Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

Anemia berarti kekurangan sel darah merah, yang dapat disebabkan oleh
hilangnya darah yang terlalu cepat atau karena terlalu lambatnya produksi sel
darah merah. Pada anemia berat, viskositas darah dapat turun hingga 1,5 kali air,
normalnya sekitar tiga kali air. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsentrasi sel
darah merah mempengaruhi viskositas darah. Hal ini mengurangi tahanan
terhadap aliran darah dalam pembuluh perifer, sehingga jumlah darah yang
mengalir melalui jaringan dan kemudian kembali lagi menuju ke jantung menjadi
jauh lebih normal.

Bila penderita anemia mulai berkuat, jantung tidak mampu memompa


jumlah darah lebih banyak daripada jumlah yang dipompa sebelumnya. Akibatnya
selama keadaan anemia ini berkuat, dimana terjadi peningkatan kebutuhan
jaringan akan oksigen, dapat timbul hipoksia jaringan yang serius dan sering
terjadi gagal jantung yang akut.

Seseorang dikatakan anemia jika hematokritnya (persen eritrosit dalam


darah) kurang dari 40. Adapun hematokrit normal adalah sekitar 40-60. Penderita
anemia berat bisa tanpa gejala, tetapi penderita anemia ringan bisa sangat lemah.
Hal ini dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu cepat timbulnya anemia,
derajat anemia, umur penderita dan kurva disosiasi oksigen hemoglobin.
Gejalanya antara lain sesak napas, lemah, mengantuk, palpitasi dan sakit kepala.
Pada orang tua dapat ditemukan gejala penyakit jantung dan kebingungan.

Melihat seriusnya akibat yang ditimbulkan oleh anemia, maka perlu


diketahui berbagai hal tentang anemia. Salah satunya adalah klasifikasi anemia.
Anemia dapat dibedakan berdasarkan morfologi dan sebab atau etiologinya.
Klasifikasi morfologi berdasarkan bentuk dari eritrosit yang mengalami kelainan,
sedangkan berdasarkan etiologi ditinjau penyebab terjadinya anemia, seperti

1
pematagan abnormal dan destruksi atau kehilangan secara berlebihan pada
eritrosit.

2
BAB II

PEMBAHASAN

Anemia menyebabkan jumlah oksigen yang diikat dan dibawa hemoglobin


berkurang, sehingga tidak dapat memenuhi keperluan jaringan. Beberapa organ
dan proses memerlukan oksigen dalam jumlah besar. Bila jumlah oksigen yang
dipasok berkurang maka kinerja organ yang bersangkutan akan menurun,
sedangkan kelancaran proses tertentu akan terganggu.

Otak adalah jaringan yang memerlukan energi dalam jumlah besar setiap
saat. Keperluan akan energi dalam jumlah yang besar ini hanya dapat dipenuhi
oleh metabolisme yang berlangsung dalam keadaan aerob. Ini berarti, jaringan
otak mutlak memerlukan oksigen supaya tetap dapat berfungsi sebagaimana
mestinya. Memang keadaan anoksida (ketiadaan oksigen) yang berlangsung
beberapa menit saja akan mengakibatkan kerusakan menetap yang tidak dapat
diperbaiki lagi pada jaringan dan sel-sel otak. Salah satu yang ditakuti dari
peredaran darah besar yang terjadi dalam waktu singkat dan tidak segera diatasi
dengan homeostasis (pengentian pendarahan) dan transfuse ialah kerusakan fungsi
susunan saraf pusat, dengan bentuk terberat koma (kehilangan kesadaran) yang
menetap. Dalam keadaan anemia, yang biasanya terjadi dan berkembang dalam
jangka waktu yang panjang, berbagai organ tubuh menyesuaikan diri dengan
menyesuaikan fungsi dengan keadaan yang tidak optimum tersebut, termasuk
otak. Akibatnya, kinerja otak akan berkurang dengan jumlah oksigen yang
diperolehnya.

