P. 1
Manusia, Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi

Manusia, Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi

|Views: 880|Likes:
Dipublikasikan oleh Peter Kasenda
Keberadaan manusia telah berlangsung kira-kira sejuta tahun . Ia telah mengenal tulisan kurang lebih selama 6.000 tahun , dan pertanian untuk waktu agak lebih lama lagi, kendati mungkin tidak sangat jauh berbeda . Ilmu pengetahuan , sebagai faktor utama yang menentukan keyakinan orang terdidik , telah ada kurang lebih 350 tahun ; dan sebagai sumber teknik ekonomi kira-kira telah berlangsung selama 200 tahun . Dalam waktu sesingkat ini ilmu pengetahuan membuktikan dirinya sebagai daya revolusioner yang dashyat . Bila kita melihat betapa barunya ilmu pengetahuan mencapai kekuatan itu, terpaksalah kita mengakui bahwa kita baru berada pada tahap yang sangat awal dari karyanya dalam mengubah kehidupan manusia . Akibat-akibatnya di masa depan hanya dapat kita duga , kendati begitu suatu penelitian mengenai akibat tersebut sampai sekarang bisa membuat dugaan tersebut tidak begitu sembrono .

Akibat ilmu pengetahuan amat sangat beragam . Ada dampak intelektual langsung , yaitu ditanggalkannya banyak kepercayaan tradisional dan dikenakannya cara-cara yang ditawarkan oleh keberhasilan metode ilmiah . Selain itu, ada akibat pada teknik di bidang industri dan perang . Selanjutnya , terutama sebagai akibat timbulnya berbagai teknik baru, terjadi perubahan-perubahan mendalam pada organisasi sosial yang lambat laun membawa perubahan politik . Akhirnya , sebagai akibat pengendalian baru atas lingkungan yang diberikan oleh ilmu pengetahuan , timbullah suatu filsafat baru yang menyangkut berubahnya pandangan tentang tempat manusia dalam alam semesta ( Russel, 1992 : 1 – 2 )

Suatu ciri khas pada manusia adalah bahwa ia selalu ingin tahu , dan setelah ia memperoleh pengetahuan tentang sesuatu , maka segera kepuasannya disusul lagi dengan kecenderungan untuk ingin lebih tahu lagi . Begitulah seterusnya , hingga tak sesaatpun ia sampai pada kepuasan mutlak untuk menerima realitas yang dihadapinya sebagai titik terminasi yang mantap . Ketidakmungkinan untuk merasa mantap pada suatu status pengetahuan ini dapat diterangkan dari berbagai sudut . Salah satu sebab yang paling dasar ialah bahwa apa yang menjelma kepada manusia sebagai realitas alamiah ditanggapinya sebagai kenyataan yang dwirupa : di satu pihak ia mengamati alamnya sebagai sesuatu yang mempunyai aspek statis , akan tetapi iapun mengamati terjadinya perubahan-perubahan , perkembangan-perkembangan dan lain sebagainya , yang menguatkan adanya aspek dinamis dari gejala-gejala alam itu sendiri . Aspek statis dan dinamis itulah merupakan ketegangan pertama yang mendorong manusia untuk selalu ingin lebih tahu . Jadi bukan saja fakta-fakta yang menggejala atau terlibat dalam suatu proses yang berlarut .

Berdasarkan penghayatan dasar yang pertama-tama inilah , maka manusia tidak lagi mampu melihat fakta sebagai kenyataan-kenyataan belaka , melainkan selalu menjangkau lebih jauh di balik kenyataan-kenyataan yang diamatinya, yaitu pada kemungkinan-kemungkinan yang dapat diperkirakannya melalui kenyataan-kenyataan itu .Dengan lain perkataan : manusia melakukan transedensi terhadap realitas kongkret dan menuju kea rah kemungkinan-kemungkinan yang terbayang melalui pengamatan terhadap realitas itu. Inilah yang rupanya dimaksudkan oleh Immanuel Kant dengan menyatakan bahwa kemampuan manusia untuk mengetahui adalah berupa ein der Bilder deburftigert Verstand
Keberadaan manusia telah berlangsung kira-kira sejuta tahun . Ia telah mengenal tulisan kurang lebih selama 6.000 tahun , dan pertanian untuk waktu agak lebih lama lagi, kendati mungkin tidak sangat jauh berbeda . Ilmu pengetahuan , sebagai faktor utama yang menentukan keyakinan orang terdidik , telah ada kurang lebih 350 tahun ; dan sebagai sumber teknik ekonomi kira-kira telah berlangsung selama 200 tahun . Dalam waktu sesingkat ini ilmu pengetahuan membuktikan dirinya sebagai daya revolusioner yang dashyat . Bila kita melihat betapa barunya ilmu pengetahuan mencapai kekuatan itu, terpaksalah kita mengakui bahwa kita baru berada pada tahap yang sangat awal dari karyanya dalam mengubah kehidupan manusia . Akibat-akibatnya di masa depan hanya dapat kita duga , kendati begitu suatu penelitian mengenai akibat tersebut sampai sekarang bisa membuat dugaan tersebut tidak begitu sembrono .

Akibat ilmu pengetahuan amat sangat beragam . Ada dampak intelektual langsung , yaitu ditanggalkannya banyak kepercayaan tradisional dan dikenakannya cara-cara yang ditawarkan oleh keberhasilan metode ilmiah . Selain itu, ada akibat pada teknik di bidang industri dan perang . Selanjutnya , terutama sebagai akibat timbulnya berbagai teknik baru, terjadi perubahan-perubahan mendalam pada organisasi sosial yang lambat laun membawa perubahan politik . Akhirnya , sebagai akibat pengendalian baru atas lingkungan yang diberikan oleh ilmu pengetahuan , timbullah suatu filsafat baru yang menyangkut berubahnya pandangan tentang tempat manusia dalam alam semesta ( Russel, 1992 : 1 – 2 )

Suatu ciri khas pada manusia adalah bahwa ia selalu ingin tahu , dan setelah ia memperoleh pengetahuan tentang sesuatu , maka segera kepuasannya disusul lagi dengan kecenderungan untuk ingin lebih tahu lagi . Begitulah seterusnya , hingga tak sesaatpun ia sampai pada kepuasan mutlak untuk menerima realitas yang dihadapinya sebagai titik terminasi yang mantap . Ketidakmungkinan untuk merasa mantap pada suatu status pengetahuan ini dapat diterangkan dari berbagai sudut . Salah satu sebab yang paling dasar ialah bahwa apa yang menjelma kepada manusia sebagai realitas alamiah ditanggapinya sebagai kenyataan yang dwirupa : di satu pihak ia mengamati alamnya sebagai sesuatu yang mempunyai aspek statis , akan tetapi iapun mengamati terjadinya perubahan-perubahan , perkembangan-perkembangan dan lain sebagainya , yang menguatkan adanya aspek dinamis dari gejala-gejala alam itu sendiri . Aspek statis dan dinamis itulah merupakan ketegangan pertama yang mendorong manusia untuk selalu ingin lebih tahu . Jadi bukan saja fakta-fakta yang menggejala atau terlibat dalam suatu proses yang berlarut .

Berdasarkan penghayatan dasar yang pertama-tama inilah , maka manusia tidak lagi mampu melihat fakta sebagai kenyataan-kenyataan belaka , melainkan selalu menjangkau lebih jauh di balik kenyataan-kenyataan yang diamatinya, yaitu pada kemungkinan-kemungkinan yang dapat diperkirakannya melalui kenyataan-kenyataan itu .Dengan lain perkataan : manusia melakukan transedensi terhadap realitas kongkret dan menuju kea rah kemungkinan-kemungkinan yang terbayang melalui pengamatan terhadap realitas itu. Inilah yang rupanya dimaksudkan oleh Immanuel Kant dengan menyatakan bahwa kemampuan manusia untuk mengetahui adalah berupa ein der Bilder deburftigert Verstand

More info:

Published by: Peter Kasenda on Oct 29, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Manusia , Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi

Ilmu pengetahuan tanpa agama akan timpang, Sedangkan agama tanpa pengetahuan akan buta (Albert Einstein)

