Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Takdir merupakan hal penting yang harus dipercayai oleh setiap muslim. Karena
sesesungguhnya takdir kita telah ditentukan oleh Allah jauh sebelum kita diciptakan oleh
Allah. Jadi mempercayai takdir dengan sepenuh hati merupakan cerminan keimanan
seseorang. Semakin tinggi iman seseorang semakin yakinlah bahwa segala yang
diberikan Allah kepadanya merupakan ketentuan yang telah ditentukan.

Dan jikalau imannya rendah maka dia akan menyesali setiap musibah yang ditimpakan
kepadanya. Perlu diingat bahwa, setiap hal yang telah ditentukan pasti terjadi. Dan takdir
itu ada yang bisa dirubah dengan berusaha, yaitu dengan do'a dan usaha. Jikalau kita
berhasil maka sesungguhnya Allahlah yang memindahkan kita dari takdir yang jelek ke
takdir yang baik.

Identifikasi Masalah

Dalam makalah ini penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:

• Pengertian Takdir

• Macam – macam Takdir

• Hikmah Beriman Kepada Takdir

Batasan Masalah

Agar masalah pembahasan tidak terlalu luas dan lebih terfokus pada masalah dan tujuan
dalam hal ini pembuatan makalah ini, maka dengan ini penyusun membatasi masalah
hanya pada Pengertian, Macam-macam dan Hikmah Beriman Kepada Takdir.

Metode Pembahasan

Dalam hal ini penulis menggunakan:

• Metode deskritif, sebagaimana ditunjukan oleh namanya, pembahasan ini bertujuan


untuk memberikan gambaran tentang takdir manusia yang telah ditentukan Allah.

• Penelitian kepustakaan, yaitu Penelitian yang dilakukan melalui kepustakaan,


mengumpulkan data-data dan keterangan melalui buku-buku dan bahan lainnya yang ada
hubungannya dengan masalah-masalah yang diteliti.
BAB II

PEMBAHASAN

• Pengertian Takdir

Takdir adalah ketentuan yang telah ditentukan oleh Allah kepada makhluknya sebelum
makhluk itu diciptakan, dan takdir ini pasti terjadi. Iman kepada Takdir adalah rukun
iman yang keenam. Oleh karena itu orang yang mengingkarinya termasuk ke dalam
golongan orang kafir. Dalil yang menunjukkan wajibnya iman kepada takdir terdapat
dalam Al-Qur'an dan sunnah, yaitu :

“ Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri
melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadid:22)

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran).” (Al-Qamar:


49). Adapun dari hadits adalah ketika malaikat Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad
tentang iman, maka Nabi Muhammad bersabda, “Iman adalah beriman kepada Allah,
malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir
baik dan buruk." (Bukhari Muslim).

“ Allah telah menulis (menentukan) takdir seluruh makhluk sebelum menciptakan langit
dan bumi lima puluh ribu tahun .” (HR. Muslim)

Iman kepada takdir mencakup keyakinan bahwa:

• Allah mengetahui segala sesatu sebelum terjadi. Karena tidak ada sesutu pun yang luput
dari pengetahuan Allah.

• Semua yang yang terjadi di alam semesta ini terjadi karena kehendak Allah yang
terlaksana dan tidak ada peran siapa pun di sana.

• Bahwa semua yang terdapat di alam semesta ini adalah ciptaan Allah dan karena
kehendak-Nya.

• Allah mencatat segala sesuatu sejak awal mula penciptaan dalam kitab-Nya (lauhul
Mahfuzh).

Takdir Allah itu mencakup:

• Tata aturan alam semesta, seperti peredaran planet, aliran air, hembusan angin, susunan
atom dan lain-lain.
• Yang terjadi pada kita dan kita tidak kemapuan untuk memilih dan ikhtiyar, seperti
dijadikan laki-laki atau perempuan, dilahirkan di Indonesia atau di Arab, di Eropa dan
lain-lain.

• Perbuatan-perbuatan yang berdasarkan pilihan, meliputi perbuatan mubah, ketaatan dan


perbuatan maksiat.