Akibat anemia bisa berbeda-beda pada setiap tahap kehidupan. Pada anak,
anemia bisa menghambat pertumbuhan fisik dan mentalnya. Pada masa remaja
atau dewasa, anemia bisa menurunkan kemampuan dan konsentrasi serta gairah

3
untuk beraktivitas. Sementara pada wanita hamil, anemia menyebabkan risiko
pendarahan sebelum atau saat melahirkan, risiko bayi lahir dengan berat badan
rendah atau prematur, cacat bawaan, dan cadangan zat besi bayi yang rendah.
Anemia yang terjadi pada anak-anak dapat menggangu proses tumbuh
kembangnya. Bahkan perkembangan berpikir juga bisa terganggu dan mudah
terserang penyakit. Anemia yang terjadi pada seseorang bisa muncul karena
bawaan (kongenital), akut atau kronik, tidak berbahaya atau berbahaya
menyangkut kehidupan, dan berat atau ganas. Menurunnya jumlah sel darah
merah dalam tubuh juga bisa terjadi karena zat gizi besi digunakan untuk
kepentingan lain (di luar untuk pembuatan sel darah merah). Hal ini terjadi,
misalnya, akibat kekurangan asam lambung, penyakit pada sumsum tulang,
kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan atau memproduksi sel-
sel darah merah seperti asam folat, vitamin B12, dan lainnya.
Anemia bisa berakibat pada gangguan tumbuh kembang, gangguan kognitif
(belajar) serta penurunan fungsi otot, aktivitas fisik dan daya tahan tubuh. Jika
daya tahan tubuh menurun, maka risiko infeksi pun akan meningkat. Anemia bisa
terjadi saat masih bayi. Bila ini terjadi, tentunya bisa berdampak pada prestasi
mereka saat usia prasekolah dan sekolah. Akibatnya, bisa terjadi gangguan
konsentrasi, daya ingat rendah, kapasitas pemecahan masalah dan kecerdasan
intelektual (IQ) yang rendah, serta gangguan perilaku. Anemia membuat transfer
oksigen yang memperlancar metabolisme sel-sel otak terhambat, metabolisme
lemak mielin yang mempercepat hantar impuls saraf, perilaku, serta konsentrasi
terganggu. Jika terkena anemia defisiensi gizi saat bayi, maka ketika memasuki
prasekolah dan usia sekolah akan terganggu konsentrasi, daya ingat rendah,
kapasitas pemecahan masalah rendah, tingkat kecerdasan lebih rendah dan
gangguan perilaku.

Anemia dapat menyebabkan pertumbuhan tinggi dan berat badan dibawah


normal, penurunan tingkat kecerdasan, dan gangguan pada system saraf serta
otak. Anemia sering ditemukan pada anak-anak dan remaja. Anak perempuan
lebih tinggi risikonya karena mengalami menstruasi. Ketika anak perempuan

4
duduk di bangku SMA, mereka masih terancam anemia karena pada usia itu mulai
sadar penampilan sehingga mulai menjalankan diet ketat.

Ada beberapa penyebab timbulnya anemia, yaitu:

1. Karena cacat sel darah merah

Sel darah merah mempunyai komponen penyusun yang banyak


sekali. Tiap-tiap komponen ini bila mengalami cacat atau
kelainan, akan menimbulkan masalah bagi sel darah merah
sendiri, sehingga sel ini tidak berfungsi sebagai mana mestinya
dan dengan cepat mengalami penuaan dan segera dihancurkan.
Pada umumnya cacat yang dialami sel darah merah menyangkut
senyawa-senyawa protein yang menyusunnya. Oleh karena
kelainan ini menyangkut protein, sedangkan sintesis protein
dikendalikan oleh gen di DNA.

2. Karena kekurangan zat gizi

Anemia jenis ini merupakan salah satu anemia yang disebabkan


oleh faktor luar tubuh, yaitu kekurangan salah satu zat gizi.
Anemia karena kelainan dalam sel darah merah disebabkan oleh
faktor konstitutif yang menyusun sel tersebut. Anemia jenis ini
tidak dapat diobati, yang dapat dilakukan adalah hanya
memperpanjang usia sel darah merah sehingga mendekati umur
yang seharusnya, mengurangi beratnya gejala atau bahkan hanya
mengurangi penyulit yang terjadi.

