Anda di halaman 1dari 41

Peter Kasenda

Ketika Revolusi Belum Selesai

Revolusi adalah motor penggerak sejarah

(Karl Marx)

Kendati jarang terjadi, namun revolusi sosial merupakan momentum penting dalam
sejarah dunia modern. Bermula di Perancis tahun 1789 sampai di Vietnam pada
pertengahan abad keduapuluh, revolusi ini telah membawa perubahan pada organisasi
negara, struktur kelas sosial, dan ideologi yang dominan. Revolusi telah melahirkan
banyak negara yang memiliki kekuasaan dan otonomi yang yang jauh melebihi
kekuasaan dan otonomi mereka sebelum revulusi Revolusi Perancis tiba-tiba mengubah
negara ini menjadi suatu suatu kekuatan penakluk di benua Eropa, Revolusi Rusia telah
membangkitkan negeri ini menjadi negara adidaya industri dan militer. Revolusi Meksiko
menjadikan negara ini itu salah –satu negara berkekuatan politik dan pasca penjajahan
yang paling maju industrinya dan menjadi negara Amerika Latin yang paling jarang
mengalami kudeta militer. Sejak Perang Dunia II, puncak dari suatu proses revolusioner
yang berlangsung lama, telah mengubah dan mempersatukan kembali Cina yang
terpecah-pecah, Revolusi baru mengakibatkan negara-negara yang pernah terjajah dan
penjajahan baru, seperti Vietnam dan Kuba, memutuskan rantai ketergantungan yang
ekstrim.

Revolusi sosial tidak saja mempunyai dampak di tingkat nasional. Beberapa kasus
revolusi telah memunculkan model-model dan cita-cita yang mempunyai dampak dan
daya tarik internasional sangat besar – khususnya apabila negeri yang mengalami
perubahan itu mempunyai kekuatan besar yang yang secara geopolitik penting, aktual
atau potensial. Angkatan Bersenjata Perancis yang patriotik revoluioner menguasai
sebagian besar daratan Eropa. Bahkan sebelum penaklukan dan lama setelah kekalahan
militernya gagasan revolusioner Perancis. “ Kebebasan, Kesamaan dan Persaudaraan “
telah mendorong imajinasi dalam upaya mencari kebebasan sosial dan nasional. Pengaruh
revolusi ini menyebar dari Jenewa sampai Santo Dominggo, dari Irlandia sampai
Amerika Latin dan India, dan selanjutnya mempengaruhi para teoritikus revolusi dari
1
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Babeuf sampai Karl Marx dan Lenin, serta kaum anti kolonialis abd ke-20. Revolusi
Rusia telah membuat negara-negara kapitalis Barat tercengang dan membakar ambisisi
bangsa-bangsa yang sedang tumbuh dengan cara menunjukkan bahwa suatu kekuatan
revolusioner, dapat mengubah suatu negara pertanian yang terbelakang menjadi negara
yang kekuasaan industri dan militernya terbesar kedua di dunia, hanya dalam kurun
waktu dua generasi. Jika revolusi Rusia berlangsung pada paruh pertama abab XX, maka
Revolusi Cina meletus di paruh kedua abad yang sama. Paertai Leninist, telah
membuktikan dapat mempimpin mayoritas petani di dalam perjuangan ekonomi dan
militer. Partai tersebut telah mendorong munculnya kekuatan besar yang menyatakan diri
sebagai suatu model revolusioner dan pembangunan bagi negara-negara miskin di dunia.
“ The Yenan Way “ dan “ Desa versus Kota “ adalah konsepsi yang menawarkan cita-cita
dan model yang segar serta telah memperbaruhi harapan kaum nasionalis revolusioner
pada pertengahan abad abad XX, revolusi besar tidak hanya membawa pengaruh pada
negara-negara lain yang akan menirunya. Mereka juga berpengaruh pada negara-negara
lain yang akan menirunya. Mereka juga berpengaruh pada negara lain yang menentang
cita-cita revolusioner tetapi terpaksa harus tanggap terhadap tantangan atau ancaman
yang ditimbulkan oleh meningkatnya kekuatan nasional yang disebabkan oleh revolusi
tersebut. Sebagaimana karakter sejarah dunia revolusi berarrti bahwa revolusi
menimbulkan efek demonstratif yang melebih batas-batas negeri asalnya, dengan suatu
kekuatan sanggup meletupkan gelombang revolusi dan revolusi tandingan bagi di dalam
maupun di antara masyarakat.

Memang, revolusi sosial bukan satu-satunya kekuatan pengubah di zaman modern ini.
Dalam matriks “ Perubahan Besar “ (yaitu komersialisasi dan industrialisasi di seluruh
dunia, dan kebangkitan negara-negara serta ekspansi sistem negara-negara Eropa ke
segala penjuru planet bumi), pergolakan politik dan perubahan sosial-ekonomi telah
terjadi di setiap negara. Namun, dalam matriks ini revolusi pantas mendapat perhatian
khusus, tidak saja karena luar biasa pentingnya bagi sejarah bangsa dan dunia, tetapi juga
karena pola khusus dari perubahan sosial-politiknya.

Revolusi sosial adalah perubahan yang cepat dan mendasar dari masyarakat dan struktur
sosial kelas suatu negara; dan revolusi tersebut dibarengi serta sebagian menyebabkan
terjadinya pemberontakan kelas dari bawah. Revolusi haruslah dipisahkan dari berbagai
jenis konflik dan proses perubahan lainnya terutama disebabkan oleh kombinasi dua
kejadian yang timbul secara (kebetulan) bersamaan; yaitu terjadinya perubahan struktur
masyarakat dan pergolakan kelas, serta terjadinya perubahan politik dan perubahan
sosial. Sebaliknya, pemberontakan, sekalipun berhasil baik, mungkin saja melibatkan
pemberontakan kelas bawah - tetapi tidak menyebabkan timbulnya perubahan struktural.
Revolusi politik mengubah struktur negara tetapi tidak mengubah struktur sosial, dan
revolusi politik tersebut tidak perlu dilakukan melalui konflik kelas. Proses seperti
industrialisasi dapat mengubah struktur sosial tanpa harus menimbulkan, atau diakibatkan
oleh, pergolakan politik yang tiba-tiba atau perubahan struktur politik yang mendasar.
Satu hal yang unik dari revolusi sosial adalah perubahan mendasar. Satu hal yang unik
dari revolusi sosial adalah perubahan mendasar dalam struktur sosial maupun politik
yang berlangsung bersamaan dan masing-masing saling memperkuat satu sama lain.

2
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Perubahan ini berlangsung melalui konflik sosial-politik yang kuat yang didalamnya
perjuangan kelas memainkan peranan kunci.(Skocpol. 1991: 1 – 2)

Model-model Revolusi

Perbedaan antara tipe-tipe revolusi juga merupakan suatu masalah penting.. Revolusi
nasional memiliki sifat rangkap bagi yang memiliki kekuasaan revolusi nasional itu
adalah perang saudara – atau bahkan mungkin cuma sebuah pemberontakan – sedangkan
bagi kaum pemberontak – sedangkan bagi kaum pemberontak revolusi nasional itu sejak
awal adalah sebuah perang kemerdekjaan yang ditujukan terhadap penjajahan asing.

Sebaliknya, revolusi sosial pada hakekatnya merupakan pemberontakan dari satu kelas
terhadap kelas lainnya – diartikan sebagai Klassen fur sich (masing-masing kelas untuk
kelas itu sendiri). Pembagian lebih lanjut dari literature adalah: revolusi borjuis, ditujukan
terhadap suatu aristokrasi yang berkuasa, berhadap-hadapan dengan revolusi proletar dari
kaum buruh industri terhadap borjuis yang berkuasa.

Selisihnya adalah hingga seberapa jauh sebuah pemberontakan yang dimulai dengan
suatu revolusi borjuis, selama berlangsungnya dapat diubah menjadi sebuah resolusi
proletar. Dua resolusi Rusia pada tahun 1917. membuktikan bahwa hal ini telah mungkin
di dalam prakteknya, sebagaimana dilihat oleh Lenin maupun Trotsky pada waktu
revolusi tahun 1905, sekalipun mereka nyatakan dalam rumusan-rumusan yang berbeda.
Namun masalahnya juga mengandung arti penting teoritis, sehubungan dengan
pengertian yang menjadi perdebatan besar baik tentang revolusi permanen, maupun
pengertian tentang revolusi yang tiada terputus-putus, yang kelas masih akan kita
bicarakan lagi.

Menurut analisis Marxis maka gerakan pembebasan nasional pada umumnya adalah
revolusi borjuis. Dalam banyak kejadian dihasilkan sejumlah kelembagaan negara yang
demokratis, namun sekalipun dalam perjuangan pembebasan nasional itu dilibatkan
kelompok-kelompok luas dari penduduk, mereka itu tidak dapat disegariskan dengan
tahap berikutnya: revolusi proletar yang mengandung peralihan kekuasaan dari borjuis
kepada kelas pekerja. Kebanyakan revolusi nasional itu menurut penilaian Marxis Cuma
revolusi setengah-jalan. Dalam kejadian-kejadian tertentu bahkan tidak dapat dianggap
sebagai revolusi borjuis, yaitu apabila perjuangan nasionalistis itu dipimpin oleh kaum
rekasioner. Karena itu Marx pada tahun-tahun empat- puluhan abab XIX mendukung
gerakan nasional bangsa Polandia dan Hongaria, namun menentang yang dilakukan
bangsa Ceko dan Yugoslavia. Hal inilah yang dirujuk Stalin dalam karyanya, Dasar-
dasar Leninsisme (1924). Di lain pihak dalam peristiwa-peristiwa lain akhir-akhir ini,
disebabkan oleh dukungan massa kaum tani atau kaum buruh tani, sebuah revolusi
nasional dapat meningkat melampui asal borjuisnya dan beralih menjadi sebiah revolusi
proletar atau sosialis - seperti yang terjadi di Vietnam dan Kuba (sejauh resolusi Kuba itu
dipandang tertuju terhadap dominasi ekonomi Amerika)

3
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Mao Zedong, dan Lin Biao yang mengikuti jejaknya, bahkan membedakan suatu tipe
revolusi khusus, yang ditujukan terhadap imperialisme, feodalisme dan kapitalisme-
birokratik – dan dengan demikian jelas-jelas menyimpang dari revolusi nasional tipe
borjuis: revolusi demokrasi baru, yang diciri-khaskan oleh kepemimpinan proletariat.

Revolusi Vietnam dan Kuba jelas akan cocok dalam kategori ini, yang oleh pemimpin-
pemimpin Tiongkok serentak dibedakan dari suatu revolusi sosialis yang terjadi pada
suatu stadium berikutnya.

Ini membawa kita pada masalah yang luar biasa pentingnya mengenai revolusi kaum tani
sebagai suatu sub-tipe khusus dari revolusi sosial. Dalam literature Marxis sebelumnya,
revolusi tani itu tidak dibedakan sebagai satu tipe khusus. Oleh karena kebanyakan ahli
teori Marxis Barat memang kaum tani tidak dipandang sebagai mahkluk-mahkluk yang
berkemampuan untuk melancarkan suatu revolusi sejati. Pemberontakan-pemberontakan
tani tani lebih diklasifikasi sebagai Jacqueries, sebagai ledakan-ledakan tanpa suatu
prospek perubahan mendasar di dalam masyarakat. Kaum tani memang diakui sebagai
peserta-peserta dan sekutu-sekutu pontensial dalam suatu revolusi borjuis atau proletar.
Namun untuk memainkan suatu peranan mandiri mereka mereka itu dianggap tidak
mampu. Situasi mereka sebagai pemilik tanah kecil tanpa pendidikan khusus apapun
menggolongkan mereka ke posisi anggota kaum petit bourgeoisie.

Kaum Marxis bukan golongan satu-satunya yang meremehkan arti penting potensial
unsur tani bagi gerakan-gerakan revolusioner. Pada akhir dasawarsa tiga-puluhan Crane
Brinton, dalam bukunya The Anatomy of Revolution masih memperlakukan kaum tani
sebagai sebuah faktor yang dapat diabaikan dengan hanya memberikan satu halaman; dan
bahkan dalam satu halaman itu ditulisnya tentang kaum tani itu dengan gaya sepintas dan
alasan-alasan belaka.

Dalam hal ini Brinton.menyesuaikan diri secara sederhana pada stereotipe mengenai
kaum tani sebagaimana yang berlaku di kalangan mayoritas sejarawan Barat di waktu
dulu. Stereotipe ini pada pokoknya adalah suatu penilaian tentang kaum tani sebagai
suatu kelas yang pada dasarnya konservatif, yang mengambil jarak dari arus-arus
terpenting sejarah umat manusia. Pada dasawarsa tiga-puluhan seorang penyair, JWF
Werumeus Bunning, menulis baladanya yang sangat terkenal yang melukiskan kaum tani
sebagai sebagai seseorang yang dalam keadaan paling kritis terus membajak tanahnya.
Juga Marx tidak dapat sepenuhnya melepaskan diri dari stereotype ini. Manifesto
Komunis mencirikhaskan kaum tani sebagai siuatu bagian dari kelas menengah bawah,
yang bergulat melawan borjuasi agar “ kehidupannya sebagai sebagian dari golongan
menengah diselamatkan dari penghancuran. Karena itulah kaum tani itu tidak
revolusioner, tetapi konservatif. Lebih buruk lagi dari itu, mereka itu reaksioner, karena
mereka berusaha memutar balik roda sejarah.” Dan Inggris akan, menurut anggapan
Marx yang sudah diungkapkan pada tajhun 1870, merupakan negeri di mana suatu
recolusi ekonomi yang mendasar akan paling perrtama kalinya terjadi: “ Inggris adalah
negeri di mana tidak ada lagi kaum tani.”

4
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Meskipun demikian terdapat sejumlah pernyataan di dalam karya Marx yang merujuk
pada penilaian yang lebih positif mengenai potensi revolusioner kaum tani. Misalnya
pada 1856 Marx menulis kepada Friederich Engels bahwa di Jerman satu-satunya
kemungkinan keberhasilan bagi suatu revolusioner proletar pada diperolehnya diukungan
pokok dari “ sejenis edisi kedua dari Perang Tani.” Dan selama perjalanan dasawarsa
tujuh-puluhan, ketika ia agak dikecewakan oleh potensi revolusioner buruh industri
Eropa Barat, Marx mulai memperhatikan kaum tani Rusia yang terbelakang itu dengan
simpati lebih besar, dan Marx bahkan memandang mereka itu mungkin dapat menjadi
sekutu dalam suatu perjuangan untuk suatu masyarakat sosialis.

GJ Harmsen dengan tepat telah mengemukakan bahwa manakala Marx berbicara tentang
konservatisme dan sikap borjuis kaum tani, ia mungkin sekali merujuk pada penggarap
tanah sekaligus pemilik tanah Eropa Barat, yang lebih merupakan petani-pengusaha
(farmers) daripada petani (peasants). Dan sebaliknya, apabila Marx menulis tentang
penggarap-penggarap tanah Jerman dan Rusia sebagai kemungkinan suatu kelompok
revosioner besar kemungkinan suatu kelompok revolusioner, besar kemungkinannya
yang dimaksud adalah kaum petani kecil dari Eropa Tengah dan terlebih lagi kaum tani
Eropa Timur, yang tidak pernah mencapai kedudukan sebagai pemilik-pemilik tanah
yang sepenuhnya mandiri.

Bagi kebanyakan kaum tani Asia jarang yang memisahkan mereka dari penggarap tanah
Barat itu lebih besar lagi. Tidak seorang pun akan membayangkan kaum tani Perancis
atau Belanda zaman sekarang sebagai kekuatan revolusioner. Justru sebaliknya kaum
Poujadis di Perancis dan Partai Tani di negeri Belanda sejak awal secara terang-terangan
adalah konservatif dan bahkan reaksioner. Sebabnya sudah jelas sebagaimana perdana
menteri konservatif Inggris dari masa sebelum perang, Lord Stanley Baldwin pernah
katakana: “ Agar orang bersikap tidak mau kehilangan, maka berikanlah pada mereka
sesuatu untuk dimiliklinya. “ Pengolah tanah Eropa Barat adalah seorang borjuis, sebab
dengan segala keluh-kesahnya, yang ada di antaranya memang berdasar, ia
berkepentingan dengan keadaan seperti adanya sekarang. Seorang petani Asia,
sebaliknya, nyaris seorang proletar atau bahkan lebih daripada itu, dan ia tidak akan
kehilangan apa-apa dengan terjadinya revolusi, kecuali …rantai yang membelenggunya
pada tuan-tanah atau para tengkulak/lintah-darat. Bahkan kadang-kadang juga belenggu–
belenggu kejiwaan: kaum tani tidak jarang terbelenggu pada tuan-tuan tanah setempat
yang sangat berkuasa melalui ikatan-ikatan patronase.

Secara berangsur-angsur para ahli teori Marxis semakin menyadari kemungkinan


revolusioner di kalangan kaum tani. Terutama setelah tahun 1900 timbul gerakan-gerakan
revolusioner di Rusia yang lebih agraris, teori Marxis semakin menyesuaikan diri dengan
kenyataan-kenyataan baru dari praktek revolusioner. Terutama adalah Lenin yang sejak
tahun 1905 semakin memberikan tekanan pada kepentingan kaum petani miskin sebagai
suatu faktor revolusioner, bertentangan derngan kaum kulak yang bergabung pada
kekuatan-kekuaan konservatif. Pada tahun 1915 Lenin mengertitik Trostky karena yang
tersebut belakangan ini meremehkan arti penting kelas itu (kaum tani miskin itu), sebagai
kekuatan revolusioner potensial, segaris dengan kaum buruh industri, sedangkan Trotsky
tidak saja bersikeras pada keharusan dipegangnya pimpinan oleh proletar kota, melainkan

5
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
bahkan menyangkal bahwa kaum tani, dianggapnya terbelakang, akan pernah dapat
memainkan suatu peranan yang mandiri.

Selama dan sesudah revolusi proletar Russia, yang menjadi kenyataan pada bulan
November 1917 sebagai suatu kelanjutan dari revolusi borjuis, maka arti penting kelas
tani sebagai suatu kekuatan revolusioner dan sekutu penting dari kaum buruh kota secara
gamblang telah dibuktikan. Karena revolusi sosialis kota secara gamblang telah
dibuktikan. Karena revolusi sosialis yang diharapkan terjadinya di negara-negara Eropa
lainnya tidak kunjung meletus, maka para pemimpin Soviet semakin mencurahkan
perhatian mereka pada Asia, di mana suatu golongan petani yang semakin melarat
mungkin akan dapat memainkan peranan revolusioner serupa.

