Anda di halaman 1dari 23

C.

PERKEMBANGAN POLITIK SETELAH 21 MEI 1998

1. Pengangkatan Habibie Menjadi Presiden Republik Indonesia

Setelah B.J. Habibie dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia pada tanggal 21 Mei
1998. Tugas Habibie menjadi Presiden menggantikan Presiden Soeharto sangatlah berat
yaitu berusaha untuk mengatasi krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak
pertengahan tahun 1997.

Habibie yang manjabat sebagai presiden menghadapi keberadaan Indonesia yang serba
parah, baik dari segi ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Langkah-langkah yang
dilakukan oleh Habibie adalah berusaha untuk dapat mengatasi krisis ekonomi dan
politik. Untuk menjalankan pemerintahan, Presiden Habibie tidak mungkin dapat
melaksanakannya sendiri tanpa dibantu oleh menteri-menteri dari kabinetnya.

Pada tanggal 22 Mei 1998, Presiden Republik Indonesia yang ketiga B.J. Habibie
membentuk kabinet baru yang dinamakan Kabinet Reformasi Pembangunan. Kabinet itu
terdiri atas 16 orang menteri, dan para menteri itu diambil dari unsur-unsur militer
(ABRI), Golkar, PPP, dan PDI.

Dalam bidang ekonomi, pemerintahan Habibie berusaha keras untuk melakukan


perbaikan. Ada beberapa hal yang dilakukan oleh pemerintahan Habibie untuk
meperbaiki perekonomian Indonesia antaranya :

• Merekapitulasi perbankan
• Merekonstruksi perekonomian Indonesia.
• Melikuidasi beberapa bank bermasalah.
• Manaikan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat hingga di bawah
Rp.10.000,-
• Mengimplementasikan reformasi ekonomi yang diisyaratkan oleh IMF.

Presiden Habibie sebagai pembuka sejarah perjalanan bangsa pada era reformasi
mangupayakan pelaksanaan politik Indonesia dalam kondisi yang transparan serta
merencanakan pelaksanaan pemilihan umum yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur
dan adil. Pemilihan umum yang akan diselenggarakan di bawah pemerintahan Presiden
Habibie merupakan pemilihan umum yang telah bersifat demokratis. Habibie juga
membebaskan beberapa narapidana politik yang ditahan pada zaman pemerintahan
Soeharto. Kemudian, Presiden Habibie juga mencabut larangan berdirinya serikat-serikat
buruh independent.

2. Kebebasan Menyampaikan Pendapat

Pada masa pemerintahan Habibie, orang bebas mengemukakan pendapatnya di muka


umum. Presiden Habibie memberikan ruang bagi siapa saja yang ingin menyampaikan
pendapat, baik dalam bentuk rapat-rapat umum maupun unjuk rasa atau demontrasi.
Namun khusus demontrasi, setiap organisasi atau lembaga yang ingin melakukan
demontrasi hendaknya mendapatkan izin dari pihak kepolisian dan menentukan tempat
untuk melakukan demontrasi tersebut. Hal ini dilakukan karena pihak kepolisian
mengacu kepada UU No.28 tahun 1997 tentang Kepolisian Republik Indonesia.

Namun, ketika menghadapi para pengunjuk rasa, pihak kepolisian sering menggunakan
pasal yang berbeda-beda. Pelaku unjuk rasa yang di tindak dengan pasal yang berbeda-
beda dapat dimaklumi karena untuk menangani penunjuk rasa belum ada aturan hukum
jelas.

Untuk menjamin kepastian hukum bagi para pengunjuk rasa, pemerintahan bersama
(DPR) berhasil merampungkan perundang-undangan yang mengatur tentang unjuk rasa
atau demonstrasi. adalah UU No. 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan
Pendapat di Muka Umum.

Adanya undang – undang tersebut menunjukkan bahwa pemerintah memulai pelaksanaan


sistem demokrasi yang sesungguhnya. Namun sayangnya, undang-undang itu belum
memasyarakat atau belum disosialisasikan dalam kehidupan masarakat. Penyampaian
pendapat di muka umum dapat berupa suatu tuntutan, dan koreksi tentang suatu hal.

3. Masalah Dwifungsi ABRI

Menanggapi munculnya gugatan terhadap peran dwifungsi ABRI menyusul turunnya


Soeharto dari kursi kepresidenan, ABRI melakukan langkah-langkah pembaharuan dalam
perannya di bidang sosial-politik.

Setelah reformasi dilaksanakan, peran ABRI di Perwakilan Rakyat DPR mulai dikurangi
secara bertahap yaitu dari 75 orang menjadi 38 orang. Langkah lain yang di tempuh
adalah ABRI semula terdiri dari empat angkatan yaitu Angkatan Darat, Laut, dan Udara
serta Kepolisian RI, namun mulai tanggal 5 Mei 1999 Polri memisahkan diri dari ABRI
dan kemudian berganti nama menjadi Kepolisian Negara. Istilah ABRI pun berubah
menjadi TNI yang terdiri dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.

4. Reformasi Bidang Hukum


Pada masa Pemerintahan Presiden B.J. Habibie dilakukan reformasi di bidang hukum
Reformasi hukum itu disesuaikan dengan aspirasi yang berkembang dimasyarakat.
Tindakan yang dilakukan oleh Presiden Habibie untuk mereformasi hukum mendapatkan
sambutan baik dari berbagai kalangan masyarakat, karena reformasi hukum yang
dilakukannya mengarah kepada tatanan hukum yang ditambakan oleh masyarakat.

Ketika dilakukan pembongkaran terhadapat berbagai produksi hukum atau undang-


undang yang dibuat pada masa Orde Baru, maka tampak dengan jelas adanya karakter
hukum yang mengebiri hak-hak.

Selama pemerintahan Orde Baru, karakter hukum cenderung bersifat konservatif,


ortodoks maupun elitis. Sedangkan hukum ortodoks lebih tertutup terhadap kelompok-
kelompok sosial maupun individu didalam masyarakat. Pada hukum yang berkarakter
tersebut, maka porsi rakyat sangatlah kecil, bahkan bias dikatakan tidak ada sama sekali.
Oleh karena itu, produk hukum dari masa pemerintahan Orde Baru sangat tidak mungkin
untuk dapat menjamin atau memberikan perlindungan terhadap Hak-hak Asasi Manusia
(HAM), berkembangnya demokrasi serta munculnya kreativitas masyarakat.

