Anda di halaman 1dari 1

Anak dan air adalah sahabat karib.

Setidaknya begitulah aku sewaktu kecil, hujan


badai menerpa desa kami, petir menggelegar dan kilat merambat dalam bentuk akar
api yang menyilaukan di depan mataku. Pastilah kejadian seperti itu sangat meny
eramkan bila tidak diiringi jarum-jarum air yang jatuh dari langit; rahmat Tuhan
yang barangkali hanya anak-anak yang tahu bagaimana mensyukurinya. Aku menari d
engan riang sembari bernyanyi dalam teriakan-teriakan membahana; bentuk kesenang
an paling purba. Konon para dukun yang menari memanggil hujan mengambil bentuk t
arian anak-anak ini karena tarian anak-anak di kala hujan, berlimpah ketulusan d
an kejujuran, hingga dengan menirukannya dukun itu berharap langit terharu menya
ksikannya.

Setelah beranjak remaja hingga memiliki seorang anak duniaku tak jau
h dari air. Air adalah kehidupanku. Entah sejak kapan, barangkali sebelum desa i
ni ada, nenek moyang kami telah menjadikan laut sebagai tempat mencari nafkah. B
egitupun aku menghidupi tiga nyawa yang menghuni rumahku: ibu, istriku dan si ke
cil. Tapi laut yang selama ini kubayangkan tak akan pernah kehabisan ikan untuk
kami?para nelayan?tangkap, ternyata keliru. Tak ada yang mengalahkan keserakahan
manusia. Laut pun seakan terkuras. Hampir setiap hari hasil tangkapanku tak men
cukupi kebutuhan keluarga. Dan kenangan kisah ini selalu dimulai ketika aku teri
ngat saat dulu istriku sakit keras. Lima orang dukun telah kupanggil. Seperti ke
biasaan orang-orang di sini, ketika hal itu sudah dilakukan dan tak membawa hasi
l, maka kami butuh dokter. Artinya harus mambawanya ke rumah sakit. Tentu tak ad
a yang lebih pelik selain masalah uang.