Keberadaan manusia telah berlangsung kira-kira sejuta tahun . Ia telah mengenal tulisan kurang lebih selama 6.000 tahun , dan pertanian untuk waktu agak lebih lama lagi, kendati mungkin tidak sangat jauh berbeda . Ilmu pengetahuan , sebagai faktor utama yang menentukan keyakinan orang terdidik , telah ada kurang lebih 350 tahun ; dan sebagai sumber teknik ekonomi kira-kira telah berlangsung selama 200 tahun . Dalam waktu sesingkat ini ilmu pengetahuan membuktikan dirinya sebagai daya revolusioner yang dashyat . Bila kita melihat betapa barunya ilmu pengetahuan mencapai kekuatan itu, terpaksalah kita mengakui bahwa kita baru berada pada tahap yang sangat awal dari karyanya dalam mengubah kehidupan manusia . Akibat-akibatnya di masa depan hanya dapat kita duga , kendati begitu suatu penelitian mengenai akibat tersebut sampai sekarang bisa membuat dugaan tersebut tidak begitu sembrono . Akibat ilmu pengetahuan amat sangat beragam . Ada dampak intelektual langsung , yaitu ditanggalkannya banyak kepercayaan tradisional dan dikenakannya cara-cara yang ditawarkan oleh keberhasilan metode ilmiah . Selain itu, ada akibat pada teknik di bidang industri dan perang . Selanjutnya , terutama sebagai akibat timbulnya berbagai teknik baru, terjadi perubahan-perubahan mendalam pada organisasi sosial yang lambat laun membawa perubahan politik . Akhirnya , sebagai akibat pengendalian baru atas lingkungan yang diberikan oleh ilmu pengetahuan , timbullah suatu filsafat baru yang menyangkut berubahnya pandangan tentang tempat manusia dalam alam semesta ( Russel, 1992 : 1 – 2 ) Suatu ciri khas pada manusia adalah bahwa ia selalu ingin tahu , dan setelah ia memperoleh pengetahuan tentang sesuatu , maka segera kepuasannya disusul lagi dengan kecenderungan untuk ingin lebih tahu lagi . Begitulah seterusnya , hingga tak sesaatpun ia sampai pada kepuasan mutlak untuk menerima realitas yang dihadapinya sebagai titik terminasi yang mantap . Ketidakmungkinan untuk merasa mantap pada suatu status pengetahuan ini dapat diterangkan dari berbagai sudut . Salah satu sebab yang paling dasar ialah bahwa apa yang menjelma kepada manusia sebagai realitas alamiah ditanggapinya sebagai kenyataan yang dwirupa : di satu pihak ia mengamati alamnya sebagai sesuatu yang mempunyai aspek statis , akan tetapi iapun mengamati terjadinya perubahan-perubahan , perkembangan-perkembangan dan lain sebagainya , yang menguatkan adanya aspek dinamis dari gejala-gejala alam itu sendiri . Aspek statis dan dinamis itulah merupakan ketegangan pertama yang mendorong manusia untuk selalu 1
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda ingin lebih tahu . Jadi bukan saja fakta-fakta yang menggejala atau terlibat dalam suatu proses yang berlarut . Berdasarkan penghayatan dasar yang pertama-tama inilah , maka manusia tidak lagi mampu melihat fakta sebagai kenyataan-kenyataan belaka , melainkan selalu menjangkau lebih jauh di balik kenyataan-kenyataan yang diamatinya, yaitu pada kemungkinankemungkinan yang dapat diperkirakannya melalui kenyataan-kenyataan itu .Dengan lain perkataan : manusia melakukan transedensi terhadap realitas kongkret dan menuju kea rah kemungkinan-kemungkinan yang terbayang melalui pengamatan terhadap realitas itu. Inilah yang rupanya dimaksudkan oleh Immanuel Kant dengan menyatakan bahwa kemampuan manusia untuk mengetahui adalah berupa ein der Bilder deburftigert Verstand Dengan sikap demikian itulah manusia mengalami pertemuannya dengan alam sekitarnya. Dalam perkembangannya sejak lahir , anak manusia menemui dan bergaul dengan dunianya sebagai kenyataan-kenyataan dengan kemungkinan-kemungkinan sekaligus . Ia berangsur-angsur mengenal bahwa sendok yang dibuangnya ke lantai membuat suara tertentu , dan perbuatan ini diulang-ulang tanpa hentinya ; suara termaksud sebenarnya tidak harus merupakan bagian dari sifat-sifat sendok itu sendiri ; dan sejumlah permainan serta khayalan anak segera menunjukkan betapa pengamatannya itu lebih dari sekedar menerima realitas belaka . Akhirnya , hal yang sama dalam bentuk yang lebih majemuk dapat kita saksikan pada perkembangan kehidupan membudaya pada umat manusia. Jadi transendensi terhadap kenyataan itu adalah suatu proses yang dapat kita saksikan baik dalam proses filogenetis maupun ontogenetis . Namun demikian , semuanya itu belum memberi kedudukan khusus pada apa yang disebut “pengamatan ilmiah “ ; paling jauh kita bisa menganggapnya sebagai ciri “ingin tahu “ yang melekat pada kodrat manusiawi . Dari sikap ini saja yang dicapai adalah pengetahuan , dan bukan (atau belum ) ilmu . ( Fuad Hasan , 1977 : 8 – 9 ) Manusia dan Pengetahuan Semua bentuk penyelidikan kearah pengetahuan mulai dengan pengalaman . Maka hak pertama dan utama yang mendasari dan yang memungkinkan adanya pengetahuan adalah pengalaman . Pengalaman adalah keseluruhan peristiwa perjumpaan dan apa yang terjadi pada manusia dalam interaksinya dengan alam , diri sendiri , lingkungan sosial sekitarnya dan dengan seluruh kenyataan . Ada dua macam pengalaman , yakni pengalaman primer dan pengalaman sekunder. Pengalaman primer adalah pengalaman langsung akan persentuhan inderawi dengan benda-benda konkret di luar manusia dan akan peristiwa yang disaksikan sendiri . Pengalaman sekunder adalah pengalaman tak langsung atau pengalaman reflektif mengenai pengalaman primer . Saya sadar akan apa yang saya lihat dengan mata saya , apa yang saya dengan dengan telinga saya , dan apa yang saya rasakan dengan indera peraba saya . Saya sadar akan adanya kenyataan lain di luar saya yang merangsang organ-organ dalam tubuh saya dan saya juga sadar akan kesadaran saya 2
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Selain pengalaman inderawi dan nirinderawi , pengetahuan juga didasarkan atas ingatan Dalam kedudukannya sebagai dasar pengetahuan . baik pengalaman inderawi maupun ingatan saling mengandaikan . Tanpa ingatan , pengalaman inderawi tidak akan dapat berkembang menjadi pengetahuan . Di lain pihak , ingatan mengandaikan pengalaman inderawi sebagai sumber dan dasar rujukannya . Kita hanya dapat mengingat apa yang sebelumnya pernah kita alami secara inderawi , entah secara langsung atau tidak langsung Kendati ingatan sering kali dapat menjadi kabur dan tidak tepat , atau dengan kata lain dapat keliru , namun dalam hidup sehari-hari , baik secara teoritis maupun praktis , pengetahuan kita dasarkan atas ingatan . Seandainya ingatan sama sekali tak bisa diandalkan , maka kita tak dapat melakukan tugas sehari-hari . Misalnya kita tidak dapat menemukan jalan yang pernah kita lalui . Tanpa ingatan , kegiatan penalaran pun menjadi tidak mungkin . Karena untuk dapat bernalar dan menarik kesimpulan kita harus bisa mengingat premis-premisnya . Pengalaman inderawi langsung dan ingatan pribadi mengenai suatu peristiwa atau fakta tertentu tidak selalu kita miliki . Akan tetapi , pengetahuan juga sering kali kita peroleh dari kesaksian orang lain yang kita percayai .Dalam hidup sehari-hari kita banyak mempercayakan diri pada kesaksian orang lain . Dalam mempercayai suatu kesaksian , kita tidak mempunyai cukup bukti instrinsik untuk kebenarannya. Yang kita miliki hanyalah bukti ekstrinsik .Tentu saja untuk menerima suatu kesaksian sebagai suatu kesaksian yang benar ,suatu bukti instrinsik tetap diperlukan .Kendati kesaksian tidak dapat memberi kepastian mutlak mengenai kebenaran isi kesaksiannya , namun sebagai dasar dan sumber pengetahuan cara ini banyak ditempuh . Tidak semua pengalaman menjadi pengetahuan. Untuk dapat berkembang menjadi pengetahuan , subyek yang mengalami sesuatu perlu memiliki minat dan rasa ingin tahu tentang apa yang dialaminya . Maka, hal lain yang mendasari adanya pengetahuan adalah adanya minat dan rasa ingin tahu manusia . Minat mengarahkan perhatian terhadap halhal yang dialami dan dianggap penting untuk diperhatikan . Ini berarti bahwa dalam kegiatan mengetahui sebenarnya selalu sudah termuat unsur penilaian . Orang akan meminati apa yang ia pandang bernilai . Sedangkan rasa ingin tahu mendorong orang untuk bertanya dan melakukan penyelidikan atau apa yang dialami dan menarik minatnya. Seperti dinyatakan oleh Aristoteles dalam kalimat pembukaan dari bukunya Metafisika , pada dasarnya “ semua manusia ingin mengetahui .” Kenyataan ini terungkap dengan jelas misalnya dalam gejala manusia sebagai makhluk bertanya . Rasa ingin tahu erat terkait dengan pengalaman kekaguman atau keheranan akan apa yang dialami . Seperti sudah dikemukakan oleh Plato , kegiatan filsafat sendiri dimulai dengan pengalaman kekaguman atau keheranan . Kenyataan ini berlaku untuk semua kegiatan mencari pengetahuan . Dalam gejala manusia bertanya terungkap kenyataan bahwa manusia di satu pihak sudah tahu sesuatu tetapi sekaligus juga belum tahu , dan ia ingin tahu mengenai hal-hal yang belum ia ketahui . . Pertanyaan selalu menunjuk pada kenyataan adanya kemungkinan pengetahuan yang lebih dari apa yang sampai sekarang sudah diketahui , setiap jawaban atau suatu pertanyaan sering memunculkan pertanyaan baru yang mengharapkan jawaban . Dapat mengajukan pertanyaan yang tepat 3
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda mengandaikan bahwa orang tahu di mana ia tahu dan di mana ia tidak tahu . Maka , mengajukan pertanyaan yang tepat merupakan langkah pertama memperoleh jawaban yang benar . Hanya kalau orang menyadari akan ketidaktahuannya dan ingin tahu , maka ia akan bertanya dan berusaha mencari jawaban atas apa yang ia tanyakan . Kesadaran dan dorongan seperti itu merupakan hal yang mendasar bagi bertambahnya pengetahuan Hanya kalau orang berusaha untuk dapat memahami dan menjelaskan apa yang dialami, maka pengalaman dapat berkembang menjadi pengetahuan . Untuk dapat memahami dan menjelaskan apa yang dialami , manusia perlu melakukan kegiatan berpikir. Kegiatan berpikir mengandaikan adanya pikiran . Pengalaman dan rasa ingin tahu manusia sendiri sebenarnya sudah mengandaikan pikiran . Terdorong oleh rasa ingin tahu , pikiran mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan persoalan yang dihadapi . Kegiatan berpikir memang lebih dari sekedar bernalar Tetapi kegiatan pokok pikiran dalam mencari pengetahuan adalah penalaran . Maka, pikiran dan penalaran merupakan hal yang mendasari dan memungkinkan pengetahuan Tanpa pikiran dan penalaran tak mungkin ada pengetahuan . Penalaran sendiri merupakan proses bagaimana pikiran manarik kesimpulan dari hal-hal yang sebelumnya telah diketahui . Penalaran bisa berbentuk induksi , deduksi maupun abduksi . Induksi adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan umum dari pelbagai situasi kejadian atau khusus . Pembuatan perampatan biasanya didasarkan atas adanya pola yang terus berulang . Sebaliknya deduksi adalah bentuk penalaran yang berangkat dari suatu pernyataan atau hukum umum ke kejadian khusus yang secara niscaya dapat diturunkan dari pertanyaan atau hukum tersebut . Abduksi adalah penalaran untuk merumuskan sebuah hipotesis berupa pernyataan umum yang kemungkinan kebenarannya masih perlu diuji coba . Berkat kemampuannya menalar , manusia dapat mengembangkan pengetahuannya .Inilah yang membedakan manusia dan binatang . Binatang dapat memperoleh pengetahuan , atau paling tidak memperoleh pengenalan akan lingkungannya , tetapi hanya hanya berdasarkan kemampuan insingsif yang dimilikinya . Sebagai pengetahuan instingsif , pengetahuan binatang selalu terbatas pada apa yang secara alami telah terprogram dalam struktur genetisnya . Pada manusia terbuka pelbagai kemungkinan Berkas pikiran dan daya penalarannya , manusia tidak harus selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan alam dan sosial sekitarnya . Sebaliknya , manusia dapat mengubah lingkungan dan sosial sekitarnya untuk disesuaikan dengan kepentingan dan kebutuhannya . Justru karena kemampuan mengubah lingkungan alam dan sekitarnya ini , di antara makhluk hidup di bumi ini , manusia dapat menjadi faktor paling menyebabkan kerusakan ekologis . Tetapi berkat kemampuan berpikirnya manusia pulalah yang dapat memiliki kemungkinan lain Seekor kera dapat makan pisang dengan mengupas kulitnya dan meniru gerak-gerik manusia dalam memakannya , tetapi hanya manusia yang dapat mengerti pelbagai kemungkinan yang bisa dilakukan dalam memakan pisang . Bisa langsung dimakan , bisa digoreng , digodok , dibakar , bisa dalam bentuk bentuk bisa selesai , keripik pisang , roti pisang , kolak pisang dan sebagainya , Kegiatan penalaran tidak dapat dilakukan lepas dari logika . Tidak sembarang kegiatan berpikir dapat disebut penalaran . Penalaran adalah kegiatan berpikir seturut asas 4
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda kelurusan berpikir atau sesuai dengan hukum logika Penalaran adalah kegiatan berpikir logis memang belum menjamin bahwa kesimpulan yang ditarik atau pengetahuan yang dihasilkan pasti benar . Walaupun pengetahuan yang diperoleh dari penalaran yang memenuhi hukum logika belum terjamin kebenarannya , namun logika tetap merupakan suatu dasar yang amat perlu untuk memperoleh pengetahuan yang benar . Sebab tanpa logika , penalaran tidak mungkin dilakukan , dan tanpa penalaran tidak akan ada pengetahuan yang benar. Selain logika , penalaran juga mengandalkan bahasa . Maka , bahasa juga merupakan salah satu hal yang mendasari dan memungkinkan pengetahuan pada manusia . Seluruh kegiatan berpikir manusia sendiri erat terkait dengan kemampuannya makhluk yang berbahasa. Pengetahuan manusia diungkapkan dan dikomunikasikan dalam bentiuk bahasa . Karena dia hubungan saling ketergantungan antara pikiran dan kata , jelaslah bahwa bahasa bukan hanya suatu sarana mengungkapkan kebenaran yang sudah dipastikan , tetapi lebih jauh lagi merupakan sarana menemukan suatu kebenaran yang sebelumnya belum diketahui . Berkat kemampuannya berbahasa manusia mampu mengembangkan pengetahuannya . Sebab berkat kemampuan tersebut manusia bukan hanya dapat mengungkapkan dan mengkomunikasikan pikiran , perasaan dan sikap batinnya , tetapi juga menyimpan, mengingat kembali , mengulas , dan memperluas apa yang sampai sekarang telah diketahuinya . Penyimpanan dan pewarisan khazanah budaya masa lalu serta pengembangannya di masa sekartang menuju masa depan , tidak dapat dilakukan tanpa bahasa .( Sudarminta , 2002 : 32 – 42 ) Salah satu persoalan yang kita perlu singgung dalam kaitan dengan pengetahuan adalah persoalan mengenai ; Apakah pengetahuan itu mungkin dicapai ? Apakah kita benarbenar tahu ? Bagaimana kita bisa merasa yakin bahwa kita tahu ? Bukankah apa yang kita anggap kita ketahui hanya tipuan belaka ? Singkatnya , bagaimana kita tahu bahwa kita tahu ? Secara tradisional , pernyataan-pertanyaan ini telah dikemukakan oleh orang-orang yang bersikap skeptis terhadap adanya pengetahuan . Inilah yang dikenal sebagai skeptisme Sikap dasar skeptisme adalah bahwa kita tidak pernah tahu tentang apa pun . Bagi mereka yang menganut skeptisme adalah bahwa kita tidak pernah tahu tentang apa pun . Bagi mereka yang menganut skeptisme , mustahil manusia mencapai pengetahuan tentang sesuatu , atau paling kurang bahwa manusia tidak pernah merasa pasti dan yakin apakah ia bisa mencapai pengetahuan tertentu .Dengan kata lain , skeptisme meragukan kemungkinan bahwa manusia bisa mengetahui sesuatu karena tidak ada bukti yang cukup untuk mempertahankan bahwa manusia benar-benar tahu tentang sesuatu . Skeptisme sudah berkembang sejak zaman Yunani kuno pada kelompok filsuf yang dikenal sebagai kaum Sofis . Kaum Sofis meragukan kemungkinan pengetahuan akan alam karena menurut mereka manusia adalah ukuran dari segala-galanya . Maka , yang disebut penelitian akan alam tidak mungkin karena kalaupun ada pengetahuan akan alam, pengetahuan ini harus bersumber pada manusia . Dengan kata lain . bagi kaum Sofis , apa yang dianggap sebagai pengetahuan sesungguhnya hanyalah kontruksi sosial manusia 5
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Tidak ada realitas yang bisa diketahui secara nyata sebagaimana adanya Yang ada hanyalah konstruksi manusia tentang realitas itu . Skeptisme terutama muncul karena anggapan bahwa pengetahuan menyangkut kepastian Apa yang diklaim sebagai pengetahuan adalah kalau apa yang diklaim itu pasti benar Tidak ada hal yang dapat diketahui kecuali kalau hal hal itu pasti benar . Kalau kita perlu tahu sesuatu , hal itu pasti benar dan tidak bisa salah . Persoalannya , bagaimana kita tidak bisa tahu bahwa hal itu pasti benar ? Dengan bukti ! Tetapi, bagaimana kita bisa tahu bahwa bukti itu benar dan bukan hanya tipuan belaka ? Menurut paham skeptisme , kita sulit memberikan bukti proposisi apa pun yang diklaim sebagai pengetahuan . Para skeptis mempertanyakan apakah kita bisa memperoleh informasi yang dapat diandalkan tentang segala sesuatu . Ternyata kita tidak pernah tahu secara pasti tentang kebenaran dari apa yang kita klaim sebagai sesuatu yang kita ketahui . Jadi , kita sesungguhnya tidak tahu . Maka , tidak ada yang tahu pasti tentang dunia di sekitarnya . Singkatnya tidak ada pengetahuan .( Sony Keraf , 2001 : 40 – 41 ) Skeptisme beranggapan bahwa pengetahuan musthasil dicapai . Dalam sejarah filsafat , persoalan ini dijawab secara berbeda oleh dua aliran pemikiran , yaitu rasionalisme dan empirisme . Rasionalisme lebih dikenal sebagai filsafat Kontinental karena tokohtokohnya terutama berasal dari Eropa Daratan , seperti Rene Descartes , W.G. Leibniz , dan Barukh Spinoza . Kaum rasionalis beranggapan bahwa kita dapat sampai pada pengetahuan yang pasti hanya dengan mengandalkan akal budi . Sebaliknya , empirisme lebih dikenal sebagai filsafat Inggris karena tokoh-tokohnya berasal dari Inggris , seperti John Locke , David Hume dan Berkely .Bagi kaum empiris ini, kita bisa sampai pada pengetahuan yang pasti dengan mengandalkan pencaindra kita yang memberi kita informasi tentang obyek tertentu . Revolusi Ilmu Pengetahuan Revolusi Ilmu Pengetahuan muncul di Eropa sekitar abad ke – 17 , Revolusi itu menandai bangkitnya kelompok intelektual bangsa Eropa mengenai cara berpikir keilmiahan . Pada masa itu Eropa dilanda krisis kehidupan yang cukup berat .Banyaknya pengangguran , kehidupan perekonomian yang tidak menguntungkan sebagian rakyat jelata , dan kehidupan kenegaraan feodalisme yang sangat materialistis-kapitalistis menumbuhkan berbagai gejolak pada bangsa-bangsa Eropa. Berbagai revolusi terjadi dalam sejarah perkembangan bangsa-bangsa Eropa , seperti revolusi pertanian, revolusi industri , revolusi Perancis serta revolusi ilmu pengetahuan . Apakah yang dimaksud dengan revolusi ilmu pengetahuan itu ? Revolusi ilmu pengetahuan adalah perubahan cara berpikir masyarakat intelektual Eropa dari cara berpikir yang ontologism ke cara berpikir matematis mekanistis . Cara berpikir ontologism merupakan warisan yang ditinggalkan bangsa-bangsa Eropa ketika kondisi yang dialami manusia beserta pengetahuan yang dimilikinya menunjukkan cara berpikir Abad Pertengahan . Pada masa itu diberlakukan hukum agama untuk segala-galanya , termasuk dalam dunia pengetahuan . Dunia harus dilihat secara apa adanya , yang secara 6
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda alamiah memang menjadi milik manusia dan muncul karena adanya penciptaan Sang Kuasa. Keadaan itu berlangsung cukup lama hingga muncul Abad Renaisance yang mengubah segalanya . Manusia tidak lagi sekedar menjadi citra Tuhan ( Imago Dei ) , tetapi memiliki rasio, kreativitas , dan keinginan untuk maju dan mampu memperbaiki kebudayaan . Dunia manusia dan pengetahuannya adalah dunia antroposentris , dunia yang terpusat pada kekuatan akal budi manusia . Pada Abad Renaisance , kejayaan bangsa Eropa mulai terbangun , mulai tumbuh minat masyarakat mempelajari pengetahuan yang berlandaskan rasionalitas dan empiristis Berbagai peninggalan bangunan yang megah berikut karya seni yang mutu estetisnya sangat tinggi ( seni lukis , pahat , dan arsitektur ) di daratan Eropa menandai bangkitnya bangsa-bangsa Eropa untuk menguasai dunia seni dan ilmu pengetahuan . Tokoh –tokoh pembaharu humanis Renaisanmce , seperti Leonardo da Vinci , Michelangelo, N Copernicus , J Keppler , dan Galileo Galilei sangat termashur dengan karya-karya dan penemuan dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan . Fenomena alam dan sosial budaya dipelajari serta diamati secara cermat untuk kemudian dimanfaatkannya . Berkat upaya yang cukup lama dan tak kenal lelah berkembanglah ilmu-ilmu pengetahuan alam , seperti fisika, kimia, dan kedokteran , dan itu terjadi pada Abad Aufklarung . Sir Isaac Newton , perintis ilmu fisika , mendasarkan fisika klasik dalam bukunya Philosophiae naturalies principia mathematica Ilmu Pengetahuan Alam berdasarkan prinsip-prinsip matematis . Sesuatu yang penting muncul dalam pemikiran para ilmuwan pada revolusi ilmu pengetahuan : adanya perubahan terhadap cara pandang dalam melihat materi . Materi dianggap sebagai sesuatu yang dapat bersifat konstan atau pun mengalami perubahan karena adanya gerakan tertentu . Materi dapat dikaji dengan menggunakan perhitungan matermatika dan sejak saat itu mulailah diterapkan suatu bidang ilmu pengetahuan yang saat itu mulailah diterapkan suatu bidang ilmu pengetahuan yang menggunakan percobaan sekaligus disertai model dan pengukuran tertentu . Sejak itulah ilmu pengetahuan , khususnya ilmu pengetahuan alam (fisika ) , berkembang pesat dengan pendekatan matematis yang ditetapkan dalam penganalisasi . Cara berpikir matematis mekanistis dalam revolusi ilmu pengetahuan yang dipelopori oleh Newton menjadi semacam gaya para ilmuwan dalam mengkaji obyek permasalahan dalam penelitian . Alam sekeliling dilihat sebagai sesuatu yang dapat diukur . Benda dianggap memiliki kriteria tertentu ( berat, luas, isi dan sebagainya ) . Di samping itu ada anggapan bahwa benda memiliki gerak tertentu apabila dijatuhkan dari ketinggian tertentu . Dengan pengamatan semacam itulah maka berbagai pendekatan terhadap cara kerja ilmu pengetahuan dikembangkan . Pendekatan yang bersifat kausilitas mewarnai cara kerja ilmu pengetahuan . Benda atau segala sesuatu lantas dapat disimpulkan memiliki sifat tertentu , terstruktur . alam semesta , misalnya , berdasarkan matematis terlihat terstuktur , sehingga keteraturan hukum alam atau sifat mekanistis itu hingga sekarang menjadi fokus dalam cara kerja ilmu pengetahuan . Cara kerja ilmiah didukung dengan percobaan atau eksprimen yang selalu berusaha menyempurnakan hasil percobaan melalui usaha uji coba . Dalam laboratorium , percobaan itu juga didukung dengan sebuah model, suatu tiruan obyek yang sesungguhnya ( obyek yang dijadikan sebagai obyek penelitian ) . Dengan model itu para ilmuwan dapat menganalisis bahkan mengembangkan penelitiannya dengan lebih sempurna. 7
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Akibat dari perjalanan dan proses revolusi ilmu pengetahuan . memunculkan nilai-nilai dasar yang tampil pada perubahan cara berpikir manusia . Nilai pertama adalah alam Alam semesta memiliki tata susun dan berada pada hukum alam, serta kosmos merupakan sesuatu yang dianggap memiliki struktur tertentu . Adanya nilai alam menyebabkan orang melihat bahwa alam merupakan bagian dari kehidupan manusia , sehingga keberadaan alam tidak untuk dirusak , tetapi diakrabi , dicintai , dan dapat dimanfaatkan bagi kehidupan manusia .Kedua , Nilai Budaya . Kemajuan manusia ditandai dengan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan . Dengan kemajuan manusia , terutama dalam cara berpikir yang antroposentris , manusia mampu mengubah kebudayaan dan teknologi menjadi sesuatu yang sangat berarti dan bermakna bagi kehidupan manusia melalui proses belajar .Yang terakhir , Nilai Ekonomi . Ia tercipta karena para pelaku revolusi ilmu pengetahuan memiliki semangat etos kerja atau etos yang tinggi . Para ilmuwan mulai menciptakan teknologi yang tepat guna bagi kebutuhan manusia , misalnya diciptakan mesin untuk mengisi – mula-mula kerja tahapan industri rumahan hingga ke industri pabrikasi . Hasil atau benda kebutuhan hidup dapat diciptakan berkat adanya mesin yang mampu menghasilkan produk hingga menembus pasar dengan daya jual tinggi . Dengan demikian terciptalah nilai ekonomis yang menuntut kemandirian dan tanggung jawab bagi para pelaku pasar agar nilai ekonomis dapat dimanfaatkan bagi seluruh masyarakat . ( Budianto , 2002 : 30 – 33 ) Akal dan Pengalaman Inti dari pandangan rasionalisme adalah bahwa hanya dengan menggunakan prosedur tertentu dari akal saja kita bisa sampai pada pengetahuan yang sebenarnya , yaitu pengetahuan yang tidak mungkin salah . Menurut kaum rasionalis, sumber pengetahuan , bahkan sumber satu-satunya adalah akal budi manusia . Akal budilah yang memberi kita pengetahuan yang pasti benar tentang sesuatu . Konsekuensinya , kaum rasionalis menolak anggapan bahwa bisa menemukan pengetahuan melalui pancaindera kita . Bagi mereka , akal budi saja sudah cukup memberi pemahaman bagi kita , terlepas dari pancaindera . Dengan demikian , akal budi saja bisa membuktikan bahwa ada dasar bagi pengetahuan kita, bahwa kita boleh merasa pasti dan yakin akan pengetahuan yang kita peroleh . Rene Descartes adalah filsuf yang meneruskan sikap kaum skeptis . Ia menganggap serius anjuran kaum skeptis supaya kita perlu meragukan semua keyakinan dan pengetahuan kita, bahkan kita perlu meragukan apa saja. Bagi Descartes , inilah metode filsafat yang paling tepat . Sasaran utama dari Descartes adalah bagaimana kita bisa sampai pada pengetahuan yang pasti benar . Menurutnya , kita perlu meragukan segala sesuatu sampai kita mempunyai ide yang jelas dan tepat ( clara et distincta ) . Dengan kata lain , Descartes menghendaki agar kita tetap meragukan untuk sementara waktu apa saja yang tidak bisa dilihat dengan terang akal budi sebagai yang pasti benar dan tak diragukan lagi

