Anda di halaman 1dari 13

Pembuatan Bangunan

Konservasi

Banjir di Indonesia saat musim hujan tiba sepertinya


menjadi ”langganan” yang selalu terjadi. Hujan bukan
mendatangkan berkah, melainkan musibah, dan
masyarakat di hilir selalu was-was saat musim hujan
datang. Beberapa hal yang menyebabkan semua ini adalah
karena di daerah hulu, di mana lokasi sebagai kawasan
resapan air, sudah berubah untuk berbagai keperluan, baik
untuk perumahan atau kadang peristirahatan bagi orang
kota, pertanian, perkebunan dan sebagainya. Hutan
dikorbankan, pohon ditebangi, dan perbukitan dipangkas.

Untuk itu daerah yang diperkirakan sebagai daerah


tangkapan hujan, daerah aliran sungai yang umumnya ada
di daerah hulu atau perbukitan perlu dihijaukan kembali.

1
Tehnik atau pelaksanaan penghijauan kembali dapat
dilakukan dengan berbagai cara, misalnya :
 penanaman pohon buah di pekarangan, kebun atau
dihutan. Dengan harapan pohon buah akan dirawat
oleh masyarakat.
 Pembuatan biopori dihalaman perumahan,
perkantoran, sekolah, rumah ibadah atau di
perkebunan, ladang. Akan lebih baik lagi bila biopori
ini dibuat pada daerah ladang yang telah melakukan
pembuatan teras siring. Sehingga air hujan dapat
meresap ke dalam tanah (lihat bab berikutnya).
 Pembuatan sumur resapan, di perkantoran, rumah,
rumah ibadah, sekolah atau tempat-tempat lain yang
diperkirakan dapa membantu meresapkan air hujan
ke dalam tanah.

Gambar di atas adalah kawasan perbukitan di daerah


Tomohon (Minahasa) yang merupakan salah satu daerah
tangkapan hujan, namun kini sudah berubah menjadi

2
daerah perkebunan dan perumahan. Sebenarnya bisa
dilakukan perbaikan lingkungan untuk membantu
meresapkan air hujan ke dalam tanah untuk mengurangi
banjir, dengan cara pembuatan teras siring, biopori atau
penanaman kembali di daerah puncak.

Pembuatan Teras Siring


Masih banyak petani atau peladang yang membuat kebun
palawija pada lahan kering atau perkebunan dengan
kemiringan lebih dari 30 derajat. Mereka masih belum
menggunakan disain teras siring. Teras siring menyerupai
anak tangga. Lebar anak tangga yang ditanami tergantung
dari kemiringan lahan yang akan digunakan (lihat gambar).

Teras siring ini mempunyai banyak keunggulan dalam


membantu konservasi atau pelestarian tanah dan air
tanah. Untuk tanah, saat musim hujan teras siring dapat
membantu mencegah atau mengurangi erosi. Dan untuk
air hujan, teras siring dapat membantu meresapkan air
hujan ke dalam tanah.

Di beberapa
desa atau
tempat,
seperti di Bali,
pembuatan
teras siring
sudah
dilakukan
untuk sawah

3
atau perkebunan, sedangkan di beberapa tempat lain
sebagai penghasil sayur, buah-buahan atau palawija
seperti di Sumatera Utara, Jawa dan daerah lain, tradisi ini
sudah lama diterapkan.

Di Sulawesi baru beberapa tempat saja yang sudah


membuat teras siring, misalnya di Sulawesi Tengah.
Mereka kebanyakan adalah petani padi dan sayuran yang
berasal dari Bali dan Jawa.

Pertanian di daerah tangkapan air


Daerah-daerah tangkapan air mempunyai peranan yang
sangat penting dalam melestarikan air dan tanah.
Keduanya tidak terlepas satu sama lain dan sangat
berkaitan dengan erat. Ada beberapa teknologi pertanian
untuk membantu usaha pelestarian tanah yang bertujuan
untuk mengendalikan erosi dan mencegah degradasi lahan
ini, antara lain:

1. Sistem Pertanaman Lorong


Ini adalah sistem yang telah dikembangkan dan banyak
dilakukan oleh masyarakat, di mana tanaman pangan
ditanam pada lorong di antara barisan tanaman pagar.

