Anda di halaman 1dari 9

Kasus 3

Bapak Jirin, 55 tahun, seorang buruh tani, datang ke puskesmas dengan


keluhan sering BAB encer. Dari anamnesis didapatkan keluhan ini sudah
dialami sejak 1 minggu yang lalu. Bapak jirin bisa BAB lebih dari tiga kali
sehari. Konsistensi encer, kadang disertai dengan bercak darah. Bapak Jirin
juga merasa perutnya melilit tapi hilang setelah BAB dan badannya kadang
panas. Dari pemeriksaan fisik ditemukan TD : 140/90 mmHg, Nadi : 70
x/menit, Suhu 38 C.
a. Sebutkan permasalahan dan diagnosa dari Bapak jirin

b. Sebutkan tujuan terapinya

c. Tentukan golongan-golongan obat yang paling tepat (rasional)

d. Tentukan nama-nama obat yang paling tepat bagi Bapak Jirin dari
masing-masing golongan obat

e. Tulislah resep yang rasional dan legeartis bagi Bapak Jirin

f. Berikan informasi yang tepat bagi bapak jirin

a. Permasalahan
• Keluhan:

 Sering BAB encer sejak 1 minggu yang lalu, lebih dari 3 kali dalam
sehari, kadang-kadang disertai bercak darah

 Sebelum BAB: nyeri perut melilit yang mereda setelah BAB

 Merasa demam (kadang-kadang)

• Px fisik:

 TD: 140/90 mmHg

 Nadi: 70 x/menit

 Suhu 38°C
Diagnosa: suspect Shigellosis atau disentri basiler
Diagnosis Banding :
 Amebiasis (hepatomegali)
 Salmonelosis (muntah)

b. Tujuan terapi
• Istirahat

• Mencegah atau memperbaiki dehidrasi

• Pemberian antibiotik untuk eradikasi bakteri penyebab


• Memperbaiki vital sign : menurunkan demam.

• Antidiare tidak diberikan pada shigellosis, pemberian antimotility drug


diduga dapat memperparah penyakit oleh karena obat ini akan
menunda pengeluaran organisme penyebab dan memfasilitasi invasi
lebih lanjut pada mukosa, berpotensi meningkatkan kecenderungan
terjadinya komplikasi berupa toxic megacolon. Pada penderita dewasa,
obat-obat ini dikontraindikasikan pada fase disentrik.
c. Daftar kelompok obat yang manjur sesuai tujuan terapi
• Pengganti cairan tubuh:
Pasien tidak mengalami muntah-muntah sehingga cairan dapat
diberikan melalui minuman atau pemberian air kaldu, atau dapat juga
oralit.
• Antibiotik:
 Golongan penisilin (ampisilin)
 Kombinasi (trimetoprim-sulfametoksazol)
 Golongan fluorokuinolon (siprofloksasin)
 Golongan makrolide (azithromisin)
 Golongan lainnya (kloramfenikol)
• Antipiretik

d. Penilaian kelompok obat yang manjur

Golongan obat antipiretik:


1. Acetaminophen (Paracetamol)
– Efikasi : Bekerja dengan menghambat COX-1 dan COX-2 di
jaringan perifer secara lemah dan menghambat COX-3 di susunan
saraf pusat.

– Keamanan : Efek samping yang ditimbulkan yaitu peningkatan ringan


enzim hati tanpa ikterus, pusing, excitement (mudah dirangsang),
disorientasi.

– Kecocokan : dapat diberikan sesuai usia pasien

– Harga : Rp. 75 per tablet

2. NSAID (ibuprofen)
– Efikasi: Menghambat biosintesis prostaglandin melalui penghambatan
enzim siklooksigenase yang mengkatalisis perubahan asam arakidonat
menjadi senyawa endoperoksida.
– Keamanan : Efek samping yang utama adalah gangguan pada
lambung.

– Kecocokan : dapat diberikan sesuai usia pasien; untuk aspirin tidak


dapat diberikan pada usia dibawah 16 tahun

– Harga : Rp. 90 per tablet

Obat yang dipilih yaitu PARASETAMOL


• Bentuk sediaan : Tablet 500 mg

• Dosis obat : 325-500 mg

• Cara pemberian : peroral

Interval dan lama pemberian : tiap 6 jam (4 kali sehari) diberikan seperlunya
(jika keluhan sudah tidak ada hentikan pemberian obat.