8
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Ini disebut sebagai keraguan metodis , yang berfungsi sebagai alat untuk menyingkirkan semua prasangka , tebakan , dan dugaan yang menipu , dan karenanya menghalangi kita untuk sampai pada pengetahuan yang benar-benar punya dasar yang kuat . Hanya dengan cara ini , kita bisa merasa yakin bahwa kita punya pengetahuan . Atas dasar ini, Descartes beranggapan bahwa hanya akal budi yang dapat membuktikan bahwa ada dasar bagi pengetahuan manusia , ada dasar untuk merasa pasti dan yakin akan apa yang diketahui . Descartes sesungguhnya terkesan dengan hasil yang dicapai oleh matematika pada umumnya dan ilmu ukur khususnya . Menurut Descartes , kalau metode yang digunakan dalam ilmu ukur , yang mengandalkan deduksi akal budi .bisa berhasil untuk sampai pada kebenaran-kebenaran yang tak bisa diragukan , mengapa metode yang sama tidak bisa digunakan dalam ilmu yang lain .Atas dasar inilah , Descartes berpendapat bahwa untuk sampai pada pengetahuan yang pasti dan tak teragukan mengenai apa saja , kita perlu mengandalkan akal budi kita sebagaimana halnya dalam ilmu ukur . Oleh karena itu kita perlu meragukan apa saja , termasuk yang ditangkap oleh pancaindera kita . Yang perlu kita lakukan adalah menggunakan alat yang sama yang memungkinkan ahli ilmu ukur dan matematika sampai pada kebenaran yang pasti , yaitu akal budi , karena hanya akal budi yang bisa memberi kepastian Sesungguhnya metode Descartes sangat sederhana . Menurutnya , kita harus meragukan segala sesuatu yang kita tangkap dengan pancaindera kita sampai pada akhirnya tidak bisa meragukan hal itu . Semua yang diragukan disingkirkan dan terus-menerus begitu sampai kita mengetahui sesuatu secara pasti tanpa bisa diragukan lagi . Itu adalah kebenaran atau pengetahuan yang benar . Dengan kata lain, untuk bisa sampai pada kebenaran kita perlu meragukan segala hal , termasuk pendapat dan pengalaman kita sendiri . ini kita lakukan dengan mengandalkan akal budi , dengan berpikir . Bagi Descartes , keraguan metodis bukanlah tujuan yang harus dicapai . Keraguan ini hanya merupakan sarana untuk menemukan segala sesuatu yang biasa kita ketahui secara pasti . Dengan cara ini kita bisa sampai pada kebenaran tertentu yang tidak bisa lagi diragukan , dan ini memberi landasan yang kokoh bagi pengetahuan kita . Seperti halnya rasionalisme dan para filsuf rasionalis , empirisme dan juga para filsuf empiris , sesungguhnya ingin menanggapi persoalan yang diajukan skeptisme Bagaimana kita bisa sampai pada pengetahuan yang pasti benar ? Seperti kaum rasional , kaum empiris pun ingin mencari dasar yang kokoh , dasar pembenaran bagi pengetahuan sejati . Mereka juga ingin mencari bukti yang kuat bagi pengetahuan yang benar . Mereka pun berusaha menemukan pembenaran , atau pembuktian yang kokoh bagi pengetahuan manusia . Mereka pun menuntut kepastian akan kebenaran pengetahuan manusia dan karena itu menolak pengetahuan yang tidak didasarkan pada bukti yang meyakinkan . Hanya saja, berbeda dengan paham rasionalisme , empirisme adalah paham filosofis yang mengatakan bahwa sumber satu-satunya bagi pengetahuan manusia adalah pengalaman Yang paling pokok untuk bisa sampai pada pengetahuan yang benar , menurut kaum empiris , adalah data dan fakta yang ditangkap oleh pancaindera kita . Dengan kata lain, satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang diperoleh melalui pengalaman dan 9
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda pengamatan pancaindera tersebut yang memberi data dan fakta bagi pengetahuan kita Semua konsep dan ide yang kita anggap benar sesungguhnya bersumber dari pengalaman kita dengan objek yang kita tangkap melalui pancaindra . Atas dasar ini, bagi kaum empiris , semua pengetahuan manusia bersifat empiris Pengetahuan yang benar dan sejati , yaitu pengetahuan yang pasti benar adalah pengetahuan inderawi , pengetahuan empiris. Seperti halnya kaum rasionalis , John Locke ingin mencari hal yang asli atau kepastian mengenai pengetahuan manusia . Menurut Locke, semua konsep atau ide yang mengungkapkan pengetahuan manusia , sesungguhnya berasal dari pengalaman manusia Konsep atau ide-ide ini diperoleh dari pancaindra atau dari refleksi atas apa yang diberikan oleh pancaindera . Locke menolak pendapat kaum rasionalis bahwa manusia telah dilahirkan dengan ide-ide bawaan , dengan prinsip-prinsip pertama yang bersifat mutlak dan umum . Baginya , manusia dilahirkan ke dunia ini seperti sebuah kertas putih yang kosong , tanpa ada ide atau konsep apa pun , Jiwa manusia adalah seperti taluba rasa . Maka , kalau kita punya konsep atau ide tertentu tentang dunia ini, itu harus dianggap sebagai ide yang keliru . Locke ingin menjawab dua pertanyaan pokok . Pertama , dari mana kita memperoleh ideide kita tentang sesuatu . Kedua , apakah kita dapat mengandalkan apa yang ditangkap oleh pancaindera kita untuk bisa sampai pada pengetahuan . Dalam menjawab kedua pertanyaan ini, Locke beranggapan bahwa semua konsep , pemikiran , dan ide kita bersumber dari apa yang ditangkap melalui dan dengan pancaindera kita . Sebelum kita menangkap sesuatu dengan pancaindera kita, akal budi berada dalam keadaan kosong tanpa isi apa pun . Akal budi kita hanya bisa mengetahui sesuatu karena mendapat informasi yang diperoleh melalui pancaindera. Sebelum ada informasi dari pancaindra , akal budi kita mirip dengan kertas yang belum ditulis apa-apa . Locke membedakan antara dua macam ide; ide-ide sederhana dan ide-ide kompleks . Ideide sederhana adalah ide yang kita tangkap melalui penciuman , penglihatan , rabaan , dan semacamnya . Pada saat indera menangkap sesuatu objek secara langsung dan spontan , muncul ide-ide sederhana tentang obyek itu ; manis, kasar, hitam, besar , kecil, dan semacamnya. Tetapi, akal budi kita hanya hanya menerima secara pasif ide-ide itu dari luar . Ia kemudian mengolah lebih lanjut ide-ide itu, dengan memikirkan , meragukan , mempertanyakan , menggolongkan , dan mengolah apa yang diberikan pancaindera, dan seterusnya , dan dengan demikian lahirlah refleksi . Refleksi inilah yang memungkinkan adanya ide-ide yang lebih kompleks dari ide-ide sederhana tadi . Dengan ini Locke mau mengatakan bahwa yang kita tangkap secara langsung dari pancaindra hanyalah ide-ide sederhana . Baru setelah sekian kali menangkap obyek yang sama lalu merenungkan , membandingkan , atau merefleksikan , terbentuklah ide yang lebih kompleks tentang obyek itu . Ide-ide sederhana adalah ide yang muncul dan disebabkan oleh benda-benda yang kita tangkap dengan pancaindra . Dengan demikian ide-ide ini tidak bisa keliru . Sedangkan ide-ide kompleks adalah hasil dari refleksi , hasil 10
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dari olah pikir akal budi . Jadi , tidak diberikan langsung oleh obyek itu . Oleh karena itu ide-ide kompleks inilah yang bisa keliru . ( Sony Keraf , 2001 : 43 – 60 ) Immanuel Kant telah melakukan usaha untuk menjembatani pandangan-pandangan yang saling bertentangan , yaitu antara rasionalisme dan empirisme. Kekurangan-kekurangan yang ditunjukkan oleh masing-masing pandangan tersebut di atas hendak digantinya dengan pandangan yang memberi keleluasaan bagi adanya bahan-bahan yang bersifat pengalaman inderawi dan juga bagi adanya bahan-bahan yang bersifat pengalaman inderawi dan juga bagi adanya subyek yang mengetahui yang secara aktif mengelola bahan-bahan yang bersifat pengalaman inderawi tersebut . Sebagaimana telah disebutkan paham empirisme secara berat sebelah memberikan titik berat pada pengalaman inderawi yang bersifat langsung sedangkan paham rasionalisme memberikan peranan yang terlalu besar kepada pikiran manusia , artinya memberikan titik berat atau pengutamaan pada penglihatan yang bersifat akali dan penjabaran yang bersifat logik. Filsafat Immanuel Kant , yang disebut dengan aliran filsafat kritisme . Kritisme adalah sebuah teori pengetahuan yang berusaha untuk mempersatukan kedua macam unsur dalam filsafat rasionalisme dan empirisme dalam suatu hubungan yang seimbang , yang satu tidak terpisahkan dari yang lain . Menurut Kant pengetahuan merupakan hasil terakhir yang diperoleh dengan adanya kerja sama di antara dua komponen , yaitu di satu pihak berupa bahan-bahan yang bersifat pengalaman inderawi , dan di lain pihak cara mengelolah kesan-kesan yang bersangkutan sedemikian rupa sehingga terdapat suatu hubungan antara sebab dan akibatnya . Sesungguhnya relasi-relasi antara sebab dan akibat tidaklah terdapat di dalam dunia seperti yang terhampar di depan kita yang adanya tidak tergantung pada kita , melainkan merupakan bentuk –bentuk penafsiran manusia yang gunanya ialah agar gejala-gejala yang begitu beraneka ragam yang kita hadapi, dapatlah dijadikan sesuatu yang dapat kita pahami dan kalau dapat kita pergunakan untuk kepentingan kita . Kant yang mencoba untuk mempersatukan rasionalisme dan empirisme , mengatakan bahwa dengan hanya mementingkan salah satu dari kedua aspek sumber pengetahuan ( rasio dan empiris ) tidak akan diperoleh pengetahuan yang kebenarannya bersifat universal sekalgus dapat memberikan informasi baru . Pengetahuan yang rasional adalah pengetahuan yang analistis a priori di sini predikat sudah termuat dalam subyek Sedangkan pengetahuan yang empiris adalah pengetahuan yang sintesis a posteriori, di sini predikat dihubungan dengan subyek yang berdasarkan pengalaman inderawi Masing-masing mempunyai kekuatan dan kelemahan . Pengetahuan rasional ( analistis a priori ) adalah pengetahuan yang bersifat universal , tapi tidak memberikan informasi baru . Sebaliknya pengetahuan empiris ( sintesis a posteriori ) dapat memberikan informasi baru , tetapi kebenarannya tidak universal . Untuk menyelesaikan perbedaan pandangan antara rasionalisme dan empirisme ini . Kant mengemukakan bahwa pengetahuan itu seharusnya sintesis a priori . Yang dimaksud dengan pengetahuan yang sintesis a priori . Yang dimaksud dengan pengetahuan yang sistesis a priori ini ialah ; pengetahuan bersumber dari rasio dan empiris yang sekaligus bersifat a priori dan a posteori . Di sini akal budi dan pengalaman inderawi dibutuhkan 11
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda serentak . Selanjutnya Kant mengatakan bahwa pengetahuan selalu bersifat sintesis Pengetahuan inderawi misalnya merupakan sintesis hal-hal dari luar dan dari bentukbentuk ruang dan waktu di dalam saya . Sedangkan pengetahuan dari akal merupakan sintesis dari data inderawi dan sumbangan kategori-kategori . Dengan filsafat kritisnya Immanuel Kant telah menunjukkan jasanya yang besar , karena berdasarkan atas penglihatannya yang begitu jelas mengenai keadaan yang saling mempengaruhi di antara subyek pengetahuan dan obyek pengetahuan . Ia telah memberikan pembetulan terhadap sikap berat sebelah yang dikemukakan oleh penganut rasionalisme dan empirisme. Sehingga ia telah membuka jalan bagi perkembangan filsafat di kemudian hari . ( Mustansyir , 2001 : 81 – 84 ) Cara Kerja Ilmu Empiris dan Deduktif Ilmu empiris adalah ilmu yang bertitik tolak pada pengalaman inderawi. Pengalaman inderawi diartikan sebagai sentuhan , penglihatan , penciuman , dan pengecapan terhadap sesuatu yang diamatinya . Biologi , kedokteran , ilmu kimia , botani , dan geologi merupakan contoh ilmu empiris . Pengalaman inderawi seorang ilmuwan berkaitan dengan obyek penelitian yang sifatnya sangat kongkret dan faktual . Dalam pengamatan atau observasi terhadap obyek , seorang ilmuwan , dan atau mahasiswa dapat menggunakan sarana tertentu untuk pengamatannya . Sarana itu dapat berupa alat-alat seperti mikroskop , teleskop , thermometer , neraca , atau pun alat-alat pengukur lainnya.Tujuan pengamatan adalah untuk memperoleh atau menangkap semua gejala dari obyek penelitian serta untuk menjelaskannya dengan benar . Hasil pengamatan itu berupa data awal yang harus dicatat dengan cermat , yang kelak akan sangat berguna bagi analisis sebuah penelitian . Ilmu empiris memiliki obyek yang dapat dibedakan dari dua aspek , yaitu obyek materi yang berupa alam semesta dan obyek forma yang berupa sasaran khusus atau pokok perhatian seseorang terhadap sesuatu yang menjadi minatnya . Obyek forma dapat berupa minat yang sangat tinggi tentang kesehatan manusia , tentang pertumbuhan dan perkembangan tumbuh-tumbuhan dan /atau hewan, adat istiadat suatu bangsa /masyarakat tertentu . Dari hasil pengamatan terhadap obyek forma yang beraneka ragam itu muncul ilmu-ilmu tertentu yang bersifat empiris , misalnya ilmu kedokteran, biologi , ilmu teknik , botani , zoology , antropologi dan ilmu sosial . Pendekatan atau metode merupakan ciri mendapatkan data saat ilmuwan sedang melakukan pengamatan atau observasi . Tujuan pengamatan atau observasi adalah memperoleh data yang berasal dari obyek penelitian . Ketika observasi berlangsung , seorang ilmuwan harus memiliki ketajaman berpikir serta penalaran yang logis . Untuk itulah dalam pengamatan pun diperlukan suatu metode atau pendekatan teknik tertentu Ilmuwan ilmu empiris lazimnya menggunakan pendekatan atau metode induktif . Metode induktif adalah metode yang digunakan untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari penalaran yang bersifat khusus . Pada penalaran yang sifatnya khusus itu seorang pengamat akan mengamati beberapa hal atau sesuatu yang memiliki ciri-ciri khusus 12
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Selain itu , metode eksplanasi ( metode eklaren ) – yakni metode yang bersifat menerangkan hubungan antara gejala satu dan gejala lainnya juga dapat menjadi metode dasar ilmu empiris. Hubungan antargejala dapat diamati berdasarkan sebab-akibat ( kausalitas ) , fungsionalitas , atau pun sistemik ( Budianto, 2002 : 63 – 64 ) . Untuk memperoleh pemahaman cara kerja ilmu empiris (induksi) ada baiknya kita melihat pengamatan dan penemuan dalam bidang ilmu falak . Sejak masa purba di dunia Barat kebanyakan ahli ilmu falak mengembangkan ilmu ini sampai mencapai suatu bentuk klasik dalam sistem Ptolemaios (sekitar 130 M ) , ahli ukur yang ulung dan amat teliti . Pandangan yang dulu pernah dikemukakan Aristarkhos dari Samos ( sekitar 310 – 230sM ), bahwa bumi mengitari matahari , sudah dilupakan dan ditinggalkan dalam sistem ciptaan Ptolemaios , yang kalau dilihat dari sudut matematika , mendekati kesempurnaan . Cirinya geosentris , yaitu menganggap bumi sebagai pusat semesta , dan semua benda angkasa mengitarinya . Selama seribu tahun lebih , ahli ilmu falak Mesir ( Iskandaria ) itu tak tergoyahkan , meskipun melalui ahli-ahli dunia Islam – umpamanya al-Battani , 850 – 929 – karyanya diperkaya dengan hasil bumi falak India . Kendati dari sudut matematika hampir sempurna , dan mampu menerangkan serta meramalkan hampir semua gejala yang diamati , namun ada banyak unsur dalam sistem itu yang agak berbelit-belit dan dibuat-buat . Di samping dan “ di dalam “ langit dengan bintangbintang tetap yang berupa suatu bola raksasa dengan bumi sebagai pusatnya , yang ukurannya disamakan dengan satu titik saja jika dibandingkan bola angkasa mahabesar itu , ada sejumlah bola hablur yang lebih dekat dengan bumi . Masing-masing bola hablur itu merupakan tempat peredaran matahari , bulan (keduanya dengan peredaran tetap dan teratur ) dan planet-planet . Peredaran planet itulah yang menjadi tantangan utama bagi Ptolemaios , para ahli ilmu falak dan matematika , karena dalam pandangan geosentris , peredaran itu kurang teratur ; kadang-kadang maju, maju lebih cepat daripada benda angkasa lainnya , mengurangi kecepatan , berhenti , bahkan juga mundur . Pandangan geosentris berhasil ,menerangkan kejadian-kejadian itu secara matematis dengan mengandaikan adanya epicyli. Epicycli adalah lingkaran peredaran untuk setiap planet yang mengitari salah satu titik bola hablurnya masing-masing , yang secara teratur berpindah tempat menurut lingkaran , umpamanya matahari atau bulan , tetapi titik pusat peredaran epicyclus planetnya tidak dapat diamati , yang dapat diamati hanyalah planet yang tersangkut saja . Tingkah laku planet-planet sedemikian itu mengakibatkan dirasakan perlunya mengadakan perubahan dalam sistem Ptolemaios . Perubahan itu dirintis oleh Nicolaus Copernicus ( 1473 – 1543 Seakan-akan melakukan percobaan teoritis ia mengemukakan hipotesa bahwa matahari merupakan sustu sistem tersendiri dengan planet-planetnya dan bahwa salah satu planet itu adalah bumi, sedangkan bintang-bintang tetap mengikuti sistem yang lama. Keuntungannya ialah bahwa peredaran planet-planet lebih mudah diterangkan dan diperhitungkan menurut matematika. Sedang kesulitannya ialah bahwa dalam bidang ilmu falak tak mungkin diadakan percobaan . Sementara itu pengamatan tidak membenarkan bahwa peredaran planet-planet dan bumi itu terjadi dalam bentuk lingkaran seperti dikemukakan Copernicus . Ternyata di sini masih diperlukan hasil karya Tycho Brahe ( 1546 – 1601 ) dengan pengamatannya yang amat teliti , Johanes Kepler (1571 – 1630 ) yang mengubah hipotesa Copernicus mengenai peredaran dalam bentuk 13
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda lingkaran menjadi peredaran dalam bentuk elipsa., dan juga Galileo Galilei yang dengan penemuan teropong bintang (teleskop ) antara lain memungkinkan pengamatan terhadap bulan dan terutama planet-planet dengan bulannya masing-masing , yang belum pernah dilihat mata manusia . Harus diakui bahwa perlawanan paling lama yang membantah anggapan-anggapan Copernicus sampai dengan Galilei berasal dari sudut gereja, karena anggapan-anggapan itu diperkirakan melawan ajaran Kitab Suci dan ajaran iman mengenai manusia sebagai makhluk paling luhur yang bertempat tinggal di bumi Di samping itu paling luhur yang bertempat tinggal di bumi . Di samping itu memang tak satu pengamatan atau deretan pengamatan pun membuktikan kebenaran sistem yang direncanakan Copernicus , yaitu suatu sistem heliosentris. Tahap berikutnya dalam perkembangan ilmu falak berkaitan dengan nama Isaac Newton (1642 – 1727 ) yang menjadi ahli dalam ilmu alam . Anggapan-anggapannya tentang gravitasi – ukuran kecil maupun ukuran sebesar sistem matahari - mengakibatkan sistem Copernicus –Kepler – Galilei disempurnakan lagi dan ditempatkan dalam keseluruhan yang lebih luas . Perkembangan mutakhir terjadi sejak akhir abad lalu dan permulaan abad ini dengan perkembangan baru tentang ciri khas cahaya serta teori relativitas , sedang matematika modern maupun fisika mikro dan makro ikut berperan dalam kemajuan itu . ( Verhaak , 1989 : 29 – 32 ) Ilmu deduktif adalah ilmu pengetahuan yang membuktikan kebenaran ilmiahnya melalui penjabaran-penjabaran (deduksi ) . Berbeda dengan ilmu empiris yang mendasarkan pada pengalaman inderawi , penjabaran-penjabaran dalam ilmu deduktif dilakukan melalui penalaran berdasarkan hukum-hukum atau norma-norma yang bersifat logis . Dari norma-norma tersebut muncul suatu penalaran atas dasar perhitungan secara pasti Dengan demikian , dalam ilmu deduktif terdapat suatu penalaran bersifat khusus yang diperoleh dari kesimpulan bersifat umum . Ilmu-ilmu deduktif dikenal pula sebagai ilmu matematis , artinya suatu pengetahuan yang menjelaskan atau menjabarkan sesuatu atas dasar perhitungan yang pasti . Penalaran deduktif diperoleh dari penjabaran dalil-dalil , atau rumus-rumus , yang kebenarannya tidak dibuktikan melalui penyelidikan empiris melainkan melalui penjabaran dalil-dalil yang telah ada sebelumnya . Suatu dalil atau rumus matematika dibuktikan kebenarannya berdasarkan dalil-dalil yang telah ada atau dalil lain berdasarkan suatu hitungan , ukuran , dan timbangan , bukan atas dasar observasi . Dalam membuktikan kebenaran tersebut digunakan perangkat tertentu , seperti aritmatika , matematika, goniometri dan ilmu ukur. Asas matematika hanya mengenal two value logic “ logika dua nilai “ , yaitu benar atau tidak benar (salah ) , Obyek ilmu deduktif adalah angka atau bilangan yang jumlahnya satu atau lebih dari satu yang kemudian dikenal dengan himpunan.. Obyek tersebut merupakan lambang atau simbol yang digunakan sebagai relasi antar objek . Pemakaian simbol-simbol dalam ilmu deduktif dimaksudkan agar validitas atau keabsahan pembuktian penjabaran-penjabaran dalil atau aksioma atau pun rumus terbukti tidak salah dan benar .

