Anda di halaman 1dari 57

Peter Kasenda

Pasang Surut Partai Politik

Tanpa anggota partai bagai


kan guru tanpa murid

(Maurice Duverger)

Partai Politik sebagai kekuatan politik adalah suatu gejala baru bagi semua negara di
dunia ini , dalam arti bahwa umurnya tidak setua umur masyarakat manusia . Usianya
tidak lebih dari 125 tahun . Istilah partai politik itu sendiri baru muncul pada abad ke -19
dengan semakin berkembangnya lembaga-lembaga perwakilan-perwakilan dan
meningkatnya frekuensi pemilihan umum dan meluasnya hak mereka yang bisa
mengambil bagian dalam pemilihan umum . Pada tahun 1850 tidak ada satu negera pun
di dunia ( kecuali Amerika Serikat ) mengenal partai dalam pengertian modern . Ada
alur-alur pendapat , kelompok-kelompok rakyat , masyarakat-masyarakat yang
dikelompokkan karena memiliki aliran filsafati tertentu , ada kelompok-kelompok di
dalam parlemen , tetapi belum ada partai politik dalam arti yang sebenarnya . Namun
menurut catatan banyak ahli pada tahun 1950-an hampir semua nation-state di dunia
sudah memiliki partai politik , dan bagi kebanyakan negara-negara jajahan partai politik
menarik perhatiannya karena partai politik bisa menjadi kekuatan tandingan menentang
penjajahan . Karena itu banyak negara yang baru muncul mencita-citakan partai , dan
kepadanya para warga menggantungkan harapan . ( Dhakidae , 1981 : 3 )

Ada tiga teori yang mencoba menjelaskan asal-usul partai politik . Teori yang pertama
mengatakan partai politik dibentuk oleh kalangan legislatif (dan eksekutif ) karena ada
kebutuhan para anggota parlemen ( yang ditentukan berdasarkan pengangkatan ) untuk
mengadakan kontak dengan masyarakat dan membina dukungan dari masyarakat yang
sadar politik berdasarkan penilaian bahwa partai politik yang dibentuk pemerintah tidak
mampu menampung dan memperjuangkan kemerdekaan , tetapi juga dapat ditemui
dalam masyarakat negara-negara maju dalam mana kelompok masyarakat yang
kepentingannya kurang terwakili dalam sistem kepartaian yang ada membentuk partai
sendiri seperti Partai Buruh di Inggris dan Australia dan Partai Hijau di Jerman .

Teori kedua menjelaskan krisis situasi historis terjadi manakala suatu sistem politik
mengalami masa transisi karena perubahan masyarakat dari bentuk tradisional yang
berstruktur sederhana menjadi masyarakat modern yang berstruktur kompleks
Perubahan-perubahan itu menimbulkan krisis legitimasi , integrasi dan partisipasi Dengan
perubahan-perubahan tersebut telah mengakibatkan masyarakat mempertanyakan prinsip-
prinsip yang mendasari legitimasi kewenangan pihak yang memerintah ; menimbulkan
masalah dalam identitas yang menyatukan masyarakat sebagai satu bangsa, dan
mengakibatkan timbulnya tuntutan yang semakin besar untuk ikut serta dalam proses
politik . Untuk mengatasi tiga permasalahan inilah partai politik dibentuk . Partai politik
yang berakar kuat dalam masyarakat diharapkan dapat mengendalikan pemerintahan
1
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

sehingga terbentuk semacam pola hubungan kewenangan yang berlegitimasi antara


pemerintah dan masyarakat . Partai politik yang terbuka bagi setiap anggota masyarakat
dan beranggotakan pelbagai unsur etnis , agama, daerah , dan pelapisan sosial ekonomi
diharapkan dapat berperan sebagai pengintegrasii bangsa . Selanjutnya , partai politik
yang ikut serta dalam pemilihan umum sebagai sarana konsitusional mendapatkan dan
mempertahankan kekuasaan diharapkan dapat pula berperan sebagai saluran partisipasi
politik masyarakat .

Teori ketiga melihat modernisasi sosial ekonomi , perluasan kekuasaan negara dan
peningkatan kemampuan individu yang mempengaruhi lingkungan , melahirkan suatu
kebutuhan akan suatu organisasi politik yang mampu memadukan dan memperjuangkan
berbagai aspirasi tersebut . Jadi perubahan-perubahan itulah yang melahirkan kebutuhan
adanya partai politik .( Surbakti , 1992 : 113 – 114 )

Secara umum dapat dikatakan bahwa partai politik adalah suatu kelompok yang
terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai , dan cita-cita yang
sama . Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan melalui
kekuasaan itu , melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka . Seorang sarjana yang
bernama Sgmund Neuman mengatakan bahwa partai politik adalah organisasi artikulatif
yang terdiri dari pelaku-pelaku politik yang aktif dalam masyarakat , yaitu mereka yang
memusatkan perhatiannya pada pengendalian kekuasaan pemerintahan dan yang bersaing
untuk memperoleh dukungan rakyat , dengan beberapa kelompok lain yang mempunyai
pandangan berbeda-beda . Dengan demikian partai politik merupakan perantara yang
besar yang menghubungkan kekuatan-kekuatan dan ideologi-ideologi sosial dengan
lembaga-lembaga pemerintahan yang resmi dan yang mengkaitkannya dengan aksi
politik di dalam masyarakat politik yang lebih luas . ( Budiardjo, 1981 : 14 )

Carl J Frederich memberi batasan partai politik sebagai kelompok manusia yang
terorganisasikan secara stabil dengan tujuan untuk merebut atau mempertahankan
kekuasaan dalam pemerintahan bagi pemimpin partainya , dan berdasarkan kekuasaan itu
akan memberikan kegunaan materiil dan idiil kepada para anggotanya . Sementara itu ,
RH Soltau memberikan definisi partai politik sebagai kelompok warga negara yang
sedikit banyak terorganisasikan , yang bertindak sebagai suatu kesatuan politik dan
dengan menfaatkan kekuasaannya untuk memilih, bertujuan untuk menguasai
pemerintahan dan menjalankan kebijakan umum yang mereka buat . ( Surbakti , 1992 :
116 )

Partai politik memiliki fungsi (1) sosialisasi politik , yaitu proses pembentukan sikap dan
orientasi politik para anggota masyarakat . Melalui proses sosialisasi politik inilah para
anggota masyarakat memperoleh sikap dan orientasi terhadap kehidupan politik yang
berlangsung dalam masyarakat : (2) komunikasi politik , yaitu proses penyampaian
informasi mengenai politik dari pemerintah kepada masyarakat dan dari masyarakat
kepada pemerintah . (3) rekuitmen politik , yaitu seleksi dan pengangkatan seseorang atau
sekelompok orang untuk melaksanakan sejumlah peran dalam sistem politik pada
umumnya dan pemerintahan pada khususnya , (4) pengelola konflik , yaitu
mengendalikan konflik melalui cara berdialog dengan pihak-pihak yang berkonflik,

2
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

menampung dan memadukan berbagai aspirasi dan kepentingan dari pihak-pihak yang
berkonflik dan membawanya ke parlemen untuk mendapatkan penyelesaian melalui
keputusan politik . (5) artikulasi dan agregasi kepentingan , menyalurkan berbagai
kepentingan yang ada di dalam masyarakat dan mengeluarkan berupa keputusan politik .
(6) jembatan antara rakyat dan pemerintah , yaitu sebagai mediator antara kebutuhan dan
keinginan masyarakat dan responsivitas pemerintah dalam mendengar tuntutan rakyat .
( Budardjo, 1977 : 164 -166 )

Klasifikasi partai dapat dilihat dari segi komposisi dan fungsi keanggotannya , secara
umum dapat terbagi dalam partai massa dan partai kader . . Partai massa mengutamakan
kekuatan berdasarkan keunggulan jumlah anggota oleh karena itu ia biasanya terdiri dari
pendukung –pendukung berbagai aliran politik dalam masyarakat yang sepakat untuk
bernaung di bawahnya dalam memperjuangkan suatu program yang biasanya luas dan
agak kabur . Partai kader mementingkan keketatan organisasi dan disiplin kerja dari
anggota-anggotanya . Pimpinan partai biasanya menjaga kemurnian doktrin politik yang
dianut dengan jalan mengadakan saringan terhadap calon anggotanya dan memecat
anggota yang menyeleweng dari partai yang telah ditetapkan .

Partai dapat didasarkan pada ideologi yang biasanya mempunyai pandangan hidup yang
digariskan dalam kebijaksanaan pimpinan dan berpedoman pada disiplin partai yang kuat
dan mengikat . Terdapat calon anggota diadakan saringan , sedangkan untuk menjadi
anggota pimpinan diisyaratkan lulus melalui beberapa tahap percobaan . Untuk
memperkuat ikatan batin dan kemurnian ideologi maka dipungut iuran secara teratur dan
disebarkan organ-organ partai yang memuat ajaran-ajaran serta keputusan-keputusan
yang telah dicapai oleh pimpinan .

Ada sarjana yang menggunakan klasifikasi sistim partai-tunggal . sistim dwi-partai dan
sistim multi-partai . Suasana kepartaian dalam sistim partai-tunggal dinamakan non-
kompetitif oleh karena partai-partai yang ada harus menerima pimpinan dari partai yang
dominan dan tidak dibenarkan bersaing secara merdeka melawan partai itu
Kecenderungan untuk mengambil pola sistim partai tunggal disebabkan karena di negara-
negara baru pimpinan sering dihadapkan dengan masalah bagaimana mengintegrasikan
pelbagai golongan , daerah serta suku bangsa yang berbeda corak sosial dan pandangan
hidupnya . Dikuatirkan bahwa bila kemajemukan sosial dan budaya ini dibiarkan , besar
kemungkinan akan terjadi gejala sosial politik yang menghambat usaha-usaha
pembangunan .

Sistim dwi-partai biasanya diartikan adanya dua partai atau adanya beberapa partai tetapi
dengan peranan dominan dari dua partai . Amerika Serikat dan Inggris menggunakan
sistim dwi-partai . Dalam sistim ini partai-partai dengan jelas dibagi dalam partai yang
berkuasa ( karena menang dalam pemilihan umum ) dan partai oposisi ( karena kalah
dalam pemilihan umum ) . Dengan demikian jelaslah di mana letaknya tanggung jawab
fungsi-fungsi . Dalam sistim partai yang kalah berperan sebagai pengecam utama tapi
yang setia terhadap kebijaksanaan partai yang duduk dalam pemerintahan , dengan
pengertian bahwa peranan ini sewaktu-waktu dapat bertukar tangan. Dalam persaingan

3
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

memenangkan pemilihan umum kedua partai berusaha untuk merebut dukungan orang-
orang yang ada di tengah dua partai dan yang sering dinamakan pemilih terapung .

Kemajemukan dalam komposisi masyarakat menjurus ke berkembangnya sistim multi-


partai . Di mana perbedaan ras , agama , atau suku bangsa adalah kuat , golongan-
golongan masyarakat lebih cenderung untuk menyalurkan ikatan-ikatan primordial tadi
dalam satu wadah saja. Dianggap bahwa pola multi-partai lebih mencerminkan
kemajemukan budaya dan politik daripada pola dwi-partai (Budiardjo ,1977:166 – 170 ).

Di masa Kolonial

Bagi Indonesia sendiri kehidupan partai politik sendiri dapat dilacak kembali secara
samar-samar sampai tahun 1908 . Dikatakan samar-samar karena organisasi-organisasi
yang memberi kesan adanya partai politik , dalam kenyataannya bukan partai dalam
pengertian modern sebagai organisasi-organisasi yang tujuannya merebut kedudukan
dalam negara di dalam persaingan melalui pemilihan umum . Juga tidak dalam arti
organisasi yang berusaha mengendalikan proses politik . Budi Utomo dalam tahun-tahun
itu tidak lebih dari suatu gerakan kultural , untuk meningkatkan kesadaran orang-orang
Jawa .

Sangat boleh jadi partai dalam arti modern sebagai suatu organisasi massa yang berusaha
untuk mempengaruhi proses politik , merombak kebijaksanaan dan mendidik para
pemimpin dan mengejar penambahan anggota , baru lahir di Indonesia ketika didirikan
Sarekat Dagang Islam pada tahun 1908 oleh Haji Samanhudi , sebagai organisasi
komersial dan kebudayaan untuk melindungi para pedagang Muslim penduduk asli
terhadap cara-cara persaingan yang tidak wajar dari orang-orang Tionghoa dalam
perdagangan tekstil yang tradisional . . Sejak waktu itu partai dianggap menjadi wahana
yang bisa dipakai untuk mencapai tujuan-tujuan nasionalis . Sebenarnya HOS
Tjokroaminoto pada tahun-tahun itu tidak mau menyebut Sarekat Islam adalah sebuah
partai politik dan banyak kalangan juga yang menganggap Sarekat Islam berada dalam
asas yang sama dengan Budi Utomo . Bila Budi Utomo menggunakan himbauan kultural,
maka Sarekat Islam memperdengarkan himbauan keagamaaan demi kepentingan
perdagangan . Namun Sarekat Islam baru menjadi partai politik dalam arti sebenarnya
ketika menjadi Sarekat Islam Merah , dan dikembangkan selanjutnya oleh J M F
Sneevliet . Tiga bulan kemudian lahir sebuah partai yang didirikan oleh Ernst Francxois
Eugene Douwes Dekker pada 25 Desember 1912 yang membawa aspirasi nasionalisme
Hindia Belanda yang menuntut kebebasan Hindia Belanda untuk menjadi milik orang
yang tinggal di Hindia . Dua partai inilah yang bisa dikatakan sebagai cikal bakal dari
semua partai politik dalam arti sebenarnya yang kelak berkembang di Indonesia . Namun
orang yang paling sadar untuk menciptakan partai politik sebagai suatu organ modern
adalah Mohammad Hatta . Melalui Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda , dengan
kontak-kontak yang teratur ke Batavia akhirnya didirikan baik Partai Nasional Indonesia
maupun Pendidikan Nasional Indonesia Baru . ( Dhakidae 1981 : 4 – 5 )

4
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Radikalisme dalam pergerakan nasional terutama bersumber pada paham komunisme .


Paham ini dengan pelbagai cara bisa menyusup dalam pelbagai organisasi
kemasyarakatan . Orang-orang Komunis masuk ke Serikat Islam dan akhirnya
menyebakan perpecahan antara golongan kanan (Tjokroaminto ) dan golongan kiri
( Semaoen-Darsono ) dalam Sentral SI yang berkedudukan di Surabaya itu. Juga dalam
perburuhan timbul pertentangan antara Semaoen (PKI ) dan Soeryopranoto (SI ) .
Kemudian ketika Komintern melarang partai-partai komunis di Asia bekerja sama
derngan Pan Islam, timbul pula pertentangan dengan organisasi Muhammdiyah . Untuk
mempertahankan keutuhan SI , mula-mula golongan kanan dalam SI memindahkan
Sentral SI dari Surabaya ke Yogyakarta . Dengan demikian diharapkan pengaruh
Marxisme dikurangi . Akhirnya pada 1921 SI melarang anggota-anggotanya merangkap
dalam organisasi lain, sehingga orang-orang PKI dalam SI terpaksa keluar dari SI dengan
adanya disiplin partai .( Leiressa, 1985 : 54 ) Persaingan intern ini berakhir dengan suatu
perpecahan terang-terangan antara kedua fraksi itu, yang kebanyakan anggotanya
menggabungkan diri dengan Partai Komunis Indonesia yang telah terbentuk pada tahun
sebelumnya ..

Serikat Islam mempunyai tujuan-tujuan politik yang ambisius . Tetapi sayangnya, SI


tidak banyak mencapai tujuan-tujuan politiknya . Ini terutama disebabkan oleh kurang
sempurnanya organisasi pada tingkat lokal dan kurangnya kader-kader yang terlatih .
Kegagalan di bidang politik merupakan salah satu sebab bagi merosotnya kepopuleran
gerakan itu setelah tahun 1915 . Akan tetapi, sebaliknya , SI telah membuat rakyat
Indonesia betul-betul sadar , untuk pertama kalinya , terhadap keterbelakangan mereka di
bidang sosial dan ekonomi jika dibandingkan dengan golongan-golongan yang mendapat
keistimewaan dalam masyarakat Hindia Belanda seperti orang-orang Eropa dan Tionghoa
Gerakan tersebut juga mengilhami rakyat berbuat sesuatu untuk mengubah keadaan
mereka sendiri . Walaupun masa keberhasilannya sebagai sebuah organisasi politik massa
singkat . Sarekat Islam telah meninggalkan suatu warisan yang kekal . Untuk beberapa
waktu setelah tahun 1912 , organisasi itu berhasil menyalahkan rasa tidak puas rakyat di
seluruh kepulauan itu dan menghidupkan harapan dan daya imajinasi rakyat jelata .
( Korver , 1986 : 22 – 25 )

Sebagai pemimpin perjuangan anti- kolonial , yang tidak dapat perlindungan dari SI .
PKI sekarang harus menghadapi tindakan penindasan pemerintah secara langsung .
Tindakan apa pun yang mereka lakukan , para pemimpin PKI dapat dikenakan tahanan ,
namun demikian yang menyebabkan bagian besar pengikut SI tertarik pada PKI ialah
karena PKI merupakan suatu tantangan yang militan terhadap Belanda , dan rakyat tidak
lagi akan tertarik apabila aksi tidak ada.

Akibat dari tindakan keras pemerintah , ditambah lagi dengan penderitaan yang
disebabkan oleh depresi , membuat orang lebih banyak marah daripada patah semangat ,
dan mengajukan protes kepada PKI . Yang mereka harapkan dari kaum Komunis ialah
aksi revolusioner , menurut mereka hanya penggulingan pemerintah Belanda yang akan
dapat membawa penyelesaian yang sesungguhnya , dan mereka tidak mau lagi
mendengarkan argumentasi tentang perlunya persiapan yang sabar . Pada waktu yang
bersamaan , PKI telah kehilangan sebagian besar dari para pemimpinnya yang lebih

5
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

berpengalaman dan moderat , sehingga gerakan itu semakin jatuh ke tangan mereka yang
berkepala panas yang keinginannya melancarkan suatu revolusi jauh melebihi
kemampuan melaksanakannya . Pada akhir tahun 1924 partai tersebut mengambil sebuah
putusan dalam prinsip untuk mempersiapkan revolusi . Selama satu setengah tahun
berikutnya , PKI semakin dipengaruhi oleh dorongan-dorongan anarkis , lebih suka
menurut keinginan naluri untuk memberontak daripada memperhitungkan realitas
kekuasaan yang ada .

Pemberontakan tahun 1926/27 itu lebih merupakan suatu tindakan putus-asa daripada
suatu percobaan yang dapat dianggap untuk merebut kekuasaan . Pemberontakan itu
dengan mudah ditumpas oleh pemerintah , oleh karena organisasi Komunis pada waktu
itu sudah begitu dilemahkan oleh tindakan polisi dan tekanan-tekanan anarkis sehingga
pemberontakan itu tidak terkoordinasi dan hanya lokal sifatnya . Namun demikian, ia
merupakan bukti rasa tidak puas orang Indonesia . PKI hancur dalam proses penindasan
secara besar-besaran sebuah kamp konsentrasi diadakan di sebuah daerah terpencil di
Irian Barat , Boven Digul , dan banyak kaum pemberontak dan kader-kader Komunis
mengakhiri hidup mereka di sana .

Walaupun gagal , gerakan Komunis di zaman kolonial memang meninggalkan pengaruh


yang dalam pada kehidupan politik di Indonesia . Kita dapat menyaksikan hal ini dengan
terus kuatnya pengaruh konsep-konsep Marxis dan tujuan sosialisme , dalam cara
pendekatan yang lebih ditekankan untuk orang-orang biasa daripada golongan atas . dan
peranan yang dini dari organisasi buruh . Cukup banyak orang-orang yang terkesan oleh
ide-ide ini dan oleh perjuangan yang bersemangat biarpun sia-sia dari partai itu melawan
pemerintahan kolonial untuk mempengaruhi pada perkembangan partai-partai nasionalis
setelah tahun 1927 dan memungkinkan bangkitnya kembali Komunisme Indonesia pada
tahun 1945 . ( McVey, 1983 : 29 – 31 )

Disingkirkannya PKI timbul suatu kekosongan dalam gerakan nasionalis ; gerakan ini
memerlukan pengarahan dan pimpinan yang baik dari sisa-sisa organisasi-organisasi
politik yang ada maupun dari pembentukan partai-partai baru . Perhimpunan Indonesia
dan Kelompok Studi Umum berkeinginan membentuk suatu partai baru . Inisiatif berada
pada Kelompok Studi Umum dan pada tanggal 4 Juli 1927 diputuskan untuk menyatakan
secara terbuka rencana partai politik baru yang akan dinamakan Perserikatan Nasional
Indonesia dengan bantuan dari Perhimpunan Indonesia . Tema-tema utama dari
propaganda PNI mengenai watak dari hubungan yang bersifat penjajahan dan konflik
yang tak terelakan antara penguasa dan yang yang dikuasai ; perlunya suatu front sawo
matang untuk melawan front kulit putih , perlunya suatui front matang untuk melawan
ketergantungan psikologis kepada Belanda dan melalui usaha sendiri mencapai
kemerdekaan ; perlunya membentuk suatu “negara dalam negara “ ( Ingelson , 1983 : 31
– 36 )

Rapat-rapat umum yang terorganisasi baik di selenggarakan .Timbulnya kegairahan buat


sebagiannya adalah hasil suasana emosional yang diciptakan di gedung-gedung
pertemuan : Bendera PNI – merah dan putih dengan kepala kerbau di tengah-tengah -
terlibat di mana-mana dengan warna pola merah putih yang menghiasai podium

6
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Seringkali lagi lagu-lagu patriotik dinyanyikan oleh peserta rapat sebelum pembicara-
pembicara utama datang . Tetapi daya tarik utama partai ialah pidato yang diucapkan
oleh Soekarno . Soekarno lebih dari para nasionalis yang lain pada waktu itu , mengerti
bahwa para pendengarnya belum sembuh betul dari tekanan politik setelah
pemberontakan PKI dan bahwa lebih dari hal-hal lainnya , perlulah dipulihkan
kepercayaan diri mereka dengan menunjuk bahwa adalah tidak mustahil memaksakan
suatu perubahan dalam sistem, kolonial . Itulah sebabnya ia dengan sengaja
menampilkan diri sebagai seorang politikus yang kuat , percaya diri dan agresif yang siap
menentang pemerintah . ( Ingelson , 1983 : 68 )

Ditangkapnya Soekarno dan para pemimpin PNI lainnya menyebabkan terhentinya segala
kegiatan PNI . Setelah Soekarno dinyatakan bersalah , parati itu dibubarkan dan sebuah
partai baru menggantikannya- yaitu Partai Indonesia ( Partindo ) di bawah pimpinan
Soekarno sebagai ketua . Biar bagaimanapun , partai ini adalah PNI dengan mana lain ,

Soekarno telah menegaskan pentingnya rapat-rapat umum , membangkitkan suatu


keterikatan emosional terhadap “Indonesia Merdeka “ dan pengerahan massa sesegara
mungkin guna memaksanakan kemerdekaan dari Belanda . Ketika Moh Hatta
menyaksikan drama tahun 1928 dan 1929 dari negeri Belanda , ia semakin tidak setuju
dengan cara Soekarno memimpin PNI . Ia ingin agar PNI terlebih dahulu membuat
organisasi yang kuat dan kader-kader yang sadar politik untuk kemudian secara pelan-
pelan berkembang menjadi sebuah partai massa . Hanya dengan cara ini , demikian
menurut pendapatnya , sebuah partai nasionalis akan dapat terus hidup walaupun ditekan
oleh pihak Belanda . Ia tidak merasa heran ketika Soekarno dan para pemimpin PNI
lainnya ditangkap di bulan Desember 1929 . Secara terbuka Hatta mendesak teman-
temannya di Indonesia agar menggunakan taktik-taktik baru .

Hatta mendorong pembentukan sebuah partai nasionalis yang lain daripada Partindo . Di
bulan Desember 1931 , Pendidikan Nasional Indonesia Baru dibentuk di Yogyakarta .
Bila Partindo meneruskan gaya PNI yang lama , dengan sangat menekankan pada rapat-
rapat umum yang besar , pidato-pidato menggugah semangat oleh Soekarno , dan suatu
usaha untuk menghadapkan Belanda dengan dengan sebuah partai massa yang besar
sesegara mungkin . PNI Baru memusatkan usaha untuk memperoleh dan mendidik kader-
kader yang berdisplin tinggi dan pembangunan sebuah struktur organisasi .

Bidang-bidang di mana tidak ada kesepakatan antara para pemimpin PNI Baru dan
Partindo kadang-kadang menjadi bahan persaingan yang sengit yang secara permanen
jelas akan mempengaruhi hubungan antara orang-orang dari kedua partai tersebut .Akan
tetapi , pada akhirnya tidak satu pun dari kedua partai itu yang dapat selamat dari
tindakan keras kedua yang diambil pemerintah . Pada bulan Agustus 1933 Soekarno
ditangkap dan Partindo secara praktis dilarang . Dalam bulan Februari 1934 Hatta dan
Sjahrir ditangkap dan partai itu pun secara praktis dilarang . Hatta dan Sjahrir diasingkan
ke Boven Digul , sedang Soekarno diasingkan ke Flores. ( Ingelson , 1986 : 58 – 60 )

Gabungan dari depresi ekonomi dan tindakan penindasan pemerintah mempunyai akibat
yang melumpuhkan kehidupan politik Indonesia , suatu akibat yang berketerusan

7
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

sepanjang tahun 1930-an . Pada umumnya penduduk Indonesia menerima segala


kesusahan yang dibawa oleh tahun-tahun krisis itu dengan cara yang sangat pasrah .
Tidak ada terjadi pemberontakan . Hampir-hampir tak ada yang mereka sanggup terlibat
dalam politik, apalagi tindakan keras pemerintah terhadap partai-partai Indonesia
membuat kegiatan politik menjadi begitu berbahaya . Sepanjang massa itu, politik adalah
urusan mereka yang berpendidikan baik , golongan ningrat dan kalangan yang secara
relatif berada . Partai politik yang tersebar , Partai Sarekat Islam Indonesia ; hanya
mempunyai anggita sekitar 12.000 orang anggota , dan sebagian besar partai lainnya
mempunyai anggota yang jauh lebih sedikit . Banyak di antara mereka yang sebelumnya
aktif di bidang politik beralih kegiatan ke bidang sosial . , ekonomi dan pendidikan .

