Anda di halaman 1dari 14

DAMPAK HUTANG LUAR NEGERI

TERHADAP EKONOMI POLITIK INDONESIA

Oleh :
Reinhard Hutapea*

Abstract
Indonesian foreign loans have in the severe stage because of the installement and
interest obligations that must be paid have been over than those have been spent for
development. Why should this case occur? In order to discuss this question shall be
perfomed throught a theory of Rudolf stram. After being discussed in the study it may be
concluded that there are three impact for Indonesia, they are 1. Political and economical
dependences, 2. National economy distortion and 3. The appearance of authoritarian
power.

Pendahuluan

Salah satu beban politik ekonomi Indonesia adalah hutang luar negeri yang terus

membengkak. Hutang ini sudah begitu berat, mengingat pembayaran cicilan dan

bunganya yang begitu besar. Biaya ini sudah melewati kapasitas yang wajar, sehingga

biaya untuk kepentingan-kepentingan yang begitu mendasar dan mendesak menjadi

sangat minim yang berimplikasi cukup luas.

Tulisan-tulisan tentang hutang luar negeri sudah banyak yang ditulis para

kalangan, baik itu sebagai politisi, pengamat, dan atau khususnya kalangan ilmuwan.

Akan tetapi yang ditulis itu sudah tidak lagi relevan karena perkembangan ekonomi

politik yang begitu cepat. Penelitian terakhir yang penulis ketahui adalah yang

diseminarkan pada tahun 2004 di LIPI. Setelah itu belum ada penelitian yang seksama.

Inilah yang melatarbelakangi penulis meneliti masalah hutang luar negeri ini, khususnya

setelah beberapa negara lain mengusulkan akan melakukan moratorium.

*
Staf Komisi II DPR & Dosen HI Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta.
Landasan Teori

Untuk pembahasan tulisan ini akan mengikuti alur yang diterapkan oleh Rudolph

Strahm (1999). Dalam garis besarnya Strahm mengatakan sebab utama Negara-negara

dunia ketiga adalah politik Negara industri yang menjual produk ekspornya dengan

kredit yang diobral kenegara-negara dunia ketiga. Slogan mereka adalah “beli sekarang

Bayar belakangan”. Pola ini dilakukan untuk mengatasi krisis penjualan produk yang

dihasilkan oleh industrinya. Politik ini selanjutnya akan membawa keruntuhan sistem

ekonomi dan kekacauan politik.

Adapun mengapa krisis hutang ini terus membengkak menurut Strahm, karena

tiga hal, Pertama, Nilai Import Negara-negara berkembang lebih besar dari nilai

eksportnya, sehingga praktis nilai import yang terus membengkak tersebut harus dibiayai

dengan kredit luar negeri. Kedua, Anggaran belanja Negara-negara pengutang tersebut

sangat besar karena laba yang sangat kecil, sebab laba yang dapat ditarik kembali dan

keharusan membayar lisensi pada perusahaan-perusahaan MNCs yang membuka

usahanya di negara-negara tersebut. Ketiga, pelarian modal secara illegal oleh orang-

orang kaya setempat.

Konteks tersebut selanjutnya akan menimbulkan defisit neraca pembayaran yang

harus ditutup oleh hutang luar negeri. Disisi lain bank-bank asing berlomba memberikan

kredit dan pinjaman kepada Negara-negara berkembang yang pada akhirnya

menyebabkan hutang membengkak karena tagihan yang jatuh tempo dan bunga yang

jumlahnya melampaui kredit baru yang akan didapat.

Apabila Negara penerima hutang tidak mampu membayar hutangnya, negara dan

bank-bank pemberi kredit akan bertindak bersama-sama dan melapor kepada IMF

sebagai badan yang berwenang.


Selanjutnya IMF akan hanya memberikan kredit baru kepada negara penghutang

untuk membayar hutang berikut bunganya, bila negara tersebut bersedia menerima

persyaratan-persyaratan politis yang diajukan. Persyaratan ini dikenal dengan sebutan

“kencangkan ikat pinggang” yang lazimnya bermuara kepada kerusuhan sosial. Untuk

mengatasi kerusuhan ini digunakan aparat negara yakni militer. Kerangka seperti inilah

yang dipakai membahas permasalahan tulisan ini.