14
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Pendekatan yang tepat untuk ilmu-ilmu deduktif adalah pendekatan yang bersifat pasti dan logis . Dalam ilmu-ilmu pasti Dalam ilmu-ilmu pasti , pendekatan yang digunakan adalah cara kerja deduktif yang menggunakan simbol-simbol dengan mendasarkan pada keruntutan penalaran yang pasti . Dalam matematika , penalaran diarahkan pada bagaimana sebuah rumus suatu perhitungan atau aritmatika ( dari rumus sederhana hingga rumus mutakhir ) dapat diterapkan secara deduktif ke dalam suatu problem . Pendekatan lain dalam cara kerja deduktif adalah asas logika . Logika diartikan sebagai teknik berpikir dan diciptakan untuk meneliti ketepatan penalaran . Untuk memahaminya orang harus memiliki pengertian yang jelas tentang penalaran . Penalaran adalah proses berpikir manusia yang runtut yang hasilnya adalah pemikiran . Dalam logika , deduksi diberi batasan sebagai penalaran dengan kesimpulan yang wilayahnya lebih sempit daripada wilayah premisnya . Beberapa asas dan hukum logika sederhana selalu berkisar tentang penyimpulan berdasarkan putusan yang bersyarat atau hipotesis ( Budianto, 2002 : 65 – 67 ) . Untuk memperoleh pemahaman mengenai ilmu deduktif ada baiknya mengetahui cara kerja ilmu pasti . Awal mula ilmu pasti berhubungan erat dengan kebutuhan praktis , dan pengamatan empiris . Dengan kebutuhan praktis dimaksudkan kebutuhan pengukuran , yang memang tidak dapat dipisahkan dari upaya manusia mengatasi kendala-kendala hidupnya . Umpamanya keperluan mengukur kembali dengan tepat tanah yang secara berkala digenangi air entah itu di Mesir , Mesopotamia , India , Cina ( pusat-pusat kebudayaan dan perkembangan ilmu kuno ) maupun dalam rangka pembangunan piramida di Mesir . Sedang dengan pengamatan empiris dimaksudkan , umpamanya dalam kaitan dengan ilmu falak , penanggalan , dan perhitungan tahun sehubungan dengan agama , dan juga dalam rangka upaya mengarungi samudra . Pada masa klasik sudah tersusunlah suatu sistem yang konsekuen , cukup sederhana , dan yang luasnya meliputi banyak bidang pengetahuan lainnya serta penerapan teknis Susunannya ketat , kepastiannya mutlak , cara kerjanya apriori deduktif . Dalam rangka sejarah penemuan dalil-dalil ilmu pasti , seakan-akan berdasarkan suatu ilham sang ilmuwan tahu bahwa kebenaran atau keberlakuan salah satu rumus atau gagasannya dapat dibuktikan Dia mencari-cari jalan untuk menurunkan rumus atau calon dalil itu dari suatu dalil yang telah berhasil dibuktikan berdasarkan satu atau beberapa aksioma induk , atau bahkan langsung dari aksioma induk itu . Kemudian rumus-rumus yang sudah berhasil dijadikan dalil diberi tempat dalam urutan sistematis-deduktif atau dalam contex of justification seluruh ilmu pasti bersangkutan . Namun bisa juga terjadi bahwa seorang ahli ilmu pasti yang sedang meninjau beberapa paham dasar , aksioma , dan patokanpatokan salah satu ilmu pasti dan juga sejumlah dalil yang sudah berhasil dibuktikan tibatiba melihat bahwa dalam sistem ilmu aksiomatis itu termuat salah satu dalil lagi yang langsung diturunkannya secara deduktif tanpa perlu ada gagasan atau ilham lebih dahulu bahwa suatu rumus atau calon dalil dapat dibuktikan menjadi dalil . Jadi, pentahapan dalam terbentuknya ilmu-ilmu pasti secara berturut-turut ditandai oleh adanya sejumlah paham dasar , aksioma , patokan kerja. Tahap kedua , dengan memakai ketiga unsur induk itu si ilmuwan secara deduktif menurunkan sejumlah dalil yang tak 15
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda terbatas banyaknya . Dengan begitu suatu sistem ilmu pasti dapat diteruskan secara tak terhingga . Kepastian deduksi berlaku mutlak . Ciri lain yang sudah pasti tetapi belum dijelaskan ialah bahwa berbeda dari ilmu –ilmu empiris yang bersifat kongkret , ilmu-ilmu pasti bersifat abstrak , justru karena tidak berdasarkan pengalaman empiris yang kongkret itu . Semenjak abad ke-19 ketenangan masa klasik mengalami goncangan dan perubahan besar . Berawal dari diketemukan dan dikembangkannya ilmu ukur yang menyimpang dari sistem Euklides , yaitu dengan tidak menerima dan mengubah salah satu aksioma sistim Euklides mengenai ada tidaknya titik potong antara dua garis yang sejajar serta antara dua garis yang tidak sejajar . Dengan demikian dipertanyakanlah anggapan Euklides , apakah benar bahwa jumlah ketiga sudut segitiga 180 derajat , atau justru kurang atau malah lebih daripada 180 derajat . Ternyata , sebagai hasil penyelidikan Girolami Saccheri ( 1887 – 1733 ) mengenai sistem Euklides , dan gagasan Karl Friederich Gauss ( 1777 – 1855 ) , berhasillah dibangun dua bentuk ilmu ukur lain selain ilmu ukur Euklides . Masing-masing oleh Nicolai Iwanowitsj ( 1793 – 1856 ), dan Bernhard Riemann ( 1826 – 1866 ) . Bentuk pertama berdasarkan aksioma bahwa jumlah ketiga sudut tiga adalah kurang dari 180 derajat . Sedang bentuk kedua berdasarkan aksioma bahwa lebih dari 180 derajat . Ternyata keduanya berhasil mengembangkan suatu ilmu ukur tanpa kontradiksi intern . Dengan begitu , berhasillah dikembangkan dua bentuk ilmu ukur yang berlainan dengan ilmu ukur ciptaan Euklides . Selain itu , dua bentuk ilmu ukur tersebut dapat dilihat juga sebagai dua cara yang tidak menerima pengandaian ilmu ukur Euklides bahwa ruang bermatra tiga sedemikian rupa sehingga ketiga matra itu tegak lurus satu sama lain . Pengandaian itu digantikan dengan pengandaian mengenai ruang yang bersifat lengkung . Yang menarik di kemudian hari ialah bahwa beberapa gejala ilmu falak dapat diterangkan berdasarkan ilmu-ilmu ukur yang menyimpang dari pengandaian dan aksioma Euklides itu . Hal serupa terjadi dalam perkembangan logika hingga permulaan abad ke-20 ini. Dalam karya George Boole (1815 – 1864 ) , Agustus de Morgan ( 1806 – 1870 ) , Gottloh Frege ( 1846 – 1925 ) , dan akhirnya dalam karya besar Principia Mathematica karangan Betrand Russel ( 1872 – 1970) dan Alfred North Whitehead (1861 – 1947 ) , telah dikembangkan sistem-sistem logika apriori secara murni . Lagi pula terbukalah pintu untuk logika trinilai sampai n-nilai yang menyimpang dari logika dwinilai tradisional. Dalam perkembangan mutakhir matematika dan logika itu , makin menyoloklah perkembangan aksiomatisasi dan formalisasi . Aksiomatisasi dimaksudkan sebagai perumusan –permusan aksioma-aksioma lepas dari data-data empiris . Sejak masa kuno, aksiomatisasi itu lebih berhasil dan lebih tampak dalam matematika ciptaan Euklides daripada dalam logika ciptaan Aristoteles . Dengan istilah formalisasi dimaksudkan bahwa dalam perkembangan sistem aksiomatis bersangkutan bahwa dalam perkembangan sistem aksiomatis bersangkutan tidak lagi bisa dipakai bahasa sehari-hari, melainkan hanya tanda-tanda operator saja , yang dalam rangka logika diberi nama konstan logis . Bahkan arti yang kiranya dapat diberikan pada aksioma-aksioma maupun operator dan konstan logis itu tidak diperdulikan para ahli matematika dan logika itu . 16
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Ketika ciri khas aksiomatisasi dan formalisasi itu makin disadari dan diterapkan oleh para matematikus dan logika , maka makin terbukalah pintu untuk menggulingkan matematika Euklides dan logika Aristoteles sebagai matematika dan logika yang bersifat tunggal. Makin disadari bahwa keduanya hanyalah salah satu saja dari antar sekian banyak sistem matematika dan logika yang pada dasarnya tak terbatas jumlahnya . Jadi, kenisbian matematika dan logika klasik semakin diakui .( Verhaak 1989 ; 82 – 89 ) Paradigma Ilmu Pengetahuan Paradigma ilmu haruslah dilihat sebagai sebuah model penyelidikan ilmiah yang digunakan sebagai pola dasar untuk berpikir , merencanakan usulan penelitian , atau berbagai kasus penelitian seperti studi kasus pada ilmu-ilmu empiris , ilmu filsafat , dan ilmu pengetahuan alam . Tujuan paradigma ilmu adalah menemukan kebenaran Kebenaran ilmu pengetahuan pada hakekatnya tidak memiliki kemutlakan , tidak absolut. Setiap kebenaran yang dimunculkan oleh paradigma tertentu terbuka untuk difalsifikasi atau dikaji apabila kebenaran itu mulai digoyahkan oleh pendapat-pendapat baru . Paradigma dianggap sebagai model atau pola berpikir bagi seorang ilmuwan memiliki kriteria dasar , seperti nilai kualitas , nilai kuantitas , dan nilai kebenaran . Nilai-nilai yang dimiliki paradigma akan membentuk sebuah model paradigma Ada enam paradigma dalam ilmu pengetahuan . Yang pertama adalah paradigma kuantitatif , sebuah model penyelidikan ilmiah yang bertitik tolak pada perhitungan matematis . Obyek penelitian yang menampilkan berbagai gejala atau fenomena empiris harus dilihat sebagai elemen yang dapat dihitung dengan perhitungan (besaran) tertentu dan untuk itu digunakan alat bantu perhitungan matematis . Gejala-gejala medis pada si pasien seperti suhu tubuh dapat diukur dengan alat pengukur . Gejala gempa bumi dapat diukur besar tekanannya dengan skala Richter . Paradigma kualitatif adalah model penyelidikan ilmiah yang melihat kualitas-kualitas obyek penelitiannya seperti perasaan (emosi ) manusia , pengalaman menghayati hal-hal religius (sakral ) , keindahan suatu karya seni , peristiwa sejarah , dan simbol-simbol ritual atau artefak tertentu . Kualitas-kualitas itu haruslah dinilai atau diukur berdasarkan pendekatan tertentu ( misalnya menggunakan metode semiotik , metode hermeneutik teori sistem ) yang sesuai dengan objek kajiannya . Paradigma kualitatif menghindari perhitungan matematis , karena yang dicari adalah nilai yang muncul dari obyek kajian yang bersifat khusus , bahkan sangat spesifik , unik , dan selalu mengandung meaning full action . Paradigma induktif-deduksi adalah model penyelidikan ilmiah yang digunakan sebagai pola berpikir tentang ilmuwan untuk memiliki penalaran yang induktif ( mengambil kesimpulan dari hal-hal yang khusus untuk sampai pada hal yang umum ) dan deduktif ( mengambil kesimpulan dari penalaran yang bersifat umum untuk sampai pada hal-hal yang khusus ). Paradigma induktif-deduktif dapat digunakan seseorang secara bersamaan, artinya ia dapat berpikir induktif dahulu untuk kemudian berpikir secara 17
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda deduktif , tetapi seseorang dalam proses kerja ilmiah dapat pula menggunakan penalaran induktif dan deduktif saja. Tujuan paradigma induktif-deduktif lebih bersifat aplikatif dalam penalaran dan di digunakan dalam suatu penelitian ilmiah agar seseorang dapat memiliki penalaran yang logis dan konsep berpikir yang runtut . Paradigma piramida adalah model penyelidikan ilmiah dengan menggunakan konsep yang bertujuan mengkonstruksi tahapan-tahapan kegiatan ilmiah secara berlapis-lapis seperti bentuk piramida. Bagian bawah piramida merupakan bagian yang paling dasar dan paling luas ., sedangkan makin ke atas luas lapisan piramida makin berkurang Lapisan teratas merupakan kerucut piramida. Lapisan-lapisan itu dimaksudkan sebagai gambaran proses penelitian yang mengacu tahapan-tahapan observasi , data , hipotesis , pengujjian hipotesis , dan hasil penelitian yang berupa teori baru . Pola pikir seorang ilmuwan dibentuk seperti model piramida berlapis: semakin ke atas tujuan penelitian makin tercapai , dan pada puncak kerucut merupakan gambaran diketemukannya sebuah teori baru . Bentuk atau model piramida lain adalah piramida ganda. Piramida ganda atau bahkan menjadi piramida –piramida lain akan muncul apabila seorang mampu membuat piramida lain atas dasar landasan piramida yang telah ada . Piramida terbalik adalah suatu kerangka berpikir atau model piramida yang berlandaskan sebuah teori . Kegiatan penelitian yang menggunakan model piramida terbalik memulai proses kerjanya dari sebuah teori ( teori yang telah dianggap baku ) . Melalui teori , seorang peneliti akan memulai kegiatannya dengan observasi terhadap teori tersebut Observasi menentukan langkah berikutnya , yaitu tahap-tahap penelitian atau lapisan piramida seperti data, permasalahan ( hipotesis ) , pembuktian-pengujian hipotesis , dan hasil penelitian yang berupa teori baru . Paradigma siklus empiris sangat diakrabi ilmu-ilmu empiris . Paradigma tersebut membutuhkan langkah awal , yaitu observasi yang bersifat induktif . Beberapa tokoh seperti de Groot dan Walter Wallace menampilkan siklus empiris yang beranjak pada pengamatan faktual . Pada umumnya , paradigma siklus empiris memiliki komponenkomponen yang saling berkaitan dan hubungan-hubungan yang sedemikian rupa tersebut dapat dievaluasi secara siklus ( periodik , berkala ) . Tahapan-tahapan dalam siklus empiris akan membentuk pola berpikir lagi subjek ( ilmuwan ) dalam melakukan paradigma siklus empiris secara rinci dengan memperhatikan unsur metodologis Paradigma siklus empiris adalah model penyelidikan ilmiah yang sifatnya berkala, memiliki beberapa elemen yang terdiri dari komponen informasi ( data , konsep , kategori ) dan komponen kontrol metodologis ( evaluasi , pengujian , teori ) . Setiap komponen dapat terdiri dari beberapa komponen dan disusun sedemikian rupa sehingga membentuk hubungan yang nantinya digunakan dalam proses kegiatan ilmiah . Kemampuan seseorang dalam mengelolah data dan pengujian hipotesis sangat menentukan hasil penelitiannya . Paradigma rekontruksi teori adalah model penyelidikan ilmiah yang berusaha membangun (rekontruksi) beberapa teori atau metode yang digunakan dalam sebuah penelitian . Tujuan digunakannya paradigma rekontruksi teori adalah untuk menunjang proses penelitian agar berjalan lebih sempurna sehingga kebenaran ilmiahnya pun dapat 18
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda berjalan lebih sempurna sehingga kebenaran ilmiahnya pun dapat terjaga sesuai dengan proses metodologis yang berlaku. Untuk itu , apabila seseorang ingin menggunakan paradigma rekontruksi teori harus memahami dengan benar teori-teori yang akan digunakannya dan memastikan dengan benar bahwa teori-teori itu saling menunjang dan berguna ( dapat diterapkan ) dalam penelitiannya . Berbagai pertimbangan yang sifatnya rasional, misalnya penguasaan teori dan kemampuan menerjemahkannya secara aplikatif, harus menjadi pertimbangan utama apabila seorang akan menggunakan paradigma rekontruksi teori . Semua paradigma yang ada dapat digunakan oleh seorang ilmuwan dalam penelitiannya Sebagai konsep berpikir model penyelidikan ilmiah sangatlah abstrak . Paradigma digunakan untuk menuntun pola pikir seseorang kearah norma metodologis sehingga secara de jure dapat dipertahankan secara benar dan sahih . Paradigma ilmu dapat diperkaya apabila ilmuwan mampu merekontruksi berbagai teori yang telah ada Rekontrukasi tersebut harus disertai dengan sebuah catatan bahwa berbagai teori yang akan direkontruksi harus saling menunjang dan sesuai dengan tujuan penelitian Kemampuan ilmuwan mengabstraksi sangat diperlukan agar rekontruksi terhadap sebuah paradigma menjadi lebih sahih dan menunjang kebenaran ilmiah ( Budianto , 2002 : 80 – 84 ) Dinamika Revolusi Industri Revolusi Industri abad ke -18 adalah periode penciptaan mesin yang digunakan untuk industri . Pada dasarnya industri adalah pengelolahan bahan mentah yang dikerjakan dalam pabrik –pabrik dimulai dengan pabrik tekstil . Peranan pertanian dan sumber bahan mentah mulai berkurang , karena perhatian utama sekarang ialah bukan nilai bahan mentah itu sendiri, melainkan tenaga yang dibutuhkan dalam proses pengelolahan Dalam periode ini terjadilah perkembangan industri baja karena ada kebutuhan akan mesin-mesin yang lebih baik diikuti oleh perkembangan industri mesin itu sendiri, antara lain mesin uap yang digunakan untuk alat transportasi . Kalau kita melihat kehidupan manusia dan dunia , menurut konsep pemikiran eksistensialisme, manusia adalah in-der-Welt-Sein . Istilah ini menunjukkan adanya hubungan manusia dengan dunianya .Manusia mempunyai potensi dan kebutuhankebutuhan , dan dunia mempunyai materi, mempunyai sumber daya yang bisa memenuhi kebutuhan manusia itu. Dengan demikian terjadilah hubungan antara manusia dengan dunianya . Hubungan ini , katakan saja hubungan dialogis , terjadi lewat kerja manusia Hubungan antara manusia dengan dunia ini direalisir dengan kerja . Cara kerja ini pada awal abad ke-19 atau pada akhir abad ke-18 mulai dilengkapi dengan alat-alat teknologis. Maka kerja yang semula itu dilakukan secara primitif sekarang dengan alat-alat baru ini , kerja itu bisa mengakibatkan hasil yang lebih besar . Jadi unsur pertama adalah penemuan alat-alat teknologis yang dimanfaatkan dalam kehidupan , dan dalam cara kerja manusia .