3. Karena perdarahan

Kehilangan darah dalam jumlah besar tentu saja akan


menyebabkan kurangnya jumlah sel darah merah dalam darah,
sehingga terjadi anemia. Anemia karena perdarahan besar dan
dalam waktu singkat ini secara nisbi jarang terjadi. Keadaan ini
biasanya terjadi karena kecelakaan dan bahaya yang

5
diakibatkannya langsung disadari. Akibatnya, segala usaha akan
dilakukan untuk mencegah perdarahan dan kalau mungkin
mengembalikan jumlah darah ke keadaan semula, misalnya
dengan tranfusi.

4. Karena otoimun

Dalam keadaan tertentu, sistem imun tubuh dapat mengenali dan


menghancurkan bagian-bagian tubuh yang biasanya tidak
dihancurkan. Keadaan ini sebanarnya tidak seharusnya terjadi
dalam jumlah besar. Bila hal tersebut terjadi terhadap sel darah
merah, umur sel darah merah akan memendek karena dengan
cepat dihancurkan oleh sistem imun.

Terdapat beragam jenis pengklasifikasian anemia, pada klasifikasi anemia


menurut morfologi, mikro dan makro menunjukkan ukuran pada sel darah merah
sedangkan kromik menunjukkan warnanya. Secara morfologi, pengklasifikasian
anemia terdiri atas:

a. Anemia normositik normokrom

Patofisiologi anemia ini terjadi karena pengeluaran darah atau


destruksi darah yang berlebih sehingga menyebabkan Sumsum
tulang harus bekerja lebih keras lagi dalam eritropoiesis. Sehingga
banyak eritrosit muda (retikulosit) yang terlihat pada gambaran
darah tepi. Pada kelas ini, ukuran dan bentuk sel-sel darah merah
normal serta mengandung hemoglobin dalam jumlah yang normal
tetapi individu menderita anemia. Anemia ini dapat terjadi karena
hemolitik, pasca pendarahan akut, anemia aplastik, sindrom
mielodisplasia, alkoholism, dan anemia pada penyakit hati kronik.

b. Anemia makrositik normokrom

6
Makrositik berarti ukuran sel-sel darah merah lebih besar dari
normal tetapi normokrom karena konsentrasi hemoglobinnya
normal. Hal ini diakibatkan oleh gangguan atau terhentinya sintesis
asam nukleat DNA seperti yang ditemukan pada defisiensi B12 dan
atau asam folat. Ini dapat juga terjadi pada kemoterapi kanker, sebab
terjadi gangguan pada metabolisme sel

c. Anemia mikrositik hipokrom

Mikrositik berarti kecil, hipokrom berarti mengandung hemoglobin


dalam jumlah yang kurang dari normal. Hal ini umumnya
menggambarkan insufisiensi sintesis hem (besi), seperti pada anemia
defisiensi besi, keadaan sideroblastik dan kehilangan darah kronik,
atau gangguan sintesis globin, seperti pada talasemia (penyakit
hemoglobin abnormal kongenital).

Meningkatnya kehilangan sel darah merah dapat disebabkan oleh


perdarahan atau oleh penghancuran sel. Perdarahan dapat disebabkan oleh trauma
atau tukak, atau akibat pardarahan kronik karena polip pada kolon, penyakit-
penyakit keganasan, hemoriod atau menstruasi. Penghancuran sel darah merah
dalam sirkulasi, dikenal dengan nama hemolisis, terjadi bila gangguan pada sel
darah merah itu sendiri yang memperpendek hidupnya atau karena perubahan
lingkungan yang mengakibatkan penghancuran sel darah merah. Keadaan dimana
sel darah merah itu sendiri terganggu atau macam gangguan herediter adalah:

• Hemoglobinopati, yaitu hemoglobin abnormal yang diturunkan,


misal nya anemia sel sabit.

• Gangguan sintetis globin misalnya talasemia.

• Gangguan membran sel darah merah misalnya sferositosis


herediter.

7
• Defisiensi enzim misalnya defisiensi G6PD (glukosa 6-fosfat
dehidrogenase).

