses berpikir itu terjadi.
2. Thought suppressions, ketidakmampuan kita untuk menyingkirkan pikiran kita dari
kesadaran. Misalnya ketika diet, kita akan berusaha untuk tidak memikirkan segala hal yang
berhubungan dengan makanan. Akan tetapi semakin keras kita berusaha maka pikiran-
pikiran tentang makanan tersebut akan semakin bermunculan di dalam kepala kita. Ini
disebut rebound effect atau oleh Wegner disebut ironic effects of mental control.
3. Blindsight, dimana penderita kerusakan korteks visual seperti stroke tidak dapat melihat
suatu benda tetapi dia mampu menjelaskan karakteristik benda tersebut. Hal ini bisa terjadi
karena walaupun informasi visual biasanya ditangkap oleh korteks visual primer, informasi
ini masuk ke dalam lokasi lain yang berdekatan dengan korteks visual.

Scribd |
Feika_5

Anda mungkin juga menyukai