Anda di halaman 1dari 2

KOMPAS

CYBERMEDIA

Terungkap, Bukti Pemanasan Global


Penelitian terakhir para ahli klimatologi di Amerika Serikat berhasil membuktikan bahwa
pemanasan global terjadi karena Bumi menyerap lebih banyak energi Matahari daripada yang
dilepas kembali ke ruang angkasa.

Kesimpulan ini diperoleh melalui model komputer yang mensimulasikan data-data iklim dari
pengukuran suhu lautan. Bukti tersebut semakin menguatkan pendapat bahwa aktivitas manusia
adalah penyebab pemanasan global.

Para peneliti mencoba menghitung selisih energi matahari yang diterima oleh atmosfer dengan
yang dilepaskan kembali ke luar angkasa. Karena tidak dapat diukur langsung, para peneliti
mengambil data dari lautan.

"Mengukur perubahan secara langsung sulit dilakukan, karena Anda harus mendeteksi variabel
tertentu dari sekian banyak variabel," kata Gavin Smith, salah satu anggota tim peneliti dari
NASA.

"Tapi kami tahu berapa besar energi yang diserap lautan dari pengukuran selama puluhan tahun
melalui satelit maupun peralatan yang ditempatkan langsung. Didukung pemahaman kami
tentang atmosfer, hasil pengolahan data memperlihatkan bahwa selama ini terjadi
ketidakseimbangan di atmosfer," lanjutnya.

Caranya dengan memonitor suhu permukaan laut dari ribuan pelampung (buoys) yang tersebar
di berbagai lokasi. Data-data yang diambil dari berbagai tempat dimasukkan dalam komputer
dan merepresentasikan model iklim yang kompleks meliputi aktivitas atmosfer, laut, angin, arus,
gas, dan zat pencemar lainnya.

Dari simulasi tersebut tampak bahwa atmosfer bumi menyerap energi 0,85 watt per meter
persegi (secara keseluruhan setara dengan 7 triliun bola lampu 60 watt), lebih dari energi yang
dilepaskan kembali. Penyebabnya adalah efek rumah kaca yang terbentuk oleh lapisan gas
karbon dioksida. lapisan tersebut menyerap radiasi panas yang dipantulkan bumi yang
seharusnya dilepaskan ke ruang angkasa.

Menurut Gavin Schmidt, butuh energi yang besar untuk menghasilkan perubahan di permukaan
bumi. Meskipun demikian penyerapan energi telah berjalan dalam rentang waktu yang lama.
Berdasarkan laporan Nasa, penyerapan energi sudah terlalu besar sehingga peningkatan suhu
bumi sebesar setengah derajat celcius tidak dapat dicegah kecuali manusia menghentikan
produksi gas rumah kaca.

Pandangan Skeptis

Tidak semua ahli sepakat dengan kesimpulan tersebut. Salah satunya adalah William
Kininmonth, pimpinan pusat iklim nasional Australia dan anggota delegasi Australia dalam
negosiasi perjanjian iklim PBB.
Menurutnya, terlalu banyak asumsi yang dipakai dalam simulasi komputer daripada data
sesungguhnya. Oleh karena itu, sangat sulit untuk mengakui keakuratan hasil
ketidakseimbangan energi dalam ukuran beberapa meter persegi.

Berbeda dengan Damian Wilson, manajer cuaca dan parameter radiasi di lembaga meteorologi
Inggris yang lebih antusias dalam menanggapi hasil penelitian tersebut.

"Model komputer yang mengolah perubahan suhu di permukaan bumi adalah suatu kemajuan --
tapi bukan berarti hasil pembuktian tersebut benar lho," katanya.

"Paling tidak kita lebih yakin bahwa model tersebut bekerja dengan benar karena menghasilkan
kesimpulan yang masuk akal," lanjutnya.

Sementara Jim Hansen, direktur Goddard Institute for Space Studies milik NASA di New York,
sekaligus peneliti perubahan iklim, mengatakan temuan di atas patut mendapat perhatian. "Bila
kita menunggu bukti-bukti perubahan iklim (dan tidak segera mengambil tindakan), mungkin
kita akan terlambat," katanya.

"Tapi bila kita bertindak sejak sekarang untuk mencegah perubahan iklim, maka kita memberi
waktu pada Bumi untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi."

Dalam papernya yang berjudul Climatic Change (v 68, p 269), Hansen mengatakan bahwa
kenaikan suhu 1°C saja bisa memicu melelehnya lapisan es dunia. Proses ini bisa diawali dari
Greenland yang bakal melepaskan armada gunung es-nya ke lautan sehingga permukaan laut
akan naik menjadi beberapa meter.

Model iklim berbasis komputer berkembang pesat beberapa tahun terakhir. Akan tetapi masih
terdapat masalah dalam memodelkan beberapa proses yang terjadi di atmosfer, khususnya
perambatan panas di awan. Para ilmuwan masih berharap dapat memperoleh lebih banyak data
dari lautan dan aerosol seperti debu, abu, tanah, dan partikel yang lain di atmosfer.
(bbc.co.uk/newscientist.com/Wah/wsn)