Anda di halaman 1dari 16

c

Ê Ê
   




 Ê  
Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit
akan tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek
fisik, emosi, sosial dan spiritual. Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat
diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan
sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947).
Sedangkan menurut UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa:
^     
    
    
            . Dalam pengertian ini
maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-
unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian
integral kesehatan.Dalam pengertian yang paling luas sehat merupakan suatu
keadaan yang dinamis dimana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-
perubahan lingkungan internal (psikologis, intelektual, spiritual dan penyakit) dan
eksternal (lingkungan fisik, sosial, dan ekonomi) dalam mempertahankan
kesehatannya.
Pada awal peradaban manusia sebenarnya keselamatan kerja sudah
menjadi pemikiran bagi manusia saat itu. Kecelakaan yang mereka alami disaat
bekerja baik itu cidera ataupun luka sering membuat mereka tidak bisa
melakukan kegiatan. Dengan daya pikir yang mereka miliki mereka berusaha
untuk mencegah terjadinya kecelakaan, seperti membuat sepatu / alas kaki dari
kayu dan sebagainya.
Sebenarnya perkembangan dari sejarah Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3) sendiri sudah dimulai Sekitar tahun 1700 sebelum masehi dimana Raja
Hamurabi dari kerajaan Babylonia telah membuat aturan dengan kitab Undang-
undangnya yang menyatakan bahwa :
0

                  


                     
              
Dari data BPS tahun 2005, tercatat jumlah penduduk usia kerja (15-54 tahun)
berjumlah 22.214.459 Jiwa atau 10, 2 % dari jumlah penduduk. Dengan rincian
tempat bekerja pada sektor perdagangan (26,1%), sektor Industri (18,5 %), Jasa
(17%) , angkutan (13,3%), pertanian (11%), bangunan (9,7%), sektor listrik,
minyak dan gas (0,5%). Dengan demikian sasaran kesehatan kerja sangat
banyak dan harus ditangani secara serius. Persentase 10,2 % penduduk usia
kerja tersebut sangat menentukan kondisi tingkat sosial ekonomi keluarganya,
masyarakat bangsa dan negara.
Masalah kesehatan kerja data-data yang juga harus ditangani secara serius
adalah pekerja anak pada usia 10-17 tahun. Data Sakernas tahun 2004 pekerja
anak usia 10-17 tahun mencapai 2.865.073 jiwa. Tersebar di sektor pertanian,
kehutanan, perburuan dan perikanan (55,1%), pertambangan (1,3%), industri
pengolahan (13,2%), listrik, gas dan air (0,04%), bangunan (1,9%),
perdagangan besar, eceran rumah makan dan hotel (17,1%), angkutan,
pergudangan dan komunikasi (2,4%), keuangan, asuransi dan usaha persewaan
(0.08%) serta jasa kemasyarakatan (8,2%). Penelitian WHO pada pekerja
tentang penyakit kerja di 5 benua tahun 1999, memperlihatkan bahwa penyakit
gangguan otot rangka (Musculo Skeletal Disease) pada urutan pertama 48%,
kemudian gangguan jiwa 10-30%, penyakit paru obstruksi kronis 11%, penyakit
kulit (Dermatotisis) akibat kerja 10%, gangguan pendengaran 9%, keracunan
pestisida 3%, cedera dan lain-lain. Organisasi Kesehatan Dunia tahun 2002
menempatkan resiko kerja pada urutan ke sepuluh penyebab terjadinya penyakit
dan kematian. Dilaporkan bahwa faktor resiko kerja memberikan kontribusi pada
penyakit berikut : 37% penyakit tulang belakang, 16% kehilangan pendengaran,
13% penyakit paru obstruksi kronis, 11% asma, 10% kecelakaan, 9% kanker
paru dan 2% Leukemia. Kematian yang juga disebabkan kecelakaan akibat kerja
berjumlah 310.000 tiap tahun dan hampir 146.000 kematian kemungkinan
disebabkan oleh hubungan kerja dengan karsinogen.
G

