Anda di halaman 1dari 15

A.

Definisi Integrasi Ekonomi

Definisi umum dari Integrasi Ekonomi adalah sebuah proses


dimana sekelompok negara berupaya untuk meningkatkan tingkat
kemakmurannya dengan cara pencabutan (penghapusan) hambatan-
hambatan ekonomi diantara dua atau lebih perekonomian (negara).
Definisi operasionalnya adalah pencabutan atau penghapusan
diskriminasi dan penyatuan politik (kebijaksanaan) seperti norma,
peraturan, prosedur instrumennya antara lain : bea masuk, pajak,
mata uang, UU, lembaga, standarisasi, kebijaksanaan ekonomi.

Istilah "Integrasi" dalam ranah ekonomi pertama kali digunakan


dalam konteks organisasi dalam suatu industri sebagaimana
dikemukakan oleh Machlup (Jovanovic, 2006). Integrasi digunakan
untuk menggambarkan kombinasi atau penyatuan beberapa
perusahaan dalam suatu industry baik secara vertikal (mengacu pada
penyatuan antara supplier dan buyer) maupun horisontal (mengacu
pada keterkaitan suatu perusahaan dengan kompetitornya). Istilah
Integrasi dalam konteks negara, yang menggambarkan penyatuan
beberapa negara dalam satu kesatuan, diawali dengan kemunculan
teori Customs Union (CU) oleh Viner.

Di tengah perbedaan tersebut, Jovanovic (2006) dengan ringkas


telah mendokumentasikan berbagai definisi integrasi yang
berkembang hingga saat ini, antara lain definisi dikemukakan oleh
Tinbergen, Balassa, Holzman, Kahneert, serta Menis dan Sauvant.
Tinbergen membedakan definisi integrasi sebagai bentuk
penghapusan diskriminasi serta kebebasan bertransaksi (negative
integration) dan sebagai bentuk penyerahan kebijakan dalam lembaga
bersama (positive integration). Pada sisi lain, Balassa membedakan
integrasi sebagai konsep dinamis melalui penghapusan diskriminasi
diantara negara yang berbeda, maupun dalam konsep statis dengan
melihat ada tidaknya perbedaan dalam diskriminasi. Sementara
Holzman menyatakan integrasi ekonomi sebagai situasi dimana ada
dua kawasan menjadi satu atau mempunyai satu pasar yang ditandai
harga barang dan faktor produksi yang sama diantara dua kawasan
tersebut. Definisi tersebut mengasumsikan tidak ada hambatan dalam
pergerakan barang, jasa dan factor produksi diantara dua kawasan dan
adanya lembaga-lembaga yang memfasilitasi pergerakan tersebut.

B. Konsep-Konsep dalam Integrasi Ekonomi

1. Integrasi Pasar dan Integrasi Kebijakan

Proses Integrasi Ekonomi selalu ditandai oleh adanya proses integrasi


pasar diantara negara yang berpartisipasi dalam integrasi. Salah
satu upaya penting untuk mencapai integrasi pasar adalah
melakukan integrasi kebijakan diantara negara tersebut.

Integrasi Pasar merupakan suatu konsep dimana pelaku pasar dalam


kawasan yg berbeda atau negara-negara anggota dalam union
digerakkan oleh kondisi supply dan demand.

Kondisi ini ditunjukkan dengan pergerakan lintas batas barang, jasa,


dan factor produksi yang meningkat pesan dalam suatu union.
Dalam pasar barang dan jasa yang homogen secara sempurna,
intensitas integrasi pasar dalam suatu kawasan diukur melalui
tingkat konvergensi harga dalam suatu union (degree of price
convergence) ( Pelkman, 2001).

Sementara integrasi kebijakan ditandai oleh adanya kebijakan ekonomi


bersama yang berlaku diantara negara-negara yang
mengikatkan diri dalam integrasi . integrasi kebijakan ini
mencakup berbagai tipe kebijakan ekonomi dengan berbagai
instrumen atau regulasi yang berbeda. Degree of binding dan
commonness kebijakan ini bervariasi bergantung pada derajat
integrasi yang disepakati. Selain itu, integrasi kebijakan ini tidak
dapat diukur secara langsung seperti halnya integrasi pasar.