Dalam masa dari tahun 1935 sampai 1942 , partai-partai Indonesia menjalankan taktik-
taktik parlementer yang moderat . Hanya organisasi-organisasi non-politik dan partai
politik yang bersedia bekerja sama dan setuju punya wakil dalam Volksraad ciptaan
Belanda yang terjamin mendapat sedikit kekebalan dari gangguan polisi. Dan satu-
satunya forum yang secara relatif bebas untuk menyatakan pendapat politik adalah
Volksraad itu . Dengan demikian satu-satunya cara bagi gerakan nasionalis untuk
mengusahakan perubahan inilah dengan jalan mempengaruhi Belanda secara langsung
tidak dengan mengatur dukungan massa.

Banyak kaum nasionalis telah menyetujui taktik-taktik moderat hanya dengan rasa
enggan setelah tahun 1935 . Dihadapkan dengan pendirian Belanda yang tidak dapat
diubah , kaum nasionalis merasa bahwa dalam keadaan-keadaan yang tampaknya
memberi harapan sekaligus – ancaman-ancaman dari luar yang disertai unjuk sikap yang
suka berdamai dari pihak Indonesia – mereka tidak akan dapat mencapai sesuatu .
Tidaklah mengherankan kalau kaum nasionalis ingin berhenti melakukan sesuatu .

Sementara pasukan-pasukan Jepang menyebar ke seluruh daerah kepulauan itu banyak


kaum nasionalis yang telah tidak berhasil mencari kerja sama dengan Belanda kini
dengan rasa percaya mengharapkan pihak Jepang akan mengakui mereka sebagai
pemimpin-pemimpin Indonesia yang sah . Pengaruh penindasan Belanda selama
bertahun-tahun yang merusak kaliber para pemimpin nasionalis ini, terungkapkan ketika
dalam bulan Maret 1942 , para ketua dari PSSI dan Parindra , yang terpukau oleh
gambaran kekuasaan , mulai mempersoalkan tentang komposisi pemerintahan baru .
Dengan cara menghina , orang-orang Jepang mengesampingkan mereka ketika akhirnya
jabatan pemerintah dibagi-bagi . Jepang dengan meninjau kembali ke masa--masa lampau
menghadiahkan kepada Soekarno dan Hatta sebagai tokoh-tokoh yang masih hidup dari
zaman non-kooperasi . Sekali lagi, sejarah telah merintangi kaum nasionalis “koperator “
dalam usaha mengejar kekuasaan ( Abeyasekere , 1986 : 61 – 67 )

Riwayat kehidupan partai-partai politik ini berhenti pada masa pendudukan Jepang pada
saat mana seluruh partai politik berdasarkan keputusan penguasa perang dibubarkan
Namun pendudukan Jepang membawa perubahan penting . Pada masa Jepanglah
didirikan organisasi –organisasi massa yang jauh lebih menyentuh akar-akar di dalam
masyarakat . Namun terdapat perbedaan penting di sini . Partai-partai yang dibubarkan
adalah partai dengan orientasi nasionalis yang mau merombak proses politik , mengusir

8
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

penjajah dengan usaha mobilisasi massa . Sedangkan organisasi massa yang didirikan
Jepang , adalah organisasi quasi-partai , yang didirikan dari atas, disponsori pemerintah
dan untuk melayani kebutuhan birokrasi Jepang memelopori usahanya ini misalnya
dengan mendirikan organisasi yang ditujukan untuk merangkul semua organisasi
nasionalis Yaitu Poesat Tenaga Rakyat ( Poetera ) yang didirikan tanggal 9 Maret 1941
Mungkin saat itu pulalah pertama kali terjadi bahwa bagi suatu organisasi politik atau
quasi-partai politik seperti Poesat Tenaga Rakyat dijanjikan suatu pengambilan bagian di
dalam suatu self-government , Namun Poetera yang dipimpin oleh empat serangkai
Soekarno, Hatta , Ki Hajar Dewantara , KH Mansjur , melakukan kegiatan yang terlalu
luas yang lantas mencurigakan dan karena itu tidak bisa ditolerir Jepang .

Lain halnya yang terjadi dengan Islam. Bilamana kaum nasionalis tidak diberikan
kesempatan untuk mendirikan organisasi lain dari Poetera , maka Islam diberi
kesempatan untuk mendirikan Masyumi , sebuah organisasi federal beranggotakan NU,
Muhamadiyah , dan hanya tokoh-tokoh penting yang boleh menjadi anggota secara
pribadi . Namun mendekati kekalahan Jepang semua organisasi Islam ini juga dibubarkan
lagi oleh Jepang .

Menuju Pemilu 1955

Dengan demikian pada saat diproklamirkan kemerdekaan , masyarakat politik Indonesia


praktis tidak mengenal partai-partai politik . Namun di pihak lain adanya partai politik
merupakan suatu keharusan . Baru pada tanggal 23 Agustus 1945 pemerintah, dalam hal
ini Soekarno menganjurkan didirikan suatu organisasi yang resminya adalah pembantu
presiden namun melaksanakan fungsi partai dan fungsi parlemen yaitu Komite Nasional
Indonesia Pusat yang mau didirikan di mana-mana di seluruh Indonesia .

Dalam pidato yang sama Soekarno menganjurkan lagi pembentukan suatu Partai
Nasional Indonesia , yang bertujuan membela Republik Indonesia yang berdaulat , adil
dan makmur bersandarkan kedaulatan rakyat . Dengan cara memperkuat persatuan
bangsa dan negara , memperbesar rasa cinta, setia , bakti kepada tanah air ;
mengikhtiarkan program ekonomi dan sosial sebagai tersebut dalam Undang-Undang
Dasar Republik Indonesia , membantu tercapainya keadilan sosial dan peri kemanusian
dengan jalan perdamaian internasional ..

Sebenarnya pendirian partai tunggal ini semata-mata untuk menyesuaikan diri dengan
keadaan revolusioner agar kekuatan-kekuatan tidak terpecah belah karena adanya partai
politik .Namun apa yang disebut Partai Nasional Indonesia ini tidak sempat berdiri
Sembilan hari kemudian , tepatnya pada tanggal 1 September 1945 partai tunggal ini ,
dibubarkan karena dianggap berlebih-lebihan , dan terutama dianggap dapat menyaingi
Komite Nasional Indonesia Pusat , karena itu malah dianggap merangsang perpecahan
dan bukan memupuk persatuan . Nasib partai tunggal ini menjadi berantakan ketika pada
tanggal 3 November dikeluarkan lagi sebuah maklumat berdasarkan desakan oleh dan
keputusan Badan Pekerja Nasional Pusat untuk mendirikan sebanyak-banyaknya partai

9
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

politik untuk menyambut pemilihan umum anggota Badan-badan Perwakilan Rakyat


yang sedianya akan diselenggarakan pada bulan Januari 1946 .

Maka sejak dikeluarkannya Maklumat Pemerintah tersebut bertumbuh dan berlomba-


lombalah setiap kelompok mendirikan partai politik . Dari berbagai partai politik yang
timbul bisa disebutkan beberapa partai besar seperti Partai Nasional Indonesia , suatu
partai baru, bukan lanjutan PNI yang didirikan Soekarno , bukan Partai Nasional
Indonesia yang direncanakan sebagai partai tunggal yang tidak jadi didirikan itu. Tanggal
7 November 1945 didirikan Masyumi . Desember 1945 didirikan Partai Sosialis yang
merupakan gabungan antara Partai Sosialis Indonesia ( Amir Sjarifuddin ) , dan Partai
Rakyat Sosialis ( ( Sutan Sjahrir ) . Ketiga partai di atas dianggap sebagai “ Tiga Besar “
pada waktu itu . Lantas muncul Partai Kristen Indonesia , Partai Katolik Indonesia ,
Partai Komunis Indonesia ( Mohammad Jusuf ) , Partai Buruh Indonesia ,dan Partai
Rakyat Jelata .

KNIP memilih Sjahrir dan Amir Sjarifuddin sebagai ketua dan wakil ketua Badan Pekerja
dan diberi hak untuk memilih anggota-anggotanya . Peristiwa inilah merupakan awal dari
pertarungan parlementer , proses adu kekuatan dalam parlemen oleh partai-partai politik
Di lain pihak kekuasaan yang terlalu besar di tangan Presiden dibagi dengan Parlemen
Dengan demikian Sjahrir dan Amir Sjarifuddin yang praktis menjalankan kekuasaan
Kekuasaan yang diberikan kepadanya adalah dasar utama yang dipakainya untuk
merombak sistem satu partai dan membenrtuk sistem banyak partai . Sejak itu kelihatan
bahwa percaturan partai-partai politik mulai muncul ke permukaan . Percaturan utama
adalah merebut posisi untuk menduduki Komite Nasional Indonesia Pusat atau lebih-
lebih dalam Badan Pekerja KNIP . Pengelolalan kekuasaan tetap berada dalam tangan
Partai -partai Sosialis yang sebenarnya bukan partai terbesar akan tetapi dengan semacam
“koalisi” dari seluruh sayap kiri selalu bisa menguasai mayoritas dalam dalam parlemen
sementara itu .

Meskipun demikian kita harus hati-hati menarik kesimpulan tentang kekuatan Partai
Sosialis di sini . Kalau dikatakan tentang keunggulan partai ini , maka keunggulannya
lebih-lebih pada kualitas pimpinannya . Dengan kata lain keunggulan pemimpin-
pemimpin kharismatik partai politik lebih menonjol atau identik dengan kekuatan partai
nya sendiri . Mungkin faktor ini pula yang menjelaskan mengapa Sjahrir dipilih menjadi
Ketua Badan Pekerja dan selanjutnya dipilih pula menjadi Perdana Menteri walaupun
partainya kalah dalam perwakilan . Demikian kita lihat kedudukan dalam parlemen dan
pemerintah cenderung berada pada pribadi-pribadi yang kuat dan karismatik di dalam
kepemimpinannya .

Di pihak lain kita lihat bahwa oposisi terhadap pemerintahan Partai Sosialis ( Sjahrir dan
Amir Sjarifuddin ) bukan datang dari partai lain tetapi dari tokoh kharimaktik lainnya
Tan Malaka. . Pada saat itu Tan Malaka membentuk suatu gerakan massa yang bernaung
di bawah Persetuan Perjuangan dengan mengorganisasi dukungan massa seluas-luasnya ,
di balik pemerintah bukannya melawan pemerintah . Dengan itu ia membuat tawar-
menawar dalam kekuasaan . Tan Malaka dalam pidato yang merupakan arah bagi
Persatuan Perjuangan di Purwokerto menuntut adanya solidaritas politik tunggal dan

10
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

menentang pembentukan partai-partai baru ini Persatuan Perjuangan mendapat dukungan


luas . Dalam tempo singkat 141 organisasi pendukung dibentuk , yang meliputi berbagai
partai politik dan organisasi .

Tahap kedua dalam pertentangan adu kekuatan antara partai-partai politik terjadi ketika
ada usaha –usaha untuk merombak komposisi di dalam KNIP agar lebih mencerminkan
komposisi kekuatan politik nyata yang sedang berlangsung pada waktu itu . Presiden
Soekarno sebenarnya ingin memainkan peranan kembali , dengan menganjurkan untuk
merombak komposisi anggota KNIP , selama pemilihan umum belum jadi berlangsung ,
agar bisa menjadi suatu organ yang cukup representif . Dan untuk itu Presiden Soekarno
mengeluarkan suatu dekrit .

Ketika PNI dan Masyumi memberikan reaksi keras untuk tidak menyetujui keputusan ini
Tetapi Soekarno dan Hatta bersikeras . Pilihan yang tersedia : Soekarno atau Hattta
mengundurkan diri atau KNIP lama dibubarkan , bila Badan Pekerja tidak menerima
dekrit Soekarno . Tidak ada pilihan bagi Badan Pekerja KNIP untuk menarik kembali
keputusannya dan menyetujui perombakan yang diadakan oleh dekrit Soekarno dan
Badan Pekerja KNIP mengesahkannya untuk mempunyai kekuatan hukum .

Sebenarnya kenyataan menunjukkan bahwa kedudukan parlemen , dengan demikian


partai politik, tetap di bawah badan eksekutif . Hal lain adalah bahwa kharisma pribadi ,
political skill dan tokoh-tokoh kharismatik seperti Soekarno , Hatta, Sjahrir jauh lebih
menentukan dari komposisi parlemen . Dalam keadaaan semacam itu bisa dimengerti
betapa perlawanan ekstra-parlementer yang dipimpin oleh golongan kiri di bawah tokoh
karismatisk lainnya Tan Malaka tetap menjadi ancaman terhadap Kabinet Hattta sebagai
perdana menteri dan kebijaksanaan-kebijaksanaannya akan tetapi ingin merombak
seluruh sistem kabinet menjadi kabinet yang bertanggung jawab kembali kepada KNIP
yang berfungsi sebagai parlemen . Pertentangan itu berpuncak pada pemberontakan
Madiun yang melibatkan seluruh sayap kiri.

Ada satu hal yang menarik perhatian dalam peiode ini yaitu dominasi golongan kiri
dalam parlemen dan pemerintahan . Hal ini bisa dijelaskan dengan kenyataan bahwa
banyak tokoh anti imperialisme berasal dari golongan ini, yang tidak saja menang secara
konseptual tetapi jelas dalam cara yang perlu ditempuh .

Setelah penyerahan kedaulatan , kegiatan partai politik terpusat di dalam Dewan


Perwakilan Rakyat Sementara yang merupakan gabungan badan-badan perwakilan dari
negara –negara serikat . Komposisi menunjukkan dominasi unsur Republik Indonesia
Serikat dibandingkan dengan unsur Republik .

Dalam masa ini pula kita saksikan pergeseran kekuatan partai . Bilamana pada masa
sebelumnya Partai Sosialis sekarang Partai Nasional Indonesia dan Masyumi mengambil
alih peranan tersebut . Hal tersebut bukan saja jelas dari komposisi parlemen ( party-
politic ) tetapi juga di dalam posisi-posisi kunci dalam pembentukan kabinet ( cabinet
politics ) . Pada masa ini pula Masyumi dan PNI secara silih berganti memegang peranan
penting baik di dalam parlemen maupun di dalam pemerintahan . Issue pokok pertikaian

11
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

dan adu kekuatan nyata-nyata berpusat pada cabinet politics yaitu berkisar pada partai-
partai yang menjadi pendukung atau penentang : Kabinet Natsir ( Masyumi ) , Kabinet
Sukiman (Masyumi),Kabinet Wilopo ( Koalisi PNI dan Masyumi ),Kabinet Ali I (PNI ) ,
Kabinet Burhanuddin ( Masyumi ) , Kabinet Ali II ( PNI )

Dilihat dari segi kekuatan yang sudah cukup realistis yaitu adanya pemerintahan yang
memerlukan dukungan parlemen, maka di sini dengan jelas sekali kita saksikan
alternation of power yaitu pergeseran kekuasaan bolak balik antara PNI dan Masyumi
Namun dalam masa ini pula muncul kuda hitam PKI yang selalu berhasil merombak
kompromi tersebut tergantung dari jauh atau dekatnya dengan PNI . Dalam masa ini PKI
membuat loncatan jauh ke depan setelah peristiwa Madiun pada tahun 1948 . Dengan
demikian ketiga partai inilah yang memberi warna periode tersebut .

Namun pada masa ini politik partai perlahan-lahan mendapat tandingan dari suatu
kekuatan lain yaitu militer . Angkatan Bersenjata sejak tahun 1952 mulai memantapkan
langkah masuk ke dalam politik secara lebih terencana dan memberikan titik balik dalam
politik Indonesia . Ini berarti bahwa analisa kekuatan partai politik secara parlementer
sangat menceng sifatnya dalam arti bisa mengelirukan bilamana unsur Angkatan
Bersenjata tidak diikutsertakan . Meski demikian politik partai masih bisa bertahan
sampai pemilihan umum pertama berlangsung . Ini berarti pola interaksi tiga besar dalam
politik partai masih bisa memberi warna dasar bagi percaturan politik pada tahun 1950-an
( Dhakidae , 1981 : 8 – 16 )

Partai-partai politik biasanya mewakili kelompok-kelompok ekonomi atau etnis tertentu .


Apakah kesimpulan ini cocok untuk partai-partai politik di Indonesia ? PNI pada
dasarnya merupakan partai kaum priyayi Jawa . Ia memperoleh dukungannya dari
pegawai negeri Indonesia , khususnya dari kelas priyayi dan kelompok yang
berkeyakinan abangan . Dukungan PKI juga berasal dari Jawa , tetapi lebih dari priyayi
rendahan dan petani abangan . Dua partai Muslim mendapatkan dukungan mereka dari
kalangan Muslim yang taat . Para pendukung NU berasal dari santri Jawa dan unsur-
unsur pedagang di kota-kota kecil Jawa Tengah dan Timur , sementara Masyumi
memperoleh dukungannya dari kaum Muslim luar Jawa , para tuan tanah dan pedagang
serta kelompok intelektual Islam modern . Adalah jelas bahwa terdapat unsur-unsur etnis
dan “kelas “ dalam partai-partai politik ini, tetapi hal ini tidak bisa dijelaskan menurut
pengertian kelas semata-mata. Pada kenyatannya , unsur-unsur sosio-kultural lebih lebih
mencolok dibandingkan karakteristik-karakteristik ekonominya . ( Suryadinata, 1992 : 6
–7)

Seperti disinggung di muka bahwa Peristiwa 17 Oktober 1952 salah satu tuntutannya
ialah agar presiden membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat serta mempercepat pemilu
Kesulitan penyelengggaraan pemilihan umum , karena ketiadaan undang-undang yang
mengaturnya , baru bisa diatasi setelah Rencana Undang-Undang Pemilihan Umum yang
telah diserahkan kepada Parlemen pada tanggal 25 November 1952 dapat disahkan pada
tanggal 4 April 1953 . Undang-undang ini dirancang dan disahkan oleh Kabinet Wilopo
Beberapa saat setelah itu Kabinet ini jatuh dan digantikan oleh kabinet Ali yang pertama.
Masa kampanye jath di saat Kabinet Ali tersebut yang juga gugur sebelum terselenggara

12
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Pemilihan Umum . terlaksana . Dalam pemilihan umum yang pertama ini tercatat
41.104.464 penduduk yang berhak memilih . Hanya 37.875.2999 yang memberikan
suaranya , dari 77.987.879 jumlah seluruh penduduk pada tahun 1954 . Dengan kata lain
87,65 persen pemilih menggunakan hak pilihnya . Pemilihan umum pertama ini
diselenggarakan pada tanggal 29 September 1955 atau dalam beberapa hari kemudian
untuk warga negara Indonesia yang telah berusia 18 tahun ke atas atau yang kurang dari
18 tahun tapi sudah kawin melakukan hak politik untuk memilih wakil-wakil mereka di
Dewan Perwakilan Rakyat . Jumlah kursi yang diperebutkan sebanyak 257 buah .
Masing-masing anggota DPR mewakili 300.0000 penduduk . Ditambah dengan tiga
orang anggota yang mewakili Irian Jaya , karena belum memungkinkan diadakan
pemilihan umum , maka wakil rakyat saat itu berjumlah 260 orang , ditambah 6 orang
mewakili golongan Tionghoa , 3 orang golongan Arab dan 3 orang golongan Eropa ,
maka jumlah keseluruhan 272 orang . Kecuali Kalimantan Timur yang tak mendapat
jatah kursi satu pun , pemilihan umum diselenggarakan di 15 daerah pemilihan , 179
kursi diperuntukkan bagi penduduk Jawa . Masing-masing daerah tak sama tanda gambar
( dalam arti jumlahnya ) yang dipilihnya . Jumlah tanda gambar terbanyak terdapat di
Sumatra dan Jawa Tengah , 48 buah , sementara jumlah terkecil pada Kalimantan Selatan
hanya 12 buah , dan dari 172 macam tanda gambar yang menjadi kontestan . Tiga besar,
PNI, Masyumi dan PKI, ditambah PSII dan PSI terdapat di semua daerah pemilihan
Sedangkan NU tak terdapat di Maluku , Parkindo di Kalimantan Barat , Partai Katolik di
Sumatra Tengah . Banyak tanda gambar yang hanya di beberapa daerah pemilihan
tertentu , di samping ada pula yang ada hanya di satu daerah pemilihan saja , seperti
Grinda di Jawa Tengah , MTKAAM di Sumatra Tengah , La Ode Ida Effendi di Sul-
Seltra dari Gereja Pantekosta di Sumatra Utara ( Karim , 1993 : 119 – 120 )

Hasil pemilihan umum 1955 ternyata terjadi kejutan banyak sekali . Barangkali kejutan
terbesar adalah sukses Nahdatul Ulama menaikkan jumlah wakilnya di parlemen dari 8
menjadi 45 , dan perolehan Masyumi yang tidak disangka begitu kecil , khususnya di
Jawa Tengah dan Timur . Kekuatan PNI dan PKI di Jawa Timur dan Jawa Tengah juga
menimbulkan kejutan , meski pun tidak sebesar kejutan Nahdatul Ulama . Banyak
komentar ditujukan pada rendahnya hasil yang dicapai oleh Partai Sosialis , pada hasil
lebih rendah lagi dicapai oleh aliran komunis nasional . Partai Murba , dan pada hampir
hilangnya partai-partai nasionalis kecil , PRN ( Partai Rakyat Nasional ), dua PIR
( Persatuan Indonesia Raya ) Mr Wongsonegoro dan Prof Hazairin , Parindra ( Pariundra
( Partai Indonesia Raya ) , SKI ( Serikat Kerakyatan Indonesia ) , dan Partai Buruh .
Semua partai tersebut memainkan peranan penting dalam kabinet yang bertanggung
jawab pada Parlemen sementara selama lima tahun terakhir . Kendati beberapa pengamat
memang telah meramalkan PNI ( 22,3 % ) , Masyumi ( 20,9 % ) , NU ( 18.4 % ) , dan
PKI ( 16.4 % ) akan muncul sebagai “ empat besar “ , namun tidak seorang pun yang
menduga akan timbul pemilahan yang begitu tajam , dengan partai-partai terkecil dari
empat besar itu , PKI , akan memperoleh suara sebanyak lima kali lipat suara yang
didapati oleh partai terbesar di antara partai-partai kecil, PSII (2,9 % )

Kekuatan tiga dari empat partai besar terpusat di sejumlah kecil wilayah saja . PNI untuk
Parlemen dari Jawa, NU 85,6 % dan PKI 88,6 % , sementara jumlah penduduk Jawa
tidak lebih dari 66,2 % dari penduduk Indonesia . Lebih khusus lagi, kekuatan ketiga

13
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

partai ini terpusat di dua daerah pemilihan , yakni Jawa Timur dan Jawa Tengah . Di
wilayah ini, yang dihuni 45,6 % dari penduduk Indonesia , PNI memperoleh 65,5 % dari
seluruh suaranya , NU 73,9 % dan PKI 74,9 % .