International Labour Organization (ILO) tahun 2002 melaporkan bahwa


setiap tahun 2 juta orang meninggal dan terjadi 160 juta kasus PAK / PHAK serta
270 juta kasus kecelakaan akibat kerja. Kejadian ini berakibat dunia mengalami
kerugian setara dengan 1, 25 trilun dolar atau 4% GNP dunia. Dari 27 negara
yang dipantau ILO (2001), data kematian pekerja di Indonesia berada pada
posisi 26.
Data Jamsostek (2003) menunjukkan bahwa setiap hari kerja terjadi 7
kematian pekerja dari 400 kasus kecelakaan akibat kerja dengan 9,83% (10.393
kasus) mengalami cacat dan terpaksa tidak mampu bekerja lagi. Data lain
menyebutkan, hingga triwulan pertama 2004, tercatat 20.937 kasus kecelakaan
kerja, sehingga setiap hari terjadi 49 kasus kecelakaan kerja dengan lima korban
meninggal per hari. Hingga Agustus 2004 jumlah tersebut meningkat menjadi
86.880 kasus . Angka ini hanya merupakan angka yang dilaporkan sedangkan
angka yang sesungguhnya belum diketahui secara pasti. Hal ini seperti
fenomena puncak gunung es.
Selain itu masih banyak kasus penyakit dan kecelakaan akibat kerja
lainnya yang dialami oleh para pekerja di Indonesia, yang diakibatkan
rendahnya kesadaran dan pengetahuan sebagian masyarakat kita tentang
pentingnya penggunaan APD (Alat Pelindung Diri). m    merupakan
industri yang rentan terhadap terjadinya kasus-kasus yang menyalahgunakan
peraturan dan kesehatan kerja, hal ini disebabkan karena    
biasanya luput dari pengawasan pemerintah padahal ini akan sangat berbahaya
karena sebagian besar     didirikan bersamaan dengan tempat
tinggal para pekerja sehingga apabila tidak terjaga. Karena itu dalam laporan ini
saya ingin memberikan hasil identifikasi terhadap suatu     meubel,
sebagai upaya preventif mencegah PAK.


    
Dari latar belakang, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana keadaan umum industri meubel dilihat dari segi peralatan serta
tenaga kerjanya (SDM) ?
½

2. Bagaimana kondisi tempat indutri meubel ?


3. Apa saja potensi bahaya yang terdapat pada indutri meubel ?
4. Bagaimana program K3 yang tepat bagi industry meubel?
5. Bagaimana analisis efektivitas dan efisiensi dari masing-masing program K3
di industry meubel ?

 
Setiap kegiatan memiliki tujuan tertentu, demikian pula halnya dengan
penyusunan makalah ini yang dimaksudkan untuk memberikan arahan dan
ruang lingkup kepada penyusun dalam melaksanakan kegiatannya sehingga
dapat menuntun arah dari kegiatan tersebut. Maka penyusun mengharapkan
penyusunan makalah kali ini bertujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan
pada mata kuliah Program K3, menjelaskan bagaimana kondisi industri meubel
dari segi peralatan, tenaga kerja, tempat, potensi bahaya dan program yang
tepat bagi K3 di industri ini serta efektivitas dan efisiensi dari masing-masing
program.
-

Ê Ê
Ê   



 