Betapapun, pikiran bahwa kaum buruh industri mesti menjadi inti dan merupakan
pasukan –penyerbu gerakan revolusioner tidak pernah ditinggalkan dalam teori Marxisme
Soviet.

Pada cabang Tiongkok dari Marxisme, sebagaimana yang dikembangkan oleh Mao
Zedong, giliran tugas jatuh padanya untuk membuktikan potensi revoluioner yang tiada
terukur besarnya yang terkandung dalam kelas petani Asia yang melarat itu, dan pula di
suatu negeri yang nyaris tidak dapat berbicara tentang kehadiran suatu kelas buruh
industrial. Bahkan Mao sendiri tidak pernah menamakan revolusi yang terjadi di
Tiongkok itu sebagai revolusi agraris. Sekalipun Mao lebih banyak menekankan arti
pentingnya saham agraris itu daripada yang dilakukan oleh kaum Marxis Soviet hingga
hari ini, Mao tetap berpegang pada asas Marxis bahwa suatu revolusi sosialis harus
dicapai di bawah kepimpinan proletariat industrial. Di dalam praktek strategi Tiongkok
ini berarti bahwa selama seluruh revolusioner dasawarsa tiga-puluhan dan empat-
puluhan, peranan utama dan inisiatif mesti dipegang oleh pimpinan Partai Komunis, yang
dianggap mewakili proletariat industrial. Dan walaupun selama Revolusi Kebudayaan
kepengurusan Partai Komunis itu seolah-olah menjadi goyah, dalam tahun 1968 peranan
dominan dari kaum buruh industrial – sebagai inti utama dari Partai Komunis yang telah
dibersihkan – secara berangsur-angsur agaknya telah dipulihkan kembali.

Dalam hal ini penafsiran Castro mengenai Revolusi Coba tidaklah berbeda jauh dengan
Mao, hanya dengan perbedaan yang menyolok bahwa di samping kepemimpinan
proletariat kepemimpinan kaum intelektual revolusioner juga disebutkan – yang dapat
dijelaskan oleh kecilnya peranan yang dimainkan oleh Partai Komunis sendiri di dalam
Revolusi Kuba.

Dalam literature Marxis yang lebih belakangan ini ternyata terdapat suatu kecenderungan
yang semakin besar untuk mengakui revolusi-revolusi yang berhasil yang pada
hakekatnya agraris. Menurut Marxis Austria Franz Marek revolusi-revolusi agraris pada
hakekatnya hanyalah yang di negeri-negeri tertentu telah berhasil menciptakan suatu
situasi sehingga Marxisme dapat ditegakkan sebagai suatu ideologi resmi.

Di lain pihak teori Marxis Soviet tetap menganggap golongan agraris dalam suatu
revolusi sosial pada hakekatnya berwatak borjuis kecil, yang karenanya dalam kejadian

6
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
revolusi itu dibelokkan dari arah sosialisnya. Menurut teori Marxis Soviet justru sebagian
inilah yang menjadi kelemahan eksprimen Tiongkok dan menjadi sebab penyimpangan-
penyimpangannya dari model –Soviet. selalu masih dipandang sebagai contoh yang
paling berhasil dari suatu revolusi proletar.

Dalam ilmu politik non-Marxis di Barat piun arti penting unsur agraria dalam revolusi
semakin diakui. Kira-kira empat puluh tahun yang lalu. Barington Moore, lagi-lagi
seorang politikolog Amerika, mengumumkan sebuah studi perbandingan mengenai
revolusi. Seperti Brinton, ia antara lain juga memberikan perhatian khusus pada revolusi
Inggris dan Perancis. Namun ia juga menambahkan tiga negeri Asia yang penting sebagai
obyek studi pada model Barat itu. Ini dapat diterangkan dari kenyataan bahwa
pendapatnya mengenai arti penting peranan kaum buruh berbeda jauh dari pendapatan
Brinton. Dari anak judul bukunya sudah jelas sekali bahwa dalam pendapat Moore
hubungan-hubungan agraris memainkan suatu peranan menentukan dalam menetapkan
berlangsungnya perkembangan sosial dan ekonomi di sesuatu negeri. Massa petani yang
semakin melarat dan besar jumlahnya dapat menjadi lahan persemaian bagi suatu jenis
modernisasi khusus, yaitu untuk suatu perkembangan ekonomi, yakni pertumbuhan
industrial lewat jalur-jalur diktatorial, sepeerti misalnya yang terjadi di Jerman dan
Jepang. Di Perancis massa petani juga memainkan peranan penting. Sekalipun revolusi
Perancis itu sama sekali bukan suatu revolusi petani, namun menurut Moore “ kaum tani
itulah yang menentukan revolusi itu.” Selama kaum tani ikut berbaris dengan kaum kecil
Paris, kaum sansculottes, maka revolusi dapat berjalan terus. Tetapi, ketika rezim di
bawah Ropespierre telah menjadi terlalu radikal untuk dapat memuaskan kaum tani
pemilik tanah, maka mereka lari keluar dari barisan revolusioner itu – dan waktunya telah
menjadi matang bagi Thermider dan terror putih.

Mengenai revolusi Rusia dan Tiongkok, kedua-duanya pada hekekatnya dipandang oleh
Moore sebagai revolusi petani.. Analisis adalah sebagai berikut: Di Tiongkok, bahkan
lebijh daripada di Rusia, kaum tanilah yang mengangkut bahan dinamit, yang akhirnya
meledakkan tatanan lama. Namun, sekalipun Moore mengakui kaum tani sebagai
kekuatan revolusioner yang penting, ia memandang mereka sebagai suatu kelas yang
telah menghabiskan tenaganya segera setelah tujuan revolusi – modernisasi melalui suatu
perkembangan industrial itu tercapai. Hasil proses modernisasi adalah, menurut
pendapatnya, penghancuran golongan tani sebagai suatu kelas.

Sementara ini penting diperhatikan bahwa buku Moore merupakan sebuah simptom dari
suatu pengertian yang lebih besar mengenai makna unsur petani dalam revolusi, juga bagi
penulis-penulis non-Marxis dewasa ini.

Dengan demikian kita telah sampai pada pembedaan-pembedaan sebagai berikut.


Pembedaan pertama adalah antara revolusi national dengan revolusi sosial.

Dalam revolusi nasional klasik adalah kaum borjuasi – ini sendiri merupakan sebuah
pengertian yang jauh daripada tidak mendua-arti – yang mengambil kepemimpinan,
sekalipun massa petani juga ikut ambil bagian dalam perjuangan pembebasan itu. Namun
dalam situasi dunia dewasa ini borjuasi itu dalam kebanyakan hal terikat terlalu erat pada

7
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
kepentingan-kepentingan luar negeri untuk dapat memberikan pimpinan yang baik pada
suatu perjuangan berjangka –waktu panjang. Karena itu gerakan-gerakan pembebasan
nasional dapat memperlihatkan ciri-ciri demokrasi baru, yang berarti bahwa baik
proletariat kota maupun pedesaan dapat memainkan peranan yang jauh lebih penting.
Suatu revolusi demokrasi baru dengan demikian melampui, sejak awal atau dalam
perjalanan berikutnya, perbatasan antara recolusi nasional dan revolusi sosial.

Di lain pihak kita senantiasa berhadapan dengan revolusi sosial apabila suatu lapisan
sosial, yang bekerja-sama atas dasar solidaritas – atau, menggunakan sebuah istilah
Marxis, berfungsi sebagai suatu Klasse fur sich – berusaha merampas kekuasaan politik
dan dominasi sosial dari lapisan yang berkuasa. Tipe revolusi sosial yang lebih tua,
terkenal dari sejarah Barat, diciri-khaskan oleh suatu perjuangan borjuasi terhadap
aristokrasi yang sedang berkuasa.

Dewasa ini adalah Golongan Ke-empat yang mengancam kekuasan kuala yang sedang
bercokol. Namun berbeda dari teori Marxis klasik, di Dunia Ketiga dewasa ini bukan lagi
proletariat kota yang memainkan peranan menentukan dalam revolusi sosial itu. Kaum
tani semakin diakui sebagai suatu kekuataan revolusioner yanfg perkasa, sekalipun kaum
Marxis selalu masih bersikukuh bahwa suatu kepemimpinan tertentu dari kelompok-
kelompok sosial lain, baik proletariat lota, ataupun kaum intelegensia, tetap merupakan
suatu keharusan. (Wertheim: 256 – 266)

Teori-Teori Revolusi

Teori-teori ilmu sosial ilmiah tentang revolusi dapat dibagi ke dalam lima kelompok
utama. Pertama-tama ada baiknya kita berbicara mengenai gagasan pokok yang terbaik
disajikan dalam karya-karya Karl Marx sendiri. Sebagai pendukung aktif dari model
perubahan sosial ini, kaum marxis merupakan penganalisa sosial yang paling konsisten
dalam memahami revolusi sosial. Memang di dalam abad-abad yang bergejolak sejak
kematian Marx, telah berkembang kecenderungan yang berbeda di dalam tradisi
intelektual dan politik kaum marxis. Sebut saja nama Nikolai Bukharin, Lenin, Mao
Zedong, Georg Lukacs, Antonio Gramsci dan Louis Allthusser. Walaupun demikian,
pendekatan asli Marx terhadap revolusi tetap tak diragukan, meski ditafsirkan secara
berbeda-beda m namun menjadi dasar bagi semua teori marxis yang muncul belakangan
itu.

Unsur-unusr dasar teori Marx dapat secara jelas di indentifikasi tanpa menolak fakta
bahwa semua unsur tersebut terbuka untuk berbagai macam ukuran dan penafsiran. Marx
memahami bahwa revolusi bukan sebagai suatu episode tertutup dari kekerasan dan
konflik, tetapi suatu gerakan kelas yang muncul dari hasil kontradisi struktural di dalam
masyarakat yang secara historis berkembang dan yang secara intern dilanda konflik. Bagi
Marx, kunci dari setiap masyarakat ialah cara produksi atau kombinasi khusus antara
kekuatan sosial-ekononmi dalam produksi (teknologi dan pembagian kerja) serta
hubungan kelas dalam pemilikan hasil produksi dan pemilikan surplus produksi. Yang
terakhir itu, hubungan produksi, adalah sangat menentukan.

8
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Sebab utama kontradiksi revolusioner dalam masyarakat, menurut formulasi teoritis
marxis yang paling umum, adalah timbulnya pemisahan sementara dalam cara produksi
antara kekuatan sosial dngan hubungan sosial dalam produksi

Pada gilirannya, pemisahan cara produksi ini menimbulkan konflik-konflik kelas yang
makin menghebat. Generasi dari suatu produksi dalam batas-batas cara produksi tertentu
yang ada – kapitalisme dalam feodalisme, sosialisme dalam kapitalisme – menciptakan
suatu basis yang dinamis bagi pertumbuhan kesatuan dan kesadaran setiap kelas proto
revolusioner melalui perjuangan melawan dominasi kelas yang ada. Jadi, jika mengacu
pada revolusi revolusi borjuis Eropa “ alat-alat produksi dan perdagangan, yang menjadi
dasar kaum borjuis dalam membangun dirinya sendiri, lahir dari masyarakat feudal.

Revolusi itu sendiri dilancarkan melaui aksi kelas yang dipimpin oleh suatu kelas
revolusioner yang mempunyai kesadaran diri (yakni, golongan borjuis dalam revolusi
borjuis dan kaum proletar dalam recolusi sosialis). Mungkin kelas revolusioner ini
didukung oleh kelas lain yang bersekutu, misalnya kaum tani, tretapi sekutu ini tidak
sepenuhnya mempunyai kesadaran kelas dan tidak terorganisir secara politis dalam skala
nasional. Sekali berhasil, maka revolusi itu akan memandai dimulainya transisi dari cara
produksi dan bentuk kelas dominan yang lama kepada cara produksi yang baru, yang
mana hubungan sosiual produksi baru, bentuk-bentuk ideologi dan politik yang baru, dan
hegemoni kelas revolusioner yang baru menang, akan menciptakan kondisi-kondisi yang
memungkinkan bagi perkembangan masyarakat selanjutnya. Singkatnya, Marx melihat
revolusi muncul dari cara produksi yang terbagi-bagi menurut kelas dan mengubah satu
cara produksi ke cara produksi lainnya melalui konflik kelas.

Dalam Why Men Rebel, Ted Gurr bermaksud mengembangkan suatu teori umum yang
didasarkan atas teori psikologi terhadap jarak dan bentuk kekerasan politik, yang
didefinisikan sebagai “ semua serangan kolektif dalam suatu komunitas politik terhadap
rezim politik, para aktor politiknya termasuk kelompok-kelompok politik yang bersaing,
maupun para pejabat atau kebijakan-kebijakannya. Konsep itu menggambarkan adanya
seperangkat peristiwa, penggunaan atau ancaman penggunaan kekerasan secara bersama.
Konsep itu termasuk revolusi, perang gerilya, kudeta, pemberontakan, dan kerusuhan “

Teori Gurr amat rumit dan penuh dengan nuansa yang menarik, di dalam
pengembangannya, tetapi sebenarnya esensinya cukup sederhana. Kekerasan olitik terjadi
ketika banyak anggota masyarakat menjadi marah, khususnya jika kondisi praktis dan
kondisi budaya yang ada merangsang terjadinya agresi terhadap sasaran-sasaran politik.
Dan orang akan menjadi marah apabila terdapat jurang pemisah antara barang-barang
berharga dan kesempatan yang mereka anggap sebagai haknya yang sebenarnya – suatu
kondisi yang dikenal sebagai deprivasi relatif. Gurr menawarkan model khusus untuk
menjelaskan berbagai bentuk kekerasan politik yang utama. Ia membedakan antara
kekacauan, persekongkolan dan perang saudara sebagai bentuk-bentuk utama. Revolusi
termasuk kategori perang saudara, bersama-sama dengan terorisme kelas kakap, perang
serta perang sipil. Satui hal yang menyebabkan perang saudara dibedakan dari bentuk
lain, adalah bahwa ia lebih terorganisir dibandingkan kekacauan dan lebih berbasis massa

9
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
rakyat dibandingkan bentuk konspirasi. Oleh karena itu logis karya, revolusi harus
diterangkan dari adanya deprivasi relative ang hebat, meluas, dan menyangkut berbagai
segi kehidupan yang menyentuh baik para calon elit maupun massa rakyat. Karena
apabila para calon pemimpin dan para pengikutnya terus-menerus frustasi, maka mereka
mungkin akan berperan serta dalam dan mungkin membentuk suatu organisasi kekerasan
politik, dengan demikian suatu kondisi dasar bagi timbulnya perang saudara sudah
tercipta.

Karya Charles Tilly From Mobilzaition to Revolution, menggambarkan katakanlah, suatu


puncak pernyataan teoritis bagi pendekatan konflik-konflik yang dilahirkan sebagai
lawan bagi teori Ted Gurr. Argumen dasarnya amat meyakinkan dan mudah dipahami.
Para pakar teori konflik-politik mengatakan bahwa bagaimanapun juga ketidakpuasan
rakyat, mereka tidak dapat ikut campur tangan dalam aksi politik (termasuk aksi
kekerasan) kecuali apabila mereka menjadi bagian dari suatu kelompok yang terorganisir
yang mempunyai beberapa sumber daya. Bahkan sekalipun kemudian pemerintah atau
kelompok-kelompok yang bersaing mungkin berhasil menekan kemauan untuk ikut
campur dalam aksi kolektif dengan cara mempertinggi resiko yang harus ditanggung.
Selanjutnya, para pakar teori konflik-politik, berkata, seperti yang dikemukakan oleh
Tilly:: Revolusi dan kekerasan kolektif itu lebih cenderung muncul secara langsung dari
pusat proses-proses politik dalam suatu masyarakat, ketimbang mencerminkan
ketegangan dan ketidakpuasan dalam masyarakat …bahwa klaim-klaim balasan tertentu
terhadap pemerintah yang ada yang dilakukan oleh berbagai kelompok yang termobilisir
adalah lebih penting dibanding dengan ketidakpuasan umum atau kekecewaan dari
kelompok-kelompok itu dan bahwa klaim untuk mendapat tempat yang mapan dalam
struktur kekuasaan adalah sangat menentukan

Dalam kenyataan, Tilly menolak untuk memakai kekerasan sebagai objek analisisnya,
karena ia berketetapan bahwa, insiden kekerasan kolektif sesungguhnya hanya
merupakan akibat dari proses normal dari persaingan kelompok untuk merebutkan
kekuasan dan tujuan tertentu. Maka dari itu, objek analisisnya adalah aksi kolektif yang
diartikan sebagai aksi sekelompok orang secara bersama dalam mencapai kepentingan
bersama. Dalam menganalisis aksi kolektif ini Tilly menggunakan dua model umum,
model masyarakat dan model mobilisasi. Unsur pokok model masyarakat politik adalah
pemerintah (organisasi yang mendendalikan sarana-sarana kekerasaan utama dalam
masyarakat) dan kelompok-kelompok yang memperebutkan kekuasaan,, termasuk
anggota (pesaing yang mempunyai akses rutin terhadap sumber daya pemerintah), dan
para penentang (semua pesaing lainnya). Model mobilisasi termasuk variabel yang
dirancang untuk memperjelas pola aksi kolektif yang dilakukan oleh pesaing tertentu.
Variabel ini mengacu padsa kepentingan kelompok, tingkat pengorganisasian, besarnya
sumber daya yang ada di bawah kendali kolektif, serta pada kesempatan dan ancaman
yang dipakai oleh pesaing-pesaing tertentu dalam hubungannya dengan pemerintah dan
kelompok pesaing lain.

Bagi Tilly revolusi ialah kasus khusus dari aksi kolektif dimana kelompok-kelompok
yang bersaing, berjuang untuk mendapatkan kedaulatan politik tertinggi atas masyarakat,
dan kasus di mana kelompok-kelompok penentang berhasil, sekurang-kurangnya dalam

10
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
beberapa hal tertentu, menggantikan para pemegang kekuasaan yang ada. Menurut
konsepsi ini, faktor-faktor penyebab situasi revolusioner dari kedaulatan yang terpecah-
pecah adalah sebagai berikut. Pertama, kecenderungan jangka panjang masyarakat untuk
mengalihkan sumber daya dari beberapa kelompok dalam masyarakat kepada kelompk
lainnya (khususnya jika kelompok pemegang kekuasaan semula disingkirkan dari
masyarakat politik). Kedua, agaknya penting untuk meneliti setiap peristiwa perantara,
seperti perkembangbiakan ideologi revolusioner dan meningkatnya ketidakpuasan
masyarakat, yang mendorong munculnya kelompok –kelompok penentang yang
revolusioner memperebutkan kedaulatan dan unsur-unsur besar dari masyarakat yang
mendukung klaim mereka. Akibatnya momentum revolusioner muncul apabila angota
yang diam-diam menyetujui yang berasal dari …masyarakat yang menemukan dirinya
dihadapkan pada tuntutan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dari pemerintah dan dari
lembaga alternatif yang melakukan klaim atas pemerintah – dan memasuki lembaga
alternatif itu. Mereka membayar pajak kepada lembaga tersebut, menyediakan orang-
orangnya untuk direkut menjadi tentara, menghidupi para fungsionarisnya, menghormati
simbol-simbolnya, meluangkan waktu untuk pelayanannya, ataupun memberikan sumber
daya lainnya meskipun itu dilarang oleh pemerintah yang dulunya pernah mereka patuhi.
Kedaulatan majemuk sudah dimiliki.