Tersedia sejumlah penjelasan mengenai naik turunnya partai-partai besar tetapi semua ini
bernilai jika dilihat sebagai hipotesis . . Kegagalan Masyumi dapat dikatakan karena juru
kampanye Manyumi terlalu mudah menyebut lawan-lawannya kafir , karena anti-
Komunismenya yang keras , karena konsentrasi partai ini pada kampanye politik bukan
pada kampanye agama, karena terlalu berhati-hati menghindari seruan anti-asing , dan
karena tidak punya program ekonomi . Sama halnya, bisa juga dikatakan sebabnya karena
seruan-seruan anti-Masyumi yang efektif dari partai-partai seperti PNI, PKI , dan NU .
Atau , juga dikatakan karena organisasi Masyumi tidak efektif – kurang menggunakan
tenaga-tenaga ahli organisasi , terlalu banyak konsentrasi pada penerangan umum, dan
sebagainya – dan karena pesaing-pesaingnya punya hubungan yang lebih erat dengan
alat-alat kekuasaan pemerintah . Penjelasan seperti ini juga banyak dijumpai tentang
keberhasilan Nadhlatul Ulama , PNI, dan Partai Komunis Indonesia, serta kegagalan
Partai Sosialis dan berbagai partai nasionalis . ( Feith, 1999 : 83 – 106 )

Naiknya jumlah uara yang diperoleh PNI dan turunnya suara yang didapatkan Masyumi
dan PSI patut diteliti secara lebih mendalam . Kunjungan Presiden Soekarno ke daerah
untuk menyampaikan pidato sebelum pemilihan umum Konsituante mungkin
merupakan faktor yang penting untuk menjelaskan perolehan suara PNI yang meningkat
dan perolehan suara Masyumi dan PSI menurun . Pada pidatonya dalam rapat umum
besar-besaran di Jawa , Sumatra , Kalimantan , dan Sulawesi , ia menuduh ada kelompok-
kelompok yang berusaha menyingkirkan Pancasila , dan ia mencela kelompok-kelompok
itu . Di berbagai tempat ia memperingatkan ada “ golongan sosialis yang tidak
revolusioner “ , dan ia sangat sering mengingatkan bahwa dialah yang mendirikan PNI .
Bagian tidak kalah penting dari perjalanan Presiden ini ialah rasa percaya diri yang
ditimbulkannya pada bagian-bagian tertentu pemerintahan untuk melakukan tekanan-
tekanan guna mendorong orang memilih PNI .( Feith , 1999 : 111 – 112 ) Selama
kampanye pemilihan parlemen , Kabinet Burhanuddin Harahap melarang Soekarno
berkampanye. Namun setelah hasil pemungutan suara pertama mulai masuk , kedudukan
kabinet menjadi jauh lebih lemah dan begitu pula genggamannya terhadap Presiden
Selama dua bulan pemilihan Konsituante , Presiden Soekarno melakukan pidato keliling
yang lama dan menarik massa yang luar biasa . Keberhasilan PNI di wilayah yang pada
umumnya abangan di Jawa Tengah dan Jawa Timur mengukuhkan ciri PNI sebagai
partai Jawa dan abangan dengan pimpinan priyayi ( Rocamora, 1991 : 171 – 172 )

Salah satu hipotesis mengatakan kekuatan Komunis terbesar di daerah-daerah yang


dilanda kemiskinan yang ekstrem , pertanian yang sangat mundur , dan tekanan penduduk
Pesisir Selatan khususnya , adalah daerah gersang dan umumnya tidak mampu memenuhi
sendiri kebutuhan penduduknya akan beras . Penafsiran lain mengatakan , tidak hanya
kemiskinan tetapi juga tradisi yang semakin luntur . Pendukung penafsiran ini
menyebutkan pada satu sisi , baik milik tanah bersama yang makin hilang , jumlah petani
tidak punya tanah yang makin meningkat , dan diferensiasi yang makin besar dalam
kehidupan ekonomi desa ; pada sisi lain , dampak besar pendudukan Jepang dan terutama

14
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Revolusi , yang tidak hanya menimbulkan kerusakan material dan ekonomi serta
perubahan sosial , tetapi juga menciptakan segolongan besar pemuda yang tidak
tertampung dalam pola kehidupan desa dan tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan
pekerjaan di luar desa . Hasil dari semua ini , demikian dikatakan pertarungan kelas di
desa menjadi semakin tajam dan muncul pemimpin-pemimpin politik bagi petani miskin
dan buruh yang tak bertanah ( Feith ,.1999 : 125 ) PKI tidak segan-segan
mengindetifikasikan dirinya sebagai anti-imperialisme, anti-kolonialisme , penyokong
revolusi dan pembela rakyat jelata. Slogan-slogan ini dimainkan dengan agresif oleh
kader-kader partai , dalam upaya meraih simpati massa . (Sd , 1996 : 97 )

Pada 26 Maret 1956 terbentuklah Parlemen hasil pemilihan umum , sedangkan


Konsituante terbentuk pada 10 November . Seberapa besar perubahan yang telah terjadi
dalam kehidupan politik di Indonesia . Apa yang dihasilkan pemilihan umum itu ?
Parlemen hasil pemilihan umum jelas tidak menghasilkan stabilitas politik , dan
kenyataan ini menimbulkan kekecewaan yang semakin besar terhadap lembaga-lembaga
politik yang ada . . Tetapi , pemilihan umum menghasilkan hal-hal lain yang diharap-
harapkan para pemimpin Indonesia . Nilainya sebagai pendidikan politik sangat besar ;
pemahaman tentang politik tingkat nasional oleh penduduk desa-desa di Indonesia sangat
meningkat . Pemilihan umum juga menghasilkan pemahaman yang lebih besar di Jakarta
tentang desa Indonesia dan menyingkapkan sejumlah mitos politik dan sosiologis yang
sebelumnya diterima oleh para perencana sosial dan para politisi di ibukota . Pemilihan
umum menimba dari sumber kepemimpinan dan menyediakan tempat bagi wakil-wakil
sejumlah kelompok-kelompok sosial yang sebelumnya tidak terwakili . Pemilihan umum
membantu memperkuat kesadaran seluruh rakyat Indonesia , karena memberikan pada
kelompok-kelompok masyarakat yang cukup luas rasa turut memainkan peran dalam
memecahkan persoalan-persoalan bangsa . Pemilihan umum juga bernilai untuk
penerangan ke luar negeri . Bahwa pemilihan umum ini diselenggarakan , dan
diselenggarakan dengan sukses , merupakan bukti nyata bagi kebenaran ucapan kaum
nasionalis Indonesia dalam menghadapi pihak-pihak yang bersikeras mengatakan orang
Indonesia belum mampu menjalankan pemerintahan sendiri .

Pentingnya arti akibat-akibat sosial dari penyelenggaraan kampanye di desa Indonesia


telah dikemukakan di atas . Kita dapat mengatakan dampak itu , misalnya , mengangkat
kepermukaan dan mengakui keabsahan konflik sosial di desa-desa, mengikis kekuasaan
berdasar tradisi , dan menciptakan kelompok sosial baru di desa-desa dengan tradisi yang
makin luntur . Kampanye itu menawarkan tantangan yang kuat terhadap cita-cita sosial
milik masyarakat yang berlandas status yang tidak siap karena tradisi mengakui
kehadiran kepentingan-kepentingan yang bertentangan . Kampanye mengakibatkan
kekacauan sosial di beberapa daerah , terutama kampanye yang ekstrem ,intimidasi ,
janji-janji pembagian tanah dan sejenisnya , di berbagai tempat timbul ketegangan
psikologis yang besar . Beberapa corak kegiatan kampanye menimbulkan harapan-
harapan yang tinggi bahwa kehidupan ekonomi dan sosial seakan menjadi lebih baik
dengan cepat . Sulit menilai sampai seberapa jauh berbagai dampak ini sama dan
sebangun dengan hasil-hasil akhir pemilihan umum yang dimaksudkan oleh para
pemimpin nasionalis . Meski demikian , penilaian apa pun mengenai apa yang telah

15
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

dicapai dengan penyelenggaraan pemilihan umum ini harus memperhitungkan berbagai


dampak yang penting ini .

Karena situasi kehidupan di desa , tempat berdiam bagian terbesar orang Indonesia , dan
kerena pemilihan umum ini adalah yang pertama , sulit mewujudkan kerahasian pilihan
Jalinan berbagai kewajiban sosial yang mengikat yang menjadi ciri sebagian besar desa-
desa Indonesia tidak memungkinkan pemberian suara yang bebas , dalam arti setiap
orang bebas sebebas-bebasnya menentukan pilihannya . Tetapi , situasi kehidupan di desa
Indonesia tidak banyak berbeda dari sutuasi kehidupan di desa negara-negara Eropa
( Feith , 1999 : 127 – 132 )

Pendatang baru Golkar

Sesudah pemilihan umum wewenang parlemen surut dengan cepat . Hanya sebagian kecil
elite politik yang benar-benar terikat dengan sistem ini, dan sebagian besar pemimpin ini
pun sekarang tidak lagi disukai di partai mereka sendiri, atau tidak lagi berkuasa di
parlemen , atau tidak kedua-duanya . Pemilihan umum telah dilihat sebagai obat , tetapi
tidak ada satu partai pun yang memperlihatkan komitmennya pada rakyat , dan segera
kelihatan bahwa manuver politik di parlemen berlanjut seperti sebelumnya . Bahkan
seandainya ada sebuah partai besar atau sebuah kabinet koalisi yang stabil diragukan
apakah hasil akhir akan banyak terpengaruh karena beberapa kekuatan di luar parlemen
tidak lagi mau membiarkan perpecahan di antara mereka diselesaikan di gelanggang
parlemen

Pada tahap pertama Demokrasi Terpimpin , 1959 - 1962. Presiden harus berbegai
kekuasaan dengan Angkatan Darat . Banyak perwira merasa bahwa Angkatan Darat
berhak dan berkewajiban – karenanya dalam revolusi dan karena kemampuan memimpin,
kemampuan politis , dan kemampuan teknis para anggpotanya – menjadi peserta yang
sah dan permanen dalam sistim politik , termasuk segi-segi pemerintahan yang tidak
langsung bertanggung jawab terhadap lembaganya . Tetapi tidak banyak pemimpin
Angkatan Darat yang menginginkan rezim militer sebagai pengganti pemerintahan
parlementer . Sebaliknya , mereka – seperti halnya politikus sipil, wartawan , dan yang
lain pada masa sulit itu – menerima kritik Soekarno terhadap demokrasi liberal dan saran-
saran perbaikannuya . Angkatan Darat juga menyadari bahwa – bagi banyak kalangan di
luar militer – koalisi dengan Presiden menjadikan sahnya keikutsertaan mereka dalam
memperoleh kekuasaan baru .

Jadi ada dua kekuatan besar yang merupakan peserta dan pesaing kekuasaan yang
mengejar kepentingan-kepentingan tertentu , di samping mempertahankan dan
memperluas konsepsi tentang masyarakat yang baik yang hendak diciptakan . Tidak
adanya atau lemahnya lembaga-lembaga lain menyebabkan kedua kekuatan itu juga
menjadi ajang utama partisipasi dan pusat pengambilan keputusan yang menarik semua
calon pelaku politik . Demikianlah , kedua kekuatan tersebut cenderung memisahkan
hubungan dan wilayah tanggung jawab , meskipun terjadi banyak tumpang tindih dan
persaingan . Pengaruh Presiden yang utama tampak dalam perumusan ideologi ( yakni

16
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

menentukan identitas bangsa dan maknanya , tujuan-tujuan yang perlu diperjuangkan dan
cara untuk mencapainya ) , dalam segi mobilisasi politik rakyat , dan dalam
melaksanakan politik luar negeri . Yang paling dekat dengan dan dilindungi oleh
Presiden serta mengejar berbagai kepentingan malalui presiden adalah PNI, PKI dan
kadang-kadang NU dan Parkindo , juga beberapa unsur birokrasi pemerintah pusat , dan
sejumlah kepentingan bisnis Cina . Lingkungan pengaruh terntara terasa di bidang-bidang
yang sudah disebutkan terdahulu – yakni dalam masalah intern tentara itu sendiri , pada
pemerintahannya daerah di luar Jawa , dan pengelolalan atas perusahan serta perkebunan
bekas milik Belanda. Mereka yang memperjuangkan otonomi daerah , para bekas
pemimpin Masyumi dan PSI , Partai Katolik serta kadang-kadang Parkindo dan NU , dan
sebagian besar mereka yang menginginkan adanya perhatian yang lebih besar terhadap
stabilisasi dan pembangunan ekonomi , sering sampai pada suatu titik di mana mereka
tidak dapat memasuki gelanggang politik nasional . Tetapi kekuatan-kekuatan lain juga
tidak tinggal diam dan Angkatan Darat sedikit banyak mencerminkan seluruh spektrum
politik, termasuk Jawa dan pulau-pulau di luar Jawa , wiraswataan dan birokrat , mereka
yang pro dan antikomunis , dan sebagainya .

Pada tahap kedua Demokrasi Terpimpin , 1963 – 1965 , ditandai oleh peran utama PKI
dalam kehidupan politik . Kelihatannnya prakarsa telah berpindah dari Angkatan Darat
( yang sesudah 1960 sibuk mengkonsolidasikan apa yang sudah dicapainya dan
mempertahankan kedudukannya ke Presiden Soekarno ( yang rumusan ideologinya dan
kedudukan politiknya makin lama makin sejalan dengan rumusan dan kedudukan PKI )
dan ke PKI sendiri ( yang menyerang lawan-lawannya secara lebih berani daripada
sebelumnya ).

Keberhasilan dan kemajuan PKI disebabkan oleh banyak peristiwa , terutama


kegiatannya di tingkat bawah ( dan mistik yang diciptakan oleh kegiatan-kegiatan itu )
dengan meminjam nama Soekarno . Hal ini membuat PKI dan Angkatan Darat bersaing
secara serius mengenai masa depan Indonesia . Di desa-desa terutama di Jawa Timur dan
Tengah dan juga di daerah-daerah terpencil lainnya seperti perkebunan di Sumatra Timur,
PKI tidak tertandingi dalam hal kemampuan berorganisasi atau tingkat kegiatannya .
Sejak awal 1950-an partai itu telah melopori pembentukan ormas-ormas partai dengan
tujuan khusus untuk memperoleh dukungan para pekerja, petani , pemuda, wanita m dan
lain-lain . Menjelang 1965 ormas-ormas ini mengaku mempunyai anggota sebanyak 23
juta orang . Sebaliknya , sesudah berlomba-lomba mengembangkan organisasi pada
pertengahan 1950-an , kebanyakan partai lain cenderung mengabaikan pembinanan basis
massa dan memusatkan kegiatan masing-masing untuk memperoleh dukungan segera
dari kaum birokrat sipil dan militer yang berkuasa . Di samping itu , para pemimpin PKI
dikenal tidak borjuis dan sangat berdisiplin . Lagi pula, kebanyakan partai lain terkoyak
oleh faksionalisme dan sebagan besar pemimpinnya ketahuan menjajakan pengaruh Pada
1964 dan 1965 , melalui serangkaian aksi sepihak ( dilakukan oleh ormas-ormas petani
PKI guna menegakkan undang-undang land reform pada 1960 dan sejumlah kegiatan
agitasi massa , kelihatannya PKI berhasil mempertunjukkan – kepada partai-partai lain ,
kepada Soekarno , dan terutama kepada Angkatan Darat – haknya untuk berbicara atas
nama rakyat Indonesia . ( Liddle, 1992 : 180 – 188 )

17
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Di bawah sistem ini , peranan parlemen mulai merosot , dan bersamaan dengan itu
merosot pula peranan partai-partai politik kecuali PKI .Partai politik yang tersisa hanya
10 partai politik ( PNI, NU,Partai Katolik , Parkindo , Murba , PSIII , IPKI, PKI,
Partindo, dan Perti ) , setelah melarang Masyumi dan PSI . Kedua partai yang terakhir ini
terlibat dalam pemberontakan di Sumatera pada 1958 yang akhirnya ditumpas oleh
tentara yang pro-Soekarno . PKI bersama dengan dua kekuatan politik lain – Presiden
Soekarno dan Angkatan Darat – merupakan tiga kekuatan ekstra parlementer yang
penting di Indonesia. Dengan terjadinya pergolakan politik pada 1965 , PKI maupun
Soekarno segera tersingkir dan dari percaturan ; angkatan darat muncul sebagai aktor
politik terpenting .

Partai-partai politik minus PKI dan Partindo ( Partai Indonesia ) yang bersyap kiri , masih
bisa bertahan setelah peristiwa 1965 . Penguasa baru bermaksud untuk mempertahankan
suatu bentuk pemerintahan konsitusional di mana partai-partai politik masih mempunyai
peranan . Tentara mengembangkan sebuah organisasi yang dikenal (Sekber Golkar )
menjadi sebuah kuasi partai politik yang dikenal sebagai Golongan Karya Walaupun
demikian militer tidak menganggap Golkar sebagai partai politik kecuali sebagai suatu
kelompok kekaryaan . Ini sebagian merupakan reaksi kepada partai-partai politik di masa
lalu yang di mata pemegang kekuasaan baru itu dilihat sebagai sumber kekacauan politik
dan kebangkrutan ekonomi negara . Penguasa baru menganggap ini terjadi karena
perhatian yang berlebih-lebihan pada ideologi politik oleh pihak partai-partai politik .
Para pemimpin baru ini mengklaim bahwa Golkar dikembangkan dalam rangka
meluruskan penyimpangan seperti itu, karena “Golkar berorientasi pada program “ Ia
terdiri dari “kelompok-kelompok kekaryaan : ( functional groups ) yang bersifat “a-
politis .” Tapi ini tentu tidak benar karena Golkar mempunyai Pancasila sebagai
ideologinya sejak didirikannya .

Adalah menarik untuk dicatat bahwa penggunaan kata Indonesia untuk istilah “
kelompok fungsional “ ( kelompok kekaryaan ) tidak ada sangkut pautnya dengan istilah
“fungsi “ dalam pengertiannya yang lazim .ara sederhana ia berarti kelompok yang tidak
mengaitkan dirinya dengan partai politi-partai politik atau organisasi-organisasi politik.
Himpunan dari kelompok-kelompok kekaryaan ini, yang didalamnya termasuk militer ,
dikatakan telah mempunyai eksistensinya dalam UUD 45 . Di dalam UUD 1945
disebutkan tentang beberapa macam kelompok kekaryaan ini. Keterlibatan pertama
kelompok-kelompok semacam itu dalam politik Indonesia bisa dilacak pada
pembentukan KNIP ( Komite Nasional Indonesia Pusat ) pada 1946 yang berfungsi
sebagai parlemen Indonesia hingga 1949 . Kendatipun demikian , apa yang disebut
kelompok-kelompok kekaryaan itu istilah dengan golongan-golongan , bukannya
Golongan Karya , dan merujuk pada koperasi-koperasi, serikat-serikat buruh ,
perkumpulan-perkumpulan petani, dan organisasi-organisasi kaum muda . Tentara, yang
kini dianggap sebagai salah satu kelompok kekaryaan , sama sekali tidak disebut-sebut
Tentara pertama kali dimasukkan sebagai sebuah kategori menjelang periode Demokrasi
Konsitusional ( 1949 – 1958 ) . Inilah periode dimana situasi politik Indonesia memberi
kesempatan kepada militer untuk terlibat dalam politik . ( Suryadinata , 1992 : 8 - 9 )

18
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Berkaitan dengan pemilihan umum , sebenarnya partai-partai pemenang pemilu 1955


melihat kesempatan untuk meraih kemenangan baru dengan merebut semua suara yang
ditinggalkan oleh partai besar lainnya sudah ditumpas yaitu Partai Komunias Indonesia .
Karena itulah partai-partai politik termasuk yang paling bergairah untuk secepatnya
menyelenggarakan pemilihan umum .Di lain pihak militer yang sudah memegang kendali
politik bersikap hati-hati dan penuh perhitungan dan bila perlu bermain keras untuk
memaksakan kehendaknya kepada partai-partai politik peserta pemilihan umum . Di
pihaknya militer tidak rela bila kendali politik yang sudah berada dalam genggamannya
tergelincir hanya oleh pemilihan umum . Karena itu sebelum pemeilihan umum
dilangsungkan harus ada kepastian-kepastian .

Untuk menjamin kepastian tersebut maka beberapa partai politik yang dianggap bisa
menjadi penghalang bagi keinginan pemerintah dan tentara digarap . Partai Nasional
Indonesia , yang terkenal dekat dengan Presiden Soekarno menjadi sasaran yang pertama
Bulan April 1966 PNI didesak oleh pemerintah untuk mengadakan kongres partai . Surat-
surat kuasa untuk memasuki sidang diperiksa ketat oleh tentara . Hasil kongres adalah
disingkirkannya para pemimpin yang dianggap masih setia pada Soekarno .

Sejak tahun 1967 ada kampanye “ pengordebaruan “ oleh Pangdam VII , M Jasin di Jawa
Timur tempat PNI mendapat anggota terbanyak , di mana pendukung-pendukung
Soekarno juga terbanyak . Kampanye “ pengordebaruan “ ini praktis berarti
melumpuhkan PNI . Banyak cabang-cabangnya ditutup, dilarang rapat-rapat terbuka
diselenggarakan oleh PNI, dibekukan beberapa ormas mahasiswa PNI . Kampanye yang
sama dilakukan di Sumatra Utara .

Para bekas anggota partai Masyumi yang dibubarkan Soekarno ingin menghidupkan
kembali partai tersebut . Pada mulanya tidak mendapat izin . Tetapi akhirnya mendapat
izin dengan syarat tidak mendudukan gembong-gembong lama Masyumi sebagai anggota
pimpinan partai . Akhirnya sebuah partai dengan unsur-unsur Masyumi diakui oleh
pemerintah pada bulan Februari 1968 bukan dengan nama historis Masyumi tetapi
dengan nama Partai Muslim Indonesia ( Parmusi ) . Ketua yang diangkat harus mendapat
tempat di kalangan pemerintah dan tentara .

Setelah digarapnya partai-partai dan dijaminnya posisi ABRI yang masuk ke dalam DPR
karena diangkat , rencana undang-undang disahkan pada tanggal 22 November 1968
Maka setelah mengalami perjalanan panjang selama 10 tahun ( sejak tahun 1959 )
akhirnya disahkan juga undang-undang tentang pemilihan umum yang kedua . Namun
rencana undang-undang tersebut tidak kurang mendapat reaksi dari berbagai pihak . Para
pengeritiknya menganggap bahwa undang-undang tersebut menyetujui adanya sejumlah
orang yang dipilih dan sejumlah orang yang diangkat , semuanya adalah pengikaran
terhadap demokrasi dan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 . ( Dhakidae ,
1981 : 28 – 30 )

Kendati Sekber Golkar telah direorganisasi dan orang-orang Soeharto yang di dalam
maupun di luar Hankam telah muncul sebagai pengendali , organisasi ini masih belum
merasa pasti apakah ia akan meraih kemenangan besar dalam pemilu Juli 1971 . Ini

19
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

karena kekuatan Sekber Golkar sebagai mesin pemilu belum lagi teruji , sementara
partai-partai politik yang ada , walaupun mereka telah diperlemah selama Demokrasi
Terpimpin , masih merupakan penantang-penantang utama , setidaknya dalam pikiran
para pemimpin Sekber Golkar dan partai-partai politik .

Pemerintah tampaknya telah benar-benar siap menghadapi pemilihan umum . Partai


pemerintah , Sekber Golkar , telah membuat “ Akselerasi Modernisasi “ untuk Indonesia
dalam jangka 25 mendatang sebagai tema pokok kampanye pemilu . Sekber Golkar yang
menjadi simbol dari pembangunan yang pesat dan modernisasi menampilkan dirinya
sebagai alternatif satu-satunya untuk modernisasi Indonesia .

Kampanye dikendalikan oleh sebuah organisasi baru yang didirikan di dalam Sekber
Golkar, Bapilu . Organisasi Bapilu ini sejajar dengan Sekber Golkar , dalam arti ia
memiliki panitia pusatnya di tingkat nasional, sekalgus sub-sub komitenya di tingkat
provinsi dan kabupaten . Orang-orang yang ditugaskan organisasi ini di tingkat pusat
adalah Moertopo sendiri , meskipun secara formal Ketua Bapilu adalah Kolonel
Supardjo, dan bendaharanya adalah Moerdopo . Ada juga beberapa orang Ali Moertopo
lainnya yang terlibat dalam organisasi itu . Pada kenyataannya, militer , cendikiawan ,
pejabat-pejabat inteljen ( Opsus ) , dan para cukong , menjadi komponen-komponen
penting Bapilu . Sebuah Koran baru , Suara Karya, juga diterbitkan oleh kelompok
Moertopo sebelum Pemilu untuk bertindak sebagai Sekber Golkar . Bapilu begitu aktif
dalam Pemilu 1971 , meskipun ia bukan aktor tunggal .

Sebelum pemilu, Sekber Golkar mulai membentuk Korps Karyawan di berbagai


departemen pemerintah , kementerian dan lembaga-lembaga . Tampak sekali faksi
Moertopo-Sukowati berada di balik usaha ini . Tampak sekali bahwa faksi Moertopo-
Sukowati berada di balik usaha ini . Tujuannya adalah menggalang dukungan kepada
Golkar selama pemilu . Akan tetapi jauh sebelum dibentuknya korps-korps karyawan ini,
sudah ada Kokarmendagri yang cukup kuat . Tidak diragukan bahwa Kokarmendagri
yang memberikan sumbangan yang penting dalam kemenangan Sekber Golkar dalam
pemilihan umum .

Kokarmendagri, yang anggota-anggotanya terdiri dari pegawai-pegawai Departemen


Dalam Negeri , diketuai oleh Menteri Dalam Negeri sendiri . Letjen Amir Machmud .
Pada 1969 , kementerian ini mengeluarkan Peraturan Menteri No. 12 ( Permen 12 ) yang
menetapkan bahwa pegawai negeri tidak boleh menjadi anggota partai politik manapun
Di samping itu , dia mengeluarkan pula Peraturan Pemerintah No 6 /1970 yang
menetapkan bahwa pegawai negeri hanya boleh memiliki “mono-loyalitas “ . Dua
peraturan ini diperlukan untuk memutus semua hubungan dengan partai-partai politik
Ketika pemilihan umum dilakukan , semua pegawai negeri di instruksikan untuk
memberikan suaranya bagi Sekber Golkar ,. Tampak sekali Kokarmendagri merupakan
sebuah komponen Sekber Golkar , tetapi ia independen dari kelompok Moertopo
Terdapat persaingan untuk mendapatkan kendali atas pegawai negeri di antara kelompok-
kelompok yang disebutkan di atas .

20
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Meskipun terdapat berbagai “pusat-kekuasaan “ yang berbeda-beda ini, sebagai satu


kelompok Sekber Golkar tetap bekerja keras untuk memenangkan pemilu . Dalam hal
kampanye , Bapilu adalah yang paling aktif . Banyak pengamat mencatat bahwa Bapilu
merupakan instrumen yang membuat kampanye pemilu begitu berhasil .Sekber Golkar
mau mengeluarkan sejumlah dana untuk mendukung kampanye-kampanye itu . Sangat
jelas bahwa Golkar mempunyai lebih banyak uang daripada yang dimiliki oleh partai
politik lain manapun . Partai-partai oposisi bahkan menuduh Sekber Golkar pada
umumnya dan Bapilu khususnya menggunakan uang untuk membeli beberapa tokoh
agama . Sebelum Bapilu . Guppi ( Gabungan Usaha-Usaha Perbaikan Pendidikan Islam )
dihidupkan kembali oleh Bapilu untuk merayu kelompok Islam. Meskipun telah
mengusahakan berbagai langkah semacam ini , ketika pemimpin-pemimpin Sekber
Golkar diwawancarai , mereka tidak terlalu yakin akan memperoleh kemenangan besar
Moerdopo , bendahara Sekber Golkar , menyatakan pada Maret 1971 bahwa Golkar
hanya berharap memenangkan lima puluh persen plus satu . Majyen Sukowati juga
menyebutkan bahwa Sekber Golkar akan menjadi salah satu dari tiga besar yakni NU,
PNI, dan Sekber Golkar ( Suryadinata , 1992 : 44 – 46 )

Militer terus melakukan tekanan-tekanan langsung terhadap para pemilih khususnya di


desa-desa . Yang paling mudah terpengaruh oleh intimidasi adalah para bekas pendukung
PKI yang berada pada pihak yang paling lemah . Tindakan-tindakan yang dilakukan
pemerintah dan militer untuk memperkuat Golkar ternyata lebih efektif daripada yang
diperkirakan , Dan tidak jarang pemerintah dikatakan menjadi “bulldozer “, yang
meratakan jalan menuju pemilihan umum .

