Anda di halaman 1dari 4

Terapi Dzikir

Menurut hasil penelitian Alvan Goldstein, ditemukan adanya zat


endorphin dalam otak manusia, yaitu suatu zat yang memberikan efek
menenangkan yang disebut endogegonius morphin. Drs Subandi menjelaskan,
bahwa kelenjar endorfina dan enkefalina yang dihasilkan oleh kelenjar pituitrin di
otak ternyata mempunyai efek mirip dengan opiat (candu) yang memiliki fungsi
menimbulkan kenikmatan (Pleasure principle), sehingga disebut opiate endogen.
Apabila seseorang dengan sengaja memasukkan zat morphin ke dalam tubuhnya,
maka akan terjadi penghentian produksi endorphin. Pada pengguna Narkoba,
apabila dilakukan penghentian morphin dari luar secara tiba-tiba, orang akan
mengalami Sakaw (ketagihan yang menyiksa dan gelisah) karena otak tidak lagi
memproduksi zat tersebut. Untuk mengembalikan produksi endorphin di dalam otak
bisa dilakukan dengan Meditasi, sholat yang benar atau melakukan Dzikir-dzikir
yang memang banyak memberikan ketenangan.

Dr. R. H. Su?dan M.D, S.K.M : ?Penyimpangan seks seperti hiperseks,


lesbian, homoseks, masochisme dan lain sebagainya dapat sembuh dengan
dzikrulloh (mengingat Allah). Juga penyimpangan jiwa lainnya seperti psychopatia
semacam kleptomania atau suka mencuri, penyakit jiwa karena stress atau
ketegangan hidup yang berlebihan. Apalagi kalau hanya penyakit psikosomatik,
mudah sekali ditanggulangi dengan dzikrulloh. Bahkan penyakit jiwa yang
sebenarnya seperti psychosis pun dapat diselesaikan dengan dzikrulloh pula?

?Kalaulah kita mau melatih diri untuk berdzikir dengan tenang, serta
berpikir luas, maka tentu semakin tampak jelas betapa agungnya Allah SWT. dan
betapa luar biasa kasih sayang-NYA? (Drs. KH. M. Djufri Raksana. M. Si. Pusat
Studi Islam dan filsafat-UMM/mantan bid. Penerangan Agama, Depag-Jawa Timur)

DR. Aidh al-Qarni menulis dalam bukunya yang berjudul LA TAHZAN


(JANGAN BERSEDIH!) : ketika laut bergemuruh, ombak menggunung, dan angin
bertiup kencang menerjang, semua penumpang kapal akan panik dan menyeru : ?
Ya Allah!?. Ketika seseorang tersesat di tengah gurun pasir, kendaraan
menyimpang jauh dari jalurnya, dan para kafilah bingung menentukan arah
perjalanannya, mereka akan menyeru : ?Ya Allah!?. ketika musibah menimpa,
bencana melanda, dan tragedi terjadi, mereka yang tertimpa akan selalu
berseru : ?Ya Allah!?. Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan
terasa menyempit, harapan terputus, dan semua jalan pintas membuntu, mereka
pun menyeru : ?Ya Allah!?. Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan
persoalan hidup, dan jiwa serasa tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus
Anda pikul, menyerulah : ?Ya Allah!?. Setiap ucapan baik, doa yang tulus, rintihan
yang jujur, air mata yang menetes penuh keikhlasan, dan semua keluhan yang
menggundahgulanakan hati adalah hanya pantas ditujukan ke hadirat- NYA. Setiap
dini hari menjelang, tengadahkan kedua telapak tangan, julurkan lengan penuh
harap, dan arahkan terus tatapan matamu ke arah-NYA untuk memohon
pertolongan! Ketika lidah bergerak, tak lain hanya untuk menyebut, mengingat dan
berdzikir dengan nama-NYA. Dengan begitu, hati akan tenang, jiwa akan damai,
syaraf tak lagi menegang, dan iman kembali berkobar-kobar.

Ibnu Al-Qoyyim Al-Jauziyah menulis dalam bukunya yang berjudul ?