Meniru Pembangunan Negara Maju

Keinginan Negara-negara kaya, kuat dan besar untuk mempengaruhi Negara-

negara kecil, lemah dan miskin sudah berlangsung sejak lama. Pasca Revolusi Industri

di Inggris tahun 1800-an telah terbukti betapa negara-negara besar yang kelebihan

produksinya melakukan politik perdagangan agar produk-produk industrinya tersebut

dapat dipasarkan kenegara-negara lain. Dalam perjalanan sejarahnya, ternyata politik

demikian menghasilkan imperialisme, penjajahan dan kolonialisme.

Indonesia sejak kemerdekannya pada tahun 1945 sudah dibidik Amerika Serikat

agar masuk lingkaran kekuasaannya. Bagaimana cara Negara adikuasa ini mempengaruhi

Indonesia dilakukan dengan berbagai metode. Metode yang paling umum adalah dengan

memberikan bantuan ekonomi. Berbagai fasilitas-fasilitas yang menggiurkan ditawarkan

para elit Washington.

Akan tetapi Soekarno yang sangat nasionalistik tidak tergiur dengan tawaran-

tawaran tersebut. Soekarno dengan lantang menolak tawaran-tawaran tersebut dengan

idiomnya yang terkenal “go to hell with your aid”. Hingga akhir-akhir kekuasaannya,

Soekarno terus lantang menolak bantuan-bantuan asing.

Soekarno sangat sadar ekses negatif dari hutang luar negeri, ia berpendapat

bahwa bantuan luar negeri, teknologi, mesin dan lain-lain instrument yang canggih dari
negara-negara kapitalis itu tidak salah. Akan tetapi jangan sampai mengendalikan

Indonesia. Indonesia boleh memanfaatkan hal-hal tersebut, apabila sikap mental dan

karakter Indonesia sudah kuat, itu dalih mengapa Soekarno mendahulukan

pembangunan karakter, politik, bangsa dengan idiomnya “character and nation

building”.

Dengan gempuran yang terus menerus dari kekuatan kapitalis, khususnya

Amerika Serikat bersama-sama orang Indonesia sendiri yang tidak sejalan dengan

Soekarno melakukan penggulingan terhadap Soekarno. Soekarno pun jatuh yang

akhirnya digantikan dengan Soeharto yang merubah dengan drastis kebijakan ekonomi

politik.

Kebijakan ekonomi politik yang ditempuh Soeharto sungguh bertolak belakang

dengan kebijakan sebelumnya. Kalau Soekarno sangat anti modal asing dan hutang luar

negeri, Soeharto sebaliknya, membuka pintu lebar-lebar untuk modal asing dan hutang

luar negeri.

Di bawah rezim Soeharto disusun pola ekonomi politik “pembangunan

ekonomi”. Pembangunan ekonomi yang titik sentralnya adalah “pertumbuhan”.

(Growth, atau GNP/GDP). Ukuran keberhasilannya adalah “presentasi”, semakin tinggi

presentasinya semakin baik pertumbuhan ekonominya. PBB telah membuat tolok ukur

keberhasilan itu adalah 5% ke atas. Jika GNP/GDP-nya telah mencapai 5% dianggap

telah berhasil. (Mulyarto. Tj, 1995).

Meskipun tidak dikatakan dengan jelas, sesungguhnya Indonesia telah

mengadopsi model pembangunan yang telah berlaku di negara-negara maju, negara-

negara yang sudah industrialized. Suatu model yang banyak ditentang karena tidak

menggambarkan atau memperjuangkan yang sesungguhnya. Indonesia berharap,


(bermimpi) suatu waktu akan menjadi negara yang industrialized, yang kaya dan kuat

seperti negara-negara maju lainnya.

Ketergantungan ekonomi Politik

Mahbub UI Haq menggambarkan pola pembangunan seperti itu sebagai model

pembangunan palsu (the catching up fallacy). Bagaimana mungkin negara-negara

berkembang dengan mengandalkan hutang akan menyamai negara-negara kaya. Haq

memberi illustrasi dengan angka pertumbuhan yang palsu. Negara kaya tumbuh dengan

5% tidak akan bisa dikejar dengan negara penghutang yang tumbuh kurang dari 5%.