Pemimpin-pemimpin partai yang mulanya sangat bergairah untuk melaksanakan


pemilihan umum tiba-tiba merasa bahwa mereka berada dalam keadaan bahaya
Hadisubeno dari PNI yang pada mulanya dianggap sebagai seorang yang bisa digarap
ternyata berbalik menjadi seorang penganut PNI bergaris keras . Ia semakin mengaitkan
PNI dengan Soekarno . Malah dengan keras ia menanggapi larangan menyebarkan ajaran
Soekarno dengan mengatakan bilamana larangan tersebut ingin mencapai hasil maka
hanyalah dengan membubarkan PNI . Dan frustasi Hadisubeno mencapai puncaknya
ketika dia mengatakan : Sepuluh Suharto , sepuluh Nasution dan segerobak penuh
jendral tidak dapat menyamai satu Soekarno . Namun tidak lama kemudian pemimpin
PNI ini menemui ajalnya

Menghadapi situasi seperti itu mahasiswa di mana-mana mengorganisir untuk


memprotes pelaksanaan kampanye dalam situasi yang terlalu menekan . Karena itu
dicetuskan sebuah parodi yang sangat menyakitkan para peserta pemilihan umum dan
pemerintah khususnya ketika mereka umumkan Golongan Putih pada tanggal 23 Mei
1971 yang mengambil tanda gambar segi lima persis seperti tanda gambar partai dan
Golkar tetapi pada bagian dalamnya tanpa gambar , hanya ada satu ruang kosong putih
semata-mata . Gerakan serupa berjangkit ke mana-mana : di Bandung , Bogor Surabaya ,
Yogyakarta . Mereka menganggap bahwa aturan permainan telah dilanggar . ( Dkahidae ,
1981 :31 – 32 )

21
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Hasil pemilihan muncul sebagai kejutan besar bagi para pemimpin partai . Sekber Golkar
memenangkan 62,8 persen suara ( 227 kursi ) sementara NU hanya meraih 18,67 % ( 58
kursi ) , Parmusi 7,365 % ( 24 kursi ) , PNI 6,94 % ( 20 kursi ) ., PSII 2,39 % , Parkindo
1,34 % ( 7 jursi ) , Partai Katolik 1,11 % ( 3 kursi ) dan Perti 0,70 % ( 2 kursi )
Sedangkan IPKI dan Murba tidak mampu memperoleh 400,000 suara sehingga
seharusnya tergeser dari percaturan politik , karena tidak mendapat kursi dalam dewan
perwakilan .

Sebagian besar partai-partai politik , kecuali NU , tampil sangat buruk dalam pemilu .PNI
misalnya , mendapatkan 22,3 persen suara (54 kursi ) dalam Pemilu 1955 hanya meraih
kurang dari 7 persen . Alasannya jelas : pegawai-pegawai negeri yang memberikan
suaranya untuk PNI di masa lalu , mengalihkan suaranya untuk Golkar pada Pemilu 1971
meskipun sebagian besar karena tekanan . Suara pegawai negeri begitu penting karena
jumlah mereka sangat banyak dan sangat berpengaruh dalam menentukan perilaku
penduduk pendesaan dalam pemilihan . PNI di masa lalu mampu memperoleh jumlah
pemilih yang sangat besar karena diidentifikasikan sebagai partai pegawai negeri . NU
bisa mempertahankan persentase seperti yang diraih pada 1955, sebagian karena
kenyataan bahwa sebagai partai ulama , dukungannya berasal dari komunitas keagamaan
dan bukannya dari pegawai negeri .

Menyangkut kememangan Golkar dalam Pemilu 1971 ini, ada beberapa interprestasi .
Sungguhpun demikian , sebagian besar orang setuju bahwa peranan militer dan birokrasi
sangat instrumental dalam kemenangan Golkar . Bahkan Ali Moertopo dalam bukunya ,
Strategi Politik Nasional ( 1974 ) mengakui hal itu . .Kendatipun demikian , Moertopo
beranggapan bahwa asalan utama kemenangan Golkar dalam pemilu adalah adanya
gambaran baru bisa ditampilkan oleh Golkar dan harapan masyarakat yang dibebankan
kepadanya .

Perhatian perlu diberikan kepada komposisi DPR dan MPR setelah Pemilu 1971 . DPR
yang merupakan sebuah badan legislatif , mempunyai 460 anggota , 100 di antaranya
adalah anggota-anggota yang diangkat . Dari jumlah ini, 75 disediakan untuk militer
karena undang-undang yang ada tidak membolehkannya ikut serta dalam pemilu
Sebagaimana ditunjukkan sebelumnya , dalam Pemilu 1971 , partai pemerintah , Sekber
Golkar , memenangkan 227 kursi . Bersama dengan 100 anggota yang diangkat
pemerintah , pemerintah memiliki sekitar 327 suara dari 460 kursi yang tersedia . Karena
proposisi suara pemerintah yang besar sekali ini, mereka dapat mengusulkan dan
menyetujui sebagian besar rancangan Undang-Undang dengan berbagai tingkat
modifikasi .

MPR , lembaga yang memilih presiden dan wakil presiden , terdiri dari 920 anggota , 460
anggota DPR secara otomatis menjadi anggota MPR , sisanya berasal dari anggota-
anggota DPRD dan beberapa orang yang diangkat oleh pemerintah . Karena besarnya
jumlah anggota yang diangkat pemerintah ini ( konon hampir 60 persen ) , para
pengertitik pemerintah menyebut MPR “ demokrasi 40 Persen “.( Suryadinata , 1992 : 47
– 48 )

22
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Restrukturisasi Partai Politik

RUU Parpol dan Golkar pada 1968 , tapi gagal dibahas karena ia dilihat oleh partai-partai
politik yang, yang ketika itu masih memiliki pengaruh kuat , sebagai restrukturisasi sistim
politik yang akan merugikan mereka . Hanya setelah pemilu 1971 , dengan kemenangan
Golkar yang luar biasa dan menguatnya pengaruh militer di parlemen , restrukturisasi
partai-partai politik menjadi kenyataan . Pada bulan Mei 1971 , sebelum pemilu . Letjen
Ali Moertopo , asisten khusus Presiden Soeharto , pernah menyatakan dalam sebuah
konperensi pers bahwa akan ada suatu restukturisasi partai-partai politik . Tapi dia
berpendapat bahwa restrukturisasi itu tidak harus dilakukan melalui pembubaran partai-
partai politik .

Rupanya pernyataan itu dianggap sebagai pernyataan anti partai sehingga beberapa surat
kabar yang memiliki hubungan dengan partai politik yang ada, seperti Suara Marhaen
( nasionalis ) dan Pedoman ( pro-Islam ) , mengecamnya . Walaupun demikian , usulan
itu disambut oleh Indonesia Raya ( yang menjadi corong cendikiawan Orde Baru ) dan
Suara Karya ( Golkar ) . Sungguhpun begitu, kondisi yang memungkinkan bagi
restukturisasi partai-partai politik baru muncul setelah kemenangan Golkar yang
didukung pemerintah pada Pemilu 1971 .

Sebagaimana dicatat sebelumnya, restrukturisasi partai-partai politik dipandang oleh


partai-partai politik sebagai cara untuk memperlemah posisi mereka , karena dengan
menghimpun partai-partai yang berbeda ke dalam satu wadah , hal itu akan menimbulkan
perpecahan di dalam partai baru itu . Pemerintah menolak anggapan ini dan menyatakan
bahwa restukturisasi dimaskudkan untuk menciptakan partai-partai politik yang lebih
efektif dan mengurangi perbedaan . Tanpa memperdulikan maksud pemerintah , tokoh-
tokoh militan Orde Baru maupun pemimpin-pemimpin militer sebelum dan sesudah
pemilu mengusulkan untuk membatasi kegiatan-kegiatan partai politik , suatu
pembatasan yang kemudian dikenal dengan konsep” massa mengambang “ . Menjelang
27 Juli 1971 , Nurcholis Madjid , Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI ) ,
membuat suatu pernyataan yang mendukung konsep “ massa mengambang “ itu . Dia
mengatakan bahwa partai-partai politik perlu disederhanakan dan kegiatan-kegiatan
politik di bawah DATI I ( propinsi ) dan DATI II ( kabupaten ) harus dibatasi .

Pada 31 Agustus 1971 , Darjatmo yang menjadi Kepala Staf Kekaryaan ( untuk urusan-
urusan non militer ) di Hankam , memberikan sebuah pidato yang menyatakan bahwa “
kita harus berorientasi-kader . bukannya berorientasi massa , untuk mengamankan
kekuasaan di kalangan massa mengambang yang sebagian besar hidup di pedesaan .”
Pada Oktober 1971 , Mayjen Widodo , Panglima Komando Divisi Brawijaya ( Jawa
Timur ) , juga menyatakan bahwa “ tidak akan ada partai politik yang aktif di desa-desa
sepanjang akselerasi modernisasi 25 tahun , tapi mereka hanya boleh bergerak di DATI I
dan DATI II “. Tujuan dari konsep mengambang adalah untuk mendepolitisasi penduduk
Indonesia . Dikatakan bahwa penduduk pedesaan tidak cukup terpelajar dan harus
dibebaskan dari agitasi politik , sehingga mereka bisa mencurahkan perhatian untuk
membantu pemerintah dalam melaksanakan program-program pembangunan . Mereka

23
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

boleh menyatakan pilihan mereka setiap lima tahun sekali selama masa pemilihan umum
Arsitek dari konsep ini, seperti sering dikatakan , adalah Letjen Ali Moertopo . Konsep
ini, kemudian dimasukkan ke dalam RUU Partai Politik dan Golkar .

Sebelum RUU ini diajukan kembali ke DPR untuk dibahas , sebuah perkembangan
politik baru terjadi dalam panggung politik Indonesia . Melalui kombinasi dan cara-cara
persuasif dan cara-cara lainnya, pada bulan Januarai 1973 pemerintah berhasil
mengelompokan kembali ( restrukturisasi ) sembilan partai-partai politik yang ada
menjadi dua partai “baru “ , yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP ) dan Partai
Demokrasi Indonesia (PDI) . Pengelompokan ini sesuai dengan divisi di DPR yang
diperkenalkan pada Februari 1968 . PPP adalah fusi dari empat partai Islam , yakni partai
Muslim tradisional (NU) , partai Muslim Modernis ( Parmusi ) , Partai Serikat Islam
Indonesia ( PSII ) , dan Persatuan Tarbiyah Islam Indonesia (Perti ) . Keempat partai ini
berpartisipasi dalam Pemilu 1971 danm memenangkan 27, 1 persen suara . Fusi keempat
partai ini ternyata tidak memperlemah partai-partai Islam vis-a-vis kelompok non-
Muslim . PPP lebih kohesif dibandingkan PDI karena adanya persamaan agama
Walaupun demikian , dalam masa transisi , bisa dicatat bahwa empat aliran di PPP itu
masih terasa . Sebagai contoh , ketika seorang ketua tidak hadir atau meninggal , dia
harus digantikan oleh orang dari partai asalnya .Dalam pertarungan mereka dengan
kelompok Non-Muslim , anggota PPP bersatu padu .

Sementara itu , PDI merupakan fusi dari partai sekuler – PNI , IPKI , dan Partai Murba –
dan dua partai Kristen , Parkindo dan Partai Katolik . Sebelum fusi , mereka mengambil
bagian dalam Pemilu 1971 dan gabungan perolehan suara mereka mencapai 10.09 persen
dari jumlah suara total . Tidak mengherankan banyak pengamat menganggap bahwa PDI
merupakan partai terlemah . Terlepas dari ideologinya yang beragam dalam segmen
terbesar PDI, konflik-konflik faksional – khususnya di PNI yang merupakan segmen PDI
terpenting – makin memperlemah partai itu . Demikianlah , pada saat RUU Parpol dan
Golkar ( meskipun resminya Golkar tidak disebut sebagai partai politik ). Penyedehanaan
dalam upaya restrukturisasi partai-partai politik , pada kenyataannya tidak dimulai pada
1970-an . Ia merupakan kelanjutan dari kecenderungan yang telah berlangsung pada
1950-an dan bakan sejak 1945 .

Soekarno pernah menginginkan mendirikan sebuah partai negara pada 1945 , tetapi dia
terpaksa melepaskan gagasan itu akibat menghadapi oposisi yang kuat . Pada pemilu
1955 , lebih dari 50 partai politik ikut bertanding . Ketika sistim parlementer berakhir ,
Soekarno bermaksud mengubur partai-partai politik , dan kembali dia menghadapi
oposisi politik yang sangat keras . Dia sekali lagi melepaskan niat itu tapi mengurangi
jumlah partai-partai politik sampai 10 saja. Setelah Soekarno jatuh , gagasan untuk
menyederhanakan partai-partai politik marak kembali . Sistem multi-partai dikutuk
karena kegagalannya di masa lalu . Sistim dwi partai multi-partai dikutuk karena
kegagalannya di masa lalu . Sistim dwi partai disarankan oleh beberapa pemuka militer
dan cendikiawan dalam bentuk konsep :dwi-group “ , tapi konsep ini tidak diterima oleh
kelompok Soeharto . Tidak begitu jelas mengapa ia ditolak . Mungkin secara politik hal
itu bisa menimbulkan masalah , dan secara teknis mustahil untuk mengelompokan
kembali semua partai politik menjadi dua partai . Konsep dwi-partai yang diperkenalkan

24
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

oleh tokoh-tokoh militer militan dan para cendikiawan itu, ternyata juga tidak bisa
diterima oleh sebagian besar tokoh moderat . Secara sengit partai-partai politik juga
menentang konsep “dwi-group “ karena bisa membahayakan eksistensi mereka sendiri
Di samping itu Presiden Soeharto telah memutuskan untuk mengggunakan Golkar
sebagai mesin pemilu . Jika hanya ada dua partai yang berpangkal pada partai-partai yang
ada , tentu tidak akan ada tempat bagi Golkar .

RUU Parpol dan Golkar diajukan ke parlemen oleh Presiden pada 6 Desember 1974 . Ia
memakan waktu lebih dari delapan bulan agar bisa disepakati ( 14 Agustus 1975 ) .
Sejumlah kecil rumusan dalam RUU itu dianggap sebagai bertentangan dengan
kepentingan partai-partai politik . Pegawai negeri boleh menjadi anggota parpol ( dan
Golkar ) dengan izin tertulis dari atasannya ( pasal 7 ayat 2 ). Partai-partai politik dan
Golkar hanya boleh mendirikan cabang-cabangnya di atas tingkat desa ( pasal 9 , ayat 1 .
Pengawasan atas pelaksanaan Undang-undang Parpol dan Golkar hanya akan dilakukan
oleh Menteri Dalam Negeri atas instruksi Presiden ( pasal 12 ) , sementara Presiden
memiliki kekuasaan untuk membekukan partai-partai dan Golkar ( pasal 13 ) .

PPP dan PDI berkeberatan terhadap pasal-pasal ini , dan suatu kompromi akhirnya
dicapai antara Golkar dan Pemerintah di satu pihak, dan PPP dan PDI di pihak lain.
Diputuskan bahwa pegawai negeri boleh menjadi anggota parpol dan Golkar dengan
sepengetahuan atasannya , meskipun sejumlah pegawai negeri yang memegang jabatan-
jabatan tertentu masih memerlukan izin tertulis untuk menjadi anggota parpol dan Golkar
( pasal 8, ayat 2 ) . Pasal ini masih menguntungkan Golkar ketimbang parpol karena
banyak pegawai negeri yang ingin menjadi peminmpin-pemimpin atau anggota-anggota
Golkar . Menyangkut “ pegawai negeri yang memegang jawaban tertentu ,” ditetapkan
bahwa ketegori ini mencakup semua fungsionaris dalam unit-unit administratif sampai
tingkat kepala desa , semua manajer senior dan cabang dari perusahan-perusahan dan
bank-bank milik negara , semua pegawai Hankam, dan semua guru sekolah negeri Orang
boleh menganggap bahwa jika pegawai negeri ingin menjadi parpol , mereka harus
mendapatkan izin kepada Golkar karena sebagian besar , jika tidak semua , atasan mereka
adalah pemimpin-pemimpin Golkar .

Sunggupun demikian , ada satu pasal ang memberikan beberapa keuntungan bagi partai--
partai politik . Pasal ini menyebutkan bahwa parpol dan Golkar dizinkan untuk memiliki
seorang komisaris dengan beberapa orang pembantu di tingkat desa ( pasal 19 ) . Karena
sebagian besar kepala desa dan pegawai-pegawai desa senang menjadi orang-orang
Golkar , pengangkatan seorang komisaris menjadi penting terutama karena ini akan
memungkinkan parpol bisa berhubungan dengan massa pedesaan . Pada kenyatannya ,
ada cara lain bagi PP ( tapi tidak untuk PDI ) untuk berhubungan dengan massa
pedesaan– yakni melalui pengajian-pengajian di masjid melalui lembaga-lembaga
dakwah , dan melalui pesantren .

Pasal 14 tentang pemberian hak kepada Menteri dalam Negeri untuk membekukan partai
politik dan Golkar atas instruksi Presiden dihapuskan , tapi hak Presiden
sebagai“mandataris “ MPR untuk membekukan parpol dan Golkar tetap dipertahankan
( pasal 14 ) PPP, kendatipun akhirnya menyetujui disahkannya RUU ini , menyatakan

25
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

catatan-keberatannya dalam suatu memorandum bersama tentang pasal 14 ini .


( Suryadinata , 1992 : 79 – 82 )

Di tahun 1976 isu penting pemilihan umum ialah penentuan simbol partai dan Golkar
yang akan dicetak sebagai tanda gambar . PDI diharuskan mengubah rancangan aslinya
dengan perisai yang mencerminkan dan menyerupai salah satu gambar Pancasila yang
dibuat sedemikian rupa sehingga memperkuat indentifikasi partai dengan seekor banteng
yang menjadi simbol PNI lama . Keberatan pemerintah terhadap simbol yang diusulkan
PPP – gambar tempat suci Ka”bah di Mekkah – menimbulkan satu peristiwa drama besar.
PPP bersiteguh dengan simbol yang jelas-jelas Islam sedangkan Menteri Dalam
Negeri /Ketua Lembaga Pemilihan Umum Letnan Jendral Amir Machmud sama
kukuhnya untuk mengaburkan pengakuan pemilih akan sifat Islami partai ini .nya
pemerintah menyerah setelah PPP secara tersirat mengancam akan mengundurkan diri
dari pemilihan umum .

Tindakan terakhir pra-kampanye pemerintah ialah penyaringan keamaman calon-calon


partai dan Golkar untuk lembaga legislatif ketiga tingkat – pusat , propinsi , dan
kotamadya – yang akan dipilih . Meskipun menurut banyak laporan , lubang-lubang
saringan keamanan itu lebih longgar ketimbang 1971 – sejumlah mantan tokoh
Masyumi, misalnya , diizinkan tetap tercantum dalam daftar PPP di tingkat nasional PDI
kehilangan 19 % calon yang diajukannya dan PPP kehilangan 16 % , sementara Golkar
hanya 5 % calonnya yang dicoret dari daftar .

Partai Politik dan Golkar dizinkan berkampanye selama dua bulan dimulai 24 Februari .
Minggu terakhir sebelum tanggal pemungutan suara 2 Mei 1977 direncanakan sebagai
“minggu tenang“, saat ketegangan yang timbul selama kampanye mereda dan
kesempatan bagi para pemilih untuk mempertimbangkan kembali pilihan mereka
Kampanye pemilihan umum 1971 menampilkan wajah-wajah lama dari 9 peserta kecuali
Golongan Karya , yang dalam arti sebenar-benarnya adalah suatu peserta baru , yang
tidak atau belum berpengalaman berkampanye . Akan tetapi dalam kampanye 1977 ,
justru kebalikannya yang terjadi . Golongan Karya adalah peserta yang sudah
berpengalaman , sedangkan kedua partai politik adalah dua peserta baru yang tidak
mempunyai pengalaman berkampanye di dalam pemilihan umum sebelumnya . Ini boleh
jadi dilebih-lebihkan . Namun ia mempersoalkan suatu yang penting bagi suatu partai
peserta pemilihan umum dan pada gilirannya juga penting bagi massa pemilih . Di pihak
partai berarti ia harus mampu merumuskan dan menampilkan siapa dirinya karena itu
Party identity menjadi taruhan . Pada gilirannya , massa pemilih harus mengenal apa dan
siapa partai-partai tersebut . Karena itu satu hal yang tak kurang penting adalah party
identification yang jelas bagi massa. Dua hal ini, hanya mungkin terjalin secara efektif
dalam suatu sistem komunikasi politik .

Dalam hubungan ini Golongan Karya boleh jadi adalah peserta yang sudah mempunyai
identitas sedangkan kedua peserta dari partai politik adalah peserta baru yang untuk
pertama kali ini mencoba menampilkan dan mempertaruhkan identitasnya untuk menarik
massa pendukungnya di dalam pemilihan umum ini .

26
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Tidak mengherankan bila menghadapi pemilihan umum Partai Persatuan Pembangunan


sejak awal-awal kampanyenya adalah menangkap issu agama sebagai satu-satunya
perekat utama bagi partainya . Sasaran kampanye PPP adalah memusatkan diri pada
pemilih tradisional yaitu umat Islam yang selama ini telah bernaung di bawah
oraganisasi-organisasi Islam ( organisasi massa Islam ) atau yang bernaung di bawah
organisasi pendukung PPP seperti, NU, PSII, Muslimin Indonesia , dan Perti . Termasuk
dalam kelompk ini adalah pegawai negeri . Sasaran lain adalah pemilih rasional , yang
memilih PPP karena menganggapnya sebagai alternatif . Dalam kampanyenya Partai
Persatuan Pembangunan selalu mengemukakan bahwa Partai Persatuan Pembangunan
adalah satu-satunya wadah bagi umat Islam . Dalam rangka mengalang pemilih
tradisional inilah Kiai Haji Bisjri dalam kedudukannya sebagai Ra”is “Am Partai
Persatuan Pembangunan menyampaikan seruannya bahwa perjuangan Partai Persatuan
Pembangunan termasuk jihad fisabililah atau berjuang di jalan Alllah . Siapa saja umat
Islam yang tidak memilih Partai Persatuan Pembangunan karena takut hilangnya
kedudukan atau mata pencaharian adalah termasuk yang meninggalkan Hukum Allah .

Rupanya seruan ini efektif bagi pemilih tradisional Islam . Semangat berkorban secara
spontan muncul dari massa Islam . . Begitu mengesankannya kampanye PPP yang pada
tahun 1977 sehingga ada kecurigaan darimana dana kampanye PPP bahkan ada yang
menuduh : kampanye PPP dibiayai oleh Libya ( Ingat pidato Mashuri di Jatim serta
pernyataan Mashuri tentang kapal selam asing di pantai selatan Jawa ) .

Identitas PPP yang berhasil tumbuh dan mengindentifikasikan massa pemilih Islam yang
berhasil ditanam serta merta menimbulkan kekhawatiran pada diri penguasa sehingga
Kaskopkamtib Soedomo meminta PPP untuk tidak lagi berkampanye dengan soal yang
berhubungan dengan masalah keagamaan .

Golongan Karya sadar benar bahwa taruhan PPP dalam Islam bisa menjadi senjata yang
ampuh melawannya Karena itu seruan tersebut dibalas dengan semacam pembelaan diri
misalnya dalam spanduk-spnduk yang bertulisan : “ Tidak benar bahwa orang yang
masuk Golkar adalah kafir .” Usaha Golkar tidak lain dari mementahkan identitas dan
proses identifikasi massa Islam dengan PPP . Berita Yudha , sebuah harian yang
mendapat dukungan militer menulis bahwa sebagai warga negara umat Islam mempunyai
pendirian politik .Pendirian politik ini soal duniawi maka umat Islam memilih ideologi
politik yang bersifat duniawi itu sesuai dengan keyakinan politiknya .

Di pihak lain Golongan Karya berusaha untuk mengindentifikasikan dirinya dengan suatu
partai yang terdiri dari manusia-manusia modern yang mengusahakan modernisasi dan
pembangunan Indonesia , dan hanya golongan itu yang mengusahakan kedua tujuan
tersebut dia atas . Melawan semboyan ideologis dan agama Golkar tidak punya cara lain
daripada bersandar pada pembangunan dan modernisasi . Kalaupun itu tidak berhasil
maka kekuatan tidak segan-segan akan dipakai, sebagaimana dikatakan penggerak utama
Bapilu , Ali Moertopo .

Bilamana kedua perserta yang sudah kita perbincangkan di atas berpijak pada suatu
identitas yang jelas menyembul keluar maka Partai Demokrasi Indonesia adalah partai

27
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

politik yang sangat bersusah payah mencari perumusan tentang siapa dirinya kepada
massa pemilihnya sendiri . Partai Demokrasi Indonesia yang berwatak serta bercirikan
Demokrasi Indonesia , kebangsaan Indonesia dan Keadilan Sosial mencoba membangun
citranya sebagai partai rakyat kecil , namun sudah dibilang efektif . Sebagaimana sudah
kita lihat partai ini terdiri dari unsur-unsur yang sama sekali tidak ada kesamaan jalan
pikiran satu sama lain . Karena ketidakmampuannya merumuskan siapa dirinya, maka dia
pun tidak mampu menumbuhkan proses identifikasi massa pemilih dengan dirinya .
( Dhakidae , 1981 : 35 – 37 )
.
Ketika periode kampanye secara resmi dibuka , laporan-laporan tentang tindakan pejabat
sipil dan militer tingkat lokal yang ramah terhadap Golkar tetapi tidak terhadap partai-
partai mengalir ke Jakarta melalui laporan-laporan koresponden dan komunikasi intern
partai . Kebanyakan kisahnya mengingatkan pada kampanye 1971 – partai-partai tidak
diberi izin melangsungkan rapat umum, polisi mengintimidasi pemimpin-pemimpin
partai , warga desa diwajibkan oleh pejabat-pejabat desa untuk bekerja bakti ketika partai
sedang menyelenggarakan pertemuan , rapat umum dan pemimpin Golkar memperoleh
perlakuan dan fasilitas khusus , dan sebagainya . Suratkabar-suratkabar Jakarta ,
khususnya Pelita untuk PPP dan Merdeka untuk PDI , memberikan ruang luas untuk
laporan-laporan seperti ini .

