Anda di halaman 1dari 3

SEBUAH PETISI UNTUK SEMUA

Tulisan ini diilhami oleh sebuah noda bangsa yang kian tercela saat
ini, entah gejala korupsi akut hingga pola pencitraan yang makin
mengemuka.

“Setiap pemerintahan dijalankan oleh pembohong, oleh sebab itu semua


pernyataan resmi jangan dipercaya” (I. F. Stone, jurnalis & pengarang
Amerika)

Terlepas benar atau salah, pernyataan I.F. Stone ini mencerminkan


opini pribadinya. Temanya sangat menarik tentang kebenarannya,
percaya atau tidak percaya. Sebab kebenaran opini I.F. Stone tidaklah
penting, karena sebuah opini tidak membutuhkan pembuktian. Setiap
orang boleh mempunyai opini. Apakah orang lain akan menyukainya atau
tidak, adalah urusan masing-masing individu.

Ayam Obat Dan Tipu Aceh


Sebuah lelucon Aceh dimana lelucon ini hanyalah sekedar lelucon
yang sifatnya fiksi dan rekaan saja. Tetapi ternyata ada seorang kolega
saya yang lain pernah mengalami kejadian yang intinya sama. Beginilah
ceritanya lelucon itu:

Suatu hari di Lhoksukon, Aceh Utara, seorang pengendara mobil yang


berasal dari Jawa sedang dalam perjalanan dari Medan ke Banda Aceh.
Tanpa disengaja dia menabrak seekor ayam. Dalam pikirannya Aceh yang
dikenal sebagai Serambi Mekkah, tentunya masyarakatnya jujur, naif dan
religius, seperti gambaran seorang sufi. Itulah yang menyentuh hatinya,
sehingga berniat untuk mengganti kerugian kepada pemiliknya dan
menanggalkan norma wajar sebagaimana kalau dia menabrak ayam di
tempat lain, yaitu
melanjutkan perjalanannya alias melarikan diri. Dengan sungguh hati, dia
mencari pemilik ayam tersebut dan mengutarakan keinginannya untuk
memberikan ganti rugi. Apa yang kemudian terjadi? Sang pemilik ayam
meminta ganti rugi Rp 2,5 juta atau 100 kali harga ayam yang wajar.
Alasannya ialah bahwa ayamnya adalah ayam obat.

Telurnya adalah obat yang mujarab untuk guna-guna, muntah darah,


pegal-linu, sakit pinggang, sakit encok dan lain sebagainya. Karena telur
ayamnya adalah telur obat maka harganya Rp 25.000 sebutir. Padahal di
super market atau di pasar, harga 1 kg telur hanya Rp 15.000.
Pengendara mobil tersebut akhirnya bersedia mengganti ayam tersebut
dengan 3 ekor ayam yang besarnya sama yang akan dibelinya di pasar.
Tetapi sang pemilik tetap bersikukuh meminta Rp 2,5 juta. Alasannya
ayamnya adalah ayam obat, yang tidak sama dengan ayam biasa.

Dia selalu memberi tekanan pada kata ayam obat. Untuk menunjang
argumennya, si pemilik ayam menjelaskan bahwa Rp 2,5 juta itu murah.
Harga Rp 2,5 juta itu hanya sekedar pengganti penghasilannya yang
hilang selama 1 tahun. Anak-anak ayamnya yang lain belum bisa bertelur
sampai cukup dewasa dan harus menunggu sampai tahun depan. Dan
dalam 1 tahun ayam obatnya itu punya tiga masa bertelur, yang setiap
kalinya menghasilkan 30 – 35 butir. Sehingga Rp 2,5 juta itu adalah
pengganti 100 butir telur yang seharusnya menjadi penghasilannya
sebelum anak-anak ayam obatnya bisa bertelur.

Jurus argumen dan kata kunci yang membuat si penabrak ayam tidak
berkutik lagi adalah ayam obat. Dan ayam obat harganya tidak sama
dengan ayam biasa. Nampaknya cerita di atas adalah sekedar lelucon.
Tetapi ada seorang kolega saya yang pernah mengalami hal yang serupa.
Yang ditabrak hingga mati adalah seekor kambing. Seperti halnya dengan
si pengemudi mobil di lelucon ayam obat, kolega saya berpikir bahwa
orang Serambi Mekkah yang akan dijumpainya adalah orang yang jujur.
Ternyata kemudian dia dimintai 4 kali harga kambing yang wajar.

