Anda di halaman 1dari 7

GINJAL

Hemodialisis adalah sebuah terapi medis. Kata ini berasal dari kata haemo yang berarti
darah dan dialisis yang berarti dipisahkan. Hemodialisis merupakan salah satu dari Terapi
Penggganti Ginjal, yang digunakan pada penderita dengan penurunan fungsi gingjal, baik
akut maupun kronik. Perinsip dasar dari Hemodialisis adalah dengan menerapkan proses
dufusi dan ultrafiltrasi pada ginjal buatan, dalam membuang sisa-sisa metabolisme tubuh.
Hemodialisis dapat dikerjakan untuk sementara waktu (misalnya pada Gagal Ginjal Akut)
atau dapat pula untuk seumur hidup (misalnya pada Gagal Ginjal Kronik). Pada dasarnya
untuk dapat dilakukan Hemodialisa memerlukan alat yang disebut ginjal buatan
(dialiser), dialisat dan sirkuit darah. Selain itu juga diperlukan akses vaskuler.

*Dialisis Peritoneal
Dialisis Peritoneal adalah metode cuci darah dengan bantuan membran peritoneum
(selaput rongga perut). Jadi, darah tidak perlu dikeluarkan dari tubuh untuk dibersihkan
dan disaring oleh mesin dialisis.

Dialisis Peritoneal terdiri atas 2 jenis:


1. Automated Peritoneal Dialysis (APD) = Dialisis Peritoneal Otomatis. Metode APD
dapat dilakukan di rumah, pada malam hari sewaktu tidur dengan menggunakan “mesin
khusus” yang sudah diprogram terlebih dahulu.

2. Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) = Dialisis Peritoneal Mandiri


Berkesinambungan. CAPD tidak membutuhkan mesin khusus seperti pada APD.

Pemasangan Kateter untuk Dialisis Peritoneal


Sebelum melakukan Dialisis peritoneal, perlu dibuat akses sebagai tempat keluar
masuknya cairan dialisat (cairan khusus untuk dialisis) dari dan ke dalam rongga perut
(peritoneum). Akses ini berupa kateter yang “ditanam” di dalam rongga perut dengan
pembedahan. Posisi kateter yaitu sedikit di bawah pusar. Lokasi dimana sebagian kateter
muncul dari dalam perut disebut “exit site”.
Transplantasi ginjal adalah suatu metode terapi dengan cara "memanfaatkan" sebuah
ginjal sehat (yang diperoleh melalui proses pendonoran) melalui prosedur pembedahan.
Ginjal sehat dapat berasal dari individu yang masih hidup (donor hidup) atau yang baru
saja meninggal (donor kadaver). Ginjal ‘cangkokan’ ini selanjutnya akan mengambil alih
fungsi kedua ginjal yang sudah rusak.

Kedua ginjal lama, walaupun sudah tidak banyak berperan tetap berada pada posisinya
semula, tidak dibuang, kecuali jika ginjal lama ini menimbulkan komplikasi infeksi atau
tekanan darah tinggi.

Bagaimana Cara Kerja Transplantasi Ginjal?


Prosedur bedah transplantasi ginjal biasanya membutuhkan waktu antara 3 sampai 6 jam.
Ginjal baru ditempatkan pada rongga perut bagian bawah (dekat daerah panggul) agar
terlindung oleh tulang panggul. Pembuluh nadi (arteri) dan pembuluh darah balik (vena)
dari ginjal ‘baru’ ini dihubungkan ke arteri dan vena tubuh. Dengan demikian, darah
dapat dialirkan ke ginjal sehat ini untuk disaring. Ureter (saluran kemih) dari ginjal baru
dihubungkan ke kandung kemih agar urin dapat dialirkan keluar.

Siapa saja yang dapat menjalani transplantasi ginjal?

Transplantasi ginjal tidak dapat dilakukan untuk semua kasus penyakit ginjal kronik.
Individu dengan kondisi, seperti kanker, infeksi serius, atau penyakit kardiovaskular
(pembuluh darah jantung) tidak dianjurkan untuk menerima transplantasi ginjal karena
kemungkinan terjadinya kegagalan yang cukup tinggi

Pasca Transplantasi Ginjal


Transplantasi Ginjal dinyatakan berhasil jika ginjal tersebut dapat bekerja sebagai
‘penyaring darah’ sebagaimana layaknya ginjal sehat sehingga tidak lagi memerlukan
tindakan Dialisis (cuci darah).