19
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Sekarang kita menuju unsur yang kedua . Dengan dimanfaatkannya alat-alat teknologi di dalam cara kerja manusia , maka berubahlah hubungan-hubungan ekonomi di dalam masyarakat . Hubungan-hubungan ekonomi inilah yang akhirnya nanti mampu mengubah struktur ekonomi masyarakat . Pada abad ke-18 struktur ekonomi di dalam masyarakat disusun sesuai dengan kelas-kelas sosial , yang terdiri dari kaum bangsawan , kaum rochaniawan dan rakyat jelata . Bagaimana hubungan ekonomi di dalam masyarakat yang belum mempergunakan alat-alat teknologi maju ini ? Para bangsawan dan rochaniawan mempunyai banyak tanah ; mereka adalah penguasa tanah . Karena mereka sendiri tidak bisa mengerjakan tanahnya , mereka menggantungkan kerja kepada rakyat . Maka rakyat mengerjakan tanah milik bangsawan dan rochaniawan , tetapi sejumlah hasil panennya, misalnya 50 % atau 60 % , atu bahkan sampai 90 % harus diserahkan kepada pemilik tanah Dengan demikian,hubungan ekonomi dalam masyarakat yang masih feudal ini yaitu rakyat yang tidak memiliki tanah bekerja pada bangsawan yang memiliki tanah . Tetapi dengan timbulnya alat-alat teknologi ini, berubahlah hubungan ekonomi . Sebab mulai timbul suatu kelompok baru , yaitu kelompok pedagang. Seperti telah kita katakan , sejak abad ke-16 terjadilah penemuan-penemuan baru seperti misalnya penemuan kompas , alat cetak-mencetak , dan alat peledak Penemuan-penemuan ini juga mendorong orang untuk berani belayar jauh dari negaranya dan dalam pelayaran ini mereka bisa berkomunikasi dengan dunia lain , seperti misalnya penemuan Amerika oleh Columbus . Berkomunikasi dengan bangsa lain berarti bisa menjalin suatu hubungan ekonomi dan perdagangan dengan mereka . Dengan adanya hubungan perdagangan dengan bangsa-bangsa di luar Eropa ini , mulai timbul suatu kelas baru , kelas ekonomi pedagang . Kelompok dagang merupakan unsur kalau dibandingkan dengan sistem feudal sebelumnya . Menjadi jelas bahwa pemanfaatan alat teknologi mengubah hubungan ekonomi . Kelompok pedagang ini akan hidup berdasarkan prinsipprinsip ekonominuya . Kelompok pedagang inilah yang sebetulnya mempunyai peranan di dalam hidup kehidupan ekonomi masyarakat yang dahulu di pegang oleh bangsawan . Unsur ketiga dari revolusi industri adalah perubahan sosial. Perubahan-perubahan sosial ini terjadi karena kekuasan ekonomi sekarang beralih atau mulai berangsur kepada kelompok-kelompok pedagang yang mempunyai pengaruh dan kedudukan sosial penting Dengan demikian hubungan sosial pun berubah . Feodalisme mulai berubah dengan struktur merkantilisme . Perdagangan itu berkembang , tetapi memang masih dalam merkantilisme , yaitu bahwa masing-masing negara berusaha untuk melindungi pedagangnya . Dengan demikian timbulah suatu sistem baru, sistem kapitalisme di dalam bentuk yang pertama.. Faktor keempat dalam revolusi industri adalah perubahan kesadaran dan cara hidup Perubahan baik di dalam kehidupan ekonomi maupun kehidupan sosialnya mempengaruhi perubahan pemikiran . Kesadaran-kesadaran baru ini terungkap di dalam filsafat , sastra , dan lain-lainnya . Dengan perubahan unsur-unsur masyarakat ini atau kalau kita pakai istilah lain, dengan perubahan unsur-unsur infrastuktural ini, berubahlah juga cara berpikir orang . Dengan demikian dalam uraian ini pemikiran itu ditetapkan oleh adanya atau berubahnya infrastuktur . Tapi ini tidak berarti bahwa dengan demikian tidak mungkin terjadi sebaliknya . 20
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Inilah empat unsur yang memberikan orientasi dan perubahan di dalam masyarakat . Dengan dipergunakannya alat-alat produksi baru , berubahlah hubungan-hubungan sosial ekonomi dan kehidupan mentalnya termasuk orientasi moral. Jadi reorientasi moral ini juga dipengaruhi oleh perubahan infrastuktur . Ini merupakan latar belakang dari timbulnya kapitalisme di satu pihak , dan kemudian sosialisme sebagai reaksi terhadap kapitalisme ini. Jadi kalau kita bicara mengenai liberalisme dan kapitalisme kemudian sosialisme dan komunisme , sebetulnya semua didahului oleh revolusi industri , yang melatarbelakangi terjadinya kedua ideologi besar ini. Liberalisme-kapitalisme bisa timbul di dalam masyarakat Eropa . Oleh karena struktur masyarakat pada akhir abad ke -18 itu sudah berubah , baik dalam kehidupan sosial-budaya , maupun dalam kehidupan ekonomi. ( Poespowardoyo , 1986 : 20 – 24 ) Revolusi Industri yang memakan waktu beberapa abad itu telah mendatangkan kemajuan, tetapi juga membawa serta berbagai kekalutan dalam kehidupan masyarakat. Penciptaan mesin sering mendorong perkembangan industri yang pesat dan membuka kemungkinan timbulnya usaha pabrik secara besar-besaran . Dalam kehidupan ekonomi , perusahaan besar berarti mendatangkan keuntungan besar . Keinginan mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya inilah yang mendorong para pengusaha mengumpulkan modal sebesarbesarnya . Dengan demikian dilakukan usaha-usaha memperluas dan menguasai wilayah pasaran baru . Di mana kapitalisme hidup tanpa kendali , di situ terjadi persaingan keras, pertentangan para industrialis untuk menguasai dan bahkan memonopoli pasaran dunia. Ini berarti pergeseran mendasar dalam motivasi usaha , motivasi kerja berubah menjadi motivasi perjuangan untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya . Dengan demikian, tenaga kerja dihargai bukan berdasarkan maratbat kemanusiannya , melainkan atas nilai tukar yang diperoleh dari padanya . tenaga buruh dilihat semata-mata sebagai barang dagangan yang diukur oleh hukum permintaan dan penawaran . Akibatnya tentu meluasnya pengangguran di kalangan masyarakat , karena buruh tidak mampu menyaingi kekuatan mesin yang berjalan secara otomatis dan berproduksi secara massal. Pamanfatan mesin dalam kehidupan ekonomi memang mendapatkan keuntungan yang luar biasa bagi para industrialis , tetapi sebaliknya mendatangkan malapetaka di kalangan rakyat banyak dengan kemiskinan dan kesengsaraan .(Poespowardoyo, 1993 : 159 – 160 ) Tujuan-tujuan Ilmu Pengetahuan Ilmu Pengetahuan bukan saja sekedar sarana untuk mencapai perkembangan manusia yang lebih utuh . Ilmu pengetahuan merupakan juga sebagian dari perkembangan manusia itu . Ilmu pengetahuan bukan saja sarana tapi juga tujuan . Ilmu pengetahuan bukan saja sarana agar manusia dapat mengembangkan dirinya . Ilmu pengetahuan juga merupakan juga hasil perkembangan manusia. . Dalam pada itu pentingnya dan jangkauan kesimpulan itu tidak tergantung dari situasi ideal dari mana kesimpulan kita diturunkan . Kita hanya menampilkan kesimpulan ini untuk menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan tidak kehilangan nilainya, bila fungsinya sebagai sarana sudah selesai Sekalipun situasi ideal serupa itu tidak pernah akan dicapai , namun dari argumentasi kita di atas harus disimpulkan bahwa fungsi aktual ilmu pengetahuan tidak boleh disamakan dengan fungsinya sebagai sarana. Sekarang ini juga fungsinya sebagai tujuan harus dapat 21
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dilihat, setidak-tidaknya sedikit . Sebab, kegiatan ilmiah merupakan suatu unsur penting dari perkembangan manusia seutuhnya dan karena itu harus sudah dihayati sekarang juga, walaupun fungsinya sebagai sarana yang paling menyolok . Maka itu makna ilmu pengetahuan tidak pernah disamakan dengan kegunaannya bagi praksis , betapapun pentingnya kegunaan itu . Kesimpulan terakhir ini tidak mempunyai arti teoritis saja. Kesimpulan ini sangat penting untuk menentukan prioritas-prioritas sekarang dengan cara praktis dan efektif . Untuk itu dapat diajukan dua argumen . Argumen pertama ialah bahwa manusia tidak pernah dapat dianggap sebagai sarana untuk suatu tujuan . Bagi kita berarti bahwa manusia sekarang ini tidak dapat dianggap sebagai sarana untuk manusia di masa mendatang , bilamana barangkali akan dicapai suatu perkmbangan diri yang lebih sempurna . Setiap manusia dan setiap generasi adalah lebih daripada sekedar mata rantai dalam evolusi historis . Sejauh bisa, setiap generasi harus berusaha mengembangkan diri sebaik mungkin , demi masa depan . Dan dengan itu kita sampai pada argumen kedua yang memperkuat argumet pertama. Menjadi tugas generasi sekarang ini bukan saja memajukan ilmu pengetahuan , tapi juga memajukannya dengan visi yang tepat . Supaya manusia jangan menjadi budak teknologi dan budak tata susunan teknologis yang diciptakannya , perlulah bahwa dalam tata susunan ini menjadi jelas tujuannya . Artinya itu sudah harus kelihatan dalam cara kita sekarang ini hidup dengan teknologi . Tata susunan ilmiah-eknologis pertama-tama tertuju pada pertolongan satu sama lain di antara manusia . Maka itu sangat mendesak agar kemungkinan-kemungkinan yang disajikan tata susunan ilmiah-teknologis itu dimanfaatkan sepenuhnya untuk membantu manusia yang membutuhkan . Tetapi itu tidak cukup. Dalam seluruh pelayanan ini, yaitu memungkinkan manusia untuk berkembang seutuhnya . Karena itu setiap bantuan pada taraf nasional atau internasional yang membiarkan manusia tetap tak berdaya dalam ketergantungannya , melewati tujuan terdalam bantuan , yaitu menciptakan peluang bagi orang lain untuk berkembang seutuhnya . Dalam hal yang terakhir ini meliputi juga kemungkinan untuk membantu dirinya sendiri dan memungkinkan orang lain lagi untuk berkembang seutuhnya . Tetapi kalau tujuannya adalah berkembang seutuhnya dan kalau kegiatan ilmiah merupakan salah satu pengungkapannya yang istimewa , maka aspek ilmu pengetahuan ini selalu harus kelihatan dalam segala kegiatan ilmiah . Gagasan menjalani ilmu pengetahuan demi ilmu pengetahuan itu sendiri merupakan gagasan yang terbatas pada orang Yunani kuno yang mulai dengan ilmu pengetahuan . Visi orang Yunani itu pada dasarnya benar dan hanya terikat dengan waktu , sejauh tidak semua implikasi disadari Hal yang terakhir ini tentu berlaku juga bagi visi-visi kita sekarang . Kita harapkan saja.semoga ide-ide dasar kita pun mempunyai juga aktualitas tak terikat dengan waktu seperti pada mereka, sehingga menjadi subur bagi perkembangan kita sendiri dan juga bagi masa depan . Menurut kodratnya sendiri teknologi bertujuan membebaskan manusia dari urusan-urusan materialnya dan dalam hal ini ia memang semakin berhasil . Bukan saja karena dengan menerapkan metode-metode teknologis produksi dapat ditingkatkan terus, tapi juga 22
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda karena berkat perkembangan teknologi semakin banyak fungsi yang dulu dijalankan oleh manusia kini diambil alih oleh mesin . Karena itu andil manusia dalam proses produksi semakin bergeser kearah fungsi-fungsi yang khas manusiawi , yaitu kreativitas dan penguasaan . Fungsi-fungsi khas manusiawi itu sekarang mendapat peluang sepenuhnya Karena teknologi telah membebaskan manusia dari pekerjaan rutin , manusia sendiri semakin bebas untuk pekerjaan kreatif yang memungkinkan dia mengembangkan dirinya dengan lebih baik . Dan hal itu berlaku baik bagi andilnya dalam proses produksi maupun bagi andil kehidupannya yang disita oleh proses produksi Tidak dapat disangkal , manusia selama ini kurang belajar bagaimana hidup dengan teknologi . Karena itu penampilannya lebih sebagai hamba teknologi daripada sebagai tuannya . Untuk sebagian hal itu disebabkan karena keadaan teknologi masih kurang sempurna, sehingga manusia belum sempat mengenal hakekat sebenarnya teknologi itu. Untuk sebagian lain hal itu disebabkan juga , karena teknologi – kendatipun keadaannya masih serba tidak sempurna - menimbulkan bentuk-bentuk praktis lain yang mengharuskan kita belajar hidup dalam hubungan-hubungan sosial yang baru . Untuk sebagian lagi hal itu disebabkan juga karena keterbelakangan refleksi filosofis dan etis atas bentuk-bentuk baru di bidang ilmu pengetahuan dan praksis beserta segala implikasinya . Tapi apa pun yang menjadi sebabnya , teknologi baru sedikit sekali menjalankan pengaruh yang membebaskan . Dan hal itu antara lain menjadi alasan, mengapa tedensi instrinsik teknologi tersebut tidak diadakan juga . Apalagi , bahwa manusia tidak dapat hidup dengan teknologi , tidak merupakan suatu gejala yang terisolir Hal itu merupakan salah satu cara bagaimana kurangnya kedewasaan sampai sekarang ini Barangkali salah satu ciri yang paling menyolok adalah cara cukup naïf konsumsi mulai nampak sebagai semacam tujuan , pada konsumen maupun produsen . Memproduksi dengan cara besar-besaran dan efisisen memang termasuk hakekat produksi teknologis , tapi jelas merupakan sekedar sarana dan bukan tujuan terakhir . Dalam pada itu , situasi tata susunan teknologis masih kacau , sejauh beberapa tempat mengalami kelimpahan teknologis yang cukup besar , sedang di begitu banyak tempat lain orang hidup dalam kemiskinan dan karena itu produksi pada taraf dunia sekali-kali belum cukup ,baik di bidang pertanian maupun di bidang perindustrian . Karena itu juga hidup dengan teknologi untuk sementara masih merupakan sesuatu hal yang ambigu . Untuk satu orang yang penting ialah belajar hidup dengan kelimpahan : bagi dia aksesis kemiskinan yang klasik tidak berlaku lagi. Untuk orang lain teknologi adalah sarana untuk menanggulangi kemiskinan . Bagi dia pun aksesis kemiskinan sudah tidak mempunyai nilai lagi , sedang – sayangnya – aksesis kekayaan bagi dia belum aktual . Walaupun situasi teknologis masih kacau , namun perlu kita berusaha menentukan sebaik mungkin etos instrinsik teknologi . Dalam hal ini dapat dikatakan sebagai berikut . Bila praksis teknologis yang dituntun ilmu pengetahuan tampak pertama-tama sebagai sarana untuk membebaskan manusia dari keterikatannya dengan dunia material , maka tidak mungkin pembebasan inilah yang paling penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan praksis . Kedewasaan teknologis-ilmiah itu diminta suatu kedewasaan lain lagi , yaitu keadaan di mana manusia sendiri sungguh-sungguh dewasa . Apalagi , hanya dalam keadaan itu ia sanggup untuk menguasai teknologi dan menggunakannya pertama-tama 23
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda untuk membantu mereka yang masih membutuhkan pertolongan . Tapi sesudah itu manusia akan memakai teknologi dalam suatu perspektif jauh lebih luas yang dibuka oleh perkembangan kemungkinan-kemungkinan manusiawi , yaitu manusia akan mengejar suatu kedewasaan dalam arti yang sebenarnya , suatu keadaan di mana ia telah menjadi manusia seutuhnya . Dan praksis yang diilhami oleh cinta yang ikhlas kepada sesama, akan berusaha membantu satu sama lain dalam hal itu . Jadi , bila kita secara konsekuen berpikir tentang tujuan-tujuan praksis , kita sampai pada satu gambaran ideal tentang manusia . ( Van Melsen , 1985 : 110 – 115 ) Ilmu Pengetahuan dan Moral Merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban manusia sangat berhutang budi kepada ilmu pengetahuan dan teknologi . Berkat kemajuan dalam bidang ini maka pemenuhan kebutuhan manusia bisa dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah di samping penciptaan berbagai kemudahan dalam bidang-bidang seperti kesehatan, pengangkutan , pemukiman , pendidikan dan komunikasi . Namun dalam kenyataannya apakah ilmu selalu merupakan berkah , terbebas dari kutuk , yang membawa malapetaka dan kesengsaraan ? Sejak dalam tahap-tahap pertama pertumbuhannya ilmu sudah dikaitkan dengan tujuan perang . Ilmu bukan saja digunakan untuk menguasai alam melainkan juga untuk memerangi sesama manusia dan menguasai mereka. Bukan saja bermacam-macam senjata pembunuh berhasil dikembangkan namun juga berbagai teknik penyiksaan dan memperbudak massa. Di pihak lain, perkembangan ilmu sering melupakan faktor manusia , di mana bukan lagi teknologi yang berkembang seiring dengan perkembangan dan kebutuhan manusia , namun justru sebaliknya : manusialah akhirnya yang harus menyesuaikan diri dengan teknologi . . Teknologi tidak lagi berfungsi sebagai sarana yang memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia melainkan dia berada untuk tujuan eksistensinya sendiri . Sesuatu yang kadang-kadang harus dibayar mahal oleh manusia yang kehilangan sebagian arti dari kemanusiannya . Manusia sering dihadapkan dengan situasi yang tidak bersifat manusia, terpenjara dalam kisi-kisi teknologi, yang merampas kemanusian dan kebahagiannya . Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri . Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehuminisasi namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusian itu sendiri , atau dengan perkataan lain , ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun bahkan kemungkinan mengurangi hakikat kemanusian itu sendiri , atau dengan perkataan lain , ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia untuk mencapai tujuan hidupnya , namun juga meciptakan tujuan hidup itu sendiri . Menghadapi kenyataan seperti ini . ilmu yang pada hakekatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya : Untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan ? Di mana batas wewenang penjelajahan 24
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda keilmuan ? Kearah mana perkembangan keilmuan harus diarahkan ? Pertanyaan semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuwan seperti Copernicus , Galileo dan ilmuwan seangkatannya ; namun bagi ilmuwan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dan hidup dalam bayangan kekwatiran perang dunia ketiga , pertanyaan-pertanyaan ini tak dapat dielakkan . Dan untuk menjawab pertanyaan ini maka ilmuwan berpaling kepada hakikat moral . Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda . Ketika Copernicus (1473 – 1543 ) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “ bumi yang berputar mengelilingi matahari :, dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama , maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral ( yang bersumber pada ajaran agama ) yang berkonotasi metafisik . Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya , sedangkan di pihak lain , terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan di antaranya agama. . Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633 . Galileo ( 1564 – 1642 ) oleh pengadilan agama tersebut , dipaksa untuk mencabut pernyataannya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari . Pengadilan inkuisisi Galileo ini selama kurang lebih dua setengah abad mempengaruhi proses perkembangan berpikir di Eropa , yang pada dasarnya mencerminkan pertarungan antara ilmu yang ingin terbebas dari nilai-nilai di luar bidang keilmuan dan ajaran-ajaran di luat bidang keilmuan yang ingin menjadikan nilai-nilainya sebagai penafsiran metafisik keilmuan . Dalam kurun ini para ilmuwan berjuang untuk menegakkan ilmu yang berdasarkan penafsiran alam sebagaimana adanya dengan semboyan : Ilmu yang Bebas Nila Setelah pertarungan kurang lebih dua ratus lima puluh tahun maka memperoleh otonomi dalam melakukan penelitian dalam rangka mempelajari alam sebagaimana adanya . Mendapatkan otonomi yang terbebas dari segenap nilai yang bersifat dogmatik ini maka dengan leluasa ilmu dapat mengembangkan dirinya. Pengembangan konsepsional yang bersifat kontemplarif kemudian disusul dengan penerapan konsep-konsep ilmiah kepada masalah-masalah praktis. Konsep ilmiah yang bersifat abstrak menjelma dalam bentuk kongkret yang berupa teknologi . Teknologi di sini diartikan sebagai penerapan konsep inilah dalam memecahkan masalah–masalah praktis baik yang berupa perangkat keras maupun perangkat lunak . Dalam tahap ini ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman, namun lebih jauh lagi, bertujuan memanipulasi faktor-faktor yang terkait dalam gejala tersebut untuk mengontrol dan mengarahkan proses yang terjadi . Berbekal konsep mengenai kaitan antara hutan gundul dan banjir , umpamanya ilmu mengembangkan teknologi untuk mencegah banjir . Betrand Russel menyebut perkembangan ini sebagai peralihan ilmu dari tahap kontemplasi ke manipulasi . Dalam tahap manipulasi inilah maka masalah moral muncul kembali namun dalam kaitan dengan faktor lain . Kalau dalam tahap kontemplasi masalah moral berkaitan dengan cara 25
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda penggunaan pengetahuan ilmiah . Atau secara filsafati dapat dikatakan, dalam tahap pengembangan konsep terdapat masalah moral yang ditinjau dari segi ontologi keilmuan , sedangkan dalam tahap penerapan konsep terdapat masalah moral ditinjau dari segi aksiologi keilmuan . Ontologi diartikan sebagai pengkajian mengenai hakikat realitas dari obyek yang ditelaah dalam membuahkan pengetahuan , aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh . Seperti diketahui setiap pengetahuan , termasuk pengetahuan ilmiah , mempunyai tiga dasar yakni ontologi , epistomologi dan aksiologi . Epistomologi membahas cara untuk mendapatkan pengetahuan ; yang dalam kegiatan keilmuan disebut metode ilmiah . Seorang ilmuwan secara moral tidak akan membiarkan hasil penemuannya dipergunakan secara sewenang-wenang . Sejarah telah mencatat bahwa para ilmuwan bangkit dan bersikap terhadap politik pemerintahannya yang menurut anggapan mereka melanggar asas-asas kemanusian . Ternyata dalam soal-soal yang menyangkut kemanusiaan para ilmuwan tidak pernah bersifat netral . Mereka tegak dan bersuara sekiranya kemanusiaan memerlukan mereka. Suara mereka bersifat universal mengatasi golongan, ras, sistem kekuasaan , agama , dan rintangan-rintangan lain yang bersifat sosial . Albert Einsten memberi saran kepada Presiden Franklin D Roosevelt untuk membikin bom atom ketika waktu itu Jerman memperlihatkan tanda-tanda untuk membuat bom atom . Pemihakan Einstein kepada Sekutu karena menurut anggapannya Sekutu mewakili aspirasi kemanusian . Sekiranya Sekutu kalah maka yang akan muncul di muka bumi adalah rezim Nazi yang tidak berprikemanusian . Untuk itu seorang ilmuwan tidak boleh berpangku tangan . Dia harus memilih sikap : berpihak kepada kemanusian atau tetap bungkam ? Pilihan moral ini kadang-kadang memamg getir sebab tidak bersifat hitam atas putih Akibat bom atom di Hirohshima dan Nagasaki masih berbebas dalam lembar sejarah kemanusian kita . Kengerian pengalaman Hiroshima dan Nagasaki memperlihatkan kepada kita wajah lain dari pengetahuan . Seperti Dr Jekyll dan Mr Hyde yang bermuka dan berpribadi belah maka ilmu pengetahuan bagaikan pisau yang bermata dua Diperlukan landasan moral yang kukuh untuk mempergunakan ilmu pengetahuan secara konstruktif ? Salah satu musuh kemanusian yang besar adalah peperangan . Perang menyebabkan kehancuran , pembunuhan dan kesengsaraan . Tugas ilmuwanlah untuk menghilangkan atau mengecilkan terjadinya peperangan ini meskipun hal ini merupakan sesuatu yang hampir musthil terjadi . Salah satu musuh kemanusian yang besar adalah peperangan . Perang menyebabkan kehancuran , pembunuhan dan kesengsaraan . Tugas ilmuwanlah untuk menghilangkan atau mengecilkan terjadinya peperangan ini meskipun hal ini merupakan sesuatu yang hampir musthail terjadi . yang merupakan fakta dari sejarah kemanusian fitrah dari manusia dan masyarakat kemanusian yang sudah mendarah daging . Walaupun demikian Einstein sampai akhir hayatnya tak jemu-jemunya menyeruhkan agar manusia menghentikan peperangan dan perlombaan persenjataan .