2. Ambiguitas Integrasi Ekonomi

Integrasi ekonomi dilakukan dengan melakukan liberalisasi


perdagangan antara negara yang berpatisipasi dalam integrasi,
namun pada saat yang sama juga menerapkan berbagai
hambatan baik tariff maupun non-tarif kepada negara ke-tiga
atau negara lain di luar anggota. Dengan demikian, integrasi
akan menciptakan dua aturan yang berbeda secara bersamaan,
yaitu aturan-aturan yang diterapkan kepada negara-negara yang
menjadi anggota dan aturan lain yang diterapkan kepada non-
anggota (preferential agreement). Selain itu, negara yang
terintegrasi akan mengadopsi inward-looking approach yang
member perhatian yang lebih besar pada hal-hal yang terjadi di
dalam grup dibanding apa yang di luar grup tersebut.

Dua kepentingan yang berlawanan ini dijumpai pada berbagao tingkat


integrasi ekonomi yaitu baik pada integrasi ekonomi tingkat
regional, inter-regional, plurilateral ataupun bilateral, namun
tidak dijumpai pada kesepakatan integrasi pada tingkat
multilateral.

3. Integrasi Ekonomi dan Kedaulatan

Integrasi ekonomi dapat dicapai melalui pendekatan supranasional


maupun intergovernmental (Mathews, 2004). Dalam pendekatan
supranasional, negara anggota sepakat untuk menjalankan
sebagian kedaulatan mereka secara bersama, yaitu dengan
menyerahkan sebagian kedaulatan mereka kepada suatu
lembaga supranasional. Ketentuan atau hukum berlaku secara
regional yang mengikat negara anggota negara anggota maupun
penduduk negara tersebut. Sementara pendekatan
intergovernmental ditandai dengan tidak adanya sharing
kedaulatan di antara negara anggota dan negara-negara
tersebut mempunyai hak veto atau hak untuk menolak atas
penawaran kesepakatan regional. Selain itu, pendekatan ini
ditandai pula oleh adanya secretariat yang tidak mempunyai
kekuatan independen. Tidak adanya sharing kedaulatan dan
adanya hak veto tersebut menyebabkan koordinasi kebijakan
nasional yang lebih erat di antara anggota sangat diperlukan
dalam pendekatan ini.

Meskipun demikian, dalam konteks integrasi ekonomi dalam suatu


negara masih dimungkinkan untuk mengadopsi kebijakan yang
berbeda dengan negara lainnya dalam kerangka kepentingan
nasional sepanjang bukan merupakan bentuk diskriminasi di
antara anggota. Sebagai contoh kebijakan eco-labelling atau
pemberian label pada produk-produk yang ramah lingkungan
untuk melindungi kepentingan nasional. Kebijakan tersebut
dapat diterapkan sepanjang tidak menimbulkan diskriminasi baik
diantara negara (prinsip most-favoured nation) maupun antara
barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri dengan yang
diimpor (perlakuan nasional). Dengan demikian, integrasi
ekonomi yang bisa mengakibatkan berkurangnya kedaulatan
nasional suatu negara merupakan "musuh" terhadap keragaman
kebijakan ekonomi.

Berkaitan dengan "konflik" antara kepentingan ekonomi dari


pembentukan integrasi ekonomi dan kedaulatan nasional ini,
konflik tersebut dapat diatasi jika dan hanya jika kedua
kepentingan tersebut dijalankan bersama. Dalam konteks ini,
integrasi ekonomi merupakan bagian dari proses politik yang
telah mempertimbangkan berbagai factor (Balassa,1976)

C. Tahapan-Tahapan Integrasi Ekonomi

Bela Balassa merupakan salah satu pioneer dalam pemikiran di


bidang integrasi kekurangan regional. Dalam bukunya, "The Theory of
Economic Integration" pada tahun 1961, Balasaa menyebutkan bahwa
usaha-usaha untuk menuju integrasi ekonomi haruslah melalui
berbagai tahapan. Tahapan-tahapan tersebut, yang diharapkan seperti
proses di Eropa pada pengenalan Euro pada tahun 1999, dibagi
menjadi lima tahap dimulai dari integrasi sector perdagangan dalam
bentuk free trade area dan customs union dilanjutkan dengan pasar
bersama common market, economic union dan terakhir adalah
integrasi ekonomi secara total.