Metode Pengobatan Nabi SAW.? : ?Kiat lain terhadap musibah adalah dengan
menyadari bahwa yang memberi musibah kepadanya itu adalah Allah yang Maha
Bijaksana, Rabb dari segala Makhluk yang Bijak, Ar-Rahman (Maha Penyayang),
Rabb dari segala Makhluk yang penuh rahmat. Dan juga menyadari bahwa Allah
mengirimkan musibah itu kepadanya bukan untuk membinasakannya, bukan untuk
menyiksanya dan juga bukan untuk menyakitinya. Tetapi Allah memberikan cobaan
itu untuk menguji kesabaran, keridhaan dan keimanannya. Agar Allah mendengar
do?a dan penyerahan dirinya kepada-NYA, agar ia bersimpuh di depan pintu-NYA;
dengan mengharapkan rahmat-NYA, memasrahkan kehancuran hatinya di
hadapan-NYA, dan menyampaikan keluh kesah kepada-NYA. Kalau Allah tidak
mengobati para hamba-NYA melalui cobaan dan bala, niscaya mereka akan
melampaui batas, berbuat semena-mena dan tidak mengenal aturan?.

William James berujar, ?Penderitaan telah membantu kita untuk


mencapai suatu batas yang tidak pernah terbayangkan. Andaikata Dostoyevsky
dan Leo Tolstoy tidak mengalami kehidupan yang pahit, keduanya tak akan sukses
menulis memoar dan novel-novel yang mengagumkan dan abadi hingga saat ini?.
Dengan demikian, keyatiman; kebutaan; pengasingan; dan kemiskinan adalah
salah satu sebab tumbuhnya kreativitas, produktivitas, kemajuan dan kontribusi.

Terapi Do'a

Larry Dossey, MD. Seorang dokter yang lebih terkenal karena bukunya
yang berjudul Recovering the Soul, pandangan dunianya yang ilmiah itu menjadi
goncang setelah ia praktek bertahun-tahun dan akhirnya menemukan bukti ilmiah
bahwa do?a mempunyai kekuatan menyembuhkan. Terbitlah bukunya yang
berjudul Healing Words, yang dalam pengantarnya dikatakan bahwa dengan
memasukkan seni penyembuhan yang memperhatikan segi-segi spiritual ke dalam
ilmu kedokteran, buku ini akan membuka jalan menuju ?suatu ilmu kedokteran
yang lebih efektif dan sekaligus lebih manusiawi, suatu ilmu kedokteran yang
berfungsi dan lebih baik?. Seperti umumnya orang yang menyelesaikan pendidikan
kedokteran, Larry Dossey pada awalnya juga menganggap do?a adalah tak
ubahnya seperti takhayul. Mereka yang tidak percaya akan do?a pada umumnya
menganggap bahwa penelitian-penelitian yang dilakukan untuk menunjukkan bukti
kemanjuran do?a itu metodologinya payah, rancangan dan pengamatannya jelek,
sehingga hasilnya berupa khayalan belaka. Tetapi, ternyata tidak demikian. Hingga
tahun 1993, para peneliti telah melakukan studi terkontrol sebanyak 131 kali
(Healing Research), bahkan ada yang telah menggunakan rancangan tertinggi,
Double Blind Randomized Control Trial. Lima puluh enam kajian ini memperlihatkan
hasil-hasil yang signifikan secara statistik pada P < 0,01 sedangkan 21 studi
memperlihatkan signifikansi P < 0,5. percobaan-percobaan ini berkaitan dengan
pengaruh-pengaruh penyembuhan do?a terhadap enzim, sel, ragi, bakteri,
tumbuhan, binatang, dan manusia. Apabila masih dipertanyakan mutunya, maka
jawabnya, 10 di antaranya adalah disertasi doctor, 2 tesis magister, sisanya
terpublikasikan dalam jurnal-jurnal kedokteran ternama. Larry Dossey mengajukan
beberapa kecenderungan masa depan bahwa apabila konsep non-lokal sudah
diterima maka do?a / aktifitas ibadah akan diakui sebagai suatu kekuatan ampuh
dalam ilmu kedokteran dan akan menjadi bagian dalam arus utama kedokteran.
Aktifitas ibadah akan menjadi baku dalam praktek kedokteran ilmiah pada
kebanyakan komunitas kedokteran. Penggunaannya akan semakin meluas,
sehingga untuk tidak menyarankan penggunaan do?a sebagai bagian integral
perawatan medis pada suatu hari akan merupakan kesalahan pengobatan medis.
Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, Psikiater (Guru Besar Tetap Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Doktor di bidang NAZA) : "Selain terapi
medis, sholat, berdoa dan berdzikir dapat meningkatkan kekebalan tubuh terhadap
virus HIV/AIDS".