5. Sidang Istimewa MPR

Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, telah dua kali lembaga tertinggi Negara
melaksanakan Sidang Istimewa, yaitu pada tahun 1967 digelar Sidang Istimewa MPRS
yang kemudian memberhentikan Presiden Soekarno dan mengangkat Soeharto menjadi
Presiden Rebuplik Indonesia. Kemudian Sidang Istimewa yang dilaksanakan antara
tanggal 10 – 13 Nopember 1998 diharapkan MPR benar-benar menyurahkan aspirasi
masyarakat dengan perdebatan yang lebih segar, lebih terbuka dan dapat menampung,
aspirasi dari berbagai kalangan masyarakat. Hasil dari Sidang Istimewa MPR itu
memutuskan 12 Ketetapan.

6. Pemilihan Umum Tahun 1999

Pemilihan Umum yang dilaksanakan tahun 1999 menjadi sangat penting, karena
pemilihan umum tersebut diharapkan dapat memulihkan keadaan Indonesia yang sedang
dilanda multikrisis. Pemilihan umum tahun 1999 juga merupakan ajang pesta rakyat
Indonesia dalam menunjukkan kehidupan berdemokrasi. Maka sifat dari pemilihan umum
itu adalah langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

Presiden Habibie kemudian menetapkan tanggal 7 Juni 1999 sebagai waktu pelaksanaan
pemiliahan umum tersebut. Selanjutnya lima paket undang-undang tentang politik
dicabut. Sebagai gantinya DPR berhasil menetapkan tiga undang-undang politik baru.
Ketiga udang-undang itu disahkan pada tanggal 1 Februari 1999 dan ditandatangani oleh
Presiden Habibie. Ketiga udang-udang itu antara lain undang-undang partai politik,
pemilihan umum, susunan serta kedudukan MPR, DPR dan DPRD.

Munculnya undang-undang politik yang baru memberikan semangat untuk


berkembangnya kehidupan politik di Indonesia. Dengan munculnya undang-undang
politik itu partai-partai politik bermunculan dan bahkan tidak kurang dari 112 partai
politik telah berdiri di Indonesia pada masa itu. Namun dari sekian banyak jumlahnya,
hanya 48 partai politik yang berhasil mengikuti pemilihan umum. Hal ini disebabkan
karena aturan seleksi partai-partai politik diberlakukan dengan cukup ketat.

Pelaksanaan pemilihan umum ditangani oleh sebuah lembaga yang bernama Komisi
Pemilihan Umum (KPU). Anggota KPU terdiri dari wakil-wakil dari pemerintah dan
wakil-wakil dari partai-partai politik peserta pemilihan umum.

Banyak pengamat menyatakan bahwa pemilihan umum tahun 1999 akan terjadi
kerusuhan, namun pada kenyataannya pemilihan umum berjalan dengan lancar dan aman.
Setelah penghitungan suara berhasil diselesaikan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU),
hasilnya lima besar partai yang berhasil meraih suara-suara terbanyak di anataranya PDI
Perjuangan, Partai Golkar, Partai Persatuan pembangunan, Partai Pembangkitan Bangsa,
Partai Amanat Nasional. Hasil pemilihan umum tahun 1999 hingga saat terakhir
pengumuman hasil perolehan suara dari partai-partai politik berjalan dengan aman dan
dapat di terima oleh suara partai peserta pemilihan umum.

7. Sidang Umum MPR Hasil Pemilihan Umum 1999

Setelah Komisi Pemilihan Umum berhasil menetapkan jumlah anggota DPR dan MPR,
maka MPR segera melaksanakan sidang. Sidang Umum MPR tahun 1999
diselenggarakan sejak tanggal 1 – 21 Oktober 1999. Dalam Sidang Umum itu Amien
Rais dikukuhkan menjadi Ketua MPR dan Akbar Tanjung menjadi Ketua DPR.
Sedangkan pada Sidang Paripurna MPR XII, pidato pertanggung jawaban Presiden
Habibie ditolak oleh MPR melalui mekanisme voting dengan 355 suara menolak, 322
menerima, 9 abstain dan 4 suara tidak sah. Akibat penolakan pertanggungjawaban itu,
Habibie tidak dapat untuk mencalonkan diri menjadi Presiden Republik Indonesia.

Akibatnya memunculkan tiga calon Presiden yang diajukan oleh fraksi-fraksi yang ada di
MPR pada tahap pencalonan Presiden diantaranya Abdurrahman Wahid (Gus Dur),
Megawati Soekarnoputri, dan Yuhsril Ihza Mahendra. Namun tanggal 20 Oktober 1999,
Yuhsril Ihza Mahendra mengundurkan diri. Oleh karena itu, tinggal dua calon Presiden
yang maju dalam pemilihan itu, Abdurrahaman Wahid dan Megawati Soekarnoputri. Dari
hasil pemilihan presiden yang dilaksanakan secara voting, Abudurrahman Wahid terpilih
menjadi Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 21 Oktober 1999 dilaksanakan
pemilihan Wakil Presiden dengan calonnya Megawati Soekarnoputri dan Hamzah Haz.
Pemilihan Wakil Presiden ini kemudian dimenangkan oleh Megawati Soekarnoputri.
Kemudian pada tanggal 25 Oktober 1999 Presiden Abdurrahman Wahid dan Wakil
Presiden Megawati Soekarnoputri berhasil membentuk Kabinet Persatuan Nasional.

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menduduki jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia
tidak sampai pada akhir masa jabatanya. Akibat munculya ketidakpercayaan parlemen
pada Presiden Abdurrahman Wahid, maka kekuasaan Abdurrahman Wahid berakhir pada
tahun 2001. DPR/MPR kemudian memilih dan mengangkat Megawati Soekarnoputri
sebagai Presiden Republik Indonesia dan Hamzah Haz sebagai Wakil Presiden Indonesia.
Masa kekuasaan Megawati berakhir pada tahun 2004.

Pemilihan Umum tahun 2004 merupakan momen yang sangat penting dalam sejarah
pemerintahan Republik Indonesia. Untuk pertama kalinya pemilihan Presiden dan Wakil
Presiden dilakukan secara langsung oleh rakyat Indonesia. Pada pemilihan umum ini
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia dan
Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia untuk masa jabatan 2004-2009.