Tahapan-Tahapan Integrasi Ekonomi Menurut Bela Balassa adalah


sebagai berikut :

1. Trade Preferency Arrangement

Bentuk kejasama ekonomi regional yg masing-masing anggotanya


memberi preferensi tarif atau fasilitas keringanan bea masuk) dan non
tarif untuk produk orisinil masing-masing negara anggota.

2. Free Trade Area (FTA)

Suatu kawasan dimana tarif dan kuota antara negara anggota


dihapuskan, namun masing-masing negara tetap menetapkan tarif
mereka masing-masing terhadap negara bukan anggota.
Secara umum FTA disebut juga Regional Trade Agreement (RTA)
apabila merupakan kesepakatan lebih dari dua negara sehingga dapat
disebut sebagai kelompok negara yang secara geografis bersebelahan.
Dalam RTA negara-negara tersebut bersepakat untuk saling
mempertukarkan preferensi dagang. Kesepakatan ini secara lengkap
harus dilaporkan kepada sekretariat WTO di Jenewa, dianta-ranya
untuk diinvestigasi agar tidak berlawanan dengan artikel XXIV WTO.
Dari saat GATT terbentuk pada tahun 1947, sampai hampir 30 tahun
kemudian pada tahun 1975, kesepakatan FTA baru mencapai kurang
dari 50 dan perkembangan pada periode tersebut berlangsung secara
perlahan. Namun terhitung sejak pergantian GATT menjadi WTO pada
tahun 1994 sampai tahun 2002, jumlah FTA meningkat tajam. Pada
tahun 2002, FTA yang telah dinotifikasi kepada sekretariat WTO telah
mencapai 250.

Proses perkembangan pembentukan FTA yang mengklasifikasi FTA


berdasarkan jenis kesepakatan diantara negara yang bersangkutan.
Terhitung sejak bulan Maret 2002, dari 243 Regional Trade Agreement
(RTA) yang dilaporkan kepada sekretariat WTO, terdapat 175 (72
persen) diantaranya mengambil bentuk liberalisasi untuk barang dan
jasa sekaligus. Dalam bentuk FTA ini seluruh jenis barang dan jasa
tanpa kecuali diliberalisasi dari segala hambatan. Sedangkan 46 RTA
(18 persen) mengambil bentuk partial scope (China dengan Thailand).

3. Customs Union (CU)

Merupakan FTA yang meniadakan hambatan pergerakan komoditi


antar negara anggota dan menerapkan tariff yang sama terhadap
negara bukan anggota.

Customs union yang meliputi 22 RTA (10 persen), adalah kesepakatan


sejumlah negara untuk memberlakukan tariff eksternal yang seragam
dengan prosedur pabean yang sama dan tariff internal 0 persen
diantara para anggota, misalnya Uni Eropa. RTA yang sudah
diberlakukan, berdasarkan bentuk agreement.

4. Common Market (CM)

Merupakan Customs Union yang juga meniadakan hambatan-


hambatan pada pergerakan faktor-faktor produksi (barang, jasa, aliran
modal). Kesamaan harga dari faktor-faktor produktif diharapkan dapat
menghasilkan alokasi sumber yang efisien.

5. Economic Union Integration

Merupakan suatu Common Market dengan tingkat harmonisasi


kebijakan ekonomi nasional yang signifikan (termasuk kebijakan
struktural).

6. Total Economic Integration

Penyatuan moneter, fiskal, dan kebijakan sosial yang diikuti dengan


pembentukan lembaga supranasional dengan keputusan-keputusan
yang mengikat bagi seluruh negara anggota.

D. FTA (Free Trade Area)

FTA dibentuk karena memberikan manfaat kepada anggotanya,


antara lain terjadinya trade creation dan trade diversion. Trade
creation adalah terciptanya transaksi dagang antar anggota FTA
yang sebelumnya tidak pernah terjadi, akibat adanya insentif-
insentif karena terbentuknya FTA. Misalnya dalam konteks
AFTA, sebelumnya Cambodia tidak pernah mengimpor obat-obatan,
namun setelah menjadi anggota ASEAN, dengan berjalannya waktu,
tercipta daya beli yang menyebabkan Cambodia memiliki devisa cukup
untuk mengimpor obat dari Indonesia demi peningkatan kesehatan
rakyatnya.