Sebaliknya, keberhasilan revolusi tidak hanya tergantung pada munculnya kedaulatan


majemuk, tertapi tergantung juga pada pembentukan koalisi antara anggota masyarakat
politik dengan kelompok-kelompok penentang yang menajukan klaim-klaim alternatif
yang eksklusif untuk menguasai pemerintahan. Dan sesungguhnya keberhasilan itu
tergantung juga pada besarnya kekuatan yang dimiliki oleh koalisi revolusioner. Hanya
apabila kondisi tambahan ini sudak dipenuhi, maka para penentang revolusioner mungkin
dapat mengalahkan dan,menggantikan para pemegang kekuasan yang ada.

Mengingat Ted Guur dan Charles Tilly menganalisis revolusi sebagai tipe khusus dari
peristiwa politik yang dapat dijelaskan dari konteks teori kekerasan politik atau aksi
kolektif yang umum, maka Chalmers Johnson dalam Rovolutionary Change, seperti juga
Marx menganalisis revolusi dari perspektif teori sosiologi makro tentang integrasi dan
perubahan masyarakat. Seperti studi fisiologi dan patologi, Johnson mengatakan “
analisis revolusi tak dapat dipisahkan dari analisis terhadap masyarakat yang hidup dan
masih berfungsi. Meminjam kebijakan sosiologi Talcott Parson. Johnson menekankan
bahwa sebuah masyarakat normal yang bebas krisis haruslah digambakan sebagai suatu “
sistem sosial yang terkoordinasi melalui nilai “, yang secara fungsional beradaptasi pada
kebutuhan lingkungannya. Sistim sosial yang demikian itu merupakan seperangkat
lembaga yang secara internal mencerminkan dan memerinci konsisten orinetasi nilai
masyarakat dalam norma-norma dan peranan-peranannya. Orientasi nilai ini juga telah
diinternalisasikan melalui proses sosialisasi dan ia menjadi patokan moral individu dan
standard untuk merumuskan realitas bagi mayoritas anggota masyarakat dewasa yang
normal. Selanjutnya, otoritas politik haruslah dilegitimasikan sesuai dengan konteks
nilai-nilai kemasyarakatan.
Revolusi didefinisikan dan dijelaskan oleh Johnson berdasarkan model sistem sosial yang
terkoordinasi melalui nilai. Kekerasan dan perubahan sosial, kata Johnson, adalah sifat
dari revolusi. “ Menciptakan revolusi berarti menerima kekerasan untuk mengubah

11
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
sistem; lebih tepatnya, revolusi adalah implementasi (yang purposif) dari suatu strategi
kekerasan yang ditujukan untuk mendorong timbulnya perubahan dalam struktur sosial.”
Apabila mereka berhasil, yang diubah oleh revolusi, terutama, adalah inti orientasi nilai
masyarakat yang bersangkutan. Dan upaya yang dilancarkan iuntuk melakukan
perubahan itu berbentuk gerakan ideologis yang berorientasi nilai yang siap untuk
menggunakan kekerasan terhadap otoritas yang ada. Walaupun demikian, gerakan seperti
itu tidak akan muncul kecuali jika nilai dari lingkungan mengalami “ketidakhamonisan “
yang serius dan ini disebabkan oleh adanya gangguan baik dari dalam maupun dari luar –
khususnya dari nilai-nilai alternatif yang diousulkan oleh suatu gerakan revolusioner.
Kala hal ini terjadi, otoritas yang ada kehilangan legitimasi mereka, dan harus
mengandalkan kekerasan untuk menjaga ketertiban masyarakat. Walaupun demikian
mereka hanya akan berhasil untuk sementara waktu saja.

Apabila pemegang otoritas fleksibel, cerdik, dan terampil dalam mengatsi situasi
tersebut, mereka akan melancarkan reformasi untuk mennyelamatkan kembali nilai-nilai
dengan lingkungan. Tetapi, apabila para penguasa keras kepala dan tak kenal kompromi,
maka revolusi akan muncul sebagai upaya untuk melakukan perubahan sistemik dengan
cara kekerasaan. Ini akan terjadi segera setelah faktor-faktor keberuntungan berhasil
melumpuhkan kemampuan penguasa untuk menggunakan kekerasaan.

Revolusi yang berhasil pada akhirnya akan menyelaraskan kembali nilai-nilai sistem
sosial dengan lingkungan; hal yang tidak dapat dilakukan oleh para penguasa resim lama
yang keras kepala dan kurang sedap, Menurut Johnson, revolusi dari perubahan
evolusioner, menjadi mungkin dan harus terjadi apabila otoritas prarevolusioner gagal
dan kehilangan legitimasinya. Teori masyarakat dan perubahan sosial Johnson
menjadikan porintasi nilai dan legitimasi politik sebagai unsur kunci untuk menjelaskan
munculnya situasi revolusioner, berbagai pilihan dari otoritas yang ada, dan sifat serta
keberhasilan kekuatan revolusioner.

Dari keempat teori di atas Skocpol melihat teori Marx (pendekatannya yang orsinil pada
revolusi) dan konflik politik yang diajukan oleh Charles Tilly sangat berguna untuk
membantu memahami fenomena revolusi. Kedua teori tersebut telah memungkinkan ia
untuk mencapai tujuannya menganalisis revolusi sosial dari perspektif struktural, dengan
perhatian khusus pada konteks internasional dan perkembangan di dalam negeri,
runtuhnya organisasi negara dari rezim lama dan pembangunan organisasi kenegaraan
baru yang revolusioner. Cara menganalisis revolusi sosial yang sedemikian merupakan
gagasan utama Theda Sckopol. Ada tiga elemen struktur yang dianggap penting oleh
Skocpol untuk menganalisis revolusi yaitu: peranan konteks internasional, perkembangan
ekonomi di dalam negeri dan negara-negara lain, dan organisasi-organisasi kenegaraan
dari rezim yang lama dan baru. Teori Marx dan Tilly dipakai Skocpol untuk menjelaskan
peranan ketiga elemen struktural tersebut dalam revolusi.

Sejumlah gagasanm diambil oleh Skocpol baik dari Marx maupun Tilly untuk
membangun teori revolusinya. Definisinya tentang revolusi sosial memperlihatkan hal
itu. Menurut Skocpol m revolusi sosial adalah sebuah perubahan mendasar yang cepat
dari sebuah masyarakat dan struktur kelas, yang disertai dan dilaksanakan lewat

12
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
pemberontakan-pemberontakan dari kelas bawah. Dalam definisi tersebut terkandung
unsure perubahan struktural yang berbarengan dengan kebangkitan (pemberontakan)
kelas dan perubahan politik dan sosial yang terjadi pada waktu bersamaan. Sumbangan
Marx tentang kelas-kelas dan kepentingan-kepentingan mereka lewat hubungan antar-
kelas membuat Skocpol sadar akan adanya ketegangan-ketegangan dan kontradiksi-
kontradiksi di dalam masyarakat. Gagasan Marx bahwa, hubungan antarkelas berakar
pada control terhadap alat-alat produksi dan pada pengambilan surplus ekonomi oleh
orang –orang yang memproduksi, memerlihatkan pada Skocpol, elemen-elemen yang
dapat dipakai dalam sebuah analisis mengenai revolusi seperti, kelas, kepentingan-
kepentingan mereka, ketegangan dan kontradiksi dalam suatu proses produksi,

Tilly menyumbangkan gagasan tentang aksi kolektif untuk memahami peranan dan sifat
organisasi-organisasi kenegaraan dari rezim lama dan kelompok penentang yang
membangun organisasi kenegaraan yang baru. Para teoretis konflik politik
berargumentasi bahwa, rakyat tidak dapat terlibat dalam aksi politik, kecualai kalau
merupakan anggota kelompok-kelompok yang terorganisir, meskipun secara minimal
dengan akses pada sejumlah sumber-sumber daya. Tiga buah kondisi yang harus
dipeneuhi untuk berhasilnya sebuah revolusi yang diambil dari teori konflik politik yaitu
munculnya kedaulatan ganda, penguasaan kekuatan-kekuatan penting oleh kelompok
koalisi revolusioner, pembentukan koalisi di antara anggota masyarakat politik dan
kelompok penentang. Dengan beberapa cara, Marx membantu Skocpol menjawab
pertanyan-pertanyaan “siapa “ yang terlibat dalam sebuah revolusi dan mengapa mereka
terlibat. Tilly memberi Skocpol jawaban untuk peertanyaan-pertanyaan bagaimana dan
bilamana sebuah revolusi sosial terjadi.

Skocpol mengajukan tiga prinsip analisis utama ddalam teori revolusinya, yaitu
pengunaan perspektif struktural untuk melihat sebab-sebab dan proses-proses, referensi
pada struktur internasional dan perkembangan sejarah dunia, fokus pada negara sebagai
sebuah organisasi administratif. Ketiga prinsip analisis ini dipakai untuk menjelaskan
sebab-sebab dan hasil revolusi sosial. Dari prinsip pertama dapat dilihat faktor-faktor
seperti munculnya situasi revolusioner dalam pemerintahan rezim lama, hubungan
antarkelompok dalam masyarakat dan hubungan antar masyarakat untuk menjelaskan
revolusi sosial. Dan prinsip kedua dapat dianalisis faktor-faktor seperti perkembangan
ekonomi kapitalis yang benar dan pembentukan negara nasional serta sistem persaingan
antarnegara dalam arena internasional dunia modern yang penuh dinamika.

Negara sebagai elemen ketiga, menurut Skocpol, harus dilihat sebagai sebuah struktur
yang otonom. Cara Skocpol melihat negara yang sedemikian ini berbeda dari cara Marx
dan Tilly melihat negara. Skocpol menuliskan bahwa “ baik dalam marxisme klasik
maupun dalam teori Tilly, negara tidak diperlakukan sebagai sebuah struktur yang
otonom.” Skocpol kemudian memberikan penjelasan mengenai negara. Dia percaya
mempertahankan penguasaan atas wilayah-wilayah teritorialnya dan juga rakyatnya, dan
bertanggung jawab melaksanakan persaingan-persaingan antarkelompok militer yang
potensial dengan negara-negara tetangga dalam sistem internasional. Dengan demikian
negara, menurut Skocpol adalah “ sebuah struktur yang otonom yang memiliki logika dan
kepentinganya sendiri yang tidak harus sama atau berbaur dengan kepentingan-

13
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
kepentingan jelas yang dominan di dalam masyarakat atau seluruh jajaran anggota
kelompok di dalam masyarakat politik.” Negara, Skocpol menegaskan, tidaklah semata-
mata diciptakan dan dimanipulasi oleh kelas-kelas yang dominan.

Penekanan yang paling utama dari pendekatan struktural. Sckopol ini adalah pada negara.
Menurut Skocpol kontradiksi yang berpusat pada struktur rezim lamalah yang
bertanggung jawab atas munculnya krisis-krisis politik yang menyalahkan revolusi sosial.
Sebuah revolusi sosial akan terjadi jika “terdapat pemberontyakan –pemberontakan kelas
dan perubahan –perubahan sosial-ekonomi yang berkaitan dengan runtuhnya organisasi-
organisasi kenegaraan rezim lama dan terkonsolidasinya serta berfuingsinya organisasi-
organisasi kenegaraan rezim bariu.” Dengan demikian dalam menganalisis revolusi, apa
yang harus dijelaskan adalah, hubungan di antara kelas, di antara satiu negara dengan
negara lain, dan hubungan di antara negara dengan kelas yang dominan atau lebih rendah
di dalam negara yang bersangkutan. (Skocpol, 1991: 4 – 28)

Perang Kemerdekaan Amerika ataukah Revolusi Sosial?

Perjuangan Amerika melawan Inggris hanyalah merupakan perang kemerdekaan atau


revolusi? Masalah ini sangat diperdebatkan, terutama oleh para sejarawan Amerika yang
sangat berlainan pendapat. Di antaranya ada yang menganggap Perang Kemerdekaan
sebagai suatu revolusi yang mungkin lebih radikal daripada revolusi Perancis. Ada juga
yang menyangkal bahwa perang tersebut telah mengakibatkan perubahan-perubahan
ekonomi dan sosial yang mendasar bagi koloni-koloni Inggris. Dari kedua pandangan
ekstrim tersebut, kebanyakan sejarawan berpendapat lebih moderat. Perang Amerika
adalah juga suatu revolusi politik, ekonomi dan sosial, tetapi bersifat ekstrim hanya
dalam bidang pertama. Namun haruslah diperhatikan bahwa revolusi ini sangat
menentukan dan unggul ‘ tidak pernah pula disusul oleh suatu kontra-revolusi terjadi di
Eropa.

Perang Amerika sungguh merupakan revolusi politik yang besar; untuk pertama kali para
patriot berhasrat menerapkan gagasan-gagasan para filsuf, terutama Locke, Montesquieu,
Rousseau yang telah mengarang bahwa pemerintah apa pun harus berdasarkan suatu
pakta atau perjanjian sosial. Negara-negara bagian Amerika, kemudian Konfederasi juga,
menciptakan konsitusi-konsitusi yang biasanya didahului oleh deklarasi hak. Ternyata
konsitusi dan deklarasi hak itu merupakan semacam yurisprudensi yang di kemudian hari
akan dicontoh di Eropa dan terutama di Perancis. Dmikian halnya dengan insitusi-insitusi
lainnnya seperti comite de correspondance (Komite-komite Penghubung), comite de
salut public (Komite Keselamatan Umum) dan comite de surveillance (Komite
Pengawasan), klub-klub wakil-wakil dalam misi pengendalian harga, uang kertas,
sumpah pada undang-undang, pemenjaraan para tersangka lain-lain,.
Di negara bagian Karolina, bekas dewan legislatif kolonial menetapkan konsitusi baru.
Tetapi para wakil rakyat di setiap distrik telah diberi instruksi yang menyerupai cahier de
doleances (buku keluhan: rakyat yang disampaikan kepada pengusaha) yang akan
dipegang para wakil Perancis pada tahun 1789. Instruksi ini menganjurkan para wakil
rakyat untuk menjaga perbedaan antara undang-undang pokok dan undang-undang biasa,

14
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
mengarahkan perhatian mereka pada jumlah yang perlu didirikan dalam rezim baru
(karena beberapa di antara mereka menuntut dan majelis sedangkan yang lainnya
menuntiut satu), dan mengusahakan “ pemisahan kekuasaan “ yang dianjurkan oleh
Locke dan Montesquie.

Di Pensylavania, sebuah Convention ditugaskan untuk menyusun konsitusi. Para anggota


Convention ini dipilih secara kurang lazim. Wilayah Barat Negara bagian itu, yang baru
saja dihuni dan lebih bersifat demokratis, menunjuk jumlah wakil yang terlalu banyak
dibandingkan dengan sejumlah wilayah Timur. Pada tahun 1776, convention menyusun
suatu undang-undang dasar yang tampaknya lebih demokratis daripada semua konsitusi
yang pernah dipermaklumkan di dunia sebelum Konsitusi Perancis tahun 1793. Undang-
undang dasar itu mengenakan suatu rezim majelis tunggal tempat wakil-wakil rakyat
yang dipilih dengan hak suara yang hampir berlaku bagi semua warga. Semua wajib
pajak yang berusia di atas 21 tahun mempunyai hak dipilih dan memilih untuk semua
jabatan. Kekuasaan eksekutif dipercayakan kepada seseorang presiden yang dipilih oleh
majelis dan didampingi oleh Dewan. Presiden tidak mempunyai hak veto, dia tidak dapat
melaksanakan kekuasaannya tanpa persetujuan Dewan Referendum diadakan bila perlu.
Sebuah “Dewan Censor “ mewujudkan langkah pertama suatu dewan konsitusional dan
akan bersidang setiap tujuh tahun sekali untuk memeriksa apakah undang-undang
tersebut tidak dilanggar selama jangka waktu itu. Insitusi-insitusi ini ditetapkan oleh
kaum demokrat yang mengalahkan golongan konservatif pada waktu pemilihan
Convention.

Lain halnya di Negara bagian Massachusetts. Seorang pria bernama John Adams
memainkan peranan sangat penting. Dia menjelaskan gagasan-gagasannya tentang bakal
konsitusi negara dalam karyanya Thought on Givernment, yang diterbitkan pada tahun
1776. Dia beranggapan bahwa tujuan pemerintah adalah “ kebahagian bagi rakyat “ dan
republik hanya dapat didasarkan atas kebajikan. Dia memihak sistem dua majelis,
pemilihan pegawai untuk satu tahun, termasuk gubernur Negara bagian. Pendidikan
nasional disubsidi oleh Negara bagian dan bukan oleh Gereja-gereja. Sebaliknya ia
menentang pemilihan sutu Convention dan berpendapat bahwa majelis yang telah ada
mempunyai kekuasaan untuk menyusun konsitusi. Di bawah pengaruhnya, pada tahun
1778 dewan Massachuttes menyusun sebuah konsitusi yang dalam garis-garis besarnya
boleh dikatakan mencontoh tata negara Inggris. Tetapi dewan memutuskan untuk
menguji konsitusi ini melalui referendum. Ternyata konsitusi tersebut ditolak oleh rakyat
karena golongan demokrat dan loyalis telah menampiknya, meskipun dengan alasan yang
berbeda. Sebuah Convention kemudian dipilih dan menyetujui konsitusi yang disusun
oleh John Adams yang katanya diilhami oleh Locke, Sidney, Rosseau dan Mably.
Sebenarnya konsitusi tersebut tidak banyak bedanya dengan yang berlaku sebelumnya
dan menetapkan jabatan seseorang gubernur, pembentukan senat dan House of the
Common (Dewan Perwakilan Rakyat). Hak memilih berlaku untuk banyak warga tetapi
harus berpendapatan besar juga dicalonkan untuk menduduki jabatan tinggi. Dalam salah
satu pusat konsitusi para warga negara dipaksa menghadiri kebaktian Gereja. Konsitusi
yang diuji melalui referendum ini telah diterima, tetapi peserta pemilihan itu kurang dari
seperempat jumlah pemilih terdaftar.