! ""  "
Industri meubel terletak di Jalan M. Said No. 15 RT. 12 RW. 04, Kelurahan
Lok Bahu, Samarinda. Industri ini telah berdiri sejak tahun 2005. Pemilik industri
ini adalah Bapak H. Muhammad Yani. Dari hasil observasi yang dilakukan pada
hari Minggu, tanggal 3 Oktober 2010, di dapatkan sejumlah informasi dari
pemilik industri meubel maupun para karyawan. Produk yang dihasilkan meubel
ini antara lain lemari, meja, kursi, rak televisi dan sebagainya.
Bahan baku yang dipergunakan dalam pembuatan meubel kayu oleh
perajin sektor informal tersebut adalah kayu. Ada dua jenis bentuk kayu yang
bisa digunakan yaitu kayu balok atau papan dan kayu lapis. Kebanyakan perajin
tersebut menggunakan kayu balok dan papan yang umumnya berasal dari jenis
kayu keras, Jenis kayu keras yang digunakan untuk pembuatan meubel itu
jarang yang mengalami pengawetan secara kimiawi, melainkan pada umumnya
diawetkan secara alamiah melalui bentuk pengeriangan, baik ketika masih
dalam bentuk gelondongan maupun dalam bentuk balok dan papan. Kayu balok
biasanya terdiri dari kayu keras semata dan digunakan sebagai rangka utama
suatu meubel, sedangkan kayu papan sering merupakan kayu gubal atau kayu
keras dan dipakai sebagai dinding dan alas dari suatu meubel.
Untuk kayu lapis, walaupun penggunaannya terbatas, namun cukup populer
dikalangan industri meubel. Kayu lapis merupakan serat kayu lunak ataupun
kayu keras yang dengan melalui suatu proses pemapatan, dijadikan kayu lapis
dalam bentuk papan maupun sebagai finir. Kayu lapis papan banyak didisain
menjadi meubel tanpa rangka utama, dan juga digunakan sebagai dinding dan
alas meubel berangka kayu balok. Sedangkan kayu lapis finir dibuat untuk
tujuan dekoratif, sehingga penampilannya selalu menarik. kayu lapis tersebut
semuanya mengalami pengawetan kimiawi ketika dalam proses pembuatan.
r

Jenis kayu (balok dan papan) yang biasa digunakan untuk pembuatan meubel
tersebut adalah kayu jati, durian, mangga, sonokeling kenari, rasamala dan lain-
lain sesuai dengan kayu meubel yang dikehendaki. Kayu tersebut umumnya
diperoleh dari pedagang kayu yang banyak terdapat disekitar industri itu.
Pada dasarnya, pembuatan meubel dari kayu melalui lima proses utama,
yaitu proses penggergajian kayu, penyiapan bahan baku. Proses penyiapan
komponen, proses perakitan dan pembentukkan (bending) dan proses akhir
(finishing) kelima proses tersebut dapat dijabarkan dengan langkah-langkah
sebagai berikut :
1. Penggergajian Kayu
Untuk industri besar, bahan baku kayu tersedia dalam bentuk kayu
gelondongan sehingga masih perlu mengalami penggergajian agar
ukurannya menjadi lebih kecil seperti balok atau papan. Pada umumnya
pembuatan balok dan papan ini dikerjakan dengan menggunakan gergaji
secara mekanis atau dengan gergaji besar secara manual. Proses ini
menimbulkan debu yang sangat banyak dan juga menimbulkan suara bising.
Tetapi pada pembuatan meubel di industri informal, bahan baku kayu itu
pada umumnya sudah didalam bentuk papan dan balok yang ukurannya
kadang-kadang dipilih yang sudah disesuaikan dengan rencana meubel
yang akan dibuat, sehingga dapat langsung dibuat bahan dasar rakitan
meubel.
2. Penyiapan bahan baku
Papan dan balok kayu yang sudah ada digergaji dan dipotong menurut
ukuran komponen meubel yang hendak dibuat. Proses ini dilakukan dengan
menggunakan gergaji baik dalam bentuk manual maupun mekanis, kampak,
parang, dan lain-lain. Proses ini menghasilkan banyak debu terutama ukuran
yang besar karena menggunakan mata, gergaji atau lainnya yang relatif
kasar serta suara bising disamping itu, pada proses ini banyak pula
potongan-potongan kayu kecil yang tak dapat dimanfaatkan lagi untuk
pembuatan meubel.
Ô

