Anda di halaman 1dari 2

TAKASHI Takashi adalah seorang pemuda jepang yang berusia 22 tahun.

Pemuda
lulusan universitas ternama di Jepang ini tinggal bersama kedua orang tuanya dan satu
adik laki-laki. Mereka tinggal di pinggiran kata Tokyo. Kesehariannya selalu disibukkan
dengan eksperimen-eksperimen robotnya di laboratorium pribadinya. Dia memang
tergolong seorang yang sangat jenius. Berbagai piagam dan banyak piala berjejer di meja
yang sepertinya dikhususkan untuk piala dan piagamnya. Sungguh luar biasa kamar tidur
pemuda ini. Tidak perlu mengeluarkan banyak keringat atau mungkin tida perlu
berkeringat jika beraktivitas di kamarnya. Hanya remot kontrol kecil yang selalu
dipegang oleh Takashi. Remot ini dipakainya untuk mengendalikan hampir semua isi
kamarnya. Bahkan, untuk membuka jendela saja dia menggunakan remot tersebut. Yang
lebih menakjubkan lagi, sepatu yang sehari-hari dipakainya pun bermesin. Dia hanya
menekan tombol-tombol yang ada di remot untuk memanggil sepatunya. Seperti
layaknya manusia sepatu itu langsung menghampirinya.Walaupun jenius, pemuda ini
tidak meninggalkan kebutuhan spiritualnya. Terbukti ia memunyai guru spiritual pribadi.
Omada, itulah guru spiritual pribadinya. Dua kali dalam seminggu Takashi mendatangi
rumah Omada sang guru untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya. Saat itu materi yang
disampaikan oleh guru Omada adalah tentang kematian dan Dewa kematian. ”Takashi,
kematian itu tidak bisa kita hindari dan kita tidak bisa mencegah Dewa kematian
memisahkan jasad kita dengan ruh,” papar guru Omada. Mendengar perkataan gurunya,
Takashi dengan otak jeniusnya bertanya-tanya ketika dalam perjalanan pulang. Sampai di
kamarnya pun dia masih teringat kata-kata guru Omada. ”Apa benar yang dikatakan guru
Omada bahwa saya tidak bisa mencegah Dwa kematian?” Takashi bertanya pada dirinya
sendiri sambil mengendalikan remot untuk memerintah meja yang di atasnya terdapat air
minum dan snack untuk mendekatinya. Sambil menikmati makanan ringan, Takashi
masih memikirkannya dan terlibat dalam lamunan panjang. ***Pagi-pagi sekali Takashi
menuju laboratorium pribadinya untuk mencoba menindaklanjuti perkataan guru Omada.
Berbagai peralatan yang ia butuhkan tengah siap di laboratoriumnya. Dia mengingat-
ingat perkataan gurunya bahwa Dewa kematian itu tidak bisa kita lihat dengan mata
telanjang. Dewa bersifat gaib. Itulah salah satu yang diingat Takashi dari perkataan
Omada. Dengan tolakan itu Takashi berniat membuat kamarnya agar tidak bisa dimasuki
oleh Dewa kematian. Ditutupnya segala celah yang ada di dalam kamarnnya. Disini
jeniusnya terlihat. Walaupun tidak ada celah sedkitpun, tetapi kamarnya serasa berada di
tengah hutan. Sejuknya masih sama seperti sebelumnya. ”Kalau begini, pasti Dewa
kematian tidak akan bisa masuk ke dalam kamarku,” gumamnya. Karena terlalu
antusiasnya untuk menghindari Dewa kematian, dalam tidur pun Takashi masih
membawa keinginannya dalam mimpi. Tengah malam dia terbangun. ”Astaga ! aku
mimpi buruk,” kata-kata yang keluar dari mulut Takashi. Tetapi dia yakin sekali kalau
Dewa kematian tidak akan bisa masuk dalam kamarnya. Sampai pagi dia tidak
melanjutkan tidurnya. Dalam tiga hari terakhir Takashi selalu bermimpi didatangi Dewa
kematian. Dia ingin menanyakan hal itu kepada gurunya. Tetapi, dia tidak berani untuk
keluar kamar dan akhirnya dia menghubungi Omada via telepon. Takashi menceritakan
hal yang dialaminya tiga hari belakangan.Merasa belum ada solusi yang tepat dari
gurunya, Takashi berinisiatif untuk memecahkan masalahnya sendiri. Dia berpikir
walaupun sudah memasang alat super canggih di dinding kamarnya untuk menghalangi
Dewa kematian masuk, dia masih memikirkan bagaimana kalau nanti Dewa kematian
meminta tolong kepada Dewa bumi untuk memasuki kamarnya lewat dalam tanah dan
menembus kamarnya dengan memecahkan lantai kamarnya yang belum diberinya
pengaman. Takashi mulai menjalankan misinya. Dilapisinya seluruh lantai pada
kamarnya untuk menghindari masuknya Dewa bumi. Itu pun selesai ia kerjakan. Di lain
sisi Takashi juga masih bingung bagaimana mengetahui keberadaan Dewa kematian dan
Dewa bumi jika mereka tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Otaknya pun mulai
bekerja. Ya itu. Takashi membuat lensa yang bisa menembus alam gaib. Luar biasa.
Dipasangnya lensa-lensa tersebut di setiap pojok luar kamarnya dan di depan pintu.
Setelah di cobanya, ternyata lensa tersebut berfungsi semua, hanya lensa di depan pintu
yang kurang maksimal fungsinya. Tetapi itu sudah cukup bagi Takashi. Malamnya dia
menelpon gurunya untuk memberi tahu kegiatannya selama ini. Gurunya hanya bisa diam
mendengar paparan Takashi. Gurunya berpikir dimana kejeniusan anak yang selalu dia
didik. ”Mengapa kejeniusan itu menjadi kebodohan dan kegilaan?” gurunya bertanya-
tanya. Malam harinya Takashi asyik menonton televisi dari dalam kamarnya. Saat itu dia
menonton berita yang berisi bahwa seorang profesor telah meninggal karena penyakit
yang dideritanya. ”Profesor kok gak bisa buat alat seperti aku,” Takashi mengejek orang
yang meninggal itu. Asyik-asyiknya menonton tiba-tiba sesorang mengetuk-ngetuk pintu
kamarnya tanpa suara. Segera Takashi melihat ke layar monitornya untuk mengetahui
siapa yang di depan pintunya. Terlihat di layar monitor hanya layar hitam yang
memenuhi monitornya. Berdegup kencanglah jantungnya. ”Dewa kematiankah?”
gumamnnya. Suara ketukan di depan pintu pun terhenti. Sedikt berkurang kencangnya
detak jantung Takashi. Layar monitor yang hitam itu tak lain karena rusaknya lensa yang
dipasang di depan pintu. Kembali Takashi melanjutkan acara televisi. Ternyata Takashi
lupa mengunci pintu kamarnya. Seseorang masuk dengan diam-diam tanpa mengetuk
pintu terlebih dahulu. Lalu Takashi dikejutkan dengan teriakan di telinga oleh ibunya.
Sentak Takashi bangun dari lamunan panjangnya malam itu. ”Kamu belum tidur, dari
tadi ibu ketuk-ketuk pintu kok tidak ada jawaban? Tanya ibunya.”Be...belum bu,”
jawabnya singkat sambil sedikit ketakutan mengingat lamunannya tadi.”Kok kamu
berkeringat? Padahal kamu Cuma duduk disini dari tadi,” lanjut ibunya.Sambil mengelap
keringat dengan lengan bajunya Takashi menjawab pertanyaan ibunya hanya dengan
senyuman malu.