15
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Banyak undang-undang Dasar Amerika yang baru, didahului oleh suatu “deklarasi hak “.
Yang menjadi perintis dan yang paling mulia serta yang paling penting karena
dampaknya, adalah Deklarasi hak Negara bagian Virginia pada tanggal 12 Juni 1176.
Ditegaskannya terutama bahwa “ semua orang terlahir sama, bebas dan merdeka.” Bahwa
manusia harus menikmati: kehidupan dan kebebasan dengan tersedianya sarana untuk
memperoleh dan mempunyai harta milik, mengejar dan mendapat kebahagian serta
keamanan.” Diakuinya kedaulatan rakyat, dipermaklumkannya perlawanan terhadap
penindasan, pemisahan kekuasaan, jaminan bagi para terdakwa, tertuduh dan terhukum,
pertanggungjawaban para pegawai, kebebasan pers, kebebasan beribadah. Kurang dari
sebulan kemudian, tanggal 4 Juli 1776, dengan diproklamasikan kemercekaan Amerika
Serikat. Kongres Philadelpia mempermaklumkan deklarasi hak yang mencantumkan lagi
bahwa: orang terlahir sama dan mempunyai hak-hak utama yaitu: kehidupan, kebebasan,
dan mengejar kebahagian.” Akan tetapi Deklarasi hak tanggal 4 Juli 1776 terutama
menekankan akan hak warga Amerika Serikat sehingga bersifat kurang umum daripada
Deklarasi hak Virginia dan Deklarasi Perancis tahun 1789..

Konsitusi pertama Amerika yaitu Articles of Confederation baru ditetapkan pada tahun
1781 yaitu lima tahun setelah proklamasi kemerdekaan. Articles tersebut mewujudkan
republik baru dalam bentuk negara federal, tetapi sangat berbeda dengan dua republik
federal yang sebetulnya dapat dicotoh, yaitu Negara-negara Hilir dan Swiss. Dengan
maksud yang berlebih-lebihan dalam nenjaga demokrasi maka kekuasaan federal sangat
lemah. Meskipun perang dapat diakhirinya, kekuasaan federal tersebut ternyata tidak
mampu memecahkan masalah-masalah yang timbul setelah damai kembali;
mempertahankan atau menghapuskan perbudakan, krisis keuangan, kekacaubalauan
perdagangan dan komunikasi, serangan dari kaum konservatif. Suatu konsitusi baru
ditetapkan pada tanggal 17 September 1787 olerh suatu Convention yang bersidang di
Philadelphia dan beranggotakan orang terkemuka di Amerika Serikat. Setelah disetujui
oleh dewan-dewan legislatif dari hampir semua Negara bagian. Undang-Undang Dasar
ini mulai berlaku pada tanggal 4 Maret 1789. Ketiga kekuasaan diorganisasi sesuai
dengan dengan gagasan Locke dan Montesquieu. Kekuasaan ekskutif dipercayakan pada
seorang presiden yang dipilih untuk empat tahun dan mempunyai kekuasaan yang besar.
Kekuasaan legislatif ada dua majelis. Majelis pertama terdiri dari wakil yang jumlahnya
seimbang dengan penduduk tiap-tiap Negara bagian dan majelis kedua adalah Senat yang
terdiri dari dua senator setiap Negara bagian. Kekuasaan yudikatif mempunyai
Mahkamah Agung. Meskipun menyinggung soal Ketuhanan. Konsitusi ini bersifat
sekuler. Di dalam Negara-negara bagian konfederasi yang mengakui Gereja Anglikan
sebagai Gereja resmi sebelum tahun 1776, Gereja tersebut tidak lagi berkedudukan resmi
Karena itu rezim baru menetapkan pemisahan antara Gereja dan Negara bersama pula
sistem demokratis. Ketika Deklarasi Perancis hak-hak manusia dan warga negara (yang
ditetapkan pada tanggal 26 Agustus 1978) di ketahui di Amerika Serikat, maka tanggal
25 September, sepuluh amandemen ditambahkan pada Konsitusi Amerika. Diterimalah
oleh 13 Negara bagian dan berkekuatan hukum mulai tanggal 15 Desember 1791.
Kesepuluh amandemen pertama ini membentuk semacam Deklarasi Amerika hak-hak
manusia dan melengkapi Konsitusi.

16
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Sekalipun Undang-undang Dasar tersebut agak bersifat “aristokratik “ (Walaupun
mempergunakan tata cara yang hampir monarkis). Revolusi Amerika adalah betul--betul
suatu revolusi yang demokratis. Para pemberontak telah memaksa lawan-lawan mereka
mengungsi dan menyita harta benda mereka, meniadakan pajak yang masih bersifat
feudal di Negara-negara bagian tertentu dan terutama di Negara bagian New York,
menghapus undang-undang yang menetapkan iubstitution (3) dan hak anak sulung dalam
hal warisan. Hak memilih diperluas, sehingga mulai tahun 1800 hak itu berlaku hampir
bagi semua warga di tujuh Negara bagian di anatara 13 Negara bagian yang ketika itu
membentuk Amerika Serikat. Perbudakan tetap dipertahankan tetapi banyak politikus
yang menyelesaikannya. Lagi pula kerja paksa bagi para imigran yang direkut melalui
kontrak (indenture) masih berlaku dan rezim feodal yang mencakup lahan milik tuan
tanah tidak seluruhnya hilang. Semua keadaan ini disebabkan oleh Revolusi Amerika
yang bertujuan untuk menetapkan kebebasan dan demokrasi, dengan menengok sistem
ketatanegaraan masa silam, sehingga Revolusi itu dapat dikatakan revolusioner tetapi
bersifat konservatif. Namun, menurut pandangan negara-negara lama Barat revolusi itu
dinilai sangat revolusioner.(Codechot, 1989: 18 – 22)

Gema Revolusi Amerika di Dunia Barat

Revolusi Amerika benar-benar telah berkumandang di Dunia Barat dan pertama-tama


memberi kesan kepada orang Barat bahwa mereka hidup dalam suatu zaman yang akan
digoyahkan oleh perombakan yang luar biasa. Mereka telah menyadari bahwa doktrin-
doktrin para filsuf yang mereka perbincangkan tidaklah utopis, tetapi bisa langsung
diterapkan. Di Barat akhirnya revolusi tersebut melahirkan suatu “mitos “ Amerika, yaitu
gambaran suatu sistem masyarakat yang dilukiskan oleh Rousseau. Tanggapan terhadap
Revolusi Amerika berbeda-beda di setiap negara, Inggris, Irlandia, Negara-negara Hilir
demikian besar semangatnya terhadap Revolusi Amerika itu, sehingga pendukung dan
lawan insurgent sampai baku hantam. Di Perancis, Jerman dan Swiss kalangan
berpendidikan menaruh perhatian atas peritiwa-peristiwa Amerika yang tidak
mengakibatkan kekalutan langsung, tetapi berpengaruh dalam jangka panjang. Di Italia,
gagasan Fanklin serta ketatanegaraan Amerika yang bersifat demokratis, mendapat
sambutan antusias hanya pada tahun 1796.

Dunia Barat mengenal Revolusi Amerika melalui pers, perdebatan dalam“perkumpulan-


perkumpulan para cendikiawan “ (Societe de pensee) melalui perbincangan serdadu-
serdadu yang kembali dari Amerika dan akhirnya oleh propaganda Amerika.

Di Dunia Barat Revolusi Amerika Serikat menunjang banyak terbitnya karya tentang
Amerika. Dari tahun 1769 sampai tahun 1790, 26 di antaranya telah diterbitkan dalam
tiga bahasa dan 15 dalam empat bahasa (Perancis, Inggris, Jerman dan Belanda). Majalah
dan suratkabar berkala terangsang oleh Revolusi Amerika. Jumlah suratkabar baik di
kebanyakan dunia Barat. Di Jerman, misalnya, Koran yang berjumlah 410 selama
dasawarasa 1770 – 1780 mencapai 718 dalam dasawarsa berikutnya, yakni suatu
kenaikan sebesar 75 %. Dua puluh sembilan suratkabar ini menampilkan kata patriot
dalam judulnya. Perkumpulan para cendikiawan yang menerima Koran, bertambah

17
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
banyak. Banyak loge maconnique, antara lain yang berasal dari Budapest, menyatakan
diri behaluan “ Amerika:

Propaganda Amerika pertama-tama dilakukan oleh para diplomat Amertika di Dunia


Barat “ Isaac de Pinto dan kemudian John Adams di Den Haag; Franklin disusul oleh
Jefferson di Versailles. Para warga Eropa yang ikut dalam perang kemerdekaan, ketika
pulang menjadi penyiar propaganda di antaranya: La Fayette, Kosciusxko dan Filippo
Mazzei, yaitu seorang Italia yang berdiam di Virginia kemudian diutus ke Toskana serta
Polandia. Selain tokoh-tokoh besar tersebut dan tokoh tokoh lainnya yang tidak seberapa
terkenal, perlu juga diperhitungkan peranan kelompok-kelompok serdadu, yakni warga
dari daerah Hesse yang bertempur di pihak Ingggris maupun para prajurit Perancis dari
pasukan Rochambeau. Seorang sejarawan Amerika, Forrest Mac Donald, menyatakan
bahwa tentara Perancis sangat aktif menyiarkan propaganda. Dalam sebuah peta ia
menandai desa asal para serdadu tersebut dan terlihatlah bahwa tenmpat-tempat itu
bertepatan dengan lokasi terjadinya kericuhan agararis di Perancis., antara tahun 1789
dan 1792. Ketepatan tersebut perlu dipertimbangkan tetapi tidak membuktikan adanya
hubungan sebab akibat, karena penjelasan lainnya dapat dikemukakan. Setelah tahun
1789 di antara para bekas perwira korps ekspedisi Rochambeau, jumlah emigran lebih
kecil daripada jumlah perwira yang tetap tinggal di Perancis. Padahal; semua perwira itu
adalah bangsawan yang biasanya mengungsi. Cukup banyak perwira yang ikut serta
dalam perang Kemerdekaan Amerika Serikat, salah satunya adalah Berthier, yang
menonjol kegiatannya dalam konflik jaman revolusi.

Konsitusi-konsitusi baru Amerika yang dibaca penuh antusias, diterbitkan paling tidak
lama kali dalam bahasa Perancis dari tahun 1776 sampai tahun 1786 dan setidak-tidaknya
sekali dalam bahasa Belanda pada tahun 1787. Tindakan rakyat yang menerapkan
kekuasannya melalui penyusunan Undang-Undang Dasar sangat mengesankan orang –
orang Perancis. Mereka juga membahas masalah lainnya yaitu bagaimana caranya untuk
mencegah timbulnya kaum bangsawan yang turun-temurun dalam sebuah republik.
Mably dan Mirabeau takut dan curiga terhadap insitusi-insitusi seperti Majelis-majelis
Tinggi dan ordre de Cincinnatus (tanda kehormatan Amerika), yang dapat melahirkan
kaum bangsawan baru. Perdebatan-perdebatan itu memperluas konsep kemajuan dan
memberi dimensi baru pada pengertian kebebasan dan persamaan, Amerika Serikat kelak
menjadi negara yang patut ditiru, sebagai pengganti Inggris.

Pengaruh Revolusi Amerika tidak terbatas pada perundingan-perundingan teoritis, akan


tetapi berhasil mengkonfrontasikan berbagai pihak di beberapa negara sehingga
serentetan “ revolusi yang berantai ’ Unsur-unsur konflik yang besar sudah bertumpuk-
tumpuk baik di Eropa dan di Amerika. Di banyak negara, para penguasa yang sedikit
banyak eclaire (terpengaruh oleh Pencerahan), berupaya untuk mempebesar kekuasaan
mereka dengan melawan dewan –dewan Coprs constitue, yaitu benteng kaum
bangsawan. Di Perancis, triumvat Mauplou – Terray – d”Aiguillon untuk pertama kali
merongrong hak-hak istimewa dengan menghapuskan parlement-parlement pada tanggal
21 Februari 1771. Sokongan dan tunjangan bagi kaum bangsawan banyak dikurangi pula.
Tindakan ini merintis pembaruan sistem keuangan secara lebih dalam. Karena Louis XV
meninggal; secara mendadak, maka selesailah tugas ketiga menteri tersebut. Luis XVI

18
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
memecat mereka dan membatalkan pembaruan-pembaruan itu, untuk menjamin
popularitasnya di antara para bangsawan. Di Swedia pada tahun yang sama (1772),
Gustavus III mengakhiri hegemoni kaum bangsawan. Di wilayah kekuasaan Austria,
Maria Theresia berusaha melangkahi pertahanan dewan-dewan Corps constitues. Di
seluruh Eropa Barat dan Tengah, pertentangan berkecamuk antara despotisme eclaire dan
kaum aristokrat. Tetapi para bangsawan dan penguasa yang mebawa ke dalam pertikaian
kekuatan-kekuatan yang dayanya tidak terduga, akan meledakkan revolusi yang lebih
berat lagi. Konflik antara raja dan kaum bangsawan akan segera diganti oleh perjuangan
antara kelompok aristokrat dan demokrat. (Godechot, 1989:23 – 25)

Revolusi Perancis

Berlawanan dengan Inggris, Perancis lama merupakan suatu negara di mana bentuk
feudal dan hak-hak istimewa feudal masih tetap bertahan. Di Inggris, seawal tahun 1211
telah dikeluarkan Magna Charta yang memaksa raja untuk menghormati hak-hak hamba-
hambanya. Dokumen ini dinamakan kitab-injilnya semua konsitusi. Pun di Inggris
seawall abad ke-13 telah dibentuk parlemen yang terdiri atas para baron dan wakil-wakil
dari kota-kota (commons). Parlemen ini terdiri dari dua bagian: House of Lords (Majelis
Tinggi) dan House of Commons (Majelis Rendah). Parlemeni ini disidangkan secara
teratur. Dalam abad ke-17 persengketaan antara raja dan parlemen makin meningkat
berhubungan dengan masalah pemungutan pajak oleh raja. Raja membubarkan parlemen,
tetapi terpaksa menyidangkannya kembali. Konflik itu mengakibatkan perang saudara
(1642 -1648) antara kaum pengikut raja dan kaum yang memihak Parlemen. Yang
disebut terakhir ini mencapai kemenangan di bawah Cromwell; raja dihukum mati dan
monarki dihapuskan.

Dalam tahun 1660, monarki dipulihkan kembali. Raja yang baru terpesona oleh
absolustisme Perancis sehingga timbul ketegangan -ketegangan baru dengan parlemen.
Dalam tahun 1688 ketegangan-ketegangan ini, yang diperhebat oleh kekhawatiran bahwa
dinasti Katolik akan menguasai negara Protestan, mengakibatkan terjadinya Glorious
Revolution (Revolusi Gemilang). Hak-hak parlemen sekali lagi ditetapkan. Sejak saat itu
pemungutan pajak memerlukan persetujuan parlemen. Juga dibuat perbedaan natra
kekuasaan eksekutif dan kekuasaan legislatif atas dasar gagasan-gagasan John Locke.
Dengan demikian ditetapkanlah monarkhi konsitusional yang pertama yang merupakan
kontras yang tajam dengan absolutisme di Perancis.

Pun di Inggris, hiubungan-hubungan sosial jauh lebih demokratis. Golongan menengah


telah lama memperoleh tempat yang luas dalam kehidupan politik dan sosial. Bagi setiap
orang pada prinsipnya terdapat kesamaan hukum dan kepastian hukum. Kaum bangsawan
memikul beban financial yang terberat, sedangkan kaum miskin seawal abad ke-18 telah
dibebaskan dari pajak. Secara relatif terdapat keterbukaan sosial, dan sifat yang cukup
luwes di dalam batas antara satu golongan dan golongan lainnya. Semuanya ini jauh
berbeda dari apa yang sudah merupakan kebiasaan di Perancis.

19
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Dalam abad ke-16 pertentangan antara para bangsawan dan raja di Perancis semakin
menajam. Walaupun kekuasaan raja Perancis dalam abad ke-13 sudah cukup kuat, negara
nasional baru terbentuk secara definitif dalam abad ke-16. Akhirnya raja keluar dari
konflik dengan para bangsawan itu sebagai pemenang. Dalam abad ke-17, negara
nasional mulai memiliki corak-corak absolutis. Raja menganggap dirinya sebagai wakil
Tuhan yang dengan demikian tidak bertanggung jawab baik pada rakyat maupun kepada
gereja. Dalam tahun 1614, para wakil golongan – Etats Generaux – disidangkan untuk
terakhir kali. Dewan ini sejak abad ke-14 mendaimpingi raja sebagai penasehat.

Untuk pemerintahan di propinsi –propinsi diangkatlah pejabat-pejabat kerajaan, yaitiu


para Intendant. Para bangsawan memang melawan dan bahkan mengadakan
pemeberontakan namun dalam abad ke-17 mereka dibuat tak berdaya secara politik
Abasolutiosme mencapai puncaknya selama pemerintahan Louis XIV, sang Raja
Matahari. Ia merumuskan pendirian-pendirian politiknya dengan tegas dalam ucapannya:
“ Negara, itulah saya “. Ia memerintah seluruh negara sendirian, dibantu oleh suatu
dewan negara, suatu kabinet menteri-menteri dan sejumlah besar pejabat propinsi-
propinsi. Titik berat pemerintahan terletak di Paris. Raja ini sering melakukan
peperangan yang tentunya memerlukan banyak uang, dan kehidupan istana yang
bermewah-mewah,menelan biaya yang besar. Uang yang diperlukan harus diperoleh dari
pajak-pajak yang karenanya juga dinaikkan dari penualan-penjualan jabatan. Sesudah
Louis XIV meninggal, rezim absolut menjadi lemah, dan kritik-keritik terhadapnya
semakin gencar.

Memang hak-hak politik golongan-golongan sudah dihapuskan, tetapi golongan-


golongan itu sendiri masih ada. Antara golongan-golongan itiu terdapat perbedaan besar,
dan batas-batas antara satu dan lainnya sangat ketat. Pertama-tama, kewajiban –
kewajiban finansial dibagi sangat tidak rata. Golongan bangsawan, golongan rohaniawan,
danm beberapa kota dibebaskan dari pajak kerjaan (taile), sehingga sebagian besar
menjadi beban golongan menengah tingkat bawah dan para petani. Selain itu, kaum tani
diwajibkan membayar segala rupa pajak (tithes) bagi kaum bangsawan dan kaum
rohaniawan sesuai dengan tradisi-tradisi feudal kuno. Pin mereka wajib memberikan jasa-
jasa tertentu bagi tuan mereka.

