Anda di halaman 1dari 1

Boenjamin Setiawan : Pendiri PT Kalbe Farma Tbk

Pendiri dan Komisaris Utama PT Kalbe Farma Tbk, Boenjamin Setiawan yang akrab
dipanggila Dr. Boen dedikasinya bagi kemajuan industri farmasi nasional tak diragukan
lagi. Di tangan Boen, perusahaan sekelas garasi “disulap” menjadi grup farmasi terbesar
di Tanah Air: PT Kalbe Farma Tbk. Warta Ekonomi menobatkannya menjadi salah
seorang Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005.

Bicara tentang industri farmasi nasional, sulit melupakan Boenjamin Setiawan.


Kecintaannya terhadap dunia farmasi mengantarnya sebagai salah satu tokoh
industrialisasi farmasi modern nasional. Pria yang akrab disapa Dr. Boen ini tak lain
adalah pendiri sekaligus pemilik PT Kalbe Farma Tbk., sebuah grup farmasi besar yang
terintegrasi. Perusahaan farmasi lokal ini ditaksir memiliki aset di atas Rp5 triliun.
Lengan bisnis grup ini meliputi obat-obatan, makanan kesehatan, bisnis pengepakan,
distribusi, pergudangan, dan sarana riset modern.

Boen memiliki labar belakang akademis, khususnya di bidang farmakologi dan


farmakinetik. Sebelum sepenuhnya menerjuni bisnis, peraih gelar dokter dari Universitas
Indonesia dan Ph.D. bidang farmakologi dari University of California, AS, ini sempat
beberapa tahun menjadi dosen. Sepulang dari sekolah di AS, ia banting setir, mencoba
peruntungan dengan menggeluti bisnis farmasi. Tepatnya, pada 1966, cikal bakal Grup
Kalbe resmi berdiri.

Keberhasilan Grup Kalbe memang tak luput dari kepemimpinan pria kalem ini. Sebagai
ahli farmasi, Dr. Boen paham betul bagaimana perkembangan farmasi global. Ia terjun
langsung mengembangkan jenis obat-obatan maupun makanan kesehatan Kalbe.
Lompatan sukses Grup Kalbe terutama ditopang oleh kejeliannya membaca ceruk pasar
dengan memproduksi dan memasarkan obat generik.

Kesuksesan Kalbe tak membuat Dr. Boen cepat berpuas diri. Kali ini ia kembali
membuat gebrakan lewat langkah merger internal. Tiga perusahaan publik, Kalbe Farma,
Dankos Laboratories, dan perusahaan distribusinya, PT Enseval Putera Megatrading,
dilebur menjadi satu. Boleh jadi ini merupakan aksi merger internal terbesar yang pernah
terjadi di bursa.

Boen tampak cukup cerdik meneropong perkembangan pasar. Merger ini akan
memperkuat posisi Grup Kalbe di industri farmasi nasional. Mereka juga menciptakan
sinergi yang kokoh antar-unit usaha untuk memperbesar pasar, di samping tentunya
menghasilkan efisiensi dalam proses kegiatan usaha.

Di luar itu, Kalbe juga melakukan sejumlah langkah strategis. Mereka mendirikan PT
Innogene Kabiotect Pte. Ltd., sebuah perusahaan riset dan pengembangan. Kalbe juga
menjalin kerja sama strategis dengan Morinaga untuk mendirikan pabrik susu dengan
investasi sekitar Rp500 miliar. Dengan sejumlah terobosan inilah maka pantas jika Dr.
Boen menjadi tokoh bisnis tahun ini. (prananda herdiawan, Warta Ekonomi, 28
Desember 2005)