Cairan Pengganti
• Ringer laktat
 Efficacy: Mengandung elektrolit. Pemberian IV, mengisi intravaskuler ¼
bagian, mengisi interstitial ¾ bagian.
 Safety: Tanpa reaksi imunologis. Dapat timbul pulmonary edem dan
konsekuensi kardiopulmoner yang muncul pada mobilisasi cairan yang
terjadi belakangan.
 Suitability: Bentuk sediaan: cairan infus intravena
 Cost: Rp. 4600
• Oralit
 Efficacy: Mengandung elektrolit. Penyerapan melalui mukosa saluran
cerna, onset kerja lebih lama dibandingkan cairan IV.
 Safety: Aman (fisiologis).
 Suitability: Bentuk sediaan: serbuk
 Cost: Rp.305 – Rp. 360

Skoring cairan pengganti:


Kecocoka
Kemanjur
Keamana n Total
an Biaya (Cost)
n (Safety) (Suitabilit Skor
(Efficacy)
y)
Ringer laktat 90 70 90 70 320
Oralit 90 90 90 80 350
Dari skoring di atas, untuk cairan pengganti dipilih oralit.

Golongan antibiotik
• Golongan penisilin (ampisilin)
 Efficacy:
Mekanisme kerja: merusak dinding sel bakteri dengan cara (1)
perlekatan pada protein mengikat penisilin yang spesifik (PBPs) yang
berlaku sebagai obat reseptor pada bakteri, (2) penghambatan sintesis
dinding sel, dan (3) pengaktifan enzim autolitik.
Absorbsi: umumnya lengkap dan cepat setelah pemberian PO.
Distribusi: luas ke dalam cairan tubuh dan jaringan.
Ekskresi: sebagian besar melalui urin.
Waktu paruh: umumnya ½-1 jam
 Safety:
Efek samping: alergi.
Toksisitas: iritasi serebrokortikal, penisilin dalam dosis besar yang
diberikan PO dapat menyebabkan gangguan saluran cerna, terutama
mual, muntah, dan diare.
 Suitability:
KI : pasien alergi penisilin
Bentuk sediaan: oral, injeksi.
 Cost: Rp. 240 – Rp. 3400
• Kombinasi (trimetoprim-sulfametoksazol)
 Efficacy:
Mekanisme kerja: meghambat sintesis asam folat.
Absorbsi: baik dan cepat, setelah ± 4 jam sudah mencapai puncaknya
dalam darah.
Distribusi: semua jaringan, ludah, dan LCS sangat baik.
Ekskresi: melalui ginjal sebagai zat aktif yaitu 20-25% (sulfametaksazol)
dan 50-60% (trimetoprim).
Waktu paruh: 10-12 jam.
 Safety:
Efek samping: mual, muntah, diare, sakit kepala, hiperkalemia, rash,
glositis, stomatitis, kerusakan hati, pancreatitis, colitis yang
berhubungan dengan antibiotik, miokarditis, batuk, napas pendek,
infiltrasi pulmonal, meningitis asepsis, depresi, konvulsi, neuropati
perifer, ataksia, tinnitus, vertigo, halusinasi, hipoglikemia, gangguan
darah, hiponatremia, gangguan ginjal, arthralgia, mialgia, vaskulitis,
SLE.
 Suitability:
Bentuk sediaan: oral, injeksi.
 Cost: Rp. 100 – Rp. 2900
• Golongan fluorokuinolon (siprofloksasin)
 Efficacy:
Mekanisme keja: menghambat sintesis asam nukleat dengan cara
menghambat kerja DNA girase.
Absorbsi: baik setelah pemberian PO
Distribusi: sebagian besar jaringan tubuh.
Ekskresi: umumnya melalui ginjal melalui sekresi tubulus secara aktif.
Beberapa obat dieksresi melalui metabolisme hepatic dan ekskresi bilier
Waktu paruh: 3-8 jam dan 10-20 jam untuk obat yang dieliminasi
melalui rute nonrenal
 Safety:
Efek samping: distress GIT, ruam kulit, pusing, insomnia, tendonitis
Toksisitas: fototoksisitas
 Suitability:
Bentuk sediaan: oral, injeksi.
 Cost: Rp. 227 per tablet 250 mg
• Golongan makrolide (azithromisin)
 Efficacy:
Mekanisme kerja: bekerja dengan menghambat sintesis protein
mikroba. Terikat pada subunit 50S ribosom dan dapat berkompetisi
dengan linkomisin pada tempat pengikatan. Makrolida dapat
mengganggu pembentukan kompleks pemula untuk sintesis rantai
peptide atau dapat mengganggu reaksi translokasi aminoasil.
Absorbsi: absorbsi azitromisin terganggu oleh adanya makanan
sedangkan obat-obat yang lainnya memiliki bioavaibilitas oral yang
baik.
Distribusi: konsentrasi plasma rendah, tetapi di jaringan lebih tinggi.
Ekskresi: eritromisin diekskresikan melalui empedu, klaritromisin
melalui metabolisme hepatik dan urin, dan azitromisisn melalui urin.
Waktu paruh: lama yaitu sekitar 40-60 jam atau 2-4 hari (di jaringan)
untuk azitromisin dan 2-5 jam untuk eritromisin dan klaritromisin.
 Safety:
Efek samping: mual-muntah, abdominal discomfort, diare, urtikaria,
rash, reaksi alergi, kehilangan pendengaran yang reversible, kolestatis,
pancreatitis, berefek pada jantung (termasuk nyeri dada dan aritmia),
miastenia gravis, steven jonhson syndrome, anoreksia, dispepsia,
flatulent, bingung, sakit kepala, konvulsi, artralgia, dan gangguan
pembauan dan perasa.
 Suitability:
Kontra indikasi: gangguan hepar berat, pregnant, hepatitis
Bentuk sediaan: oral.
 Cost: Agak mahal
• Golongan lainnya (kloramfenikol)
 Efficacy:
Mekanisme kerja: menghambat sintesis protein mikroba, terikat secara
reversible pada tempat reseptor subunit 50S ribosom bakteri.
Absorbsi: cepat dan lengkap setelah pemberian PO.
Distribusi: luas ke semua jaringan dan cairan tubuh.
Ekskresi: kloramfenikol aktif dan produk degradasi inaktif terjadi melalui
urin. Sebagian kecil melalui empedu atau tinja.
Waktu paruh: di plasma rata-rata 3 jam.
 Safety:
Efek samping: gangguan darah (anemia aplastik), neuritis perifer,
neuritis optikus, sakit kepala, depresi, urtikaria, eritema multiformis,
mual, muntah, diare, stomatitis, glositis, mulut kering.
 Suitability:
KI : hipersensitif, gangguan faal hati.
Bentuk sedian: oral, injeksi
 Cost: Rp. 150 – Rp. 3370