Ketimpangan yang menyolok dalam hak-hak istimewa dan kewajiban-kewajiban ini


berakibat babhawa hubungan –hubungan antara golongan-golongan sangat tidak
menyenangkan. Ahli analisa Ancient Regime, Tocqueville, yang sangat tajam itu
mengatakan tentang ini: “ Dari semua cara imtuk membuat orang –orang sadar tentang
perbedan-perbedaan di antara mereka dan untuk menekankan perbedaan kelas,
perpajakan yang tidak sama merupakan yang paling jahat, karena ketimpangan itu
menciptakan keengganan yang permanen antara mereka yang memperoleh manfaat dan
mereka yang menderita karenanya. Golongan bangsawan dan para rohaniawan tinggi
memandang rendah terhadap kaum tani dan memisahkan diri secara ketat dari golongan
menengah yang mereka anggap sebagai orang-orang yang terbatas mentalnya, rendah dan
kampungan. Mereka bukan saja saingan satu sama lain melainkan musuh. Juga golongan
menengah merasa lebih tinggi daripada kaum tani, dan kaum tani merasa benci terhadap
orang-orang yang tanpa malu-malu mengambil keuntungan dari kerja mereka.

20
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Makin banyak kritil ditujukan kepada keadaan di atas. Sesungguhnya tidak satu pun dari
golongan-golongan itu merasa puas, walaupiun sebab-sebabnya berlainan Golongan
bangsawan mengeritik pemotongan hak-hak politik mereka dan menghendaki
dihapuskannya absolustisme. Golongan menengah menginginkan persamaan persamaan
hak sedangkan kaum tani hanya mengiinginkan kehidupan yang tak begitu sengsara.
Tambahan pula datanglah kritik dari kaum intelektual yang atas dasar prinsip-prinsip
yang didalilkan secara absolut, dengan kemampuan retorika yang mereka miliki,
mengajukan tuntiutan dan keadilan dan kesamaan. Karena mereka hanya sedikit saja
berhubungan dengan realitas pemerintahan, mereka tidak terhambat oleh pertimbangan-
pertimbangan praktis pada waktu merumuskan gagasan-gagasan mereka. Kenyataan ini
memberikan radikalitas kepada gagasan-gagasan mereka yang di dalam iklim yang
sedang merajalela, memperoleh sambutan.

Semua faktor ini, ialah tiadanya keadilan dalam tata hukum feudal, iri hati terhadap
golongan bangsawan, individualisme kelompok yang kuat dari golongan-golongan itu,
sentralisasi kekuasaan yang membiuat rezim itu sudah terserang, prestise raja menurun,
dan gagasan-gagasan radikal kaum intelektual, melapangkan jalan bagi revolusi itu.
Namun, revolusi itu datang secara tiba-tiba. Lagi pula, peristiwa itu mula-mula
dirtemehkan oleh banyak orang. Maka Tocqueville pun berkomentar: “ Tidak ada
peristiwa historis yang dinyatakan secara lebih baik daripadsa Revolusi Perancis guina
mengajar para penulis politik dan para negarawan agar lebih hati-hati di dalam pemikiran
mereka, karena tidaklah pernah terdapat satu peristiwa sosial pun yang berpokok pangkal
dari faktor-faktor yang begitu jauh di masa lampau, yang betui tak terelakkan, namun
begitu tak terduga sama sekali ‘

Lousi VI (1174 – 1792), seperti pun raja Inggris hampir satu setengah abad sebelumnya,
terpaksa memanggil sidang umum ktiga golongan guna meminta persetujiuan bagi
perombakan sistem perpajakan, Sidang itu harus menemukan jalan keluar daru krisis
keuangan tyang sudah berlarur-larut. Sidang Etat Generaux itu dibuka pada tanggal 5 Mei
1789. Aksi-aksi memperlambat dari pihak raja mendorong sidang untuk menyatakan diri
sebagai Majelis Nasional pada tanggal 17 Juni, dan menyatakan tidak akan bubar
sebelum diciptakannya undang undang dasar. Raja menyerah, tetapi konsentrasi-
konsentrasi pasukan di Paris merupakan sebab langsung penyerbuan penjara politik,
Bastille, oleh rakyat pada tanggal 14 Juli. Maka kaum tani di seluruh Perancis pun
berontak melawan tuan-tuannya yang dulu. Sebagian dari kaum bangsawan menyingkir
ke luar negeri. Pada malam hari tanggal 4 menjelang 5 Agustus, Majelis Nasional
menghapuskan hak-hak feudal, dan pada tanggal 26 Agustus menyusullah deklarasi hak-
hak asasi manusia dan warga negara. Dalam bulan Oktober disitilah harta-benda milik
gereja, yang telah mengindentifikasikan diri dengan rezim lama, dan begitu pula milik
mahkota dan milik mereka yang melarikan diri. Setahun kemudian biara-viara dan ordo-
ordo keagamaan dihapuskan, dan pada bulan September menyusullah undang-undang
dasar baru, Dengan ini maka monarki parlementer menjadi kenyataan.

Adalah menarik untuk meninjau tindakan-tindakan yang diambil di malam hari tanggal 4
menjelang 5 Agiustus, yaitu malam revolusi sosial. Semua penghambaan pribadi

21
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
dihapuskan, begitu pula hak-hak istimewa feudal, lembaga- lembaga pengadilan kaum
bangsawan semua pajak (tuthes), semua hak istimewa finansial, ketidaksamaan karena
keturunan dan penjualan jabatan-jabatan Ini semua diulangi sekali lagi secara khidmat
dalam mukadimah undang-undang dasar 1781, dan ini ditambah lagi dengan
penghapusan gilda-gilda larangan sumpah-sumpah keagamaan dan kecemasan terhadap
golongan bangsawan.

Dengan demikian berakhirlah bentuk masyarakat yang kemudian dinamakan Ancient


Regime. Revolusi itu mula-mula tampaknya tidak ditujukan kepada raja karena pada
tahun 1781 ia masih diakui sebagai raja yang memerintah.Tujuan revolusi itu tidak hanya
mengubah suatu bentuk pemerintahan yang tua, tetapi untuk menghapuskan seluruh
struktur sosial Perancis dari jaman prarevolusi. Revolusi itu bermaksud menggantinya
dengan suatu tata sosial dan tata politik baru yang sekaligus sederhana dan seragam,
berdasarkan konsep kesamaan semua manusia).

Tetapi revolusi tidak dapat dikuasai lagi. Dalam tahun 1782 Perancis republik
diproklamasikan. Dalam tahun 1793, raja dihukum mati dan dengan ini dimulailah
periode terror baik di Paris maupun propinsi-propinsi, yang menelan banyak nyawa
manusia. Agama Kristen dihapuskan, dan dimulailah kultus akal pikiran. Tetapi sesudah
itu mulailah periode yang lebih tenang pada waktu mana kaum pengikut monarki mulai
bergerak lagi. Dalam tahun 1799 menyusullah perebutan kekuasaan oleh Napoleon yang
telah melakukan peperangan dengan sukses untuk republik. Dia menobatkan diri sebagai
kaisar pada tahun 1804. Dalam Kitab Undang0undang Hukum Perdata yang
dirancangnya, kebebasan pribadi dan kesamaan dan juga hak milik pribadi dijamin.
Dalam tahun 1807, gelar-gelar kebangsawan diberikan lagi. Revolusi telah menghasilkan
restorasi (pemulihan). Lebih banyak waktu diperlukan daripada revolusi yang
berlangsung beberapa tahun saja untuk sama sekali melenyapkan orde lama. api orde
lama itu tidak tertolong lagi. Dalam paruh pertama abad ke-19 revolusi-revolusi yang
bertsifat liberal atau sosialistis, walaupun dalam skala yang lebih kecil, akan meletus di
berabagai tempat di Eropa. Semuanya ini merupakan penderitaan-penderitaan yang
menyertai kelahiran masyarakat demokrasi modern. (Laeyendecker, 1991: 38 – 43)

Walaupun ada kegagalan berat, karya Revolusi patut dikatakan besar. Sejak tahun 1799,
tidak ada pemerintahan yang berani membangun kembali Ancien Regime yang telah
dihancurkan oleh Revolusi, juga ada yang berani mempermasalahkan Prinsip-prinsip
1789 yang menjadi dasar terbentuknya Negara Perancis baru. Dari tahun 1814 sampai
tahun 1839, di bawah kekuasaan XVIII dan Charles X (adik-adik Louis XVI), prinsip
kedaulatan rakyat ditolak dan agama Katolik dinyatakan kembali sebagai agama negara.
Tetapi sepnjang sepuluh tahun sejarah Perancis yang penuh guncangan itu, gagasan-
gagasan lain yang lebih maju telah dilontarkan. Sejak jaman Dewan Konsituante telah
kita lihat bahwa para demokrat meragukan uang, seperti juga dulu bangsawan, yang
memberikan kemudahaan kepada orang kaya untuk menggunakan hak warganegaranya.
Pemilihan berdasarkan pembayaran pajak bagi mereka tampaknya kurang adil dan
perkembangan sistem kapitalis tampaknya akan memperbesar jarak antara orang miskin
dan orang kaya. Meraka tidak cukup puas dengan persamaan hak, mereka ingin
persamaan yang nyata. Mereka meminta adanya pemilihan umum dan terutama

22
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
dihapuskannya kemiskinan. Robespierre dan Saint-Just berharap mencapai tujuan
tersebut melalui undang-undang agrarian, dan Babeuf sampai-sampai mengharapkan
dilaksanakannya suatu komunisme dengan membagikan kekayaan.

Ide-ide pemilihan umum, undang-undang agraria dan lebih lagi komunisme tampaknya
hilang pada tahun 1799. Namun demikian ide-ide itu akan tumbuh pada suatu hari. Pada
tahun 1848, pemilihan umum diberlakukan di Pernacis dan sejak itu sistem pemilu terus
diterapkan. Di lain pihak, pernyataan bahwa hak hidup lebih penting daripada hak milik
merupakan dasar ide-ide sosialis dan ide-ide itu sedikit banyak menyusup dalam setiap
rezim politik.

Dengan demikian di dalam karya revolusi Perancis kita tidak boleh hanya melihat hal-hal
yang telah dilaksanakan. Gagasan-gagasan untuk masa depan sama pentingnya karena
gagasan-gagasan itu juga terlaksana pada saat berikutnya. (A Mallet, 1989; 151)

Revolusi Kebudayaan Cina

Setelah dua puluh tahun berlalu sejak kemenangan revolusi Tiongkok – disamping
perbaikan kesejahteraan material yang mencolok juga terdapat kecenderungan –
kecenderungan tertentu rasa puas diri, kebekuan birokratis, hilangnya kepercayaan akan
cita-cita asli yang revolusioner, dan akhirnya kecenderungan untuk berkompromi dengan
kenyataan kehidupan dan dengan kelemahan sifat manusia.

Selama perjalanan dua dasawarasa ini kepemimpinan komunis telah berulang-kali


melancarkan kampanye untuk menangkal kecenderungan-kecenderungan mundur itu.
Pada wal dasawarsa lima-puluhan telah dilancarkan kampanye “ tiga anti “ (san fang)
yang ditujukan terhadap segala macam praktek salah dalam aparat negara yang baru
dibangun, yaitu korupsi, pemborosan, dan perilaku birokratis. Pada tajhun 1957 adalah
partai yang dalam suatu kampanye pembetulan digerakkan untuk membersihkan diri
sendiri dari segala bentuk terjerembab kembali ke dalam kecenderungan-kecenderungan
borjuis dan sikap-sikap birokratis. Pada periode “seratus bunga “ berikutnya mulailah
para pelajar dan kaum intelektual secara serius mengeritik Partai Komunis, tetapi pada
waktu itu kritik itu segera ditindas; ia digantikan oleh suatu kampanye “kontrak-kritik “
Sesudah suatu kelonggaran ideologis tertentu selama tahun-tahun panenan buruk kembali
dimulai kampanye pmbersihan di kalanmgan kader-kader partai setempat, sebagai bagian
dari suatu kampanye “pendidikan sosialistis “ yang lebih luas.

Karena itulah kita dapat mengkarakterisasi periode yang mendahului Revolusi


Kebudayaan sebagai suatu periode pergulatan dialektis antara dua kecenderungan yang
saling bertentangan di dalam Partai Komunis. Kadang-kadang garis Thermidor yang
unggul, sedangkan dalam periode-periode lain Mao Zedong sebagai pemimpin
menggerahkan kekuatannya untuk tetap mengibarkan tinggi-tinggi panji-panji
revolusioner dalam suatu upaya keras untuk mencegah kejatuhan kembali pada suatu
sikap berpuas diri dan kebekuan birokratis, yang mengancam revolusi dari dalam..

23
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Revolusi kebudayaan dapat dianggap sebagai sebagai suatu titik puncak dalam
pengerahkan kekuatan Mao agar mesiu revolusionernya tetap kering. Dengan kampanye
itu Mao Zedong dan pengikut-pengikutnya di dalam kepemimpinan partai melakukan
suatu usaha gagah-berani untuk menahan arus-balik dalam revolusi dan membangkitkan
kembali antusiasme guerillros masa awal revolusi. Menurut para pemimpin Tiongkok,
sebab dari kegagalan total pihak Soviet dalam usaha mereka menciptakan suatu
masyarakat baru adalah kenyataan terlalu minimnya perhatian yang diberikan pihak
Soviet pada pendidikan insane manusia secara mendalam mengenai pikiran dan perilaku
sosialis sebagai suatu prasyarat yang mendasar pada dalil Marx yang kurang-lebih
deterministis bahwa kesadaran manusia, yang merupakan bagian dari bangunan atas
masyarakat, akhirnya ditentukan oleh keberadaan sosial, yang juga bergantung pada
basis teknologis nmasyarakat dan pada sistem ekonomi yang berlaku, para pemimpin
Soviet berpendapat bahwa suatu perubahan dari basis ekonomi (yaitu perpindahan alat-
alat produksi dari swasta perorangan kepada Negara) sudah akan cukup untuk
menciptakan seorang manusia Soviet baru, seorang makhluk yang benar-benar sosialistis
sebagai produk dari masyarakat baru itu.

Para pembaru Tiongkok dengan berlandaskan pengalaman-pengalaman di Uni Soviet dan


di tempat-tempat lain menyatakan bahwa suatu revolusi struktural dalam artian
perombakan sisten ekonomi yang berlaku, tidak mencukupi. Seorang manusia baru tidak
akan lahir dengan sendirinya dari suatu perubahan hubungan-hubungan ekonomi dan
politik.

Apabila kita tidak menjaga dengan mendidik kembali manusia agar mereka itu dijiwai
dengan cita-cita revolusioner, maka buah-buah revolusi akan menjadi busuk di dalam
egoisme manusia dan nafsu akan keuntungan pribadi.

Mao Zedong dan pengikut-pengikutnya memutuskan untuk menggunakan golongan


pemuda yang di sana –sini sudah mulai bangkit melawan sebagai pasukan-pasukan
pelopor menentang kekuatan-kekuatan yang mewakili kepentingan suatu Estabilshment
baru. Oleh karena Revolusi Kebudayaan, yang menekankan pada pendidikan kembali
secara mendasar semua orang melalui suatu proses perjuangan dan diskusi yang terus-
menerus mengenai ide –ide revolusioner sejati, maka diseranglah semua lembaga yang
telah bertumbuh menjadi sejenis Establishment baru: sekolah-sekolah dan universitas-
universitas, partai dan sektor-sektor penting birokrasi. Tentara pada periode sebelumnya
di bawah Lin Bao sudah direorganisasi menurut asas-asas revolusioner yang sedikit
banyak demokratis, dan tentara itu kini dapat berguna sebagai model dan sekutu.

Sikaps-ikap kejiwaan seperti pengirbanan diri demi masyarakat dipropagandakan. Dapat


juga dinyatakan, bahwa materialisme dialektis Marx diterjemahkan dalam penjelasan
Mao menjadi suatu moralisme dialektis. Penegasan mengenai dapat dididiknya setiap
orang (yang juga menjadi salah satu arus utama dalam politik Mao yang manusiawi
terhadap para narapidana, baik politik maupun kriminal), barangkali menemukan akarnya
yang lebih dalam pada ideal Tiongkok lama, yang juga dijumpai dalam Konfusianisme,
bahwa manusia itu dapat diperbaiki lewat pendidikan.

24
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Pengutaman besar yang diberikan oleh Mao dan pengikut-pengikutnya pada unsur moral
dan mentalitas umum, dibandingkan dengan keadaan-keadaan material yang kasar mata,
adalah sesuai dengan tekanan yang dalam karya ini selalu diberikan pada faktor-faktor
kejiwaan, sebagai yang paling menentukan bagi proses –proses evolusi dan revolusi.
Keasyikan deterministis banyak orang Marxis pada keadaan material dan faktor-faktor
teknik telah mengakibatkan pengabaian umum terhadap kekuatan otonom motivasi
kejiwaan sebagai faktor yang menentukan sepanjang sejarah umat manusia. Sebagaimana
faktor-faktor kejiwaan yang mesti ditafsirkan dalam artian suatu hasrat akan emansipasi
dari suatu perlawanan terhadap kecenderungan-kecenderungan restorrasi dan stabilisasi,
itu mempunyai arti penting yang menentukan bagi proses evolusi; sebagaimana juga asal-
muasal revolusi mesti digali dari permulaan awal suatu proses mental dalam artian
kontra-pungkt terhadap tatanan institusional yang sedikit-banyak telah bercokol;
demikian pula kontradiksi antara kecenderungan Thermidor dengan kecenderungan yang
berdaya –upaya pada suatu perkembangan revolusioner yang terus-menerus itu mesti
dilihat sebagai suatu perjuangan sengir antara dua sikap mental, di mana yang satu
menghendaki stabilisasi dan restorasi pada dunia luar, sedangkan yang satu lagi
bertujuabn mempertahankan tradisi revolusioner, agar buah-buah awal revolusi di bidang
emansipasi manusia tidak menjadi busuk.

Dalam perjalanan Revolusi Kebudayaan telah juga dilakukan usaha-usaha untuk


memperkecil perbedaan antara pekerja otak dengan pekerja fisik di beberapa bidang.
Demikianlah berbagai fasilitas yang dinikmati oleh para kader, pekerja terdidik atau para
pakar dihapuskan dan mereka diharuskan ikut serta melakukan pekerjaan orang biasa.