Namun, hemolisis dapat juga disebabkan oleh gangguan lingkungan sel


darah merah yang seringkali memerlukan respon imun. Respon isoimun mengenai
berbagai individu dalam spesies yang sama dan diakibatkan oleh tranfusi darah
yang tidak cocok. Respon otoimun terdiri dari pembentukan antibodi terhadap sel-
sel darah merah itu sendiri. Keadaan yang di namakan anemia hemolitik otoimun
dapat timbul tanpa sebab yang diketahui setelah pemberian suatu obat tertentu
seperti alfa-metildopa, kinin, sulfonamida, L-dopa atau pada penyakit-penyakit
seperti limfoma, leukemia limfositik kronik, lupus eritematosus, artritis
reumatorid dan infeksi virus. Anemia hemolitik otoimun selanjutnya
diklasifikasikan menurut suhu dimana antibodi bereaksi dengan sel-sel darah
merah –antibodi tipe panas atau antibodi tipe dingin.

Hipersplenisme (pembesaran limpa, pansitopenia, dan sumsum tulang


hiperselular atau normal) dapat juga menyebabkan hemolisis akibat penjeratan
dan penghancuran sel darah merah. Luka bakar yang berat khususnya jika kapiler
pecah dapat juga mengakibatkan hemolisis.

Klasifikasi etiologi utama yang kedua adalah pembentukan sel darah


merah yang berkurang atau terganggu (diseritropoiesis). Setiap keadaan yang
mempengaruhi fungsi sumsum tulang dimasukkan dalam kategori ini. Yang
termasuk dalam kelompok ini adalah:

a. Keganasan yang tersebar seperti kanker payudara, leukimia dan


multipel mieloma, obat dan zat kimia toksik, dan penyinaran
dengan radiasi

b. Penyakit-penyakit menahun yang melibatkan ginjal dan hati,


penyakit-penyakit infeksi dan defiensi endokrin.

Kekurangan vitamin penting seperti vitamin B12, asam folat, vitamin C


dan besi dapat mengakibatkan pembentukan sel darah merah tidak efektif

8
sehingga menimbulkan anemia. Untuk menegakkan diagnosis anemia harus
digabungkan pertimbangan morfologis dan etiologi. Berikut adalah
pengklasifikasian anemia menurut etiologinya:

1. Anemia aplastik

Anemia aplastik adalah suatu gangguan pada sel-sel induk di


sumsum tulang yang dapat menimbulkan kematian, pada keadaan ini
jumlah sel-sel darah yang dihasilkan tidak memadai. Penderita
mengalami pansitopenia yaitu kekurangan sel darah merah, sel darah
putih dan trombosit. Secara morfologis sel-sel darah merah terlihat
normositik dan normokrom, hitung retikulosit rendah atau hilang dan
biopsi sumsum tulang menunjukkan suatu keadaan yang disebut
“pungsi kering” dengan hipoplasia yang nyata dan terjadi pergantian
dengan jaringan lemak. Langkah-langkah pengobatan terdiri dari
mengidentifikasi dan menghilangkan agen penyebab. Namun pada
beberapa keadaan tidak dapat ditemukan agen penyebabnya dan
keadaan ini disebut idiopatik. Beberapa keadaan seperti ini diduga
merupakan keadaan imunologis.

Gejala-gejala anemia aplastik

Kompleks gejala anemia aplastik berkaitan dengan pansitopenia.


Gejala-gejala lain yang berkaitan dengan anemia adalah defisiensi
trombosit dan sel darah putih.

Defisiensi trombosit dapat mengakibatkan:

• ekimosis dan ptekie (perdarahan dalam kulit)

• epistaksis (perdarahan hidung)

9
• perdarahan saluran cerna

• perdarahan saluran kemih

• perdarahan susunan saraf pusat.

Defisiensi sel darah putih mengakibatkan lebih mudahnya


terkena infeksi. Aplasia berat disertai pengurangan atau tidak adanya
retikulosit jumlah granulosit yang kurang dari 500/mm3 dan jumlah
trombosit yang kurang dari 20.000 dapat mengakibatkan kematian dan
infeksi dan/atau perdarahan dalam beberapa minggu atau beberapa
bulan. Namun penderita yang lebih ringan dapat hidup bertahun-
tahun. Pengobatan terutama dipusatkan pada perawatan suportif
sampai terjadi penyembuhan sumsum tulang. Karena infeksi dan
perdarahan yang disebabkan oleh defisiensi sel lain merupakan
penyebab utama kematian maka penting untuk mencegah perdarahan
dan infeksi.

