Anda di halaman 1dari 3

Judul buku : Misteri Karibia

Judul asli : A Caribbean Mystery


Pengarang : Agatha Christie
Penerjemah : Sudarto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : IV, September 2002
Tebal : vi + 285 ISBN : 979–403–068-6

Agatha Christie dikenal di seluruh dunia sebagai ratu kejahatan. Novel detektifnya yang
berjumlah tujuh puluh enam buah dan buku-buku ceritanya telah diterjemahkan ke dalam
berbagai bahasa di dunia.
Dia mulai menulis sesudah berakhirnya perang dunia pertama. Tokoh pertama ciptaannya
adalah Hercule Poirot, seorang detektif Belgia bertubuh kecil dengan wajah bulat telur
dan menyukai hal-hal yang teratur. Selain itu, ia juga membuat serial detektif yang
mengisahkan kehidupan Miss Marple, seorang perempuan tua yang menjadi detektif tak
resmi. Buku terakhir karyanya adalah serial Poirot yang berjudul Curtain: Poirot’s Last
Case. Buku tersebut ditulisnya pada tahun 1975, sebelum ia meninggal pada tahun 1976.
Misteri Karibia ini merupakan salah satu novel detektif karya Agatha Christie yang
mengisahkan kehidupan Miss Marple yang sudah tua. Walaupun tua, ia dikisahkan
memiliki perhatian yang baik terhadap suatu kejadian. Ia pun memiliki daya pikir yang
tajam. Hanya saja, seperti kebanyakan lansia, ia terkadang juga melupakan sesuatu.
Novel ini menceritakan pengalaman liburan Miss Marple selama masa penyembuhan
penyakit rematiknya yang sering kambuh karena terlalu banyak kegiatan. Keponakannya
menyarankan untuk berlibur ke sebuah pulau di Karibia, Trinidad. Di sana, Miss Marple
menginap di Hotel Golden Palm, St. Honore, yang dikelola oleh pasangan Tim dan Molly
Kendal serta pelayan mereka, Victoria Johnson.
Pada suatu hari, Miss Marple mendengarkan penuturan Mayor Palgrave, penghuni hotel
lainnya, mengenai masa lalunya sebagai tentara. Mayor Palgrave juga menceritakan kisah
pembunuhan istri oleh suami, dan menawarkan kepada Miss Marple untuk melihat foto
yang dicurigainya sebagai pembunuh. Namun sayang, hal itu dibatalkannya tatkala
melihat seseorang yang datang ke arahnya, tepat di belakang Miss Marple. Miss Marple
merasa curiga, membalikkan tubuhnya, namun ia melihat ada beberapa orang yang
berseliweran di sana, dan ia tak bisa menebak siapa penyebabnya.
Kecurigaan Miss Marple bertambah ketika keesokan harinya, secara tak terduga Mayor
Palgrave ditemukan dalam keadaan meninggal. Berdasarkan desas-desus, dikabarkan
Mayor meninggal akibat tekanan darah tinggi. Miss Marple mencoba mencari foto
pembunuh yang diceritakan Mayor, namun ia tidak menemukannya. Berdasarkan
keterangan yang diperolehnya dari bertanya sana-sini, ia mengetahui bahwa Victoria
sempat memergoki seseorang pada malam menjelang kematian Mayor. Namun, sebelum
ia sempat berbincang-bincang dengan Victoria, pelayan hotel tersebut tewas tertusuk
pisau. Mayatnya ditemukan Molly, yang sebetulnya jiwanya sedang goyah, di semak-
semak. Kematian pelayan setianya membuatnya shock setengah mati hingga ia tampak
linglung. Yang membingungkan, koki hotel bersaksi bahwa sebelumnya Molly sempat
keluar hotel dengan membawa pisau.
Miss Marple mencoba mencari keterangan mengenai Molly dari Tuan Rafiel, jutawan
yang setiap tahun berlibur dan menginap di Hotel Golden Palm. Ia dan Tuan Rafiel
sempat beradu argumentasi, namun pada akhirnya ia menemui jalan buntu kembali.
Miss Marple kemudian menjenguk Molly, yang oleh dokter dianjurkan untuk beristirahat.
Miss Marple mengajak Molly untuk berbicara, dan Molly mengungkapkan beberapa hal
mengenai dirinya. Molly bercerita, ia sering bermimpi buruk kala tidur, seperti ada orang
yang selalu mengejarnya. Karena itu, tiap malam ia sering terbangun dan lebih memilih
jalan-jalan daripada tidur. Ia juga bercerita bahwa sering tak sadarkan diri, dan lupa
mengenai apa yang baru saja dilakukannya.
Miss Marple melanjutkan penyelidikannya. Ia bertanya pada Joan Prescott, penduduk asli
St. Honore, juga kepada Evelyn dan Lucky, ilmuan yang telah berada di St. Honore