Diposkan oleh AndiJack di 22.31

2 komentar:

founding young mengatakan...

info selanjunya setelah habibie mana. Tolong dong ada tugas nie, sekitar masa
reformasi (semua aspek)...
19 Mei 2010 07.23

founding young mengatakan...

maaf,,info y ditunggu

19 Mei 2010 07.27

Poskan KomentarUndang-Undang Dasar Negara


Republik Indonesia Tahun 1945
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Akurasi Terperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Indonesia

Artikel ini adalah bagian dari seri:


Politik dan pemerintahan
Indonesia
• Pancasila
• UUD 1945

Eksekutif[tampilkan]
Legislatif[tampilkan]
Yudikatif[tampilkan]
Inspektif[tampilkan]
Daerah[tampilkan]
Pemilihan umum[tampilkan]
Partai politik[tampilkan]
Negara lain · Atlas
Portal politik
lihat • bicara • sunting

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, atau disingkat UUD
1945 atau UUD '45, adalah hukum dasar tertulis (basic law), konstitusi pemerintahan
negara Republik Indonesia saat ini. [1]

UUD 1945 disahkan sebagai undang-undang dasar negara oleh PPKI pada tanggal 18
Agustus 1945. Sejak tanggal 27 Desember 1949, di Indonesia berlaku Konstitusi RIS,
dan sejak tanggal 17 Agustus 1950 di Indonesia berlaku UUDS 1950. Dekrit Presiden 5
Juli 1959 kembali memberlakukan UUD 1945, dengan dikukuhkan secara aklamasi oleh
DPR pada tanggal 22 Juli 1959.

Pada kurun waktu tahun 1999-2002, UUD 1945 mengalami 4 kali perubahan
(amandemen), yang mengubah susunan lembaga-lembaga dalam sistem ketatanegaraan
Republik Indonesia.

Daftar isi
[sembunyikan]

• 1 Naskah Undang-Undang Dasar 1945


• 2 Sejarah
o 2.1 Sejarah Awal
o 2.2 Periode berlakunya UUD 1945 18 Agustus 1945- 27 Desember 1949
o 2.3 Periode berlakunya Konstitusi RIS 1949 27 Desember 1949 - 17
Agustus 1950
o 2.4 Periode UUDS 1950 17 Agustus 1950 - 5 Juli 1959
o 2.5 Periode kembalinya ke UUD 1945 5 Juli 1959-1966
o 2.6 Periode UUD 1945 masa orde baru 11 Maret 1966- 21 Mei 1998
o 2.7 Periode 21 Mei 1998- 19 Oktober 1999
o 2.8 Periode UUD 1945 Amandemen
• 3 Referensi

• 4 Pranala luar

[sunting] Naskah Undang-Undang Dasar 1945

Sebelum dilakukan Perubahan, UUD 1945 terdiri atas Pembukaan, Batang Tubuh (16
bab, 37 pasal, 65 ayat (16 ayat berasal dari 16 pasal yang hanya terdiri dari 1 ayat dan 49
ayat berasal dari 21 pasal yang terdiri dari 2 ayat atau lebih), 4 pasal Aturan Peralihan,
dan 2 ayat Aturan Tambahan), serta Penjelasan.

Setelah dilakukan 4 kali perubahan, UUD 1945 memiliki 20 bab, 37 pasal, 194 ayat, 3
pasal Aturan Peralihan, dan 2 pasal Aturan Tambahan.

Dalam Risalah Sidang Tahunan MPR Tahun 2002, diterbitkan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Dalam Satu Naskah, Sebagai Naskah
Perbantuan dan Kompilasi Tanpa Ada Opini.

[sunting] Sejarah

[sunting] Sejarah Awal


Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dibentuk
pada tanggal 29 April 1945, adalah Badan yang menyusun rancangan UUD 1945. Pada
masa sidang pertama yang berlangsung dari tanggal 28 Mei sampai dengan tanggal 1 Juni
1945 Ir.Sukarno menyampaikan gagasan tentang "Dasar Negara" yang diberi nama
Pancasila. Kemudian BPUPKI membentuk Panitia Kecil yang terdiri dari 8 orang untuk
menyempurnakan rumusan Dasar Negara. Pada tanggal 22 Juni 1945, 38 anggota
BPUPKI membentuk Panitia Sembilan yang terdiri dari 9 orang untuk merancang Piagam
Jakarta yang akan menjadi naskah Pembukaan UUD 1945. Setelah dihilangkannya anak
kalimat "dengan kewajiban menjalankan syariah Islam bagi pemeluk-pemeluknya" maka
naskah Piagam Jakarta menjadi naskah Pembukaan UUD 1945 yang disahkan pada
tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Pengesahan UUD 1945 dikukuhkan oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang
bersidang pada tanggal 29 Agustus 1945. Naskah rancangan UUD 1945 Indonesia
disusun pada masa Sidang Kedua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan
(BPUPK). Nama Badan ini tanpa kata "Indonesia" karena hanya diperuntukkan untuk
tanah Jawa saja. Di Sumatera ada BPUPK untuk Sumatera. Masa Sidang Kedua tanggal
10-17 Juli 1945. Tanggal 18 Agustus 1945, PPKI mengesahkan UUD 1945 sebagai
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.

[sunting] Periode berlakunya UUD 1945 18 Agustus 1945- 27 Desember


1949

Dalam kurun waktu 1945-1950, UUD 1945 tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena
Indonesia sedang disibukkan dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Maklumat Wakil Presiden Nomor X pada tanggal 16 Oktober 1945 memutuskan bahwa
KNIP diserahi kekuasaan legislatif, karena MPR dan DPR belum terbentuk. Tanggal 14
November 1945 dibentuk Kabinet Semi-Presidensiel ("Semi-Parlementer") yang pertama,
sehingga peristiwa ini merupakan perubahan sistem pemerintahan agar dianggap lebih
demokratis.

[sunting] Periode berlakunya Konstitusi RIS 1949 27 Desember 1949 - 17


Agustus 1950

Pada masa ini sistem pemerintahan indonesia adalah parlementer.

bentuk pemerintahan dan bentuk negaranya federasi yaitu negara yang didalamnya terdiri
dari negara-negara bagian yang masing masing negara bagian memiliki kedaulatan
sendiri untuk mengurus urusan dalam negerinya.