Walaupun para pemimpin PDI dan PPP merupakan korban sesungguhnya gangguan dan
intimidasi di banyak tempat , perhatian istimewa diberikan oleh para pemimpin Golkar
dan Amir Machmud untuk melawan klaim bahwa PPP mewakili pemilih-pemilih
Muslim. Di tahun 1971 Golkar secara umum dicitrakan anti-Islam dan secara aktif
mengambil dukungan dari para penganut kebatinan Jawa yang cemas pada Islam Politik
Pada 1977 Golkar mempunyai banyak guru Islam lokal di kubunya dan menggunakan
mereka untuk membalas argumen –argumen PPP bahwa kaum Muslim wajib memilih
Ka”bah . Dukungan penganut kebatinan Jawa tidak lagi dicari secara publik . Amir
Machmud melakukan tindakan lain dengan mencela dimasukkannya agama kedalam
kampanye sebagai isu yang tidak relevan di negeri yang 90 % menganut agama Islam dan
kebutuhan tidak pada konflik ideologi , tetapi pembangunan yang terprogram . Pada
pertengahan Maret menjadi jelas bahwa pemilihan umum sesungguhnya merupakan
pertarungan langsung antara Islam yang secara mengejutkan bersatu yang terus-menerus
menyerang dan Golkar yang didukung pemerintah semakin terdesak ke posisi “ saya
juga“ pada masalah agama dan sangat mengandalkan kekuatan keamanan untuk
membendung kampanye lawannya .

Hasil pemilihan umum 1977 menunjukkan menurun suara dari Golkar dan Partai
Demokrasi Indonesia . Golkar ( 1971 : 62,80 % ; 1977 : 62.11 % ) dan PDI ( 1971 :
10.09 %; 1977 : 8,60 % ) dan naiknya suara Partai Persatuan Pembangunan ( 1971 :
27,11 ; 1977 : 29,29 % ) . . Pengamat-pengamat politik Indonesia memandang hasil
pemilihan umum 1971 sebagai suatu kemenangan besar Golkar secara umum dikatakan
merosot yang sebagian besar terserap ke dalam PPP .

Golkar di tahun 1971 tentu saja sesuatu yang tidak diketahui kuantitasnya dan ramalan
sebelum pemiilihan umum biasanya sangat berbeda-beda . Di tahun 1977 Golkar diduga

28
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

paling tidak mampu mempertahankan dan mungkin meningkatkan persentase


sebelumnya, sehingga penurunan sekecil 0,7 % sekalipun dengan mudah ditafsirkan
sebagai kekalahan . Pandangan ini didukung oleh dua pendapat yang tidak berkaitan
dengan hasil nyata dan sulit dievaluasi secara empiris ; dengan dukungan dan taktik yang
dimilikinya . Golkar seharusnya bisa menang 100 % , sehingga kekurangan sekecil
apapun menggambarkan kemenangan PPP ; serta kekuatan kampanye PPP dan
kerumunan-kerumunan yang dapat terserap dalam rapat umum PPP berlawanan tajam
dengan rendahnya spontanitas dan antusiasme pendukung Golkar , yang menunjukkan
lebih kuatnya basis PPP dan , bagi banyak orang , cerahnya prospek dan suramnya
Golkar di masa datang .

Pengujian terperinci hasil-hasil pemilihan umum menghasilkan dua pendapat lebih lanjut
tentang komposisi dukungan Golkar dan partai yang ditafsirkan sebagai menunjukkan
kecenderungan anti-Golkar . Pertama, kecenderungan umum di tingkat propinsi di mana
hilangnya Golkar ditandingi oleh naiknya suara PPP . Kedua , pluralitas PPP di Jakarta ,
satu dari hanya dua propinsi ( lainnya ialah Aceh yang Islamnya kuat ) tempat PPP
memperoleh suara lebih besar daripada Golkar . Dapat ditambahkan di sini ialah
penegasan lebih umum tentang suara pemilih kota versus desa .

Karena Jakarta adalah ibu kota negara , pluralitas yang dimenangkan PPP dan pergeseran
yang besar antara Golkar (- 7,4 % ) dan PPP ( + 8.7 % ) pastilah menarik perhatian
Sejak lama Jakarta adalah kota Muslim ( “ partai-partai PPP “ di sini memperoleh 45 %
suara pada 1955 ) , tetapi peningkatan suara tahun 1977 atas 1971 menuntut penjelasan
lebih lanjut . Hal ini mencakup pendapat tentang keengganan pemerintah menggunakan
metode-metode persuasi kasar di daerah di mana begitu banyak orang asing ( termasuk
wartawan tinggal ) , adilnya Gubernur Ali Sadikin sebagai wasit , penduduk yang sinis
dengan ungkapan “ orang yang makan di dapur kurang menghormati tukang masak ”
penduduk yang lebih bijak ( Golkar pendatang baru di tahun 1971 dan menimbulkan
harapan yang sekarang sirna ), penduduk yang marah (memilih PPP sebagai protes
menentang meningkatnya kesenjangan dan kemiskinan di kota ), penduduk yang lebih
modern ( kurang menerima peran paternalistis tradisional kepala desa . lebih mampu
menilai isu dan program-program ) dan sebagainya . ( Liddle , 1992 : 41 – 49 )

Azas Tunggal Pancasila

Pemilu 1977 dan pemilihan kembali Soeharto sebagai Presiden semakin memperkukuh
posisi Golkar . Pada saat yang sama , pemerintah menjadi semakin terlibat pada masalah
stabilitas politik dan kemudian memperkenalkan pengawasan yang ketat terhadap
oposisi, khususnya dari mahasiswa dan kelompok-kelompok Islam . Depolitisasi
mahasiswa dan pengawasan terhadap pengaruh Islam politik adalah dua langkah yang
diambil oleh pemerintah .

Pada saat gerakan mahasiswa memuncak setelah pemilu 1977 , Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan , Dr. Daoed Joesoef , mendesak mahasiswa untuk lebih berkosentrasi pada
studi mereka ketimbang pada kegiatan-kegiatan di luar kampus. Usulan yang kemudian

29
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

diajukan menjadi sebuah RUU yang dikenal dengan nama Normalisasi Kehidupan
Kampus (NKK ) itu ditentang oleh banyak organisasi mahasiswa . RUU ini tidak bisa
diterima oleh para pemimpin mahasiswa karena berusaha mengganti Dewan-Dewan
Mahasiswa yang ada dengan dewan-dewan yang diangkat Rektor . Mahasiswa
menganggap bahwa ini berarti ditempatkannya para pemimpin mahasiswa pro-
pemerintah di dewan-dewan itu. Kebijaksanaan ini dilihat oleh para mahasiswa sebagai
strategi pemerintah untuk membungkam kebebasan kampus .

Pada November 1979 , mahasiswa-mahasiswa dari Jakarta dan Bandung berangkat ke


DPR untuk menuntut agar parlemen menolak RUU NKK . Menjelang akhir bulan itu ,
sekitar 500 mahasiswa dilaporkan berusaha membakar patung Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan , tetapi tentara sempat menggagalkannya . Pemerintah mendesak mahasiswa
menerima RUU NKK karena pemerintah “ tidak berniat menindas mahasiswa “
Tujuannya adalah untuk membuat universitas-universitas dan lembaga-lembaga
perguruan tinggi “ menjadi pusat-pusat penelitian dan pembangunan yang sangat
dibutuhkan negara .” RUU NKK akhirnya dibahas dan diloloskan oleh DPR . Akan tetapi
partai-partai Islam dan PDI menyampaikan sebuah nota yang menentang kebijaksanaan
pemerintah yang keras atas kehidupan mahasiswa itu . Nota itu menyerang kabinet
Presiden Soeharto karena “ terus menerapkan tekanan keras terhadap kampus-kampus di
seluruh tanah air menyusul berbagai demontrasi anti-pemerintah yang dipimpin
mahasiswa ” Kendati demikian , pada Desember 1979 Golkar menolak nota itu
Perdebatan lebih lanjut tentang RUU NKK dan nota itu dilanjutkan pada 14 Januari 1980
Keesokan harinya , pada 15 Januari , yang juga dikenal sebagai hari Malari , sebuah
demontrasi besar menentang pemerintah Soeharto yang dilakukan mahasiswa . Meskipun
demikian RUU itu akhirnya disahkan DPR setelah melewati suatu perdebatan yang panas
.
Terkesima oleh perkembangan Islam dan menyadari perlunya sebuah ideologi nasional di
Indonesia , pemerintah Soeharto memutuskan untuk memperkuat doktrin Pancasila .
Sejak 1975, pemerintah memutuskan untuk memasukan pelajaran “ Pendidikan Moral
Pancasila “ ke dalam kurikulum sekolah . MPR kemudian bersidang untuk
mempromosikannya lebih jauh . Pada 22 Maret 1978 , MPR mengeluarkan sebuah
ketetapan tentang “ Petunjuk Mengenai Penghayatan dan Pengamalan Pancasila “ untuk
digunakan sebagai pedoman bagi masyarakat dan swasta dan tingkat pusat sampai daerah
harus mengamalkan Pancasila .

Segera setelah diumumkannya ketetapan itu , sebuah panitia dikenal sebagai Tim P7
dibentuk untuk melakukan ketetapan tersebut . Ketua Panitianya adalah H Roeslan
Abdulgani , seorang mantan pemimpin PNI yang pernah bertindak sebagai juru-bicara
Presiden Soekarno pada masa Orde Lama . Anggotanya termasuk beberapa tokoh agama
dan militer . Promosi Pancasila selama 1978 barangkali berkaitan dengan situasi di
Indonesia ketika oposisi Muslim menjadi semakin besar dan masalah pemerataan
pendapatan semakin parah . Dengan memajukan Pancasila, pemerintah mengharapkan
mampu mengimbangi ideologi Islam . Tetapi ini juga merupakan suatu pengakuan
bahwa keadilan sosial dan demokrasi , dua prinsip di dalam Pancasila , masih merupakan
tujuan-tujuan yang didambakan oleh pemerintah . Juga mungkin bahwa promosi yang
semakin intensif untuk menyebarluaskan Pancasila pada 1979 dipengaruhi oleh situasi

30
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

politik di Iran yang sedang menggencarkan Revolusi Islam. Para pegawai negeri, dari
pusat hingga daerah ditugaskan untuk itu .

Karena pemerintah Indonesia menganggap Islam politik sebagai ancaman bagi Indonesia
yang berasaskan Pancasila , mereka kemudian mempersiapkan berbagai undang-undang
yang bisa memperlemah kekuasan Islam politik segera setelah pemilihan Presiden 1978 .
Dengan kata lain , pemerintah tidak menginginkan partai Islam menggunakan imbauan-
imbauan agama untuk memperoleh dukungan .

Pada 8 Oktober 1979 , pemerintah yang diwakili oleh Amir Machmud , Menteri Dalam
Negeri , menyampaikan RUU Amandemen Pemilu kepada DPR sampai masa sidang
yang kedua . PPP dan PDI sangat kritis terhadap RUU ini . Keduanya berpendapat bahwa
RUU Amandemen yang diusulkan itu tidak cukup menyeluruh . Mereka menanyakan
partisipasi yang lebih aktif dan efektif bagi bagi partai –partai politik dalam persiapan ,
pelaksanaan dan pengawasan pemilu . PPP bahkan mendesak agar bisa diwakili dalam
Lembaga Pemilihan Umum . Tetapi Amir Machmud menolak permintaan tersebut seraya
mengatakan bahwa partai-partai politik adalah kontestan-kontestan bukan sponsor , dan
karenanya tidak dibenarkan untuk duduk dalam lembaga tersebut .

Untuk membahas RUU itu, DPR membentuk sebuah panitia khusus , Pansus , yang
terdiri dari 66 anggota ( 37 dari Golkar , 14 dari PPP , 4 dari PDI ), dan II dari ABRI ) .
Pansus diharapkan menyampaikan hasil-hasilnya paling lambat akhir Desember tahun itu.
Meskipun demikian, pembahasan RUU tidak semulus yang diharapkan : Machmud
bahkan menganggap pembahasan tersebut mengalami deadlock . Kemudian pembahasan
dilanjutkan lagi dan beberapa kemajuan berhasil dicapai . Akhirnya , hasil-hasil
pembahasan RUU baru diumumkan pada Februari 1980 .

Kendatipun partai-partai politik tidak diizinkan masuk dalam Lembaga Pemilihan Umum
pada tingkat apapun, pemerintah menyetujui dibentuknya panitia-panitia pengawas pada
setiap tingkat – mulai dari ibukota hingga ke kecamatan . Anggota panitia pengawas
terdiri dari wakil-wakil pemerintah , partai-partai politik , Golkar , dan ABRI. Masing-
masing diwakili tiga orang .

NU tidak puas dengan hasil-hasil RUU yang sudah diamandier itu , dan memutuskan
untuk memboikot sidang pleno , tetapi anggota-anggotanya PPP non-NU menolak ambil
bagian dalam aksi tersebut . Ini mengindikasikan bahwa terjadi perpecahan antara faksi
NU dan faksi non-NU dalam PPP yang lebih reponsif pada pemerintah . Perilaku
kelompok NU dan oposisi dari kelompok-kelompok Islam yang terus berlanjut kepada
pemerintah Soeharto tampaknya telah menjengkelkan Presiden .

Posisi ABRI dalam konfigurasi politik Indonesia menarik banyak perhatian . Sebelum
pidato Presiden Soeharto di Pekanbaru yang menungkapkan ketidaksenangannya
terhadap kelompok-kelompok oposisi , Jendral M Jusuf , Menteri Pertahanan dan
Keamaman , menyatakan bahwa para anggota militer yang ingin menjalankan bisnis
harus pensiun lebih dulu . Dia juga mendesak agar militer bersikap netral dalam
pertarungan antara partai-partai politik dan Golkar . Beberapa orang pengamat melihat

31
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

pernyataan ini sebagai upaya M Jusuf untuk memisahkan ABRI dari Golkar demi
mengambil hati kelompok Islam dan menjadikan tentara Indonesia lebih professional .

Sebelum pemilu 1982 , terjadi kontak-kontak rahasia antara DPPP Golkar dan
Laksamana Sudomo , yang kemudian menjadi Pangkopkamtib . Pertemuan itu terjadi
pada 17 Oktober 1979 di kantor Menhankam . Sudomo mewakili Dephankam , sementara
delegasi Golkar diwakili oleh Ketua Umum Amir Murtono , empat orang Wakil Ketua
dan Kolonel Sugianto yang kemudian menjadi menjadi Sekjen . Kesepakatan yang
dicapai antara ABRI dan Golkar dan bahwa pertemuan-pertemuan yang teratur akan
diselenggarakan ,. Baik di tingkat pusat maupun daerah . ) menginginkan sikap netral ,
lembaga militer pada kenyataannya bergabung sepenuhnya dengan Golkar lagi, inilah
bukti dukungan militer agar Golkar mempersiapkan diri menghadapi pemilu 1982 .

Golkar merasa yakin memenangkan pemilu lagi. Sebelum pemilu, Ketua Umum Golkar
mengatakan akan memenangkan sekitar 65 persen suara . Golkar tetap begitu yakin akan
memang meskipun empat bulan sebelum pemilu pemerintah mengumumkan
penghapusan subsidi minyak dalam negeri sehingga menyebabkan naiknya harga minyak
dalam negeri sebanyak 60 persen . Jika Golkar telah begitu siap menghadapi pemilu ,
dua partai lainnya tidak siap karena perpecahan internal dan tekanan pemerintah . PPP
misalnya, hampir saja pecah karena faksi NU merasa bahwa ia dicurangi faksi lain . Pada
Januari 1982 NU bahkan mengancam akan mengundurkan diri dari PPP , meskipun pada
akhirnya setuju untuk bertahan hingga pemilu 1982 .

Pemilih yang menggunakan suaranya dalam pemilu 1982 secara mencolok lebih besar
ketimbang yang terjadi dalam pemilu 1977 – 91 persen berbanding 90,57 persen.
Walaupun demikian, angka pemilu 1971 ( 94,34 persen ) . Sebagaimana diharapkan ,
Golkar memenangkan mayoritas suara ( 64,34 persen ) , sementara PPP memperoleh
27,78 persen dan PDI turun menjadi 7,88 persen . Golkar tampil lebih baik
dibandingkan dengan hasil pemilu 1971 ( naik 2,23 persen ) dengan mengorbankan PPP (
turun 1,5 persen ) dan PDI ( turun 0,72 persen ) . Panitia Pemilu Indonesia
mengumumkan hasil akhir pemilu 1982 , PPP memenangkan 94 kursi ( pada tahun 1977
memperoleh 99 kursi ) , Golkar memenangkan 246 kursi ( 232 pada 1977 ) , sementara
PDI hanya mendapatkan 24 kursi ( 29 kursi pada 1977 ) ( Suryadinata, 1992 : 100 – 111 )

Oposisi terhadap pemerintah Soeharto terus berlanjut , akan tetapi Soeharto tampak bisa
mengendalikan . Kekuasaannya untuk mengendalikan itu diperkuat dengan kemenangan
Golkar yang begitu besar pada 1982 dan pemilihannya kembali sebagai Presiden pada
1983 . Seperti dikemukakan sebelumnya , dalam pemilu 1982 itu Islam masih digunakan
sebagai unsur pemersatu . Ada keprihatinan di kalangan pemerintah bahwa daya tarik
Islam dalam politik akan mengganggu sistem politik . Setelah pemilu 1982 itulah
pemerintah mulai melakukan persiapan-persiapan yang komprehensif untuk konsolidasi
sistim politik .

Sebuah panitia khusus yang disebut Pansus dibentuk untuk membahas kelima RUU itu
( Pemilu, DPR/MPR, Amandemen Parpol dan Golkar , Referendum dan Organisasi
Massa ) Panitia itu diketuai oleh Suhardiman , seorang tokoh Golkar . Anggota-

32
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

anggotanya terdiri dari wakil-wakil keempat faksi di DPR .. Komunitas Islam begitu
kritis kepada RUU baru itu, akan tetapi karena tekanan pemerintah , kalangan
moderatnya cenderung menerimanya . Walaupun demikian kalangan fundamentalis Islam
mempertanyakan usulan tersebut . Mantan pemimpin Masyumi Syarifuddin
Prawiranegara dalam sepucuk surat terbukanya kepada Presiden Soeharto
mempertanyakan kebijakasanaannya memaksa setiap organisasi dalam masyarakat untuk
menerima Pancasila sebagai satu-satunya ideologi . Surat itu memercikan kemarahan dari
pemerintah . Kelompok fundamentalis lainnya menentang ideologi tunggal karena merasa
bahwa hal itu akan membahayakan pengamalan dan pengembangan Islam Seorang tokoh
cendikiawan Muslim , Deliar Noer , mengatakan bahwa dengan diterimanya asas tunggal
oleh PPP berarti menolak kebhinekaan dalam masyarakat Indonesia , bahwa hal itu
bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi , dan bahwa hal itu akan memisahkan
Islam dari politik– sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam . Ini karena Islam tidak
memsiahkan agama dari politik . Noer juga menyebutkan bahwa ideologi Pancasila
cenderung akan mendorong politik Indonesia kearah sekularisasi dan sistem satu partai,
yang menurut pandangannya, tidak akan menguntungkan bagi perkembangan negara
pada umumnya .

Barangkali kaum Muslimin merasa khawatir bahwa RUU Pancasila akan membuat
mereka kehilangan identitas dan semakin memperlemah kekuatannya . Terjadi suatu
kerusuhan besar di Jakarta ( yang dikenal dengan Peristiwa Tanjung Priok ) ketika RUU
Pancasila sedang diperdebatkan . Kerusuhan ini menyebabkan timbulnya bentrokan
antara militer dan kerumunan massa . Banyak orang menganggap bahwa kerusuhan itu
secara tidak langsung disebabkan oleh dikeluarkannya kelima RUU di atas karena para
perusuh terdiri dari kaum Muslim radikal yang melihat Pancasila sebagai ancaman bagi
kehidupan politik Indonesia mereka. Militer sangat keras dalam menangani kerusuhan ini
sehingga banyak orang yang terlibat ditahan dan kemudian diadili karena dianggap
melakukan kegiatan-kegiatan subversif . Sebagian besar pemimpin yang terlibat dalam
kerusuhan itu memiliki latar belakang Islam yang kental . . Segeera setelah kerusuhan ,
terjadi insiden pemboman di Jakarta dan Yogyakarta yang diyakini punya kaitan dengan
peristiwa Tanjung Priok . Beberapa tokoh oposisi terkemuka – Jendral HR Dharsono dan
mantan menetri Sanusi – dianggap tersangkut . Mereka akhirnya diadili dan dijatuhi
hukuman penjara .

Dalam RUU DPR/MPR , Pemerintah mengusulkan agar jumlah anggota DPR/MPR


ditambah masing-masing dari 920 dan 460 menjadi 1000 dan 500 . Ini karena
dimasukkannya Timor Timur ke dalam wilayah Indonesia dan karena alasan-alasan
lainnya . Jumlah anggota ABRI yang diangkat meningkat dari 75 menjadi 100 di DPR ,
dan seperlima anggota lainnya di setiap DPR lokal (DPRD ) . Partai-partai politik di
parlemen tidak bisa berbuat banyak kecuali menerima usul Pemerintah itu . Kendatipun
demikian , Undang-undang Pemilu mewajibkan parpol menyesuaikan diri dengan
Pancasila dalam penggunan simbol-simbol pemilu, menimbulkan perdebatan yang panas,
PPP terpecah karena isu tersebut . Banyak anggotanya menentang perubahan tanda-
gambar , karena hal itu berarti mengaburkan identitas Islamnya dan memperbesar
kemungkinan kekalahan di dalam pemilu mendatang . Mereka beranggapan bahwa tanpa

33
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

menggunakan simbol-simbol Islam , akan sangat sulit bagi partai untuk memperoleh
dukungan luas dari kalangan Muslim .

Namun demikian , pemerintah menolak untuk mengalah sehingga menimbulkan


deadlock. Batas waktu untuk pembahasan RUU itu adalah 19 November , tetapi pada
pagi harinya , faksi Islam masih bertahan dengan dua butir yang mereka anggap penting
itu . Mereka menolak untuk mengalah . Walaupun demikian , pada sore harinya , mereka
mengubah pendiriannya karena ada desakan yang keras .RUU Pemilu diterima tanpa
voting . Semula voting dimungkinkan dalam rangka untuk menanggulangi deadlock .

RUU Amandemen Parpol dan Golkar itu mengusulkan ( pasal 1 ) bahwa parpol dan
Golkar harus berasakan Pancasila , dan bahwa asas tersebut di atas itulah yang digunakan
sebagai dasar dari kehidupan bermasyarakat , berbangsa dan bernegara . Dengan kata
lain, baik PPP maupun PDI tidak lagi diperbolehkan menggunakan Pancasila bersamaan
dengan ideologi lain sebagai basis eksistensinya . Dalam kasus PDI , ini berarti Pancasila
dan Nasionalisme , sementara dalam kasus PPP, Pancasila dan Islam .

Perubahan basis PPP dari Pancasila dan Islam menjadi Pancasila saja secara khusus
sangat signifikan . Tanpa unsur Islam, PPP bukan lagi partai Islam . Bahkan dalam
teorinya , orang non-Muslim pun bisa masuk PPP . Karena tekanan pemerintah, partai itu
akhirnya menerima RUU tersebut . Banyak pengamat menyatakan bahwa RUU
amandemen Pemilu serta RUU amandemen Parpol dan Golkar akan secara langsung
mempengaruhi kekuatan PPP dalam pemilu yang akan datang . Akan tetapi pukulan
paling serius yang semakin memperlemahnya PPP adalah keluarnya NU dari partai
tersebut pada Desember 1984 . NU memutuskan untuk kembali ke bentuk-aslinya yang
semula ke khittah 1926 , sebagai organisasii sosial-keagamaan . Dengan kata lain ,
anggota NU tidak lagi diwajibkan memilih PPP pada saat pemilu dilaksanakan .

RUU Referendum dimaksudkan untuk menjamin bahwa UUD 45 tidak bisa diubah
dengan begitu saja saja . Jika MPR ingin mengubah konsitusi itu , Polling pendapat
umum diperlukan . Hasil pendapat umum itu harus dilaporkan ke MPR , dan jika 90
persen suara menyetujuinya berubah boleh mengubah UUD 1945 itu . Perdebatan
mengenai hal itu hanya memakan waktu singkat .

RUU yang paling kontroversial dan memakan waktu pembahasan paling lama adalah
RUU Organisasi Massa . Materi RUU ini sudah sangat jelas . Ia mewajibkan organisasi-
organisasi massa hanya memiliki satu asas , yakni Pancasila . Ormas didefinisikan dalam
RUU itu ( pasal 1 ) sebagai “ organisasi sukarela yang didirikan oleh warga masyarakat
Indonesia yang berdasarkan pada kesamaan profesi , agama, dan kepercayaan kepada
Tuhan Yang Maha Esa ” RUU itu juga menyebutkan bahwa pemerintah akan membina
organisasi-organisasi itu, dan sebuah peraturan pelaksanaan yang terpisah mengenai
pembinaan dan pengawasan tersebut akan dibuat . Selain itu , pemerintah mempunyai hak
untuk membekukan dan bahkan membubarkan organisasi-organisasi itu jika melanggar
salah satu ketentuan-ketentuan (pasal 13 ) : (a) terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang
mengganggu keamaman dan ketertiban umum ; (b) menerima bantuan asing tanpa izin

34
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

pemerintah ; dan (c) menerima bantuan asing yang merugikan kepentingan bangsa dan
negara .

