Anda di halaman 1dari 2

MK Batalkan UU BHP

Kamis, 01 April 2010 09:24 Redaksi

Mahkamah Konstitusi membatalkan Undang-Undang


No 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan
(BHP) karena bertentangan dengan Undang-Undang
Dasar 1945. “Menyatakan Undang-Undang BHP
tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat," kata
Ketua MK Moh Mahfud saat membacakan putusan
uji materi UU BHP di Gedung MK, Jakarta, kemarin
(31/3). Dalam pertimbangannya, Mahkamah
menekankan perlunya memperhatikan fungsi negara
untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, kewajiban negara dan pemerintah dalam
bidang pendidikan sebagaimana ditentukan Pasal 31 ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan
ayat (5), serta hak dan kewajiban warga negara dalam bidang pendidikan sebagaimana
ditentukan Pasal 31 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 28C ayat (1) dan ayat (2), serta Pasal
28 ayat (1) UUD 1945.

Mahkamah menekankan perlunya mempertimbangkan aspek filosofis yakni cita-cita


untuk membangun sistem pendidikan nasional yang berkualitas dan bermakna bagi
kehidupan bangsa, aspek sosiologis yakni realitas mengenai penyelenggaraan
pendidikan yang sudah ada termasuk yang diselenggarakan oleh berbagai yayasan,
perkumpulan dan sebagainya, serta aspek yuridis yakni tidak menimbulkan
pertentangan dengan peraturan perundang-undangan lain yang terkait dengan badan
hukum.

Aspek aspirasi masyarakat juga harus mendapat perhatian dalam pembentukan


Undang-Undang BHP, agar tidak menimbulkan kekacauan dan permasalahan baru
dalam dunia pendidikan di Indonesia. "Dengan demikian Undang-Undang BHP
tersebut terikat oleh rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam putusan MK," kata
hakim konstitusi Hardjono.

Adanya ketentuan penyelenggaraan pendidikan harus dalam satu bentuk badan hukum
dengan cara melarang bentuk perserikatan dan perkumpulan adalah bertentangan
dengan UUD 1945. Mahkamah berpendapat bahwa sekolah-sekolah swasta yang
dikelola dengan keragaman yang berbeda telah turut berjasa dalam mencerdaskan
kehidupan bangsa.

Mahkamah tidak menemukan alasan mendasar diperlukannya penyeragaman


penyelenggara pendidikan oleh masyarakat dalam bentuk badan hukum pendidikan
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang BHP. Alasan pemerintah bahwa aturan
tersebut dapat mengawasi penyelenggara pendidikan dinilai mahkamah justru akan
menghabiskan waktu pemerintah untuk mengawasi penyelenggara pendidikan.

Mahkamah berpendapat penyeragaman bentuk badan hukum pendidikan yang


diselenggarakan oleh masyarakat (BHPM) tidak sesuai dengan rambu-rambu yang
telah ditetapkan oleh mahkamah.
Mahkamah menilai Pasal 41 ayat (6) yang menyatakan pemerintah bersama-sama
dengan Badan Hukum Pendidikan Tinggi Pemerintah (BHPP) menanggung paling
sedikit seperdua biaya operasional BHPP berdasarkan standar pelayanan minimal
untuk mencapai Standar Nasional Pendidikan, memberatkan.

Ketentuan tersebut akan memberatkan BHPP yang berstandar minimal yang tidak
dapat menghimpun dana cukup karena tidak mampu bersaing akibat kekurangan
modal atau sumber daya manusia.

BHPP yang tidak dapat menghimpun dana cukup akan kesulitan memenuhi kewajiban
yang dibebankan oleh Pasal 40 ayat (3) Undang-Undang BHP. Pasal ini menyatakan
BHP menyediakan anggaran untuk membantu peserta didik dalam bentuk beasiswa,
bantuan biaya pendidikan, kredit mahasiswa, dan pemberian pekerjaan kepada
mahasiswa.

Mahkamah menilai Pasal 40 ayat (3) Undang-Undang BHP adalah perintah normatif
sehingga harus dilaksanakan. Pasal 62 ayat (1) undang-undang itu menyatakan sanksi
pelanggaran Pasal 40 ayat (3) berupa teguran lisan, teguran tertulis, dan penghentian
pelayanan dari pemerintah atau pemerintah daerah, penghentian hibah, hingga
pencabutan izin.

Menurut mahkamah, rumusan Pasal 62 ayat (2) tidak memberikan kebijakan kepada
pejabat berwenang untuk menjatuhkan sanksi atau tidak bila terjadi pelanggaran,
tetapi langsung menyebut macam sanksinya. Meskipun Pasal 62 ayat (3) dinyatakan
sanksi administratif itu akan diatur dengan Peraturan Presiden, namun peraturan
tersebut hanya bisa mengatur tata cara pelaksanaan Pasal 62 dan tidak dapat
menghilangkan sifat pelanggarannya serta peniadaan sanksinya.

Ketua Umum Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia


(BP-PTSI) Thomas Suyatno memberikan apresiasi terhadap putusan MK tersebut.
"Sejak semula, kami menentang semua bentuk penyeragaman semua lembaga
pendidikan dari SD sampai perguruan tinggi karena bertentangan dengan Pasal 26A
UUD 45. Yang kita tuntut adalah keberagaman. Kami juga menentang semua bentuk
komersialisasi pendidikan karena bertentangan dengan UUD 45," kata dia usai sidang.

Rektor Universitas Indonesia (UI) Gumilar Rusliwa Somantri menghormati putusan


MK. Menurut dia, pembatalan Undang-Undang BHP tidak mempengarui pelaksanaan
otonomi pendidikan karena lembaga yang dipimpinnya adalah Badan Hukum Milik
Negara (BHMN). "UI akan terus berjalan, karena acuan kita kan peraturan pemerintah
sehingga otonomi tetap berjalan," ucap Gumilar. Dia menambahkan, otonomi yang
dilakukan UI tidak berarti biaya pendidikan harus mahal.

Kepala Kantor Komunikasi UI, Vishnu Juwono, mengatakan UI akan memberikan


masukan kepada Kementerian Pendidikan Nasional dalam mencari solusi terbaik
untuk komposisi kontribusi UI sebagai perguruan tinggi, masyarakat, industri serta
pemerintah. Dengan demikian, UI dapat menyediakan pendidikan tinggi dengan
kualitas terbaik, tetapi dengan biaya terjangkau masyarakat.