Mencegah Reaksi Penolakan (Rejeksi) terhadap Ginjal 'Baru'


Karena ginjal ‘baru’ ini bukan merupakan ginjal yang berasal dari tubuh pasien sendiri,
maka ada kemungkinan terjadi reaksi tubuh untuk menolak ‘benda asing’ tersebut.

Untuk mencegah terjadinya reaksi penolakan ini, pasien perlu mengonsumsi obat-obat
anti-rejeksi atau imunosupresan segera sesudah menjalani transplantasi ginjal. Obat-obat
imunosupresan bekerja dengan jalan menekan sistem imun tubuh sehingga mengurangi
risiko terjadinya reaksi penolakan tubuh terhadap ginjal cangkokan.

Efek Samping Imunosupresan


Obat imunosupresan dapat membuat sistem imun (daya tahan tubuh terhadap penyakit)
menjadi lemah sehingga mudah terkena infeksi. Efek samping lainnya dari
imunosupresan: wajah menjadi bulat, berjerawat, atau tumbuh bulu-bulu halus pada
wajah, juga dapat menyebabkan peningkatan berat badan. Beritahu dokter jika Anda
mengalami efek-efek samping seperti ini untuk segera ditangani secara tepat.

Diabetes insipidus diobati dengan mengatasi penyebabnya.

Vasopresin atau desmopresin asetat (dimodifikasi dari hormon antidiuretik) bisa


diberikan sebagai obat semprot hidung beberapa kali sehari untuk mempertahankan
pengeluaran air kemih yang normal.
Terlalu banyak mengkonsumsi obat ini bisa menyebabkan penimbunan cairan,
pembengkakan dan gangguan lainnya.

Suntikan hormon antidiuretik diberikan kepada penderita yang akan menjalani


pembedahan atau penderita yang tidak sadarkan diri.

Kadang diabetes insipidus bisa dikendalikan oleh obat-obatan yang merangsang


pembentukan hormon antidiuretik, seperti klorpropamid, karbamazepin, klofibrat dan
berbagai diuretik (tiazid).
Tetapi obat-obat ini tidak mungkin meringankan gejala secara total pada diabetes
insipidus yang berat.

Diabetes Melitus dapat diobati dengan teknologi penyuntikan Hormon Insulin secara
bertahap.

Kencing batu dapat diobati dengan pembedahan (operasi), pengobatan, atau


penembakan dengan sinar laser.
Batu ginjal dapat dihilangkan dengan gelombang suara yang berintensitas tinggi tanpa
perlu tindakan operasi.