3. Penyiapan komponen
Kayu yang sudah dipotong menjadi ukuran dasar bagian meubel .
kemudian dibentuk menjadi komponen-komponen meubel sesuai yang
diinginkan dengan cara memotong. Meraut , mengamplas, melobang,
mengukir, dan lain-lainnya sehingga tampak kalau kayu yang dikerjakan itu
akan menjadi komponen meubel yang jika di rakit nantinya akan membentuk
meubel yang indah dan menarik. Dalam tahap ini akan terbentuk banyak
debu dan potongan kayu yang umumnya berukuran lebih kecil dan lebih
halus karena alat yang digunakan juga lebih kecil , halus dan tajam.
4. Perakitan dan Pembentukan
Komponen meubel yang sudah jadi, dipasang dan dihubungkan satu
sama lain hingga menjadi meubel. Pemasangan ini dilakukan dengan
menggunakan baut, sekrup, lem, paku ataupun pasak kayu yang kecil, dan
lain-lain cara untuk merekatkan hubungan antara komponen. Perakitan ini
dapat dibedakan atas dua macam, yaitu perakitan permanen dan perakitan
sementara. Pada perakitan permanen, komponen meubel itu dipasang
menjadi meubel secara tetap dan umumnya menggunakan paku atau pasak
kayu kecil. Biasanya komponen yang dirakit permanen itu akan dicat setelah
perakitan karena pengecatan sebelum perakitan dapat merusak cat itu pada
saat perakitan permanen. sedangkan pada perakitan sementara komponen
dirakit untuk pemasangan sementara dan akan dibongkar lagi untuk
kepentingan pengepakan (biasanya proses ini hanya pada industri meubel
formal). Hubungan antar komponen itu akan menggunakan baut dan sekrup.
Maksud perakitan sementara ini adalah untuk melihat kerapihan hubungan
antar komponen sehingga jika terjual misalnya, dan pembelinya memasang
komponen menjadi meubel, komponen-komponen itu akan terpasang
menjadi meubel sesuai dengan bentuk yang diingatkan sebelumnya.
Demikian juga jika sewaktu-waktu meubel tersebut hendak dilepas menjadi
komponen-komponen. Biasanya, untuk pemasangan sementara ini,
komponen itu sudah dicat sebelumnya. Pada proses perakitan ini, tak
‰

banyak debu yang dapat terbentuk. Kalaupun ada, hal tersebut terutama
berasal dari perautan yang mungkin diperlukan untuk menyesuaikan
hubungan antar komponen. Namun yang relatif sering terjadi adalah
kegiatan pengetokan yang diperlukan untuk memberi tekanan agar
hubungan antar komponen dapat masuk dan melekat lebih erat,
5. Penyelesaian Akhir
Kegiatan yang dilakukan pada penyelesaian akhir ini meliputi :
a. Pengamplasan / penghalusan permukaan meubel
b. Pendempulan lubang dan sambungan
c. Pemutihan
d. Pemelituran
e. Pengecatan
f. Pengkilapan
Pada bagian ini banyak menimbulkan debu kayu dan bahan kimia serta
pewarna yang banyak menguap dan berterbangan diudara terutama pada
penyemprotan. Komponen dan atau meubel yang telah di cat akhir tersebut
akan dikeringkan. Proses pengeringan dilakukan dengan matahari karena
tidak memiliki alat dan ruangan tersendiri. Proses ini sangat penting karena
pengecatan dan pengeringan langsung berpengaruh terhadap
wajah/permukaan meubel yang sangat penting dalam menarik minat
pembeli. Pengeringan dan pengecatan yang dilakukan diruang khusus akan
memberi perlindungan dari gangguan debu dan asap yang dapat
memburamkan hasil pengecatan.