Pada 31 Mei 1985 RUU itu akhirnya disahkan 249 anggota DPR yang hadir ( lebih dari
separuh jumlah keseluruhan anggota ) menyatakan setuju terhadap RUU itu. Mereka
yang tidak setuju sengaja tidak menghadiri sidang . RUU itu secara resmi baru disahkan
menjadi Undang-undang pada 17 Juni 1985 . Dengan Undang-Undang tersebut semua
organisasi massa diwajibkan menerapkan Pancasila sebagai ideologinya dan bahwa
organisasi-organisasi yang belum menyesuaikan diri dengannya diberi kesempatan
selama dua tahun untuk mengubah anggaran dasarannya ( Suryadinata , 1992 : 113 –
119 )

Penerapan Pancasila sebagai asas tunggal dalam kehidupan politik di Indoensia, niscaya
merupakan peristiwa politik yang paling penting dalam sejarah politik Orde Baru
Penetapan itu praktis telah menyentuh seluruh sektor sosial melalui program mobilisasi
ideologi dalam bentuk penataran-penataran .P 4 . Sosialisasi ideologi itu bahkan tidak
saja terjadi melalui forum-forum resmi yang diselenggarakan pemerintah , tetapi juga
telah berlangsung melalui forum-forum publik seperti media massa , pentas-pentas
kesenian dan bahkan melalui mimbar-mimbar agama .

Dengan mobilisasi ideologi itu agaknya pemerintah tidak saja bermasud menciptakan
keseragaman aspirasi politik , tapi sekaligus ingin mencapai basis konsensus sosial
budaya untuk mendukung pembangunan ekonomi . Penetrasi itu pada dasarnya
merupakan upaya untuk membangun kaitan-kaitan rasional antara lapis tradisional
masyarakat dan lapis pembangunan ekonomi yang berdimensi modern . Pembangunan
sebagai pengamalan Pancasila pada tingkat kebudayaan berarti upaya untuk mengangkat
nilai-nilai tradisional masyarakat seperti harmonitas, hirarki , kepatuhan , sebagai sumber
enersi budaya untuk tidak saja mendukung program pembangunan ekonomi pemerintah ,
tapi juga menerima ekses-ekses pembangunan sebagai suatu kemestian yang tak
terhindarkan bagi cita-cita kemakmuran yang lebih mulia di masa depan . Usaha untuk
menunjukkan kesinambungabn kultur antara Pancasila dan masa lalu Indonesia agaknya
harus pertama-tama dimengerti dalam konteks di atas .

Dilihat dari strategi pembangunan politik , penetapan itu dapat dianggap sebagai tahap
akhir dari suatu proyek stabilitas politik yang memang sejak awal telah diyakini sebagai
prasyarat kunci bagi program pembangunan ekonomi pemerintah Orde Baru . Penetapan
itu dengan demikian merupakan prestasi politik pemerintah yang konsisten dengan
pendekatan pembangunan yang berdasarkan prinsip sekuriti .

Dari segi efisiensi kekuasaan , penetapan itu berarti dicapainuya suatu legitimasi ideologi
bagi kelangsungan pemerintahan Orde Baru dan sekaligus diperolehnya ukuran untuk
menentukan absah tidaknya setiap transaksi politik yang berlangsung dalam masyarakat
Artinya , dengan garis politik asas tunggal itu pemerintah mendefinisikan partisipasi
politik secara terbatas sebagai loyalitas pada kepemimpinan nasional dan dukungan
penuh terhadap program pembangunan ekonomi pemerintah . Politik oposisi menjadi
tidak relevan dalam demokrasi Pancasila .

35
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Implementasi total dari politik stabilitas dan asas efisisnsi kekuasaan Orde Baru seperti di
ulats di atas , niscaya telah melahirkan suatu bentuk formalisme politik ; dalam arti
seluruh transaksi politik hanya boleh berlangsung dalam format yang telah ditetapkan
secara resmi dan sepihak oleh negara . Efektivitas dari pelaksanan format itu sudah tentu
harus dijamin lewat penggunaan aparat represi negara . Maka segera nampak bahwa
kehadiran militer merupakan hal yang inheren dalam formalisme politik Dalam politik
Indonesia , gejala kehadiran militer memang mendapat legitimasi ideologis melalui
doktrion dwifungsi , dan secara lebih khusus pada doktrin perjuangan Angkatan Darat “
Tri Ubaya Cakti : yang meliputi dimensi-dimensi keamanan nasional , kekaryaan dan
pembangunan . ( Gerung , 1988 : 7 – 8 )

Di tahun 1971, 1977 dan 1982 Golkar memenangkan lebih dari 60 % suara
Keberhasilan-keberhasilan ini sebagian besar berkait dengan pengaturan pemerintah atas
UU Pemilu dan UU Kepartaian serta peraturan-peraturan pelaksanaannya yang
mengutungkannya , organisasi dan taktik yang diterapkan Golkar , manipulasi pemerintah
yang menguntungkan Golkar, misalnya melarang pembentukan cabang-cabang partai di
tingkat kabupaten , membatasi masa kampanye ( 45 hari di masa lalu , 25 hari di tahun
1987) , melarang kampanye yang mengeritik kebijakan-kebijakan pemerintah dan
memberikan kekuasaan badan--badan penerintah lokal pro-Golkar yang bisa digunakan
sesukanya atas izin pertemuan kampanye dan rapat umum.

Secara organisasional , Golkar adalah campuran dari Angkatan Bersenjata dan birokrasi
sipil . Di tahun 1971 dan 1977 pimpinan Golkar dimonopoli , di beberapa tempat sampai
tingkat desa , oleh militer . Di tahun 1982 , ketika kepercayaan militer terhadap kesetian
dan kemampuan birokrasi sipil meningkat , lebih banyak posisi pimpinan yang diberikan
kepada orang-orang sipil , walaupun AB secara terus-menerius secara terbuka
mendukung partai ini. Tahun 1987 , ketika pemerintah merasa lebih yakin daripada
sebelumnya atas kemenangan Golkar , militer secara resmi mengumungkan netralitasnya.
Anggota Angkatan Bersenjata yang masih aktif berdinas tetap berhati-hati untuk berada
di luar kampanye , tetapi perwira-perwira pensiunan tampil lebih menonjol dibanding
sebelumnya .

Hasil-hasil pemilihan umum tahun 1987 menggambarkan perubahan signifikan pertama


kali dalam pola perolehan yang telah berlangsung sejak tahun 1971 . Suara PPP hampir
hancur serta naiknya peruntungan Golkar dan PDI . Partai pohon beringin itu mendulang
73,2 % suara , PPP hanya menperoleh 16,0 % suara dan sisanya 10 ,9 % suara untuk
Partai Demokrasi Indonesia . Di dalam PPP , NU memberikan porsi terbesar pemilih
yang berpindah . Keseimpulan-kesimpulan ini sebagian berdasar ukuran relatif ketiga
kontestan , nersanya peningkatan Golkar dan penurunan PPP ( PDI terlalu kecil untuk
mempengaruhi total suara partai-partai lain ), dan ukuran NU dibandingkan komponen-
komponen lain dalam PPP. Di tahun 1971 NU meraih dua per tiga total suara partai-
partai Islam . Jika proporsi itu tetap sama di tahun 1982 , sebagaimana diyakini sebagian
besar pengamat , berarti hilangnya lebih dari empat puluh persen suara PPP antara 1982
dan 1987 adalah musthail tanpa erosi besar-besaran pemilih NU

36
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Dengan persetujuan pemerintah , NU keluar dari PPP tahun 1984 , menyatakan dirinya
sebagai organisasi sosial dan pendidikan serta melarang pemimpin-pemimpinya
merangkap jabatan dalam partai politik Meskipun demikian , NU tetap aktif berpolitik
dan di tahun 1985 mencoba mendongkel nemesis-nya, John Naro dari MI sebagai Ketua
Umum PPP namun gagal .Tahun 1987 , satu istilah baru , penggembosan , memasuki
perbendaharan kata politik Indonesia ketika tokoh-tokoh terkemuka NU menjelajahi
seluruh pelosok negeri menggambarkan para angora dan pendukungnya bahwa “ Tak
wajib nyobos PPP, tak haram nyoblos Golkar , tak jahat nyoblos PDI .” Tetapi pesan
tidak terlalu subliminal yang mendasarinya ialah untuk memilih Golkar , dan berjuta-juta
pemilih NU mengikuti garis ini .

Kekalahan PPP karenanya merupakan kemenangan NU . Pemimpinan NU memberikan


suara kepada Golkar dan dengan demikian meningkatkan pengaruhnya dalam sistim
politik . Secara organisasional , otonomi NU semakin diperkuat . Sekolah-sekolah dan
guru-gurunya sekarang menjadi sasaran sumbangan pemerintah , bukan permusuhan
Beberapa anggotanya berpengaruh di dalam Golkar , dan akan diberi posisi pimpinan
untuk menjadi perekat persekutuan de facto itu . Yang terpenting , dalam menggembosi
suara PPP hampir setengahnya , NU mempertontonkan kekuatan massanya dengan cara
yang istimewa dramatis . Pelajaran ini tidak diabaikan begitu saja oleh pejabat-pejabat
pemerintah , yang dalam kampanye pemilu sekarang dan sebelumnya bisa secara
langsung memperbandingkan kedalam kesetian kepada NU dengan kedangkalan
dukungan kepada Golkar . ( Liddle , 1992 : 91 – 95 )

Namun rupanya dalam beberapa tahun ini, ada perkembangan baru dalam dunia politik
Indonesia . Sikap ABRI terhadap Golkar kurang kompak . Ada sebagian pensiunan ABRI
menunjukkan dukungan mereka kepada PDI . Empat puluh purnawirawan diberitakan
sudah menggabungkan diri dengan PDI baru-baru ini . Juga dikabarkan bahwa posisi-
posisi komisaris PDI di tingkat kecamatan telah terisi 100 persen , sedangkan di desa-
desa yang sudah terisi 50 persen . Tokoh PDI (Soerjadi) menginterprestasikan ini sebagai
tanda bahwa sudah tidak takut lagi menjadi anggota PDI . Karena itu, ada yang
berpendapat bahwa Golkar kini akan menghadapi tantangan hebat dari PDI dalam pemilu
1992 . Diperkirakan bahwa PDI akan mendapat sokongan dari group yang tidak senang
dengan Golkar dan pemilih muda yang untuk pertama kali memilih, yang jumlahnya kira-
kira 17 juta .

Menghadapi situasi yang semacam ini , Pembina Utama Golkar yaitu Presiden Soeharto ,
mengambil strategi baru dalam menyusun daftar pencalonan legislatif (caleg ) Golkar .
Kabarnya daftar caleg yang selama ini diajukan oleh para pemimpin :tiga jalur “ Golkar ,
yaitu Panglima ABRI , Mendagri dan Ketua Umum Golkar , diubah oleh Presiden . Caleg
yang terlampau vokal atau yang latar belakang : tidak sesuai : telah dicoret oleh Pembina
Utama . Menurut laporan , pada akhir tahun 1971 , nama-nama DPR yang selama ini “
dikenal dekat dengan kalangan ABRI tersingkir nomor jadi .” Di antaranya Marzuki
Darusman dan Jusuf Wanandi . Begitu pula calon dari Fraksi ABRI yang tadinya berniat
masuk Golkar , misalnya Mayjen Saiful Sulun , dan Brigjen (pol ) Roekmini Koesomo
yang sangat vokal

37
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Yang menarik tentang pemilu 1992 ini adalah pasangnya Islam. Semua Organisasi
Peserta Pemilu (OPP ) ingin merebut pemilih Islam . Di dalam kalangan Islam , terjadi
perpecahan menjadi dua kelompok. Yang satu mengambil strategi “politik Muslim “ dan
yang satu lagi mengambil strategi “ politik Islam ‘ . Kelompok yang setuju
dengan“politik Muslim “ berpendapat bahwa “ politik Islam “ yaitu melalui wadah partai
Islam ) tidak akan membawa keuntungan kepada umat . Jadi , hanya dengan politik
“politik Muslim “ , yaitu memilih orang Islam tanpa menghiraukan organisasinya ,
kekuatan Islam baru bisa bertambah . Ternyata , kelompok “politik Muslim “itu mau
bekerjasama dengan Golkar yang dipimpin oleh Soeharto . Menurut pandangan ini, justru
di bawah pimpinan Soeharto , Islam sebagai agama dan kekuatan sosial telah makin
berkembang .

Makin berpengaruhnya Islam dalam pemilu , ini juga dapat dilihat dari kampanye-
kampanye Golkar , PPP dan PDI . Dalam kampanye ini, jurkam ketiga OPP sering
menunjukkan keislamannya . Misalnya , Harmoko dari Golkar sering memekik : “ Allahu
Akbar …Golkar Menang .” Spanduk PDI berbunyi : “ Indonesia negaraku , Islam agama,
Banteng pilihankui .” Sedangkan slogan PPP berbunyi “ Demi Alllah , Aku nyoblos
Bintang .”

Pada tanggal 8 Juni 1992 Pemilu dilaksanakan : 90.91 % pemilih telah melakukan
pemilihan . Prosesnya cukup lancar , biarpun bentrokan di sana-sini masih terjadi . Ada
yang berpendapat bahwa kelancaran Pemilu kali ini disebabkan oleh netralnya sikap
ABRI ketika pemilu itu berlangsung .

Ada beberapa pihak dari PDI dan PPP menuduh Golkar curang dalam pemilu tahun 1992
Tetapi ketika hasil resmi pemilu diumumkan , ketua dari ketiga OPP itu menerimanya.
Hasil pemilu tahun 1992 menunjukkan bahwa Golkar masih tetap merupakan partai yang
paling besar yang berhasil meraih 68.1 % suara pemilih (282 kursi ) , PPP tetap
menduduki tempat kedua dengan kemenangan 17 % (62 kursi ) , sedangkan PDI
menduduki tempat ketiga dengan perolehan suara 14,9 % ( 56 kursi ) . Jikalau
dibandingkan dengan Pemilu 1987 , perolehan suara Golkar merost 5 % , PPP hanya
mendapat tambahan suara 1 % , sedangkan PDI naik hampir 4 % . ( Suryadinata , 1992 :
153 – 157 )

Keberhasilan DPP-PDI Soerjadi mendongkrak peroleh suara pada pemilu 1987 dan 1992
disebabkan PDI mulai berhasil mendefinisikan dirinya . Meskipun bukan identitas yang
permanen dalam arti formal berdasarkan kesepakatan antar-partai yang berfusi melainkan
semata-mata yang ditujukan untuk memperjelas diri di depan massa pendukungnya –
seperti partai anak muda , partai metal , partai wong xilik – berhasil memberi kesan
kepada masyarakat bahwa PDI adalah partai alternatif , Itu terlihat dalam setiap
kampanye PDI, terutama di di DKI yang selalu lebih marak ketimbang kampanye OPP
( prganisasi peserta pemilu ) lain . Menguatnya identitas partai ini diikuti pula oleh
dikembangkannya karena sikap kritis PDI baik terhadap pemerintah maupun sistim
politik secara keseluruhan . Tak ketinggalan keberhasilan PDI menjadikan Megawati dan

38
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Guruh sebagai vote getter untuk merup suara dari sisa-sisa simpatisan PNI yang memang
mengidolakan Soekarno dan dengan demikian juga keluarganya

Peroleh suaranya yang cukup berarti bukan berarti DPP PDI ini sepi dari konflik .
Sebagian dari tokoh-tokoh tua PDI banyak menyatakan ketidaksukaan terhadap pimpinan
Soerjadi . Menurut mereka PDI terlalu dekat dengan kekuasaan . Sementara yang lain
menilai manajemen yang diterapkan Soerjadi laksana “ seorang manajer mengusur
ekspedisi muatan kapal laut , padahal mengusrus partai dengan mengurus barang . Yang
lainnya lagi menilai bahwa prinsip musyawarah dan mufakat belum sepenuhnya
dilaksanakan oleh Soerjadi . Konflik tersebut berkepanjangan dan Megawati yang bersih
dari konflik mendapat dukungan menjadi ketua umum PDI periode berikutnya Dukungan
terhadap Megawati yang sebetulnya orang baru dalam pentas politik karena kehadiran
Megawati diharapkan akan memperkuat realigenment ( pensejajaran kembali ) PDI
terhadap Golkar sebagai partai pemerintah . Hilangnya suara Golkar di beberapa daerah
dan naiknya suara PDI di daerah tertentu pada pemili 1987 dan 1992 menunjukkan
realignment itu. Naiknya Megawati diharapkan akan memperkokoh realigment itu
mengingat sejumlah pemilih Golkar bukan memilih karena hati nurani melainkan karena
sebab-sebab tertentu di luar dirinya . Selain itu , Megawati muncul dalam sosok yang
bebas konflik yang sudah sangat menjemukan bagi warga PDI . Naiknya Megawati
Soekarnoputri ) memimpin PDI diharapkan akanm mengakhiri konflik dalam PDI .
( Zulkifli , 1996 : 75 – 94 )

Munculnya Megawati Soekarnoputri dalam kepemimpinan Partai Demokrasi Indonesia


adalah suatu gejala politik yang baru dan dapat dikatakan spektakuler . Sosok Megawati
yang mula-mula tidak begitu dikenal di kalangan para politisi itu dengan cepat menarik
perhatian ketika ia mendapat dukungan dari bawah untuk tampil memegang tampuk
pimpinan PDI yang sedang diacak-acak oleh penguasa Orde Baru . KLB Surabaya pada
Desember 1993 , yang merupakan arena untuk memecahkan kebuntuan politik sesudah
kegagalan Kongres Medan . Meretas jalan baru PDI dengan memilih Megawati sebagai
ketua umum dikukuhkan oleh Munas di Jakarta akhir Desember 1993 .

Keberhasilan Megawati untuk tampil sebagai Ketua Umum PDI bukan hanya sebuah
terobosan pada soal figur, tetapi juga strategi pemberdayaan . Sebab semenjak pagi-pagi ,
Megawati dan kawan-kawan telah menjadikan kekuatan arus bawah yang dalam
nomenklatur politik Orba dianggap tabu , sebagai landasan perjuangan politik mereka
Kekuatan arus bawah yang dalam format politik Orba ditempatkan pada sisi marjinal ,
justru oleh Megawati dan kawan-kawan di tarik ke tengah , karena ia sejatinya
merupakan esensi dalam sebuah format politik demokratis . Bersama dengan tokoh pro
demokrasi , Megwari mencoba melakukan upaya pemberdayaan dari bawah sebagai
suatu alternatif yang diajukan di tengah kepengapan politik di bawah rezim otoriter Orde
Baru . Tentu saja hal ini membuat gerah fraksi-fraksi elite partai yang tidak sepakat
dengan upaya semacam ini , sebab hal ini berarti akan merugikan mereka serta dapat
menggoyahkan posisi mereka vis-à-vis penguasa . Karenanya usaha penggoyangan
Megawatipun segera dilancarkan .

39
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Ganguan demi gangguan pun harus dihadapi oleh PDI di bawah Megawati semenjak ia
memegang kendali partai . Penguasa dibantu fraksi-fraksi saling berlawanan di dalam
partai , semenjak berakhirnya Munas tak putus-putusnya melakukan counter terhadap
Megawati dengan menggunakan berbagai cara .Dengan cara-cara demikian , diupayakan
agar ruang ruang gerak Megawati menjadi kian sempit dan keinginan PDI untuk terus
melaksanakan pemberdayaan internal tersandung sehingga akan terus tergantung kepada
penguasa sebagai praktik sebelumnya . Puncak dari upaya konspiratorial ini, tak dapat
diragukan lagi, adalah Kongres Medan yang disponsori oleh penguasa dan dilaksanakan
oleh Soerjadi dkk . Tampaknya Soerjadi tergiur oleh godaan kekuasaan yang ditawarkan
oleh Soeharto : Ketua Umum PDI .yang baru .

Tampilnya Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI kembali telah menyebabkan Megawati
memperoleh dukungan warga PDI dan simpatisannya kian hari kian besar dan
populeritas Megawati sebagai tokoh pro demokrasi pun semakin mencuat sehingga
banyak yang mensejajarkannya dengan tokoh-tokoh politik perempuan seperti Benazir
Bhutto, Cory Aquino , dan Aung San Suu Kyi .

Keunggulan PDI Perjuangan di bawah Megawati dan keterpurukan PDI Soerjadi semakin
menjadi kenyataan manakala Pemilu 1997 digekar . Selama kampanye pemilu itu,
umpamanya para pendukung tradisional PDI menolak melakukan kampanye untuk
Soerjadi dan menyatukan diri dengan pendukung PPP sehingga muncul feneomena
Mega-Bintang yang sangat populer itu . Fenomena itu menunjukkan bahwa kendatipun
pendukung PDI tidak golput , tetapi mereka tidak pula mau menyerahkan suaranya
kepada Soerjadi . ( Hikam , 1999 : 28 – 31 )

Maraknya fenomena Mega-Bintang yang tidak teduga ini nampaknya mengkhawatirkan ,


sehingga segera saja ia dipangkas dengan dikeluarkannya larangan untuk memasang
spanduk Mega-Bintang karena tidak sesuai dengan peraturan perundang yang berlaku.
Namun larangan yang dapat dianggap sebagai upaya untuk meredam semakin
berkembangnya fenomena tersebut nampaknya belum cukup ampuh untuk dapat
menghentikan keberlanjutan fenomena itu . Karena pada kenyatannya walaupun spanduk
yang dikagorikan dilarang itu sempat diturunkan , pawai massa Mega-Bintang
nampaknya tidak kekurangan akal. Dengan berbagai cara mereka mencoba untuk tetap
menampilkan ciri mereka dalam kampanye bersama PPP, baik melalui kaus yang
digunakan , spanduk yang dibawa , maupun bendera , dan berbagai atribut lainnya . Isu
Mega-Bintang itu adalah luapan solidaritas perlawanan atas hegemoni . Kalau dilarang
begitu saja akan muncul dalam bentuk lain . Apa yang disaksikan di lapangan memang
demikian adanya .

Munculnya fenomena Mega-Bintang ini memang mengundang persoalan setidaknya


mengenai pengaruhnya terhadap jalannya Pemilu, khususnya pemungutan suara . Dalam
kaitan ini pertanyaan mengenai apa yang menjadi latar belakang :koalisi “ itu menjadi
penting . Seperti diketahui , walaupun kalangan PDI Soerjadi telah berulangkali
menghimbau agar PDI dipahami sebagai PDI dan bukan orangnya ( Soerjadi atau Mega ),
namun nampaknya masa pro-Mega ini tetap tidak mau mendengarnya . Sebab jika
mereka memilih untuk tetap mendukung PDI ( Kongres Medan ) berarti mereka memilih

40
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

mendukung Soerjadi yang juga berarti mendukung “ rekayasa dan penindasan “ yang
telah memporakporandakan orsospol tersebut .

Mereka juga tidak menjatuhkan pilihan pada Golkar karena orsospol ini dentitik dengan
penguasa . Sementara penguasa dinilai telah mendukung dan memberi peluang kepada
Soerjadi untuk menggoyang kepemimpinan Mega . Duikungan penguasa ini dianggap
sebagai sikap memihak yang dirasakan tidak adil . Sementara memilih untuk menjadi
Golput , walaupun mungkin bagi mereka masih memiliki nilai positif sebagai suatu
pilihan , yang merupakan salah satu manifestasi dari bentuk protes mereka terhadap
proses pelaksanaan pemilu , nampaknya tidak menjadi pilihan utama . Sebab , boleh jadi ,
malahan akan menguntungkan Golkar . Karena itu mereka memilih bergabung dengan
PPP yang dinilai senasib dengan mereka setidaknya predikatnya sebagai sesama partai
pelengkap penderita . Secara demikian mereka juga dapat menyalurkan keinginannya
untuk turut serta berhura-hura dalam kampanye .

Persoalan yang kemudian timbul adalah apakah mereka bergabung dengan PPP itu juga
merupakan pilihan untuk sekaligus mencoblos tanda gambar Bintang atau tidak pada hari
pemungutan suara . Pertanyaan ini muncul karena pada awalnya masih belum jelas benar
Penggabungan itu terjadi begitu saja . Yang nampak ke permukaan hanya mengenai
massa pro-Mega yang menitipkan suaranya kepada PPP . Karena itu masih dipersoalkan
lagi apakah mereka tergabung untuk menghadapi kekuatan yang lebih besar seperti
Golkar sekaligus menjatuhkan PDI Soerjadi , atau hanya sekedar mencari wadah untuk
ikur berhura-hura . Keraguan ini untuk sebagian terjawab oleh hasil perhitungan suara
Pemilu 1997 yang diumumkan pada 23 Juni 1997. ( Ndouk 1997 : 432 – 433 )

Golkar meraih kemenangan dengan tingkat perolehan suara sekitar 74,3 persen
Kemenangan Golkar ini telah menempatkannya sebagai single mayority yang belum
terkalahkan . Sekaligus kemenangan itu menandakan menguatnya dukungan birokrasi
terhadap Golkar dan juga semakin memperkuat hegemoninya dalam kehidupan politik
nasional. Di samping itu dengan kemenangan Golkar tersebut cukup alasan bila para
petinggi pemerintah merasa yakin atas kebenaran proses pembangunan politik yang
selama ini dilakukannya .Sementara itu nampak juga bahwa PPP memperoleh dukungan
yang cukup berarti dari masyarakat , jumlah perolehan suara mencapai sekitar 22,6
persen di mana pada pemilu sebelumnya hanya mencapai 17 persen . Sedangkan PDI
Soerjadi nampak terpuruk , karena hanya memperoleh suara sebesar 3,1 persen.
( Priyadi , 1999 : 535 )

Peningkatan ini (dan turun dratisnya perolehan suara PDI ) setidaknya menunjukkan
bahwa sebagian massa Mega-Bintang yang sebelumnya ikut berkampanye bersama PPP
nampaknya telah pula menjatuhkan pilihannya kepada PPP pada hari pemungutan suara
Namun pilihan itu kemungkinan besar dipengaruhi oleh kekurangtegasan Pesan Harian
Megawati yang memutuskan tidak menggunakan hak politiknya dalam Pemilu 1997 ,
tetapi menginsitrusikan kepada semua pendukungnya menggunakan kartu kuning Pemilu
dengan sebaik-baiknya dan memantapkan hati serta pikiran menggunakan hak politiknya
dalam pemilu sesuai dengan hati nurani masing-masing . ( Ndouk , 1997 432 – 433 ):

41
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Bagi Golkar yang telah meraih kemenangan , kesedian Golkar untuk menandatangani
Berita Acara Penghitungan Suara Pemilu 1997 merupakan urusan prosedural saja. Lain
halnya dengan PPP dan PDI , kedua Organisasi Peserta Pemilu (OPP ) ini sempat
meragukan terhadap hasil penghitungan suarta dan hal ini terlintas dalam sikap awalnya
tidak bersedia menandatangani berita acara hasil penghitungan suara pemilu 1997 .