Dr. Handrawan Nadesul, dalam salah satu artikel yang ada di buku
berjudul ?Memahami Otak? (diterbitkan oleh Penerbit Kompas), menulis : ?Hidup
kita sudah begini susah, maka jangan lagi ditambah susah. Pilihan untuk lebih
banyak melakukan perenungan sungguh bijaksana. Kini agaknya kita perlu lebih
banyak melakukan kegiatan spiritualitas. Kita perlu meningkatkan intelegensia
spiritualitas (Spiritual Quotient, SQ, Danah Zohar & Ian Marshal), antara lain lewat
pencarian ke dalam diri dengan perjuangan ke luar.

Orang-orang yang banyak melakukan do?a, meditasi, bersembahyang,


berzikir, tahajud, akan mampu menjinakkan sistem saraf otonom tubuhnya. Tabiat
saraf otonom kita, lantaran kehidupan serba modern sekarang ini, rata-rata kian liar
dan binal. Secara sadar kita sendiri tak mampu mengendalikannya. Aktivitas saraf
otonom, yang bikin kita garang dan pemberang selama ini, ada di luar pengaruh
alam sadar kemauan kita. Satu cara menjinakkannya, katanya, dengan lebih
banyak melakukan kegiatan spiritual.

Orang yang tinggi spiritualitasnya tinggi pula gelombang alfa di otaknya.


Ini yang membuat hidup menjadi lebih tenang, sekali pun badai kecemasan,
ketakutan, dan kepanikan terus menerjang tanpa perlu minum obat atau minta
bantuan dukun. Dengan demikian risiko kena stroke, jantung koroner, sakit jiwa,
dan kanker menjadi lebih kecil.

Kebanyakan stres dan berperasaan negatif yang mengguyur orang


modern sekarang ini mencetuskan banyak sekali penyakit. Gerak spiritualitas akan
bisa meredamnya?.

Dr. Benny Ardjil, SpKJ (Kapuslab T & R BNN) : ?Dengan cara


Spiritual, Hati dan Jiwa mereka (korban Narkoba) bisa sembuh?

Carrel Aulia (1980 : 19,20) mengemukakan bahwa ?Apabila do?a itu


dibiasakan dan bersungguh-sungguh, maka pengaruhnya menjadi sangat jelas. Ia
merupakan semacam perubahan kejiwaan dan kebadanan. Ketentraman
ditimbulkan oleh do?a itu merupakan pertolongan yang besar pada pengobatan?.
Mengenai tidak dikabulkannya do?a, selanjutnya Carrel mengemukakan ?Do?a itu
sering tidak berhasil, karena kebanyakan yang memanjatkan do?a itu masuk
golongan orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri, pembohong,
penyombong, bermuka dua, tidak beriman dan mengasihi?.

Ajaran Islam penuh dengan do?a, seperti do?a hendak dan bangun tidur,
do?a sebelum dan sesudah makan, do?a keluar-masuk toilet, do?a naik
kendaraan, do?a keluar-masuk Masjid, dan lain-lain.

Silahkan baca juga buku : DOA DAN DZIKIR SEBAGAI PELENGKAP TERAPI MEDIS karya
Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari * Hidup Sehat dengan dzikir & doa karya SyaikhMuhammad
Bayumi * Rahasia kekuatan Doa karya Asep Rohidin *Meraih kesembuhan dengan Doa karya
IbrahimMuhamad Hasan al-Jamal * dll.