26
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Pengetahuan merupakan kekuasaan , kekuasaan yang dapat dipakai untuk kemaslahatan kemanusian , atau sebaliknya dapat pula disalahgunakan . Pengetahuan pada dasarnya ditujukan untuk kemaslahatan kemanusian . Masalahnya adalah sekiranya seorang ilmuwan menemukan sesuatu yang menurut dia berbahaya bagi kemanusiaan maka apakah yang dia lakukan ? Apakah menyembunyikan penemuan tersebut sebab dia merasa bahwa penemuan itu lebih banyak menimbulkan kejahatan dibandingkan dengan kebaikan ? Ataukah dia akan bersifat netral dan menyerahkannya kepada moral kemanusian untuk menentukan penggunaannya ? Jawabannya adalah seorang ilmuwan tidak boleh menyembunyikan hasil penemuanpenemuan apa pun bentuknya dari masyarakat luas serta apa pun juga yang akan menjadi konsekuensinya . Kenetralan seorang ilmuwan dalam hal ini disebabkan anggapannya bahwa ilmu pengetahuan merupakan rangkaian penemuan yang mengarah kepada penemuan selanjutnya . Kemajuan ilmu pengetahuan tidak melalui loncatan-loncatan yang tidak berketentuan melainkan melalui proses akumulatif secara teratur Penyembuhan penyakit kanker harus didahului oleh penemuan dasar di bidang biologi molekuler . Penemuan laser memungkinkan penggunannya sebagai terapi medis dalam berbagai penyangkit . Demikian selanjutnya di mana usaha menyembunyikan kebenaran dalam proses kegiatan ilmiah merupakan kerugian bagi kemajuan ilmu pengetahuan seterusnya . Dalam penemuan ini maka ilmu pengetahuan itu bersifat netral . Saya berkeyakinan bahwa dalam aspek inilah ilmu pengetahuan terbebas dari nilai-nilai yang mengikat . Dalam aspek-aspek lain seperti apa yang telah ditelaah oleh ilmu pengetahuan dan bagaimana pengetahuan itu dipergunakan mau tidak mau seorang ilmuwan terikat secara moral dalam artian mempunyai preferensi dan memilih pihak Dalam menentukan masalah apa yang akan akan ditelaahnya maka seorang ilmuwan secara sadar atau tidak sudah menentukan pilihan moral . Hal ini bahkan menjorok sampai penyusunan hipotesis . Walaupun begitu maka dalam hasil penemuan akhirnya seorang ilmuwan tidak boleh menyembunyikan sesuatu . Bagaimana pahitnya hasil penemuan itu bagi obyek yang kita junjung dalam sistem preferensi moral kita Kebenaran tak boleh disembunyikan . Masalah moral tak bisa dilepaskan dengan tekad manusia untuk menemukan keberanan , sebab untuk menemukan kebenaran dan terlebih-lebih lagi untuk mempertahankan kebenaran , diperlukan keberanian moral. Sejarah kemanusian dihiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar . Peradaban telah menyaksikan Sokrates dipaksa meminum racun dan John Huss dibakar . Dan sejarah tidak berhenti di sini : kemanusian tak pernah urung dihalangi untuk menemukan kebenaran . Tanpa landasan moral maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dalam melakukan prostitusi intelektual . Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya seperti sekarang ini berganti dengan proses rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran . ( Suriasumantri , 1996 : 229 – 252 ) Perkembangan ilmu pengetahuan mau tak mau pada akhirnya berhadapan dengan matra etis . Pertama, dalam diri para ilmuwan yang sedang mengembangkan ilmu pengetahuan modern dan sibuk merancang cara-cara penerapan hasil ilmu-ilmu itu. Kedua, dalam diri 27
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda kebanyakan orang yang hidup dalam dunia modern , yang mau tak mau secara mendalam dipengaruhi dan dikuasai oleh hasil perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi modern tersebut . Kerap kali para ilmuwan mengalami konflik batin sehubungan dengan dampak dan penerapan hasil-hasil penelitian mereka. Konflik batin semacam ini mungkin sekali paling menekan para ahli genetika dan bio-medika . Di sini, prinsip ilmu pengetahuan “ lakukan apa saja mungkin dilakukan “ berhadapan dengan prinsip lain “ lakukan sesuatu asalkan semakin meningkatkan kemanusian “. Padahal apa yang mungkin untuk dilaksanakan belum tentu dengan sendirinya meningkatkan kemanusian Yang kiranya paling perlu dalam diri para perencana ilmu dan penerapan maupun dalam diri mereka yang berkuasa untuk menentukan pemakaian hasil ilmu pengetahuan alam ialah sikap etis yang tepat sedemikian mendalam sehingga tidak mencari keuntungan semata-mata mendalam sehingga tidak mencari keuntungan semata-mata bagi diri sendiri atau bagi kelompok maupun negara yang mereka pentingkan . Hal ini tidak bisa diundangkan secara efektif , karena pertama-tama menyangkut seluruh bangsa manusia, maka tak ada satu instansi pun yang berwenang , dan kedua karena melalui undangundang yak bisa dijamin bahwa pastilah penyelewengang dan egoisme masing-masing orang maupun kelompok dapat dicegah atau dihalangi . Satu-satunya cara ialah menghidupkan dan mengembangkan rasa tanggung jawab bersama berdasarkan suara batin . Demikianlah salah satu tugas luhur dan luas bagi para filsuf dari segala bangsa. ( Verhaak, 1989 : 183 – 184 ) Obyektivitas dan Kepentingan Konflik antara ilmu yang ingin terbebas dari nilai-nilai di luar bidang keilmuan dan ajaran-ajaran diluar bidang keilmuan dan ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan yang ingin menjadikan nilai-nilainya sebagai penafsiran metafisik keilmuan bukan saja terjadi dalam ilmu-ilmu alam namun juga dalam ilmu –ilmu sosial di mana berbagai ideologi mencoba mempengaruh metafisik keilmuan . Kejadian ini sering terulang kembali di mana sebagian metafisik keilmuan dipergunakan das Sollen dari ajaran moral yang terkandung dalam ideologi tertentu , dan bukan das Sein sebagaimana dituntut oleh hakekat keilmuan . Max Weber mendefinsikan sosiologi sebagai sebuah ilmu yang mengusahakan pemahaman interpretatif mengenai tindakan sosial agar dengan cara itu dapat menghasilkan sebuah penjelasan kausal mengenai pelaksanaan dan akibat-akibatnya. Definisi ini merupakan sebuah kompromi antara pusat perhatian positivis ketat terhadap generalisasi-generalisasi kausal dan penolakan total sejarawan humanistis atas relevansi analisa kausal terhadap tingkah laku manusia . Sebagai sebuah ilmu pengetahuan , sosiologi haruslah , dalam istilah Max Weber .” bebas nilai “. Yang dimaksud pertama-tama adalah bahwa mereka berada dalam posisi akademis seharusnya memisahkan evaluasi-evaluasi pribadi mereka dari pernyataan28
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda pernyataan ilmiah mereka , karena putusan-putusan nilai macam itu tidak bisa secara logis dideduksikan dari fakta-fakta yang teramati secara empiris. Sosiolog Jerman itu tidak melihat netralitas ilmiah yang ia bela sebagai sebuah kompromi di antara pendapat-pendapat yang bertentangan pada zamannya , karena dia menganggap kompromi-kompromi macam itu pada dirinya adalah evaluasi-evaluasi . Atau juga dia menuntut ilmuwan sosial untuk mengelak dari komitmen-komitmen moral dan politis di luar karya akademisnya . Tetapi mahasiswa yang belajar tentang masyarakat harus menginginkan netralitas evaluasi ketat dalam penafsiran dan penjelasan tentang fenomena sosial. Ia mengakui bahwa kebebasan nilai ini sulit dicapai di dalam sosiologi . Dia memberi tiga alasan untuk ini. Pertama-tama , nilai-nilai berada di antara objek-objek studi sehingga menjelaskan , sebagaimana ia lakukan , kaitan antara Protestanisme dan Kapitalisme segera berbalik menjadi sebuah evaluasi atas sistem-sistem kepercayaan dan tindakan yang bermuatan nilai ini. Akan tetapi , dia berpikir bahwa kesulitan ini bisa diatasi kalau sikap cemas diambil untuk menangkal godaan-godaan kearah dosa ilmiah itu . Tidaklah begitu gambanglah menghapuskan kendala kedua yang merintangi sosiolog di jalan netralitas ilmiah . Karena berbagai fakta yang tidak kunjung akhir yang harus dipelajari , seorang teoritikus harus mempergunakan penilaian-penilaian moralnya sendiri untuk menyeleksi fenomena sosial yang ia pikir bermanfaat untuk risetnya . Fenomena yang dipelajari dibatasi pada pilihan untuk” relevansi-nilai “ fenomena itu , yaitu untuk makna yang dimiliki fenomena ini dalam terang putusan-putusan nilai dari ilmuwan yang mengamatinya . Weber , misalnya tertarik akan ciri rasionalitas yang ia kira menjadi ciri penting kapitalisme modern dia juga ingin menemukan bagaimana stabilitas masyarakat modern dapat dipelihara . Dia mengakui bahwa putusan-putusan nilai tercakup dalam keputusan untuk memusatkan diri lebih pada fenomena sosial ini daripada fenomena sosial lain . Akan tetapi Weber percaya bahwa tak ada masalah real di sini karena evaluasi-evaluasi semacam itu harus dibuat sebelum mulainya penyelidikan ilmiah dan karena itu sangat terpisah dari penyelidikan ilmiah itu. Tetapi pentinglah , pikiran nya, bahwa evaluasi-evaluasi yang mendahului ini dibukakan dan dengan tegas dipisahkan dari studi itu sendiri . Kesulitan ketiga dalam gagasan tentang sebuah ilmu sosial yang bebas-nilai adalah bahwa , menurut Weber , menjelaskan tingkah-laku adalah memahaminya , dan memahami menuntut kita masuk ke dalam pikiran dan perasaan-perasaan para pelaku sosial. Ini berarti bahwa untuk menjelaskan masyarakat kita harus berempati dengan tingkah-laku . Empati bisa diperoleh dengan metode simpati imajinantif yang dianalisis oleh Adam Smith dalam pandangannya tentang penilaian moral . Untuk melakukan ini perlulah menempatkan diri kita secara imajinatif di tempat pelaku dan dengan demikian secara simpatis berpartisipasi di dalam pengalaman–pengalaman . Masalah dengan metode ini adalah bahwa metode ini tampaknya mengakibatkan keterlibatan dalam nilainilai orang yang tindakan-tindakannya disimpatikan dan karenanya dimengerti itu . 29
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Sekaligi lagi Weber menganggap ini lebih sebagai sebuah bahaya untuk netralitas nilai sosiologi daripada sebuah pernyataan tentang mustahilnya bebas-nilai. Ia berpendapat , mungkinlah masuk ke dalam pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan orang lain tanpa mendukungnya . Bagaimanapun tidak selalu perlu bergerak sedemikian jauh di sepanjang arah identifikasi imajinatif untuk sungguh-sungguh masuk ke dalam motif-motif dan intensi-intensi sebenarnya dari orang lain . Oleh karena itu seorang ilmuwan sosial mampu mencocokan lebih pada pembuktian daripada pada perekomendasian tujuantujuan pembaruan sosial . ( Campell , 1994 : 201 – 203 ) Max Weber merupakan pembela ulung bagi sifat bebas nilai dalam ilmu pengetahuan Dalam pendirian yang dibelanya dengan gigih ini , soalnya bagi Weber bukanlah terutama untuk tetap membebaskan ilmu pengetahuan dari nilai-nilai , melainkan lebih untuk melindungi nilai-nilai terhadap ilmu pengetahuan . Latar belakangnya ialah bahwa Weber mempunyai keyakinan yang suci terhadap tanggung jawab pribadi yang tidak boleh dirampas dari seseorang dengan argumentasi ilmiah . Maka ia pun melawan apa yang di Jerman tidak jarang menjadi kebiasan , yaitu untuk dari atas mimbar universitas mengemukakan pendirian-pendirian tentang nilai yang menyatu sebagai ilmu pengetahuan . Tetapi ia memang setuju bahwa pendirian-pendirian tentang nilai yang dimiliki oleh seseorang itu sendiri dinyatakan secara eksplisit , dan bahwa ditunjukkan di mana peneliti yang berpikir itu berhenti , dan orang yang berkemauan itu mulai Ia melawan pencampuradukan , dan bukannya melawan pembelaan ideal-ideal seseorang itu sendiri . Sebab tidak ada hubungan apa pun antara tiadanya keyakinan dan obyektivitas ilmiah . Ia sendiri juga tidak pernah tinggal diam mengenai nilai-nilainya sendiri , dan ia pun bukannya seorang ilmuwan yang asing terhadap dunia .( Laeyendecker , 1991 : 323 – 324 ) Sejak semula terdapat juga banyak ilmuwan sosial yang berpendapat bahwa ilmu-ilmu sosial serta analisa sosial yang ilmiah pun selalu mengandung nilai-nilai tertentu sehinga mustahil bersifat bebas nilai . Dalam buku termashur yang berjudul The Sociogical Imagination , C Wright Mills mengutarakan dengan cermat bagaimana baik teori sosial maupun penyelidikan sosial yang empiris selalu dipengaruhi dan diresapi oleh pengandaian-pengandaian etis politis tertentu . Ia bahkan berpendapat bahwa ilmu-ilmu dan analisa sosial yang hendaknya sungguh relevan dan tidak mengawang perlu mengambil sikap, terutama dengan memperhatikan penggunannya dalam kebijaksanaan politik dan tindakan praktis kemudian . Realitas sosial berupa pengetahuan yang bersifat keseharian , seperti konsep , kesadaran umun dan wacana publik , menurut Peter L Berger dan Thomas Luckman merupakan hasil dari kontruksi sosial . Realitas sosial itu dikonstruksikan melalui proses eksternalisasi , obyektivasi dan internalisasi . Konstruksi sosial tidak berlangsung dalam ruang hampa tetapi penuh dengan berbagai kepentingan Realitas sosial itu bersifat intersubyektif , sehingga metodologi itu memberi tempat yang wajar pada subyektif, karena apa yang dinamakan kenyataan sosial itu , selain menampilkan dimensi obyektif juga sekaligus mempunyai dimensi subyektif - karena , apa yang kita namakan masyarakat itu adalah buat kultural dari masyarakat tertentu ; manusia sekaligus pencipta 30
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dari dunia tersendiri Diakui pula bahwa tidak semua realitas sosial mampu diamati leluasa.( Berger , 1990 : 28 – 65 ) Seluruh masalah ini diperbincangkan dengan kiranya paling sengit dalam perdebatan yang terkenal sebagai Pertengkaran Positivisme dalam Sosiologi Jerman :. Perbedaan itu terjadi antara aliran Kritischer Rationalismus yang dicap neopositivistis dan dilepori oleh Karl R Popper di satu pihak dan aliran Kristicher Theorie yang dicap neomarxistis dan dipelopori oleh Theodore W Ardono dan mazhab Frankfurt di lain pihak .Terhadap sifat bebas nilai ilmu, bukan ilmuwan, demikian Karl Popper , neomarxisme menekakan sifat taut nilai bagi semua ilmu . Jurgen Habermas berbicara tentang kepentingan yang menggiring pengetahuan . Sains digiring oleh kepentingan teknologi , ilmu-ilmu sejarah oleh kepentingan praktis , dan ilmu-ilmu sosial oleh kepentingan emansipatoris . Suatu perdebatan yang sampai sekarang belum kunjung habisnya .( Van Peursen , 1989 : 73 ) Bagamana masalah yang berbelit-belit dan rumit ini bisa dipecahkan ? Kalau tidak salah , maka bisa ditempuh semacam jalan tengah . Kiranya sangat tepatlah tuntutan Max Weber agar dibedakan dengan sejelas mungkin antara fakta yang obyketif dan penilaian yang subyektif . Tuntutan itu paling tidak merupakan cita-cita yang selalu perlu diperjuangkan mengingat bahaya bahwa si ilmuwan sosial begitu terjerat oleh nilai-nilai kesayangannya atau bahkan suatu pendirian ideologis yang apriori sehingga tidak mampu lagi untuk melihat dan menyelediki kenyataan sebagaimana adanya . Dalam hal ini, seluruh “ilmu”nya akan semata-mata bertujuan untuk membenarkan pendiriannya . Suatu legitimasi semu yang mengorbankan cita-cita kebenaran yang seharusnya mendasari segala usaha ilmiah . Namun demikian, tetap perlu ditanyakan sejauh mana cita-cita “bebas nilai “ dalam ilmuilmu sosial , yaitu pembedaan yang tajam antara fakta dan penilaian , sungguh-sungguh bisa dicapai dalam kenyatannya . Sungguhpun cita-cita itu selalu harus dikejar , akan tetapi perlu diinsyafi dan diperhitungkan pula adanya batas-batas obyektivitas dalam ilmu-ilmu sosial , sebagaimana dikemukakan dengan tepat oleh para kritisi pendekatan tersebut . Dari sosiologi ilmu pengetahuan diketahui bahwa karya ilmiah setiap ilmuwan mau tak mau diwarnai oleh riwayat hidup , lingkungan sosial, dan lingkaran kebudayaannya Minat pribadi , kepentingan politis , pendirian dari fihak yang menyediakan dana, semua faktor serupa itu pun ikut berpengaruh dan mustahil dielakkan sama sekali, sekalipun sering kurang disadari atau bahkan disangkal . Sudah barang tentu dalam pemilihan obyek telaahan ilmiah . Begitu pula berkenan dengan penggunaan hasil karya ilmiah itu Si ilmuwan paling tidak kurang bertanggung jawab kalau bersikap acuh tak acuh terhadap akibat-akibat karyanya . Namun , bukan itu . Teori sosial yang diandaikan , metode ilmiah yang diandalkan , peristilahan yang dipakai , semua itu pun tak pernah bisa “ bebas nilai “ sepenuhnya . Pendek kata , cara pendekatan ilmiah , apa yang dilihat dan juga tidak dilihat , bagaimana kenyataan didefinsikan dan ditafsirkan , kesimpulankesimpulan apa yang ditarik, semua itu dipengaruhi dan diwarnai oleh premis-premis nilai si ilmuwan . 31
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Batas-batas obyektivitas ilmu-ilmu sosial itu barangkali paling nampak dan menyolok sehubungan dengan penelitian dan analisa sosial di negara-negara berkembang . Kiranya sulit untuk membantah tuduhan yang semakin tenar sebagian besar karya ilmiah tentang Dunia Ketiga terlalu diwarnai oleh cara penglihatan dan kepentingan-kepentingan negara-negara industri , sehingga kurang sesuai dengan kenyataan di negara-negara berkembang sendiri dan oleh karena itu kurang obyektif . Orang yang sangat berjasa dalam menunjuk dan membongkar ketimpangan metodologis yang sering terselubung itu adalah Gunnar Myrdal , seorang ekonom kawakan , yang dalam seluruh karyanya selama hampir lima puluh tahun senantiasa menaruh perhatian istimewa pada masalah-masalah premis-premis nilai dalam ilmu-ilmu sosial itu . Lantas , bagaimana dengan cita-cita obyektivitas dalam ilmu-ilmu sosial yang diutarakan tadi ? Kiranya perlu suatu modifikasi dalam pengertian tentang ukuran “obyektif “ . Sebagaimana ditunjukkan dengan sangat jelas oleh Myrdal, maka obyektivitas dalam ilmu-ilmu sosial tidak berarti tidak adanya premis-premis nilai yang diandalkan , tetapi bahwa premis-premis nilai tersebut yang harus bersifat relevan, signifikan, logis , dan realistis , dirumuskan secara eksplisit dan dipertanggungjawabkan secara rasional. Dengan demikian, premis-premis nilai itu terbuka untuk umum sehingga bisa dikupas secara ilmiah-kritis dan dikoreksi seperlunya . Alternatif lain, menurut Mydral , tidak ada lantaran alasan logis . Malah sebaliknya , justru sikap yang menganggap diri “bebas nilai “ sangat berbahaya karena mengelabui pendiriannya , sehingga lebih mudah diperalatkan oleh bermacam-macam kepentingan yang tak jarang sangat timpang . Jadi , semacam penipuan diri sendiri . Keunggulan Mydral dalam hubungan ini terletak pada penalaran metodologinya dan bukan pada premis-premis nilai yang ia andalkan sendiri yang tentu saja bisa dipertanyakan secara kritis , justru berdasarkan metodologisnya sendiri Perbedaan ini sering diabaikan oleh para kritisinya. . ( Muller , 1982 : x – xii ) Krisis Kehidupan Modern Tidak asing lagi bahwa untuk mendapatkan kemajuan dewasa ini , perlu adanya pemanfaatan teknologi . Namun , perlu disadari bahwa teknologi tidaklah indentik dengan kemajuan . Harus diakui bahwa kemampuan ilmu dan teknologi banyak menolong kehidupan manusia , seperti mengurangi kemiskinan dan penderitaan serta memberikan kemudahan untuk meningkatkan ketrampilan kerja , tetapi menganggap teknologi sama dengan kemajuan , berarti telah memberikan penilaian tertentu yang mempersulit penjabaran problematika sebenarnya. Teknologi tidak lagi merupakan sesuatu di luar manusia melainkan menjadi substansinya. Teknologi tidak lagi berhadapan dengan manusia , melainkan terintegrasi dengannya, dan bahkan bertahap menelannya . Tranformasi yang terjadi dalam masyarakat modern ini merupakan konsekuensi dari kenyataan, bahwa teknologi telah memperoleh otonominya Bukan masyarakat manusiawi yang kita hadapi , melainkan masyarakat teknologis. Hal ini tercermin dalam cara hidup masyarakat yang teknologis pula, di mana pola-pola hidup ditentukan oleh motif mengejar produktivitas baik dalam bentuk barang maupun 32