! ""  
Kondisi peralatan yang terdapat pada industri meubel ini dapat dikatakan
cukup baik. Peralatan yang banyak digunakan pada pembuatan meubel kayu
adalah dalam kegiatan penggergajian/ pemotongan, pengetaman, pemotongan
bentuk, pelubangan, pengukiran, pengaluran, penyambungan, pengamplasan
dan pengecatan. Adapun mesin dan peralatan yang digunakan adalah sebagai
berikut :
¦

1. Mesin Ketam
2. Mesin pembentuk kayu ( Band Saw )
3. Drilling
4. Screw driver/obeng tangan
5. Compressor
6. Jig saw
7. Hack Saw
8. Tatah kuku/datar
9. Sprayer
10. Palu besi/ kayu
11. Kuas dan lain-lain.


! ""   #$
Terdapat 10 tenaga kerja yang bekerja di industri meubel ini. Dari hasil
wawancara, umumnya tenaga kerja berasal dari luar daerah seperti
Kalimantan Selatan dan Jawa Tengah. Mereka merantau ke Samarinda
karena mencari pekerjaan yang layak. Dari segi pendidikan, tenaga kerja
industri meubel dapat digolongkan menengah ke bawah. Upah yang mereka
dapatkan berdasarkan barang yang mereka hasilkan.
Dari hasil pengamatan, para tenaga kerja tidak memakai Alat Pelindung Diri
(APD) saat bekerja. Sikap kerja pun, tidak ergonomis. Terkadang pekerja ada
yang tidak memakai baju saat bekerja karena mengeluhkan suhu yang panas.
Waktu kerja pada industri ini yaitu mulai pukul 07.00 hingga pukul 18.00.

 ! ""% 
Kondisi industri meubel terletak di pinggir Jalan M. Said, dimana polusi
udara dari kendaraan di jalan dapat mencemari daerah sekitar. Tempat bekerja
didirikan di bangunan yang terbuat dari kayu dan sangat terbuka sehingga
sirkulasi udara di dalamnya dapat berjalan dengan baik, sinar matahari pun
dapat langsung menembus karena tidak ada yang pohon besar ataupun
c

bangunan, hal ini dapat memberikan dampak yang baik apabila pagi hari karena
pekerja dapat menerima matahari pagi yang sehat, tetapi suasana akan terasa
lebih panas pada siang hari karena teriknya matahari langsung menyinari.
Selain itu tidak ada plafon di tempat ini.
Pencahayaan pada tempat kerja, dapat digolongkan cukup baik. Karena
sin ar matahari yang langsung masuk ke area kerja. Terlihat pada tempat kerja
dengan lantai yang terbuat dari semen dan terdapat sisa-sisa potongan kayu
dan hamburan serbuk kayu hasil produksi, sehingga tempat kerja tidak dapat
dikatakan bersih. Kondisi tempat peralatan dan tempat bekerja tidak ergonomis,
sehingga mempengaruhi sikap tenaga kerja. Potensi bising di tempat ini berasal
dari mesin atau alat yang digunakan saat proses produksi.

 ! "Ê  & 
1. Penggergajian
a. Hamburan debu kayu yang terjadi akibat proses penggergajian dapat
masuk kedalam tubuh melalui saluran pernafasan dan dapat pula
menyebabkan alergi terhadap kulit. Dampak negatif dari debu terhadap
kesehatan dapat berupa iritasi dan alergi terhadap saluran pernafasan
dan alergi terhadap kulit serta bising.
b. Kegiatan penggergajian, pemotongan, pelubangan, dan penyambungan.
Kegiatan ini umumnya akan menimbulkan kebisingan yang dapat
menyebabkan gangguan aktivitas, konsentrasi dan pendengaran,
gangguan pendengaran yang timbul pada awalnya masih bersifat
sementara, tetapi pada pemajanan tingkat kebisingan tertentu misalnya
lebih dari 85 dB (A) dan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan,
kerusakan pendengaran yang menetap sehingga menyebabkan tuli yang
tidak diobati dari pekerja yang bersangkutan.
c. Posisi kerja yang tidak benar / tidak ergonomis (seperti jongkok,
membungkuk akan menimbulkan nyeri otot dan punggung).
cc