Satu asas penting dari Revolusi Kebudayaan adalah mengusahakan kebebasan yang lebih
besar dan demokrasi. Penekanan kuat diletakkan pada garis massa, yang yang berarti
selalu berlangsungnya arus dua arah dari massa dan kepada massa dalam setiap
pengambilan keputusan. Para Garda Muda, kemudian para Pemberontak Revolusioner di
pabrik-pabrik, diperkenankan (dan bahkan didorong untuk) – melalui Koran –koran
dinding dan diskusi-diskusi dan demontrasi-demontrasi massal – memborbardir markas
besar dan mengeritik siapa saja hingga pemimpin partai yang paling tinggi sekalipun –
kecuali pemimpin yang seorang Mao Zedong, yang dalam proses Revolusi Kebudayaan
diberi status dan atribut setengah dewa. Koran-Koran dinding secara terbuka mengeritik
para penguasa di sekolah-sekolah, pabrik-pebrik, dan kantor-kantor, maupun tokoh-tokoh
pemeimpin Negara atau Partai.

Terakhir, Revolusi Kebudayaan memberikan pengutamaan pada asas perjuangan kelas


yang terus-menerus, sepenuhnya bertentangan dengan pandangan Soviet bahwa dengan
terbentuknya masyarakat sosial, perjuangan kelas tidak lagi diperlukan. Juga di dalam
hubungan hubungan –hubungan sosial baru, di mana sebagian besar alat-alat produksi
telah disosialisasi atau dikolektifkan, masih ada kecenderungan kapitalis. Perjuangan
terhadapnya tetap menjadi salah satu tugas penting. (Wertheim: 560 – 564)

Revolusi Kebudayaan ini terjadi pada tahun 1966 dan berakhir tahun 1976. Ia memiliki
banyak dimensi: sosial, politik, budaya, ekonomi, dan pendidikan. Tidak ada satu pun
insitusi di Cina yang tidak terpengaruh, dari keluarga dan sekolah sampai Partai dan

25
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
pemerintahan. Orang Cina sekarang sering menyebutnya sebagai shinian hooje (bencana
besar 10 tahun). Kejadian-kejadian selama Revolusi Kebudayaan adalah pengalaman
pahit bagi banyak orang Cina, dan pengalaman tersebut mengubah secara mendalam
sikap-sikap mereka. Masyarakat bagaimanapun juga menilai sebuah kebijakan melalui
efeknya atas kehidupan mereka.

Evaluasi yang dilakukan sejak tahun 1978 atas kekeliruan masa lalu, khususnya yang
terjadi selama Revolusi Kebudayaan, selain sebagai koreksi atas akibat-akibat negartif
dari gerakan tersebut juga sebagai bagian yang penting dalam usaha membuka jalan
kearah garis kebijakan baru. Namun demikioan, tujuan dari kebijakan pemerintahan Cina
pasca-Mao pada dasarnya tetap sama, yaitu menciptakan kesejahteraan sosial dan
kemakmuran melalui pembangunan ekonomi yang sosialistis, di samping mencapai
tingkat dunia dalam ilmu dan teknologi tinggi (Fridolin, 1998: 36 – 37).

Revolusi Borjuis

Ada kecenderungan kuat, dalam masyarakat-masyarakat Dunia Ketiga, menuju


pemantapan bentuk-bentuk negara yang sifatnya kekecualian. Lemahnya borjuasi
domestik di negara-negara ini telah memungkinkan kaum elite menduduki kekuasaan
negara dan mentransformasikan dirinya ke dalam kelas-kelas dominan baru. Di sini akan
menguraikan fenomena ini secara panjang lebar dan akan berusaha mengkhususkan pada
hakekat kelas baru ini. Dalam menguraikan hal ini, saya akan kembali kepada perdebatan
mengenai borjuasi nasional progresif.

Sebagaimana diketahui ada pandangan yang dimiliki oleh Partai-Partai Komunis pada
periode antar perang (di beberapa bagian Dunia Ketiga pandangan ini tetap hidup dalam
kurun dewasa ini) dalam beberapa hal merupakan reformulasi posisi kaum Menscheviks.
Agar terjadi pembangunan ekonomi, borjuasi nasional harus mengambiul kekuasaan dari
oligarki tuan tanah dan borjuasi komprador (dalam suatu aliansi anti pembengunan
bersama-sama dengan imperialisme). Tugas kaum proletar dan kelas-kelas andahan lain
adalah mendukung borjuasi nasional progresif ini. Demikianlah, pembangunan dipandang
sebagai pembangunan borjuasi. Tugas revolusi borjuis – penciptaan negara yang berdaya
hidup dan proses akumulasi modal yang otonom – masih harus dilaksanakan.

Namun, dengan sedikit mungkin pengecualian, tidak ada borjuasi yang maju ke depan
mengambil kekuasaan dan melaksanakan tugas-tugas ini. Tetapi perkembangan
kapitalisme di Dunia Ketiga yang tidak lengkap dan tergantung merupakan sumber tetap
bagi ketegangan sosial. Introduksi kapitalisme telah meruapakan ketegangan-ketegangan,
tetapi transformasi kapitalisme yang sangat tidak lengkap makin mempersulit kembali.

Dalam kaitan dengan organisasi negara bangsa, tugas –tugas revolusi borjuis tidak
terselesaikan secara lengkap karena negara dari berbagai masyarakat ini tetap sangat
rawan terhadap pengaruh dari luar. Struktur negaranya terbuka bagi penetrasi kuasa
imperialis, dan tidak dapat diandalkan untuk melayani tujuan nasional. Kedua, dominasi
negara terhadap masyarakat warga-negara (civil society) sering tidak lengkap; banyak

26
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
yang tetap berada di luar kendali negara. Dalam arti ini, negara-negara Dunia Ketiga
sering cukup lama dalam hal kekuasannya mengorganisir masyarakat warga-negara.
Ketiga, dan barangkali yang paling penting, negara-negara ini kurang mempertunjukkan
hegemoni., walaupun parsial. Percobaan revolusi ini, karena lemahnya kekuatan-
kekuatan sosial yang terlibat. biasanya berarti munculnya bentuk-bentuk akomodasi dan
kompromi dengan kelas-kelas yang mendukung rezim lama. Dalam hal kebijakan,.
Hasilnya adalah kelumpuhan konstan dan kebuntuan. Pembaruan yang diperlukan bagi
keberhasilan penyelesaian program pembangunan jarang dilaksanakan.

Tugas-tugas revolusi borjuis juga tidak terpenuhi dalam bidang ekonomi. Ini tentu sangat
jelas dalam laju akumulasi modal yang tidak memuaskan, kerawanan yang ekstrim
terhadap pengaruh eksternal, dan ketidakmampuan mengembangklan suatu jenis
pembangunan yang otosentris. Baik sebab maupun akibat yang timbul dari dampak
ketergantungan yang melumpuhkan ini menghalangi pertumbuhan kaum borjuasi sebagai
suatu kelas sosial. Mereka itu semata-mata (dengan beberapa perkevualian) tidak mampu
bertindak sebagai kelas otonom dengan proyek pembangunannya sendiri.

Demikianlah, sementara tugas-tugas revolusi borjuis tetap tak terpenuhi, kaum borjuis
sendiri melepaskan pretensinya sebagai pemegang peran revolusioner. Rute pertama
modernisasi dari Barington Moore – revolusi borjuis dari bawah – sudah tertutup.
Beberapa kelas lain,, atau alinasi kelas lainnya, harus memikul tigas-tugas modernisasi.

Satiu kemungkinan pilihan adalah “revolusi dari atas “ menurut Moore dan “revolusi
pasif “ menurut Gramsci. Keduanya menunjuk kepada usaha modernisasi di bawah
pimpinan pimpinan fasis. Istilah tersebut, mungkin lebih umum digunakan untuk
menunjukkan setiap percobaan oleh elite selain borjuasi untuk menggunakan kendalinya
atas negara untuk mengawasi dan mengusahakan pembangunan ekonomi yang cepat di
mana secara umum hak milik kaum borjuasi tidak seluruhnya diambil-alih. Dalam
pengertian ini tentunya termasuk jenis-jenis rezim militer tertentu seperti Nasser di Mesir
dan pemerintahan militer Peru setelah tahun 1968.

Hubungan anmtara elite politik ini dengan kaum borjuasi sering kompleks dan penuh
dengan ketegangan. Rezim-rezim ini sering mengambil alih sektor-sektor ekonomi
substansial dan sering berusaha mengontrol kaum borjuasi lewat aneka ragam pranata
korporatis. Namun demikian, mereka jarang menentang perusahaan swasta, dan sering
mengembangkan hubungan yang erat dengan sekarang sekurang-kurangnya beberapa
sektor borjuasi.

Bagaimanapun juga, dalam kasus yang ekstrim, rezim-rezim revolusi dari atas ini secara
keseluruhan dapat mengganti kaum borjuasi (khususnya bila kaum borjuasi masih sangat
baru atau sangat lemah) dan kemudian mungkin menciptakan borjuasi negara yang baru.
Dalam kasus ini, kelompok-kelompok politik di dalam negara akan membagi-bagi
berbagai badan usaha ekonomi secara patrimonial. Korupsi, klientilisme dan
pemencaraan kekuasaan negara ke dalam “ balas dendam antarpribadi untuk jangka
lama“ mungkin adalah hasilnya. Jenis sistem politik ini jelas berbeda dengan sistem
politik yang ditegaskan oleh “ revolusi dari bawah “ yang dimpimpin oleh Partai

27
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Komunis. Dalam kasus-kasus ini, sentralisasi ekonomi dasn politik tidak memungkinkan
tampilnya patrimonialisme.

Namun demikian, walaupun ada perbedaan-perbedaan, semua rezim ini memiliki satu
persamaan, yakni mereka muncul dari percobaan yang dilakukan oleh kelas sosial atau
elite politik untuk melangsungkan tugas-tugas revolusi borjuis. Di sini ide Trotsky
mengenai revolusi permanen mungkin bermanfaat. Namun bukannya kaum proletar yang
mendorong kaum borjuasi mencetuskan revolusi dan kemudian melanjutkan revolusi itu
setahap ke depan, tetapi justru kekuasaan sosial lain yang mengambil alih peranan kaum
proletar, Dalam revolusi permanen yang diselengwengkan atau ditahan ini, birokrasi atau
kaum borjuasi kecil memimpin revolusi. Begitu memegang kekuasaan, pembekuan
Bonaparetis terhadap mobilisasi massa terjadi, selagi pemegang kekuasaan negara yang
baru berusaha mengkonsolidasi kendali mereka terhadap masyarakat. Kemampuan kaum
borjuasi kecil atau aparat birokrasi untuk menjadikan diri mereka sebagai pengganti
kaum borjuasi atau kelas buruh merupakan fungsi dari kelemahan dan kurangnya kohesi
kekuatan-kekuatan sosial di masyarakat. Sekali dalam kekuasaan, cara elite baru mulai
mentransformasikan dirinya ke dalam kelas baru dapat bermacam-macam. Beberapa
bentuk aliansi kelas mungkin terjadi. Di sini, kita akan menguraikan proses ini dalam
kaitan dengan perdebatan mengenai saat terjadinya revolusi borjuis di Amerika Latin.

Menurut sebagian besar teoritisi Marxis, karena transisi dari satu cara produksi ke cara
produksi yang lain memerlukan perubahan yang saling berhubungan dalam organisasi
kehidupan politik dan pergantian satu kelas penguasa ke kelas penguasa yang lain, maka
transisi ini ditandai oleh ketidaksinambungan yang dalam dalam bentuk dominasi politik,
lewat suatu revolusi. Jika ke kapitalisme, maka kita harus mengarahkan usaha kita pada
analisa borjuis.

Frank menyatakan bahwa berbagai perang saudara tersebut pada dasarnya timbul pada
pokoknya karena masalah integrasi Amerika Latin secara definitif ke dalam pasar dunia
imperialis. Panafsiran ini memiliki banyak persamaan dengan posisi yang diambil oleh
salah seorang pengecam Frank, Vania Bambirra. Ia menunjuk dominasi cara produksi
kapitalis di Amerika Latin dari saat penggabungannya ke dalam pasar dunia setelah 1850
Bagaimanapun juga, dalam penafsiran Frank, peperangan ini tidak merupakan revolusi
borjuis yang murni (bagaimana mungkin, bila masyarakat Amerika Latin senantiasa
kapitalis?) namun telah merupakan suatu kontra revolusi borjuis jembel. Keberhasilan
borjuasi jembel ini merupakan faktor kunci dalam penciptaaan dan pelanggengan
keterbelakangan di Amerika Latin.

Namun bila tidak ada revolusi borjuis yang murni, maka kita dihadapkan kepada
dilemma kapitalisme tanpa revolusi borjuis. Ada tiga jalan keluar. Pertama, mengikuti
teori revolusi permanentnya Trostky, kita dapat menyimpulkan bahwa sementara tugas-
tugas revolusi borjuis tetap diselenggarakan, kaum borjuis sendiri tidak akan memenuhi
tugas ini, dan kelas lain harus mengganti peranan kaum borjuasi dan kemudian terius
menjalankan programnya. Tidak seperti Trostky, kita percxaya bahwa ada kelas-kelas
lain di samping kaum proletariat yang dapat menjalankan tugas-tugas revolusi borjuis.
Yang terpenting di antara kelas-kelas tersebut adalah borjuis kecil radikal. Bila ini terjadi,

28
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
bila-bila tugas kaum borjuis dilakukan oleh kelas lain yang bukan kelas proletar, jalur
revolusi permanen akan berbelok, dan hasilnya bukanlah sosialisme, tetapi apa yang yang
disebut “ sosialisme jembel “.

Alternatif lain (walaupun tidak perlu merupakan suatu hal yang ekslusif) adalah
menganggap cara produksi Amerika Latin bukan feudal dan bukan pula kapitalis, tetapi
lebih merupakan cara produksi baru. Keuntungan pandangan ini adalah menjelaskan
tidak adanya revolusi borjuis. Untuk mudahnya kita dapat menyebut cara produksi baru
ini sebagai “ cara produksi tergantung. Tetapi suatu cap bukanlah suatu penjelasan.

Sebagaimana arti konsep revolusi borjuis menimbulkan permasalahan bila digunakan


untuk menganalisa wilayah pinggiran dan masyarakat-masyarakat tergantung, begitu juga
dengan penentuan saat revolusi tersebut. Tentu ini sangat sulit – kecuali dengan definisi
yang sangat terbatas – meletakkan secara tepat peralihan dari feodalisme ke kapitalisme
di Eropa Barat. Para ahli mengalami kesulitan dalam menandai masa peralihan yang
waktunya kurang dari dua atau tiga abad, walaupun mereka mungkin berpendapat bahwa
terdapat aneka ragam kejadian penting tertentu, hanya sedikit yang akan berpendapat
bahwa suatu peralihan total dan mendadak telah terjadi. (Argumen yang paling umum di
sini ialah perebutan kekuasan negara oleh kaum borjuis dan transformasi cirri negara
menjadi aparat negara borjuis. Namun, bahkan perubahan yang tampaknya mendadak ini
tidak terjadi begitu saja; ini ditandai dengan perkembangan awal (pemerintahan feudal
yang absolut) serta serangkaian kompromi antara berbagai kekuatan orde “lama “ dan:
baru “)

Bila soal penentuan waktu tampaknya menjangkau terlalu luas ke masyarakat yang
mengalami peralihan asli, masalah yang sama juga tak kalah sulitnya bagi masyarakat
pinggiran dan bergantung, yang, karena ketergantungannya, tidak dapar mengulangi
transisi yang secara historis unik ini. Bagi masyarakat-masyarakat tersebut, revolusi
borjuis tampil tidak sebagai gejala tunggal, atau sebagai suatu pengalaman berlahian
secara historis unik. melainkan sebagai bagian dari kumpulan tugas historis yang
dilaksanakan secara terpisah, seringkali pada waktu dan kurun yang berbeda. Namun,
pemisahan ini mengakibatkan ketidaklengkapan, dalam dua cara yang berbeda. Revolusi
selalu tidak lengkap, dalam, arti hanya beberapa tugas yang terselesaikan pada suatu saat.
Apa yang di Barat terjadi dalam suatu kurun sejarah yang pendek sekarang secara tipis
menyebar melintasi abad. Revolusi tidak lengkap karena tidak selesai; yang dicapai
hanya sebagian-sebagian.Pada saat yang bersamaan, bentuk ketidaklengkapan ini
mengakibatkan hal yang kedua; bahkan bagian-bagian yang dikerjakan pun tidak
sempurna. Ini tidak hanya masalah bahwa Cuma beberapa bagian saja dari revolusi
borjuis yang pernah tercapai pada waktu tertentu, tetapi bahkan apa yang sudah dicapai
itu jarang berhasil dibawa kearah penyelesaian. Demokrasi dalam pembentukan bangsa
tetap sebagai hasil-hasil sementara, yang secara terus-menerus menjadi sasaran gangguan
dan kemuduran historis. Usaha pembebasan ekonomi selalu digagalkan dan dipukul
mundur ke dalam bentuk ketergantungan dan penghisapan yang lain. Dalam sejarah
perkembangan Dunia Ketiga, tiap bentuk tidak lengkap mendorong dan memperdalam
ketidaklengkapan yang lain.

29
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Jadi di mana kiota harus mulai dalam usaha menempatkan tahap-tahap revolusi borjuis di
Amerika Latin? Dalam pandangan Frank dan Wallerstein, kuncinya terletak pada
peggabungan negara-negara pinggiran ke dalam sistem ekonomi kapitalis internasional
pada abad-abad XVI dan XVII. Menurut definisi mereka, sekali terintegrasi ke dalam
jaringan perdagangan komersial, masyarakat-masyarakat ini harus dicirikan sebagai
kapitalis. Namun dalam kerangka tersebut, peranan dan kedudukannya dalam sistem
internasional mengalami transformasi berturut-turut. Perjuangan untuk memperoleh
kemerdekaan dari Spanyol dan Portiugal, berbagai perang saudara pada awall periode
pascakemerdekaan, transformasi struktur produksi internal ke dalam sektor-sektor ekspor
spesialisasi komoditi primer pada akhir abad XIX, “ orientasi ke dalam “ dan usaha-usaha
melaksanakan program industrialisasi pengganti impor di tahun 1939-an dan 1940-an,
lepas landas menuju pertumbuhan cepat dari beberapa peroekonomian yang lebih lluas
pada periode pasca perang (Brazil dan Meksiko), kesemuanya merupakan calon bagi cap
“ revolusi borjuis.”

Alternatif ketiga adalah menekankan sifat transformasi yang berkesinambungan dan tidak
lengkap. Sistim kapitalis dunia secara berkesinambungan mengalami serangkaian
transformasi, yang mengakibatkan dampak mendalam di negara Dunia Ketiga. Hubungan
antara Pusat dan Pinggiran secara kontinu mengalami pergantian struktural. Perubahan
dari kebijakan pembangunan yang berorientasi pada ekspor ke IPI dan kemudian ke
dominasi perusahaan-perusahaan multinasional merupakan contoh-contoh transformasi
mendasar yang telah terjadi di Amerika Latin. Setiap pergantian struktural dalam bidang
ekonomi mengakibatkan perubahan penyusunan kembali kelas-kelas sosial dan huru-hara
politik. Dalam artian ini, revolusi borjuis merupakan proses yang berkesinambungan
kepastian tentang kapan terjadinya revolusi borjuis tersebut, kita hanya dapat menunjuk
pada pelbagai tahap dari proses tersebut.