HATI
Hepatitis B.
Saat ini ada beberapa perawatan yang dapat dilakukan untuk Hepatitis B kronis yang
dapat meningkatkan kesempatan bagi seorang penderita penyakit ini. Perawatannya
tersedia dalam bentuk antiviral seperti lamivudine dan adefovir dan modulator sistem
kebal seperti Interferon Alfa ( Uniferon)
Sirosis Hati
A) Terapi kombinasi IFN dan Ribavirin terdiri dari IFN 3 juta unit 3 x
seminggu dan RIB 1000-2000 mg perhari tergantung berat badan
(1000mg untuk berat badan kurang dari 75kg) yang diberikan
untukjangka waktu 24-48 minggu.
B) Terapi induksi Interferon yaitu interferon diberikan dengan dosis yang
lebih tinggi dari 3 juta unit setiap hari untuk 2-4 minggu yang
dilanjutkan dengan 3 juta unit 3 x seminggu selama 48 minggu
dengan atau tanpa kombinasi dengan RIB.
C) Terapi dosis interferon setiap hari.
Dasar pemberian IFN dengan dosis 3 juta atau 5 juta unit tiap hari
sampai HCV-RNA negatif di serum dan jaringan hati.
Kanker Hati
1. Terapi sekuensial krioablasi perkutan dan TACE:
Terhadap hepatoma besar yang tak dapat dioperasi, TACE
merupakan metode pilihan pertama yang tersering
dipakai. Tapi metode itu hanya bersifat paliatif, atau
menjadi &jembatan* menuju metode terapi lainnya,
karena ia sendiri tidak dapat menyembuhkan hepatoma.
Setelah ukuran kanker dalam hati mengecil, harus
diupayakan operasi pengangkatan atau krioablasi.
Krioablasi dapat merusak sel kanker secara langsung,
atau mengoklusi pembuluh darah, membuat sel kanker
kekurangan oksigen hingga mengalami nekrosis. Itu
dapat dilakukan di bawah panduan USG atau CT-scan,
menembus kulit mencapai target ablasi, sehingga luka
pada pasien sangat kecil.
Dengan melakukan kemoembolisasi lebih dahulu dan
disusul krioablasi pada hepatoma progresif hasilnya
dapat setara dengan kemoembolisasi dan operasi. Selama
periode Maret 2001 hingga Juni 2005 terdapat 565 kasus
hepatoma ke RS kami, 360 di antaranya menjalani terapi
sekuensial kemoembolisasi perkutan dan krioablasi,
dalam 6-36 bulan 71% tumor lenyap atau menyusut, angka
survival setengah tahun 90,6%, 1 tahun 70,0%, 2 tahun
52,1%, 3 tahun 41,1%.
2. Terapi sekuensial krioablasi perkutan dan injeksi
alkohol: di dalam &bola salju* yang terbentuk pada
krioablasi, penurunan temperatur tercepat dan terbesar
terjadi di bagian tengah, destruksi terhadap sel
kanker juga terhebat; sedangkan di bagian tepi
penurunan temperatur lebih lambat, suhunya juga lebih
tinggi, sehingga mungkin ada sel kanker yang selamat.
Sel kanker yang masih hidup memungkinkan terjadinya
kekambuhan. Alkohol dapat berdifusi ke dalam sel
kanker, menimbulkan denaturasi protein dan dehidrasi
sel kanker, hingga terjadi nekrosis koagulatif. Oklusi
mikrovaskular dengan pendinginan juga menimbulkan
kematian sel kanker. Maka setelah krioablasi membasmi
sebagian besar sel kanker, ke sekeliling tumor
disuntikkan alkohol absolut dapat membasmi jaringan
kanker yang tertinggal dan mencegah kekambuhan. Kami
selama periode Maret 2001 hingga Januari 2003 telah
melakukan terapi sekuensial krioablasi perkutan dan
injeksi alkohol absolut atas 65 kasus hepatoma. Pada
36 kasus dengan diameter tumor lebih besar dari 6cm,
1-2 minggu setelah krioablasi diberikan terapi injeksi
alkohol absolut. Hasilnya dalam 21 bulan, 50,8% kanker
lenyap, 32,3% meskipun tumor masih ada tapi pasien
tetap hidup, 78,0% sudah bertahan hidup 2 tahun lebih.
Di antara kasus dengan kadar AFP tinggi sebelum
terapi, 91,3% setelah terapi turun menjadi normal atau
mendekati kadar normal. Pada 17 kasus terjadi
kekambuhan dalam hati, tapi hanya 3 kasus yang
kekambuhan terjadi di lokasi krioablasi semula. Hasil
ini jelas berkaitan dengan terapi injeksi alkohol.
Pencangkokan hati secara teoritis adalah terapi paling
ideal untuk hepatoma. Pada hepatoma kecil, khususnya
yang disertai sirosis hati dianjurkan untuk cangkok
hati. Di dunia, ada satu pasien hepatoma pasca cangkok
hati yang bertahan hidup terlama, praoperasi
didiagnosis sebagai atresia koledokus kongenital,