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda tenaga kerja , mengutamakan efisiensi kerja , agar target dapat tercapai dan mengatur peri kehidupan dalam tatanan yang serba rasional mekanistis . Masyarakat tidak lain adalah organisme yang dapat direkayasa sesuai dengan pesan dan kehendak yang ditentukan secara deterministis , sedangkan lembaga pendidikan adalah pabrik yang mencetak tenaga kerja yang ahli dan trampil untuk memenuhi kebutuhan pasaran . Dengan demikian , hidup masyarakat adalah sejumlah fungsi mekanisme modern . Di samping itu , hubungan-hubungan sosial banyak ditentukan oleh motif utilitaristis Sikap eksploitaif tidak hanya diarahkan terhadap alam dan kekayaannya , tetapi juga terhadap tenaga kerja . Suasana hidup menjadi zakelijk , karena intersubyektivitas diwarnai oleh perlakuan zakenman . Sesuai dengan pola dan hubungan sosial demikian itu , gaya hidup masyarakat menjadi konsumtif , dengan pengertian bahwa masyarakat memang punya kemampuan untuk hidup mewah dengan tuntutan tinggi . Cara dan gaya hidup demikian itu sekaligus merupakan pencerminan dan dorongan menuju berkembangnya orientasi materialisme dan pragmatisme. ( Poespowardoyo, 1993 : 88 – 89 ) Eksistensi ilmu pengetahuan dan perkembangannya yang pesat disertai hasil-hasil teknologinya benar-benar merupakan raksasa yang kuat dan kuasa. Bukan hanya kerena ia berfungsi sebagai alat untuk kehidupan manusia , tetapi ia berfungsi sebagai alat untuk kehidupan manusia , tetapi lambat laun berubah menjadi tujuan manusia . Ia bukan saja mempengaruhi proses pertumbuhan sosial-budaya , tetapi bahkan menciptakan kebudayaan teknologi , sebagaimana diungkapkan oleh Herbert Marcuse . Dalam menghadapi situasi demikian itulah , orang mulai bicara tentang datangnya krisis kehidupan dewasa ini . Menurut Jurgen Habermas , suatu krisis terjadi apabila struktur kehidupan sosial tidak mampu lagi memberikan pemecahan seperti yang diharapkan untuk menjamin kelestarian sistem kehidupan itu sendiri . Ini berarti, bahwa krisis diartikan sebagai adanya gangguan dalam integrasi sistem itu. Krisis tidak ditimbulkan karena adanya perubahan-perubahan kecil dan sampingan , tetapi karena desakan dan tuntutan yang secara struktural terjadi dari dalam sistem itu sendiri, namun yang tidak bersamaan dan tidak dapat diintegrasikan dalam sistem kehidupan ini. Dengan demikian hilanglah legitimasi struktur sosial . Gejala-gejala datangnya krisis ini nampak dalam proses sosial yang terjadi dalam masyarakat modern dewasa ini , seperti diucapkan oleh beberapa pemikir. Proses perkembangan masyarakat industri dewasa ini sangat ditentukan oleh peranan teknologi Masyarakat modern ditandai oleh teknik . Begitu besar pengaruhnya sehingga teknik memisahkan manusia dari tujuan karyanya , dan dengan demikian menimbulkan alienasi terhadap masyarakat tempat ia hidup. Teknik memperbudak ilmu pengetahuan Pendidikan menjadi teknik paksaan atas manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan , olahraga menjadi teknik untuk membuat manusia menjadi tenang , dan politik menjadi teknik untuk menghindarkan revolusi . Mengapa teknik dianggap sebagai tanda kehancuran dan bukan rahmat yang harus disambut baik . Ellul berpendapat bahwa teknik dan humanisme adalah dua kenyataan yang tidak sesuai satu sama lain . Yang 33
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda dialami bukan lagi masyarakat manusia, melainkan masyarakat teknologi , demikian Luypen , karena teknik telah berkuasa dalam bidang-bidang kehidupan masyarakat . Di samping itu , pernyataan-pernyataan Herbert Marcuse dalam bukunya One Dimensional Man mengandung protes terhadap keadaan masyarakat industri modern dewasa ini ., yang ia sebut bermatra satu . Kehidupan manusia yang digambarkan secara cerah dalam zaman Aufklarung dengan ragam orientasi dan insipirasinya , kini secara totaliter dan represif diarahkan pada satu tujuan , yaitu kelestarian dan peningkatan sistem kapitalisme modern . Dimensi-dimensi lain ditekan karena tidak sesuai dengan tujuan utama tersebut . Hal itu dapat dilaksanakan dengan lancar , karena kebutuhankebutuhan masyarakat dengan memasukan motivasi serta pengaturan yang nampaknya rasional. Dalam situasi demikian itulah, manusia bersikap pasif dan represif serta tak mampu lagi menuntut perubahan sosial . Dalam kehidupan yang bermatra satu ini manusia kehilangan kebebasan ,. kreativitas , dan semangat kritisnya . Dalam kehidupan yang serba teknologis ini, manusia mengalami keterasingan Manusia tidak lagi hidup langsung secara bebas dengan alam lingkungannya , tetapi secara berangsur-angsur hidup dikelilingi oleh teknik , organisasi , dan sistem yang dia ciptakan sendiri. Memang , berkat ilmu pengetahuan dan teknologi ,manusia .bangkit membebaskan diri dari tekanan berat dari alam yang selalu menganggunya . Akan tetapi , secara sistematis manusia mulai tergantung pada hasil ciptaan dan organisasinya Dominasi alam sudah dilepaskan , tetapi teknologi dan birokrasi bangkit dengan kekuatannya yang dahsyat untuk menguasai manusia yang menjadi tergantung dan lemah . Manusia tidak lagi merupakan Selbst ( yaitu subyek yang mandiri ) , tetapi mengalami detotalisasi dan bahkan dehumanisasi .( Poespowardoyo, 1993 : 81 – 83 ) Krisis membuat orang berusaha mencari pemecahan dan jalan ke luar . Bagi Marcuse masalahnya ialah bagaimana masyarakat dapat dibebaskan dari cengkraman industri modern yang irrasional . Sebagai jalan ke luar ia sampai pada gagasan The Great Refusal, yaitu sikap yang menolak establishment bersama pola budaya , moral dan organisasi dengan meningkatkan kepekaan dan kesadaran baru yang mampu membuat hidup lebih sensouns, calm and beautiful .. Dalam mencari alternatif lain, Roszak sampai pada pemikiran Counter Culture . . Ia kembali pada alam pikiran mitis , bahwa seharusnya manusia merupakan bagian dari alam, dan karena itu harus terbuka dan menaruh simpati pada alamnya . Bukan maksudnya menolak teknologi dalam kehidupan manusia dengan mencari nilai-nilai dasar dalam pola hidup mitis yang masih mempertahankan kesatuan ekologis manusia dengan alamnya dengan solidaritas emosionalnya Kehidupan rasional yang kaku ini pun dilihat oleh EF Schumacher , dan karena itu, dalam bukunya Small is beautiful , ia berpaling pada budhisme untuk menemukan pola kehidupan yang lebih komprehensif . Penutup Makin lama kita berfleksi tentang ilmu pengetahuan makin sadarlah kita tentang tempat ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia dan tentang tanggung jawab besar yang 34
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda berkaitan dengannya . Kesadaran dan tanggung jawab itu bertambah besar , bila kita melihat dengan cara jelas dan seringkali pedih betapa tak berdaya ilmu pengetahuan terhadap problem-problem kongkret , karena dengan itu kita dianjurkan meningkatkan perkembangan ilmu pengetahuan sekuat tenaga . Dalam pada itu perlu kita tetap teringat bahwa ilmu pengetahuan bagi manusia bukan saja sekedar jalan menuju perkembangan diri itu, tapi juga sebagian integral dari perkembangan diri itu Dan ilmu pengetahuan menyatakan keterbatasannya menurut kedua segi itu . Sebagaimana ilmu pengetahuan belum membawa pemecahan untuk banyak penderitaan kongkrit , demikian juga ilmu pengetahuan yang sama sekali tidak membawa kesatuan di bidang agama dan padangan hidup . Ada ilmuwan beriman dan ada yang tak beriman . Ada yang yakin bahwa bilamana ilmu pengetahuan cukup berkembang dengan itu segala kepercayaan akan Allah akan dihancurkan . Ada yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan akan memurnikan kepercayaan akan Allah . Dan tak ada lagi yang berpikir bahwa ilmu pengetahuan tidak berkaitan langsung dengan kepercayaan akan Allah . Untuk semua pandangan ini dapat diajukan argumen-argumen yang patut dipertimbangkan dengan cermat . Salah satu ciri khas ilmu pengetahuan ialah bahwa sebelumnya kita tidak pernah mengetahui semua kemungkinan yang terpendam di dalamnya . Dan di sini juga tidak perlu kita ketahui dulu bagaimana persisnya kemungkinan-kemungkinan kita, supaya kita menyelidikinya dengan segala energi yang kita punya.. Maka hal itu berlaku juga , bila kita yakin bahwa dalam hal-hal serupa itu ilmu pengetahuan tidak pernah dapat memberi penyelesaian terakhir dan menentukan , karena tidak ada ilmu yang mendasarkan dirinya sendiri secara absolut . Sebab , setiap ilmu bertumpu pada kepercayaan dasar akan metode-metode , strategi-strategi atau pengandaian-pengandaian yang dianggap terpecaya atau setidaknya pantas untuk diketahui . Kiranya sudah nyata, kegiatan ilmiah yang konkrit itu sendiri sekali-kali tidak bebas dari apa yang sebenarnya harus disingkirkannya, yaitu praanggapan teoritis , prasangka emosional , fanatisme dan intoleransi agresif . Dapat dipahami bahwa faktor-faktor ini paling menonjol bila penelitian ilmiah langsung menyangkut manusia sendiri dan khususnya keyakinan-keyakinannya yang paling mendalam . Setiap ilmu seharusnya obyektif , artinya terpimpin oleh obyek atau tidak didistorsi oleh prasangka –prasangka subyektif . Agar obyektivitas terjamin sebaik mungkin , ilmu pengetahuan harus memenuhi tuntutan intersubyektivitas ilmu pengetahuan harus dapat diverifikasi oleh semua penelitian ilmiah yang bersangkutan , biarpun verifikasi akan bersifat lain sejauh tipe ilmu pengetahuan yang berbeda Dapat dimengerti pula bahwa setiap ilmuwan ingin menempatkan ilmunya dalam kerangka .ilmu pengetahun seluruhnya dan dalam kerangka seluruh aktivitas manusiawi Hampir selalu juga ia mempunyai salah visi tentang hal itu . Tapi perlu diakui , visi seperti itu jarang memperlihatkan semacam kecenderungan “imperialistis “ dengan menganggap ilmunya sendiri sebagai satu-satunya bentuk ilmu pengetahuan yang mungkin . Kegagahan seperti itu tentu tidak mungkin seandainya tidak berdasar . Dan, sebagaimana sudah kita lihat , dasar itu adalah bahwa setiap ilmu memang mempelajari seluruh kenyataan , biarpun hanya dari suatu sudut pandangan tertentu . Seandainya ilmuilmu berbeda satu sama lain hanya dari segi material , maka kecenderungan imperialistis 35
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda serupa itu akan tampak gila-gilaan . Tapi sekarang ada dasarnya . Dan karena itu kecenderungan tersebut pada prinsipnya barangkali lebih baik daripada suatu mentalitas yang hanya melihat detail ilmiah , tanpa disadari apakah artinya detail ini atau penyelidikan spesialistis ini dalam suatu kerangka lebih luas Kegiatan ilmiah dalam bentuk yang dispesialisir meminta kebijaksanaan yang tahu mengaitkan keinsafan akan keterbatasan metodenya sendiri dengan keinsafatan yang tepat akan kedudukannya dalam keseluruhan .( Van Melsen , 1985 : 141 – 148 ) Setelah kita melihat perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan dan dampaknya pada perkembangan manusia dan dunianya, semakin jelaslah bahwa ada semacam kecenderungan yang khas dan tak bisa dipisahkan dari suatu ilmu yang sedang maju Kecenderungan pertama ialah kecenderungan yang terjalin pada jantung setiap ilmi pengetahuan – dan para ilmuwan juga – untuk maju dan maju terus tanpa henti dan tanpa batas . Setelah suatu penemuan atau suatu perumusan tercapai, ketika itu juga tampaklah kemauan dan kemungkinan untuk maju selangkah lagi, entah itu menuju dasar yang lebih dalam ataupun kearah cakrawala yang lebih luas. Setiap langkah merupakan suatu tantangan baru lagi – menurut irama : pengamatan – hipotesa – hukum – teori – dengan tak ada hentinya, , disusul oleh perbaikan , pembaharuan serta pengetatan tahap-tahap yang sudah ditempuh . Yang kedua ialah kecenderungan atau hasrat untuk selalu menerapkan apa yang dihasilkan ilmu pengetahuan , baik dalam dunia teknik mikro maupun makro . Apabila kita membuka mata dan kepala kita , tak sulit kita melihat bahwa semakin suatu ilmu pengetahuan maju, semakin keinginan meningkat sampai memaksa, merajalela , dan bahkan membabi buta . Ilmu pengetahuan dan hasilnya menjadi tidak menusiawi lagi , namun justru memperbudak manusia sendiri yang telah merencanakan dan menghasilkannya . Ilmu pengetahuan lalu seakan-akan berubah dari kawan menjadi pemangsa . Kecenderungan kedua ini lebih mengerikan daripada yang pertama , namun tak dapat dilepaskan dari kecenderungan pertama. Jika kita mempelajari sejarah ilmu pengetahuan alam, kiranya jelaslah apabila tidak ada suatu rangsangan kearah penerapannya . Dan lebih mengesankan lagi bahwa banyak penemuan dalam ilmu pengetahuan , umpamanya dalam bidang teknik persenjataan dan pertahanan ataupun dalam kedokteran , tercapai dalam keadaan mendesak , seperti ancaman perang , penyakit menular , kelaparan , dan lain sebagainya . Kedua kecenderungan ini secara nyata paling menampakkan diri dan paling mengancam kehidupan dan keamanan bangsa manusia dewasa ini dalam bidang lomba persenjataan , kemajuan dalam memakai serta menghabiskan banyak kekayaan bumi yang tak dapat batas-batas paling pribadi dalam hidup manusia , dan perkembangan ekonomi yang mengakibatkan melebarnya jurang kaya dan miskin . Kecenderungan yang ternyata condong menjadi lingkaran setan ini perlu dibelokkan manusia sendiri sehingga tidak menimbulkan ancaman lagi . Kesadaran akan hal ini sudah muncul dalam banyak lingkungan ilmuwan yang prihatin akan perkembangan teknik , industri , dan persenjataan yang membahayakan masa depan umat manusia da bumi kita ini .(Verhaak , 1989 : 184 – 185 ) 36
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Dalam kegairahan yang dibangkitkan oleh berkembangnya kekuatan ilmu dan teknik, manusia modern telah menciptakan sistem produksi yang memperkosa alam dan membangun jenis masyarakat yang merusak manusia. Kalau saja kekayaan kita makin besar – demikianlah pikir orang – maka segala sesuatu akan beres dengan sendirinya Uang dianggap mahakuasa ; uang kalau tidak dapat digunakan untuk membeli nilai-nilai bukan-benda , seperti keadilan, kerukunan , keindahan , atau kesehatan , sekurangkurangnya dapat digunakan untuk menghindari kebutuhan akan nilai-nilai itu , atau menggantinya kalau nilai-nilai itu hilang . Demikianlah , pengembangan produksi dan mengejar kekayaan menjadi tujuan tertinggi dalam dunia modern , sedangkan tujuantujuan lain – walaupun orang masih berpura-pura mengejarnya menduduki tempat yang kedua . Tujuan tertinggi tidak perlu dibuktikan kebenarannya ; sedang semua tujuan kedua harus tidak perlu dibuktikan kebenarannya ; sedang semua tujuan kedua harus terlebih dahulu dipertimbangkan dari segi faedahnya untuk mencapai tujuan yang tertinggi tersebut . Inilah filsafat materialisme , dan filsafat – atau metafisika – inilah yang sekarang mrndapat tantangan . Di sepanjang masa, di semua masyarakat di segenap pelosok dunia , senantiasa ada ahli pikir yang menentang materialisme dan menganjurkan susunan prioritas berbeda . Bahasa yang mereka pakai berlainan , lambang yang mereka pergunakan berbeda-beda , namun pesan yang mereka sampaikan senantiasa serupa : “ Carilah kerajaan Tuhan terlebih dahulu , dan segala sesuatunya ini ( barang-barang kebendaan yang juga kau butuhkan ) akan kau peroleh sebagai tambahan “ Barangbarang kebendaan itu akan kita peroleh sebagai tambahan , katanya , di bumi ini , di mana kita membutuhkannya , bukan hanya di surga , yang ada di luar daya khayal kita Tetapi pesan itu sekarang sampai pada kita bukan hanya dari para ahli pikir dan orang suci , tetapi juga dari peristiwa yang terjadi di sekeliling kita . Pesan itu menampakkan dirinya dalam bentuk terorisme , pembunuhan massal, kerusakan , pencemaran , kelesuan. Kelihatannya kita hidup dalam batas massa yang unik Nyatalah bahwa bukan hanya janji-janji saja yang terkandung dalam kata-kata yang menakjubkan mengenai kerajaan Tuhan tersebut , melainkan juga ancaman – bahwa “ jika engkau tidak mencari kerajaan Tuhan terlebih dahulu , barang-barang lain yang kau butuhkan itu tidak akan kau peroleh “ Kita menjauhkan diri dari kebenaran jika kita percaya bahwa kekuatan merusak dunia modern ini dapat “dikendalikan “ semata-mata dengan mengerahkan sumberdaya yang lebih besar lagi – kekayaan , pendidikan, dan penelitian – untuk memerangi pencemaran , untuk melindungi kehidupan liar , untuk menemukan sumber tenaga baru , dan untuk mencapai persetujuan yang lebih efektif untuk hidup berdampingan secara damai. Tak usah dikatakan lagi bahwa kekayaan, pendidikan , penelitian , dan banyak hal yang lain lagi memang perlu untuk peradaban ; tetapi yang sungguh-sungguh kita butuhkan sekarang adalah meninjau kembali tujuan yang akan kita capai dengan alat-alat tersebut . Dan ini berarti bahwa kita harus mengembangkan gaya hidup yang menempatkan barangbarang kebendaan pada tempatnya yang tepat dan benar , yaitu tempat yang kedua , bukannya yang pertama – dan inilah tugas yang lebih penting dari segala-galanya . ( Schumacher , 1981 : 275 – 276 ) 37
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Jelaslah kiranya bahwa seseorang ilmuwan mempunyai tanggung jawab sosial yang terpikul di bahunya . Bukan saja karena dia adalah warga masyarakat yang kepentingannya terlibat secara langsung di masyarakat namun yang lebih penting adalah karena dia mempunyai fungsi tertentu dalam kelangsungan hidup bermasyarakat Fungsinya selaku ilmuwan tidak berhenti pada penelaahan dan keilmuwan secara individual namun juga ikut bertanggung jawab agar produk keilmuan sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat . Untuk membahas ruang lingkup yang menjadi tanggung jawab seorang ilmuwan maka hal ini dapat dikembalikan kepada hakikat ilmu itu sendiri . Sikap sosial seorang ilmuwan adalah konsisten dengan proses penelahaan keilmuan yang dilakukan . Sering dikatakan orang bahwa ilmu itu terbebas dari sistim nilai . Ilmu itu sendiri netral dan para ilmuwanlah yang memberinya nilai . Dalam hal ini maka masalah apakah ilmu itu terikat atau bebas dari nilai –nilai tertentu , semua itu tergantung kepada langkah-langkah keilmuan yang bersangkutan dan bukan kepada proses keilmuan secara keseluruhan . Proses menemukan kebenaran secara ilmiah mempunyai implikasi etis bagi seorang ilmuwan . Karakteristik proses tersebut merupakan kategori moral yang melandasi sikap etis seorang ilmuwan . Kegiatan intelektual yang meninggikan kebenaran sebagai tujuan akhirnya mau tidak mau akan mempengaruhi pandangan moral . Kebenaran berfungsi bukan saja sebagai jalan pikirannya namun seluruh jalan hidupnya . Dalam usaha masyarakat untuk menegakkan kebenaran inilah maka seorang ilmuwan terpanggil kewajiban sosialnya , bukan saja sebagai penganalisis misteri kebenaran tersebut namiun juga sebagai prototipe moral yang baik .