Sekali diterima bahwa revolusi “ borjuis “ di negara-negara Dunia Ketiga merupakan


suatu proses ketimbang suatu peristiwa tunggal, suatu analisa ulang mengenai sifat kelas
dari revolusi kerakyatan masa kini dan gerakan-gerakan revolusioner menjadi keharusan.

Berbicara dalam terminologi yang sangat umum, adalah mungkin melihat titik penting
dalam perkembangan prospek revolusioner di Amerika Latin dalam dasawarsa 1950-an.
Sepanjang periode antara depresi ekonomi dunia tahun 1930-an dengan sembuhnya
ekonomi kapitalis dunia di bawah dominasi Amerika Serikat dalam periode pasca –
Perang Dunia Kedua, percobaan melakukan revolusi dan pembangunan yang otonom di
Amerika Latin secara implisit atau eksplisit didominasi oleh ide pembangunan borjuis
nasional yang otonom dan progresif. Periode tersebut menyaksikan beberapa percobaan
penting dalam pembangunan ekonomi yang diikuti oleh aneka ragam bentuk mobilisasi
populis di bawah kepemimpinan politik borjuasi industri. Beberapa contohnya adalah
Estado Novo di Brazil, Peronisme di Argentina, pemerintahan Front Populer di Chili,
munculnya APRA di Periu dan lain-lain. Tentu semua gerakan ini sangat kompleks, dan
alinasi kelas serta bentuk-bentuk dominasi borjuasi dalam kondisi tersebut sangat
berbeda-beda dari satu negara ke lain negara. Namun demikian, berbicara secara global,
nampak masuk akal menarik kesimpulan umum bahwa semenjak periode tersebut,
gerakan-gerakan progresif dan revolusioner, serta pemikiran revolusioner, berada di

30
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
bawah pengaruh kuat kaum borjuasi industri baru yang memperoleh keuntungan dari
proses industrialisasi pengganti impor.

Situasi berubah secara dramatis dengan adanya ofensif imperialis setelah masa Perang
Dunia. Kemungkinan kaum reformis borjuis melaksanakan usaha pembangunan secara
serius berkuranmg, dan khususnya partai-partai serta program-program sosialis mulai
memainkan peranan yang semakin penting berhadapan dengan elemen-elemen borjuis
kecil dan nasionalis. Situasi ini sudah tentu tidak berubah dalam sekejap mata; dan dalam
banyak hal, ideologi-ideologi borjuis kecil radikal terus memiliki pengaruh kuat dalam
gerakan-gerakan revolusioner.(Roxborough, 1986: 152 -159)

Revolusi Cuba

Jika Revolusi Bolivia merupakan kegagalan yang menyedihkan, jelas Revolusi Cuba
yang muncul tujuh tahun kemudian merupakan kisah sukses. Barangkali keberhasilan
dengan beberapa catatan, tetapi tetap saja merupakan keberhasilan. Tetapi ketika Pasukan
Pemberontakan berparade di Havana bulan Januari 1959, tidak ada alasan untuk
meramalkan bahwa kejadiannya akan sangat berbeda dengan yang terjadi di Bolivia.
Pernyataan mengenai rencana yang akan dilakukan oleh gerakan 26 Juli – lewat pidato
Fidel Castro di mimbarnya, Sejarah Akan Membebaskan Saya.tidaklah melintasi batas-
batas pemikiran borjuasi progresif. Ini jelas ditempatkan dalam suatu tradisi pemikiran
nasionalis radikal, yang penegasan organisasionalnya adalah partai borjuis Ortodoks dan
memiliki akar-akarnya dialam tulisan Marti semasa perjuangan kemerdekaan Cuba. Ini
merupakan karakteristik pemilikiran radikal masyarakat Cuba; pada dasarnya dirumuskan
dalam kaitannya dengan perjuangan kemerdekaan nasional. Ini berarti, di Cuba dalam
tahun 1950-an, penggulingan kediktaktoran Batista, pemantapan demokrasi borjuis, dan
meninggalkan ketergantungan kepada gula dan Amerika Serikat.

Metode perjuangan Castro – perang gerilya – mungkin radikal, namun ini tidak berarti
bahwa mereka adalah sosialis. Akhir-akhir ini, terdapat usaha-usaha mempertunjukan
bahwa Pemberontakan Bersenjata secara luas terdiri dari kaum buruh dan petani, dan
memiliki hubungan yang penting dengan kelas buruh kota. Ini mungkin saja betul,
mungkin juga tidak. Bukti-buktinya tidak meyakinkan. Yang lebih penting lagi,
komposisi sosial Pemberontakan Senjata hanyalah satu faktor saja (dan kecil saja) dalam
menentukan karakter kelas revolusi Cuba,

Kepemimpinan Pemberontakan Bersenjata tidaklah berasal dari kaum tani maupun kelas
buruh, dan lebih penting, isi kelas dari program politiknya (sekalipun berwatak
kerakyatan) tidak dapat digambarkan sebagai bersifat proletar. Lebih lanjut, strateginya
untuk meraih kekuasaan negara – tindakan sekelompok kecil yang gigih diikuti oleh
seruan pemogokan umum yang tidak didahului oleh kerja sistimatis antarkelas buruh –
merupakan strategi yang elitis dan voluntaristis.

Setelah April 1958, gerakan 26 Juli mengubah strateginya secara mendasar,


meningkatkan arti penting gerilya bersenjata di pedesaan, dan semakin

31
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
mengkoordinasikan tindakannya dengan kelompok-kelompok lain. (khususnya dengan
partai komunis).

Keberhasilan pemberontakan pertama-tama merupakan hasil disintegrasi kekuatan militer


yang memiliki morale rendah. Ini saja merupakan suatu penjelasan yang dangkal, dan
kita harus mengajukan pertanyaan mengapa negara Cuba tidak mampu mempertahankan
dirinya secara sungguh-sungguh. Tidaklah cukup menunjuk kepada tokoh-tokoh
diktaktor dalam pemerintahan Batista, atau kepada kemiskinan dan kesengsaraan yang
meluas di Cuba, atau ketidakmampuan pemerintah untuk memecahkan masalah-masalah
ekonomi yang gawat. Dan faktor lain hilang.Adanya suatu kekuatan sosial yang mampu
meningkatkan tantangan gawat terhadap negara masih harus diperhitungkan, dan
lemahnya tanggapan ini di pihak negara sendiri harus dianalisa.

Sebagaimana)”Connor kemukakan, aspek kunci dari sistem politik prarevolusi adalah


kombinasi korporatisme dan korupsi. Ini adalah suatu sistem yang membelah masyarakat
Cuba secara vertikal, sehingga beberapa bagian dari semua kelas tetap memperoleh
keuntungan lewat penggulingan sistem tersebut. Sistem politik Cuba yang memiliki sifat
seperti mafia ini sebagaian merupakan hasil dari tidak adanya suatu borjuasi nasional
yang kohesif; sebagian lagi akibat ketergantungan pulau tersebut pada gula dan pada
Amerika Serikat. Dampak sistem politik ini adalah adanya kesempatan relatif bagi
mereka yang berada di luar arena politik untuk dapat memperoleh dukungan sebagai
akibnat program multi kelas, dengan menekankan nada yang agak moralistis tentang
perjuangan bangsa melawan musuh –musuh bangsa, atau lebih sinis, kita melawan
mereka.

Revolusi 1959 memasukkan alinasi multi kelas yang cukup heterogen tetapi didominasi
oleh borjuis kecil (kepemimpinan Pasukan Pemberontak) ke dalam kekuasaan. Wakil
Pertama kaum borjuis di pemerintahan secara cepat diganti oleh kelompok pemimpin inti
Pasukan Pemberontak. Kecuali jika Partai Komunis dianggap sebagai wahana organisasi
kelas buruh, maka kelas buruh sebenarnya tidak memiliki organisasinya sendiri yang
independen di luar gerakan 26 Juli.

Apakah program pemerintahan baru itu? Walaupun jelas memulai serangkaian


pembaruan besar-besaran, tidak ada indikasi bahwa pemerintah Cuba ingin memutuskan
hubungannya dengan Amerika Serikat, dan tidak pula ada indikasi bahwa dalam beberapa
tahun ia akan menjadi negara Komunis. Baru tahun 1961 Castro secara resmi
mendefinisikan revolusinya sebagai revolusi sosial, dan menegaskan bahwa dirinya
sendiri adalah seorang Marxis-Leninis.Tujuan awal dari pemerintahan revolusioner
tidaklah merencanakan pemutusan radikal seperti yang kemudian terjadi.

Ada kesepakatan luas mengenai adanya dua tahap Revolusi Cuba: masalahnya adalah
bagaimana menjelaskan transisi dari satu tahap ke tahap yang lain. Menurut beberapa
penulis, pemimpin-pemimpin revolusi berkehendak mengubah posisi ketregantungan
Cuba dan melaksanakan pertumbuhan ekonomi. Perubahan-perubahan yang diperlukan
untuk melaksanakan pembangunan tidak dapat di terima oleh Amerika Serikat dan kaum
borjuasi Cuba. karena perubahan itu mensyaratkan campur tangan negara yang meluas di

32
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
bidang ekonomi, reorientasi perdagangan luar negeri, dan kontrol aparat negara oleh
sekelompok orang yang bertekad melaksanakan perubahan radikal. Mengutip O’Connor
menyatakan bahwa Sosialisme Cuba tak dapat dielakkan dalam arti jadi keharusan bila
pula tersebut ingin diselamatkan dari kemacetan ekonomi yang permanen,
keterbelakangan dan kemerosotan sosial, korupsi dan kebekuan politik.

Argumen tersebut bersifat teleologis, karena tidak ada yang tak terelakkan dalam
pembangunan ekonomi. Yang dapat dikatakan hanyalah, jika pembangunan hendak
berjalan, maka revolusi merupakan prasyarat yang diperlukan. Kepemimpinan gerakan
26 Juli bisa saja berjalan seperti MNR dan memilih tetap dalam sistem kapitalis
internasional, dengan mengurbankan kemungkinan jalur pembangunan yang independen

Penjelasan Bambirra adalah bahwa tekad mewujudkan keadilan sosial di pihak


pemimpin-pemimpin revolusi ini. Sebagai tambahan, perlu dikemukakan bahwa sangat
sedikit oposisi dalam negeri yang terorganisir terhadap kepemimpinan revolusi, dan tidak
ada pesaing kekuasaan yang independen, berbeda dengan situasi Bolivia. Akibatnya,
pemerintah revolusioner Cuba tidak dihadapkan kepada dilemma pertumbuhan dan
akumulasi melawan kerakyatan dan peningkatan konsumsi seperti halbnya MNR di
Bolovia. Kepemimpinan Cuba tetap mendapat dukungan rakyat, dan menutut
pengurbanan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi.

Semua ini cukup mudah untuk dipahami, namun terdapat masalah pokok dalam kaitannya
dengan teori Marxis. Di Cuba terdapat revolusi di mana kelas buruh tidak punya
kekuataan dinamis, di mana tidak ada kelas buruh dan organisasi petani yang independen,
dan baru diketahui berwatak sosialis sesudah revolusi berusia dua tahun. Ini adalah suatu
teka-teki; sosialisme tanpa kaum sosialis. Mungkin saja masalah ini sepele ataupun semu,
bahwa itu bukan soal penting. Barangkali. Namun implikasi dari posisi ini tampaknya
adalah ditinggalkannya analisa Marxis yang serius.

Ada masalah tambahan. Sebenarnya, Cuba tidak dapat didefinisikan sebagai negara
sosialis kecuali kalau dapat ditunjukkan bahwa kelas buruh benar-benar mengendalikan
kekuasan negara dan benar-benar mengendalikan secara langsung alat-alat produksi.
Sayangnya hanya sedikit bukti bahwa parat negara di Cuba dikendalikan oleh kelas buruh
dan kaum tani. Namun bila Cuba bukan masyarakat sosialis, maka apakah masyarakat
ini? (Dengan menegaskan, bahwa Cuba bukanlah masyarakat sosialis, sama sekali kita
tidak menyatakan rezim tersebut tidak kerakyatan.atau tidak progresif. Sebaliknya, rezim
ini jelas kerakyatan dan progresif).

Tidak ada alasan untuk menganggap cara produksi di Cuba sama dengan cara produksi di
Uni Soviet, betatapun orang memutuskan untuk merumuskan demikian. Bagaimanapun
juga, soalnya terkait erat hubungan ekonomi antara Cuba dan Uni Soviet. Tidak jelas
perbedaan apa yang mungkin timbul bila Cuba dijamin pemasaran gulanya (untuk
membiayai impor barang-barang kapitalnya) tidak di Amerika Serikat dan tidak pula di
Uni Soviet, tetapi di negara kapitalis yang secara politik netral? Bagaimana bedanya
pembangunan Cuba jadinya? Apa yang menjadi masalah adalah apakah fakta bahwa
Cuba sekarang berdagang dengan negara komunis mengakibatkan perbedaan yang nyata

33
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
dalam situasi ketergantungannya. Ada dalih bahwa spesialisasi Cuba dalam gula pada
periode sebelum revolusi berarti ekonominya bergantung oada turun naiknya pasar dunia,
sedangkan sekarang perdagangannya diarahkan menuju Uni Soviet hingga Cuba tidak
lagi dalam posisi ketergantungan. Tetapi sulit mencari bukti-bukti apa yang mendukung
argumen ini.

Apa yang tampaknya telah terjadi adalah elite borjuasi kecil yang muncul ke tampuk
kekuasaan atas dasar kolasi multi kelas, dan berusaha melaksanakan suatu program
politik yang melibatkan pertumbuhan ekonomi, mengurangi ketergantungan dan
meningkatkan partisipasi politik. Rezim ini tampak didukung oleh massa penduduk
(walaupun itu bukan pernyataan penting bila kita berusaha menganalisa sifat suatu rezim,
namun kekuasaan politik dimonopoli oleh klik kecil perorangan para pemimpin Pasukan
Pemberontak yang bertanggung jawab kepada penduduk hanya lewat plebisit dan
kunjungan pribadi yang dilakukankan oleh para pemimpin revolusi yang kharismatik.
Dalam kehidupan pribadinya, kelompok orang-prang ini mungkin sangat sederhana,
namun ini tidak relevan. Apakah kelompok ini mentransformasikan dirinya ke dalam
kelas penguasa atau tidak akan bergantung kepada bagaimana mereka mengusahakan
pemilihan pengganti-penggantinya. Untuk sementara, ini dapat digambarkan sebagai
kelas penguasa yang baru terbentuk, walaupun beberapa orang akan merasakan ini
sebagai prapenilaian. Sejumlah besar akan bergantung pada masa depan perkembangan
insitusional masyarakat Cuba dan, secara khsusus, pada hubungan antara birokrasi
negara, partai komunis dan pengikut-pengikut pribadi Castro.

Situasi seperti ini bukanlah tidak umum di negara-negara Dunia Ketiga. Berbagai
kelompok elite yang bukan borjuasi maupun proletariat mengambil alih kekuasaan negara
dalam revolusi kerakyatan dan berusaha oleh kaum borjuasi. Pembangunan ekonomi dan
perlkuasan kewarganegaraan. Seperti kaum borjuasi Eropa di abad XIX, kelas-kelas
penguasa baru ini sexara historis progresif. Tapi ini tidak berarti bahwa masyarakat-
masyarakat baru ini secara sah dapat disebut sosialis. (Roxborough, 1986:162 – 167)

Revolusi Borjuis atau revolusi sosial

Di negara-negara Amerika Latin terdapat dua rangkaian kekontradiksi dan dua perangkat
perjuangan perjuangan: perjuangan melawan ketergantungan untuk pembebasan nasional
dan pembangunan; dan perjuangan kelas melawan kelas penguasa lokal. Dua perjuangan
ini sesuai dengan tugas-tugas historis dan kelas sosial yang berbeda, kelas borjuis dan
kelas proletar. Namun ini bukan berarti dua tugas ini bisa diselesaikan terpisah satu sama
lain di negara-negara terbelakang. Sebaliknya, kedua rangkaian kontradiksi ini terjalin
dalam formasi sosial yang kongkrit. Tepatnya bagaimana keduanya terjalin, dan
kontradiksi mana yang dominan, tergantiung pada ciri-ciri formasi sosial tersebut.

Dalam kasus Cuba dan Bolivia, tugas-tugas revolusi borjuasi secara luas masih belum
terpenuhi dalam dasawrasa 1950-an, sekalipun ekspresi historis dari hal ini tidaklah sama
di kedua negara tersebut. Di Bolovia, ketidaklengkapan ini diekspresikan dalam negara
terbelakang dari masyarakat agraris, isolasi oligarki tambang timah dari kehidupan

34
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
nasional, dan keterbelakangan umum kehidupan ekonomi. Di Cuba, walaupun kehidupan
ekonomi berkembang, dan sangat terintegrasi ke dalam pasar kapitalis dunia,
kemerdekaan ekonomi dan politik masih merupakan tugas yang harus diselesaikan.
Kurangnya kemerdekaan ini direflesikan dalam sistim politik yang semacam mafia.

Di kedua negara tersebut sama-sama tidak ada hegemoni nyata pada kelas penguasa
(lewat aparat negara) terhadap masyarakat warganegara secara keseluruhan. Akibatnya,
kekuasaan negara tak terlindung dan rapuh, membuatnya relatif mudah bagi kelompok
borjuasi kecil merebut kekuasaan negara.

Setelah revolusi, rangkaian peristiwa yang terjadi di Cuba dan di Bolovia berbeda. Di
Cuba, kelompok kepemimpinan mempertahankan tekadnya demi pertumbuhan ekonomi
dan keadilan sosial, dan dalam menghadapi opsisi, menerima konsekuensi intervensi
negara dalam bidang ekonomi dan reorienmtasi perdagangan luar negeri. Tahap kedua
dari revolusi ini barangkali dapat digambarkan sebagai mengikuti rangkaian “ revolusi
permanen yang berbelok.” Di Bolivia, kepemimpinan Movimiento Nacionaliusta
Revolusionario (MNR) kembali menjauh dari perubahan-perubahan radikal yang
diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.Akibatnya, ekonomi Bolovia
secara tegas tetap terikat pada sistem hubungan-hubungan ketergantungan internasional
dan gagal mencapai pertumbuhan ekonomi yang tangguh.

