Anda di halaman 1dari 3

Nama : Joharius V. S.

Gultom
NIM : 10/KT/13674
Tugas Ekonomi Kehutanan

Soal:
Suatu kawasan HTI di Sumatera akan diberlakukan sistem tebang habis dengan daur 15 tahun dan
memberi penghasilan sebesar Rp 250.000.000,-/Ha. Bila lahan hutan ini dikonversi menjadi
kawasan perkebunan sawit, dapat menghasilkan income rata-rata Rp 8.000.000,-/Ha/tahun. Sebagai
seorang manajer perusahaan yang profesional, tindakan apa yang akan anda ambil setelah melihat
pertimbangan tadi?
(Gunakan tingkat suku bunga 10% dan 12%)

Jawaban:
Nilai penghasilan dari HTI dan Perkebunan yang dimaksud adalah nilai pendapatan bersih sehingga
diasumsikan perbandingan yang akan dilakukan adalah perbandingan nilai nominal pendapatan bila
langsung daur 15 tahun (HTI) dibandingkan dengan bila diperoleh pertahun selama 15 tahun
(perkebunan).

A). Suku bunga 10%


Pada perkebunan, pendapatan pertahun di tahun pertama Rp 8.000.000,- dengan tingkat suku
bunga 10% ; maka untuk jangka waktu 15 tahun total nilai pendapatan menjadi ;
menggunakan persamaan yang membawa nilai ke future value

1).Dengan CF = (1 + i)n
Nominal =
Tahun ke - CF = (1 + i)n
8.000.000 x CF
Tahun 1 1 8.000.000,00
Tahun 2 1,1 8.800.000,00
Tahun 3 1,21 9.680.000,00
Tahun 4 1,331 10.648.000,00
Tahun 5 1,4641 11.712.800,00
Tahun 6 1,61051 12.884.080,00
Tahun 7 1,771561 14.172.488,00
Tahun 8 1,9487171 15.589.736,80
Tahun 9 2,14358881 17.148.710,48
Tahun 10 2,357947691 18.863.581,53
Tahun 11 2,59374246 20.749.939,68
Tahun 12 2,853116706 22.824.933,65
Tahun 13 3,138428377 25.107.427,02
Tahun 14 3,452271214 27.618.169,71
Tahun 15 3,797498336 30.379.986,69
Total Pendapatan = 254.179.853,60

(1 +i) n - 1 (1 +0,1) 15
-1
2). Dengan CFFOPA = = = 31,77248169
i 0,1

Nilai pendapatan perkebunan di tahun ke – 15 adalah


= Rp 8.000.000 x 31,77248169 = Rp 254.179.853,60

B). Suku bunga 12%


Pada perkebunan, pendapatan pertahun di tahun pertama Rp 8.000.000,- dengan tingkat suku
bunga 12% ; maka untuk jangka waktu 15 tahun total nilai pendapatan menjadi ;
menggunakan persamaan yang membawa nilai ke future value

1).Dengan CF = (1 + i)n
Nominal =
Tahun ke - CF = (1 + i)n
8.000.000 x CF
Tahun 1 1 8.000.000,00
Tahun 2 1,12 8.960.000,00
Tahun 3 1,2544 10.035.200,00
Tahun 4 1,404928 11.239.424,00
Tahun 5 1,57351936 12.588.154,88
Tahun 6 1,762341683 14.098.733,46
Tahun 7 1,973822685 15.790.581,48
Tahun 8 2,210681407 17.685.451,26
Tahun 9 2,475963176 19.807.705,41
Tahun 10 2,773078757 22.184.630,06
Tahun 11 3,105848208 24.846.785,66
Tahun 12 3,478549993 27.828.399,94
Tahun 13 3,895975993 31.167.807,94
Tahun 14 4,363493112 34.907.944,90
Tahun 15 4,887112285 39.096.898,28
Total Pendapatan = 298.237.717,27

(1 +i) n - 1 (1 +0,12) 15
-1
2). Dengan CFFOPA = = = 37,27971466
i 0,12

Nilai pendapatan perkebunan di tahun ke – 15 adalah


= Rp 8.000.000 x 37,27971466 = Rp 298.237.717,30
Bila melihat pertimbangan di atas melalui pembandingan nilai pendapatan ketika dikonversi
menjadi Perkebunan Sawit, saya akan membuat kesimpulan:
- Apabila tingkat suku bunga = 10 %, tentu lebih baik bila lahan tetap dipertahankan sebagai HTI
mengingat selisih laba yang dicapai hanya Rp 4.179.853,60 ; sementara bila digunakan sebagai
Perkebunan akan jauh lebih banyak nilai hara tanah yang hilang dan perkebunan itu sendiri
tidak dapat mengembalikan nilai hara lahan. Selain itu, perbandingan hasil yang tidak terlalu
signifikan juga akan sangat tidak menguntungkan ketika perusahaan akan merubah sistem
pengelolaan (HTI menjadi Perkebunan Sawit)
- Apabila tingkat suku bunga = 12%, perubahan sistem pengelolaan dari HTI menjadi Perkebunan
Sawit masih dapat dipertimbangkan lagi mengingat selisih pendapatan yang diperoleh mencapai
Rp 48.237.717,30 selama 15 tahun yang artinya, ada penambahan penghasilan + Rp
3.000.000,-/tahun/HA. Biaya lain-lain dalam perubahan sistem pengelolaan pun masih mampu
dicover selisih pendapat tadi, apalagi pendapatan itu akan berjalan setiap tahun setelah masuk
masa panen.