Pencegahan anemia aplastik dan terapi yang di lakukan


Tindakan pencegahan dapat mencakup lingkungan yang dilindungi
(ruangan dengan aliran udara yang mendatar atau tempat yang
nyaman) dan higiene yang baik. Pada pendarahan dan/atau infeksi
perlu dilakukan terapi komponen darah yang bijaksana, yaitu sel darah
merah, granulosit dan trombosit dan antibiotik. Agen-agen perangsang
sumsum tulang seperti androgen diduga menimbulkan eritropoiesis,
tetapi efisiensinya tidak menentu. Penderita anemia aplastik kronik
dipertahankan pada hemoglobin (Hb) antara 8 dan 9 g dengan tranfusi
darah yang periodik.

Penderita anemia aplastik berusia muda yang terjadi secara


sekunder akibat kerusakan sel induk memberi respon yang baik
terhadap tranplantasi sumsum tulang dari donor yang cocok (saudara
kandung dengan antigen leukosit manusia [HLA] yang cocok). Pada

10
kasus-kasus yang dianggap terjadi reaksi imunologis maka digunakan
globulin antitimosit (ATG) yang mengandung antibodi untuk
melawan sel T manusia untuk mendapatkan remisi sebagian. Terapi
semacam ini dianjurkan untuk penderita yang agak tua atau untuk
penderita yang tidak mempunyai saudara kandung yang cocok.

2. Anemia defisiensi besi

Anemia defisiensi besi secara morfologis diklasifikasikan


sebagai anemia mikrositik hipokrom disertai penurunan kuantitatif
pada sintetis hemoglobin. Defisiensi besi merupakan penyebab utama
anemia di dunia. Khususnya terjadi pada wanita usia subur, sekunder
karena kehilangan darah sewaktu menstruasi dan peningkatan
kebutuhan besi selama hamil.

Penyebab lain defisiensi besi adalah:

• Asupan besi yang tidak cukup misalnya pada bayi yang


diberi makan susu belaka sampai usia antara 12-24 bulan dan
pada individu tertentu yang hanya memakan sayur- sayuran saja.

• Gangguan absorpsi seperti setelah gastrektomi dan

• Kehilangan darah yang menetap seperti pada perdarahan


saluran cerna yang lambat karena polip, neoplasma, gastritis
varises esophagus, makan aspirin dan hemoroid.

Dalam keadaan normal tubuh orang dewasa rata-rata


mengandung 3 sampai 5 g besi, bergantung pada jenis kelamin dan
besar tubuhnya. Hampir dua pertiga besi terdapat dalam hemoglobin
yang dilepas pada proses penuaan serta kematian sel dan diangkut
melalui transferin plasma ke sumsum tulang untuk eritropoiesis.

11
Dengan kekecualian dalam jumlah yang kecil dalam mioglobin (otot)
dan dalam enzim-enzim hem, sepertiga sisanya disimpan dalam hati,
limpa dan dalam sumsum tulang sebagai feritin dan sebagai
hemosiderin untuk kebutuhan-kebutuhan lebih lanjut.

Patofisiologi anemia defisiensi besi


Walaupun dalam diet rata-rata terdapat 10 - 20 mg besi, hanya sampai
5% - 10% (1 - 2 mg) yang sebenarnya sampai diabsorpsi. Pada
persediaan besi berkurang maka besi dari diet tersebut diserap lebih
banyak. Besi yang dimakan diubah menjadi besi fero dalam lambung
dan duodenum; penyerapan besi terjadi pada duodenum dan jejunum
proksimal. Kemudian besi diangkut oleh transferin plasma ke sumsum
tulang untuk sintesis hemoglobin atau ke tempat penyimpanan di
jaringan.