Situasi historis yang berbeda dihadapi oleh pemerintah Persatuan Rakyat Chili. Di sisni
tugas-tugas historis kaum borjuasi mendekati penyelesaian. Di sini telah muncul kelas
penguasa hegemonik. Chili jelas merupakan negara bergantung, tetapi mengingat korelasi
antara kekuatan-kekuatan sosial dan bentuk-bentuk khusus ekspresi politik dan konflik
sosial yang muncul, elemen yang menentukan dalam kontradiksi ini adalah elemen
perjuangan kelas. Tidak seperti Cuba dan Bolovia, perjuangan kelas, dan bukan
sebaliknya.

Salah satu hasilnya adalah bahwa sosialisme dipandang sebagai perjuangan demi
kekuasaabn buruh, daripada formula pertimbangan ekonomi. (Elemen yang terakhir ini
tentu juga ada, namun tidak dominan dalam merumuskan situasi). Di sini kelas buruh
berserikat memainkan peranan yang lebih panjang dan otonom, dan kompleksitas aparat
negara memerlukan suatu strategi revolusioner yang berbeda.

Bila analisa ini kurang-memadai, apa yang dapat kita katakan tentang belahan lain dari
benua Amerika Latin? Dua elemen menjadi sangat penting dalam tahun-tahun terakhir ini
terus kuatnya seruan-seruan populiss dan kondisi poly kelas, dan gerakan-gerakan gerilya
tahun 1960-an.

Banyak gerakan gerilya di awal 1960-an merupakan usaha yang kurang lebih sadar untuk
mengulangi pengalaman Cuba. Sampai tingkat di mana mereka terutama mewakili
kelompok sosial borjuasi kecil dan menyuarakan program politik borjuasi kecil, mereka
sesungguhnya merupakan penerus gerilyawan Cuba. Sistematisasi Regis Debray
mengenai teori gerilya foco merupakan ciri khas garis pemikiran revolusioner ini.
Bukunya Revolution in Revolution? mengemukakan suatu program aksi yang elitis dan

35
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
voluntaris, yang lebih menekankan aspek militer daripada aspek politik, dan penuh
dengan pernyataan tentang arti penting mentalitas pelbagai gerilyawan.

Itu bukan berarti menyalahkan perjuangan gerilya pedesaan pada dasawarasa 1960-an. Di
beberapa negara, ini merupakan jalan nyata menuju kekuasaan, dan bagaimanapun
banyak pelajaran penting diperoleh dari perjuangan gerilya itu. Namun harapan
mengubah Andes menjadi Sierra Maestra di Amerika Latin, atau menciptakan berbagai
Vietnam lain di Amerika Latin, terbukti hanyalah ilusi belaka. Mencanangkan perjuangan
gerilya dalam konteks tersebut, berarti mengurangi maknanya menjadi diri secara
pahlawan, suatu isyarat Don Kisot. Ini barangkalai dirasakan oleh Guevera beberapa saat
sebelum memulai gerilya di Nancahuaxzu.

Tetapi bahkan di negara-negara yang lebih maju di wilayah tersebut masih terus
berlangsung perjuangan di gunung-gunung melawan warisan populisme dan
kepemimpinan borjuis kecil., Bahaya terlalu menekankan kontradiksi aspek-aspek
pembebasan nasional (sebagian besar disebabkan oleh dominasi elemen borjuis kecil
dalam kekuatan revolusioner) terlihat dalam pengalaman perjuangan gerilya kota yang
menandai belahan kedua dasawarsa 1960-an dan belahan pertama dasawarsa 1970-an.

Jelas Amerika Serikat sepenuhnya mendukung kudeta militer di Brazil tahun 1964,
sebagaimana negara tersebut mendukung kudeta Chili tahun 1973. Namun ini hanyalah
satu elemen dari situasi. Dalam kedua kudeta tersebut, kaum borjuis lokal secara aktif
berusaha menggulingkan pemerintahan rakyat Goulart dan Allende. Kedua aspek
kontradiksi ini (aspek pembebasan nasional dan aspek perjuangan kelas) hadir, dan dalam
kasusu Brazil dan Chili, aspek perjuangan kelas ternyata lebih penting. Kegagalan
gerilyawan Brazilia memahami ini mendorong kita menerangkan ketidakmampuannya
dalam mengembangkan basis yang padu dalam kelas buruh.

Dengan cara yang sama warisan populisme Renoisme mencegah sikap jelas dalam
kaitannya dengan pilihan-pilihan politik kongkrit yang dihadapi oleh Argentina. Bagi
negara-negara seperti Chili, Brazil dan Argentina, pilihan-pilihannya jelas, sosialis me
atau barbarisme. Bagi negara-negara yang lebih terbelakang dan lebih kecil, ada p[ilihan
lain yang lebih kompleks. Tidak akan ada satu revolusi Amerika Latin, tetapi banyak
ragamnya. Kombinasi revolusi sosialis dan borjuis mungkin masih akan membawa hasil-
hasil yang tak terduga. (Roxborough, 1986: 170 – 173)

Penutup

Marx telah mengajukan argumen yang kuat, bahwa kontradiksi internal kapitalisme akan
menghasilkan kondisi-kondisi bagi perebutan kekuasaan negara oleh kelas buruh industri
dan transformasi ke masyarakat sosialis. Proletariat di tempat-tempat di mana kapitalis
paling maju (Eropa dan Amerika Serikat) akan mengalami revolusi sosialis. Satu abad
semenjak Marx melemparkan argumennya, revolusi kaum proletar tidak terjadi di negara-
negara tersebut, sementara negara-negara yang industrinya kurang maju, dimulai dengan
Rusia pada tahun 1917, telah menyaksikan revolusi demi revolusi dan pembangunan

36
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
negara sosialis. Lagipula, dengan pengecualian di Rusia, kaum proletar industri hanya
memainkan peranan yang relatif kecil dalam berbagai revolusi tersebut.

Sebagai akibat dari serangkaian perkembangan yang tidak dapat diperhitungkan


sebelumnya dalam karya kaum Marxis klassik (yaitu sebelum Lenin) muncullah proses
perubahan terus-menerus dalam korpus teori Marxis. Sampai titik mana perubahan
bekalangan ini mengubah Marxisme menjadi doktrin yang sama sekali lain dari Marx
sendiri merupakan permasalahan yang menarik, khususnya dipandang dari sudut tindakan
politik.

Usaha-usaha awal untuk menyesuaikan kenyataan yang terjadi di Rusia dengan warisan
teoritisi Marxisme dipusatkan pada kontek Eropa dan revolusi. Baik Lenin maupun
Trotsky menegaskan bahwa perebutan kekuasaan negara di Rusia oleh partai kelas buruh
hanyalah sebagai pembuka jalan bagi revolusi di Eropa. Kecuali kalau kaum proletar di
Eropa juga melakukan revolusi, Uni Soviet akan terisolasi dan, dengan
keterbelakangannya, tidak akan dapat maju ke sosialisme. Suatu kontra-revolusi akan
terjadi.

Mengapa revolusi sosialis pertama-tama pecah di Rusia yang terbelakang? Sesungguhnya


ini disebabkan oleh lemahnya rantai kapitalisme Eropa di sini. Trotsky, yang
mengembangkan suatu analisa yang lebih rumit dari Lenin, berpendapat bahwa meskipun
terdapat pertumbuhan industri berskala besar yang cepat, dan munculnya proletariat
modern, borjuasi Rusia telah gagal merebut aparat negara dari otokrasi Tsar. Hal tersebut
hanya dapat dilakukan dengan bantuan kelas buruh, namun mereka khawatir dengan
kekuatan kelas buruh sendiri dan akibatnya ragu-ragu antara keinginannya menguasai
negara dengan ketakutan melancarkan revolusi. Dalam situasi ini, menurut Trotsky, tugas
kelas buruh adalah untuk mendorong kaum borjuasi m bagaimanapun enggannya mereka,
kepada suatu revolusi, dan dengan melalui tahap borjuasi membawa revolusi itu ke tahap
revolusi sosialis, dengan menampilkan tuntutan-tuntutan mereka sendiri dan bersekutu
dengan petani yang berjumlah besar.

Teori revolusi permanen ini sebagian berasal dari karya-karya Marx sendiri mengenai
Komune Paris. Secara fundamental teori ini sangat berbeda dengan pandangan
Mensheviks dan banyak Raxis ortodoks yang berpendapat, bahwa hanya setelah
penyempurnaan revolusi burjuasilah kaum proletar dapat mengemukakan tuntutan-
tuntutannya. Sampai saat ini, semua yang dapat dilakukan kaum Marcxis adalah
mendukung kaum borjuis dalam perjuangnya melawan otokrasi Tsar. Revolusi, menurut
konsep ini, harus dilakukan dalam tahap-tahap.

Tetapi teori Trostky yang sekaligus melakukan revolusi dua tahap, mengajukan dalih
bahwa meskipun keterbelakangan Rusia memungkinkan revolusi semacam ini, tetapi,
keterbelakangan itu jugalah yang akan mengakibatkan kegentingan kalau revolusi di
Barat tidak terjadi. Ketiadaan revolusi di Barat pasti akan berarti kehancuran Revolusi
Rusia.

37
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Trostky ternyata salah. Revolusi di Barat tidak terjadi dan tak ada pentingnya pemugaran
kapitalisme di Rusia. Malahan muncul dorongan pertumbuhan industri yang fantastis
semasa Stalin dan munculnya kelas baru yang dominan

Dahsyatnya kemajuan Soviet tampak dalam tahun 1940-an, pada saat yang bersamaan
dengan Eropa Timur menjadi dominasi Soviet dan Revolusi Cina mendekati tahap
akhirnya. Sementara itu, di bawah pelindungan Joseph Stalin, Marxismee telah beberapa
kali diubah, yang paling terkemuka yakni doktrin “ sosialisme di satu negara.” Akibat
dari anggapan bahwa sosialisme dapat dibangun dalam satu negara yang terbelakang dan
bahwa Soviet adalah, dalam arti yang nyata, suatu masyarakat sosialis, maka Marxisme
berbelok dari pemikiran pembebasan diri dari kaum proletar ke suatu resep bagi
pembebasan kekuataan-kekuataan produksi. Di bawah Stalin, sosialisme berarti
perencanaan ekonomi dan kepemilikan negara.

Pentingnya perubahan teori Marxis ini adalah bahwa versi Stalinisme inilah, yang,
bergabung dengan sumbangan untuk revolusi Cina dan Cuba, serta perang pembebasan di
Asia dan Afrika, kemudian mempunyai pengaruh kuat di Dunia Ketiga. Implikasinya
akan diuraikan secara ringkas di sini.

Sumbangan prinsipil dari Revolusi Rusia dalam bentuk Stalinisme telah menghancurkan
pandangan bahwa kaum proletar adalah kelas dominan yang baru. Sumbangan dari
Revolusi Cina, seperti yang dicerminkan dalkam Maoisme, adalah meneruskan proses ini
selangkah lebih jauh dan menolak peranan kelas buruh dalam pengorganisasi revolusi
Ini semua cukup logis setelah kegagalan pemberontakan tahun 1927 yang terjadi di
Shanghai di mana basis Partai Komunis Cina di kalangan kelas buruh runtuh sama sekali

Semenjak itu, PKC bekerja hampir secara eksklusif di pedesaan sampai dengan
kemenangan akhir pada tahun 1949. Tetapi meskipun kelas buruh tidak memainkan
peranan dalam revolusi, kepemimpinan Cina terus menggambarkan revolusi tersebut
sebagai “revolusi kaum proletar:. Kata-kata itu berubah maknanya; tidak lagi mengacu
pada suatu kelas khusus, namun lebih diartikan sebagai suatu konstelasi khusus tema-
tema ideologis.

Kaum tani telah memanikan peranan penting dalam Revolusi Cina dan semakin
dipandang oleh para tokoh revolusi sebagai kelas revolusioner par excellence. Ucapan-
ucapan Marx yang menghina sifat reaksioner para petani pemilik tanah kecil di Perancis
pada abad XUX, dan konflik Rusia dengan kaum Kulak dihapuskan, dan pada masa
setelah Perang Dunia, banyak teoritisi berbalik memandang kaum tani sebagai kekuatan
revolusi utama.

Pengangkatan kaum tani ini dibantu oleh analisa yang tidak terlalu kompleks tentang
difertensiasi internal kaum tani. Pengkategorian petani kaya, “petani menengah “, dan “
petani miskin “ memenuhi kamus teoritisi Maosime. Pandangan yang menyederhanakan
seperti ini tampaknya tidak memberikan pengertian yang tepat tentang kenyataan sosial,
tidak memberikan pengertian yang tepat tentang kenyataan sosial, apalagi jadi panduan
untuk aksi revolusioner yang berhasil. Meskipun begitu, Marxisme- sekarang dalam

38
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Maoisme – hampir menyempurnakan perjalanan panjangnya dari suatu teori mengenai
pembebasan diri kelas buru ke rumusan terencana bagi pemberontakan di pedesaan
berikut perencanaan negara dan akumulasi modal.

Namun sementara teori revolusi petani dalam menandai suatu tahap dalam proses
transformasi teoritis, teori ini tidak menampilkan langkah akhir kearah volunarisme.
Teori revolusi yang dipandang sebagai analisa dinamika struktur sosial yang dapat
dijadikan petunjuk bagi tindakan revolusioner, baru ditinggalkan pada akhirnya sesudah
revolusi Cuba dan gerakan kemerdekaan Aljazair. Adalah tugas teoritisi seperti Franz
Fanon dan Regis Debray untuk memisahkan secara total praktek revolusi Dari teori
revolusi. (Roxborough, 1986; 141 – 144)

Kekurangcocokan antara teori revolusi Marx dan pola-pola historis revolusi sosial yang
sesungguhnya secara terus-menerus mengisyaratkan bahwa para ahli sosialisme Marxis
perlu melakukan pemikiran kembali terhadap beberapa dasar pendekatan Marx.
Pandangan Marx tentang sosialis yang didasarkan pada kelas pekerja memang masih
absah bagi masyarakat maju; dalam kurun beberapa ratus terakhir sejarah dunia ini, telah
mengingkari adanya kekuatan memaksa, sebenarnya sebenarnya panmdangan tersebut
merupakan kebutuihan.

Pendek kata dapat dismpulkan bahwa faktor penyebab dan produk revolusi sosial-
demokratis di masa yang akan datang di negara-negara industri maju. Meskipun
demikian, masa lampau merupakan hal yang sangat berharga lantaran mengajar kita
tentang masa depan; Revolusi di masa lalu telah mengisyaratkan kita bahwa dalam
revolusi yang akan datang, seperti halnya di dalam revolusi yang terjadi pada masa lalu,
negara masih terus merupakan sentral. Seperti yang ditulis Frans Neuman,” perjuangan
untuk memperoleh kekuasan politik adalah agen kemajuan historis. Hanya jika orang
dapat memahami hal ini dengan baik, maka ia akan dapat bekerja secara efektif untuk
mewujudkan impian Karl Marx masyarakat sosialis sebagai suatu asosiasi, di mana suatu
perkembangan yang beas dari masing-masing unsurnya merupakan persyaratan bagi
perkembangan yang bebas bagi semuanya dan di mana negara ditranformasikan dari
suatu organ yang mendominasi masyarakat menjadi suatu organ yang sepenuhnya
mengabdi pada masyarakat.(Skocpol, 1991: 321 32)

Di dalam marxisme klasik revolusi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari suatu
proses, yang pada hakikatnya ditentukan oleh hukum-hukum yang mengendalikan proses
sejarah umat manusia. Proses sebenarnya dari revolusi dapat dipengaruhi oleh keputusan-
keputusan individual para pemimpin dan penguasa, tetapi menurut pandangan kaum
Marxis klasik revolusi itu sendiri tidak dapat dielakkan apabila kondisi –kondisi dasarnya
telah hadir.

Manusia membuat sejarahnya sendiri, namun tidak seperti yang diinginkanuya;


mereka membuatnya tidak dalam kondisi-kondisi yang mereka pilih sendiri,
tetapi dalam kondisi langsung mereka jumpai, yang sudah demikian adanya dan
diwariskan dari masa lalu (Roxborough, 1986: 173)

39
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Bibliografi

Badan Koordinasi Masalah Cina. RRC Suatu Petunjuk Jalan.Jakarta:Badan Koordinasi


Negara.

Budiman, Arief. 1987. Jalan Demokratis Ke Sosialisme. Pengalaman Chili Dibawah


Allende. Jakarta: Sinar Harapan.

Fridolin, Iwan. 1998. Modernisasi Cina. Depok. Fakultas Sastra Universitas Indonesia
Godechot, Jacques. 1989 Revolusi di Dunia Barat (1170 – 1799). Yogyakarta;
Gadjah Mada University Press.

Horowitz, Louis Irving.1985 Revolusi, Militerisasi dan Konsolidasi pembangunan.


Jakarta: Bina Aksara.

Jones, Walter S. 1992. Logika Hubungan Internasional. Persepsi Nasional.Jakarta:


Gramedia Pustaka Utama.

Laeyendecker, L. 1991. Tata, Perubahan dan Ketimpangan. Suatu Pengantar Sejarah


Sosiologi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Mallet, A & J. Isaac. 1989. Revolusi Perrancis 1789 – 1799, Jakarta: Gramedia.

Maniruzzaman, Talukder.1998 Militer Kembali Ke Barak. Sebuah Studi Komparatif.


Yogyakarta: Tiara Wacana.

Roxborough, Ian. 1986. Teori-Teori Keterbelakangan. Jakarta: LP3ES.

Skocpol, Theda. 1991. Negara dan Revolusi Sosial. Suatu Analisis Komparatif tentang
Perancis, Rusia dan Cina. Jakarta: Erlangga.

Snyder. Louis. Dunia Dalam Abad Ke 20. Jakarta: Djaja Sakti.

Suseno, Frans Magnis.2003 Dalam Bayangan Lenin. Enam Pemikir Marxisme dari Lenin
sampai Tan Malaka. Jakarta Gramedua Pustaka Utama.

The United States Information Service. Garis-Garis Besar Sejarah Amerika. Jakarta; The
Unitef States Information Service.

Wertheim, V I.Gelombang Pasang Emansipasi. “ Evolusi dan Revolusi “ yang


Diperbaharui. Jakarta: Garba Budaya dan ISAI.

Wibowo, Priyanto.2003. Antara Mao dan Liu Shaoqi.Jakarta:Wedatama Widya Sastra

40
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Zon, Fadli. 2002. Gerakan Etnonasionalis. Bubarnya Imperium Uni Soviet. Jakarta: Sinar
Harapan.

41
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com