[sunting] Periode UUDS 1950 17 Agustus 1950 - 5 Juli 1959

Pada masa ini sistem pemerintahan indonesia adalah parlementer.

[sunting] Periode kembalinya ke UUD 1945 5 Juli 1959-1966


Karena situasi politik pada Sidang Konstituante 1959 dimana banyak saling tarik ulur
kepentingan partai politik sehingga gagal menghasilkan UUD baru, maka pada tanggal 5
Juli 1959, Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang salah satu isinya
memberlakukan kembali UUD 1945 sebagai undang-undang dasar, menggantikan
Undang-Undang Dasar Sementara 1950 yang berlaku pada waktu itu.

Pada masa ini, terdapat berbagai penyimpangan UUD 1945, diantaranya:

• Presiden mengangkat Ketua dan Wakil Ketua MPR/DPR dan MA serta Wakil
Ketua DPA menjadi Menteri Negara
• MPRS menetapkan Soekarno sebagai presiden seumur hidup
• Pemberontakan Partai Komunis Indonesia melalui Gerakan 30 September Partai
Komunis Indonesia

[sunting] Periode UUD 1945 masa orde baru 11 Maret 1966- 21 Mei 1998

Pada masa Orde Baru (1966-1998), Pemerintah menyatakan akan menjalankan UUD
1945 dan Pancasila secara murni dan konsekuen. Namun pelaksanaannya ternyata
menyimpang dari Pancasila dan UUD 1945 yang murni,terutama pelanggaran pasal 23
(hutang Konglomerat/private debt dijadikan beban rakyat Indonesia/public debt) dan 33
UUD 1945 yang memberi kekuasaan pada pihak swasta untuk menghancur hutan dan
sumberalam kita.

Pada masa Orde Baru, UUD 1945 juga menjadi konstitusi yang sangat "sakral", diantara
melalui sejumlah peraturan:

• Ketetapan MPR Nomor I/MPR/1983 yang menyatakan bahwa MPR berketetapan


untuk mempertahankan UUD 1945, tidak berkehendak akan melakukan
perubahan terhadapnya
• Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1983 tentang Referendum yang antara lain
menyatakan bahwa bila MPR berkehendak mengubah UUD 1945, terlebih dahulu
harus minta pendapat rakyat melalui referendum.
• Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1985 tentang Referendum, yang merupakan
pelaksanaan TAP MPR Nomor IV/MPR/1983.

[sunting] Periode 21 Mei 1998- 19 Oktober 1999

Pada masa ini dikenal masa transisi. Yaitu masa sejak Presiden Soeharto digantikan oleh
B.J.Habibie sampai dengan lepasnya Provinsi Timor Timur dari NKRI.

[sunting] Periode UUD 1945 Amandemen

Salah satu tuntutan Reformasi 1998 adalah dilakukannya perubahan (amandemen)


terhadap UUD 1945. Latar belakang tuntutan perubahan UUD 1945 antara lain karena
pada masa Orde Baru, kekuasaan tertinggi di tangan MPR (dan pada kenyataannya bukan
di tangan rakyat), kekuasaan yang sangat besar pada Presiden, adanya pasal-pasal yang
terlalu "luwes" (sehingga dapat menimbulkan multitafsir), serta kenyataan rumusan UUD
1945 tentang semangat penyelenggara negara yang belum cukup didukung ketentuan
konstitusi.

Tujuan perubahan UUD 1945 waktu itu adalah menyempurnakan aturan dasar seperti
tatanan negara, kedaulatan rakyat, HAM, pembagian kekuasaan, eksistensi negara
demokrasi dan negara hukum, serta hal-hal lain yang sesuai dengan perkembangan
aspirasi dan kebutuhan bangsa. Perubahan UUD 1945 dengan kesepakatan diantaranya
tidak mengubah Pembukaan UUD 1945, tetap mempertahankan susunan kenegaraan
(staat structuur) kesatuan atau selanjutnya lebih dikenal sebagai Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI), serta mempertegas sistem pemerintahan presidensiil.

Dalam kurun waktu 1999-2002, UUD 1945 mengalami 4 kali perubahan (amandemen)
yang ditetapkan dalam Sidang Umum dan Sidang Tahunan MPR:

• Sidang Umum MPR 1999, tanggal 14-21 Oktober 1999 → Perubahan Pertama
UUD 1945
• Sidang Tahunan MPR 2000, tanggal 7-18 Agustus 2000 → Perubahan Kedua
UUD 1945
• Sidang Tahunan MPR 2001, tanggal 1-9 November 2001 → Perubahan Ketiga
UUD 1945
• Sidang Tahunan MPR 2002, tanggal 1-11 Agustus 2002 → Perubahan Keempat
UUD 1945

[sunting] Referensi

1. ^ http://asnic.utexas.edu/asnic/countries/indonesia/ConstIndonesia.html
Constitution of Indonesia

[sunting] Pranala luar


Wikisource memiliki naskah sumber yang berkaitan dengan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

• Unduh naskah UUD 1945

Sejarah Indonesia (1998-sekarang)


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari

Artikel ini bagian dari seri


Sejarah Indonesia
Sejarah Nusantara

Pra-Kolonial (sebelum 1509)

Pra-sejarah

Kerajaan Hindu-Buddha

Kerajaan Islam

Zaman kolonial (1509-1945)

Era Portugis (1509-1602)

Era VOC (1602-1800)

Era Belanda (1800-1942)

Era Jepang (1942-1945)

Sejarah Republik Indonesia

Proklamasi (17 Agustus 1945)

Masa Transisi (1945-1949)

Era Orde Lama (1950-1959)

Demokrasi Terpimpin (1959-1966)


Operasi Trikora (1960-1962)

Konfrontasi Indo-Malaya (1962-1965)

Gerakan 30 September 1965

Era Orde Baru (1966-1998)

Gerakan Mahasiswa 1998

Era Reformasi (1998-sekarang)

[Sunting]

Era Pasca Soeharto atau Era Reformasi di Indonesia dimulai pada pertengahan 1998,
tepatnya saat Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 dan digantikan
wakil presiden BJ Habibie.
Daftar isi
[sembunyikan]

• 1 Latar belakang
o 1.1 1998
o 1.2 1999
o 1.3 2000
o 1.4 2001
o 1.5 2002
o 1.6 2003
o 1.7 2004
o 1.8 2005
o 1.9 2006
o 1.10 2007
o 1.11 2008
o 1.12 2009
o 1.13 2010
• 2 Sumber
• 3 Referensi

• 4 Pranala luar

[sunting] Latar belakang

Krisis finansial Asia yang menyebabkan ekonomi Indonesia melemah dan semakin
besarnya ketidak puasan masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan pimpinan Soeharto
saat itu menyebabkan terjadinya demonstrasi besar-besaran yang dilakukan berbagai
organ aksi mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia.