2. Penyiapan bahan baku / penyiapan komponen


a. Debu dan partikel kecil kayu banyak terjadi pada kegiatan ini yaitu pada
proses pemotongan kayu sebagai persiapan komponen meubel, juga
pada proses pembentukkan kayu. Debu kayu ini dapat masuk ke dalam
tubuh melalui saluran pernafasan, serta dapat pula menyebabkan iritasi
dan alergi terhadap saluran pernafasan dan kulit.
b. Kebisingan yang ditimbulkan pada proses ini dapat menyebabkan
gangguan aktivitas konsentrasi dan pendengarn baik sementara maupun
tetap.
c. Sikap dan posisi kerja yang tidak benar/tidak ergonomis (seperti jongkok,
membungkuk) akan menimbulkan nyeri otot dan punggung serta
gangguan fungsi dan bentuk otot.
d. Cara kerja kurang hati-hati dapat menimbulkan luka terpukul, tersayat
atau tertusuk.
3. Penyerutan dan Pengamplasan
a. Debu yang terjadi akibat proses penyerutan dan pengamplasan dapat
masuk kedalam tubuh melalui saluran pernafasan serta dapat
menyebabkan alergi pada kulit.
b. Cara kerja yang kurang hati-hati akan menimbulkan luka tersayat ,
tertusuk , dan terpukul.
4. Perakitan
a. Suara bising berupa ketukan dan suara nyaring lainnya dapat
mengganggu konsentrasi, aktivitas dan gangguan pendengaran. Akibat
cara kerja yang kurang konsentrasi dapat menimbulkan kecelakaan/
bahaya seperti tertusuk paku, sekrup dan lain-lainnya .
b. Posisi kerja yang tidak benar / tidak ergonomis ( seperti jongkok,
membungkuk ) akan menimbulkan nyeri otot dan punggung.
5. Pemutihan / Pengecatan
a. Uap cat / zat kimia seperti H2O2,              ,
  serta jenis cat lainnya dapat mengakibatkan peradangan pada
c0

saluran pernafasan, dengan gejala batuk, pilek, sesak nafas, demam


serta iritasi pada mata dengan gejala mata pedih, kemerahan, berair.
b. Posisi kerja yang tidak benar/tidak ergonomis (seperti jongkok,
membungkuk) akan menimbulkan nyeri otot dan punggung.

 '! 
 '
(   
1. Pengadaan APD
Menggunakan pakaian dan alat pelindung diri (APD) pada waktu kerja
berupa sarung tangan, masker, earplugs, kaca mata dan sebagainya untuk
menghindari panas dan bising.
2. Pengaturan waktu kerja
Agar pekerja tidak terlalu lama terpapar dengan panas dan waktu
kerja yang sesuai standar yaitu 8 jam/ hari serta mengatur lama waktu
kerja agar tidak melebihi dari ambang batas kebisingan yang
diperkenankan, misalnya :
- 85 db ( A) untuk 8 Jam pemajanan
- 90 db ( A) untuk 4 jam pemajanan
- 95 db ( A ) untuk 2 Jam pemajanan
- dan seterusnya.
3. Waktu istirahat bagi pekerja
Usahakan istirahat atau mengganti posisi kerja secara berkala.

 ' (   
1. Penyesuaian alat kerja
Menyesuaikan alat kerja dengan postur tubuh pekerja sesuai dengan
jenis dan sifat pekerjaan masing-masing, sehingga pekerjaan dapat
dilakukan dengan posisi duduk atau berdiri, misalnya :
- Duduk dikursi dan menggunakan meja yang sesuai : tingginya untuk
tempat peralatan kerja
cG

- Berdiri tegak, dengan peralatan kerja diatas meja yang sesuai


fungsinya.

 ' (    
1. Penanaman pohon disekitar tempat kerja
Untuk meminimalkan efek buruk polusi dan menciptakan iklim sejuk.