38
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Bibilografi Adian, Donny Gahral .2002 Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan . Dari David Hume sampai Thomas Kuhn . Jakarta : Teraju . Awuy , Tommy F .1993 Problem Filsafat Modern dan Dekontruksi . Jakarta :; Lembaga Studi Filsafat . Berger , Peter L dan Thomas Luckman . Tafsir Sosial atas Kenyataan . Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan . Jakarta : LP3ES . Bertens, K. 2001. Perspektif Etika . Esai-Esai tentang Masalah Aktual . Yogyakarta : Kanisius. Budianta, Irmayanti M 2001.Realitas dan Obyektivitas .Refleksi Kritis Atas Cara Kerja Ilmiah . Jakarta : Wedatama Widya Sastra . . Campbell,Tom. 1994. Tujuh Teori Sosial . Sketsa , Panilaian , Perbadingan .Yogyakarta : Kanisius . Habermas , Jurgen . 1990 . Ilmu dan Teknologi Sebagai Ideologi . Jakarta : LP3ES Hardiman,Francisco Budi 1990-Kritik Kepentingan Yogyakarta : Kanisius . Ideologi .Pertautan Pengetahuan dan

Hasan, Fuad dan Kontjaraningrat ,”Beberapa Azas Metodologi ,” dalam Koetjaraningrat . 1977 Metode-Metode Penelitian Masyarakat .Jakarta :PT Gramedia ,Hlm.8 – 23 Horgan ,John .2005 The End of Science .Senjakala Ilmu Pengetahuan. Jakarta :Teraju Keraf , A Sony dan Mikhael Dua .2001 Ilmu Pengetahuan . Sebuah Tinjauan Filosofis . Yogyakarta : Kanisius . Laeyendecker, L. 1991. Tata, Perubahan dan Ketimpangan . Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi . Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama . Leahy , Louis. 2006. Jika Sains Mencari Makna . Yogyakarta : Kanisius . Mangunwijaya , YB (ed) 1983 . Teknologi dan Dampak Kebudayaannya . Jakrta : Yaya san Obor Indonesia . Mannheim, Karl.1991 Ideologi dan Utopia .Menyingkap Kaitan Pikiran Politik . Yogya Karta : Kanisius . 39
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda Menezes , J. Inocencio .1986 Manusia dan Teknologi . Telaah Filosofis J. Ellul .Yogya Karta : Kanisius . Muller, Johannes , “ Pembebasan Manusia Dari Penderitaan ,”dalam Peter L.Berger 1982 Piramida Kurban Manusia . Etika Politik dan Perubahan Sosial. Jakarta : LP3ES. Mustansyir, Rizal dan Minnal Murnir. 2001. Filsafat Ilmu . Yogyakarta : Pustaka Pelajar Myrdal, Gunnar .1988 . Obyektivitas Penelitian Sosial . Jakarta : LP3ES . Poedjawijata I.R.1991 Tahu dan Pengatahuan . Pengantar Ke Ilmu dan Filsafat . Jakarta PT Rineka Cipta . Polanyi, Michael. 1996 Segi Tak Terungkap Ilmu Pengetahuan . Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama . Poespowardoyo,Soeryanto. “ Unsur-unsur Pokok Ideologi Besar ”dalam M Sastrapratedja et al. Menguak Mitos-Mitis Pembangunan . Telaah Etis dan Kristis , Jakarta : PT Gramedia , 1986 ,Hl,. 18 – 32. Poespowardoyo, Soerjanto 1993 Strategi Kebudayaan Suatu Pendekatan Filosofis .Suatu Pendekatan Filosofis . Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama . Russel, Betrand .1992 .Dampak Ilmu Pengetahuan Atas Masyarakat . Jakarta : PT Grame dia Pustaka Utama . Santoso, R Slamet Iman 1977. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan . Jakarta :Sastra Hudaya . Suchmacher , EF. 1981 .Kecil Itu Indah .Ilmu Ekonomi Yang Memetingkan Rakyat Kecil Jakarta : LP3ES . Sudarminta, J.2002. Epistomologi Dasar . Pengantar Filsafat Pengetahuan .Yogyakarta : Kanisius . Suriasumantri, Jujun S . 1982 . Ilmu Dalam Perspektif . Jakarta : 1982 . Suriasumantri , Jujun S. 1996 . Filsafat Ilmu . Sebuah Pengantar Populer . Jakarta : Sinar Harapan . Van Melsen , A.G.M. 1985 . Ilmu Pengetahuan dan Tanggung Jawab Kita . Jakarta : PT Gramedia. Van Peursen , C.A. 1989 . Susunan Ilmu Pengetahuan . Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu . Jakarta : PT Gramedia . 40
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

Peter Kasenda

Verhaak . C dan R Haryono Imam .1989 Filsafat Ilmu Pengetahuan . Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-Ilmu . Jakarta : PT Gramedia .

41
Web: www.peterkasenda.wordpress.com Email: mr.kasenda@gmail.com

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->