Pemerintahan Soeharto semakin disorot setelah Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 yang
kemudian memicu Kerusuhan Mei 1998 sehari setelahnya. Gerakan mahasiswa pun
meluas hampir diseluruh Indonesia. Di bawah tekanan yang besar dari dalam maupun
luar negeri, Soeharto akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya.

[sunting] 1998

Krisis ekonomi dan Kerusuhan Mei 1998

• 22 Januari 1998
o Rupiah tembus 17.000,- per dolar AS, IMF tidak menunjukkan rencana
bantuannya.

• 12 Februari

o Soeharto menunjuk Wiranto, menjadi Panglima Angkatan Bersenjata.

• 5 Maret


o Dua puluh mahasiswa Universitas Indonesia mendatangi Gedung
DPR/MPR untuk menyatakan penolakan terhadap pidato
pertanggungjawaban presiden yang disampaikan pada Sidang Umum
MPR dan menyerahkan agenda reformasi nasional. Mereka diterima
Fraksi ABRI

• 10 Maret


o Soeharto terpilih kembali untuk masa jabatan lima tahun yang ketujuh kali
dengan menggandeng B.J. Habibie sebagai Wakil Presiden.

• 14 Maret


o Soeharto mengumumkan kabinet baru yang dinamai Kabinet
Pembangunan VII. Bob Hasan dan anak Soeharto, Siti Hardiyanti
Rukmana, terpilih menjadi menteri.

• 15 April


o Soeharto meminta mahasiswa mengakhiri protes dan kembali ke kampus
karena sepanjang bulan ini mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi
swasta dan negeri melakukan berunjuk rasa menuntut dilakukannya
reformasi politik

• 18 April


o Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI Jendral Purn. Wiranto
dan 14 menteri Kabinet Pembangunan VII mengadakan dialog dengan
mahasiswa di Pekan Raya Jakarta namun cukup banyak perwakilan
mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang menolak dialog tersebut.

• 1 Mei


o Soeharto melalui Menteri Dalam Negeri Hartono dan Menteri Penerangan
Alwi Dahlan mengatakan bahwa reformasi baru bisa dimulai tahun 2003.
• 2 Mei


o Pernyataan itu diralat dan kemudian dinyatakan bahwa Soeharto
mengatakan reformasi bisa dilakukan sejak sekarang (1998).
o Mahasiswa di Medan, Bandung dan Yogyakarta menyambut kenaikan
harga bahan bakar minyak dengan demonstrasi besar-besaran.
Demonstrasi disikapi dengan represif oleh aparat. Di beberapa kampus
terjadi bentrokan.

• 4 Mei


o Harga BBM melonjak tajam hingga 71%, disusul tiga hari kerusuhan di
Medan dengan korban sedikitnya 6 meninggal.

• 7 Mei
o Peristiwa Cimanggis, bentrokan antara mahasiswa dan aparat keamanan
terjadi di kampus Fakultas Teknik Universitas Jayabaya, Cimanggis, yang
mengakibatkan sedikitnya 52 mahasiswa dibawa ke RS Tugu Ibu,
Cimanggis. Dua di antaranya terkena tembakan di leher dan lengan kanan,
sedangkan sisanya cedera akibat pentungan rotan dan mengalami iritasi
mata akibat gas air mata.

• 8 Mei


o Peristiwa Gejayan, 1 mahasiswa Yogyakarta tewas terbunuh.

• 9 Mei


o Soeharto berangkat seminggu ke Mesir untuk menghadiri pertemuan KTT
G-15. Ini merupakan lawatan terakhirnya keluar negeri sebagai Presiden
RI.

• 12 Mei


o Tragedi Trisakti, 4 mahasiswa Trisakti terbunuh.

• 13 Mei
Mal Ratu Luwes di Jl. S. Parman termasuk salah satu yang dibakar di Solo


o Kerusuhan Mei 1998 pecah di Jakarta. kerusuhan juga terjadi di kota Solo.
o Soeharto yang sedang menghadiri pertemuan negara-negara berkembang
G-15 di Kairo, Mesir, memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
Sebelumnya, dalam pertemuan tatap muka dengan masyarakat Indonesia
di Kairo, Soeharto menyatakan akan mengundurkan diri dari jabatannya
sebagai presiden.
o Etnis Tionghoa mulai eksodus meninggalkan Indonesia.

• 14 Mei


o Demonstrasi terus bertambah besar hampir di semua kota di Indonesia,
demonstran mengepung dan menduduki gedung-gedung DPRD di daerah.
o Soeharto, seperti dikutip koran, mengatakan bersedia mengundurkan diri
jika rakyat menginginkan. Ia mengatakan itu di depan masyarakat
Indonesia di Kairo.
o Kerusuhan di Jakarta berlanjut, ratusan orang meninggal dunia akibat
kebakaran yang terjadi selama kerusuhan terjadi.

• 15 Mei


o Selesai mengikuti KTT G-15, tanggal 15 Mei l998, Presiden Soeharto
kembali ke tanah air dan mendarat di lapangan Bandar Udara Halim
Perdanakusuma di Jakarta, subuh dini hari. Menjelang siang hari, Presiden
Soeharto menerima Wakil Presiden B.J. Habibie dan sejumlah pejabat
tinggi negara lainnya.