Trade diversion terjadi akibat adanya insentif penurunan


tariff, misalnya Indonesia yang sebelumnya selalu mengimpor
gula hanya dari China beralih menjadi mengimpor gula dari
Thailand karena menjadi lebih murah dan berhenti mengimpor
gula dari China. Manfaat trade creation jauh lebih besar
dibandingkan trade diversion. Selain itu juga terjadi pemanfaatan
bersama sumber daya regional dan peningkatan efisiensi akibat
terbentuknya spesialisasi diantara para pelaku industri dan
perdagangan yang terpacu oleh adanya insentif liberalisasi tarif dan
non-tarif. Dalam kerangka FTA, posisi tawar ekonomi regional menjadi
lebih kuat dalam menarik mitra dagang dan investor asing maupun
domestik yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan penduduk
negara anggota. FTA dapat pula menciptakan sinergi baik antar anggota
maupun secara kelompok regionnalnya dengan regional lainnya sebagai
manfaat berganda (multiplier effect) yang menguntungkan
perekonomian dunia.

Namun FTA juga memiliki sisi negative, FTA memungkinkan


terbentuknya ekonomi biaya tinggi bila berlangsung secara tidak efektif
akibat implementasi penurunan tarif, yang kemudian segera digantikan
oleh kenaikan hambatan non-tarif sehingga tidak terjadi preferensi
dagang yang sesungguhnya dan mengakibatkan gagalnya peningkatan
perdagangan antar anggota yang seharusnya menjadi pokok tujuan
kesepakatan ini.
Duplikasi pos tarif dimungkinkan terjadi karena pada satu negara
anggota, paling tidak terdapat tarif Most Favored Nation (MFN),
preferensi tarif antar anggota FTA, dan mungkin masih ditambah tarif-
tarif lain yang berbeda dengan jadwal waktu yang berbeda pula
sehingga menimbulkan kesulitan di lapangan (spaghetti ball
phenomena). Terdapat pula masalah dalam mempertahankan anggota
bila terjadi overlapping, yaitu suatu negara menjadi anggota lebih dari
satu kesepakatan FTA, misalnya Singapura selain menjadi anggota
AFTA, juga menjalin FTA dengan Jepang dan dengan Amerika Serikat,
atau Thailand selain menjadi anggota AFTA juga membentuk FTA lain
dengan negara-negara Asia Selatan. FTA regional maupun bilateral juga
dikhawatirkan memberi kontribusi dalam mengganggu negosiasi
perdagangan bebas pada tingkat multilateral.

Blok perdagangan sebenarnya sangat erat kaitannya dengan WTO


karena merupakan upaya yang paralel dengan upaya WTO dalam
membebaskan perdagangan dunia dari hambatan tarif maupun non-
tarif, seperti diatur pada artikel XXIV. Blok perdagangan memberikan
kontribusi positip terhadap akselerasi liberalisasi perdagangan dunia,
sebagai pilihan terbaik kedua setelah liberalisasi multilateral, sehingga
pihak yang mengkhawatirkan bahwa FTA mengganggu proses
pencapaian perdagangan dunia yang bebas hambatan sebenarnya
merupakan opini yang masih bisa diperdebatkan.

Declaration of Singapore 1992, yang disepakati pada KTT ASEAN IV


27-28 Januari 1992 di Singapura, merupakan momen bersejarah bagi
masa depan kawasan Asia Tenggara, karena kesepakatan ini merupakan
sikap ASEAN terhadap fenomena globalisasi pasca berakhirnya Perang
Dingin. Kesepakatan ini direalisasikan dalam bentuk kerjasama free
trade yang dikenal dengan AFTA (ASEAN Free Trade Area).

Kerjasama AFTA bertujuan untuk meningkatkan daya saing produk


ASEAN di pasar dunia dan menciptakan pasar seluas luasnya untuk
menstimulus peningkatan FDI (Foreign Direcct Investment) di Kawasan
Asia Tenggara. Kerjasama ini pada awalnya Indonesia, Singapura, Brunei
Darussalam, Thailand, Filipina, dan Malaysia. Tetapi pada
perkembangannya, AFTA memperluas keanggotaannya dengan
masuknya anggotanbaru yaitu Vietnam (1995), Laos dan Myanmar
(1997), serta Kamboja (1999). Sehingga jumlah keseluruhan anggota
AFTA menjadi 10 negara.