Sistem ini sangat bermanfaat untuk mengurangi laju


limpasan permukaan dan erosi, serta bisa menjadi sumber
bahan organik dan hara terutama untuk tanaman lorong.

4
2. Strip Rumput
Adalah sistem pertanaman yang hampir sama dengan
pertanaman lorong, tetapi tanaman pagarnya adalah
rumput.

Strip
rumput
dibuat
mengikuti
kontur
dengan
lebar strip
0,5 m atau
lebih.
Semakin
lebar strip
semakin efektif mengendalikan erosi. Sistem ini dapat
diintegrasikan dengan peternakan.

5
3. Tanaman Penutup Tanah
Merupakan tanaman yang
ditanam tersendiri atau
bersamaan dengan tanaman
pokok. Tanaman ini bermanfaat
untuk menutupi tanah dari
terpaan langsung curah hujan,
mengurangi erosi, menyediakan
bahan organik tanah, dan
menjaga kesuburan tanah.

Pengendali Erosi
Salah satu sistem pengendalian erosi secara mekanis
adalah barisan gulud yang dilengkapi rumput penguat
gulud dan saluran air di bagian lereng atas. Sistem itu
bermanfaat untuk mengurangi laju limpasan permukaan
dan meningkatkan resapan air ke dalam tanah. Hal ini
dapat diterapkan pada tanah dengan
infiltrasi/permeabilitas tinggi dan tanah-tanah yang agak
dangkal dengan lereng 10 sampai 30 derajat.

1. Teras Bangku/teras siring.


Dibuat dengan cara
memotong lereng dan
meratakan tanah di bidang
olah sehingga terjadi deretan
menyerupai tangga.

6
Teras siring bermanfaat sebagai pengendali aliran
permukaan dan erosi. Cara ini diterapkan pada lahan
dengan lereng 10 hingga 40derajat, tanah dengan solum
dalam (> 60 cm), tanah yang relatif tidak mudah longsor,
dan tanah yang tidak mengandung unsur beracun bagi
tanaman seperti aluminium dan besi.

2. Rorak
Adalah lubang atau
penampang yang dibuat
memotong lereng yang
berfungsi untuk menampung
dan meresapkan air aliran
permukaan. Lubang ini
bermanfaat untuk: (1) memperbesar peresapan air ke
dalam tanah; (2) memperlambat limpasan air pada saluran
peresapan; dan (3) sebagai pengumpul tanah yang erosi
sehingga sedimen tanah lebih mudah dikembalikan ke
bidang olah.

Ukuran rorak sangat bergantung pada kondisi dan


kemiringan lahan serta besarnya limpasan permukaan.
Umumnya rorak dibuat dengan ukuran panjang 1-2 m,
lebar 0,25-0,50 m dan dalam 0,20-0,30 m. Atau, panjang 1-
2 m, lebar 0,3-0,4 m dan dalam 0,4-0,5 m. Jarak antar-
rorak dalam kontur adalah 2-3 m dan jarak antara rorak
bagian atas dengan rorak di bawahnya 3-5 m.

Selain rorak ada cara yang lain untuk membantu


peresapan air ke dalam tanah, yaitu dengan tehnik biopori.

7
Biopori juga dapat membantu penyuburan tanah, karena
di dalam lubang itu dimasukkan sampah organik.

3. Embung
Merupakan
bangunan
penampung air
yang berfungsi
sebagai pemanen
limpasan air
permukaan dan
air hujan.
Bangunan ini
bermanfaat untuk menyediakan air pada musim kemarau.

Agar pengisian dan pendistribusian air lebih cepat dan


mudah, embung hendaknya dibangun dekat dengan
saluran air dan pada lahan dengan kemiringan 5 hingga 30
derajat. Tanah-tanah bertekstur liat atau lempung sangat
cocok untuk pembuatan embung.

4. Mulsa
Adalah bahan-
bahan (sisa-sisa
panen, plastik,
dan lain-lain)
yang disebar
atau digunakan
untuk menutup
permukaan
tanah.