Tanda dan gejala anemia pada penderita defisiensi besi

Setiap milliliter darah mengandung 0,5 mg besi. Kehilangan besi


umumnya sedikit sekali, dari 0,5 sampai 1 mg/hari. Namun wanita
yang mengalami menstruasi kehilangan tambahan 15 sampai 28
mg/bulan. Walaupun kehilangan darah karena menstruasi berhenti
selama hamil, kebutuhan besi harian tetap meningkat, hal ini terjadi
oleh karena volume darah ibu selama hamil meningkat, pembentukan
plasenta, tali pusat dan fetus, serta mengimbangi darah yang hilang
pada waktu melahirkan.

Selain tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh anemia,


penderita defisiensi besi yang berat (besi plasma lebih kecil dari 40
mg/ 100 ml;Hb 6 sampai 7g/100ml) mempunyai rambut yang rapuh
dan halus serta kuku tipis, rata, mudah patah dan sebenarnya

12
berbentuk seperti sendok (koilonikia). Selain itu atropi papilla lidah
mengakibatkan lidah tampak pucat, licin, mengkilat, merah daging,
dan meradang dan sakit. Dapat juga timbul stomatitis angularis,
pecah-pecah dengan kemerahan dan rasa sakit di sudut-sudut mulut.
Pemeriksaan darah menunjukkan jumlah sel darah merah normal atau
hampir normal dan kadar hemoglobin berkurang. Pada sediaan hapus
darah perifer, eritrosit mikrositik dan hipokrom disertain poikilositosis
dan aniositosis. Jumlah retikulosit mungkin normal atau berkurang.
Kadar besi berkurang walaupun kapasitas meningkat besi serum
meningkat.

Pengobatan anemia pada penderita defisiensi besi

Pengobatan defisiensi besi mengharuskan identifikasi dan menemukan


penyebab dasar anemia. Pembedahan mungkin diperlukan untuk
menghambat perdarahan aktif yang diakibatkan oleh polip, tukak,
keganasan dan hemoroid; perubahan diet mungkin diperlukan untuk
bayi yang hanya diberi makan susu atau individu dengan idiosinkrasi
makanan atau yang menggunakan aspirin dalam dosis besar.
Walaupun modifikasi diet dapat menambah besi yang tersedia
(misalnya hati, masih dibutuhkan suplemen besi untuk meningkatkan
hemoglobin dan mengembalikan persediaan besi. Besi tersedia dalam
bentuk parenteral dan oral. Sebagian penderita memberi respon yang
baik terhadap senyawa-senyawa oral seperti ferosulfat. Preparat besi
parenteral digunakan secara sangat selektif, sebab harganya mahal dan
mempunyai insidens besar terjadi reaksi yang merugikan.

3. Anemia megaloblastik

13
Anemia megaloblastik diklasifikasikan menurut morfologinya
sebagai anemia makrositik normokrom.

Sebab-sebab atau gejala anemia megaloblastik

Anemia megaloblastik sering disebabkan oleh defisiensi vitamin B12


dan asam folat yang mengakibatkan sintesis DNA terganggu.
Defisiensi ini mungkin sekunder karena malnutrisi, malabsorpsi,
kekurangan faktor intrinsik (seperti terlihat pada anemia pernisiosa
dan postgastrekomi) infestasi parasit, penyakit usus dan keganasan,
serta agen kemoterapeutik. Individu dengan infeksi cacing pita
(dengan Diphyllobothrium latum) akibat makan ikan segar yang
terinfeksi, cacing pita berkompetisi dengan hospes dalam
mendapatkan vitamin B12 dari makanan, yang mengakibatkan anemia
megaloblastik (Beck, 1983).

Walaupun anemia pernisiosa merupakan prototip dari anemia


megaloblastik defisiensi folat lebih sering ditemukan dalam praktek
klinik. Anemia megaloblastik sering kali terlihat pada orang tua
dengan malnutrisi, pecandu alkoholatau pada remaja dan pada
kehamilan dimana terjadi peningkatan kebutuhan untuk memenuhi
kebutuhan fetus dan laktasi. Kebutuhan ini juga meningkat pada
anemia hemolitik, keganasan dan hipertiroidisme. Penyakit celiac dan
sariawan tropik juga menyebabkan malabsorpsi dan penggunaan obat-
obat yang bekerja sebagai antagonis asam folat juga mempengaruhi.