Dengan perluasan keanggotaan ini diharapakan mempercepat


terjadinya integrasi ekonomi dikawasan Asia Tenggara menjadi suatu
pasar produksi tunggal dan menciptakan pasar regional bagi lebih dari
500juta orang. Sebab penghapusan tariff bea masuk di Negara-negara
anggota ASEAN dianggap sebagai sebuah katasator bagi efisiensi
produk yang lebih besar dan kompetisi jangka panjang,serta
memberikan para konsumen kesempatan untuk memilih barang-barang
berkualitas.

Sebagai upaya untuk merealisasikan tujuan pemberlakuan


AFTA,negara-negara anggota telah menetapkan suatu regulasi yang
dikenal dengan CEPT ( Common Effective Preferential Tariff ). CEPT
merupakan kerangka kesepahaman mengenai reduksi atas tariff dan
non-tariff terhadap segala jenis barang dagang,modal,dan produk-
prorduk pertanian di intra-regional maupun inter-regional sampai
kebijakan mencapai 0-5%. Pada awalnya CEPT diberlakukannya dalam
jangka waktu 15 tahun. Kemudian pertemuan AEM (ASEAN Economic
Ministers). 22-23 September 1994, yang diadakan Chiang mai, Thailand,
telah mengubah keputusan tersebut menjadi 10 tahun atau 5 tahun
lebih cepat dari jadwal pertama yaitu 1 Januari 2003, yang kemudian
dipercepat lagi menjadi 2002.

Akan tetapi pemberlakuan AFTA merupakan pilihan dilematis bagi


negara-negaran anggota ASEAN. Di satu sisi, pemberlakuan AFTA dapat
dianggap sebagai kesepakatan yang tidak realistis. Karena pilihan untuk
menjalankan liberalisasi perdagangan antar negara-negara di tengah-
tengah masih rendahnya tingkat efisiensi produksi dan jumlah produk
kompetitif masing-masing negara justru dapat merugikan. Sedangkan di
sisi lain, pemberlakuan AFTA dapat dilihat sebagai usaha ASEAN untuk
menyelamatkan perekonomian masing-masing negara anggota. AFTA
dapat dilihat sebagai upaya ASEAN untuk menyelamatkan
perekonomian masing-masing anggota. Karena fenomena globalisasi
yang menciptakan regionalisasi dan liberalisasi di berbagai sector
berdampak langsung terhadap sistem perekonomian dunia.

Selain itu, dalam kenyataannya pemberlakuan AFTA juga masih


menemui berbagai kendala yang menghambat terciptanya
interdependensi menguntungkan antar negara-negara anggota.
Sehingga perdagangan intra ASEAN dianggap tidak banyak mengalami
kemajuan, begitu pula investasi antar negara ASEAN. Hal ini dapat
dilihat dari lemahnya upaya negara-negara anggota untuk
memanfaatkan mekanisme ysng telah ditetapkan untuk menyelesaikan
permasalahan-permasalahan intra ASEAN. Kendala itu juga disebabkan
oleh kekurangselarasan anatar pilar masyarakat ekonomi ASEAN yang
mencita-citakan sebuah pasar tunggal dengan masyarakat keamanan
ASEAN yang masih mengedepankan prinsip non-interference.

Oleh karena itu, pemberlakuan AFTA sebagai kerjasama ekonomi


ASEAN masih mendapat kritik dan perhatian dari negara-negara
anggota yang berupaya untuk melakukan perbaikan penting dalam
proses integrasi ekonomi ASEAN. Lebih dari itu, negara-negara anggota
juga berharap agar AFTA dapat memediasi pertumbuhan perekonomian
dan memperkuat kohesivitas antar negara-negara anggota ASEAN.
Karena perbedaan dan perselisihan kepentingan antar negara-negara
anggota akan berkurang seiring meningkatnya interdependensi dan
hubungan mutualisme sebagai dampak dari kerjasama liberalisasi
perdagangan kawasan.
E. Studi Kasus (AFTA-China)

Persetujuan untuk menghapuskan tarif dimulai pada awal tahun


2003. Perdagangan antara China dan ASEAN mencapai US$ 41,6 miliar
pada tahun 2002, menjadikan China sebagai mitra dagang keenam
terbesar bagi ASEAN. Sementara ASEAN adalah merupakan mitra
dagang kelima terbesar bagi China. Pada kuartal pertama tahun 2003,
perdagangan antara China dan ASEAN meningkat sebanyak 27,1 persen
atau mencapai US$ 38,55 miliar. Ekspor ASEAN ke China juga meningkat
27 persen, sedangkan ke negara-negara lain senilai hampir 50%.