Banyak orang yang keliru dalam memahami takdir, mereka menyangka bahwa Allah
menakdirkan suatu akibat terpisah dari sebabnya, menakdirkan suatu hasil terpisah dari
usaha untuk mencapainya. Maka jika ada orang yang mengatakan tidak akan menikah
dengan alasan jika Allah telah menakdirkannya punya anak pasti dia punya anak walau
tanpa menikah. Atau dia tidak mau makan dengan alasan jika Allah menakdirkan dia
kenyang, dia pasti kenyang walau tanpa makan. Maka orang yang ditakdirkan untuk
masuk surga dia akan beramal shaleh. Dan jika dia berbuat maksiat, maka dia akan
ditakdirkan masuk neraka. Jadi Allah menakdirkan sebab dan akibat secara bersama-
sama. Artinya usaha dan sebab adalah bagian dari takdir Allah . Inilah yang ditunjukkan
oleh hadits Rasulullah dan pemahaman para sahabat. Rasulullah pernah ditanya
seseorang, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu tentang obat-obatan yang kami
pergunakan untuk berobat, bacaan-bacaan tertentu untuk penyakit kami, dan perisai
yang kami pakai untuk menangkis serangan musuh, apakah itu semua dapat menolak
takdir Allah?” beliau menjawab, “Itu semua juga adalah takdir Allah.”

Rasulullah bersabda, “Tidak ada yang dapat menolak takdir selain doa.” (Al-Hadits)

Suatu saat Abu Ubaidah memasuki wilayah yang sedang terjangkit wabah Tha'un, maka
Umar memerintahkannya untuk keluar dari wilayah tersebut. Abu Ubaidah menyangkal
dengan mengatakan, “Apakah kita akan lari dari takdir Allah.” Maka Umar
menjawabnya, “Ya kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain.”

Ibnu Qayyim berkata, “Orang yang pintar adalah orang yang menolak takdir dengan
takdir, dan melawan takdir dengan takdir. Bahkan sejatinya manusia tidak dapat hidup
kecuali dengan itu. Karena lapar, dahaga, takut adalah bagian dari takdir. Dan semua
makhluk senantiasa berusaha menolak takdir dengan takdir.” Masalah takdir adalah
masalah ghaib dan dirahasiakan Allah, kita tidak tahu apakah akan selamat atau celaka,
yang tampak di hadapan kita adalah syariat, maka kewajiban kita adalah menjalankan
syariat dan hasilnya akan sesuai dengan yang ditakdirkan oleh Allah.
2. Macam-macam Takdir

• TAKDIR AZALI (TAKDIR UMUM)

Yaitu meliputi segala hal dalam lima puluh ribu tahun sebelum terciptanya langit dan
bumi, ketika Allah menciptakan al-qalam dan memerintahkannya menulis segala apa
yang ada sampai Hari Kiamat.

Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi (tidak pula) pada dirimu sendiri,
melainkan telah tertulis dalam kitab (al-Lauhul Mahfuzh), sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya yg demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-
Hadiid :22)

• KEDUA : TAKDIR ‘UMURI

Yaitu takdir yang diberlakukan atas manusia pada awal penciptaannya, ketika
pembentukan sperma (blatokist) sampai pada masa sesudah itu, dan bersifat umum;
mencakup rizki, perbuatan, kebahagiaan dan kesengsaraan.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam :

“Sesungguhnya salah seorang dari kamu dikumpulkan diperut ibunya selama 40 hari,
kemudian berbentuk ‘alaqoh (morula/segumpal darah) seperti itu (lamanya), kemudian
menjadi mudhghoh (embrio/segumpal daging) seperti itu (lamanya). Kemudian Alloh
mengutus seorang malaikat diperintah (menulis) empat perkara : rizkinya, ajalnya,
sengsara atau bahagia.