8
Bermanfaat untuk mengurangi penguapan (evaporasi)
serta melindungi tanah dari pukulan langsung butir-butir
hujan yang akan mengurangi kepadatan tanah

5. Dam Parit
Adalah cara mengumpulkan atau membendung aliran air
pada suatu parit dengan tujuan menampung aliran air
permukaan sehingga dapat digunakan untuk mengairi
lahan di sekitarnya. Dam parit dapat menurunkan aliran
permukaan, erosi, dan sedimentasi.
Keunggulan dam parit adalah:
 Menampung air dalam volume besar akibat
terbendungnya aliran air di saluran/parit.
 Tidak menggunakan areal/lahan pertanian yang
produktif.
 Mampu mengairi lahan cukup luas, karena dibangun
berseri di seluruh daerah aliran sungai (DAS).
 Menurunkan kecepatan aliran permukaan, sehingga
mengurangi erosi dan hilangnya lapisan tanah atas
yang subur serta sedimentasi.
 Memberikan kesempatan agar air meresap ke dalam
tanah di seluruh wilayah DAS, sehingga mengurangi
risiko kekeringan pada musim kemarau.
 Biaya pembuatan lebih murah, sehingga dapat
dijangkau petani.

Bagaimana cara perbaikan lahan


Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
2004–2009, perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan
pelestarian fungsi lingkungan hidup diarahkan untuk
memperbaiki sistem pengelolaan sumber daya alam agar

9
mampu memberi manfaat ekonomi, termasuk jasa
lingkungannya, dalam jangka panjang dengan tetap
menjamin kelestariannya. Kondisi hutan dan lahan yang
memprihatinkan memerlukan upaya perbaikan.

Tahapan kegiatan yang bisa dilakukan


untuk perbaikan tersebut adalah:

a. Pengadaan Bibit.
Pengadaan bibit ini dapat
dilakukan melalui biji maupun
persemaian alami, atau anakan
yang tumbuh di sekitar pohon
induk.

Gambar 1. Persemaian Alami

10
b. Pembuatan Bedeng Sapih dan Penyiapan Lahan.
Pembuatan bedeng sapih dilakukan dengan bahan
sederhana, seperti bambu dan naungan ijuk atau daun
kelapa. Penyiapan lahan dilakukan dengan pembersihan
lahan dan pembuatan ajir.

Gambar : Persemaian Biji

c. Pemeliharaan.
Setelah bedeng dan lahan disiapkan, tanaman bibit
tetap perlu tetap perlu diperhatikan pemeliharaannya.
Pemeliharaan tanaman meliputi:
 Penyulaman: mengganti tanaman yang rusak atau
mati setelah dilakukan 15-20 hari, tanaman sejenis,
 Pemupukan: untuk mempercepat pertumbuhan
(sebaiknya menggunakan pupuk kandang/kompos).
 Penyiangan: membersihkan belukar atau
tumbuhan pengganggu, diulangi beberapa kali
hingga tumbuhan tumbuh dengan baik.
 Pengendalian hama dan penyakit: mengendalikan
semua hama yang mengganggu pertumbuhan
 Pendangiran: menggemburkan tanah di sekitarnya

11
agar tumbuh dengan baik.

Gambar : Persemaian Biji

d. Penyiapan lahan

Proses selanjutnya adalah menyiapkan lokasi di mana


bibit tumbuhan itu akan ditanam, baik untuk
penanaman skala luas maupun kecil. Persiapan yang
perlu dilakukan adalah dengan membersihkan lahan,

12
membuat lubang, pembuatan anjir, atau pelindung
selama anakan masih belum bisa tumbuh secara
sempurna.

e. Penanaman.
Setelah bibit siap (setinggi kira-kira 20-40 cm dan
perakaran kira-kira 20cm), bibit dapat diangkut dengan
menggunakan gerobak atau dipikul menuju lokasi yang
akan ditanami. Sebelum tanaman baru siap ditanam,
buatlah lajur penanaman dan lubang.

2 – 5 meter

f. Pemeliharaan.
Pemeliharan setelah penanaman sangat penting
dilakukan karena di sinilah kunci kesuksesan.
Pemeliharaan dapat dilakukan dengan berbagai cara,
ismalnya: penyiraman saat musin kemarau, pembuatan
sekat-sekat bakar bila terjadi kebakaran lahan,
pemupukan, dan penyiangan.

13