sewaktu dioperasi ditemukan sebagai kanker duktus
empedu intrahepatik, setelah dilakukan cangkok hati
hingga kini telah hidup 32 tahun, ia telah menikah,
hidup berkeluarga bahagia. Tidak sedikit pakar
berpendapat, untuk terapi hepatoma kecil cangkok hati
lebih baik dari lobektomi, pasien cangkok hati yang
dapat bertahan hidup 3 tahun mencapai 83%, 5 tahun
35,6%. Dewasa ini kasus hepatoma kecil disertai
sirosis terapi pilihan pertama adalah cangkok hati,
alasannya adalah: hepatoma yang timbul di atas sirosis
sering kali bersifat multifokal, bila direseksi satu,
di tempat lain akan timbul kanker lagi, sedangkan
sirosis bersifat progresif, bila hanya dilakukan
lobektomi, tidak mungkin dapat menyembuhkan sirosis,
bahkan sering kali hipertensi portal dipersulit dengan
perdarahan hebat dan kegagalan fungsi hati, risiko ini
jauh melebihi kekambuhan pasca cangkok hati.
Hepatoma besar atau stadium lanjut apakah sesuai untuk
cangkok hati? Pendapat dewasa ini masih kontroversial.
Pada umumnya cangkok hati dipandang sebagai kartu as
untuk terapi berbagai kelainan hati. Dengan kata lain,
itu adalah tindakan terakhir bila cara lain tidak
efektif. Di dunia, dari 10 kasus cangkok hati, 8 kasus
adalah penderita berbagai jenis tumor ganas hati.
Dengan berkembangnya cangkok hati, ditemukan banyak
kekambuhan pada pasca cangkok hati pada pasien
hepatoma stadium lanjut, 60% meninggal dalam setengah
tahun pasca cangkok hati. Dari 4 sentrum cangkok hati
di dunia (Pittsburg di Amerika Serikat, Cambridge di
Inggris, Villejuif di Prancis dan Gronigen di Belanda)
total terdapat 130 kasus hepatoma menerima cangkok
hati, pasca pencangkokan hanya 20% yang bertahan hidup
1 tahun. Jadi, pengorbanan begitu banyak tenaga dan
materihanya mendapatkan angka survival 1 tahun 20%,
belum lagi pasca cangkok memerlukan terapi
imunosupresi jangka panjang, maka tampaknya kurang
layak. Tapi ada juga pendapat, pasca cangkok hati
jangka pendek kondisi pasien baik, mereka dapat makan
dan minum seperti orang normal, hidup mandiri,
kebanyakan pasien memiliki masa survival lebih panjang
dibandingkan pasien yang tidak dilakukan pencangkokan,
maka dianggap bila kondisinya mungkin, masih layak
dilakukan cangkok hati.
KULIT
Kanker Kulit.
1. Sel Basal
Cara pengobatannya bedah beku, bedah listrik, laser, fotodinamik serta dengan obat-
obatan baik yang dioleskan maupun disuntikkan (kemoterapi).
2. Sel Skuamosa
Pengobatannya cenderun sama dgn sel basal.
3. Melanoma Maligna
Tindakan yang dilakukan pada penderita kanker jenis ini adalah pengangkatan secara
komplit jaringan kanker dengan jalan pembedahan, apabila telah diketahui terjadi
penyebaran maka dibutuhkan operasi lanjutan untuk mengangkat jaringan di sekitarnya.
Jika sel kanker ditemukan menyebar ke kelenjar limfa, maka mau tidak mau kelenjarnya
juga diangkat.
Jerawat.
Dapat dihilangkan dengan teknologi:

The StarLux ® 500 adalah dipasang dengan LuxV dual band handpiece. This handpiece,
also used for the treatment of pigmented lesions, emits powerful pulsed light at a
wavelength that is preferentially absorbed by a naturally occurring chemical in the
afflicted skin known as porphyrins. Handpiece ini, juga digunakan untuk pengobatan lesi
pigmentasi, berdenyut kuat memancarkan cahaya pada panjang gelombang yang diserap
oleh preferentially alami kimia dalam kulit yang menderita dikenal sebagai porphyrins.
Propionibacterium acnes (P. Acnes), the name of the bacteria related to acne, produces
porphyrins to assist in its metabolism. Propionibacterium acnes (P. acnes), nama yang
terkait dengan bakteri jerawat, menghasilkan porphyrins untuk membantu dalam
metabolisme. However, when exposed to a specific wavelength of light, these porphyrins
change and have a negative impact on the metabolism, thereby destroying it. Namun,
ketika dihadapkan pada panjang gelombang cahaya tertentu, perubahan dan porphyrins
ini memiliki dampak negatif pada metabolisme, sehingga merusaknya