Demi Allah, sesungguhnya seorang dari kamu atau seorang laki-laki akan beramal
seperti amalnya ahli neraka sampai tidak ada jarak antara dia dan neraka melainkan
satu depa atau satu hasta, ternyata catatan takdir telah mendahuluinya, sehingga ia
melakukan amalnya ahli syurga maka ia pun memasukinya. Dan sesungguhnya seorang
laki-laki akan beramal seperti amalnya ahli syurga sampai tidak ada jarak antara dia
dengan syurga melainkan satu hasta atau dua hasta, ternyata tulisan takdir telah
mendahuluinya, sehingga ia mengamalkan amalnya ahli neraka, maka ia pun
memasukinya.” 3)

• KETIGA : TAKDIR SANAWI (TAHUNAN)

Yaitu yang dicatat pada malam Lailatul Qodar setiap tahun, seperti firman Alloh
Subhanahu wa Ta'ala :

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang
besar dari sisi Kami, sesungguhnya Kamu adalah Yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad-
Dukhan :4-5)
Pada malam itu ditulislah semua apa yang bakal terjadi dalam satu tahun : mulai dari
kebaikan, keburukan, rizki, ajal dan lain-lain, untuk memilah kejadian dan peristiwa
dalam satu tahun, yang kesemuanya itu telah dicatat sebelumnya dalam Lauhul Mahfudz,
juga apa yang ditetapkan dalam takdir ‘umuri yang berkaitan khusus dengan individu.
Dan Allah Maha Menjaga segala sesuatu.

• KE EMPAT : TAKDIR YAUMI (HARIAN)

Yaitu dikhususkan untuk semua peristiwa yang telah ditakdirkan dalam satu hari, mulai
dari penciptaan, rizki, menghidupkan, mematikan, mengampuni dosa, menghilangkan
kesusahan dan lain sebagainya. Sebagaimana firman Alloh Subhanahu wa Ta'ala :

“Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS. Ar-Rohman : 29)

Maksudnya, apa yang menjadi urusan-Nya menyangkut makhluk-Nya. Takdir ini dan
kedua takdir sebelumnya (‘umuri dan sanawi) merupakan penjabaran dari taqdir azali.

3. HIKMAH BERIMAN KEPADA TAKDIR

Diantara hikmah beriman kepada takdir adalah :

• Dengan iman kapada takdir seseorang akan selalu dalam kebaikan. Bersyukur ketika
Allah SWT memberikan nikmat dan bersabar serta tawakal ketika Allah memberikan
musibah. Hal ini bertolak belakang dengan kebanyakan manusia pada umumnya,
sebagaimana firman-Nya, ''Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia
berpaling dan menjauhkan diri, akan tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak
berdoa.'' (QS Fushshilat [41]: 51).

2)Dengan iman kepada takdir, seseorang akan senatiasa bekerja keras dan istikamah.
Karena, ia percaya dan mengimani bahwa Allah SWT tidak akan mengubah nasib
seseorang kecuali dengan usahanya sendiri. Allah SWT berfirman, ''Sesungguhnya Allah
SWT tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang
ada pada diri mereka sendiri." (QS Ar-Ra`du [13]: 11).

3) Dengan iman kepada takdir berarti mengimani bahwa musibah dan bencana yang
datang bukan hanya merupakan kodrat Ilahi, namun juga dikarenakan kesalahan manusia
sendiri. Sehingga, akan senantiasa mawas diri, selalu berhati-hati, tidak menyombongkan
diri dan menghentikan segala perbuatan yang dapat mendatangkan kerusakan dan Adzab
Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya, ''Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah
nikmat dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu
sendiri.'' (QS An-Nisaa [4]: 79).
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Takdir termasuk kedalam rukun iman. Jadi, takdir harus diyakini oleh setiap muslim
karena tidak ada satu hal pun yang terlepas dari ketentuan Allah. Takdir adalah ketentuan
yang telah ditentukan oleh Allah kepada makhluknya sebelum makhluk itu diciptakan,
dan takdir ini pasti terjadi. Mempercayai takdir dengan sepenuh hati merupakan cerminan
keimanan seseorang. Semakin tinggi iman seseorang semakin yakinlah bahwa segala
yang diberikan Allah kepadanya merupakan ketentuan yang telah ditentukan.

2. Saran

Dalam hal penyusunan makalah ini tentu tidak terlepas dari kesalahan. Ibarat kata
pepatah, tidak ada gading yang tak retak. Oleh karena itu, kami dari penyusun meminta
saran dan kritik yang membangun dari para pembaca untuk mencapai kesempurnaan
makalah kami.