Anda di halaman 1dari 5

TUGAS ETIKA DAN

PROFESI

Khairul Umam / G.211.07.0021


Yokhanan / G.211.07.0055
Rendy Ardian S. / G.211.07.0082
Bambang Irawan / G.211.07.0086
Taqwa Adi P. / G.211.07.0110

FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS SEMARANG
2010
Polri: Susno Duadji Melanggar Etika Profesi
Zaky Muzakir

07/01/2010 19:25
Liputan6.com, Jakarta: Juru Bicara Polri, Inspektur
Jenderal Polisi Edward Aritonang mengatakan tindakan
Komisaris Jend. Pol Susno Duadji menjadi saksi
persidangan Antasari Azhar, termasuk kualifikasi
pelanggaran kode etik dan profesi. Edward menjelaskan,
berdasarkan aturan yang berlaku di kepolisian, setiap
anggota kepolisian harus mentaati aturan yang berlaku
tanpa kecuali termasuk menjaga kehormatan diri sendiri,
pemerintah, Polri maupun negara. "Saya sampaikan
tindakan (Susno) itu termasuk kualifikasi melanggar
aturan yang berlaku," kata Edward di Gedung Divisi
Humas Polri, Jakarta Selatan, Kamis (7/1).

Polri juga sempat mempelajari kesaksian Susno di persidangan dan mencoba mencari informasi termasuk
menghubungi perwira tinggi Polri itu. Setelah dicek ternyata Badan Reserse Kriminal Polri tidak pernah menerima
surat panggilan. Polri juga secara institusi tidak pernah dikonfirmasi pengadilan untuk meminta Susno menjadi
saksi. "Dari rangkaian itu kalau dikaitkan dengan aturan yang berlaku maka kegiatan Susno menyalahi aturan yang
berlaku," ungkap Edward seperti dikutip ANTARA.

Edward menegaskan Polri mengambil sikap dan tindakan tegas untuk menegakkan aturan. Terkait dengan jenis
tindakannya, Edward mengatakan tergantung hasil pemeriksaan. Edward meminta masyarakat memberikan
kepercayaan kepada Polri menyelesaikan masalah ini sesuai mekanisme organisasi. Kemungkinan tindakan yang
dimaksud termasuk penurunan pangkat (demosi), pemberhentian dengan hormat (PDH), dan pemberhentian dengan
tidak hormat (PDTH).

Susno menjadi saksi pada persidangan dugaan pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin
Zulkarnaen dengan terdakwa Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jaksel. Tindakan Susno langsung menyulut
kontroversi. Selain berpakaian seragam Polri dengan kepangkatan bintang tiga, Susno juga hadir meringankan
terdakwa Antasari. Polri menyerahkan kejadian tersebut ke Divisi Propam Mabes Polri

Sumber : http://berita.liputan6.com/politik/201001/257877/Polri.Susno.Duadji.Melanggar.Etika.Profesi

Komentar :

Berdasarkan pernyataan yang dikemukakan oleh Juru Bicara POLRI, Inspektur Jenderal Polisi Edward
Aritonang, bahwa aturan yang berlaku di kepolisian, setiap anggota kepolisian harus mentaati aturan yang
berlaku tanpa kecuali termasuk menjaga kehormatan diri sendiri, pemerintah, Polri maupun negara. Menurut saya
benar, tetapi kita tidak boleh mengesampingkan hukum, karena negara kita adalah negara hukum, siapapun yang
telah atau berbuat tidak sesuai hukum harus ditindak secara tegas, tidak memandang entah itu dari institusi polri
atau pemerintah.
Pemberian Obat Langsung Langgar Etika Profesi Kedokteran
27 Feb 2007

Semarang (ANTARA News) – Praktik dokter yang sekaligus


langsung memberikan obat kepada pasien (self dispensing)
merupakan pelanggaran kode etik profesi kedokteran,
menyalahi disiplin, dan bila ada yang melaporkan dapat
dikenai tuduhan melanggar tata cara pengadaan obat, kata
seorang praktisi hukum kedokteran.