Negara penghutang tersebut akan terus ketinggalan terhadap Negara pemberi kredit.

Pendapat seperti ini sesungguhnya sudah cukup membuktikan bahwa negara-negara

penghutang akan terus tergantung kepada negara-negara pemberi hutang. Akan tetapi

agar jelas dan kwantitatif akan dijabarkan dalam bentuk angka-angka sebagaimana

ditulis Siswono Yudohusodo.

Siswono Yudohusodo menyatakan bahwa hutang luar negeri RI di akhir

pemerintahan Soekarno berjumlah US $. 2.5 milyar di akhir pemerintahan Soeharto US

$. 54 milyar di akhir pemerintahan Habbibie US $. 74 milyar dan menjadi US $. 76

milyar di akhir pemerintahan Megawati. Hutang ini belum terhitung hutang swasta yang

juga menjadi tanggungan pemerintah. Pada akhir tahun 2004 hutang luar negeri

Indonesia keseluruhan adalah US $. 136 milyar. Hutang swasta berarti 136-74 = US $.

62 milyar.

Untuk lebih gampang dipahami akan dibuat dalam tabel dibawah ini :

Tahun Hutang Hutang Swasta Total Hutang Rasio Debt.


Pemerintah (Us $ Milyar) (US $ Milyar) Terhadap GDP Service
(US $ Milyar) (%) Rasio
(%)
1991 49,084 23,9 72,984 62,5 35
1992 53,285 30,6 83,885 57,3 44
1993 57,521 32 89,521 61,9 44
1994 63,688 37,8 101,488 57,4 46
1995 64,41 43,39 107,8 53,6 43
1996 59,045 55,4 114,445 50,3 41
1997 63,462 73,962 137,424 63,9 46
1998 60,449 83,572 144,021 147,7 52
1999 75,863 72,235 148,098 148,098 -
2000 74,917 66,777 141,694 - -
2001 71,377 61,696 133,073 - -
2002 74,661 56,682 131,343 - -
2003 81,666 53,735 135,401 - -
2004 82,269 53,871 136,14 - -
Cat. Diolah dari Rom Topamimasang 1999:173 dan Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia, 2005

Hutang yang sehat adalah hutang yang semakin lama semakin kecil, namun

kasus Indonesia adalah sebaliknya. Hal ini dapat terjadi karena pola pembangunan yang

tidak sesuai. Selain itu adalah : (1). Faktor korupsi, (2). Salah kelola, (3). Capital flight,

(4). Bunga yang terlalu tinggi, dan (5). Maksud terselubung dari kekuatan adidaya.

Menurut penelitian Prof Dr. Jeffrey Winters, Korupsi yang dilakukan bersama-

sama oleh elit-elit penguasa/birokrasi Indonesia bersama Bank Dunia mencapai

sepertiga (33,3%) dari total hutang. Korupsi ini terutama untuk proyek-proyek yang di

danai oleh Bank Dunia. Elit-elit dalam dua institusi tersebut melakukan

kongkalingkong, pat-pat gulipat atau persekongkolan terhadap proyek yang akan

dibangun.

Sementara itu menurut ekonomi dari Klemens Johanes Sitanggang (Suara

Pembaruan, 21 Mei 2004) kegagalan pemerintah mengelola hutang luar negeri

disebabkan ketidakmampuan menghitung kelayakan proyek-proyek berdasarkan

parameter yang ditetapkan Organization for Economic Co operation (OECD). Parameter

tersebut adalah kelayakan ekonomi, teknik, keuangan, sosial dan distribusi, institusi dan

lingkungan.

Faktor lain yang juga membuat hutang luar negeri terus membengkak adalah

faktor pelarian uang ke luar negeri. Uang-uang tersebut banyak yang dilarikan kenegara-
kenegara yang dianggap aman dan juga ada yang dimasukan dalam perusahaan-

perusahaan asing yang dianggap bonafit. Untuk itu Stritua Arif berkomentar :

“Saya sungguh terkejut, tertegun dan terharu tatkala diperlihatkan hasil study
yang berkaitan dengan hutang luar negeri Indonesia. Seorang ekonom muda dari
Center For Policy and Implementation Studies (CPIS) menunjukan bahwa kasus
Argentina telah terjadi di Indonesia. Orang-orang yang menumpuk harta pribadi
di luar negeri melalui pelarian modal dari Indonesia telah meninggalkan beban
hutang luar negeri bagi nusa dan bangsa. (Arif. S. 1999 : 114).