Pencegahan anemia pada penderita anemia megaloblastik

Kebutuhan minimal folat setiap hari kira-kira 50 mg mudah diperoleh


dari diet rata-rata. Sumber yang paling melimpah adalah daging merah
(misalnya hati dan ginjal) dan sayuran berdaun hijau yang segar.

14
Tetapi cara menyiapkan makanan yang benar juga diperlukan untuk
menjamin jumlah gizi yang adekuat. Misalnya 50% sampai 90% folat
dapat hilang pada cara memasak yang memakai banyak air. Folat
diabsorpsi dari duodenum dan jejunum bagian atas, terikat pada
protein plasma secara lemah dan disimpan dalam hati. Tanpa adanya
asupan folat persediaan folat biasanya akan habis kira-kira dalam
waktu 4 bulan. Selain gejala-gejala anemia yang sudah dijelaskan
penderita anemia megaloblastik sekunder karena defisiensi folat dapat
tampak seperti malnutrisi dan mengalami glositis berat (radang lidah
disertai rasa sakit), diare dan kehilangan nafsu makan. Kadar folat
serum juga menurun (<4 mg/ml).

Pengobatan anemia pada penderita anemia megaloblastik.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya pengobatan bergantung


pada identifikasi dan menghilangkan penyebab dasarnya. Tindakan ini
adalah memperbaiki defisiensi diet dan terapi pengganti dengan asam
folat atau dengan vitamin B12. penderita kecanduan alkohol yang
dirawat di rumah sakit sering memberi respon “spontan” bila di
berikan diet seimbang.

15
BAB III

PENUTUP

Dari uraian mengenai pengklasifikasian anemia di atas, diuraikan bahwa


anemia terdiri atas beberapa kelas dengan masing-masing tanda dan gejala,
penyebab serta pengobatannya. Diuraikan pengklasifikasian anemia menurut
morfologinya terdapat anemia normositik normokrom, anemia makrositik
normokrom, dan anemia mikrositik hipokrom kemudian pengklasifikasian anemia
menurut etiologinya terdapat anemia aplastik yang dapat diklasifikasikan ke
dalam kelas anemia normositik normokrom, anemia defisiensi besi yang dapat
juga diklasifikasikan ke dalam kelas anemia mikrositik hipokrom, dan anemia
megaloblastik yang dapat diklasifikasikan juga ke dalam kelas anemia makrositik
normokrom.

Dijelaskan pula mengenai akibat serta penyebab timbulnya penyakit


anemia. Anemia tidak semata-mata suatu gangguan fungsi tubuh akibat kurangnya
jumlah sel darah merah, tetapi pengertian anemia dapat dijelaskan menurut
masing-masing jenisnya yang beragam. Perbedaan kelas dalam anemia,
membedakan pula dalam cara penanganannya. Untuk itu, yang paling awal kita
perlu ketahui tentang anemia adalah sebab-sebab mengapa anemia dapat timbul
dalam tubuh seseorang. Apakah dikarenakan pendarahan dalam tubuh yang tidak
dapat berhenti, atau karena masalah sistem autoimun dalam tubuh, atau karena
suplai zat gizi yang kurang bagi tubuh, ataukah karena terdapat kecacatan bentuk
pada sel darah merah yang dapat membuat sel darah merah tidak dapat berfungsi
sebagaimana seharusnya berfungsi pada tubuh seseorang. Sehingga klasifikasi
anemia perlu dipahami dengan jelas agar tidak terjadi kesalahan pemberian
pengobatan pada penderita agar tidak terjadi komplikasi penyakit pada tubuh
penderita.

16
DAFTAR PUSTAKA

Gabriel, J.F. 1996. Fisika Kedokteran. Jakarta: EGC.

Hall, dkk. 1997. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Http://www.pediatrik.com

Http://www.majalah-farmacia.com

Lisyani,dkk. 2009. Patologi Klinik II. Semarang: Bagian Patologi Klinik Fakultas
Kedokteran Undip.

Sadikin, Mohamad. 2002. Biokimia Darah. Jakarta: Wikia Medika.

17