“Self dispensing hanya dibenarkan jika tidak ada sarana,


seperti apotek, di
sekitar tempat praktik, setidaknya jarak praktik dokter dengan
apotek minimal 10 kilometer,” ujar staf pengajar Forensik
dan Hukum Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro (Undip) Semarang, dr. Gatot Suharto, S.H., Dipl.
For.Med., di Semarang, Senin.

Secara khusus, menurut dia, Kode Etik Kedokteran diatur dalam UU Praktik
Kedokteran Nomor 29 Tahun 2004, dan secara umum diatur dalam UU Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992.

“Pemberian terapi obat langsung dari dokter kepada pasien diperbolehkan, jika menghadapi situasi darurat dan
hanya untuk dosis awal,” ujarnya.

Menurut dia, seorang dokter dapat dilaporkan oleh penyalur obat, karena
menyalahi tata cara disiplin obat di Indonesia, mengingat yang diberi izin
menyalurkan obat yang diresepkan adalah apotek.

“Ini merupakan pelanggaran etika dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sudah sering memberikan peringatan, tapi
terkadang praktik self dispensing memang tidak mudah dibuktikan,” katanya menambahkan. (*)

Sumber : http://www.blogdokter.net/2007/02/27/pemberian-obat-langsung-langgar-etika-profesi-kedokteran/

Komentar :

Pemberian obat secara langsung hendaknya kita melihat langsung situasi yang ada saat itu, peranan Dokterlah
yang dapat membaca situasi yang ada. IDI tidaklah bisa menghakimi seorang Dokter yang melakukan Self
Dispensing tanpa adanya penelitian lebih lanjut terhadap pasien dan jenis penyakit yang dideritanya.
Kasus Ariel-Luna dan Etika Wartawan
Oleh Andi Fadli Jurnalis TV/Anggota IFJ-AJISenin, 28 Juni 2010

Terkadang, jurnalis akan melakukan segala cara apapun demi


mendapatkan suatu perkembangan terbaru, apalagi sampai
eksklusif. Karena menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi
seorang wartawan apabila dapat melakukan peliputan beda dari
yang lain. Namun demikian, harus tetap pada standar etik.

Dewan Pers menyalahkan wartawan dalam dua peristiwa


pengrusakan kamera kontributor salah satu tv swasta dan
terlindasnya kaki wartawati sebuah tabloid. "Dalam beberapa
stasiun tv dapat dilihat bahwa dalam proses peliputan terjadi
pelanggaran kode etik dan prinsip perlindungan privacy,'' kata
Bagir Manan, Ketua Dewan Pers akhir pekan lalu seperti di
lansir beberapa koran.

Dalam penyelidikan Dewan Pers, didapati sejumlah jurnalis dan kameramen melakukan tindakan mendorong,
memegang bagian tubuh, menghalangi narasumber masuk ke dalam mobil pribadi. Bahkan memaksa sumber untuk
bicara dan keluarkan kata makian ketika sumber berita tetap tidak mau bisa bicara.

Apa yang terjadi dengan teman-teman jurnalis? Ada yang harus menjadi telaah kita semua, khususnya bagi teman-
teman yang setiap hari melakukan kerja jurnalistik. Bahwa sebenarnya, terkadang sadar atau tidak, langsung atau
tidak langsung, beberapa rekan wartawan dalam melakukan peliputan tidak sesuai etika dan standar kode etik.

Setidaknya, itulaah gambaran penulis mencermati, saat Dewan Pers melakukan penyelidikan dan mengeluarkan
statement yang mestinya menjadi kritik dan masukan tajam kepada semua awak media. Mengejar berita dengan
semangat yang tinggi, apalagi bersaing mendapatkan isu dengan cepat agar tersaji dan di baca oleh publik memang
sebuah pekerjaan dan tugas mulia. Namun saran bagi kita semua, memburu berita untuk disampaikan kepada
masyarakat, bukan berarti harus menabrak rambu atau aturan kode etik jurnalistik yang telah menjadi kesepakatan
bersama. Status wartawan yang di sandang, bukan berarti menjadi seenak keinginan kita. Padahal ada hak-hak
seseorang mesti di hormati, seperti no coment dan privacy (baca kode etik).