Karena hutang luar negeri Indonesia tidak semua berbentuk hibah/program yang

berbunga tinggi, seperti kredit ekspor dan pinjaman-pinjaman swasta lainnya yang

berbunga besar (8 sampai 12 persen) dan jangka waktu pembayaran yang sangat dekat

(8 sampai 10 tahun) membuat hutang luar negeri Indonesia terus membengkak.

Di atas semua itu adalah hanya keinginan Negara-negara besar untuk

membangkrutkan Indonesia. Seorang eks agen CIA yang sudah pensiun menulis buku

yang isinya bagaimana penguasa Amerika Serikat memang sejak dulu sudah melakukan

rencana jahat untuk membangkrutkan Indonesia. (Peter Rosler Garcia, Kompas 6 April

2005).

Indonesia akhirnya tidak bisa lagi berbuat apa-apa, selain hanya membayar

cicilan dan bunga hutang dari hari ke hari bulan ke bulan dan tahun ke tahun sampai

waktu yang tidak dapat diprediksi. Yang mempunyai implikasi-implikasi sebagaimana

dituturkan oleh Stritua Arif di bawah ini :

Dalam situasi sekarang, kita harus terus meminjam dari luar negeri untuk
membiayai pembayaran kepada pihak luar negeri. Kita terus membayar cicilan
hutang luar negeri, bunga hutang luar negeri dan keuntungan investasi asing
yang ditransfer ke luar negeri. Dalam situasi seperti ini, kita sebetulnya berada
dalam suatu ekonomi tutup lubang gali lubang. Sementara itu kalau kita lihat
kemana penerimaan bersih devisa yang kita terima (setelah memperhitungkan
import barang dan penerimaan jasa-jasa). Maka kita lihat bahwa secara pukul rata
hamper seluruhnya telah digunakan untuk pembayaran kepada pihak-pihak
asing. Dalam situasi seperti ini, kita sebetulnya sadar atau tidak sadar bekerja
untuk pihak asing. Penerimaan ekonomi luar negeri Indonesia dapat dikatakan
adalah dari asing untuk asing dan kita adalah kuli pihak asing. Ini sungguh
merupakan sesuatu yang menyedihkan sebagai bangsa yang berdaulat dan politis
merdeka. (Arief S, 1987 :47)

Stritua Arif sebagaimana pakar-pakar lain telah menghitung bahwa hutang luar

negeri itu sesungguhnya bukan hutang untuk membantu Indonesia menyelesaikan

kemelut perekonomiannya, tetapi malah sebaliknya membawa hutang yang diberikan

tersebut kembali kepada mereka. Dari mereka untuk keuntungan mereka.

Bagaimana ia sampai kepada pernyataan demikian dapat dilihat dan dibuktikan

dalam table di bawah ini :

Tahun Persediaan Defisit Pengapalan Perjalanan Pendapatan Pembayaran


Sumber Dalam Dan Biaya Investasi Atas
Pembiayaan Hasil Perkiraan yang Jasa-jasa
Transaksi Transaksi Berkaitan Teknis dan
Luar Negeri Sedang Jasa-jaaa
Berjalan lainnya
1970 461 -310 -147 -19 -133 -150
1971 525 -371 -160 -36 -172 -158
1972 1.184 -334 -188 -43 -347 -199
1973 1.512 -476 -339 -57 -629 -148
1974 2.87 598 -657 -87 -1.329 -209
1975 2.024 -1.109 -810 -90 -1.385 -407
1976 3.785 -910 -1.006 -135 -1.212 -529
1977 4.523 -47 -1.117 -131 -1.685 -591
1978 4.467 -1.407 -1.156 -271 -1.997 -893
1979 6.856 976 -1.2789 -366 -2.465 -1.242
1980 9.292 3.005 -1.715 -401 -3.327 -1.361
1981 8.808 -6.13 -2.201 -602 -4.162 -2.217
1982 7.036 -5.336 -2.377 -565 -4.02 -1.92
1983 8.84 -6.296 -2.313 -524 -4.26 -1.539
1984 10.052 -2.113 -1.901 -501 -4.398 -2.335
1985 9.698 -1.631 -1.698 -558 -4.753 -2.218
1986 6.937 -4.042 -1.5 t.d -3.4 Td
(Sumber : Strutua Arif, 1987 :18)