• 17 Mei


o Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya, Abdul Latief melakukan langkah
mengejutkan pada Minggu, 17 Mei 1998. Ia mengajukan surat
pengunduran diri kepada Presiden Soeharto dengan alasan masalah
keluarga, terutama desakan anak-anaknya.
• 18 Mei


o Pukul 15.20 WIB, Ketua MPR yang juga ketua Partai Golkar, Harmoko di
Gedung DPR, yang dipenuhi ribuan mahasiswa, dengan suara tegas
menyatakan, demi persatuan dan kesatuan bangsa, pimpinan DPR, baik
Ketua maupun para Wakil Ketua, mengharapkan Presiden Soeharto
mengundurkan diri secara arif dan bijaksana. Harmoko saat itu didampingi
seluruh Wakil Ketua DPR, yakni Ismail Hasan Metareum, Syarwan
Hamid, Abdul Gafur, dan Fatimah Achmad.
o Pukul 21.30 WIB, empat orang menko (Menteri Koordinator) diterima
Presiden Soeharto di Cendana untuk melaporkan perkembangan. Mereka
juga berniat menggunakan kesempatan itu untuk menyarankan agar
Kabinet Pembangunan VII dibubarkan saja, bukan di-reshuffle.
Tujuannya, agar mereka yang tidak terpilih lagi dalam kabinet reformasi
tidak terlalu "malu". Namun, niat itu tampaknya sudah diketahui oleh
Presiden Soeharto. Ia langsung mengatakan, "Urusan kabinet adalah
urusan saya." Akibatnya, usul agar kabinet dibubarkan tidak jadi
disampaikan. Pembicaraan beralih pada soal-soal yang berkembang di
masyarakat.
o Pukul 23.00 WIB Menhankam/Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto
mengemukakan, ABRI menganggap pernyataan pimpinan DPR agar
Presiden Soeharto mengundurkan diri itu merupakan sikap dan pendapat
individual, meskipun pernyataan itu disampaikan secara kolektif. Wiranto
mengusulkan pembentukan "Dewan Reformasi".
o Gelombang pertama mahasiswa dari FKSMJ dan Forum Kota memasuki
halaman dan menginap di Gedung DPR/MPR.

Berkas:Reformasi998.jpg
Mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR

• 19 Mei


o Pukul 09.00-11.32 WIB, Presiden Soeharto bertemu ulama dan tokoh
masyarakat, yakni Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama Abdurrahman
Wahid, budayawan Emha Ainun Nadjib, Direktur Yayasan Paramadina
Nucholish Madjid, Ketua Majelis Ulama Indonesia Ali Yafie, Prof Malik
Fadjar (Muhammadiyah), Guru Besar Hukum Tata Negara dari
Universitas Indonesia Yusril Ihza Mahendra, KH Cholil Baidowi
(Muslimin Indonesia), Sumarsono (Muhammadiyah), serta Achmad
Bagdja dan Ma'ruf Amin dari NU. Dalam pertemuan yang berlangsung
selama hampir 2,5 jam (molor dari rencana semula yang hanya 30 menit)
itu para tokoh membeberkan situasi terakhir, dimana eleman masyarakat
dan mahasiswa tetap menginginkan Soeharto mundur. Soeharto lalu
mengajukan pembentukan Komite Reformasi
o Presiden Soeharto mengemukakan, akan segera mengadakan reshuffle
Kabinet Pembangunan VII, dan sekaligus mengganti namanya menjadi
Kabinet Reformasi. Presiden juga membentuk Komite Reformasi.
Nurcholish sore hari mengungkapkan bahwa gagasan reshuffle kabinet
dan membentuk Komite Reformasi itu murni dari Soeharto, dan bukan
usulan mereka.
o Pukul 16.30 WIB, Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita bersama
Menperindag Mohamad Hasan melaporkan kepada Presiden soal
kerusakan jaringan distribusi ekonomi akibat aksi penjarahan dan
pembakaran. Bersama mereka juga ikut Menteri Pendayagunaan BUMN
Tanri Abeng yang akan melaporkan soal rencana penjualan saham BUMN
yang beberapa peminatnya menyatakan mundur. Pada saat itu, Menko
Ekuin juga menyampaikan reaksi negatif para senior ekonomi; Emil
Salim, Soebroto, Arifin Siregar, Moh Sadli, dan Frans Seda, atas rencana
Soeharto membentuk Komite Reformasi dan me-reshuffle kabinet. Mereka
intinya menyebut, tindakan itu mengulur-ulur waktu.
o Ribuan mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR, Jakarta.
o Amien Rais mengajak massa mendatangi Lapangan Monumen Nasional
untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional.
o Dilaporkan bentrokan terjadi dalam demonstrasi di Universitas Airlangga,
Surabaya.

• 20 Mei


o Amien Rais membatalkan rencana demonstrasi besar-besaran di Monas,
setelah 80.000 tentara bersiaga di kawasan Monas.
o 500.000 orang berdemonstrasi di Yogyakarta, termasuk Sultan
Hamengkubuwono X. Demonstrasi besar lainnya juga terjadi di Surakarta,
Medan, Bandung.
o Harmoko mengatakan Soeharto sebaiknya mengundurkan diri pada Jumat,
22 Mei, atau DPR/MPR akan terpaksa memilih presiden baru
o Pukul 14.30 WIB, 14 menteri bidang ekuin mengadakan pertemuan di
Gedung Bappenas. Dua menteri lain, yakni Mohamad Hasan dan Menkeu
Fuad Bawazier tidak hadir. Mereka sepakat tidak bersedia duduk dalam
Komite Reformasi, ataupun Kabinet Reformasi hasil reshuffle. Semula ada
keinginan untuk menyampaikan hasil pertemuan itu secara langsung
kepada Presiden Soeharto, tetapi akhirnya diputuskan menyampaikannya
lewat sepucuk surat. Alinea pertama surat itu, secara implisit meminta
agar Soeharto mundur dari jabatannya. Perasaan ditinggalkan, terpukul,
telah membuat Soeharto tidak mempunyai pilihan lain kecuali
memutuskan untuk mundur. Ke-14 menteri itu adalah Akbar Tandjung,
AM Hendropriyono, Ginandjar Kartasasmita, Giri Suseno, Haryanto
Dhanutirto, Justika Baharsjah, Kuntoro Mangkusubroto, Rachmadi
Bambang Sumadhijo, Rahardi Ramelan, Subiakto Tjakrawerdaya, Sanyoto
Sastrowardoyo, Sumahadi, Theo L. Sambuaga dan Tanri Abeng.
o Pukul 20.00 WIB, surat itu kemudian disampaikan kepada Kolonel
Sumardjono. Surat itu kemudian disampaikan kepada Presiden Soeharto.
o Soeharto kemudian bertemu dengan tiga mantan Wakil Presiden; Umar
Wirahadikusumah, Sudharmono, dan Try Sutrisno.
o Pukul 23.00 WIB, Soeharto memerintahkan ajudan untuk memanggil
Yusril Ihza Mahendra, Mensesneg Saadillah Mursjid, dan Panglima ABRI
Jenderal TNI Wiranto. Soeharto sudah berbulat hati menyerahkan
kekuasaan kepada Wapres BJ Habibie.
o Wiranto sampai tiga kali bolak-balik Cendana-Kantor Menhankam untuk
menyikapi keputusan Soeharto. Wiranto perlu berbicara dengan para
Kepala Staf Angkatan mengenai sikap yang akan diputuskan ABRI dalam
menanggapi keputusan Soeharto untuk mundur. Setelah mencapai
kesepakatan dengan Wiranto, Soeharto kemudian memanggil Habibie.
o Pukul 23.20 WIB, Yusril Ihza Mahendra bertemu dengan Amien Rais.
Dalam pertemuan itu, Yusril menyampaikan bahwa Soeharto bersedia
mundur dari jabatannya. kata-kata yang disampaikan oleh Yusril itu, "The
old man most probably has resigned". Yusril juga menginformasikan
bahwa pengumumannya akan dilakukan Soeharto 21 Mei 1998 pukul
09.00 WIB. Kabar itu lalu disampaikan juga kepada Nurcholish Madjid,
Emha Ainun Najib, Utomo Danandjaya, Syafii Ma'arif, Djohan Effendi, H
Amidhan, dan yang lainnya. Lalu mereka segera mengadakan pertemuan
di markas para tokoh reformasi damai di Jalan Indramayu 14 Jakarta
Pusat, yang merupakan rumah dinas Dirjen Pembinaan Lembaga Islam,
Departemen Agama, Malik Fadjar. Di sana Cak Nur - panggilan akrab
Nurcholish Madjid - menyusun ketentuan-ketentuan yang harus
disampaikan kepada pemerintahan baru.