selama empat tahun untuk meneliti tumbuhan. Ia mendapatkan beberapa keterangan baru.
Diantaranya mengenai keluarga Kendal, bahwa keluarga tersebut baru setahun
mengambil alih pengelolaan hotel dari pemilik lama yang sudah tua. Tim dan Molly
mencurahkan segala yang mereka punya untuk mengembangkan bisnis mereka. Namun
di balik itu, sebelum menikah dengan Tim, Molly sempat berhubungan dengan seorang
lelaki berandalan. Informasi tersebut bukannya membuat permasalahan semakin jelas,
malah semakin membingungkan Miss Marple.
Tengah malam, Miss Marple terbangun dan berjalan-jalan keluar hotel. Ia melihat
kerumunan orang di muara sungai. Rupanya di sana ada seorang wanita yang diduga
bunuh diri. Miss Marple terkejut ketika mengetahui bahwa wanita tersebut adalah Molly.
Beberapa orang pergi untuk memberi tahu polisi. Miss Marple mengamati mayat Molly
lebih teliti. Ia mendapati bahwa mayat tersebut bukan mayat Molly, melainkan Lucky
yang mirip dengan Molly.
Miss Marple memutar otak, menggabungkan informasi yang telah ia peroleh. Ia tersadar,
Lucky tidak bunuh diri, melainkan terbunuh secara tak sengaja. Sekarang ia tahu siapa
pelaku pembunuhan beruntun yang membayangi kehidupan St. Honore selama ini. Dan ia
juga tersadar bahwa Molly yang asli sedang berada dalam keadaan bahaya. Ia meminta
bantuan Tuan Rafiel, dan walaupun dengan susah payah, si pembunuh akhirnya
tertangkap.
Kisah yang diuraikan dalam alur maju dengan beberapa kali flashback ini cukup
mengasyikkan untuk dibaca. Di dalamnya, banyak hal-hal tak terduga yang terjadi, antara
lain mengenai karakter tokoh yang sulit ditebak, dan juga pelaku pembunuhan yang
misterius. Setiap babak selalu memunculkan hal-hal yang baru, sehingga dapat
membangun suasana yang berbeda-beda.
Cerita ini menggunakan bahasa percakapan sehari-hari yang dapat dengan mudah
dimengerti oleh pembaca. Istilah-istilah khusus hanya dipakai sesekali dalam cerita.
Hanya saja, kadang tokoh cerita menyampaikan sesuatu dengan kalimat yang panjang,
seperti pada dialog antara Miss Marple dan Tuan Rafiel, sehingga membosankan
pembaca.
Pembaca juga diajak berpikir dengan membaca cerita ini. Dimana terjadi pembunuhan
pada orang yang dikenal oleh tokoh utama. Lewat pembicaraan antar tokoh dan monolog
yang disampaikan Miss Marple, pembaca dipaksa secara halus untuk berpikir dan
memecahkan teka-teki siapa pelaku pembunuhan di St. Honore.
Keseluruhan cerita diuraikan begitu mendetail. Pembicaraan-pembicaraan antar tokoh
diuraikan dengan begitu gamblang, bahkan basa-basi panjang yang tidak begitu penting
pun turut disertakan. Hal ini tentunya sedikit banyak dapat mempengaruhi jalan cerita
karena dapat membingungkan dan mengganggu konsentrasi pembaca.
Selain itu, pada permulaan cerita, begitu banyak tokoh yang dimunculkan. Hal ini
menyulitkan pembaca untuk memahami cerita, karena setiap tokoh yang dimunculkan
tidak langsung menunjukkan posisi dan perannya dalam cerita. Ada tokoh yang sangat
menarik perhatian, seperti Mayor Palgrave, namun jalan ceritanya terputus karena
diceritakan meninggal dunia. Ada tokoh yang jarang tampak, kadang muncul kadang
tenggelam, namun memiliki peran penting seperti Molly Kendal. Namun demikian, hal-
hal tersebut juga membawa manfaat. Cerita menjadi semakin misterius dan sulit untuk
ditebak.
Novel ini amat cocok untuk dibaca oleh orang yang suka berpikir aktif dan menyenangi
hal-hal yang misterius. Sebaliknya, sangat tidak cocok bagi penggemar cerita-cerita
ringan untuk membaca novel ini. Sebab novel ini banyak menuntut pembaca untuk
memutar otak mengenai peran tokoh cerita di awal kemunculan, maupun di akhir cerita.
Selain itu, tokoh yang cukup banyak menuntut pembaca untuk memiliki ingatan yang
baik. Karena bila tidak, kita harus membolak-balik halaman demi halaman untuk mencari
tahu apa yang telah dikerjakan oleh seorang tokoh sebelum terjadinya suatu tragedi.
Apapun kekurangannya, novel ini mampu melatih pikiran pembaca untuk menjadi aktif
dan kritis, serta serta teliti dalam menganalisis suatu informasi.