Ketidaksediaan PPP dan PDI menandatangani berita acara sempat menimbulkan rasa
was-was kalangan pemerintah , dan hal ini dapat dimengerti mengingat banyaknya
protes serta tuduhan terjadinya kecurangan tidak hanya dalam penghitungan suara tetapi
juga jauh sebelum hari pemungutan suara tetapi juga jauh sebelum hari pemungutan suara
29 Mei 1997 . Protes keras masyarakat tidak hanya diwujudkan dalam bentuk unjuk rasa
melainkan juga diwarnai aksi kekerasan berupa pengerusakan , pembakaran dan
penganiayaan di berbagai daerah . Belum lagi serangkaian peristiwa kerusuhan massal
yang sangat mengganggu ketenangan masyarakat selama masa kampanuye . Bahkan di
Sampang telah terjadi puluhan kotak suara dirusak dan dibakar massa, sehingga untuk
pertama kali dalam sejarah pemilu terpaksa diadakan pemungutan suara ulangan .

Terlepas dari berbagai skenario yang melatarbelakangi keputusan PPP dan PDI dalam
menentukan sikapnya untuk menandatangani berita acara hasil pemilu 1997 , sikap
tersebut dapat dinilai tepat oleh masing-masing OPP . Terlebih lagi apabila sampai pada
pemahaman bahwa menurut ketentuan yang berlaku mengenai pemilu , sekalipun salah
satu OPP yang tidak menandatangani berita acara , hal itu tidak menyebabkan batalnya
hasil penghitungan suara suara . Kalau memang demikian ketentuannya maka akan sia-
sia saja kalau da salah satu OPP yang tetap ngotot , karena hasil penghitungan suara itu
tetap saja sah. Pada sisi lain , OPP yang ngambek tadi bisa dianggap tidak menghargai
para pemilih yang telah memberikan suara kepada OPP yang bersangkutan
Pragamatisme dan sikap yang realistis inilah kiranya yang mendasari keputusan yang
telah diambil oleh PPP dan PDI dalam menyikapi permintaan penandatangan berita acara
hasil perhitungan pemilu 1997 . ( Priyadi, 1997 : 536 – 537 )

Pemilu-pemilu Orde Baru , karena selalu dimenangkan oleh Golkar , sebagai partai
pemerintah , akibatnya melahirkan sistem kepartaian yang hegemonik Sistim partai
hegemonik berada di antara sistim partai dominan dan sistem satu partai . Dalam sistem
ini eksistensi partai-partai politik diakui tetapi peranannya dibuat seminimal mungkin ,
terutama dalam pembentukan pendapat umum .

Sistem kepartaian hegemonik selama Orde Baru , yang mana Golkar selala memang,
karena dibentuknya aparatur keamanan yang represif dengan tugas menjaga ketertiban
dan mempertahankan aturan politik dan stabilitas negara , proses depolitisasi ( dimana
massa diasingkan dari arena politik ) , retrukturisasi partai-partai politik dan dikeluarkan
hukum-hukum pemilu dan aturan sedemikian rupa untuk memungkinkan Golkar tetap
menang .

Partai Politik dan Reformasi

42
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Seiring dengan lahirnya era reformasi yang diawali dengan jatuhnya pemerintah
Presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 , kehidupan kepartaian di Indonesia
mengalami perkembangan yang luar biasa . Perkembangan itu menyangkut. baik dalam
segi jumlah . Seperti diketahui , sejak tahun 1975 berdasarkan UU No. 3 /1975
sebagaimana telah diubah dengan UU No.3 tahun 1985 tentang Partai Politik dan
Golongan Karya sampai dengan 31 Januari 1999 , jumlah Partai Politik di Indonesia
dibatasi dua saja dengan nama yang sudah dipastikan pula, yakni : Partai Persatuan
Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) ditambah dengan Golongan
Karya . Namun sejak dikeluarkannya UU No. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik,
jumlah Parpol yang dinyatakan memenuhi syarat dapat mengikuti pemilu 1999 hanya ada
48 partai politik .( Djadijono, 2004 : 52 )

Salah satu perubahan paling fundamental yang telah terjadi di Indonesia sejak awal
proses pembaruan ( reformasi ) adalah perubahan peran pemilihan umum dalam tatanan
politik negara . Perubahan penting yang dapat dilihat termasuk landasan ideologis yang
diberlakukan untuk menyelenggarakan pemilihan umum . Selama paling sedikit lima kali
pemilihan umum sebelum 1999 , pemilihan umum diselenggarakan sebagai mekanisme
untuk mengukuhkan kembali sistem politik yang berlaku . Secara singkat pemilu pada
zaman tersebut ditetapkan untuk mengesahkan kembali sistim politik Orde Baru
Pemilihan umum bukan merupakan wadah persaingan antara peserta yang dapat
menggantikan kepemimpinan politik nasional . Malah salah satu Menteri Dalam Negeri
pada saat tersebut “mengingatkan : rakyat bahwa pemilihan umum bukan merupakan
kesempatan untuk” main politik” .

Pemilu tahun 1999 merupakan pemilihan umum pertama yang berasas persaingan terbuka
sejak pemilihan umum untuk DPRD Provinsi se-Kalimantan pada 1958 . Perbedaan
paling besar yang dapat dilihat antara pemilu 1999 dan pemilu sebelumnya adalah di
bidang penyelenggaraan pemilu . Pada pemilu sebelumnya badan penyelenggaraan
pemilu ikut menjamin kemenangan ( dan kelangsungan ) sistim politik Orde Baru . Pada
tahun 1999 fungsi badan penyelenggara pemilu berubah agar menjamin ( termasuk
dengan pelembagaan beberapa mekanisme pembuktian integritas ) bahwa preferensi para
pemilih benar-benar dicerminkan dalam hasil pemilu sendiri .

Selain badan penyelenggaraan pemilu, unsur-unsur lain yang mempengaruhi proses


kepemiluan ( electoral atau masalah-masalah yang menyangkut pemilihan umum ) juga
berperan dalam mendukung pelaksanaan pemilu secara kompetetif .Unsur-unsur ini
termasuk kebebasan pers untuk meliput pemilu , kebebasan untuk mendirikan partai
politik baru , kebebasan untuk memantau proses pemilihan umum , kebebasan pegawai
negeri sipil untuk tidak harus mendukung dan memilih Golkar dan birokrasi yang netral
terhadap masing-masing peserta pemilu ( Evans , 2004 : 190 – 191 ) .

Kebanyakan partai politik sehingga menimbulkan dugaan banyak pihak bahwa titik
yang paling rawan bagi terjadinya kerusuhan dan tindakan kekerasan adalah masa
kampanye ( 19 Mei - 4 Juni 1999 ) . Pengalaman pemilu-pemilu Orde Baru juga
menunjukkan bahwa tindakan kekerasan paling banyak terjadi selama masa kampanye
Hal ini dapat dimengerti karena kampanye diisi dengan kegiatan-kegiatan berupa rapat

43
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

akbar dan pawai kendaran bermotor yang mengerahkan sejumlah besar massa
Berkumpulnya sejumlah besar massa di tempat-tempat terbuka dengan suasana yang
amat emosional dan penuh semangat untuk memenangkan partai politik mereka adalah
tempat yang amat subur bagi tumbuhnya kerusuhan dan tindakan kekerasaan .

Kenyataan telah menunjukkan , bahwa kampanye Pemilu 1999 berjalan dengan lancar
tanpa gangguan yang berarti . Meskipun terjadi beberapa bentrokan fisik antara
pendukung beberapa partai politik ( terutama antara pendukung Golkar dengan para
pendukung partai lainnya seperti PDI Perjuangan dan antara para pendukung PKB dan
para pendukung PPP ) namun secara keseluruhan kampanye pemilu 1999 jauh lebih aman
dibandingkan pemilu-pemilu Orde Baru

Di samping faktor-faktor yang menyebabkan relatif amannya Pemilu 1999 seperti telah
disebutkan di atas ., ada faktor lain yang menyebabkan amannya kampanye Pemilu 1999
Pertama adalah terjadinya dikotomi Golkar dan bukan Golkar dalam kampanye Pemilu
1999 . Partai-partai di luar Golkar mampu menunjukkan solidaritas yang baik sehingga
tidak ada keinginan untuk mengganggu kampanye partai lainnya dalam kelompok ini
Sebaliknya kampanye Golkar ( dan juga PDI Budi Hardjono ) di beberapa daerah
cenderung menghasilkan tindakan kekerasan , karena para pendukung partai lain yang
antipati terhadap partai-partai tersebut tidak rela melihat kedua partai ini melakukan
kampanye . Di tempat-tempat di mana situasi dianggap tidak menguntungkan ,Golkar
terlihat berusaha untuk menahan diri dalam kampanye untuk mencegah terjadinya
bentrokan fisik dengan para pendukung partai lainnya .

Faktor kedua yang menyebabkan relatif amannya kampanye Pemilu 1999 adalah adanya
peringatan dari banyak pihak tentang kemungkinan terjadinya kerusuhan dalam
kampanye . Peringatan ini mendorong pimpinan partai-partai politik untuk mengambil
tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencegah terjadinya tindakan kekerasan antara
pendukung partai . Pengerahan sejumlah besar satuan tugas dan masing-masing partai
telah ikut membantu terselenggaranya pemilu dengan baik . Dalam kaitan ini, kesiapan
aparat keamanan ( yang memang selama setahun terakhir ini selalu siap di tempat-tempat
strategis ) telah turut membantu mencegah terjadinya tindakan kekerasan . Sikap berjaga-
jaga yang ditunjukkan oleh pimpinan partai politik dengan melakukan berbagai cara
untuk mencegah penyusupan ke dalam para peserta kampanye juga turut membantu
mencegah terjadinya kerusuhan selama kampanye .

Faktor ketiga adalah pengerahan massa yang relatif lebih sedikit oleh sebagian besar
partai-partai politik ( kecuali PDI Perjuangan ) . Dibandingkan dengan pengerahan massa
pada masa Orde Baru , hampir semua partai-partai politik tidak melakukan pengerahan
massa sehebat yang dilakukan oleh para peserta pemilu di masa Orde Baru . Golkar
umpamanya , tidak melakukan pengerahan massa seperti dalam pemilu-pemilu yang lalu,
karena kuatir terjadsinya bentrokan fisik . Sebagian besar kampanye PKB, PAN dan PPP
juga tidak sehebat kampanye yang dilakukan oleh para peserta pemilu dalam pemilu-
pemilu yang lalu . Salah satu faktor penting yang menyebabkan berkurangnya
pengerahan massa , adalah keterbatasan dana . Hampir semua partai menghadapi
kesulitan dana sehingga tidak mampu mengerahkan massa dalam jumlah yang lebih

44
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

besar. Jadi keterbatasan dana yang dimiliki partai-partai sebenarnya ada juga baiknya
karena membantu mencegah terjadinya pengerahan massa secara besar-besaran yang
dapat menjurus ke arah kerusuhan sosial dan tindakan kekerasaan selama masa kampanye
pemilu 1999 . ( Rauf , 1999 : 155 – 157 )

Golkar memang diperkirakan akan memperoleh suara yang cukup besar , mengingat
jaringan politiknya yang sudah dikembangkannya selama Orde Baru . Banyak para
pemilih Golkar yang berasal dari daerah-daerah yang memang sudah jadi pemilih
tradisional Golkar . Bahkan ada diantara mereka yang menganggap pemilu sebagai hasil
memilih Golkar , karena pada setiap pemilu di masa Orde Baru mereka selalu memilih
partai tersebut . Faktor Habibie juga memainkan peranan penting bagi kemenangan
Golkar . Pencalonan Habibie sebagai presiden oleh Golkar merupakan faktor penyebab
kemenangan Golkar di kawasan Indonesia Timur . Meskipun begitu , kedudukan Golkar
sebagai partai kedua terbesar adalah cukup mengkagetkan . Ternyata citra reformasi tidak
begitu penting terhadap para pemilih .

Yang mengkagetkan adalah kedudukan PAN sebagai partai terkecil dari lima besar.
Ternyata para pendukung Muhamadiyah tidak merasa yakin bahwa mereka harus
memilih PAN . Meskipun PAN didirikan oleh tokoh-tokoh Muhamadiyah , rupanya PAN
tidak berhasil mengajak para anggota-anggota organisasi kemasyarakatan tersebut
meskipun saingannya tidak ada . Tidak seperti dalam tubuh NU , Muhammadiyah hanya
melahirkan satu-satunya partai politik di kalangan organisasi tersebut . Meskipun di
dalam tubuh NU muncul empat partai politik , ternyata dukungan sebagian besar warga
NU diberikan kepada PKB yang mengantar partai ini pada kedudukan tiga besar. Di
samping itu umat Islam di luar Muhammadiyah juga tidak banyak tertarik pada PAN
sehingga suara PAN tidak begitu besar .

Salah satu kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pemilu 1999 adalah bahwa sebagian
besar pemilih tidak mendasarkan pemilihan mereka pada program partai . Dukungan
mereka kepada partai-partai politik lebih banyak didasarkan atas pertimbangan emosional
. PDI-Perjuangan mendapatkan suara yang besar , bukan daya tarik program-program
yang disampaikannya , tetapi karena simpati yang besar kepada Megawati Soekarnoputri
yang tetap tegar walaupun rezim Orde Baru bersikap keras terhadap partai tersebut . Di
samping itu , Megawati Soekarnoputri menartik simpati masyarakat karena ia tidak
menggunakan cara kekerasan dalam melawan Orde Baru .

Secara umum , partai-partai politik masih mengandalkan basis massa yang secara
tradisional memang memiliki preferensi politik partai tertentu .Partai-partai Islam
mengandalkan hubungan dengan basis massa Islam yang tergabung dalam ormas-ormas
tertentu . Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Bintang Reformasi tetap
mengandalkan basis-basis massa dari NU, Muhamdiyah , Persis , PSII . Partai Bulan
Bintang masih mengandalkan Masyumi . Sementara Partai Keadilan Sejahtera lebih suka
membidikan generasi muda Islam sebagai target basis massa .

Partai yang tidak menegaskan Islam sebagai asasnya tetapi tetap mengandalkan
dukungan dari basis massa Islam . Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Amanat

45
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Nasional tetap mengandalkan dukungan dari massa Islam. . Partai Kebangkitan Bangsa
mengandalkan dukungan dari massa santri tradisional Nadhlatul Ulama . Partai
Kebangkitan Bangsa unggul di di daerah basis NU , sementara daerah yang yang tidak
memiliki basis santri NU kurang bisa menggalang dukungan secara maksimal . Kendati
kader Muhammadiyah dinilai banyak di PAN tetapi secara organisatoris Muhammadiyah
tidak memberi dukungan kepada PAN . Partai Kebangkitan Bangsa memperoleh suara
cukup signifikan di Jawa Timur dan Partai Amanat Nasional memperoleh suara
signifikian di Sumatra Barat .

Partai Politik yang tidak mendasarkan diri pada basis massa Islam seperti Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Golkar banyak memperoleh dukungan dari massa
yang lebih luas . PDI-Perjuangan mendapat dukungan sangat siginifikan di Pulau
Dewata dan Golongan Karya di Sulawesi Selatan .( Romli , 1999 : 136 – 140 )

Dilihat dari aspek asas atau ideologinya, berdasarkan UU No. 3 Tahun 1985 tentang
Perubahan atas UU No 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golongan Karya harus
berasas tunggal, yakni Pancasila . Namun , sejak dikeluarkannya UU No. 2 Tahun 1999
pada tanggal 1 Februari 1999 tentang Partai Politik , keharusan berasas tunggal Pancasila
tersebut ditiadakan . Sebaliknya menurut ketentuan Pasal 5 ayat (2) No 31?2002 justru
ditegaskan bahwa setiap Partai Politik , keharusan berasas tunggal Pancasila tersebut
ditiadakan . Sebaliknya , menurut ketentuan Pasal 5 ayat (2) UU No. 31/2002 justru
ditegaskan bahwa setiap Partai Politik dapat mencantumkan ciri tertentu sesuai dengan
kehendak dan cita-citanya asalkan tidak bertentangan dengan Pancasila , dan Undang-
undang Dasar 1945 .

Melalui reformasi regulasi tentang Partai Politik tersebut dapat dikatakan bahwa
kehidupan kepartaian di Indonesia telah mengalami pasang naik dan pasang surut dar segi
jumlah Parpol . Selain itu . bagi setiap Parpol diberi keleluasaan pula untuk
mencantumkan ciri tertentu sesuai dengan kehendak dan cita-cita dari Parpol masing-
masing . Seperti diketahui , pada pemilu legislatif 5 April 2004 yang lalu diikuti oleh 24
Partai Politik dengan aneka ciri atau ideologinya masing-masing .

Fungsi ideologi antara lain adalah sebagai alat untuk mengelola konflik maupun
persatuan dan tali pengikat gerakan-gerakan politik . Namun , fungsi tersebut pada
umumnya tidak menjadi kenyataan dalam kehidupan internal beberapa parpol di
Indonesia . Indikatornya dapat dilihat dari munculnya perpecahan-perpecahan dalkam
beberapa parpol itu sendiri , menjelang Pemilu leghislatif 2004 . .

PDI-P sebagai pemenang Pemilu 1999 ( memperoleh 153 kursi di DPR-RI ) , misalnya ,
mengalami perpecahan menjadi beberapa parpol , seperti Partai Indonesia Tanah Air Kita
( PITA ) pimpinan Dimiyati Hartono ( bekas salah satu Ketua DPP-PDI-P ), Partai
Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK ) , diketuai oleh Eros Djarot ( salah seorang
fungsionaris PDI-P ) . Selain itu, muncul pula partai baru pasca Kongres PDI-P di Bali
akhir Maret 2005 , yaitu Partai Demokrasi Pembaruan ( PDP ) yang diketuai oleh
Laksamana Sukardi dan didukung oleh Roy BB Yanis , Sukowaluyo Mintohartdjo ,

46
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Arifin Panogoro dan lain-lain , dimana mereka dikenal sangat dekat dengan Ketua Umum
PDI-P Megawati Soekarnoputri .

Sementara itu , Partai Golkar sudah mengalami perpecahan sebelum Pemilu 1999 itu
berlangsung . Pasca Musyawarah Nasional Luar Biasa ( Munaslub ) tahun 1998
misalmya terdapat tokoh-tokoh yang memisahkan diri dari Golkar , kemudian mendirikan
Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) yang diketuai oleh Jendral TNI Purn Edi Sudrajat ,
yang menjelang Pemilu 2004 , mengubah nama menjadi Partai Keadilan dan Persatuan
Indonesia (PKPI ) . Selain itu, muncul pula parpol-parpol baru yang didirikan oleh
mantan tokoh-tokoh Golkar , meskipun bukan karena perbedaan pendapat di antara
mereka dengan tokoh-tokoh dalam Partai Golkar , yang ketika itu dipimpin Akbar
Tanjung . Parpol-parpol baru itu misalnya , Partai Musyawarah Kekeluargaan Gotong
Royong ( MKGR ) , yang menjelang Pemilu 2004 mengubah nama menjadi Partai
Gotong Royong . Partai ini diketuai oleh Mien Sugandhi . Lahir pula Partai Demokrasi
Bersatu pimpinan Bambang W Soeharto , mantan anggota DPR dari Fraksi Golkar , yang
kemudian menjadi anggota Komnas HAM . Menjelang Pemilu 2004 , lahir pula Partai
Karya Peduli Bangsa (PKPB ) pimpinan Jendral TNI R . Hartono , mantan Kepala Staf
Angkatan Darat .

Partai Persatuan Pembangunan juga mengalami perpecahan . Hal itu ditandai dengan
didirikannya Partai Persatuan Pembangunan Reformasi oleh salah seorang pengurus DPP
PPP , KH Zainuddin MZ. Menjelang Pemilu 2004 , PPP Reformasi mengubah namanya
menjadi Partai Bintang Reformasi (PBR). Namun menjelang Pemilu 2004, PBR juga
mengalami perpecahan ditandai dengan lahirnya Partai Penyelamat Perjuangan
Reformasi yang dipimpin oleh Saleh Khalid . Selanjutnya , pada pasca Pemilu 2004 ,
berkaitan usainya Muktamar PBR April 2005 , partai ini terpecah lagi menjadi dua , yaitu
PBR pimpinan KH Zainuddin MZ dan PBR pimpinan Zainal Maarif .

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikan oleh tokoh-tokoh NU juga mengalami
perpecahan , menjadi PKB pimpinan Matori Abdul Djalil dan PKB pimpinan Alwi
Shihab . Menjelang Pemilu 2004 , PKB pimpinan Matori Abdul Djalil , mengubah nama
menjadi Partai Kejayaan Demokrasi . Sementara itu , PKB pimpinan Ali Shihab pasca
Mutamar di Semarang April 2005 , juga mengalami perpecahan , menjadi PKB pimpinan
Muhaimin Iskandar dan PKB pimpinan Alwi Shihab -Saifullah Yusuf .

Perpecahan dalam tubuh partai , ternyata bukan hanya menjadi monopoli partai peraih
suara terbanyak pada Pemilu 1999 akan tetapi terjadi pula pada parpol-parpol yang
dalam Pemilu 1999 , hanya memperoleh kursi sangat sedikit . Misalnya perpecahan yang
terjadi di tubuh Partai Demokrasi Kasih Bangsa ( PDKB ) pimpinan Manase Malo , yang
dalam Pemilu 1999 memperoleh 5 (lima ) kursi di DPR . Seno Haryanto sebagai Sekjen
partai PDKB mendirikan partai baru yang diberi nama Partai Pewarta Damai Kasih
Bangsa . Selain itu , Partai Bhineka Tunggal Ika yang dalam Pemilu 1999 hanya
mendapatkan 1 (satu ) kursi di DPR juga mengalami perpecahan . ( Djadijono, 1999: 49 –
57 )

47
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Organisasi Peserta Pemilu pada Pemilihan umum 2004 dari 48 partai politik menjadi 24
partai politik . Penyusutan jumlah partai politik menjelasng pemilu legislatif 5 April 2004
tersebut kemungkinan besar karena menurut ketentuan UU No 31 Tahun 2002 tentang
Partai Politik, persyaratan untuk diakui keabsahannya sebagai badan hukum lebih berat
jika dibandingkan dengan persyaratan yang diatur dalam UU No. 2 / 1999 tentang Partai
Politik . Menurut Pasal 2 YY No 31/2002 , untuk keabsahan sebagai badan hukum, partai
politik harus mempunyai kepengurusan sekurang-kurangnya di 50 % dari jumlah
povinsi , 50 % dari jumlah kapubaten/kota pada setaip provinsi yang bersangkutan dan
25 % dari jumlah kecamatan pada setiap kabupaten/ .kota yang bersangkutan serta
mempunyai kantor tetap ( pada UU No 2 /1999 ) pernyataan mengenai kepengurusan dan
kepemilikan kantor tetap tidak ada ) .

Salah satu perubahan terhadap sistem pemilihan umum yang paling menarik adalah
pembukaan daftar calon partai . Hal ini berarti bahwa pemilih diberikan hak untuk
menentukan prefrensi yang tidak terbatas hanya memilih partai pilihannya melainkan
juga kepada calon dari partainya . Secara prinsip perubahan ini membolehkan pemilik
untuk mengatur calon mana dari partainya yang dipilih . Dalam kenyataanya , mengingat
bahwa untuk meraih kursi dengan cara demikian seorang calon diharuskan meraih suara
pribadi yang lebih lebih besar daripada Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) , potensi yang
ada seorang yang dipilih di luar urutan partainya sangat kecil sekali .

Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) No. 23 Tahun 2004 tanggal 5 Mei 2004
menyebutkan bahwa dari 124 juta suara yang masuk , 113,5 juta suara dunyatakan sah .
Ini merupakan peningkatan dari 105,6 juta di Pemilu 1999 . . Di sisi lain persentase voter
turn out ( pemilih terdaftar yang menggunakan hak pilihnya ) menurun dari 02 persen di
Pemilu 1999 menjadi 84 persen pada Pemilu 2004 . Penurunan ini memang tidak
menurunkan legitimasi pemilu karena secara komparatif 84 persen voter turn out adalah
adalah yang relatif tinggi bagi sebuah demokrasi , apalagi bagi demokrasi yang
menganggap pencoblosan sebagai hak warga negara bukan sebagai kewajiban warga
negara .