Pernyataan pengunduran diri


Wikisource memiliki naskah sumber yang berkaitan dengan Pernyataan Berhenti
Sebagai Presiden Republik Indonesia, 21 Mei 1998

• 21 MEI


o Pukul 01.30 WIB, Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Amien
Rais dan cendekiawan Nurcholish Madjid (almarhum) pagi dini hari
menyatakan, "Selamat tinggal pemerintahan lama dan selamat datang
pemerintahan baru".
o Pukul 9.00 WIB, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada
pukul 9.00 WIB. Soeharto kemudian mengucapkan terima kasih dan
mohon maaf kepada seluruh rakyat dan meninggalkan halaman Istana
Merdeka didampingi ajudannya, Kolonel (Kav) Issantoso dan Kolonel
(Pol) Sutanto (kemudian menjadi Kepala Polri). Mercedes hitam yang
ditumpanginya tak lagi bernomor polisi B-1, tetapi B 2044 AR.
o Wakil Presiden B.J. Habibie menjadi presiden baru Indonesia.
o Jenderal Wiranto mengatakan ABRI akan tetap melindungi presiden dan
mantan-mantan presiden, "ABRI akan tetap menjaga keselamatan dan
kehormatan para mantan presiden/mandataris MPR, termasuk mantan
Presiden Soeharto beserta keluarga."
o Terjadi perdebatan tentang proses transisi ini. Yusril Ihza Mahendra, salah
satu yang pertama mengatakan bahwa proses pengalihan kekuasaan adalah
sah dan konstitusional.

• 22 MEI


o Habibie mengumumkan susunan "Kabinet Reformasi".
o Letjen Prabowo Subiyanto dicopot dari jabatan Panglima Kostrad.
o Di Gedung DPR/MPR, bentrokan hampir terjadi antara pendukung
Habibie yang memakai simbol-simbol dan atribut keagamaan dengan
mahasiswa yang masih bertahan di Gedung DPR/MPR. Mahasiswa
menganggap bahwa Habibie masih tetap bagian dari Rezim Orde Baru.
Tentara mengevakuasi mahasiswa dari Gedung DPR/MPR ke Universitas
Atma Jaya

Pengangkatan Habibie sebagai Presiden

Sidang Istimewa MPR yang mengukuhkan Habibie sebagai Presiden, ditentang oleh
gelombang demonstrasi dari puluhan ribu mahasiswa dan rakyat di Jakarta dan di kota-
kota lain. Gelombang demonstrasi ini memuncak dalam peristiwa Tragedi Semanggi,
yang menewaskan 18 orang.

Masa pemerintahan Habibie ditandai dengan dimulainya kerjasama dengan Dana


Moneter Internasional untuk membantu dalam proses pemulihan ekonomi. Selain itu,
Habibie juga melonggarkan pengawasan terhadap media massa dan kebebasan
berekspresi.

Presiden BJ Habibie mengambil prakarsa untuk melakukan koreksi. Sejumlah tahanan


politik dilepaskan. Sri Bintang Pamungkas dan Muchtar Pakpahan dibebaskan, tiga hari
setelah Habibie menjabat. Tahanan politik dibebaskan secara bergelombang. Tetapi,
Budiman Sudjatmiko dan beberapa petinggi Partai Rakyat Demokratik baru dibebaskan
pada era Presiden Abdurrahman Wahid. Setelah Habibie membebaskan tahanan politik,
tahanan politik baru muncul. Sejumlah aktivis mahasiswa diadili atas tuduhan menghina
pemerintah atau menghina kepala negara. Desakan meminta pertanggungjawaban militer
yang terjerat pelanggaran HAM tak bisa dilangsungkan karena kuatnya proteksi politik.
Bahkan, sejumlah perwira militer yang oleh Mahkamah Militer Jakarta telah dihukum
dan dipecat karena terlibat penculikan, kini telah kembali duduk dalam jabatan struktural.

Beberapa langkah perubahan diambil oleh Habibie, seperti liberalisasi parpol, pemberian
kebebasan pers, kebebasan berpendapat, dan pencabutan UU Subversi. Walaupun begitu
Habibie juga sempat tergoda meloloskan UU Penanggulangan Keadaan Bahaya, namun
urung dilakukan karena besarnya tekanan politik dan kejadian Tragedi Semanggi II yang
menewaskan mahasiswa UI, Yun Hap.