Alasannya....., kambing itu adalah kambing kesayangan anaknya.


Ketika ditawari kambing yang lebih besar dari pasar, si pemilik kambing
bersikukuh bahwa sebesar apapun, tetap kambing dari pasar itu bukan
kambing kesayangan anaknya dan anaknya tidak punya ikatan batin
dengan kambing pasar itu. Jadi kata kunci untuk memenangkan
argumennya adalah kambing kesayangan.

Sehingga alternatif lain hanya dianggap angin dan tidak pernah bisa
memenuhi persyaratan. Terlalu naif terhadap sebutan yang indah seperti
Serambi Mekkah sama sekali tidak menolong, malah bisa menyulitkan.
Tidak semua orang di Serambi Mekkah jujur, adil dan tidak punya niat
mengakali. (Sebaliknya juga berlaku bahwa tidak semua orang Aceh
penipu).

Rasa skeptis terhadap kata Serambi Mekkah kemungkinan bisa


mencegah orang dari perangkap ayam obat atau kambing kesayangan.
Dengan rasa skeptis si penabrak ayam (atau kambing) siap dengan dua
pilihan yaitu berlaku zalim, dengan jalan melarikan diri dari kewajiban
membayar ganti rugi atau dizalimi misalnya dengan membayar ganti rugi
seharga ayam obat atau seharga kambing kesayangan yang jauh dari
harga wajar.

Kasus ayam obat atau kambing kesayangan sulit untuk bisa


dikatakan sebagai kasus penipuan karena tidak ada unsur “menyerahkan
sesuatu benda” – secara cuma-cuma. Yang ada adalah “ganti rugi”. Jika
dipandang sebagai kasus “ganti rugi”, kasus ini bisa saja dibawa ke
pengadilan perdata dengan tuntutan ganti rugi materiel dan immatriel.
Dan tuntutan immateriel bisa saja lebih dari Rp 2,5 juta. Bahkan Rp 1
trilliun juga boleh. Karena ukuran dan acuan immateriel tidak ada sama
sekali.
Seperti kasus penghinaan Suharto oleh majalah Time (yang memuat
artikel yang dianggap menghina Suharto dalam majalah Time edisi 14 Mei
1999 Volume 153 Nomor 20) yang diputuskan tanggal 31 Agustus 2007,
oleh Mahkamah Agung (MA) pada tingkat kasasi memenangkan Suharto
dan mengabulkan tuntutan sebesar Rp 1 trilliun sebagai ganti rugi
immateriel. Walaupun kemudian dibatalkan dalam Peninjauan Kembali
oleh Mahkamah Agung tanggal 16 April 2009. Disini bisa nampak bahwa
pengadilan tidak punya acuan (walaupun pengakuannya punya).

Keputusan Mahkamah Agung saja bisa berbeda hanya dalam selang


waktu kurang dari 2 tahun. “Rakyat kecil” sering mencari “ketidak-
adilan”. Seperti kasus ayam obat atau kambing kesayangan, itu tidak lain
adalah kasus “rakyat kecil yang mencari ketidak adilan” untuk
memperoleh keuntungan. Karena keadilan tidak akan menguntungkan
mereka. Anehnya, hal yang ketidak-adilan tersebut bisa dipelintir menjadi
keadilan. Kasus seperti di atas sering ditoleransi, karena dianggap
sebagai manifestasi keadilan sosial.

Cerita di atas mungkin bisa dikatakan sebagai perampokan atau


pemerasan, karena ada unsur keterpaksaan yang dialami oleh satu pihak.
Bentuk tema ayam obat dan kambing kesayangan yang lainnya masih
banyak. Misalnya tukang becak atau ojeg terserempet
sedikit dan minta ganti rugi yang berlebihan. Kejadiannya selalu di daerah
dimana pemilik ayam/kambing punya dukungan massa. Kalau ayam obat
dan kambing kesayangan, kejadiannya harus di kampung pemilik
ayam/kambing. Kalau tukang becak atau ojeg yang terserempet, harus di
dekat pangkalan becak/ojeg dimana banyak temannya. Biasanya
korbannya mengalah dengan hati mendongkol karena merasa sudah
diperas.