Bukti-bukti lain yang berbentuk angka-angka masih dapat diberikan, namun

untuk penulisan ini untuk sementara diangap cukup. Sisi selanjutnya adalah bahwa

hutang luar negeri tersebut membuat perekonomian nasional distortif.


Distorsi Perekonomian Nasional

Karena pemberian hutang itu mempunyai syarat-syarat tertentu, dampak

selanjutnya adalah terganggunya sistem perekonomian nasional. Para kreditor telah

membuat beberapa syarat yang dalam jangka panjang membuat perekonomian nasional

hancur. Syarat-syarat paling tidak karena dua hal : Faktor bilateral dan factor

multilateral.

Dalam factor bilateral adalah adanya permintaan-permintaan pemberi hutang,

seperti tenaga ahli, barang-barang/jasa, pendistribusian dan pemasangan oleh mereka

sendiri, yang menurut Stritua Arif adalah dari mereka untuk mereka (lihat table di atas).

Khusus untuk hutang proyek hal ini sangat jelas. Barang-barang atau jasa yang mereka

berikan telah dimark up kali.

Sedangkan faktor multilateral adalah tekanan-tekanan yang dilakukan oleh

lembaga-lembaga yang mengatur dan menyalurkan hutang tersebut, seperti IMF. Bank

Dunia, WTO. Sebelum sampai kepada pembahasan yang lebih seksama bagaimana

factor-faktor ini merusak tatanan perekonomian nasional ada baiknya disimak kutipan di

bawah ini :

“Pembayaran cicilan hutang luar negeri, yang sebagian besar sekarang sudah
tidak lagi bersifat concessional, beserta bunga hutang luar negeri ini telah
mengambil begitu banyak komponen pengeluaran agregat riil didalam negeri
sehingga cukup menimbulkan dampak negative terhadap pertumbuhan ekonomi
nasional. Dapatkah menerima proposisi bahwa demi ketaatan membayar cicilan
hutang luar negeri beserta bunganya, kita harus mengorbankan pertumbuhan
ekonomi. (Arif S, 1987:48-49).

Sebagai ilustrasi betapa beratnya beban hutang luar negeri karena cicilan dan

bunganya cukup besar dilihat dalam angka-angka berikut :

Cicilan dan bunga hutang luar negeri 37%


Gaji dan Pensiun 11%
Subsidi BBM 16%
Subsidi otonomi daerah 8%
Subsidi pangan dan obat 15%
Lain-lain 13%
(sumber :Roem Topatimasang :1999:173)

Tidak begitu berbeda dengan perhitungan INFID (2001). Menurut lembaga ini,

pembayaran bunga atas hutang pada 2001 diperkirakan sekitar 35% dari pengeluaran

pemerintah pusat. Sebagai perbandingan, pengeluaran pembangunan yang sangat

dibutuhkan terhitung hanya sekitar17,5% dari pengeluaran dalam negeri pemerintah, dan

lebih dari separuh dari jumlah ini berasal dari proyek pembangunan yang didanai donor.

Pengeluaran sosial juga mengalami penurunan tajam, sekitar 40% secara riil di bawah

pengeluaran tahun 1995/1996.

Dengan kondisi keuangan seperti ini tidak mungkin akan berbuat apa-apa.

Pendapatan dalam negeri habis hanya membayar cicilan dan bunga hutang yang dari

waktu ke waktu terus bertambah. Sinyalemen ini dapat dianalogikan dengan penghasilan

seseorang pekerja yang gajinya 40% dipotong untuk membayar cicilan dan bunga hutang

dari para rentenir. Bagaimana mungkin sang pekerja ini dapat mengembangkan dirinya.