Negara-negara Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina,


Singapura dan Thailand merupakan enam anggota ASEAN yang akan
merealisasikan per-janjian di bawah kerangka kerja Kawasan
Perdagangan Bebas (FTA) dalam waktu delapan tahun mendatang,
sampai men-jelang tahun 2010.

Hubungan China-ASEAN telah sampai ke tahap yang tidak pernah


dicapai sebelum ini dalam sejarah. Pemerintah China menjanjikan
bantuan yang berkesinambungan kepada ASEAN untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi. FTA ini akan diperluas ke negara-negara
anggota ASEAN lainnya menjelang 2015 yaitu Myanmar, Viet Nam, Laos
dan Kemboja.

Dalam ASEAN-China, nego-siasi untuk goods dan dispute


mechanism sudah selesai dilakukan sedangkan bidang service dan
investasi belum dimulai. Trade in Goods Agreement dan Dispute
Settlement Mechanism telah ditandatangani oleh para Menteri Ekonomi
ASEAN dan China pada tanggal 29 November 2004. Sedangkan
implementasi penurunan/penghapusan tariff dilakukan melalui tiga cara,
yaitu :
- Early Harvest Program (EHP) yang mulai diberlakukan pada
tanggal 1 Januari 2004 secara bertahap dalam kurun waktu 3
tahun, sehingga pada 1 Januari 2006 tarif bea masuk produk-produk
EHP menjadi 0%.

- Normal Track, yang mulai diberlakukan penurunan/penghapusan


tariff mulai tahun 2005 dan tahun 2010 menjadi 0% bagi Normal
Track I, dan tahun 2012 menjadi 0% bagi Normal Track II untuk 400
pos tariff.

- Sensitive Track/Highly Sensitive diberlakukan untuk 399 pos tariff


atau 16,01% dari total impor yang terdiri dari 349 pos tariff produk
sensitive dan 50 pos tariff highly sensitive.

F. Kesimpulan

Definisi integrasi ekonomi secara umum adalah pencabutan


(penghapusan) hambatan-hambatan ekonomi diantara dua atau lebih
perekonomian (negara). Secara operasional, didefinisikan sebagai
pencabutan (penghapusan) diskriminasi dan penyatuan politik
(kebijaksanaan) seperti norma, peraturan, prosedur. Instrumennya
meliputi bea masuk, pajak, mata uang, undang-undang, lembaga,
standarisasi, dan kebijaksanaan ekonomi.Kemudian teori integrasi
internasional dianalogikan sebagai satu payung yang memayungi
berbagai pendekatan dan metode penerapan yaitu federalisme,
pluralisme, fungsionalisme, neo fungsionalisme, dan regionalisme.
Meskipun pendekatan ini sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini,
tetapi hal ini rasanya masih sangat jauh dari realisasinya (dalam
pandangan statesentris / idealis), sebagaimana sekarang banyak
teoritisi integrasi memfokuskan diri pada organisasi internasional dan
bagaimana ia berubah dari sekedar alat menjadi struktur dalam
negara.
FTA dibentuk karena memberikan manfaat kepada anggotanya,
antara lain terjadinya trade creation dan trade diversion. Trade
creation adalah terciptanya transaksi dagang antar anggota FTA yang
sebelumnya tidak pernah terjadi, akibat adanya insentif-insentif karena
terbentuknya FTA. Trade diversion terjadi akibat adanya insentif
penurunan tariff, misalnya Indonesia yang sebelumnya selalu
mengimpor gula hanya dari China beralih menjadi mengimpor gula
dari Thailand karena menjadi lebih murah dan berhenti mengimpor
gula dari China. Manfaat trade creation jauh lebih besar dibandingkan
trade diversion.

TUGAS EKONOMI INTERNASIONAL


INTEGRASI EKONOMI
OLEH :

1. Poppy Rya Aditama P. (0911240017) 4. Melinda


Yuliyan (0911240067)

2. Siti Kalimah (0911240023) 5. Novia Diah P.


(0911243020)

3. Pinky Sheilla Cikita (0911243066) 6. Soraya


(0911243073)

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2010