Kejadian penting dalam masa pemerintahan Habibie adalah keputusannya untuk


mengizinkan Timor Timur untuk mengadakan referendum yang berakhir dengan
berpisahnya wilayah tersebut dari Indonesia pada Oktober 1999. Keputusan tersebut
terbukti tidak populer di mata masyarakat sehingga hingga kini pun masa pemerintahan
Habibie sering dianggap sebagai salah satu masa kelam dalam sejarah Indonesia.

[sunting] 1999

• Kekerasan etnis/agama terjadi di Maluku

• Pemisahan Timor Timur menjadi negara merdeka melalui referendum yang


disponsori oleh PBB; konflik antar pro-kemerdekaan dan pro-Indonesia
menimbulkan banyak korban jiwa.

• Pemilu 1999 - Pemilihan umum yang bebas diselenggarakan di Indonesia

• Pengangkatan Abdurrahman Wahid sebagai Presiden

Pada pemilu yang diselenggarakan pada 1999 (lihat: Pemilu 1999), partai PDI-P
pimpinan Megawati Soekarnoputri berhasil meraih suara terbanyak (sekitar 35%). Tetapi
karena jabatan presiden masih dipilih oleh MPR saat itu, Megawati tidak secara langsung
menjadi presiden. Abdurrahman Wahid, pemimpin PKB, partai dengan suara terbanyak
kedua saat itu, terpilih kemudian sebagai presiden Indonesia ke-4. Megawati sendiri
dipilih Gus Dur sebagai wakil presiden.

Masa pemerintahan Abdurrahman Wahid diwarnai dengan gerakan-gerakan separatisme


yang makin berkembang di Aceh, Maluku dan Papua. Selain itu, banyak kebijakan
Abdurrahman Wahid yang ditentang oleh MPR/DPR.

[sunting] 2000

• Skandal Buloggate dan Bruneigate menerpa pemerintahan Gus Dur

• Kasus pemeriksaan dugaan korupsi mantan presiden Soeharto kandas


• Papua Barat (yang dulu disebut dengan Irian Jaya) menuntut referendum seperti
Timor Timur

April

• 17-21 April - Kerusuhan Poso babak yang kedua terjadi

Mei

• 16 Mei -15 Juni - Kerusuhan Poso masih terus berlanjut

Juli

• 19-23 Juli - Indonesia Terbuka 2000 diselenggarakan di Gelora Senayan, Jakarta.


Indonesia memperoleh medali emas di tunggal dan ganda putra.

Agustus

• 1 Agustus - sebuah bom meledak di Kedubes Filipina di Jakarta. Bom meledak


dari sebuah mobil yang diparkir di depan rumah Duta Besar Filipina, Menteng,
Jakarta Pusat. 2 orang tewas dan 21 orang lainnya luka-luka, termasuk Duta Besar
Filipina Leonides T Caday.
• 27 Agustus - sebuah bom lainnya meledak di Kedubes Malaysia di Jakarta.
Granat meledak di kompleks Kedutaan Besar Malaysia di Kuningan, Jakarta.
Tidak ada korban jiwa.

September

• 13 September - bom kembali mengguncang Jakarta. Kali ini lantai parkir P2


Gedung Bursa Efek Jakarta diledakkan oleh sebuah bom mobil yang
mengakibatkan 10 orang tewas, 90 orang lainnya luka-luka. 104 mobil rusak
berat, 57 rusak ringan. (Lihat pula: Bom Bursa Efek Jakarta)

Desember

• 24 Desember - serangkaian ledakan bom pada malam Natal di beberapa kota di


Indonesia merenggut nyawa 16 jiwa dan melukai 96 lainnya serta mengakibatkan
37 mobil rusak. (Lihat pula Bom malam Natal 2000)

[sunting] 2001

• Kekerasan antar etnis Dayak dan Madura terjadi di Kalimantan

• IMF menghentikan bantuan moneternya


• Pada 29 Januari 2001, ribuan demonstran berkumpul di Gedung MPR dan
meminta Gus Dur untuk mengundurkan diri dengan tuduhan korupsi dan ketidak
kompetenan. Di bawah tekanan yang besar, Abdurrahman Wahid lalu
mengumumkan pemindahan kekuasaan kepada wakil presiden Megawati
Soekarnoputri. Sekitar pukul 20.48, Gus Dur keluar dari Istana Merdeka. Saat
berdiri di ujung teras, Gus Dur malah sempat melambaikan tangan kepada massa
pendukungnya yang berunjuk rasa. Hanya pohon yang ditebang kelompok
pendukung Gus Dur sebagai pelampiasan emosi.

Juli - Pengangkatan Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden

Melalui Sidang Istimewa MPR pada 23 Juli 2001, Megawati secara resmi diumumkan
menjadi Presiden Indonesia ke-5.

Meski ekonomi Indonesia mengalami banyak perbaikan, seperti nilai mata tukar rupiah
yang lebih stabil, namun Indonesia pada masa pemerintahannya tetap tidak menunjukkan
perubahan yang berarti dalam bidang-bidang lain.

Popularitas Megawati yang awalnya tinggi di mata masyarakat Indonesia, menurun


seiring dengan waktu. Hal ini ditambah dengan sikapnya yang jarang berkomunikasi
dengan masyarakat sehingga mungkin membuatnya dianggap sebagai pemimpin yang
'dingin'.

Sejak kenaikan Megawati sebagai presiden, aktivitas terorisme di Indonesia meningkat


tajam, beberapa peledakan bom terjadi yang menyebabkan sentimen negatif terhadap
Indonesia dari kancah internasional.

• 23-29 Juli - Indonesia Terbuka 2001 digelar di Gelora Bung Karno, Jakarta, dan
Indonesia berhasil menyapu bersih kelima medali emas.

September

• 23 September - 12 hari setelah 9/11, sebuah bom meledak di kawasan Plaza


Atrium, Senen, Jakarta. 6 orang cedera.

Oktober

• 12 Oktober - sebuah ledakan bom mengakibatkan kaca, langit-langit, dan neon


sebuah restoran cepat saji KFC di Makassar pecah. Tidak ada korban jiwa.
Sebuah bom lainnya yang dipasang di kantor MLC Life cabang Makassar tidak
meledak.

November

• 6 November - sebuah bom rakitan me


AA