Para wartawan dan pekerja media pada umumnya, tidaklah salah jika ingin melaporkan suatu kejadian. Apalagi
informasi atau kejadian tersebut memang sangat di tunggu oleh publik (hak warga untuk mendapatkan informasi).
Masyarakat berhak menunggu atas informasi yang memang layak untuk di publis. Mulai dari berita bentrokan,
kerusuhan pasca pilkada sampai pada kasus heboh film dugaan Ariel dan Luna/ Cut Tari.

Komentar :

Terkadang, jurnalis akan melakukan segala cara apapun demi mendapatkan suatu perkembangan terbaru, apalagi
sampai eksklusif. Karena menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang wartawan apabila dapat melakukan
peliputan beda dari yang lain. Namun demikian, sekali lagi harus tetap pada standar etik. Pekerjaan jurnalis
adalah sebuah job profesional... Dan profesional itulah yang harus membedakan dengan profesi lain!

Sumber : http://www.tribun-timur.com/read/artikel/113931/sitemap.html
15 Polisi Kasus Salah Tangkap Jalani Sidang Etik Profesi

Selasa, 23 Desember 2008

TEMPO Interaktif, Surabaya: Sebanyak 15 polisi dari Resor Jombang yang diduga melakukan salah tangkap
terhadap Kemat Cs. mulai menjalani sidang etik dan profesi. Mereka disidang di markas besar kepolisian di Jakarta
dan Kepolisian Wilayah Bojonegoro.

"Saat ini proses persidangan etik dan profesi sudah berjalan," kata Wakil Ketua Kepolisian Jawa Timur, Brigjen
Polisi Sugiyono, pada Selasa (23/12). "Kalau terbukti bersalah, pasti mereka akan diberikan sanksi sesuai dengan
kesalahan masing-masing."

Menurut Sugiyono, satu dari 15 itu diperiksa di markas besar kepolisian di Jakarta yakni bekas kepala Kepolisian
Resor Jombang, Ajun Komisaris Besar Dwi Setiadi. Sedang sisanya di Bojonegoro.

Terpisahkan bekas kepala kepolisian Jombang dengan rekan-rekannya karena alasan teknis semata. "Mantan
Kapolresnya-kan sekarang tugas di Mabes, jadi langsung Mabes yang menyidang," kata Sugiyono. "Sedangkan
lainnya disidang di Ankum (atasan yang berhak menghukum) dalam hal ini Polwil Bojonegoro."

15 polisi yang diperiksa itu adalah:

-- Dari Kepolisian Resor Jombang:

1. Ajun Komisaris Besar Dwi Setiadi (bekas kepala)


2. Ajun Komisaris Irfan (bekas kepala Satuan Reserse Kriminal)
3. Brigadir Kepala Sian (penyidik)
4. Ajun Inspektur Polisi Satu Jaka Kartika (penyidik)
5. Brigadir Kepala Niswan (penyidik)

-- Dari Kepolisian Sektor Bandar Kedungmulyo

1. Ajun Komisaris Anang Nurwahyudi (bekas kepala)


2. Inspektur Polisi Satu Ashari (Kepala Unit)
3. Brigadir M. Faisal (anggota)
4. Brigadir Satu Santoso (anggota)
5. Brigadir Satu Alifin Sasono (anggota)
6. Ajun Inspektur Polisi Satu Abdul Wahid (anggota)
7. Ajun Inspektur Polisi Satu Bambang Hermawan (anggota)
8. Brigadir Kepala Jaimudin (anggota)
9. Brigadir Kepala Bambang Sucipto (anggota)

-- Dari Kepolisian Resor Mojokerto

1. Ajun Inspektur Satu Polisi Muhammad Zen Maarif

Sumber : http://ramadan.tempointeraktif.com/hg/nusa/2008/12/23/brk,20081223-152272,id.html

Komentar :

15 personil Polisi yang terlibat salah penangkapan hendaknya harus ditindak secara tegas, mengingat masyarakat
tidak bersalahlah yang menjadi korban, dengan penindakan secara tegas ini hendaknya bisa menjadi pelajaran
bagi personil untuk bisa bertindak secara benar.