Ia akan hidup hanya dari gali hutang tutup hutang.

Sisi lain yang juga membuat hutang luar negeri semakin merusak perekonomian

nasional adalah masalah proyek-proyek yang didanai dengan hutang tersebut. Banyak

kalangan mempertanyakan efisiensi dari proyek-proyek pemerintah yang dibiayai oleh

hutang luar negeri, misalnya : proyek-proyek tersebut harus disetujui terlebih dahulu

oleh negara-negara pemberi hutang. Dalam kebanyakan kasus, negara calon pemberi

hutang mengharuskan penggunaan komponen-komponen yang berasal dari negeranya.

Hal ini mengakibatkan kemencengan atau distorsi yang memungkinkan terjadinya

inefisiency proyek-proyek tersebut.

Proyek-proyek pinjaman luar negeri tersebut biasanya mengharuskan adanya

komponen rupiah yang berasal dari angaran pemerintah. Akibat mekanisme seperti
tersebut diatas, penentuan prioritas proyek-proyek dan alokasi dana pemerintah sendiri

ikut ditentukan berdasarkan agenda negara pemberi hutang. Ironisnya lagi proyek-

proyek ini banyak yang dimark up bahkan fiktif.

Tampilnya kekuasaan Yang Otoriter

Krisis hutang luar negeri mulai terasa pada pertengahan 1980-an. Pada tahun-

tahun tersebut Indonesia telah mulai membayar cicilan-cicilan pokok yang sudah jatuh

tempo. Cicilan-cicilan ini terutama dari kredit-kredit yang bersifat komersil dan

pinjaman swasta yang jangka waktunya singkat dan bunganya cukup besar. Di sisi lain

pendapatan negara belum memadai untuk membayar karena proyek-proyek yang

diharapkan akan menghasilkan devisa jauh dari harapan.

Sebagaimana telah diuraikan di atas, hutang itu 33% dikorup, ditambah lagi

dengan pengelolaan yang tidak professional plus pemaksaan proyek oleh Negara-negara

kreditur, sangat jelas tidak akan memperbaiki perekonomian Indonesia. Dikelola dengan

professional sekalipun, tanpa korupsi dan tanpa intervensi negara kreditur belum tentu

berhasil. Apalagi kalau dikorup, tidak profesional dan diintervensi, sudah pasti ambruk.

Pertengahan 1980-an, yakni ketika Indonesia mulai memasuki fase Pelita IV adalah

puncak keambrukan ini.

Pemerintah Soeharto, lewat teknokrat-teknokratnya telah gagal membawa negara

sebagai motor pembangunan ekonomi. Suatu hal yang sesungguhnya tidak begitu

mengejutkan. Sejak awal sudah banyak yang memprediksi bahwa pembangunan

ekonomi yang dibiayai hutang sangat riskan untuk gagal. Negara-negara yang melakukan

pembangunan ekonomi dengan focus pertumbuhan adalah negara yang swastanya

menjadi actor utama pembangunan. Bukan negara, Amerika serikat yag sukses

melakukan pertumbuhan ekonomi adalah negara yang bertumpu pada kekuatan


swastanya. Negara hanya terbatas sebagai penjaga keamanan, penegak hukum dan

otoritas moneter. Singkatnya yang melaksanakan pembangunan itu di negara-negara

yang sukses adalah swastanya bukan negara. Kebalikan dengan Indonesia.

Setelah teknokrat-teknokrat Orde Baru melihat kegagalan tersebut, mereka mulai

sadar bahwa peran swasta harus diutamakan, sebagaimana di negara-negara kapitalis.

Sejak ini dimulailah gebrakan. Inti gebrakannya adalah “liberalisasi”. Pembangunan

ekonomi akan diberikan pada swasta. Muncullah berbagai kebijakan, seperti

debirokratisasi, deregulasi, gebrakan Sumarlin dan lain-lain gebrakan yang mencoba

mendorong swasta menjadi motor ekonomi.