 )* "+"  *"""! 
1. Pengadaan APD
Program ini dinilai efektif karena penggunaannya yang mudah dan
manfaatnya yang langsung berdampak baik pada pekerja untuk
meminimalisir PAK di tempat kerja. Namun program ini tidak efisien karena
memerlukan dana yang cukup besar bagi industri kecil.
2. Pengaturan waktu kerja
Program ini dinilai kurang efektif karena umumnya pekerja ingin
pekerjaannya cepat selesai, hal ini disebabkan oleh sistem upah tenaga
kerja di industri ini yang memberikan upah berdasarkan barang yang mereka
hasilkan. Untuk keefisienan, program ini cukup efisien, tidak mengeluarkan
biaya, namun kontrol dari pemilik maupun mandor sangat diperlukan pada
program ini.
3. Waktu istirahat bagi pekerja
Program ini dinilai efektif, hal ini disebabkan oleh tenaga kerja banyak
yang mengeluh mengalami kelelahan saat bekerja, terutama saat cuaca
panas. Dari segi keefisienan, program ini sangat efisien. Karena tenaga
kerja yang secara terus menerus bekerja tanpa istirahat, maka secara tidak
langsung produktivitas kerja akan semakin menurun.
4. Penyesuaian alat kerja
Untuk program jangka menengah, program ini cukup efektif karena
perlunya keserasian antara alat dan manusia yang bekerja. Untuk
keefesienan, karena program ini jangka menengah, maka program ini

dirasa mampu dilaksanakan dengan penghitungan yang matang dari


pemilik meubel.
5. Penanaman pohon disekitar tempat kerja
Untuk program jangka panjang, program ini efektif dan efisien.
Dimana iklim kerja yang sejuk akan menambah produktivitas kerja.




 
c-

Ê Ê




"% 
1. Industri meubel terletak di Jalan M. Said No. 15 RT. 12 RW. 04, Kelurahan
Lok Bahu, Samarinda. Produk yang dihasilkan meubel ini antara lain lemari,
meja, kursi, rak televisi dan sebagainya. Pembuatan meubel dari kayu
melalui lima proses utama, yaitu proses penggergajian kayu, penyiapan
bahan baku. Proses penyiapan komponen, proses perakitan dan
pembentukkan (bending) dan proses akhir (finishing). Kondisi peralatan
yang terdapat pada industri meubel ini dapat dikatakan cukup baik. Dari
hasil pengamatan, para tenaga kerja tidak memakai Alat Pelindung Diri
(APD) saat bekerja. Sikap kerja pun, tidak ergonomis. Waktu kerja pada
industri ini yaitu mulai pukul 07.00 hingga pukul 18.00. 
2. Kondisi industri, dimana polusi udara dari kendaraan di jalan dapat
mencemari daerah sekitar. Selain itu tidak ada plafon di tempat ini.
Pencahayaan pada tempat kerja, dapat digolongkan cukup baik. Terlihat
pada tempat kerja dengan lantai yang terbuat dari semen dan terdapat sisa-
sisa potongan kayu dan hamburan serbuk kayu hasil produksi. Kondisi
tempat peralatan dan tempat bekerja tidak ergonomis dan berpotensi bising.
3. Potensi bahaya di industri ini antara lain debu dan partikel kecil kayu,
kebisingan serta sikap dan posisi kerja yang tidak benar/tidak ergonomis.
4. Program K3 yang tepat untuk industri meubel ini yaitu pengadaan APD,
pengaturan waktu kerja, waktu istirahat bagi pekerja, penyesuaian alat kerja,
dan penanaman pohon di sekitar tempat kerja.
5. Mayoritas program K3 yang disusun memperhatikan keefektifan dan
keefisienan sebagai indikator terlaksananya program.
cr

   
Semua program K3 yang telah disusun, telah dipertimbangkan dengan
indikator keefektifan dan keefisienan, namun hal ini kembali lagi kepada pihak
yang bersangkutan sebagai objek. Apakah program ini dapat diterapkan atau
tidak. Namun penerapan program K3 diharapkan akan meminimalisir dampak
buruk dari potensi bahaya di tempat kerja seperti PAK.