Skoring antibiotik:
Kecocoka
Kemanjur
Keamana n Biaya
an Total Skor
n (Safety) (Suitabilit (Cost)
(Efficacy)
y)
Penisilin 80 80 80 70 310
Kombinasi: 80 60 80 70 290
kotrimoksazol
(trimetoprim-
sulfametaksaz
ol)
Fluorokuinol 90 80 80 80 330
on
Makrolida 90 60 70 50 270
Lainnya 70 70 80 60 280
(kloramfenikol
)
Dari skoring di atas, golongan antibiotik yang dipilih adalah florokuinolon.
Golongan florokuinolon yang digunakan untuk mengobati penyakit disentri
basiler adalah Ciprofloxacin.
Bentuk sediaan: tablet 250 mg dan tablet 500 mg.
Dosis ciprofloxacin: 500 – 750 mg dua kali sehari.
e. Resep yang lege artis

Dr. Tony Tony Chopper


SIP No: 006/046/UP/DINKES
Praktek:
Jl. Sriwijaya no. 103A Mataram
Tlp: 644066
Mataram, 13 Mei 2010

R/ Tab. Ciprofloxacin 250 mg no. XIV


S. 2 d.d. tab I pc
Paraf

R/ Garam oralit serbuk no. XXI


S. u.n.
Paraf
R/ Tab Paracetamol 500 mg no. VII
S.p.r.n.d.d. tab I pc
Paraf

Pro : Tn. Jirin


Umur : 55 tahun
Alamat: Jl. Surabaya no.5 Mataram
Edukasi :
1. Minum banyak
2. Sering-sering cuci tangan menggunakan sabun
3. Minum air yang bersih (direbus/steril)
4. Istirahat yang cukup