Akan tetapi hal yang dilupakan oleh para teknokrat-teknokrat ekonomi ini adalah

faktor-faktor luar ekonom, seperti faktor politik, kelembagaan/institusi dan atau

khususnya faktor perilaku. Konsep ekonominya dibangun, namun tidak pada politik,

institusi, dan perilakunya. Suatu hal yang pasti akan berantakan. Seakan akan liberal tapi

tidak liberal. Seakan akan demokratis tapi tidak demokratis. Ekonominya liberal tapi

dilaksanakannya tidak sesuai dengan pranata-pranata liberalisasi, yakni suatu sistem

politik yang demokratis dan keunggulan individu-individu yang handal

(individualisme).

Indonesia dalam sejarah politiknya bukanlah negara yang demokrasinya seperti

demokrasi di Amerika Serikat. Dalam konteks ilmu politik, system politik Indonesia

sering dikonotasikan sebagai politik yang otoriter, bukan yang demokratis. Begitu pula

sifat masyarakatnya bukanlah masyarakat yang egalitarian, tetapi sebaliknya masih

berorientasi vertikal, feodal, dan kolektivsm/tidak individualism.

Dengan gebrakan-gebrakan ekonomi pertengahan 1980-an tersebut para

pengusaha-pengusaha swasta berlomba-lomba menghutang ke luar negeri. Dengan

tuntutan sekilas dengan pemerasan birokrat terhadap para pengusaha-pengusaha yang


meminjam hutang ke luar negeri ini berjalanlah liberalisasi dengan keanehan-

keanehannya. Meminjam Peter Evans yang terjadi kemudian adalah apa yang disebut

persekongkolan segitiga, triple alliance, antar negara, pengusaha nasional dan modal

asing/MNCs.

Dalam persekutuan segitiga ini rakyat tidak mendapat tempat. Rakyat hanya

korban dari ulah ketiga actor segitiga tersebut. Tugas negara adalah menjaga harmonisasi

ketiga actor dan menekan rakyat untuk tetap tunduk pada persekongkolan segitiga.

Rakyat yang melawan ditindas. Ditindas melalui aparat-aparat negara, seperti polisi,

tentara dan sipil-sipil yang mendongak pada persekongkolan segitiga tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Arif Sritua & Adi Sasono, 1987. Modal Asing, beban Hutang Luar Negeri dan Eekonomi
Indonesia, UIP, Jakarta.

Beltratti, Andrea, 1989, Empirical Estimates of the Capacity to Repay a Foreign Debt: A
Vector Autogresive Methodology, The European Journal of Development Research
No 2

Darity, William and Bobby Horn, 1988, The Loan Pusher: The Role of Commercial
Banks in the International Debt Crisis, Ballinger, New Yersey.

Bogdanowich C & Bindert, 1993, Solving The Global Debt Crisis, Ballinger Publishing
Company

Eschborn, Norbert & Cahtrin Graber, 2005, Foreign Aid and the Issue of Terorism,
Seminar, Parahiangan University, Bandung.

Garcia, Peter Rosler, 2005, ”Membayar Utang Merampas Masa Depan”, Kompas 6 April
2005 Jakarta.

Hallberg, Kristin, 1989, International Debt: Origins and Issues for the Future, Ballinger,
New Yersey.

Hadar, Ivan, 2005, ”CGI dan Hutang Kita”, Kompas 2005, Jakarta

Haq, Mahbub, UI 1995, Tirai Kemiskinan, Yayasan Obor Jakarta


Karyadi V. Kay, 2005, ”Timbunan Utang Yang Nan Berat”, Republika, 8 Juni 2005,
Jakarta

Perkins, John, 2005, Confessions of an economic hit man, Berrett Kohler, New York.
Siregar Muhtarudin, 1991, Pinjaman Luar Negeri dan Pinjaman Pembangunan
Indonesia, FE UI, Jakarta

Situmorang Yosef, 2005, ”Dampak Hutang Luar Negeri Terhadap Ekonomi Politik
Indonesia”, Skripsi ; Untag Jakarta

Topatimasang, Roem, 1999, Hutang itu Hutang, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Tjokrowinoto, Mulyarto, 1999, Konsep Pembangunan Nasional, Liberty, Yogyakarta.

Winter, Jeffrey, 2000, Dosa-Dosa Politik Orde Baru, Djambatan, Jakarta.