Dalam pemilu 1992 , Golkar memperoleh suara 67, 96 % tetapi pada tahun 1997 Golkar
sangat merosot menjadi 22 ,4 % . . Pada pemilu 2004 Golkar sedikit menurun hanya
memperoleh 21,58 % .tetapi tetap menduduki nomor satu Tetapi PDI –Perjuangan
justru merosot sangat berarti 33.74 % ( 1999 ) menjadi 18.13 % ( 2004 ) . Kemerosotan
Golkar bisa dijelaskan dengan tumbang rezim Orde Baru dan penghujatan terhadap Orde
Baru dan Golkar . Tetapi bagaimana menjelaskan mengenai kemerosotan PDI –
Perjuangan yang mana jabatan persiden berada pada Megawati Soekarnoputri . Faktor
incumbent bisa memberi keuntungan untuk memenangkan partainya ,tetapi justru
sebaliknya apabila kebijakan-kebijakan pemerintahan Megawati Soekarnoputri tidak
memberi rasa nyaman pada pendukung utamanya PDI –Perjuangan telah kehilangan roh,
semangat, dan jati dirinya sebagai partainya wong cilik ( Nasution, 2006 :129 – 137 )

Hasil pemilu 2004 menunjukkan PKB menjadi peringkat ketiga ( 28.57 % ) sebaliknya
PPP turun satu tingkat . PPP dari 10.71 menjadi 8.15 dan PBR memperoleh suara 2.44

48
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

% Partai Keadilan ( Sejahtera ) dari 1,36 % ( 1999 ) menjadi 7,34 % ( 2004 ) Partai
Demokrat ( yang didirikan Susilo Bambang Yudhoyono ) memperoleh suara 7.45 %
Partai Demokrat menggantikan posisi PAN (5) dan PKS naik setingkat dan
menggantikan posisi PBB ( 6 ) . PAN justru turun dari 7.14 % menjadi 6..44 %.(7) ,
PBB 1.94 menjadi 2,62 % ( 8 ). Partai Damai Sejahtera memperoleh 2.13 % suara .

Di antara ke-24 partai politik peserta Pemilu 2004 , 14 partai mendapatkan suara lebih
dari 1 persen . Dalam pemilu 1999 hanya delapan partai saja yang berhasil mendapatkan
lebih dari satu persen suara ( Golkar ,PDI-P, PKB,PPP, PD,PKS,PAN,PBB,PBR, PDS
,PKPB, PKPI, PDK dan PNBK ). Sepintas lalu, hal ini menandakan adanya sirkulasi
suara lintas partai dan terjadinya peningkatan distribusi suara .

Untuk menelusuri sumber suara Golkar dalam Pemilu 2004 dilakukan analisis korelasi
antara suara Golkar dalam Pemilu 2004 dengan delapan partai politik peserta Pemilu
1999 yang memperoleh suara di atas 1 persen . Hasil analisis korelasi itu menunjukkan
secara jelas bahwa dukungan Golkar di tahun 2004 berasal dari pemilih Golkar di tahun
1999 . Artinya Golkar berhasil mempertahankan tingginya dukungan di daerah-daerah
yang pada Pemilu 1999 memang sudah menjadi basis pendukungnya . Sementara di
daerah-daerah yang dalam Pemilu 1999 merupakan basis pendukung PDI-P,PKB, PAN
dan PK perolehan suara Golkar cenderung rendah . Hal ini menunjukkan bahwa
keunggulan Golkar dalam Pemilu 2004 ini adalah karena keberhasilannya
mempertahankan pendukungnya , bukan karena keberhasilannya memperluas basis
pendukungnya .

Hal ini berbeda dengan PDI-P . Dalam kasus PDI-P, yang perlu dilakukan adalah
menelusuri ke mana perginya suara PDI-P . Berdasarkan analisis korelasi ternyata para
pendukung dan simpatisan PDI-P dalam Pemilu 1999 telah tersebar dalam tujuh partai .
Walaupun sebagian besar ( 58 persen ) masih tetap mendukung PDI-P , tetapi cukup
banyak dari mereka (42 persen ) yang eksodus ke partai lain . Penerima eksodus
pendukung PDI-P tersebar adalah Partai Demokrat (PD) diikuti dengan Partai Damai
Sejahtera (PDS) , Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB ) , dan Partai Nasionalis Banteng
Kemerdekaan (PNBK). Empat partai baru yang memiliki korelasi positif dan signifikan
dengan PDI-P ternyata memiliki keterkaitan ideologis atau historis dengan PDI-P , yaitu
Partai Nasional Indonesia Marhaenisme (PNIM) pimpinan Sukmawati Soekarnoputri ,
PNBK pimpinan Eros Djarot , Partai Penegak Demokrasi Indonesia ( PPDI ) pimpinan
Dimmy Haryanto , dan PDS pimpinan Ruyandi Hutasoit . Sementara tiga partai lainnya
yaitu PD, Partai Indonesia Baru (PIB) , dan PKPB tidak mremiliki hubungan historis
dengan PDI-P tetapi dari analisis ini terlihat bahwa mereka berbagai basis pendukung
yang sama dengan basis PDI-P dalam Pemilu 1999. Meskipun ada catatan yang menarik
untuk diperhatikan . Sebagian massa pemilih PDI-P memang meninggalkan partainya ,
tetapi tidak pergi jauh-jauh . Mereka hanya pindah ke partai-partai nasionalis lainnya dan
tidak pindah ke partai-partai Islam . Bahkan mereka tidak pindah ke partai non-Islam
seperti Golkar . Tentu ada satu-dua kasus perpindahan lintas aliran , tetapi jumlahnya
kecil sehingga tidak ada pengaruh signifikan .

49
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Pada sisi lain , perolehan suara PD 2004 berkorelasi negatif dan signifikan dengan
perolehan suara Golkar di Pemilu 1999 . Artinya , daerah-daerah yang memberikan suara
tinggi untuk Golkar di tahun 1999 , cenderung memberikan cuara rendah bagi PD . Ini
menunjukkan bahwa PD tidak berhasil menembus daerah-daerah yang di tahun 1999
basisnya Golkar . PD hanya berhasil menembus daerah yang sejak semula memang sudah
merupakan basis pendukung partai non-Golkar . Mengapa ini bisa terjadi ? Salah satu
interprestasinya adalah bahwa Golkar dan PD ( dalam hal ini, karena faktor Susilo
Bambang Yudhoyono ) sama-sama memiliki asosiasi dengan masa lalu , misalnya
keamanan , stabilitas politik dan ekonomi . Bagi pemilih yang telah menjadi simpatisan
Golkar sejak Pemilu 1999, PD jadi nampak kurang atraktif . Bagi pemilih yang sejak
Pemilu 1999 telah mendukung Golkar , partai Golkar justru nampak makin “menjanjikan
“dibandingkan dengan PD . Karena kesamaan karakter itulah maka PD kesulitan untuk
menembus daerah yang selama ini menjadi basis Golkar .

Perolehan suara PKS tahun 2004 memiliki korelasi positif dengan perolehan suara
PK,PAN,PPP, dan PBB di tahun 1999 . Artinya , PKS mendapatkan dukungan suara yang
tinggi pada daerah-daerah di mana PK,PAN,PPP dan PBB mendapat dukungan kuat pada
Pemilu 1999. Keempat partai ini memiliki aosiasi yang kuat dengan kalangan Islam
modernis .

Yang menarik di sini adalah tingginya korelasi antara PKS 2004 dengan PAN 1999. Hal
ini berarti , bahwa di daerah-daerah yang pada Pemilu 1999 merupakan basis PAN terjadi
peralihan besar ke PKS di Pemilu 2004 . Sementara suara PKS 2004 berkorelasi negatif
dengan suara PDI-P, PKB dan Golkar di Pemilu 1999 .Artinya , di daerah-daerah yang
menjadi basis PDI-P,PKB, dan Golkar pada Pemilu 1999 , suara PKS di tahun 2004
cenderung rendah. Di sini terlihat bahwa PKS mendulang dukungan dii daerah-daerah
yang memang merupakan basis partai-partai Islam ( tepatnya muslim modernis ) .
Perolehan suara PKS cenderung rendah di daerah-daerah yang menjadi basis PDI-P,NU,
maupun Golkar . Artinya , dalam Pemilu 2004 ini, meski PKS tampil dengan citra politik
bersih , anti-korupsi , dan berorientasi pada public service akan tetapi itu semua hanya
berhasil : “menarik “ satu kelompok pemilih saja, yaitu muslim modernis . Citra PKS itu
masih belum berhasil menembus batas-batas politik aliran dan ideologis , dan karena itu
PKS nampak tidak berhasil menjangkau dan merebut dukungan kalangan nasionalis dan
nahadiyin . Sebagai catatan , tentu ada satu-dua kasus khusus di mana PKS menerima
suara dari bekas pendukung PDI-P ataupun PKB , tetapi secara nasional jumlah itu kecil
dan tidak signifikan . ( Baswedan , 2004 : 178 – 185 )

Penutup

Pada bulan Mei 1998 , rezim Soeharto jatuh setelah ia menyatakan diri berhenti sebagai
presiden . Rezim selanjutnya , yakni pemerintahan BJ Habibie , Abdurachman Wahid ,
Megawati Soekarnoputri , dan Soesilo Bambang Yudhoyono berada dalam situasi politik
yang sangat berbeda . Tuntutan rakyat untuk memiliki sistem politik yang lebih terbuka
dan demokratis semakin menguat . Masyarakat juga menuntut perombakan dari struktur
politik yang telah membuat presiden dan birokrasi memiliki kewenangan terlalu kuat
menjadi struktur politik yang memungkinkan check and balances sehingga kekuasaan

50
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

pemerintah dapat dikontrol . Kesempatan partisipasi rakyat untuk ikut serta dalam
pemerintahan tercermin dengan lahirnya banyak partai politik baru yang secara perlahan-
lahan mulai membangun fungsi dan kontrolnya

Tidak adanya partai politik yang memenangkan pemilu secara mutlak dan menduduki
kursi secara mayoritas di DPR menjadikan pemerintahan pasca Soeharto sebagai
pemerintahan “koalisi “ dari partai-partai besar . Pemerintah memberikan akomodasi
politik terhadap partai-partai pendukung yang telah membantu keberhasilan seorang
calon presiden menjadi presiden . Naiknya Abdurrachman Wahid sebagai presiden
adalah karena dukungan Poros Tengah . Demikian pula Abdulrachman Wahid harus
turun dari kursi kepresidenan ketika dukungan Poros Tengah dicabut . Hal yang sama
terjadi pada Megawati . Dukungan Poros Tengah menjadi kunci bagi naiknya Megawati
Soekarnoputri menjadi presiden . Oleh sebab itu , baik Wahid maupun Megawati ketika
menjadi presiden berkewajiban membayar jasa partai-partai pendukung dengan
mengalokasikan beberapa kursi menteri kepada kader dan partai-partai pendukung
tersebut .

Pencalonan Yudhoyono pada pemilu Presiden 2004 juga tidak didahului oleh
kemenangan partainya secara mutlak di Parlemen . Oleh sebab itu ia memerlukan
dukungan dari partai lain untuk tidak hanya mendukung pencalonan dirinya sebagai
presiden , tetapi juga mendukung pemerintahannya ketika ia berhasil memenangkan
pemilihan presiden . Seperti halnya Megawati dan Wahid , sebagai presiden terpilih
Yudhoyono kemudian mengakomodasi kepentingan partai-partai pendukungnya dengan
merekut beberapa anggota-anggota partai untuk menjadi menteri dalam kabinetnya .
Bahkan beberapa posisi strategis dalam jajaran birokrasi seperti Direktur BUMN
menjadi “lahan “ yang diperebutkan oleh partai-partai politik , termasuk
dimungkinkannya para menteri merekut pembantu khusus di departemen dari kalangan
partai politik .

Diperlukannya pemerintahan koalisi dan berperannya parpol dalam menjalankan fungsi-


fungsi politik adalah perubahan yang paling nyata setelah pemerintahan Soeharto jatuh.
Harapan yang muncul adalah bahwa perubahan itu akan menghantar pada tercapainya
tujuan reformasi yang terpenting yaitu kehidupan yang lebih demokratis . Tatanan yang
lebih demokratis antara lain ditandai dengan adanya check and balances di antara pilar-
pilar kekuasaan , semakin terbukanya sistem politik , dimana setiap orang dapat
memperoleh kekuasaan melalui pemilihan umum yang jujur dan adil , tumbuhnya
beberapa partai politik yang bersaing sehat dan memiliki akuntabilitas terhadap para
pemilihnya , serta terbukanya kesempatan bagi partisipasi rakyat dalam perumusan
kebijakan dan melakukan kontrol terhadap pemerintah

Mengembalikan kedudukan partai politik untuk menjalankan fungsinya secara subtansial


adalah bagian untuk menghapus semua perangkat dan insitusi jaman Soeharto yang
dinilai sangat autocrat dan otoriter. Tipe pemerintahan Soeharto bersifat autocratic
memiliki ciri sentralistik non demokratis , sangat berorientasi pada kekuasaan politik dan
tidak efisisen . Partai politik ditempatkan di luar garis kekuasaan sehingga menjadi lemah
dan pasif dan tidak mampu menjalankan fungsi –fungsi politiknya , termasuk fungsi

51
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

kontrol terhadap pemerintahan . Keadaan ini sesuai dengan ciri masyarakat politik
birokratik , yang menurut Harlod Crouch mempunyai ciri bahwa lembaga politik yang
dominan adalah birokrasi , sedangkan lembaga politik lain seperti parlemen maupun
parpol lain ; lemah sehingga tidak mampu mengontrol atau mengimbangi kekuasaan
birokrasi .

Penguasa Orde Baru memang membatasi peran partai politik . Politisi Partai tidak
dilibatkan dalam proses penataan kehidupan politik , walaupun secara formal kehadiran
politisi partai diakui . Pembatasan terhadap gerak Parpol dilakukan karena berdasarkan
pengalaman masa lalu , parpol tidak bisa diandalkan untuk mendukung pembangunan dan
hanya menjadi sumber konflik yang mengakibatkan ketidakstabilan , seperti masa
demokrasi liberal. Tindakan mendisfungsikan partai antara lain dilakukan dengan
pembentukan floating mass , dimana partai politik dilarang melakukan kegiatannya
sampai tingkat desa . Sementara untuk menggantikan fungsi partai politik , birokrasi
memperpanjang jangkauannya , hingga ke pedesaan untuk memantau aktivitas politik
masyarakat , di samping menjadi artikulator dan mesin politik kepentingan rakyat
Hasilnya birokrasi menjadi satu-satunya saluran partisipasi masyarakat . Pemerintah
mengklaim bahwa semua aparat pemerintah menjadi anggota Golkar , dan secara formal
memasukan mereka kedalam kepemimpinan politik birokrasi sehingga menjadi bagian
dari pemerintahan itu sendiri .( Hendytio , 2006 : 68 – 70 )

Kejatuhan Presiden Soeharto yang diawali oleh krisis moneter maupun ekonomi pada
tahun 1997 – 1998 , telah memberikan peluang untuk menata kembali kehidupan politik,
ekonomi dan hukum. Tuntutan penataan kembali sistem politik , ekonomi dan hukum
itulah kemudian dikenal sebagai tuntutan reformasi total . Namun demikian , perjuangan
untuk tercapainya reformasi itu , tentu saja bukan suatu hal yang mudah . Sebab
keberhasilannya sangat ditentukan oleh sejauh mana masyarakat kita – lebih khusus
pemimpin-pemimpin politiknya – bisa mengantisipasi tuntutan-tuntutan itu . Dalam
kaitan ini , tidak boleh mengabaikan kontribusi yang disumbangkan oleh gerakan
mahsiswa menjelang kejatuhan Soeharto tahun 1998 .

Gerakan mahasiswa itu makin membuka mata masyarakat : akan begitu banyak hal yang
harus ditata kembali dalam kehidupan kebangsaan kita . Dalam bidang politik misalnya ,
soal-soal tuntutan suksesi yaitu pergantian kepemimpinan nasional , kemudian juga
tuntutan pelaksanaan pemilu yang bebas , dan tuntutan kemerdekaan membentuk partai
politik . Sebetulnya tuntutan itu masa Soeharto telah dicoba untuk diantisipasi melalui
janji-janji . Menjelang kejatuhannya , Presiden Soeharto berjanji bahwa reformasi akan
dijalankan pada tahun 2003 . Dikatakannya bahwa pemerintahannya bukan tak
menghendaki reformasi , karena selama ini ia berkeyakinan sudah melakukan reformasi .
Walaupun tidak begitu jelas apa yang didefinisikan dengan reformasi yang dijanjikan
pada tahun 2003 itu .

Sebetulnya, di samping krisis ekonomi dan moneter , jauh sebelumnya bangsa ini sudah
mengalami krisis politik . Krisis itu dalam bentuk krisis legitimasi , di mana makin
banyak kalangan dalam masyarakat yang sebetulnya tidak percaya lagi akan kemampuan
rezim Soeharto dalam memecahkan persoalan bangsa ini . Namun demikian , kara pada

52
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

saat yang sama kita memiliki DPR dan MPR yang dihasilkan oleh pemilu-pemilu yang
sangat manipulatif selama Orde Baru , DPR dan MPR inilah , yang setiap lima tahun
melegitimasi kembali kepemimpinan Soeharto , dan puncaknya adalah pada Sidang
Umum MPR 1998 , yang menetapkan Soeharto sebagai presiden untuk ketujuh kalinya

Di tengah perdebatan dan tarik menarik antara kelompok masyarakat yang setuju
penyelenggaraan pemilu dengan yang tidak setuju , karena tidak diakuinya legitimasi
Pemerintahan Transisional Habibie , oleh karena itu perlu dibentiuk presidium yang akan
mengantarkan Indonesia pada penyelenggaraan pemilu yang demokratis , akhirnya
pemilu menjadi pilihan yang realistis . Pemilu 1999 dengan 48 OPP berjalan dengan
berkurangnya keterlibatan penyelenggara dan birokrasi , kebebasan lembaga pemantau
dan dan media massa untuk mengontrol jalannya pemilu adalah kemajuan yang telah
diraih . Kendati masih diberikannnya jatah TNI-Polri dalam PDR, pemilu 1999 memiliki
arti penting bagi kehidupan kebangsaan . . Pemilu 1999 diharapkan dapat menjadi awal
bagi penciptaan kehidupan Indonesia baru yang demokratis , adil dan sejahtera , setelah
sekian lama terpuruk karena legitimasi kekuasaan .

Pemilu 2004 yang pesertanya dari 24 OPP ternyata menghasilkan tujuh partai ( PG,PDI-
P,PPP,PKB,PD, PAN dan PKS ) yang lolos untuk mengikuti pemilu 2009 . Kenyataan
ini menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia terfragementasi secara politik
Meluasnya fragementasi politik berdampak negatif bagi politik di Indonesia karena
melemahnya proses konsolidasi demokrasi lantaran tidak adanya kekuatan politik
mayoritas .Siapapun yang menjadi persiden terpilih ( olah rakyat secara langsung ) akan
kesulitan menjalankan tugas . Kecuali presiden terpilih berhasil membentuk suatu koalisi
yang solid dan dan berjumlah separuh plus satu dari jumlah anggota DPR

Fenomena lebih dari 200 partai politik yang terdaftar di Departemen Kehakiman dan
HAM dewasa ini adalah cermin paling jelas dari kecenderungan elite politik kita untuk
melembagakan dan mempertajam perdebatan di antara mereka . Begitu pula fenomena
perpecahan internal partai yang marak dalam beberapa waktu terakhir . Realitas ini
menggambarkan kepada kita begitu rendahnya saling percaya di antara para elite partai-
partai , sehingga sautu kerjasama dan konsolidasi sipil tampaknya sulit diharapkan
berlangsung dalam jangka pendek ini . .

Tidak dapat disangkal merebut kedudukan dalam negera ( public office ) memang
merupakan motif dan tujuan dibentuk sebuah partai politik. Namun dalam menjalankan
tujuannya itu , setiap partai politik juga tidak dapat lepas dari beragam fungsi yang
diembannya , sebagaimana yang dinyatakan pada Pasal 7 UU No 31 Tahun 2002.
Persoalannya, apakah segenap fungsi tersebut sudah benar-benar dijalankan oleh partai
politik yang ada ? Sekalipun sudah , yang menjadi persoalan , sudah sesuai dengan
harapan masyarakat peran partai politik selama ini . Gerak langkah partai selama ini
tampaknya dinilai belum berbuat banyak bagi bangsa ini Mereka dianggap lupa pada
nasib rakyat yang tengah dihimpit oleh berbagai kesulitan .. Kiprah partai politik
dianggap jauh dari apa yang dijanjikan pada saat-saat pemilu . Kendati terjadi
kekecewaan , tetapi keberadaan partai politik tetap diperlukan .Kepercayaan yang

53
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

merosot terhadap partai politik ini hanya bisa pulih apabila setiap partai politik berupaya
konsekwen terhadap setiap fungsi yang diembannya .

54
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Bibliografi

Abeyasekere, Susan ,” Kooperator dan Non-Kooperator . Kegiatan Politik Nasionalis di


Tahun 1950-an ,” dalam Colin Wild dan Peter Carey (ed) . Gelora Api Revolusi .
Sebuah Antologi Sejarah . Jakarta : Gramedia, Hlm. 61 – 67 .

Baswedan , Anies Rasyid .” Sirkulasi Suara dalam Pemilu 2004 ,” Analisis CSIS , Vol.
33 , No. 2 , Juni 2004 , Hlm. 173 – 189 .

Budiardjo, Miriam . 1977 . Dasar-Dasar Ilmu Politik . Jakarta : PT Gramedia .

Budiardjo, Miriam (ed) .1981 . Partisipasi dan Partai Politik . Sebuah Bunga Rampai .
Jakarta : PT Gramedia .

Dhakidae, Daniel ,” Pemilihan Umum di Indonesia . Saksi Pasang Naik dan Surut Partai
Politik,” Prisma, Tahun X, No.9 , September 1981 , Hlm. 17 – 40 .

Dhkaidae , Daniel ,” Partai Politik dan Sistim Kepartaian di Indonesia .’ Prisma , Tahun
X, Desember 1981 , Hlm. 3 – 23 .

Djadijono , M.” Ideologi Partai Politik,” Analisis CSIS Vol. 35 , No. 1 , Maret 2006 .Hlm
52 - 67 .

Feith, Herbert .1999 . Pemilihan Umum 1955 di Indonesia . Jakarta : Kepustakaan Popu
ler Gramedia .

Gerung, Rocky ,” Ideologi, Formalisme dan Dinamika Politik,” dalam Denny JA (et al )
1988 .Kesaksian Anak Muda . Jakarta : Kelompok Studi Proklamasi . Hlm.7 - 20

Hikam,. AS .” PDI Perjuangan dan Langkah Menuju Reformasi Total :, dalam Amsar A
Dulmanan (ed) 1999. Mbak Mega . Saya Ikut Sampeyan .Jakarta : Lingkaran
Jurnalistik .Hlm. 27 – 36 .

Hendytio, Medelina K ,” Menegakkan Netralitas Birokrasi Mungkinkah “ Analisis CSIS,


Vol35 , No. 1 , Maret 2006 , Hlm. 68 – 78 ,

Ingelson, John . 1983 Jalan Ke Pengasingan . Pergerakan Nasionalis Indonesia Tahun


Tahun 1927 – 1934 . Jakartta : LP3ES.

Karim, Rusli . 1993 . Perjalanan Partai Politik Di Indonesia . Sebuah Potret Pasang –
Surut . Jakarta : Rajawali Pers .

Korber, Pieter .” Gerakan Islam ,” dalam Colin Wild dan Peter Carey (ed) 1986 Gelora
Api Revolusi . Sebuah Antologi Sejarah . Jakarta : PT Gramedia , Hlm. 19 - 25 .

Leiressa, RZ .1985 Terwujudnya Suatu Gagasan . Sejarah Masyarakat Idnonesia 1900 –

55
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

1950 . Jakarta : Akademika Pressindo .

Liddle, R William .1992 . Partisipasi & Partai Politik . Indonesia pada Awal Orde
Baru .
Jakarta : PT Pustaka Utama Grafiti .

Liddle, R William . 1992 . Pemilu-Pemilu Orde Baru . Pasang Surut Kekuasan Politik .
Jakarta : LP3ES .

McVey , Ruth.” Permulaan Komunis Di Indonesia ,” dalam Colin Wild dan Peter Carey
(ed) 1986. Gelora Api Revolusi . Sebuah Antologi Sejarah . Jakarta : PT Gramedia
Hlm. 25 – 31 .

Nasution, Noviantika .2006 . Bobolnya Kandang Banteng . Sebuah Otokritik . Jakarta


Suara Bebas .

Ndouk, Oct Ovy ,” Analisis Peristiwa : Kampanye Pemilu 1997,” Analisis CSIS , Tahun
XXVI , No. 4 , Juli – Agustus 1997 , Hlm . 428 – 437 .

Priyadi, Arief ,” Analisis Peristiwa Perkembangan Politik Pasca –Pemilu 1997 ,” Analisis
CSIS Tahun XXVI , No 5 , September – Oktober 1997 , Hlm. 535 - 545 .

Rauf, Maswadi “. Evaluasi Pemilu 1999 “. dalam Juri Ardianto F (ed ) 1999. Transisi
Demokrasi . Evaluasi Kritis Penyelenggaraan Pemilu 1999 . Jakarta : KIPP Hlm.
149 – 162 .

Rocamora, J Elisio .1991. Nasionalisme Mencari Ideologi . Bangkit dan Runtuhnya PNI
Jakarta : Pustaka Utama Grafiti .

Romli, Lili . ” Potret Buram Partai Politik Di Indonesia, “ dalam Machrus Irsyam dan
Lili Romli (ed) 2003 .Menggugat Partai Politik . Jakartta Lab Ilmu Politik FISIP
UI, Hlm. 111 – 144 .

Setiadi , Budi Arie dan Togi Simandjuntak 2006 .Berubah Demi Rakyat Jakarta : Forum
Tebar . .

Sitompul, Einar Marthanan . 1989 . NU dan Pancasila . Jakarta : Sinar Harapan .

Sd, Subhan 1996 Langkah Merah ,Gerakan PKI 1950 –155 Yogyakarta Bentang Budaya.

Surbakti, Ramlan. 1992. Memahami Ilmu Politik . Jakarta : Grasindo .

Suryadinata, Leo. 1992 .Golkar dan Militer . Studi tentang Budaya Politik . Jakarta :
LP3ES .

Zulkifli, Arif. 1996 . PDI Di Mata Golongan Menengah Indonesia . Jakarta : PT Pustaka

56
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Utama Grafiti .

57
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com